Home Blog Page 143

Am I Happy?

1

saint AgustinusDalam benak masa kecilku, gulali adalah suatu kemewahan sehingga aku tidak berani meminta pada orang tua (selain karena lebih sering ditolak). Ketika suatu hari aku mendapatkannya, aku sangat bahagia sampai merasa tidak butuh apa-apa lagi. “Kriteria” kebahagiaan yang begitu sederhana.

Membandingkan masa kecil dengan sekarang, aku melihat betapa “kriteriaku” bertumbuh dan bertambah. Semakin dewasa, aku merasa semakin butuh banyak hal agar hidup “bahagia”. Aku mengira bisa bahagia dengan memiliki pasangan hidup, karier, kesejahteraan finansial, seks, pengetahuan, status sosial, dsb. Tenaga dan waktu kukorbankan supaya “kriteria-kriteria” tersebut tercapai. Malah, aku sampai mengorbankan keluarga dan orang-orang yang disayangi. Sampai akhirnya, aku jenuh dan menoleh ke belakang. Aku teringat betapa “kriteria” kebahagiaanku dulu sangat simpel. Di tengah kejemuan tersebut, terlintas kata-kata St. Agustinus, Uskup Hippo (354-430 AD) :

“Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu, dan tidak tenanglah hati kami sampai kami beristirahat dalam Engkau” – St. Agustinus dari Hippo

St. Agustinus menyadarkanku bahwa “kriteria” kebahagiaan yang sejati adalah Allah. Beliau mengingatkan bahwa Allah adalah kebutuhanku yang sebenarnya, sekalipun terkadang “kriteria” ini kadang terdengar teoritis dan kurang nyata. Manusia membutuhkan Allah dalam hidup, sekalipun manusia menyangkal atau meremehkan Allah. Ibaratnya, orang-orang yang sedang diet ketat pun tetap membutuhkan makanan agar tetap sehat.

Mungkin, “kriteria-kriteria” kebahagiaanku yang lain baru muncul setelah aku membandingkan hidupku dengan orang tua, artis, tokoh masyarakat, atau orang-orang lain. “Kriteria-kriteria” itu muncul karena keinginan, namun bukan kebutuhanku.

Kehidupan masyarakat juga seakan mempertegas kenyataan ini. Banyak orang kaya dengan hidup yang tersiksa atau kalangan selebriti yang gelisah karena tidak menemukan ketenangan. Di sisi lain, aku melihat tukang becak yang tertawa-tawa dengan keluarganya walau lauk makan malam mereka hanya ikan teri. Banyak orang cacat yang berhasil menjadi inspirasi bagi orang lain. Banyak biarawan-biarawati yang melayani dengan bahagia.

Aku ingin agar bisa bahagia walau hanya dengan hal-hal kecil. Aku ingin agar kebahagiaanku hanya ada pada gulali, sebuah gulali yang aku akan bawa ke kandang domba untuk kupersembahkan pada Bayi Yesus di hari kelahiranNya.

-Ioannes Wirawan-

Gulali Santo Santa

0

gulaliGulali adalah penganan yang dibuat dari air gula yang kental (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Umumnya, cemilan ini adalah kegemaran anak-anak, walaupun diminati juga oleh banyak orang dewasa. Bentuk, warna, dan ukuran gulali berbeda-beda di tiap daerah dan negara. Namun, semuanya dibuat dari air gula kental, dan manis.
Begitu pula Para Kudus yang telah berjaya di Surga terdiri dari beragam karakteristik. Kita mengenal St. Therese Lisieux yang belia hingga St. Anna yang sudah tua. St. Kateri Tetakwitha dari suku Indian hingga St. Paulus Miki dari Jepang. St. Pio yang dikenal banyak orang hingga St. Notburga yang hanya pernah didengar segelintir orang. Namun, mereka semua manis oleh rahmat Allah yang pekat.
Kita semua, juga memiliki pengalaman hidup dan karakter yang berbeda satu sama lain. Namun, Allah selalu melimpahkan rahmat pekat yang manis untuk kita. Bersama Para Kudus, kita belajar mensyukuri segala peristiwa dalam hidup, entah kebahagiaan, kesedihan, kekhawatiran, kerinduan, dan meneladani mereka. Mereka juga mengalami semua itu, namun mereka berhasil menang dengan manis sehingga memuliakan Tuhan. Semoga Gulali Santo-Santa mempermanis hari-hari kita, dan pada gilirannya, mendorong kita untuk memintal gulali kita untuk Yesus!

Selamat menikmati Gulali Santo Santa

[catlist ID=1457 order=ASC numberposts=100 order=desc]

Apa benar Paus mentolerir dosa?

2

Baru-baru ini ada banyak cuplikan berita di internet yang menyimpulkan dari kutipan perkataan Paus Benediktus XVI, bahwa Paus sepertinya mentolerir dosa seksual terhadap anak-anak. Contohnya, seperti yang dikatakan di situs ini, http://www.sott.net/article/220257-Vatican-Christmas-Shocker-Pope-says-child-rape-isnt-that-bad-was-normal-back-in-his-day

Kalimat yang dipermasalahkan adalah: “In the 1970s, paedophilia was theorised as something fully in conformity with man and even with children,” the Pope said. (“Di tahun 1970-an, paedophilia dikatakan sebagai sesuatu yang sesuai dengan kodrat pria dan bahkan dengan kodrat anak-anak.”)

Mungkin reaksi spontan kita yang mendengarnya adalah kita mengernyitkan kening, “Masa sih? Benarkah Paus mengatakan demikian?”. Maka mari kita teliti bersama.

Pertama-tama, kalau kita mendengar berita semacam ini, kita perlu memeriksa, apakah sebenarnya yang dikatakan Paus secara keseluruhan, supaya kita mengetahui konteksnya. Kalau tidak demikian, kita benar-benar dapat menjadi salah paham. Sebab kalimat itu memang dikatakan oleh Paus, tetapi hal tersebut dikatakan sebagai suatu fakta yang salah. Sayangnya, pernyataan Paus yang mengatakan bahwa itu salah, tidak dikutip. Cara mengutip yang sedemikian ini, efeknya menyesatkan. Jadi kasusnya serupa dengan seorang Atheis yang dikutip mengatakan bahwa Kitab Suci mengajarkan, “Tidak ada Allah”. Tetapi itu kutipan yang ceroboh, sebab kalimat lengkapnya, “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” (Mzm 14:1). Lha, artinya kan sebaliknya.

Jadi dalam hal ini kita lihat dulu konteksnya apa, dan apa sebenarnya yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI:

“In order to resist these forces, we must turn our attention to their ideological foundations. In the 1970s, paedophilia was theorized as something fully in conformity with man and even with children. This, however, was part of a fundamental perversion of the concept of ethos. It was maintained – even within the realm of Catholic theology – that there is no such thing as evil in itself or good in itself. There is only a “better than” and a “worse than”. Nothing is good or bad in itself. Everything depends on the circumstances and on the end in view. Anything can be good or also bad, depending upon purposes and circumstances. Morality is replaced by a calculus of consequences, and in the process it ceases to exist. The effects of such theories are evident today. Against them, Pope John Paul II, in his 1993 Encyclical Letter Veritatis Splendor, indicated with prophetic force in the great rational tradition of Christian ethos the essential and permanent foundations of moral action. Today, attention must be focussed anew on this text as a path in the formation of conscience. It is our responsibility to make these criteria audible and intelligible once more for people today as paths of true humanity, in the context of our paramount concern for mankind.”

Teks selengkapnya, silakan baca di link Vatikan, klik di sini.

Maka di sini Paus sebenarnya sedang mengatakan bahwa ada gerakan yang kuat yang berkembang di dunia sekarang ini, yang menganggap pornografi bagi anak-anak sebagai sesuatu yang normal, dan ini merusak masyarakat (silakan membaca alinea sebelumnya). Nah agar kita bisa mengalahkan kekuatan ini, kita harus melihat apakah sebenarnya dasar pemikiran mereka. Lalu Paus memberikan data faktual bahwa sekitar tahun 1970-an (setelah revolusi seks di Eropa), paedophilia dikatakan sebagai sesuatu yang sepertinya sesuai dengan kodrat pria dan bahkan anak-anak. Namun demikian, Paus mengatakan, hal ini adalah penyimpangan yang mendasar (fundamental perversion) dari konsep ethos. It was maintained, nah ‘it‘ di sini mengacu kepada pandangan yang dianut oleh penyimpangan/ fundamental perversion itu, bahwa segala perbuatan dipandang relatif, tergantung dari keadaan dan tujuan. Pandangan ini mengakibatkan bahwa moralitas dilihat hanya sebagai hitungan akibat [dari suatu perbuatan]. Paham ini berlaku sampai sekarang. Nah, untuk melawan pandangan yang salah ini, Paus Benediktus XVI mengacu kepada tulisan ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Veritatis Spendor, yang mengatakan bahwa pondasi yang teguh (tidak bersifat relatif) untuk tindakan moral yang baik adalah nilai-nilai (ethos) Kristiani. Maka sekarang, perhatian harus difokuskan kepada tulisan ensiklik Paus Yohanes Paulus II ini, dalam rangka membentuk suara hati nurani di dalam diri setiap orang. Menurut Paus, adalah merupakan tanggungjawab kita agar dapat menjadikan kriteria ini semakin jelas dan dipahami, supaya masyarakat dapat sungguh menjadi semakin manusiawi.

Sedangkan tentang fakta bahwa tahun 70-an memang terjadi kecenderungan keterbukaan terhadap hal-hal seksual, bahkan sampai masuk dalam pendidikan anak-anak di sekolah, hal ini dilaporkan oleh pengamat independent, sebagaimana ditulis di link ini, silakan klik.

Jadi sebenarnya apa yang dikutip di media itu adalah pernyataan Paus yang sudah dipancung, sehingga tak mengherankan, sepertinya sangat janggal. Menjawab pertanyaan di atas: Apa benar Paus mentolerir dosa? Tentu jawabnya jelas: Tidak. Hanya saja, kita perlu mendengarkan keseluruhan perkataannya (atau membaca keseluruhan alinea khotbahnya), baru dapat memahami apa yang dimaksudkan Paus.

Maka, mari bersama-sama kita melihat suatu pernyataan dengan sikap terbuka, namun termasuk juga terbuka untuk melihat konteks keseluruhan dari sumber aslinya. Dengan sikap demikian, kita tidak dengan mudah dibingungkan oleh banyaknya informasi, termasuk informasi yang seringkali membelokkan apa yang sebenarnya disampaikan oleh Gereja.

Benarkah kubur Yesus ditemukan?

4

Di tahun 2007 pernah ramai-ramai dibicarakan tentang Discovery Channel dan direktur film Titanic, James Cameron, yang memproduksi tayangan program TV tentang apa yang konon mereka klaim sebagai “kubur Yesus.”

Klaim tersebut ditanggapi oleh Catholic League President, Bill Donohue. Keseluruhan tanggapan Donohue dapat dibaca di link ini, silakan klik. Berikut ini adalah ringkasannya:

Tayangan program Discovery Channel ini yang jelas bermaksud merendahkan ajaran dasar Kristianitas, tidak didukung oleh bukti yang valid. Sebab apa yang dianggap sebagai bukti-bukti oleh pihak pembuatnya (yaitu James Cameron dan Simcha Jacobovici) sudah terbukti salah/ tidak sah 27 tahun yang lalu. Seorang arkeolog Israel, Amos Kloner yang ditugasi untuk menyelidiki kubur itu pada tahun 1980, berkata demikian, menanggapi klaim Cameron dan Jacobovici: “Klaim tentang ditemukannya tempat kuburYesus tidak didasari bukti, dan hanya merupakan usaha untuk menjual… Saya menolak semua klaim dan usaha untuk membangkitkan kembali perhatian akan penemuan-penemuan tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat, mereka itu (Cameron dan Jacobovici) bukan arkeolog.”

Kloner mengatakan bahwa klaim-klaim itu tidak mungkin dan tidak masuk akal. Lagipula, tidak ada kemungkinannya (‘no likelihood‘) bahwa Yesus dan saudara-saudara-Nya mempunyai kuburan keluarga. Jacobovici telah dikecam oleh banyak arkeologis terkenal, termasuk Joe Zias, yang telah menghabiskan 25 tahun dalam kiprahnya di dunia arkeologis di Rockefeller University di Yerusalem. Komentar Zias, “Simcha [Jacobovici] tidak mempunyai kredibilitas apapun.”

Selanjutnya, kredibilitas Jacobovici dalam hal arkeologi juga diragukan, ketika ia masih percaya akan dongeng di tahun 2002 tentang ditemukannya kotak makam dengan tulisan, “Yakobus, anak Yusuf, saudara Yesus”. Kotak makam Yakobus (The James Ossuary) ini terbukti palsu. Pemiliknya yang bernama Oded Golan telah ditangkap tanggal 22 Juli 2003, atas tuduhan pemalsuan barang-barang antik. Ringkasan kronologis kejadian, dari saat ditemukannya kotak makam itu di tahun 2002, saat Israel Antiquities Authority (IAA) menyatakan bahwa kotak dan inskripsi pada makam itu palsu (18 Juni 2003), saat polisi menangkap pelaku pemalsunya (22 Juli 2003), dan saat diadakan pengadilan kasus tersebut di Yerusalem (Maret/April 2005), dijabarkan di situs ini, silakan klik. IAA menyatakan bahwa klaim tersebut palsu, dan keputusan ini juga didukung oleh pakar Judaism, profesor Edward Greenstein dari Tel Aviv University, dan pakar bahasa Ibrani, Frank Cross dari Harvard University.

Hanya dari fakta di atas, secara obyektif kita mengetahui bahwa klaim Cameron dan Jacobovici adalah klaim yang tidak mempunyai dasar yang kuat. Belum lagi jika kita memperhitungkan beberapa faktor lainnya, yang juga mendukung argumen bahwa klaim tersebut tidak masuk akal (sebagaimana disarikan dari tulisan karangan Charlie Campbell, The Lost Tomb of Jesus, klik di sini), yaitu:

1) Tidak masuk akal jika Yesus tidak sungguh bangkit (jika ternyata Ia wafat dan punya kubur bahkan menikah dengan Maria Magdalena, yang sepertinya disimpulkan oleh klaim Cameron dan Jacobovici tersebut), jika kita melihat kenyataan bahwa para rasul dan para pengikut Yesus bahkan sampai mau menyerahkan nyawa mereka untuk mempertahankan iman mereka kepada Kristus (lih. Kis 7:58, 12:2). Orang mungkin saja mau mati untuk suatu yang mereka pikir benar, tetapi tak ada orang mau mati untuk suatu kebohongan.

2) Nama yang ditemukan dalam makam itu yaitu Maria, Yesus, anak Yusuf, adalah nama yang umum di abad ke 1. Kloner mengatakan bahwa terdapat 900 makam seperti apa yang mereka klaim sebagai ‘kubur Yesus’ dalam radius 2 mil dari gua tempat makam tersebut ditemukan, dan 71 di antara kubur itu mempunyai nama Yesus, dan ada dua lainnya bertuliskan, “Yesus, anak Yusuf.”

3) Kalau saja kubur itu terisi (Yesus tidak bangkit), maka para penguasa Romawi maupun pemuka agama Yahudi akan membawanya keluar dan mempertontonkannya di muka umum. Ini akan dengan sendirinya mengakhiri gerakan religius para rasul yang sangat ingin mereka tumpas (lih. Kis 5:40).

4) Adalah suatu yang paling tidak mungkin bahwa keluarga Yesus memilih untuk dimakamkan di Yerusalem, sebab mereka tidak hidup di sana. Yesus, Maria dan Yusuf hidup di Nasaret, 63 mil di utara Yerusalem, dan mereka hidup sangat miskin, sebagai keluarga tukang kayu. Maka tidak mungkin mereka sanggup membeli kuburan yang mahal dan bagus, seperti yang terlihat dalam “The Lost Tomb of Jesus.”

5) The Lost Tomb of Jesus terus mengisyaratkan gagasan bahwa Yesus menikah, sebagaimana disebut dalam buku Da Vinci Code yang populer itu. Tetapi para ahli dari berbagai kalangan tidak dapat menemukan satu bukti sejarah-pun untuk mendukung gagasan ini. Sejarawan Dr. Paul Maier, professor di Western Michigan University mengatakan, “Jika ada seberkas bukti dari zaman kuno bahwa kemungkinan Yesus telah menikah, maka sebagai sejarawan, saya harus menimbang bukti ini melawan kebisuan total tentang informasi ini, baik dalam Kitab Suci maupun Tradisi Gereja awal. Tetapi tidak ada seberkas bukti -tidak ada setitikpun bukti- apapun dari sumber-sumber sejarah.  Bahkan ketika seseorang mengharapkan untuk menemukan bukti klaim tersebut di dalam injil-injil apokrif di abad ke-2- sebagaimana dicoba dengan mati-matian oleh The Jesus Seminar maupun suara-suara radikal lainnya- tidak ada satu referensipun yang mengatakan bahwa Yesus pernah menikah.”

6) Dokumen tersebut menyatakan: “Yesus dan Maria (Magdalena) menikah, sebagaimana ditunjukkan oleh test DNA. Nah, ini klaim yang aneh, jika tidak disebut lucu. Sebab DNA tidak dapat mengatakan apapun tentang hubungan pernikahan. Yang dapat dinyatakan adalah apakah dua orang yang diperiksa itu punya hubungan darah, namun tidak untuk menyatakan apakah keduanya adalah suami istri. Menurut dokumen itu, Yesus dan Maria tidak terikat hubungan darah sebagai saudara seibu. Namun keterangan ini tidak dapat serta merta dijadikan dasar bahwa mereka adalah suami istri. Maria dapat saja menikah dengan orang lain yang dikubur di dalam kubur itu juga, atau, bisa saja, ia tidak menikah dengan siapapun yang dikubur di sana. Hal ini tidak dapat diketahui dari hasil test DNA. Namun di atas semua itu, DNA Yesus dan Maria yang mereka periksa, juga tidak dapat dipastikan adalah benar DNA milik Yesus dan Maria, justru karena tidak dapat dipastikan bahwa kubur itu adalah benar-benar kubur mereka.

Dari hal-hal ini di atas ini, sudah selayaknya kita mengetahui apakah klaim Discovery Channel tersebut dapat diperhitungkan.

Selanjutnya tentang review klaim tersebut dari sudut pandang arkeologis, dapat dibaca di situs ini, silakan klik.

Mari kita menggunakan akal sehat kita untuk menyikapi informasi ini.

 

Pesan Bapa Suci Paus Benediktus XVI untuk Hari Orang Sakit Sedunia Yang ke-21

1

vatikan“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
(Lukas 10:37)

Saudara-saudari terkasih,

1. Pada tanggal 11 Februari 2013, perayaan liturgis Peringatan Bunda kita dari Lourdes, Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21, akan dirayakan secara meriah di Gua Maria Altotting. Hari ini dipersembahkan bagi orang sakit, para perawat kesehatan, umat beriman dan bagi semua orang yang berkehendak baik “waktu yang khusus untuk berdoa, sharing, mempersembahkan penderitaan setiap orang demi kebaikan Gereja. Demikian juga, hari ini merupakan panggilan bagi semua orang untuk mengenali wajah-wajah saudara-saudari yang menderita. Wajah Kristus sendiri yang sedang menderita, wafat dan bangkit kembali, yang telah membawa keselamatan bagi umat manusia” Yohanes Paulus II, Surat untuk lembaga Hari Orang Sakit Sedunia, 13 Mei 1992,3). Pada kesempatan ini saya merasa sangat dekat sekali dengan Anda, para sahabatku yang terkasih, yang pada saat ini sedang dirawat di pusat-pusat perawatan kesehatan (rumah sakit, red) atau di rumah, yang sedang bergulat dengan pencobaan yang disebabkan oleh penyakit dan aneka penderitaan. Semoga Anda sekalian diteguhkan oleh kata-kata penghiburan dari Bapak-bapak Konsili Vatikan Il : “Anda tidak sendirian, dipisahkan, ditinggalkan atau seolah-olah tidak berguna. Anda semua telah dipanggil oleh Kristus dan Anda adalah hidup dan gambaran Diri-Nya secara nyata” (Pesan untuk Orang yang Miskin, Sakit dan menderita).

2. Dengan tetap memandang Anda sebagai sahabat dalam peziarahan rohani yang menghantar kita dari Lourdes, suatu tempat yang melambangkan harapan dan anugerah, menuju Gua Altotting, saya ingin mengusulkan untuk refleksi Anda suatu contoh gambaran tentang Orang Samaria yang baik hati (bdk. Luk.10:25-37). Perumpamaan Injil yang diceritakan kembali oleh St. Lukas adalah bagian dari serangkaian peristiwa dan kejadian-kejadian yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang digunakan oleh Yesus untuk membantu kita memahami betapa dalam kasih Allah bagi setiap umat manusia, terutama mereka yang didera oleh penyakit atau penderitaan. Dengan kata-kata penutup dari perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37), Tuhan juga menunjukkan sikap yang harus dimiliki oleh setiap murid-Nya terhadap sesamanya, terutama mereka yang berkekurangan. Kita perlu menarik dari kasih Allah yang tanpa batas, lewat hubungan yang mendalam dengan-Nya dalam doa, kekuatan untuk menghayati hidup sehari-hari dalam bentuk perhatian yang konkrit, seperti yang dilakukan oleh Orang Samaria yang baik hati, bagi mereka yang menderita baik secara jasmani maupun rohani yang membutuhkan pertolongan kita, tidak peduli apakah kita mengenal mereka atau tidak dan bahkan mereka yang miskin sekalipun. Hal ini berlaku, tidak hanya bagi para pekerja pastoral atau perawat kesehatan, tetapi juga bagi setiap orang, bahkan bagi si penderita sakit itu sendiri, yang dapat mengalami kondisi seperti ini dari sudut pandang iman: “bukan dengan menghindar atau melarikan diri dari penderitaan kita menjadi sembuh, melainkan terutama oleh kemampuan kita menerima situasi tersebut, mendewasakan diri melalui penderitaan dan menemukan maknanya melalui persatuan dengan Kristus, yang rela menderita dengan kasih-Nya yang tak terbatas.” (Spe Salvi, 37).

3. Banyak Bapa Gereja melihat Yesus sendiri di dalam diri Orang Samaria yang baik hati; dan melihat Adam di dalam diri orang yang jatuh di tangan para perampok, jati diri kita yang terluka dan tersesat oleh karena dosa (bdk. Origenes, Homili pada Injil Lukas XXXIV,1-9; Ambrosius, Komentar terhadap Injil St. Lukas, 71-84; Agustinus, Khotbah 171). Yesus adalah Putera Allah, yang menghadirkan kasih Bapa, kasih yang setia, abadi dan tanpa batas. Tetapi Yesus juga berkenan menanggalkan pakaian keilahian-Nya, yang meninggalkan status Ilahi-Nya untuk mengambil rupa manusia (bdk. Filipi 2:6-8), yang rela menderita sama seperti manusia, bahkan rela turun ke alam maut (neraka), sebagaimana yang kita daraskan dalam Syahadat, agar Dia membawa harapan dan terang. Dia tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah (bdk. Filipi 2:6) tetapi, dipenuhi dengan belarasa, Dia melihat luka bagaikan jurang yang sangat dalam dari penderitaan manusia agar Dia berkenan menuangkan minyak penghiburan dan anggur pengharapan.

4. Tahun Iman yang sedang kita rayakan adalah kesempatan yang tepat untuk mengintensifkan pelayanan kasih di dalam jemaat-jemaat gerejani kita, supaya setiap orang di antara kita dapat menjadi seorang Samaria yang baik hati bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang berada di sekitar kita. Di sini saya ingin mengingat kembali tokoh-tokoh yang tak terhitung banyaknya dalam sejarah Gereja yang telah menolong orang-orang sakit untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan rohani dari penderitaan mereka, sehingga mereka boleh melayani sebagai teladan dan semangat bagi yang lain. Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, “seorang pakar dalam scientia amoris (ilmu cinta)” (Novo Millennio lneunte, 42), mampu mengalami “persatuan yang mendalam dengan Penderitaan Kristus” yaitu suatu penyakit yang menghantar dia “kepada kematian melalui penderitaan yang amat hebat” (Pidato pada Saat Audiensi Umum, 6 April 2011). Venerabilis (yang pantas dihormati) Luigi Novarese, yang masih hidup dalam ingatan banyak orang, melalui seluruh pelayanannya menyadari betapa pentingnya doa bagi dan bersama dengan orang sakit dan yang menderita, dan dia sering mendampingi mereka ke tempat-tempat ziarah Maria, terutama ke Gua Maria di Lourdes. Raoul Follereau, tergerak oleh kasih terhadap sesama, mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang menderita penyakit Hansen, bahkan di belahan dunia yang paling jauh sekalipun, mempromosikan Hari Lepra Sedunia sebagai salah satu dari berbagai inisiatif yang dilakukannya. Beata (yang terberkati) Teresa dari Calcuta, selalu mengawali hari-harinya dengan perjumpaan dengan Yesus di dalam Ekaristi, setelah itu dia akan pergi ke jalan-jalan, dengan Rosario di tangannya, untuk menemukan dan melayani Tuhan di dalam diri orang-orang yang sakit, terutama mereka yang “tidak dikehendaki, tidak dicintai dan tidak diperhatikan”. Santa Anna Schäffer dari Mindelstetten, juga mampu memberi teladan mempersatukan penderitaan-penderitaan dirinya dengan penderitaan Kristus: “Tempat tidur pada saat dia sakit menjadi sel biara dan penderitaannya menjadi pelayanan misioner. Dikuatkan oleh komuni harian, dia menjadi pendoa yang tidak mengenal lelah dan cermin kasih Allah untuk mereka yang mencari bimbingannya” (Homili Kanonisasi , 21 October 2012). Di dalam Injil, Santa Perawan Maria adalah seorang yang teguh-setia mengikuti Putera-nya yang menderita menuju puncak pengorbanan-Nya di Golgota. la tidak kehilangan harapan di dalam kemenangan Tuhan atas kejahatan, penderitaan dan kematian-Nya, dan ia memahami bagaimana menerima dalam rangkulan iman dan kasih, Putera Allah yang lahir di kandang Betlehem dan wafat di Salib. Imannya yang teguh dalam kuasa Allah diterangi oleh kebangkitan Kristus yang menawarkan harapan kepada mereka yang menderita dan memperbaharui kepastian akan kedekatan dan penghiburan Tuhan.

5. Akhirnya, saya ingin menyampaikan sepatah kata sebagai ungkapan terima kasih yang hangat dan dukungan kepada lembaga-lembaga perawatan kesehatan Katolik dan masyarakat sipil, kepada keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas kristiani, kepada tarekat-tarekat religius yang terlibat di dalam pastoral perawatan orang sakit, kepada para pekerja perawatan kesehatan, kepada mitra-mitra dan para relawan. Semoga mereka semua menyadari secara penuh bahwa “Gereja saat ini menghayati suatu aspek fundamental dari misinya dalam menyambut setiap umat manusia dengan penuh kasih dan murah hati, terutama mereka yang lemah dan sakit” (Christiŕideles Laici, 38).

Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21 ini kepada perantaraan Bunda kita Penuh Rahmat, yang dihormati di Altotting, semoga dia senantiasa mendampingi mereka yang menderita dalam pencariannya akan penghiburan dan harapan yang mantap. Semoga dia membantu semua orang yang terlibat di dalam kerasulan belas kasih, supaya mereka menjadi orang-orang Samaria yang baik hati bagi saudara dan saudari mereka yang didera oleh penyakit dan penderitaan. Kepada mereka semua, dengan sepenuh hati saya berikan Berkat ApostoIik saya.

Dari Vatican, 2 Januari 2013

PAUS BENEDICTUS XVI

Disebarluaskan oleh:

BN Karya Kepausan Indonesia

J1. Cut Meutia 10, JAKARTA 10340
Telp./Fax.: 021-31924819
Email: kki-kwi@kawa1i.org

Otentisitas Ajaran Rasul Paulus

3

Fr. George T Montague SM, menjelaskan tentang otentisitas ajaran Paulus sebagai ajaran yang sungguh berasal dari Kristus, dengan menekankan pentingnya peran pertobatan Rasul Paulus yang disebabkan oleh perjumpaan Paulus secara pribadi dengan Kristus yang telah bangkit. Pertobatan Rasul Paulus ini memang menjadi titik awal yang tidak hanya mengubah kehidupan Paulus secara pribadi, namun juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan seluruh Gereja. Memang Paulus tidak termasuk dalam bilangan keduabelas Rasul yang menjadi saksi bagi karya pelayanan Kristus sejak Kristus memulainya di zaman Yohanes Pembaptis. Namun demikian, Rasul Paulus telah melihat Kristus yang telah bangkit dan bahkan dalam terang kemuliaan-Nya (yang sampai membuatnya buta). Terang kemuliaan ini malah tidak ada dalam penampakan-penampakan Kristus kepada keduabelas Rasul-Nya itu. Maka panggilan kepada Rasul Paulus bersifat profetis, seperti halnya panggilan kepada Nabi Yehezkiel, Yeremia, dan Yesaya. Para Nabi itu juga tidak mengalami kontak langsung dengan Tuhan, sebagaimana yang dialami oleh keduabelas Rasul yang berkontak langsung dengan Tuhan Yesus. Namun para Nabi tersebut juga menuliskan kitab-kitab yang diakui Gereja sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan menjadi bagian dari Kitab Suci. Maka, seperti juga yang diungkapkan oleh para nabi tersebut, melalui Rasul Paulus nubuatan tentang Hamba Tuhan yang akan mewartakan Kabar Gembira kepada semua bangsa melalui pelayanan pengajaran dan penderitaan, sungguh-sungguh tergenapi (cf. Fr. George T Montague SM, The Living Thought of St. Paul, (Encino, CA: Benzinger Bruce & Glencoe, Inc), 1976, p. 4). Rasul Paulus sendiri mengalami bagaimana iapun turut mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus demi mewartakan Injil (lih. 2 Kor 4:10-11;6:4-5; 2Kor 11:23-33).

Di awal perjalanan imannya sebagai seorang Kristiani, setelah ia dibaptis di Damsyik, Paulus menarik diri ke daratan Arab (lih. Gal 1:16-). Walaupun alasannya menyepi tidak disebutkan dengan jelas dalam Kitab Suci, namun dapat dimengerti, jika Rasul Paulus membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, saat segala nilai-nilai yang sebelumnya dipegang dengan kuat-kuat kini dibalikkan dan diarahkan kepada Kristus (Flp 3:7-12). Sejak masa pertobatannya, Rasul Paulus memiliki pengalaman rohani dengan Kristus yang sungguh mengubahnya menjadi manusia yang baru, yang hidup secara baru (Gal 2:20, Flp 1:21; 3:7-11). Dengan pengalamannya bertemu dengan Kristus di perjalanan ke Damsyik (34 AD) dan pengalaman rohaninya dengan Kristus, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa Injil yang diberitakannya itu tidak berasal dari manusia namun berasal dari wahyu Yesus Kristus (lih. Gal 1:11-12). Walaupun kelak dalam perjalanan selanjutnya, pertemuan Paulus dengan para saksi mata kehidupan Kristus tentu meneguhkan kebenaran wahyu yang diterimanya dari Kristus tersebut.

Setelah menyepi, Rasul Paulus kembali ke Damsyik dan berkhotbah bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:20). Paulus tinggal di sana selama beberapa waktu (lih. Kis 9:23) yaitu sekitar 3 tahun (Gal 1:18), kemudian ia ke Yerusalem setelah lolos dari usaha pembunuhan dari orang-orang Yahudi yang belum percaya akan pertobatan Paulus. Di Yerusalem, Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul yang lain (lih. Kis 9:26-) yaitu untuk bertemu dengan Petrus (Kefas) selama 15 hari (36 AD). Di Yerusalem inilah, para Rasul mengakui tugas yang dipercayakan Kristus kepada Paulus untuk memberitaan Injil yang dipercayakan Kristus kepada Paulus untuk orang-orang non- Yahudi (lih. Gal 2:7-8). Kemudian Paulus kembali ke kampung halamannya di Tarsus (36-44 AD). Di daerah Kilikia dan Syria inilah Paulus mewartakan Kabar Gembira, dan menyebabkan Gereja bertumbuh di sana. Lalu, setelah mendengar Gereja berkembang di Antiokhia, Barnabas menjemput Paulus dari Tarsus, lalu mereka menuju ke Antiokhia. Di Antiokhia ini, dicatat bahwa Rasul Paulus menentang Rasul Petrus ketika Petrus menarik diri dari makan bersama dengan jemaat non-Yahudi saat jemaat Yahudi datang kepadanya. Sikap ini dipandang oleh Paulus sebagai sikap yang bertentangan dengan ajaran yang telah disepakati sebelumnya oleh para Rasul, yaitu bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan antara Yahudi dan non-Yahudi dan bahwa jemaat non-Yahudi tidak disyaratkan untuk hidup secara Yahudi agar dapat menjadi Kristen (lih. Kis 15, Gal 2:14). Maka yang dipermasalahkan oleh Paulus di sini adalah bukan ajarannya tetapi praktek/ pelaksanaannya. Sebab para Rasul (baik Petrus maupun Paulus) sama-sama telah sepakat dalam pengajaran bahwa yang menyelamatkan adalah kasih karunia Tuhan Yesus (lih. Kis 15:7-15; Gal 2:16), dan bukan karena pelaksanaan hukum Taurat.

Saat menetap di Antiokhia ini (45-46 AD), sudah berlalu masa sepuluh tahun sejak masa lalunya yang anti Kristen, dan Paulus telah semakin berakar dan bertumbuh dalam tradisi Gereja awal yang meyakini Kristus sebagai Mesias. Setelah dari Antiokhia ini, Paulus kemudian melakukan perjalanan misinya untuk mewartakan Injil ke banyak tempat lainnya sampai saat akhir hidupnya. Paulus sendiri mewartakan Injil dalam kesatuan dengan para rasul lainnya, walaupun ia menerima wahyu dari Kristus sendiri. Ini terlihat dari fakta bahwa Rasul Paulus juga menemui Rasul Petrus (Kefas) selaku pemimpin para rasul untuk menerima peneguhan darinya (Gal 2:1-10). Dalam suratnya kepada Gereja, Rasul Petrus menyampaikan pengakuannya akan hikmat Allah yang diberikan kepada Rasul Paulus; sambil juga memperingatkan umat agar jangan mudah menjadi bingung terhadap hal-hal yang sukar dipahami dalam surat-surat Rasul Paulus tersebut (lih. 2 Pet 3:16).

Tradisi Gereja mencatat kematian Rasul Paulus di sekitar tahun 64-67, sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Gereja, Eusebius. Eusebius mencatat kematian Rasul Petrus dan Paulus di bawah penganiayaan Kaisar Nero. Rasul Petrus wafat dengan disalib terbalik sedangkan Rasul Paulus dengan dipenggal kepalanya (lih. Eusebius, History of the Church, Book II, ch. 25).

Dengan fakta akan bagaimana Kristus sendiri telah mengubah kehidupan Rasul Petrus dan Paulus, dan melengkapi keduanya dengan karisma-karisma Roh Kudus, agar dapat mengajar dan membuat mukjizat dalam nama-Nya, sehingga besarlah pengaruh ajaran mereka dalam kehidupan Gereja perdana, dan selanjutnya bagaimana para rasul tersebut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus demi mewartakan Injil, dan buah-buah Roh Kudus yang dihasilkan sebagai akibat pewartaan mereka, semua ini menjadi tanda yang nyata akan penyertaan Tuhan Yesus atas kedua rasul tersebut. Penyertaan Kristus yang nyata dalam kehidupan para rasul menjamin otentisitas ajaran mereka sebagai ajaran yang berasal dari Kristus sendiri.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab