Home Blog Page 168

Apakah Tuhan Terdiri dari Bagian-bagian?

31

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa Tuhan terdiri dari bagian-bagian yang kompleks seperti yang ada pada kita manusia dan bagian-bagian itu dapat dibeda-bedakan antara satu dan lainnya, dan itu bagiannya itu tidak sama dengan Tuhan.

Namun St.Thomas Aquinas, mengutip pengajaran St. Agustinus, mengatakan sebaliknya, yaitu Allah itu sederhana, sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian. Demikian katanya (selengkapnya, silakan klik  untuk membaca di link ini):

“St. Agustinus mengatakan bahwa : “Tuhan itu sungguh dan secara mutlak, sederhana” (De Trin. IV, 6,7)

Saya menjawab bahwa Kesederhanaan Tuhan yang mutlak dapat dilihat dari:

Pertama, …. Sebab tidak ada komposisi bagian-bagian yang kuantitatif pada Allah, sebab Ia bukan sebuah tubuh, tidak terdiri dari komposisi materia dan forma; kodrat-Nya tidak berbeda dengan hakekat-Nya; esensinya tidak berbeda dari keberadaan-Nya,…. juga tidak ada perbedaan pada-Nya sebagai subyek dan accident (atribut/ ciri-cirinya). Maka, jelaslah bahwa Tuhan bukan merupakan komposit [campuran dari beberapa hal], tetapi seluruhnya sederhana.

Kedua, sebab setiap komposit (campuran) ada di bawah pengaruh bagian-bagian yang menyusunnya, dan tergantung kepadanya; tetapi Tuhan adalah Yang Pertama dari segalanya [sehingga tidak tergantung dari apapun, lihat penjelasan ST I, q.2, a.3]

Ketiga, sebab setiap komposit (campuran) mempunyai sebab, karena komponen-komponennya dari diri mereka sendiri yang berbeda-beda tidak dapat bersatu tanpa sesuatu yang menyebabkan mereka dapat bersatu. Tetapi Tuhan tidak disebabkan oleh apapun, sebagaimana dijelaskan dalam ST I, q.2, a.3- sebab Ia adalah Sang Penyebab yang pertama.

Keempat, sebab di dalam komposit, terdapat apa yang potensial dapat terjadi dan hal yang secara aktual sudah terjadi; tetapi hal ini tidak dapat terjadi pada Tuhan….

Kelima, sebab tak ada suatu komposit-pun yang dapat dinyatakan sama dengan salah satu bagiannya. Dan ini nyata di dalam keseluruhan benda yang terdiri dari bagian-bagian yang berbeda-beda; sebab bagian dari seorang manusia bukan merupakan manusia, atau bagian dari kaki adalah bukan kaki itu sendiri. Tetapi di dalam keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang serupa, meskipun sesuatu yang dinyatakan oleh keseluruhan dapat dinyatakan oleh bagiannya (seperti bagian dari udara adalah udara, dan bagian dari air adalah air), namun demikian, hal-hal tertentu yang dinyatakan oleh keseluruhan tidak dapat dinyatakan oleh bagian-bagiannya. Contohnya, jika keseluruhan volume air adalah dua kubik, tak ada bagiannya yang dapat berjumlah dua kubik juga. Maka, di dalam setiap komposit terdapat sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Tetapi bahkan jika ini dapat dikatakan terhadap apa-pun yang mempunyai bentuk (forma) yaitu bahwa sesuatu mempunyai sesuatu yang bukan dirinya sendiri, sebagaimana di dalam obyek yang berwarna putih terdapat sesuatu yang tidak mempunyai hakekat warna putih; namun demikian, di dalam bentuk itu sendiri, tidak ada yang lain selain dirinya sendiri. Oleh karena itu, karena Tuhan adalah bentuk yang sempurna, atau lebih tepat disebut sebagai sosok yang sempurna, maka Ia tidak mungkin berupa komposit. St. Hilarius menyimpulkan demikian ketika ia mengatakan (De Trin. VII): “Tuhan, yang adalah Kekuatan, tidak terdiri dari hal-hal yang lemah; juga Ia, yang adalah Terang, tidak tersusun oleh hal-hal yang redup.”

….. “Bagi kita, benda-benda yang merupakan komposit (campuran) lebih baik daripada benda-benda yang sederhana, sebab kesempurnaan dari kebaikan [dari sesuatu benda] yang diciptakan tidak terdapat di dalam satu hal yang sederhana, tetapi di dalam banyak hal. Tetapi kesempurnaan kebaikan ilahi [yang tidak diciptakan] terdapat di dalam satu hal yang sederhana.”(St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I, q.3, a.7; lih. q.4,a.1, q.6,a,2).

Dengan demikian, berdasarkan pengajaran para Bapa Gereja, dikatakan bahwa Allah itu sederhana, dan tidak ada bagian-bagian di dalam Allah, namun semuanya adalah keseluruhan dalam tingkatan yang sempurna. Atas dasar ini Tuhan dapat dikatakan sebagai Kasih, Kebenaran, Kebijaksanaan, Sang Sabda, dst; tanpa mengartikan bahwa Kasih, Kebenaran, Kebijaksanaan, Sang Sabda itu adalah bagian-bagian yang ‘menyusun’ Tuhan.

Mrk 7:1-23: Tradisi Manusia

5

Dalam perikop Mrk 7:1-23; Tuhan Yesus menegur sikap orang- orang Yahudi, yang menyamakan ajaran tradisi manusia dengan ajaran Tuhan; dan dengan demikian malah tidak menangkap prinsip ajaran Tuhan dan mengkorupsi ajaran Tuhan tersebut dengan interpretasi-interpretasi mereka sendiri yang keliru. (Maka ‘tradisi’ yang dibicarakan di sini bukanlah Tradisi Suci para rasul, yang justru bersumber dari ajaran Kristus dan para rasul, melainkan tradisi manusia yang berasal dari ajaran adat istiadat nenek moyang bangsa Yahudi (tradisi rabinis) yang mengambil kebiasaan kuno pada zaman itu).

Demikianlah keterangan tentang perikop Mrk 7:1-13, menurut A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, ed.:

Perikop Mrk 7:1-23 (lih Mat 15:1-20) adalah tentang kontroversi dengan tradisi rabinis. Orang-orang Farisi (Mrk 3:6) dan Saduki (Mrk 3:22) telah merasa tidak nyaman karena ajaran Yesus dan mereka berpikir dapat ‘membalas’ Yesus dengan kesalahan para murid Kristus yang tidak mencuci tangan sebelum makan, yang mereka anggap menyalahi aturan pembasuhan ritual.

ay. 2 Kaum Farisi menganggap para murid itu sebagai ‘najis’/ secara ritual tidak bersih;

ay. 3-4 menjelaskan mengapa kaum Farisi menganggap para murid tersebut patut dipersalahkan karena tidak mencuci tangan sebelum makan. Orang-orang Farisi tidak hanya memperhatikan pelaksanaan peraturan tertulis tentang hukum Musa berkenaan dengan keadaan najis menurut hukum Musa, namun juga tradisi-tradisi nenek moyang, interpretasi-interpretasi dari hukum yang tertulis dan ketentuan-ketentuan lanjutan yang diturunkan oleh para rabbi zaman kuno. Mencuci tangan sebelum makan adalah salah satu dari tradisi rabbinis ini yang dianggap oleh kaum Farisi telah dilanggar oleh para murid Kristus.

ay. 5 Dengan mengatakan demikian, walaupun tidak menuduh Yesus melanggar tradisi tersebut, namun kaum Farisi dan Saduki, secara tidak langsung menuduh Yesus bertanggungjawab atas kesalahan para murid-Nya yang tidak mencuci tangan mereka sebelum makan.

ay. 6-8 Yesus malah menantang prinsip tradisi-tradisi ini dan mengecam ketidaktulusan dan kemunafikan kaum Farisi. Perkataan dalam kitab nabi Yesaya Yes 19:13, perkataan Nabi Yesaya yang mengecam ketidaktulusan orang-orang sejamannya di dalam menyembah Tuhan, menjadi relevan untuk dihubungkan dengan sikap kaum Farisi yang menentang Yesus ini. Dalam semangat mereka untuk mempertahankan tradisi-tradisi yang berasal dari pendangan- pandangan para guru/rabbi mereka di zaman dahulu, mereka malah mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lebih mendasar dari hukum Tuhan [sebagaimana dijabarkan di ayat-ayat sesudahnya dalam perikop Mrk 7 tersebut].

ay. 16-13. Kristus memberikan contoh yang nyata di mana pelaksanaan tradisi rabbinis melawan hukum Tuhan. Perintah keempat dari sepuluh perintah Allah adalah menghormati orang tua (ayah dan ibu), termasuk di sini adalah membantu mereka di saat mereka membutuhkan bantuan. Namun aturan rabbinis membuatnya menjadi mungkin bahwa sang anak mengabaikan kewajiban ini dengan alasan untuk memenuhi tuntutan tradisi adat istiadat tersebut dengan alasan memberikan persembahan korban. Memang memberikan korban adalah mempersembahkan kepada Allah, namun ini tidak untuk dipertentangkan dengan ketentuan lain di dalam kesepuluh perintah Allah. Artinya, alasan memberikan korban tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan perintah Tuhan yang lain yang bahkan sudah menjadi kewajiban/ keharusan bagi anak, yaitu untuk menghormati dan merawat orang tua. Adalah suatu yang keliru, jika mereka melakukan pelanggaran perintah ini yang sudah jelas tertulis dalam kesepuluh perintah Allah, namun kemudian mengkritik para murid Yesus yang tidak melakukan ketentuan mencuci tangan, yang merupakan peraturan manusia tentang pembasuhan.

ay. 14-23 Prinsip yang benar tentang apa yang najis. Yesus mengajarkan prinsip dasar tentang apa yang menajiskan seseorang, yaitu bukan karena sebab eksternal seperti makanan, tetapi karena segala yang timbul di hati manusia, yang membuat ia kotor/ najis secara moral (lih. ay.15, 20-23).

 

Tentang Pembantaian Kaum Huguenot di Abad ke-16

5

Hal pembunuhan massal kaum Huguenot (kaum Calvinis di Perancis) yang terjadi di Paris tanggal 24 Agustus 1572 (pada hari raya St. Bartolomeus) dan minggu-minggu berikutnya memang menjadi perdebatan dalam topik sejarah Gereja. Perdebatan itu menyangkut praduga bahwa pembunuhan massal itu sudah direncanakan sebelumnya oleh pihak Kerajaan Perancis, dan kedua, bahwa ada keterlibatan Tahta Suci Roma dalam hal ini [sebagaimana dituduhkan oleh sebagian umat Protestan]. Kunci untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, adalah mengetahui adanya hubungan antara gagalnya rencana pembunuhan Admiral Coligny, pemimpin kaum Calvinis, pada tanggal 22 Agustus -dan baru akhirnya terlaksana malam hari antara tanggal 23-24 Agustus- dengan kejadian pembunuhan massal kaum Huguenot. Selengkapnya tentang kisah ini, silakan klik di link ini.

Dewasa ini pandangan umum di Perancis adalah bahwa pihak Kerajaan terpaksa membunuh Coligny dan para pengikutnya, karena alasan untuk membela diri. Jumlah korban di Paris diperkirakan sekitar 2000 orang, sedangkan di propinsi-propinsi lainnya jumlah bervariasi antara 2000 sampai 100,000 orang. Namun di buku “Martyrologe des Huguenots” yang diterbitkan di tahun 1581, disebut bahwa korban berjumlah 15,138 orang, namun hanya 786 orang yang meninggal dunia.

Jika kita membaca kisah sejarah seputar peristiwa ini, memang terdapat banyak teori, tetapi sesungguhnya masuk akal jika disimpulkan demikian:

1) Keputusan Kerajaan Perancis tentang pembunuhan massal ini adalah bukan hasil konflik religius, bahkan sesungguhnya tidak dipicu oleh motif religius sama sekali. Kejadian itu adalah murni peristiwa politik yang menentang suatu fraksi yang mengganggu kerajaan.

2) Peristiwa pembunuhan massal itu sendiri tidak direncanakan; bahwa sampai tanggal 22 Agustus, Ratu Catherine hanya telah mempertimbangkan kemungkinan untuk menyingkirkan Coligny. Namun serangan terhadap Coligny diartikan oleh pihak Protestan sebagai pernyataan perang, dan karena ada ancaman balas dendam, maka Ratu Catherine memaksa puteranya Raja Charles IX yang dalam keadaan terombang-ambing, untuk memutuskan menyetujui rencana pembunuhan massal itu.

Maka dapat dilihat di sini bahwa kejadian itu tidak ada hubungannya dengan Tahta Suci. Paus tidak turut campur dalam rencana pembunuhan massal tersebut. Paus Pius V yang memperoleh laporan tentang adanya perang/ kekacauan di Perancis, menganggap bahwa Huguenot merupakan partai di Perancis yang memecah belah kerajaan Perancis justru dalam keadaan yang mensyaratkan kekuatan persatuan untuk mengalahkan serangan bangsa Turki. Maka yang diinginkan Paus adalah diakhirinya kekacauan masyarakat di Perancis, dan tercapainya keadaan politik dan religius. Namun demikian, Paus tidak menghendaki dihalalkannya segala cara untuk mencapai hal tersebut. Itulah sebabnya sejak lima tahun sebelum kejadian pembunuhan massal di hari raya St. Bartolomeus itu, Paus menentang cara yang tidak jujur dalam rencana Ratu Catherine untuk menyingkirkan Coligny.

Bukti lain ketidaktahuan pihak kepausan akan rencana pembunuhan massal tersebut adalah tulisan Salviati, kerabat Ratu Catherine yang menjabat sebagai nuncio/ perwakilan Paus di Paris pada saat itu. Walaupun Salviati adalah kerabat Ratu Catherine dan bahwa ia sungguh mengamati keadaan di negeri itu dari dekat, namun semua dokumen membuktikan, sebagaimana dikatakan oleh Soldan, ahli sejarah Protestan, bahwa kejadian di tanggal 24 Agustus terjadi tanpa pengaruh Paus (Roma). Bahkan kejadian pembunuhan massal sama sekali tidak diramalkan oleh Salviati. Ia menulis demikian kepada Paus tentang kejadian ini sehari setelah kejadian: “Saya tidak percaya bahwa begitu banyak orang akan mati kalau Admiral Coligny telah wafat ketika serdadu menembaknya …. Saya tidak percaya sepersepuluhpun dari apa yang sekarang saya lihat di hadapan mataku.”

Tanggal 2 September 1572, berita tentang kejadian di Perancis itu sampai kepada Paus Gregorius XIII di Roma. Paus menerima laporan dari Kardinal de Bourbon bahwa Admiral (Coligny) dan pengikutnya dibunuh, karena mereka merencanakan persekongkolan untuk membunuh Raja Perancis (Charles IX). Surat Raja Charles IX kepada Ratu Elizabeth di Inggris mengatakan tentang bahaya persekongkolan terselubung yang direncanakan atas dirinya, “Coligny dan pengikutnya sudah siap untuk memperlakukan kami dengan cara yang sama dengan cara yang telah kami lakukan terhadap mereka.” Itulah sebabnya diadakan doa dan prosesi ucapan syukur kepada Tuhan yang dirayakan setiap tanggal 24 Agustus di Perancis, bahwa akhirnya rencana persekongkolan untuk membunuh Raja berhasil terungkap, dan kaum pemberontak berhasil ditumpas. Mendengar hal itu, Paus mengutus Kardinal Orsini untuk menemui Raja Charles IX untuk memberi selamat bahwa ia terluput dari bencana tersebut. Namun kegembiraan Paus tak berlangsung lama, sebab beberapa waktu kemudian ia diberitahu tentang banyaknya kekejaman yang terjadi berkaitan dengan peristiwa pembunuhan massal di Perancis tersebut, dan Paus menjadi sangat marah. Di bulan Oktober 1572 saat Kardinal Lorraine ingin menghadapkan Maurevel, yang telah menembak Coligny, kepada Paus, Paus menolak untuk menerima dia, dengan mengatakan, “Ia sorang pembunuh.”

Kecaman Paus V tentang intrik-intrik melawan Coligny dan penolakan Paus Gregorius XIII untuk menemui Maurevel sang pembunuh, menunjukkan ketidakterlibatan kepausan dalam peristiwa yang mengenaskan tersebut. Yang diinginkan Paus adalah keadaan damai dan kesatuan religius, dan dalam keadaan apapun juga, tujuan akhir tidak menghalalkan segala cara. Mengenai ucapan selamat yang disampaikan Paus Gregorius XIII berkenaan dengan kejadian pembunuhan massal tersebut;  hanya dapat dipahami dengan benar dengan mengasumsikan bahwa pihak Tahta Suci, seperti halnya para pemimpin negara-negara Eropa lainnya dan juga banyak orang Perancis sendiri, percaya akan adanya persekongkolan kaum Huguenot yang ingin menumbangkan Kerajaan Perancis, dan bahwa kemudian hukuman yang setimpal telah selesai diberikan.

Agaknya dalam mempelajari sejarah kita harus mempunyai sikap yang lebih obyektif. Sebab kita sering mendengar tuduhan-tuduhan bahwa seolah Tahta Suci (Paus) berperan dalam pembunuhan umat Protestan, padahal fakta sejarah menuliskan keadaan yang sebaliknya, yaitu umat Katoliklah yang banyak dibunuh oleh kaum Protestan. Fr Alphonsus Maria Duran dalam bukunya, “Why Apologize for the Spanish Inquisition?” menulis:

Menurut Raphael Molisend, seorang sejarahwan Protestan, Raja Henry VIII membunuh 72,000 umat Katolik. Anak perempuannya Elizabeth I, dalam beberapa tahun saja, juga atas nama Kristianitas yang sudah direformasi, dan karena itu telah dimurnikan, menyebabkan jatuhnya lebih banyak korban, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad (331 tahun). Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun  1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” (Black Legends of the Church by Vittorio Messori, ch. 6, nr. 36)

Jadi nampaknya, sudah saatnya kita melihat fakta sejarah dengan lebih obyektif. Sebab dengan sikap terbuka dalam membaca sejarah, kita dapat melihat bahwa kelemahan faktor manusialah yang membuat adanya pertentangan sesama saudara pengikut Kristus di masa yang lalu, dan sungguh kelemahan ini ada di kedua belah pihak. Karena itu baiklah sikap yang diambil oleh Paus Yohanes Paulus II ketika di tahun 1980-1996 beliau atas nama Gereja Katolik meminta maaf atas adanya kesalahan yang diperbuat oleh putera puteri Gereja di masa yang lampau. Walaupun kalau kita melihat kepada faktanya, seharusnya selayaknya pula, mereka yang telah menganiaya putera- puteri Gereja Katolik juga meminta maaf atas perbuatannya. Namun tidaklah mungkin untuk mensyaratkan hal itu sekarang, sebab yang menganiaya Gereja Katolik saat itu juga sudah meninggal dunia, dan tidak ada pihak otoritas gereja Protestan yang dapat mewakili gerejanya untuk berbicara meminta maaf atas nama mereka itu. Jadi biarlah kita biarkan fakta sejarah berlalu untuk mengajar kita, agar jangan sampai terjadi lagi pertentangan seperti pada masa lalu; dan sudah saatnya sebagai sesama pengikut Kristus kita lebih mengusahakan persatuan dan bukannya saling menyalahkan. Mari kita mengikuti teladan Paus Yohanes Paulus II, yang tidak menunggu/ mensyaratkan orang yang bersalah kepada kita untuk meminta maaf terlebih dulu, baru kita meminta maaf, namun kita mau dengan kerendahan hati meminta maaf, mengakui kesalahan di pihak kita, demi tercapainya hubungan yang lebih baik dengan sesama.

“Inilah ibumu”

0

Saya termasuk orang yang takut terbang. Saya rasa cukup banyak juga orang yang mempunyai rasa takut yang sama dengan saya. Sudah menjadi kebiasaan saya, begitu masuk kabin, setelah menaruh bawaan di tempat yang tersedia, duduk di kursi pesawat, dan memasang sabuk pengaman, saya lalu segera tenggelam dalam keheningan batin, telapak tangan menggenggam rosario dengan erat, menutupinya dari pandangan pramugari yang lalu lalang di lorong kabin menyiapkan para penumpang untuk berangkat. Walaupun mata saya terbuka, melihat ke luar jendela, atau pura-pura menyimak pramugari di tengah lorong kabin yang sedang sibuk memperagakan petunjuk keselamatan (yang saya memang sudah hampir hafal), tapi hati saya tertuju kepada Bapa dan kepada Bunda Maria. Saya berdoa memohon perlindungan dan keselamatan selama penerbangan yang akan saya lalui. Saya berpikir, kalau sampai ada apa-apa, setidak-tidaknya saya dalam keadaan berdoa. Butir-butir rosario yang mengalir di antara jemari membantu doa saya tetap fokus di antara kesibukan dan keramaian di sekitar saya. Dan sepanjang penerbangan, bersama doa Bunda Maria yang saya kasihi, rasa takut saya menjadi sangat terkendali dan terkuasai dengan baik. Begitulah, bisa dibilang, perasaan saya di atas pesawat yang sedang terbang di udara dan perasaan pada saat terbaring tanpa daya di atas brankar yang sedang didorong ke meja operasi adalah perasaan yang hampir mirip, yaitu perasaan pasrah penuh kepada pemeliharaan kasih Bapa. Pada saat-saat  semacam itu, saya diajak menyadari kembali bahwa manusia yang sering merasa dirinya serba hebat ternyata sebetulnya tidak mempunyai kuasa atas hidupnya sendiri.

Sebagai orang dewasa, tentu saya tidak bisa lagi berlindung di balik punggung ibu saya jika ketakutan dan kekhawatiran melanda, seperti layaknya seorang anak kecil yang mendapat ketenangan dan kekuatan dengan berlindung di balik badan sang ibu ketika dirinya merasa tidak nyaman. Namun di dalam medan kehidupan, masih ada banyak ketakutan dan kekhawatiran yang seringkali muncul dan sukar dibendung. Ketakutan akan masa depan, kekhawatiran akan sakit penyakit, kesedihan karena berbagai kesukaran hidup, kepahitan karena perbuatan sesama yang menyakitkan, dan masih banyak lagi. Pada saat-saat yang genting dalam hidup, cobaan yang dirasakan berat kadang membuat manusia bertanya di manakah Tuhan. Ada gelitik tanya yang menggoda sanubari,  seolah-olah Tuhan menutup telingaNya terhadap jeritan permohonan manusia dan meninggalkan kita sendirian. Tetapi salah satu benda yang membuat saya kembali sadar bahwa Tuhan begitu mencintai saya dan tidak akan pernah meninggalkan saya adalah rosario saya, dan kenangan saya kepada Bunda Maria, kepada siapa Tuhan Yesus berkata dari atas kayu salib, “Inilah anakmu” dan kepada Yohanes, “Inilah Ibumu”. Dan saat itulah saya menemukan ibu Tuhan saya yaitu Bunda Maria, menjadi kekuatan dan perlindungan saya dalam keadaan sedih, genting, kesepian, dan ketakutan.

Semua yang Yesus katakan selama hidup-Nya di dunia mempunyai makna mendalam bagi kehidupan dan keselamatan umat manusia. Dan salah satu kata-kata terakhirNya di atas palang kesengsaraan yang tiada taranya itu sebelum Dia meninggal dunia adalah bukti otentik bahwa penyertaanNya kepada manusia, tidak akan pernah berhenti. Penyertaan yang dirancangNya bagi manusia yang dipercayakanNya kepada ibu-Nya adalah sungguh mengagumkan, karena figur ibu adalah figur pertama yang dikenal oleh manusia dalam hidupnya, figur yang melindungi, figur yang akan berbuat apa saja bagi keselamatan anak-anaknya.  Bagi Yesus, menyerahkan ibuNya tentu merupakan suatu bentuk kasih yang amat dalam. Ia ingin agar kasih sayang seorang ibu yang sudah dialamiNya sendiri dari Bunda Maria sepanjang hidup-Nya sebagai manusia, juga dapat kita alami dan rasakan sepenuhnya, terutama di saat-saat paling genting dalam kehidupan manusia, sampai maut menjemput. Maka, doa Salam Maria di bagian akhir berbunyi, “…doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”. Manusia lahir melalui seorang ibu, dan di dalam Yesus melalui bunda-Nya, saat manusia mati, ia berada dalam penjagaan doa ibu-Nya sendiri, yaitu Ibu Maria. Betapa dalamnya cinta Tuhan Yesus kepada manusia !

Seberapa dalamnya kita menghayati sepotong kalimat lirih yang Tuhan Yesus bisikkan di atas palang penderitaan itu, sebelum nafas terakhir-Nya? Kata-kataNya yang lembut penuh kedalaman cinta yang tak terbatas itu berbunyi, “Inilah ibumu”. Untuk selama-lamanya, kata-kata Yesus itu menjadi  bukti hidup dan otentik bahwa Tuhan selalu memikirkan kita, selalu ingin hadir bagi kita, dan selalu ingin melindungi kita terutama di saat-saat genting dan sulit dalam hidup, saat-saat yang penuh ketidakpastian, saat manusia merasa Tuhan seperti tidak ada, saking gelapnya jalan yang sedang dilalui. Tetapi Tuhan selalu ingin kita sadar dan mengerti bahwa Ia selalu ada, dan menyertai kita dengan kasih yang tak terpahami.  Di dalam perlindungan kasih dan doa seorang ibu, yaitu Ibu-Nya sendiri, yang mengandungNya selama sembilan bulan di dalam rahimnya, dan yang mengandung sabda dan kehendak Bapa dengan penuh ketaatan selama seumur hidupnya, Yesus ingin kita senantiasa merasakan ketenangan, kekuatan, dan ketegaran. Yesus ingin kita selalu merasa dicintai, dan jangan pernah takut lagi. “Inilah ibumu”, bisikNya dengan lembut, dan sejak saat itu, saya tahu bahwa sesungguhnya saya tidak perlu takut apa-apa lagi. (Triastuti).

Tentang Malaikat Pelindung dan Eksorsisme

136

1. Tentang Malaikat Pelindung

Di dalam Alkitab PL kita mengetahui bahwa para malaikat diutus Allah untuk menjaga umat-Nya, seperti contohnya dalam kisah Lot (lih. Kej 28-29); bangsa Israel (lih. Kel 12-13); Nabi Musa (Kel 32:34). Dalam kitab Mazmur 91:11, “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.”

Dalam PB, Yesus mengajarkan, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat 18:11) Maka kita mengetahui bahwa Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk menjaga manusia, bahkan anak-anak kecil. Malaikat ini yang tak terbatas oleh tubuh, menjaga manusia, namun pada saat yang sama mereka memandang Allah.

Hidup Yesus sendiri tak terlepas dari para malaikat-Nya, di saat kelahiran-Nya, saat Ia berpuasa di padang gurun, dan saat ia berdoa di Taman Getsemani. Para rasulpun mengalami perlindungan para malaikat, contohnya saat Rasul Petrus dibebaskan dari penjara (lih. Kis 12:1-19). Maka Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr 1:14) Dan ‘roh-roh yang melayani’ ini adalah para malaikat.

Maka Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 336     Sejak masa anak-anak (Bdk. Mat 18:10) sampai pada kematiannya (Bdk. Luk 16:22) malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan (Bdk. Mzm 34:8; 91:10-13) dan doa permohonan (Bdk. Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob 12:12). “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Basilius, Eun. 3, 1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah.

KGK 352     Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia.

Dalam buku Fundamentals of Catholic Dogma, oleh Dr. Ludwig Ott (p. 120), dikatakan tentang peran para malaikat yang baik, yaitu: 1) Tugas utama para malaikat yang baik ini adalah memuliakan dan melayani Tuhan; 2) Tugas sekunder dari para malaikat yang baik adalah melindungi manusia dan memperhatikan keselamatannya; 3) Setiap umat beriman mempunyai malaikat pelindung yang khusus sejak Baptisan.

Maka besarlah peran para Malaikat Pelindung bagi keselamatan manusia. Namun demikian, Gereja tidak pernah mengeluarkan pengajaran definitif tentang adanya Malaikat Pelindung yang khusus mendampingi setiap jiwa manusia, dengan nama-nama tertentu, apalagi mengharuskan kita untuk berkomunikasi dengan Malaikat Pelindung kita. Kecenderungan untuk ‘berkomunikasi’ dengan malaikat pelindung ini malah harus diwaspadai, agar tidak malah menjadi semacam tahayul.

Bahwa Malaikat Pelindung itu ada, ini memang diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti St. Basilius yang dikutip di KGK dan juga St. Jerome, yang mengajarkan, “Betapa besarnya martabat jiwa manusia, sebab setiap jiwa dari kelahirannya mempunyai satu Malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya.” ((Commentary on Matthew xviii, lib.II)) Maka, memang dalam tradisi Gereja memang terdapat doa mohon perlindungan dari Malaikat pelindung karena mereka selalu ada dalam hadirat Allah, dan intinya memohon agar mereka melindungi kita. Tetapi yang mengabulkan doa itu hanya Allah saja, karena memang Allah sudah menugaskan malaikat itu untuk menjaga kita, dan peran malaikat pelindung itu hanya mungkin karena kuasa Allah:

Angel of God, My Guardian Dear
to whom God’s love commits me here.
Ever this day be at my side
to light and guard and rule and guide. Amen

Malaikat Tuhan, Pelindungku yang terkasih,
yang olehnya Kasih Tuhan bekerja padaku di sini
Selalu pada hari ini, tetaplah di sisiku
untuk menerangi, dan menjaga, dan memimpin dan membimbing. Amin

Jadi saya rasa, cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk menjaga kita. Selanjutnya di dalam doa kita, komunikasi yang kita lakukan adalah antara kita dengan Tuhan. Maka prinsipnya adalah, sama seperti kita boleh memohon agar para orang kudus mendoakan kita, kitapun boleh (bukan harus) memohon kepada malaikat pelindung untuk mendoakan kita; namun tidak lebih dari itu.

2. Tentang Eksorsisme (pengusiran setan)

Menurut New Advent Encyclopedia, pengertian eksorsisme adalah: 1) tindakan pengusiran setan-setan atau roh-roh jahat dari orang-orang, tempat, atau benda-benda, yang diyakini kerasukan setan atau menjadi korban atau alat-alat tipu muslihat mereka; 2) sebagai cara-cara yang dilakukan untuk maksud ini, terutama pengusiran setan secara resmi (solemn and authoritative) di dalam nama Tuhan.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang eksorsisme sebagai berikut:

KGK 1673    Kalau Gereja secara resmi dan otoritatif berdoa atas nama Yesus Kristus, supaya seorang atau satu benda dilindungi terhadap kekuatan musuh yang jahat dan dibebaskan dari kekuasaannya, orang lalu berbicara tentang eksorsisme. Yesus telah melakukan doa-doa semacam itu (Bdk. Mrk 1:25-26); Gereja menerima dari Dia kekuasaan dan tugas untuk melaksanakan eksorsisme (Bdk. Mrk 3:15; 6:7.13; 16:17). Dalam bentuk sederhana eksorsisme dilakukan dalam upacara Pembaptisan. Eksorsisme resmi atau yang dinamakan eksorsisme besar hanya dapat dilakukan oleh seorang imam dan hanya dengan persetujuan Uskup. Imam itu harus melakukannya dengan bijaksana dan harus memegang teguh peraturan-peraturan yang disusun Gereja. Eksorsisme itu digunakan untuk mengusir setan atau untuk membebaskan dari pengaruh setan, berkat otoritas rohani yang Yesus percayakan kepada Gereja-Nya. Lain sekali dengan penyakit-penyakit, terutama yang bersifat psikis; untuk menangani hal semacam itu adalah bidang kesehatan. Maka penting bahwa sebelum seorang melakukan eksorsisme, ia harus mendapat kepastian bagi dirinya bahwa yang dipersoalkan di sini adalah sungguh kehadiran musuh yang jahat, dan bukan suatu penyakit. (Bdk. CIC, can. 1172).

Kita mengetahui adanya dua macam eksorsisme, yaitu:
1) eksorsisme sederhana yang dilakukan terhadap katekumen oleh imam yang membaptis,
2) eksorsisme yang resmi/ besar (pada kasus orang-orang yang kesurupan/ terkena pengaruh roh jahat). Bentuk eksorsisme ini hanya dapat dilakukan oleh imam yang ditunjuk secara khusus oleh Uskup. Ia haruslah seorang yang kudus, dalam artian berakar kuat dalam doa, Sabda Allah, sakramen, puasa, matiraga, dan rendah hati dengan mengandalkan kekuatan Tuhan saja. Sebelum melakukan ritus eksorsisme, imam itu sendiri haruslah mengaku dosa di Sakramen Tobat, atau setidak-tidaknya mengucapkan doa “act of contrition” dan sedapat mungkin mempersembahkan Misa, dan memohon pertolongan Tuhan dengan doa-doa yang khusuk.
Selanjutnya doa ritus eksorsisme yang hanya dapat diucapkan oleh imam dengan kuasa Gereja, yang ditujukan pada orang yang positif dinyatakan kerasukan setan, dapat dilihat di link ini, silakan klik, atau ritus khusus yang memang masih dalam bahasa Latin, De exorcismus et supplicationibus quibusdam, yang disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1998. Gereja memang menyarankan agar kita berhati-hati untuk menyatakan bahwa seseorang benar-benar kerasukan, sebab di banyak kasus, orang yang kelihatan ‘terganggu’ bukan disebabkan oleh kerasukan setan tetapi oleh hal-hal lain, seperti gangguan kejiwaan, penyakit, atau tekanan emosional, dst. Untuk ini memang diperlukan ‘discerment’ dari pihak mereka yang melayani di lapangan.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa eksorsisme besar tersebut yang berkaitan dengan kasus-kasus yang ekstrim dan berat, hanya dapat dilakukan oleh seorang imam, yang diberi kuasa oleh Uskup. Namun untuk kasus-kasus yang tidak ekstrim, umat yang bersangkutan ataupun awam yang lain dapat mendoakan doa pelepasan dari kuasa kegelapan, silakan klik di sini. Maksud Gereja membatasi pelaku eksorsisme besar tersebut juga adalah untuk kepentingan umat agar kuasa jahat tersebut tidak malah ‘memasuki’/ mengganggu orang yang mengusirnya. Kita ketahui bahwa Yesus sendiri juga tidak dengan sembarangan mengirim semua orang untuk mengusir setan (yang diberi kuasa adalah para murid-Nya); inipun harus dipersiapkan secara khusus, sebab dapat saja kasusnya cukup berat, yang hanya dapat diatasi dengan doa puasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, dapat saja kita mengetahui adanya tempat-tempat, benda-benda atau orang-orang tertentu yang terkena pengaruh kuasa jahat dalam batas-batas yang dizinkan Tuhan. Untuk mengatasi hal ini maka para beriman dapat berdoa kepada Tuhan agar Ia sendiri berbelas kasihan kepada kita dan mengusir pengaruh jahat tersebut, atau jika memang kasusnya berat, silakan menghubungi pihak keuskupan untuk memohon bantuan dari imam yang khusus ditugaskan untuk itu.

Jadi pada prinsipnya, dalam doa mengusir kuasa jahat ini, yang boleh kita lakukan sebagai umat Katolik bukan dalam artian berkomunikasi/ menghardik iblis secara langsung, namun berupa doa permohonan kepada Tuhan dan doa syafaat dari para Orang Kudus dan para malaikat Tuhan untuk membantu kita mengusir setan, dan memohon kepada Yesus untuk mengusir kuasa jahat itu bagi kita. (Sedangkan untuk benda lebih baik dibakar/ dimusnahkan saja, sebagai tanda tiadanya keterikatan lagi dengan benda itu). Prinsip-prinsip ini diberikan, justru untuk kepentingan kita sendiri, berdasarkan akan iman dan kuasa Yesus yang masih tetap nyata bekerja pada saat ini, juga di dalam Para Kudus-Nya. Mereka (para kudus) di surga adalah mereka yang sudah jelas berhasil mengalahkan kuasa setan dalam hidup mereka, sedangkan kita di dunia ini masih dalam proses perjuangan mengalahkan kuasa jahat, karena kita masih bisa jatuh di dalam dosa. Maka memohon doa kepada Yesus untuk mengusir kuasa jahat, dan memohon agar para kudus mendoakan kita adalah bentuk kerendahan hati, suatu sifat yang paling tidak disukai oleh Iblis. Dengan kerendahan hati kita menolak dosa utama Iblis, yaitu kesombongan. Dengan berlindung kepada Yesus dan persekutuan para Orang Kudus-Nya, kita memperoleh bantuan dari seluruh bala tentara surgawi untuk menolak kuasa jahat apapun dalam hidup ini.

Maka, tak mengherankan, salah satu doa yang paling berkuasa untuk mengusir kuasa roh jahat adalah doa Rosario, karena Bunda Maria yang telah berhasil mengalahkan kuasa jahat dengan kekudusan, kerendahan hati dan ketaatannya kepada Tuhan sepanjang hidupnya. Jika diucapkan dengan disposisi hati yang benar, doa ini, beserta dengan doa litani para kudus, akan sangat besar kuasanya. Di samping doa, tentu yang sangat besar kuasanya untuk menolak kuasa jahat adalah sakramen Tobat dan Ekaristi.

Apa yang Menghimpit Gereja di Eropa?

16

Paus Yohanes Paulus II juga mempunyai keprihatinan yang sama dengan keprihatinan Anda. Dalam surat Ekshortasi Apostoliknya yang berjudul Ecclesia in Europe (Gereja di Eropa) ia menuliskan juga menurunnya kehidupan rohani jemaat di Eropa (dan juga di negar-negara barat lainnya). Silakan klik di link ini untuk membaca ringkasannya. Banyak orang hidup dalam kebingungan, tidak pasti dan tidak berpengharapan, walaupun secara jasmani tampak tidak berkekurangan. Walaupun di zaman dahulu benua Eropa dikenal dengan simbol-simbol kehadiran agama Kristen, kini simbol-simbol tersebut terancam hilang dan menjadi bekas jejak di masa lalu.

Sebabnya menurut Paus adalah adanya kemajuan sekularisme yang terus menekan dan mengancam kehidupan iman Kristiani. Sekularisme adalah suatu pandangan yang menekankan perkembangan fisik, moral, intelektual manusia sebagai titik tertinggi, terlepas dari pertimbangan religius. Dengan adanya kemajuan sekularisme ini, banyak orang mengalami kesulitan untuk menerapkan nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dipisahkannya nilai-nilai iman dengan kehidupan sehari- hari, maka orang mengusahakan kemajuan visi manusia terpisah dari visi Tuhan. Pandangan sekularisme menempatkan manusia di pusat realitas kehidupan, menggantikan tempat Tuhan. Manusia mulai beranggapan bahwa kebenaran-pun ditentukan oleh manusia, dan bukan oleh Tuhan. Di sini timbul ide relativisme, segalanya relatif sebab tergantung dari pandangan manusia, yang bisa berbeda antara satu orang dan lainnya. Manusia mulai lupa bahwa bukan manusia yang menciptakan Tuhan, tapi sebaliknya Tuhanlah yang menciptakan manusia. Budaya Eropa yang mengagungkan manusia sebagai pusat dunia, terpisah dari Tuhan, membuat mereka hidup seolah- olah Tuhan tidak ada. Inilah yang disebut sebagai ‘silent apostasy’/ (kesesatan total secara diam-diam).

Terhadap sikap ini Paus Yohanes Paulus II berseru, mengutip kitab Wahyu, “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati… (Why 3:2). Gereja di Eropa diserukan untuk bangkit dan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Tuhan melalui Roh Kudus-Nya selalu hadir dan tetap berkarya di tengah sejarah manusia, dan Tuhan membuat Gereja-Nya sebagai aliran kehidupan yang terus mengalir menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.

Cara-cara yang perlu dilakukan, menurut Paus adalah:

1) Re-evangelisasi (penginjilan kembali) di Eropa, bahkan kepada mereka yang sudah dibaptis, sebab dewasa ini banyak orang beranggapan bahwa mereka telah mengenal iman Kristiani, tetapi kenyataannya mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa. Seringnya mereka bahkan kurang/ tidak tahu elemen yang paling mendasar di dalam iman. Mereka melakukan devosi tapi tidak mengerti dasarnya. Dasar yang tidak kuat ini membuat orang semakin mudah terpengaruh oleh agnosticisme dan atheisme (tidak mengakui agama dan tidak mengakui Tuhan). Maka orang- orang Kristen dipanggil agar kembali menghayati imannya, iman yang secara kritis dapat menjawab tantangan zaman dan menolak segala godaan, yang memberikan pengaruh kepada keadaan dunia -dalam hal budaya, sosial, politik, dst- yang mempraktekkan bahwa persaudaraan antara kaum Katolik dan Kristen non-Katolik adalah lebih kuat daripada ikatan etnis; agar dapat mewariskan iman Kristiani kepada generasi berikutnya. Ini adalah tantangan Gereja di zaman akhir ini, sebab Kristus berkata, “Ketika Anak manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8)

2) Sakramen Tobat harus dihidupkan kembali di Eropa, untuk menumbuhkan kembali hati nurani yang jernih. Sebab jalan seseorang untuk kembali kepada Tuhan adalah melalui pertobatan; dan agar seseorang dapat bertobat, ia pertama- tama harus menyadari dosanya, dan selanjutnya ia perlu menerima rahmat pengampunan Allah melalui imam-Nya.

3) Gereja perlu mewartakan secara baru, kebenaran tentang perkawinan dan keluarga. Di tengah-tengah pandangan dunia yang menentang ajaran Gereja tentang ikatan perkawinan yang tak terceraikan, tuntutan dunia agar hubungan de-facto diakui sebagai perkawinan yang sah, tuntutan agar perkawinan sesama jenis diakui, Gereja tetap harus menyuarakan hakekat perkawinan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Orang-orang perlu menemukan kembali kebenaran tentang keluarga sebagai persekutuan kehidupan dan persekutuan kasih yang terbuka terhadap kehidupan baru, sebagai Gereja kecil yang mengambil bagian di dalam misi Gereja dan di dalam kehidupan masyarakat. Maka kehidupan doa dan iman harus kembali ditumbuhkan di dalam setiap keluarga.

Mari berdoa agar jangan sampai kitapun terpengaruh oleh paham sekularisme ini, yang sedikit demi sedikit juga mulai merasuki pola pikir banyak orang di tanah air. Sebaliknya, mari kita berjuang untuk menerapkan nilai- nilai iman di dalam kehidupan kita sehari- hari, tentu dengan pertolongan Tuhan.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab