Home Blog Page 163

Mendonorkan Organ Tubuh, Bolehkah?

2

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2296      Transplantasi organ tubuh tidak dapat diterima secara moral, kalau pemberi atau yang bertanggung jawab untuk dia tidak memberikan persetujuan dengan penuh kesadaran. Sebaliknya, transplantasi sesuai dengan hukum susila dan malahan dapat berjasa sekali, kalau bahaya dan risiko fisik dan psikis, yang dipikul pemberi, sesuai dengan kegunaan yang diharapkan pada penerima. Langsung menyebabkan keadaan cacat atau kematian seseorang, selalu dilarang secara moral, meskipun dipakai untuk menunda kematian orang lain.

KGK 2300    Jenazah orang yang telah mati harus diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih dalam iman dan dalam harapan akan kebangkitan.

KGK 2301      … Penyerahan organ tubuh secara cuma-cuma sesudah kematian, diperbolehkan dan dapat sangat berjasa

KGK 2295    Penelitian dan eksperimen yang dilakukan pada manusia, tidak dapat membenarkan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan martabat manusia dan dengan hukum moral. Juga persetujuan dari orang yang bersangkutan tidak membenarkan tindakan-tindakan semacam itu. Eksperimen yang dilakukan pada seorang manusia, tidak diperbolehkan secara moral, kalau ia membawa bahaya bagi kehidupannya atau bagi keutuhan fisik dan psikisnya yang tidak sebanding atau yang dapat dihindarkan. Eksperimen semacam itu lebih bertentangan dengan martabat manusia, kalau dilakukan tanpa pengetahuan dan persetujuan orang yang bersangkutan atau orang yang bertanggung jawab untuk mereka.

KGK 2297        ….Kecuali kalau ada alasan-alasan terapi yang kuat, amputasi, pengudungan (mutilasi) atau sterilisasi dari orang-orang yang tidak bersalah, merupakan pelanggaran terhadap hukum susila (Bdk. DS 3722).

Jadi prinsipnya, transplantasi organ tubuh dapat dibenarkan secara moral, asalkan dipenuhi hal-hal berikut ini:

1. Pemberian organ tubuh di saat pendonor masih hidup dapat dilakukan asalkan:1) hal itu disetujui oleh sang pendonor sendiri (tidak dipaksakan kepadanya) atau oleh orang yang secara sah berbicara atas namanya; 2) donor tersebut sungguh dapat menolong orang yang menerima dan tidak membahayakan kesehatan sang pendonor itu sendiri. 3) donor itu bukan berupa tindakan amputasi, mutilasi, sterilisasi yang dilakukan terhadap orang yang tidak bersalah, tanpa alasan medis yang kuat.

2. Pemberian organ tubuh di saat pendonor sudah meninggal adalah suatu perbuatan yang sah dan dapat menjadi perbuatan yang terpuji, asalkan: 1) pada saat organ tersebut diambil, pendonor tersebut sungguh- sungguh telah meninggal dunia; 2) pada saat diambilnya organ tersebut, harus tetap diadakan dalam sikap penghormatan terhadap tubuh yang sudah meninggal dunia tersebut; 3) jenazah donor tersebut tetap harus dimakamkan dengan hormat.

Jika prinsip umum sebagaimana dituliskan di atas tidak dipenuhi, maka transplantasi organ tidak dapat dibenarkan secara moral. Contohnya, jika transplantasi organ dilakukan dengan paksaan, membahayakan kehidupan sang pendonor itu sendiri, atau jika transplantasi dilakukan demi eksperimen/ percobaan dalam dunia kedokteran.

Berdoa dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23-24)

1

Berdoa dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23-24) adalah penyembahan yang sejati yang keluar dari hati (termasuk juga sikap tubuh dan upacara ibadah) yang dilaksanakan dengan terang kepenuhan wahyu Allah. Tentang penyembahan yang bersifat rohani dan sempurna itu memungkinkan bagi kita yang telah dibaptis, karena dengan Pembaptisan, kita menerima Roh Kudus dan kita digabungkan dengan Kristus, melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Penyembahan ‘di dalam roh dan kebenaran’ ini adalah penyembahan yang sesuai dengan hakekat Allah yang adalah Roh. Sedangkan penyembahan dalam kebenaran berkaitan dengan hati yang bersih, yang tidak dalam keadaan berdosa berat. Penyembahan dalam roh dan kebenaran ini secara istimewa terpenuhi, saat menyambut Ekaristi.  Sebelum menyambut Ekaristi, kita perlu memeriksa batin, dan jika mengetahui ada dosa berat yang kita lakukan, kita sedapat mungkin harus mengaku dosa terlebih dahulu dalam sakramen Pengakuan Dosa (lih. KGK 1385). Dengan demikian, kita menerima Ekaristi dengan hati yang bersih dan jika kita berdoa menyembah-Nya dalam keadaan seperti ini, maka kita menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran, karena Kristus yang adalah Roh dan Kebenaran itu telah ada di dalam kita.  Sebab Kristus menyatakan kepenuhan Diri-Nya dalam Ekaristi, maka jika kita menyembah-Nya pada saat menerima Ekaristi, kita melakukan penyembahan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Tentang hal ini Magisterium Gereja Katolik mengajarkan:

Demikianlah melalui baptis orang-orang dimasukkan kedalam misteri Paska Kristus : mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia (lih. Rom 6:4, Ef 2:6; Kol 3:1; 2Tim 2:11); mereka menerima Roh pengangkatan menjadi putra, dan dalam Roh itu kita berseru : Abba, Bapa (Rom 8:15); demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa (lih. Yoh 4:23). Begitu pula setiap kali mereka makan perjamuan Tuhan, mereka mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang (1 Kor 11:26). Oleh karena itu pada hari Pantekosta, ketika Gereja tampil di depan dunia, mereka yang menerima amanat Petrus “dibaptis”. Dan mereka “bertekun dalam ajaran para Rasul serta selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa … sambil memuji Allah, dan mereka disukai seluruh rakyat” (Kis 2:41-47). Sejak itu Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paska; disitu mereka membaca “apa yang tercantum tentang Dia dalam seluruh Kitab suci (Luk 24:27); mereka merayakan Ekaristi, yang menghadirkan kejayaan-Nya atas maut”, dan sekaligus mengucap syukur kepada “Allah atas karunia-Nya yang tidak terkatakan” (2Kor 9:15) dalam Kristus Yesus, “untuk memuji keagungan-Nya” (Ef 1:12) dengan kekuatan Roh Kudus. (Konsili Vatikan II Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium 6)

Itulah sebabnya Gereja Katolik sampai kapanpun akan terus melaksanakan amanat Kristus ini, yaitu untuk membaptis dan melaksakan perayaan Ekaristi, karena melaluinya orang- orang yang percaya kepada Kristus dapat menyembah dalam roh dan kebenaran, sesuai dengan kehendak-Nya.

Hubungan Pentakosta, Sakramen Krisma, dan Pencurahan Roh Kudus

10

Pentakosta adalah peristiwa yang dicatat dalam Kisah Para Rasul sebagai peristiwa di mana para murid dan semua orang yang percaya kepada Kristus mengalami kepenuhan Roh Kudus (lih. Kis 2:1-4); dan sejak saat itu mereka tidak takut lagi untuk bersaksi tentang Kristus.

Peristiwa Pentakosta tersebut secara prinsip dapat kita alami pada saat ini, yaitu di dalam sakramen Krisma/ Penguatan, karena melalui sakramen tersebut kita menerima kepenuhan Roh Kudus dan penyempurnaan rahmat Baptisan, serta dikuatkan menjadi saksi Kristus. Melalui sakramen Penguatan, para rasul menyampaikan kepada kita, yang telah menjadi anggota Gereja melalui Pembaptisan, kepenuhan Roh Kudus beserta dengan karunia-Nya, demi menyempurnakan rahmat Pembaptisan tersebut.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang sakramen Penguatan/ Krisma:

KGK 1288    “Mulai dari saat ini para Rasul menyampaikan kepada mereka yang baru dibaptis, sesuai dengan kehendak Kristus, oleh peletakan tangan, karunia Roh demi penyempurnaan rahmat Pembaptisan (Bdk. Kis 8:15-17;19:5-6). Dengan demikian, di dalam surat kepada umat Ibrani disebutkan di antara unsur-unsur pengajaran Kristen pertama adalah pengajaran mengenai Pembaptisan dan mengenai peletakan tangan (Bdk. Ibr 6:2). Peletakan tangan ini di dalam tradisi Katolik tepat sekali dipandang sebagai awal Sakramen Penguatan, yang melanjutkan rahmat Pentekosta di dalam Gereja atas satu cara tertentu” (Paulus VI, Konst. Ap. “Divinae consortium naturae”).

KGK 1289    Supaya menandai karunia Roh Kudus dengan lebih baik lagi, dengan cepat ditambahkan pada peletakan tangan pengurapan dengan minyak harum mewangi [krisma]. Pengurapan ini menjelaskan nama “Kristen” yang berarti “terurapi” dan disimpulkan dari Kristus sendiri, yang “Allah urapi dengan Roh Kudus” (Kis 10:38). Ritus pengurapan itu ada sampai sekarang baik di Timur maupun di Barat. Karena itu, di Timur orang menamakan Sakramen ini Khrismasi, urapan dengan krisma, atau Myron, yang berarti “krisma”. Di Barat nama Penguatan pada satu pihak menunjuk kepada “peneguhan” Pembaptisan, yang dengannya inisiasi Kristen disempurnakan, dan di lain pihak kepada penguatan rahmat Pembaptisan – kedua-duanya adalah buah-buah Roh Kudus.

KGK 1304    Seperti Pembaptisan, yang disempurnakannya, Penguatan pun hanya diberikan satu kali saja. Penguatan mengukir satu tanda rohani yang tak terhapus, satu “character” di dalam jiwa. Inilah tanda bahwa Yesus Kristus telah menandai seorang Kristen dengan meterai Roh-Nya dan menganugerahkan kepadanya kekuatan dari atas, supaya ia menjadi saksi (Bdk. Luk 24:48-49).

KGK 1305    Karakter ini menyempurnakan imamat bersama umat beriman yang diterima dalam Pembaptisan. Orang yang menerima Penguatan memperoleh kuasa untuk mengakui imannya kepada Kristus secara publik dengan kata-katanya, seakan-akan sebagai jabatannya [quasi ex officio]” (Tomas Aqu., s. th. 3,72,5 ad 2).

Namun setelah kita menerima Roh Kudus, baik dalam sakramen Pembaptisan maupun dalam sakramen Penguatan, kita masih tetap dapat memperoleh pencurahan Roh Kudus. Sebab dalam ranah rohani, jiwa kita maupun Roh Kudus bukan merupakan “barang material” yang berati, jika sudah penuh diberikan, maka tidak dapat ditambahkan lagi. Bukan demikian. Roh Kudus yang sudah secara penuh diberikan dalam sakramen Pembaptisan dan Penguatan dapat terus dicurahkan kepada kita sebagai anggota Gereja. Karena itu, kita mohon pencurahan Roh Kudus setiap kali merayakan hari Pentakosta, dalam persekutuan doa, atau secara pribadi sebelum kita membaca Kitab Suci, atau bahkan setiap hari sebelum memulai kegiatan kita sehari-hari.

Meskipun demikian, layak kita sadari bahwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi di luar sakramen tidak dapat menggantikan sakramen itu sendiri. Sebab efek sakramen Krisma, yang memberi karakter di jiwa, menjadi penyempurnaan rahmat Baptisan, dan menjadi sarana penyaluran rahmat Allah sebagaimana diturunkan kepada para Rasul, tidak dapat digantikan dengan doa pencurahan Roh Kudus di luar sakramen ataupun dengan penumpangan/peletakan tangan oleh awam.

Mengapa Digunakan Bahasa Latin sebagai Bahasa Gereja?

17

Beberapa alasannya mengapa bahasa Latin digunakan sebagai bahasa universal dalam Gereja Katolik dijelaskan oleh beberapa Paus, sebagai berikut (silakan membaca kutipannya yang lebih lengkap di link ini, silakan klik):

Paus Pius XI (Officiorum Omnium, 1922):

“Gereja – justru karena ia merangkul semua bangsa dan dimaksudkan agar bertahan sampai akhir zaman- secara kodrati mensyaratkan sebuah bahasa yang universal, yang tidak berubah dan yang tidak vernakular.”

Paus Pius XII (Mediator Dei):

“Penggunaan bahasa Latin mengakibatkan kedua hal ini sekaligus: tanda yang jelas akan kesatuan dan penjaga yang efektif melawan menyimpangan dari doktrin yang benar.”

Paus Yohanes XXIII (Veterum Sapientia):

“Dari kodratnya, bahasa Latin sangat cocok untuk memajukan setiap bentuk kebudayaan di antara bangsa-bangsa. Bahasa Latin tidak menimbulkan kecemburuan. Ia tidak memihak kepada negara tertentu, tetapi mempresentasikan dirinya dengan sama rata tidak memihak kepada semua dan dapat diterima oleh semua secara sama rata…… Gereja -karena ia merangkul semua bangsa dan dimaksudkan agar bertahan sampai akhir zaman- secara kodrati mensyaratkan sebuah bahasa yang universal, yang tidak berubah dan yang tidak vernakular. Bahasa modern mudah berubah, dan tak ada satu  [bahasa modern] yang sifatnya superior di atas bahasa yang lain. Jika kebenaran Gereja Katolik dipercayakan kepada beberapa bahasa-bahasa tersebut, makna dari kebenaran ini tidak dapat dinyatakan kepada semua orang dengan kejelasan dan ketepatannya secara cukup memadai. Tak akan ada bahasa yang dapat melayani norma yang umum dan tetap yang olehnya dapat ditentukan arti yang tepat dari suatu interpretasi. Tetapi bahasa Latin sungguh adalah bahasa yang demikian. Latin adalah bahasa yang sudah tetap dan tak berubah. Ia sudah sejak lama berhenti dipengaruhi oleh perubahan-perubahan arti kata-kata yang merupakan akibat normal dari penggunaan sehari-hari dan popular. Akhirnya, Gereja Katolik mempunyai martabat yang melampaui martabat setiap kelompok masyarakat semata, sebab Gereja didirikan oleh Kristus Tuhan. Maka adalah layak, bahwa bahasa yang digunakan harus agung, terhormat, dan tidak vernakular. Sebagai tambahan, bahasa Latin dapat dikatakan sungguh katolik. Bahasa Lain merupakan paspor yang umum menuju pengertian yang benar tentang karya-karya tulis pengarang Kristiani di zaman dahulu, dan dokumen-dokumen Gereja. Ia juga menjadi pengikat yang paling efektif yang mengikat Gereja zaman sekarang dengan Gereja di zaman dahulu dan di masa mendatang dengan kesinambungan yang menakjubkan…..”

Satanisme di Gereja Katolik?

27

Dalam beberapa situs anti Katolik sering dituduhkan bahwa Gereja Katolik adalah anti Kristus. Mereka umumnya tidak tertarik dengan diskusi dogma dan doktrin, namun mereka tertarik dengan begitu banyak isu-isu kontroversial dan konspirasi, yang sering kita jumpai pada karya-karya fiksi. Hal seperti ini bukanlah berita baru, karena serangan terhadap Gereja Katolik terus terjadi. Ada beberapa hal yang pernah dibahas di situs ini, seperti: (silakan klik):

Apakah binatang pertama dalam Why 13= Gereja Katolik?
Apakah Gereja Katolik adalah “the Whore of Babylon”?

Situs anti Katolik ini mungkin mewakili pandangan sebagian saudara- saudari Kristen non- Katolik, yang sebenarnya tidak mengetahui, atau tepatnya salah paham tentang ajaran sesungguhnya dari Gereja Katolik. Pandangan ini menuduh bahwa ada Satanisme dalam Gereja Katolik. Berikut ini adalah tuduhan pada link tersebut (link dihapus):

1. Ada gambar simbol salib terbalik di kursi Paus, seperti terlihat pada kursi Paus Yohanes Paulus II. Dan dengan demikian menuduh Paus sebagai Antikristus.

2. Paus Yohanes Paulus II menggunakan salib yang bengkok/ “Bent Cross“.

3. Klaim Gereja Katolik sebagai “Mother Church” dihubungkan dengan “mother of harlots and abominations of the earth” (Why 17:5), karena ‘mabuk’ darah?

4. Gereja Katolik dituduh bekerjasama dengan Nazi, membunuh jutaan orang Yahudi.

5. Gereja Katolik dituduh terlibat dalam perang/ konflik di Yugoslavia.

6. Gereja Katolik dituduh mengikuti tradisi manusia, yaitu dengan menyembah Maria.

7. Gambar Yesus dalam devosi Kerahiman Ilahi, yang menunjukkan pancaran sinar merah dan putih yang keluar dari Hati Yesus, dikatakan berhubungan dengan lambang segitiga New Age Movement.

Selanjutnya, link itu menyebutkan banyak sekali topik tuduhan terhadap Gereja Katolik, yang juga sudah umum kita dengar. Sebagian besar juga sudah pernah dibahas di situs ini, jadi tidak perlu diulangi lagi di sini.

Berikut ini adalah tanggapan dari kami:

1. Ada gambar simbol salib terbalik di kursi Paus?

Gereja Katolik menggunakan simbol salib terbalik di kursi Paus untuk mengingat bahwa Paus adalah penerus Rasul Petrus, pemimpin Gereja pertama, yang wafat dengan disalibkan terbalik. Menurut kesaksian para Bapa Gereja di abad pertama, Rasul Petrus yang dihukum mati dengan disalibkan, memilih untuk disalib terbalik karena merasa tidak layak untuk mati dengan cara yang sama dengan Kristus. Berikut ini adalah tulisan dari St. Jerome (342-420) berdasarkan penelitiannya terhadap dokumen- dokumen yang mencatat fakta sejarah di Roma:

Simon Petrus,… saudara Andreas Rasul, dan ia sendiri adalah pemimpin para rasul, setelah menjadi uskup di Antiokhia dan pemberitaan kepada kaum Yahudi yang tersebar… di Pontus, Galatia, Kapadosia, Asia dan Bitinia, di tahun kedua pemerintahan Kaisar Claudius, pergi ke Roma untuk mengusir Simon Magus, dan mendirikan di sana tahta suci selama dua puluh lima tahun sampai tahun terakhir Nero, yaitu ke-empat belas. Oleh Nero ia dipaku di kayu salib dan dimahkotai dengan kemartiran, kepalanya di bawah terarah pada tanah, sedangkan kakinya terangkat tinggi, sebab ia berkeras bahwa ia tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhan-nya….Ia dikuburkan di Roma di Vatikan, dekat Via Triumphalis, dan dirayakan dengan penghormatan seluruh dunia.”

Silakan anda memeriksa sendiri di sumber yang netral, misalnya, di Wikipedia tentang bermacam makna Cross ini, dan makna salib terbalik ini juga dicantumkan di sana. Bahwa di abad- abad berikutnya simbol salib terbalik digunakan oleh pengikut Satanisme, itu tidak ada kaitannya dengan Gereja Katolik. Gereja Katolik hanya menggunakan simbol salib terbalik tersebut untuk memperingati kematian Rasul Petrus sebagai martir dan simbol ini digunakan pada kursi Paus, sebagai lambang bahwa kepemimpinan Paus harus mengikuti teladan Rasul Petrus, yang memberikan diri sepenuhnya untuk Tuhan dan Gereja-Nya, sampai rela menyerahkan nyawanya. Jika seseorang memahami makna ini dan mempelajari juga teladan hidup Paus Yohanes Paulus II, maka ia tidak akan pernah mengatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II itu Antikristus.

2. Salib bengkok?

Tongkat berbentuk salib tersebut disebut sebagai crozier, yang melambangkan tongkat gembala, yang menggambarkan otoritas pastoral untuk menggembalakan umat Allah. Penggunaan tongkat gembala berasal dari tradisi para Rasul, dan digunakan secara resmi oleh para uskup (dalam bentuk tongkat dengan ornamen) di jaman Paus Celestine I (422-432). Awalnya bentuknya sepertihalnya tongkat biasa, yang bagian atasnya melengkung ke bawah.

Namun Paus Paulus VI mengubah bentuk tongkat ini, dari bentuk yang tradisional tersebut menjadi bentuk salib. Bentuk tongkat salib ini didesain oleh seorang seniman Italia yang bernama Lello Scorcelli. Tongkat salib yang “bengkok” ini kemudian dipergunakan juga oleh para Paus sesudahnya yaitu Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI. Tidak ada kaitan salib bengkok ini dengan Satanism. Bentuk ini adalah bentuk yang diambil dari sketsa St. Yohanes Salib yang menggambarkan keadaan salib sedemikian, yang secara puitis menggambarkan betapa beratnya beban dosa yang harus ditanggung oleh Yesus sampai salib-Nya pun bengkok menopangnya!

3. “Mother Church = mother of harlots and abominations of the earth” (Why 17:5)?

Ini adalah tuduhan yang sungguh keliru. Pandangan sedemikian diperoleh karena pembacaan Kitab Suci yang dilepaskan dari konteksnya, dan lalu di-interpretasikan menurut pengertian pribadi.

Wahyu 17 memang menceritakan secara simbolis tentang seorang wanita (gunḗ, dalam bahasa Yunani) yang disesatkan, namun perikop ini sendiri menyatakan makna simbolis dari wanita tersebut. Pada ayat ke 18, bahwa wanita itu adalah “kota besar yang memerintah atas raja- raja di bumi”, dan ini tidak mengacu kepada Gereja Katolik sebagai Mempelai Kristus, melainkan kepada kota Roma pada saat kitab Wahyu tersebut dituliskan di abad pertama. Kota Roma saat itu memang merupakan tempat pembunuhan besar- besaran jemaat Kristen, terutama pada jaman pemerintahan Kaisar Nero.

Maka, binatang yang berkepala 7 dan bertanduk 10 itu adalah Kerajaan Roma. 1) 7 gunung di Roma 2) 7 raja-raja Romawi, mulai dari Kaisar Agustus, Tiberius, Gaius, Claudius dan Nero(n), dilanjutkan oleh Vespasian dan Titus. Domitian adalah yang ke-8, ialah yang hidup pada jaman Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu, dan ialah yang dikenal sebagai “Kaisar Nero yang hidup kembali” karena kekejamannya yang menyerupai Nero. Kesepuluh tanduk di sini (seperti yang juga disebutkan dalam Dan 7:7) adalah kerajaan-kerajaan sekutu Roma. Binatang ini juga disebutkan dalam Wahyu 13:1.

Kitab Wahyu dituliskan dengan gaya penyampaiannya yang sarat dengan lambang- lambang sehingga untuk mengartikannya diperlukan pemahaman akan kaitannya dengan dengan ayat- ayat lain dalam Kitab Suci. Dengan cara ini, maka seseorang tidak akan secara tergesa- gesa menyangka bahwa Pelacur besar yang disebut dalam Why 17:5 adalah Gereja Katolik Roma; hanya karena melihat adanya penggunaan warna merah kirmizi dan ungu pada pakaian Paus dan imam- imam Katolik, ataupun menghubungkannya dengan perkataan ‘mabuk’ oleh darah para martir.

Bahwa para kardinal dan para Uskup kadang memakai jubah berwarna merah dan ungu, itu tidak untuk dihubungkan dengan ayat ini. Karena warna merah kirmizi dan ungu dalam liturgi Gereja Katolik itu memiliki arti yang sebenarnya berkaitan dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci. Kita ketahui warna merah kirmizi dan ungu juga menjadi warna- warna yang dipakai pada bait Allah/ kemah suci (lih. Kel 26:1); dan warna- warna yang dipakai oleh para imam suku Lewi (lih. Kel 28:5) pada saat mereka bertugas memimpin jemaat Allah. Warna- warna ini adalah pilihan Allah sendiri bagi imam-Nya dan bagi bait suci-Nya. Para kardinal dan uskup itu adalah para imam yang menjalankan tugasnya sebagai gembala umat Tuhan. Maka kalau Gereja Katolik memakai warna- warna tersebut, itu adalah karena Allah sendiri memilihnya.

Bahwa kemudian warna merah dan ungu tersebut dipilih untuk menjelaskan jubah pakaian wanita dalam Why 17, itu adalah untuk mengkontraskannya dengan jubah putih yang dipakai oleh para martir, yaitu “orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” (Why 7:13-14). Sebab memang oleh darah Kristus, dosa yang merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju (Yes 1:18).

Maka dalam menginterpretasikan ayat Kitab Suci memang kita perlu melihat konteksnya secara keseluruhan, agar tidak keliru. Dari konteksnya saja tidak mungkin Gereja Katolik (jika anda mengartikan perempuan itu sebagai Gereja Katolik) menjadi ‘mabuk’ oleh darah para martir. Gereja Katolik berduka atas penganiayaan dan pembunuhan putra-putrinya oleh pihak penguasa kota Roma, dan tidak mungkin menjadi mabuk/ berpesta pora karenanya.

4. Gereja Katolik dituduh bekerjasama dengan Nazi, membunuh jutaan orang Yahudi.

Ini tuduhan yang tidak benar. Silakan anda membaca artikel ini: “The Truth about Pope Pius XII“, silakan klik untuk memahami fakta yang sesungguhnya. Paus Pius XII tidak pernah mendukung Nazi, dan sesungguhnya beliaupun tidak diam saja melihat ketidakadilan yang terjadi sehubungan dengan holocaust orang- orang Yahudi tersebut.

Dalam khotbah- khotbah publik-nya, permohonannya kepada para pemerintah dan diplomasi yang dilakukannya secara rahasia, Paus Pius XII tetap melakukan usaha untuk membangun perdamaian. Dokumen- dokumen menunjukkan surat- suratnya kepada petinggi Jerman yang menentang Hitler, dan kepada komunitas Yahudi. Ia membayar tebusan para tahanan Yahudi dengan tabungannya sendiri. Bahwa ia tidak dapat secara frontal melawan Hitler, itu disebabkan karena posisi Paus yang sulit, sebab sedikit saja pernyataan yang menjurus ke sana, ditanggapi oleh Hitler dengan pembunuhan umat Katolik, terutama para imam dan religius, dan ini tentu tidak diharapkan oleh Bapa Paus sendiri.

Pernyataan yang cukup menarik datang dari Albert Einstein, seorang Yahudi, yang mengatakan, “Only the Church stood squarely across the path of Hitler’s campaign for suppressing truth. …The Church alone has had the courage and persistence to stand for intellectual truth and moral freedom.” (dalam Majalah Time, 23 Desember 1942) Dan “Church” yang dimaksud di sini adalah Gereja Katolik. Atau pernyataan The New York Times editorial (25 Desember 1942): “The voice of Pius XII is a lonely voice in the silence and darkness enveloping Europe this Christmas… He is about the only ruler left on the Continent of Europe who dares to raise his voice at all.

Nazi sendiri tidak pernah menyukai Paus Pius XII. Pada saat beliau terpilih menjadi Paus, majalah Nazi, Berliner Morganpost (3 Maret 1939) menyatakan, “the election of Cardinal Pacelli is not accepted with favor in Germany because he was always opposed to Nazism.” [“Pemilihan Kardinal Pacelli [menjadi Paus] tidak diterima oleh Jerman, karena ia selalu menentang Nazi”].

5. Gereja Katolik dituduh terlibat dalam perang/ konflik di Yugoslavia.

Terus terang, jika bicara soal perang, akan sulit mencari berita yang obyektif, karena masing- masing kubu akan mencari kesalahan kubu lawannya. Dalam hal konflik ini, mungkin ada baiknya kita melihat pernyataan yang dibuat sendiri oleh kubu- kubu yang bertikai, supaya lebih obyektif. Berikut ini adalah pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin Islam, Katolik dan Orthodox Serbia di Bosnia, pada bulan November 1992:

[t]his is not a religious war, and that the characterization of this tragic conflict as a religious war and the misuse of all religious symbols used with the aim to further hatred, must be proscribed and is condemned.” (selengkapnya klik di sini)

Maka selayaknya kita tidak menghubungkan konflik ini dengan konflik agama, tetapi lebih kepada konflik nasionalisme di kalangan rakyat Yugoslavia, menyangkut ideologi dan teritori, walaupun tanpa terhindari, terdapat juga dimensi religius di sana, karena kubu- kubu yang bertikai mempunyai latar belakang etnis dan agama yang berbeda. Namun mengatakan bahwa segala tindakan pihak Kroatia sebagai tindakan Vatikan, itu merupakan tuduhan tidak berdasar.

6. Gereja Katolik dituduh mengikuti tradisi manusia, yaitu dengan menyembah Maria: ini adalah penyembahan berhala.

Jujur, ini adalah tuduhan klise. Sudah panjang sekali hal ini dibahas di situs ini, dan sebaiknya tidak usah diulangi di sini. Adalah sesuatu yang keliru untuk menyamakan Tradisi Suci para Rasul dengan tradisi manusia. Silakan membaca di jawaban ini-  silakan klik, pada point 3, tentang makna Tradisi Suci.

Silakan kalau belum puas, anda memberikan argumen yang baru tentang hal ini. Sebab topik- topik ini sudah dibahas panjang lebar di tulisan- tulisan berikut ini (silakan klik):

Tanggapan terhadap tuduhan penyembahan Maria
Apakah berhala itu?
Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda MariaPenghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo
Tanggapan terhadap 26 point kesalahpahaman Protestan (bagian ke-1)

Tanya jawab tentang keperawanan Maria
Tanya jawab tentang Maria Ratu surga

Apakah Gereja Katolik menyembah berhala

7. Kerahiman Ilahi berhubungan dengan New Age Movement?

Ini adalah salah satu tuduhan yang paling absurd. Gambar Kerahiman Ilahi merupakan ilustrasi yang dibuat oleh seniman berdasarkan penuturan St. Faustina Kowalska, yang diakui sendiri oleh St. Faustina sebagai tidak dapat dibandingkan dengan keadaan aslinya. Lagipula pancaran sinar itu tidak berbentuk segitiga, kalau mau “dipaksakan” ya mungkin seperti huruf V terbalik. Lagipula, ada beberapa versi lukisan Yesus dalam devosi Kerahiman Ilahi ini, tidak semua berkarakter V terbalik ataupun segitiga. Jadi tuduhan ini sendiri menunjukkan bahwa yang menuduh tidak tahu persis tentang devosi Kerahiman Ilahi.

Devosi Kerahiman Ilahi tidak mempunyai kemiripan sama sekali dengan ajaran New Age. Devosi Kerahiman Ilahi berfokus pada Yesus yang Maharahim, sedangkan New Age fokusnya pada semacam energi yang ada pada setiap manusia. Silakan anda membaca di sini, silakan klik, mengenai tanggapan Gereja Katolik tentang New Age Movement.

Akhirnya, semoga banyak pihak dapat melihat, bahwa pandangan yang menghubungkan Satanisme dengan Gereja Katolik sebenarnya didasari atas kesalahpahaman. Argumen yang dipakai dibangun atas interpretasi pribadi, tanpa melihat ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci, maupun fakta sejarah yang terjadi. Link- link yang jelas anti- Katolik ini seharusnya mendorong kita untuk semakin mempelajari iman Katolik, agar dapat mengetahui bagaimana duduk masalahnya. Kita sebagai umat Kristiani tidak selayaknya saling menuduh sesama saudara dalam Kristus dengan tuduhan yang kejam ini. Gereja Katolik menganggap saudara- saudari Kristen non- Katolik sebagai sesama saudara dalam Kristus karena kita dipersatukan dalam Kristus oleh rahmat Pembaptisan (lihat Unitatis Redintegratio 3). Bahwa sekarang Gereja Katolik banyak dituduh macam- macam oleh sesama saudara dalam Kristus ini, jangan menyurutkan semangat kasih kita, malahan harus semakin meningkatkannya. Sebab justru dengan begitu, kita membuktikan sebagai anggota Gereja yang didirikan, dijiwai dan dihidupkan oleh Kristus sendiri; sehingga dapat mengalahkan segala kebencian dengan kasih.

Latihan Rohani menurut St. Ignatius Loyola

27

Latihan Rohani (Spiritual Exercises) dari St. Ignatius dari Loyola menandai spiritualitas Katolik dengan memberikan semacam cara praktis untuk melakukan meditasi dalam kehidupan rohani bagi mereka yang ingin bertumbuh dalam kekudusan. Dalam karyanya, Spiritual Exercises (SE), St. Ignatius menjabarkan banyak cara untuk berdoa, namun yang paling berpengaruh dan paling dikenal adalah apa yang disampaikannya dalam Latihan Pertama (First Exercise– SE 45-54) di mana imajinasi, ingatan, pemahaman dan kehendak dikerahkan dalam meditasi, dan diakhiri dengan percakapan yang akrab dengan Tuhan (yang disebut colloquy). Dengan cara ini, semua kemampuan jiwa diarahkan untuk masuk ke dalam misteri iman agar misteri tersebut dapat tergabung di dalam kehidupan kita dan hati kita, dan dapat menghasilkan buah, yaitu membuat kita menjadi semakin menyerupai Kristus.

1. Jadi langkah-langkah meditasi secara garis besar menurut St. Ignatius, adalah:

A. Langkah pendahuluan meditasi: Gunakan imajinasi

Langkah pertama dari meditasi apapun selalu adalah menyadari bahwa kita berada di dalam hadirat Allah, dan kita memohon kepada-Nya agar membantu kita melakukan meditasi dengan baik dan menghasilkan buah yang baik bagi pertumbuhan rohani kita; dan kita menyampaikan maksud hati yang murni untuk mengasihi dan melayani Dia dengan lebih baik dan mempersembahkannya untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar lagi.

Langkah berikutnya adalah mendayakan imajinasi kita -yang seringnya juga menyebabkan pelanturan (distraction) saat berdoa- untuk menghadirkan sesuatu yang berhubungan dengan misteri yang ingin kita renungkan dalam doa meditasi itu. Maka, jika kita sedang memeditasikan kisah sengsara Tuhan Yesus, kita harus menggunakan imajinasi untuk membayangkan Kristus Tuhan di Taman Getsemani, di hadapan para ahli taurat, di hadapan Pilatus, pada saat memikul salib, dan ketika akhirnya Ia menyerahkan nyawa-Nya dan wafat bagi kita.

Langkah ketiga adalah untuk memohon kepada Tuhan rahmat khusus atau buah yang kita cari di dalam meditasi itu. Ketika kita sedang merenungkan tentang dosa, maka kita memohon agar kita dapat memperoleh rasa sesal yang mendalam, dan dukacita oleh karena dosa kita karena semua itu merupakan tindakan yang berlawanan dengan kasih kepada Allah dan sesama. Jika kita merenungkan kelahiran Tuhan Yesus, maka kita mohon agar memperoleh sukacita yang mendalam dan rasa syukur sebab Ia telah berkenan menjelma menjadi manusia. Jika kita merenungkan kisah sengsara Kristus, kita mohon agar kita dapat turut merasakan dukacita Kristus, yang rela menderita demi menebus dosa-dosa kita. Jika kita merenungkan tentang kebangkitan-Nya, kita mohon agar diberi suka cita yang besar atas kemenangan Kristus atas dosa dan maut.

B. Dayakan ingatan

Berikutnya adalah dayakan ingatan akan suatu kejadian yang telah berlalu yang ingin kita pikirkan secara mendalam. Dapat saja berupa dosa Adam dan Hawa, atau bahkan dosa-dosa saya sendiri. Atau dapat pula kejadian-kejadian yang ada dalam Injil.

C. Renungkanlah

Setelah kita mendayakan ingatan kita akan suatu kejadian tertentu, lalu ingatan itu mengarahkan pikiran kita untuk menghubungkannya dengan kasih Tuhan, belas kasih-Nya yang tak terbatas, pelanggaran dosa, rasa kurang berterima kasih, dukacita dan pengorbanan Kristus, dst. Kita dapat pula merenungkan tentang pikiran Kristus yang ada di dalam Hati-Nya, hasrat-Nya agar kita mau bekerja sama dengan-Nya dan agar kita dapat hidup kudus. Di samping itu, kita dapat pula merenungkan kelemahan kita, kecenderungan kita akan dosa tertentu, apa panggilan Tuhan terhadap hidup kita, bagaimana caranya untuk melayani Tuhan dengan lebih baik, bagaimana untuk menghindari dosa dan bertumbuh dalam kebajikan.

Renungan ini dapat mendorong kita untuk mengungkapkan kasih kepada Allah, pertobatan, penyesalan, ketetapan hati ataupun resolusi untuk mengubah diri ke arah yang baik, ataupun persembahan diri kepada Tuhan. Atau dapat juga hanya merupakan kontemplasi akan apa yang direnungkan. Sikap-sikap batin ini sangat berharga dalam meditasi.

D. Colloquy

Puncak meditasi adalah percakapan yang intim dan langsung dengan Tuhan, yang disebut oleh St Ignatius sebagai ‘colloquy‘ (SE 63). Doa adalah mengangkat hati kepada Tuhan. Bagian- bagian awal dari meditasi bertujuan untuk mempersiapkan kita membuat percakapan dengan Tuhan dengan akrab, dengan perasaan, pemahaman yang mendalam. Ini adalah saatnya memberikan diri dengan murah hati kepada Tuhan.

St. Ignatius memberi contoh-contoh tentang colloquy yang mengakhiri periode meditasi (30-60 menit). Dalam Latihan Rohani tentang Dosa, colloquy dibuat di hadapan Kristus yang tersalib, yang kita bayangkan hadir di hadapan kita. St. Ignatius mengajarkan kita untuk mulai berkata-kata dengan Dia, dan bertanya kepada-Nya, bagaimana bahwa Ia yang adalah Sang Pencipta telah merendahkan diri begitu rupa sampai menjadi manusia, dan untuk menembus kekekalan menuju kematian di dalam waktu di dunia ini, agar dapat wafat demi menebus dosa-dosa kita. Kitapun harus bertanya pada diri sendiri: “Apa yang dapat kuperbuat untuk Kristus? Apakah yang sedang kuperbuat untuk Dia? Apakah yang harus kuperbuat untuk Kristus?” Ketika kupandang Kristus di dalam sengsara-Nya tergantung di salib, aku harus merenungkan apa yang hadir di pikiran saya tentang hal itu.”

Colloquy harus mendorong keakraban kita dengan Kristus, Allah Bapa, Roh Kudus dan Bunda Maria. Percakapan ini merupakan kesempatan untuk menyampaikan kasih kita kepada Tuhan, dan keinginan kita untuk melayani Dia dan berjalan bersama-Nya. Di dalam colloquy ini kita memohon rahmat untuk: 1) memperoleh pengetahuan dan kebencian akan dosa; 2) memahami ketidakteraturan dari perbuatan pelanggaran kita agar kita dapat memperbaikinya; 3) memperoleh pengetahuan tentang dunia sehingga kita dapat berjuang untuk membuang dari kita segala yang bersifat duniawi dan sia-sia.

2. Prinsip dan pondasi meditasi

Latihan rohani tersebut diawali dengan renungan akan tujuan akhir hidup kita (SE, 23):

“Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan demikian ia memperoleh keselamatan jiwanya. Dan segala sesuatu yang lain di dunia diciptakan untuk manusia dan bahwa mereka dapat membantunya untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya manusia diciptakan. Dari sini, artinya, manusia harus mempergunakan hal-hal duniawi tersebut asalkan hal-hal tersebut dapat membantunya mencapai tujuan akhir-nya, dan ia harus membuang hal-hal tersebut sejauh itu menghalanginya untuk mencapai tujuan akhir. Untuk ini, adalah penting untuk membuat diri kita tidak terikat kepada semua hal yang diciptakan, di dalam segala sesuatu yang diperbolehkan menjadi pilihan bebas kita dan yang tidak dilarang; sehingga di pihak kita, kita tidak menginginkan kesehatan daripada penyakit, kekayaan daripada kemiskinan, penghormatan daripada penghinaan, umur panjang daripada umur pendek, sehingga di dalam segala sesuatu, hanya menginginkan dan memilih apa yang paling kondusif bagi kita untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya kita diciptakan.” (SE, 23)

Di sini St. Ignatius mengajarkan: 1) keutamaan tujuan akhir di dalam setiap pengambilam keputusan; 2) kenyataan bahwa semua hal yang diciptakan adalah hanya merupakan sarana/ alat untuk mencapai tujuan akhir; 3) pentingnya melakukan discernment tentang penggunaan semua hal yang diciptakan; 4) sangat pentingnya ‘interior detachment‘ (ketidakterikatan dalam batin’ yang disebut juga ‘indifference‘) dari semua hal yang diciptakan (termasuk kesehatan, umur panjang, kekayaan, kehormatan, dst; dan 5) kita harus memilih sarana yang paling kondusif untuk mencapai tujuan akhir kita. Dengan kata lain, kita harus memilih apa yang dapat memberikan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan: ad majorem Dei gloriam.

Indifference‘ yang dimaksudkan oleh St. Ignatius adalah sikap batin untuk bertumbuh dalam kebijaksanaan adikodrati, yaitu kebajikan untuk memilih sarana/ cara yang terbaik demi mencapai tujuan akhir, dan juga karunia nasehat, yang olehnya kita membiarkan diri digerakkan oleh Allah untuk memilih sarana yang terbaik untuk mewujudkan rencana-Nya untuk menguduskan kita dan menyempurnakan kita dalam kasih.

3. Struktur Latihan Rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius.

St. Ignatius membagi Latihan Rohani tersebut menjadi empat ‘minggu’. Ini bukan tujuh hari dalam seminggu, tetapi hanya menunjukkan tingkatan dalam perjalanan rohani dan komitmen yang sepenuh hati bagi pelayanan kepada Tuhan.

A. Minggu pertama: Meditasi tentang neraka

Untuk menggambar meditasi tentang neraka, baik jika kita membaca kutipan tulisan St Teresia dari Avila, Life (ch. 32):

“Suatu ketika di dalam doa saya menemukan diri saya, tanpa saya ketahui bagaimana, di dalam keadaan di mana kelihatannya seperti di tengah neraka. Aku mengerti bahwa Allah menghendaki aku melihat di sana sebuah tempat yang disiapkan oleh setan-setan bagi saya, … yang dapat kuterima oleh karena dosa-dosaku…..Di sisi sana ada semacam cekungan di dinding …, di mana saya dimasukkan ke sana dan ditutup dengan rapat…. Aku merasakan api di jiwaku, yang tak kumengerti bagaimana mengungkapkannya…. Kesakitan tubuh yang paling tak tertahankan…. semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jiwa yang merana….sebuah derita kesedihan yang begitu dalam dan dengan dukacita karena ditinggalkan. Sebab untuk mengatakan bahwa jiwa itu dicabut dari akarnya adalah terlalu kecil, sebab sepertinya ada sesuatu yang lain yang mengakhiri hidup kita; tapi di sini jiwa itu sendiri yang nampaknya memotong-motong dirinya sendiri, … terbakar dan hancur menjadi berkeping-keping…. Semuanya menyesakkan, dan tak ada terang, tapi semuanya hitam kelam. Aku tak mengerti bagaimana bisa terjadi, bahwa tanpa terang, semua dapat terlihat dengan pedih… Aku tak tahu bagaimana, tetapi aku mengerti bahwa itu adalah sebuah rahmat dan bahwa Tuhan menghendakiku untuk melihat dengan mata saya sendiri sebuah tempat yang darinya saya telah dibebaskan oleh karena belas kasihan-Nya.”

Maka fase ini adalah waktu untuk merenungkan di dalam hidup kita kasih Allah yang tidak terbatas bagi kita. Kita melihat bahwa tanggapan kita akan kasih Tuhan terhalang oleh dosa. Kita berjuang mengalahkan dosa, sebab kita tahu bahwa Allah ingin membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalangi tanggapan kasih kita kepada-Nya. Fase pertama ini berakhir dengan meditasi tentang panggilan Kristus untuk mengikuti Dia.

B. Meditasi Minggu kedua: Meditasi Kristus sebagai Raja, Dua Standar, dan Tiga Klasifikasi Orang

Meditasi dan doa-doa dari minggu kedua ini mengajarkan bagaimana kita harus mengikuti Kristus sebagai murid-Nya. Di sini kita merenungkan perikop-perikop: Kelahiran Kristus dan Pembaptisan-Nya, khotbah di bukit, mukjizat-mukjizat penyembuhan-Nya dan pengajaran-Nya, membangkitkan Lazarus dari mati. St. Ignatius juga mengajarkan meditasi tentang Kristus sebagai Raja. Prinsip dan pondasi dari meditasi ini adalah untuk mengajarkan kita membuat semua pilihan demi mencapai tujuan akhir, yaitu mengasihi, memuji dan melayani Tuhan. Di sini St. Ignatius mengajarkan kita untuk membuat semua pilihan keputusan kita untuk melayani Kristus Raja yang mengatasi dunia demi kemuliaan Tuhan (SE 91-100). Selanjutnya, St. Ignatius juga mengajarkan meditasi tentang adanya Dua Standar yang berlawanan di dunia, yaitu standar iblis dan standar Kristus (SE 136-147). Meditasi Dua Standar ini dilanjutkan dengan meditasi tentang Tiga Klasifikasi Orang (149-157).

Di meditasi Tiga Klasifikasi orang ini kita merenungkan tiga orang yang memperoleh kekayaan besar dengan cara yang halal. Maka masalahnya bukan masalah dosa. Mereka memperoleh kekayaan ini tanpa memperhitungkan kemuliaan Tuhan ataupun kehendak-Nya. Namun melalui fase minggu kedua ini, ketiga orang itu menginginkan keselamatan jiwa dan damai dari Tuhan karena melaksanakan kehendak-Nya. Mereka telah meninggalkan dosa melalui tahap minggu pertama, dan kini mereka ingin mengetahui kehendak Tuhan bagi mereka. Setelah merenung, mereka mengakui bahwa mereka mempunyai keterikatan yang berlebihan terhadap kekayaan mereka. Namun terdapat tiga kemungkinan reaksi terhadap kesadaran tentang hal itu: 1) tipe orang yang pertama: ingin melepaskan keterikatan yang berlebihan ini, tetapi tidak berhasil karena tidak memilih satu saranapun untuk memeranginya; 2) tipe orang kedua: ingin melepaskan keterikatan yang berlebihan dan melakukan kehendak Tuhan, namun keinginan ini tidak murni, sebab mereka menghendaki Tuhan menyetujui kepemilikan harta mereka; mereka ingin agar kehendak Tuhan sesuai dengan kehendak mereka, bukannya benar- benar terbuka untuk menyesuaikan diri mereka dengan kehendak Tuhan; 3) tipe orang ketiga: melepaskan keterikatannya dengan harta miliknya, “Mereka menghendaki untuk mempertahankan ataupun melepaskannya [harta milik] semata-mata tergantung dari yang Tuhan gerakkan di dalam kehendak mereka, dan juga sesuai dengan apa yang mereka pandang menjadi lebih baik bagi pelayanan dan pujian bagi kemuliaan Ilahi.” (SE 155)

Jadi tujuan meditasi di fase ini adalah: 1) agar kita tidak tuli terhadap panggilan Kristus yang menghendaki kita bekerja bersama Dia, sehingga dengan berjerih payah bersama-Nya, kita dapat masuk pula dalam kemuliaan-Nya. 2) berkarya bersama Tuhan; 3) St. Ignatius mengajarkan hal yang lebih tinggi: yaitu mencapai semangat kebesaran jiwa/magnanimity, yaitu melalui pemberian diri ataupun pengorbanan diri yang total bagi kemuliaan Allah.

Maka menurut St. Ignatius, ketiga hal ini berhubungan dengan tiga tingkat kerendahan hati (SE 165-167): 1) kerendahan hati untuk taat kepada hukum Tuhan di atas segala sesuatu; 2) disposisi ketidakterikatan dengan hal-hal duniawi, kerendahan hati menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Tuhan, seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”; membuang keterikatan terhadap dosa-dosa (bahkan dosa ringan sekalipun) yang disengaja; sehingga demi kasih kepada Tuhan, lebih baik memilih mati daripada dengan sengaja melakukan dosa, bahkan dosa yang ringan; 3) kerendahan hati untuk memilih jalan hidup yang dilalui Kristus sebagai jalan hidupnya sendiri.

Atas dasar ini, seseorang juga dapat memilih jalan hidup panggilan yang ingin ditempuhnya (135, 169-189), yang didasari oleh satu kesadaran bahwa jalan panggilan hidup ini hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir. Ada dua cara yang diajarkan oleh St. Ignatius dalam memilih panggilan hidup:

1.Tiga kondisi yang dapat meyakinkan kita akan kehendak Tuhan dalam hidup kita:

1) Kondisi pertama, (ini jarang terjadi/ extraordinary) bahwa kita sudah dengan sangat yakin; inilah kehendak Tuhan bagi kita.
2) Kondisi kedua: kita sampai pada suatu kejelasan dan pengetahuan tentang apa yang harus kita pilih setelah melalui pengalaman konsolasi dan desolasi.
3) Kondisi ketiga (yang paling umum) adalah ketika kita merasakan damai sejahtera akan pilihan kita tersebut.

2. Empat pertimbangan lain untuk mengetahui kehendak Tuhan:

1) Periksalah, atas dasar kasih kepada siapa yang mendorong kita melakukan hal itu: apakah murni untuk kemuliaan Tuhan ataukah untuk kemuliaan diri kita sendiri.
2) Bayangkanlah jika ada seseorang datang kepada kita meminta saran/ bimbingan akan permasalahan yang sama ini, untuk memberikan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan. Kita membayangkan apakah jawaban kita kepadanya, dan lalu terapkanlah jawaban itu kepada diri kita sendiri.
3) Pikirkan seandainya kita sedang dalam sakrat maut, pikirkan apa yang akan kita pilih pada saat itu sebelum kita memasuki kekekalan.
4) Pikirkan kita pada saat hari penghakiman, dan bagaimana kita berharap telah memutuskan tentang hal itu, agar mencapai pada pemenuhan hasrat batin dan sukacita pada saat penghakiman itu.

C. Meditasi Minggu ketiga (tentang Kisah Sengsara Yesus- Kontemplasi pertama)

Kita merenungkan Perjamuan Terakhir, kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus. Kita melihat bahwa penderitaan-Nya dan rahmat Ekaristi sebagai pernyataan kasih Allah yang paling sempurna.

St. Ignatius menjelaskan tentang rahmat Allah yang diperoleh di minggu ketiga ini mengarahkan kita kepada kontemplasi yang pertama: “Di sini saatnya memohon agar turut merasakan dukacita yang mendalam… karena Tuhan menjalani sengsara-Nya demi dosa-dosa saya.” (SE, 193). Selanjutnya, “Ingatlah betapa Ia menderita semua ini demi dosa-dosa saya… dan juga tanyakan [pada diri sendiri], Apakah yang harus kulakukan bagi-Nya?”.

Saat merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus, adalah layak jika kita memohon, “dukacita bersama Kristus yang berduka cita, hati yang hancur bersama dengan Kristus yang hancur, karunia air mata dan penderitaan batin karena besarnya penderitaan yang telah dipikul oleh Kristus demi aku.” (SE, 203).

D. Meditasi Minggu ke-empat: Kebangkitan Kristus dan penampakan Kristus setelah kebangkitan-Nya kepada Bunda Maria dan para murid-Nya (SE, 218-225)

“Di sini kita memohon rahmat untuk bersukacita dan bergembira dengan sangat oleh karena kemuliaan dan suka cita yang besar dari Kristus Tuhan kita.”(SE, 221)

Setelah meng-kontemplasikan peristiwa-peristiwa mulia, kita merenungkan, “betapa keilahian, yang nampaknya tersembunyi sepanjang kisah sengsara Kristus, kini memperlihatkan diri dan menyatakan dirinya secara ajaib di dalam Kebangkitan-Nya yang kudus ini, melalui akibat-akibat-nya yang sejati dan terkudus.” (SE, 223). Selanjutnya, kita merenungkan, “peran Sang Penghibur yang diutus oleh Kristus dan membandingkannya dengan cara sahabat saling menghibur.”

Pada minggu ke-empat ini kita mengalami penghiburan rohani yang mendalam dan sukacita, peluasan jiwa, dan persatuan yang erat dengan Yesus Kristus, yang menghibur kita dengan akrab. Penghiburan ini memperlengkapi kita untuk meneguhkan pilihan status panggilan hidup ataupun reformasi hidup yang telah dibuat di dalam latihan rohani ini. Sebab pengalaman damai sejahtera rohani yang mendalam merupakan tanda bahwa kita telah dengan benar melihat kehendak Allah bagi kita.

4. Doa di dalam Latihan Rohani

Terdapat dua macam bentuk doa yang diajarkan di Latihan Rohani, yaitu meditas dan kontemplasi. Di dalam meditasi, kita menggunakan pikiran. Kita merenungkan prinsip-prinsip dasar yang membimbing kehidupan kita. Kita berdoa dengan kata-kata, gambar dan ide-ide. Kontemplasi adalah lebih berupa perasaan daripada pikiran. Kontemplasi sering mencampur emosi dan menyalakan keinginan-keinginan yang mendalam. Di dalam kontemplasi, kita mengandalkan imajinasi kita untuk menempatkan diri kita di dalam “setting” peristiwa dalam Injil ataupun dalam kejadian yang diusulkan oleh St. Ignatius. Kita berdoa dengan Kitab Suci, bukan mempelajarinya.

Dengan meditasi dan kontemplasi ini, kita melakukan “discerment of spirits“/ pembedaan roh. Kita melihat pergerakan batin dan melihat ke mana pergerakan itu memimpin kita. Jika kita melakukannya secara rutin, kita akan terbantu dalam membuat keputusan dengan baik. St. Ignatius menekankan pentingnya pemeriksaan batin yang dilakukan secara teratur/ rutin di dalam kehidupan rohani. Jika kita melakukannya secara rutin, jiwa kita akan menyadari akan titik kelemahan kita, dan jika kita terus merenungkannya dan berjuang mengalahkan titik kelemahan itu, maka kita akan dapat memperoleh kebajikan yang menjadi lawan dari titik kelemahan tersebut. Untuk melawan kekurangan tertentu (misalnya, kesombongan, kemalasan, dst), St. Ignatius menyarankan diadakannya pemeriksaan batin dua kali sehari, agar kita dapat menelusuri perkembangan kita mengalahkan kelemahan kita itu.

Demikianlah sekilas tentang ringkasan Latihan Rohani (Spiritual Exercises) yang diajarkan oleh St. Ignatius dari Loyola. Penekanan yang diajarkannya adalah, agar kita dapat menjalankan kehidupan kita di dunia ini dengan mata hati terarah kepada tujuan akhir kita kelak bersama Tuhan di surga. Dengan demikian, dalam segala sesuatu hati kita terdorong untuk melakukan apapun yang dapat mendatangkan kemuliaan yang lebih besar kepada Tuhan: for the greater glory of God, ad majorem Dei gloriam!

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab