Home Blog Page 167

Penjelasan Perikop tentang Orang Kaya dan Lazarus

0

Demikianlah penjelasan perikop Luk 16:19-31 menurut penjelasan The Navarre Bible on Luke, p. 188-191:

ay. 19-31 Perikop ini menampilkan dua jenis kesalahan- 1) paham yang dimiliki orang-orang yang menyangkal bahwa jiwa tetap ada setelah kematian dan oleh karena itu terdapat penghargaan ataupun hukuman di dalam kehidupan yang akan datang; 2) dan paham orang-orang yang menginterpretasikan kemakmuran material di dalam kehidupan di dunia ini sebagai sebuah penghargaan terhadap kebenaran moral dan kesulitan/ ketidakberuntungan sebagai hukuman. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa segera setelah kematian, jiwa dihakimi oleh Tuhan untuk segala perbuatannya – ini disebut sebagai “Pengadilan Khusus” (selanjutnya tentang hal ini klik di sini)- dan diberi penghargaan ataupun hukuman; dan wahyu ilahi sendiri sudah cukup bagi manusia untuk dapat mengimani kehidupan yang akan datang.

Di samping itu, perikop juga mengajarkan martabat yang tertanam di setiap pribadi manusia, terlepas dari keadaan sosialnya, keuangan, budaya maupun agamanya. Dan penghormatan akan martabat ini maksudnya adalah bahwa kita harus menolong mereka yang mengalami kebutuhan materi dan rohani: “Beranjak kepada konsekuensi-konsekuensi praktis yang cukup mendesak, Konsili menekankan sikap hormat terhadap manusia, sehingga setiap orang wajib memandang sesamanya, tak seorang pun terkecualikan, sebagai “dirinya yang lain”, terutama mengindahkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan untuk hidup secara layak, supaya jangan meniru orang kaya, yang sama sekali tidak mempedulikan Lazarus yang miskin itu.” (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 27) ….

ay. 22-26.  Harta duniawi, seperti juga penderitaan, adalah sementara; kematian akan menandai akhir dari semua itu, dan juga akhir dari masa ujian kita, kemampuan kita untuk melakukan dosa ataupun mencapai penghargaan karena melakukan perbuatan-perbuatan baik; dan segera setelah kematian, kita akan mulai menikmati penghargaan kita atau menderita hukuman yang sesuai. Magisterium Gereja telah menentukan bahwa jiwa-jiwa yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat Tuhan langsung masuk surga, atau setelah mengalami masa pemurnian, jika diperlukan. “Kita percaya akan kehidupan kekal. Kita percaya bahwa jiwa-jiwa dari semua orang yang meninggal dunia dalam rahmat Kristus -apakah mereka masih harus menjalani masa pemurnian di Api Penyucian, atau pada saat meninggalkan tubuh mereka [langsung] diterima oleh Kristus…- pergi untuk membentuk suatu umat Tuhan yang mengatasi kematian, kematian yang akan seluruhnya dihancurkan pada hari kebangkitan ketika jiwa-jiwa ini disatukan kembali dengan tubuh-tubuh mereka” (Paus Paulus VI, Creed of the People of God, 28).

Istilah “pangkuan Abraham” mengacu kepada suatu tempat atau keadaan “yang ke dalamnya jiwa-jiwa orang benar diterima, sebelum kedatangan Kristus Tuhan, dan di mana tanpa mengalami kesakitan, tetapi ditopang oleh pengharapan akan penebusan, mereka menikmati istirahat yang damai. Untuk membebaskan jiwa-jiwa orang benar inilah, yang di pangkuan Abraham mengharapkan kedatangan Sang Penyelamat, Kristus Tuhan turun ke tempat penantian” (St. Pius V, Catechism I, 6,3).

ay. 22. “Baik orang kaya maupun sang pengemis wafat dan dibawa ke hadapan Abraham, dan di sana pengadilan diadakan sesuai dengan perbuatan mereka. Dan Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa Lazarus memperoleh penghiburan, tetapi orang kaya tersebut memperoleh penyiksaan. Apakah orang kaya itu dihukum karena ia mempunyai harta, sebab ia berlimpah dalam kekayaan duniawi, sebab ia, “berpakaian jubah ungu  dan kain halus dan setiap hari bersuka ria dalam kemewahan?” Tidak,  saya katakan bukan karena alasan itu. Orang kaya itu dihukum sebab ia tidak memberikan perhatian kepada orang yang lain itu, sebab ia gagal untuk memperhatikan Lazarus, seorang yang duduk di depan pintunya, yang ingin memakan remah-remah dari mejanya. Tidak di manapun Kristus mengecam kepemilikan barang-barang duniawi. Sebaliknya, Ia mengucapkan kata-kata yang keras menentang mereka yang menggunakan harta miliknya dengan cara mementingkan diri sendiri, tanpa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan sesama [….]

“Perikop orang kaya dan Lazarus harus hadir di ingatan kita, harus membentuk hati nurani kita. Kristus menuntut keterbukaan kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan pertolongan – keterbukaan dari para orang kaya, yang berkelimpahan, yang secara ekonomi beruntung; keterbukaan kepada yang miskin, kepada mereka yang tidak berkembang dan mereka yang tidak beruntung. Kristus menuntut keterbukaan yang lebih dari sekadar perhatian yang lemah lembut, lebih dari pemberian tanda hadiah atau usaha-usaha setengah hati yang menjadikan kaum miskin sebagai kaum yang tertinggal/ terbuang sebagaimana sebelumnya atau bahkan lebih parah lagi [….]

“Kita tidak dapat berdiam diri, menikmati kekayaan dan kebebasan kita, jika di suatu tempat yang lain, ada Lazarus di abad ke duapuluh ini yang berdiri di depan pintu kita. Di dalam terang perumpamaan Kristus, kekayaan dan kebebasan maksudnya adalah tanggung jawab istimewa. Kekayaan dan kebebasan menciptakan kewajiban yang istimewa. Dan di dalam nama solidaritas yang mengikat kita semua bersama dalam kemanusiaan yang sama, saya kembali mewartakan martabat setiap orang: baik orang kaya maupun Lazarus adalah manusia, keduanya sama-sama ditebus oleh Kristus dengan harga yang mahal, harga “darah Kristus yang berharga” (1 Pet 1:19)” (Paus Yohanes Paulus II, Homily in Yankee Stadium, 2 October, 1979)

ay. 24-31. Dialog antara orang kaya dan Abraham adalah dramatisasi yang bertujuan untuk membantu orang mengingat pesan dari perumpamaan itu: jelaslah, di neraka tidak ada tempat untuk perasaan belas kasihan kepada sesama: di neraka, kebencian terus ada. “Ketika Abraham mengatakan bahwa ‘di antara kita terdapat jurang yang tak terseberangi…’ia memperlihatkan bahwa setelah kematian dan kebangkitan, tidak ada ruang buat segala bentuk pertobatan/ penyesalan. Orang-orang yang jahat tidak akan menyesal dan masuk Kerajaan, demikian juga tidak akan ada orang benar yang berdosa dan turun ke neraka. Terdapat jurang yang tak terseberangi” (Aphraates, Demonstratio, 20; De sustentatione egenorum, 12). Ini membantu kita memahami apa yang dikatakan oleh St. Yohanes Krisostomus: “Saya meminta kepadamu, dan memohon kepadamu dan berlutut di kakimu, saya mohon: sepanjang kita menikmati masa hidup yang singkat ini, biarlah kita bertobat, biarlah kita berbalik, biarlah kita menjadi lebih baik, sehingga kita tidak perlu meratap yang tidak berguna seperti si orang kaya ketika kita meninggal dunia dan di mana air mata kita tak berguna sedikitpun. Sebab bahkan jika kamu mempunyai seorang ayah dan seorang anak atau seorang teman atau siapapun juga yang mungkin berpengaruh/ dekat dengan Tuhan, tak akan ada seorangpun yang dapat membebaskan kamu, sebab perbuatan-perbuatan kamu sendiri menghukum kamu.” (St. John Chrysostom, Homily on 1 Cor)

Hare gene Masih Ragu?

-1

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Mark 28 : 19-20)

Walau telah tiga tahun bersama Yesus, mengalami sendiri karya-karya-Nya yang penuh kuasa, mendengarkan pengajaran-pengajaran-Nya yang demikian dalam menyentuh nurani, menyaksikan deritaNya yang amat berat yang dijalani dengan penuh kerelaan dan kerendahan hati sampai wafat, sampai  kemudian berpuncak pada melihat kubur-Nya yang kosong karena Ia bangkit dari mati dan kembali hadir di tengah-tengah mereka, ternyata tingkat kesadaran para pengikut-Nya masih belum seluruhnya sama, belum seluruhnya mampu memahami hingga merasuk dalam sukma, siapakah Yesus itu dan apa yang sebenarnya sedang Ia kerjakan di dalam dunia.  Injil Matius mencatat dalam Mat 28:17, ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.  Demikian juga Markus mencatat  dalam Mark 16:14, sesaat sebelum Yesus naik ke surga, Yesus mencela  ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka,  karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia  sesudah kebangkitanNya.  Ya, wafatNya di kayu salib di depan mata mereka dan kebangkitanNya dari alam maut seakan merupakan peristiwa yang terlalu berat bagi akal budi mereka untuk dapat dicerna dan dipahami.  Semua yang pernah Dia nyatakan kepada mereka sebelum sengsara dan wafatNya, sesungguhnya seluruhnya telah menjadi kenyataan. Puncaknya adalah kebangkitanNya, yang juga telah Dia ramalkan dengan tepat sebelumnya kepada mereka, bahkan hingga beberapa kali, baik secara kiasan maupun secara eksplisit. Namun demikian cepatnya rangkaian peristiwa ajaib itu terjadi di depan mata mereka,  membingungkan pemahaman manusiawi mereka, yang membuat mereka lambat untuk mengerti.

Berbagai kondisi perasaan dan tingkat pemahaman spiritual para murid di saat Yesus mengucapkan kata-kata perpisahan dan pengutusan sebelum terangkat ke surga itu mengingatkan saya pada keadaan umat manusia yang menjadi murid-murid Kristus di jaman ini, termasuk saya.  Segala bentuk keraguan akan karya penyelenggaraan Tuhan masih menghantui manusia, terutama dalam berbagai penderitaan hidup. Keraguan akan kasih dan kuasa Kristus yang nyata, membuat kadang kita lebih sibuk mempertanyakan Tuhan, berdebat tanpa ujung pangkal mengenai kebenaran Tuhan yang telah dinyatakan dengan jelas dan luar biasa kuatnya di dalam Kitab Suci. Apakah Tuhan masih kurang mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya? Waktu kita habis untuk mempertanyakan di mana Tuhan. Tenaga, perhatian, serta cinta yang selayaknya dipersembahkan kepada Tuhan melalui penyembahan dan puji-pujian serta upaya nyata untuk meringankan penderitaan sesama, tersita untuk mencari jawaban yang kadang bahkan melalui media-media lain yang bukan dari Tuhan, untuk memuaskan rasa penasaran kita.

Tetapi, apakah waktu kita cukup? Jam-jam kehidupan kita terus melaju tanpa bisa direm dengan kekuatan apa pun juga. Tidakkah kita melihat bahwa panggilan Tuhan untuk berbuat nyata dan mewartakan kasih-Nya ke segala penjuru itu sudah sedemikian mendesak di tengah dunia yang penuh dengan kegelapan, ketidakpastian, dan penyesatan ini.  Ancaman dari si jahat meraung-raung dari segala penjuru, datang dari televisi, musik, gaya hidup, tawaran konsumerisme dan hedonisme, kehausan yang berlebihan akan uang dan materi, kekuasaan, nama besar, dan segala yang serba enak-enak tetapi tidak mempunyai esensi apa-apa untuk kehidupan kekal. Siapa yang akan menjadi penahan lajunya kekuatan kegelapan itu di dalam dunia kalau bukan kita, anak-anak terang yang sudah dipilih dan diperlengkapiNya lewat rahmat pembaptisan dan kuasa Roh Kudus dan dicurahiNya kekuatan surgawi melalui sakramen-sakramen GerejaNya yang memberi hidup? Sudah selalu sadarkah kita bahwa kita adalah anak-anak yang diserahi tanggungjawab untuk melanjutkan pewartaan keselamatan yang telah diawaliNya dua ribu tahun yang lalu di dalam dunia ini dan di tengah-tengah manusia? Apakah kita akan terus merasa ragu-ragu dan bertanya tak henti-henti, berdebat mencari pemuasan ego pribadi dan pengakuan semu, sementara Tuhan sudah senantiasa mencurahkan berkat-Nya dalam hidup sehari hari dan menunggu kita untuk pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan kasih-Nya? Keraguan kita yang tak henti dan pendewaan ego yang selalu merasa diri paling benar juga membahayakan persatuan anak-anak Tuhan, yang seharusnya justru saling bergandengan tangan dan bahu membahu untuk membangun Kerajaan Allah di dunia. Musuh kita yang sebenarnya adalah si jahat, yang ingin merebut kita dan dunia ini dari tangan kasih Allah, musuh kita bukanlah sesama kita, bukanlah sekedar  orang-orang yang berseberangan dengan kita. Mungkin jika himbauan Tuhan ini dibahasakan dalam gaya gaul anak muda jaman sekarang, himbauan ini akan melahirkan komentar yang berbunyi seperti ini, “Hare gene masih ragu-ragu juga? Masih debat kusir juga? Apa kata surga? “, (dan bukan hanya “apa kata dunia”…!)

Kini Yesus telah kembali ke Surga, supaya Roh Kudus yang dijanjikanNya dapat datang dan menyertai setiap tugas perutusan yang Tuhan ingin kita lanjutkan sebagai anak-anakNya dalam satu baptisan kudus. Tuhan memerlukan kita, Tuhan mempercayai kita, dan ia masih terus menantikan kita bergabung dalam tugas perutusan mulia itu untuk melanjutkan dan menuntaskan karya-karya keselamatan yang dirancangNya, untuk pergi dan menjadi saksi atas kasih dan keselamatan yang menjadi harapan umat manusia bagi kehidupan yang kekal. Melalui seluruh karya kasih dan pekerjaan Kristus selama hidupNya di dunia, Ia telah mengaruniakan banyak hikmat dan pengajaran yang menjadi kekuatan dan perlengkapan kita dalam memikul tugas mewartakan kabar gembira, melayani sesama di dalam kasih tanpa pamrih, sehingga melalui seluruh cara hidup kita, kita boleh turut mewartakan kabar kebebasan yang dibawa Tuhan kepada para tawanan, baik itu tawanan oleh karena kemiskinan rohani, tawanan oleh perbudakan dosa dan kebiasaan buruk, tawanan oleh rasa kecil hati karena perlakuan sesama yang sewenang-wenang. Pendeknya, kabar sukacita Kristus menjadi amanat kita, anak-anak yang telah diselamatkan oleh iman dan kasih kita kepada Dia, untuk digemakan ke seluruh pelosok kehidupan, dalam setiap langkah kita di mana pun berada.

Kita memang masih terus berjuang dengan pergumulan kita sendiri melawan dosa, kita juga masih bergumul dengan kepahitan-kepahitan hidup kita sendiri, kepedihan-kepedihan kita, dan harapan-harapan kita yang belum terpenuhi. Tetapi semua itu bukan halangan untuk terus maju membaktikan diri bagi karya nyata demi Kerajaan Allah yang kita cintai. Mengapa? Karena justru iman dan kasih kita dapat ikut bertumbuh dan dimurnikan melalui tugas-tugas perutusan kita itu. Marilah kita melihat kembali apa yang dinyatakan Rasul Paulus dalam Efesus 4 : 11-16, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari padaNyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Tuhan sudah memanggil kita, menugaskan kita, memperlengkapi kita, apakah kita masih membiarkan Dia menunggu? Tidak ada yang lebih indah daripada sebuah kesadaran bahwa Tuhan Raja Semesta Alam membutuhkan komitmen kita, menunggu keterlibatan kita. Berarti Dia mempercayai kita, untuk turut memikul tugas mulia yang tidak diberikan kepada sembarang ciptaan, dan pasti Ia sudah selalu mempersiapkan kita untuk melakukan tugas kepercayaan itu (dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya, Mark 16 : 20b). Betapa bahagianya kita karena Tuhan mempercayakan tugas mulia kepada kita, inilah kesempatan emas yang selayaknya kita manfaatkan sebaik-baiknya dan sehabis-habisnya untuk membalas cinta-Nya kepada kita, dan berdoa kepadaNya dengan penuh sukacita sebagaimana para murid, “Tuhan, aku siap, inilah aku, pakailah aku seturut kemampuan dan keunikan yang Kau berikan padaku, untuk mewartakan kasih-Mu dalam segala bentuk ketaatan dan pelayananku bagi sesama dan bagi Engkau. Betapa bahagianya aku menjadi mitra-Mu untuk menyatakan keselamatan-Mu kepada dunia ini, bantulah aku untuk setia dengan komitmen ini, dan menantikan dengan rindu setiap pagi, karuniaMu yang selalu mencukupkan dan memampukan, agar aku boleh membawa sebanyak mungkin jiwa untuk juga turut mengalami betapa indahnya cinta-Mu dan betapa indahnya rencana-Mu bagi setiap manusia, supaya boleh selalu berada bersama dengan Engkau, dan bersatu dengan Engkau, di dalam dunia saat ini, dan selamanya di dalam Rumah-Mu yang kekal. Aku mencintaimu, Tuhan. Aku mau bekerja bagi-Mu, hari ini dan seterusnya, sampai akhir, saat kelak Engkau memanggilku pulang. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya, amin. (Triastuti)

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef 2 : 10).

Kehidupan Kristus Sebelum Penderitaan-Nya

3

1. Kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus

Dalam misteri iman dibahas tentang Kristus yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan misteri Paskah-Nya- yaitu: penderitaan, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus. Bukan berarti bahwa kehidupan Yesus di masa pertengahan dari dua kejadian besar (saat dikandung sampai dengan misteri Paskah) tidaklah penting. Namun, dua kejadian tersebut menjadi simpul dari karya keselamatan Allah, yang mengungkapkan pentingnya seluruh sendi kehidupan Kristus, karena setiap hal yang dilakukan Kristus – termasuk masa kehidupan-Nya yang tersembunyi di Nasaret – adalah sungguh sangat berarti dan mempunyai makna yang begitu mendalam. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan sebagai berikut: “Seluruh kehidupan Yesus – kata-kata-Nya dan perbuatan-Nya, kebungkaman-Nya dan kesengsaraan-Nya, caranya Ia hidup dan berbicara – adalah wahyu tentang Bapa. Yesus dapat mengatakan: “Yang melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14:9) dan Bapa: “Inilah Putera-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Karena Kristus menjadi manusia untuk memenuhi kehendak Bapa-Nya (Bdk. Ibr 10:5-7), maka setiap hal kecil dari hidup-Nya menyatakan bagi kita “kasih Allah… di tengah-tengah kita” (1 Yoh 4:9).” (KGK, 516) Dengan demikian, seluruh hidup Kristus menjadi contoh bagi seluruh umat manusia (Gaudium et Spes, 38). Seluruh kehidupan Kristus adalah kehidupan Allah yang adalah kasih, sehingga apapun yang dilakukan-Nya merupakan kasih dalam arti yang sebenarnya, yaitu kasih yang memberi. Kelahiran-Nya merupakan bentuk kasih yang terbesar kepada umat manusia; masa kanak-kanak-Nya menjadi manifestasi kasih dan ketaatan kepada orang tua-Nya di dunia ini dan kepada Bapa-Nya; kehidupan-Nya yang tersembunyi mengungkapkan kasih dalam bentuk yang sederhana namun konsisten; kehidupan-Nya di muka umum memperlihatkan misi-Nya untuk menyelamatkan umat manusia; dan akhirnya Misteri Paskah menjadi puncak dari kasih-Nya yang tak terhingga kepada Allah Bapa dan manusia. Sebagai pengikut Kristus, sudah seharusnya kita merenungkan, menghayati dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh Kristus, sehingga kita akan menjadi semakin dapat meniru teladan-Nya.

2. Misteri kedatangan-Nya dan kelahiran-Nya

Dalam artikel sebelumnya, telah dibahas bahwa kedatangan Sang Mesias sudah dinubuatkan sebelumnya melalui perantaraan para nabi hingga nabi yang terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis, nabi Allah yang maha tinggi (Luk 1:76), dan sahabat Mempelai (lih. Yoh 3:29). Setiap tahun pada masa Adven, seluruh umat beriman juga diajak oleh Gereja, bersama-sama dengan para nabi dan seluruh umat di dalam Perjanjian Lama, mempersiapkan diri menyambut kedatangan Sang Mesias. Santo Thomas Aquinas juga menjelaskan bahwa peristiwa “Kristus dikandung” merupakan manifestasi dari Tritunggal Maha Kudus. ((Summa Theology, III, q.32, a.1)) Allah Putera diutus ke dunia oleh Allah Bapa, di mana Allah Putera mengambil kodrat manusia dan dikuduskan oleh Roh Kudus. Dimensi Trinitas terus ada di sepanjang karya Kristus di dunia ini, sebab di setiap saat relasi-Nya dengan Allah Bapa yang mengutus-Nya tak pernah putus; Roh Kudus dan karunia-Nya secara tak terhingga ada di dalam diri Kristus. setelah wafat dan kebangkitan-Nya, pada hari Pentakosta Kristus sendiri mengutus Roh Kudus-Nya kepada para Rasul, sampai akhirnya menjangkau seluruh dunia.

Sehubungan dengan kelahiran Kristus, St. Thomas mengajukan pertanyaan apakah kelahiran Kristus adalah merupakan mukjizat atau merupakan hal yang normal? ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, III, q.33, a.4)) Mengutip St. Ambrosius, St. Thomas menuliskan bahwa pada saat pembentukan janin, sebenarnya terjadi sesuatu yang bersifat baik adi-kodrati maupun kodrati. Bersifat adi kodrati, karena Kristus dilahirkan dari seorang perawan dan karena Pribadi ke-dua dari Trinitas mengambil kodrat manusia. Dan bersifat kodrati karena pembentukan janin ini menjadi sesuatu yang biasa terjadi: karena seluruh materi – tubuh – sebagaimana layaknya manusia, didapatkan oleh Kristus dari ibu-Nya, yaitu Bunda Maria, karena Kristus lahir tanpa campur tangan laki-laki.

Satu hal yang perlu ditekankan adalah karena kesatuan kodrat kemanusiaan-Nya dengan kodrat keAllah-anNya, maka pada saat Kristus dikandung (pembentukan), Kristus senantiasa bersama-sama dengan Allah, melihat Allah muka dengan muka atau beatific vision. ((ibid)) Sebagai konsekuensinya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa sejak masa pembentukan janin, telah terbentuk manusia dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, Gereja Katolik selalu menjunjung tinggi kehidupan mulai dari masa awal kandungan. Walaupun Kristus dilahirkan oleh Perawan Maria di dalam dimensi waktu – karena konsekuensi dari Pribadi kedua dari Trinitas (Allah Putera) mengambil kodrat manusia – namun jangan lupa, bahwa sebelum Kristus berinkarnasi, Ia telah ada, karena Ia dilahirkan oleh Allah Bapa di dalam kekekalan. Dengan demikian, ada dua jenis kelahiran Kristus, yaitu di dalam kekekalan (eternity) dan di dalam waktu (temporal).

Pertanyaan lain, yang juga diajukan oleh St. Thomas adalah, mengapa Kristus lahir di Betlehem. ((Summa Theology, q.35, a.7)) Kristus lahir di Betlehem karena merupakan pemenuhan dari nubuat Mikha, yang menuliskan, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mik 5:2) Kristus juga dinubuatkan lahir dari keturunan Daud (lih. 2 Sam 7:12-16; Yer 23:5; Mzm 89:35-37; Yes 11:1-2; bdk. Rom 1:3). Karena Daud lahir di Betlehem, maka sebagai pemenuhan nubuat ini, maka Yesus juga lahir di Betlehem. Sama seperti Daud mendirikan kerajaannya dan akhirnya mati di Yerusalem, maka Kristus yang mendirikan kerajaan untuk selamanya dengan kematian-Nya di kayu salib, maka Kristus wafat di kayu salib. Alasan yang lain adalah dari nama Betlehem itu sendiri – yang berarti rumah roti – sungguh sesuai dengan Kristus sendiri yang adalah Sang “Roti hidup yang turun dari Surga” (Yoh 6:51).

3. Penyunatan

Menjadi suatu pertanyaan mengapa Kristus, yang adalah Allah, mau tunduk di bawah Hukum Taurat, yaitu dengan disunat? St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. Alasan kedua adalah untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3) Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (lih. Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani. St. Athanasius dalam komentarnya tentang Luk 2:23, menuliskan hal ini dengan begitu indahnya, “Karena Anak Allah menjadi manusia, dan disunat di dalam daging, bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, namun agar Dia dapat menjadikan kita [anak-anak] Allah melalui rahmat, dan agar kita dapat disunat secara rohani; dengan demikian, sekali lagi, untuk kepentingan kita Dia dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dapat belajar untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.” ((Athanasius, on Lk. 2:23; dikutip oleh St. Thomas dalam Summa Theology, III, q. 37, a. 3, ad 2.))

4. Yesus diketemukan di Bait Allah (Luk 2:41-52)

Di masa itu para wanita dan anak-anak tidak harus memenuhi ketentuan untuk hadir di bait Allah selama tiga kali setahun (lih. Kel 23:14-17; Ul 16:16). Anak-anak laki-laki wajib memenuhi ketentuan ini ketika mereka menjadi “anak-anak hukum Taurat” di usia 13 tahun, tetapi sudah menjadi kebiasaan bahwa usia ini diantisipasi setahun atau dua tahun sebelumnya. Maka nampaknya Lukas bermaksud menunjukkan kejadian ini sebagai kemunculan Yesus yang pertama di bait Allah setelah Ia dipersembahkan di bait Allah di masa Ia masih bayi. Keseluruhan kejadian memang mengandung rahasia tersendiri. Bagaimana Yesus dapat tertinggal di Yerusalem, menurut kehendak-Nya sendiri; padahal umumnya tidak ada anak laki-laki yang berumur 12 tahun dapat dengan mudah hilang. Namun karena ziarah tersebut dilakukan secara berkelompok -yang umumnya terpisah antara kelompok pria dan wanita, dan anak-anak laki-laki yang berusia 12 tahun dapat termasuk dalam kedua kelompok itu- entah bersama ayahnya atau ibunya (lih. ay.44), maka dapat dimengerti, bahwa insiden ini terjadi. [Bunda Maria menyangka Yesus ada bersama Yusuf; dan sebaliknya Yusuf menyangka Yesus ada bersama Maria.]

5. Kehidupan Yesus yang tersembunyi (hidden life)

Karya Kristus kepada orang-orang adalah hanya sekitar 3 tahun, namun mengapa  Kristus sendiri seolah-olah berdiam diri di dalam keluarga kudus di Nasaret selama 30 tahun? Tidak ada yang dilakukan oleh Kristus yang tidak berguna, maka masa hidup-Nya yang tersembunyi selama 30 tahun sesungguhnya mengajarkan begitu banyak hal kepada manusia. Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya demikian:

KGK 531: Selama sebagian besar kehidupan-Nya Yesus mengambil bagian dalam nasib kebanyakan manusia: kehidupan biasa tanpa kebesaran lahiriah, kehidupan seorang pengrajin, kehidupan religius Yahudi yang takluk kepada hukum Allah (Bdk. Gal 4:4), kehidupan dalam persekutuan desa. Dari seluruh periode ini, hanya inilah yang diwahyukan kepada kita bahwa Yesus “taat” kepada orang-tua-Nya dan bertambah “hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. (Luk 2:51-52).

KGK 532: Dalam kepatuhan kepada bunda-Nya dan bapa piara-Nya Yesus memenuhi perintah keempat dengan amat sempurna. Itulah gambaran duniawi mengenai kepatuhan-Nya sebagai Anak terhadap Bapa surgawi-Nya. Kepatuhan Yesus sehari-hari terhadap Yosef dan Maria menyatakan dan mengantisipasi kepatuhan-Nya pada hari Kamis Putih: “Bukan kehendak-Ku…” (Luk 22:42). Dengan kepatuhan Kristus dalam keseharian kehidupan yang tersembunyi itu, mulailah sudah pemulihan kembali apa yang telah dihancurkan oleh ketidakpatuhan Adam (Bdk. Rm 5:19).

KGK 533: Kehidupan yang tersembunyi di Nasaret memungkinkan setiap orang, supaya berada bersama Yesus dalam kegiatan sehari-hari:

“Rumah di Nasaret adalah sebuah sekolah, di mana orang mulai mengerti kehidupan Kristus. Itulah sekolah Injil… Pertama-tama Ia mengajarkan keheningan. Semoga hiduplah di dalam kita penghargaan yang besar terhadap keheningan… sikap roh yang mengagumkan dan yang perlu ini… Di sini kita belajar, betapa pentingnya kehidupan di rumah. Nasaret memperingatkan kita akan apa sebenarnya keluarga, akan kebersamaannya dalam cinta, akan martabatnya, akan keindahannya yang gemilang, akan kekudusannya, dan haknya yang tidak dapat diganggu gugat… Akhirnya kita belajar di sini aturan bekerja dengan penuh ketertiban. O mimbar Nasaret, rumah putera pengrajin. Di sini ingin saya kenal dan rayakan hukum pekerjaan manusiawi yang keras, tetapi membebaskan… Akhirnya saya ingin menyampaikan berkat kepada para pekerja di seluruh dunia dan menunjukkan kepada mereka contoh luhur saudara ilahinya” (Paus Paulus VI, pidato 5 Januari 1964 di Nasaret).

6. Baptisan

Injil Matius menceritakan bahwa ketika Kristus datang untuk dibaptis, maka Santo Yohanes Pembaptis “mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.” (Mat 3:14-15) Di dalam Summa Theology, St. Thomas Aquinas memberikan empat alasan mengapa Kristus dibaptis ((lihat. Summa Theology, III, q.38, a.1)), yaitu: (1) Agar Kristus dapat menguduskan baptisan, karena Kristus telah menguduskan air sebagai materi baptisan; (2) Menjadi cara Kristus untuk menyatakan Diri-Nya. Rasul Yohanes menuliskan perkataan Yohanes Pembaptis, “Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” (Yoh 1:31); (3) Dengan baptisan ini, maka orang-orang akan tahu bahwa ini adalah cara yang digunakan oleh Kristus untuk mengkuduskan umat Allah; (4) Menunjukkan bahwa pertobatan seperti yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis adalah penting sebelum seseorang nantinya secara layak menerima baptisan Kristus. Dengan membiarkan diri-Nya dibaptis, maka Kristus menunjukkan kepada semua orang untuk mengikuti langkah-Nya, yaitu memberikan diri dibaptis – bukan menurut baptisan Yohanes Pembaptis namun baptisan Kristus – sehingga manusia dapat diselamatkan (lih. Mrk 16:16). Juga ditunjukkan bahwa dengan dibaptis, maka kita menjadi anak-anak Allah, seperti yang terjadi dalam baptisan Kristus, saat Allah Bapa bersabda, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17)

7. Pencobaan di padang gurun

Setelah Pembaptisan, Yesus “dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis” (Mat 4:1). St. Thomas menjelaskan bahwa ada empat alasan mengapa Yesus membiarkan diri-Nya dicobai oleh iblis, ((lih. Summa Theology, III, q.41, a.1)) yaitu: (1) Mengutip St. Gregorius, St. Thomas mengatakan bahwa dengan dicobai maka Kristus dapat menguatkan kita dalam pencobaan, sama seperti dengan kematian-Nya, Kristus membebaskan kita dari kematian; (2) Kristus ingin menunjukkan bahwa bagaimanapun kudusnya kita, maka tidak akan terlepas dari pencobaan. Sirakh 2:1 menuliskan “Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan.”; (3) Memberikan pelajaran kepada umat manusia bagaimana untuk mengatasi pencobaan; (4) Agar membuat kita percaya akan belas kasih-Nya, seperti yang dituliskan dalam Ibr 4:15 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

8. Karya publik Kristus

a. Mengapa selama hidupnya, Yesus diutus ke bangsa Israel?

Ketika perempuan dari Kanaan meminta pertolongan Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan, maka Yesus menjawab, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mat 15:24) Mengapa Yesus menjawab demikian? St. Thomas mengatakan ada beberapa alasan: (1) berdasarkan prinsip keadilan, bahwa Kristus yang telah dijanjikan kepada Abraham dan juga para bapa di Perjanjian Lama terpenuhi di dalam bangsa Israel; (2)  berdasarkan prinsip mediasi, di mana Kristus mewartakan Kerajaan Allah kepada bangsa Israel terlebih dahulu dan kemudian bangsa Israel kepada seluruh bangsa, atau dari para rasul kepada para murid, dan selanjutnya kepada semua bangsa; (3) untuk menggugurkan semua alasan dari bangsa Yahudi untuk tidak percaya; (4) karena kemenangan Kristus di salib memberikan kuasa untuk mengatasi seluruh bangsa; maka sebelum peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus mewartakan hanya kepada bangsa Yahudi. Namun, setelah wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus sendiri yang memerintahkan para rasul untuk pergi dan menjadikan seluruh bangsa murid Kristus, membaptis dan mengajarkan kepada seluruh bangsa melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Kristus (lih. Mat 28:19-20).

b. Mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan?

Kalau kita mengamati bagaimana Yesus mengajar, maka kita melihat bahwa adakalanya Yesus mengajar secara langsung, seperti dalam khotbah di bukit tentang delapan sabda bahagia (lih. Mat 5:3-10), namun adakalanya Ia juga mengajar dengan menggunakan perumpamaan, seperti pengajaran tentang Kerajaan Sorga. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus menggunakan perumpamaan? Kitab Suci mengatakan bahwa memang kepada para murid-Nya yang telah diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, Yesus berbicara secara langsung tanpa menggunakan perumpamaan (lih. Mat 13:10-11), namun tidak demikian kepada orang banyak. Apakah dengan demikian Kristus menyembunyikan sesuatu kepada orang banyak? St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Kristus berbicara kepada orang banyak dengan perumpamaan karena: (1) orang-orang tersebut tidak akan mengerti atau tidak layak mendengarkan pengajaran yang disampaikan secara langsung, (2) prinsip mediasi, yaitu rahasia Kerajaan Allah disampaikan kepada Gereja melalui para Rasul, sebab kepada mereka maknanya dibukakan. ((Summa Theology, III, q.42, a.3))

Apa yang dapat diterima oleh seseorang adalah tergantung dari disposisi hati dari orang yang menerima (the mode of the receiver). Sebagai contoh, bagi orang yang mempunyai disposisi hati yang terbentuk oleh iman Katolik, maka orang tersebut akan menghormati dan mendengarkan pengajaran tentang Ekaristi. Namun bagi orang yang tidak percaya, maka pengajaran tentang Ekaristi mungkin tidak terlalu diperhatikannya. Bagi orang yang telah dibentuk sebagai seseorang yang anti Katolik, maka pengajaran apapun tentang iman Katolik dianggap salah. Penjelasan apapun yang diberikan seolah-olah tidak masuk akal. Dengan menggunakan perumpamaan, Yesus dapat membuat orang tertarik untuk menjadi pengikut-Nya, yang membuat orang tersebut dapat mengikuti pengajaran-Nya secara lebih mendalam. Yesus menjelaskan perumpamaan tersebut bukan hanya kepada para rasul namun juga kepada para murid (lih. Mar 4:10). Ini berarti, orang-orang yang ingin benar-benar mencari kebenaran dapat bertanya dan menemukannya.

Alasan kedua mengapa Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan adalah untuk menyatakan pentingnya prinsip mediasi. Yesus menghendaki agar apa yang diajarkannya kepada para rasul dan para murid, dapat diteruskan oleh mereka kepada orang banyak, baik secara lisan maupun tertulis. Dengan prinsip ini, maka adalah sungguh penting untuk menjadi bagian dari bilangan umat Allah. Kalau Kristus sendiri telah mendirikan Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19) dan menjadi Kepala Gereja (lih. Ef 5:23), maka untuk menjadi bilangan murid Kristus, kita harus masuk ke dalam bilangan Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik tersebut. Dengan demikian, kita dapat mengalami kepenuhan kebenaran dan kepenuhan pengajaran Kristus, seperti pengajaran tentang sakramen, liturgi, dan doktrin-doktrin yang lain, termasuk pengajaran tentang Kerajaan Allah.

c. Mengapa Yesus tidak menuliskan pengajaran-Nya?

Secara prinsip, St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology, III, q.42, a.4 menerangkan bahwa Kristus tidak menuliskan apapun karena:

1. Berdasarkan martabat: Semakin sempurna seorang guru, maka semakin sempurna cara yang dilakukan dalam mengajar. Kristus, sebagai Pengajar yang paling sempurna, memberikan pengajaran-Nya dengan menorehkannya pada hati para pendengar-Nya. Tulisan pada dasarnya adalah cara yang dipakai guru untuk mencapai tujuan akhir, yaitu menorehkan pesan tersebut di dalam hati para muridnya. Kristus sebagai Pengajar yang sempurna tidak memerlukan cara ini, namun langsung mencapai tujuan akhir. Matius menegaskan hal ini dengan mengatakan, “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Mt 7:29).

2. Berdasarkan kesempuranaan pengajaran: Semakin sempurna pengajaran, maka semakin sulit untuk dituangkan dalam tulisan. Tulisan akan membatasi kedalaman pengajaran. Dan rasul Yohanes menegaskan, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Kita melihat, bahwa setelah St. Thomas diberikan suatu vision pada saat dia mempersembahkan misa, maka dia tidak mau melanjutkan tulisannya, karena merasa bahwa apa yang ditulisnya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan apa yang dilihat dan dialaminya pada saat mengalami vision. Bandingkan dengan Kristus yang mempunyai vision (beatific vision = melihat Allah muka dengan muka) sepanjang kehidupannya di dunia. Dan kalau Kristus menuliskan sesuatu, maka orang-orang hanya akan mempelajari apa yang tertulis tanpa menggali lebih dalam lagi pengajaran yang ingin disampaikan-Nya.

3. Berdasarkan keteraturan urutan: Dengan tidak ada tulisan dari Kristus, maka pengajaran Kristus dapat mencapai semua orang dengan keteraturan, yaitu dimulai dari Kristus mengajarkan para muridnya, dan lalu para muridnya mengajarkan orang banyak dengan tulisan dan khotbah. Kalau Kristus menuliskan pengajaran-Nya, maka pengajaran-Nya dapat langsung diterima oleh semua orang tanpa adanya peran para murid. Di sinilah kita melihat adanya prinsip partisipasi.

Namun, di satu sisi, Kristus menuliskan pengajaran-Nya lewat para murid. Para murid dengan inspirasi Roh Kudus menuliskan apa-apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Kristus.

d. Mengapa Yesus membuat mukjizat?

Tujuan utama mukjizat adalah untuk menunjukkan kemuliaan Tuhan. Di Perjanjian Lama mukjizat- mukjizat yang terjadi menyatakan penyelenggaraan Tuhan yang Maha Besar (lih. Kel 10:2, Ul 5:25, Kel 7-10, 1 Raj 18:21-38, 2 Raj 5). Demikian pula, di kitab-kitab Injil dan Perjanjian Baru, kebesaran dan kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.  Hal ini kita lihat sejak Tuhan Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama di Kana, (lih. Yoh 2), pada saat Yesus menyembuhkan banyak orang sakit (Mat 9:8, Luk 18:43, Mat 15:31, Luk 19:37, Kis 4:21), pada saat Ia membangkitkan Lazarus (lih. Yoh 11) dan saat Ia melakukan mukjizat-mukjizat lainnya. Yesus melakukan mukjizat- mukjizat tersebut bukan agar dikagumi orang, melainkan karena dorongan belas kasih-Nya terhadap manusia yang berdosa dan menderita. Dalam hal misi penyelamatan-Nya, dengan melakukan mukjizat- mukjizat, Kristus membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan dan Penguasa alam semesta. Mukjizat-Nya yang terbesar adalah kebangkitan-Nya dari kematian, agar kita yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal (lih 1 Pet 1:3).

Tujuan mukjizat berikutnya merupakan tujuan sekunder, seperti untuk mengkonfirmasi kebenaran dari pesan Ilahi yang disampaikan, atau sebuah kebenaran akan ajaran iman dan moral, seperti dalam kisah Musa (Kel 4), Elia (1 Raja 17:24); dan bagaimana orang Yahudi mengenali Yesus sebagai utusan Tuhan (lih. Yoh 6:14, Luk 7:16; Yoh 2:11, Yoh 3:2, Yoh 9:38, Yoh 11:45); dan bagaimana Yesus mengacu kepada perbuatan-Nya (termasuk mukjizat- mukjizat-Nya) untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Putera Allah (lih. Mat 11:4; Yoh 10:37, Yoh 5:36, Mrk 16:17). Para Rasul juga mengajarkan bahwa mukjizat merupakan konfirmasi atas ke-Tuhanan Yesus (lih. Yoh 20:31, Kis 10:38, 2Kor 12:12).

e. Transfigurasi

Melalui peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, atau yang sering disebut sebagai Transfigurasi (lih. Mat 17:1-8), Kristus memperkuat iman para rasul. Kalau sebelumnya, para rasul bersedih mendengar bahwa Kristus harus menderita dan wafat (lih. Mat 16:21-28), maka melalui peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, mereka memperoleh peneguhan iman. Ketiga rasul itu- yaitu Petrus, Yohanes, dan Yakobus- melihat bahwa di akhir dari semua penderitaan-Nya, Kristus akan menyatakan kemuliaan-Nya. Dengan demikian, Transfigurasi juga memberikan kekuatan kepada seluruh umat Kristiani untuk dapat memanggul salib bersama Kristus, karena pada akhirnya kita juga akan memperoleh kemuliaan bersama-Nya.

f. Mengapa Yesus berdoa?

Orang-orang yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, kerap bertanya demikian: kalau Yesus Tuhan, mengapa Dia berdoa? Memang, Injil mencatat bahwa di berbagai kesempatan, Yesus berdoa (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa doa adalah “membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya.” ((Summa Theology  II-II, q. 83, a.1-2)) Karena di dalam satu Pribadi Kristus terdapat dua kehendak, yaitu kehendak manusia dan kehendak Tuhan, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa; karena selain  mempunyai kodrat Allah, Yesus juga mempunyai kodrat manusia.  Maka, Yesus berdoa dalam kodrat manusia-Nya, namun tidak dalam kodrat ilahi-Nya. Sebagai manusia, Yesus berdoa, dan Ia mengarahkan doa-Nya kepada Pribadi Allah Bapa-Nya, sebagaimana dicatat di dalam Injil. Doa adalah percakapan yang intim dan antar pribadi dengan Allah. Maka Kristus berdoa kepada Pribadi Allah Bapa. Doa Kristus adalah pernyataan kebenaran akan kodrat Yesus sebagai manusia, akan kehendak-Nya sebagai manusia, dan akan adanya perbedaan Pribadi di dalam Allah Trinitas. Dengan kata lain, doa Kristus menyatakan bahwa: 1) Yesus adalah sungguh manusia; 2) ada perbedaan Pribadi dalam kesatuan Allah Trinitas; 3) hubungan kasih antara anak dan Bapa adalah pola contoh hubungan kasih antara seluruh Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus, kepada Allah Bapa. Selain itu, Yesus berdoa, untuk mengajar kita berdoa, maka Ia berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untuk mengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, saat Dia berkata, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).

Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).

Yesus mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri di dalam drama penyaliban-Nya (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).

Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang dilakukan-Nya sendiri dengan berdoa bagi mereka yang menyalibkan Dia, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (lih. Lk 23:34).

9. Kesimpulan

Walaupun tidak disebutkan di dalam syahadat tentang kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nasaret (selama tiga puluh tahun) dan karya publiknya (selama tiga tahun), kita mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di waktu-waktu itu tetap merupakan sesuatu yang penting. Seluruh kehidupan Kristus adalah kehidupan Allah yang penuh kasih, yang memberi tanpa pamrih. Kasih Allah ini dinyatakan melalui kelahiran Kristus ke dunia; dan masa kanak-kanak Yesus menjadi perwujudan kasih dan ketaatan-Nya kepada orang tua-Nya di dunia ini dan kepada Bapa-Nya yang menghendaki demikian; kehidupan-Nya yang tersembunyi mengungkapkan kasih dalam bentuk yang sederhana namun terus menerus; kehidupan-Nya di muka umum memperlihatkan misi-Nya untuk menyelamatkan umat manusia; dan semuanya ini memuncak pada Misteri Paskah yang menjadi pernyataan kasih-Nya yang tak terhingga kepada Allah Bapa dan manusia. Dengan mempelajari apa yang dilakukan Yesus selama hidup-Nya, kita akan semakin memahami betapa besar dan dalamnya kasih-Nya dan mendorong kita untuk sedapat mungkin membalas kasih-Nya dan meneladani-Nya dalam mengasihi sesama.

Apakah Bible Inerrancy hanya terbatas kepada Kebenaran yang menyangkut Keselamatan?

0

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi tentang Wahyu Ilahi menyatakan:

“Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang ilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Alkitab mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita“. (Dei Verbum 11)

Banyak ahli menginterpretasikan bahwa Konsili melalui Dei Verbum 11, menyatakan bahwa ‘inerrancy’  hanya terbatas kepada kebenaran-kebenaran yang menyangkut keselamatan saja, sedangkan pada hal-hal lainnya -tentang sejarah, geografi dan hal-hal non-religius lainnya bisa salah- dengan demikian membatasi bahwa Kitab Suci tidak mungkin salah hanya dalam hal iman dan moral saja. Namun sebenarnya, jika kita melihat kepada perumusan kata-kata Konsili Vatikan II tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa bukan maksud Konsili untuk mengubah ajaran dengan meninggalkan kontinuitas ajaran para Paus sebelumnya tentang ‘unlimited inerrancy‘ artinya dalam hal-hal lainnya-pun Kitab Suci tidak mengandung kesalahan. Artinya, walaupun dapat terjadi perbedaan-perbedaan teks dalam Codex, maupun antara suatu ayat tertentu dalam kitab yang satu dengan kitab lainnya, namun secara keseluruhan semuanya tetap menyampaikan kebenaran, karena Kitab Suci ditulis atas inspirasi Roh Kudus. Pertimbangannya adalah demikian (lih. Scott Hahn, Catholic Bible Dictionary, (New York: Double Day, 2009), p. 388-391):

1. Istilah “demi keselamatan kita” (dalam bahasa Latin, nostrae salutis causa) adalah frasa preposisi yang menjelaskan kata ‘dicantumkan’ (Latin: consignari). Artinya, frasa itu menunjukkan alasannya mengapa Tuhan menghendaki agar kebenaran dicantumkan dalam Kitab Suci. Jadi frasa itu bukan merupakan adjective (kata sifat) yang membatasi kata ‘kebenaran’ (veritatem). Maka perkataan Konsili tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan maksud kebenaran itu dituliskan, dan bukan untuk membatasi lingkup kebenaran yang dinyatakan.

2. Di belakang pernyataan Dei Verbum 11 tersebut dinyatakan kutipan yang cukup panjang, bahkan terpanjang dari semua kutipan dalam Konstitusi Dei Verbum tersebut, yaitu pernyataan-pernyataan dari St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, Konsili Trente, Paus Leo XIII, Pius XII, dan semua kutipan itu meneguhkan tentang inspirasi ilahi dari Kitab Suci dan bahwa Kitab Suci seluruhnya bebas dari kesalahan. Karena semua catatan kaki yang ada di dokumen tersebut menekankan kesinambungan dengan ajaran Gereja sebelumnya, maka besar kemungkinan pernyataan “demi keselamatan kita” tidak dimaksudkan untuk meninggalkan ajaran-ajaran Gereja sebelumnya yang mengajarkan ‘unlimited inerrancy‘ (tidak ada kesalahan dalam keseluruhan Kitab Suci).

3. Paus Leo XIII menyebutkan tentang ajaran ‘unlimited inerrancy‘ sebagai “the ancient and unchanging faith of the Church/ iman yang sudah lama dan tidak berubah dari Gereja” (Providentissimus Deus, 41). Ini adalah pandangan para Bapa Gereja, teolog zaman Abad Pertengahan, dan diajarkan oleh Paus Leo XIII, Benediktus XV, dan Pius XII. Maka terdapat garis kesinambungan garis pengajaran dari jemaat awal, sampai Abad Pertengahan, bahwa Kitab Suci bebas dari kesalahan. Tentulah para Bapa Konsili Vatikan II mempunyai tanggungjawab yang besar untuk menjelaskan kepada semua umat beriman, jika maksud mereka adalah untuk memberikan pengertian baru terhadap istilah ‘bible inerrancy‘ ini. Bahwa mereka tidak melakukannya, merupakan suatu indikasi bahwa yang mereka maksudkan bukanlah untuk mengubah posisi klasik ajaran Gereja Katolik tentang hal ini.

Maka dapat disimpulkan bahwa ada penekanan baru tentang rumusan ‘bible inerrancy’ ini- yaitu bahwa maksudnya adalah demi keselamatan kita, namun bukan untuk memberikan pengajaran baru yang meninggalkan keyakinan yang terdahulu, bahwa Kitab Suci seluruhnya bebas dari kesalahan.

Akhirnya, ajaran bahwa Kitab Suci seluruhnya bebas dari kesalahan bukan merupakan penyangkalan akan adanya kesulitan-kesulitan yang tetap ada dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Ada banyak perikop yang nampaknya bertentangan satu dengan yang lainnya, banyak yang nampaknya berbeda dengan sumber-sumber yang non-biblis,….namun masalah-masalah ini bukanlah kekeliruan pengungkapan, yang menjadikannya tidak benar. Adanya perbedaan-perbedaan itu adalah undangan yang mengajak kita untuk semakin rendah hati [termasuk untuk terus mencari kemungkinan interpretasi yang mungkin untuk memahami perbedaan-perbedaan tersebut]. St. Agustinus mengungkapkan prinsip ini, ketika ia mengalami kesulitan saat menemukan adanya perbedaan-perbedaan di dalam Kitab Suci. Ia menganggap bahwa entah terjadi kesalahan manuskrip (kekeliruan penyalinan), atau bahasa aslinya keliru diterjemahkan (sang penerjemah gagal memahami artinya) atau ia sendiri yang tidak mengerti (lih. Letter 82, 3). Tetapi dalam segala keadaan, tidaklah benar mengklaim bahwa Kitab Suci itu salah karena pengarangnya salah menyampaikan kebenaran yang ingin disampaikan.

Tuhan, inilah aku, utuslah aku

11

Pengantar dari Editor:

Bila Tuhan memanggil anak-Nya untuk menjadi pekerja-Nya, Ia dapat menggunakan berbagai sarana dari yang sederhana hingga yang besar, untuk menggerakkan hati anak-anak pilihan-Nya hingga mereka membulatkan tekad menjalani hidup untuk berkarya di kebun anggur-Nya. Bagi Diakon Budi, benih-benih panggilan Tuhan itu muncul secara unik namun nyata sejak masa kecilnya, yang tak pernah lepas dari pembinaan iman yang setia oleh kedua orangtuanya, hingga turut menumbuhkan kecintaannya kepada Tuhan dan Gereja-Nya. Cinta itu berbuahkan ketetapan hati untuk mengikuti panggilan Tuhan. Berbagai peristiwa dalam keseharian dipakai Tuhan untuk menyatakan penyertaanNya yang setia sepanjang perjalanan studi panggilannya sejak dari awal masuk seminari menengah. Dan sebagaimana Tuhan akan senantiasa menuntaskan apa yang telah Ia awali, sentuhan-sentuhan kecil itu terus memberinya kekuatan, hingga karyanya saat ini dalam masa diakonat di Gereja Regina Caeli, Jakarta. Terima kasih Diakon Budi atas sharing refleksi panggilan ini. Semoga turut menjadi kekuatan bagi kaum muda untuk menetapkan langkah-langkah pasti dalam menanggapi panggilan Tuhan, yang selalu menyertai dan memimpin hingga akhir. Mari kita juga turut berdoa kepada Bapa agar Diakon Budi dapat menyelesaikan masa diakonatnya dalam penyertaan Tuhan hingga hari pentahbisannya nanti sebagai imam, dan kiranya hidupnya boleh terus memberikan kesaksian akan karya kasih Tuhan yang nyata di dalam dunia, seperti yang ia rindukan dalam perutusannya kelak sebagai seorang imam.

Aku ingin berkisah tentang perjalanan panggilanku. Sebelumnya, perkenankanlah aku memperkenalkan diriku. Namaku Yohanes Budiyanto. Asalku dari desa Watuagung, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Gunung Sugih, Lampung Tengah. Di desa itu, aku dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1979, dari pasangan: Agustinus Kasimin dan Anselma Marsinah, sebagai anak ke-enam dari sepuluh bersaudara. Masa kanak-kanak, sebagai anak desa, aku sudah diajari oleh orangtua untuk bekerja keras: menanam padi di sawah, menanam kakao di ladang, memberi makan babi-babi dan ikan-ikan. Selain diajari bekerja, aku juga diajari oleh orangtua untuk tekun berdoa. Orangtua selalu mengajakku menghadiri perayaan Ekaristi, doa lingkungan, dan kegiatan-kegiatan gerejani. Inilah benih iman yang ditaburkan oleh orangtuaku.

Bukan pengalaman luar biasa tetapi…

Keinginanku menjadi romo bukan melalui pengalaman luar biasa, seperti pengalaman Saulus (Kis 9 : 1-9), tetapi melalui pengalaman biasa. Dalam kisah ini, aku akan mengisahkan beberapa pengalaman biasa yang membuat aku ingin menjadi romo. Pada saat perarakan Misa kudus, aku melihat pakaian romo (kasula) yang berbeda dengan pakaian petugas liturgi lainnya. Bagiku pakaian romo itu menarik sekali. Dan bila dipakai menampakkan kemegahan dan keagungan yang luar biasa. Pengalaman biasa lainnya, selesai Misa kudus, romo langsung berdiri di pintu depan gereja. Ia menyapa, menyalami, dan memberkati umat sambil berkata: “Berkah Dalem”. Sebagai anak-anak kecil, tindakan romo ini mengesankanku, sehingga terlintas dalam pikiranku: “Aku mau menjadi saluran berkat bagi banyak orang”.

Pengalaman biasa lainnya, ketika aku mengikuti doa di lingkungan. Aku selalu mendengar anak seminari senantiasa disebut namanya dalam doa di lingkungan. Hal ini membuat aku juga ingin disebut namaku dalam doa di lingkungan. Agar namaku selalu disebut dalam doa, maka aku mesti masuk seminari. Dan ternyata benar, ketika aku akan mengikuti ujian saringan masuk seminari menegah, namaku disebut dalam doa, wah senangnya bukan main. Harapanku akhirnya terpenuhi.

Meniti panggilan di Palembang

Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama di Fransiskus Xaverius Kalirejo, Lampung Tengah, aku mulai meniti panggilanku di Seminari Menengah St. Paulus, Palembang, pada tahun 1996-2000. Di seminari ini pula, aku merefleksikan secara serius arah panggilan hidupku. Aku terus melakukan discernment dan bertanya: “Apakah Tuhan sungguh memanggilku? Ataukah aku yang memanggilkan diri?” Di dalam refleksiku, aku menemukan sebuah jawaban bahwa Tuhan sungguh memanggilku. Kesungguhan bahwa Tuhan yang memanggilku membuat aku semakin yakin bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai dan membimbing perjalanan panggilanku. Karena itu, aku tidak perlu takut, tidak perlu cemas dan khawatir akan perjalanan panggilan dan tujuan hidupku. Sebaliknya sikap yang mesti aku tumbuhkembangkan adalah sikap terbuka, pasrah, dan percaya kepada penyelenggaraan ilahi.

Terpikat karya pelayanan Pater Damian, SS.CC

Tahun 2000, aku menyelesaikan sekolah di Seminari Menengah St. Paulus Palembang. Aku melamar ke Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria (SS.CC) dan diterima sebagai postulant SSCC. Aku menjalani masa pendidikan sebagai postulant SSCC selama kurang lebih satu setengah tahun di kota Bandung. Pada masa tersebut, aku mempelajari dan mendalami banyak hal, di antaranya: hidup doa, hidup komunitas, sejarah kongregasi, live-in di pabrik selama sepuluh hari dan di panti asuhan selama satu bulan dan lain sebagainya. Semua yang aku pelajari tersebut memperkaya hidup dan menjadi bekal bagi perjalanan panggilanku.

Aku memilih Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria (SS.CC). Karena aku tertarik dengan karya pelayanan Pater Damian De Veuster, SS.CC, pahlawan orang kusta. Ia menjadi pahlawan orang kusta, bukan karena ia memerangi penyakit kusta, melainkan karena ia mengangkat martabat orang-orang kusta, orang-orang yang dianggap “sampah masyarakat” dan melayani mereka secara total sampai akhirnya iapun meninggal dunia sebagai seorang penderita kusta. Pengorbanannya ini, merupakan bukti dari kasihnya yang tulus kepada orang-orang kusta yang dilayaninya; sebab memang Pater Damian mengidentikkan dirinya dengan orang-orang kusta, katanya: “We are lepers”. Pater Damian bisa melakukan semua itu bukan karena kekuatannya semata, melainkan karena kekuatan Kristus yang tinggal di dalam dirinya. Semua itu dilakukan Pater Damian bukan demi popularitas dan kemuliaan dirinya, melainkan demi kemuliaan Allah. Inilah api yang menyulutkan dan mengobarkan semangat dalam diriku untuk meneruskan perjalanan panggilan ke tahap selanjutnya.

Tahun 2002-2003, aku menjalani masa novisiat di Manila selama satu tahun. Di novisiat, aku mendalami spiritualitas kongregasi dan kehidupan rohani yang menjadi dasar bangunan hidup religiusku. Tepatnya pada tanggal 10 Mei 2003, aku mengucapkan kaul pertama untuk tiga tahun. Dan setiap tiga tahun, aku harus memperbaharuinya. Setelah pengucapan kaul pertama, aku kembali ke Bandung.

Tahun-tahun untuk belajar…

Tahun 2003-2007, aku belajar di Universitas Parahyangan, Bandung. Di universitas ini, aku belajar filsafat dan teologi. Pembelajaran mata kuliah tersebut tidaklah menggoncangkan imanku dan tidak pula membuat aku menjadi ateis, sebaliknya pembelajaran itu semakin meneguhkan imanku kepada Kristus. Aku semakin mencintai Kristus dan menempatkan Kristus sebagai pusat dari hidup panggilanku.

Tahun 2007-2008, aku menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Damian, Batam. Di paroki tersebut, aku belajar mengenal situasi umat, belajar mengenal karya-karya parokial, dan belajar menjadi seorang gembala yang baik, sebagaimana Yesus, yang adalah gembala yang baik (lih. Yoh 10). Pengalaman selama TOP sungguh memperkaya dan meneguhkan perjalanan panggilanku. Hal ini aku yakini sebagai bekal bagi karya pelayanan yang kelak akan dipercayakan kepadaku.

Tahun 2008-2011, aku melanjutkan pembelajaranku di kota pelajar, Yogyakarta. Di Yogyakarta, aku harus menyelesaikan program BA dan program imamat. Di antara kedua program itu, pada tanggal 9 Agustus 2011, aku mengucapkan kaul kekal, yaitu: janji setia seumur hidup di Paroki St. Mikael, Bandung. Adapun isi janjiku itu: “Aku mau hidup dan mati dalam Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria”. Dengan mengucapkan janji tersebut, aku menjadi anggota resmi Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria. Dan beberapa bulan kemudian, pada tanggal 28 Januari 2012, aku ditahbiskan menjadi diakon oleh Bapak Uskup Yohanes Pujasumarta, Pr di Kapel St Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Rahmat tahbisan diakon yang baru saja aku terima semakin menyadarkan dan menegaskan identitasku bahwa aku ini hanyalah seorang pelayan. Pelayan yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani (Bdk. Mat 20 : 28). Spiritualitas pelayanan inilah yang ingin aku kembangkan dari hari ke hari.

Perutusan yang baru…

Pada hari setelah pentahbisan diakon, Pater provinsial mengumumkan secara resmi tugas perutusanku yang baru. Aku ditugaskan di Paroki Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Di Paroki inilah, aku menjalani masa diakonat, masa persiapan tahbisan imam. Pada masa diakonat ini, aku memberanikan diri masuk ke aneka pelayanan yang ada di paroki. Banyak rahmat yang kuperoleh dari pengalaman perjumpaan dengan umat Allah. Pengalaman tersebut meneguhkan panggilan dan pelayananku. Aku bersyukur boleh mengalami semua itu. Dan semua itu, aku yakini sebagai tanda kemurahan hati Allah. Kemurahan hati Allah inilah yang menggerakkan dan menjiwai aku untuk berbuat yang sama: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6 : 36). Karena itu, harapanku setelah aku ditahbiskan imam, aku ingin menjadi pelayan yang murah hati bagi seluruh umat Allah. Aku yakin dan percaya bahwa harapanku itu akan menjadi kenyataan, jika aku membuka diri kepada Tuhan. Sebab Tuhan pernah berjanji bahwa Ia menyertai senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28 : 20).

Secuil pengalaman di perutusan baru

Pengalaman mengesankan kualami ketika aku mengadakan kunjungan ke Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk bersama ibu-ibu Legio Maria Ratu Surgawi, Pantai Indah Kapuk. Ketika aku mengunjungi pasien dari satu bangsal ke bangsal lain, kebiasaan yang aku lakukan adalah menyapa mereka: “Apakah bisa tidur semalam? Apakah sudah makan pagi hari ini? Bagaimana kabar hari ini? Apakah mau menerima Komuni? Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu, aku melihat mereka merasa senang dan bahagia sekali. Dan kadang saking senangnya, mereka ada yang mau bercerita dan bersharing. Namun ada pula, yang hanya menjawab seperlunya saja.

Pengalamanku yang takkan pernah kulupakan adalah pengalaman mengunjungi seorang pasien anak yang baru berumur 9 tahun dan menderita kanker darah (leukemia). Ia menderita sakit kanker darah selama delapan bulan. Ia tampak menderita sekali. Kepalanya besar tanpa rambut, namun tubuh dan kakinya makin hari makin mengecil. Ia kelihatan kurus sekali, tinggal kulit pembalut tulang. Melihat dia pertama kali, aku merasa sedih dan kasihan. Aku bertanya dalam batin: “Apakah yang dapat aku perbuat untuk membantu anak ini? Aku bingung menjawab pertanyaanku sendiri. Di dalam kebingunganku, aku sadar bahwa aku tak memiliki materi untuknya, tetapi aku memiliki waktu untuk ada bersama dan berdoa bersama dia pula. Itulah yang aku miliki dan bisa aku berikan kepadanya.

Aku mendatangi dan menyapa dengan namanya: “Chelsi, bagaimana kabarnya?” Sembari tersenyum, ia menjawab: “Aku baik-baik aja”. Apakah bisa tidur? Ia mengatakan bahwa ia bisa tidur nyenyak semalam, sehingga pagi kelihatan segar. Setelah bercakap-cakap dengannya, aku bertanya kepada Chelsi: “Apakah Chelsi mau terima Komuni?” Ia langsung mengatakan: mau terima Komuni. Ia bahkan mengatakan: “Yesuslah yang menguatkanku dan mendampingiku selama ini”. Aku kaget sekaligus kagum dengan perkataan Chelsi itu, karena jawaban itu keluar dari mulut seorang anak kecil yang sesungguhnya sangat menderita. Chelsi, di tengah-tengah penderitaannya yang sangat karena mengalami penyakit yang terminal, bisa mengatakan bahwa Yesuslah kekuatannya. Ini sungguh luar biasa! Perkataannya ini mengungkapkan kepasrahan dan penyerahan dirinya secara total kepada Allah, Sang pemilik kehidupan. Pengalaman itu mengajakku untuk melihat kembali kepasrahan dan penyerahan diriku kepada Tuhan selama ini. Pengalaman ini pula yang mengobarkan semangat dalam diriku untuk terus berpasrah dan berserah kepada penyelenggaraan ilahi.

Harapan keluargaku….

Di bagian akhir dari kisah perjalanan panggilanku, aku ingin merumuskan beberapa harapan keluarga, setelah aku menerima rahmat tahbisan imam. Pertama, aku menjadi imam yang saleh, agar dapat menghantar dan membawa umat untuk semakin dekat, semakin terarah dan semakin mencintai Allah sang sumber kehidupan. Kedua, aku menjadi imam yang setia, yang peka terhadap kebutuhan umat, serta dekat dengan umatnya, sehingga umat dapat merasakan kehadiran Allah dalam diri imam-Nya. Ketiga, aku menjadi imam yang meneladan semangat hidup Sang Gembala yang baik di dalam setiap pelayanan: “Bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Keempat, aku menjadi yang murah hati dan rendah hati dalam pelayanan kepada umat Allah. Tuhan memberkati…Berkah Dalem

Allah yang telah memulai karya baik ini,
maka Allah pula yang akan menyelesaikannya…..

 

Oleh Diakon Budi, SS.CC
Jakarta

Epilog

Mengenal SSCC

Nama lengkap”Congregatio Sacrorum Cordium Jesu et Mariae, necnon Adorationis Perpetuae Sanctissimi Sacramenti Altaris “disingkat SS.CC, atau dalam bahasa Indonesia “Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria dan Sembah Sujud Kekal kepada Sakramen Maha Kudus” Pada masa awal dikenal dengan nama PICPUS yang merupakan nama jalan di kota Paris di mana biara pertama didirikan.

Sejarah berdirinya SSCC

Secara resmi kongregasi in berdiri tanggal 24 Desember 1800, bertepatan dengan saat di mana kedua pendiri, yakni Pater Pierre Coudrin dan Sr. Henriette Aymer mengucapkan kaul kekal di sebuah kapel kecil di rue des Hautes Treilles, kota Poitiers, Perancis.

Awal berdirinya Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Tersuci Maria ini bermula dari perkumpulan Hati Kudus Yesus dikepalai oleh Susana Geoffroy. Perkumpulan ini beranggotakan empat orang yang dibentuk pada tahun 1792. Sejumlah aturan harian dan program kerja di luar rumah pun ditetapkan antara lain berdoa di hadapan Tabernakel, mengajar agama bagi remaja yang terlantar, menolong orang sakit, membantu para imam atau rohaniwan lain yang dikejar-kejar, mempersiapkan orang yang menghadapi kematian dan sebagainya. Konteks umum yang dialami pada waktu itu adalah revolusi Prancis yang berdampak langsung bagi kehidupan iman umat dan Gereja. Dalam situasi yang demikian, seakan kehadiran perkumpulan Hati Kudus ini menjadi sangat penting dalam menghidupi iman umat dan Gereja.

Perkumpulan itu berganti nama menjadi Serikat Hati Yesus Yang Mahakudus. Anggotanya semakin bertambah sehingga kemudian terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu anggota ‘dalam’ dan ada pula anggota ‘luar’. Anggota kelompok ‘dalam’ hidup sebagai biarawati dalam sebuah komunitas dengan aturan tertentu namun tanpa kaul-kaul. Para anggota luar tetap tinggal bersama anggota keluarganya namun setia mengikuti aturan Serikat, yakni Sembah Sujud di depan Sakramen Mahakudus dan mengikuti kegiatan pendalaman iman lainnya. Dalam perkembangan lebih lanjut, ditetapkan enam orang imam yang disebut Dewan Imam, yang diserahi tugas untuk memelihara kehidupan rohani para anggota Serikat tersebut. Pater Coudrin termasuk dalam anggota Dewan Imam dan berpengaruh besar dalam perkembangan serikat tersebut di kemudian hari.

Pada sebuah kesempatan, ketika Pater Coudrin sedang memberikan kotbah di Gereja, ada seorang gadis bangsawan Perancis yang begitu tersentuh dengan kotbah Pater Coudrin. Lantas gadis yang bernama Henriette Aymer de la Chevalerie ini mendekati Pater Coudrin untuk bergabung dalam Serikat yang dipimpinnya itu. Henriette muda pernah dipenjara karena terbukti menyembunyikan seorang imam di rumahnya dari pengejaran tentara revolusi. Ternyata kehidupan di penjara telah mengubah hidup Henriette. Setelah bebas dari penjara, ia menarik diri dari keramaian dunia dan bergabung dengan Serikat di bawah bimbingan Pater Coudrin. Dalam suatu kesempatan Adorasi, Pater Coudrin mengalami suatu pengalaman rohani yang mendalam. Dalam pengalaman khusyuk tersebut, ia melihat sekelompok pemuda dan pemudi yang berjubah putih sedang berbaris. Di saat bersamaan ia bercita-cita untuk membuka komunitas baru dari Serikat yang dibimbingnya tersebut. Lantas tahun 1797, Pater Coudrin mendirikan komunitas baru. Sejumlah anggota ikut bergabung dalam komunitas baru tersebut dengan menamakan diri sebagai “Rubiah”. Pada tahun yang sama, kelompok Rubiah yang diasuh oleh Pater Coudrin dan Sr. Henriette memisahkan diri dari paguyuban (komunitas Serikat) terdahulu dan tinggal di Rue des Hautes Trelles, Poitiers. Nama rumah itu Grand Maison, yang selanjutnya menjadi tempat lahirnya Kongregasi SS.CC.

Pada saat-saat awal ini, Pater Coudrin juga mencari calon-calon pria yang cocok untuk menjadi anggota SS.CC. Pada mulanya ia mendapatkan dua calon muda, kemudian menyusul banyak calon lain. Demikianlah kongregasi baru ini mulai berjalan, sampai tiba 24 Desember 1800, Pater Pierre Coudrin dan Sr. Henriette Aymer Chevaleri mengikrarkan diri dalam Kaul Kekal di sebuah kapela kecil di Hautes Treilles, kota Poitiers, Perancis dan Uskup Poitiers merestuinya. Pater Coudrin kemudian memulai dengan komunitas para pater dan bruder SS.CC dan Sr Henriette memulai komunitas para suster SS.CC. Kongregasi SS.CC terwujud dalam tiga cabang yaitu, cabang putra (imam dan bruder SS.CC), cabang putri (suster SS.CC), dan cabang awam. Meskipun berada dalam tiga cabang tetapi tetap berlandaskan spiritualitas dan semangat hidup yang sama. Kongregasi SS.CC terus berkembang dan Paus Pius VII meresmikannya dalam bula “Pastor Aeternus” tertanggal 17 November 1817.

Spiritualitas dan karya

Spiritualitas yang mendasari hidup dan karya Kongregasi SS.CC secara ringkas dapat dirumuskan sebagai berikut: Cinta dan Bakti kepada Hati Yesus yang Maha Kudus dan Hati Maria yang tersuci. Maka yang menjadi bentuk pembawaan diri sebagai anggota adalah “Merenungkan, Menghayati dan Mewartakan kasih Allah kepada sesama sebagaimana nampak dalam Hati Yesus dan tersuci Maria”. Perutusan anggota adalah mencintai dan membaktikan seluruh hidupnya kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria dengan melayani sesama, manusia masa kini untuk membangun bersama suatu dunia yang bernafaskan kasih Allah.
Untuk mewujudkan spiritualitas ini, para anggota menjalankan hidup dan karya pelayanan yang diatur berdasarkan empat masa hidup Yesus, sebagai berikut:

1. Mengikuti Masa Kanak-kanak Yesus diwujudkan terutama dalam dunia pendidikan, yaitu mendidik anak-anak terlantar, membina para calon biarawan (imam) dan biarawati, membina kaum muda/pelajar dan sebagainya.
2. Mengikuti Masa Tersembunyi Yesus di Nasaret, setiap anggota selalu melakukan kontemplasi dan sembah sujud di hadapan Sakramen Maha Kudus. Panggilan setiap anggota adalah untuk selalu melakukan Adorasi Silih setiap hari.
3. Mengikuti Masa Karya Yesus di muka umum, para anggota menjalankan kerasulan aktif di mana saja mereka diutus.
4. Mengikuti Masa Sengsara Yesus, setiap anggota kongregasi untuk selalu menjalankan mati raga dan pengorbanan diri sukarela setiap hari. Ini terungkap dalam doa khusus harian “Hati Kudus Yesus dengan perantaraan Hati Tersuci Maria, kami mempersembahkan kepadaMu doa, karya, mati raga dan seluruh korban hari ini untuk memulihkan dosa kami dan untuk segala ujud yang untukNya Engkau mengurbankan DiriMu senantiasa atas altar kami”.

Saat ini Kongregasi SS.CC berkarya di 40 negara dan hadir di Indonesia sejak tahun 1924. Saat ini sedang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang (Batam dan Pangkalpinang), Keuskupan Bandung, dan Keuskupan Agung Jakarta. Kami berkarya di bidang pastoral parokial dan pastoral kategorial: pendidikan kaum muda, keluarga, pelayanan sosial, panggilan hidup membiara dan kaum pekerja (buruh). Untuk cabang imam, anggota SS.CC Indonesia sudah mengutus beberapa misionarisnya di beberapa negara, yaitu: Jepang, French-Polynesia, Hawaii, Singapura, Filipina dan Belgia.

Diakon Budi, SS.CC
Jakarta

Tuhan tidak ada karena banyak kejahatan?

4

Umumnya orang yang tidak percaya pada Tuhan berargumen, “Jika memang ada Tuhan yang Maha Baik, Maha Tahu, Maha Kuasa, maka tidak mungkin ada kejahatan dan penderitaan di dunia ini.”
Pertama-tama, sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu berhenti sejenak, sebab jika kejahatan dan penderitaan dianggap sebagai bukti bahwa Tuhan tidak ada, bagaimana jika kita melihat sebaliknya, bahwa di samping segala kejahatan, kita juga melihat banyak kebaikan, keindahan alam, keteraturan alam (pergantian musim pada waktunya, gravitasi yang konsisten, pergantian siang dan malam, ketersediaan O2, keteraturan, keindahan dan proporsi tubuh manusia, dst); bukankah ini malah membuktikan adanya ‘Tuhan’ yang mengatur segala sesuatunya ini? Sebab hal keteraturan dan keindahan alam itu sudah ada tanpa campur tangan manusia.

Memang, problem kejahatan dan penderitaan bukan hal yang mudah. Namun, kita tidak dapat dengan gegabah mengatakan bahwa dengan adanya kejahatan dan penderitaan maka artinya Tuhan tidak ada. Sebab:
1. Kesimpulan tersebut diambil tidak atas fakta yang menyeluruh, karena terdapat fakta yang jauh lebih besar dari alam di sekitar kita sendiri yang menyatakan keberadaan Tuhan sebagai Pencipta. Maka adanya penderitaan dan kejahatan tidak dapat dijadikan alasan yang meyakinkan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
2. Kenyataan bahwa ada orang yang tadinya tidak percaya kepada Tuhan namun bertobat menjadi percaya, membuktikan adanya kehendak bebas dalam diri manusia, sebab dalam prosesnya, tidak ada yang memaksa. Bayangkan juga bahwa kehendak bebas dapat pula digunakan untuk perbuatan yang jahat, dan inilah sesungguhnya yang mengakibatkan adanya kejahatan dan penderitaan di dunia.
3. Tidak semua penderitaan mengakibatkan hal yang buruk. Ada pula penderitaan yang bahkan menghasilkan karakter positif tertentu pada orang yang menderitanya, yang dapat menjadikannya hidup lebih baik dan bijaksana.
4. Melalui Kitab Suci umat beriman, kita mempunyai penjelasan, mengapa sampai terjadi penderitaan dan kejahatan di dunia ini. Hal ini akan menjadi semakin jelas nanti pada hari Penghakiman Terakhir.
5. Baik orang yang tidak percaya kepada Tuhan maupun orang beriman, keduanya menghadapi masalah penderitaan dan kejahatan di dunia ini. Bedanya adalah, orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tidak mempunyai penjelasan dan tidak mempunyai pengharapan dalam menghadapi problem ini. Sedangkan orang beriman mempunyai jawabannya yang kita temukan di dalam Yesus Kristus.

Beberapa butir pengajaran Gereja Katolik mengenai hal ini:
1.Dari Kitab Suci:

Penderitaan merupakan akibat dari kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) ke dalam dosa. Setelah mereka berdosa, Allah berfirman kepada Hawa, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak dan dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu…” (Kej 3: 16); dan kepada Adam, “…Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu…seumur hidupmu…” (Kej 3:18).

Penderitaan dan pencobaan tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dan Tuhan menjanjikan  bahwa mereka yang bertahan dan tahan uji, akan menerima penghargaan di kehidupan yang akan datang. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak 1:12).

Penderitaan dan kesengsaraan adalah jalan yang menghantar kita pada pengharapan dan dicurahkannya kasih Allah ke dalam hati kita. “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:3-5).

Penderitaan seharusnya menghantar kita lebih dekat kepada Kristus, karena dengan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, maka kitapun akan mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). “Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1Ptr 4: 12-13). Maka kita sebagai orang yang percaya, adalah “orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8: 17).

2. Dari Katekismus Gereja Katolik:

KGK 54Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui Sabda-Nya (lih. Yoh 1:3) serta melestarikannya dalam makhluk-makhluk, senantiasa memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada manusia (lih. Rm 1:19-20).
Di sini kita melihat bahwa segala sesuatu yang tak nampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya, keindahan-Nya, dst., dapat kita tangkap oleh pikiran kita melalui karya ciptaan Allah, sehingga manusia sesungguhnya tidak dapat berdalih (lihat Rm 1:20). Dengan menggunakan prinsip logika, bahwa “Sebab selalu lebih besar/sempurna dari akibat, dan seseorang tidak dapat memberi sesuatu yang dia tidak punya” maka kita mengetahui bahwa ada ‘Sesuatu’ atau tepatnya ‘Seseorang’ yang menjadi Sebab dari segala sesuatu, yang sifatnya lebih kuat daripada segala kekuatan alam, lebih pandai dan mengagumkan daripada manusia, dst; dan itulah yang kita sebut Tuhan. Karena tidak mungkin manusia diciptakan atau berasal dari sesuatu yang lebih rendah dari manusia, seperti pada teori evolusi Darwin. Lebih lanjut tentang jawaban kami tentang Teori Evolusi, silakan baca di sini (silakan klik).

KGK 412 Tetapi mengapa Allah tidak menghalangi manusia pertama berdosa? Santo Leo Agung menjawab: “Lebih bernilailah apa yang kita terima melalui rahmat Tuhan yang tidak terlukiskan, daripada kehilangan yang kita alami karena iri hati setan” (serm. 73, 4). Dan Santo Thomas Aquinas: “Juga sesudah dosa masih terdapat kemungkinan pengangkatan kodrat. Allah hanya membiarkan yang jahat itu terjadi, untuk menghasilkan darinya sesuatu yang lebih baik: ‘Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah’ (Rm 5:20). Karena itu waktu pemberkatan lilin Paskah dinyanyikan: ‘O kesalahan [Adam] yang membahagiakan… yang mendatangkan bagi kita seorang Penebus yang sekian besar”’ (Summa Theologiae III,1,3 ad 3).
Jadi di sini penderitaan diizinkan Tuhan terjadi di dunia ini untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar. Kejatuhan manusia pertama (Adam) dalam dosa membuka jalan untuk kedatangan Adam yang baru yaitu Kristus.

3. Dari Pengajaran Bapa Paus

Salvifici Doloris (Surat Apostolik Bapa Paus Yohanes Paulus II, tentang Arti Penderitaan Manusia menurut pandangan Kristiani), 7, “Manusia menderita karena adanya kejahatan/ keburukan, yang artinya kekurangan atau keterbatasan atau distorsi dari suatu kebaikan … Manusia menderita karena ia tidak mengalami sesuatu hal yang baik, sehingga dalam hal ini ia sepertinya tersingkirkan…. Ia menderita ketika ia seharusnya mengalami sesuatu yang baik menurut keadaan normal, tetapi kenyataannya ia tidak mengalami atau mengambil bagian dalam keadaan yang baik tersebut.  Jadi menurut pandangan Kristiani, kenyataan penderitaan dapat dijelaskan melalui keadaan keburukan, yang selalu, berkaitan dengan keadaan kebaikan.”
Jadi definisi kejahatan (evil)  adalah ‘privation of good‘, sehingga adanya ‘evil‘/ keburukan selalu ada kaitannya dengan ‘good‘/ kebaikan. Sesuatu disebut ‘jahat’/ buruk karena hal itu tidak ‘baik’.

Salvifici Doloris 12, “Maka di dalam penderitaan yang diizinkan Allah terjadi pada Umat Pilihan, di situ terkandung undangan tentang belas kasihan Tuhan, yang memimpin kepada pertobatan…’ hukuman-hukuman ini direncanakan untuk mengantar pada pertobatan. Penderitaan harus mendukung pertobatan, yaitu untuk membangun kembali kebaikan yang ada di dalam orang tersebut, yang dapat mengenali belas kasihan ilahi yang memimpin kepada penyesalan.”
Hal ini begitu nyata dalam kehidupan kita karena seringkali manusia bertobat setelah mengalami penderitaan, sakit penyakit, pengalaman yang kurang baik, dst.
Salvifici Doloris 13, “Kasih adalah adalah sumber yang terkaya tentang arti penderitaan, yang memang tetap merupakan suatu misteri… Kristus menyebabkan kita memasuki misteri ini untuk menemukan alasan mengapa kita menderita… saat kita menangkap keagungan kasih ilahi…. Kasih adalah sumber yang terlengkap akan jawaban arti penderitaan. Jawaban ini telah diberikan oleh Tuhan yang menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, yang disalibkan [demi kasih-Nya pada kita].”
Dengan mengalami penderitaan kita mempertanyakan arti hidup ini, dan kita hanya dapat menemukan artinya di dalam Kristus yang telah terlebih dahulu menderita, demi membebaskan kita dari kuasa dosa, agar kita dapat diselamatkan.
Salvifici Doloris 15, “Penderitaan tak dapat diceraikan dengan dosa asal… [Namun] dengan karya keselamatan-Nya, [Yesus] Putera Allah membebaskan manusia dari dosa dan kematian…. Sebagai hasil karya keselamatan Kristus, manusia yang hidup di dunia memiliki pengharapan akan hidup kekal dan kekudusan… Kemenangan Kristus [atas dosa dan maut] memberikan terang keselamatan kepada setiap penderitaan.”
Salvifici Doloris 18, “Kristus memberi jawaban terhadap pertanyaan tentang arti penderitaan tidak hanya dengan pengajaranNya, yaitu Injil, tetapi pertama-tama dengan penderitaan-Nya sendiri… Penderitaan manusia mencapai puncaknya pada penderitaan Yesus di kayu salib…. hal itu telah dikaitkan-Nya dengan kasih, [sebab] kebaikan utama dari Penyelamatan dunia diperoleh dari salib Kristus… Salib Kristus menjadi sumber air kehidupan.”
Di sini kita melihat bahwa keselamatan manusia diperoleh dari penderitaan Yesus.
Lihat Salvifici Doloris 20, 21, 24 Melihat bahwa manusia hidup tak lepas dari penderitaan, maka Alkitab mengajak manusia untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, agar kita memperoleh penghiburan yang melimpah di dalam-Nya. Partisipasi dalam penderitaan Kristus mempunyai 2 arti: Dengan penderitaan-Nya di salib, Kristus telah mengambil bagian dalam penderitaan manusia, namun manusia yang telah menemukan arti penderitaan Kristus akan menemukan arti penderitaannya sendiri. Penderitaannya memiliki arti yang baru, sebab siapa yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus,  menderita untuk Kerajaan Allah. Pada saat kita mempersatukan penderitaan kita dengan Kristus, maka kita “menggenapkan apa yang kurang di dalam penderitaan Kristus untuk TubuhNya, yaitu Gereja” (Kol 1:24).
Memang, ‘apa yang kurang’ dalam penderitaan Kristus adalah yang berhubungan dengan anggota Tubuh-Nya yaitu kita semua yang masih hidup di dunia ini. Maka penerapannya dalam hal ini adalah, saat mengalami penderitaan kita dapat berdoa memohon pengampunan atas dosa-dosa kita dan mendoakan untuk keselamatan orang lain. Karena pada saat itu Tuhan Yesus mengajak kita mengambil bagian dalam karya Keselamatan.  Ia yang mengetahui segala sesuatu dan menginginkan yang terbaik terjadi pada kita, mengizinkan penderitaan itu terjadi pada kita, karena Ia mengetahui bahwa Ia dapat memakai cara demikian untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, terutama secara rohani. Betapa kita semua harus jujur melihat, bahwa di banyak kesempatan, orang akan datang lebih dekat kepada Tuhan setelah mengalami penderitaan/ kesusahan. Melalui penderitaan kita diarahkan oleh Tuhan untuk mengatur prioritas hidup kita, mengubah jalan pikiran kita yang salah, bertobat dan akhirnya menggantungkan perngharapan kita kepada-Nya.
Kesimpulannya, Salvifici Doloris, 26, 27, 30 “Penderitaan adalah suatu pengalaman akan kejahatan/ keburukan. Tetapi Kristus telah mengubah penderitaan menjadi dasar yang kuat untuk memperoleh kebaikan yang pasti, yaitu keselamatan abadi. ” Penderitaan yang terjadi di dunia adalah sarana untuk menyalurkan kasih, untuk melahirkan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama manusia, yang dapat mengubah budaya manusia menjadi budaya kasih. Contoh yang diberikan adalah kisah Orang Samaria yang baik hati Luk 10: 25-36. Penderitaan sesamanya, mengakibatkan orang Samaria itu melakukan perbuatan kasih. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk mengikuti teladan ini, dengan berbuat kasih kepada sesama yang menderita.
Salvifici Doloris, 31, “Maka penderitaan sudah pasti adalah bagian dari misteri manusia. Misteri ini dijelaskan melalui misteri Kristus menjelma menjadi manusia.” Di dalam diri Yesus, kita melihat pernyataan kasih Allah yang tak terbatas, dan pernyataan bagaimana manusia harus hidup, dan memenuhi panggilan hidupnya, yaitu dengan memberikan diri kita kepada orang lain. Misteri Keselamatan berakar di dalam kenyataan penderitaan, dan penderitaan ini menemukan jawaban yang mengagumkan dalam misteri Keselamatan.

Akhirnya, harus kita akui bahwa makna penderitaan adalah suatu misteri, dan tak dapat sepenuhnya dijelaskan secara tuntas dengan akal, namun kita memperoleh pengertian secara lebih mendalam dalam terang iman di dalam Kristus Yesus. Dia yang telah mencapai kebangkitan dengan penderitaan, akan memampukan kita yang berlindung kepada-Nya, mencapai hal yang sama, bersama dan di dalam Dia. Maka bagi orang Katolik, penderitaan tidak pernah sia-sia, karena jika dilalui bersama Kristus dan di dalam iman kepada-Nya, akan menghantar kita kepada keselamatan kekal.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab