Home Blog Page 166

Tentang Kasus Konvalidasi Perkawinan

23

Pertanyaan:

Shalom..

soalan 1. seorang wanita bukan katolik yang telah pun berkahwin dan mempunyai anak..setelah beberapa tahun berkahwin maka wanita tersebut telah membuat keputusan untuk menjadi seorang katolik..setelah setahun belajar di kelas RCIA maka diapun dibaptis pada malam paska..suaminya kekal sebagai bukan katolik..

persoalan yang timbul ialah adakah wanita tersebut boleh menerima komuni seperti umat yang lain?..

Jawaban:

Shalom Adrain,

Sebenarnya prinsipnya sederhana: kalau seseorang menjadi Katolik, maka seharusnya perkawinannya-pun harus sah secara Katolik, sebab Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi martabat perkawinan. Silakan membaca di sini, tentang Makna Perkawinan menurut Gereja Katolik, silakan klik. Perkawinan merupakan persatuan laki-laki dan perempuan yang telah direncanakan Allah untuk turut memberikan kesaksian kepada dunia tentang kasih Tuhan yang total, setia, tak terceraikan dan terbuka terhadap kemungkinan kehidupan baru.

Salah satu makna Pembaptisan adalah pertobatan, artinya hidup meninggalkan kehidupan lama dengan segala dosanya dan untuk hidup baru di dalam Tuhan Yesus. Nah, sebagai seorang yang Katolik, ada beberapa prinsip ajaran iman yang harus diterapkannya di dalam perkawinan, dan ikatan perkawinannya itu sendiri perlu disahkan di hadapan Tuhan. Jika ini tidak dilakukan, maka tidak dapat dikatakan bahwa ia sungguh ‘hidup baru’ di dalam Kristus, artinya tidak sungguh hidup sesuai dengan makna Pembaptisannya. Lagipula adalah tantangan bagi seseorang yang sudah dibaptis, yang menikah dengan pasangannya yang tidak terbaptis/ tidak seiman, yaitu bagaimana ia dapat menjaga kekudusan di dalam perkawinan sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja Katolik? Untuk membaca tentang hal Kemurnian di dalam Perkawinan, klik di sini. Demikian pula, pihak yang Katolik tersebut perlu memikirkan juga caranya agar ia dapat memenuhi tugas dan tanggung jawabnya untuk melanjutkan warisan iman Kristiani kepada anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka, klik di sini.

Maka pada kasus wanita yang Anda ceritakan tersebut, seharusnya perkawinannya itu dibereskan agar dapat sah secara hukum kanonik Gereja Katolik. Sesungguhnya langkah pemberesan perkawinan (istilahnya, konvalidasi) ini bukan hanya formalitas, tetapi merupakan konsekuensi dari pernyataan iman dari wanita tersebut untuk sungguh-sungguh hidup sebagai seorang Katolik. Untuk itu, ia perlu menghubungi Romo paroki untuk mengadakan konvalidasi perkawinan, untuk mengurus hal-hal yang perlu dilakukan sebelumnya agar perkawinannya dapat memperoleh dispensasi dari pihak Ordinaris/Keuskupan dan dapat disahkan. Sebab pada prinsipnya, perkawinan campur beda agama mensyaratkan dispensasi tersebut agar dapat sah menurut hukum Gereja Katolik. (Hal dispensasi ini tidak diperlukan jika baik suami maupun istri yang tadinya non-Katolik tersebut dibaptis menjadi Katolik pada saat yang bersamaan, karena dengan sakramen Baptis, maka perkawinannya otomatis menjadi sakramen). Tetapi fakta bahwa sang suami dari wanita itu tidak/ belum Katolik, maka perkawinan mereka adalah perkawinan beda agama, dan dengan dengan demikian memerlukan dispensasi dari pihak otoritas Gereja Katolik. Di sini pihak yang non-Katolik harus mengetahui -dan dengan demikian menyetujui- bahwa pihak istri yang menjadi Katolik berjanji untuk berjuang sekuat tenaga agar tetap Katolik, dan sang istri tersebut mempunyai tanggung jawab untuk berusaha sekuat tenaga agar dapat membaptis anak-anak dan mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

Jika konvalidasi perkawinan sudah dilakukan, maka wanita tersebut boleh menerima Komuni Kudus seperti umat Katolik yang lain.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa di saat Kekeringan Rohani

6

Doa di saat Kekeringan Rohani
oleh St. Anselmus

O, Terang yang tertinggi dan tak terhampiri
O, Kebenaran yang penuh dan terberkati
Betapa jauhnya Engkau dari aku
meskipun aku sangat dekat kepada-Mu!
Betapa jauhnya Engkau dari pandanganku
meskipun aku hadir di hadapan-Mu!
Engkau ada di manapun dengan keseluruhan diri-Mu,
namun aku tidak melihat Engkau;
di dalam Engkau aku bergerak dan hidup,
namun aku tak dapat mendekati-Mu.
O Tuhan, biarlah aku mengenal Engkau
dan mengasihi Engkau sehingga aku dapat menemukan sukacita di dalam Engkau;
dan jika aku tidak dapat melakukannya dengan sempurna di kehidupan ini,
biarlah aku sedikitnya membuat sedikit kemajuan setiap hari,
sampai pada akhirnya saat pengetahuan, kasih, dan suka cita
datang kepadaku di dalam seluruh kepenuhannya.

Amin.

Doa untuk Mencari Tuhan Tanpa Henti

5

dari St. Agustinus dari Hippo

O Tuhan Allahku, aku percaya kepada-Mu,
Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus ….
Sejauh aku mampu, sejauh Engkau telah memberiku kemampuan,
Aku telah mencari Engkau.
Aku menjadi lelah dan bekerja keras.

Tuhanku dan Allahku, harapanku satu-satunya
bantulah aku percaya dan agar tak pernah berhenti mencari Engkau.
Buatlah agar aku selalu dan dengan sungguh-sungguh
mencari wajah-Mu.

Sebab Engkau membantu aku untuk menemukan Engkau
dan Engkau telah lebih dan lebih lagi memberikan kepadaku
harapan untuk menemukan Engkau.
Inilah aku di hadapan-Mu
dengan kekuatanku dan kelemahanku
Jagalah kekuatanku dan sembuhkanlah kelemahanku
Inilah aku di hadapan-Mu
dengan kelebihanku dan kekuranganku
Ketika Engkau telah membuka pintu bagiku
Sambutlah aku di pintu masuk;
Ketika Engkau telah menutup pintu bagiku;
bukalah demi teriakku minta tolong
Mampukanlah aku untuk mengingat Engkau,
untuk memahami Engkau,
dan untuk mengasihi Engkau.

Amin.

Mukjizat Penyembuhan orang lumpuh Mat 9:1-7

4

Pertanyaan:

Yth. Bp Stef

Beberapa hari yang lalu saya membaca perikop tentang penyembuhan yang Yesus lakukan kepada seorang lumpuh, yang diturunkan melalui atap. Penyembuhan semacam ini di jaman sekarang menjadi hal yang sulit dipahami, apalagi bagi orang yang baru mengenal Katolik, karena hal ini merupakan sebuah mukjizat. Nah, saya mohon penjelasan yang logis dari tim katolisitas mengenai perikop ini.
Terima kasih, Salam, Adi

Jawaban:

Shalom Adi Krisna,

Mukjizat Yesus menyembuhkan orang lumpuh merupakan salah satu mukjizat penyembuhan dari Kristus yang menunjukkan belas kasih Allah kepada orang yang lumpuh tersebut, dan juga Kristus menunjukkan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa, dan dengan demikian Ia menunjukkan dengan perbuatan-Nya itu bahwa Ia adalah Allah [sebab hanya Allah-lah yang dapat mengampuni dosa manusia].

Berikut ini adalah keterangan yang kami sarikan dari The Navarre Bible, St. Matthew, p. 93-94:

ay. 2-6. Orang yang sakit lumpuh itu dan mereka yang membawanya kepada Yesus untuk meminta Dia menyembuhkan sakit fisiknya, …. namun Kristus lebih menaruh perhatian kepada penyebab yang mendasari penyakit, yaitu dosa. St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa Kristus bertindak seperti dokter/tabib yang baik: Ia menyembuhkan penyebab penyakit tersebut (lih. Commentary on St. Matthew 9:1-6)

ay.2. Perikop paralel dari perikop ini adalah dari Injil Markus, menambahkan detail yang membantu kita memahami kejadian dengan lebih baik, dan menjelaskan mengapa teks  mengacu kepada ‘iman mereka’: di Mrk 2:2-5 dikatakan bahwa terdapat kerumunan orang yang begitu sesak di sekitar Yesus sehingga orang-orang yang membawa orang yang lumpuh itu tidak dapat mendekati Yesus. Maka mereka mendapat ide untuk naik ke atap dan membuka atap lalu menurunkan tilam orang yang lumpuh itu di hadapan Yesus. Ini menjelaskan ‘iman mereka’.

Tuhan kita melihat keberanian mereka, yang dihasilkan oleh iman yang hidup yang tidak takut akan rintangan. Ini adalah contoh yang baik bagaimana kita harus melakukan perbuatan kasih, dan juga contoh nyata bagaimana Yesus turut bersimpati kepada orang-orang yang mempunyai perhatian kasih kepada orang lain: Ia menyembuhkan orang lumpuh itu yang dibantu oleh teman-temannya dengan tulus; dan bahkan orang lumpuh itu menunjukkan dirinya berani menanggung resiko yang ada (yaitu resiko jatuh saat diturunkan dari atap).

St. Thomas menjelaskan ayat ini demikian, “Orang lumpuh ini melambangkan pendosa yang berbaring di dalam dosa”, seperti halnya orang lumpuh tidak dapat bergerak, maka pendosa itu tidak dapat menolong dirinya sendiri. Orang-orang yang membawa orang lumpuh itu mewaliki mereka yang, dengan memberikan nasihat yang baik, membawa orang berdosa tersebut kepada Tuhan (Commentary on St. Matthew, 9,2). Agar menjadi dekat dengan Yesus, keberanian yang kudus macam ini diperlukan, sebagaimana ditunjukkan oleh para orang kudus. Siapapun yang tidak bertindak demikian, tidak akan pernah mengambil keputusan-keputusan yang penting di dalam hidupnya sebagai seorang Kristen.

ay. 3-7 Manakah yang lebih mudah, menyembuhkan tubuhnya atau menyembuhkan jiwanya? Tentu menyembuhkan tubuhnya, sebab jiwa itu lebih tinggi dari tubuh dan karena itu, penyakit di jiwa menjadi lebih sulit untuk disembuhkan. Namun demikian, kesembuhan tubuh dapat dilihat sedangkan penyembuhan jiwa tidak. Yesus membuktikan penyembuhan yang tidak terlihat ini dengan melakukan penyembuhan yang kelihatan.

Orang-orang Yahudi berpikir bahwa penyakit apapun berhubungan dengan dosa pribadi (lih, Yoh 9:1-3); sehingga ketika mereka mengatakan Yesus berkata, “Dosamu diampuni”, mereka berpikir: hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa (lih. Luk 5:21), maka orang ini [Yesus] mengklaim kuasa yang hanya menjadi milik Allah- ini adalah penghujatan. Namun Tuhan kita menjelaskan, dengan menggunakan argumen mereka sendiri: dengan menyembuhkan orang lumpuh itu hanya dengan kata-kata, Yesus menunjukkan kepada mereka, bahwa karena Ia mempunyai kuasa untuk menyembuhkan akibat dosa (karena demikianlah pandangan mereka bahwa penyakit adalah akibat dosa), maka Ia juga mempunyai kuasa untuk menyembuhkan penyebab penyakit (yaitu dosa); karena itu Ia mempunyai kuasa ilahi.

Yesus Kristus meneruskan kuasa tersebut kepada para Rasul dan para penerus mereka di dalam pelayanan imamat, untuk mengampuni dosa: “Terimalah Roh Kudus. Kalau kamu mengampuni dosa orang, dosa mereka diampuni; kalau kamu menyatakan dosa mereka tetap ada, dosa mereka tetap ada” (Yoh 20:22-23). “Aku berkata kepadamu: apa yang kau ikat di dunia akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di surga” (Mat 18:18). Para imam melaksanakan kuasa ini di dalam sakramen Pengakuan Dosa: dengan melakukan hal ini para imam tidak melakukannya di dalam nama mereka sendiri, namun di dalam nama Kristus, in persona Christi, sebagai alat/ sarana Tuhan.

Karena itu, kita menghadap sakramen Pengakuan dosa dengan sikap hormat, sebab Kristus sendiri, Tuhan sendiri, hadir di dalam para imam-Nya. Kita menerima kata-kata absolusi, dengan meyakini bahwa itu adalah Kristus yang mengatakannya melalui para imam-Nya. Ini mengapa imam tidak berkata: “Kristus mengampuni kamu….” tetapi, “Aku mengampuni kamu dari dosa-dosamu …” imam berkata dengan sebutan orang pertama [‘aku’], dengan penuh ia mengidentifikasi dirinya dengan Yesus Kristus sendiri (lih. St. Pius V Catechism, II, 5, 10), [sebab Kristus telah memberi kuasa untuk mengampuni dosa ini kepadanya, sebagai penerus para rasul-Nya].

Selanjutnya tentang Mukjizat, klik di sini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Doa untuk Kemurnian Hati

1

oleh St. Thomas Aquinas

Tuhan Yesus yang terkasih,

aku menyadari bahwa setiap karunia yang sempurna,
dan di atas semua itu, karunia kemurnian, tergantung dari pertolongan yang sangat berkuasa dari Penyelenggaraan-Mu,
dan bahwa tanpa Engkau, seorang mahluk ciptaan tak akan dapat berbuat apapun.
Oleh karena itu, aku berdoa kepada-Mu, dengan rahmat-Mu,
agar dapat mempertahankan kemurnian dan kesucian jiwaku dan juga tubuhku.
Dan jika aku pernah menerima, melalui inderaku apapun kesan yang dapat menodai kemurnian dan kesucianku,
semoga Engkau, yang adalah Tuhan yang mengatasi semua kekuatanku, mengambil itu daripadaku,
sehingga aku dapat dengan hati yang tak bernoda bergegas memperhatikan kasih-Mu dan pelayanan-Mu,
mempersembahkan diriku dengan kemurnian sepanjang hari dalam hidupku di altar keilahian-Mu yang termurni.

Amin

Tahukah Yesus akan hari kiamat?

21

Pernyataan Yesus tentang akhir jaman dalam ayat Mrk 13: 32, memang mengundang bermacam interpretasi, namun sebaiknya kita berpegang pada apa yang menjadi pengertian Bapa Gereja, karena demikianlah yang dipegang oleh Gereja Katolik. Ayatnya berbunyi demikian, “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.”

Jika kita hanya membaca sepintas, atau mengambil arti harafiah pernyataan ini, maka kita dapat mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan arti yang semestinya.
Hal ini yang terjadi, setidaknya yang dimengerti oleh 2 kelompok ini:

1. Themistius dan para pengikutnya, di abad ke 6, mengartikan ayat tersebut bahwa Yesus benar-benar tidak tahu akan hal saat akhir jaman ini. Heresi ini dikenal dengan nama Agnoetae: Penyangkalan akan kemahatahuan Allah atau Kristus.

2. Para penganut Protestant Kenotic Christology (Kristologi Kenotik menurut Protestan) yang berpendapat bahwa melalui Inkarnasi maka Tuhan Yesus melepaskan kepenuhan sifat-sifat keilahian-Nya, sehingga Sang Sabda menjadi terbatas dalam hal omniscience, omnipresence dan omnipotence. Martin Luther mendasari pendapatnya ini dengan teks dari Flp 2:6-11. Teori ini dikembangkan secara ekstrim oleh teolog Protestan, Wolfgang Friedrich Gess (1819-91) yang menyatakan bahwa melalui Inkarnasi terjadi perubahan besar dalam Trinitas, karena Allah Bapa ‘berhenti’ menghasilkan Sabda, sehingga Roh Kudus hanya bersumber pada Allah Bapa, dan tidak melibatkan Kristus. Secara objektif dapat kita lihat bahwa teori ini dapat mengarah kepada penyangkalan akan kesamaan substantial antara Allah Bapa dan Yesus (Allah Putera), yang hampir sama dengan heresi Arianisme pada awal abad ke 4.

Gereja Katolik TIDAK mengartikan ayat tersebut seperti kedua pendapat di atas. Sebab Gereja Katolik berpegang pada apa yang tertera di banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa, sebagai Firman yang adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:1, 14), sebagai Pribadi kedua dari Trinitas (lihat kembali artikel ini (silakan klik) dan ini (silakan klik) tentang banyaknya bukti Alkitabiah tentang ke-Allahan Yesus dan kesetaran-Nya dengan Allah Bapa). Kesetaraan ini mencakup segala hal, termasuk dalam hal pengetahuan akan hari dan saat Penghakiman Terakhir.
Pengajaran Gereja Katolik tentang hal ini berdasarkan dari pengajaran Magisterium Gereja yang ditegaskan di dalam:

1. Konsili Nicea (325), yang menegaskan doktrin Ke-Allah-an Yesus: bahwa Kristus adalah Tuhan, “consubstantial”/ sehakekat dengan Allah Bapa. Konsili ini diadakan untuk menegakkan pengajaran Gereja yang pada waktu itu diserang oleh faham sesat Arianisme.

2. Konsili Chalcedon (451), yang membacakan “The Tome of Leo”, bunyinya, “Jadi di dalam keutuhan dan kesempurnaan Yesus sebagai manusia, Allah telah menjelma, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai Allah, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai manusia, ….. menaikkan derajat manusia, tanpa mengurangi derajat-Nya sebagai Allah: sebab dengan mengosongkan Diri-Nya, Ia yang tidak kelihatan membuat Diri-Nya menjadi kelihatan;Pencipta segala sesuatumenginginkan DiriNya menjadi mahluk yang mortal, bukan karena kegagalan kekuasaan-Nya, namun karena pernyataan belas kasihan-Nya. Oleh karena itu, Ia yang tetap Allah, mengambil rupa manusia, bahkan menjadi seorang hamba. Sebab, kedua sifat itu [ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya] tetap mempertahankan karakterkeduanya tanpa menghilangkan satu sama lain: dan ke-AllahanNya tidak menghapuskan karakter hamba, ke-hamba-anNya tidak mengurangi karakter ke-Allahan-Nya.”

Patriarkh Alexandria, bernama Eulogius, bersama dengan uskup-uskup Yerusalem, Stephanus dan Sophronius mengecam heresi Agnoetae (abad ke-6) tersebut. Eulogius mengirimkan surat kepada Paus Gregorius Agung  tentang hal ini, dan Paus menanggapinya dengan meneguhkan keputusan Eulogius. Paus menyatakan:
“Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahwa Ia tidak tahu harinya [akhir zaman], yang menyebabkan Ia tidak menyatakannya, bukan disebabkan oleh sebab Ia sendiri tidak tahu, tetapi karena Ia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali…. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita, sungguh mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia…. Sebab untuk maksud apa bahwa Ia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma, jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? … Juga tertulis bahwa, …. Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu, tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahwa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?” ((Denz 248; Ep Sicut aqua frigida to the Patriarch of Alexandria Eulogius. PL 77: 1096-1099.))

St. Maximus (580-662): Jika para nabi saja dapat mengetahui hal- hal di masa depan yang akan terjadi, betapa lebih lagi Kristus dapat mengetahui semua itu melalui kesatuan-Nya dengan Sang Sabda ((Lihat Quaestiones et dubia 66 (I, 67), PG 90: 840)).

Sedangkan untuk menanggapi Kristologi Kenotik menurut Protestant, Paus Pius XII dalam memperingati Konsili Chalcedon yang ke 1500, menulis surat ensiklik Sempiternus Rex pada tahun 1951, yang mengecam penyalah-artian ayat Filipi 2:7 pada mereka yang berpikir bahwa tidak ada keilahian di dalam Sabda yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Menurut Bapa Paus, ini adalah maksud yang keliru, seperti halnya heresi Docetism yang mengklaim sebaliknya. Selanjutnya Bapa Paus menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan di dalam The Tome of Leo, “Ia yang sungguh-sungguh Allah telah lahir, lengkap di dalam ke-Allahan-Nya, dan lengkap di dalam kemanusiaan-Nya.”

Demikian yang dapat kami tuliskan mengenai Mrk 13:32. Di atas semua ini kita perlu dengan rendah hati menerima, bahwa pihak Magisterium Gereja adalah yang paling dapat menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab dengan benar, dalam kesatuan dengan ayat-ayat yang lain di dalam Alkitab, dan Tradisi Suci Gereja.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab