Home Blog Page 145

Apakah Arti ‘Ex-Cathedra’?

6

Ex-cathedra yang arti literalnya adalah ‘dari kursi/tahta’, adalah sebuah istilah yang menandai ajaran otoritatif dan secara khusus mengacu kepada pernyataan definitif yang dikeluarkan oleh Paus. “Cathedra” pada mulanya merupakan istilah bagi kursi/tahta Uskup, dan kemudian diartikan sebagai Magisterium atau Wewenang Mengajar Gereja. Frasa ex cathedra muncul di tulisan-tulisan para Teolog Abad Pertengahan, dan kemudian lebih sering digunakan setelah zaman Reformasi, berkaitan dengan hak prerogatif Paus.

Namun artinya sekarang didefinisikan secara resmi oleh Konsili Vatikan II, sesi IV, Const. de Ecclesiâ Christi, c. iv:

“Kami mengajarkan dan mendefinisikan bahwa adalah dogma yang diwahyukan secara Ilahi bahwa Paus (Primat Roma), ketika ia berbicara secara ex- cathedra, yaitu ketika dalam rangka tugasnya sebagai pastor dan pujangga (doktor) bagi semua umat Kristiani, oleh prinsip otoritas Apostoliknya yang tertinggi, ia menetapkan/ mendefinisikan sebuah ajaran tentang iman atau moral untuk dipegang oleh seluruh Gereja, dengan pertolongan Ilahi yang dijanjikan kepadanya di dalam Rasul Petrus yang Terberkati, mempunyai infalibilitas yang dengannya Penebus Ilahi menghendaki bahwa Gereja-Nya harus dibekali di dalam menentukan ajaran tentang iman dan moral, dan bahwa, oleh karena itu penentuan/ definisi-definisi dari Paus adalah tidak dapat diubah, baik dengan sendirinya ataupun juga tidak dari konsensus Gereja.”

Dokrin ex catedra ini berdasarkan akan janji Yesus sendiri di Mat 16:16-20 “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Penerus dari Petrus adalah Paus, dan dengan janji yang sama maka kunci kerajaan surga juga diteruskan oleh penerus Rasul Petrus, yaitu para paus. Oleh karena kita percaya bahwa janji Yesus adalah YA dan AMIN, kita juga harus menyakini bahwa pada saat seorang Paus berbicara ex cathedra, maka Tuhan sendiri yang akan melindunginya dari kesalahan.

Markup: HTML Tags and Formatting

0

Headings

Header one

Header two

Header three

Header four

Header five
Header six

Blockquotes

Single line blockquote:

Stay hungry. Stay foolish.

Multi line blockquote with a cite reference:

People think focus means saying yes to the thing you’ve got to focus on. But that’s not what it means at all. It means saying no to the hundred other good ideas that there are. You have to pick carefully. I’m actually as proud of the things we haven’t done as the things I have done. Innovation is saying no to 1,000 things.

Steve Jobs – Apple Worldwide Developers’ Conference, 1997

Tables

Employee Salary
John Doe $1 Because that’s all Steve Jobs needed for a salary.
Jane Doe $100K For all the blogging she does.
Fred Bloggs $100M Pictures are worth a thousand words, right? So Jane x 1,000.
Jane Bloggs $100B With hair like that?! Enough said…

Definition Lists

Definition List Title
Definition list division.
Startup
A startup company or startup is a company or temporary organization designed to search for a repeatable and scalable business model.
#dowork
Coined by Rob Dyrdek and his personal body guard Christopher “Big Black” Boykins, “Do Work” works as a self motivator, to motivating your friends.
Do It Live
I’ll let Bill O’Reilly will explain this one.

Unordered Lists (Nested)

  • List item one
    • List item one
      • List item one
      • List item two
      • List item three
      • List item four
    • List item two
    • List item three
    • List item four
  • List item two
  • List item three
  • List item four

Ordered List (Nested)

  1. List item one
    1. List item one
      1. List item one
      2. List item two
      3. List item three
      4. List item four
    2. List item two
    3. List item three
    4. List item four
  2. List item two
  3. List item three
  4. List item four

HTML Tags

These supported tags come from the WordPress.com code FAQ.

Address Tag

1 Infinite Loop
Cupertino, CA 95014
United States

Anchor Tag (aka. Link)

This is an example of a link.

Abbreviation Tag

The abbreviation srsly stands for “seriously”.

Acronym Tag (deprecated in HTML5)

The acronym ftw stands for “for the win”.

Big Tag (deprecated in HTML5)

These tests are a big deal, but this tag is no longer supported in HTML5.

Cite Tag

“Code is poetry.” —Automattic

Code Tag

You will learn later on in these tests that word-wrap: break-word; will be your best friend.

Delete Tag

This tag will let you strikeout text, but this tag is no longer supported in HTML5 (use the <strike> instead).

Emphasize Tag

The emphasize tag should italicize text.

Insert Tag

This tag should denote inserted text.

Keyboard Tag

This scarcely known tag emulates keyboard text, which is usually styled like the <code> tag.

Preformatted Tag

This tag styles large blocks of code.

.post-title {
	margin: 0 0 5px;
	font-weight: bold;
	font-size: 38px;
	line-height: 1.2;
	and here's a line of some really, really, really, really long text, just to see how the PRE tag handles it and to find out how it overflows;
}

Quote Tag

Developers, developers, developers… –Steve Ballmer

Strike Tag (deprecated in HTML5)

This tag shows strike-through text

Strong Tag

This tag shows bold text.

Subscript Tag

Getting our science styling on with H2O, which should push the “2” down.

Superscript Tag

Still sticking with science and Isaac Newton’s E = MC2, which should lift the 2 up.

Teletype Tag (deprecated in HTML5)

This rarely used tag emulates teletype text, which is usually styled like the <code> tag.

Variable Tag

This allows you to denote variables.

Tentang Inkuisisi (Inquisition)

11

Dalam dialog dengan umat non- Katolik, topik tentang Inkuisisi kerap mencuat ke permukaan. Tak jarang, pihak Katolik enggan membicarakannya, karena kurang mengetahui bagaimana menanggapinya. Maka mari kita mencoba melihatnya dengan kacamata yang obyektif, untuk melihat duduk persoalannya.

Tiga macam inkusisi dalam sejarah

Dari definisinya, Inkuisisi/ inquisition berasal dari kata ‘inquire‘ yang artinya menanyakan/ memeriksa dengan seksama. Dalam hal ini yang diperiksa terutama adalah bagaimana sampai terjadi adanya kejahatan akibat ajaran sesat (heresi). Dalam sejarah, tercatat sedikitnya terdapat 3 macam inkuisisi yang terbesar: 1) Inkuisisi yang diadakan tahun 1184 di Perancis selatan, untuk menangani kaum Kataris. Tentang apakah kaum Kataris, dan mengapa sampai pihak Gereja Katolik dan pemerintah sekular menentang mereka, sudah pernah ditulis di sini, silakan klik. 2) Roman Inquisition yang dimulai 1542; 3) Spanish Inquisition yang dimulai tahun 1478, yang diadakan oleh pemerintah Spanyol untuk menyelidiki para conversos yaitu umat Katolik yang tadinya adalah penganut agama Yahudi dan muslim, atau mereka yang berpura-pura menjadi Katolik, namun sebenarnya bukan, demi kepentingan politik dan sosial, yang kemudian secara diam-diam melaksanakan ajaran agama mereka sebelumnya. Maka, selain untuk menghukum mereka yang bersalah, pengadilan/ penyelidikan Inkuisisi juga bermaksud membersihkan nama banyak orang yang tidak bersalah, yang dituduh melakukan heresi/ mengajar ajaran sesat tersebut. Inkuisisi ini diberlakukan bagi umat Katolik sendiri, walaupun bisa terjadi memang sebelumnya menganut agama/ paham lain. Mereka diadili karena  mengajarkan ajaran agamanya/ pahamnya yang terdahulu itu sehingga menimbulkan kekacauan di kalangan umat Katolik, sehingga Gereja Katolik berhak untuk meluruskannya.

Adanya berbagai inkuisisi yang terjadi di dunia dalam abad yang berbeda-beda turut memberikan kontribusi gambaran yang negatif tentang inkuisisi, sebagaimana yang terjadi di India oleh pemerintahan Portugis 1560-1812, dan yang terjadi di Mexico dan Lima di sekitar jangka waktu yang sama.

Kekejaman dalam pelaksanaan inkuisisi?

Dari catatan sejarah yang ditulis oleh kaum fundamentalis Henry C. Lea (1825–1909) dan G.G Coulton (1858–1947) memang kita dapat tercengang akan laporan kekejaman yang terjadi di masa Inkuisisi itu, yang membuat kita sebagai umat Katolik bertanya-tanya mengapa sampai hal-hal itu dapat terjadi. Namun harus kita mengingat juga bahwa tulisan itu dibuat oleh pihak yang sejak awal memang sudah menentang Gereja Katolik. Sebaliknya, umat Katolik juga tidak dapat mengatakan bahwa Inkusisi itu tidak ada atau tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaannya. Nampaknya harus diakui bahwa walaupun inkuisisi dilaksanakan oleh pemerintah sekular, namun ada juga keterlibatan anggota-anggota Gereja sebagai pelaksananya, dan dapat terjadi ada penyimpangan dalam prosedurnya; sama seperti pada zaman sekarang, bahwa apapun program pemerintah, yang baik sekalipun, dapat saja dilakukan tidak dengan semestinya. Kristus dan Rasul Paulus sudah memperingatkan akan kemungkinan terjadinya hal ini (lih. Mat 7:15 Kis 20:29). Gereja memang tidak hanya terdiri dari orang-orang suci, namun juga orang-orang berdosa.

Mengapa Gereja Katolik menghukum para heretik/ pengajar sesat?

Harus diakui heresi pada masa itu memang dianggap sebagai perbuatan kriminal yang berat, tidak saja oleh Gereja Katolik, tapi juga oleh gereja-gereja Protestan. (Sesungguhnya bahkan di zaman sekarangpun hal pengajaran sesat oleh sesama umat yang bersangkutan dapat dianggap sebagai perbuatan kriminal, bahkan oleh agama non-Kristen, seperti halnya fatwa yang dikeluarkan oleh Ayatollah Khomeini terhadap Salman Rushdie beberapa tahun yang silam).

Selain itu, Inkuisisi menjatuhkan hukuman juga kepada para penyihir, bukan karena mereka dianggap mengajar ajaran agama sesat, namun karena itu dianggap sebagai tanda ketidakwajaran/ kegilaan (insanity).

Maka sesungguhnya, orang-orang yang dihukum bukanlah orang yang tidak bersalah. Kaum Kataris/ Albigensian bukan “the Bible Christians” sebagaimana diklaim oleh sejumlah orang. Mereka adalah sekte yang mencampurkan ajaran Kristiani dengan Gnosticisme dan Manichaisme, sehingga menentang perkawinan, mengizinkan perzinahan, dan menganjurkan bunuh diri. Tak mengherankan baik Gereja maupun pemerintah sekular menolak ajaran tersebut.

Selanjutnya, pengadilan inkuisisi Spanyol juga mengadili para konvert dari kaum muslim yang dikenal dengan sebutan Moriscos. Mereka memang diadili dengan kejam oleh Lucero di Cordova, namun kemudian, sebagai akibatnya, Lucero sendiri diturunkan dari jabatannya dan dipenjara (1507). ((lih. Catholic New Encyclopedia, Book 7, The Catholic University of America, 1967, reprint 1981, p. 540))

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa pengadilan inkuisisi yang melibatkan Gereja Katolik tidak menjatuhkan hukuman mati kepada para heretik yang mengeraskan hati. Yang dilakukan oleh pengadilan Inkuisisi adalah menyatakan keputusan untuk menyerah kepada pengadilan sekular, jika mereka tidak bertobat/ menyesal dari perbuatan mereka. Selama tugasnya sebagai hakim Inkuisisi, Bernard Gui (1307- 1324), hanya mengirimkan 40 heretik yang mengeraskan hati ke pengadilan sekular. Pengadilan sekular inilah yang kemudian menjatuhkan hukuman kepada mereka, yang dapat berupa penyiksaan ataupun hukuman mati. Hukuman mati ini memang dapat berupa hukuman dibakar, yang dilakukan di hadapan publik. Namun hal ini juga merupakan kekecualian dan jarang terjadi. Di Tolouse (1256) tercatat hanya ada sekali hukuman semacam ini diberlakukan, dan 12 hukuman seumur hidup. ((lih. Ibid., p 539))

Mengapa ada inquisisi?

Jika kita membaca kitab Perjanjian Lama, kita kurang lebih dapat memahami pola pikir orang-orang pada zaman inkuisi itu, yaitu jika kita membaca kitab Ulangan tentang hukuman bagi pelaku kejahatan yang melanggar perjanjian dengan Allah. “Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, dengan melangkahi perjanjian-Nya, dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu; dan apabila hal itu diberitahukan atau terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di antara orang Israel, maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati…” (Ul 17:2-5). Maka di zaman bangsa Israel, juga sudah pernah ada kejadian serupa, di mana diadakan pemeriksaan dengan seksama akan adanya suatu pelanggaran, dan bagaimana yang melanggar tersebut juga berusaha mengajarkan pandangan mereka, dan Tuhan kemudian menunjukkan bagaimana menangani hal tersebut (lih. Ul 13:6-18). Demikianlah kemungkinan para inkuisitor tersebut menyimpulkan bahwa apa yang pernah diberlakukan terhadap bangsa Israel di zaman Perjanjian Lama dapat pula mereka terapkan demi membasmi kejahatan di antara mereka (Ul 13:5, 17:7, 12). Prinsip ini juga diajarkan oleh Rasul Paulus (lih. 1 Kor 5:12-13). Maka yang diadili dalam pemeriksaan inkuisisi adalah orang-orang yang mengaku sebagai umat Katolik, namun hidupnya dilaporkan tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, dan mempengaruhi/ mengajarkan ajaran yang sesat tersebut kepada umat yang lain. Bahwa pada akhirnya dalam pelaksanaan pemeriksaan ini terjadi hal-hal yang menyimpang dan kekejaman, itu adalah sesuatu yang patut disesalkan, namun dengan jujur kita patut menerima bahwa maksud awalnya diadakan sebenarnya adalah membasmi kejahatan dan penyimpangan dari ajaran Tuhan sebagaimana dipercayakan kepada Gereja.

Berapa jumlah yang wafat melalui Inkusisi?

Sejujurnya, berapa jumlah tepatnya korban akibat Inkuisisi, tidak dapat diketahui dengan pasti. Namun kita dapat mengetahui dengan pasti, bahwa klaim 95 juta orang, yang sering disebut-sebut oleh kaum fundamentalis non-Katolik sebagai jumlah korban inkuisisi, jelas terlalu berlebihan, dan tidak masuk akal. Sebab inkuisisi tidak terjadi di Eropa Utara, Eropa Timur, Skandinavia dan Inggris, namun hanya terjadi di kawasan Perancis Selatan, Italia, Spanyol, sebagian kerajaan Romawi. Maka inkuisisi tidak dapat membunuh 95 juta orang sebab jumlah total orang yang hidup di kawasan tersebut saja tidak sampai sebanyak itu.

Studi sejarah yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 4000 ((cf. Will Durrant, The Reformation: A History of European Civilization from Wycliff to Calvin: 1300-1564 (MJF Books, 1985), p. 216)) sampai 5000 orang yang dihukum mati oleh inkuisisi di Spanyol, dan ini terjadi dalam selang waktu sekitar dua setengah abad. Di masa Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabella, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 orang di antaranya dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800 (250 tahun). Sedangkan, sebagai perbandingan, dalam perang sipil di Jerman selama dua tahun (1524-1526) antara para petani dan kaum terpelajar, yang dipicu oleh pengajaran Luther tentang ide membuat semua orang sama derajatnya, membuat puluhan ribu petani menyerang para imam, uskup, prajurit, menguasai kota, membuat kekacauan, dan mengakibatkan serangan balik dari pihak penguasa dan pemerintah yang menewaskan sekitar 130,000 petani belum termasuk golongan masyarakat yang lain. Menurut sejarahwan William Manchester, jumlah warga Jerman yang wafat di sekitar waktu konflik tersebut mencapai sekitar 250,000 orang, jika dihitung sejak tahun 1523 sampai 1527. ((Ibid., p. 392)) Juga, hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella. Demikian juga, pembunuhan 72,000 umat Katolik yang dilakukan oleh Raja Inggris Henry VIII, sehingga jumlah orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad.

Inkuisisi oleh pihak non- Katolik

Maka yang menginterpretasikan secara harafiah teks dari Kitab Ulangan tersebut pada masa itu, tidak hanya para inkuisitor Katolik, tetapi juga inkuisitor gereja Protestan. Baik Luther maupun Calvin mengakui hak negara untuk menangani heretik. Calvin tidak hanya mengusir mereka dari Geneva, tetapi juga menghukum mati mereka (contohnya Jacques Gouet, yang dipenggal kepalanya tahun 1547, dan Michael Servetus yang dihukum mati dengan dibakar di tahun 1553). Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun  1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” ((Vittorio Messori, Black Legends of the Church, ch. 6, nr. 36)). Di Inggris dan Irlandia, para reformer itu juga mengadakan inkuisisi dan penghukuman mati, yang diperkirakan juga mencapai ribuan orang Katolik, entah dengan digantung, ditenggelamkan atau dipotong-potong, karena mereka Katolik dan menolak untuk menjadi Protestan. Lebih banyak yang lainnya dipaksa untuk keluar dari tanah air mereka untuk menyelamatkan diri.

Dengan demikian kita melihat bahwa hal inkusisi ini juga dilakukan tidak saja oleh Gereja Katolik tetapi juga oleh gereja Protestan, dan hal penghukuman mati secara masal dan kejam bahkan terjadi lebih parah lagi dalam Perang dunia ke I, ke II, perang/ pertikaian di negara-negara non- Kristen, dan revolusi negara-negara yang tidak ber-Tuhan, seperti di China dan Rusia. Maka inkusisi selayaknya menjadi fakta kelam sejarah seluruh umat manusia, yang seharusnya membuat kita semua berintrospeksi diri, bukannya menuding pihak tertentu sebagai satu-satunya yang bersalah dalam hal ini. Sebab sejujurnya hal kekejaman pembunuhan umat manusia secara massal tidak saja pernah dilakukan oleh oknum-oknum dari kalangan Katolik saja, tetapi juga kalangan Kristen non- Katolik dan bahkan non- Kristen. Oleh sebab itu, sungguh baiklah teladan Paus Yohanes Paulus II, yang dengan kerendahan hati mengakui adanya kesalahan yang dilakukan oleh putera-puteri Gereja, yang tidak menerapkan hukum kasih selama dalam proses inkuisisi ini. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II atas nama Gereja Katolik meminta maaf, atas nama mereka, menjelang perayaan tahun Yubelium 2000.

Mari berdoa agar setiap pemimpin agama ataupun pemimpin negara di dunia juga berlaku yang sama, yang terlebih dahulu mengakui kesalahan yang dilakukan juga oleh anggota-anggotanya, dan kemudian bersama-sama sebagai kesatuan umat manusia kita mengusahakan perdamaian dunia di saat ini dan di masa depan.

Sumber:
The Inquisition, Catholic Answers, klik di sini.
Buku-buku seperti disebutkan di catatan kaki.

Madah Cinta

1

Kehidupan bagaikan semak belukar, berat dan tidak enak dipandang. Hidup terperangkap dalam banyak kegiatan. Pontang-panting menimbulkan pertanyaan “apa yang dicari” dengan semuanya. Semuanya berakhir pada “serba salah”. Bukannya sebuah kesaksian hidup yang dipancarkan, tetapi kekecewaan yang merobek ketulusan. Kelelahan yang menyiksa menimbulkan kerinduan untuk kembali kepada misi kehidupan. Memadahkan cinta, tanpa gebyar-gebyar, membuat hidup kembali nyaman dan bermakna.

Hidup sederhana, tetapi penuh hikmat, dilakoni oleh seorang ibu yang harus menjalani cuci darah seminggu tiga kali sejak enam tahun lalu akibat penyakit diabetes yang ia derita sejak duapuluh delapan tahun silam. Penyakit diabetesnya itu pelan-pelan menggerogoti organ-organ vital tubuhnya. Ia dapat bertahan karena madah cintanya kepada Tuhan dan keluarganya, yang ia alunkan dalam setiap langkah hidupnya. Kesibukannya pun tidak menebarkan kejengkelan, tetapi justru kekaguman karena merupakan buah dari cinta. Perkataan Ibu Theresia dari Kalkuta “Buah dari iman adalah kasih dan buah dari kasih adalah pengabdian” merupakan inspirasinya. Senyuman merupakan riasan alaminya sehingga kelelahan fisik akibat diabetes yang ganas tidak tampak.

Kisah hidupnya seharusnya pantas diangkat ke layar kaca karena akan meneguhkan iman para pemirsa. Pada suatu siang, ia meminta tolong menantunya untuk memanggilkan aku. Ia mengenalku dari siaran “Oase Rohani Katolik” di Radio Cakrawala. Ia ingin sekali mengaku dosa dan curhat. Aku dan juga anak-anaknya sempat berpikir bahwa ia mungkin akan menumpahkan segala uneg-unegnya yang telah menyesakkan dada akibat luka batin di masa silam. Ternyata pikiran kami meleset semua. Ia curhat bahwa ia ingin menghadap Tuhan kalau memang sudah tidak berguna. Ia tahu bahwa anak-anak dan para cucunya sangat mengharapkan kehadirannya, tetapi mereka sudah mandiri semuanya, sehingga tidak mengganggu pikirannya. Batinnya tersiksa dengan bayang-bayang orang-orang jompo di Pamulang. Selama dua tahun ini ternyata setiap minggu ia memasak makanan bagi mereka. Ketika ia sakit, ia tidak bisa melakukannya. “Siapa ya, sekarang, yang memberikan makan bagi mereka yang lemah itu”, itulah ungkapan batinnya. Hatinya yang mulia mencengangkan kami semua. Hatinya yang mulia terbentuk sejak masih belia. Ia selalu bangun jam empat pagi untuk membantu maminya memasak dan memandikan binatang-binatang peliharaan orang tuanya. Baru kemudian ia berangkat ke sekolah. Setelah pulang sekolah, ia tidak bermain, tetapi membantu maminya membuat kue dan menjahit pakaian untuk menambah penghasilan keluarga. Ia menabung uang sisa keperluan rumah tangga dalam bentuk perhiasan-perhiasan emas.

Pada usia duapuluh tahun, Tuhan mempertemukannya dengan pasangannya dan mereka menikah di sebuah gereja non Katolik, menurut iman suaminya. Setelah menikah, ia bersama suaminya pindah ke Rangkasbitung dan tinggal di rumah kontrakan yang sederhana. Ia mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ia menanamkan iman ke dalam diri keenam anaknya sejak mereka kecil. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya itu untuk mengucap syukur atas segala sesuatu kepada Tuhan. Setiap malam, ia selalu mendoakan anak-anaknya dengan menyebut namanya satu persatu. Ia menjadikan Firman Tuhan pegangan hidup anak-anaknya dengan menuliskan ayat-ayat Kitab Suci di tembok rumah. Peduli kepada sesama sudah dibiasakannya dalam keluarga dengan meminta anak-anaknya mengirimkan makanan kepada tetangga-tetangganya yang kesusahan.

Pada tahun 1971 ia memutuskan untuk menjadi Katolik. Alasannya : ibadatnya sederhana, romonya murah senyum dan berpenampilan sederhana, serta tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin. Sejak menjadi Katolik, ia meminta anak-anaknya aktif dalam kegiatan gerejani. Pada tanggal 29 September 2003, ia harus menjadi orang tua tunggal karena suaminya meninggal dunia. Suaminya meninggal dunia karena penyakit yang sama dengan yang dideritanya.

Setelah anak-anaknya bersedia untuk melanjutkan memberi makan kepada orang-orang tua di panti werdha, ia menghadap Bapa pada Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran di Roma pada tanggal 09 November 2012 pukul 18.27. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada saat doa Koronka selesai didaraskan. Ia telah mencapai kemenangan dengan masuk dalam Gereja Abadi di Surga, yang dilambangkan Pesta Gereja Basilika Lateran, dan dengan menerima cinta kasih Yesus dalam doa Koronka yang mengiringi kepergiannya. Ia memberikan pesan kepada anak-anaknya tentang sukacitanya untuk menghadap Bapa : “Mami sudah siap pulang ke Surga. Kalian jangan sedih dan menangis, tetapi harus bersukacita dengan memanggil tukang masak dan tukang kue karena Mami telah memenangkan pertandingan”.

Sejarah hidupnya yang dibungkus dengan kasih memberikan teladan bagaimana seharusnya anugerah hidup ini disyukuri sehingga menjadi bermakna. Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah dengan sukacita. Hidup adalah sebuah lagu, maka nyanyikanlah dengan perasaan. Hidup adalah sebuah mimpi, maka raihlah dengan bijaksana. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah dengan cerdas. Hidup adalah sebuah pujian, maka madahkanlah dengan iman. Hidup adalah sebuah cinta, maka pancarkanlah dengan ceria. Dekatlah dengan Yang Mahakuasa, maka hidup pun tiada bernoda pada hari kesudahannya : “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari padaNyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2). Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Markup: Image Alignment

0

Welcome to image alignment! The best way to demonstrate the ebb and flow of the various image positioning options is to nestle them snuggly among an ocean of words. Grab a paddle and let’s get started.

On the topic of alignment, it should be noted that users can choose from the options of NoneLeftRight, and Center. In addition, they also get the options of ThumbnailMediumLarge & Fullsize.

Image Alignment 580x300

The image above happens to be centered.

Image Alignment 150x150The rest of this paragraph is filler for the sake of seeing the text wrap around the 150×150 image, which is left aligned

As you can see the should be some space above, below, and to the right of the image. The text should not be creeping on the image. Creeping is just not right. Images need breathing room too. Let them speak like you words. Let them do their jobs without any hassle from the text. In about one more sentence here, we’ll see that the text moves from the right of the image down below the image in seamless transition. Again, letting the do it’s thang. Mission accomplished!

And now for a massively large image. It also has no alignment.

Image Alignment 1200x400

The image above, though 1200px wide, should not overflow the content area. It should remain contained with no visible disruption to the flow of content.

Image Alignment 300x200

And now we’re going to shift things to the right align. Again, there should be plenty of room above, below, and to the left of the image. Just look at him there… Hey guy! Way to rock that right side. I don’t care what the left aligned image says, you look great. Don’t let anyone else tell you differently.

In just a bit here, you should see the text start to wrap below the right aligned image and settle in nicely. There should still be plenty of room and everything should be sitting pretty. Yeah… Just like that. It never felt so good to be right.

And just when you thought we were done, we’re going to do them all over again with captions!

Image Alignment 580x300
Look at 580×300 getting some caption love.

The image above happens to be centered. The caption also has a link in it, just to see if it does anything funky.

Image Alignment 150x150
Itty-bitty caption.

The rest of this paragraph is filler for the sake of seeing the text wrap around the 150×150 image, which is left aligned

As you can see the should be some space above, below, and to the right of the image. The text should not be creeping on the image. Creeping is just not right. Images need breathing room too. Let them speak like you words. Let them do their jobs without any hassle from the text. In about one more sentence here, we’ll see that the text moves from the right of the image down below the image in seamless transition. Again, letting the do it’s thang. Mission accomplished!

And now for a massively large image. It also has no alignment.

Image Alignment 1200x400
Massive image comment for your eyeballs.

The image above, though 1200px wide, should not overflow the content area. It should remain contained with no visible disruption to the flow of content.

Image Alignment 300x200
Feels good to be right all the time.

And now we’re going to shift things to the right align. Again, there should be plenty of room above, below, and to the left of the image. Just look at him there… Hey guy! Way to rock that right side. I don’t care what the left aligned image says, you look great. Don’t let anyone else tell you differently.

In just a bit here, you should see the text start to wrap below the right aligned image and settle in nicely. There should still be plenty of room and everything should be sitting pretty. Yeah… Just like that. It never felt so good to be right.

And that’s a wrap, yo! You survived the tumultuous waters of alignment. Image alignment achievement unlocked!

Markup: Text Alignment

0

Default

This is a paragraph. It should not have any alignment of any kind. It should just flow like you would normally expect. Nothing fancy. Just straight up text, free flowing, with love. Completely neutral and not picking a side or sitting on the fence. It just is. It just freaking is. It likes where it is. It does not feel compelled to pick a side. Leave him be. It will just be better that way. Trust me.

Left Align

This is a paragraph. It is left aligned. Because of this, it is a bit more liberal in it’s views. It’s favorite color is green. Left align tends to be more eco-friendly, but it provides no concrete evidence that it really is. Even though it likes share the wealth evenly, it leaves the equal distribution up to justified alignment.

Center Align

This is a paragraph. It is center aligned. Center is, but nature, a fence sitter. A flip flopper. It has a difficult time making up its mind. It wants to pick a side. Really, it does. It has the best intentions, but it tends to complicate matters more than help. The best you can do is try to win it over and hope for the best. I hear center align does take bribes.

Right Align

This is a paragraph. It is right aligned. It is a bit more conservative in it’s views. It’s prefers to not be told what to do or how to do it. Right align totally owns a slew of guns and loves to head to the range for some practice. Which is cool and all. I mean, it’s a pretty good shot from at least four or five football fields away. Dead on. So boss.

Justify Align

This is a paragraph. It is justify aligned. It gets really mad when people associate it with Justin Timberlake. Typically, justified is pretty straight laced. It likes everything to be in it’s place and not all cattywampus like the rest of the aligns. I am not saying that makes it better than the rest of the aligns, but it does tend to put off more of an elitist attitude.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab