Home Blog Page 162

Apakah Hukum Taurat Dibatalkan Yesus?

88

Banyak orang yang bingung tentang apakah Yesus membatalkan atau menggenapi Hukum Taurat. Mat 5:17 menuliskan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Mat 5:17 menuliskan bahwa Yesus tidak membatalkan Hukum Taurat namun Ef 2:15 menyatakan bahwa Yesus membatalkan Hukum Taurat, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Untuk mengerti tentang hal ini, maka kita melihat terlebih dahulu 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama. St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:

  1. Hukum moral
    Hukum moral adalah bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah  10 Perintah Allah. Hukum tersebut mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan digenapi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
    Dalam pengertian inilah maka memang Tuhan Yesus tidak mengubah satu titikpun.
  2. Hukum seremonial
    Hukum seremonial merupakan suatu ekspresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi, berdasarkan prinsip hukum kodrat. Contoh penerapannya adalah: hukum persembahan kurban (Im 1-12), sunat (Kel 17:10, Im 12:3), perpuluhan (Mal 3:6-12), ketentuan penyucian persembahan, tentang makanan, pakaian, dll.Dengan kedatangan Kristus, hukum seremonial tidak diberlakukan sama dengan ketentuan di zaman Musa, karena sudah digenapi di dalam Kristus. Maka yang masih tetap sama adalah jiwa atau  maksud utama diadakannya hukum tersebut, namun cara melakukannya diperbaharui oleh Kristus. Sebab Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kurban Anak Domba Allah bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, persembahan yang paling berkenan kepada Allah adalah kurban Kristus dan kurban kita yang dipersatukan dengan kurban Kristus itu,  sebagaimana dinyatakan dalam sakramen- sakramen Gereja, terutama Ekaristi kudus.

    Demikian pula, ketentuan sunat jasmani diperbaharui oleh Kristus, menjadi sunat rohani (Rm 2:29) yaitu sakramen Baptis. Persembahan perpuluhan dalam Perjanjian Lama disempurnakan oleh perintah untuk memberi persembahan kepada Allah dengan sukacita sesuai dengan kerelaan (lih. 2 Kor 9:7), dengan demikian tidak lagi dengan patokan mutlak sepuluh persen. Sebab  “kerelaan hati dan sukacita” ini malah dapat melebihi dari sepuluh persen, seperti pada hidup para orang kudus, para imam, biarawan dan biarawati, yang mempersembahkan segala yang mereka miliki untuk Tuhan. Mereka mengikuti teladan hidup Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa dan manusia. Demikianlah, hukum seremonial digenapi oleh Kristus dan Gereja-Nya.Jadi, hukum seremonial itu tidak dibatalkan, namun dipenuhi dengan cara yang berbeda, seturut dengan kehendak Kristus yang menurunkannya kepada Gereja. Demikianlah Gereja yang menentukan aturan-aturan sakramen, hal pantang dan puasa, tata tertib liturgi dst. Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) juga tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini).
  3. Hukum yudisial
    Hukum yudisial adalah peraturan yang menetapkan hukuman/ sanksi agar peraturan lainnya dapat dijalankan dengan baik. Contohnya: sanksi jika hukum perpuluhan dilanggar (lih. Bil 18:26,32), pencuri domba harus mengembalikan empat kali lipat (Kel 22:1); hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3); mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21), dst.

    Setelah kedatangan Kristus, hukum yudisial ini tidak berlaku lagi. Demikianlah maka hukuman rajam,  cambuk yang tertulis dalam hukum Lama tidak diberlakukan. Yesus tidak mengajarkan hukum yudisial, karena hal itu telah diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Yesus sendiri tunduk kepada kewenangan otoritas pemerintahan di zaman-Nya, yang akhirnya memutuskan untuk menyalibkan Dia.

    Di masa sekarang, hukum yudisial ditetapkan oleh penguasa/ pemerintah negara yang bersangkutan sebagai perwakilan dari Tuhan. Penggenapan Perjanjian Lama oleh Kristus mengakibatkan dikenalnya nilai-nilai Injil secara universal di seluruh dunia. Oleh nilai-nilai Injil, prinsip martabat hak-hak azasi manusia ditegakkan di negara manapun, oleh pihak otoritas pemerintahan setempat.

    Sedangkan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, sebab Kristus telah memberikan kuasa untuk mengatur Gereja kepada para rasul (lih. Mat 18:18). Disiplin Gereja ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan, contohnya Kitab Hukum Kanonik yang diperbaharui, edisi tahun 1917 ke 1983. Dengan Kristus menggenapi hukum Taurat, tidak lagi dikenal denda, “mata ganti mata dan gigi ganti gigi” (Kel 21:24, Mat 5:58) namun “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39), bahkan, “kasihilah musuhmu” (Mat 5:44). Perintah kasih ini akan dapat lebih kita hayati setelah kita melakukan prinsip keadilan, yang ditekankan dalam Perjanjian Lama. Baru setelah kita menerapkan prinsip keadilan itu, kita ketahui bahwa ajaran Kristus tentang kasih di Perjanjian Baru  ternyata jauh melampaui prinsip keadilan Perjanjian Lama.

Penjabaran di atas menunjukkan bahwa Kristus datang untuk memperbaharui hukum Taurat dalam arti mempertahankan hukum moralnya (yaitu Sepuluh Perintah Allah), namun tidak lagi memberlakukan hukum seremonial dan yudisial-nya. Atau lebih tepatnya, Yesus menggenapi hukum-hukum tersebut secara berbeda, karena hukum-hukum itu hanya merupakan ‘persiapan’ bagi kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus. Namun jiwa yang melatarbelakangi segala ketentuan hukum Taurat, yaitu hukum kasih, tetap berlaku. Bahkan hukum kasih diberlakukan dengan lebih tepat dan ketat, sehingga dapat dikatakan dalam ungkapan metafor bahwa apa yang ditetapkan sebelumnya dalam hukum Taurat, yang merupakan gambaran samar-samar akan kesempurnaan Kristus, tetap berlaku sampai sekecil-kecilnya, bahkan tak ada satu iota (titik pun), yang diubah (lih. Mat 5:18).

Mari kita bersama membaca Kitab Suci dengan selalu memperhatikan kesatuan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Jangan lupa, sekitar 2/3 Kitab Suci terdiri dari Perjanjian Lama; maka terdapat pengajaran-pengajaran di PL yang memang masih sangat relevan bagi kita untuk dikaitkan dengan PB, sehingga kita dapat semakin lebih menghargai dan menghayati penggenapannya di dalam diri Kristus Yesus Tuhan kita. Yesus memang tidak menghendaki siapapun untuk menghilangkan satu titikpun dari hukum Taurat (lih. Mat 5:17-19), sebab Ia ingin agar kita dapat melihat secara utuh penggenapan dan penyempurnaan hukum Taurat itu dalam diri-Nya.

Apakah Arti EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus)?

1

Terjemahan EENS (Extra Eccesiam nulla salus) adalah: di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Banyak orang salah paham dengan ajaran ini, dan menganggap Gereja Katolik ‘arogan‘ karena mengajarkan EENS. Namun sebenarnya kalau kita memahami alasannya, maka kita melihat bahwa Kristuslah yang sesungguhnya memberikan prinsip EENS ini, yaitu: (1) Gereja tidak pernah terlepas dari Kristus; (2) Ajaran iman dan baptisan yang diperlukan untuk keselamatan dipercayakan kepada Gereja; (3) Gereja menjadi sarana keselamatan.

Kristus menyatakan bahwa Dia adalah kepala dan Gereja adalah Tubuh mistik Kristus, serta Dia adalah mempelai pria dan Gereja adalah mempelai wanita (lih. Kol 1:18; Ef 5:22-33). Dengan demikian, kalau Kristus sendiri mendirikan Gereja di atas rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) dan Kristus sendiri mengajarkan monogami – satu pria dan satu wanita dalam perkawinan (lih. Ef 5:31; bdk. Why 21:9) – maka Gereja hanya mungkin satu dan tidak mungkin terpisahkan dari Kristus, sama seperti tubuh tidak terpisahkan dari kepalanya (lih. Ef 5:23).

Kristus mengajarkan perlunya iman dan Pembaptisan untuk keselamatan (lih. Mrk 16:16, Yoh 3:5, Mat 28:19). Dengan demikian Kristus menegaskan perlunya Gereja -yaitu Gereja yang didirikan oleh-Nya di atas Rasul Petrus- yang melaluinya kita memperoleh ajaran iman, baptisan dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya serta menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya. Namun demikian, ajaran ini tidak untuk dipertentangkan dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia (lih. 1 Tim 2:4).

Kita melihat bahwa Kristus ingin menjadikan Gereja menjadi sarana keselamatan. Namun demikian, EENS ini juga harus dimengerti dengan benar, yaitu seperti yang dimengerti oleh Gereja: (a) kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia; dan (b) pentingnya Gereja untuk keselamatan manusia (lih. Dominus Iesus 20). Selengkapnya tentang Deklarasi Dominus Iesus (https://katolisitas.org/3482/dominus-iesus) serta ringkasan penjelasannya di sini: https://katolisitas.org/3489/penjelasan-tentang-deklarasi-dominus-iesus.

Dua hal tersebut harus dimengerti secara seimbang, karena menekankan yang satu dan melupakan yang lain dapat menyebabkan pengertian yang salah. Di satu sisi, memang kita harus melihat bahwa Kristus menginginkan keselamatan bagi seluruh umat manusia (lih. 1Tim 2:4), namun di sisi yang lain, Kristus menghendaki agar keselamatan itu disampaikan kepada semua bangsa oleh Gereja-Nya (lih. Mat 28:1-20). Keselamatan itu diperoleh karena kasih karunia Allah, oleh iman (Ef 2:8) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6); sebab tanpa iman, tidak ada seorangpun yang dapat menyenangkan Allah (lih. Ibr 11:1). Iman yang menjadi syarat mutlak keselamatan ini adalah iman yang adikodrati, yaitu percaya akan adanya Tuhan, yang memberi upah bagi orang yang dengan tulus mencari Dia (lih. Ibr 11:6). Maka orang yang dengan tulus seturut hati nuraninya mencari Allah -yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak sampai kepada pengenalan akan Kristus dan Gereja-Nya, namun hidup dalam kasih yang sempurna – dapat diselamatkan oleh jasa Kristus, karena orang tersebut juga tergabung dalam Gereja-Nya, dalam keinginan (lih. KGK 847; bdk. LG 16).

Namun demikian kita menyadari bahwa Gereja, sebagai Tubuh mistik Kristus – diperlukan untuk keselamatan, karena persatuannya dengan Kristus. Oleh karena itu, bagi orang yang mengetahui bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus dan diperlukan untuk keselamatan, namun tidak mau masuk atau tinggal di dalamnya, maka ia tidak dapat diselamatkan (lih. KGK 846; bdk. LG 14).

Maka Konsili Vatikan II tidak mengubah ajaran EENS (Di luar Gereja tidak ada keselematan) yang sudah berakar sejak abad- abad awal. Namun Konsili Vatikan II menyampaikan rumusan ajaran tersebut dengan kalimat yang berbeda, yaitu dengan kalimat positif, sebagaimana disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik:

“Di luar Gereja tidak ada keselamatan”

KGK 846    Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

KGK 847    Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).

KGK 848    “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.

Ajaran tentang EENS inilah yang mendorong Gereja Katolik untuk melakukan karya-karya misi ke seluruh dunia.

Selanjutnya, yang terhubung dengan Gereja Katolik adalah: 1) Semua orang yang dipanggil ke dalam kesatuan katolik umat Allah; 2) Mereka yang tergabung sepenuhnya dalam serikat Gereja; 3) Mereka yang disebut Kristen walaupun tidak mengakui iman Katolik secara keseluruhan, atau tidak memelihara kesatuan di bawah kepemimpinan Paus sebagai penerus Rasul Petrus.

Selengkapnya, hal ini dijabarkan dalam Katekismus sebagai berikut:

KGK 836    “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).

KGK 837    Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).

KGK 838    “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).

Dasar dari Kitab Suci:

  • Mrk 16:16- Yesus mengajarkan syarat agar orang dapat diselamatkan, yaitu percaya dan dibaptis.
  • Mat 28: 19-20- Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis segala bangsa, dengan demikian menunjukkan peran Gereja sebagai sarana keselamatan.
  • Mat 16:16-19: Yesus mendirikan Gereja di atas rasul Petrus
  • Luk 10:16 – Yesus mengajarkan pentingnya mendengarkan utusan Kristus, yang diwakili oleh Gereja.
  • Ef 5; Ef 5:23 – Gereja adalah tubuh mistik Kristus dan mempelai wanita dengan Kristus sebagai kepala dan mempelai pria.
  • Yoh 3:5- Yesus mengajarkan pentingnya Baptisan untuk keselamatan.
  • 1Tim 2:4- Allah menghendaki semua orang diselamatkan
  • Ibr 11:6- Hanya dengan iman orang dapat berkenan kepada Allah, yaitu iman akan adanya Allah yang memberi upah pada orang yang sungguh mencari Dia

Dasar dari Tradisi Suci:

  • St. Ignatius dari Antiokhia (-67):

“Jangan tertipu, saudara-saudaraku: jika seseorang mengikuti seorang pembuat skisma, ia tidak memperoleh Kerajaan Allah; jika seseorang berjalan di dalam ajaran yang aneh ia tidak mengambil bagian di dalam kisah sengsara (Passio) Kristus. Maka, perhatikanlah, untuk menggunakan satu Ekaristi, sehingga apapun yang kamu lakukan, kamu lakukan sesuai kehendak-Nya: Sebab tubuh Tuhan Yesus Kristus adalah satu, dan satu piala dalam persatuan dengan darah-Nya; satu altar, sebagaimana satu uskup, dengan imam dan… para diakon.” (Letter to Philadelphians 3:3- 4:1)

“…Jika seseorang tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan. Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barangsiapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.” (Letter to Ephesians, 3-5)

  • St. Yustinus Martir (100-165)

“Kami telah diajar bahwa Kristus…. adalah Sang “Logos” yang daripada-Nya semua umat manusia mengambil bagian (Yoh 1:9). Maka, mereka yang hidup menurut akal budi [dalam bahasa Yunani, logos] sesungguhnya adalah orang-orang Kristiani, meskipun mereka dianggap sebagai atheis, seperti orang-orang Yunani, Socrates, Heraclitus dan orang lainnya yang seperti mereka …. Mereka yang hidup sebelum Kristus tetapi tidak hidup menurut akal budi [logos] adalah orang-orang yang jahat dan musuh Kristus …., sedangkan mereka yang hidup saat itu dan saat ini menurut akal budi [logos] adalah orang-orang Kristiani. Orang-orang seperti ini dapat menjadi percaya diri dan tidak takut.” (First Apology 46 [A.D. 151]).

  • St. Irenaeus (130-202)

“Di dalam Gereja, Tuhan telah menempatkan para Rasul, nabi, pengajar dan setiap pekerjaan Roh. Tanpa-Nya [Roh Kudus] tak seorangpun dari mereka mengambil bagian, mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan Gereja, menipu diri mereka sendiri tentang hidup dengan pikiran yang jahat, bahkan lebih buruk dengan cara bertindak. Di mana Gereja berada, di sanalah Roh Allah, di mana Roh Allah berada di sanalah Gereja dengan semua rahmat.” (Against Heresies3:24:1 [A.D. 189])

“[Orang yang spiritual] harus juga menilai mereka yang menyebabkan skisma, yang kekurangan dalam kasih Tuhan, dan yang memperhatikan keuntungan mereka sendiri daripada kesatuan Gereja; dan yang demi alasan yang remeh, atau alasan yang terjadi pada mereka, memotong-motong dan membagi-bagi tubuh Kristus yang agung dan mulia dan di dalam mereka terdapat… orang-orang yang mengumbar perkataan tentang damai, sementara mereka menyebabkan perang, dan benar-benar menapis nyamuk namun menelan unta (Mat 23:24).  Sebab mereka tidak dapat menghasilkan reformasi yang cukup penting untuk menggantikan kejahatan yang ditimbulkan akibat skisma … Pengetahuan yang benar adalah yang terdapat di dalam ajaran-ajaran para Rasul dan konstitusi yang kuno dari Gereja di seluruh dunia, dan pernyataan yang khas tentang tubuh Kristus menurut suksesi para Uskup, yang dengannya mereka telah menurunkan Gereja itu yang telah ada di setiap tempat [yaitu Gereja Katolik].” (ibid., 4:33:7–8)

  • Klemens dari Aleksandria (150-211)

“Sebelum kedatangan Tuhan, filosofi diperlukan untuk justifikasi orang-orang Yunani; sekarang itu berguna untuk kesalehan … sebab filosofi membawa orang-orang Yunani kepada Kristus sebagaimana hukum Taurat membawa orang-orang Yahudi [kepada Kristus] (Miscellanies1:5 [A.D. 208]).

  • Origen (182-254)

“Tak pernah ada waktu di mana Tuhan tidak menghendaki manusia agar menjadi benar …. Sungguh, Ia selalu mengaruniakan orang-orang dengan akal budi dan kesempatan- kesempatan untuk melakukan kebajikan dan melakukan apa yang benar. Di setiap generasi kebijaksanaan Tuhan turun kepada jiwa-jiwa itu yang dipandang-Nya kudus dan membuat mereka menjadi para nabi dan sahabat-sahabat Allah” (Against Celsus 4:7 [A.D. 248]).

“Bahkan jika seseorang dari mereka [yang di luar Gereja] ingin diselamatkan, biarlah ia datang ke rumah ini, sehingga ia dapat memperoleh keselamatan. Biarlah ia datang ke rumah ini, yang di dalamnya darah Kristus adalah tanda penebusan…. biarlah tak seorangpun menipu dirinya sendiri: [sebab] di luar rumah ini, yaitu di luar Gereja, tak seorangpun diselamatkan. Sebab mereka yang pergi ke luar, ia bertanggungjawab terhadap kematiannya sendiri.” (Homiliae in Jesu Nave 3:5; PG 12:841-42). 

  • St. Cyprian (-258):

Bagaimana mungkin seorang yang tidak bersama dengan Mempelai Kristus dan di dalam Gereja-Nya dapat ada bersama dengan Kristus?” (Epistle 52:1).

Salus extra ecclesiam non est” /Tidak ada keselamatan di luar Gereja) (Epistle 72:21).

“Tidak, meskipun mereka harus menderita wafat demi pengakuan Nama-Nya, kesalahan orang-orang tersebut [yang memisahkan diri] tidak terhapus bahkan oleh darah mereka; dosa berat yang tak terhapuskan dari skisma tidak dapat dihapuskan bahkan oleh kemartiran… Tak seorangpun dapat mengklaim nama martir, mereka yang telah mematahkan kasihnya kepada saudara-saudaranya. Ini adalah ajaran Rasul Paulus, “Jika aku menyerahkan tubuhku untuk dibakar, namun aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (The Unity of the Catholic Church, 14)

“Siapapun yang memisahkan diri dari Gereja …. terpisah dari janji-janji Gereja.; ia yang meninggalkan Gereja tidak akan memperoleh penghargaan dari Kristus…Ia tak dapat memiliki Tuhan sebagai Bapanya, yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibunya; …. Siapapun yang menghancurkan damai dan harmoni Kristus, bertindak melawan Kristus; barang siapa mengumpulkan di tempat lain di luar Gereja, mencerai beraikan Gereja Kristus…. Jika seseorang tidak menjaga kesatuan ini, ia tidak menjaga hukum Tuhan, ia telah kehilangan iman akan Bapa, Putera dan ia telah kehilangan hidupnya dan jiwanya” (The Unity of the Catholic Church, 6).

“Jangan mereka berpikir bahwa jalan keselamatan ada bagi mereka, jika mereka menolak untuk taat kepada para uskup dan imam, sebab Tuhan bersabda dalam kitab Ulangan, “Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati.” (Ul 17:12) Dan benarlah, mereka mati oleh pedang… tetapi sekarang mereka yang sombong dan membangkang, dibunuh dengan pedang Roh, ketika mereka keluar dari Gereja. Sebab mereka tidak dapat hidup di luar, sebab hanya ada satu rumah Tuhan dan tidak ada keselamatan bagi setiap orang kecuali di dalam Gereja (Letters 61[4]:4 [A.D. 253]).

“Ketika kami berkata, “Apakah kamu percaya akan kehidupan kekal dan pengampunan dosa melalui Gereja yang kudus?” Kami bermaksud bahwa pengampunan dosa tidak diberikan kecuali di dalam Gereja (ibid., 69[70]:2 [A.D. 253]).

“Rasul Petrus sendiri, yang menunjukkan dan menjunjung tinggi kesatuan, telah memerintahkan dan mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat diselamatkan kecuali dengan baptisan yang satu dari Gereja yang satu itu. Ia berkata bahwa di bahtera Nuh hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan (1 Pet 3:20-21). Di dalam kesimpulan yang begitu ringkas dan rohani, ia telah menentukan sakramen kesatuan! Di dalam baptisan dunia itu, di mana kejahatan di zaman kuno itu dibersihkan, orang yang tidak masuk dalam bahtera Nuh tidak dapat diselamatkan oleh air. Demikian pula tak ada orang yang diselamatkan oleh baptisan, yang tidak dibaptis di Gereja yang didirikan di dalam kesatuan dengan Tuhan menurut sakramen dari bahtera yang satu itu” (ibid., 73 [71]:11).

  • St. Hieronimus (347-420)

“Para bidat/ heretik mendatangkan hukuman atas mereka sendiri, sebab mereka dengan pilihan mereka sendiri menarik diri dari Gereja, penarikan diri yang, karena mereka sadari, mengandung hukuman. Antara heresi dan skisma, terdapat perbedaan: bahwa heresi melibatkan ajaran yang menyimpang, sedangkan skisma memisahkan seseorang dari Gereja karena ketidaksetujuan dengan Uskup. Namun demikian, tak ada skisma yang tidak melebihi heresi untuk men-justifikasi pemisahannya dari Gereja” (Commentary on Titus 3:10–11 [A.D. 386]).

  • St. Agustinus (354-431)

“Kasih yang dibicarakan oleh Rasul Paulus: “Kasih Tuhan dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5) adalah kasih yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang terpisah dari persekutuan Gereja Katolik. Dan untuk alasan ini meskipun mereka dapat “berbicara dengan bahasa-bahasa manusia maupun malaikat” (1Kor 13:1-3), hal itu tak berguna baginya. Sebab orang yang tidak mengasihi kesatuan Gereja tidaklah memiliki kasih Tuhan…” (De Baptismo 3:10,13; CSEL 51:212)

Seseorang tidak dapat memperoleh keselamatan, kecuali di dalam Gereja Katolik. Di luar Gereja Katolik ia dapat memperoleh apapun kecuali keselamatan. Ia dapat memperoleh kehormatan, sakramen-sakramen, ia dapat menyanyikan alleluia, ia dapat menjawab amen, ia dapat memiliki Injil, ia dapat berkhotbah tentang iman di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus, tetapi tidak ada tempat lain selain di dalam Gereja Katolik ia dapat menemukan keselamatan.” (Discourse to the People of the Church at Caesarea, 6)

Kita percaya juga akan Gereja yang kudus, yaitu Gereja Katolik. Sebab para bidat/ heretik melanggar iman sendiri dengan pendapat yang salah tentang Tuhan; namun demikian, para skismatik, menarik diri dari kasih persaudaraan dengan pemisahan yang menantang, meskipun mereka percaya akan hal-hal yang sama dengan kita. Akibatnya, tidak ada heretik maupun skismatik yang termasuk dalam Gereja Katolik;  heretik tidak termasuk, karena Gereja mengasihi Tuhan; dan skismatik tidak termasuk, karena Gereja mengasihi sesama.” (Faith and the Creed 10:21 [A.D. 393]).

“Mereka yang karena ketidaktahuannya, dibaptis di sana [di kelompok skismatik], dengan berpikir bahwa kelompok itu adalah gereja Kristus, melakukan kesalahan serius yang derajatnya lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka [yang menyebabkan skisma]; namun demikian mereka juga terluka oleh sakrilegi skisma….” (De Baptismo 1:5,6; CSEL 51:152)

“Rasul Paulus mengatakan: “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.” (Tit 3:10). Tetapi mereka yang mempertahankan pandangan mereka, bagaimanapun salah dan menyimpangnya, namun tanpa berkeras dengan kehendak yang jahat, terutama mereka yang tidak memulai kesalahan [ajaran sesat] itu dengan praduga yang menentang ketentuan, tetapi yang menerimanya dari orang tua yang telah disesatkan dan telah menyimpang …. mereka yang mencari kebenaran dengan usaha yang sungguh-sungguh dan siap untuk dikoreksi ketika mereka telah menemukannya, tidak termasuk dalam golongan heretik/ bidat.” (Epistle 43:1; CSEL 34,2:85)

“Tetapi dapat terjadi beberapa dari orang-orang itu [yang sekarang terpisah] menjadi anggota kita di dalam rahasia pengetahuan Allah; adalah penting bahwa mereka harus kembali kepada kita. Betapa banyak mereka yang tidak menjadi anggota kita yang kelihatannya masih ‘di dalam’ dan betapa banyak orang yang menjadi anggota kita yang kelihatannya seperti ‘di luar’ kita. Dan mereka yang di dalam kita namun bukan anggota kita, ketika suatu kejadian terjadi, akan keluar; dan mereka yang menjadi anggota kita, tetapi sekarang berada ‘di luar’, ketika mereka memperoleh kesempatan, akan kembali.” (Enarr. in Psalms 106:14, CCL 40:1581)

“Saya tak ragu untuk meletakkan seorang katekumen Katolik, yang menyala dengan kasih ilahi, lebih tinggi dari seorang heretik yang sudah dibaptis. Bahkan di dalam Gereja Katolik sendiri, kita menempatkan katekumen yang baik lebih maju daripada orang yang sudah dibaptis namun jahat… Sebab Kornelius, bahkan sebelum baptisannya, telah dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 10:44-48), sedangkan Simon Magus, bahkan setelah baptisannya, menjadi sombong dengan roh yang najis” (Acts 8:13–19).” (ibid., 4:21[28]).

“Barangsiapa telah memisahkan diri dari Gereja Katolik, tak peduli betapa patut dipuji kehidupannya, tidak akan memperoleh hidup kekal ….sebab ia telah meninggalkan kesatuannya dengan Kristus” (Epistle 141).

Dasar dari Magisterium:

  • Paus St. Gregorius Agung (590-604), Moralia: “Kini Gereja universal yang kudus menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat benar-benar disembah kecuali di dalam diri Gereja sendiri, sambil meneguhkan bahwa mereka semua yang tanpa Gereja tidak pernah dapat diselamatkan.”
  • Paus Sylvester II, Pernyataan Iman, 991: “Aku percaya bahwa di dalam Baptisan semua dosa diampuni, dosa asal maupun dosa pribadi, dan aku mengakui bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada seorangpun diselamatkan.” 
  • Paus Innocentius III, Konsili Lateran ke 4, 1215: “Hanya ada satu Gereja universal bagi umat beriman, yang di luarnya tak ada seorangpun diselamatkan.”
  • Paus Bonifasius VIII, Bulla Unam Sanctam, 1302: “Kami diharuskan karena iman kita untuk percaya dan melestarikan bahwa hanya ada satu Gereja Katolik yang kudus, dan [Gereja] itu bersifat apostolik. Ini kami percaya dengan teguh dan kami maklumkan tanpa kondisi persyaratan. Di luar Gereja ini tidak ada keselamatan dan penghapusan dosa…. [Gereja] yang menyatakan satu tubuh mistik yang kepalanya adalah Kristus, sungguh milik Kristus, sebagai Tuhan. Dan di dalam ini, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Ef 4:5). Tentulah Nabi Nuh mempunyai satu bahtera pada zaman air bah, yang melambangkan satu Gereja yang sempurna dalam satu ukuran dengan mempunyai seorang pengatur dan pembimbing, yaitu Nabi Nuh, yang di luarnya kita semua membaca, semua mahluk hidup dihancurkan …. Kami menyatakan, mengatakan, menetapkan, dan mengumumkan bahwa adalah mutlak penting bagi keselamatan setiap manusia untuk berada di bawah pengaturan Imam Agung Roma.”
  • Konsili Florence (1439): “Semua yang ada di luar Gereja Katolik … tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal …. kecuali mereka bergabung dengan Gereja Katolik sebelum hidup mereka berakhir…. tak seorangpun dapat diselamatkan, tak peduli berapa banyak ia memberi derma dan bahkan jika ia menumpahkan darahnya di dalam nama Kristus, kecuali ia tetap bertahan di dalam pangkuan dan kesatuan dalam Gereja Katolik.”
  • Paus Leo XII (1823-1829), surat ensiklik Ubi Primum: “Adalah tidak mungkin bagi Tuhan yang sangat benar –yang adalah Kebenaran itu sendiri, yang terbaik, Penyelenggara yang paling bijaksana, dan pemberi upah kepada orang-orang baik– untuk menyetujui semua sekte yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat yang seringnya tidak konsisten satu sama lain dan saling bertentangan, dan untuk memberikan penghargaan kekal kepada anggota-anggotanya. Sebab kita mempunyai perkataan yang lebih pasti dari sang nabi, dan dengan menulis kepadamu, Kami membicarakan kebijaksanaan di antara yang sempurna; bukan kebijaksanaan dunia ini, tetapi kebijaksanaan Tuhan di dalam misteri. Olehnya kami diajarkan dan oleh iman ilahi kami berpegang kepada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan bahwa tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia kecuali nama Yesus Kristus dari Nasareth yang di dalamnya kita diselamatkan. Inilah mengapa kami menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja …. Sebab Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Dengan acuan kepada perkataan-perkataan St. Agustinus: “Jika seseorang ada di luar Gereja, ia tidak akan termasuk dalam bilangan anak-anak, dan tidak akan mempunyai Tuhan sebagai Bapa, sebab ia tidak mempunyai Gereja sebagai ibu.”
  • Paus Gregorius XVI (1831-1846), ensiklik Summo Iugiter Studio, 1832, “Kamu mengetahui betapa bersemangatnya para pendahulu Kami mengajarkan tentang artikel iman itu yang dengan beraninya orang-orang ini mengingkari, yaitu pentingnya iman Katolik dan kesatuan bagi keselamatan. Perkataan seorang murid para Rasul, St. Ignatius Martir, dalam suratnya kepada jemaan di Filadelfia menjadi relevan dalam hal ini. “Jangan sampai tertipu, saudaraku; jika seseorang mengikuti skismatik, ia tidak akan memperoleh warisan Kerajaan Allah.” Lebih lanjut St. Agustinus dan para uskup Afrika lainnya yang bertemu di Konsili Cirta tahun 412, menjelaskan hal yang sama dengan lebih panjang, “Barangsiapa telah memisahkan diri dari Gereja Katolik, tak peduli betapa patut dipuji kehidupannya, tidak akan memperoleh hidup kekal ….sebab ia telah meninggalkan kesatuannya dengan Kristus’ (Epistle 141)….. Kita patut memuji St. Gregorius Agung, yang memberi kesaksian bahwa ini adalah sungguh ajaran Gereja Katolik…: “Gereja universal yang kudus mengajarkan bahwa tidaklah mungkin untuk menyembah Tuhan dengan benar, kecuali di dalam Gereja, dan menyatakan bahwa semua yang di luar Gereja tidak akan diselamatkan.” (Moral in Job, 16.5). Akte-akte resmi Gereja memaklumkan dogma yang sama. Maka, di dalam dekrit iman yang dipublikasikan oleh Paus Innocentius III dan Sinoda Lateran IV, ….”Hanya ada satu Gereja universal orang beriman, yang di luarnya tak ada seorangpun diselamatkan.” Akhirnya, dogma yang sama disebutkan di dalam pernyataan iman… tak hanya yang digunakan oleh Gereja-gereja Latin (Credo Konsili Trente), tetapi yang juga digunakan oleh Gereja Ortodoks Yunani… dan yang digunakan oleh Gereja Katolik Timur …. Kami sangat prihatin tentang dogma yang serius dan telah dikenal ini, yang telah diserang dengan keberanian yang sedemikian mengagumkan, bahwa Kami tidak dapat menahan pena Kami untuk meneguhkan kembali kebenaran ini dengan banyak kesaksian.”
  • Paus Pius IX (1846-1878), Singulari Quadam, 1854: “Bukannya tanpa duka cita kami telah mengetahui bahwa kesalahan yang lain,…. telah diyakini oleh sebagian dunia Katolik, dan telah mengambil tempat kediaman di jiwa banyak umat Katolik, yang berpikir bahwa seseorang telah mempunyai pengharapan keselamatan kekal akan semua orang yang tidak pernah hidup di dalam Gereja Kristus yang sejati …. Tetapi sebagai tugas Apostolik Kami, kami mengharapkan agar kewaspadaan episkopal dibangkitkan, sehingga kamu akan bekerja keras semampumu, untuk mengenyahkan dari pikiran orang-orang yang tidak saleh dan pikiran yang sama fatalnya, yaitu bahwa jalan keselamatan kekal dapat ditemukan di agama manapun juga. Semoga kamu dapat membuktikan dengan kemampuan dan pengetahuan yang kamu sungguh kuasai, kepada orang-orang yang dipercayakan kepadamu, bahwa dogma iman Katolik tidaklah bertentangan dengan belas kasihan ilahi dan keadilan ilahi.”
    Sebab harus dipegang oleh iman bahwa di luar Gereja Roma yang Apostolik, tak seorangpun dapat diselamatkan; bahwa ini adalah satu-satunya bahtera keselamatan… tetapi, di sisi lain, juga perlu dipegang dengan yakin, bahwa mereka yang bekerja keras di dalam ketidaktahuan akan agama yang sejati, jika ketidaktahuan ini tidak terhindarkan (invincible), tidak akan dianggap bersalah tentang ini di mata Tuhan. Kini kenyataannya, siapa mau mengasumsikan begitu banyak menurut dirinya sendiri untuk menentukan batas-batas ketidaktahuan itu, oleh karena kodrat dan keberagaman bangsa, daerah, sikap batin, dan tentang begitu banyak hal lainnya? Sebab kenyataannya, ketika dibebaskan dari belenggu kesementaraan dunia, “kita akan melihat Tuhan sebagaimana adanya Ia” (1 Yoh 3:2), kita akan dengan sempurna memahami betapa dekat dan indahnya ikatan belas kasihan dan keadilan ilahi disatukan; tetapi selama kita berada di dunia, terbeban oleh  tubuh yang fana yang menumpulkan jiwa, biarlah kita memegang dengan sangat teguh bahwa sesuai dengan ajaran Katolik, terdapat “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” (Ef 4:5); adalah bertentangan dengan hukum untuk melanjutkan penyelidikan lebih jauh.”
    “Tapi, seperti tuntutan jalan cinta kasih, marilah kita terus mengajukan doa-doa agar semua bangsa di manapun dapat menerima Kristus; dan mari kita mengarahkan perhatian kepada keselamatan bersama bagi manusia sesuai dengan kekuatan kita, “sebab tangan Tuhan tidak terlalu pendek” (Yes 9:1) dan karunia-karunia rahmat ilahi tidak akan kurang bagi mereka yang dengan tulus mengharapkan dan memohon agar disegarkan oleh terang ini.”
  • Paus Pius IX, Singulari Quidem, 1856: “Ajarkan bahwa sepertihalnya hanya ada satu Tuhan, satu Kristus dan satu Roh Kudus, maka hanya ada satu kebenaran yang diwahyukan secara ilahi. Hanya ada satu iman ilahi yang menjadi awal keselamatan bagi umat manusia dan dasar bagi semua justifikasi, iman yang olehnya orang benar hidup dan yang tanpanya tidak mungkin [seseorang] menyenangkan Tuhan dan masuk dalam komunitas anak-anak-Nya (Rom 1, Ibr 11, Konsili Trente, sesi 6, bab 8). Hanya ada satu Gereja yang sejati, kudus, Katolik, yaitu Gereja Roma yang Apostolik. Hanya ada satu Tahta yang didirikan di atas Petrus oleh sabda Tuhan (St. Cyprian, Epistle 43), yang di luarnya kita tidak dapat menemukan baik iman yang sejati ataupun keselamatan kekal. Ia yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibu tidak dapat mempunyai Tuhan sebagai bapa dan siapapun yang mengabaikan Tahta Petrus yang di atasnya Gereja didirikan, salah percaya bahwa ia ada di dalam Gereja (ibid, On Unity of the Catholic Church)…. Di luar Gereja, tak seorangpun dapat berharap untuk hidup atau keselamatan, kecuali ia dibenarkan (excused) melalui ketidaktahuan yang di luar kendalinya.”
  • Paus Pius IX (1846-1878) Ensiklik Quanto conficiamur moerore, 1863: “Dan di sini,…. Kami harus menyebutkan lagi dan mengecam kesalahan yang sangat berat di mana beberapa umat Katolik telah dengan salah memahami, yang percaya bahwa orang-orang yang hidup dalam kesesatan dan terpisah dari iman yang sejati dan kesatuan Katolik, dapat mencapai kehidupan kekal. Sungguh, ini jelas bertentangan dengan ajaran Katolik. Telah diketahui oleh Kami dan oleh kamu bahwa mereka yang berkerja keras di dalam ketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) tentang agama kita yang tersuci dan yang dengan sungguh-sungguh menaati hukum kodrat dan ketentuannya yang diukirkan di dalam hati semua orang oleh Tuhan, dan yang siap sedia menaati Tuhan, yang hidup dalam kehidupan yang jujur dan lurus, dapat, dengan kuasa terang ilahi dan rahmat ilahi yang bekerja, memperoleh kehidupan kekal, sebab Tuhan yang dengan jelas melihat, menyelidiki, dan mengetahui pikiran-pikiran, jiwa, kebiasaan-kebiasaan semua manusia, oleh karena kebaikan-Nya dan belas kasih-Nya yang besar, tidak akan membuat seorangpun menderita untuk dihukum dengan siksa abadi, ia yang tidak bersalah karena dosa yang disengaja. Tetapi, dogma Katolik bahwa tak seorangpun dapat diselamatkan di luar Gereja Katolik telah dengan baik dikenal; dan juga bahwa mereka yang berkeras melawan otoritas dan ajaran-ajaran definitif Gereja yang sama, dan yang dengan keras kepala memisahkan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja, dan dari Imam Agung Roma –penerus Rasul Petrus yang kepadanya ‘penjagaan pokok anggur telah dipercayakan oleh Sang Penyelamat’ (Konsili Kalsedon, Letter to Pope Leo I)– tidak dapat memperoleh keselamatan kekal. Perkataan Kristus cukup jelas, “Dan jika ia tidak mendengarkan jemaat, perlakukanlah ia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai’ (Mat 18:17); ‘Ia yang mendengarkan kamu, mendengarkan Aku, dan ia yang menolak kamu, ia menolak Aku dan ia yang menolak Aku, menolak Bapa yang mengutus Aku’ (Luk 10:16); ‘Ia yang percaya tidak akan dihukum (Mrk 16:16); ‘Ia yang tidak percaya telah berada di bawah hukuman (Yoh 3:18)’ ‘Ia yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan ia yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan’ (Luk 11:23). Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang seperti ini adalah ‘sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri (Tit 3:11); Pemimpin para Rasul menyebutnya sebagai “nabi-nabi palsu … yang memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, dan menyangkal Tuhan yang menebus mereka: dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” (2 Ptr 2:1)
  • Konsili Vatikan I (1868-1870) – sebagaimana dikutip kembali dalam KGK 161: “Percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutus-Nya demi keselamatan kita adalah perlu supaya memperoleh keselamatan (Bdk. misalnya Mrk 16:16; Yoh 3:36; 6:40). “Karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6) dan sampai kepada persekutuan anak-anak-Nya, maka tidak pernah seorang pun dibenarkan tanpa Dia, dan seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak ‘bertahan sampai akhir’ (Mat 10:22; 24:13) dalam iman” (Konsili Vatikan I, Dei Filius 3, DS 3012, Bdk. Konsili Trente: DS 1532 )
  • Paus Leo XIII (1878-1903), Ensiklik Annum Ingressi Sumus: “Ini adalah pengajaran terakhir kami kepadamu; terimalah ini, ukirkanlah di dalam sanubarimu, … oleh perintah Tuhan, keselamatan harus ditemukan tidak di manapun kecuali di dalam Gereja.”
  • Paus St. Pius X (1903-1914), Ensiklik Jucunda Sane: “Adalah tugas kami untuk mengingatkan setiap orang… sebagaimana dilakukan oleh Paus Gregorius di abad-abad lalu, kepentingan yang mutlak yang adalah milik kita, untuk berlindung di bawah Gereja ini untuk memperoleh keselamatan kekal kita.
  • Paus Pius XI (1922-1939), Ensiklik Mortalium Animos: “Hanya Gereja Katolik yang melestarikan penyembahan yang sejati. Ini adalah mata air kebenaran, ini adalah rumah iman, ini adalah bait kediaman Allah; jika seseorang tidak masuk ke sini, atau pergi meninggalkannya, ia menjadi orang asing bagi harapan akan hidup ilahi dan keselamatan …. Selanjutnya, di dalam satu Gereja Kristus, tak seorangpun dapat atau tetap tinggal [di dalamnya], yang tidak menerima atau mengenali dan menaati otoritas dan keutamaan Petrus dan para penerusnya yang sah.”
  • Paus Pius XII, 1943, menjelaskan maksud pernyataan Paus Bonifasius VIII ini dalam surat ensikliknya Mystici Corporis, demikian: “Tapi kita tidak boleh berpikir bahwa Ia [Kristus] memerintah hanya secara tersembunyi atau hanya dengan cara yang luar biasa. Sebaliknya, Penebus kita juga memerintah Tubuh Mistik-Nya di dalam cara yang kelihatan dan normal melalui Wakil-Nya di dunia. Kamu mengetahui, saudara-saudaraku yang terhormat, bahwa setelah Ia sendiri memerintah “kawanan kecil” sepanjang perjalanan hidupnya di dunia, Kristus Tuhan kita, ketika hampir meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa, mempercayakan kepada Pimpinan para Rasul pemerintahan yang kelihatan akan keseluruhan komunitas yang telah didirikan-Nya. Karena Ia sepenuhnya bijaksana, Ia tidak dapat meninggalkan tubuh Gereja yang didirikan-Nya sebagai perkumpulan manusia tanpa kepala yang kelihatan (visible head). Tidak juga melawan ini, seseorang dapat berargumen bahwa keutamaan otoritas kepemimpinan yang didirikan di Gereja, memberikan kepada Tubuh Mistik Kristus dua buah kepala. Sebab keutamaan Petrus adalah hanya [sebagai] wakil Kristus; sehingga hanya ada satu Kepala pemimpin di dalam Tubuh ini, yaitu Kristus, yang tidak pernah berhenti untuk membimbing Gereja secara tidak kelihatan, meskipun pada saat yang sama Ia mengatur secara kelihatan, melalui dia yang menjadi wakil-Nya di dunia. Setelah Kenaikan-Nya yang mulia ke Surga, Gereja ini tidak hanya berdiri di atas Dia sendiri, tetapi di atas Petrus, juga, sebagai batu pondasi yang kelihatan. Bahwa Kristus dan wakil-Nya membentuk hanya satu Kepala adalah ajaran agung dari Pendahulu Kami yang kenangannya tetap hidup, Paus Bonifasius VIII dalam surat Apostoliknya Unam Sanctam, dan para penerusnya telah tidak berhenti mengulangi yang sama (Mystici Corporis 40).
    Oleh karena itu, mereka berjalan di jalur kesalahan yang berbahaya, [yaitu mereka] yang percaya bahwa mereka dapat menerima Kristus sebagai Kepala Gereja, namun tidak melekat secara setia kepada Wakil-Nya di dunia. Mereka telah mengesampingkan kepala yang kelihatan, memecahkan ikatan-ikatan kesatuan yang kelihatan dan meninggalkan Tubuh Mistik Sang Penebus sedemikian samar-samar dan cacat, sehingga mereka yang mencari tempat pelabuhan keselamatan kekal tidak dapat melihatnya ataupun menemukannya….” (Mystici Corporis 41)
    “…. mereka yang tidak menjadi bagian dalam Tubuh Gereja Katolik yang kelihatan…. Kami memohon kepada setiap orang dari mereka untuk menanggapi gerakan-gerakan rahmat di dalam batin, dan untuk menarik diri dari keadaan tersebut, di mana mereka tidak dapat menjamin keselamatan mereka (lih. Pius XI, Iam Vos Omnes, 1868). Sebab meskipun oleh hasrat yang tak disadari dan kerinduan untuk memiliki hubungan tertentu dengan Tubuh Mistik Penebus, mereka tetap kurang dapat memperoleh banyaknya karunia dan pertolongan surgawi yang dapat diterima hanya di dalam Gereja Katolik.” (Mystici Corporis, 103)
  • Katekismus Gereja Katolik: KGK 846-848, 836-838 :

KGK 846    Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

KGK 847    Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).

KGK 848    “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.

KGK 836    “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).

KGK 837    Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).

KGK 838    “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).

  • Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium: LG 14 dan 16, sebagaimana telah disampaikan di kutipan Katekismus di atas.
  • Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Ekumenisme, Unitatis Redintegratio, 3, “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, yang seringnya karena kesalahan orang- orang di kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, meskipun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan- perbedaan yang ada dalam derajat yang berbeda di antara mereka dan Gereja Katolik-  baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, memang menciptakan banyak hambatan, kadang menjadi hambatan yang serius, terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan.Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya menjadi milik Gereja Kristus yang tunggal.Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran dalam arti yang sepenuhnya, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai komunitas dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang Katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah. Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.”
  • Paus Yohanes Paulus II, dengan otoritas apostolik menyetujui Deklarasi Dominus Iesus, 2000, yang menyimpulkan:
    “Di atas segalanya, haruslah diimani dengan teguhbahwa “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya’. Ajaran ini harus tidak ditempatkan berlawanan dengan kehendak keselamatan Tuhan yang bersifat universal: Gereja yang satu adalah pengantara dan jalan keselamatan (cf. 1 Tim 2:4); “Adalah penting untuk menjaga dua kebenaran ini bersama-sama, yaitu, kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia dan pentingnya Gereja untuk keselamatan ini.”Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang”, karena, selalu bersatu secara misterius dengan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Kepalanya, dan tunduk kepada-Nya, ia mempunyai, di dalam rencana Tuhan, sebuah hubungan yang sangat diperlukan dengan keselamatan setiap manusia. Bagi mereka yang bukan merupakan anggota resmi dan yang kelihatan (visible) dari Gereja, “keselamatan di dalam Kristus dicapai dengan kebajikan rahmat, yang ketika mempunyai hubungan yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi bagian dari Gereja, tetapi [rahmat ini] menerangi mereka di dalam cara yang diakomodasikan dengan situasi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; rahmat ini adalah hasil dari kurban-Nya dan disampaikan oleh Roh Kudus”; ia [rahmat ini] mempunyai sebuah hubungan dengan Gereja, yang “berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (Dominus Iesus, 20)

Diskusi lebih lanjut ada di:

https://katolisitas.org/2009/08/04/apakah-yang-diselamatkan-hanya-orang-katolik-dan-yang-lainnya-pasti-masuk-neraka

https://katolisitas.org/2009/05/26/apakah-orang-katolik-dijamin-pasti-selamat

https://katolisitas.org/2008/12/17/siapa-saja-yang-dapat-diselamatkan

https://katolisitas.org/9003/adakah-bapa-gereja-di-abad-abad-awal-yang-berpandangan-sedikit-terbuka-tentang-eens

https://katolisitas.org/1507/apa-itu-implicit-desire-for-baptism

https://katolisitas.org/2024/baptisan-rindu-menurut-st-thomas

https://katolisitas.org/3482/dominus-iesus

https://katolisitas.org/3489/penjelasan-tentang-deklarasi-dominus-iesus

Pewarta Injil harus waspada,jangan sampai ia sendiri tidak diselamatkan

0

Kitab Suci mengajarkan agar para pewarta Injil waspada, agar jangan sampai, setelah mereka mewarta, malah justru mereka tidak diselamatkan. Maka hal yang perlu diingat bagi kita semua yang mau mewartakan Injil, yaitu:

1. Jangan sampai kita hanya mewartakan Injil saja dengan kata-kata, tetapi kita sendiri tidak melaksanakannya.

Tuhan Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21)

Sebab jika demikian kita menjadi seperti orang Farisi yang dikecam Yesus:

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya….. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk” (Mat 23:2-13)

Maka tantangan untuk melaksanakan apa yang diwartakan itu adalah tantangan para pewarta/ para pengajar iman, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus:

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1Kor 9:27)

2. Wartakan Injil yang sama dengan Injil yang diwartakan oleh para Rasul, sebab jika tidak hal itu tidak menghantar kita ke surga.

Maka, penting agar kita mengajarkan Injil yang sesuai dengan yang diajarkan oleh para rasul, dan bukan menurut interpretasi kita pribadi. Itulah sebabnya penting bagi para pengajar Katolik, untuk mempelajari apa pengajaran Magisterium Gereja sebagai para penerus Rasul dalam menginterpretasikan Injil.

“Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima….. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” (2 Kor 11:4, 13-15)

3. Jangan mewartakan Injil demi mencari untung/ kesenangan duniawi:

Para rasul memperingatkan jemaat agar waspada terhadap guru-guru/ pengajar palsu yang mencari untung dan kesenangan duniawi. Para rasul mengingatkan jemaat akan tanda pengajar sejati, yaitu yang mengikuti teladan para Rasul:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.” (2 Ptr 2:3)

“Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Kol 3:17-19)

4. Jika kepada kita dipercayakan lebih banyak, maka kita dituntut lebih banyak.

Nampaknya kita harus mengingat selalu bahwa dalam hal iman, berlaku ketentuan ini:

“Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

5. Di atas semua itu, kita harus memiliki sikap kerendahan hati.

Di atas semua karya mewartakan Injil, harus dimiliki kerendahan hati agar terhindar dari sikap mencari perhatian terhadap diri sendiri dan bukannya mengarahkan perhatian kepada Kristus. Kita sendiri harus dengan takut dan gentar berjuang agar setia beriman sampai akhir.

Rasul Paulus mengatakannya demikian:

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir….. (Flp 2:12)

Ia sendiri memberi contoh, bahwa ia sendiri mempunyai sikap yang sama dalam mengerjakan keselamatannya:

“Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar…. (1Kor 2:3)”

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Flp 3:12-14)

Yohanes Pembaptis mengajarkan kepada kita teladan imannya dalam hal ini yaitu, dalam mewartakan Kerajaan Allah, biarlah nama Tuhan yang semakin besar, dan bukan nama kita yang mewartakan:

“Ia [Kristus Sang Mesias] harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30)

Apa pengertian doa dan meditasi? Apa beda keduanya?

7

Apa pengertian doa dan meditasi? Apa beda keduanya?

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan beberapa pengertian tentang doa, demikian:

KGK 2558    …. Umat beriman harus percaya kepada rahasia ini [rahasia iman], merayakannya dan hidup darinya dalam satu hubungan yang hidup dan pribadi dengan Allah yang hidup dan benar. Hubungan ini adalah doa.
APA ITU DOA?
“Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” (Teresia dari Anak Yesus, ms. autob. 25r).

KGK 2559    “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk.Agusfinus, serm. 56,6,9.. 2613, 2736).

KGK     Doa adalah kehidupan hati yang baru. Ia harus tetap menjiwai kita. Tetapi kita cenderung melupakan Dia, yang adalah kehidupan dan keseluruhan kita. Karena itu bapa-bapa rohani – dalam kaitan dengan buku Ulangan dan para nabi – menuntut doa sebagai “satu peringatan akan Allah”, satu pembangkitan kembali “ingatan hati”. “Kita harus lebih sering mengenangkan Allah, daripada bernapas” (Gregorius dari Nasianse, or. theol. 1,4). Tetapi kita tidak dapat berdoa “setiap saat”, kalau kita tidak berdoa dengan sadar pada waktu tertentu. Saat-saat ini merupakan puncak doa Kristen, karena kedalamannya dan lamanya.

KGK 2699    Tuhan membimbing semua manusia pada jalan dan dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Setiap warga beriman menjawabnya dengan keputusan hatinya dan dengan bentuk ungkapan doa pribadinya. Tetapi tradisi Kristen mempertahankan tiga bentuk pokok ungkapan kehidupan doa: doa lisan (doa vokal/ dengan kata-kata), doa renung (meditasi), dan doa batin (kontemplasi). Ketiganya mempunyai ciri khas yang sama ialah ketenangan hati. Kewaspadaan yang memelihara Sabda Allah dan membuat kita hidup di hadirat Allah, menjadikan ketiga bentuk ungkapan itu puncak-puncak kehidupan doa.

Maka, menurut Katekismus, meditasi atau doa renung, merupakan salah satu jenis doa. Selanjutnya tentang meditasi (doa renung), Katekismus mengajarkan:

KGK 2705    Doa renung, meditasi, pada dasarnya adalah satu pencarian. Roh mencari agar mengerti alasan dan cara kehidupan Kristen, agar dapat menyetujui dan menjawab apa yang dikehendaki Tuhan. Untuk itu, ia membutuhkan perhatian yang sangat sulit dipertahankan. Biasanya kita mencari bantuan pada sebuah buku. Tradisi Kristen memberi satu pilihan yang sangat luas: Kitab Suci, terutama Injil, ikon, teks-teks liturgis untuk hari bersangkutan, tulisan-tulisan dari bapa-bapa rohani, kepustakaan rohani, buku besar yakni ciptaan dan sejarah, terutama halaman yang dibuka pada “hari ini”.

KGK 2706    Merenungkan apa yang sudah kita baca, berarti kita bertemu dengannya dan menjadikannya milik kita. Dengan cara demikian buku kehidupan kita dibuka: inilah peralihan dari pikiran kepada kenyataan. Sesuai dengan kerendahan hati dan iman, kita menemukan dan menilai di dalam meditasi gerakan-gerakan hati. Kita harus melakukan kebenaran, supaya datang kepada terang. “Tuhan, apakah yang Engkau kehendaki? Apakah yang harus aku lakukan?

KGK 2707    Metode-metode meditasi sangat beragam seperti halnya guru-guru rohani. Seorang Kristen harus bermeditasi secara teratur. Kalau tidak, ia akan menyerupai jalan atau tanah yang berbatu-batu atau yang penuh dengan duri-duri, sebagaimana dikatakan dalam perumpamaan penabur. Tetapi satu metode hanyalah merupakan satu penuntun; yang terpenting ialah maju bersama Roh Kudus menuju Yesus Kristus, jalan doa satu-satunya.

KGK 2708    Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristen terutama berusaha untuk bermeditasi tentang “misteri Kristus”, sebagaimana terjadi waktu pembacaan Kitab Suci, “lectio divina”, dan pada doa rosario. Bentuk renungan doa ini mempunyai nilai yang besar; tetapi doa Kristen harus mengejar lebih lagi: perkenalan akan kasih Yesus Kristus dan persatuan dengan Dia.

Katekismus meringkas pengertian tentang doa, doa lisan, meditasi dan kontemplasi demikian:

KGK 2720    Gereja mengundang umat beriman untuk berdoa secara teratur: dalam doa-doa harian, ibadat harian, Ekaristi mingguan, dan pada pesta-pesta dalam tahun Gereja.

KGK 2721    Tradisi Kristen mengenal tiga cara utama ungkapan kehidupan doa: doa lisan, doa renung, dan doa batin. Ketiganya menuntut ketenangan hati.

KGK 2722    Doa lisan, yang berdasarkan kesatuan badan dan jiwa dalam kodrat manusia, menghubungkan badan dengan doa hati menurut contoh Yesus, yang berdoa kepada Bapa-Nya, dan yang mengajar murid-murid-Nya doa Bapa Kami.

KGK 2723    Doa renung, meditasi adalah mencari dalam doa. Doa ini mencakup juga pikiran, daya khayal, gerak hati, dan kerinduan. Ia hendak menghubungkan pandangan penuh iman dari orang bermeditasi dengan kenyataan kehidupan kita.

KGK 2724    Doa batin adalah ungkapan sederhana tentang misteri doa. Ia memandang Yesus dengan penuh iman, mendengarkan sabda Allah, dan mencintai tanpa banyak kata. Ia mempersatukan kita dengan doa Kristus, sejauh ia mengikutsertakan kita dalam misteri-Nya.

Maka doa renung (meditasi) Kristiani merupakan salah satu bentuk doa, yang menggunakan pikiran, daya khayal, gerak rasa dan kerinduan tentang misteri Kristus, sebagaimana dapat kita baca dan renungkan dari Kitab Suci, maupun pada doa Rosario. Tujuan meditasi ini adalah agar kita dapat semakin merenungkan iman kita, agar kita semakin mengenal dan bersatu dengan Tuhan, dan mengenali apa yang menjadi kehendak-Nya dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat menjawab/ menanggapinya. Di masa ini ada pula kelompok orang-orang yang melakukan meditasi, namun yang menjadi subyek permenungan bukanlah iman Kristiani ataupun misteri Kristus. Meditasi yang semacam ini tidak dapat disebut sebagai doa, sebab menurut definisinya, doa merupakan suatu pandangan ke surga, ataupun permenungan akan iman kita, sehingga selalu melibatkan Tuhan sebagai fokus pandangan batin kita.

Selanjutnya, untuk membaca beberapa contoh meditasi yang diajarkan oleh St. Ignatius dari Loyola, silakan klik di sini.

Sedangkan selanjutnya perbedaan antara meditasi dan kontemplasi, silakan klik di sini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah Manusia Terdiri Dari Tubuh, Jiwa dan Roh atau Tubuh dan Jiwa?

48

Diskusi apakah manusia terdiri dari sesuatu yang bersifat material dan sesuatu yang bersifat spiritual telah dilakukan sejak lama, seperti yang dilakukan oleh Plato, Aristoteles, dll. untuk mengerti kodrat manusia. Dalam hal ini, para teolog kristen terbagi menjadi dua, yaitu dichotomy dan trichotomy. Yang menganut pengertian dichotomy berpendapat bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dan Trichotomi mengatakan bahwa manusia terdiri dari: tubuh (body), jiwa (soul / psyche), dan roh (spirit / pneuma). Konsep trichotomy – yang diajarkan oleh Plato, gnostics, manichaeans, apollinarians, dan pada jaman modern ini diajarkan oleh Gunter – ditolak oleh Gereja Katolik. (Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (Tan Books & Publishers, 1974), p.96-97). Kita tidak dapat mengatakan bahwa dua-duanya benar, karena ke-dua konsep tersebut berbeda. Mari kita melihat satu-persatu dari teori ini dari Alkitab.

I. Mengapa Gereja Katolik mengajarkan dichotomy:

1) Dalam Alkitab kata “jiwa” dan “roh” sering dipakai bergantian, seperti: Yoh 12:27 “Sekarang jiwa-Ku terharu (my soul troubled) dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Yoh 13:21 “Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu (He was troubled in spirit), lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.

Para ahli Alkibab mengatakan bahwa contoh di atas merupakan “Hebrew parallelism“, yang merupakan cara menyatakan ide secara puitis, dimana ide yang sama diulang dengan memakai kata yang berbeda. Sebagai contoh Lk 1:46-47 “46 Lalu kata Maria: “Jiwaku (soul) memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku (spirit) bergembira karena Allah, Juruselamatku,

2) Kej 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas (spirit) hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (living soul).” Kalau memang manusia terdiri dari tiga bagian, mengapa dalam kisah penciptaan, manusia diceritakan dibentuk dari debu tanah (sesuatu yang bersifat material, dalam hal ini menjadi tubuh) dan nafas hidup (sesuatu yang bersifat non-material/spiritual)? Di sini tidak dikatakan bahwa setelah ada dua unsur (debu tanah dan nafas hidup), maka manusia mempunyai jiwa, namun dikatakan bahwa: manusia menjadi mahluk yang hidup (living soul). Living soul dalam hal ini adalah “the whole man“, yang terdiri dari tubuh dan jiwa.

Jadi, apa yang membuat manusia menjadi mahluk yang hidup? debu tanah dan nafas hidup atau tubuh dan jiwa spiritual, yang membentuk kehidupan manusia, yang membuat manusia adalah manusia dengan kodrat yang ada saat ini. Karena jiwa spiritual ini diciptakan oleh Tuhan (lih. Kej 2.7) dengan menghembuskan nafas, maka jiwa yang bersifat immaterial ini adalah immortal / abadi.

3) Mt 10:28 mengatakan “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Membunuh dan membinasakan jiwa dan tubuh di sini bukannya berarti membuat tubuh dan jiwa lenyap, namun membuat tubuh dan jiwa mengalami penderitaan abadi di neraka.

4) Lebih lanjut 1 Kor 5:3; 7:34 mengatakan “3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku–sama seperti aku hadir–telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. 34 dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.

II. Menyanggah teori trichotomy:

1) Ib 4:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Perhatikan bahwa rasul Paulus membandingkan antara jiwa-roh dan sendi-sendi-sumsum dan pertimbangan-pikiran. Secara sekilas, kita akan melihat bahwa jiwa dan roh adalah dua hal yang berbeda, namun kalau kita melihat perbandingan setara, maka rasul Paulus membandingkan jiwa dan roh seperti sendi-sendi dan sumsum, dimana sumsum dan sendi adalah satu kesatuan; atau pertimbangan dan pikiran, di mana orang tidak dapat membuat pertimbangan tanpa adanya pemikiran maupun sebaliknya. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa jiwa dan roh adalah satu hal yang satu, karena jiwa kita bersifat spiritual.

2) 1 Thes 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Seperti yang diterangkan di atas, ini ayat ini adalah “Hebrew parallelism“, untuk menekankan sesuatu dengan menggunakan kata yang berbeda. Kita melihat di Mk 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kalau kita menggunakan logika trichotomy, maka kita akan melihat bahwa manusia bukan hanya terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, namun juga hati.

3) Secara definisi, jiwa adalah “the principle of life” dan jiwa adalah bersifat immaterial/spiritual. Kalau memang roh terpisah dari jiwa dan juga bersifat spiritual, maka seolah-olah ada dua immaterial yang berbeda, dalam satu tubuh. Dan akan sulit membayangkan ada 2 immaterial di dalam 1 material (tubuh). Pertanyaannya adalah siapa yang menciptakan jiwa (bersifat immaterial) dan siapakah yang menciptakan roh (bersifat immaterial). Karena immaterial lebih tinggi tingkatannya dari material dan yang rendah tidak dapat menciptakan yang lebih tinggi, maka jiwa (dan atau) roh tidak dapat diciptakan oleh tubuh yang bersifat material.

III. Pengajaran Resmi Gereja Katolik tentang manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa (KGK 362-367).

KGK 362     Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: “Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.

KGK 363     Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia (Bdk. Mat 16:25-26; Yoh 15:13.) atau seluruh pribadi manusia (Bdk. Kis 2:41.). Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia (Bdk. Mat 26:38; Yoh 12:27.), yang paling bernilai padanya (Bdk. Mat 10:28; 2 Mak 6:30.), yang paling mirip dengan citra Allah: “Jiwa” adalah prinsip hidup rohani dalam manusia.

KGK 364     Tubuh manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan “menurut citra Allah”: ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kenisah Roh dalam Tubuh Kristus (Bdk. 1 Kor 6:19-20; 15:44-45.). “Manusia, yang satu jiwa maupun raganya, melalui kondisi badaniahnya sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya, sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya; tetapi sebaliknya, ia wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir” (GS 14, 1).

KGK 365     Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai “bentuk” badan , artinya jiwa rohani menyebabkan, bahwa badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat yang satu saja.

KGK 366     Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah (Bdk. Pius XII. Ens. “Humani generis” 1950: DS 3896; SPF 8.) – ia tidak dihasilkan oleh orang-tua – dan bahwa ia tidak dapat mati (Bdk. Konsili Lateran V 1513: DS 1440.): ia tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.

KGK 367     Kadang kata jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus” (1 Tes 5:23). Gereja mengaiarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua (Bdk. Konsili Konstantinopel IV, 870: DS 657.). Dengan “roh” dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya (Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3005; GS 22,5.) dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah (Bdk. Pius XII, Ens. “Humani generis” 1950: DS 3891). karena rahmat.

Prinsip paradoks dalam pergumulan roh vs daging

5

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26 : 41)

Apa yang kita lakukan tentu dilatarbelakangi oleh apa yang kita inginkan dan kita sukai untuk dilakukan. Namun mengikuti Kristus seringkali bukan mengenai apa yang ingin kita lakukan, tetapi apa yang perlu dan harus untuk kita lakukan, supaya hidup dan iman kita dalam Dia, menghasilkan buah. Buah-buah roh, yang dikehendaki Tuhan untuk dihasilkan oleh ranting-ranting-Nya, yang senantiasa melekat sepenuhnya pada Sang Pokok. Buah-buah yang bisa dinikmati dengan sukacita oleh sesama kita karena kelezatannya, sehingga dapat turut membangun Kerajaan Kasih-Nya di dunia. Namun, sebagai manusia berdosa, kita mempunyai tantangan yang sangat besar yang dapat menghambat buah-buah roh itu berkembang dan matang. Kita mempunyai keinginan daging, yang selalu bertentangan dengan apa yang roh kita inginkan, supaya dapat menghasilkan buah-buah kasih sejati. Itulah sebabnya Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melekat kepadaNya dengan kesetiaan iman, kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, dan doa yang tak jemu-jemu, agar keinginan daging yang selalu berlawanan dengan keinginan roh itu dapat dikendalikan. Rasul Paulus menasehati, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat”. (Gal 5 :16-18).

Bagaimana saya mampu untuk bisa melakukan apa yang sesungguhnya benar-benar ingin saya lakukan? Sejak menjadi pengikut Kristus, saya bukan milik diri saya sendiri lagi, melainkan milik Kristus. Apa yang saya pikirkan, katakan, dan lakukan, tidak seharusnya sekedar dilatarbelakangi oleh apa yang saya inginkan, tetapi apa yang Kristus inginkan. Maka setiap kali, jika saya hanya mendasarkan perbuatan saya kepada alasan-alasan ego dan pemuasan diri sendiri, saya sedang bergumul dengan diri saya sendiri karena melakukan apa yang tidak saya kehendaki lagi di dalam Kristus. Kristus merindukan saya menjadi bebas, dan dengan gembira melakukan perbuatan-perbuatan yang memang menyukakan jiwa saya dengan sebenar-benarnya, dan perbuatan yang menyukakan jiwa secara sejati itu hanyalah perbuatan yang dilakukan oleh karena Dia, di dalam Dia, dan hanya bagi Dia, yang menciptakan kita seturut dengan citra-Nya dalam cinta yang kekal.

Dalam kehidupan sehari-hari bersama sesama, pergumulan itu makin terasa dan makin menantang untuk dijalani. Kita semua dipanggil untuk menjadi pemenang kasih yang memenangkan jiwa kita untuk melakukan hal-hal yang memang ingin jiwa kita lakukan. Yesus memberikan panduan yang sangat ampuh untuk memenangkan pergumulan itu. Walaupun tentu saja, sangat tidak mudah, kalau hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Panduan itu adalah untuk melakukan tindakan yang bersifat paradoks. Paradoks adalah suatu situasi atau pernyataan yang tampak tidak mungkin atau sangat sulit untuk dimengerti karena mengandung dua karakteristik yang saling berlawanan. Tetapi karena sifat keinginan daging dan roh yang selalu saling berlawanan di dalam diri manusia, hanya dengan melakukan hal-hal yang kita rasakan berlawanan, maka pertentangan antara dua keinginan itu dapat dimenangkan, walaupun itu juga berarti bahwa kita melawan arus nilai-nilai yang berlaku umum bagi dunia ini. Yesus mengatakan demikian dalam Mat 5:38, ”Kamu telah mendengar firman: mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Tentu dalam kehidupan dunia, hal ini sangat logis dan adil; kita pun tentu sering memperjuangkan keadilan semacam ini dalam kehidupan sehari-hari, tetapi Yesus mengajak kita melakukan hal yang berlawanan dengan nilai umum itu, karena lebih jauh Yesus berkata, ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5 : 39-42;44). Di dalam pesan paradoks itu, ada sikap kerendahan hati yang luar biasa, di mana kerendahan hati adalah sikap yang sangat sulit untuk ditiru dan dimasuki oleh kuasa si Jahat, suatu sikap yang kemungkinan untuk dipalsukan dan dimanipulasi oleh Si Jahat adalah paling kecil dibandingkan sikap-sikap kasih lainnya yang seringkali didomplengi motivasi-motivasi dari sang kegelapan. Dengan kerendahan hati sedemikian, keinginan daging yang sering menjadi kendaraan si Jahat, tidak diakomodasi lagi, sehingga pelan tapi pasti keinginan daging itu mati.

Pesan paradoks dari Tuhan Yesus ini bagi dunia tentu aneh dan sangat sulit dimengerti, apalagi diterapkan. Seorang teman saya pernah berkata bahwa pesan itu nyaris mustahil untuk dilakukan. Baginya, pesan itu begitu radikal, dan tidak akan terjangkau oleh manusia kebanyakan. Tetapi hidup sebagai pengikut Kristus memang berarti melepaskan diri dari nilai-nilai dunia, karena sebagaimana Kristus bukan berasal dari dunia, demikian pula kita, murid-murid-Nya. Bersama rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi, dan yang selalu dapat diandalkan di dalam setiap situasi kehidupan dan pergumulan, kita semua diajak dan dipanggil untuk menjalani prinsip paradoks itu. Kita bisa berlatih sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang paling sederhana, hingga hal-hal yang besar, sambil terus memohon rahmat Tuhan. Dengan menyadari kelemahan dan ketidakmampuan manusiawi kita, kebergantungan kita kepada Tuhan justru menjadi semakin besar, dan dengan demikianlah Tuhan menjadi raja atas hidup kita, di mana kita membiarkan hidup kita dikendalikan sepenuhnya oleh Dia.

Kehidupan sehari-hari sarat dengan kesempatan dan pembelajaran untuk mempraktekkan prinsip paradoks itu. Kita semua pasti menjumpai kesempatan itu mulai dari hal-hal yang sederhana sampai yang sulit dan berat. Misalnya saya yang mempunyai sifat suka ngeyel, mencoba diam dan mendengarkan ketika mulut justru ingin terbuka untuk berargumen dengan anggota keluarga yang mengkritik saya dan memberi masukan pada saya. Masukan/kritikan itu kadang menyakitkan, karena saya merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan, tetapi memilih diam ketika mulut saya ingin memprotes dan membela diri, memberi saya kesempatan untuk belajar kerendahan hati, dan merenungkan dalam semangat introspeksi, bahwa sangat mungkin apa yang dituduhkan itu benar, setidaknya dari cara saya menyatakan sesuatu, sikap tubuh saya membuat orang lain terganggu, walau kata-kata saya tidak bermaksud demikian. Kesempatan diam dan introspeksi dengan semangat kerendahan hati itu justru memurnikan motivasi dan sikap saya selama ini. Misalnya lagi, pada saat perasaan malas datang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sederhana tetapi penting, saya memaksa diri justru bangkit dari tempat duduk dan melakukan pekerjaan sederhana yang dibutuhkan orang lain, melawan rasa malas itu dengan kata-kata “just do it” yang membantu saya bersikap paradoks dengan segala argumen pembenaran di dalam kepala saya untuk melanggengkan perasaan malas tadi. Pada saat saya merasa enggan untuk mengucapkan kata-kata positif kepada orang yang selalu menyudutkan saya atau yang sikapnya tidak menyenangkan, justru saya lawan dengan memberikan pujian tulus kepadanya. Pada saat di jalan raya, ada kendaraan yang menyelonong atau mengklakson saya untuk kesalahan yang tidak saya lakukan, saya justru menginjak rem memberi kesempatan padanya untuk mendahului saya dan menahan jari saya di tombol klakson, tepat di saat saya sebenarnya ingin membalas mengklakson untuk memberinya pelajaran. Ketika saya berbuat sesuatu yang mulia dan ingin sekali orang lain mengetahuinya dan memuji, saya mencoba menarik diri dan membiarkan orang lain tidak tahu. Dan masih banyak lagi ujian dan kesempatan itu datang, terutama dengan anggota keluarga dan orang-orang terdekat, dengan orang tua, anak-anak, dengan saudara, dengan pembantu dan sopir, dan dengan teman sekerja. Tuhan Yesus memanggil kita untuk melakukan hal yang berlawanan dengan nilai-nilai dunia, bertentangan dengan ego kita.

Sekalipun memang sering terasa berat, menyesakkan, dan masih terus jatuh bangun untuk melakukannya, pada saat kita patuh (atau setidaknya mencoba terus untuk patuh) dalam mengikuti ajakan Yesus itu, kita telah berhasil melakukan apa yang benar-benar jiwa kita ingin lakukan. Kerelaan untuk patuh itu sering memberikan bonus lain di mana motivasi kita dimurnikan, sehingga mental spiritual kita menjadi semakin kokoh dan kuat. Pada saat itu keinginan daging mati, dan keinginan roh diakomodasi, dan jika hal itu terus menerus bisa kita pertahankan, maka Tuhan dan sesama tinggal membawa keranjang buah untuk memetik buah-buah kasih kita yang lezat dan manis, menyukakan hati Tuhan, dan membuat kita selalu merasa damai di hadirat-Nya. Pada saat itu sesungguhnya hanya badan jasmani kita yang masih berada di dunia, tetapi jiwa dan hati kita sebenarnya sudah selalu bersama Dia di Surga, di satu-satunya tempat di mana Yesus ingin kita berada, karena di situ juga Dia berada (lih. Yoh 14:3). (Triastuti)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab