Home Blog Page 125

Penggunaan kata “Allah” yang sesungguhnya bukan masalah

8

Pernah kita dengar bahwa ada suatu waktu di negara Malaysia, konon penggunaan kata “Allah” oleh umat non-muslim dipermasalahkan. Namun sesungguhnya kalau melihat kepada logika dan kebenaran penggunaan kata “Allah”, maka seharusnya tidak ada yang patut dipermasalahkan dengan penggunaan kata “Allah” secara umum oleh siapa saja. Berikut ini adalah alasannya, sebagaimana kami terjemahkan/ sarikan dari artikel karangan Uskup Paul Tan, Malaysia. Selengkapnya teks dalam bahasa Inggris, dapat dibaca di sini, silakan klik.

Walaupun Uskup Tan tidak berbicara atas nama Gereja Katolik atau atas nama semua orang Kristen, namun pandangannya mewakili pandangan orang-orang non-muslim. Memang tidak ada keharusan bagi umat Kristiani untuk menggunakan kata “Allah”, sebab mereka juga dapat menggunakan kata lain sesuai dengan keyakinannya. Namun sebaliknya, juga tidak ada dasar untuk melarang mereka untuk menggunakan kata “Allah”. Sebab setiap umat manusia mempunyai hak dan kebebasan untuk menggunakan kata apapun yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Atas dasar ini, maka adalah hak setiap orang untuk menggunakan kata “Allah”.

Jika umat Kristiani menggunakan kata “Allah”, bukan maksudnya untuk membingungkan umat muslim. Penggunaan itu hanya sejalan dengan pandangan bahwa tak seorangpun mempunyai kuasa untuk menghilangkan hak dan kebebasan yang diberikan oleh Tuhan di dalam setiap orang, untuk menggunakan setiap kata yang ingin digunakannya, asalkan tidak melanggar hak orang lain. Jika sejumlah umat muslim di Malaysia (ataupun di Indonesia) merasa bahwa haknya dilanggar, maka mereka hanya perlu melihat fakta sejarah untuk mengetahui bahwa selama beraba-abad, umat Kristen di negara-negara Islam, terutama di Timur Tengah di mana agama Islam lahir, telah digunakan kata “Allah” tanpa menimbulkan keributan ataupun pergolakan.

Mengatakan bahwa penggunaan kata “Allah” telah membingungkan umat muslim di Malaysia (atau di Indonesia) sama saja dengan merendahkan mereka, sebab itu serupa dengan menuduh mereka memiliki iman yang lemah sedemikian sehingga, tidak seperti saudara-saudari muslim mereka di negara-negara lain, mereka mudah terguncang kerena umat agama lain juga menggunakan kata “Allah” untuk Tuhan. Kaum Sikh, Bahai, Maltese, Yahusi Mizrahi, dll, menggunakan kata “Allah” juga. Malaysia (dan Indonesia) bukan negara agama…. Oleh karena itu, pemimpin agama Islam tidak mempunyai kuasa untuk mendikte umat agama lain tentang ketentuan religius yang harus mereka ikuti. Semua orang dari agama lain memiliki pemimpin religius mereka sendiri yang memimpin dan mengajarkan kepada mereka apa yang benar dan salah sesuai dengan kepercayaan mereka.

Klaim tentang hak semua orang untuk menggunakan kata Allah dalam bahasa apapun, adalah berdasarkan fakta sebagai berikut:

“Allah” adalah kata yang sudah ada sebelum masa agama Islam, dan kata tersebut sudah digunakan oleh orang-orang Arab, yaitu Arab di Mekkah, sebelum Nabi Muhammad lahir. Bagi orang-orang Arab, kata “Allah” adalah “Pencipta Ilahi”. Maka kata “Allah” bukan ciptaan agama Islam, dan umat muslim tidak mempunyai klaim eksklusif terhadap kata itu, meskipun mereka mungkin dan telah memasukkan nuansa tertentu ke dalam kata tersebut.

Jika Nabi Muhammad menghendaki agar umat muslim menggunakan kata tertentu dengan konotasi spesial yang tidak dimiliki oleh umat agama lain, ia tentu telah menciptakan kata baru dan tidak menggunakan kata yang sudah digunakan oleh kaum Arab dan Kristen Arab sebelum zamannya. Di samping itu, [faktanya] umat Kristen, Yahudi Mizrah, Bahai, Maltese, Sikh dan umat lainnya menggunakan kata yang sama itu. Kaum Sikh secara publik menyatakan bahwa Kitab Suci mereka telah menggunakan kata “Allah” sebanyak 37 kali. Maka mereka mempertanyakan: Apakah mereka juga dilarang untuk membaca dan berdoa sesuai dengan Kitab Suci mereka?

Kata “Allah” ditemukan di banyak bahasa. Contoh: bahasa Urdu/ Persia/ Dari/ Uyshur, menggunakan kata yang sama: Allah. Di Bengali, bahasa-bahasa Bosnia, juga Allah; di Ceko-Slowakia, juga Allach, dst.

Di kitab Al-Quran, tertulis bahwa umat Yahudi, Kristen dan Sabean menyembah Allah. Surah 2:62: “Mereka yang percaya kepada Quran dan mereka yang mengikuti Kitab-kitab Yahudi, dan umat Kristen dan orang-orang Sabean … yang juga percaya kepada Tuhan (Allah) dan hari kiamat …

Tidak ada negara di dunia, termasuk negara-negara Arab di Timur Tengah … yang melarang umat non-muslim menggunakan kata Allah. Umat Kristen di negara-negara ini telah menggunakannya selama berabad-abad. Dewasa ini ada 10-12 juta orang umat Kristen Arab yang menggunakan kata Allah untuk Tuhan.

Jika sejumlah umat muslim di Malaysia (ataupun di Indonesia) mengklaim bahwa umat Kristen tak dapat menggunakan kata tersebut karena pengertian umat muslim Malaysia (ataupun Indonesia) itu unik, maka logikanya mereka mengatakan bahwa umat muslim Arab mempunyai pengertian yang berbeda tentang Allah, dari pengertian mereka, sebab umat muslim Arab tersebut menggunakan kata Allah, namun memperbolehkan umat Kristen di sana juga untuk menggunakan kata yang sama. Akibatnya pandangan ini menjadi tidak masuk akal, karena selanjutnya menganggap semua umat beriman lain yang menggunakan kata Allah sebagai orang-orang yang melakukan tindak kriminal.

Di atas semua itu, perlu disadari bahwa hanya ada satu Tuhan. Ia disebut dalam banyak nama/ istilah: Tuhan, Brahman, Sang MahaBesar, Absolut, Allah, Shang Ti atau Tian, atau Tian Zhu. Sang Pencipta tidak berubah, hanya karena kita manusia mengubah kata atau arti dari kata tersebut. Ia tetaplah Sang Pencipta yang Esa dari segala ciptaan. Maka untuk melarang orang-orang beriman selain Islam untuk tidak menggunakan kata “Allah”, adalah mengatakan bahwa Allah itu bukan Sang Pencipta bagi umat non-muslim. Ini bahkan merupakan penghujatan terhadap Allah. Adalah penghinaan yang lebih besar, untuk membatasi Allah hanya bagi umat muslim, sebab akibatnya secara logis, adalah menerima bahwa ada allah-allah yang lain, di samping Allah yang satu itu. Ini malah berlawanan dengan inti ajaran Islam, yaitu bahwa hanya ada satu Tuhan.

Tuhan tidak berbicara dalam kata-kata manusia. Kata-kata diciptakan oleh pikiran manusia yang ingin menyampaikan kepada orang lain apa yang ia lihat, dengar, cium, raba, dan rasa. Dari semua indera ini, manusia merumuskan dengan akal budinya semua sifat-sifat umum dari benda-benda yang serupa dan keluarlah kata-kata simbolis, seperti: “pohon” (“rumah”, “langit” dst)

Tuhan itu Roh…. Sang Mahabesar tidak bicara dengan bahasa manusia. Ia melampaui dan di atas semua bahasa manusia……

Jadi, untuk membatasi Sang Absolut ke dalam suatu kata apapun, akan sama saja dengan membuatnya menjadi seperti manusia, “memanusiakan/ (“to anthropomorphise“) Sang Absolut yang Mahabesar. Adalah suatu penghinaan bagi Allah jika manusia membuat-Nya menjadi lebih rendah dari keadaan-Nya yang sesungguhnya.

Dari keterangan di atas, adalah jelas bahwa melarang siapapun untuk menggunakan kata apapun bagi Sang Absolut yang Mahabesar adalah tindakan yang tidak rasional dan tidak masuk akal. Itu melawan akal budi, melawan semua kenyataan dan kebenaran.

Diterjemahkan dari tulisan Uskup Paul Tan, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Konferensi Uskup di Singapura, Malaysia dan Brunei.

Melekat pada tempat yang tepat

2

Hidup seperti roller coaster. Itu salah satu jawab sok filosofis yang dulu pernah aku berikan ketika ditanya seorang teman. Roller coaster yang naik lagi turun tak tentu, cepat lagi lambat, dan kalau memang apes, bisa-bisa berhenti tengah jalan kapanpun karena mesinnya ngadat. Begitu juga dengan hidup, pikirku. Ya iya lah, wong saya melamun ini ketika dalam perjalanan menggunakan roller coaster tanpa rel : bus antarkota! Sama-sama menegangkan, sama-sama kencang dan lambat semaunya. Bedanya, kalau lagi apes, taruhannya adalah nyawa (Jreennggg!). Perjalanan aku lalui dengan lamunan yang terkantuk-kantuk. Maklum, balapan sama ayam bangun jam 3 subuh, lalu mengejar bus jam 04.00 pagi demi survey acara amal. Sesuatu banget.

Menjelang terbit matahari, beragam orang sudah mulai naik turun bus. Dari aki-aki (kakek) yang kelihatannya belum mandi pagi, pedagang asongan yang salah melafalkan ‘mizone’ kayak nama tukang kebun, hingga berbagai pengamen. Baik pengamen suaranya seperti Iwan Fals (fals terus maksudnya) maupun pengamen yang bisa jadi calon peserta X-Factor.

Salah satu pengamen menyanyikan lagu yang menarik hati. Lucu, simpel, tapi bermakna. Salah satu baitnya kira-kira berbunyi : “Gawe opo orang repot sing duniawi, kabeh harta mengko ora digowo mati”. Buat apa repot dengan hal duniawi, semua harta nanti tidak dibawa mati. Klise, sering didengar, tapi jarang dihayati. Saat refleksi sendiri, dengan mudahnya aku melihat bahwa aku masih melekatkan hati pada hal duniawi di sana sini. Maksudnya lepas bukannya tidak butuh sih, tapi bersikap lepas bebas. Kayak Ibu Teresa,”Aku menerima apapun yang Engkau berikan, dan aku akan memberikan apapun yang Engkau ambil”.

Tapi, bagaimana melepaskan diri dari kelekatan seperti itu? Lagipula untuk apa? Toh, selama masih hidup di dunia, semua hal duniawi itu dibutuhkan. Harta, pekerjaan, kedudukan. Kalau tidak ada, gimana bisa hidup? Ngomong memang mudah, praktek sendiri sulit. Apalagi mengajak orang melakukan hal serupa. Perjalanan yang melelahkan dan warna-warni ini (6 jam di bus hingga pantat tepos) ternyata menghantar pada secercah jawaban.

Tibalah aku di Sekolah Katolik di daerah terpencil tujuan. Gedung sekolah yang kecil itu berada di lahan yang sama dengan sebuah gereja stasi kecil. Di belakang gedung gereja percisss menjulang sebuah bukit, pemandangan yang sontak mengundang hati bergumam,”Ya, Allahku, Gunung Batu keselamatanku (Mzm 89:27)”. Kondisi gedung gereja cukup baik dan mampu menampung 200an KK Katolik di sekitarnya. Gedung sekolahnya? Memprihatinkan. Hanya ada 3 ruang kelas yang seadanya. Ruang Kepsek dan TU menjadi satu, dengan balok kayu penopang di tengah ruangan menahan kuda-kuda atap yang hampir runtuh. Berbagai bahan untuk lab kimia yang aslinya tidak beracun mungkin bisa mematikan karena kadaluarsa. Berbagai peta yang tergantung lebih kumal dari peta harta karun yang asli. Dari luar, bisa dilihat bagian atap sekolah yang meliuk ke dalam, nampak mulai menyerah pada usia. Menghitung mundur untuk terjun bebas kapan saja.

Di balik keprihatinan tersebut, perhatianku tertuju pada Allah. Kepala sekolah ini ternyata seorang pendoa tangguh. Beliau bersaksi, setelah berdoa rosario 40 hari untuk memohon bantuan Allah, kabar mengenai bantuan datang dari tim amal kami beberapa hari kemudian. Jawaban doa yang penuh penyelenggaraan Ilahi. Mungkin ini petunjuk untuk pertanyaan di atas tadi. Allah adalah Gunung Batu keselamatan, yang menyediakan semuanya sehingga tidak perlu takut kekurangan. Allah telah rela hadir di bumi, lahir di kandang domba, menjadi tukang kayu yang miskin. Allah yang sama rela hadir dalam tabernakel gereja stasi ini, tinggal di tengah desa orang-orang miskin dan sederhana di tengah keprihatinan. Allah yang hadir inilah yang mencukupkan apa yang dibutuhkan mereka.

Mungkin, aku melekat pada hal duniawi bukan karena kebutuhan, melainkan kemauan. Karena keserakahan dan keegoisan. Jika saudaraku di stasi ini untuk gedung sekolah layak saja sulit, apa hakku menuntut jalan-jalan ke luar negeri? Allah pasti mencukupkan, sehingga kita tidak perlu melekat pada hal duniawi. Kecuali ada egoisme, melekat erat pada Allah pasti mencukupkan. Tidak ada lagi yang dikhawatirkan karena bantuan-Nya pasti tepat waktu. Melekat erat padaNya, seperti gulali pada batang lidinya (atau lengket pada rambut kalau jadi korban keusilan anak-anak). Melekatlah pada tempat yang tepat : Allah Tritunggal Mahakudus.

Paus Fransiskus kepada Imam: Kalian adalah Pastor, bukan Fungsionaris

1

Berikut terjemahan homili Paus Fransiskus pada Misa Tahbisan Imam di Vatikan pada tanggal 21 April 2013. Homili yang diberikan Bapa Suci didasarkan pada Pontificale Romanum untuk tahbisan imam, dengan satu atau dua tambahan pribadi.

Saudara – saudari yang terkasih: sebab putra – putra kita ini, yang juga kerabat dan teman kalian, sekarang akan dinaikkan ke dalam tataran Imam, renungkan baik – baik martabat dari status ini dalam Gereja yang sebentar lagi mereka miliki.

Benar bahwa Allah telah membuat seluruh umat kudus-Nya menjadi imam rajani dalam Kristus. Namun demikian, Imam Agung kita, Yesus Kristus, memilih beberapa murid untuk menjalankan secara terbuka dalam nama-Nya, dan atas nama umat manusia, jabatan imam dalam Gereja. Seperti Kristus yang dikirim oleh Bapa dan kemudian Ia mengutus Para Rasul ke dunia, supaya melalui mereka dan penerus mereka, para Uskup, Ia dapat terus menjalankan peran-Nya sebagai Guru, Imam, dan Gembala. Imam sungguh – sungguh rekan kerja para Uskup, dengan siapa mereka disatukan dalam tugas imamat dan dengan siapa mereka dipanggil untuk melayani umat Allah.

Setelah melalui doa dan pertimbangan yang matang, saudara – saudara kita ini, sekarang akan menerima tahbisan imamat dalam tingkat Imam untuk dapat melayani Kristus Sang Guru, Imam, dan Gembala, yang melalui pelayanannya tubuh-Nya, yakni Gereja, dibangun dan berkembang di dalam umat Allah, sebuah Bait Suci.

Dalam mengambil rupa Kristus sang Imam Agung yang kekal dan disatukan dengan imamat para Uskup, mereka akan dikonsekrasi sebagai imam – imam sejati Perjanjian Baru, untuk memberitakan Injil, untuk menggembala umat Allah, dan untuk merayakan Liturgi sakral, khususnya kurban Tuhan.

Sekarang, saudara – saudara dan putra – putraku terkasih, kalian akan diangkat ke tataran Imam. Untuk tugas kalian, kalian akan menjalankan tugas suci untuk mengajar dalam nama Kristus Sang Guru. Bagikan kepada siapa saja Sabda Allah yang telah kalian terima dengan sukacita. Ingatlah ibu kalian, nenek kalian, katekis kalian, yang memberikan kalian Sabda Allah, iman … hadiah iman! Mereka menyalurkan hadiah iman ini ke kalian. Dengan merenungkan hukum Tuhan, pastikan kalian percaya apa yang kalian baca, kalian ajarkan apa yang kalian percaya, dan kalian menjalankan apa yang kalian ajarkan. Ingat juga bahwa Sabda Allah bukanlah properti kalian: ini Sabda Allah dan Gerejalah pelindung Sabda Allah.

Dengan cara ini, semoga apa yang kalian ajarkan menjadi makanan bagi umat Allah. Semoga kesucian hidup kalian menjadi wewangian yang menyenangkan pengikut Kristus, sehingga melalui perkataan dan contoh hidup kalian dapat membangun rumah yang juga Gereja Allah.

Kalian juga akan menjalankan tugas pengudusan dalam diri Kristus. Karena melalui pelayanan kalian, kurban spiritual umat beriman dibuat sempurna, disatukan dengan kurban Kristus, yang akan dipersembahkan melalui tangan kalian dengan cara yang tidak berdarah – darah di altar, dalam persatuan dengan umat beriman, dalam perayaan sakramen – sakramen. Maka dari itu, pahami apa yang kalian perbuat dan tiru apa yang kalian rayakan. Sebagai pelayan dari misteri wafat dan kebangkitan Tuhan, berjuanglah untuk mematikan kedosaan apapun dalam anggota kalian dan untuk berjalan dalam hidup yang baru.

Kalian juga akan mengumpulkan orang – orang ke dalam umat Allah melalui pembaptisan, dan kalian akan mengampuni dosa – dosa dalam nama Kristus dan Gereja dalam Sakramen Tobat.  Hari ini saya meminta kalian dalam nama Kristus dan Gereja, jangan pernah lelah dalam mengampuni. Kalian akan menghibur yang sakit dan orang lanjut usia dengan minyak suci: jangan ragu untuk menunjukkan kelembutan kepada orang lanjut usia. Saat kalian merayakan ritual sakrat, saat kalian mempersembahkan doa – doa syukur dan pujian kepada Allah sepanjang hari, tidak hanya untuk umat Allah tetapi untuk dunia – ingatlah bahwa kalian dipilih dari antara manusia dan ditunjuk atas nama mereka untuk hal – hal yang sehubungan dengan Allah. Karena itu, jalankanlah pelayanan Kristus sang Imam dengan suka cita yang terus menerus dan cinta yang tulus, tidak mengurusi hal – hal yang menjadi perhatian kalian tetapi yang menjadi perhatian Yesus Kristus. Kalian adalah pastor, bukan fungsionaris. Jadilah penengah, bukan perantara.

Akhirnya, putra – putraku, menjalankan tugas kalian dalam diri Kristus, Kepala dan Gembala, dalam persatuan dengan Uskup kalian dan tunduk kepadanya, upayakan untuk membawa umat beriman sebagai satu keluarga, supaya kalian dapat memimpin mereka kepada Allah Bapa melalui Kristus dan dalam Roh Kudus. Ingat selalu dalam pikiran kalian contoh dari si Gembala Baik yang datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani, dan datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Paus Fransiskus,

Basilika Vatikan, 21 April 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Keagungan Kasih

0

tangan-tuaNyanyian tentang keagungan kasih berdenting sangat lembut. Ia menggetarkan hati yang pilu. Kasih menghadirkan senyuman di kala kesedihan melanda jiwa. Benang-benang asa yang terputus teruntai kembali dengan nada-nada kasih. Semangat yang patah tersambung berkat kelembutan kasih. Di mana ada nyanyian kasih, di sana ada kekuatan dan  pengharapan.

Keagungan kasih dinyanyikan dalam panggung kehidupan sepasang kakek dan nenek yang romantis. Kasih mengikat jiwa dan raga mereka selamanya. Mereka menyambut kedatanganku dengan senyuman lebar yang menghiasi bibir mereka. Tiada menyangka bahwa kakek itu menderita kanker yang telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tiada yang mengira bahwa nenek tersebut menyimpan luka melihat penderitaan si kakek  yang disayanginya. Tiada kerinduan sekarang ini, selain Sakramen Perminyakan Suci, bukan sebagai bekal untuk kembali ke alam baka, tetapi sebagai kekuatan dalam menjalani operasi kankernya.  Keharuan menoreh hati mendengarkan ungkapan kasih mereka. Air mata mengalir deras di pipi  kakek itu di kala menyampaikan isi hatinya kepada istrinya : “Nek, ketika aku menikahi engkau, aku tidak mempunyai apa-apa, selain cinta di dalam hati dan engkau hanya mengangguk tanda mengamini”. Si nenek diam saja. Si kakek melanjutkan perkataannya : “Ketika aku  agak petakilan, engkau sabar dan tidak menghakimi karena engkau yakin bahwa aku akan kembali kepada Tuhan Yesus yang engkau imani. Kini aku bahagia karena engkau memberikan dua cucu dari dua anak  yang engkau lahirkan”. Si nenek tetap tak bergeming, tetapi membelai rambutnya yang telah memutih.  Si kakek diam sejenak dan meneruskan perkataannya : “Nek, aku tidak takut mati, tetapi  apa artinya surga bagiku ketika tanpa dirimu lagi di sisiku”.  Sang nenek pun menjawab dengan cepat : “ Kek, tunggu aku …. aku pasti akan menyusulmu di surga nanti agar aku tetap berada di sisimu selamanya kalau Tuhan memang memanggilmu”. Si kakek pun menyandarkan kepalanya pada bahu sang nenek untuk melepaskan keresahan jiwanya. Ia pun menjadi tegar menghadapi meja operasi karena harapan akan kesatuan dengan bongkahan jiwanya di surga ketika itu terjadi. Lebih-lebih dia percaya bahwa Tuhan selalu mendampinginya melalui istrinya yang telah dianaugerahkanNya kepadanya.  Di dalam Tuhan, tidak ada yang perlu ditakuti dalam kehidupannya. Karena itu, ia memilih untuk menjalani operasi pada Hari Kamis Putih yang lalu karena ia ingin bersama-sama dalam penderitaan Tuhan Yesus agar bangkit bersamaNya pula pada Hari Raya Paskah. Aku yakin, bahwa, ia benar-benar menghayati Sabda Tuhan melalui Nabi Yesaya karena telah terbiasa membaca Kitab Suci setelah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi dan Emmaus Journey berkat ajakan Bapak Ismail, aktivis Katolik : “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).  

Hangatnya mentari pagi tak dapat menggantikan hangatnya kasih. Indahnya matahari terbenam di celah-celah  pegunungan tak sebanding dengan keindahan lagu kasih yang bergendang di hati. Suara gemericik air sungai tak semerdu  sepenggal bait nyanyian kasih. Keagungan kasih Tuhan  nyata dalam dendangan kasih kita :  “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun” (Mazmur 89:2).  Sepengggal nyanyian tentang  keagungan kasih yang kita lantunkan mentahtakan keagungan kasih Tuhan di dalam jiwa :  Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Mazmur 89:3).  Membiasakan diri berbuat kasih merupakan jalan mengalirkan kasih dari Takhta Sang Pemilik Kasih yang agung secara otomatis. Istilah Jawa “Witing Trisno Jalaran Soko Kulino/ mengasihi karena biasa” membuat hidup kita menjadi nyanyian kasih yang agung dari Sang Raja Kasih. Mengasihi berarti siap menerima luka. Tiada kasih yang agung jika tiada perasaan terluka. Tuhan Yesus sendiri rela menerima luka yang sangat menyakitkan  karena kasih-Nya kepada manusia sampai berteriak :  “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku ?  (Markus 15:34). Tuhan memberkati.

Oleh Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Paus Fransiskus : Pewartaan, Kesaksian, dan Penyembahan

0

paus fransiskusSaudara-saudari yang terkasih!

Merayakan Misa bersama kalian dalam Basilika ini merupakan sebuah sukacita bagi saya. Saya menyapa Imam Agung (red-Basilika Santo Paulus), Kardinal James Harvey, dan saya berterima kasih kepadanya atas kata-kata yang telah ditujukan kepada saya. Seiring dengannya, saya menyambut dan mengucapkan terima kasih kepada berbagai institusi yang membentuk bagian dari Basilika ini, dan juga kalian semua. Kita berada di makam Santo Paulus, seorang Rasul Tuhan yang hebat namun rendah hati, yang mewartakan Dia dengan kata – kata, menjadi saksi Dia oleh kemartirannya dan menyembah Dia dengan segenap hatinya. Ini adalah tiga pokok utama yang ingin saya refleksikan dalam terang firman Allah yang telah kita dengar: pewartaan, kesaksian, penyembahan.

1. Dalam Bacaan Pertama, apa yang mengesankan kita adalah kekuatan Petrus dan para Rasul lainnya. Dalam menanggapi perintah untuk diam, untuk tidak lagi mengajar dalam nama Yesus, untuk tidak lagi memberitakan pesan-Nya, mereka merespons dengan jelas: “Kita harus mentaati Tuhan, bukan manusia”. Dan mereka tetap tidak terpengaruh bahkan ketika dicambuk, dianiaya dan dipenjarakan. Petrus dan Rasul menyatakan dengan berani, tanpa rasa takut, apa yang mereka terima: [yaitu] Injil Yesus. Dan [bagaimana dengan] kita? Apakah kita mampu membawa firman Allah ke dalam lingkungan di mana kita hidup? Apakah kita tahu bagaimana berbicara tentang Kristus, tentang apa makna untuk kita, dalam keluarga kita, di antara orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari? Iman lahir dari pendengaran, dan diperkuat oleh pewartaan.

2. Tapi mari kita mengambil langkah lebih lanjut: pewartaan yang disampaikan oleh Petrus dan para Rasul tidak hanya terdiri dari kata-kata: kesetiaan kepada Kristus mempengaruhi keseluruhan hidup mereka yang diubah, diberikan arah baru, dan melalui hidup merekalah, mereka menjadi saksi iman dan pewarta Kristus. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali untuk memberi makan domba-domba-Nya, memberi makan dengan cinta-Nya, dan Dia bernubuat kepadanya: “Ketika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18). Kata-kata ini ditujukan pertama dan terpenting bagi kita yang sebagai pastor/imam: kita tidak bisa memberi makan kawanan domba Allah kecuali kita membiarkan diri kita dibawa oleh kehendak Allah bahkan ke tempat yang tidak kita kehendaki sekali pun, kecuali kita siap untuk menjadi saksi Kristus dengan pemberian diri kita sendiri, tanpa syarat, tanpa perhitungan, kadang-kadang bahkan dengan mengorbankan hidup kita. Tapi ini juga berlaku untuk semua orang: kita semua harus mewartakan dan menjadi saksi Injil. Kita semua harus bertanya pada diri sendiri: Bagaimana saya bersaksi tentang Kristus melalui iman saya? Apakah saya memiliki keberanian Petrus dan para Rasul lainnya, untuk berpikir, untuk memilih dan untuk hidup sebagai orang Kristen, taat kepada Allah? Yang pasti, kesaksian iman datang dalam sangat banyak bentuk, seperti pada lukisan besar, ada berbagai warna dan nuansa, namun mereka semua penting, bahkan mereka yang tidak menonjol. Dalam rencana Allah yang besar, setiap detail itu penting, bahkan kalian, bahkan saksi kecil saya yang sederhana, bahkan saksi tersembunyi mereka yang hidup beriman dengan kesederhanaan dalam hubungan keluarga sehari-hari, hubungan kerja, persahabatan. Ada orang-orang kudus setiap hari, orang-orang kudus “tersembunyi”, semacam “kekudusan kelas menengah “, sebagaimana seorang penulis Perancis mengatakan, bahwa ” kekudusan kelas menengah” yang di mana kita semua bisa masuk. Tapi di berbagai belahan dunia, ada juga orang yang menderita, seperti Petrus dan para Rasul; karena Injil, ada orang-orang yang memberikan hidup mereka untuk tetap setia kepada Kristus dengan cara menjadi saksi yang ditandai dengan penumpahan darah mereka. Marilah kita semua ingat ini: seseorang tidak bisa memberitakan Injil Yesus tanpa kesaksian nyata dari kehidupan orang tersebut. Mereka yang mendengarkan kita dan mengamati kita harus mampu melihat dalam tindakan kita apa yang mereka dengar dari bibir kita, dan kemudian memuliakan Allah! Saya terpikir sekarang akan beberapa saran yang Santo Fransiskus dari Assisi berikan kepada saudara-saudaranya: beritakanlah Injil dan, jika perlu, gunakan kata-kata. Berkhotbahlah dengan kehidupan kalian, dengan kesaksian kalian. Inkonsistensi pada bagian dari imam dan umat beriman antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan, antara kata dan cara hidup, telah merusak kredibilitas Gereja.

3. Tapi semua ini hanya mungkin bilamana kita mengenal Yesus Kristus, sebab Dialah yang telah memanggil kita, Dia yang telah mengundang kita untuk mengikuti jalan-Nya, Dia yang telah memilih kita. Pewartaan dan kesaksian hanyalah mungkin jika kita dekat dengan Dia, sama seperti Petrus, Yohanes dan murid-murid lainnya dalam Injil hari ini yang berkumpul di sekitar Yesus yang bangkit, ada keakraban dengan-Nya setiap hari: mereka tahu betul siapa Dia, mereka mengenali-Nya. Penginjil menekankan sebuah fakta bahwa “tidak ada yang berani bertanya: ‘Siapakah Engkau?’ – Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan” (Yoh 21:12). Dan ini penting bagi kita: hubungan intens yang hidup dengan Yesus, keintiman dialog dan kehidupan, sedemikian rupa untuk mengakui Dia sebagai “Tuhan”. Sembahlah Dia! Bagian yang kita dengar dari Kitab Wahyu berbicara kepada kita tentang penyembahan: berjuta malaikat, semua makhluk, makhluk hidup, para tetua, sujud di hadapan Takhta Allah dan Anak Domba yang disembelih itu, yaitu Kristus, bagi-Nyalah pujian, hormat dan kemuliaan (bdk. Why 5:11-14). Saya ingin kita semua bertanya pada diri kita sendiri dengan pertanyaan ini: Kalian, saya, apakah kita menyembah Tuhan? Apakah kita berbalik kepada Allah hanya untuk meminta sesuatu, untuk berterima kasih pada-Nya, atau kita juga beralih ke Dia untuk menyembah-Nya? Apa maksud dari menyembah Tuhan? Maksudnya ialah belajar untuk bisa bersama-Nya; Hal ini berarti bahwa kita berhenti mencoba untuk berdialog dengan Dia, dan itu berarti merasakan bahwa kehadiran-Nya adalah yang paling benar, yang paling baik, yang paling penting dari semuanya. Semua dari kita, dalam kehidupan kita sendiri, secara sadar dan mungkin kadang-kadang tidak sadar, memiliki urutan prioritas yang sangat jelas menyangkut hal-hal yang kita anggap penting. Menyembah Tuhan berarti memberi-Nya tempat yang Dia harus miliki; menyembah Tuhan berarti menyatakan, percaya – tidak hanya dengan kata-kata kita – bahwa Dia sendiri benar-benar panduan hidup kita, menyembah Tuhan berarti bahwa kita yakin di hadapan-Nya bahwa Dia adalah satu-satunya Allah, Allah hidup kita, Allah sejarah kita.

Hal ini memiliki konsekuensi dalam hidup kita: kita harus mengosongkan diri dari banyaknya ‘tuhan-tuhan’ kecil atau besar yang kita miliki, yang di mana di dalamnya kita berlindung, yang di mana padanya kita sering berupaya untuk mendasarkan keamanan kita. Mereka adalah berhala yang terkadang tetap kita sembunyikan, yang dapat berupa ambisi, karir, rasa untuk sukses, menempatkan diri di pusat perhatian, kecenderungan untuk mendominasi orang lain, klaim menjadi satu-satunya tuan dari kehidupan kita, beberapa dosa yang kita terikat, dan banyak lainnya. Malam ini saya ingin menggemakan sebuah pertanyaan di setiap hati kalian masing-masing, dan saya ingin kalian untuk menjawabnya dengan jujur: Apakah saya telah menilik berhala apa yang bersembunyi di dalam hidup saya, yang mencegah saya untuk menyembah Tuhan? Menyembah berarti melucuti diri kita sendiri dari berhala kita, bahkan yang paling tersembunyi sekalipun, dengan memilih Tuhan sebagai pusat, sebagai jalan utama dari kehidupan kita.

Saudara-saudari yang terkasih, tiap hari Tuhan memanggil kita untuk mengikuti Dia dengan keberanian dan kesetiaan; Ia telah memberikan kita karunia yang besar dengan memilih kita sebagai murid-murid-Nya; Ia mengajak kita untuk mewartakan Dia dengan sukacita sebagai Yang Bangkit, tapi Ia meminta kita melakukannya dengan kata – kata dan melalui kesaksian hidup kita, dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan adalah satu-satunya Allah hidup kita, dan Ia mengajak kita untuk melucuti diri kita sendiri dari banyak berhala kita dan untuk menyembah-Nya saja. Untuk mewartakan, untuk bersaksi, untuk memuja. Semoga Santa Perawan Maria dan Santo Paulus membantu kita dalam perjalanan ini dan berdoa bagi kita. Amin. (AR)

 

Paus Fransiskus,

Basilika Santo Paulus, 14 April 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Tanya kepada Yesus apa yang Dia inginkan dari kamu

0

paus fransiskusBerikut ini adalah transkrip dan terjemahan dari Paus Fransiskus setelah doa Ratu Surga (Regina Caeli) dalam rangka Minggu ke-4 Paskah yang juga Hari Doa Sedunia untuk Panggilan yang didapatkan dari Radio Vatikan.

Saudara saudari yang terkasih,

Minggu Keempat Paskah dicirikan dengan Injil tentang Gembala yang Baik – dalam bab sepuluh Injil Yohanes – yang kita baca setiap tahun. Perikop hari ini berisi kata-kata Yesus: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku. Aku memberikan hidup kekal kepada mereka, dan mereka tidak akan pernah binasa dan tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang telah memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Bapa dan Aku adalah satu “(Yoh10:27-30). keempat ayat ini mengandung seluruh pesan Yesus, inti dari Injil-Nya: Dia memanggil kita untuk berpartisipasi dalam hubungan relasi-Nya dengan Bapa, yang adalah kehidupan kekal.

Yesus ingin menjalin hubungan dengan teman-teman-Nya yang merupakan sebuah cerminan dari hubungan-Nya dengan Bapa, hubungan rasa saling memiliki kepercayaan penuh, dalam persekutuan yang dekat. Untuk mengungkapkan pemahaman yang mendalam ini, hubungan persahabatan ini Yesus menggunakan gambaran Gembala dengan domba-domba-Nya: Ia memanggil mereka, dan mereka mengenal suara-Nya, mereka menanggapi panggilan dan mengikuti-Nya. Betapa indahnya perumpamaan ini! Misteri suara bersifat sugestif: dari rahim ibu kita, kita belajar mengenali suaranya dan suara ayah kita, dari nada suara, kita merasakan cinta atau amarah, hangatnya kasih atau dinginnya hati. Suara Yesus sungguh unik! Jika kita belajar untuk membedakannya, Ia menuntun kita di jalan kehidupan, jalan yang melampaui jurang kematian.

Tapi pada titik tertentu,  mengacu pada domba-domba-Nya, Yesus berkata: “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku …” (Yoh 10:29). Hal ini sangat penting, hal itu adalah misteri yang mendalam, yang tidak mudah untuk dipahami: jika saya merasa tertarik kepada Yesus, jika suara-Nya menghangatkan hati saya, yang merupakan berkat Allah Bapa, yang telah memasukkan ke dalam diri saya kerinduan akan cinta, kebenaran, kehidupan, keindahan … dan Yesus adalah kepenuhan atas segala hal tersebut! Hal ini membantu kita untuk memahami misteri panggilan, khususnya panggilan untuk hidup religius. Kadang-kadang Yesus memanggil kita, mengajak kita untuk mengikuti-Nya, tapi mungkin kita tidak menyadari bahwa itu adalah Dia, seperti Samuel muda. Ada banyak orang muda saat ini, di lapangan sini. Ada banyak dari kalian! Begitu banyak dari kalian, orang muda yang hadir di lapangan ini hari ini!

Saya ingin bertanya kepada kalian: apakah kalian kadang-kadang mendengar suara Tuhan yang melalui keinginan, kegelisahan tertentu, mengundang kalian untuk mengikuti-Nya lebih dekat? Pernahkah kalian mendengar hal itu? Saya tidak bisa mendengar [suara] kalian … Nah itu baru terdengar! Apakah kalian punya keinginan untuk menjadi rasul – rasul Yesus? Kaum muda harus menghabiskan waktunya untuk idealisme yang tinggi. Apakah kalian berpikir demikian? Apakah kalian setuju? Tanyalah kepada Yesus apa yang Dia inginkan dari kalian dan jadilah berani! Jadilah berani, tanyalah Dia! Di balik setiap panggilan imamat atau hidup bakti, selalu ada doa yang kuat dan intens seseorang: nenek, kakek, ibu, ayah, sebuah komunitas … Itu sebabnya Yesus berkata, “Berdoalah kepada Tuan yang empunya tuaian – yaitu, Allah Bapa – supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian-Nya itu” (Mat 9:38). Setiap panggilan lahir dalam doa dan dari doa, dan hanya dalam doa mereka bisa bertahan dan berbuah. Saya ingin menggarisbawahi hari ini, “Hari Doa Sedunia untuk Panggilan.” Kami berdoa terutama bagi para imam baru Keuskupan Roma, yang saya tahbiskan pagi ini dengan sukacita. Dan kita memohon perantaraan Maria. Hari ini ada 10 pemuda yang mengatakan “ya” kepada Yesus dan ditahbiskan sebagai imam pagi ini … Hal ini sangat indah! Mari kita memohon perantaraan Maria  seorang wanita yang mengatakan “ya.” Maria berkata “ya,” sepanjang hidupnya! Dia telah belajar untuk mengenali suara Yesus sejak ia mengandung Dia dalam rahimnya. Maria, Bunda kita membantu kita untuk mengenal lebih baik suara Yesus dan mengikuti-Nya, untuk menjalani kehidupan!

Terima kasih banyak untuk salam kalian, namun marilah kita juga mewartakan Yesus dengan lantang … Marilah kita semua berdoa bersama Perawan Maria. (AR)

Paus Fransiskus,

Vatikan, 21 April 2013

 

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab