Home Blog Page 126

Empat hal tentang Visi Gereja menurut Kardinal Bergoglio

10

Berikut ini adalah empat hal yang menjadi visi Kardinal Bergoglio (yang kemudian menjadi Paus Fransiskus) tentang Gereja, yang diungkapkannya dalam pertemuan kardinal-kardinal sebelum konklaf (pemilihan Paus). Atas permintaan Jaime Kardinal Ortega, teks pidato tentang ke-empat hal ini diberikan kepadanya, yang kemudian dipublikasikan di internet. Ada sejumlah orang menganggap bahwa Kardinal Bergoglio mengkritik Gereja dengan pidatonya ini, namun sesungguhnya kalau kita membaca teksnya secara langsung, ia tidak mengatakan demikian. Yang dikatakan oleh Kardinal Begoglio adalah ia mempunyai visi tentang Gereja yang seharusnya di masa kini, dan visinya tentang Paus yang memimpinnya -yang kemudian ternyata adalah dirinya sendiri.

Demikian terjemahannya (beritanya ada di link ini, silakan klik):

Manisnya dan enaknya sukacita Envangelisasi

Referensi dibuat tentang evangelisasi…. “manisnya dan enaknya sukacita evangelisasi” (Paus Paulus VI). Adalah Yesus Kristus sendiri yang mendorong kita dari dalam.

1. Untuk melakukan evangelisasi diperlukan semangat kerasulan.

Untuk melakukan evangelisasi diperlukan hasrat dalam Gereja untuk keluar dari dirinya sendiri. Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk pergi ke batas-batas, tidak saja dalam arti geografis tetapi juga dalam batas-batas keberadaan/ segala yang ada: mereka yang ada dalam misteri dosa, dalam kesakitan, ketidakadilan, mereka yang terlupakan, mereka yang tidak beragama, mereka dari segala paham dan semua yang dalam kesusahan.

2. Ketika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk meng-evangelisasi, ia menjadi self-referent (mengacu kepada dirinya sendiri) dan lalu menjadi sakit (lih. wanita yang membungkuk dalam Injil).

Kejahatan-kejahatan di sepanjang sejarah yang terjadi dalam lembaga-lembaga gerejawi berakar dari sebuah pengacuan kepada diri sendiri dan semacam narcissisme teologis. Dalam kitab Wahyu, Yesus mengatakan bahwa ia ada di depan pintu dan mengetuk. Jelas teks mengacu bahwa Yesus mengetuk dari luar agar dapat masuk ke dalam, tetapi saya berpikir tentang waktu-waktu di mana Yesus mengetuk dari dalam sehingga kita dapat membiarkan-Nya keluar. Gereja yang mengacu kepada dirinya sendiri mengunci Yesus Kristus di dalam dirinya dan tidak membiarkan-Nya keluar.

3. Ketika Gereja mengacu kepada dirinya sendiri tanpa menyadarinya, ia percaya bahwa ia mempunyai terangnya sendiri. Ia berhenti menjadi “mysterium lunae” (misteri bulan: di mana Gereja menyampaikan terang bukan dari dirinya sendiri, melainkan Terang Kristus); dan memberi kesempatan kepada kejahatan yang besar yaitu keduniawian yang rohani (yang menurut De Lubac adalah kejahatan yang terburuk yang dapat terjadi di Gereja). Gereja yang mengacu kepada diri sendiri hidup untuk memberi kemuliaan satu dengan lainnya. Dengan pengertian sederhana: ada dua gambaran Gereja: Gereja yang ber-evangelisasi yang keluar dari dirinya sendiri…. ; dan Gereja duniawi yang hidup di dalam dirinya sendiri, tentang dirinya sendiri dan demi dirinya sendiri. Ini harus memberi terang kepada perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dan reformasi yang harus dibuat demi keselamatan jiwa.

4. Berpikir tentang Paus yang akan datang, ia harus adalah seorang yang kontemplatif, yang menyembah Yesus Kristus dalam Adorasi; ia harus membantu Gereja keluar ke batas-batas segala yang ada, yang membantu Gereja menjadi ibu yang berbuah, yang hidup dari manisnya dan enaknya sukacita evangelisasi.

Maka teks tersebut merupakan pandangan perbadi Kardinal Bergoglio tentang gambaran Gereja yang diperlukan dewasa ini. Teks di atas tidak untuk dimaksudkan bahwa Gereja tak perlu memahami ataupun mementingkan ajaran iman. Atau, tidak juga maksud Kardinal Bergoglio (sekarang Paus Fransiskus) untuk mereduksi evangelisasi sebagai hanya perbuatan kasih tanpa pewartaan iman.  Sebab Gereja yang ber-evangelisasi adalah Gereja yang mewartakan iman dalam semangat kasih dan persaudaraan. Tentang iman yang tak dapat dinegosiasikan/ dikompromikan ini, Paus Fransiskus mengatakan:

Paus Fransiskus: Iman tidak bisa dinegosiasikan; Gereja kita adalah Gereja Martir

(diterjemahkan oleh Shirley Hadisandjaja, 6 April 2013)

Memberikan kesaksian keterpaduan iman dengan berani: adalah sebuah ajakan dari Paus Fransiskus selama Misa yang dipimpinnya di Kapel Casa Santa Marta.

Dalam homilinya yang singkat, Paus mengomentari bacaan-bacaan Alkitab pada hari Sabtu masa Oktaf Paskah: yang pertama merujuk kepada Petrus dan Yohanes yang memberikan kesaksian iman dengan berani di hadapan para imam kepala Yahudi meskipun menghadapi ancaman-ancaman, kemudian dalam bacaan Injil, Yesus yang Bangkit menegur para rasul yang tidak mempercayai banyak orang yang telah meyakini melihatNya hidup.

Sri Paus bertanya: “Bagaimana dengan iman kita sendiri? Kuatkah? Atau kerap kali seperti air mawar yang keruh?”. Ketika kesulitan-kesulitan hidup datang “apakah kita berani seperti Petrus atau merasa segan?“. Paus mengamati bahwa Petrus tidak kehilangan iman, ia tidak jatuh kepada kompromi-kompromi, karenaiman tidak bisa dinegosiasikan”. Paus juga meyakini bahwa “dalam sejarah umat Allah, telah ada pencobaan ini: menyurutkan iman sebagian, pencobaan menjadi sedikit ‘seperti yang dilakukan semua orang’, yaitu ‘tidak menjadi sangat, sangat tegar”.  Tetapi saat kita mulai menyurutkan iman, mulai mengkompromi iman, sedikit menjualnya kepada penawar tertinggi – kata Paus menggarisbawahi – maka kita memulai jalan apostasi, yaitu jalan ketidaksetiaan kepada Tuhan”.

“Contoh iman dari Petrus dan Yohanes membantu kita, memberikan kita kekuatan, tetapi, dalam sejarah Gereja ada banyak martir sampai sekarang, karena untuk menemukan martir-martir tidak perlu mengunjungi kuburan atau ke Koloseum: martir-martir hidup saat ini, di banyak Negara. Umat Kristen – kata Paus – mengalami penganiayaan atas iman mereka. Di beberapa Negara banyak dari mereka tidak boleh membawa salib: mereka dihukum apabila melakukannya. Saat ini, pada abad XXI, Gereja kita merupakan Gereja para martir,  yaitu orang-orang yang berbicara seperti Petrus dan Yohanes: “Kami tidak dapat berdiam terhadap apa yang telah kami saksikan dan dengarkan”. Paus melanjutkan, “Dan hal ini memberikan kekuatan kepada kita, yang kerap kali memiliki iman yang agak lemah. Memberikan kita kekuatan untuk bersaksi dengan hidup, iman yang telah kita terima, yang merupakan rahmat dari Tuhan kepada semua bangsa“.

Sri Paus kemudian menutup homilinya: “Tetapi, kita tidak dapat melakukannya sendiri: itu adalah sebuah rahmat. Yaitu rahmat iman, yang harus kita mohon setiap hari:  ‘Tuhan …peliharalah imanku, tambahlah imanku, agar selalu kuat, pemberani, dan bantulah aku di dalam saat-saat di mana – seperti Petrus dan Yohanes – aku harus memberikan kesaksian iman di hadapan banyak orang. Berikanlah aku keberanian‘. Ini akan menjadi sebuah doa yang indah pada hari ini: semoga Tuhan membantu kita untuk memelihara iman, membawanya maju, dan untuk menjadi, kita, wanita dan pria yang beriman. Amin“.

(Sumber: Radio Vatikan)

Selanjutnya tentang Evangelisasi menurut Gereja Katolik, dapat diabca dalam surat ensiklik Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, silakan klik di sini untuk membaca teks keseluruhannya.

Homili Paus Fransiskus dalam Misa Akuisisi Takhta Uskup Roma

2

Dengan perasaan bahagia saya merayakan Ekaristi untuk pertama kalinya di Basilika Lateran ini, Katedral dari Uskup Roma. Saya menyapa kalian semua dengan penuh kasih: Kardinal Vikar yang saya kasihi, para uskup auksilier, para imam diosesan, para diakon, pria dan wanita religius, dan semua umat awam. Saya juga menyapa Bapak Walikota beserta istri dan para pejabat sekalian yang hadir.  Marilah kita bersama – sama melangkah dalam terang Tuhan yang telah bangkit.

1.  Hari ini kita merayakan Minggu Paskah yang kedua yang juga dikenal sebagai “Minggu Kerahiman Ilahi”.  Kebenaran iman yang sangat mengagumkan bagi hidup kita: kerahiman Allah! Kasih Allah bagi kita sangat besar, sangat dalam; kasihNya tidak pernah goyah, selalu memegang tangan kita dan mendukung kita, mengangkat kita dan membimbing kita untuk maju.

2. Dalam Injil hari ini, Rasul Thomas mengalami secara pribadi kerahiman Allah, yang memiliki wajah yang kongkrit, wajah Yesus, Yesus yang bangkit. Thomas tidak percaya saat Rasul lainnya memberitahukan :”Kita telah melihat Tuhan”. Tidak cukup baginya nubuat Yesus saat Ia menjanjikan:”Pada hari ketiga Aku akan bangkit”. Ia ingin melihat, ia ingin mencucukkan jarinya di tempat di mana Yesus dipaku dan juga di lambung Yesus. Dan bagaimana reaksi Yesus? Dengan sabar: Yesus tidak menelantarkan Thomas dalam pendiriannya yang keras kepala; ia memberi waktu satu minggu, ia tidak menutup pintu, ia menantikan. Dan Thomas mengakui kemiskinan dan betapa kecil imannya. “Ya Tuhanku dan Allahku!”: dengan seruan sederhana tetapi penuh iman, ia merespons kesabaran Yesus. Ia memberikan dirinya diselimuti oleh kerahiman ilahi; ia melihat dengan matanya, dari luka – luka di tangan dan kaki Kristus dan dari luka lambungnya, ia menemukan kepercayaan: ia menjadi manusia baru, bukan lagi yang tidak percaya, melainkan seorang yang percaya.

Mari kita ingat juga Rasul Petrus: tiga kali dia menyangkal Yesus, tepat di saat dia seharusnya paling dekat dengan Yesus; dan  saat dia terjatuh ini dia bertemu dengan tatapan Yesus yang dengan sabar, tanpa kata – kata, berkata kepadanya:”Petrus, jangan takut akan kelemahanmu, percaya padaku”. Petrus mengerti, ia merasakan tatapan kasih dari Yesus, dan dia menangis tersedu – sedu. Betapa indahnya tatapan Yesus ini – betapa banyak kasih yang ada di dalamnya! Saudara – saudari, janganlah kita kehilangan kepercayaan akan kesabaran dan kerahiman Allah!

Mari kita juga melihat dua murid yang dalam perjalanan menuju Emmaus: wajah sedih mereka, perjalanan mereka yang hampa, keputusasaan mereka. Tetapi Yesus tidak menelantarkan mereka: Dia berjalan di samping mereka, dan tidak hanya itu! Dengan sabar Dia menjelaskan ayat – ayat Kitab Suci yang bicara tentang Dia, dan Dia tinggal untuk makan bersama mereka. Inilah cara Allah dalam mengerjakan sesuatu: Ia penyabar tidak seperti kita, yang sering menginginkan semua hal secara bersamaan, bahkan dalam urusan kita dengan orang lain. Allah itu sabar terhadap kita karena Dia mencintai kita, dan mereka yang mencintai dapat mengerti, berharap, menumbuhkan kepercayaan; mereka tidak menyerah, mereka tidak membakar jembatan, mereka mampu mengampuni. Mari kita ingat ini dalam hidup kita sebagai orang Kristen: Allah selalu menantikan kita, bahkan saat kita meninggalkan Dia jauh di belakang! Dia tidak pernah jauh dari kita, dan jka kita kembali kepadaNya, Dia siap untuk merangkul kita.

Saya selalu terkesima saat saya membaca ulang perumpaan tentang Bapa yang maha pengampun; cerita ini menarik bagi saya karena cerita ini selalu memberikan saya pengharapan yang besar. Coba kita pikir si anak bungsu yang tinggal di rumah Bapanya, yang dikasihi, tetapi ingin memiliki bagian dari warisannya; ia pergi, menghabiskan semuanya, tidak punya apa – apa, di mana dia tidak bisa lebih jauh lagi dari Bapa, tetapi saat dia dalam posisi terendah ini, ia merindukan kehangatan rumah Bapanya dan ia pun kembali. Dan si Bapa? Apakah dia sudah melupakan si bungsu? Tidak, tidak pernah. Dia ada di sana, dia melihat si bungsu dari kejauhan, dia menantikan si bungsu tiap – tiap jam, setiap harinya, si bungsu selalu berada di dalam hati Bapanya, walaupun dia sudah meninggalkannya, walaupun dia sudah mengamburkan seluruh harta warisannya, kebebasannya. Bapa dengan sabar, kasih, pengharapan dan kemurahan hati, tidak pernah berhenti sedetik pun memikirkan dia, dan segera setelah dia melihat si bungsu dari kejauhan, dia berlari keluar untuk menemuinya dan memeluknya dengan penuh kasih, kasih Allah, tanpa kata – kata makian: si bungsu telah kembali! Dan inilah kegembiraan Bapa. Kegembiraannya tertuang seluruhnya dalam pelukannya dengan si bungsu: ia telah kembali! Allah selalu menantikan kita, ia tidak pernah lelah. Yesus menunjukkan Allah yang sabar dan pengampun agar kita mendapatkan kepercayaan diri, harapan – selalu! Seorang teolog Jerman yang terkemuka, Romano Guardini, mengatakan bahwa Allah merespons kelemahan kita dengan kesabaran-Nya, dan inilah sumber kepercayaan diri kita, pengharapan kita (bdk. Glaubenserkenntnis, Würzburg, 1949, p.28). Hal ini seperti percakapan antara kelemahan kita dan kesabaran Allah, ini sebuah dialog yang jika kita lakukan dapat memberikan kita pengharapan.

3.  Saya ingin menekankan satu hal lain: Kesabaran Allah harus menimbulkan keberanian dalam diri kita untuk kembali kepadaNya, terlepas dari banyaknya kesalahan dan dosa yang ada dalam hidup kita. Yesus menyuruh Thomas untuk memasukkan jarinya ke dalam bekas luka di kaki dan tangannya, dan di lambungnya. Kita pun dapat masuk ke dalam luka – luka Yesus, kita sesungguhnya dapat menyentuh Dia. Ini terjadi setiap saat kita menerima sakramen dengan iman. Santo Bernardus, dalam sebuah khotbah, berkata: “Melalui luka – luka Yesus, aku dapat mengisap madu dari bukit batu dan minyak dari bukit batu yang keras (bdk. Ul 32:13), aku dapat mengecap dan melihat kebaikan Tuhan” (On the Song of Songs 61:4). Di sanalah, di dalam luka – luka Yesus, kita sungguh – sungguh aman; di sanalah kita bertemu dengan kasih tiada batas dari hati-Nya. Thomas memahami ini. Santo Bernardus lanjut bertanya: Tetapi apa yang bisa saya andalkan? Pahala saya sendiri? Tidak. “Pahala saya ialah kerahiman Allah.  Saya tidak sekali – kali kekurangan pahala sepanjang Dia kaya dalam kerahiman. Jika kerahiman Tuhan ini berlipat – lipat ganda, saya pun akan berkelimpahan pahala” (ibid., 5). Ini penting: keberanian untuk percaya dalam kerahiman Yesus, untuk percaya dalam kesabarannya, untuk selalu mencari perlindungan dalam luka – luka kasih-Nya. Santo Bernardus bahkan menyatakan: “Lalu kenapa kalau hati nurani saya digerogoti oleh banyaknya dosa yang saya perbuat? ‘Di mana dosa berkelimpahan, di sana rahmat pun telah berkelimpahan lebih lagi’ (Rm 5:20)” (ibid.). Mungkin seseorang di antara kita berpikir: dosaku sangat besar, saya jauh dari Allah seperti si bungsu dalam perumpamaan, ketidakpercayaan saya seperti Thomas; saya tidak punya keberanian untuk kembali, untuk percaya bahwa Allah bisa menerima saya dan bahwa dia menantikan saya, dari sekian banyak orang. Tetapi Allah memang sedang menantikan kamu; Dia hanya minta dari kamu keberanian untuk pergi kepadaNya. Sudah berapa banyak saya dengar dalam pelayanan pastoral saya: “Romo, saya punya banyak dosa”; dan saya selalu memohon: “Jangan takut, pergi kepadaNya, Dia menantikan kamu, Dia akan mengurus semuanya”. Kita mendengar banyak tawaran dari dunia di sekeliling kita, tetapi marilah kita pilih tawaran dari Allah: karena tawaranNya ialah belaian kasih. Bagi Allah, kita bukanlah sekedar bilangan, kita penting, sesungguhnya kita ialah hal terpenting bagi-Nya; walaupun jika kita adalah pendosa, kitalah yang selalu ada paling dekat dengan hati-Nya.

Adam, setelah berdosa, mengalami rasa malu, dia merasa telanjang, dia merasa beratnya dosa yang dia lakukan; namun Allah tidak menelantarkan dia; jika momen dosa tersebut menandai awal dari pembuangannya dari Allah, di sana juga sudah ada janji untuk kembali, sebuah kemungkinan untuk kembali. Allah segera bertanya: “Adam, di mana kamu?” Dia mencarinya. Yesus mengambil ketelanjangan kita, Dia mengambil bagi dirinya sendiri rasa malunya Adam, ketelanjangan dari dosanya, untuk membilas dosa kita; oleh lukanya kita telah disembuhkan. Ingat apa yang dikatakan Santo Paulus: “Apa yang harus saya banggakan, kalau bukan kelemahan saya, kemiskinan saya? Tepatnya dalam merasakaan kedosaan saya, saat melihat dosa – dosa saya, saya dapat melihat dan bertemu dengan kerahiman Allah, kasih-Nya, dan pergi kepadaNya untuk menerima pengampunan.

Dalam hidup saya sendiri, saya sudah sering melihat rupa kerahiman Allah, kesabaran-Nya; saya juga sudah melihat begitu banyak orang menemukan keberanian untuk masuk dalam luka – luka Yesus dengan mengatakan kepadaNya: Tuhan, ini aku, terimalah kemiskinanku, sembunyikanlah dosa ku dalam luka – luka-Mu, hapuslah dengan darah-Mu. Dan saya selalu melihat Allah hanya melakukan ini – Ia menerima mereka, menghibur mereka, membersihkan mereka, mengasihi mereka.

Saudara – saudari yang terkasih, biarkanlah diri kita diselimuti oleh kerahiman Allah; marilah percaya dalam kesabaran-Nya, yang selalu memberi kita waktu lebih. Temukanlah keberanian untuk kembali ke rumah-Nya, untuk bersemayam dalam luka – luka kasih-Nya, mengijinkan diri kita dicintai olehNya dan untuk bertemu dengan kerahiman-Nya dalam sakramen – sakramen. Kita akan merasakan kelembutan-Nya yang mengagumkan, kita akan merasakan dekapan-Nya, dan kitapun akan lebih mampu dalam bermurah hati, bersabar, mengampuni, dan mengasihi.

 

Paus Fransiskus,

Basilika Lateran, 7 April 2013.

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus : Belajarlah dari para Rasul!

0

paus fransiskusHomili Bapa Suci Fransiskus dalam Doa Regina Caeli (Ratu Surga) pada tanggal 14 April 2013

Saudara-saudari sekalian, selamat pagi!

Saya ingin merefleksikan secara singkat perikop dari Kisah Para Rasul yang dibacakan dalam Liturgi hari Minggu Paskah ke-3. Teks ini mengatakan bahwa kotbah pertama para Rasul di Yerusalem mengisi kota dengan berita bahwa Yesus benar-benar bangkit sesuai dengan Kitab Suci dan adalah Mesias yang diramalkan oleh para nabi. Imam-imam kepala dan tua-tua kota itu berusaha untuk menghancurkan komunitas pengikut Kristus yang  baru lahir ini dan menjebloskan para Rasul ke penjara, memerintahkan mereka untuk berhenti mengajar dalam nama-Nya. Tetapi Petrus dan sebelas Rasul lainnya menjawab: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus … meninggikan Dia di sebelah kanan-Nya sebagai Pemimpin dan Juru selamat … Dan kami adalah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, dan begitu pula Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada mereka yang mentaati Dia” (bdk. Ki 5:29-32). Oleh karena itu mereka mencambuk para Rasul dan sekali lagi memerintahkan mereka untuk berhenti berbicara dalam nama Yesus. Dan mereka pergi, seperti yang tersurat dalam Kitab Suci, “bergembira, karena mereka telah dianggap layak menerima penghinaan demi nama Yesus” (ay. 41).

Saya bertanya pada diri sendiri: dari mana para murid-murid pertama menemukan kekuatan untuk memberikan kesaksian ini? Dan itu tidak semua: apakah sumber sukacita dan keberanian mereka untuk berkotbah kendati adanya halangan dan kekerasan? Jangan kita lupa bahwa para Rasul adalah orang-orang sederhana, mereka bukan ahli Taurat maupun ahli hukum, dan mereka juga bukan dari kelas imam. Dengan keterbatasan mereka dan dengan pihak yang berkuasa menentang mereka, bagaimana mereka berhasil mengisi Yerusalem dengan ajaran mereka (lih. Kis 5:28)?

Hal ini jelas bahwa hanya kehadiran dari Tuhan yang Bangkit bersama mereka dan kerja Roh Kudus yang dapat menjelaskan fakta ini. Tuhan yang bersama mereka dan Roh yang mendorong mereka untuk berkotbah menjelaskan fakta yang luar biasa ini. Iman mereka didasarkan pada pengalaman pribadi yang kuat akan Kristus yang wafat dan bangkit, maka mereka tidak takut akan apapun dan siapapun, dan bahkan menganggap penganiayaan sebagai kehormatan yang memungkinkan mereka untuk mengikuti jejak Yesus dan menjadi seperti Dia, memberikan kesaksian dengan hidup mereka.

Sejarah ini mengenai komunitas Kristen pertama memberitahu kita sesuatu yang sangat penting yang berlaku untuk Gereja di segala zaman dan juga untuk kita. Ketika seseorang benar-benar mengenal Yesus Kristus dan percaya kepada-Nya, orang tersebut mengalami kehadiran-Nya dalam hidup serta kekuatan kebangkitan-Nya dan tidak bisa tidak mengkomunikasikan pengalaman ini. Dan jika orang ini mengalamami kesalahpahaman atau kesulitan, ia akan berperilaku seperti Yesus dalam penderitaan-Nya: ia akan menjawab dengan cinta dan dengan kekuatan kebenaran.

Saat kita mendoakan doa Ratu Surga bersama, mari kita meminta bantuan Maria yang Tersuci sehingga Gereja di seluruh dunia dapat menyerukan Kebangkitan Tuhan dengan jujur dan berani dan memberikan kesaksian yang dapat dipercaya dengan tanda-tanda kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan adalah kesaksian terjelas yang dapat kita berikan bahwa Yesus hidup dengan kita, bahwa Yesus telah bangkit.

Mari kita berdoa secara khusus bagi orang Kristen yang mengalami penganiayaan, di zaman kita ada begitu banyak orang Kristen yang dianiaya – begitu banyak orang, di begitu banyak negara: marilah kita berdoa untuk mereka, dengan cinta, dari hati kita . Semoga mereka merasakan kehadiran Tuhan yang Bangkit, yang hidup dan menghibur.

Setelah doa Regina Caeli (Ratu Surga) :

Pastor Luca Passi dibeatifikasi kemarin di Venesia. Dia adalah seorang imam dari Bergamo yang hidup di abad ke-19 dan merupakan Pendiri Lembaga Awam St Dorothy dan Lembaga Biarawati Pengajar St Dorothy”. Mari kita bersyukur kepada Allah atas kesaksian yang diberikan oleh Beato ini!

Hari ini hari Universitas Katolik Hati Kudus sedang dirayakan di Italia dengan tema: “Generasi Baru yang Melampaui Krisis”. Kampus ini, yang dibentuk dari dalam pikiran dan hati Pastor Agostino Gemelli dan dengan dukungan rakyat yang besar, telah mendidik ribuan orang muda menjadi warga negara yang kompeten dan bertanggung jawab, pembangun kebaikan bersama. Saya meminta Anda untuk selalu mendukung kampus ini sehingga ia dapat terus menyediakan pendidikan yang mumpuni bagi para generasi baru untuk menghadapi tantangan saat ini.

Aku menyapa dengan kasih sayang semua peziarah yang datang ke sini dari manca negara! Para keluarga, kelompok paroki, kerasulan awam dan orang-orang muda. Secara khusus, saya menyambut peziarah dari Keuskupan Siena-Colle di Val d’Elsa-Montalcino dengan Uskup Agung Buoncristiani. Saya juga menyampaikan perhatian khusus untuk anak laki-laki dan perempuan yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima sakramen Krisma.

Selamat berhari Minggu dan makan siang!

Paus Fransiskus,

Lapangan St Petrus, 14 April 2013.

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

NT

Sekilas tentang wafatnya para Rasul

8

Para Rasul adalah para uskup (penilik jemaat) pertama, yang diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar, menguduskan dan memimpin para anggota Gereja-Nya (lih. Mat 16:19; 18:18; Yoh 20:21-23). Berikut ini adalah sekilas kisah kemartiran mereka (kecuali Rasul Yohanes, dan Yudas Iskariot yang wafat bunuh diri setelah menyerahkan Yesus ke tangan tua-tua Yahudi):

1. St. Petrus, kepala para Rasul.

Setelah lolos dari penjara di Yerusalem, ia mendirikan Gereja di Antiokhia, di mana jemaat pertama kali disebut Kristen. Rasul Petrus kemudian membuat perjalanan misi ke Yudea, Samaria, Galilea, Asia Kecil dan Yunani, dan akhirnya ia mendirikan Gereja di Roma. Tentang catatan sejarah yang menuliskan keberadaan Petrus di Roma sebelum  wafatnya, untuk mendirikan Gereja di sana, silakan klik di sini.

Rasul Petrus memimpin Sidang/ Konsili pertama di Yerusalem (50). Atas perintah penguasa Roma, Rasul Petrus dibunuh sebagai martir di bukit Vatikan, Roma (sekitar tahun 67) dengan disalib terbalik – dengan demikian menggenapi nubuat Yesus (lih. Yoh 21:18-19). Pada saat yang sama Rasul Paulus juga dibunuh dengan dipenggal kepalanya.

2. St. Yohanes

Rasul Yohanes, atau yang sering disebut Rasul yang dikasihi Kristus, hidup di Efesus dan memimpin Gereja di Asia Kecil.

Pada masa kekuasaan Trajan, ia dibuang di dalam minyak mendidih, namun secara mukjizat ia tidak mati. Kemudian ia dibuang ke pulau Patmos, di mana ia menerima wahyu yang kemudian ditulis dalam Kitab Wahyu. Ia wafat di sekitar tahun 95-100. Rasul Yohanes merupakan Rasul yang terakhir wafat, dan satu-satunya yang tidak wafat sebagai martir. Kuburnya terletak di Efesus, Turki.

3. St. Yakobus anak Zebedeus

Rasul Yakobus, saudara Yohanes (sering disebut St. James the Greater), anak Zebedeus, berkarya di Yudea, dan menyebarkan Injil sampai ke Spanyol. Rasul Yakobus adalah Rasul pertama yang dibunuh sebagai martir -dengan dipenggal kepalanya- di Yerusalem di tahun 44, oleh Raja Herodes Agrippa.

4. St. Matius

Rasul Matius, penulis kitab Injil yang pertama. Ia berkhotbah di Ethiophia, Persia, Parthia dan dibunuh sebagai martyr dengan pedang/ tombak di Parthia. Kitab Talmud Babilonia [Sanhedrin 43a] mencatat pengadilan dan penghukumannya.

5. St. Yakobus

St. Yakobus (St. James the Less) adalah Uskup pertama Yerusalem, yang menuliskan Surat Yakobus. Ia dibunuh dengan dilempari batu dari atas Bait Allah di tahun 63.

6. St. Andreas

St. Andreas, saudara St. Petrus, berkhotbah di Asia Kecil, Armenia, Scythia (Rusia selatan), kemungkinan juga ke Yunani. Ia dibunuh sebagai martir di Scythia.

7. St. Tomas (Didimus)

St. Tomas berkhotbah di Persia, Midia, sampai ke India. Ia dibunuh sebagai martir di India, ditembusi dengan tombak atas perintah Raja. Letak kuburnya adalah di bukit St. Tomas di Madras India.

8. St. Filipus

St. Filipus, berkhotbah di Phyrgia dan Scythia, dan disalibkan di Hieropolis, Turki, menurut catatan St. Papias, Uskup kedua Hieropolis.

9. St. Bartolomeus

St. Bartolomeus, berkhotbah di India, Arabia dan Assyria, dan dibunuh dengan dikuliti dan disalibkan di Armenia.

10. St. Simon, orang Zealot

St. Simon, berkhotbah di Afrika Utara, dibunuh sebagai martir di Persia, tahun 61.

11. St. Yudas Tadeus

St. Yudas Tadeus, penulis Surat Yudas, berkhotbah di Syria dan dibunuh sebagai martir di Persia.

12. St. Matias

St. Matias, dipilih menggantikan Yudas Iskariot. St. Matias berkhotbah di Ethiophia, dan dibunuh sebagai martir di Sebastopolis.

Selanjutnya tentang hal ini, dapat dibaca di situs ini: silakan klik dan klik di sini

Sedangkan tentang wafatnya Rasul Paulus, St. Markus dan St. Lukas Pengarang Injil, adalah sebagai berikut:

St. Paulus

Rasul Paulus bertobat di tahun 34, dan sejak itu mengemban tugas pewartaan Injil terutama kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Di antara para Rasul, Paulus menulis paling banyak surat kepada jemaat, ia bekerja paling keras dan melakukan perjalanan paling ekstensif untuk mewartakan Injil. Ia mewarta di Seleucia, Cyprus, Asia Kecil, Phrygia, Galatia, Makedonia, Tesalonika, Athena, Korintus, Miletus, dan akhirnya Roma, Spanyol lalu kembali ke Roma, dan dibunuh sebagai martir di tahun 67, dengan dipenggal kepalanya.

St. Markus

Menurut keterangan St. Hieronimus (De Vir. Illustr., viii), St. Markus wafat sekitar tahun 63. kemungkinan berdasar atas tulisan Eusebius (Church History II.24) bahwa pada tahun tersebut, Anianus melanjutkan kepemimpinan St. Markus dalam Keuskupan Aleksandria. St. Markus wafat sebagai martir, dengan diseret di sepanjang jalan-jalan di Aleksandria, sebagaimana disebutkan dalam the Paschal Chronicle. St. Markus adalah anak angkat Rasul Petrus dan penerjemah/ juru tulisnya, yang menuliskan khotbah Petrus dalam Injilnya.

St. Lukas

Terdapat sedikitnya dua pandangan tentang kematian St. Lukas. Sejumlah tulisan awal mengatakan ia wafat sebagai martir, namun sejumlah tulisan lainnya mengatakan ia hidup sampai berumur 84 tahun, dan wafat di Thebe, di kawasan Boeotia, Yunani. Relikwinya tersimpan di Basilika St. Giustina, Padua, Italia sejak 1172, kemungkinan dibawa oleh para tentara Perang Salib.

Melihat bagaimana para Rasul ini telah wafat sebagai martir,  yang menyerahkan hidup mereka demi iman mereka, kita dapat melihat bukti yang kuat terhadap kebenaran inti ajaran Injil, bahwa Kristus adalah Putera Allah menjelma menjadi manusia, yang telah rela wafat di salib dan bangkit dari kematian bagi keselamatan umat manusia. Terhadap kebenaran inilah para Rasul telah rela menyerahkan nyawa mereka, sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan, jika hal wafat dan kebangkitan Yesus hanya rekayasa manusia.

Apakah yang dikatakan Gereja tentang Busana Imam?

6

Tanggal 15 Oktober 2012 yang lalu Sekretaris Negara Vatikan mengeluarkan surat dalam Sinode para Uskup yang meminta perhatian kepada para Kardinal, Uskup Agung dan Uskup tentang pentingnya disiplin mengenakan busana gerejawi (jubah atau kemeja ber-collar) sebagaimana ditulis dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan. 284, dan dijelaskan dalam surat Paus Yohanes Paulus II kepada Kardinal Vikaris Jenderal Keuskupan Roma, tanggal 8 September 1982.

“Dalam Ketaatan pada Tugas Sebagai Panutan”

Dari Vatikan, 15 Oktober 2012

Yang terhormat Para Yang Utama Kardinal/Para Yang Mulia Uskup Agung dan Uskup,

dengan surat ini saya ingin meminta perhatian Anda tentang pentingnya disiplin mengenai pemakaian sehari-hari busana gerejawi (jubah atau kemeja ber-collar) dan busana religius, sebagaimana diamanatkan oleh norma-norma untuk hal ini [Kanon 284] dan sesuai dengan alasan-alasan yang diilustrasikan dan dijelaskan secara lengkap pada masanya oleh Beato Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada Kardinal Vikaris Jendral Keuskupan Roma, tertanggal 8 September 1982.

Pada waktu di mana semua orang secara khusus dipanggil untuk memperbarui kesadaran dan konsistensi dengan identitasnya, atas permintaan yang terhormat [Catatan: artinya, atas permintaan Paus] saya datang untuk meminta Yang Utama Kardinal dan Yang Mulia Uskup Agung dan Uskup untuk memastikan kepatuhan pada aturan di atas bagi para imam dan religius yang bekerja pada Dikasterium/Tribunal/Kantor/Vikariat [=Keuskupan Roma], memperhatikan kewajiban untuk mengenakan, secara reguler dan dengan bermartabat, jubah yang benar, dalam setiap musim, di antaranya dalam mematuhi tugas sebagai panutan [Catatan: frase ini aslinya dicetak miring] yang merupakan kewajiban bagi mereka yang memberikan layanan kepada penerus Petrus.

Contoh yang sangat baik dari mereka yang, dimeterai dengan martabat uskup, setia pada pemakaian setiap hari jubah yang sesuai bagi mereka, selama jam kerja, menjadi dorongan yang eksplisit bagi semua, termasuk bagi Para Uskup dan bagi semua yang mengunjungi Kuria Romawi dan Kota Vatikan.

Pada kesempatan ini, lebih lanjut, di antaranya untuk menghindari ketidakpastian dan untuk memastikan keseragaman, hendaknya diingat bahwa pemakaian “abito piano” diwajibkan untuk partisipasi dalam setiap acara di mana Bapa Suci hadir, dan juga untuk Rapat-Rapat Pleno dan Biasa, Rapat-Rapat Antardikasterium, Resepsi Kunjungan “ad limina” dan berbagai tugas resmi dari Takhta Suci.

Sambil bersyukur atas kerjasamanya, saya dengan gembira menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan penghargaan dari lubuk hati yang paling dalam bagi Para Yang Utama/Mulia yang terhormat.

Sungguh mengabdi dalam Tuhan,

+ Tarcisio Card. Bertone
Sekretaris Negara

http://tradisikatolik.blogspot.com/2012/12/vatikan-larang-imam-pakai-busana-awam.html

Mungkin ada sejumlah orang bertanya, mengapa sampai dikeluarkan himbauan/ ketentuan ini? Apakah sebelumnya memang tidak ada ketentuan demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita pertama-tama mengacu kepada ketentuan Hukum Kanonik dan penjelasannya ((Cf. The Code of Canon Law, The Text and Commentary, The Canon Law Society of America, ed. James A. Coriden, Theological Publication Bangalore, India, 2001, p. 219-221)):

Kan. 284    Para klerikus hendaknya mengenakan pakaian gerejawi yang pantas, menurut norma-norma yang dikeluarkan Konferensi para Uskup dan kebiasaan setempat yang legitim.

Menurut sejarah, ketentuan umum tentang busana kaum klerik mengandung dua aspek, yaitu pembedaan dan kelayakan, dengan memberikan penjelasan spesifiknya menurut norma dan  kebiasaan setempat. Kitab Hukum Kanonik 1917 (kan. 136) merumuskan secara umum, “habitus ecclesiasticus decens“, maksudnya: 1) “ecclesiasticus“, artinya busana tersebut harus dapat dibedakan dalam hal bentuk maupun warna, dengan busana sekular; 2) “decens” artinya layak/ cocok digunakan oleh jabatan klerikus, tidak mewah, tetapi juga tidak serampangan. “Habitus” di sini mencakup jubah maupun busana untuk digunakan sehari-hari. “Kebiasaan yang legitim dan ketentuan-ketentuan dari Ordinaris lokal adalah yang menjadi norma-norma umum bagi hal pembedaan dan penyesuaian, dan hal-hal tersebut menentukan gaya dari busana yang hendaknya digunakan.” ((B. Ganter, Clerical Attire: A Historical Synopsis and a Commentary, CanLawStud 361 (Washington: Catholic University of America, 1955) O. Pontal, AC 17 (1973), 769-796)).

Hukum partikular di Amerika Serikat yang ditetapkan oleh Dekrit Baltimore II dan III (no.77) bahwa jubah harus digunakan di gereja dan pastoran: sedangkan di luar, digunakan kemeja hitam. Pada jubah maupun kemeja hitam tersebut, digunakan Roman collar (kerah Romawi). Ketentuan ini tetap berlaku setelah promulgasi KHK 1917. Sedangkan di Indonesia, menurut keterangan Rm. Bosco da Cunha, sekretaris KWI, yang telah dikeluarkan oleh KWI adalah ketentuan pakaian imam/ jubah untuk upacara konselebrasi, namun KWI belum mengeluarkan ketentuan spesifik tentang busana imam di luar upacara liturgis ataupun  di tengah khalayak ramai.

Perlu diketahui bahwa hal busana gerejawi ini memang lebih mengarah kepada ketentuan disipliner daripada doktrinal, sehingga memang dimungkinkan adanya penyesuaian sehubungan dengan tuntutan zaman dan keadaan Gereja setempat. Namun demikian, secara obyektif dapat diakui bahwa hal ketentuan busana gerejawi ini erat berhubungan dengan citra kaum klerik, khususnya para imam. Keseriusan kewajiban dalam hal mengenakan busana gerejawi dapat dilihat dari penerapan sangsi bagi pelanggarannya. KHK 1917, Kan. 136, §3 menetapkan sangsi dikeluarkannya secara otomatis dari status klerikus bagi siapapun dari Ordo minor yang menolak untuk menggunakan busana gerejawi selama sebulan, sesudah diberikan peringatan oleh Ordinaris lokal. KHK tersebut (Kan 188, 7) juga mengatakan bahwa semua jabatan gerejawi menjadi kosong secara otomatis dengan pengunduran diri, ketika seorang klerik, tanpa alasan yang dapat dibenarkan, tidak mengenakan busana gerejawi menurut otoritasnya sendiri, dan tidak kembali mengenakannya dalam waktu sebulan setelah memperoleh peringatan dari Ordinaris.

Setelah Konsili Vatikan II, terdapat perubahan yang signifikan dalam hal ketentuan busana bagi kaum klerik. Konsili Konferensi para Uskup di Italia, April 1966, memberikan persetujuan bagi para imam ketika di luar gereja dan lembaga-lembaga gerejawi untuk mengenakan kemeja hitam atau abu-abu tua dengan Roman collar, [jadi tak harus selalu memakai jubah]. Konsili Uskup-uskup Spanyol juga memberikan persetujuan serupa, sehingga membuat ketentuan ini menjadi kebiasaan umum di seluruh dunia. Prefek Kongregasi Suci bagi para Uskup dalam surat tertanggal 27 Januari 1976 ditujukan kepada para perwakilan kepausan di seluruh dunia mengakui, “Dalam rangka memenuhi perubahan tuntutan dalam hal pakaian [busana imam], Tahta Suci telah memberikan kuasa kepada konferensi para Uskup untuk mempresentasikan di negara-negara mereka, perubahan-perubahan, yang disadari oleh semua, dalam hal gaya busana gerejawi.” ((CLD 8, 124-125)). Ia menyadari  bahwa adalah layak bagi kaum klerik dan kaum religius untuk mengenakan pakaian yang sesuai dengan keadaan, seperti contohnya, pada saat berekreasi atau berolah raga.

KHK 1983 mengulangi apa yang ditetapkan dalam KHK 1917, Konferensi para Uskup (bukan Ordinaris lokal) yang menetapkan norma-norma tentang busana gerejawi. Namun jauh dari inisiatif atau tindakan eksplisit dari konferensi para Uskup, kaum klerik di seluruh dunia telah mengenakan busana awam, entah sepenuhnya, atau dalam banyak kesempatan. Didorong atas keinginan yang tulus untuk berkomunikasi dengan orang banyak, mereka menghapuskan tanda “profesionalisme” seorang imam- terutama Roman collar– yang mungkin dianggap sebagai barrier/ penghalang atau sebagai tanda/ klaim akan hal-hak istimewa sebagai imam.

Kemungkinan atas dasar keprihatinan bahwa semakin banyak imam tidak lagi mengenakan busana gerejawi di luar gereja, maka pada tanggal 8 September 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis kepada wakil kepausan Roma (papal vicar of Rome) untuk menuliskan norma-norma tentang penggunaan busana klerik dan religius di keuskupan Roma. Paus mengakui bahwa terdapat motivasi-motivasi keadaan sejarah, lingkungan, psikologis dan sosial yang dapat mengusulkan hal-hal sebaliknya dari pemakaian busana gerejawi, namun terdapat motivasi-motivasi kodrati yang sama pentingnya, yang mendukung pemakaian busana gerejawi tersebut. Menurut Paus, argumen-argumen yang menantang pemakaian busana gerejawi bagi kaum klerik, nampak lebih bersifat manusiawi daripada gerejawi. Dalam pandangan Paus, tanda yang membedakan [antara klerik dan awam] adalah penting, “tidak hanya sebab pembedaan itu memberikan kontribusi positif terhadap kepantasan imam dalam bertingkah laku, atau di dalam pelaksanaan pelayanannya, tetapi di atas semua itu, sebab pembedaan itu memberikan bukti di dalam komunitas gerejawi, tentang kesaksian publik bahwa setiap imam seharusnya mempertahankan identitasnya sendiri, sebagai milik Allah yang istimewa (special belonging to God).” Di kota-kota sekular modern, di mana “rasa akan kesakralan menjadi sedemikian lemahnya”, membutuhkan tanda yang berharga yang ditampakkan oleh busana religius.” Surat dari Paus Yohanes Paulus II inilah yang dijadikan referensi dan ditegaskan kembali maksudnya dan penerapannya oleh Kardinal Bertone, bulan Oktober 2012 yang lalu.

Tanggal 1 Oktober 1982, Wakil Roma, Kardinal Poletti, mengeluarkan norma-norma: “sejak saat ini, kewajiban mengenakan busana gerejawi bagi imam-imam diocesan maupun religius yang tinggal di Diocesan Roma diteguhkan dengan segala kekuatannya.” Bagi imam diocesan, busana tersebut dapat berupa jubah atau kemeja klerik berwarna gelap dengan Roman collar, sedangkan untuk imam dari komunitas religius mengenakan habit yang ditentukan oleh institut mereka atau busana klerik mereka. Ketentuan ini berlaku juga untuk para seminarian ketika mereka menerima ritus penerimaan kandidat, sampai menjadi imam dan juga bagi para pelajar religius sejak profesi religius mereka. Norma ini disetujui oleh Paus pada tanggap 27 September 1982.

Melihat ketentuan ini, mari kita melihat secara obyektif, bahwa ketentuan busana gerejawi bagi para imam memang bukan merupakan hal mutlak harus, yaitu bahwa kemanapun dan di manapun para klerik itu harus memakai jubah atau kemeja dengan Roman collar (Konferensi para Uskup dapat memutuskan tentang hal ini sesuai dengan keadaan negaranya). Namun sebaliknya, bukan berarti bahwa jika tidak mutlak, maka ketentuan ini dapat diabaikan begitu saja. Nampaknya surat yang dikeluarkan oleh Kardinal Bertone di atas, yang mengacu kepada surat dari Paus Yohanes Paulus II, bermaksud mengajak para imam untuk kembali mengingat panggilan mereka sebagai imam, yang telah dikonsekrasikan menjadi milik Allah sendiri. Agar dengan mengenakan busana gerejawi, para klerik semakin dapat semakin menghayati panggilan mereka yang mulia ini dan bersikap yang sesuai/ berpadanan dengan panggilan mereka. Busana gerejawi memang hanya tanda sederhana, akan kehadiran dan kekudusan Allah di tengah umat-Nya, yang dengan cara-Nya sendiri berkenan menguduskan para pelayan-Nya, agar mereka dapat menjadi alat Tuhan untuk menguduskan umat-Nya.

Selanjutnya tentang mengapa Imam perlu memakai Roman Collar, silakan klik di sini.

Dalam Jiwa Orang Sakit Jiwa

4

Ketika mengunjungi Roma di tahun 1983, Ibu Teresa mengalami serangan jantung sehingga dirawat di rumah sakit setempat. Selama berada di rumah sakit, beliau menuliskan jawaban pribadinya untuk pertanyaan Yesus dalam Mat 16:15,”Siapakah Aku menurut engkau?” Beliau memulai dengan kalimat Kredo,”Engkau adalah Allah, Engkau adalah Allah dari Allah, Engkau dilahirkan bukan dijadikan..” Ia lalu melanjutkan dengan jawaban yang lebih pribadi,”.. Yesus adalah yang telanjang-untuk diberi pakaian.. Yesus adalah yang ditolak-untuk diingini.. Yesus adalah yang terkecil-untuk dipeluk.. Yesus adalah pelacur-untuk dijauhkan dari bahaya dan ditemani.. Yesus adalah tahanan-untuk dikunjungi.. Yesus adalah seorang tua-untuk dilayani”. (Meditation in the Hospital in Rome, 1983).

Beliau mengingatkanku akan hari Minggu kemarin, ketika para alumni baptis parokiku mengadakan bakti sosial di sana. Kami mengunjungi sebuah lembaga penampungan gelandangan, pengemis, dan lansia. Lembaga tersebut menampung sekitar 1200 orang, dari anak kecil hingga orang tua. Kebanyakan dari mereka “bocor halus” atau mengalami gangguan mental.

Kami membawakan acara hiburan bersama beberapa orang penghuni. Menyanyi dan menari bersama. Makan bersama. Mereka cukup merespon, karena memang yang dikumpulkan untuk sesi interaksi adalah mereka dengan gangguan mental yang tergolong ringan. Kegiatan berikutnya terasa lebih menantang : membagikan nasi bungkus dan susu pada penghuni dengan gangguan mental berat. Jengg jenggg jreennggg…

Pertama kalinya melangkahkan kaki ke barak, sudah ada halangan yang cukup berat : bau yang menusuk. Karena gangguan mental mereka berat, mereka buang hajat di mana pun mereka mau. Pembersihan rutin dari petugas lembaga ternyata masih belum cukup. Entah bagaimana, aku dimampukan untuk beradaptasi. Puji Tuhan. Sambil membagikan makanan, kuperhatikan mereka satu per satu. Kebanyakan dari mereka adalah lansia. Beberapa menunjukkan reaksi. Tapi, sebagian besar menatap kosong. Aku berusaha tersenyum pada mereka sambil melanjutkan aktivitasku.

Tiba di barak paling dalam, banyak lansia yang sudah sulit bergerak. Mereka hanya duduk atau terbaring di atas dipan-dipan kayu dalam beberapa ruangan. Lantai yang tergenang pipis membuat aku masuk sambil berjinjit. Tiba-tiba, salah seorang dari lansia itu menyeletuk,”Lhoo, adhekku teko rek! (Lho, adikku datang)”. Entah kenapa, saat itu saya teringat bahwa Yesus sebenarnya hadir padaku melalui mereka. Senyumku pada mereka belum aku hayati sebagai senyumku pada Yesus dalam mereka. Aku lalu mulai mencoba menemukan Yesus dalam diri mereka. Cukup sulit, karena dalam benak selalu muncul pikiran bahwa mereka orang gila. Menganggap orang waras sebagai “sesama” saja kadang sangat sulit, apalagi orang gila. Tapi, Yesus sungguh hadir dalam mereka.

Aku pikir, tanpa mampu melihat Yesus dalam diri orang di sekelilingku, hidupku tidak akan penuh. Dengan menemukan Yesus, karya bakti sosial tersebut berubah menjadi suatu karya religius. Dengan menemukan Yesus dalam hidup, hidupku baru bisa berubah menjadi gulali yang manis. Sama manisnya dengan senyum para penghuni lembaga penampungan tersebut saat melihat kami datang. Lhoo, adhekku teko rek! Iya, Yesus, ini aku.

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” – Jesus (Mat 25:40).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab