Home Blog Page 165

Monogenisme Mendukung Klaim Mormon?

1

Ajaran bahwa seluruh umat manusia berasal dari sepasang manusia (monogenisme), yaitu Adam dan Hawa, tidak dapat diartikan mendukung klaim Joseph Smith bahwa tahun 600 BC ada sebagian dari suku bangsa Yahudi bermigrasi ke Amerika, dan akhirnya menjadi nenek moyang para pengikut Mormon. Umumnya sebelum sampai kepada pembahasan klaim Joseph Smith, banyak orang mempertanyakan, bagaimana mungkin sepasang manusia dengan ciri tertentu itu kemudian bisa berkembang menjadi banyak ras/bangsa, dengan ciri-ciri eksternal yang berbeda, misalnya orang-orang Eropa berbeda dengan orang-orang Cina, berbeda dengan orang-orang Afrika, dst. Tentang hal ini, sudah pernah sekilas dibahas di sini, silakan klik, lihat point 3 dan 4.

Sedangkan untuk klaim Joseph Smith itu, yang harus membuktikan bahwa pada tahun 600 BC ada suku bangsa Yahudi yang bermigrasi ke Amerika, sebenarnya adalah penemuan arkeologis di Amerika: apakah pernah ditemukan sisa- sisa peradaban Yahudi di tempat itu, atau penemuan fosil-fosil yang menunjukkan DNA dengan ciri-ciri yang sama/ serupa dengan fosil-fosil yang ditemukan di tanah Israel? Nah sayangnya, sejauh ini tidak ada. Ini berbeda dengan penyelidikan arkeologis, yang diadakan di Timur Tengah sendiri yang menunjukkan adanya sisa-sisa peradaban manusia, entah dari fosil kerangka manusia, maupun sisa karya peradaban manusia (misal sisa reruntuhan bangunan, tembikar, perkakas, gulungan kitab, dst) yang menunjukkan adanya kehidupan suatu suku bangsa tertentu dengan ciri tertentu, yang menunjukkan usia bahkan sampai ribuan tahun sebelum Masehi.

Berikut ini adalah sekilas ringkasan yang mengambil sumber dari internet (berdasarkan atas “BYU Gene Data May Shed Light on Origin of Book of Mormon’s Lamanites,” The Salt lake Tribune/ November 30, 2000, oleh Dan Egan) tentang tidak terbuktinya klaim Joseph Smith tentang migrasi suku bangsa Yahudi ke Amerika sekitar 2600 tahun yang lalu:

Suku Bangsa Israel ke Amerika tahun 600 BC?

Kita membaca dari banyak sumber bahwa kaum Mormon percaya bahwa penduduk asli Amerika sebenarnya berhubungan dengan suku bangsa Israel yang bermigrasi ke sana sekitar tahun 600 BC, dipimpin seorang nabi yang tidak dikenal, yang bernama ‘Lehi’. Ajaran Mormon mengatakan bahwa keturunan Lehi akhirnya menjadi dua kelompok yang saling berperang, yaitu kaum Nephit (yang berkulit putih) dan kaum Lamanit (yang berkulit coklat). Kaum Lamanit akhirnya membunuh kaum Nephit dan akhirnya kaum Lamanit bertahan dan menjadi penduduk asli Amerika.

Namun klaim ini tidak didukung oleh fakta sejarah. Tidak ada bukti arkeologis ataupun historis yang mendukung pernyataan paham Mormon ini. Meskipun kaum Mormon percaya akan klaim ini, para ahli arkeolog, ahli bahasa (linguistik) dan ahli genetika di luar kalangan Mormon meyakini bahwa penduduk Amerika sebenarnya berasal dari Asia dan bukan dari Israel.

Para ahli/ scientists yang credible di luar Mormon mengatakan bahwa tidak pernah ada orang-orang Israel yang datang ke Amerika 2600 tahun yang lalu. Tak ada sisa-sisa karya lingusitik maupun arkeologis tentang kebudayaan tersebut. Michael Crawford, profesor antropologis biologis dari Universitas Kansas, dan pengarang Origins of Native Americans, Cambridge University Press mengatakan, “I don’t think there is one iota of evidence that suggests a lost tribe from Israel made it all the way to the New World. It is a great story, slain by ugly fact,” (Saya tidak berpikir bahwa ada satu titik/ iota bukti-pun yang menunjukkan adanya satu suku bangsa Israel yang menghilang dan membuat perjalanan yang panjang sampai ke Dunia Baru (Amerika). Itu adalah kisah yang besar, [namun] tumbang oleh fakta yang tidak menyenangkan.”

Ironisnya adalah fakta yang disampaikan oleh Simon Southerton, seorang ahli dan peneliti biologi di Brigham Young University (BYU), yaitu universitas yang didirikan, dimiliki dan dioperasikan oleh komunitas Mormon, yang salah satunya bertujuan untuk meneliti bukti-bukti sejarah untuk meneguhkan klaim wahyu pribadi dari Joseph Smith, pendiri Mormon ini. Sebagai seorang biolog molekular, Simon Southerton tadinya adalah seorang uskup Mormon, adalah seorang biolog molekular yang melakukan penelitian DNA, mengatakan bahwa apapun penelitian di BYU hanya dapat membuktikan bahwa klaim Mormon tersebut tidak terbukti. Tidak ada hasil studi DNA yang menyatakan bahwa nenek moyang penduduk Pasifik secara historis berhubungan dengan bangsa Yahudi kuno. “Penelitian DNA yang ada sampai sekarang ini memperlihatkan dengan sangat kuat bahwa penduduk asli Amerika dan Polinesia diturunkan dari nenak moyang bangsa Asia,” kata Southerton. Ia akhirnya meninggalkan Mormonisme setelah meneliti hal ini.

 

Rosario New Age?

29

Pertanyaan:

Mohon penjelasan yang sejelas mungkin dan selengkap mungkin tentang Rosario New age

Berkah Dalem
Pius Nugraha

Jawaban:

Shalom Pius Nugraha,

Berikut ini adalah ringkasan informasi mengenai Rosario New Age, yang kami peroleh dari beberapa situs Katolik, seperti dari EWTN (Eternal Word Television Network), selengkapnya dalam bahasa Inggris, klik di sini:

Rosario- rosario New Age ini ditemukan di daerah- daerah ziarah di Eropa, umumnya dijual murah atau bahkan diberikan GRATIS. Rosario ini dibuat dari bahan plastik yang murah, dengan warna putih, biru atau merah muda, dengan cap “made in Italy”, namun tidak diketahui siapa sebenarnya yang memproduksi rosari-rosario ini. Karena rosario- rosario ini ada di tempat ziarah, maka banyak orang berpikir bahwa rosario tersebut boleh saja digunakan. Namun sebenarnya kita perlu mewaspadainya, dan lebih baik membuangnya saja, karena pada salib/ crucifix rosario tersebut terdapat lambang- lambang yang tidak sesuai dengan simbolisme Kristiani. Informasi tentang hal ini diberikan oleh  the Marian Cenacle di Limoges, Perancis tanggal 14 Maret 2005.

Rosario- rosario tersebut dikatakan Rosario New Age karena simbol- simbol yang digunakan, yang memang hanya dapat dilihat jika diperhatikan sungguh- sungguh dari jarak dekat. Di belakang tubuh Yesus, dapat dilihat figur ular dengan tiang tegak, seperti pada lambang kedokteran, yang menurut jaman kuno adalah tongkat yang dibawa oleh para dewa seperti Hermes dan Mercury. Tongkat ini juga diartikan sebagai pengukur dunia dan kekuatan energi. Figur ular sendiri digambarkan melingkar, tersembunyi di balik tubuh Tuhan Yesus, mengandung kekuatan yang terpendam. Oleh para pengikut Iblis, ini diartikan bahwa Iblis itu co- mesianic/ co- redeemer [dan ini tentu sungguh keliru!]. Bentuk lingkaran pada crucifix berasal dari Egyptian Graeco- Roman, Phoencian, simbol Baal, disebut sebagai Pentagram, yang adalah tanda utama okultisme. Lingkaran- lingkaran/ pentagrams mempunyai lima titik yang melambangkan roh, api, bumi/ tanah, air dan udara. Pentagram ini ada di ujung-ujung kayu salib, dan yang terletak di bawah salib, diletakkan terbalik, yang melambangkan iblis dalam rupa figur kambing. Keempat lingkaran dan titik di tengah-nya melambangkan emas atau matahari di dalam alchemy/ kekuatan magis.

Namun demikian, terdapat pula suatu pandangan lain, sebagaimana dituliskan oleh Fr. Gareth Levshon, yang menganggap bahwa simbol ular tersebut dapat dikaitkan dengan Bil 21:6 dan Yoh 3:14, yaitu bahwa Kristus sendiri menggunakan gambaran ular yang ditinggikan itu sebagai gambaran akan diri-Nya sendiri yang ditinggikan di kayu salib. Lalu segilima yang ada di ujung -ujung kayu salib, melambangkan kelima luka Kristus. Jika interpretasinya demikian, maka sepertinya tidak ada yang perlu dirisaukan dengan rosario tersebut.

Menurut pengetahuan kami,  tidak ada pernyataan resmi dari pihak otoritas Gereja tentang hal ini, maka mari kita menggunakan kebijaksanaan kita (prudence), untuk memutuskan akankah kita menggunakan rosario dengan ciri-ciri sedemikian atau tidak. Menurut hemat kami,  tidak perlulah kita menggunakan rosario semacam ini, karena lambang- lambang yang ada pada salibnya dapat diinterpretasikan dengan makna yang tidak sepenuhnya sesuai dengan iman kita. Yesus tidak membagi tempatnya dengan allah lain, ataupun dengan Iblis. Para New Agers berusaha menempatkan Iblis/ Setan bersama- sama dengan Kristus, dan ini sungguh tidak sesuai dengan iman Kristiani. Adalah lebih baik jika kita menggunakan rosario yang tidak mengandung lambang-lambang yang mempunyai makna ganda tersebut.  Ya, walaupun rosario itu hanya “alat” saja untuk berdoa, tetapi mari kita menggunakan rosario yang tidak disertai dengan lambang- lambang yang dapat diinterpretasikan dengan makna yang malah bertentangan dengan iman Kristiani.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mengapa Bunda Maria Disebut Bunda Gereja?

0

Bunda Maria disebut sebagai Bunda Gereja karena:

1. Bunda Maria adalah Bunda Kristus Sang Kepala Gereja

Tuhan telah memilih Maria sebagai Bunda Allah; sebab Kristus yang dikandung dan dilahirkannya adalah Allah. Itulah sebabnya di dalam Kitab Suci, Maria disebut sebagai Bunda Allah (lih. Luk 1:43, 35, Gal 4:4). Dengan melahirkan Kristus, Maria juga dapat disebut sebagai Bunda Gereja, karena Kristus sebagai Kepala selalu berada dalam kesatuan dengan Gereja yang adalah anggota- anggota Tubuh-Nya yang memperoleh hidup di dalam Dia.

2. Bunda Maria adalah Hawa Baru yang melahirkan Kristus Sang Hidup yang memberi hidup kepada dunia

Dengan melahirkan Kristus Sang Hidup (Yoh 14:6) yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33), Bunda Maria juga secara tidak langsung berperan serta dalam memberikan Hidup kepada dunia. Maria adalah Sang Hawa yang baru, yang daripadanya lahir Kristus, sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21) yang melalui-Nya manusia dapat memperoleh hidup yang kekal. Maka para Bapa Gereja tak ragu untuk mengatakan bahwa Maria adalah “bunda mereka yang hidup” dan mengkontraskannya dengan Hawa, dengan menyatakan “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 56)

3. Bunda Maria tidak pernah terpisah dari Kristus dan Gereja

Oleh ketaatan  Bunda Maria dan atas kuasa Roh Kudus, Kristus menjelma menjadi manusia dalam rahim Bunda Maria. Kristus mengambil apapun untuk pertumbuhan tubuh jasmani-Nya dari tubuh Bunda Maria. Selanjutnya, Gereja yang adalah Tubuh Kristus, dibentuk oleh Yesus dari darah dan air yang keluar dari sisi/ lambung-Nya, serupa dengan dibentuknya Hawa dari sisi/ tulang rusuk Adam. Dengan demikian, terlihatlah betapa tak terpisahkannya hubungan antara Yesus, Maria dan Gereja. Walaupun Kristus dilahirkan oleh Bunda Maria, namun  ini tidak menjadikan Bunda Maria lebih utama dari Kristus; sebab yang menjadi Kepala Tubuh (Kepala jemaat) adalah Kristus (Kol 1:18; Ef 5:23). Bunda Maria adalah anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Namun demikian, Maria adalah anggota yang istimewa, justru karena ketaatannya yang ‘mendahului’ anggota Tubuh-Nya yang lain; dan karena dengan ketaatannya ini rencana Allah tergenapi. Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria dan Gereja, menjadikan Bunda Maria tidak terpisahkan dari Kristus dan Gereja; sehingga ia bukan saja menjadi Bunda Allah, namun juga adalah Bunda Gereja, yaitu Bunda umat beriman. Sebab setelah kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria membantu permulaan Gereja dengan doa-doanya, dan setelah ia sendiri diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menyertai Gereja dengan doa-doanya.

4. Bunda Maria terdepan dalam perjalanan iman dan menjadi teladan bagi Gereja

Sebagaimana iman Abraham menandai permulaan Perjanjian Lama, iman Maria pada saat menerima Kabar Gembira menandai dimulainya Perjanjian Baru. Sebab seperti Abraham berharap dan percaya, saat tak ada dasar untuk berharap (lih. Rom 4:17) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, demikian pula Maria, setelah menyatakan kaul keperawanannya (“Bagaimana ini mungkin terjadi, sebab saya tidak bersuami?”), percaya bahwa oleh kuasa Allah yang Maha Tinggi, ia akan menjadi ibu Sang Putera Allah (lih. Luk 1:35).

Ketaatan iman Bunda Maria mencapai puncaknya pada saat ia mendampingi Kristus, sampai di bukit Golgota, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Bunda Maria tegar berdiri di kaki salib Kristus, dan turut mempersembahkan Dia di hadapan Allah Bapa. Bunda Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, untuk menebus dosa-dosa manusia. Di kaki salib-Nya, Bunda Maria melihat sendiri apa yang nampaknya seperti pengingkaran total dari apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel saat memberikan Kabar Gembira, “Ia akan menjadi besar … Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk 1:22-23). Namun di kaki salib itu, yang dilihatnya adalah penderitaan Putera-nya yang tak terlukiskan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan … ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia …” (lih. Yes 53:3-5). Meskipun demikian, Bunda Maria tetap setia dan menyertai Kristus.

5. Yesus memberikan Maria agar menjadi ibu bagi murid-murid-Nya, yaitu Gereja-Nya

Sesaat sebelum wafat-Nya, Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada  ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu” kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak itu murid itu [Yohanes] menerima dia [Bunda Maria] di dalam rumahnya” (Yoh 19: 26-27). Kita ketahui bahwa pesan ini adalah salah satu dari ketujuh perkataan Yesus sebelum wafat-Nya dan pastilah ini merupakan pengajaran yang penting. Gereja Katolik selalu memahami ucapan tersebut, sebagai kehendak Yesus yang mempercayakan Ibu-Nya kepada kita semua para murid-Nya, yang diwakili oleh Rasul Yohanes. Sama seperti Yohanes Pembaptis menyebutkan sesuatu yang penting tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah”/ Behold, the Lamb of God (Yoh 1:29) untuk diterima sebagai kebenaran bagi semua umat beriman; maka Tuhan Yesus juga menyebutkan hal yang penting tentang Bunda Maria, dengan berkata kepada para murid-Nya,” Inilah ibumu!”/ Behold, your mother!, agar kita umat beriman juga dapat menerimanya sebagai kebenaran. Ya, Bunda Maria adalah ibu kita, sebab Tuhan Yesus memberikannya kepada kita umat beriman, untuk kita kasihi, kita hormati dan kita ikuti teladannya, agar kita dapat masuk dalam Kerajaan Surga dan beroleh mahkota kehidupan.

Dasar Kitab Suci

  • Yoh 19:26-27: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”
  • Why 12:17: Anak-anak “perempuan itu” adalah mereka yang mengikuti Yesus Kristus.
  • Yoh 2:3,7: Yesus membiarkan ibu-Nya memohonkan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan.
  • Kis 1:14: Bunda Maria turut bertekun berdoa bersama dengan para rasul menantikan kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta, yang menandai hari kelahiran Gereja.

Dasar Tradisi Suci

  • Origen (244): Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.” (Origen, Commentary on John I,4, 23, PG 14, 32)
  • St. Ephrem dari Syria (306- 373): “Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
    Umat manusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
    Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…” (St. Ephrem, Hymn 3 on the Birth of the Lord, v.5., ed. Lamy, II, pp 464 f)
  • St. Agustinus (416): “Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya, umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu] para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.” (St. Augustine, De sancta virginitate, 6 (PL 40, 399)

Dasar Magisterium Gereja

  • Paus Pius X (1903- 1914): “Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkandung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua.” (Paus Pius X, Ad diem illum Laetissimum)
  • Katekismus Gereja Katolik: 964, 695, 697-690.

KGK 964    Tugas Maria terhadap Gereja tidak bisa dipisahkan dari persatuannya dengan Kristus, tetapi langsung berasal darinya. “Adapun persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh santa Perawan hingga wafat-Nya” (LG 57). Hubungan ini terutama tampak dalam saat sengsara-Nya.”Demikianlah santa Perawan juga melangkah maju dalam penziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia – sesuai dengan rencana Allah – berdiri di dekat-Nya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan kurban-Nya, dan penuh kasih menyetujui persembahan kurban yang dilahirkannya. Dan akhirnya oleh Yesus Kristus itu juga, menjelang wafat-Nya di kayu salib, ia dikaruniakan kepada murid menjadi Bundanya dengan kata-kata ini: Wanita, inilah anakmu (lih. Yoh 19:26-27)” (LG 58).

KGK 965     Sesudah anaknya naik ke surga, Maria “menyertai Gereja pada awal mula dengan doa-doanya” (LG 69). Bersama dengan para Rasul dan beberapa wanita, “kita melihat pula Maria memohon anugerah Roh dengan doa-doanya, Roh yang sudah menaunginya di saat ia menerima warta gembira” (LG 59).

KGK 967    Karena ia menyetujui secara penuh dan utuh kehendak Bapa, karya penebusan Putera dan setiap dorongan Roh Kudus, maka Perawan Maria adalah contoh iman dan cinta bagi Gereja. Oleh karena itu, ia “adalah anggota Gereja yang maha unggul dan sangat khusus” (LG 53); ia tampil sebagai “citra Gereja” [ecclesiae typus] (LG 63).

KGK 968    Tugasnya terhadap Gereja dan seluruh umat manusia masih lebih besar lagi. “Ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan, serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (LG 61).

KGK 969    “Adapun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankannya di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke surga, ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita karunia-karunia yang menghantar kepada keselamatan kekal… Oleh karena itu di dalam Gereja santa Perawan disapa dengan gelar: pengacara, pembantu, penolong, dan perantara” (LG 62).

KGK 970    “Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh santa Perawan Maria yang menyelamatkan manusia… berasal dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung daripadanya, dan menimba segala kekuatannya daripadanya” (LG 60). “Sebab tiada makhluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah dengan cara yang berbeda-beda pula terpancarkan secara nyata dalam makhluk-makhluk, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber” (LG 62).

Ajaran pendiri gereja Protestan

  • Martin Luther, pendiri gereja Protestan juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Gereja: “Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan bunda kita semua. Kalau Kristus adalah milik kita, kita harus berada di mana Ia berada; dan semua yang menjadi milik-Nya pasti menjadi milik kita, dan oleh karena itu ibu-Nya juga adalah ibu kita.” (Luther Works, (Weimar edition), 29:655:26-656:7)
    “Kita semua adalah anak- anak Maria.” (Luther Works, (Weimar edition), 11:224:8)

Mengapa Bunda Maria Tidak Berdosa?

0

Bagaimana mungkin Gereja Katolik baru mendefinisikan pada tahun 1854 bahwa Bunda Maria tidak berdosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi? Namun walaupun baru didefinisikan di abad ke-19, dogma ini mempunyai dasar yang kuat, baik dari Kitab Suci maupun Tradisi Suci. Kita dapat melihat dasarnya dari Kitab Suci, yaitu: (1) Maria dipersiapkan untuk mengemban misi sebagai Bunda Allah; (2) Maria adalah perempuan yang disebutkan dalam Kitab Kejadian, di mana keturunannya akan mengalahkan ular (lih.Kej 3:15); (3) Allah memisahkan hal-hal yang kudus dari yang profan; maka terlebih lagi Ia akan menguduskan seseorang yang akan melahirkan Putera-Nya.

Sepanjang sejarah manusia, Tuhan dapat memilih banyak nabi, raja, maupun rasul, namun Tuhan hanya dapat memilih satu orang perempuan untuk menjadi Bunda-Nya. Sama seperti Tuhan mencurahkan rahmat-Nya secara khusus kepada masing-masing orang menurut misi yang harus diemban mereka, maka Tuhan mencurahkan kepada Maria kepenuhan rahmat (lih. Luk 1:28) – sehingga tidak ada ruang untuk dosa – dan menaunginya dengan Roh Kudus dan kuasa dari Allah yang maha tinggi (lih. Luk 1:35), agar layak mengemban tugas dan perannya sebagai Bunda Putera-Nya, Yesus Kristus. Dengan demikian, Maria senantiasa kudus, tidak pernah ternoda dosa sepanjang hidupnya, sehingga ia secara sempurna mendampingi  Kristus Puteranya sesuai dengan kehendak Allah.

Allah telah mempersiapkan Bunda Maria sejak dari awal mula penciptaan ketika Allah berfirman setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Allah bersabda,  “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau [ular/setan] dan perempuan ini [perempuan itu/ the woman]” (Kej 3:15). Kalimat tersebut hanya masuk akal kalau perempuan itu merujuk kepada perempuan lain yang bukan Hawa, karena kata permusuhan (enmity) mencerminkan permusuhan atau sesuatu yang bertolak belakang secara total, sedangkan Hawa sendiri baru saja terbukti tidak bertentangan total dengan iblis, sebab ia justru jatuh ke dalam bujukan iblis tersebut. Dengan demikian, perempuan itu yang bertentangan total dengan iblis, haruslah tanpa dosa, sebagaimana digenapi dalam diri Bunda Maria. Perempuan itu merujuk kepada Bunda Maria, karena di ayat yang sama, dikatakan bahwa keturunan dari perempuan itu akan  menginjak kepala ular [yaitu iblis]. Karena keturunan perempuan yang akan mengalahkan iblis  itu adalah Yesus Kristus, maka perempuan yang melahirkannya, yang disebut sebagai “perempuan itu”, adalah Bunda Maria.

Gambaran akan kekudusan Bunda Maria, digambarkan secara samar-samar dalam Perjanjian Lama dalam Tabut Perjanjian Lama. Tabut itu berisi dua loh batu hukum Allah, manna dan tongkat Harun – yang begitu kudus dan tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, kecuali imam agung. Yesus yang menjadi tanda Perjanjian Baru – adalah Sang Pemberi hukum Allah, Sang Roti hidup, dan Sang Imam Agung. Kristus memilih untuk dilahirkan dari Sang Tabut Perjanjian Baru, yaitu dari rahim Perawan Maria. Sebagaimana Tuhan menghendaki kesucian tabut Perjanjian Lama, demikianlah Tuhan menghendaki kesucian Tabut Perjanjian Baru, yaitu Bunda Maria, dari noda dosa, sehingga dia layak menjadi Bunda Allah. Dengan demikian,  kita dapat melihat bahwa dogma Maria dikandung tanpa noda sesungguhnya mengungkap kebenaran bahwa Allah telah mempersiapkan Bunda Maria untuk menjalankan tugas istimewa yang harus diembannya sebagai Bunda Allah, yang melahirkan Putera Allah yang diutus untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa.

Dasar Kitab Suci:

  • Kej 3:15: Allah akan mengadakan permusuhan antara perempuan itu (the woman) dengan Iblis, dan Maria adalah “perempuan itu” yang dijanjikan oleh Allah akan melahirkan keturunan yang akan mengalahkan iblis. Perlawanan total dengan iblis inilah yang mensyaratkan kemurnian Bunda Maria, kebebasan dari dosa asal.
  • Luk 1:28: “Salam, hai engkau yang penuh rahmat” (kecharitomene). Kepenuhan rahmat Allah maksudnya adalah, tiada ruang bagi dosa.
  • Kel 25:1-30, Bil 17:10, Ibr 9:4 menunjukkan betapa Allah menghendaki kemurnian tabut Perjanjian Lama. Demikian pula Allah terlebih lagi menghendaki kemurnian Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Imam Besar yang Tertinggi (Ibr 8:1).
  • Ibr 7:26: Kristus adalah Sang Imam Besar yang tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa, sehingga tak mungkin Ia lahir dari seorang perempuan yang berdosa.
  • Why 12:1-6: Bunda Maria sebagai Perempuan yang melahirkan Anak Laki-laki yang menggembalakan semua bangsa, akhirnya mengalahkan iblis.

Dasar Tradisi Suci:

  • St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” (Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24)
  • St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” (St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me )
  • Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu satunya” (Origen, Homily 1).
  • St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu… (St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8)
  • St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.” (St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216)
  • St. Ambrosius (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa.” (St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599).
  • St. Gregorius dari Nazianza (390): Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti ia yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar. (St. Gregorius, Sermon 38)
  • St. Agustinus (415): Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika ia kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa (St. Augustine, Nature and Grace 36:42)
  • Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.” (Theodotus, Homily 6:11)
  • Proklus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda. (Proclus, Homily 1)
  • St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.” (St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350)
  • St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.” (Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali)

Dasar Magisterium Gereja:

  • Paus Pius IX (8 Desember 1854) dalam Konstitusi Apostolik, Ineffabilis Deus, mengajarkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, sebagai berikut: “Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.”
  • Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:
    St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia” Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka (St. Hieronimus, St. Agustinus, St. Sirilus, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” (LG 56)
  • Katekismus Gereja Katolik 508, 491, 492, 493:

KGK 508 – Dari antara turunan Hawa, Allah memilih perawan Maria menjadi bunda Anak-Nya. “Penuh rahmat” ia adalah “buah penebusan termulia” (SC 103). Sejak saat pertama perkandungannya ia dibebaskan seluruhnya dari noda dosa asal dan sepanjang hidupya ia bebas dari setiap dosa pribadi.

KGK 491 –  Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, “dipenuhi dengan rahmat” oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma “Maria Dikandung tanpa Noda Dosa”, yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX:
“… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (DS 2803).

KGK 492 – Bahwa Maria “sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa” (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: “Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul” (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta yang mana pun Bapa “memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga” (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (Bdk. Ef 1:4).

KGK 493 – Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah “Yang suci sempurna” [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang “bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru” (LG 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.

Tentang Berkat dan Pelayanan

6

Pertanyaan:

Pengasuh yth, saya umur 50 tahun pensiun dini dari BUMN, beristeri, 3 anak 1 cucu, sudah 7 tahun pengurus lingkungan gereja katolik, sering mendoakan umat untuk kesehatan, rejeki dll. Namun karena banyaknya pergumulan seperti anak laki usia 19 tahun kawin, cucu meninggal usia 4 hari, gagal jadi anggota dewan, hampir semua bisnis gagal, bahkan tertipu orang lain. Baru-baru ini saya menghindar menjadi pengurus lingkungan (dengan alasan kembali ke lingkungan sesuai wilayah tempat tinggal ), karena sadar semua orang sekitar meningkat, tapi kami malah menurun kesejahteraannya. Saya pikir bagaimana membawa renungan (khotbah) sekali sebulan dihadapan umat,mendoakan sesama berejeki dengan melimpah padahal rejeki kami sendiri belum ada titik terang dan gagal atau tidak betah melakukan berbagai usaha menambah pendapatan.

Mohon pencerahan terimakasih

Jawaban:

Shalom Kakjujur,

Nampaknya yang perlu ditanyakan kepada diri kita semua yang bertekad melayani Tuhan adalah apakah motivasinya adalah sungguh untuk mengasihi Tuhan. Sebab jika kasih kepada Tuhan yang menjadi pendorong kita, maka kita tidak mudah berputus asa walaupun banyak kesulitan ataupun rintangan yang akan kita hadapi. Kita harus selalu mengingat bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, dengan mengutus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan kita, sehingga apapun yang kita lakukan di dunia ini tidaklah sebanding dengan apa yang sudah dilakukan-Nya bagi kita. Maka memang bukan kemakmuran duniawi yang menjadi motivasi dalam pelayanan kita kepada Tuhan, seolah kita baru melayani kalau sudah diberkati Tuhan, atau sebaliknya, kalau kita belum diberkati sesuai dengan harapan kita, maka kita berhenti saja melayani Tuhan. Sebab jika demikian, motivasi kita dipertanyakan, kita ini mau melayani Tuhan, untuk kepentingan Tuhan atau untuk kepentingan diri kita sendiri?

Kitab Suci sendiri mengatakan kepada kita, bahwa jika kita mau melayani Tuhan, malah harus bersiap-siap menghadapi pencobaan (lih. Sir 2:1-18). Namun kalau kita bertekun, tetap takut akan Tuhan, percaya kepada-Nya dan berharap yang baik, maka kita tidak akan kehilangan ganjaran kita. Tuhan yang penyayang dan pengasih akan mengampuni dosa kita dan menyelamatkan kita pada saat kemalangan (lih. Sir 2:8-9,11). Artinya adalah Tuhan tidak akan meninggalkan dan membiarkan kita yang mengasihi dan melayani Dia, dan pasti Ia akan membuka jalan bagi kita agar kita mampu menghadapi apapun pencobaan yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita (lih. 1 Kor 10:13).

Maka kita perlu melihat pencobaan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita sebagai ujian iman. Jangan sampai ujian itu berlalu, tanpa menambah iman kita tetapi malah melemahkannya. Adalah lebih mudah untuk memuji Tuhan ketika berkat Tuhan sedang melimpah dalam hidup, namun jika dalam keadaan yang sukar kita masih dapat memuji Tuhan dan tetap percaya akan kebaikan-Nya, itu adalah ‘lompatan’ iman. Sebab justru dalam keadaan yang sulit itu, iman kita diuji, dan jika kita mampu bertekun dan melewati kesulitan tersebut bersama Tuhan, maka kita membuktikan kemurnian iman kita kepada Tuhan. Rasul Paulus menulis demikian:

“… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1 Pet 1:5-7)

Sebab keselamatan dan kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi kita itu dicapai melalui penderitaan, sebagaimana kita lihat di dalam kehidupan Kristus sendiri:

“Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan- yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” (Ibr 2:10)

Maka jika Tuhan mengizinkan terjadi pencobaan dan penderitaan di dalam hidup kita, kita harus melihatnya dari kacamata yang positif, yaitu bahwa Tuhan ingin agar menyempurnakan dan menguduskan kita semakin menyerupai Kristus. Ia adalah Seorang “Penyembuh” yang terluka (wounded healer), dan Ia mengundang kita juga yang adalah anggota-anggota-Nya untuk juga menjadi ‘penyembuh’ bagi sesama kita juga, walaupun kitapun juga mengalami luka-luka di dalam kehidupan rohani kita. Maka yang pertama-tama perlu kita mohon adalah agar Tuhan menyembuhkan kita dari luka-luka batin kita itu, supaya kemudian kitapun dapat dipakai Tuhan untuk meringankan beban sesama yang mungkin juga mengalami luka-luka batin yang serupa.

Di samping itu, pengalaman kegagalan -entah di dalam bisnis atau dalam hal mendidik anak-anak- harus membuat kita berintrospeksi, apakah ada kesalahan yang telah kita lakukan, yang dapat kita perbaiki. “Apakah saya telah melibatkan Tuhan di dalam hidup saya, dalam pekerjaan saya setiap hari, dan sebelum memutuskan sesuatu yang penting dalam bisnis? Apakah prinsip bisnis dijalankan sesuai dengan ajaran Tuhan (prinsip kejujuran, keadilan dan kasih)? Apakah saya sudah cukup rajin dan ulet, tak pernah menyerah dalam pekerjaan saya? Apakah saya sudah menanamkan iman Katolik sejak anak-anak berusia dini? Apakah saya berdialog dengan anak tentang iman, bahkan sekarang setelah mereka berkeluarga? Apakah saya sudah melihat bahwa anak (dan cucu) adalah berkat dari Tuhan dan milik Tuhan? Apakah saya menyadari bahwa Allah adalah Sang Pemberi hidup yang berhak memberikan dan mengambil hidup ini -sebab bukan hidup di dunia ini yang terpenting, tetapi hidup bersama-Nya di surga kelak? Apakah saya sudah mengisi pikiran saya dengan hal-hal surgawi? Apakah saya sudah bersyukur kepada Tuhan untuk rahmat keluarga: istri dan anak-anak saya? Apakah saya sudah bersyukur atas kasih dan pemeliharaan Tuhan atas saya dan keluarga selama ini?….Pertanyaan- pertanyaan reflektif ini dapat terus dikembangkan di dalam waktu doa Anda, dan semoga Roh Kudus menyingkapkan kepada Anda, hal-hal yang kurang berkenan kepada Tuhan, dan yang perlu diperbaiki untuk kehidupan Anda selanjutnya. Anda dapat kemudian mencari pastor Paroki untuk mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, dan terimalah rahmat pengampunan dari Allah yang menyembuhkan luka-luka di batin Anda.

Semoga dengan bantuan rahmat Tuhan, Anda dimampukan untuk melihat kehidupan di dunia ini dengan sikap yang lebih positif. Sikap yang sedemikian lebih memberikan inspirasi kepada orang-orang yang akan Anda layani di lingkungan Anda. Sebab bukanlah suatu patokan bahwa orang yang mendoakan memohon rejeki harus lebih dahulu berlimpah dalam rejeki. Justru dalam kelemahan kita, kita memohon kepada Tuhan, dan kita percaya bahwa kuasa Tuhan akan dinyatakan dengan lebih sempurna (lih. 2 Kor 12:9). Betapa sungguh ayat ini sudah digenapi di dalam kehidupan orang-orang percaya!

Maka, dengan iman akan kasih Tuhan yang adalah Bapa bagi kita semua, yang tahu akan segala kebutuhan kita, mari kita memohon kepada-Nya agar mempunyai iman seperti yang dicatat dalam kitab Habakuk:

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Hab 3:17-18)

Selanjutnya tentang topik mengapa Tuhan membiarkan penderitaan, klik di sini.
Tentang kesaksian iman, Memaknai Penderitaan, klik di sini.

Mari, jangan ragu untuk mengasihi Tuhan dan melayani Dia, walaupun mungkin kehidupan kita sendiri tidaklah terlalu mulus menurut ukuran dunia. Kita percaya, jika kita berjalan bersama Tuhan di dalam kehidupan ini, maka Ia akan memampukan kita melihat segala sesuatunya yang terjadi di dalam kehidupan kita dari kacamata yang positif: “Semuanya ini terjadi untuk menghantarkan saya untuk lebih dekat kepada Tuhan yang begitu mengasihi saya.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Penyembuhan Cakra, bolehkah?

6

Dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Vatikan yang berjudul, Yesus Kristus Pembawa Air Kehidupan, menyebutkan bahwa penyembuhan cakra (chakra healing) adalah salah satu hal yang diajarkan dalam paham New Age Movement (NAM), yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik. Dikatakan demikian, “Hubungan antara segi rohani dan jasmani pada pribadi seseorang terletak di dalam sistem kekebalan atau disebut sebagai sistem cakra India. Di dalam sudut pandang New Age, penyakit dan penderitaan datang dari pekerjaan/ perbuatan yang melawan kodrat/alam; ketika seseorang ‘in tune’ dengan kodrat, seseorang dapat mengharapkan kehidupan yang jauh lebih sehat dan bahkan kemakmuran materi; sebab menurut para penyembuh New Age, sesungguhnya kita tidak perlu untuk mati…” (lih. dokumen point 2.2.3). Untuk membaca dokumen tersebut selengkapnya, klik di sini.

Walaupun nampaknya seperti tidak berbahaya, namun teori penyembuhan cakra ini berkaitan dengan keseluruhan paham yang tidak sesuai dengan ajaran iman Kristiani. Gereja mengajarkan agar kita tidak memandang hal penyembuhan cakra ini sebagai sesuatu yang terpisah dari keseluruhan doktrin NAM. Karena Gereja menolak NAM maka, termasuk di sini adalah sistem penyembuhan cakra yang menjadi salah satu elemen dalam doktrin NAM. Dokumen tersebut mengatakan demikian (berikut ini kutipannya):

“4. Perbandingan kontras antara New Age dan Iman Kristiani

Adalah sulit untuk memisahkan hal-hal secara individual dalam paham New Age -betapapun nampaknya tidak salah- dari jangkauan kerangka kerja yang merasuki keseluruhan cara berpikir dalam gerakan New Age tersebut. Kodrat gnostik dari gerakan ini mengharuskan kita menilainya secara keseluruhan. Dari sudut pandang iman Kristiani, tidak mungkin kita mengisolasi/ memisahkan beberapa elemen paham New Age sebagai sesuatu yang dapat diterima oleh umat Kristen, sedangkan elemen lainnya ditolak. Karena gerakan New Age membuat banyak komunikasi dengan alam, tentang pengetahuan kosmik dari kebaikan universal -dengan demikian gerakan itu menyangkal isi iman Kristiani yang diwahyukan- maka gerakan NAM tidak dapat dilihat sebagai hal yang positif dan tidak berbahaya. Di lingkungan budaya yang ditandai oleh relativisme religius, adalah perlu untuk menandai sebuah peringatan terhadap usaha untuk menempatkan paham religius New Age di tingkat yang sama dengan iman Kristiani, dengan membuat perbedaan antara iman dan kepercayaan seperti sesuatu yang relatif, sehingga menciptakan kebingungan besar bagi mereka yang tidak waspada. Tentang hal ini, bergunalah untuk mengingat ajaran Rasul Paulus, “agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.” (1Tim 1:3-4) Beberapa praktek diberi judul sebagai New Age hanya semata sebagai strategi marketing untuk membuatnya lebih laku, tapi tidak benar-benar berkaitan dengan pandangan dunia tentang NAM. Ini hanya akan menambah kebingungan. Maka perlulah diidentifikasikan secara akurat elemen-elemen yang menjadi bagian dari gerakan New Age dan yang tidak dapat diterima oleh orang-orang yang setia kepada Kristus dan Gereja-Nya.

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kunci termudah terhadap elemen-elemen sentral dari paham New Age dan praktek dari pijakan Kristen…

* Apakah Tuhan merupakan pribadi yang kepada-Nya kita mempunyai hubungan ataukah sesuatu untuk digunakan atau sesuatu kekuatan untuk dikondisikan agar efektif hasilnya?

Konsep New Age tentang Tuhan adalah menyebar/ tercampur baur, sedangkan konsep Kristiani adalah sesuatu yang jelas. Tuhan-nya New Age adalah energi yang bukan pribadi, sebagai komponen atau sambungan khusus dari kosmos; tuhan dalam pengertian ini adalah kekuatan hidup dari jiwa dunia. Ketuhanan adalah untuk ditemukan di setiap ciptaan, di dalam gradasi “dari kristal ter-rendah dunia mineral sampai melampaui galaktis Tuhan sendiri, yang tentang-Nya kita tak dapat mengatakan apapun. Ini bukan seorang manusia tetapi sebuah Kesadaran Besar.” Di dalam beberapa tulisan New Age jelaslah bahwa manusia dimaksudkan agar berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai tuhan:…… Tuhan tidak lagi dicari melampaui dunia, tetapi di dalam diri saya sendiri. Bahkan ketika “Tuhan” adalah sesuatu yang di luar diri saya sendiri, Ia ada di sana untuk dimanipulasikan.

Ini adalah sangat berbeda dari pengertian Kristiani tentang Tuhan sebagai Pencipta langit dan buni dan sumber semua kehidupan pribadi. Tuhan sendiri adalah Pribadi, Bapa Putera dan Roh Kudus, yang menciptakan alam semesta untuk membagikan persekutuan hidup-Nya dengan pribadi-pribadi mahluk ciptaan-Nya. “Tuhan, yang tinggal di dalam terang yang tak terhampiri’, mau mengkomunikasikan kehidupan ilahi-Nya sendiri kepada manusia yang diciptakan-Nya secara bebas, agar dapat mengangkat mereka sebagai anak-anakNya di dalam Putera-Nya yang Tunggal. Dengan mewahyukan diri-Nya, Tuhan berkehendak untuk menjadikan mereka mampu untuk menanggapi-Nya dan mengenal-Nya dan mencintai-Nya, jauh melampaui kemampuan kodrati mereka sendiri.” Tuhan tidak diidentifikasikan sebagai prinsip Kehidupan yang dipahami sebagai “Roh” atau “energi dasar” dari kosmos, tetapi bahwa sebagai kasih yang secara absolut berbeda dengan dunia namun selalu hadir secara kreatif di dalam segala sesuatu dan memimpin umat manusia kepada keselamatan.

* Manusia (human being): Apakah ada satu keseluruhan “being” atau ada banyak individu?

Prinsip teknis New Age adalah untuk menghasilkan tingkat mistik menurut kehendak, seperti seolah hal bahan percobaan. Kelahiran kembali, umpan balik kehidupan, isolasi perasaan, pernafasan holotropis, hypnosis, matra, puasa, tidak tidur dan meditasi transendental adalah usaha-usaha untuk mengontrol keadaan-keadaan ini untuk mengalaminya secara terus menerus. Praktek ini semua menciptakan atmosfir kelemahan psikis dan vulnerabilitas. Ketika obyek latihan ini adalah bahwa kita harus menemukan diri kita sendiri, terdapat pertanyaan yang nyata tentang siapakah aku. “Tuhan di dalam kita” dan kesatuan holistik dengan keseluruhan kosmos menggarisbawahi masalah ini. Pribadi individu secara terpisah akan menjadi penyakit dalam pengertian New Age (khususnya psikologi transpersonal). Tetapi “bahaya nyatanya adalah pandangan holistik. Paham New Age didasari kesatuan totaliter dan inilah sebabnya mengapa paham ini berbahaya.” Lebih moderat-nya demikian: “Kita menjadi otentik ketika kita dapat ‘mengendalikan’ diri kita sendiri ‘take charge of ourselves‘, ketika pilihan kita dan reaksi-reaksi kita mengalir secara spontan dari kebutuhan-kebutuhan kita yang terdalam, ketika tingkah laku dan ekspresi perasaan kita mencerminkan keseluruhan pribadi kita.” Gerakan Potensi Manusia adalah contoh yang paling jelas akan keyakinan bahwa manusia adalah ilahi, atau mengandung percikan ilahi di dalam dirinya sendiri.

Pendekatan Kristiani berkembang dari ajaran-ajaran Kitab Suci tentang kodrat manusia; laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah (Kej 1:27) dan Tuhan sangat memperhatikan mereka, demikianlah sangat menakjubkan seperti disebut dalam Mazmur (Mzm 8). Pribadi manusia adalah misteri yang dinyatakan secara penuh hanya di dalam Kristus (lih. Gauduim et Spes 22) dan nyatanya menjadi manusia sejati sebagaimana mestinya di dalam hubungannya dengan Kristus melalui karunia Roh Kudus. Ini jauh berbeda dari penggambaran karikatur anthroposentris yang dihubungkan dengan Kristianitas dan ditolak oleh banyak pengarang New Age dan para praktisi.

* Apakah kita menyelamatkan diri sendiri atau keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Allah?

Kuncinya adalah menemukan, oleh apa atau siapa kita percaya bahwa kita diselamatkan. Apakah kita menyelamatian diri sendiri dengan perbuatan-perbuatan kita sendiri, sebagaimana dalam penjelasan New Age, atau kita diselamatkan oleh kasih Allah? Maka kata kuncinya adalah pencapaian sendiri (self-fulfilment) dan realisasi sendiri (self-realisation), penebusan sendiri (self-redemption). New Age secara mendasar menyerupai Pelagianisme dalam pemahamannya tentang kodrat manusia.

Bagi umat Kristiani, keselamatan tergantung dari partisipasi di dalam penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus, dan dari hubungan pribadi yang langsung dengan Tuhan, dan bukan dari teknik apapun. Keadaan manusia yang dipengaruhi oleh dosa asal dan dosa pribadi, hanya dapat diperbaiki oleh perbuatan Tuhan: dosa adalah pelanggaran terhadap Tuhan dan hanya Tuhan yang dapat mendamaikan kita dengan diri-nya. di dalam rencana keselamatan ilahi, umat manusia telah diselamatkan oleh Yesus Kristus yang, sebagai Tuhan dan manusia, menjadi satu-satunya Pengantara bagi penebusan dosa. Di dalam Kristianitas, keselamatan bukanlah pengalaman diri sendiri, sebuah tempat tinggal di dalam diri sendiri secara meditatif dan intuitif, tetapi lebih kepada pengampunan dosa, menjadi terangkat mengatasi naik turunnya/ ketidakpastian di dalam diri manusia yang mendalam, dan kebebasan dari kekuatiran kodrat oleh karunia persekutuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Jalan keselamatan tidak ditemukan dari transformasi yang ditanamkan diri sendiri, tetapi di dalam kemerdekaan dari dosa dan konsekuensinya yang mengarahkan kita kepada perjuangan melawan dosa di dalam diri kita sendiri dan di dalam masyarakat kita. Hal ini menggerakkan kita kepada solidaritas yang penuh kasih dengan sesama kita yang membutuhkan.

* Doa dan meditasi: Apakah kita berbicara kepada diri sendiri atau kepada Tuhan?

Tendensi untuk mencampurbaurkan psikologi dan spiritualitas menyulitkan untuk tidak menekankan bahwa banyak teknik meditasi yang sekarang digunakan bukanlah doa. Teknik-teknik itu seringkali adalah persiapan yang baik untuk doa, tetapi tidak lebih, bahkan jika teknik tersebut mengarahkan kepada keadaan pikiran yang lebih menyenangkan dan kenyamanan tubuh. Pengalaman-pengalaman yang terjadi adalah pengalaman intensif yang asli, tetapi untuk tinggal di tingkat ini adalah menjadi tetap sendiri, dan belum di dalam kehadiran yang lain. Pencapaian keheningan dapat menghadapkan kita kepada kekosongan, lebih daripada keheningan dalam memandang Yang dicintai. Adalah juga benar bahwa teknik-teknik untuk mendalami jiwa seseorang, pada akhirnya adalah kekuatan untuk menarik pikiran terhadap kemampuan seseorang untuk mencapai keilahian, atau bahkan untuk menjadi ilahi: jika mereka lupa akan pencarian Tuhan terhadap hati manusia, mereka [teknik-teknik tersebut] tetap bukan doa Kristiani. Bahkan ketika digunakan sebagai sebuah penghubung dengan Energi Universal, “hubungan yang mudah sedemikian dengan Tuhan, di mana fungsi Tuhan dilihat sebagai Yang menyediakan segala kebutuhan kita, menunjukkan keegoisan di jantung hati New Age ini.”

Praktek New Age bukanlah suatu doa, sebab di dalamnya umumnya adalah masalah introspeksi atau pencampuran energi kosmis, bertentangan dengan orientasi dua arah dari doa Kristiani; yang melibatkan introspeksi , tetapi pada dasarnya adalah juga pertemuan dengan Tuhan. Jauh dari hanya merupakan usaha manusia, kehidupan doa Kristiani pada adasarnya adalah sebuah dialog yang “menerapkan sikap percakapan, suatu langkah melampaui ‘diri sendiri’ menuju ‘Engkau’ Tuhan.” “Seorang Kristen , bahkan ketika ia sendirian dan berdoa diam-diam, ia sadar bahwa ia selalu berdoa demi kebaikan Gereja di dalam kesatuan dengan Kristus, di dalam Roh Kudus dan bersama-sama dengan semua orang kudus….”

Demikianlah beberapa point yang kami kutip dari dokumen yang dikeluarkan oleh Vatikan tentang New Age, yang menyatakan bahwa sebagai umat Katolik, kita tidak dapat menerima satu elemen ajaran New Age, karena hal itu berhubungan dengan keseluruhan paham New Age yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Selain itu, perlu diketahui bahwa penyembuhan cakra juga yang umumnya membutuhkan peran seorang ‘master’ yang bertindak sebagai medium yang membuka ataupun menutup cakra, juga bertentangan dengan ajaran iman Katolik. Katekismus mengatakan demikian:

KGK 2116     Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

KGK 2117    Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

Selanjutnya, tentang mengapa dikatakan bahwa paham New Age Movement tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, silakan klik di sini.

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab