Home Blog Page 144

Tentang Imam Agung Melkisedek (Ibr 7:1-3)

3

Ibr 7:1-3 menjabarkan ciri-ciri imam Melkisedek. Demikianlah keterangan yang kami sarikan dari penjelasan the Navarre Bible tentang ayat-ayat tersebut:

Melkisedek mempunyai ciri-ciri khusus yang membuatnya “gambaran” Kristus. Hubungan antara Kristus dan Melkisedek secara khusus tertulis dalam frasa, “tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah” yang mengacu kepada kekekalan. Oleh karena keterangan yang penuh misteri tentang tokoh Melkisedek dalam Kej 14:18-20 dan Mzm 110:4, maka beberapa komentator Yahudi menghubungkan tokoh ini sebagai simbol akal budi manusia yang diterangi oleh kebijaksanaan ilahi (lih. Philo dari Alexandria, De legum Allegoria, 3, 79-82)…. Point pentingnya di sini adalah Melkisedek adalah dari imamat di zaman sebelum Nabi Musa.

Sejarawan Yahudi Flavius Josephus (37-100) menghubungkan Melkisedek dengan “Pangeran Kanaan” yang mendirikan dan yang adalah imam agung Yerusalem. Nama “Melkisedek” adalah nama Kanaan, yang artinya adalah “rajaku adalah benar” atau “Raja Kebenaran” (lih. Yos 10:13). “Salem” kemungkinan adalah kependekan dari Yerusalem (lih. Mzm 76:2); Raja Salem, artinya, “Raja Damai” (berhubungan dengan kata Ibrani, ‘shalom‘ yang artinya adalah ‘damai’…. Kitab Keluaran mengajarkan bahwa meskipun hidup di tanah Kanaan yang menyembah banyak allah, Melkisedek adalah imam Allah yang sejati. Meskipun ia bukan anggota bangsa pilihan Allah, ia memiliki pengetahuan akan Allah yang Mahatinggi. Mzm 110 menjabarkan pewahyuan tentang Sang Mesias: seorang keturunan Daud, bukan hanya seorang Raja, namun juga seorang Imam, dan Ia bukan Imam menurut keturunan Harun, namun Ia adalah Imam menurut ketentuan baru yang ditentukan Allah, atau yang disebut dalam surat kepada jemaat Ibrani, “menurut ketentuan Melkisedek.” Maka, Melkisedek, adalah suatu gambaran akan imamat baru yang ditentukan Allah, yang tidak tergantung dari Hukum Musa.

Maka pada figur Melkisedek ada dua ciri-ciri kerajaan Mesianis, yaitu ‘kebenaran dan damai’ (lih. Mzm 85:10;89:14;97:2; Yes 9:5-7;2:4; 45:8, Luk 2:14). Lagipula, karena Kitab Kejadian tidak mengatakan apapun tentang latar belakang dan silsilahnya, maka Melkisedek sering diinterpretasikan sebagai gambaran akan Kristus yang kekal. Maka bukan Kristus yang dikatakan mirip dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek yang mirip dengan Kristus -karena ia [Melkisedek] diciptakan agar menjadi gambaran akan Kristus, sang Imam yang sempurna.

Theodoret dari Cyrus mengatakan, “Kristus Tuhan mempunyai segala ciri-ciri ini… [Dalam kodrat-Nya sebagai Allah] Kristus tidak beribu, sebab Ia lahir dari Allah Bapa saja. [Dalam kodrat-Nya sebagai manusia] Kristus tidak berbapa, sebab Ia dikandung oleh Sang Perawan [Maria] saja… Ia tidak mempunyai silsilah, sebab sebagai Tuhan, Ia yang lahir dari Allah Bapa tidak membutuhkan silsilah. Ia tidak mempunyai awal mula, sebab Ia ada dalam kekekalan. ‘Ia tidak mempunyai akhir’ sebab Ia mempunyai kodrat yang kekal. Dengan semua alasan ini, Kristus sendiri tidak untuk diperbandingkan dengan Melkisedek, tetapi Melkisedek dengan Kristus” (Interpretastio Ep., ad Haebreos, ad loc). St. Efraim mengatakan dengan indahnya, “Maka, imamat Melkisedek berlangsung selamanya- tidak di dalam diri Melkisedek sendiri, tetapi di dalam Tuhannya Melkisedek.” (St. Ephraem, Com. in Epistle ad, Haebreos, ad loc.)

Sebagai seorang imam Allah yang Maha Tinggi namun bukan anggota dari bangsa Yahudi, Melkisedek adalah contoh tentang bagaimana Tuhan menaburkan benih kebenaran akan keselamatan yang melampaui batas bangsa. “Keimamatan Kristus, yang di di dalamnya para imam telah mengambil bagian, harus diarahkan kepada semua bangsa, dan tidak dibatasi oleh batas hubungan darah, ras, atau zaman, sebagaimana telah digambarkan dengan cara yang misterius dalam gambaran Melkisedek. Maka, para imam, harus ingat bahwa perhatian kepada semua Gereja harus menjadi perhatian mereka yang terdalam.” (Konsili Vatikan II, Presbyterorum ordinis, 10).

Juga, dengan mengatakan bahwa Melkisedek, “tidak berbapa atau beribu”, memberikan dasar pemikiran bahwa juga dalam kasus para imam, agar memenuhi misi panggilan mereka, harus meninggalkan keluarga mereka [ayah dan ibu]. Sifat dan kehidupan seseorang yang dipanggil untuk menjadi imam Allah, mempunyai tanda kekudusan bahwa ia ‘dipisahkan’ (set apart). Ini menjadikannya seolah berada di luar dan di atas dari sejarah umum manusia yang lain…. seperti halnya ciri-ciri Melkisedek yang misterius (A. del Portillo, On Priesthood, p.44).

Berkata kepada umat Kristen, khususnya kepada mereka yang dikonsekrasikan bagi pelayanan Tuhan, St. Yohanes Avila menulis, “lupakanlah bangsamu (Mzm 45:10) dan jadilah seperti Melkisedek, yang tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah. Dengan demikian, contoh diberikan kepada para pelayan Tuhan, yang juga harus melupakan keluarga mereka sehingga mereka menjadi seperti Melkisedek, berkenaan dengan perhatian dalam hati mereka, sehingga tidak ikatan di dalam hati mereka yang memperlambat jalan mereka kepada Tuhan.” (St. Yohanes Avila, Audi, filia, 98)

 

Aku Percaya akan Persekutuan Para Kudus

3

I. Kita semua terikat dalam satu tubuh

Artikel iman “persekutuan para kudus” adalah sebagai akibat dari pengertian Gereja sebagai perhimpunan semua orang kudus (lih. KGK 946). Rasul Paulus mengumpamakan perhimpunan ini sebagai satu Tubuh di dalam Kristus, di mana masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain (lih. Rm 12:5). Dengan demikian, apa yang dipunyai oleh satu anggota dipunyai juga oleh anggota yang lain. Milik yang paling berharga yang dipunyai oleh Gereja adalah Kristus sendiri yang menjadi kepala Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Milik Kristus ini dibagi-bagikan kepada semua anggota secara nyata dan terlihat melalui sakramen-sakramen (lih. KGK 947; St. Thomas Aquinas, Symb. 10), terutama dalam Sakramen Ekaristi (lih. KGK 950, RC 1,10,24). Dalam Sakramen Ekaristi ini terlihat persekutuan para kudus secara nyata, baik Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, maupun Gereja yang masih berziarah di dunia ini (lih. KGK 1370-1371). Kristus menghendaki kesatuan dari semua orang yang mengimani-Nya, kesatuan kawanan dengan Kristus sebagai Kepala inilah yang menjadi doa Kristus sebelum Dia menderita sengsara (lih. Yoh 17).

II. Persekutuan di dalam Kristus

Persekutuan para kudus bersumber pada Kristus. Jadi, ada persekutuan dalam hal-hal kudus (sancta), karena Kristus sendiri memberikan rahmat-Nya kepada anggota-Nya; dan persekutuan di antara umat beriman (sancti), karena Kristus sendiri yang mengikat seluruh umat beriman dalam satu tubuh.

1. Persekutuan dalam hal-hal kudus (sancta)

Hal-hal kudus ini mengalir dari Kristus sendiri. Hal ini termasuk: seluruh rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen; iman, pengharapan dan kasih; karisma-karisma; jasa Kristus yang tak terbatas; jasa yang berlimpah dari Bunda Maria dan para Santo-santa; serta buah-buah dari seluruh kebaikan dalam Gereja.

Sakramen-sakramen untuk mengkomunikasikan kebaikan Kristus

Akibat dari misteri Paskah, maka rahmat Allah mengalir secara luar biasa kepada umat Allah, terutama melalui sakramen-sakramen. Dalam sakramen-sakramen inilah maka terlihat jelas hubungan antara Kristus dengan seluruh anggota Gereja, terutama Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik menuliskannya sebagai berikut:

KGK 950     Persekutuan dalam Sakramen-sakramen. “Buah-buah semua Sakramen diperuntukkan bagi semua umat beriman; dan Sakramen-sakramen itu bagaikan ikatan-ikatan kudus, yang menghubungkan umat beriman seerat-eratnya dengan Kristus; hal itu terutama berlaku untuk Pembaptisan, yang olehnya mereka masuk ke dalam Gereja seperti melalui pintu. ‘Persekutuan para kudus’ harus dimengerti sebagai persekutuan dalam Sakramen-sakramen… Walaupun nama itu [persekutuan] berlaku untuk semua Sakramen, karena mereka menghubungkan kita dengan Allah… namun ia lebih dikenakan kepada Ekaristi, karena ia mengakibatkan persekutuan ini” (Catech. R. 1,10,24).

Kristus memberikan diri-Nya demi keselamatan umat manusia melalui penderitaan dan kematian-Nya, sehingga barang siapa dilahirkan kembali di dalam Kristus akan mendapatkan keselamatan (lih. Yoh 3:6-7). Kelahiran kembali ini adalah Sakramen Baptis yang mencurahkan rahmat keselamatan yang mengalir dari misteri Paskah. Pencurahan Roh Kudus, yang terjadi setelah misteri Paskah Kristus, diberikan kepada umat beriman dalam Sakramen Penguatan. Dengan kekuatan Roh Kudus, maka misteri Paskah ini dihadirkan kembali dalam Sakramen Ekaristi, sehingga Kristus dapat memberikan keseluruhan diri-Nya kepada umat Allah. Rahmat pengampunan yang mengalir dari pengampunan Kristus di kayu salib mengalir dalam Sakramen Tobat dan juga Sakramen Pengurapan Perminyakan. Akhirnya perutusan yang diberikan oleh Kristus setelah kematian-Nya diwujudkan dalam Sakramen Imamat dan Sakramen Perkawinan.

Persekutuan dalam iman, pengharapan dan kasih

Salah satu tanda Gereja Kristus adalah kesatuan, yang dinyatakan dalam pengajaran. Itulah sebabnya persekutuan umat beriman juga diwujudkan dalam kesatuan ajaran iman, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh Gereja. Hal ini dimulai ketika jemaat perdana bertekun dalam pengajaran para rasul (lih. Kis 2:42). Karena pengharapan mengalir dari iman, maka dari persekutuan iman terbentuklah satu pengharapan. Persatuan akan iman dan pengharapan yang sama akan membawa pada persatuan kasih. Katekismus Gereja Katolik menjabarkan persatuan ini sebagai berikut:

KGK 953     Persekutuan dalam cinta. “Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Rm 14:7) dalam persekutuan para kudus. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersuka-cita. Kamu semua adalah Tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1 Kor 12:26-27). Cinta “tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1 Kor 13:5; bdk. 1 Kor 10:24). Perbuatan kita yang paling sederhana sekalipun, kalau dilakukan karena cinta, akan membawa keuntungan bagi semua orang. Ini terjadi dalam solidaritas dengan semua manusia, yang hidup dan mati, yang berdasarkan persekutuan para kudus. Tiap dosa merugikan persekutuan ini.

Persekutuan karisma-karisma

Dalam KGK dituliskan bahwa untuk membangun Gereja maka Roh Kudus memberikan karunia khusus di antara umat dari berbagai tingkatan (lih. KGK 951; LG 12), sehingga kita sebagai anggota tubuh Kristus juga turut menikmati dan mengambil manfaatnya (lih. 1Kor 12:7). Namun, bagi seseorang yang belum memperoleh karunia karismatik ini, tetaplah ia perlu mensyukuri karunia yang diberikan oleh Roh Kudus kepadanya.

Perbendaharaan kekayaan rohani

Dapat dikatakan bahwa Gereja mempunyai harta kekayaan rohani, yang bersumber pada jasa Kristus di kayu salib. Walaupun jasa ini sungguh tak terbatas, namun Rasul Paulus menekankan pentingnya partisipasi manusia untuk membangun jemaat, dengan mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24). Yang secara sempurna menjawab panggilan ini adalah Bunda Maria, dan diikuti oleh para Santa-Santo. ‘Jasa’ mereka ini tergabung dalam pundi-pundi harta kekayaan rohani Gereja, bersama-sama dengan jasa pengorbanan Kristus. Karena apa yang dimiliki oleh sebagian anggota menjadi milik bersama semua anggota, maka seluruh anggota Gereja mempunyai hak untuk mendapatkan harta kekayaan ini. Distribusi kekayaan harta rohani ini dilakukan oleh Gereja, yaitu dengan indulgensi. Dengan indulgensi, Gereja memohon kepada Tuhan agar mengangkat siksa dosa sementara (seluruhnya atau sebagian) bagi kita yang berada di dunia ini maupun mereka yang berada di Api Penyucian, berdasarkan akan harta kekayaan Gereja dan kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya.

2. Persekutuan di antara para kudus (sancti)

Dalam persekutuan para kudus, maka yang menjadi fokusnya adalah Kristus, karena Kristuslah yang menjadi kepala Tubuh Kristus dan kasih Kristus yang menyatukan seluruh anggota Gereja, baik yang masih mengembara di dunia ini, yang sedang dimurnikan di dalam Api Penyucian dan yang telah berjaya di Sorga (lih. KGK 954). Gereja yang satu mempunyai tiga status namun saling berhubungan, karena tidak ada yang dapat memisahkan kita semua dari kasih Kristus, entah penderitaan dan juga kematian (lih. Rom 8:38-39), sebab Gereja sebagai satu Tubuh Kristus, tidak terpisahkan dari Kepala-Nya yaitu Kristus (lih. Ef 4:16). Maka Gereja yang telah berada di Sorga dapat mengambil bagian dalam pengantaraan Kristus, dengan mendoakan Gereja yang berada di Api Penyucian dan Gereja yang masih berziarah di dunia agar dapat mencapai Sorga. Gereja yang di Api Penyucian dapat menerima dukungan doa-doa dari Gereja di dunia dan di Sorga. Dan Gereja di dunia ini dapat saling membantu -antara anggota-anggotanya, mendoakan Gereja yang masih berada di Api Penyucian dan juga memohon dukungan doa dari Gereja yang telah berjaya di Sorga. KGK menuliskannya sebagai berikut:

KGK 954 Tiga status Gereja. “Hingga saatnya Tuhan datang dalam keagungan-Nya beserta semua malaikat, dan saatnya segala sesuatu takluk kepada-Nya sesudah maut dihancurkan, ada di antara para murid-Nya, yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal dan mengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang ‘dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya'” (LG 49).
“Tetapi kita semua, kendati pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia” (LG 49).

KGK 955 “Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani” (LG 49).

KGK 956 Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantara tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (LG 49). “Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat; bdk. Jordan dari Sachsen, lib. 93). “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (Teresia dari Kanak-kanak Yesus, verba).

Mendoakan jiwa di Api Penyucian dan memohon doa orang kudus

Sebagian saudara/i kita umat Kristen non-Katolik sulit untuk mengerti mengapa umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa di Api Penyucian dan memohon doa-doa dari para kudus di Sorga. Beberapa prinsip berikut ini mungkin dapat membantu untuk menjawab keberatan-keberatan yang diajukan oleh mereka:

a.”… kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala. Daripada-Nyalah seluruh tubuh yang …diikat menjadi satu... menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Ef 4:16).

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus….. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota….. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata- kata dalam bahasa roh.” (1 Kor 12:12,14,24-28) Maka dari sini kita ketahui, bahwa Allah sendiri menetapkan beberapa orang dalam jemaat untuk bekerjasama dengan Kristus Sang Kepala dalam tugas Pengantaraan-Nya untuk membawa manusia kepada Allah Bapa.

b. Rasul Paulus berkata, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1 Kor 3:9). Ayat ini menunjukkan bahwa walaupun Allah dapat berkarya sendirian saja untuk menyelamatkan manusia, namun pada kenyataannya, Ia melibatkan para rasul untuk menjadi kawan sekerja-Nya untuk membangun ladang Allah dan bangunan Allah.

c. Rasul Paulus mengajarkan, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Kor 10:33- 11:1) Sebagai umat beriman, kita harus meniru/ menjadi pengikut Rasul Paulus: yaitu kita harus mengusahakan keselamatan orang banyak, yaitu dengan mengikuti teladan Kristus. Dalam hal ini tugas membawa orang lain kepada keselamatan, juga menjadi bagian dari tugas kita semua, bukan hanya urusan Yesus saja sebagai Pengantara yang satu- satunya.

d. “Bertolong- tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus!” (Gal 6:2) Allah menghendaki kita semua saling bertolong- tolongan dalam menanggung beban hidup ini, artinya kita harus saling mengasihi, saling membantu dan juga saling mendukung dalam doa. Tentu saja doa dalam hal ini tidak terbatas hanya di antara orang yang hidup di dunia ini, karena doa tidaklah terbatas tempat dan waktu.

e. “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39) Maka dari sini kita mengatahui bahwa hubungan kasih antar kita sebagai sesama anggota Kristus, tidak terputus oleh kematian. Lagipula, Yesus berjanji, bahwa barang siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan mati, melainkan memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16; 11:25). Oleh karena itu, kita dapat memohon dukungan doa dari mereka yang sudah bersatu dengan Allah di surga, sebab merekapun di surga mempersembahkan doa- doa bagi kita kepada Allah (lih. Why 8:3-4).

Bapa Gereja mengajarkan persekutuan para kudus

Pengajaran akan pentingnya saling mendoakan karena semuanya terikat dalam kasih Kristus dalam satu Tubuh Mistik Kristus juga diajarkan oleh para Bapa Gereja dari abad-abad awal.

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215 AD): “Dengan cara ini, ia [orang Kristen yang sejati] selalu murni untuk berdoa. Ia juga berdoa di dalam kesatuan para malaikat, seperti telah mencapai tingkatan malaikat, dan ia tidak pernah berada di luar perlindungan mereka yang kudus; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia mempunyai kumpulan para kudus yang berdiri bersama dengan dia [di dalam doa]”. (Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12, A.D. 208).
  • Origen (185-254 AD): “Tetapi bukan hanya Sang Imam Agung [Kristus] sendiri berdoa bagi mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat …. demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11, A.D. 233).
  • St. Siprianus dari Karthago (200-270 AD): “Mari kita mengingat satu sama lain di dalam keselarasan dan kesatuan suara. Biarlah kita yang di kedua pihak selalu saling mendoakan. Biarlah kita meringankan beban dan kesusahan dengan saling mengasihi, sehingga jika satu di antara kita, oleh pertolongan ilahi, dapat pergi lebih dulu, cinta kasih kita tetap berlanjut di dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti di hadirat belas kasihan Allah Bapa.” (Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5, A.D. 253).
  • St. Efraim dari Syria (306-373 AD): “Engkau, para martir yang jaya, yang menanggung penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, engkau yang mempunyai keberanian kata-kata terhadap Tuhan sendiri, engkau para orang kudus, berdoalah bagi kami yang lemah dan berdosa, penuh kemalasan, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami, dan terangilah hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (Ephraim the Syrian, The Nisibene Hymns, Commentary on Mark, A.D. 370)
  • St. Basilius Agung (329-379 AD): “Oleh perintah Putera-Mu yang Tunggal, kami memberitahukan dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa mereka dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus” (Basil the Great, Letter 243, Liturgy of St. Basil, A.D. 373).
  • St. Gregorius dari Nissa (325-386 AD): “[Efraim], engkau yang berdiri di altar ilahi [di Surga] …., ingatlah kami semua, mohonkanlah pengampunan dosa-dosa bagi kami, dan perolehan Kerajaan yang kekal [Surga]” (Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ (Sermon for the Day of Lights), Sermon on Ephraim the Syrian, A.D. 380).
  • St. Gregorius Nazianza (325-389 AD): “Ya, Aku sangat yakin bahwa doa syafaat [ayahku] lebih berdayaguna sekarang, daripada pengajarannya di hari-hari yang dahulu, sebab ia sekarang lebih dekat kepada Tuhan, kini bahwa ia telah menanggalkan belenggu tubuhnya dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang mengaburkannya, dan mengadakan pembicaraan secara gamblang dengan ketelanjangan sang akal budi yang tertinggi dan termurni ….” (Gregory Nazianzen, Oration 18:4) ;
    “Semoga kamu [Siprian], memandang ke bawah dari atas dengan penuh belas kasih kepada kami; dan bimbinglah perkataan dan hidup kami; dan gembalakanlah kawanan yang kudus ini, …., bahagiakanlah Sang Tritunggal Mahakudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (Gregory Nazianzen, Orations 17 [24], A.D. 380).
  • St. Yohanes Krisostomus (347-407): “Ketika kamu merasa bahwa Tuhan mendidikmu untuk memurnikan kamu, janganlah kamu lari kepada musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir dan para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang memiliki kuasa [di dalam Tuhan]”. (John Chrysostom, Homily 8 on Romans, Orations 8:6, A.D. 396);
    “Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi santo pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai batu permata mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai santo pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (John Chrysostom, Homilies on Second Corinthians 26, A.D. 392).
  • St. Hieronimus (347-420 AD):”Kamu berkata dalam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi sesudahnya ketika kita sudah wafat, doa seseorang tak lagi dapat didengar oleh yang lain …. Tetapi kalau para Rasul dan martir ketika masih hidup dapat berdoa bagi orang lain, saat mereka masih dapat disibukkan dengan urusan mereka sendiri, betapa lebih lagi mereka akan melakukannya [yaitu berdoa bagi orang lain], setelah mahkota, kemenangan dan kejayaan mereka?” (St. Jerome, To Pammachius Against John of Jerusalem, Against Vigilantius 6, A.D. 406.)
  • St. Agustinus (354-430 AD): “Bangsa Kristen merayakan bersama di dalam perayaan rohani, kenangan akan para martir, untuk mendorong agar para martir tersebut diteladani, dan agar bangsa itu dapat mengambil bagian di dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean, A.D. 400);
    “Jiwa-jiwa orang-orang saleh yang wafat juga tidak terpisahkan dari Gereja, yang bahkan sekarang ini adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam penyampaian komuni Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 20:9:2, A.D. 419);
    “Adalah sebuah disiplin gerejawi, sebagaimana diketahui umat beriman, ketika nama-nama para martir dibacakan dengan lantang di tempat itu di altar Tuhan, di mana doa tidak dipersembahkan bagi mereka. Namun demikian, doa dipersembahkan bagi jiwa-jiwa yang sudah meninggal, yang dikenang.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XXII), Sermons 159:1, A.D. 411);
    “Di altar Tuhan kita tidak memperingati para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan kepada mereka yang telah beristirahat dalam damai dengan mendoakan mereka, tetapi agar mereka [para martir] dapat mendoakan kita, supaya kita dapat mengikuti jejak mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate 84 (John 15:13), Homilies on John 84, A.D. 416).

III. Peran Maria dalam Gereja

Peran utama Maria di dalam Gereja adalah sebagai bunda Gereja. Dengan posisinya sebagai Bunda Kristus dan dengan keibuannya, maka dia dapat merangkul seluruh umat Allah agar dapat dipersatukan dengan kepala Gereja, yaitu Puteranya sendiri. Berikut ini adalah alasan mengapa Maria menjadi Bunda Gereja.

1. Maria adalah Bunda Kristus Sang Kepala Gereja

Tuhan telah memilih Maria sebagai Bunda Allah; sebab Kristus yang dikandung dan dilahirkannya adalah Allah. Itulah sebabnya di dalam Kitab Suci, Maria disebut sebagai Bunda Allah (lih. Luk 1:43, 35, Gal 4:4). Dengan melahirkan Kristus, Maria juga dapat disebut sebagai Bunda Gereja, karena Kristus sebagai Kepala selalu berada dalam kesatuan dengan Gereja yang adalah anggota- anggota-Nya yang memperoleh hidup di dalam Dia.

2. Maria adalah Hawa Baru yang melahirkan Kristus Sang Hidup yang memberi hidup kepada dunia

Maria adalah Bunda yang melahirkan Kristus Sang Hidup (Yoh 14:6) yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33), maka Bunda Maria juga secara tidak langsung berperan serta dalam memberikan Hidup kepada dunia. Maria adalah Sang Hawa yang baru, yang daripadanya lahir Sang Hidup, yang memberikan hidup yang kekal. Maka peran Maria sebagai Hawa yang baru mendukung peran Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21). Para Bapa Gereja tak ragu untuk mengatakan bahwa Maria adalah “bunda mereka yang hidup” dan mengkontraskannya dengan Hawa, dengan menyatakan “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 56)

3. Maria tidak pernah terpisah dari Kristus dan Gereja

Oleh ketaatan Maria dan atas kuasa Roh Kudus, Kristus menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Kristus mengambil apapun untuk pertumbuhan tubuh jasmani-Nya dari tubuh Maria. Selanjutnya, Gereja yang adalah Tubuh Kristus, dibentuk oleh Yesus dari darah dan air yang keluar dari sisi/ lambung-Nya, serupa dengan dibentuknya Hawa dari sisi/ tulang rusuk Adam. Dengan demikian, terlihatlah betapa tak terpisahkannya hubungan antara Yesus, Maria dan Gereja. Walaupun Kristus dilahirkan oleh Maria, namun tidak menjadikan Maria lebih utama dari Kristus; sebab yang menjadi Kepala Tubuh (Kepala jemaat) adalah Kristus (Kol 1:18; Ef 5:23). Dengan demikian, Maria adalah anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Namun demikian, Maria adalah anggota yang istimewa, justru karena ketaatannya yang ‘mendahului’ anggota Tubuh-Nya yang lain; dan karena dengan ketaatannya ini rencana Allah tergenapi. Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria dan Gereja, menjadikan Bunda Maria tidak terpisahkan dari Kristus dan Gereja; sehingga ia bukan saja menjadi Bunda Allah, namun juga adalah Bunda Gereja, yaitu Bunda umat beriman. Sebab setelah kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria membantu permulaan Gereja dengan doa-doanya, dan setelah ia sendiri diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menyertai Gereja dengan doa-doanya.

4. Bunda Maria terdepan dalam perjalanan iman dan menjadi teladan bagi Gereja

Sebagaimana iman Abraham menandai permulaan Perjanjian Lama, iman Maria pada saat menerima Kabar Gembira menandai dimulainya Perjanjian Baru. Sebab seperti Abraham berharap dan percaya, saat tak ada dasar untuk berharap (lih. Rom 4:17) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, demikian pula Maria, setelah menyatakan kaul keperawanannya (“Bagaimana ini mungkin terjadi, sebab saya tidak bersuami?”), percaya bahwa oleh kuasa Allah yang Maha Tinggi, ia akan menjadi ibu Sang Putera Allah (lih. Luk 1:35)

Ketaatan iman Bunda Maria mencapai puncaknya pada saat ia mendampingi Kristus, sampai di bukit Golgota, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Maria tegar berdiri di kaki salib Kristus, dan turut mempersembahkan Dia di hadapan Allah Bapa. Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, untuk menebus dosa-dosa manusia. Di kaki salib-Nya, Maria melihat sendiri apa yang nampaknya seperti pengingkaran total apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel saat memberikan Kabar Gembira, “Ia akan menjadi besar … Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33). Namun di kaki salib itu, yang terlihat adalah penderitaan Putera-nya yang tak terlukiskan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan … ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia …” (lih. Yes 53:3-5). Meskipun demikian, Bunda Maria tetap setia dan menyertai Kristus.

5. Yesus memberikan Maria agar menjadi ibu bagi murid-murid-Nya, yaitu Gereja-Nya

Sesaat sebelum wafat-Nya, Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada  ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu” kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibumu!”/ Behold, your mother! Dan sejak itu murid itu [Yohanes] menerima dia [Bunda Maria] di dalam rumahnya.” (Yoh 19: 26-27) Kita ketahui bahwa pesan ini adalah salah satu dari ketujuh perkataan Yesus sebelum wafat-Nya dan pastilah ini merupakan pengajaran yang penting. Gereja Katolik selalu memahami ucapan tersebut, sebagai kehendak Yesus yang mempercayakan Ibu-Nya kepada kita semua para murid-Nya, yang diwakili oleh Rasul Yohanes. Sama seperti Yohanes Pembaptis menyebutkan sesuatu yang penting tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah”/ Behold, the Lamb of God (Yoh 1:29) untuk diterima sebagai kebenaran bagi semua umat beriman; maka Tuhan Yesus juga menyebutkan hal yang penting tentang Bunda Maria, dengan berkata kepada para murid-Nya,” Inilah ibumu!”/ Behold, your mother!, agar kita umat beriman juga dapat menerimanya sebagai kebenaran. Ya, Bunda Maria adalah ibu kita, sebab Tuhan Yesus memberikannya kepada kita umat beriman, untuk kita kasihi, kita hormati dan kita ikuti teladannya agar kita dapat masuk dalam Kerajaan Surga dan beroleh mahkota kehidupan (lih. Yak 1:12).

IV. Apa yang dapat aku lakukan untuk Gereja?

Semakin kita menyadari tentang Gereja, yang terbentuk dari persekutuan para kudus, maka seharusnya hal tersebut membawa pengaruh dalam kehidupan rohani kita. Pertama, kita mensyukuri bahwa kita menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus, sehingga dapat menerima rahmat dari Kristus sebagai kepala Gereja dan juga segala hal yang baik yang dilakukan oleh segenap anggota Gereja. Kedua, kalau kita menyadari bahwa kita menjadi anggota Gereja dan setiap perbuatan kita dapat mencoreng atau membangun Gereja, maka sudah seharusnya kita melakukan hal-hal yang dapat membangun Gereja – terutama dengan perjuangan kita dalam kekudusan. Ketiga, persatuan dengan seluruh anggota Gereja seharusnya menimbulkan solidaritas bersama dengan seluruh umat Allah di dunia ini, di Api Penyucian dan di Sorga, sehingga kita dapat saling membantu, baik dengan doa maupun perbuatan kasih. Keempat, kalau kita menyadari bahwa Maria adalah Bunda Gereja, maka sudah seharusnya kita meneladani Maria, yaitu dalam mengasihi Kristus dan mengasihi sesama anggota Gereja, sehingga akhirnya kita dapat bersatu dengan seluruh umat beriman di dalam Kerajaan Sorga.

I know the plans I have for you

5

Saat itu menjelang akhir tahun. Sambil sibuk bebenah di tempat baru lagi dalam mengikuti pekerjaan suami di benua yang baru, saya mulai memikirkan beberapa resolusi tahun baru dan rencana untuk dilakukan dalam kehidupan kami di negeri yang baru bagi kami ini. Ketika sedang mengeluarkan dan menata barang pecah belah dari dus barang-barang kami yang baru tiba dari tanah air, terpegang oleh saya sebuah piring hias yang sudah lama saya lupakan. Saya bahkan lupa dari mana saya mendapatkan piring souvenir itu. Tentu dari salah satu teman baik di salah satu negara yang pernah menjadi tempat tinggal kami, tapi saya tak berhasil mengingat siapa pemberinya. Ada sebaris kata-kata yang terlukis dengan manis di piring itu, tertegun saya membacanya, “Hope. I know the plans I have for you (Jeremiah 29 : 11)” (terjemahan Indonesianya adalah, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan”, Yeremia 29:11). Saya merasa trenyuh, di saat sedang khawatir dengan berbagai hal penyesuaian diri di tempat baru lagi, saya merasa Tuhan menyapa saya dengan lembut dan indah. Terutama karena saya tahu kalimat selanjutnya dari ayat itu, yang berbunyi,” …yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Saya mempunyai banyak rencana dalam hidup ini. Rencana untuk masa depan, yang semuanya masih bernama harapan. Saya juga pernah mempunyai rencana di masa lalu, yang ternyata tidak terjadi, sehingga beberapa berubah nama menjadi kerinduan. Manusia hidup dengan banyak rencana, ada yang terlaksana dan ada yang tidak. Manusia berusaha dan terbiasa membuat berbagai rencana, dan itu baik. Tetapi, sebelum membuat rencana, saya sering terlupa untuk berhenti sejenak, merenungkan rencana Pencipta saya, dan mencari tahu, apakah rencanaNya bagi saya? Bagi dunia ini? Allah merelakan PuteraNya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menyerahkan hidup-Nya dengan penuh cinta dan pengorbanan dan kemudian bangkit dari kematian, supaya saya hidup dan selamat. Ya, sudah selayaknya manusia menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam rencana Allah yang menciptakannya, bahkan mengusahakan dengan semua daya yang mungkin, agar rencana Allah yang mulia tergenapi dalam hidup ini, betapapun manusia mempunyai kehendak bebas dalam segala sesuatu, karena kasih Allah yang total kepada manusia. Tetapi sebagai tanggapan kasihku kepadaNya, kebebasan itu tidak untuk kupakai sekehendak hati tanpa tanggungjawab.

Akibat kebebasan yang tidak dipersembahkan kembali kepada Tuhan sebagai yang empunya hidup, jangan-jangan banyak sekali rencana manusia yang akhirnya justru merusak rencana Allah yang semuanya indah bagi manusia yang sangat dikasihiNya. Peristiwa banjir di Jakarta yang selalu berulang serta bencana alam akibat kerusakan alam oleh manusia yang membuat manusia menderita berkepanjangan bukanlah rencana Allah. Saya sedang membayangkan bahwa Tuhan Yesus sedang ikut menangis sedih melihat dan merasakan penderitaan manusia akibat kerusakan alam yang diakibatkan oleh eksploitasi alam yang berlebihan, yang mengorbankan keseimbangan alam demi nafsu manusia akan kekayaan materi yang amat sulit terpuaskan.

Mungkin terasa absurd untuk tetap meyakini bahwa rencana Tuhan selalu baik bagi kita, di saat doa-doa kita tidak tampak terjawab, saat konflik berkepanjangan datang mendera, saat orang-orang yang kita kasihi menjadi sakit dan tak berdaya, saat penyakit tak kunjung sembuh, atau melihat di sekitar kita semakin banyak kekacauan dan kejahatan menimpa orang-orang yang tak bersalah. Kita selalu ingin melihat Tuhan yang selalu solider dengan penderitaan manusia. Tentu saja ! Ia Tuhan yang menderita dan mati bagi kita. Ia bangkit dari maut supaya kita juga bangkit dan hidup. Tapi apa yang salah sehingga saya tidak mampu melihat keterlibatan-Nya?

Pada suatu hari saya membaca sebuah artikel berjudul “Lima hal yang umumnya paling disesali ketika manusia di ambang ajal”. Merasa telah bekerja terlalu keras sehingga mengabaikan saat-saat berharga bersama orang yang dikasihi adalah penyesalan yang paling sering diungkapkan. Seringkali tersita oleh kepentingan pekerjaan dan mengejar kesuksesan diri menghilangkan kesempatan melihat masa-masa pertumbuhan anak atau memelihara kontak dengan sahabat-sahabat terbaik. Juga kesehatan yang begitu berharga dan memberi kebebasan begitu banyak, disia-siakan demi pekerjaan dan berburu ambisi, sehingga ketika kesehatan itu hilang bersamaan dengan datangnya aneka penyakit, hanya penyesalan yang tersisa.

Ya, kadang saya menuntut begitu banyak dari Tuhan, agar Tuhan membuat semuanya menjadi baik dan mulus, sementara saya hanya mengerjakan sangat sedikit bagian saya agar semua yang baik itu dapat terus berlangsung. Sebab sebagai manusia, saya adalah mitra-Nya dalam mengelola alam ciptaan, termasuk diri saya sendiri. Kerja sama saya dengan Tuhan begitu minim sehingga saya bahkan tidak meluangkan waktu secara khusus untuk merenungkan apa yang menjadi kegemaran Tuhan, bagaimana saya dapat selalu berada di hadirat-Nya dan menyenangkan hati-Nya, belajar mengerti kehendak-Nya lewat Sabda-Nya dan merayakan Ekaristi dengan sepenuh hati, belajar untuk selalu bersyukur untuk segala hal termasuk hal-hal kecil dan kesukaran, karena lewat hal-hal yang sederhana, Allah hadir dan bekerja. Dan seringnya justru lewat kesukaran dan derita, Tuhan mengajar kita untuk menjadi lebih mudah merasakan kebahagiaan yang sering kita anggap angin lalu.

Jika manusia sering mempertanyakan dan meragukan perintah-perintah Tuhan yang membuat manusia merasa terkekang, pasti pesan-pesanNya di dalam Kitab Suci ada yang terlewat oleh kita. Jika kita amati, perintah dan ajaran Tuhan diberikan semata supaya hidup kita berjalan baik dan berkelimpahan. Tuhan yang menciptakan kehidupan, tentu saja Dia yang paling tahu cara terbaik menjalaninya sesuai dengan tujuannya dibuat. Hidup yang berkelimpahan dan memberikan kedamaian sejati bagi kita. Hanya mungkin kita jarang bertanya kepadaNya dan memutuskan sendiri semua yang kita anggap baik. Misalnya dalam Yoh 15, Tuhan Yesus selalu meminta kita untuk mengasihi sesama manusia dan mengampuni tanpa menjadi lelah, sesama yang bersalah pada kita. Meminta kita untuk tinggal dalam kasih-Nya dan menuruti perintah-Nya. Rencana-Nya adalah supaya dengan demikian, “…..sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (ayat 11) dan “…supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap dan supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikanNya kepadamu” (ayat 16b). Ya, karena selalu menuruti perintah Tuhan, kita terbiasa untuk meminta apa yang hanya menyenangkan hati Tuhan dan dengan demikian semua permintaan kita adalah keinginan-Nya sendiri untuk kebahagiaan dan kesembuhan kita yang sejati, jadi pasti diberikanNya.

Tuhan mengajak manusia untuk tetap berharap kepada janji penyertaan dan rencana-Nya yang baik sejak awal hingga akhir bagi manusia dan dunia ini, dalam suka dan dukanya yang menumbuhkan, dalam pahit dan manisnya kehidupan, dalam jatuh bangunnya kita melawan dosa dan kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya dan selalunya, Allah ingin kita bersukacita, tumbuh dan berbuah dengan bebas dalam kasih, hingga kita siap untuk bersama-sama lagi dalam kekal dengan Dia di Rumah-Nya. Janji Tuhan selalu ditepatiNya, karena Tuhan Bapa kita adalah Tuhan yang penuh kasih setia. Dalam iman dan sukacita oleh kasih setiaNya ini, kita percaya bahwa sekalipun mungkin akhir ceritanya tidak selalu bisa kita lihat selama kita hidup, tetapi semua itu akan digenapiNya dengan indah hingga kesudahan dunia ini. Dialah Allah kita, Gunung Batu kita !

Dari syair lagu “Lord of Creation, to You be all praise”, mari kita bersenandung bagi Tuhan:

Lord of all power, I give you my will
(Tuhan segala kuasa, kuserahkan pada-Mu semua kehendakku)
In joyful obedience your tasks to fulfil
(Dalam ketaatan yang kujalani dengan sukacita, perintah-Mu kupenuhi)
Your bondage is freedom, your service is song
(Pengajaran-pengajaranmu adalah kebebasan, pelayanan bagiMu adalah nyanyian)
And, held in your keeping, my weakness is strong.
(Dan, dalam pemeliharaan-Mu, kelemahanku menjadikanku kuat). Amin.
(Triastuti)

Layang-layang Sang Malaikat

7

Pengantar dari Editor:

Kesesakan dan cobaan hidup kadangkala datang tanpa pemberitahuan atau tanda-tanda apapun. Baik yang berupa kesusahan dalam jangka waktu yang lama maupun musibah yang datang tanpa disangka dan mengancam nyawa. Tetapi bagi Tuhan Bapa di Surga, yang selalu memelihara kita, pertolonganNya tidak pernah terlambat. Dalam iman dan kesetiaan untuk terus berseru dengan penuh kerendahan hati kepadaNya, pengalaman diselamatkan Allah menghalau semua kegelisahan dan bahaya. Memberikan sukacita kelegaan yang juga turut membangun iman, kasih, dan harapan sesama, sebagaimana kisah yang dituturkan oleh Andre Ho berikut ini. Terima kasih Andre yang telah berbagi kasih penyertaan dan pertolongan Tuhan yang selalu tepat dan setia kepada umat-Nya.

Mata Tuhan tertuju kepada orang yang cinta kepada-Nya. Tuhan menjadi perisai kuat dan sandaran yang kokoh, naungan terhadap angin yang panas dan perlindungan terhadap panas terik siang hari, penjagaan sehingga tidak tersandung dan pertolongan sehingga tidaklah runtuh. (Sir 34:16)

Perampokan yang menimpaku

Sungguh kasih sayang Tuhan sangat besar pada diri saya. Keajaiban kesembuhan saya dari sakit kanker darah (leukemia) pada tahun 2009 adalah bukti nyata kuasa Tuhan tersebut. Namun, keajaiban itu bukanlah pengalaman pertama saya akan besar dan dashyatnya kuasa Tuhan….

Pada tahun 1993 saya baru saja lulus kuliah. Sambil mencari pekerjaan tetap, saya memulai usaha kecil untuk memberikan jasa pelayanan servis komputer bersama beberapa teman. Suatu hari saya sedang menunggu mikrolet untuk pergi bertemu teman-teman sambil membawa tas. Bersama saya menunggu juga dua orang pria yang kemudian ikut naik ke dalam mikrolet dan duduk di samping kiri dan kanan saya. Ketika mikrolet baru berjalan sebentar, kedua pria tersebut yang ternyata adalah satu gerombolan, meminta dompet saya sambil mengeluarkan pisau. Saya langsung memberikan dompet saya kepada mereka. Namun rupanya mereka menginginkan lebih. Sambil tetap menempelkan sebuah pisau ke perut saya, mereka meminta saya turun dari mikrolet di suatu tempat di mana juga ada satu orang pria lagi, bagian dari gerombolan, yang sedang menunggu.

Lalu mereka memberhentikan sebuah taksi dan memaksa saya naik ke bagian belakang taksi tersebut. Dua di antara mereka mengapit saya di bangku belakang, sedangkan yang seorang lagi mengambil tempat di samping supir taksi. Saya minta turun dari taksi sambil menyerahkan tas dan dompet saya. Tetapi mereka menolak dan menyuruh taksi terus melaju. Saya mulai sangat khawatir akan keselamatan diri saya dan berpikir pasti mereka berniat jahat kepada saya. Saya pun mulai berdoa dalam hati memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan saya. Saya berdoa Bapa Kami dan Salam Maria tanpa henti-hentinya…

Gerombolan tersebut membawa saya ke sebuah kampung di daerah Jakarta Selatan. Tempatnya terisolasi, banyak pepohonan dan sepertinya ada beberapa perkebunan penduduk. Mereka memaksa saya turun dan menggiring saya. Kami melewati perkebunan penduduk dan masuk ke sebuah rumah tua yang sudah rusak dan hanya tinggal temboknya saja tanpa atap. Rumah ini terletak di tengah-tengah perkebunan penduduk dan tidak bisa dilihat orang dari luar. Saya langsung berpikir bahwa itu adalah markas mereka.

Salah seorang dari mereka lalu mengeluarkan kartu kredit saya dan meminta PIN sambil mengancam bahwa saya akan dibunuh kalau tidak memberikannya. Saya memberikan PIN yang sebenarnya dan salah satu dari mereka pergi untuk mengambil semua uang yang ada. Lalu mereka mencopoti semua pakaian saya dan mengikat saya dalam posisi duduk, ke sebuah pohon yang tumbuh di dalam rumah rusak tersebut. Kaki dan tangan saya mereka ikat kuat sekali dan mereka menyumbat mulut saya. Praktis saya tidak bisa apa-apa dan setelah itu mereka pergi meninggalkan saya sendiri terikat tanpa daya.

Tuhan tak kekurangan cara

Beberapa saat kemudian, hujan mulai turun dengan cukup derasnya. Saya sungguh sangat gelisah karena saya tahu saya pasti akan tewas karena kelaparan dan kedinginan. Meskipun gelisah dan takut, saya terus berdoa dengan bersuara dan memohon Tuhan Yesus menolong saya dan membebaskan saya dari bencana maut ini. Saya terus berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Hati saya yang terdalam yakin dan mengimani bahwa Tuhan pasti datang menolong saya. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! (Mzm 43:5)

Sungguh amat ajaib dan besar kuasa Tuhan. Tak lama kemudian hujan yang cukup deras itu berhenti total dan langit tiba-tiba berubah cerah. Saya merasakan suatu kelegaan dan saya pun terus melantunkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Tidak terlalu lama kemudian saya melihat sebuah layang-layang putus berkelok-kelok ditiup angin. Lalu tiba-tiba layang-layang itu jatuh di dekat tempat saya diikat. Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil naik ke atas tembok rumah itu untuk mengambil layangannya yang putus. Betapa sangat terkejutnya anak itu melihat saya yang sedang terikat. Kemudian ia memanggil keluarganya dan banyak sekali penduduk beramai-ramai datang menghampiri dan menolong saya.

Para penduduk yang menolong saya membawa saya ke rumah Pak RT yang berbaik hati memberikan baju pengganti dan handuk buat saya serta menghubungi kakak-kakak saya untuk datang menjemput saya.

Syukur kepada-Mu Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, saya sangat percaya dan yakin bahwa layangan yang putus itu adalah layangan yang dibawakan oleh seorang Malaikat Allah untuk menolong saya. Saya mengimani Roh Kudus yang telah menggerakkan hati anak itu untuk naik dan mencari layangan. Saya sangat percaya bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah keajaiban akan keselamatan yang telah Tuhan berikan kepada saya. Sungguh amat saya syukuri, dan saya sangat percaya itu bukan suatu kebetulan. Semoga sharing ini menambah iman dan kepercayaan kita semua bahwa Bapa di Surga sungguh amat menyayangi kita dan akan selalu mendengar jeritan doa kita.

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibr 4:16)

Oleh Andre Ho

Beberapa ayat Alkitab yang terlihat bertentangan dengan iman Kristiani

48

Ada cukup banyak pembaca yang memberikan pertanyaan tentang beberapa ayat di Kitab Suci yang terlihat bertentangan satu sama lain, atau terlihat bertentangan dengan iman Kristiani. Secara bertahap, kami akan menambahkan daftar dari ayat-ayat sesuai dengan pertanyaan yang masuk.

Mrk 10:40; Mat 20:23 – Yesus tidak berhak memberikan tempat di Sorga?

Dalam Injil diceritakan bahwa ketika Yohanes dan Yakobus meminta kepada Yesus agar mereka dapat duduk di sebelah kiri dan kanan-Nya, maka Dia menjawab demikian “Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” (Mrk 10:40; bdk Mat 20:23) Dari ayat ini, sekilas terlihat bahwa Kristus tidak mempunyai hak memberikan namun hanya Bapa saja. Oleh karena itu, Bapa lebih besar daripada Kristus.

Dalam mengartikan Kitab Suci – seperti yang dituliskan dalam Vatikan II – maka kita harus memperhatikan isi dan kesatuan Kitab Suci. Kita tahu bahwa di dalam Perjanjian Baru – dalam berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara – Kristus telah membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Silakan melihat link ini – silakan klik. Jadi, bagaimana mungkin bahwa Yesus yang adalah Tuhan mengatakan bahwa “Dia tidak berhak memberikannya”? Pertama, ayat tersebut bukan untuk mempertentangkan antara Yesus dan Bapa, namun untuk mengkontraskan sikap yang diperlukan untuk mencapai Sorga – yaitu kerendahan hati – dengan sikap yang sombong yang pada saat itu ditunjukkan oleh Yakobus dan Yohanes. Kedua, kalau kita melihat Latin Vulgate dari St. Jerome, maka ada perkataan “You”, yang di dalam DRB (Douay Rheims Bible) dituliskan sebagai berikut “But to sit on my right hand or on my left is not mine to give to you, but to them for whom it is prepared.” Dengan demikian, kita dapat menginterpretasikan bahwa untuk duduk di sisi kanan dan kiri Yesus bukanlah diberikan oleh Yesus kepada kamu berdua [Yakobus dan Yohanes], karena melihat kesombonganmu pada saat ini. Tempat yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga adalah milik yang ‘terendah’. Bunda Maria menuliskan “Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Lk 1:48).

Mrk 1:16-18 dan Yoh 1:35-42 – Bagaimana Simon dan Andreas dipanggil Yesus?

Di dalam Mrk 1:16-18, diceritakan bagaimana Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang menebarkan jalanya dan mereka kemudian meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus. Namun di dalam Yoh 1:35-42 diceritakan bahwa Andreas yang mengikuti Yesus kemudian membawa Simon kepada Yesus. Dari dua cerita ini manakah yang benar?

a. Pertama, adalah benar bahwa Yesus memanggil Simon dan Andreas untuk mengikuti Yesus, seperti yang diceritakan di dalam dua Injil tersebut. Dan hal utama inilah yang ingin disampaikan di dua Injil tersebut.

b. Dua hal yang berbeda yang terlihat bertentangan di dalam dua Injil dapat juga berarti dua hal yang terjadi secara berlainan. Sebagai contoh, mungkin Yesus telah bertemu terlebih dahulu dengan Simon dan Andreas seperti yang diceritakan di dalam Yoh 1:35-42. Dalam kesempatan tersebut Simon dan Andreas telah berbincang-bincang dengan Yesus. Dan di kemudian hari, Yesus bertemu dengan Simon dan Andreas yang sedang menerbarkan jalanya, seperti yang diceritakan di dalam Mrk 1:16-18. Dan pada kesempatan ini Yesus mengundang Simon dan Andreas untuk mengikuti Yesus, yang dijawab oleh mereka dengan segera. Dengan demikian, tidak ada yang bertentangan antara Mrk 1:16-18 dan Yoh 1:35-42

1Kor 14:34-35 – Kitab Suci tidak menghargai wanita

34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. 35 Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.” (1Kor 14:34-35)

a) Kalau ayat ini dipergunakan untuk mencoba membuktikan bahwa Alkitab tidak menghargai wanita, saya kira tidak pada tempatnya. Pengarang yang sama, yaitu Rasul Paulus mengatakan “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Ef 5:33). Dan kita juga melihat ada beberapa wanita yang ikut terlibat dalam pelayanan, seperti yang disebutkan di Rm 16:1-12; Phil 4:2-3. Dan rasul Paulus juga menyebutkan kesetaraan wanita dengan pria di ayat Gal 3:27-28; 1 Kor 11:11. Dan hubungan antara wanita dan pria adalah seperti hubungan antara Gereja dan Kristus, dimana rasul Paulus mengatakan “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Eph 5:25) Inilah sebabnya, mengikuti perintah Kristus, maka Gereja Katolik memandang bahwa perkawinan adalah suatu hal yang sakral, sama seperti hubungan Gereja dan Kristus. Dan hal ini terlihat dari pernikahan Katolik yang monogami antara laki-laki dan perempuan.

b) Rasul Paulus juga tidak melarang bagi perempuan untuk berdoa dan bernubuat (lih. 1 Kor 11:5). Lalu mengapa rasul Paulus mengatakan agar wanita harus diam di 1 Kor 14:34-35? Hal ini merujuk kepada fungsi mengajar yang resmi, yang dilakukan oleh para pastor, uskup, dan Paus, yang semuanya adalah laki-laki. Namun, hal ini tidaklah mengurangi derajat wanita, kalau seorang wanita tidak dapat menjadi imam (pastor/uskup/paus), karena hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya, dimana digambarkan sebagai hubungan antara suami dan istri. Dan karena para imam bertindak dalam nama Kristus, maka sudahlah sepantasnya bahwa seorang imam adalah laki-laki, sama seperti suami adalah laki-laki. Kaum wanita tetap dapat mengambil bagian yang lain dalam membangun Gereja, yang dapat kita lihat dari begitu banyak santa dalam sejarah Gereja Katolik. Derajat kaum pria tidak berkurang walaupun tidak dapat melahirkan, karena memang bukan merupakan kodratnya untuk dapat melahirkan.

Yeh 23:20-21 – Pornografi di dalam Kitab Suci

20 Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda. 21 Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu.” (Yeh 23:20-21)

a) Untuk mengerti ayat-ayat ini dengan benar, maka kita harus mengerti juga genre penulisan di Alkitab. Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa penulisan bab 23 ini menggunakan bahasa puitis dan metaphor, seperti yang dapat kita lihat di ayat 4, yang mengatakan “Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem.” Di sini, terlihat jelas, bahwa kakak beradik ini, yang digambarkan sebagai Ohola dan Oholiba adalah menggambarkan Samaria (10 suku Israel) dan Yerusalem (2 suku Israel). Diceritakan bagaimana Ohola telah berzinah atau dalam hubungan dengan Tuhan telah berpaling pada berhala-berhala sejak dari Mesir (ay. 8) dan kepada orang-orang Asyur (ay. 5-10).

b) Dan kemudian adiknya, yaitu Oholiba juga terlibat pada penyembahan berhala, bukan hanya dengan berhala-berhala Asyur namun juga dengan berhala-berhala Babel. (ay. 11-21). Dan kemudian diceritakan bagaimana Tuhan menghukum perbuatan berhala mereka – yaitu perbuatan menduakan Tuhan (ay. 22-35). Kemudian hal ini dipertegas dengan perkataan:

37. Sebab mereka berzinah, tangan mereka berlumuran darah dan mereka berzinah dengan menyembah berhala-berhalanya, bahkan anak-anak lelaki mereka yang dilahirkan bagi-Ku dipersembahkannya sebagai korban dalam api kepada berhala-berhalanya menjadi makanan.
38 Selain itu hal ini juga mereka lakukan terhadap Aku, mereka menajiskan tempat kudus-Ku pada hari itu dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku.
39 Dan sedang mereka menyembelih anak-anak mereka untuk berhala-berhalanya, mereka datang pada hari itu ke tempat kudus-Ku dan melanggar kekudusannya. Sungguh, inilah yang dilakukan mereka di dalam rumah-Ku.

c) Justru dengan pemaparan yang terlihat vulgar di Yehezkiel 23 ini, maka kita dapat melihat betapa menduakan Tuhan (dengan menyembah allah-allah lain) adalah sungguh memalukan dan mendatangkan suatu hukuman yang berat. Dan nilai-nilai moral yang dikemukan adalah jelas, yaitu agar kita dapat terus setia kepada Tuhan dan tidak boleh menyembah berhala. Justru dengan membandingkan berhala dan perzinahan, maka kita dapat melihat bahwa tubuh manusia juga merupakan sesuatu yang suci, bahwa seksualitas adalah sesuatu yang suci, di mana pasangan suami istri harus melakukan hubungan seks atas dasar kasih.

Ibr 7:1-3 – Persaingan antara Yesus dan Melkisedek?

1 Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. 2 Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. 3 Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” (Ibr 7:1-3)

Kalau ayat tersebut dipakai untuk menyatakan adanya persaingan antara Melkisedek dan Yesus, saya pikir argumentasinya kurang kuat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kita tahu bahwa PL harus dibaca dalam terang PB. Dalam PL, imam senantiasa berasal dari suku Lewi (lih. Ul 18:1). Dan kita tahu bahwa Yesus bukan dari suku Lewi, namun dari suku Yehuda. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus menjadi imam agung, padahal Dia bukan dari suku Lewi? Di sinilah rasul Paulus memberikan argumentasi bahwa Yesus adalah imam agung bukan menurut suku/keturunan, namun menurut peraturan Melkisedek. (lih. Ibr 5:6) Dengan demikian, kita tidak melihat adanya persaingan antara Melkisedek dengan Yesus, namun, justru Melkisedek menjadi gambaran akan Yesus, imam yang benar dan agung, karena Dia telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri menjadi korban abadi, korban yang sempurna (karena kematian-Nya dilandasi oleh kasih) di kayu salib, sehingga Dia dapat menjadi perantara antara manusia dan Tuhan.

Mrk 4:12 – Yesus menyembunyikan sesuatu?

supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” (Mrk 4:12)

a) Untuk melihat arti dari ayat ini, kita harus melihat ayat-ayat mulai dari Mk 4:3, di mana Yesus memberikan perumpamaan tentang penabur benih. Benih yang ditabur adalah sama, namun jatuh pada kondisi yang berbeda-beda, yaitu: di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak berduri, dan di tanah yang baik. Tiga kondisi tersebut menggambarkan kondisi hati manusia, yang kemudian diterangkan di ayat Mrk 4:14-20. Pertanyaannya, mengapa Yesus mengatakan “supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” di ayat 12?

b) Mrk 4:12 adalah merupakan kutipan dari Yes 6:9-10, yang mengatakan “9 Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!
10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.

Hal ini dipertegas dalam Mat 13:14-15, di mana Yesus berkata “14. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

c) Dengan demikian, kalau para pendengar tidak dapat mengerti pelajaran Yesus, bukan Yesus yang menyembunyikan sesuatu, namun, karena sebagian orang yang mendengarkan Firman Allah telah menutup hatinya dan mengeraskan hatinya, sehingga tidak akan dapat mengerti. Kita melihat, kalau Yesus berbicara dengan perumpamaan justru untuk mempermudah para pendengar untuk mengerti pesan yang ingin disampaikan, sama seperti pengkotbah jaman ini, yang memberikan begitu banyak contoh dan perumpaan, sehingga mudah ditangkap. Dan ini dibuktikan bahwa kaum Farisi juga mengerti perkataan dan perumpamaan yang diberikan oleh Yesus, sehingga dikatakan “Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. (Mat. 21:45)

Mat 17:25: Apakah Rasul Petrus berbohong?

Ketika di Kapernaum Rasul Petrus ditanya pemungut bea Bait Allah, apakah Yesus membayar bea tersebut, dan Rasul Petrus menjawab, “Memang membayar.” Apakah ia telah berbohong?

Demikianlah keterangan yang saya peroleh dari beberapa buku Catholic Commentary on Holy Scripture tentang ayat Mat 17:24-27 tersebut:

Rasul Petrus menjawab “Memang membayar /Ya” kepada pemungut bea bait Allah, karena biasanya memang Tuhan Yesus membayar semua pajak, bea dst, yang umum dikenakan kepada orang-orang, ke manapun Ia datang. Dengan demikian Yesus mengajarkan bahwa anak-anak Allah harus tunduk kepada semua hukum sipil di tempat manapun mereka hidup, dan harus membayar pajak yang dikenakan kepada mereka oleh otoritas publik; dan meskipun ada di antara pungutan pajak ini kemudian ditemukan tidak adil. Mereka tidak memberontak, sebab bukan bagian dari mereka untuk melakukan reformasi politik bangsa-bangsa, melainkan untuk mereformasi moral dunia.

Dalam perikop tersebut, Tuhan Yesus telah mengetahui kesulitan Petrus. Maka Yesus mengisahkan tentang suatu perumpamaan, justru untuk menunjukkan bahwa penarikan bea bait Allah terhadap-Nya yang adalah “Sang Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:18) sebenarnya tidak pada tempatnya. Sebab umumnya pajak ditarik dari orang asing, dan bukan dari anak-anak raja itu sendiri. Nah bea bait Allah adalah tribut yang diberikan setiap orang kepada Allah (Josephus, Antiquities. 18,9,1). Sebenarnya karena Yesus adalah Anak Allah -dan karenanya Ia adalah Allah- maka sesungguhnya Ia terbebas dari bea ini.

Namun Yesus tidak menolak untuk membayar bea ini, karena dapat dipandang sebagai tindakan yang tidak sepantasnya oleh orang-orang yang tidak mengetahui tentang martabat-Nya sebagai Putera Allah. Sesungguhnya uang yang diperlukan dapat saja diperoleh dengan cara yang biasa, tetapi Tuhan Yesus memilih untuk menggunakan cara mukjizat agar tidak menjadi batu sandungan terhadap prinsip bahwa ‘anak-anak raja terbebas dari membayar pajak’, maka uang yang dipakai untuk membayar tidak diambil dari kas para Rasul. Simon Petrus dan para Rasul lainnya juga terhubung dengan imunitas Kristus yang adalah Tuhan yang melebihi Bait Allah ini (lih. Mat 12:1-8), sehingga semestinya iapun terbebas dari membayar bea ini. Namun Yesus menghendaki agar Petrus tetap membayar bea ini, baik bagi-Nya dan dan bagi Petrus sendiri, dan dengan demikian menyelesaikan masalah antara Gereja awal dan negara.

Nah, maka yang dipersoalkan di sini bukan masalah pajak kota Kapernaum, tetapi pajak bait Allah. Hal membayar pajak, memang sudah dicontohkan oleh Yesus, mengingat bahwa Ia mengajarkan untuk memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar -dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah (lih. Mat 22:21; Mrk 12:17; Luk 20:25). Maka dengan demikian Kristus tidak mengatakan bahwa pajak adalah pungutan liar. Jika pemerintah yang berkuasa secara legitim menentukan suatu pajak, itu adalah sah, dan rakyat wajib membayarnya. Namun untuk bea bait Allah inilah, Yesus menunjukkan suatu kekhususan yang lain, yaitu karena Ia adalah Anak Allah, seharusnya Ia tak perlu membayar pajak bait Allah. Namun agar tidak menjadi sandungan bagi orang-orang Yahudi, Ia tetap menyerahkan uang untuk bea tersebut, namun uang itu diperoleh secara mukjizat dan bukan disisihkan dari kas para Rasul. Yesus menyuruh Rasul Petrus menangkap ikan di danau dari dari mulut ikan pertama yang tertangkap, ia akan menemukan uang 4 dirham untuk membayar bea itu bagi Yesus dan bagi dirinya sendiri.

Apakah injil Barnabas?

44

Injil Barnabas ditulis sekitar abad 16, dan di dalamnya terkandung banyak hal yang sesuai dengan paham Islam. Yesus yang  digambarkan di dalam Injil Barnabas seperti yang digambarkan di dalam Kitab Suci agama Islam. Yesus digambarkan bukan sebagai Anak Allah atau Allah, namun sebagai nabi yang membuka jalan bagi Nabi Muhammad, sama seperti Yohanes Pemandi membuka jalan bagi Yesus. Dan Yesus tidak mati disalibkan, namun digantikan oleh Yudas. Bagi kita umat Katolik, injil ini bukanlah injil yang termasuk dalam Injil kanonik, karena apa yang disampaikannya tidak sesuai dengan ajaran Kristen.

1. Gereja Katolik tidak mengakui ‘injil’ Barnabas

Gereja Katolik tidak mengakui adanya ‘injil’ Barnabas, karena tidak otentik. Kitab ini baru dituliskan berabad- abad kemudian setelah jaman Kristus dan para rasul. Manuskrip kitab tersebut ditemukan pada abad ke 16 (dalam bahasa Italia dan Spanyol). Karena Injil ini baru ditulis sekitar abad 16, terjadi kemungkinan  penyelewengan-penyelewengan, karena saksi hidup dari kejadian tersebut sudah tidak ada. Bandingkan dengan Injil kanonik yang ditulis pada saat saksi hidup masih ada, sehingga tidak mungkin terjadinya penyelewengan. Silakan membaca di artikel ini.

Penyebutan tentang ‘injil’ Barnabas pertama kali disebutkan dalam manuskrip Morisco (orang Moor) tahun 1634, oleh Ibrahim al Taybili, 1718 oleh John Toland, dan 1734 oleh George Sale. Ajaran yang terkandung di dalam kitab ini bertentangan dengan ajaran Kristus dan para rasul, dan lebih sesuai dengan interpretasi muslim tentang Kristianitas.

2. Ajaran ‘injil’ Barnabas yang bertentangan dengan ajaran Kristus dan para rasul

Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas bertentangan dengan kesaksian para saksi mata di abad pertama yang mempunyai lebih dari 5000 manuskrip untuk mendukung otentisitas kesaksian mereka, yaitu kitab-kitab Perjanjian Baru. Sebagai contohnya, ajaran injil Barnabas mengatakan bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias dan Ia tidak mati di salib; namun klaim ini sepenuhnya dibuktikan salah oleh dokumen-dokumen yang sudah terbukti asli/ otentik, yang menyatakan sebaliknya.

Dengan menolak Yesus sebagai Allah Putera,  ‘injil’ Barnabas dengan sendirinya menolak ajaran Allah Trinitas. Dengan demikian, kitab ini menolak inti ajaran keselamatan seperti yang diwahyukan oleh Allah sendiri, yang telah dimulai pre-figurasinya dalam Perjanjian Lama, sekitar 2000 tahun sebelum masehi, dan yang digenapi di dalam penjelmaan Kristus menjadi manusia dalam Perjanjian Baru. Tidak mungkin keseluruhan wahyu Allah, dengan segala nubuatan para nabi di Perjanjian Lama yang mengacu kepada Kristus Sang Mesias dalam Perjanjian Baru, dibatalkan dengan sebuah kitab yang baru ditulis di abad ke- 16, oleh pengarang yang tidak dikenal, hanya karena ia memakai nama Barnabas. Barnabas sendiri tidak termasuk dalam bilangan ke- dua belas rasul Kristus. Selanjutnya bukti- bukti menunjukkan bahwa tulisan tersebut tidak berasal dari jaman para rasul melainkan berabad- abad sesudahnya.

Kitab ‘injil’ Barnabas ini juga menolak puncak rencana keselamatan Allah, yaitu melalui penjelmaan Kristus Allah Putera sebagai manusia, penderitaan, wafat dan kebangkitan- Nya untuk menyelamatkan manusia. ‘Injil’ ini menyatakan bahwa yang disalibkan bukan Yesus, melainkan Yudas Iskariot, sedangkan Yesus sendiri diangkat ke surga. Pandangan seperti ini adalah pandangan Islam, dan bukan ajaran Kristus sendiri seperti yang disampaikan oleh ke-empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes).

Selanjutnya, kitab ini juga keliru dalam menyamakan Roh Kudus (paráklētos Yunani), dengan ‘periklutos‘ (artinya yang terhormat) yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ahmad”, sehingga akhirnya mengacu kepada Muhammad. Padahal dalam kitab Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat- surat Rasul Paulus, Roh Kudus tidak untuk diartikan sebagai manusia, melainkan Pribadi Allah sendiri yang dicurahkan kepada para Rasul dan umat beriman; untuk mendatangkan pertobatan dan mencurahkan rahmat pengudusan Allah dan karunia- karunia-Nya. Roh Kudus itu dijanjikan Yesus sebagai Roh Kebenaran, yan tidak diterima, tidak dilihat dan tidak dikenal oleh dunia, namun dikenal oleh para murid Kristus, dan Roh ini akan menyertai mereka dan berdiam di dalam diri mereka (lih. Yoh 14:15). Dari ayat ini saja kita mengetahui, tidak mungkin Roh Kudus (paráklētos) mengacu kepada tokoh manusia (yang dapat dilihat oleh dunia), apalagi jika tokoh ini mengajarkan hal-hal yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kristus. Karena dikatakan juga oleh Kristus, “…. Penghibur (paráklētos), yaitu Roh Kudus… akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).

Dari keterangan di atas, kita ketahui bahwa isi injil Barnabas tidak sesuai dengan pesan Allah, sehingga karena itu injil ini tidak menjadi bagian dari kanon Kitab Suci.

3. Surat Barnabas yang pernah dikenal dan dibacakan di Gereja Alexandria di abad ke 2, itu tidak sama dengan ‘injil’ Barnabas.

Jika ditinjau dari isinyapun tidak berhubungan antara Surat Barnabas dengan injil Barnabas. Surat Barnabas mengakui ke- Allahan Yesus, dan bahkan menekankan kasih karunia oleh Kristus yang mengatasi hukum Taurat, sehingga menolak hukum sunat. Sedangkan ‘injil’ Barnabas yang ditulis atas dasar pemahaman Islam, tidak demikian. Penjelasan tentang Surat Barnabas, silakan klik di sini.

4. Terdapat banyak kejanggalan dalam ‘injil’ Barnabas ini, contohnya:

a. Meskipun ditulis dalam bahasa Italia, kitab ini dituliskan dengan gaya Arab/ Islam, sekali- kali dengan kata- kata bahasa Turki, dan tata bahasa Turki, dengan dialek Tuska dan Venezia, seperti yang umum digunakan di kota universitas Bologna (Italia).

b. Di pinggiran halaman terdapat catatan- catatan dalam bahasa Arab.

c. Penjilidan kitab berasal dari Turki, walaupun kertasnya berasal dari Italia.

d. Terdapat kesalahan- kesalahan ejaan, seperti tidak perlunya huruf ‘h’ ketika suatu kata berawal dengan huruf hidup (contoh “hanno”, padahal harusnya cukup “anno”)

e. Spasi yang ada di bagian bawah setiap lembarnya mengindikasikan spasi yang dimaksudkan untuk pencetakan.

f. Banyak frasa yang digunakan dalam ‘injil’ Barnabas tersebut mempunyai kemiripan dengan frasa yang digunakan oleh Dante Alighieri, seorang pujangga ternama Italia di abad Pertengahan (1265-1321); sehingga dapat disimpulkan pengarang ‘injil’ ini meminjam/ meniru karya Dante.

g. Terdapat kemiripan tekstual ‘injil’ Barnabas ini dengan bahasa setempat tentang ke- empat Injil (terutama bahasa Italia abad Pertengahan) sehingga dapat diperkirakan bahwa kitab ini aslinya dituliskan dalam bahasa Italia. Ini membuktikan ketidak-otentikan kitab ini, sebab bahasa Italia sendiri baru eksis sekitar abad ke- 13 sebagai bahasa tulisan, sehingga tidak mungkin ditulis oleh ‘Barnabas’ murid Yesus di abad pertama)

5. Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah yang tercatat dalam ‘injil Barnabas’

Berikut ini adalah ketidak-sesuaian lainnya yang disebut Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah, yang menunjukkan bahwa tulisan ini tidak otentik, dan tidak merupakan wahyu Allah karena mengandung kesalahan. Injil Barnabas yang mengandung banyak kesalahan dan menjabarkan tentang kehidupan di zaman Abad Pertengahan, yang tidak cocok dengan kehidupan pada zaman Yesus dan para Rasul, membuktikan bahwa teks ini tidak berasal dari abad-abad pertama. (Selengkapnya silakan membaca di sumber yang netral di Wikipedia tentang ‘injil’ Barnabas ini, silakan klik). Berikut ini contoh- contohnya:

a. Dikatakan bahwa Yesus dilahirkan di jaman Pontius Pilatus, yang baru naik tahta setelah tahun 26. Ini keliru, karena Yesus lahir pada jaman Kaisar Agustus (Luk 2:1).

b. Yesus dikatakan ‘berlayar’ ke Nasaret (bab 20), padahal Nasaret bukan kota pelabuhan. Tidak ada pantai atau perairan di Nasaret untuk orang dapat berlayar.

c. Penulis kitab ini kelihatannya tidak menyadari bahwa kata ‘Kristus’ dan ‘Mesias’ adalah terjemahan dari kata yang sama yaitu ‘Christos’, yaitu yang menjabarkan Yesus sebagai Yesus Kristus. Maka tidak mungkin Yesus yang disebut Kristus itu mengatakan, “Saya bukan Mesias”, [karena sama saja ia mengatakan bahwa saya bukan Kristus, yang adalah namanya sendiri]. (bab 42)

d. Ada referensi tahun yubelium yang dirayakan setiap seratus tahun sekali (bab 82), bukannya lima puluh tahun sekali seperti yang dituliskan dalam kitab Imamat 25. Anakronisme ini kemungkinan berhubungan dengan Tahun Suci pada tahun 1300 yang ditentukan oleh Paus Boniface VIII, yang menentukan untuk memperingati tahun Yubelium setiap seratus tahun sekali.

e. Adam dan Hawa dikatakan memakan buah apel (bab 40), padahal seharusnya adalah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2:17). Kemungkinan kata apel diperoleh dari terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin, di mana ‘apel’ dan ‘jahat’ sama- sama dikatakan sebagai ‘malum‘.

f. Kitab tersebut mengatakan bahwa anggur disimpan di dalam gentong/ drum kayu (bab 152). Gentong kayu adalah ciri khas penyimpanan anggur di Gaul dan Italia Utara, dan tidak umum digunakan dalam kerajaan Roma, sampai tahun 300; sedangkan penyimpanan anggur di abad pertama di Palestina adalah di dalam kantong kulit (wineskin) dan tempayan (jar, ‘amphorae‘). Pohon English Oak/ Pedunculate (quercus robur) tidak tumbuh di Palestina, dan kayu jenis lainnya tidak cukup padat untuk digunakan sebagai gentong anggur.

g. Semua kutipan didasarkan pada Vulgate bible (382 AD). Ketika ‘injil’ Barnabas mengutip Perjanjian Lama, maka yang dikutip lebih sesuai dengan bacaan- bacaan yang ada di kitab Latin Vulgate, daripada yang ada di Kitab Septuagint ataupun Teks Masoretik Ibrani. Padahal terjemahan Latin Vulgate yang adalah hasil karya St. Jerome dimulai tahun 382, bertahun- tahun setelah kematian Barnabas. Maka pengutipan Vulgate ini merupakan indikasi, bahwa kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Rasul Barnabas sendiri di abad pertama, saat teks Vulgate sendiri belum ada.

h. Bab 54 mengatakan: “Sebab ia akan mendapatkan nilai tukar dari emas adalah enam puluh minuti.” Dalam Perjanjian Baru, satu- satunya koin emas, namanya aureus yang nilainya sama dengan 3,200 koin tembaga, yang disebut ‘lepton’ (diterjemahkan dalam bahasa Latin, minuti), sedangkan koin perak Roma mempunyai nilai tukar 128 lepton. Maka nilai tukar 1:60 yang ditulis dalam ‘injil’ Barnabas, adalah interpretasi dari jaman abad pertengahan dari perikop Injil (Mrk 12:42), yang berasal dari pengertian standar di abad pertengahan bahwa minuti berarti seperenampuluh.  Selain itu, disebutkan pemakaian nama koin denarius, yang dipakai di Spanyol tahun 685.

5. Kurangnya bukti yang mendukung keaslian injil Barnabas

Kurangnya bukti pendukung otentisitas injil Barnabas terlihat dari fakta, antara lain: ((sumber utama: Norman L Geisler & Abdul Saleeb, Answering Islam: The Crescent in the Light of the Cross, (Baker Books 1993), p. 295-299))

a. Tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru yang terbukti keotentikannya dengan adanya lebih dari 5,300 manuskrip Yunani yang berasal dari abad awal sampai abad ke-3, hal ini tidak terjadi pada injil Barnabas. Tidak ditemukan teks asli injil Barnabas sejak abad-abad awal.

b. Referensi pertama yang menyebutkan tentang injil Barnabas adalah dokumen yang disebut Decretum Gelasianum yang sering dihubungkan dengan Paus Gelasius I, 492-496. Konon injil Barnabas termasuk dalam daftar yang ada dalam Decretum tersebut, sebagai kitab apokrif yang harus dihindari. Namun di dekrit ini tidak disebutkan isi manuskrip injil Barnabas, dan juga keaslian Decretum tersebut juga dipertanyakan. Karena jika memang dekrit itu benar-benar resmi dan otentik dikeluarkan oleh Paus Gelasius I, seharusnya termasuk dalam dokumen-dokumen yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke Latin, oleh Dionysius Exiguus (470-544), anggota Kuria Roma yang menerjemahkan 401 kanon Gereja, termasuk kanon dan dekrit dari Konsili Nicea, Konstantinople, Kalsedon, Sardis dan kumpulan semua dekrit yang dikeluarkan oleh Paus dari Paus Siricius (384-399) sampai Anastasius II (496-498). Namun faktanya, tidak. Juga, jika dekrit ini otentik, mestinya dekrit ini juga termasuk dalam kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Cassiodorus (485-585), administrator Kaisar Theodoris Agung yang bekerjasama dengan Paus Agapetus I (535-536) dalam membuat perpustakaan teks Yunani dan Latin yang digunakan untuk mendukung sekolah-sekolah Katolik di Roma. Namun dekrit ini tidak termasuk di sana. Dengan demikian, para ahli menyimpulkan bahwa daftar kitab apokrif yang ada dalam dekrit itu belum tentu ditulis oleh Paus Gelasius I, namun oleh seorang imam dari Perancis Selatan atau Italia Utara, di abad ke-6, yang mengumpulkan dokumen-dokumen dari periode berbeda. ((Menurut New Catholic Encyclopedia yang dikeluarkan oleh The Catholic University of America, book 6, p. 314, Gelasian Decree Decretum Gelasianum terdiri dari 5 bab, tentang: 1) Roh Kudus dan nama Kristus; 2) Kanon Kitab Suci; 3) Keutamaan Petrus dan Tahta Suci; 4) Otoritas dekrit umum dari konsili-konsili; 5) Otoritas tulisan para Bapa Gereja dan karya tulis Kristiani lainnya yang diterima oleh Gereja. Di sini tidak disebutkan adanya daftar buku-buku yang dilarang.))

Selanjutnya, sekalipun ada teks asli injil Barnabas yang ditulis di abad ke-5, maka teks itu juga pasti bukan ditulis oleh Rasul Barnabas yang menjadi teman seperjalanan Rasul Paulus di abad pertama. Sebab tidak mungkin Rasul Barnabas hidup sampai ratusan tahun (sekitar empat ratus tahun?)

c. Bentuk yang terawal yang kita ketahui tentang injil Barnabas adalah teks dalam bahasa Italia. Teks ini telah diteliti oleh para ahli Kitab Suci dan disimpulkan bahwa teks tersebut berasal dari abad 15-16 yaitu sekitar 1400 tahun sejak zaman Rasul Barnabas. ((L. Bevan Jones, Christianity Explained to Muslims, rev. ed. (Calcutta: Baptist Mission Press, 1964)).

d. Walaupun injil Barnabas ini begitu dikenal sekarang di kalangan muslim, namun injil ini tidak dikenal/ dijadikan referensi oleh para penulis/ apologetik muslim sebelum abad ke-15 dan ke-16. Padahal jika injil ini memang sudah ada sejak dulu, hampir pasti mereka akan mengutipnya. Geisler menyebutkan contoh pengarang muslim yang cukup dikenal di abad sebelum abad 15, seperti Ibn Hasm (w. 456 A.H), Ibn Taimiyyah (w. 728 A.H.) Abu’l-Fadl al-Su’udi (menulis tahun 942 A.H.), dan Haji Khalifah (w. 1067 A.H.) mestinya mengacu kepada injil Barnabas dalam tulisan-tulisan mereka, jika memang injil itu sudah ada di masa mereka hidup.

e. Tidak ada Bapa Gereja di abad ke 1 sampai ke-15 yang pernah mengutipnya. Jika injil Barnabas otentik, tentu sudah pernah dikutip oleh para Bapa Gereja dalam kurun waktu tersebut, seperti yang terjadi pada kitab-kitab Injil kanonik. Bahkan kalau tidak otentik sekalipun, mestinya pernah dikutip oleh setidak-tidaknya seorang penulis pada masa itu. Tapi nyatanya, tidak ada yang pernah mengutipnya selama jangka waktu 1500 tahun.

f. Selain banyak orang salah paham dengan menyangka bahwa injil Barnabas adalah Surat (Pseudo) Barnabas (70-90) sebagaimana telah disebutkan dalam point  3 di atas,  adapula orang yang menyangka bahwa injil Barnabas sama dengan Akta Barnabas/ Acts of Barnabas (sebelum 478). Padahal keduanya tidak sama. Tidak ada penyebutan tentang nabi Muhammad di Akta Barnabas, dan isi kedua kitab berbeda. Silakan membaca teks Akta Barnabas di link ini, silakan klik.

g. Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas ini (bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias) juga tidak sesuai dengan klaim dari AlQur’an sendiri, sebab Qur’an sendiri mencatat bahwa Yesus (yang disebut Isa) adalah Mesias (lih. 3:45; 5:19,75), walaupun pengertian Mesias (Al masih) ini tidak sama dengan pengertian Yesus Sang Mesias bagi umat Kristiani.

h.  Terdapat banyak elemen-elemen Islam yang tercantum di dalam teks, yang mengindikasikan bahwa teks tersebut disusun oleh seorang muslim di abad-abad berikutnya. Para ahli mencatat ada sekitar empat belas hal. Di antaranya, disebutkannya kata “puncak” bait Allah di mana Yesus berkhotbah, diterjemahkan dalam bahasa Arab, sebagai dikka, yaitu mimbar/ platform yang digunakan yang di mesjid. ((J. Slomp, “The Gospel in Dispute,” in Islamochristiana (Rome: Pontificio Instituto di Studi Arabi, 1978), vol. 4, 7.)) Atau dikatakan bahwa Yesus hanya datang untuk bangsa Israel, sedangkan Muhammad untuk seluruh dunia (bab 11). Juga penolakan bahwa Yesus adalah Putera Allah.

Dengan tidak adanya bukti-bukti keotentikan injil Barnabas ini, sesungguhnya injil ini tidak layak untuk dijadikan dasar acuan ajaran. Injil Barnabas bukan teks yang berasal dari abad pertama Masehi, seperti seharusnya, jika benar ditulis oleh Rasul Barnabas. Sumber otentik yang berasal dari abad pertama yang merekam kehidupan Yesus adalah kitab-kitab Perjanjian Baru, yang semuanya bertentangan dengan ajaran injil Barnabas. Tidak mungkin keseluruhan wahyu Allah, dan segala nubuatan para nabi di Perjanjian Lama yang digenapi oleh Kristus Sang Mesias, sebagaimana tercatat di kitab-kitab di Perjanjian Baru, dibatalkan oleh sebuah kitab yang baru ditulis di abad ke- 16, oleh pengarang yang tidak dikenal, hanya karena memakai nama Barnabas.

6. Kesimpulan

Dengan tidak adanya bukti keotentikan injil Barnabas ini, sesungguhnya injil ini tidak layak untuk dijadikan dasar acuan ajaran. Injil Barnabas bukan teks yang berasal dari abad pertama Masehi, seperti seharusnya jika sungguh ditulis oleh Rasul Barnabas. Sumber otentik yang berasal dari abad pertama yang merekam kehidupan Yesus adalah kitab-kitab Perjanjian Baru, yang semuanya bertentangan dengan ajaran injil Barnabas.

Sebagai umat Kristiani, selayaknya kita berpegang pada Kitab Suci yang kanonnya ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang menerima kuasa infalibilitas dari Kristus untuk “mengikat dan melepaskan” (Mat 16:18-19, 18:18); dalam hal ini untuk menentukan kitab- kitab mana yang otentik dan isinya ‘mengikat’ bagi umat beriman, dan mana yang tidak. Sejak abad pertama, Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak mengikuti injil-injil yang lain daripada yang telah mereka terima dari para rasul (lih. 2 Kor 11:4 dan Gal 1:6). Injil yang lain ini adalah injil Gnostik dan Docetisme, yang berkembang menjadi ‘injil’ Barnabas di abad ke- 16.  Kita harus mengingat bahwa Kitab Suci diberikan kepada Gereja, dan Gerejalah yang berhak menentukan kanonnya dan interpretasi kitab- kitab tersebut secara otentik. Ini semakin menunjukkan betapa Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh Magisterium Gereja Katolik; ketiganya adalah pilar Gereja, yang menjamin bahwa Sabda Tuhan diterima dan dilestarikan dengan murni dari awal mula sampai sekarang.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab