Home Blog Page 122

Homili Paus Fransiskus dalam Misa Malam Paskah 2013

0

Berikut ini adalah terjemahan dari Homili Paus Fransiskus dalam Misa Vigili Paskah (Malam Paskah) yang diadakan pada Sabtu, 30 Maret 2013 di Basilika Santo Petrus. Inilah Misa Malam Paskah pertama dalam pontifikasinya.

******

paus fransiskusSaudara dan saudari yang terkasih,

1. Dalam Injil tentang malam bercahaya Vigili Paskah, kita pertama-tama menjumpai para perempuan yang mengunjungi makam Yesus dengan rempah-rempah untuk mengurapi tubuh-Nya (bdk. Luk 24:1-3). Mereka pergi ke sana untuk menunjukkan tindakan belas kasih, tindakan umum kasih sayang dan cinta untuk orang terkasih yang meninggal, sebagaimana yang kita lakukan. Mereka telah mengikuti Yesus, mereka telah mendengarkan sabda-Nya, mereka telah merasa dimengerti oleh Dia dalam martabat mereka dan mereka telah menemani-Nya hingga akhir, hingga Kalvari dan hingga saat Dia diturunkan dari salib. Kita bisa membayangkan perasaan mereka saat mereka melakukan perjalanan menuju makam: suatu kesedihan,  dukacita karena Yesus telah meninggalkan mereka, karena Ia telah wafat, dan hidup-Nya sudah berakhir. Hidup sekarang akan berjalan seperti sebelumnya. Namun para perempuan  tersebut terus merasakan kasih, kasih bagi Yesus yang kini membawa mereka ke makam-Nya. Tapi pada titik ini, sesuatu yang sama sekali baru dan tak terduga terjadi, sesuatu yang membingungkan hati mereka dan rencana mereka, sesuatu yang akan membingungkan seluruh hidup mereka: mereka melihat batu terguling dari hadapan kubur, mereka mendekat dan mereka tidak menemukan jasad Tuhan. Ini merupakan sebuah peristiwa yang membuat mereka bingung, ragu-ragu, penuh pertanyaan: “Apa yang terjadi?”, “Apa arti dari semua ini?” (bdk. Luk 24:4). Bukankah hal yang sama juga terjadi pada kita ketika sesuatu yang sama sekali baru terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari? Kita terhenti sejenak, kita tidak mengerti, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sesuatu yang baru sering membuat kita takut, termasuk kebaruan yang Allah bawa bagi kita, kebaruan yang Tuhan minta dari kita. Kita seperti para Rasul dalam Injil: seringkali kita akan lebih memilih untuk mempertahankan keamanan kita sendiri, berdiri di depan makam, berpikir tentang seseorang yang telah meninggal, seseorang yang akhirnya hidup hanya sebagai kenangan, seperti para tokoh besar sejarah masa lalu. Kita takut akan kejutan-kejutan Allah. Saudara Saudari terkasih, kita takut akan kejutan Allah! Ia selalu mengejutkan kita! Memang demikianlah Tuhan.

Saudara dan Saudari terkasih, marilah kita tidak tertutup terhadap kebaruan yang Allah ingin bawa ke dalam hidup kita! Apakah kita sering jemu, kehilangan semangat, dan sedih? Apakah kita merasa terbebani oleh dosa-dosa kita? Apakah kita berpikir bahwa kita tidak akan mampu mengatasi? Janganlah kita menutup hati kita, janganlah kita kehilangan kepercayaan diri, janganlah pernah menyerah: tidak ada satupun keadaan yang Allah tidak bisa ubah, tidak ada satu pun dosa yang Ia tidak bisa ampuni sekiranya kita membuka diri kepada-Nya.

2. Tetapi mari kita kembali kepada Injil, kepada para perempuan, dan mengambil satu langkah lebih jauh. Mereka menemukan kubur kosong, tubuh Yesus tidak ada di sana, sesuatu yang baru telah terjadi, tetapi semua ini masih tidak memberitahu mereka apa pun: hal itu menimbulkan pertanyaan, hal itu membuat mereka bingung, tanpa menawarkan jawaban. Dan tiba-tiba ada dua orang berpakaian berkilau-kilauan yang mengatakan: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (Luk 24:5-6). Suatu tindakan sederhana, yang dilakukan pasti karena kasih–pergi ke kubur–kini telah berubah menjadi sebuah peristiwa penting, peristiwa yang benar-benar mengubah hidup. Tidak sesuatu pun yang tetap seperti sebelumnya, tidak hanya dalam kehidupan para perempuan tersebut, tetapi juga dalam kehidupan kita sendiri dan dalam sejarah umat manusia. Yesus tidak mati, Ia telah bangkit, Ia hidup! Ia tidak hanya kembali kepada kehidupan, melainkan Ia adalah kehidupan itu sendiri, karena Ia adalah Putra Allah, Allah yang hidup (bdk. Bil 14:21-28, Ul 5:26; Yos 3:10). Yesus bukan lagi milik masa lalu, namun hidup di masa sekarang dan diproyeksikan ke masa depan, Ia adalah “kekinian” Allah yang kekal. Ini adalah bagaimana kebaruan Allah tampak bagi para perempuan, para murid dan kita semua: sebagai kemenangan atas dosa, kejahatan dan kematian, atas segala sesuatu yang menghancurkan kehidupan dan membuatnya tampak kurang manusiawi. Dan ini adalah pesan yang ditujukan bagi saya dan bagi Anda, Saudari terkasih. Seberapa sering Sang Kasih harus memberitahu kita: Mengapa engkau mencari yang hidup di antara orang mati? Masalah dan kekhawatiran sehari-hari kita dapat membungkus kita dalam diri kita sendiri, dalam kesedihan dan kegetiran … dan itulah tempat kematian berada. Itu bukan tempat untuk mencari Dia yang hidup! Biarkan Yesus yang bangkit memasuki kehidupan Anda, sambutlah Dia sebagai sahabat, dengan kepercayaan: Ia adalah kehidupan! Jika sampai sekarang Anda telah menjaga jarak denganNya, melangkahlah maju. Dia akan menerima Anda dengan tangan terbuka. Jika Anda telah acuh tak acuh, ambillah resiko: Anda tidak akan kecewa. Jika mengikutiNya tampaknya sulit, jangan takut, percayalah kepadaNya, yakinlah bahwa Dia dekat dengan Anda, Dia bersama Anda dan Dia akan memberi Anda kedamaian yang sedang Anda cari dan kekuatan untuk hidup sebagaimana Ia menghendaki Anda lakukan.

 

3. Ada satu unsur kecil terakhir yang ingin saya tekankan dalam Injil Malam Paskah. Para perempuan menjumpai kebaruan Allah. Yesus telah bangkit, Ia hidup! Tetapi berhadapan dengan kubur kosong dan dua orang berpakaian berkilau-kilauan, reaksi pertama mereka adalah suatu ketakutan: “mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala”, Santo Lukas menceritakan kepada kita–mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk melihat. Tetapi ketika mereka mendengar warta Kebangkitan, mereka menerimanya dalam iman. Dan dua orang berpakaian berkilau-kilau memberitahu mereka sesuatu yang sangat penting: “Ingatlah apa yang dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea…. Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu” (Luk 24:6,8). Ini adalah undangan untuk mengingat perjumpaan mereka dengan Yesus, untuk mengingat sabda-Nya, tindakan-Nya, hidup-Nya; dan justru ingatan penuh kasih akan pengalaman mereka dengan Sang Guru inilah yang memampukan mereka untuk menguasai rasa takut mereka dan membawa warta Kebangkitan kepada para Rasul dan semua yang lain (Luk 24:9). Mengingat apa yang telah Allah lakukan dan terus lakukan bagi saya, bagi kita, mengingat jalan yang telah kita jelajahi; hal inilah yang membuka hati kita bagi harapan untuk masa depan. Semoga kita belajar untuk mengingat segala sesuatu yang telah Allah lakukan dalam hidup kita.

Pada malam bercahaya ini, mari kita memohon perantaraan Bunda Maria, yang menyimpan segala peristiwa ini dalam hatinya (bdk. Luk 2:19,51) dan memohon Tuhan untuk memberi kita bagian dalam Kebangkitan-Nya. Semoga Ia membuka kita kepada kebaruan yang mengubah, kepada kejutan-kejutan indah Tuhan. Semoga Ia menjadikan kita laki-laki dan perempuan yang mampu mengingat semua yang telah Ia lakukan dalam kehidupan kita sendiri dan dalam sejarah dunia kita. Semoga Ia membantu kita untuk merasakan kehadiran-Nya sebagai seseorang yang hidup dan terus berkarya di tengah-tengah kita. Dan semoga Ia mengajarkan kita setiap hari untuk tidak mencari Dia Yang Hidup di antara orang mati. Amin.

(EM)

Diadaptasi dari:

http://katekesekatolik.blogspot.com/2013/03/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-malam.html

Homili Paus Fransiskus pada Misa Inagurasi Tahkta Paus

0

Saudara dan saudari yang terkasih,

Saya berterima kasih kepada Tuhan karena saya dapat merayakan Misa Kudus untuk inagurasi pelayanan Petrus saya ini pada Hari Raya Santo Yusuf, suami dari Perawan Maria dan pelindung Gereja semesta. Ini adalah suatu kebetulan yang bermakna, dan sekaligus merupakan hari nama pendahulu saya yang terhormat: kita dekat padanya dengan doa-doa kita, penuh kasih sayang dan rasa syukur.

Saya menyampaikan salam hangat kepada saudaraku para kardinal dan uskup, imam, diakon, biarawan dan biarawati, serta semua umat beriman. Saya berterima kasih kepada para perwakilan Gereja dan komunitas gerejawi lainnya, serta perwakilan dari komunitas Yahudi dan komunitas keagamaan lainnya atas kehadiran mereka. Salam ramah saya untuk para kepala negara dan pemerintahan, para anggota delegasi resmi dari berbagai negara di seluruh dunia, dan Korps Diplomatik.

Dalam Injil kita mendengar bahwa “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24). Kata-kata ini mengarah kepada perutusan yang Tuhan percayakan kepada Yusuf: ia akan berperan sebagai custos, pelindung. Pelindung untuk siapakah? Untuk Maria dan Yesus; tetapi perlindungan ini kemudian diperluas kepada Gereja, sebagaimana dinyatakan oleh Yang Diberkati Paus Yohanes Paulus II:”Sebagaimana Santo Yusuf merawat Maria dengan penuh kasih dan dengan senang hati mengabdikan dirinya untuk membesarkan Yesus Kristus, demikian pula ia memelihara dan melindungi Tubuh Mistik Kristus, Gereja, di mana Perawan Maria adalah teladan dan panutannya” (Redemptoris Custos, 1).

Bagaimana Yusuf melaksanakan perannya sebagai pelindung? Dengan tidak mencolok, rendah hati dan hening, namun dengan kehadiran dan kesetiaan tanpa henti, bahkan ketika ia sulit untuk memahaminya. Sejak pertunangannya dengan Maria hingga diketemukannya Yesus yang berumur dua belas tahun di Bait Allah di Yerusalem, ia ada di sana setiap saat dengan penuh kasih sayang. Sebagai suami Maria, ia berada di dekatnya dalam suka dan duka, dalam perjalanan ke Betlehem untuk sensus dan dalam saat-saat cemas dan sukacita ketika Maria melahirkan; di tengah drama pelarian ke Mesir, dan saat kebingungan mencari Putra mereka di Bait Allah; dan kemudian dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga mereka di Nazaret,  dalam tempat kerja di mana ia mengajarkan keahliannya pada Yesus.

Bagaimana Yusuf menanggapi panggilannya untuk menjadi pelindung Maria, Yesus dan Gereja? Dengan terus-menerus memperhatikan Allah, terbuka bagi tanda-tanda kehadiran Allah dan siap sedia dalam menerima rencana Allah, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ini adalah apa yang Allah minta dari Daud,seperti yang kita dengar dalam Bacaan Pertama. Allah tidak menginginkan rumah yang dibangun oleh manusia, tetapi kesetiaan pada sabda-Nya, pada rencana-Nya. Allah sendiri yang membangun rumah, namun dari batu-batu hidup yang dimeteraikan oleh Roh-Nya. Yusuf adalah “pelindung” karena ia mampu mendengar suara Allah dan membiarkan dirinya dipandu oleh kehendak-Nya; dan karena alasan inilah ia menjadi jauh lebih peka terhadap orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Dia mampu melihat hal-hal secara realistis, memperhatikan keadaan sekitarnya, dan ia dapat membuat keputusan yang benar-benar bijaksana. Dalam dirinya, sahabat-sahabat terkasih, kita belajar bagaimana untuk menanggapi panggilan Allah, dengan kesiapsediaan dan  kerelaan, tetapi kita juga melihat inti panggilan Kristiani, yaitu Kristus! Mari kita melindungi Kristus dalam hidup kita, sehingga kita bisa melindungi orang lain, sehingga kita dapat melindungi ciptaan!

Namun demikian, panggilan menjadi seorang “pelindung” bukanlah sesuatu yang hanya melibatkan kita orang Kristiani saja; panggilan tersebut juga memiliki sisi utama yang sungguh manusiawi, yang melibatkan semua orang. Ini berarti melindungi semua ciptaan, keindahan dunia yang diciptakan, seperti yang diceritakan Kitab Kejadian kepada kita dan seperti yang ditunjukkan Santo Fransiskus dari Asisi kepada kita. Ini berarti menghormati setiap ciptaan Tuhan dan menghormati lingkungan di mana kita hidup. Ini berarti melindungi umat manusia, menunjukkan kepedulian yang penuh kasih untuk setiap orang, terutama anak-anak, orang-orang lanjut usia, orang-orang yang  berkekurangan, yang seringkali merupakan yang terakhir di pikiran kita. Ini berarti memperhatikan satu sama lain dalam keluarga kita: suami dan istri pertama-tama melindungi satu sama lain, dan kemudian sebagai orang tua, mereka merawat anak-anak mereka, dan anak-anak sendiri pada saatnya, melindungi orang tua mereka. Ini berarti membangun persahabatan yang tulus di mana kita melindungi satu sama lain dalam kepercayaan, rasa hormat, dan kebaikan. Pada akhirnya, semuanya telah dipercayakan kepada perlindungan kita, dan kita semua bertanggung jawab untuknya. Jadilah pelindung karunia Allah!

Setiap kali manusia gagal untuk memenuhi tanggung jawab ini, setiap kali kita gagal untuk memelihara ciptaan dan saudara saudari kita, suatu jalan terbuka bagi kehancuran, dan hati manusia akan mengeras. Tragisnya, dalam setiap periode sejarah ada “Herodes” yang merencanakan kematian, mendatangkan malapetaka, dan mengotori wajah laki-laki dan perempuan.

Saya memohon kepada semua orang yang memegang peran dan tanggung jawab dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial, dan semua laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik: marilah kita menjadi “pelindung” ciptaan, pelindung rencana Allah yang tergores dalam alam, pelindung satu sama lain dan lingkungan. Janganlah kita membiarkan tanda-tanda kehancuran dan kematian untuk menyertai kemajuan dunia ini! Tetapi untuk menjadi “pelindung”, kita juga harus berjaga-jaga atas diri kita sendiri! Janganlah kita lupa bahwa kebencian, iri hati dan kesombongan mencemari hidup kita! Menjadi pelindung, juga berarti tetap menjaga perasaan kita, hati kita, karena inilah tempat bersarangnya niat baik maupun jahat: niat yang membangun dan yang meruntuhkan! Kita tidak boleh takut akan kebaikan atau bahkan kelembutan!

Di sini saya akan menambahkan satu hal lagi: merawat, melindungi, menuntut kebaikan, ini semua memerlukan suatu kelembutan. Dalam Injil, Santo Yusuf muncul sebagai orang yang kuat dan pemberani, seorang pekerja, namun dalam hatinya kita melihat kelembutan yang dalam, yang bukan merupakan sifat orang lemah, melainkan tanda kekuatan jiwa dan kapasitas untuk perhatian, untuk kasih sayang, untuk keterbukaan yang tulus bagi orang lain, dan untuk kasih. Kita tidak boleh takut akan kebaikan, akan kelembutan!

Hari ini, bertepatan dengan Hari Raya Santo Yusuf, kita merayakan dimulainya pelayanan Uskup Roma yang baru, Penerus Santo Petrus, yang juga disertai suatu kuasa. Tentu saja, Yesus Kristus memberikan kuasa atas Petrus, tetapi kuasa seperti apakah itu? Tiga pertanyaan Yesus kepada Petrus tentang kasih diikuti oleh tiga perintah: gembalakanlah domba-domba-Ku, beri makan domba-domba-Ku. Jangan pernah kita lupakan bahwa kekuasaan yang sejati adalah pelayanan, dan bahwa Paus juga, ketika menjalankan kekuasaannya, harus semakin masuk sepenuhnya ke dalam pelayanan yang memiliki puncak yang bersinar pada Salib. Ia harus terinspirasi oleh pelayanan yang rendah hati, konkret dan setia yang dicontohkan oleh Santo Yusuf dan, seperti dia, ia harus merentangkan lengannya untuk melindungi semua umat Allah dan merangkul seluruh umat manusia dengan kasih sayang yang lembut, terutama yang paling miskin, paling lemah, paling tersisih, orang-orang yang disebutkan Matius dalam penghakiman terakhir tentang kasih: mereka yang lapar, haus, orang asing, yang telanjang, yang sakit dan orang-orang dalam penjara (bdk. Mat 25:31-46). Hanya mereka yang melayani dengan kasih yang mampu melindungi!

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus berbicara tentang Abraham, yang “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya ” (Rm 4:18). Tidak ada dasar untuk berharap! Hari ini juga, di tengah begitu banyak kegelapan, kita perlu melihat cahaya harapan dan menjadi laki-laki dan perempuan yang membawa harapan bagi orang lain. Melindungi ciptaan, melindungi setiap laki-laki dan setiap perempuan, memandang mereka dengan kelembutan dan kasih, adalah membuka cakrawala harapan; membiarkan seberkas cahaya menerobos awan tebal; membawa kehangatan harapan! Bagi orang percaya, bagi kita orang Kristiani, seperti Abraham, seperti Santo Yusuf, harapan yang kita bawa dilatarbelakangi cakrawala Allah, yang telah terbentang di hadapan kita dalam Kristus. Suatu harapan yang dibangun di atas batu pondasi, yaitu Allah sendiri.

Melindungi Yesus dengan Maria, melindungi seluruh ciptaan, melindungi setiap orang, terutama yang paling miskin, melindungi diri kita sendiri: ini adalah pelayanan yang harus dilaksanakan oleh Uskup Roma, namun juga merupakan sebuah panggilan bagi kita semua, agar bintang harapan dapat bersinar terang. Mari kita lindungi dengan penuh kasih semua yang telah diberikan Allah kepada kita!

Saya memohon perantaraan Bunda Maria, Santo Yusuf, Santo Petrus dan Paulus, dan Santo Fransiskus, agar Roh Kudus dapat menyertai pelayanan saya, dan saya mohon kepada Anda semua untuk mendoakan saya! Amin.

(EM)

Diadaptasi dari:

http://katekesekatolik.blogspot.com/2013/03/homili-paus-fransiskus-pada-misa_19.html

Apakah aku saudara bagimu?

0

Setiap hari, aku selalu komplain akan hal yang sama di jalan raya : sesama pengendara kendaraan. Entah itu sepeda motor ataupun mobil. Selalu ada saja ulah mereka yang membuat jengkel. Banyak pengendara motor yang sok sibuk dengan mengendara sambil sms. Mobil yang menyetir lambat di jalur cepat. Kelompok motor yang ngerumpi sambil menyetir bergerombol. Mobil yang memotong jalur antrian macet. Dan banyak hal menyebalkan lainnya. Ini masih belum menghitung “dosa” angkot dan becak.

Salah satu  kejadian yang cukup mengganggu adalah ketika aku menyetir di sore hari sepulang kerja. Saat melintasi daerah macet karena jalan “bottleneck” dan lampu merah, aku melihat seorang pengendara motor berjalan begitu lambat. Di tangan kanannya, ia sibuk mengetik dengan handphone. Karena perhatiannya terbagi, ia mengendara dengan lambat dan menghambat jalan lalu lintas. Saking emosinya, saya sengaja mengarahkan mobil padanya hingga dekat sekali dan mengklakson untuk mengagetkannya. Berhasil. Ia pun sempat oleng karena kaget. Tapi, ia kemudian menjadi marah dan mengejar mobilku yang sudah mendahuluinya. Ketika sampai di sisi mobil, ia balas mengklakson sambil melotot, lalu ngebut meninggalkan mobil. Kejadian ini menggangguku bukan karena ulah motor tersebut, melainkan penyesalan yang timbul sesudah kejadian itu. Untuk apa semua itu aku lakukan? Kalau sampai timbul korban jiwa karena keisengan belaka, bukankah tindakanku akan sangat sia-sia sekali?

Penyesalan yang lebih mendalam adalah ketika Allah berbicara dalam Misa Kudus minggu kemarin. Imam selebran mengatakan bahwa,”Ikatan kasih yang mempersatukan antara Pribadi Allah Tritunggal, antara Allah dengan manusia, dan antar sesama manusia, adalah bukti identitas seorang murid Kristus”. Kejadian waktu itu seolah menjadi saksi bahwa aku melakukan yang sebaliknya. Tidak ada kasih dariku untuk pengendara tersebut. Tapi, benakku berkilah,”Memangnya dia siapa? Orang itu kan bukan siapa-siapa buatku. Selain itu, salahnya sendiri karena tidak tertib di jalan.”

Pertanyaan benak ini menggemakan kembali pertanyaan Kain,”Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 9:4). Pertanyaan penuh ketidakpedulian Kain menjadi pertanyaanku juga. Aku tidak peduli dengan saudaraku sendiri, kendati aku sering mengatakan bahwa orang lain adalah saudaraku. Memang, orang lain adalah saudaraku, tapi apakah aku telah berperilaku sebagai seorang saudara bagi sesamaku? Orang Samaria dalam Injil Lukas telah bertindak sebagai seorang saudara bagi si Yahudi yang dirampok (Luk 10:37). Aku belum bertindak sebagai saudara bagi pengendara motor itu. Aku lebih bertindak sebagai seorang hakim yang ingin memvonis dan mengeksekusi pengendara motor tersebut. Aku menduduki kursi yang bukan milikku.

Mungkin satu-satunya cara untuk mengatasi kecenderungan ingin menghakimi ini adalah dengan menyadari bahwa pengendara motor tersebut juga saudaraku. Jika aku membayangkan adik-adikku menjadi korban tindakan jahat seseorang, tentu saja kesedihan dan kemarahannya tidak terbayangkan. Apakah aku benar-benar tega melakukan hal buruk itu pada pengendara motor jika dia adalah saudaraku? Allah adalah Hakim Agung yang sejati, dengan keadilan absolut. Tapi, Hakim Agung ini tetap menunjukkan kasih dalam keadilannya. Apakah aku yang tidak sempurna ini layak mengadili sesamaku?

Tidak ada jalan lain. Kasih adalah jalan yang harus aku tempuh supaya aku bisa melihat sesamaku sebagai saudara. Apapun kekurangan mereka. Toh, aku sendiri belum sempurna. Yang harus aku lakukan adalah memintal gulaliku sekuat tenaga, agar manisnya Allah dalam hidup dapat mengukir senyum di wajah saudara-saudaraku. Keadilan bukan hanya soal peraturan. Keadilan adalah soal cinta.

Kasih sungguh lebih besar dari peraturan manapun. Bahkan, semua peraturan harus mengantar pada kasih!” – St. Vincentius a Paulo.

Devosi, apakah itu?

46

Pengertian Devosi, menurut pengajaran Gereja Katolik, seperti dijabarkan dalam tulisan CDW (Congregation for Divine Worship), Vatikan dalam dokumennya yang berjudul Directory on Popular Piety and the Liturgy, adalah:

8. In the present context, this term is used to describe various external practices (e.g. prayers, hymns, observances attached to particular times or places, insignia, medals, habits or customs). Animated by an attitude of faith, such external practices manifest the particular relationship of the faithful with the Divine Persons, or the Blessed Virgin Mary in her privileges of grace and those of her titles which express them, or with the Saints in their configuration with Christ or in their role in the Church’s life. (Cf. COUNCIL OF TRENT, Decretum de invocatione, veneratione, et reliquiis Sanctorum, et sacris imaginibus (3. 12. 1563), in DS 1821-1825; Pius XII, Encyclical Letter Mediator Dei, in AAS 39 (1947) 581-582; Sacrosanctum Concilium 104; Lumen Gentium 50)

terjemahannya:

“Dalam konteks ini, istilah devosi digunakan untuk menggambarkan praktek eksternal (doa-doa, lagu- lagu pujian, pelaksanaan suatu kegiatan rohani yang berkaitan dengan waktu- waktu atau tempat- tempat tertentu, insignia, medali, kebiasaan- kebiasaan). Dihidupkan oleh sikap iman, praktek- praktek tersebut menyatakan hubungan yang khusus antara umat beriman dengan Pribadi Allah [Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus] atau kepada Perawan Maria yang terberkati, dalam hak- hak istimewanya tentang rahmat dan segala sebutannya yang mengekspresikan keistimewaan tersebut, atau dengan para Santo/a di dalam konfigurasi mereka dengan Kristus atau di dalam peran mereka di dalam kehidupan Gereja.”

Berdasarkan pengertian ini, maka devosi itu ditujukannya kepada Tuhan (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) atau kepada para orang kudus -termasuk Bunda Maria- dalam kesatuan mereka dengan Kristus. Nah, bentuk devosi itu dapat berupa doa, lagu pujian, atau kebiasaan- kebiasaan/ kegiatan rohani tertentu. Jadi devosi itu ditujukannya kepada ‘Seseorang/ Someone‘, yaitu pribadi Allah atau orang kudus dalam kesatuan mereka dengan Allah; dan bukan kepada ‘sesuatu/ something‘. Sekalipun devosi berhubungan dengan medali, relikwi, rosario ataupun skapular, dll, namun bukan kepada benda- benda itu umat Katolik berdevosi, melainkan kepada Allah ataupun pribadi orang kudus yang diacu olehnya, dalam kesatuan dengan Kristus. Maka para orang kudus ini bukan saingan Kristus, tetapi pendukung Kristus dalam peran Pengantaraan-Nya yang satu- satunya itu. Tentang hal pengantaraan Kristus yang bersifat inklusif/ melibatkan anggota- anggota-Nya, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan pula anda membaca di artikel ini, silakan klik, yang menunjukkan bahwa devosi yang berkaitan dengan pemakaian ‘sesuatu’/ benda- benda, seperti skapulir, medali, dst, tidak hanya terbatas kepada ‘memakai’ saja, tetapi juga pada kesediaan untuk hidup sesuai dengan penghayatan iman mereka kepada Tuhan sesuai dengan teladan Kristus dan para orang kudus-Nya. Pemakaian benda- benda tersebut, hanya mengingatkan orang yang memakainya agar berjuang untuk hidup kudus dalam berbagai situasi hidup sampai akhir hayatnya, agar memperoleh keselamatan kekal.

Contoh yang baik juga misalnya dengan devosi kepada Kerahiman Ilahi, maka seseorang diingatkan untuk selalu mengandalkan Tuhan Yesus dan kerahiman-Nya, dan berdoa bagi pertobatan dunia (termasuk pertobatannya sendiri), untuk selalu melakukan perbuatan kasih kepada sesama entah dengan perbuatan langsung, dengan perkataan ataupun dengan mendoakan, demi kasih mereka kepada Kristus yang telah menyerahkan hidup-Nya di kayu salib. Itulah sebabnya mereka mendaraskan doa Koronka dengan menggunakan rosario, dan melakukan doa novena Kerahiman Ilahi yang mengenang sengsara Yesus demi menyelamatkan umat manusia, dan mendoakan doa khusus pada jam 3 siang (pada saat Kristus wafat), demi mengenangkan kasih Tuhan yang sempurna yang ditunjukkan dengan korban salib-Nya. Dengan melaksanakan devosi ini, maka kita didorong untuk semakin mengasihi Kristus.

Akhirnya, saya ingin mengutip pengertian devosi menurut St. Fransiskus dari Sales, demikian:

“Ringkasnya, devosi adalah kesigapan dan kegairahan hidup rohani, yang melaluinya kasih bekerja di dalam kita, ataupun kita di dalamnya, dengan cinta dan kesiapsiagaan; dan seperti halnya kasih memimpin kita untuk menaati dan memenuhi semua perintah Tuhan, maka devosi memimpin kita untuk menaati semua itu dengan segera dan tekun…. Dan seperti devosi terdapat dalam kasih yang sempurna, maka devosi tidak hanya membuat kita aktif, bersedia, dan rajin/ tekun dalam melaksanakan perintah Tuhan, tetapi terlebih lagi devosi mendorong kita untuk melakukan semua perbuatan baik dengan penuh semangat dan kasih, bahkan perbuatan- perbuatan yang tidak diharuskan, tetapi hanya dianjurkan ataupun disarankan.” (lih. St. Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, (Rockford, Illinois: TAN books and Publishers, 1942), p. 3)

Semoga ulasan di atas ini senantiasa mengingatkan dan mendorong kita untuk semakin mengasihi Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita.

“Tuhan, tambahkanlah di dalam hati kami ini, kasih kepada-Mu, sehingga kami dapat mengasihi Engkau, dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kami.”

Paus Fransiskus: Penginjilan, Gerejawi, Misioner !

0

Berikut adalah terjemahan dari homili Paus Fransiskus pada Minggu Paskah ke-6 yang bertepatan dengan Hari Persaudaraan dan Kesalehan Popular:

paus fransiskusSaudara-saudari terkasih,

Suatu keberanian dari kalian untuk datang ke sini dalam kondisi hujan seperti ini … Semoga Tuhan memberkati kalian dengan melimpah!

Sebagai bagian dari perjalanan dalam Tahun Iman, saya senang merayakan Ekaristi ini yang secara khusus didedikasikan untuk para kelompok persaudaraan: sebuah realitas tradisional dalam Gereja, yang pada akhir – akhir ini beberapa kali mengalami pembaharuan dan penemuan kembali. Saya menyambut kalian semua dengan penuh kasih, khususnya para kelompok persaudaraan dari seluruh belahan dunia yang telah datang ke sini! Terima kasih atas kehadiran kalian dan kesaksian kalian!

  1. Dalam Injil kita mendengar sebuah perikop dari wacana perpisahan Yesus, sebagaimana diceritakan oleh Penginjil Yohanes dalam konteks Perjamuan Terakhir. Yesus mempercayakan pemikiran terakhir-Nya, sebagai perjanjian spiritual, kepada para rasul sebelum Ia meninggalkan mereka. Teks hari ini menegaskan bahwa iman Kristen benar-benar berpusat pada hubungan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus. Barangsiapa mengasihi Tuhan Yesus ia menyambut Dia dan Bapa-Nya secara batiniah, dan bersyukur kepada Roh Kudus dengan menerima Injil dalam hati dan kehidupannya. Di sini kita diperlihatkan pusat dari mana segala sesuatu harus pergi dan ke mana segala sesuatu harus berujung: [yaitu] mengasihi Allah dan menjadi murid-murid Kristus dengan hidup seturut Injil. Ketika Benediktus XVI berbicara kepada kalian, beliau menggunakan ungkapan: semangat penginjilan. Para Kelompok Persaudaraan yang terkasih, kesalehan populer, yang merupakan tanda penting dalam kalian adalah harta yang dimiliki oleh Gereja, yang mana para uskup Amerika Latin mendefinisikannya secara signifikan, sebagai spiritualitas, suatu bentuk kebatinan, yang merupakan “tempat perjumpaan dengan Yesus Kristus “. Timbalah selalu dari Kristus, mata air yang tak pernah kering, perkuat iman kalian dengan menghadiri pembinaan spiritual kalian, untuk berdoa secara pribadi dan bersama dalam komunitas, dan dalam liturgi. Selama berabad-abad kelompok persaudaraan telah menjadi cawan lebur kekudusan bagi banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, yang telah hidup dalam kesederhanaan, sebuah hubungan intens dengan Tuhan. Melangkah maju dengan kebulatan tekad dalam jalan menuju kekudusan; jangan merasa puas dengan kehidupan Kristen yang biasa-biasa saja, tapi biarkan ikatan tali persaudaraan kalian berfungsi sebagai dorongan, di atas segalanya bagi kalian sendiri, untuk mencapai cinta yang semakin lebih besar lagi bagi Yesus Kristus.

 

  1. Perikop dari Kisah Para Rasul yang kita dengar, juga berbicara kepada kita tentang apa yang penting. Dalam Gereja awali ada kebutuhan yang mendesak untuk memikirkan apa yang penting dalam menjadi seorang Kristen, dalam mengikuti Kristus, dan apa yang tidak. Para rasul dan penatua-penatua lainnya mengadakan pertemuan penting di Yerusalem, sebuah “konsili” pertama, dengan tema di atas, untuk membahas masalah-masalah yang timbul setelah Injil diberitakan ke orang-orang kafir, ke orang-orang bukan Yahudi. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk pemahaman yang lebih baik atas apa yang penting, yaitu kepercayaan kepada Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit untuk dosa-dosa kita, dan mencintai Dia sebagaimana Dia mengasihi kita. Tapi perhatikan bagaimana kesulitan-kesulitan tersebut dapat diatasi: [yakni] bukan dari luar, melainkan dari dalam Gereja. Dan ini membawa sebuah elemen kedua yang saya ingin ingatkan kalian, seperti yang Benediktus XVI lakukan, yaitu: semangat gerejawi. Kesalehan populer adalah jalan yang mengarah ke apa yang penting, jika dijalani dalam Gereja di dalam persekutuan yang mendalam dengan para pastor kalian. Saudara-saudari terkasih, Gereja mengasihi kalian! Jadilah kehadiran yang aktif dalam komunitas, sebagai sel-sel yang hidup, sebagai batu-batu yang hidup. Para Uskup Amerika Latin menulis bahwa kesalehan populer yang kalian cerminkan adalah “sebuah cara yang sah dari penghayatan iman, sebuah cara untuk merasakan bahwa kita adalah bagian dari Gereja” (Dokumen Aparecida, 264). Ini luar biasa! Sebuah cara yang sah dari penghayatan iman, sebuah cara untuk merasa bahwa kita adalah bagian dari Gereja. Cintailah Gereja! Biarkan diri kalian dibimbing olehnya! Dalam paroki kalian, dalam keuskupan kalian, jadilah “paru-paru” sejati bagi iman dan kehidupan Kristiani, sehirup udara segar! Di Lapangan [Santo Petrus] ini saya melihat sebuah keanekaragaman yang besar: sebelumnya ada berbagai macam variasi payung, dan sekarang berbagai macam variasi warna dan tanda. Ini juga halnya dengan Gereja: kekayaan besar dan berbagai keanekaragaman ekspresi yang di dalamnya segala sesuatu mengarah kembali ke persatuan; keanekaragaman tersebut mengarah kembali ke persatuan, dan persatuan adalah perjumpaan dengan Kristus.
  1. Saya ingin menambahkan sebuah ungkapan ketiga yang harus membedakan kalian: [yaitu] semangat misioner. Kalian mempunyai sebuah misi khusus dan penting, yaitu menjaga keberlangsungan hubungan antara iman dan budaya dari masyarakat kepada siapa kalian termasuk di dalamnya. Kalian melakukan ini melalui kesalehan populer. Ketika, misalnya, kalian memangul salib dalam prosesi dengan penghormatan yang begitu besar dan cinta untuk Tuhan, kalian bukan sedang melakukan tindakan lahiriah semata, kalian sedang menunjuk pada sentralitas misteri Paskah Tuhan, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya yang telah menebus kita, dan kalian mengingatkan diri sendiri terlebih dahulu, dan juga masyarakat, bahwa kita harus mengikuti Kristus melalui tindakan – tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga Ia bisa mengubah kita. Demikian juga, ketika kalian mengekspresikan devosi yang mendalam kepada Perawan Maria, kalian menunjuk ke realisasi tertinggi dari kehidupan Kristiani, seseorang yang dengan iman dan ketaatannya kepada kehendak Allah, dan dengan meditasinya pada kata-kata dan perbuatan Yesus, seorang murid sempurna Tuhan (lih. Lumen Gentium, 53). Kalian ungkapkan iman ini, yang lahir dari mendengarkan Firman Allah, dengan cara-cara yang melibatkan indera, perasaan dan simbol dari kebudayaan yang berbeda – beda … Dengan cara demikian kalian membantu untuk menyampaikan hal itu kepada orang lain, dan terutama orang-orang sederhana yang dalam Injil Yesus menyebutnya “anak-anak kecil”. Pada dasarnya, “melakukan perjalanan bersama menuju tempat suci, dan berpartisipasi dalam demonstrasi lain dari kesalehan populer, membawa serta anak-anak kalian dan menarik orang lain, itu sendiri merupakan karya evangelisasi” (Dokumen Aparecida, 264). Ketika kalian mengunjungi tempat suci, ketika kalian membawa keluarga kalian, anak-anak kalian, kalian terlibat dalam sebuah karya nyata evangelisasi. Hal ini perlu berlanjut terus. Semoga kalian juga menjadi pewarta Injil sejati! Semoga inisiatif kalian menjadi “jembatan”, yang berarti membawa orang lain kepada Kristus, agar mereka berjalan bersama denganNya. Dan dalam semangat ini semoga kalian selalu perhatian terhadap karya amal. Setiap orang Kristen dan setiap komunitas adalah misionaris dalam artian mereka membawa Injil kepada orang lain dan hidup sesuai Injil, dan bersaksi akan kasih Allah bagi semua, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan. Jadilah misionaris cinta dan kelembutan Allah! Menjadi misionaris belas kasih Allah, yang selalu mengampuni kita, selalu menanti kita dan mengasihi kita.

Semangat penginjilan, semangat gerejawi, semangat misioner. Tiga tema! Jangan lupakan mereka! Semangat penginjilan, semangat gerejawi, semangat misioner. Mari kita mohon kepada Tuhan untuk selalu mengarahkan pikiran dan hati kita kepadaNya, sebagai batu-batu hidup Gereja, sehingga semua yang kita lakukan, seluruh kehidupan Kristiani kita, dapat menjadi kesaksian yang bercahaya akan kerahiman dan kasih-Nya. Dengan cara ini, kita melapangkan jalan bagi kita untuk menuju tujuan dari peziarahan duniawi kita, menuju tempat suci yang sangat indah itu, Yerusalem surgawi. Di sana, tidak ada lagi bait Allah: [namun] Allah sendiri dan Anak Domba adalah bait-Nya, dan cahaya matahari dan bulan memberi jalan kepada kemuliaan Yang Maha Tinggi. Amin

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 5 Mei 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

 

 

Paus Fransiskus: Menjalani Hidup bersama Roh Kudus!

0

Berikut adalah terjemahan pesan Paus Fransiskus dalam doa Regina Caeli (Ratu Surga) pada Minggu Paskah ke 5:

paus fransiskusSebelum menutup perayaan ini, saya ingin mempercayakan kepada Bunda Maria para kandidat penerima Sakramen Penguatan dan kalian semua. Perawan Maria mengajarkan kepada kita apa artinya hidup dalam Roh Kudus dan apa artinya menerima kabar dari Allah dalam kehidupan kita. Ia mengandung Yesus atas kuasa Roh Kudus, dan setiap orang Kristen, masing-masing dari kita, dipanggil untuk menerima Firman Allah, untuk menerima Yesus dalam diri kita dan kemudian membawaNya kepada semua orang. Maria memohon datangnya Roh Kudus bersama para Rasul di Ruang Atas (red. Senakel): kita juga, setiap kali kita berkumpul bersama dalam doa, ditopang oleh kehadiran spiritual dari Bunda Yesus, untuk menerima karunia Roh Kudus dan memiliki kekuatan untuk menjadi saksi Yesus yang Bangkit. Saya mengatakan ini secara khusus bagi Anda yang telah menerima Sakramen Penguatan hari ini: semoga Maria membantu kalian untuk memperhatikan apa yang Tuhan minta dari kalian, dan untuk hidup dan berjalan selamanya bersama Roh Kudus!

Saya ingin menyampaikan ucapan kasih sayang saya untuk semua peziarah yang telah hadir dari manca negara. Saya menyapa khususnya anak-anak yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Penguatan, kelompok besar yang dipimpin oleh Sisters of Charity, umat beberapa paroki  dari Polandia dan mereka yang dari Bisignano, serta Katholische akademische Verbindung Capitolina.

Pada saat ini, sebuah momen khusus, saya ingin memanjatkan doa bagi para korban runtuhnya sebuah pabrik di Bangladesh. Saya mengungkapkan solidaritas dan simpati saya yang mendalam kepada keluarga yang sedang berduka bagi orang yang mereka cintai, dan saya memohon dengan sangat dari hati saya supaya martabat dan keselamatan pekerja selalu dilindungi.

Sekarang, dalam terang Paskah, buah Roh Kudus, kita beralih bersama-sama ke Bunda Tuhan.

 

(NT)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 28 April 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

 

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab