Home Blog Page 188

Sebuah Pesan Cinta dari Palungan

6

Keledai kecil, keledai kecil

berjalan perlahan di jalan berdebu,

menembus kesunyian malam.

Beban tunggangan yang kudus di punggungmu,

ternaungi cahaya bintang yang bersinar di langit kelam.

Oh lihatlah, Betlehem telah nampak di hadapan,

teruslah melangkah dan jangan menyerah dulu,

hantar Bunda Maria dan Bapa Yusuf selamat sampai di tujuan.

Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin, dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk 2 : 6-7)

Saat mengeluarkan berbagai ornamen dari kotak penyimpanan untuk menghias kandang Natal di samping pohon natal keluarga kami, hampir terlewat oleh saya sebuah patung mungil seekor keledai, yang merupakan anggota hiasan kandang Natal yang paling kecil. Satu-satunya anggota kandang yang hampir seukuran dengannya hanyalah patung bayi Yesus dengan palungan yang ditempatiNya, di mana palungan adalah tempat makan dan minum bagi hewan ternak, terbuat dari kayu atau batu, yang biasa diletakkan di kandang. Lagu “Keledai Kecil” yang saya terjemahkan dari versi aslinya “Little Donkey” di atas, menemani saya meletakkan patung keledai itu di atas jerami, berdampingan dengan hewan lain yang mengelilingi palungan, yang sudah lebih dulu terpasang rapi di tempatnya masing-masing. Perasaan saya tercekat oleh keputusan Tuhan untuk bersama-sama dengan manusia yang begitu dikasihiNya, keputusan-Nya untuk hadir di tengah-tengah kita dalam kondisi yang sedemikian sederhana. “Tuhan….”, pikir saya dengan sendu, “Engkau memilih datang dalam kesunyian malam, di tengah berbagai kesulitan dan keterbatasan, dikelilingi figur-figur yang begitu lemah, polos, dan sederhana. Siapakah aku sehingga Engkau sudi datang bagiku dalam keadaan seperti ini. Sesaat saya merasa segala kebanggaan saya sebagai pribadi, yang senantiasa ingin dihargai dan dipandang, terkoyak runtuh, tertunduk malu di hadapan palungan Raja segala raja, yang memilih meninggalkan semua gemilang kuasaNya, menjadi bukan siapa-siapa, supaya Ia bisa bersama-sama dengan saya dan menjadi pembela saya.

Peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus di tengah-tengah manusia, bagi saya bagaikan sebuah pembelajaran bagi dunia, yang serba ingin mudah dan senang, bahwa kesulitan dan ketidakpastian bukanlah sesuatu yang harus selalu dianggap akhir dari segala harapan. Pun tantangan dan hambatan tidak selalu merupakan sebuah aib untuk dihindari. Ketika Bunda Maria memilih untuk mengatakan “ya” kepada Allah untuk mengandung dan melahirkan Juruselamat dunia, sesungguhnya kesulitan dan ketidakpastian yang begitu besar membayanginya. Kemungkinan diceraikan oleh Yusuf tunangannya, kemungkinan dirajam sampai mati akibat dianggap melakukan dosa perzinahan. Kebingungan Yusuf tunangannya, yang harus menikahi Maria dalam keadaan sudah mengandung, pun tak kalah mencekam, sampai akhirnya Yusuf berserah dan melangkah maju dengan iman setelah malaikat Tuhan meyakinkannya melalui mimpi.

Perjalanan mereka dari Nazaret menuju Betlehem untuk melakukan pendaftaran diri dalam memenuhi perintah Kaisar Agustus, membuat mereka harus mencari tempat bermalam dadakan, karena Bunda Maria ternyata harus segera bersalin. Tidak lagi tersedianya tempat yang layak di rumah penginapan, membuat Bunda Maria melahirkan Puteranya (yang kelahirannya telah diberitahukan sebelumnya oleh malaikat Allah sendiri), di sebuah kandang hewan. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Bunda Maria pada saat itu, seorang Putera yang kata Malaikat Tuhan akan menjadi raja keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Anak Allah Yang Maha Tinggi, ternyata Tuhan ijinkan lahir di tempat seperti itu. Tetapi Bunda Maria tidak merasa bergeming atau gentar, ia hanya menyimpan semua peristiwa itu dengan lembut dan penuh iman di dalam hatinya.

Lihatlah, pengunjung-pengunjung pertama dari peristiwa kelahiran Pewaris Tahta Daud yang akan menyelamatkan Israel itu. Semuanya berkaki empat. Wajah-wajah polos dan lugu dari kambing, sapi, domba, dan keledai, menyambut senyum pertama Sang Bayi yang baru saja hadir di dunia. Saya tersenyum membayangkan indahnya kepolosan dan penyerahan yang total kepada Sang Pencipta, betapa beruntungnya mereka boleh menjadi tamu kehormatan pertama dari kelahiran Sang Raja.

Tamu-tamu berikutnya yang kemudian menyusul tetap membuat mata hati tercengang. Pada masa itu, gembala adalah golongan masyarakat kelas bawah. Tetapi Tuhan memilih mereka untuk menjadi orang-orang pertama yang menerima kabar gembira itu, melalui berita dari malaikat dan puji-pujian sejumlah besar bala tentara surgawi. Kesederhanaan hati mereka membuat mereka segera berangkat mencari Sang Bayi, tanpa banyak berargumentasi. Sikap hati tanpa prasangka negatif dan penghakiman, memungkinkan manusia dan mahluk ciptaan berkesempatan melihat kemuliaan Allah.

Walau secara mata manusiawi, peristiwa kelahiran Tuhan nampak begitu penuh rintangan, kesulitan, dan kontroversi, ternyata Allah telah merancang dengan sempurna kedatangan Putera Manusia ke dunia. Menolong manusia menemukan apa yang terpenting di dalam perjalanan kehidupan ini dan menemaninya sampai akhir dalam kerendahan hati yang tak terbatas, supaya manusia mampu mencapai keselamatan sejati dalam kekudusan dan kerendahan hati yang sempurna. Semangat kesederhanaan dan tidak anti kepada kesukaran adalah dasar dari sikap penyerahan total kepada Allah, sikap terbuka untuk dipakai Allah bagi pekerjaan-pekerjaan agung-Nya. Sikap tanpa prasangka dan tanpa penghakiman yang merendahkan sesama atau situasi kehidupan, membuka jalan bagi pengakuan akan martabat manusia yang luhur. Sikap itu memanggil kita untuk terus mengarahkan hati kepada peningkatan kesejahteraan sesama manusia, dengan segenap cinta kasih yang dapat kita berikan kepada orang lain, cinta kasih yang sudah selalu kita terima dengan berlimpah dan cuma-cuma dari Allah, setiap saat.

Akhirnya, ornamen kandang Natal yang terakhir saya pasang adalah sebuah bintang besar berwarna keperakan yang saya letakkan di atap bangunan kandang itu. Di dalam gelapnya kepedihan hidup, dinginnya ketidakberdayaan melawan kuasa dosa, ego, dan penderitaan akibat godaan si jahat, manusia amat merindukan hadirnya Terang yang membawa kehangatan dan harapan. Kehadiran Kristus di antara kita sebagai manusia dengan semangat cinta dan solidaritas yang tak terhingga, menjadi jawaban yang dinanti-nantikan manusia dalam peziarahannya di dunia. Nyanyian bala tentara surgawi di malam yang kudus itu adalah sukacita untuk kita karenaTuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu dekat, terang-Nya selalu hangat, dan dalam segala bentuk kesukaran hidup, kasih-Nya justru hadir semakin lekat. Sikap rendah hati dan percaya sepenuhnya akan kasih Allah memampukan kita untuk mengalami kehangatan Terang itu. Bahkan kita dapat turut memantulkan Terang itu, melalui hidup sehari-hari, dengan kerendahan hati seperti Sang Bayi Yesus, mewartakan kepastian kasih Allah itu kepada dunia di sekitar kita. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2Kor 4:6)

Terima kasih Yesus, bila Engkau ada di sisiku, malam yang tergelap sekalipun tak lagi pekat, karena cahaya cinta-Mu menerangi hatiku, membuatku tetap tersenyum memandang dunia di dalam kerahiman-Mu.

Selamat merayakan Natal, semoga kehangatan cinta dan damai dari Bayi Yesus yang rendah hati, membungkus hati kita dan mengiringi perjalanan hidup kita di dunia menuju kepada Bapa. (Triastuti)

Samakah Kesatuan dengan Kristus dengan Kesatuan dengan Gereja Katolik?

4

Karena Kristus tidak terpisahkan dengan Gereja, sama seperti kepala tidak terpisah dari tubuh (lih. Ef 5:22-33) dan Kristus hanya mendirikan satu Gereja di bawah pimpinan Rasul Petrus, dan yang kini dilanjutkan oleh Paus sebagai penerus Rasul Petrus di dalam Gereja Katolik, maka kesatuan dengan Kristus sesungguhnya merupakan juga kesatuan dengan Gereja Katolik. Kesatuan ini dapat dinyatakan sebagai:1) kesatuan penuh secara eksplisit, dengan dibaptis dan resmi menjadi anggota Gereja Katolik; namun juga 2) kesatuan yang tidak secara penuh dan implisit, jika karena bukan kesalahan sendiri tidak tergabung dengannya, yaitu mereka yang dibaptis namun tidak secara resmi menjadi anggota Gereja Katolik, 3) maupun mereka yang karena bukan kesalahannya sendiri tidak sampai mengenal Kristus dan Gereja-Nya.

Tentang hal ini, baiklah kita membaca apa yang disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Redemptoris Missio (Misi Sang Penebus), yang menyebutkan bahwa Gereja [yaitu Gereja Katolik yang didirikan Kristus] adalah Tanda dan Sarana Keselamatan, demikian:

“9. Pihak penerima yang pertama dari keselamatan adalah Gereja. Kristus memenangkan Gereja bagi diri-Nya sendiri dengan darah-Nya sendiri sebagai harga tebusan, dan membuat Gereja sebagai kawan sekerja-Nya di dalam penyelamatan dunia. Sungguh, Kristus hadir di dalam Gereja. Ia (Gereja) adalah Mempelai-Nya. Adalah Kristus yang menyebabkan Gereja bertumbuh. Kristus melanjutkan misi-Nya melalui dia [Gereja].

Konsili [Konsili Vatikan II] berkali- kali mengacu kepada peran Gereja di dalam penyelamatan umat manusia. Sementara mengakui bahwa Tuhan mencintai semua orang dan menjamin kepada mereka kemungkinan untuk diselamatkan ((lih. 1Tim 2:4, Konstitusi Tentang Gereja Lumen Gentium 14-17, Dekrit tentang Kegiatan Misionaris Gereja Ad Gentes 3)), Gereja percaya bahwa Tuhan telah menentukan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara dan bahwa Gereja sendiri telah ditentukan sebagai sakramen umum keselamatan. ((lih. Konstitusi Tentang Gereja Lumen Gentium 48, Konstitusi Tentang Gereja di Dunia Modern Gaudium et Spes 43, Dekrit tentang Kegiatan Misionaris Ad Gentes 7,21)) “Kepada kesatuan katolik dari umat Allah inilah, maka, …. semua orang dipanggil, dan mereka menjadi anggotanya atau diarahkan kepadanya dengan berbagai cara, entah mereka adalah umat Katolik, atau mereka yang lain yang percaya kepada Kristus [dari gereja non- Katolik] atau akhirnya semua orang di manapun berada yang oleh rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan.” ((Lumen Gentium, 13)) Adalah harus untuk dijaga kedua kebenaran ini bersama- sama, yaitu kemungkinan yang nyata untuk keselamatan di dalam Kristus untuk semua manusia, dan keharusan Gereja bagi keselamatan. Kedua kebenaran ini membantu kita memahami misteri keselamatan yang satu-satunya, sehingga kita dapat mengetahui belas kasihan Tuhan dan tanggungjawab kita sendiri. Keselamatan, yang selalu tetap adalah kasih karunia Roh Kudus, mensyaratkan kerjasama manusia, baik untuk menyelamatkan diri sendiri dan untuk menyelamatkan sesama. Ini adalah kehendak Tuhan, dan karena inilah mengapa Ia mendirikan Gereja dan membuatnya bagian dari rencana keselamatan-Nya. Mengacu kepada “bangsa yang mesianis ini”, Konsili mengatakan, “telah didirikan oleh Kristus sebagai persekutuan hidup, kasih dan kebenaran; oleh-Nya juga, ia telah dijadikan sakramen keselamatan bagi semua orang, dan diutus untuk misi kepada seluruh dunia sebagai terang dunia dan garam dunia.” ((Ibid., 9))

Keselamatan di dalam Kristus ditawarkan kepada semua orang

10. Keselamatan secara universal berarti bahwa keselamatan ditawarkan tidak hanya kepada mereka yang secara eksplisit percaya kepada Kristus dan telah menjadi anggota Gereja. Karena keselamatan ditawarkan kepada semua, maka keselamatan harus dibuat nyata tersedia bagi semua orang. Tetapi jelaslah bahwa dewasa ini, sebagaimana di masa lalu, banyak orang tidak mempunyai kesempatan untuk dapat mengenal dan menerima Injil keselamatan atau untuk masuk/ bergabung dengan Gereja. Keadaan-keadaan sosial dan budaya di mana mereka hidup tidak mengizinkan hal ini, dan seringkali mereka telah dibesarkan di dalam tradisi-tradisi religius yang berbeda. Bagi orang- orang seperti ini, keselamatan di dalam Kristus menjadi mungkin diperoleh karena rahmat yang, sementara mempunyai hubungan yang rahasia (mysterious relationship) dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi menjadi bagian di dalam Gereja, tetapi menerangi mereka dengan cara yang diharuskan di dalam kondisi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; yang dihasilkan dari Kurban-Nya dan dikomunikasikan oleh Roh Kudus. Hal ini [rahmat] memampukan setiap orang untuk memperoleh keselamatan melalui kerjasama dari orang tersebut.

Dengan alasan ini, Konsili, setelah meneguhkan posisi sentral Misteri Paskah Kristus, selanjutnya menyatakan bahwa “hal ini tidak hanya ditujukan bagi orang- orang Kristen, tetapi untuk semua orang yang berkehendak baik yang di dalam hatinya rahmat Tuhan bekerja secara rahasia. Sebab Kristus telah wafat bagi setiap orang dan karena panggilan terakhir dari setiap kita datang dari Tuhan dan karena itu secara universal satu, kita diharuskan untuk berpegang bahwa Roh Kudus menawarkan kepada setiap orang kemungkinan untuk mengambil bagian di dalam Misteri Paska ini dengan cara yang diketahui oleh Tuhan.” ((Gaudium et Spes, 22))

Dengan berpegang kepada uraian Bapa Paus Yohanes Paulus II, kita mengetahui bahwa kesatuan dengan Kristus, sesungguhnya juga merupakan kesatuan dengan Gereja Katolik, yang dipimpin oleh Bapa Paus. Kesatuan ini dapat merupakan kesatuan secara eksplisit maupun implisit, dan kesatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya inilah yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal bersama-Nya di Surga. Dengan demikian, Gereja Katolik adalah tanda dan sarana keselamatan bagi seluruh umat manusia, karena Kristuslah yang mendirikannya dan karena Kristus melanjutkan misi-Nya melalui Gereja.

Apakah Arti “Jangan Menyebut Nama Allah Tidak Dengan Hormat?”

5

Ada tertulis “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Kel 20:7). Gereja Katolik menempatkan perintah ini sebagai perintah ke-dua dari kesepuluh perintah Allah, sedangkan gereja-gereja non-Katolik menempatkannya sebagai perintah ke-tiga. Perintah ini mengingatkan kepada kita bahwa nama adalah mencerminkan pribadi dan bukanlah hanya sekedar formalitas. Perintah ini melarang orang untuk: (1) menggunakan nama Allah untuk janji yang tidak ditepati; (2) janji atau sumpah yang mempertaruhkan nama Allah; (3) sumpah serapah kepada Allah, Gereja, Bunda Maria, para Kudus, baik sengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan di dalam hati atau di dalam perkataan dan perbuatan.

Dalam Kitab Suci, kita melihat bahwa nama adalah mencerminkan pribadi, yang merefleksikan martabat orang yang memakainya. Allah sendiri memanggil orang dengan namanya (lih. Yes 43:1; Yoh 10:3) Dengan demikian, kita tidak dapat memanggil nama seseorang, termasuk nama orang-orang kudus, apalagi nama Allah dengan tidak hormat. Dengan demikian, perintah ini melarang penyalahgunaan nama Allah, baik Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus, beserta dengan Perawan Maria dan semua orang kudus. (lih. KGK, 2146) Pelanggaran tentang hal ini diterangkan di dalam KGK 2147-2149, yang menuliskan sebagai berikut:

KGK, 2147.    Janji yang diberikan kepada seseorang atas nama Allah mempertaruhkan kehormatan, kesetiaan, kebenaran, dan wewenang Allah. Mereka harus dipatuhi tanpa syarat. Siapa yang tidak mematuhinya, menyalahgunakan nama Allah dan seakan-akan menyatakan Allah seorang pendusta (Bdk. 1 Yoh 1:10).

KGK, 2148.    Menghujat Allah adalah pelanggaran langsung terhadap perintah kedua. Menghujat Allah berarti orang – secara batin atau secara lahir – mengeluarkan kata-kata kebencian, celaan, tantangan terhadap Allah, berbicara yang buruk tentang Allah, kurang hormat dalam pembicaraan tentang Allah, dan menyalahgunakan nama Allah. Santo Yakobus menegur mereka “yang menghujah nama yang mulia, yang olehnya kamu menjadi milik Allah” (Yak 2:7). Larangan menghujah Allah mencakup juga kata-kata terhadap Gereja Kristus, orang-orang kudus, atau benda-benda kudus. Yang menyalahgunakan nama Allah untuk menutup-nutupi perbuatan yang jahat, memperhamba bangsa-bangsa, menyiksa manusia, atau, membunuhnya, juga menghujah Allah. Penyalahgunaan nama Allah untuk melakukan kejahatan menyebabkan kebencian terhadap agama. Menghujah Allah bertentangan dengan penghormatan yang harus diberikan kepada Allah dan nama-Nya yang kudus. Dengan sendirinya ia adalah dosa berat (Bdk. KHK, kan. 1369).

KGK, 2149.    Sumpah serapah yang menyalahgunakan nama Allah tanpa maksud menghujah Allah adalah kekurangan penghormatan kepada Tuhan. Perintah kedua juga melarang penggunaan nama Allah secara magis.
“Nama Allah diagungkan, kalau orang mengucapkannya dengan hormat, pantas untuk keluhuran-Nya dan kemuliaan-Nya. Nama Allah itu dikuduskan, kalau orang mengucapkannya dengan hormat dan dengan rasa takut untuk menghinanya” (Agustinus, serm. Dom. 2,45,19).

Dari uraian di atas, maka kita melihat bahwa walaupun seseorang tanpa bermaksud menghujat Allah, namun menyebutkan nama Allah karena ungkapan terkejut atau lainnya yang tidak ditujukan untuk penghormatan kepada Allah, termasuk perbuatan dosa. Walaupun ketidaksengajaan dapat mengurangi bobot dosa, namun sudah selayaknya kita berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini.

Kita juga tidak boleh berjanji atas nama Allah dengan mempertaruhkan nama Allah, apalagi janji atau sumpah palsu. Dengan perbuatan ini, kita mencoreng muka Allah, mempergunakan nama Allah untuk keuntungan dan kebohongan yang kita lakukan.

Dosa terberat dari perintah ke-2 ini adalah  terutama berhubungan dengan penghujatan seseorang – baik di dalam hati maupun dalam perkataan – yang secara sengaja menghina nama Allah, tempat kudus-Nya, Gereja-Nya, para malaikat, Bunda Maria dan seluruh para kudus.

Mari, kita mengingat untuk menyebut dan menggunakan nama Allah dengan semestinya, yaitu untuk memberikan kekuatan kepada kita, untuk mengingat dan memaklumkan kasih, kebaikan dan keadilan-Nya, serta memuliakan dan menyembah-Nya.

Aku Percaya akan Allah

9

Tuhan itu kekal, tidak berubah, Sebab dari segala sesuatu, Pribadi yang tidak diciptakan dan Pencipta segala sesuatu. Ia adalah kebenaran, kebaikan, keindahan dan kasih. Kita dapat mengetahui keberadaan-Nya melalui akal budi kita dan dari wahyu ilahi.

I. Allah menurut Kitab Suci

  • Kel 3:1-15 – Tuhan menyatakan nama-Nya kepada Musa: “Aku adalah Aku”
  • Kel 34:5-7 – Tuhan itu Maha Pengasih, Penyayang, Setia, dan Pengampun
  • Ul 6:4, Ul 32:39 – Tuhan itu satu/ esa
  • Mzm 119:160 – Tuhan itu kebenaran
  • Mzm 135:5 – Tuhan itu Maha besar
  • 1Yoh 4:8,16 – Tuhan adalah Kasih
  • Im 21:9, 1 Pet 1:15-16, Mat 5:48 – Tuhan adalah Kudus dan sempurna
  • Keb 13:1-5 – Tuhan itu Pencipta dan sumber keindahan dan kebaikan semua ciptaan-Nya
  • Mal 3:6 Tuhan tidak berubah
  • Yer 32:17 – Bagi Tuhan, yang menciptakan segalanya, tiada yang mustahil
  • Rom 1:23, Ibr 1:12. Mzm 90:2 – Tuhan itu tidak fana, kekal
  • Rom 1:18-32 – Tuhan dapat diketahui dari karya ciptaan-Nya; pengingkaran terhadap hal ini menjadikan manusia hidup sia-sia dan gelap
  • Yoh 4:24 – Tuhan itu Roh

II. Allah menurut Katekismus Gereja Katolik

  • KGK 27-30 – Keinginan untuk mengenal Tuhan
  • KGK 31-35 – Cara- cara untuk mengenal Tuhan
  • KGK 36-38 – Pengetahuan akan Tuhan menurut Gereja
  • KGK 39-43 – Bagaimana kita berbicara tentang Tuhan?
  • KGK 203-212 – Aku percaya akan satu Allah
  • KGK 214-221 – Tuhan, “Ia yang adalah Ia”, adalah Kebenaran dan Kasih
  • KGK 222-227 – Akibat dari iman akan satu Tuhan
  • KGK 268-274 – Tuhan Maha Kuasa dan kekal, tiada yang mustahil bagi Tuhan.

III. Allah menurut Para Kudus

  • St. Irenaeus (180): “Karena hakekat Tuhan yang tidak kelihatan itu Maha Besar, maka Ia menyampaikan kepada semua orang intuisi mental yang mendalam dan perasaan tentang adanya keMahabesaran-Nya yang penuh kuasa. Oleh karena itu, meskipun, “tidak ada seorangpun yang mengenal Bapa selain Anak, dan tiada yang mengenal Anak selain Bapa, dan mereka yang kepadanya Anak menyatakan diri-Nya” (Mat 11:27; Luk 10:22), namun semua manusia dapat mengetahui sedikitnya satu fakta ini [adanya Tuhan], sebab akal budi, yang ditanamkan di dalam pikiran mereka, menggerakkan mereka dan menyatakan kepada mereka bahwa ada satu Tuhan, Allah bagi semua.” (St. Irenaeus, Against Heresies, Bk 2,ch.6)
    “Sebab dengan ciptaaan sendiri, Sang Sabda menyatakan Tuhan Sang Pencipta; dan dengan dunia [Ia menyatakan] bahwa Tuhan adalah Pencipta dunia… (Ibid., Bk 4,ch.6)
  • St. Basil (330-379): “Mana yang lebih dulu, pengetahuan atau iman? Saya menjawab, dalam hal pemuridan, iman mendahului pengetahuan. Tetapi, di dalam pengajaran kita, jika ada orang yang menyebutkan bahwa pengetahuan muncul lebih dulu dari iman, saya tidak berkeberatan; dengan pengertian bahwa sepanjang pengetahuan di dalam batas pemahaman manusia. Di dalam pelajaran kita, kita harus percaya bahwa huruf A dikatakan kepada kita; lalu kita mempelajari huruf- huruf dan pengucapannya dan akhirnya kita memahami ide perbedaannya tentang kekuatan huruf tersebut. Tetapi di dalam iman kita tentang Tuhan, yang pertama datang adalah ide/ pemikiran bahwa Tuhan itu ada. Hal ini diketahui dari karya-karya-Nya. …. Sebab Tuhan adalah Pencipta seluruh dunia, dan kita adalah bagian dari dunia, maka Tuhan adalah Pencipta kita. Pengetahuan ini diikuti oleh iman, dan iman ini diikuti oleh penyembahan.” (St. Basil, Letter no. 235)
  • St. Athanasius (296-373): “Sebab jiwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (lih. Kej 1:26)…. maka ketika dibersihkan dari dosa, jiwa manusia melihat gambaran Allah Bapa, bahkan Sang Sabda, dan dengan cara-cara-Nya mencapai pengertian akan Allah Bapa yang digambarkan oleh Sang Penyelamat kita…. Adalah mungkin untuk mencapai pengetahuan akan Tuhan dari benda [ciptaan] yang kelihatan, sebab Penciptaan, seumpama dituliskan dengan huruf- huruf, menyatakan dengan lantang, dengan keteraturan dan harmoni, [tentang] Tuhan dan Penciptanya.” (St. Athanasius, Against the Heathens, chap. 14)

IV. Aku percaya akan satu Allah

Dalam syahadat para rasul kita memulai dengan “Aku percaya akan Allah …” atau dalam syahadat panjang /Nicea-Konstantinopel dituliskan “Aku percaya akan satu Allah…” Setelah kita membahas tentang “Aku Percaya” di pertemuan sebelumnya, maka kini kita akan membahas tentang mengapa kita mempercayai satu Allah, yang merupakan pengakuan iman yang paling mendasar, di mana semua artikel iman yang lain senantiasa merujuk kepada Allah. ((KGK, 199)) Pengakuan akan Allah yang satu dan sifat-sifat Allah yang lain dapat dapat dibuktikan dari akal budi dan dari wahyu Allah. Meskipun akal budi mempunyai keterbatasan pengetahuan, namun tidak bertentangan dengan wahyu Allah. Dengan kata lain wahyu Allah dapat menyempurnakan akal budi.

V. Membuktikan Allah yang Satu dengan akal budi

Manusia diciptakan oleh Tuhan menurut gambar Allah (Kej 1:27), sehingga mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi Allah. Walaupun manusia telah berdosa, namun manusia tidaklah rusak secara total, namun masih menjadi gambar Allah, sehingga dengan akal budinya, manusia juga dapat sampai pada pengetahuan tentang keesaan Allah melalui ciptaan, ((D 1806; cf. 1785, 1391)) seperti yang juga ditegaskan dalam PL “Sebab orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.” (Keb 13:5) dan PB “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Rm 1:20)

1. Lima pembuktian keberadaan Allah dari St. Thomas Aquinas

St. Thomas membuktikan bahwa dengan akal budi manusia, maka manusia tidak mempunyai dalih untuk tidak mempercayai keberadaan Tuhan yang satu. Untuk membuktikan kebenaran akan eksistensi dari Tuhan, maka St. Thomas Aquinas di dalam bukunya “Summa Theology,” ((St. Thomas Aquinas,  Summa Theology, I, q.2., a.3.)) memberikan lima metode, yang terdiri dari: 1) prinsip pergerakan, 2) prinsip sebab akibat, 3) ketidakkekalan dan kekekalan, 4) derajat kesempurnaan, dan 5) desain dunia ini.

a. Prinsip pergerakan (movement)

Prinsip ini mengajarkan bahwa semua benda yang bergerak atau berubah disebabkan  oleh sesuatu. Atau, sesuatu berubah dari keadaan bakal ke keadaan nyata karena digerakkan oleh sesuatu yang sudah dalam keadaan nyata. St. Thomas mengambil contoh dari pergerakan, karena pergerakan terjadi di mana saja, kapan saja, dan bisa diamati. Sebagai contoh, gerbong kereta api bergerak karena ditarik oleh lokomotif, namun lokomotif bergerak, karena ada tangan manusia yang mengoperasikannya. Tangan digerakkan oleh sistem kerja tubuh yang melibatkan miliaran sel, yang dikoordinasikan oleh otak. Otak berfungsi karena ada kehidupan; ada jiwa yang tinggal di dalam tubuh manusia. Siapa yang membuat kehidupan dan jiwa tetap bertahan?… Pertanyaan akan sampai pada suatu titik, bahwa ada penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain, karena ada Satu yang menjadi  Sumber dari pergerakan itu. Sumber pergerakan inilah yang dinamakan “Tuhan”.

b. Prinsip sebab akibat (causality)

Semua orang tahu bahwa sesuatu terjadi dikarenakan oleh sesuatu. Sepasang suami istri menikah karena mengasihi satu sama lain. Komitmen untuk membentuk rumah tangga disebabkan karena keduanya ingin hidup bahagia. Dan kebahagiaan, kalau ditelusuri terus-menerus akan sampai pada suatu titik, yang disebabkan oleh  penyebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Sumber dari penyebab inilah yang disebut “Tuhan“.

Dapatkah terjadi bahwa segala pergerakan atau sebab akibat ini berlangsung tanpa batas sehingga tak dapat ditelusuri awalnya?“. Nampaknya tidak, jika kita membagi semua pergerakan dan sebab akibat menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah “keadaan saat ini” Bagian kedua adalah deretan yang tak terhingga dari gerak dan sebab akibat, atau yang disebut “keadaan di bagian tengah“. Dan kemudian bagian yang terakhir adalah “keadaan awal“. Nah, keadaan awal inilah yang disebut “Tuhan, Sang Alfa.”

c. Prinsip ketidakkekalan dan kekekalan (contingency)

Di dunia ini, tidak mungkin semuanya bersifat sementara, karena kalau demikian maka ada suatu waktu semuanya akan lenyap. Contoh: orang tua kita hidup sekitar 80 tahun. Lalu kakek kita mungkin 90 tahun. Kakek dari kakek kita mungkin 100 tahun. Berapapun panjang usia nenek moyang kita, mereka pada akhirnya meninggal. Jika ditelusuri terus, maka garis keturunan kita akan sampai pada manusia pertama. Pertanyaannya adalah, bagaimana manusia pertama itu dapat ada dan hidup? Tidak mungkin ia terjadi begitu saja dari ketidak-adaan. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang ada. Jadi disimpulkan bahwa kalau semua mahluk tidak kekal, maka harus ada “Sosok lain” yang keberadaannya kekal. Sesuatu yang kekal ada dua macam, yaitu 1) kekekalan yang diperoleh dari yang lain, sebagai contoh: jiwa manusia, para malaikat – setelah mereka diciptakan, maka mereka menjadi kekal; 2) Kekekalan yang kedua adalah kekekalan yang tidak tergantung dari yang lain, dan ini hanya ada satu, yaitu Tuhan. KekekalanNya membuat mahluk yang tidak kekal terus bertahan dan memenuhi bumi, sehingga kehidupan tidak punah. Kekekalan yang tidak disebabkan oleh yang lain inilah yang disebut “Tuhan, Sang Kekal.”

Pendapat yang menyanggah keberadaan Tuhan sebagai Penggerak pertama dan Penyebab pertama adalah tidak mendasar, karena itu berarti, kita harus berasumsi bahwa sesuatu di dunia ini terjadi tanpa ada penyebabnya. Asumsi ini berlawan dengan prinsip utama yang tak perlu dibuktikan (self-evident principle), yaitu prinsip sebab akibat: bahwa sesuatu terjadi karena ada penyebabnya.

d. Derajat kesempurnaan (grade of perfection)

Semua yang ada di dunia ini ada tingkatannya. Ada yang miskin, ada yang kaya. Kasih, kebajikan, kebaikan, keindahan, kebenaran, semuanya ada tingkatannya. Jika semua ada tingkatannya, tentu ada yang paling tinggi tingkat kesempurnaanya. Jadi, semua tingkatan mengambil bagian dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi. Sebagai contoh, kalau kita menaruh besi di dalam api, maka besi itu menjadi panas. Namun panasnya besi bukan karena akibat dari besi itu sendiri, melainkan karena partisipasi besi itu dalam api.

Contoh di atas membuka suatu prinsip yang sangat penting, yaitu “seseorang atau sesuatu tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya.” Air dingin tidak bisa membuat besi menjadi panas, karena air dingin tidak mempunyai sifat panas. Semua yang di dunia ini tidaklah sempurna,  namun semuanya ada karena partisipasi dalam Sesuatu yang tingkatannya paling tinggi, yaitu yang di sebut “Tuhan, Sang Maha Sempurna.”

e. Desain dunia ini (governance)

Prinsip ini dapat dibuktikan di dalam hidup kita sehari-hari. Apapun yang ada di sekitar kita, seperti, jalan, rumah, kota, dll, ada karena ada seseorang yang mendesain dan membangunnya.  Semua itu tidak ada dengan sendirinya. Kalau kita percaya bahwa rumah kita tidak terjadi dengan sendirinya, namun ada perancangnya, maka seharusnya kita dapat menerima bahwa bumi dan seluruh tata surya tidak terjadi dengan sendirinya, namun ada Perancangnya. Sebab seluruh tata surya, bumi dan segala isinya, jauh lebih rumit daripada rumah kita. Pergerakan planet-planet dan bintang-bintang, yang berjalan dengan keharmonisan tertentu tidak mungkin terjadi karena faktor kebetulan. Jika kita percaya akan adanya arsitek yang mendesain rumah kita, maka kita harus percaya bahwa ada arsitek tata surya ini, yaitu Tuhan.

2. Pembuktian dari Blaise Pascal

Blaise Pascal (1623-1662) memberikan argumentasi dari sisi yang sangat praktis, yaitu dari kemungkinan, yang disebut argumentasi pertaruhan dari Pascal (Pascal’s Wager). Dia mengatakan bahwa jika saya bertaruh bahwa Tuhan ada dan Tuhan memang ada, maka saya mendapatkan keuntungan tanpa batas (Sorga); jika saya bertaruh bahwa Tuhan ada dan ternyata Tuhan tidak ada, maka saya tidak mengalami kerugian apapun. Jika saya bertaruh bahwa Tuhan tidak ada dan ternyata Tuhan ada, maka saya akan mengalami kerugian selamanya (neraka); jika saya bertaruh bahwa Tuhan tidak ada dan Tuhan ternyata tidak ada, maka saya tidak diuntungkan maupun tidak dirugikan. Dengan argumentasi ini, maka jelaslah bahwa mempercayai keberadaan Tuhan adalah lebih masuk akal daripada menolak keberadaan Tuhan, karena dengan mempercayai keberadaan Tuhan hanya mendatangkan keuntungan selamanya atau tidak mengalami kerugian apapun.

3. Sifat-sifat Tuhan

Selain dapat menangkap kebenaran akan keberadaan Tuhan yang satu, akal budi juga dapat menangkap beberapa sifat Tuhan. Hal ini diungkapkan dalam pernyataan Gereja pada Konsili Vatikan I, yang menuliskan “Gereja yang kudus, katolik, apostolik, katolik Roma percaya dan menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan yang sejati dan hidup, Pencipta dan Tuhan surga dan bumi. Ia adalah Maha Besar, kekal, tak dapat diukur, tak dapat dipahami, dan tak terhingga di dalam akal budi, kehendak dan di dalam setiap kesempurnaan. Sebab Ia adalah satu hakekat rohani yang unik, secara keseluruhan sederhana, tidak berubah, Ia harus dinyatakan sungguh dan pada hakekatnya berbeda dari dunia, secara sempurna bahagia di dalam Diri-Nya sendiri dan dengan kodrat-Nya, dan secara tak terkatakan ditinggikan mengatasi segalanya yang ada atau yang dapat dibayangkan selain dari Diri-Nya sendiri.” ((Vatican I, Dogmatic Constitution on the Catholic Faith, 1; Denzinger 1782 (3001).))

Konsili Vatikan I menjabarkan dan menyusun sifat-sifat Tuhan tersebut untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan ajaran sesat, yang dapat dipaparkan sebagai berikut: ((Fr. John A. Hardon, SJ, The Catholic Catechism: A Contemporary Catechism of the Teachings of the Catholic Church, Doubleday & company, Inc. Garden City, New York, 1975, p.55-58))

a. Tuhan itu Satu: Hal ini untuk membantah kepercayaan akan banyak Tuhan (polytheism), atau sidang para tuhan dengan satu Tuhan sebagai yang utama (henotheism), atau dua tuhan (dualisme dari Manichaean). Tuhan yang maha dalam segalanya hanya mungkin ada satu dan tidak mungkin ada lebih dari satu.

b. Tuhan itu Sejati: Tuhan bukanlah hanyalah sekedar gambaran atau imaginasi pikiran manusia, seperti yang sering diajarkan oleh ateisme dan materialisme.

c. Tuhan itu Hidup: Tuhan adalah Tuhan yang hidup, yang mempunyai Pribadi dan bukan satu kekuatan atau energi, seperti yang dikemukan oleh sebagian kepercayaan Timur.

d. Tuhan itu Maha Besar: Kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas dan Dia dapat melakukan apa saja, kecuali Dia tidak dapat mengkontradiksi Diri-Nya sendiri.

e. Tuhan adalah Kekal: Tuhan adalah tanpa awal dan tanpa akhir. Tidak ada masa lalu maupun masa depan di dalam Tuhan, karena semuanya adalah saat ini.

f. Tuhan adalah tak terukur: Tuhan tidak dibatasi oleh tempat. Pernyataan ini menolak paham Albigenses, yang meneruskan paham Manichaean, yang mempercayai bahwa para dewa menempati satu bagian tertentu dari bumi.

g. Tuhan adalah tak terselami: Tuhan tidak dibatasi oleh tempat dan juga keberadaannya tak terbatas, baik dalam batasan fisik maupun batasan rohani.

h. Tuhan adalah tak terhingga: Tuhan tak terhingga di dalam akal budi, kehendak, dan dalam setiap kesempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam Tuhan sendiri terkandung seluruh kesempurnaan, baik pengetahuan, kekuatan, maupun pribadi.

i. Tuhan adalah unik: Keunikan Tuhan adalah karena terletak pada Tuhan yang satu dan maha dalam segalanya.

j. Tuhan adalah satu hakekat rohani: Menyatakan Tuhan adalah satu hakekat yang bukanlah fisik, karena dia adalah sungguh sosok rohani, yang mempunyai akal budi – sehingga dapat mengetahui dan mempunyai keinginan – sehingga dapat mengasihi. Dia adalah sosok yang unik, bukan seperti yang dimengerti oleh paham panteisme: Allah berada di dalam semua dan semua mempunyai partikel Allah.

k. Tuhan adalah sederhana (simple): Sederhana dalam hal ini harus diartikan bahwa Tuhan tidak mempunyai bagian, seperti manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Semua sifat Tuhan adalah merupakan hakekat Tuhan, sehingga kita mengatakan “Tuhan itu kasih” dan bukan “di dalam Tuhan ada kasih”.

l. Tuhan adalah tak berubah: Karena Tuhan adalah maha tahu, maha kekal, kepenuhan kesempurnaan, maka di dalam Tuhan tidak ada perubahan.

m. Tuhan di atas segalanya: Tuhan berbeda dengan semuanya, Dia ditinggikan lebih dari segala sesuatu, Dia bahagia secara absolut tanpa tergantung dari yang lain.

VI. Kendala dalam menerima keberadaan Tuhan

Kalau kita melihat, sebenarnya pembuktian akan keberadaan Tuhan sesungguhnya sangat masuk akal. Sifat-sifat Tuhan yang diuraikan di atas juga dapat dipertanggungjawabkan dengan akal budi. Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang tidak dapat menerima keberadaan Tuhan adalah sebagai berikut:

1. Kesombongan:

Kesombongan menghalangi seseorang untuk menerima keberadaan Tuhan, karena hal ini membuatnya tidak lagi menjadi fokus dari seluruh kehidupan.

2. Kepedihan, ketakutan dan penderitaan

Kepedihan akan kematian atau penderitaan dapat menyebabkan seseorang menjadi ragu-ragu akan keberadaan Tuhan. Dan sebaliknya ketakutan akan kehilangan milik di dunia ini atau ketakutan akan penderitaan juga dapat menyebabkan seseorang menolak keberadaan Tuhan.

3. Takut akan konsekuensi:

Akhirnya kemungkinan yang sering dialami oleh orang-orang adalah karena takut akan konsekuensi untuk mempercayai Tuhan. Dengan mengakui keberadaan Tuhan, maka seseorang harus mengasihi Tuhan, mengikuti perintah Tuhan.

4. Ada banyaknya kejahatan.

Ada banyak orang beralasan, karena ada banyaknya kejahatan di dunia ini, maka mereka berkesimpulan tidak ada Tuhan; atau dunia ini tidak diciptakan oleh Tuhan. Pendapat ini menutup mata akan adanya jauh lebih banyak hal di dunia ini yang baik, daripada yang jahat. Jika di antara 50 tanaman yang sama- sama diairi dan diberi pupuk, ada 1 tanaman yang mati; itu tidak membuktikan bahwa tidak ada Tuhan yang menciptakan tanaman dan menumbuhkannya. Maka kejahatan bukanlah merupakan yang sesuatu hal yang positif diciptakan oleh Tuhan, melainkan adanya keadaan di mana kebaikan tidak terjadi. Jangan juga dilupakan, bahwa Allah sanggup mendatangkan kebaikan dari keadaan yang jahat.

5. Terlalu mengandalkan ilmu pengetahuan.

Dewasa ini banyak orang yang dengan mengandalkan pandangan ilmu pengetahuan sampai pada kesimpulan bahwa seluruh alam semesta terjadi karena kebetulan, tidak ada Tuhan Sang Pencipta, dan manusia merupakan hasil dari evolusi (dikenal dengan istilah makro-evolusi). Namun evolusi mengacu kepada perkembangan sesuatu yang sudah ada (dikenal dengan istilah mikro-evolusi), dan bukan kepada penciptaan apa yang belum ada. Sebab sebelum sesuatu dapat berkembang, ia harus ada terlebih dahulu. Evolusi hanya menceritakan salah satu cara bagaimana Tuhan dapat bertindak, tetapi tidak dalam hal bagaimana sesuatu itu dapat tercipta dengan sendirinya. Selanjutnya, jiwa tidak dapat dihasilkan dari evolusi materi. Maka jiwa spiritual manusia tidak mungkin merupakan hasil dari evolusi binatang. Hanya Tuhan yang dapat menciptakan jiwa manusia. Lagipula, tidak terdapat bukti dari makro-evolusi; pembuktian dari DNA menyatakan bahwa makro-evolusi tidak dapat terjadi. ((lih. Gerard J. Keane, Creation Rediscovered, (Rockford, Illinois: TAN books, 1999), Publisher 2002))

VII. Tuhan mewahyukan Diri-Nya

Selain dari akal budi manusia pengetahuan akan Tuhan diperoleh dari wahyu Allah yang diberikan kepada manusia dengan perantaraan Sabda-Nya:

1. Keberadaan-Nya:

“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Rom 1:20)

2. Tuhan itu Kekal dan tidak berubah

a. Kodrat-Nya Roh dan kekal

Tuhan adalah Roh, tidak fana (Yoh 4:24, Rom 1:23). Tidak seperti manusia yang fana, Tuhan tidak pernah berhenti untuk hidup, karena itu Ia disebut Tuhan yang hidup (Mat 16:16) dan kekal (1 Tim 1:17).

b. Namanya “Aku adalah Aku”

“Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Kel 3:13-14) Dengan ini Tuhan menyatakan kekekalan-Nya dan bahwa keberadaan-Nya tidak tergantung dari siapapun, namun Ia ada atas kuasa-Nya sendiri. Segala yang lain-lah yang tergantung kepada-Nya agar dapat ada; sebagaimana sang pembangun harus ada lebih dahulu daripada bangunan yang dibuatnya.

c. Ia kekal, tidak mempunyai awal dan tidak akan berakhir

“Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.” (Mzm 90:2) Kata Yesus kepada mereka: “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58). Bagi Tuhan tidak ada masa lalu maupun masa depan, semua adalah “saat ini” bagi Tuhan. Tak ada urutan waktu bagi Tuhan, sebab Tuhan tidak terbatas oleh waktu.

3. Tuhan Maha hadir (omnipresent)

Ia ada di mana- mana. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia (Ibr 4:13). “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada …” (Kis 17:28). “Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.” (Yer 23:24). Keberadaan-Nya di setiap tempat maksudnya adalah: ((lih. Spirago- Clarke, The Catechism Explained, (Rockford, Illinois: TAN Books, 1993), p. 115-117))

a. Tuhan ada di mana- mana sebab semua ciptaan dapat eksis di dalam Tuhan, sebagaimana pikiran ada di dalam kita. Di dalam Dia kita hidup, bergerak dan ada (Kis 17:28);

b. Tuhan tidak terbatas oleh tempat apapun, sebab Ia tidak terbatas (lih. 1 Raj 8:27). Tempat yang terbatas tidak mampu menampung Dia yang tidak terbatas.

c. Karena Tuhan tidak terbatas oleh ruang, maka Ia dapat berada di setiap tempat di saat yang sama. Ia tidak terbagi -sebagian di Surga, sebagian di bumi- tetapi seluruhnya di surga, dan seluruhnya di bumi.

d. Tuhan hadir secara istimewa di Surga, di sakramen Mahakudus dan di jiwa-jiwa orang benar.

e. Tidak ada suatu tempatpun di dunia di mana Tuhan tidak ada. “Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” (Ams 15:3). Tidak ada satu orangpun dapat melarikan diri dari Allah (lih. Mzm 139:7-8).

f. Tuhan selalu hadir di dalam kita. St. Efrem mengajarkan, “Ia yang mempunyai Tuhan di dalam pikiran-Nya, akan menjadi seperti malaikat di dunia.” Maka ingatan yang terus menerus akan kehadiran Tuhan, sangatlah berguna bagi kita, agar kita dapat menghindari dosa, untuk menjaga kita dalam keadaan rahmat, dan untuk mendorong kita melakukan perbuatan baik dan siap sedia melayani-Nya.

4. Tuhan tetap / tidak berubah

“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah…” (Mal 3:6). Tuhan tidak pernah berubah; menjadi lebih baik atau lebih buruk, Ia tak pernah mengingkari Sabda-Nya (lih. Bil 23:19). Ia mengubah karya-karya-Nya namun tidak mengubah perintah ilahi-Nya. Dengan Inkarnasi, kemanusiaan diubah, namun keilahian-Nya tidak berubah, sebagaimana matahari tidak pernah berubah ketika ia tersembunyi di balik awan. Ketika manusia dalam persahabatan dengan Allah, Ia melihat Allah sebagai Allah yang penuh kasih; ketika manusia menjauh dari Allah dan jatuh dalam dosa, ia melihat Allah sebagai hakim yang keras. Ketika mata sehat, ia senang melihat terang, namun ketika mata sakit, terang membuat matanya sakit. Maka bukan terangnya yang berubah, tetapi keadaan mata yang melihat terang itu.

5. Tuhan Maha Tahu

Ia mengetahui dan melihat segala sesuatu. Tuhan mengetahui segala sesuatu: masa lalu, masa kini, masa depan, dan seluruh pikiran kita. (Yer 17:10; lih. Mzm 139). Tuhan mengetahui ketika Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan, Tuhan mengetahui lebih dahulu akan pengkhianatan Rasul Petrus; Ia mengetahui prasangka buruk Simon orang Farisi. “Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?” (Mzm 94:9)

Allah sudah tahu akan adanya orang- orang yang akan menerima-Nya ataupun menolak-Nya. Namun jika Allah sudah mengetahui bahwa orang- orang tertentu akan menolak-Nya, pengetahuan Allah ini bukan menjadi penyebab akan penolakan dan penghukuman atas mereka. Dokter dapat memperkirakan bahwa pasiennya akan wafat, namun pengetahuannya ini tidak menjadi penyebab wafatnya pasiennya itu.

Tuhan mengetahui apa yang akan terjadi pada kita, sehingga adakalanya ia mengizinkan pencobaan terjadi dalam hidup kita, untuk mencegah adanya keburukan yang lebih besar yang sedianya dapat terjadi pada kita. Contohnya, Tuhan mengetahui bahwa seseorang dapat binasa karena kekayaannya, maka Ia mengizinkan orang tersebut mengalami masalah keuangan, untuk membentuknya menjadi orang yang lebih baik, menanggung kesulitan dengan kesabaran.

Kesadaran akan kemahatahuan Tuhan membantu kita ketika sedang berada di dalam pencobaan, agar jangan sampai kita jatuh ke dalam dosa. “Tuhan melihat segala yang kulakuan”, menjadi pedoman agar kita dapat menolak godaan.

Tuhan yang Maha Tahu ini akan suatu hari nanti menyatakan segala yang tersembunyi di dalam terang (lih. Luk 8:17); dan ini terjadi di Penghakiman Terakhir.

6. Tuhan Maha Bijaksana

Ia sangat bijaksana, tahu mengarahkan segalanya bagi yang terbaik menurut rencana-Nya, artinya: ((lih. Spirago- Clarke, The Catechism Explained, Ibid., p. 119-121))
a. Tuhan dapat mendatangkan yang baik dari hal yang buruk. Contoh yang jelas adalah dalam kisah Yusuf, yang dibuang kakak-kakaknya, dijual menjadi budak, namun kemudian menjadi tangan kanan raja.

b. Tuhan menggunakan cara yang paling tidak layak untuk kemuliaan-Nya. Rasul Paulus mengajarkan bahwa “yang lemah di dunia ini Tuhan pilih untuk mempermalukan yang kuat” (1 Kor 1:27). Tuhan memilih tanah Palestina yang tak menarik untuk menjadi tempat kelahiran Kristianitas. Ia memilih perawan miskin untuk menjadi Bunda Allah; dan tukang kayu yang miskin sebagai bapa angkat-Nya. Ia memilih para nelayan miskin untuk rasul dan menjadi pewarta Injil ke seluruh dunia.

c. Tuhan mengarahkan segala yang di dunia untuk mencapai maksud-Nya. Segalanya di dunia mempunyai hubungan timbal balik antara satu dan lainnya. Tak ada pergerakan di dunia ini yang tidak ada gunanya. Perubahan hujan dan panas, pergantian musim, perputaran bumi dan planet terhadap matahari, gravitasi, dst, bertujuan untuk menjadikan kehidupan di bumi menjadi baik bagi manusia. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mzm 104:24)

7. Tuhan Maha Kuasa

Ia Maha Kuasa: “Tuhan, Tuhan, Raja semesta alam! Segala sesuatunya ada dalam kekuasaan-Mu dan tiada seorangpun dapat membantah Engkau” (Est 13:9). Tuhan dapat melakukan segala yang mustahil di mata manusia (lih. Mat 19:26).

a. Namun Tuhan tidak dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya: Ia tidak dapat menipu, Ia tidak dapat menjadi tidak setia. Manusia hanya dapat mencipta dari apa yang sudah ada/ diciptakan Tuhan. Sedangkan Tuhan dengan kuasa-Nya mencipta atas dasar kehendak-Nya, dari ketiadaan menjadi ada (lih. 2Mak 7:28).

b. Kemahakuasaan Tuhan jelas terlihat di dalam penciptaan dunia, di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, dan mujizat yang terjadi, baik sebelum maupun sesudah zaman Yesus hidup di dunia, yang meneguhkan kekristenan sebagai agama sejati.

c. Karena Tuhan Mahakuasa, kita dapat berharap kepada-Nya di dalam kesesakan kita. Ingatlah betapa Tuhan membelah Laut Merah untuk menyelamatkan bangsa Israel, Ia mengirimkan malaikat-Nya untuk membebaskan Rasul Petrus di penjara, melakukan banyak mujizat untuk menyembuhkan orang-orang sakit dst.

8. Tuhan Maha Baik dan Maha Kasih

a. Ia sangat baik (lih. Mrk 10:18). Kebaikan Tuhan berbeda dengan kebaikan ciptaan. Mahluk ciptaan baik karena Tuhan membagikan kebaikan-Nya kepada mereka.

b. Ia adalah Kasih dan Bapa kita: “Allah adalah Kasih” (1 Yoh 4:8,16); “Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” (Ul 32:6). Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa (lih. Mat 6:9, Luk 11:2). Karena kasih-Nya, Ia selalu setia menyertai kita,
“Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau. (Yes 54:10) Karena kasih-Nya, Ia “menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1Tim 2:4).

1. Kasih Tuhan diberikan kepada semua ciptaan-Nya (lih. Keb 11:25), tak ada satupun yang dilupakan oleh Allah (Luk 12:6)

2. Tetapi Tuhan mempunyai kasih yang istimewa kepada umat manusia, sehingga mengaruniakan Putera-Nya ke dunia untuk menyelamatkan mereka. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).

3. Di antara manusia, Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang terbesar kepada orang- orang benar. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” (Rom 8:28) Tuhan membalas kebaikan yang dilakukan oleh orang- orang benar melebihi yang layak mereka terima. Ia membayarnya seratus kali lipat, bahkan di dalam hidup di dunia (lih. Mat 19:29).

4. Tuhan menyatakan kasih-Nya bahkan kepada para pendosa. Tuhan mengirimkan pencobaan agar manusia bertobat. Ia menunjukkan kasih-Nya kepada para pendosa bahkan sampai akhir hidup mereka, seperti pada kisah pencuri yang bertobat yang disalibkan di sisinya (Luk 23:40-43).

9. Tuhan Maha sabar

Ia memberikan waktu kepada pendosa untuk bertobat. Bukan kehendak Tuhan agar pendosa menjadi binasa, tetapi agar mereka bertobat dan hidup (lih.Yeh 18:23).
Tuhan bersabar dengan kita karena Ia berbelas kasihan atas kelemahan kita dan karena Ia menghendaki agar pertobatan menjadi mudah bagi para pendosa, “Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Pet 3:9). Namun demikian, jangan kita berpikir bahwa karena Tuhan Mahasabar maka Ia otomatis melupakan dosa kita tanpa perlu kita bertobat. Jangan berkata, “Betul, aku sudah berdosa, tetapi apakah menimpa diriku? Sebab Tuhan panjang hati.” Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa. (Sir 5:4-5)

10. Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun

Ia Maha Pengasih dan Pengampun: Ia selalu siap mengampuni dosa- dosa kita ketika kita bertobat. Demikianlah Allah mengampuni Daud (2 Sam 12:13). Belas kasihan Tuhan tiada terbatas, jika Ia mengajarkan agar kita mengampuni tujuh puluh kali tujuh (lih. Mat 18:22), betapa lebih besarnya lagi belas kasihan-Nya. “Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya.”(Yes 63:9).

a. Belas kasihan Tuhan dinyatakan-Nya dengan mencari para pendosa, seperti gembala yang selalu mencari dombanya yang hilang sampai ditemukannya kembali (Luk 15:4). Tuhan mengirim Nabi Natan kepada Raja Daud, Ia sendiri mencari dan menemukan perempuan Samaria (Yoh 4). “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes 1:18)

b. Tuhan menyambut kembali para pendosa yang bertobat dengan sungguh, seperti pada kisah Maria Magdalena, dan pencuri yang bertobat yang disalibkan di sisi-Nya (Luk 7:47; Yoh 8:11; Luk 23:43).

c. Tuhan mengatakan bahwa ada sukacita yang lebih besar di surga atas seorang pendosa yang bertobat, daripada 99 orang benar yang tidak membutuhkan pertobatan (lih. Luk 15:7), sebab sang pendosa yang bertobat umumnya melayani Tuhan dengan semangat yang lebih berkobar dan lebih setia.

11. Tuhan Maha Kudus

a. Ia adalah Kudus: Ia menyukai kebaikan dan membenci semua kejahatan. “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Im 19:2); “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Pet 1:16)

b. Ia Maha Sempurna: Kekudusan Tuhan tiada lain adalah kesukaan-Nya terhadap kesempurnaan-Nya yang tiada batasnya. Ia bebas dari noda dosa, dan karena itu menghendaki semua ciptaan-Nya agar demikian juga, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48).

12. Tuhan Maha Adil

Tuhan Maha Adil, artinya Tuhan menghargai semua kebaikan dan menghukum semua perbuatan jahat. Keadilan Tuhan identik dengan kebaikan-Nya. Engkau adil, ya Tuhan dan hukum-hukum-Mu benar (Mzm 119:137).

a. Sebagian hukuman dan penghargaan Tuhan diberikan kepada manusia di dunia ini, namun terutama setelah kematian. Abraham, Nuh dan Yusuf diberi penghargaan di dunia; Absolom, Antiokhus Epifanes menerima hukuman di dunia ini. Tetapi di kehidupan yang akan datang, terutama setelah kebangkitan badan, setiap tubuh dan jiwa menerima semua balasan-Nya dengan penuh.

b. Tuhan menghargai perbuatan baik yang terkecil, dan menghukum dosa yang terkecil. Bahkan secangkir minum yang diberikan atas nama Tuhan akan dihargai, namun juga setiap kata- kata yang sia- sia akan diperhitungkan (lih. Mat 7:36)

c. Tuhan menghukum manusia, umumnya dengan cara yang sama di mana ia berdosa. Absolom berbangga dengan rambutnya, dan karena rambutnya ia wafat. Raja Antiokhus menyiksa ketujuh bersaudara Makabe dengan mengoyakkan tubuh mereka; namun tubuhnya sendiri kemudian dimakan ulat (lih. 2 Mak 9:6).

d. Dalam memberi penghargaan dan menghukum,Tuhan memperhatikan keadaan tiap-tiap orang, maksud hatinya dan bakatnya. Tuhan melihat hati (lih. 1Sam 16:7). Persembahan janda miskin jauh lebih berharga daripada persembahan orang- orang kaya (lih. Luk 21:4). Hamba yang mengetahui kehendak tuannya namun tidak melakukannya menerima lebih banyak pukulan daripada yang tidak mengetahuinya (lih. Luk 12:47-48).

e. Tuhan tidak memakai patokan manusia dalam menyatakan keadilan-Nya. Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu, orang yang miskin mendahului yang kaya, orang yang terkenal di dunia belum tentu tercatat namanya di kitab kehidupan.

Karena Tuhan Maha Adil, maka kita mempunyai alasan untuk takut akan Tuhan, namun takut di sini maksudnya bukan semata takut akan hukuman Tuhan, tetapi takut menyakiti hati Tuhan. Takut akan Tuhan akan membuat kita menghindari dosa dan menghantar kita kepada kesempurnaan. “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”(Mzm 112:1). Takut akan Tuhan merupakan rahmat istimewa yang diberikan kepada mereka yang mengasihi Dia.

13. Tuhan adalah kesempurnaan Kebenaran

Tuhan adalah Kebenaran, dan segala yang diwahyukan-Nya kepada manusia adalah kebenaran. Tuhan tidak mungkin salah sebab Ia Mahatahu. Ia tidak dapat menipu, sebab Ia kudus. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta; bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.” (Bil 23:29). Oleh karena itu kita harus percaya kepada semua yang diwahyukan/ dinyatakan oleh Tuhan, meskipun pengertian kita tidak sempurna untuk memahaminya.

14. Tuhan Maha setia

Ia menepati janji-Nya dan melakukan penghukuman-Nya. Tuhan memberikan hukuman kepada Adam dan Hawa, atas pelanggaran mereka, tetapi menepati janji-Nya untuk mengutus Sang Penebus. Maka apa yang dinubuatkan oleh Allah maupun para nabi-Nya, entah telah digenapi atau akan digenapi di masa yang akan datang. Maka jika dikatakan bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16-19) sampai akhir zaman (Mat 28:19-20), maka hal itu akan digenapi-Nya.

15. Tuhan Maha Esa

Ia adalah Satu/esa: “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4); “Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.” (Kel 32:39). Sebab kesempurnaan, dan segala yang “paling” baik mensyaratkan Satu Subyek saja, dan Subyek itu adalah Tuhan yang Esa.

VIII. Tanggung jawab kita untuk mengenal dan mengasihi Tuhan

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa kebenaran yang diungkap oleh akal budi maupun yang dinyatakan oleh wahyu sebenarnya sama. Keduanya menyatakan hakekat Tuhan yang satu, kekal, yang maha dalam segalanya, yang tidak berubah, dan sempurna. Pengetahuan akan Tuhan ini tidak ada gunanya, kalau tidak ditanggapi dalam iman. Kita harus mengimani kebenaran ini dan kemudian menempatkan diri kita sebagai makhluk ciptaan dan menempatkan Tuhan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai Pencipta dan Pusat dari segala kehidupan kita. Ya, Tuhanlah yang menciptakan kita karena kasih-Nya kepada kita yang tiada terbatas.

Dengan demikian, tepatlah jika kita juga mengasihi Tuhan. Mengasihi adalah kegiatan manusia yang tertinggi; dan tidak ada obyek yang lebih mulia untuk dikasihi selain dari Tuhan Sang Pencipta. Maka, tak mengherankan bahwa perintah Tuhan yang terutama dan pertama adalah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat 22:37)

Kasih kita kepada Tuhan dinyatakan dengan:

1. Adorasi: Kita menyembah-Nya karena Ia adalah Sang Kebaikan itu sendiri dan kita ‘berhutang” kepada-Nya atas segala kebaikan dan kasih-Nya, sehingga kita perlu menghormati dan mengasihi-Nya.

2. Pertobatan: Jika kita berdosa, dan tidak mengasihi-Nya sebagaimana seharusnya, kita perlu memohon ampun kepada-Nya.

3. Ucapan Syukur: Kita bersyukur karena segala sesuatu yang dilakukan-Nya kepada kita.

4. Permohonan: Sebab kita secara keseluruhan tergantung kepada rahmat-Nya, kita perlu berdoa kepada-Nya memohon rahmat-Nya dan pertolongan-Nya.

Tuhan telah menanamkan keinginan di dalam hati manusia untuk mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya. Manusia tidak akan pernah tenang, sampai ia dapat menemukan Tuhan.  St. Agustinus merumuskannya demikian, “Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu sendiri, O Tuhan, dan hati kami tak dapat tenang sampai kami dapat beristirahat di dalam Engaku.” ((St. Augustine, Confession, Book 1, 1)). Maka kita harus mengarahkan akal budi dan kehendak kita kepada Tuhan: 1) dengan akal budi, kita berusaha untuk mengenal Dia, terutama melalui doa; 2) dengan kehendak, kita berusaha melakukan perintah-perintah-Nya.

IX. Beberapa pertanyaan permenungan

1. Apakah anda pernah mengalami keinginan untuk mengenal Tuhan atau keinginan untuk mengisihi hatimu?

2. Dengan cara apakah hatimu menjawab pengetahuan akan keberadaan Tuhan?

3. Mengapa anda percaya akan keberadaan Tuhan? Apakah anda tahu seseorang yang tidak mempercayai Tuhan? Mengapa orang tersebut tidak mempercayai Tuhan?

4. Apakah pengaruh sifat-sifat Tuhan di atas terhadap hidupmu?

5. Apakah ada perbedaan ketika seseorang percaya akan Tuhan? Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan, dosa, kebohongan, perceraian, pembunuhan, aborsi?

Kesalehan Umat dan Liturgi: Kemungkinan Penyerasian

17

Tentang devosi dan liturgi

Kesalehan umat menurut Direktorium Tentang Kesalehan Umat dan Liturgi (Pia Populi Christiani Exercitia = PPCE) no. 9 adalah “berbagai ungkapan kultis yang bersifat perorangan atau jemaat yang – dalam konteks iman Kristiani – diilhami pertama-tama bukan oleh liturgi kudus, tetapi oleh bentuk-bentuk yang diwariskan oleh bangsa atau orang tertentu, atau oleh kebudayaan mereka”. ((Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi, terjemahan oleh Komisi Liturgi KWI, dari dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Directory on Popular Piety and the Liturgy (Pia populi christiani exercitia = PPCE, Vatican City 17 Desember 2001), Obor Jakarta, 2011.)) Ini adalah harta umat Allah yang haus akan Allah sendiri dan membuat umat mencontohi Allah untuk bermurah hati dengan penuh kasih dan rela berkorban dalam memberikan kesaksian iman. Ungkapan kesalehan umat antara lain: tata gerak, teks dan rumusan, nyanyian dan musik, patung kudus, tempat kudus dan saat kudus. ((PPCE 15-20.)) Di samping kesalehan umat ada juga ulah kesalehan, devosi dan religiositas rakyat serta liturgi. ((Kalau kesalehan umat diilhami oleh bentuk-bentuk yang diwariskan bangsa atau orang tertentu atau kebudayaan mereka, maka ulah kesalehan sebagai ungkapan kesalehan Kristiani, diilhami oleh liturgi dan mengantar umat Kristiani kepada liturgi. Ulah kesalehan selalu mengacu pada Wahyu Ilahi publik dan memiliki latar belakang gerejawi (PPCE 7). Istilah devosi berarti aneka kebiasaan eksternal (doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, atau kebiasaan) yang dijiwai oleh sikap iman dan mengungkapkan hubungan khusus umat beriman dengan Tritunggal, Santa Maria dan para kudus (PPCE  8). Religiositas rakyat adalah pengalaman rohani universal yang memiliki nilai manusiawi dan rohani yang amat tinggi dan tidak selalu harus terkait dengan wahyu kristiani (PPCE 10).))

Dalam hubungan dengan liturgi, Gereja menyatakan bahwa liturgi adalah tindakan yang kudus dan paling utama dari Kristus dan Gereja. ((Bdk. SC 7.)) Tidak ada tindakan lain yang menandingi daya dampak dari liturgi. Maka umat beriman perlu sadar bahwa liturgi jauh lebih unggul dibandingkan semua bentuk doa Kristiani. Liturgi bersifat mutlak, sedangkan berbagai bentuk kesalehan umat bersifat fakultatif. ((PPCE 11.)) Penegasan ini tidak bermaksud meremehkan atau melecehkan dan menolak bentuk-bentuk kesalehan umat. Sebaliknya haruslah diberikan penghargaan yang tepat dan bijaksana terhadap kekayaan kesalehan umat. Dalam hal ini Injil harus menjadi acuan untuk menilai ungkapan kesalehan Kristiani. Untuk liturgi dan kesalehan umat tetap berlaku pedoman yang terdapat dalam Instruksi IV, Varietates Legitimae, 48: “tidak boleh memasukkan ritus-ritus yang dirasuki oleh takhyul ke dalam Gereja, penyembahan berhala, animisme, dan balas dendam atau hal-hal yang terkait dengan seks”. Berdasarkan pedoman ini kita bisa bertanya sejauh mana kesalehan umat diresapi oleh semangat biblis, liturgis, ekumenis, dan antropologis-pedagogis? ((Lihat PPCE 12: “Kesalehan umat hendaknya diresapi oleh semangat: biblis, karena tidak mungkin membayangkan doa Kristiani tanpa terkait langsung atau tidak langsung dengan Kitab Suci; semangat liturgis, agar kesalehan umat dapat menjadi persiapan dan gema yang tepat untuk misteri-misteri yang dirayakan dalam liturgi; semangat ekumenis, dengan mempertimbangkan kepekaan dan tradisi-tradisi umat Kristen lain tanpa dibatasi oleh rintangan-rintangan yang tidak semestinya ada; semangat antropologis, yang melestarikan simbol maupun ungkapan-ungkapan yang penting bagi bangsa tertentu sambil menjauhkan diri dari arkaisme yang hambar, dan semangat antropologis yang giat mengupayakan dialog yang bersahabat dengan kepekaan masa kini. Agar berhasil, pembaruan seperti itu harus diilhami kesadaran pedagogis dan dilaksanakan secara bertahap, dengan selalu mempertimbangkan waktu dan situasi-situasi khusus.”))

Liturgi memiliki nilai keselamatan sejauh lebih diunggulkan dibandingkan dengan semua ulah kesalehan. Keunggulan itu terletak pada inti hakekat liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia (misteri Kristus). Sedangkan olah kesalehan adalah suatu bentuk penghayatan iman yang lebih bersifat pribadi.

Devosi (ulah kesalehan, kesalehan umat ) berasal dari kata Latin devotio (devovere) yakni suatu sikap hati serta perwujudannya, yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu/seseorang yang dihargai atau dijunjung tinggi, dicintai atau ditujui. Devosi mencakup keterlibatan personal yang meliputi seluruh manusia khususnya segi emosional dan afektif, tidak hanya akal budi atau nalar.

Devosi dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Devosi religius. Devosi ini diarahkan kepada Allah dan bersangkutan dengan Allah seperti devosi kepada Hati kudus Yesus. Ada pula yang diarahkan kepada Bunda Maria seperti  Doa Rosario. Dan ada yang diarahkan kepada orang kudus (santo atau santa).
  2. Devosi a-religius. Olah kesalehan ini tidak bersifat keagamaan.  Devosi ini diarahkan kepada manusia yang masih hidup dan tak berhubungan dengan Allah. Misalnya penghormatan kepada raja, ratu, sultan, permaisuri dan pahlawan.

Bila kegiatan puji-syukur dan penyembahan kepada Allah Tritunggal Maha Kudus serta penghormatan kepada orang-orang kudus dan para malaikat dilaksanakan dalam perayaan liturgi, maka kegiatan penyembahan dan penghormatan itu menjadi kegiatan liturgis. Bila kegiatan penyembahan dan penghormatan itu dilaksanakan di luar perayaan liturgi, maka kegiatan itu disebut devosi (ulah kesalehan dan kesalehan umat).

Dalam setiap perayaan liturgi kita mewujudkan penghormatan dan penyembahan kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus dan kita juga menunjukkan penghormatan khusus kepada orang kudus dan para malaikat. Misalnya dalam perayaan Ekaristi pada umumnya kita menyatakan puji-syukur dan sembah-sujud serta  permohonan kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, Bapa dan Putra dan Roh Kudus, lewat doa, nyanyian, sikap tubuh, simbol, peralatan, dekorasi dll. Dalam Ekaristi yang sama kita menyatakan penghormatan kepada para kudus dan para malaikat. Puji syukur dan penyembahan kepada Allah Tritunggal kita tunjukkan juga dalam Ekaristi Hari Raya Tritunggal Maha Kudus. Dalam Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus, kita memanjatkan puji-syukur dan sembah sujud kepada Sakramen Maha Kudus Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Devosi religius dalam arti khusus adalah semua kegiatan puji-syukur dan penyembahan kepada Allah serta penghormatan terhadap orang-orang kudus dan para malaikat yang dilakukan manusia beriman di luar perayaan liturgis. Dalam hal ini devosi adalah bentuk kegiatan non liturgis. Misalnya doa koronka Kerahiman Ilahi, Renungan Jalan Salib, Adorasi Sakramen Mahakudus, Doa Rosario, Novena kepada Santo Antonius dari Padua yang dilaksanakan di luar perayaan liturgi.

Perbandingan Devosi (Ulah Kesalehan dan Kesalehan Umat) dengan Liturgi

Sifat liturgi adalah:

  1. Resmi. Karena liturgi merupakan kegiatan yang diakui resmi oleh Gereja. Ada ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh pimpinan Gereja karena wewenangnya dan tugasnya untuk memelihara dan meneruskan warisan resmi liturgi sebagai salah satu unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan persekutuan beriman.
  2. Komunal. Karena Liturgi (leitos: yang berhubungan dengan banyak orang dan ergon: kegiatan atau tindakan) adalah kegiatan bersama, melibatkan banyak orang dan dibuat demi kepentingan umum (banyak orang).
  3. Obyektif. Karena tindakan liturgis dari dirinya sendiri mengandung nilai keselamatan. Seluruh perayaan yang dilaksanakan dengan pola resmi yang telah disepakati membuat umat beriman mengalami kehadiran Allah dan karya-Nya yang menyelamatkan.
  4. Mutlak untuk mengembangkan hidup dalam Kristus. ((PPCE 11.)) Dalam hal ini Gereja memandang liturgi sebagai suatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh umat beriman agar hidupnya  dan hidup orang lain dalam persekutuan beriman bertumbuh dan berkembang dengan baik. Liturgi mesti dirasakan dan dialami sebagai kebutuhan dalam hidup rohani dan dilaksanakan dengan kebebasan sebagai anak-anak Allah dan bukan sebagai beban atau paksaan yang menindih.

Sifat Devosi adalah:

  1. Tidak resmi. Karena devosi tidak terikat pada aturan resmi Gereja dalam bidang liturgi. Orang yang melaksanakan devosi boleh memilih pola yang cocok dengan kebutuhannya. Ada fleksibilitas yang lebih besar dalam menyelenggarakan devosi. Urutan dan unsur-unsurnya bisa berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang yang melaksanakan devosi itu. Akan tetapi dalam rangka menghindarkan penyalahgunaannya dan praktek yang menyesatkan, pimpinan Gereja (Universal dan Patikular) memberikan pedoman dan rekomendasi. ((Bdk. Bernhard Raas, SVD, Popular Devotions, Making Popular Religious Practices More Meaningful Vehicles of Spiritual Growth, Divine Word Publications, Manila, 1992, hlm. 16.))
  2. Lebih personal. Karena devosi lebih mengikuti keinginan pribadi atau sekelompok orang yang mempunyai keinginan yang sama. Devosi tidak terikat pada kebersamaan. Bisa dijalankan bersama-sama kalau orang yang ambil bagian dalam devosi mempunyai keinginan pribadi yang sama. Tidak mengherankan bila dalam devosi hasrat dan kepentingan pribadi mendapatkan pemenuhannya.
  3. Cenderung emosional. Karena devosi lebih erat berkaitan dengan rasa perasaan seseorang. Hasrat hati dan emosi pribadi dapat diungkapkan dengan baik tanpa rasa takut. Dapat saja rasa perasaan yang sama dimiliki oleh banyak orang. Maka terbentuklah kelompok devosi yang terdiri dari banyak anggota dari berbagai latar-belakang.
  4. Fakultatif karena Gereja tidak mewajibkan orang beriman untuk melaksanakan kesalehan umat meskipun kegiatan itu sungguh bernilai dan disukai banyak orang ((PPCE 11))  yang akhirnya mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakannya.

Hubungan Devosi dan Liturgi

Kedua kegiatan ini berbeda tetapi keduanya tidak saling meniadakan atau tidak saling mengganti. Liturgi tidak menghilangkan devosi dan juga devosi tidak menghilangkan liturgi. Ada tradisi yang hanya memperhatikan kegiatan liturgis dan tidak memberi tempat yang luas kepada devosi (tradisi Liturgi Gereja Othodoks dan Gereja Reformasi/Protestan).

Sebaliknya dalam tradisi Gereja Katolik terdapat masa di mana devosi begitu berkembang dan hampir mengalahkan kegiatan liturgis misalnya pada abad pertengahan dan khususnya pada masa Barok. ((Bdk. PPCE 41: “Pada masa Reformasi Katolik, hubungan antara liturgi dan kesalehan umat tidak dapat dilihat hanya sebatas pertentangan antara kemapanan dan perkembangan. Kadang-kadang muncul keanehan-keanehan: ulah kesalehan kadang-kadang berlangsung di tengah-tengah kegiatan liturgis dan mendominasinya. Dalam praktik pastoral kadang-kadang kesalehan umat itu lebih penting daripada liturgi. Situasi seperti ini menampakkan ketidakterikatan pada Kitab Suci dan tidak begitu mempedulikan sentralitas misteri Paskah Kristus, dasar dan puncak seluruh ibadat Kristiani, dan ungkapan utamanya dalam liturgi pada hari Minggu.”)) Karena itu ada orang yang amat senang dengan devosi dan merasa puas hanya dengan devosi lalu tidak suka atau menolak bahkan membenci liturgi. Liturgi dirasa sangat kering dan membosankan karena tidak sesuai keinginan dan rasa perasaan pribadinya.

Di antara kedua kecenderungan yang mengarah kepada kegiatan yang ekstrim berat sebelah (hanya memperhatikan kegiatan liturgis atau hanya memperhatikan kegiatan devosional dengan akibat saling meniadakan), Gereja Katolik pada prinsipnya mengambil jalan tengah. “Oleh karena itu, penting sekali bahwa kesalehan umat tidak dipertentangkan, disamakan, atau bahkan dilihat sebagai pengganti liturgi. Kesadaran akan makna unggul liturgi dan penelitian akan ungkapan-ungkapannya yang lebih asli tidak boleh mengarah pada sikap mengabaikan kesalehan umat, atau meremehkannya, atau menganggapnya berlebihan atau bahkan membahayakan Gereja.” ((PPCE 50)) Kedua kegiatan itu diakui oleh Gereja sebagai kegiatan yang saling mempengaruhi secara positif atau saling menyuburkan. ((PPCE 58: “Liturgi dan kesalehan umat adalah dua bentuk ibadat yang saling berhubungan dan saling menyuburkan buah masing-masing. Tetapi dalam hal ini liturgi tetaplah merupakan acuan utama… Dan kesalehan umat, justru karena corak simbolis dan ekspresifnya, sering dapat melengkapi liturgi dengan pandangan-pandangan penting untuk inkulturasi dan mendorong suatu kreativitas yang dinamis dan efektif.” Bdk. Sidang Pleno III Konferensi Uskup Amerika Latin, Documento de Puebla, 465 e. Bdk. juga dengan PPCE 73: “Liturgi sedari hakikatnya, jauh mengungguli ulah kesalehan, sehingga praktik pastoral harus selalu memberikan kepada liturgi kudus ‘tempat lebih unggul yang selayaknya ia miliki dalam hubungan dengan ulah kesalehan’; liturgi dan ulah kesalehan hidup berdampingan selaras dengan hierarki nilai dan hakikat khas kedua ungkapan kultis ini.”)) Liturgi mempengaruhi devosi dan sebaliknya devosi mempengaruhi liturgi sebagai dua kegiatan yang saling melengkapi dalam mengatasi kemungkinan kekurangannya. Kedua-keduanya harus mendapat perhatian yang wajar pada waktu dan tempatnya.

Devosi yang dibuat sebelum dan sesudah kegiatan liturgis dapat sangat menyemangati dan menghidupkan orang beriman untuk  merayakan  liturgi karena devosi tersebut telah menanamkan kesadaran pribadi yang kuat untuk memuji,  memuliakan dan menyembah Allah serta memberikan penghormatan kepada para malaikat dan orang-orang kudus. Orang yang secara pribadi mempunyai penghormatan yang besar terhadap Santa Perawan Maria akan sangat dibantu untuk menyadari peran Maria sebagai Bunda, Perawan, Pendoa, Pendengar dan Pelaksana Sabda Tuhan dalam Perayaan Ekaristi dan sekaligus devosan itu mendapat dorongan dan semangat untuk berperan aktif juga dalam Ekaristi seperti Maria.

Liturgi sebagai perayaan bersama demi kepentingan umum, dapat melengkapi aspek pribadi dan subyektif dari devosi sehingga kerohanian orang yang berdevosi kuat menjadi lebih terbuka terhadap kepentingan umum dan terhindar dari egoisme rohani atau eksklusifisme dan fanatisme kelompok devosi. Dalam arti inilah liturgi dapat disebut “puncak dan sumber” kegiatan devosional umat beriman dan serentak menjadi norma yang memberi penilaian atau kritik ((Bernard Raas, SVD, op.cit. hlm. 20)) dan koreksi pada kegiatan kesalehan umat.

Jadi dibutuhkan keseimbangan dalam kegiatan devosional dan liturgis. Gereja menghargai kedua kegiatan ini karena masing-masingnya mempunyai peran khusus dalam menumbuhkembangkan iman. Untuk itu semua ulah kesalehan harus selaras dengan liturgi kudus dan sedikit banyak harus bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan liturgi. ((SC 13))  Keselarasan itu mengandaikan peran dari devosi sebagai kegiatan yang turut mempersiapkan dan menyemangati umat beriman untuk mengikuti dan mencintai liturgi bukan untuk menjauhkan atau membenci liturgi. Selanjutnya keselarasan itu juga menuntut agar devosi dijalankan sesuai dengan semangat dan isi yang sudah dialami dan dirayakan dalam liturgi. Lebih dari itu keselarasan dimaksud menuntut agar devosi tidak mempertahankan bentuknya di tengah perayaan liturgis tetapi rela memenuhi tuntutan liturgi ((PPCE 74: “Perhatian saksama terhadap asas-asas ini hendaknya menumbuhkan usaha nyata untuk – sedapat mungkin – menyelaraskan ulah kesalehan dengan irama dan tuntutan-tuntutan liturgi dengan menghindari setiap pemaduan atau pencampuradukan kedua bentuk kesalehan ini. Hal ini akan menjamin tidak munculnya bentuk-bentuk cangkokan atau bentuk-bentuk yang kacau-balau karena pencampuradukan liturgi dan ulah kesalehan; juga menjamin bahwa, bertentangan dengan pemikiran Gereja, ulah kesalehan dihilangkan, seringkali dengan meninggalkan kekosongan yang akan sangat merugikan kaum beriman.”)) dan dalam perayaan-perayaan liturgi mesti mengalami proses untuk beralih dari kegiatan devosional menjadi unsur kegiatan liturgis.

Tempat dan kesempatan melakukan devosi yang benar adalah sebelum dan/atau sesudah perayaan liturgi. Bukan memasukkan devosi (ulah kesalehan dan kesalehan umat) di tengah perayaan liturgi. “Perbedaan obyektif antara ulah kesalehan dan kegiatan-kegiatan devosional hendaknya selalu jelas dalam ungkapan ibadahnya. Maka dari itu, rumusan-rumusan yang khas untuk ulah kesalehan hendaknya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan liturgis. Kegiatan devosi dan kesalehan umat hendaknya tetap di luar perayaan Ekaristi kudus dan sakramen-sakramen lain.” ((PPCE 9))

Perlu ditinjau kembali kebiasaan di tempat tertentu untuk memasukkan devosi di tengah perayaan liturgi bahkan mengganti unsur atau bagian tertentu dalam perayaan. Misalnya perlu ditinjau kembali praktek membuat adorasi kepada Sakramen Mahakudus sesudah Anak Domba Allah, sebelum komuni imam dan umat dengan alasan: umat suka membuat adorasi tetapi tidak punya waktu untuk kembali lagi ke gereja dan membuat kunjungan dan penyembahan Sakramen Mahakudus secara pribadi atau bersama. Perlu ditinjau lagi praktek membuat doa Rosario dan Renungan Jalan Salib sebagai pengganti Liturgi Sabda, dengan alasan: dalam doa Rosario, kita tidak hanya berdoa Salam Maria, tetapi juga kita mempunyai kesempatan untuk mendengarkan bacaan Kitab Suci dan merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario (Gembira, Sedih, Terang, Mulia) yang berhubungan erat dengan hidup dan karya Yesus Kristus seperti yang ditulis dalam Kitab Suci. Demikian pula Renungan Jalan Salib semuanya berdasarkan bacaan Kitab Suci yaitu tentang derita dan kematian Yesus Kristus sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Menghadapi gejala-gejala ini kita mesti berpegang teguh pada pandangan Gereja tentang Doa Rosario dan Renungan Jalan Salib. Menurut tradisi selama ini, doa Rosario dan Renungan Jalan Salib diterima sebagai bentuk-bentuk devosi yang menjadi sarana ampuh untuk menghayati iman dengan lebih mendalam, tetapi harus diakui bahwa devosi-devosi itu tetap berbeda dari liturgi dan tidak boleh disamakan dengan liturgi atau menjadi pengganti bagian-bagian perayaan liturgi.

Kemungkinan Penyerasian

Mengakui perbedaan dan kesamaan antara liturgi dan devosi (ulah kesalehan serta kesalehan umat) tidak berarti kita kehilangan kemungkinan untuk membuat penyerasian devosi dengan liturgi. Itu berarti devosi melewati suatu proses untuk menjadi bagian utuh dari liturgi sehingga kegiatan itu tidak lagi disebut devosi di dalam liturgi tetapi telah berubah menjadi kegiatan liturgis. Ini sebenarnya sebuah proses penyesuaian (inkulturasi) kesalehan umat sebagai unsur dari kegiatan liturgis. Dalam proses ini, seperti sudah dikatakan sebelumnya, devosi mesti memenuhi tuntutan-tuntutan liturgis ((Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Instruksi Pelaksana IV atas Konstitusi Liturgi (No. 37-40), Varietates Legitimae, 45))  agar menjadi sungguh-sungguh suatu kegiatan liturgis.

Kaidah-kaidah yang selama ini menjadi pegangan untuk suatu proses inkulturasi dalam perayaan liturgi haruslah juga diperhatikan dalam proses penyerasian devosi dengan liturgi. “Sehubungan dengan pengambilalihan sejumlah unsur kesalehan umat dalam proses inkulturasi liturgi, hendaknya sungguh diperhatikan instruksi terkait yang sudah diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen.” ((PPCE 92. Bdk. PPCE 84)) Dalam instruksi itu, ulah kesalehan disebut sebagai salah satu kemungkinan untuk mengalami proses inkulturasi, tetapi tidak boleh dimasukkan di tengah liturgi, dicampur-aduk dengan liturgi atau menggeser liturgi.

Gereja mengakui bahwa inti misteri yang dirayakan dalam semua ibadat (baik dalam liturgi maupun dalam semua bentuk kesalehan umat) adalah kehadiran Tuhan dan karya-karya-Nya yang agung dan menyelamatkan atau misteri Paskah yang mencapai puncaknya dalam hidup dan karya Yesus Kristus khususnya dalam peristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Iman yang sama akan misteri keselamatan yang sama dengan semangat yang sama dapat dihayati baik dalam liturgi maupun dalam kegiatan kesalehan umat. Secara obyektif inti misteri itu hadir dan dialami dalam liturgi, dan dalam kehidupan sehari-hari di luar perayaan liturgi (sebelum atau sesudahnya) iman itu diwujudnyatakan atau diungkapkan secara pribadi (bisa juga bersama orang lain)  dalam berbagai bentuk devosi (kesalehan umat). “Dalam perayaan liturgi, tidak semua ibadat ilahi Gereja tertampung. Mengikuti teladan dan ajaran Tuhan, para murid Kristus juga berdoa secara tersembunyi dalam bilik-bilik mereka (bdk. Mat. 6:6); mereka berkumpul untuk berdoa menurut bentuk-bentuk yang telah diciptakan oleh laki-laki dan perempuan dengan pengalaman religius yang masyhur, yang telah menyemangati kaum beriman dan mengarahkan kesalehan mereka kepada segi-segi khusus tertentu dari misteri Kristus. Mereka juga berdoa menurut tata doa yang muncul secara spontan dari dasar kesadaran Kristiani kolektif, di mana tuntutan kebudayaan populer secara serasi menampilkan unsur hakiki amanat Injil.” ((PPCE 82))

Beberapa contoh upaya penyerasian:

Hari Minggu. Hari Minggu tidak dapat ditundukkan kepada kesalehan umat. “Ulah kesalehan yang acuan waktunya adalah Minggu, hendaknya tidak dianjurkan. Namun demi manfaat pastoral kaum beriman, boleh diselenggarakan pada hari Minggu Biasa pesta-pesta Tuhan, atau pesta penghormatan Santa Perawan Maria atau orang kudus, yang jatuh pada hari biasa dalam pekan, asal kelas mereka menurut Penanggalan Liturgi Romawi lebih tinggi dari hari Minggu” (PPCE 95)

Masa Adven (PPCE 97-104). Lingkaran Adven dengan penyalaan lilinnya sebagai simbol aneka tahap sejarah keselamatan mendahului kedatangan Kristus, dilaksanakan pada awal perayaan liturgi (unsur dari Ritus Pembuka). Atau prosesi Adven dengan bintang kejora sebagai ungkapan harapan yang hampir terpenuhi dalam kedatangan Tuhan yang sudah sangat dekat. Novena Maria Dikandung Tanpa Noda mengungkapkan sikap Maria yang sungguh menyiapkan dirinya untuk menerima kedatangan-kelahiran Tuhan. Novena Natal adalah contoh penyerasian kesalehan umat dengan liturgi (Ibadat Sore). Membuat kandang Natal sebagai persiapan menerima kelahiran Tuhan juga merupakan satu bentuk kesalehan umat sebelum, selama, dan sesudah perayaan liturgi.

Masa Natal (PPCE 107, 109, 114, 118). Penghormatan khusus yang diserasikan dalam liturgi misalnya penghormatan terhadap kanak-kanak tak berdosa yang menjadi martir (28 Desember), peringatan nama Yesus yang tersuci (13 Januari), perayaan Keluarga Kudus (Minggu dalam oktaf Natal atau tanggal 30 Desember). Pohon Natal diserasikan dalam liturgi, dapat disesuaikan dengan kebiasaan setempat (misalnya di Papua Selatan mulai dipakai pohon anggin yaitu pohon yang turun dari khayangan dan di mana pohon itu tumbuh entah di keliling rumah atau kebun, akan ada perlindungan, ketenangan, kesejahteraan di sekitarnya). Vigili 31 Desember malam menjelang tahun baru dengan devosi khusus kepada Sakramen Maha Kudus dan Pujian Te Deum dapat diselaraskan dengan isi liturgis oktaf Natal sebagai persembahan penuh syukur tahun baru kepada Tuhan sebagai saat keselamatan. Salah satu bentuk kesalehan umat di seputar hari raya Penampakan Tuhan adalah pemberkatan rumah dengan menandai jenang-jenang pintu dengan salib keselamatan, angka tahun yang baru, dan huruf pertama nama ketiga orang majus (C+M+B) yang juga ditafsirkan sebagai Christus Mansionem Benedicat (Semoga Kristus memberkati rumah ini), dilengkapi dengan prosesi anak-anak sebagai kesempatan mengumpulkan bingkisan untuk karya amal dan misi.

Masa Prapaskah. Penerimaan abu adalah satu contoh penyerasian simbol pertobatan dalam perayaan liturgi (Ekaristi). “Kaum beriman yang datang menerima abu hendaknya dibantu untuk memahami makna internal yang tersirat dalam kegiatan ini, yang menyiapkan mereka untuk bertobat dan membarui komitmen Paskah” (PPCE 125). Devosi-devosi kepada Kristus yang tersalib amat banyak dan terkait dengan kesalehan umat: nyanyian dan doa-doa, kegiatan membuka selubung salib, mengecup salib, prosesi dan pemberkatan dengan salib (PPCE 128). Dalam buku perayaan Jumat Suci terdapat contoh penyerasian yang tepat. Penghayatan yang tepat dari penghormatan pada salib Kristus sebagai simbol derita dan kematian Kristus harus disatukan dengan makna kemenangan dan kebangkitan mulia.

Pekan Suci. Ada banyak kemungkinan penyerasian pada hari-hari ini. Dalam Minggu Palma nampak dalam perarakan mengenangkan masuknya Yesus ke Yerusalem (Ritus Pembuka). Perarakan dengan daun-daun palma dan ranting atau dedaunan lain menjadi sebuah kegiatan liturgis dan bukan kegiatan devosional (PPCE 139). Demikian pula dalam Ritus penutup Kenangan Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih malam, dibuat perarakan Sakramen Maha Kudus ke tempat penyimpanan (bukan simbol makam) untuk komuni umat pada Jumat Agung dan viaticum orang sakit (PPCE 141). Dalam hari Jumat Agung dapat dibuat prosesi Kristus yang wafat dan drama sengsara Tuhan, tetapi tidak boleh menjadi atraksi wisata dan tidak boleh mengganti perayaan liturgi Jumat Agung (kenangan sengsara dan kematian Yesus Kristus). “Praktik pertobatan yang mengarah kepada penyaliban diri dengan sungguh-sungguh dipaku tidak dianjurkan” (PPCE 144, 142, 143). Dalam perayaan kenangan sengsara dan kematian Yesus Kristus, terdapat penyerasian yang tepat dari kegiatan devosional yang menjadi kegiatan liturgis yaitu pada pembukaan selubung salib, perarakan salib, penyembahan salib. Begitu pula dalam perayaan malam Paskah (Sabtu Paskah) kita temukan penyerasian upacara api dan terang lilin Paskah, Sabda Allah sebagai Terang dalam kegelapan, perecikan dengan air suci (air pembaptisan). Tradisi pemberkatan telur paskah dan pemberkatan hidangan keluarga pada Minggu Paskah  dengan menggunakan air suci yang diberkati pada malam Paskah merupakan bentuk kesalehan umat yang dapat dipertahankan dan ditingkatkan (PPCE 150).

Pada masa Paskah dapat dilakukan devosi Jalan Cahaya untuk merenungkan peristiwa-peristiwa kemuliaan dan kebangkitan Tuhan. Sebuah contoh penyerasian devosi dengan liturgi adalah Minggu Paskah II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Doa-doa dan  semangat dari devosi Kerahiman Ilahi diserasikan dalam doa-doa liturgis pada Hari Minggu Paskah II (PPCE 153 dan 154). Penghormatan khusus kepada Roh Kudus diserasikan dalam Novena Pentakosta dan Hari Raya Pentakosta.

Devosi kepada Tritunggal Maha Kudus diserasikan dengan liturgi pada hari raya Tritunggal Maha Kudus, seperti nampak dalam doa-doa, rumus-rumus baku yang trinitaris: Tanda Salib, Doksologi, Kemuliaan, Aku Percaya, berkat dll. Contoh lain dari penyerasian dalam liturgi adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Hati Yesus yang Mahakudus, Hati Maria yang Tak Bernoda, Darah Mulia Kristus, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (PPCE 160-181).

Penyerasian penghormatan kepada Bunda Allah, Santo-santa serta Beato-beata dan bagi orang yang sudah meninggal serta peran tempat ziarah dan ziarah dalam kaitan dengan devosi dan liturgi dapat dilihat dalam PPCE 183-287.

Untuk upaya penyerasian ini perlu katekese yang memadai. Contohnya misalnya tentang makna Salam Tahun Baru (PPCE 117) sebagai ungkapan kesalehan umat. Perhatian terhadap proses untuk penyerasian adalah suatu hal penting, terutama untuk menjamin kebenaran iman dan daya dampak yang positif bagi pertumbuhan hidup rohani umat beriman. Oleh karena itu bimbingan dari para petugas pastoral, penelitian dari orang-orang yang kompeten serta persetujuan dari pimpinan Gereja haruslah diperhatikan juga dalam proses penyerasian ini.

Contoh Proses Penyerasian

Dalam rangka memahami proses itu baiklah diberikan satu dua contoh. Yang pertama adalah Minggu Kerahiman Ilahi. Hari Minggu ini adalah Minggu Paskah II yang dulu pernah disebut juga Minggu Putih. Dengan menyandang nama Hari Minggu Kerahiman Ilahi, menjadi jelas bahwa penghormatan dan penyembahan kepada kerahiman Allah sebagai suatu kegiatan devosional telah mengalami proses penyerasian menjadi suatu kegiatan liturgis yang dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi. Awalnya penghormatan khusus kepada kerahiman Ilahi itu dilaksanakan sebagai suatu kegiatan devosional oleh seorang suster dari Polandia yang bernama Suster Faustina Kowalska.

Dalam tulisan-tulisannya Suster menulis banyak refleksi yang berisi muatan teologis tentang kerahiman Ilahi. Refleksi-refleksinya memperlihatkan bahwa Suster Faustina mempunyai rasa hormat yang tinggi dan dalam terhadap rahasia kerahiman Ilahi dan secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong banyak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka bersama-sama atau secara pribadi mendoakan koronka Kerahiman Ilahi yang berisi pujian dan penyembahan serta permohonan kepada Allah Maharahim. Akhirnya banyak orang mengikuti contohnya dan menganjurkan kepada pimpinan Gereja untuk memilih salah satu hari sebagai hari Perayaan Kerahiman Ilahi. Paus Yohanes Paulus II menanggapi usul-usul itu dan memilih Hari Minggu Paskah II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi.

Kerahiman Ilahi itu adalah kerahiman Allah Bapa yang nampak secara nyata dalam hidup dan karya Yesus Kristus. Juga sebenarnya dalam semua perayaan liturgi sepanjang Tahun Liturgi kita mengenangkan misteri penyelamatan Allah, cinta kasih Allah Bapa tanpa batas dan tanpa syarat untuk menyelamatkan manusia. Juga dalam perayaan/pesta Tuhan Yesus atau Roh Kudus dan orang kudus sebetulnya kita merayakan kasih dan kebaikan Allah Bapa yang nampak dalam diri Yesus dan dalam karya Roh Kudus serta hidup para orang kudus.

Sekedar menegaskan dan memperkuat keyakinan bahwa kerahiman Ilahi itu adalah kerahiman Allah Bapa yang nampak dalam diri Yesus Kristus dan dalam karya Roh Kudus ingin saya rujuk beberapa sumber:

  1. DOMINICA II PASCHAE seu de divina Misericordia. Dalam penanggalan liturgi (diterbitkan Komlit KWI) ditulis: HARI MINGGU PASKAH II (P). Kerahiman Ilahi.
  2. Rumusan doa devosional: Koronka kepada Kerahiman Allah, ditujukan kepada Allah Bapa: Bapa yang kekal, kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putera-Mu… Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia… Allah yang kudus, kudus dan berkuasa, kudus dan kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.
  3. Kerahiman Allah Bapa ini amat nampak dalam diri dan hidup serta karya Yesus Kristus seperti diungkapkan dalam rumusan lain dari doa devosional ini: Ya Yesus, Engkau telah wafat…terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia… Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku.
  4. Doa Pembuka MINGGU PASKAH II dimulai dengan seruan kepada Allah Bapa yang kerahiman-Nya abadi: Deus misericordiae sempiternae…
  5. Dalam buku-buku-sumber liturgi yang ditulis mulai abad V, VI, VII ungkapan misericors (yang rahim) atau misericordia (kerahiman) dalam seruan awal dari doa-doa pemimpin (doa liturgis) umumnya mengacu kepada Allah Bapa, seperti misecors deus (Sacramentarium Veronense no 194 dan 200) Deus misericordiae (Sacramentarium Gregorianum no 2079 dan 2118). Warisan ini (Allah Maharahim adalah Allah Bapa yang kerahiman-Nya nampak jelas dalam diri, hidup dan karya Yesus Kristus serta Roh Kudus) diteruskan dalam teks-teks liturgi yang terdapat dalam buku misa Paulus VI termasuk edisi ke 3 pada tahun 2002. Dengan ungkapan liturgis ini Allah Bapa itu tidak hanya mempunyai kuasa dan bersifat perkasa seperti seorang bapa, tetapi juga penuh kerahiman (punya rahim) dan kasih sayang seperti seorang ibu.

Berdasarkan rujukan-rujukan itu kita dapat memahami bahwa doa-doa devosional Kerahiman Ilahi itu tidak mengalami kesulitan besar dalam proses penyerasian dengan liturgi karena doa-doanya diarahkan kepada Allah Bapa yang Maharahim. Semua doa liturgis menurut tradisi liturgi Romawi, selalu diarahkan kepada Allah Bapa, melalui (dengan pengantaraan) Yesus Kristus dalam persatuan dengan Roh Kudus, sebagaimana nampak dalam rumus doksologi dan rumusan akhir dari doa-doa pemimpin. Ungkapan penghormatan kepada Allah yang Maharahim juga dilakukan dengan menggunakan struktur doa liturgis, sehingga doa-doa itu tidak lagi berbentuk doa devosional tetapi telah beralih menjadi doa liturgis.

Sebuah contoh lain mengenai proses penyerasian devosi dengan liturgi adalah Perayaan Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan ini sangat populer dalam Gereja Barat. Mulanya penghormatan khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus itu dilaksanakan berdasarkan penampakan yang dialami oleh seorang suster Agustinian, yang bernama Juliana,. Peristiwa penampakan itu terjadi di Liege tahun 1246. ((Peter G. Cobb, “The History of the Christian Year” dalam Cheslyn Jones, Geoffrey Wainwright, Edwar Yarnold, SJ (edd.), The Study of Liturgy, Williams Clowes Limited, London, 1983, hlm. 412.)) Itu berarti penghormatan khusus yang dibuat oleh suster Juliana itu mempengaruhi orang lain dan pimpinan Gereja setempat (uskup) untuk melaksanakan penghormatan yang khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi. Pertama perayaan itu dilaksanakan di Liege, kemudian menjadi perayaan seluruh Gereja di bawah kepausan Urbanus IV, yang sebelumnya adalah diakon di Liege.

Bagaimana penyerasian itu terjadi? Devosi terhadap Tubuh dan Darah Kristus tidak dimasukkan di tengah perayaan Ekaristi (Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi), tetapi doa-doa dan nyanyian-nyanyian liturgis diserasikan dengan isi dan semangat devosi khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus. Struktur dari doa-doa liturgis tidak diubah tetapi tetap dipertahankan. Arah dari doa tetap ditujukan kepada Allah Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam persatuan dengan Roh Kudus.

Perayaan Para Martir dan Bunda Maria, Bunda Allah. Penghormatan kepada para martir pada abad-abad pertama merupakan suatu devosi khusus lantaran keserupaan mereka dengan derita dan kematian serta kebangkitan Yesus Kristus. ((Peter G. Cobb, Op.cit. hlm. 421-426.)) Penghormatan khusus itu diperlihatkan melalui peletakan relikwi di atas altar, yang berarti bersatu dengan altar dan menjadi bagian dari altar yang adalah Kristus sendiri sebagai korban dan pembawa korban. Penghormatan khusus diberikan juga kepada orang-orang kudus bukan martir teristimewa kepada Santa Perawan dan Bunda Maria. Teks nyanyian dan doa-doanya diselaraskan dengan perayaan liturgi Ekaristi. Dalam doa-doa liturgis, para kudus tidak menjadi arah tujuan satu-satunya dari doa, melainkan Allah dalam Yesus Kristus. Perarakan Sakramen Maha Kudus pada akhir perayaan juga merupakan satu upaya konkrit dalam menyelaraskan devosi dengan liturgi.

Kesimpulan

Beberapa pokok pikiran dapat kita simpulkan berkaitan dengan penyelarasan kesalehan umat (devosi) dengan liturgi.

Penyelarasan dimulai dengan upaya menjalankan devosi yang mengarah kepada liturgi dan yang bersumber dari liturgi. Penyelarasan berbeda dari pemaduan atau pencampuradukan keduanya. Sebaliknya penyelarasan berarti saling mempengaruhi, saling melengkapi, saling menyuburkan dan bukan saling meniadakan atau saling mengganti.

Untuk mencapai keselarasan dituntut kerjasama yang tulus dari semua pihak dalam satu proses yang matang, yang terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus hingga diputuskan oleh yang berwewenang, dalam hal ini oleh pimpinan Gereja.

Dalam proses mencapai penyelarasan itu, semangat devosional menjadi semangat liturgis, doa-doa devosional menjadi doa-doa liturgis dengan struktur dan isi liturgis, teks nyanyian devosional menjadi nyanyian liturgis karena memenuhi tuntutan liturgis, simbol devosional menjadi simbol liturgis dan kegiatan devosional menjadi kegiatan liturgis.

Aku Percaya

16

I. Iman menurut Kitab Suci

  • Ibr 11:1 – Tanpa iman, tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah.
  • Mk 9:17-27 – Dengan iman segala sesuatu mungkin; kita perlu memohon agar Tuhan menambahkan iman kita.
  • Mat 16:17 – Iman adalah karunia pemberian Tuhan
  • Yoh 3:16 – Iman kepada Yesus memimpin kepada kehidupan kekal.
  • Mrk 16:16 – Kita diselamatkan dalam iman dan baptisan.
  • Yoh 3:36 – Iman mensyaratkan ketaatan.
  • Yoh 6:40 – Tuhan memberikan kita keinginan untuk beriman.
  • Ef 1:18 – Iman yang mencari pengertian.
  • Ef 2:1-10 – Kita diselamatkan oleh iman, dan ini adalah karunia Allah.
  • Ef 6:16 – Iman adalah pelindung terhadap Setan.
  • Kol 1:23 – Berpeganglah pada iman yang dikaruniakan kepadamu.
  • Yak 1:3-8 – Kita harus berteguh dalam iman.
  • Luk 1:26-45 – Bunda Maria adalah teladan dalam beriman.

II. Iman menurut Katekismus Gereja Katolik

  • KGK 143-167 – Tentang iman
  • KGK 153, 179, 234 – Iman adalah karunia, rahmat Allah
  • KGK 157, 161 – Iman adalah pasti dan perlu untuk keselamatan
  • KGK 153, 156-159 – Iman mencari pengertian, iman dan akal budi bersatu
  • KGK 29, 162, 1003 – Iman dapat bertumbuh, dapat hilang dan didapat kembali
  • KGK 163-153 – Iman adalah permulaan kehidupan kekal

III. Iman menurut Para Kudus

  • St. Tomas Rasul (abad ke-1): Saat melihat Yesus yang bangkit menunjukkan bekas luka- luka-Nya, Tomas percaya dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28).
  • St. Ambrosius (abad ke-4): “Ketika seseorang percaya, murka Tuhan beranjak darinya, dan kehidupan menghampirinya” (On Penitence, I, 51)
  • St. Tomas Aquinas (abad ke-13) “Pencipta iman adalah Dia yang menghasilkan persetujuan dari orang yang percaya kepada kebenaran yang dinyatakan. Sekedar pendengaran bukanlah penyebab yang cukup. Persetujuan disebabkan oleh kehendak, bukan hanya dengan akal budi semata. Oleh karena itu, seorang pewarta atau pengkotbah tidak dapat menghasilkan iman. Tuhan adalah penyebab dari iman, karena hanya Dia yang dapat mengubah kehendak kita.” (Disputations concerning Truth, 27,3.)

IV. Makna Iman

Dalam credo/ syahadat, kita memulai dengan perkataan “Aku Percaya” atau “Kami Percaya”. Iman adalah syarat untuk mendapatkan keselamatan, karena tanpa iman, tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah (Ibr 11:1). Kita dapat menjabarkan makna “Aku percaya”  dalam tiga hal (KGK, 35):

1. Manusia mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Allah. Hal ini dapat kita lihat dari tingkah laku religius seperti kurban, doa, upacara, meditasi dari semua budaya manusia, walaupun tidak sempurna. Inilah sebabnya manusia disebut mahkluk religius ((KGK, 28)). Dapat dikatakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mengasihi Pencipta-Nya, dan ini menandakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27).

2. Tuhan datang kepada kita untuk mewahyukan Diri-Nya. Karena pengetahuan manusia tidak sempurna untuk mencapai Tuhan, maka terdorong oleh kasih-Nya, Allah mewahyukan Diri-Nya kepada manusia, agar manusia dapat memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

3. Manusia harus menanggapi wahyu Allah. Karena pengetahuan manusia akan Allah tidaklah sempurna sedangkan wahyu Allah adalah sempurna, maka sudah seharusnya manusia menanggapi wahyu yang diberikan oleh Allah.

V. Manusia mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Allah

1. Manusia terbuka terhadap kebenaran, kebaikan dan keindahan

Manusia merindukan kebahagiaan yang bersifat kekal, yang tidak dapat diberikan oleh materi yang bersifat sementara. ((KGK, 33; GS, 18,1; GS, 14,2)) Hal ini diperkuat dengan kemampuan manusia yang terbuka terhadap kebenaran, di mana manusia mengenali nilai-nilai moral di dalam hati nuraninya, seperti: jangan melakukan apa yang tidak ingin orang lain perbuat kepadamu. Manusia juga dapat menghargai keindahan dan kebaikan, yang menjadi benih untuk mengenal Tuhan yang adalah indah dan baik secara absolut. ((KGK, 41; bdk. Keb 13:5))

2. Manusia mengenali Tuhan lewat dunia

Kalau manusia mau mengamati dunia sekelilingnya, maka manusia dapat melihat bahwa tidak mungkin dunia dan seluruh alam raya terjadi secara kebetulan, karena tertata secara teratur. Keindahan dunia ini dapat menuntun manusia kepada Sang Pencipta. ((KGK, 32; bdk. Rm 1:19-20; bdk St. Agustinus dari Serm. 241,2))

VI. Allah menyatakan diri-Nya

Walaupun manusia dengan akal budinya mempunyai kemampuan untuk mengenal Pencipta-Nya, ((KGK, 36)) namun tanpa Allah menyatakan Diri-Nya, manusia tidak dapat memahami Pribadi Allah secara lengkap.

1. Kitab Suci

Allah telah memberikan inspirasi Roh Kudus kepada para penulis Kitab Suci untuk menuliskan Sabda Allah (2Tim 3:16), sehingga manusia dapat melihat rencana keselamatan Allah, yang dimulai dari Perjanjian Lama (PL) sampai Perjanjian Baru (PB) dan manusia dapat memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Rencana keselamatan ini dimulai dari Adam dan Hawa (satu keluarga), kemudian nabi Nuh (beberapa keluarga), Abraham (suku), Yakub (bangsa Israel), Daud (kerajaan), dan Kristus yang mendirikan Gereja-Nya (seluruh dunia).

2. Tradisi Suci

Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. ((KGK, 81; DV, 9)) Tradisi Suci ini tidak dapat bertentangan dengan Kitab Suci, bahkan mendukung kejelasan akan makna dari Kitab Suci yang sebenarnya.

3. Magisterium Gereja atau Wewenang mengajar Gereja

Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.” ((KGK, 85; DV, 10) Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

VII. Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah

1. Iman sebagai tanggapan kita kepada Allah yang mewahyukan Diri-Nya.

Allah telah mewahyukan Diri-Nya kepada manusia secara bertahap, sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru dan kemudian diwariskan oleh Gereja dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena wahyu Allah dapat memenuhi kerinduan kita akan kebahagiaan, kebenaran, kebaikan, dan keindahan, maka sudah seharusnya kita menanggapi pewahyuan ini.

2. Iman sebagai pemberian Allah

Walaupun iman merupakan tanggapan manusia, namun sisi lain dari iman adalah pemberian Allah, yang diberikan pada saat baptisan. Bantuan Allah ini membantu kita untuk menjawab panggilan Allah untuk menjadi anak-anak Allah dan mengambil bagian di dalam kehidupan Allah. Tuhan membantu kita, agar kita mampu untuk untuk menjalankan iman kita dan setia sampai pada akhirnya. Semua tawaran dan bantuan Allah diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, yang juga menuntut tanggapan secara bebas dari manusia.

3. Iman adalah kepastian

Iman bukanlah masalah perasaan atau loncatan emosi sesaat, namun iman adalah sesuatu yang pasti karena kebenarannya diberikan oleh Allah sendiri, yang tidak mungkin berdusta. Iman juga tidak bertentangan dengan akal budi, karena keduanya diciptakan oleh Tuhan. Jadi kepastian iman adalah berdasarkan otoritas Allah sendiri.

4. Tahapan iman adalah mendengar, mempertimbangkan, mempercayai dan mentaati (Kis 8:27-39).

Tahap pertama adalah mendengar, yang berarti perlu ada yang memberitakan dan perlu ada yang menanggapi. Dikatakan “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31) Setelah mendengar, diperlukan pertimbangan akal budi. Akal budi tidak bertentangan dengan iman, karena keduanya berasal dari Tuhan. Dan setelah mempertimbangkan tentang iman yang diberikan, seseorang dapat mempercayai kebenaran. Setelah menerima kebenaran iman, seseorang harus mentaati kebenaran yang diberitakan, baik dalam perkara yang mudah maupun dalam perkara yang sulit.

5. Ketaatan iman adalah cermin dari kedewasaan iman

Kedewasaan iman seseorang terlihat dari ketaatan imannya, yang berarti menempatkan kebenaran iman di atas kepentingan pribadi. Kalau Tuhan telah menyatakan kebenaran, maka selayaknya kita tidak memilih-milih kebenaran yang kita percayai, melainkan kita mempercayainya secara menyeluruh. Mentaati [Latin: ob-audire] bukanlah sekedar mendengar, namun mendengarkan. Ketaatan iman berarti penyerahan yang total dari akal budi dan keinginan kita kepada kebenaran yang diwahyukan oleh Allah, yang kebenaran-Nya dijamin oleh Allah sendiri. Sikap ini membuat seseorang menjadi saksi Allah, karena hidupnya dijalankan sesuai dengan perintah Allah.

6. Manfaat dari iman.

a. Iman menyatukan jiwa kita dengan Tuhan.

Persatuan dengan Allah terjadi dalam baptisan, sehingga baptisan disebut sakramen iman yang pertama, yang menuntun seseorang pada keselamatan (lih. Mrk 16:16). Inilah sebabnya Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa iman tidak ada seorangpun yang berkenan kepada Allah (lih. Ibr 11:6).

b. Iman memperkenalkan kita pada kehidupan kekal.

Kitab Suci mengajarkan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)

c. Iman menuntun kehidupan kita.

Untuk dapat hidup baik, maka seseorang harus mengetahui bagaimana untuk hidup dengan baik. Cara untuk hidup baik tidak dapat dicari sendiri oleh setiap individu, karena untuk mencapainya diperlukan waktu yang lama dan dapat salah. Dikatakan “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (imannya).” (Hab 2:4)

d. Iman membantu kita untuk mengalahkan pencobaan.

Pencobaan dapat datang dari setan, dari dunia, maupun dari kedagingan kita.

1. Setan dapat mencobai kita untuk melawan Allah. Pencobaan ini dapat dikalahkan oleh iman, karena iman mengatakan bahwa Dia adalah Allah dari semua, yang harus ditaati. Dikatakan “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Pet 5:8-9)

2. Dunia dapat menggoda kita dengan menawarkan gemerlapnya kekayaan maupun ketakutan akan penderitaan. Iman dapat mengalahkan godaan tersebut, karena iman mengajarkan bahwa ada kehidupan yang yang lebih baik di Sorga, sehingga kita dapat menyingkirkan gemerlapnya dunia dan tidak takut dalam menghadapi percobaan dunia. Rasul Yohanes menuliskan “Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”(1Yoh 5:4) Iman juga membantu kita untuk mengerti bahwa ada kejahatan yang lebih ditakuti dari semua ancaman dunia ini, yaitu neraka. Kristus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10:28)

3. Kedagingan menggoda kita dengan kenikmatan dunia ini. Karena iman mengatakan bahwa hamba nafsu dapat kehilangan keselamatan kekal (lih. Gal 5:19-21), maka kita dapat menghindari godaan ini dengan iman. Sabda Tuhan mengatakan, “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman.” (Ef 6:16)

7. Bagaimana bertumbuh dalam iman?

Karena iman adalah karunia Tuhan untuk membantu kita menuju keselamatan, maka sudah seharusnya kita memelihara dan menjaga iman kita dengan bijaksana setiap saat. Agar kita dapat hidup, bertumbuh dan setia pada iman kita sampai akhir, maka kita perlu: (a) disegarkan dengan Firman Allah dan doa; (b) minta kepada Tuhan untuk menambah iman kita; (c) terus bertumbuh dalam perbuatan kasih yang berdasarkan iman. Pertumbuhan dan kemantapan iman perlu didukung dengan pengertian yang benar tentang iman, sehingga diperlukan sikap iman yang mencari pengertian.

8. Kehilangan iman atau dosa melawan iman

Ada kalanya, seseorang dapat kehilangan karunia yang paling berharga yang diberikan oleh Tuhan, yaitu iman. Kehilangan iman adalah sama saja dengan kehilangan hubungan kasih mesra dengan Allah, sehingga dapat berakibat sangat fatal. Beberapa hal yang menyebabkan seseorang dapat kehilangan iman adalah:

a. Ketidakperdulian. Ketidakperdulian akan hal-hal yang bersifat rohani, akan tujuan akhir (yaitu Sorga) dapat menyebabkan akibat fatal, karena akan membuat seseorang tidak melihat pentingnya iman.

b. Terjebak oleh jeratan dunia ini. Orang yang terfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dapat kehilangan fokus akan kehidupan kekal.

c. Skandal dari umat dan Gereja. Seseorang dapat kehilangan iman karena batu sandungan yang diakibatkan oleh umat beriman yang hidup tidak sesuai dengan apa yang diimaninya. Lebih lanjut kekecewaan terhadap Gereja juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan iman. Orang ini gagal untuk melihat bahwa fokus dari iman bukanlah pada orang-orangnya namun pada pengajaran dan kebenaran yang diberikan. Namun demikian, adalah tantangan bagi seluruh umat beriman dan Gereja untuk dapat memancarkan kebenaran dan kasih Kristus.

d. Kejahatan di dunia. Orang sering kehilangan iman karena melihat kejahatan di dunia ini, sehingga seseorang bertanya-tanya, di manakah Tuhan. Orang dalam kategori ini gagal melihat bahwa ada keadilan yang akan ditegakkan pada saat akhir zaman. Kejahatan tidak membuktikan bahwa kebaikan tidak ada, karena kebaikan juga dapat dilihat di dunia ini.

e. Tekanan budaya dan sosial terhadap iman. Seseorang yang hidup dalam tekanan sosial dan budaya yang memandang sinis terhadap agama dapat menyeret seseorang yang kurang kuat imannya kepada arus budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani.

VIII. Penutup

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa iman adalah tindakan Allah yang memberikan karunia kepada umat-Nya dan sekaligus tindakan manusia, yaitu tanggapan manusia akan Allah yang mewahyukan Diri-Nya. Karena Allah tidak mungkin berdusta, maka wahyu Allah terjamin kebenarannya.

Oleh iman yang dinyatakan dengan Baptisan, kita memperoleh keselamatan, karena melalui iman kita disatukan dengan Tuhan, dituntun di dalam hidup kita untuk mengalahkan godaan, agar sampai kepada kehidupan kekal.

IX. Diskusi

  1. Apakah arti iman bagimu dan berikan beberapa contoh.
  2. Apakah dasar dari iman?
  3. Kapankah anda menyadari bahwa iman adalah pemberian?
  4. Apa yang perlu anda lakukan agar iman anda bertumbuh?
  5. Apakah yang dapat memperlemah iman?
  6. Bagaimana doa dapat membantu pertumbuhan iman?

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab