Home Blog Page 121

Paus Fransiskus: Kehidupan Manusia dimulai sejak dari Pembuahan!

0

Berikut adalah terjemahan pesan Paus Fransiskus dalam doa Regina Caeli (Ratu Surga) pada Minggu Paskah ke-7:

Saudara – saudari yang terkasih,

Pada akhir perayaan ini saya ingin menyapa kalian semua yang telah datang untuk memberi penghormatan kepada orang-orang kudus yang baru dan khususnya delegasi resmi dari Italia, Kolombia dan Meksiko.

Semoga para martir dari Otranto membantu orang-orang Italia yang tercinta untuk menatap ke masa depan dengan harapan, percaya pada kedekatan Allah yang tidak pernah meninggalkan kita, bahkan di saat-saat sulit.

Melalui perantaraan Bunda Laura Montoya semoga Tuhan memberikan dorongan misionaris dan penginjilan baru bagi Gereja dan, terinspirasi oleh contoh harmoni dan rekonsiliasi dari Santa yang baru ini, semoga putra-putri tercinta Kolombia terus bekerja untuk perdamaian dan pembangunan yang adil tanah air mereka.

Mari kita tempatkan di tangan St Guadalupe García Zavala semua orang miskin, orang sakit dan mereka yang merawat mereka. Mari kita serahkan juga kepada perantaraannya, bangsa Meksiko yang agung sehingga semua kekerasan dan ketidakamanan dapat terberantas dan semoga bangsa Meksiko terus maju di jalan solidaritas dan koeksistensi persaudaraan.

Saya sekarang dengan senang mengingat beatifikasi imam Luigi Novarese, Pendiri the International Confederation of the Volunteers of Suffering Centers dan the Silent Workers of the Cross kemarin di Roma. Saya bergabung dalam rasa syukur untuk imam teladan ini, yang mampu memperbaharui reksa pastoral orang sakit dengan memberikan mereka peran aktif dalam Gereja.

Saya menyambut para peserta March for Life yang berlangsung pagi ini di Roma. Saya meminta semua orang untuk terus memberikan perhatian khusus terhadap masalah yang paling penting ini untuk menghormati kehidupan manusia dari saat pembuahan. Dalam hal ini saya juga ingin mengingat koleksi tanda tangan yang dibuat hari ini di paroki – paroki Italia untuk mendukung proyek Eropa “One of Us” (red. Salah satu dari kita). Inisiatif ini bertujuan untuk menjamin perlindungan hukum untuk embrio, menjaga setiap manusia dari saat pertama keberadaannya. Hari Evangelium Vitae akan menjadi acara khusus bagi mereka yang memiliki semangat melindungi sifat sakral dari kehidupan manusia dalam hati mereka. Acara ini akan diadakan di sini di Vatikan, dalam konteks Tahun Iman, pada 15 dan 16 Juni.

Aku menyapa dengan kasih sayang semua kelompok paroki, keluarga, sekolah dan orang-orang muda yang hadir. Mari kita sekarang beralih dengan cinta bakti kepada Perawan Maria, Bunda dan Teladan dari semua orang Kristen.

(NT)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 12 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Berdoa bersama Bunda Maria, memohon karunia Roh Kudus!

0

Berikut adalah terjemahan pesan Paus Fransiskus dalam doa Regina Caeli (Ratu Surga) pada Minggu Paskah ke-6:

Pada momen persekutuan yang akrab dengan Kristus ini, kita juga merasakan kehadiran Perawan Maria di antara kita. Kehadiran keibuan, kehadiran kekeluargaan, terutama bagi kalian yang merupakan bagian dari persaudaraan. Cinta untuk sang Bunda adalah salah satu karakteristik devosi populer yang harus dihormati dan diarahkan dengan baik. Untuk alasan ini, saya mengundang kalian untuk merenungkan bab terakhir dari Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium (Cahaya Bangsa-Bangsa), yang berbicara tentang Maria dalam misteri Kristus dan Gereja. Ada dikatakan bahwa Maria “sangat maju dalam peziarahan imannya” (n. 58). Teman-teman, dalam Tahun Iman saya tinggalkan bagi kalian ikon  Maria sang peziarah, yang mengikuti Putranya Yesus dan mendahului kita semua dalam perjalanan iman.

Hari ini Gereja-gereja Timur, yang mengikuti Kalender Julian, merayakan Paskah. Saya ingin mengirim salam khusus kepada saudara – saudari yang merayakan, menyatukan diri dengan segenap hati saya bersama mereka dalam mewartakan kabar gembira: Kristus Bangkit! Berkumpul dalam doa di sekeliling Maria, marilah kita memohon kepada Allah karunia Roh Kudus, sang Penghibur, agar Ia menghibur dan menyamankan  semua orang Kristen, terutama mereka yang merayakan Paskah di tengah percobaan dan penderitaan, dan membimbing mereka di jalan rekonsiliasi dan damai.

Kemarin di Brasil, Francisca de Paula de Jesus, yang disebut “Nhá Chica”, diproklamasikan sebagai Beata. Hidup sederhananya benar-benar didedikasikan untuk Allah dan amal, sehingga ia disebut “ibu dari orang miskin”. Saya turut serta dalam kegembiraan Gereja di Brasil untuk murid Tuhan yang bercahaya ini.

Saya menyapa dengan kasih sayang semua ikatan persaudaraan yang hadir, yang datang dari berbagai negara. Terima kasih atas kesaksian iman kalian! Saya juga menyapa para kelompok paroki dan keluarga, serta parade besar dari para band musik dan asosiasi-asosiasi dari Schützen, Jerman.

Sebuah ucapan khusus ditujukan hari ini untuk “Meter” Asosiasi pada Hari Nasional untuk Anak Korban Kekerasan. Dan ini menawarkan saya kesempatan untuk mengalihkan perhatian saya kepada mereka yang telah menderita dan sedang menderita karena pelecehan. Saya ingin meyakinkan mereka bahwa mereka hadir dalam doa-doa saya, selain itu, saya ingin mendorong kita semua untuk berkomitmen dengan kejelasan dan keberanian agar setiap pribadi manusia, terutama anak-anak, yang paling mudah diserang, selalu dibela dan dilindungi.

Saya juga menyemangati mereka yang menderita hipertensi paru dan keluarga mereka.

(NT)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 5 Mei 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Kotbah di Bilik Panti Werda

0

Kedatanganku di Panti Werda Bina Bhakti di Pamulang pada Minggu pagi menggoreskan kesan dalam lubuk jiwa.

Tubuh-tubuh renta dan kulit keriput yang dimakan usia menanti kedatanganku untuk merayakan Ekaristi bagi mereka dan Lingkungan Santa Lucia yang ingin berbagi cinta.

Mereka memelukku tanpa kata, tetapi dengan senyuman yang merekah.

Mulutnya diam, tetapi hatinya mengatakan kerinduan akan anak cucunya yang tiada bersama mereka.

Setiap kunjungan menjadi obat penawar kerinduan akan orang-orang tercinta.

Nyanyian dan permainan membangkitkan kebahagiaan yang diimpikan.

Wajah-wajah yang bisu, tubuh yang sudah tidak muda, dan ruangan yang sunyi menerpakan sebuah peringatan untuk direnungkan.

Mereka menyampaikan kotbah yang membukakan kesadaran akan kefanaan : Lihatlah aku.  Tumpukan harta tiada berguna di kala tua. Satu-satunya keinginanku adalah berkumpul dengan cucu-cucuku. Engkau kelak juga akan seperti aku. Sunyi dan sepi di hari tuamu untuk menunggu  datangnya kematian. Belajarlah menghitung hari-hari hidupmu  sehingga engkau bijaksana dalam menjalaninya”. Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Tentang pemberkatan rumah

3

Pertanyaan:

Shalom, bpk / ibu sekalian,

Saya mau bertanya mengenai ibadat pemberkatan rumah / kantor secara Katolik sbb :

1. Mengapa rumah / kantor harus diberkati ? (dasar alkitabiah nya ataupun hukum kanoniknya jika ada)

2. Alat-alat apa saja yang harus disiapkan untuk upacara ibadat pemberkatan rumah / kantor ini ?

3. Idealnya kapan rumah / kantor tersebut harus diberkati ?

4. Apakah pemberkatan rumah / kantor tsb bisa sekalian dilakukan dgn misa kudus ?

Demikianlah pertanyaan dari saya. Terima kasih

Jawaban:

Shalom Antonius,

1. Mengapa rumah/ kantor diberkati?

Pemberkatan rumah ataupun benda-benda lainnya, termasuk katagori sakramentali, yang sepertihalnya dengan sakramen, dimaksudkan untuk menguduskan setiap kejadian penting di dalam hidup umat beriman (lih. Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium/ SC 61). Atas doa syafaat Gereja, sakramentali (dalam hal ini, pemberkatan rumah) itu mendatangkan efek-efek rohani bagi mereka yang tinggal di dalamnya (lih. SC 60), baik perlindungan dari kuasa jahat, maupun rahmat kerukunan dan kasih dalam keluarga. Maka maksud utama sakramentali adalah menguduskan umat beriman yang memakai barang-barang tertentu yang diberkati itu, dan bukan semata menguduskan barang-barang itu sendiri. Sehingga, jika suatu rumah sudah pernah diberkati, namun pemilik yang terdahulu sudah pindah, adalah baik jika pemilik baru mengadakan pemberkatan rumah, bukan karena meragukan efek sakramentali yang sudah pernah diberikan, tetapi memohon agar rahmat sakramentali yang memberikan efek pengudusan itu dapat diberikan kepada -dan dialami oleh- keluarga yang baru yang menempatinya.

2. Alat-alat apa saja yang harus disiapkan untuk upacara pemberkatan rumah/ kantor?

Pada dasarnya sederhana, karena pemberkatan tersebut umumnya diadakan dengan air suci, maka yang diperlukan adalah sejumlah air dan garam. Sedikit garam untuk dicampurkan ke dalam air, yang atas doa-doa yang diucapkan oleh imam, akan menjadi sarana untuk menyucikan. Hal ini seperti dilakukan oleh Nabi Elisa, ketika ia menyehatkan/ menyucikan air di Yerikho (lih. 2 Raj 2:20-22).

Maka perlu disiapkan pinggan untuk menaruh air, piring kecil untuk menaruh garam, serta mungkin beberapa tangkai daun (dapat berupa daun palma kecil) untuk memercikkan air, untuk persediaan, jika Romo tidak membawa alat pemercik air.

Selanjutnya, jika akan diadakan perayaan Ekaristi di rumah, maka silakan disediakan meja yang layak, diberi taplak putih, lalu tempat lilin, lilin dan salib. Silakan membicarakannya dengan Romo, tentang apakah harus disediakan untuk keperluan Misa. Alat-alat yang sudah akan dibawa oleh Romo, tidak perlu lagi Anda sediakan.

3. Idealnya kapan rumah / kantor tersebut harus diberkati ?

Idealnya, tentu pada saat baru pindah/ akan menempati rumah atau kantor tersebut.

4. Apakah pemberkatan rumah / kantor tsb bisa sekalian dilakukan dengan misa kudus ?

Ya, dapat, jika Anda dapat menyediakan tempat yang layak untuk mengadakan Misa kudus tersebut, dengan perlengkapan yang memadai, yang mencerminkan penghormatan terhadap sakramen Ekaristi.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang imam, awam, ‘pelayan Komuni tak lazim’

17

Anggota Gereja terdiri dari kaum tertahbis dan awam. Oleh Pembaptisan, kita semua (baik awam maupun imam/ kaum tertahbis) sebenarnya mengambil bagian dalam misi Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Tentang misi sebagai imam, kaum awam mengambil bagian dalam ‘imamat bersama’. Katekismus mengajarkan:

KGK 1268    Orang yang sudah dibaptis menjadi “batu hidup” yang dipergunakan untuk membangun “rumah rohani” dan “imamat kudus” (1 Ptr 2:5). Oleh Pembaptisan mereka mengambil bagian dalam imamat Kristus, dalam perutusan-Nya sebagai nabi dan raja. Mereka adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya [mereka] memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil [mereka] keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Ptr 2:9). Pembaptisan memberi bagian dalam imamat bersama umat beriman.

Sedangkan peran imam tertahbis adalah imam jabatan, yaitu sejumlah orang yang menerima tahbisan khusus untuk menggembalakan Gereja. Imamat jabatan ini melayani imamat bersama. Katekismus mengajarkan:

KGK 1536    Tahbisan adalah Sakramen, yang olehnya perutusan yang dipercayakan Kristus kepada Rasul-rasul-Nya, dilanjutkan di dalam Gereja sampai akhir zaman. Dengan demikian ia adalah Sakramen pelayanan apostolik. Ia mencakup tiga tahap: episkopat, presbiterat dan diakonat….

KGK 1547    Imamat jabatan atau hierarkis para Uskup dan imam dan imamat bersama semua orang beriman “atas caranya yang khas mengambil bagian dalam imamat Kristus” dan “diarahkan satu kepada yang lain”, walaupun “berbeda dalam kodratnya” (LG 10). Mengapa ? Sementara imamat bersama umat beriman terlaksana dalam pengembangan rahmat Pembaptisan; dalam penghayatan iman, harapan dan cinta; dalam hidup sesuai dengan Roh Kudus; imamat jabatan itu ada untuk melayani imamat bersama ini. Ia berhubungan dengan pengembangan rahmat Pembaptisan semua orang Kristen. Ia adalah salah satu sarana, yang olehnya Kristus secara berkesinambungan membangun dan membimbing Gereja-Nya. Oleh karena itu, ia diterimakan oleh suatu Sakramen tersendiri, oleh Sakramen Tahbisan.

Maka memang secara khusus melalui partisipasi dalam sakramen Ekaristi, umat beriman menjalankan peran imamat bersama, namun partisipasi itu dimungkinkan oleh pelayanan imamat jabatan. Dari prinsip ini maka, memang yang berwewenang untuk mempersembahkan perayaan Ekaristi adalah para imam dan Uskup, yang merupakan penerus para Rasul. Dan dengan demikian tugas membagikan Komuni, adalah pertama-tama tugas para tertahbis, yaitu Uskup, imam dan diakon tertahbis.

Namun adakalanya, terdapat keadaan khusus (misalnya jumlah umat yang terlalu banyak), maka dibutuhkan pelayan-pelayan Komuni tak lazim untuk membantu para tertahbis tersebut. Instruksi yang dikeluarkan Vatikan sehubungan dengan perayaan Ekaristi, Redemptionis Sacramentum, menyebutkan:

RS 88    …. Tanggungjawab imam yang memimpin perayaan Misa untuk membagi komuni, mungkin dibantu oleh Imam-imam lain, atau oleh Diakon….. Hanya bila sungguh dibutuhkan, pelayan komuni tak lazim boleh membantu Imam sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku.

RS 151     Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat….

RS 152    Jabatan- jabatan yang semata- mata pelengkap ini jangan dipergunakan untuk menjatuhkan pelayanan asli oleh para Imam demikian rupa, sehingga para Imam lalai merayakan Misa untuk umat yang menjadi tanggung jawab mereka, ataupun melalaikan kepedulian terhadap orang sakit, atau pembaptisan anak-anak atau asistensi pada perkawinan atau pelaksanaan penguburan Kristiani: semuanya itu termasuk tugas inti para Imam, didampingi para Diakon. Karena itu tidak boleh terjadi bahwa di paroki-paroki para Imam menukar pelayanan pastoral dengan para Diakon atau orang awam, dan dengan demikian mengaburkan apa yang menjadi tugas masing-masing.

RS 157    Jika di suatu tempat biasanya jumlah pelayan tertahbis mencukupi untuk membagi Komuni, maka tidak boleh ditunjuk pelayan-pelayan tak lazim. Malah dalam situasi demikian, orang yang mungkin sudah ditunjuk untuk pelayanan ini, jangan melaksanakannya. Tidak dapat dibenarkan kebiasaan para Imam yang, walaupun hadir pada perayaan itu, tidak membagi komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang-orang awam.

RS 158    Memang pelayan tak lazim komuni hanya boleh menerimakan Komuni bila tidak ada Imam dan Diakon, atau bila Imam terganggu karena kesehatannya atau usia lanjut atau alasan lain yang wajar, atau bila jumlah orang beriman yang ingin menyambut Komuni begitu besar, sehingga perayaan Misa itu akan terlalu lama. Namun harus dimengerti bahwa upaya mempersingkat perayaan Misa, dengan memperhatikan situasi dan budaya setempat sama sekali bukan alasan yang cukup.

Paus Fransiskus : Bangun “jembatan”, bukan “tembok”

4

Berikut ini adalah saduran pesan Paus Fransiskus dalam Misa harian pada hari Rabu, 8 Mei 2013:

Penginjilan tidak memaksakan orang untuk pindah agama. Hal ini menjadi fokus Paus Fransiskus  dalam pesannya kepada umat yang berkumpul pada Misa Rabu pagi ini di Kapel Domus Sancta Marthae kediaman Paus di Vatikan. Paus mengulangi lagi bahwa orang Kristen yang ingin mewartakan Injil harus berdialog dengan semua orang, karena kebenaran bukan milik siapa – siapa, karena kebenaran diterima melalui pertemuan dengan Yesus.

Paus Fransiskus menekankan sikap pemberani Santo Paulus di Areopagus, saat berbicara di hadapan khalayak ramai di Athena, ia berusaha untuk membangun jembatan untuk mewartakan Injil. Paus menyebut sikap Paulus sebagai seseorang yang “mencoba berdialog” dan “mendekati hati” para pendengar. Paus mengatakan bahwa inilah alasan yang menjadikan Rasul Paulus sebagai seorang imam sejati: “pembangun jembatan” dan bukan pembangun tembok. Paus melanjutkan dengan mengatakan bahwa sikap Paulus inilah yang membuat kita berpikir mengenai sikap yang harus selalu dimiliki oleh seorang Kristen.

“Seorang Kristen,” kata Paus Fransiskus, “harus mewartakan Yesus Kristus dengan cara yang sedemikian rupa yang membuatNya dapat diterima, tidak ditolak – dan Paulus tahu bahwa dia harus menaburkan pesan Injil. Dia tahu bahwa mewartakan Yesus Kristus tidak mudah, tetapi hal ini tidak bergantung kepadanya. Dia harus melakukan segala sesuatu yang mungkin, tapi pewartaaan Yesus Kristus, pewartaan kebenaran, bergantung kepada Roh Kudus. Yesus mengajarkan kita dalam Injil hari ini:’Saat Dia datang, Roh Kebenaran, akan membimbing kalian semua ke dalam kebenaran.’ Paulus tidak mengatakan kepada rakyat Athena: ‘Inilah ensiklopedia kebenaran. Pelajarilah dan kamu akan memiliki kebenaran, kebenaran sejati.’ Tidak! Sang Kebenaran tidak masuk ke dalam sebuah ensiklopedia. Sang Kebenaran adalah suatu perjumpaan – sebuah pertemuan dengan Kebenaran Utama: Yesus, kebenaran yang luar biasa. Tidak seorang pun yang memiliki kebenaran. Kita menerima kebenaran saat kita bertemu denganNya.

Tetapi mengapa Paulus berbuat demikian? Pertama, Paus berujar, karena “inilah cara” Yesus yang “berbicara dengan semua orang” dengan pendosa, pemungut cukai, kaum Farisi. Paulus, dengan demikian, “mengikuti sikap Yesus.”

“Seorang Kristen yang ingin menyebarkan Injil harus melalui jalan ini: harus mendengarkan semua orang! Tetapi sekarang merupakan saat yang baik dalam kehidupan Gereja: 50 – 60 tahun terakhir merupakan saat  yang baik karena saya ingat sewaktu saya kecil sering terdengar di dalam keluarga Katolik, di keluarga saya, ‘Jangan, kita tidak boleh pergi ke rumah mereka, karena mereka tidak menikah di dalam Gereja, heh!’ Itu merupakan bentuk pemisahan. Tidak, kamu tidak boleh pergi! Kami juga tidak boleh pergi ke rumah orang sosialis atau ateis. Sekarang, syukur kepada Allah, orang tidak berbicara seperti itu lagi, bukan? [Sikap seperti itu] merupakan pembelaan terhadap iman, tetapi hal tersebut merupakan salah satu bentuk tembok: Tuhan membangun jembatan. Pertama: Paulus memiliki sikap ini, karena ini adalah sikap Yesus sendiri. Kedua, Paulus sadar bahwa dia harus menginjili, bukan memaksakan agama.

Mengutip pendahulunya, Paus Benediktus, Fransiskus lanjut berkata bahwa Gereja “tidak tumbuh dengan cara – cara pemaksaan,” tetapi “dengan ketertarikan, kesaksian, dan khotbah,” dan Paulus memiliki sikap ini: pewartaan tidak menjadikan pemaksaan – dan dia berhasil, karena, “ dia tidak meragukan Tuhannya.” Paus memperingatkan bahwa, “Umat Kristen yang takut untuk membangun jembatan dan lebih suka untuk membangun tembok adalah orang orang Kristen yang tidak yakin akan imannya, tidak yakin akan Yesus Kristus.” Paus menyerukan agar umat Kristen berlaku seperti Paulus dan mulai “membangun jembatan dan terus melangkah maju”:

“Paulus mengajarkan kita sebuah jalan untuk penginjilan, karena Yesus pun demikian, karena dia sadar betul bahwa penginjilan bukanlah pemaksaan agama: Paulus juga yakin akan Yesus Kristus dan dia tidak perlu membenarkan ajarannya atau mencari – cari alasan untuk membenarkan ajarannya. Saat Gereja kehilangan keberanian apostoliknya, ia menjadi Gereja yang tidak berkembang, sebuah Gereja yang rapi, yang menyenangkan, menyenangkan untuk dilihat, tetapi tidak memiliki kesuburan, karena dia telah kehilangan keberanian untuk pergi ke pinggiran, di mana banyak orang menjadi korban penyembahan berhala, pikiran – pikiran sempit dunaiwi, dan dari banyak hal lain. Marilah kita minta dari Rasul Paulus keberanian apostolik ini, semangat membara spiritual, agar kita menjadi percaya diri. ‘Tapi Bapa,’ [kamu mungkin berkata], ‘kita mungkin saja melakukan kesalahan…’…’[hmm, kesalahan apa?’ respons saya], ‘Majulah terus kalian: jika kalian melakukan kesalahan, kalian bangun dan terus melangkah maju: cuma inilah caranya. Mereka yang tidak berjalan maju untuk terhindar dari membuat kesalahan, malah melakukan kesalahan yang lebih serius.

Misa Rabu pagi ini dikonselebrasikan bersama Presiden Dewan Kepausan untuk Naskah Legislatif, Kardinal Francesco Coccopalmerio.

 

Paus Fransiskus,

Vatikan, 8 Mei 2013

 

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab