Home Blog Page 123

Dia Naik ke Surga dan Duduk di Sebelah Kanan Bapa

0

Berikut adalah terjemahan Audiensi Umum Paus Fransiskus pada tanggal 17 April 2013:

paus fransiskusSaudara-saudari sekalian, Selamat Pagi!

Dalam Pengakuan Iman kita mengatakan bahwa Yesus “naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”. Kehidupan duniawi Yesus memuncak dengan Kenaikan-Nya, ketika Dia berpaling dari dunia ini kepada Bapa dan diangkat untuk duduk di sebelah kanan-Nya. Apa artinya peristiwa ini? Bagaimana hal ini mempengaruhi hidup kita? Apa artinya merenungkan Yesus yang duduk di sebelah kanan Bapa? Mari kita ijinkan Lukas Sang Penginjil untuk membimbing kita dalam hal ini.

Mari kita mulai dari saat ketika Yesus memutuskan untuk melakukan ziarah terakhir ke Yerusalem. Santo Lukas mencatat: ” Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51). Sementara Ia “berjalan menuju” ke Kota Suci, di mana kepergian-Nya dari kehidupan ini akan  terjadi, Yesus sudah melihat tempat tujuan-Nya, Surga, tetapi Dia tahu betul bahwa cara yang akan membawa-Nya ke kemuliaan Bapa melewati Salib, melalui ketaatan terhadap rancangan cinta yang Ilahi bagi umat manusia. Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa: ” Ditinggikan pada salib berarti pula ditinggikan waktu kenaikan ke surga dan peninggian pada salib sekaligus memaklumkan kenaikan ke surga itu” (n. 662).

Kita juga harus mengerti bahwa di dalam kehidupan Kristen kita untuk memasuki kemuliaan Allah diperlukan kesetiaan setiap harinya terhadap kehendak-Nya, bahkan menuntut pengorbanan dan kadang-kadang mengharuskan kita untuk mengubah rencana kita. Peristiwa Kenaikan Yesus sebenarnya terjadi di Bukit Zaitun, dekat dengan tempat di mana Ia menyendiri untuk berdoa sebelum Sengsara agar tetap dalam persatuan yang mendalam dengan Bapa: sekali lagi kita melihat doalah yang memberi kita kasih karunia untuk setia terhadap rencana Allah.

Pada akhir Injilnya, Santo Lukas memberikan penjelasan yang sangat singkat dari peristiwa Kenaikan. Yesus membawa murid-murid-Nya “keluar sejauh Betania, dan dengan mengangkat tangan-Nya Dia memberkati mereka. Sementara Dia memberkati mereka, Dia berpisah dari mereka, dan terangkat menuju ke Surga. Dan mereka menyembahNya, dan kembali ke Yerusalem dengan sukacita yang besar, dan senantiasa berada di dalam Bait Allah untuk memuliakan Allah”(Luk 24:50-53). Ini adalah apa yang  dikatakan Santo Lukas.

Saya ingin mencatat dua hal. Pertama-tama, selama peristiwa Kenaikan, Yesus membuat laku gerak imam yang memberkati, dan para murid tentunya menyatakan iman mereka dengan sujud, mereka berlutut dengan kepala tertunduk, ini adalah hal penting pertama: Yesus adalah sang Imam Agung yang dengan sengsara-Nya melewati kematian dan kubur dan naik ke surga. Dia bersama dengan Allah Bapa di mana kepadaNya Yesus berdoa untuk kepentingan kita (bdk. Ibr 9:24). Seperti yang dikatakan Santo Yohanes dalam Surat Pertamanya, Ia adalah Pembela kita: Betapa indahnya untuk mendengar hal ini! Ketika seseorang dipanggil oleh hakim atau terlibat dalam proses hukum, hal pertama yang dia lakukan adalah untuk mencari seorang pengacara untuk membela dirinya. Kita memiliki Satu yang selalu membela kita, yang membela kita dari jerat iblis, yang membela kita dari diri kita sendiri dan dari dosa-dosa kita!

Saudara-saudari yang terkasih, kita memiliki Sang Pembela ini; jangalah kita takut untuk berpaling kepadaNya untuk mohon ampun, untuk meminta berkat, untuk meminta belas kasihan! Dia selalu memaafkan kita, Dia adalah Pembela kita: Dia selalu membela kita! Jangan lupakan hal ini! Peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga mengingatkan kita terhadap kenyataan yang sangat menghibur di perjalanan kita; Dalam Kristus, Allah sejati dan manusia sejati, kemanusiaan kita dibawa kepada Allah. Kristus membuka jalan bagi kita. Dia seperti pemandu bertali mendaki gunung yang setelah mencapai puncak, menarik kita ke arahnya dan membawa kita kepada Allah. Jika kita mempercayakan hidup kita kepadaNya, jika kita membiarkan diri dibimbing olehNya, kita pasti akan berada di tangan yang aman, di tangan Juruselamat kita, Pembela kita.

Hal kedua: Santo Lukas mengatakan bahwa setelah melihat Yesus naik ke surga, para rasul kembali ke Yerusalem “dengan sukacita yang besar”. Hal ini tampaknya sedikit aneh bagi kita. Ketika kita terpisah dari saudara-saudari kita, dari teman-teman kita, karena suatu kepergian yang pasti, khususnya kematian, biasanya ada kesedihan alami dalam diri kita karena kita tidak akan lagi melihat wajah mereka, tidak lagi mendengar suara mereka, atau menikmati cinta dan kehadiran mereka. Sang Penginjil sebaliknya menekankan sukacita mendalam dari Para Rasul.

Tapi bagaimana ini mungkin? Justru dengan tatapan iman mereka memahami bahwa meskipun Dia telah hilang dari pandangan mereka, Yesus tetap bersama dengan mereka untuk selama-lamanya, Dia tidak meninggalkan mereka dan dalam kemuliaan Bapa mendukung mereka, membimbing mereka dan menjadi perantara bagi mereka

Santo Lukas juga menceritakan peristiwa Kenaikan Yesus – pada awal Kisah Para Rasul – untuk menekankan bahwa peristiwa ini seperti mata rantai yang menghubungkan kehidupan Yesus di bumi dengan kehidupan Gereja. Di sini Santo Lukas juga berbicara tentang awan yang menyembunyikan Yesus dari pandangan para murid, yang berdiri menatapNya naik menuju Allah (bdk. Kis 1:9-10). Kemudian dua orang berjubah putih muncul dan meminta mereka untuk tidak berdiri di sana menengadah ke langit, tetapi untuk memelihara kehidupan mereka dan kesaksian mereka dengan kepastian bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia naik ke surga (bdk. Kis 1:10-11). Ini adalah undangan untuk mendasarkan perenungan kita pada keTuhanan Kristus, untuk menemukan dalam diri-Nya kekuatan untuk menyebarkan Injil dan bersaksi mengenai hal itu dalam kehidupan sehari-hari: merenungkan dan aksi, bekerja dan berdoa, seperti yang diajarkan Santo Benediktus, keduanya diperlukan dalam hidup kita sebagai orang Kristen.

Saudara-saudari, Peristiwa Kenaikan tidak menunjuk kepada absennya Yesus, tetapi mengatakan bahwa Dia masih hidup di tengah-tengah kita dengan cara yang baru. Dia tidak lagi berada di tempat tertentu di dunia seperti sebelum Peristiwa Kenaikan. Dia sekarang dalam keTuhanan Allah, hadir di setiap ruang dan waktu, dekat dengan kita masing-masing. Dalam hidup kita, kita tidak pernah sendirian: kita memiliki Sang Pembela ini yang menanti kita, yang membela kita. Kita tidak pernah sendirian: Tuhan yang telah disalibkan dan bangkit menuntun kita. Kita memiliki bersama kita banyak saudara dan saudari yang, dalam keheningan dan persembunyian, dalam kehidupan keluarga mereka dan di tempat kerja, dalam masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan mereka, sukacita dan harapan mereka, menjalani iman sehari-hari dan bersama-sama dengan kita membawakan bagi dunia keTuhanan kasih Allah, di dalam Yesus Kristus yang bangkit, naik ke surga, Sang Pembela kita sendiri yang memohon bagi kita. Banyak terima kasih.
—————————————————————————————————————-

Salam:

Saya sambut dengan hangat untuk para anggota Konferensi Uskup Katolik Inggris dan Wales, dan saya mendoakan pelayanan mereka sebagai uskup. Saya juga menyambut para imam dari Institute for Continuing Theological Education di Pontifical North American College. Terhadap semua pengunjung berbahasa Inggris hadir di Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Denmark, Swedia, Australia, India, Singapura, Sri Lanka, Filipina, Kanada dan Amerika Serikat, saya mohonkan sukacita dan damai dari Tuhan yang Bangkit.

Saya berharap Paskah kali ini akan menjadi undangan yang mendalam kepada semua orang untuk memperbaharui hidup mereka, meletakkannya pada pelayanan Injil.

Terakhir saya menyapa kawula muda, orang sakit dan pengantin-pengantin baru. Semoga Tuhan yang bangkit mengisi dengan cinta-Nya hati setiap salah satu dari kalian, Kawula muda yang terkasih, murid-murid, yang  hari ini begitu banyak, semoga kalian siap untuk mengikutiNya dengan antusias. Seseorang tidak dapat memahami kawula muda tanpa antusiasme! Ikutilah Tuhan dengan antusias, biarkan Dia membimbing kalian. Semoga Dia menguatkan kalian, para orang sakit yang terkasih, supaya kalian dapat menerima beban penderitaan dengan tenang; dan semoga dia membimbing Anda, para pengantin baru, semoga keluarga Anda akan bertumbuh dalam kekudusan, mengikuti model Keluarga Kudus.

—————————————————————————————————————-

DOA UNTUK ORANG DI IRAN DAN PAKISTAN

Saya mendengar mengenai gempa bumi parah yang melanda bangsa Iran dan Pakistan, menabur kematian, penderitaan dan kehancuran. Saya mengangkat doa kepada Allah untuk para korban dan bagi semua orang yang menderita, dan saya ingin mengungkapkan kedekatan saya kepada orang-orang Iran dan Pakistan. Terima kasih.

(AO)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 17 April 2013

 

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Siap untuk-Mu Tuhan

0

kenaikan-kristusBerkomunikasi dengan bayi gampang-gampang susah. Karena bayi belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas, maka orangtua awalnya hanya bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang ingin ia sampaikan. Saat ia menangis, itu tidak selalu karena haus atau lapar. Saat ia tampak ingin bermain, orangtua pun mencoba-coba, permainan apa yang paling disukainya, supaya tidak malah membuatnya takut, lalu malah menangis lagi. Untuk terlatih mengetahui aspirasi seorang bayi diperlukan kesabaran dan pengalaman.Tapi selama komunikasi dua arah itu belum terwujud sempurna, bahasa kasih orangtua yang selalu diusahakan tanpa kenal lelah membuat setidak-tidaknya bayi merasa bahwa dirinya dimengerti dan dikasihi. Kata-kata yang memenangkan, kecupan dan belaian sayang, yang lahir dari kasih tulus padanya, bisa membuat bayi tenang, separuh keresahannya sudah terobati,  walaupun kadang keinginannya belum bisa terpenuhi dengan tepat.

Bahasa kasih memang universal. Walau berhadapan dengan orang asing di mana kita tidak saling memahami bahasa yang digunakan pun, bahasa kasih bisa tetap efektif, karena tidak harus dinyatakan dengan kata-kata, tetapi justru makin tersampaikan melalui sikap atau bahasa tubuh. Bahasa kasih adalah bahasa kepedulian, dimengerti semua mahluk yang diciptakan Allah oleh karena kasih-Nya.  Kalau dinyatakan dalam kata-kata mungkin bahasa itu sederhananya berbunyi, “Ini aku, aku peduli padamu”.  Atau, “Walau aku belum tahu bisa melakukan apa, aku ada di sini untukmu”.  Dan bagi hati manusia, entah bagaimana nanti bentuk konkrit dari kasih itu, pesan kepedulian itu sudah mampu memberikan ketenangan, rasanya separuh dari masalah kita sudah mendapat sentuhan kesembuhan. Kebalikan dari bahasa kasih adalah acuh tak acuh. Ini mungkin bahasa yang lebih umum di dalam kehidupan era postmodernism  jaman ini, di mana semua manusia sibuk dengan masalahnya sendiri, yang semakin kompleks dari hari ke hari. Ibaratnya memikirkan diri sendiri saja sudah berat, persaingan dan tuntutan kehidupan semakin mencekam, mana sempat memikirkan kesusahan orang lain, apalagi berbuat sesuatu untuk meringankannya. Maka walau tidak sepenuhnya kita sadari, bahasa sehari-hari dan sikap tubuh kita kepada sesama mungkin kalau dibahasakan berbunyi, “Maaf aku tidak punya cukup waktu untukmu”, atau bahasa gaulnya mungkin “Mana da urus” terhadap keadaan orang lain di sekitar kita.

Setelah Tuhan Yesus berpesan kepada para murid-Nya dan kemudian naik ke Surga, sungguh menarik bahwa dinyatakan dalam Lukas 24:52 demikian, “mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita”. Bukannya menangis haru karena kangen dan sedih ditinggalkan Yesus yang amat mereka kasihi itu kembali ke Surga, atau gamang gemetar membayangkan memikul tugas berat tanpa Yesus lagi di sisi mereka, tapi malahan mereka kembali ke Yerusalem dengan bersukacita. Yerusalem? Tentu para murid belum lupa dengan apa yang telah terjadi di Yerusalem,apa yang telah Yesus alami di sana, dan betapa penolakan, ketidakpastian, penghukuman dan kekejian masih akan menanti mereka di sana ! Sukacita? Jelas kalau hanya kekuatan dan akal budi manusia tidak akan menghasilkan sikap yang satu ini.  Kepergian Yesus membuat Sang Penolong yang Ia janjikan itu, yaitu Roh yang berasal dari persatuan kasih mesra antara Yesus Sang Putera dengan Bapa, dapat hadir di dunia. Kehadiran-Nya kali ini tidak lagi bisa dibatasi oleh ruang, waktu, tempat, bahkan penghukuman dan penderitaan sekalipun. Kekuatan Roh Kudus yang diutus Kristus menjaga, mengajar, mengingatkan mereka akan segala pengajaran yang telah Tuhan Yesus berikan, akan menyertai dan mengarahkan mereka (dan kita semua)  setiap saat, hingga akhir jaman. Itulah yang membuat fokus para murid bukan lagi pada kegamangan, kesedihan atau ketakutan, tetapi kepada harapan, keyakinan, kekuatan, semangat, dan kepedulian. Itulah tanda-tanda yang terlihat oleh mata jasmani maupun mata rohani kita, saat Roh Kudus hadir dan bekerja. Tanda-tanda itu pada saatnya akan mewujud dalam perbuatan-perbuatan kasih yang kaya dan penuh dengan kemungkinan, karena Allah kita adalah Allah yang teramat kaya dan penuh dengan segala kemungkinan yang indah.

Hanya berfokus pada keterbatasan kemanusiaan kita dan hanya mendengarkan persuasi tentang keputusasaan yang selalu dikumandangkan si  Iblis di telinga kita, kita bisa pesimis terus. Kita hanya bisa melihat bahwa sudah terlalu banyak kesusahan di dunia ini. Cukuplah saya berkubang dan berjuang dalam kesusahan saya sendiri saja, supaya saya tidak makin frustasi . Sayangnya itulah justru keadaan yang diinginkan si Jahat supaya dia bisa melancarkan program-programnya selanjutnya. Pada saat berkata demikian, saya menutup kesempatan, untuk mengalami kelegaan dan penghiburan Ilahi, penyelenggaraanNya yang kuat kuasa di dalam wujud Sang Utusan, yaitu Roh Penolong dan Penghibur yang dijanjikan Kristus sebelum Ia kembali ke Surga. Roh Penolong itu selalu siap meneguhkan dan menyampaikan aneka pergumulan kita kepada Bapa.

Roh Kudus adalah pribadi yang dihasilkan dari kasih Bapa dan Putera. Maka Ia bisa menemukan jalan-Nya untuk bekerja di dalam kita, juga melalui bahasa kasih, yaitu kasih yang telah diberikan dan diajarkan oleh Kristus kepada kita. Bahasa kepedulian, bahasa keterbukaan iman dan harapan kepada kuasa Tuhan yang begitu mengasihi dunia ini. Kasih-Nya yang terlalu sempurna untuk membiarkan dunia ini lenyap dalam keputusasaan. Demikianlah Sang penolong itu membutuhkan kerjasama kita. Dengan bahasa kasihlah hati kita terbuka, artinya sebenarnya  kita merespon Dia dengan berkata, ”Ini aku, Tuhan, aku mengasihimu, aku peduli, aku percaya Engkau bisa Tuhan, datanglah dalam hatiku, sembuhkanlah aku, kemudian utuslah dan pakailah aku”. Bahasa kasih membuat kita sepenuhnya bekerja sama dengan Sang Penolong itu, dan mengalami kepenuhan-Nya, sehingga kita bisa turut menyampaikan pesan kasih dan harapan itu kepada orang lain. Lihatlah betapa dekat dan kasihnya Roh Penolong itu pada kita, ”Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.  (Rm 8:26)

Sesekali di halaman sebuah majalah atau situs rohani, kita temukan artikel “Kring, no telepon Tuhan” atau “Nomor telepon darurat untuk saat-saat genting”, yaitu daftar ayat Kitab Suci untuk meneguhkan kita dalam kesendirian dan kelesuan hidup ini. Tentu saja ! Dalam Firman-Nya, Yang Maha Hadir selalu siap membantu kita. Ia ada di mana-mana dan kapan saja, juga melalui orang-orang lain di sekitar kita. Ia siap membimbing kita melewati saat-saat tergelap dalam hidup kita dengan penuh keberanian, iman, dan harapan. Ia siap ‘ditelpon’ kapan saja. Ketika Anda memanggil, Tuhan menjawab;  saat Anda menangis minta tolong, Dia akan berkata: “Ini Aku” (Yesaya 58:9). Itulah Roh Kepedulian dari Tuhan. Dia rindu kita memanggil dan mengundangNya masuk dan berkarya dalam hati dan hidup kita, Ia selalu rindu kita mengalami damai sejahtera-Nya, sekalipun kita masih berjuang di dunia ini. Saat kita menyatakan bahwa kita peduli dan mau, pasti Dia segera datang. Ia bisa berkarya dalam diri siapa saja. Kita sambut dan panggil Dia dalam doa-doa kita, dalam Ekaristi Kudus-Nya, dalam kuat kuasa Sabda-Nya, dinyatakan dalam perbuatan kasih kita pada Dia dan sesama. Dan sebagaimana yang dialami para murid yang bersukacita dan bersemangat itu, bersiaplah mengalami kehadiran karya-Nya yang indah, dahsyat dan mengubahkan di dalam hidup kita dan orang lain. Bagaimana, kita siap? Mari kita selalu siap sedia untuk-Nya!

 

Apakah arti Gereja sebagai Communio

2

Gereja sebagai Communio (persekutuan) dijabarkan dalam penjelasan dari CDF (Kongregasi Doktrin Iman) dalam dokumen ini, silakan klik.

Intinya adalah sebagai berikut:

1. Gereja sebagai communio (persekutuan) itu berdasarkan atas prinsip misteri persekutuan antara setiap manusia dengan Allah Trinitas dan persekutuan antara manusia yang satu dengan yang lain, yang dimulai dengan iman, dan dimulai di dunia ini dalam Gereja, menuju penggenapannya yang sempurna dalam Gereja Surgawi kelak di akhir zaman. Maka Gereja sebagai communio itu mempunyai dua dimensi: 1) vertikal (persekutuan dengan Tuhan); 2) horisontal (persekutuan dengan sesama).

2. Persekutuan gerejawi ini adalah sesuatu yang tidak kelihatan, sekaligus juga kelihatan. Tidak kelihatan, karena merupakan persekutuan antara setiap manusia dengan Allah Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus, dan dengan sesama manusia yang juga mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dalam iman yang sama, dan Roh Kudus yang sama. Dalam Gereja di dunia, terdapat hubungan yang erat antara persekutuan yang tak kelihatan dengan persekutuan yang kelihatan, dalam pengajaran para Rasul, sakramen-sakramen dan hirarki. Oleh karena melalui karunia ilahi yang kelihatan ini, Kristus terus melakukan karya keselamatan-Nya bagi manusia di dunia. Kaitan antara elemen-elemen yang tak kelihatan dan kelihatan ini menjadikan Gereja sebagai Sakramen keselamatan bagi umat manusia.

3. Persekutuan gerejawi ini dimulai dengan iman dan Baptisan, dan mempunyai akar dan pusatnya dalam Ekaristi. Sebab melalui Ekaristi, Gereja dapat dikatakan Tubuh Mistik Kristus, dan karena Kristus adalah satu, maka Tubuh-Nya juga adalah satu. Setiap kali Ekaristi dirayakan misteri Gereja secara keseluruhan dihadirkan. Karena Ekaristi hanya dapat dirayakan dalam kesatuan dengan Uskup, dan dengan Paus, maka kesatuan dengan Uskup dan Paus menjadi tak terpisahkan dengan karakter Ekaristis Gereja.

4. Gereja yang satu ini terdiri dari Gereja yang masih berziarah di dunia, Gereja yang sudah berjaya di Surga, dan Gereja yang masih dimurnikan dalam Api Penyucian. Ketiga Gereja ini terhubungan menjadi satu oleh kasih Kristus yang melampaui kematian.

5. Gereja Kristus yang kita akui dalam syahadat sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik adalah Gereja yang universal, komunitas yang mendunia, yang hadir dan aktif dalam keberagaman orang, kelompok, waktu dan tempat.  Semua elemen penyelamatan dalam Gereja Kristus ini ada dalam Gereja-gereja partikular, yang menghadirkan Gereja universal dalam semua elemen-elemen dasarnya. Maka Gereja partikular terbentuk menurut model Gereja universal, dan di setiap Gereja lokal sejumlah Umat Allah dipercayakan kepada Uskup dan dibimbing olehnya dengan bantuan para imamnya.

6. Gereja universal adalah Tubuh Gereja-gereja namun bukan merupakan akibat federasi gabungan dari Gereja-gereja partikular yang berdiri sendiri-sendiri. Sebaliknya, di dalam Gereja partikular hadirlah secara aktif, Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Maka Gereja universal itu secara kodratnya sudah ada sebelum Gereja partikular ada. Secara historis, Gererja universal dimanifestasikan di hari Pentakosta, dari komunitas seratus dua puluh orang yang berkumpul di sekitar Bunda Maria dan kedua belas Rasul, yang menjadi wakil dari Gereja yang satu, dan yang kelak menjadi pendiri Gereja-gereja lokal/ partikular, yang mempunyai misi kepada seluruh dunia. Oleh karena itu sejak awalnya Gereja ini berbicara dalam banyak bahasa.

7. Mendukung kesatuan yang tidak berarti menghalangi keberagaman dan keberagaman tanpa menghalangi persatuan adalah tugas utama Paus. Persatuan dengan Paus tidak menghalangi kesatuan Gereja partikular dengan Uskup. Kesatuan episkopat melibatkan Uskup yang merupakan kepala Gereja Partikular dan juga kesatuan kolese para Uskup dengan Paus sebagai penerus Rasul Petrus, yang menjadi sumber dan dasar yang kelihatan dan terus menerus tetap ada. Kesatuan episkopat ini terus berlangsung di sepanjang abad oleh karena suksesi apostolik, yang menjadi dasar identitas Gereja di sepanjang waktu dengan Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus.

8. Gereja sebagai persekutuan ini juga mempunyai kelompok-kelompok ordo religius, yang walaupun tidak termasuk hirarki Gereja, tetapi termasuk dalam hidup dan kekudusannya.

9. Komitmen ekumenism terarah pada doa, pertobatan, pembelajaran, dialog dan kerja sama, sehingga melalui pertobatan kepada Tuhan, semua pihak dapat mengenali kontinuitas keutamaan Rasul Petrus dan para penerusnya, yaitu Paus, dan untuk melihat bahwa pelayanan yang mengambil dasar kepemimpinan Rasul Petrus ini menggenapi apa yang dikehendaki Kristus sebagai pelayanan apostolik yang mendunia. Gereja universal ini hadir dalam semua Gereja partikular dari dalam, yang walaupun melestarikan hakekatnya sebagai institusi ilahi, dapat diekspresikan dalam banyak cara menurut berbagai zaman dan tempat yang berbeda, sebagaimana telah ditunjukkan oleh sejarah.

10. Bunda Maria adalah model persekutuan gerejawi dalam iman, kasih dan persatuan dengan Kristus.

 

The Grand Divine Mossaic

4

Duduk aku tak berani, berdiri pun aku tak berani. Sungguh, diri yang Kau berikan ini bukan lagi milikku. Melainkan milikMu yang berharga. Aku tak berani meletakkannya sembarangan.

Sepenggal bait doa seorang imam di pembukaan sebuah seminar ini menarik perhatianku. Doa ini cukup puitis, apalagi ketika dibacakan dalam seminar, di depan banyak orang. Tapi, yang menarik perhatianku adalah isinya. Diriku yang Kauberikan ini bukan milikku, melainkan milik-Mu yang berharga. Awalnya, aku merasa doa ini sedikit terlalu pede, dengan menganggap diri berharga. Setelah dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya sih. Kalau kita tidak berharga di mata Tuhan, untuk apa Ia membiarkan manusia durhaka ini tetap ada? Sejentik jari saja cukup untuk memusnahkan seluruh umat manusia. Tapi, apakah benar aku sungguh berharga di mata-Nya?

Aku bukan orang kudus, seperti Agnes Bojaxhiu yang mencintai Kristus sedari umur belasan tahun hingga mengantarnya menjadi Beata Teresa dari Kalkutta. Aku juga bukan St. Theresa Lisieux yang mempersembahkan setiap jengkal kecil karyanya untuk Kristus. Aku penuh kemalasan dan kesombongan. Makan saja tidak cukup sepiring, mana bisa disuruh mati raga seperti St. Dominic? Kadang aku bertanya, kenapa Tuhan nggak memberikan karunia seperti yang Ia berikan pada para kudus? Kenapa mereka bisa begitu heroik dalam mencintai Tuhan, bahkan beberapa sedari kecil? Sedangkan aku, untuk menahan emosi saja bisa menghabiskan tenaga untuk satu hari.

Tapi, diri ini adalah pemberian Tuhan. Walaupun aku merusaknya dengan setiap keburukanku, ternyata Tuhan masih mau menerimaku apa adanya. Aku lalu ingat cuplikan sebuah lagu misa di benua seberang ketika aku masih belum Katolik, yang entah kenapa aku masih ingat. Lirik yang mengena waktu itu adalah,”I love you as you are”. Aku yakin Kristus berbicara padaku melalui lagu itu. Cukup menghibur, Tuhanku. Tapi, aku masih heran kenapa Kau mau aku, yang tidak ada bedanya dengan koin 5 sen yang sudah bocel di sana-sini?

Seminar ditutup dengan misa di kapel, misa yang memberi jawaban-Nya padaku. Kapel ini memiliki kaca-kaca jendela berbentuk mosaik. Suatu bentuk seni yang lazim ditemui dalam gedung gereja Katolik. Mosaik itu tersusun dari potongan kaca yang berbeda-beda. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang merah, ada yang biru. Ada yang beraturan, ada yang tidak beraturan bentuknya. Ada yang tajam tepinya, ada yang mulus. Kalau warnanya sama semua, gambar itu akan membosankan. Kalau bentuknya kotak yang identik semua, ya tidak ada gambar yang terlihat. Tiap-tiap kaca memiliki peran penting untuk melengkapi gambar tersebut. Hilang satu potong saja, entah potongan yang manapun itu, gambar itu tidak akan lengkap lagi. Tidak penuh.

Mungkin, itulah sebabnya manusia adalah karya Allah yang luar biasa : karena manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling menyusun membentuk satu gambar nyata, yakni Allah. Kemuliaan Allah memang tidak akan berkurang ketika aku hilang. Tapi, sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bila potongan mosaik buram yang sebetulnya tidak berharga ini diperkenankanNya turut menyusun gambar Allah yang mulia. I am something for Him, even when I dont realize it. Ternyata, cukuplah kasih karunia-Mu untukku (2 Kor 12:9), sekeping di antara jutaan keping mosaik yang besar kecil dan warna warni.

Allah menciptakanku menjadi kepingan mosaik yang indah. Mungkin, aku belum melihat secara penuh karya Allah dalam diriku. Namun, setelah melewati kobaran api, kepingan ini akan bening kembali sehingga sinar Ilahi akan menembus diriku dan memancarkan kehangatan-Nya. Bila gulali semua bentuknya sama, akan membosankan. Bila gulali semua warnanya sama, tidak lagi menarik. Eh, kalau bikin mosaik Yesus dari gulali, mungkin menarik juga ya (dan manis sekali pastinya)..

Paus Fransiskus: Kita memiliki kuasa Roh Kudus untuk mengatasi pencobaan!

0

paus fransiskusBerikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus dalam Misa Minggu Paskah ke-5 yang disertai pemberian Sakramen Penguatan:

Saudara-saudari terkasih,

Yang terkasih para calon penerima Sakramen Penguatan,

Saya ingin menawarkan tiga pemikiran singkat dan sederhana untuk refleksi kalian.

1. Dalam bacaan kedua, kita mendengarkan visi indah dari Santo Yohanes: [yaitu] langit baru dan bumi yang baru, dan kemudian Kota Suci datang turun dari Allah. Semua baru, diubah menjadi kebaikan, keindahan dan kebenaran, tidak ada lagi air mata atau duka cita … yang adalah karya Roh Kudus: Ia membawakan kita hal-hal baru dari Allah. Dia datang kepada kita dan membuat segala sesuatu baru, Ia mengubah kita. Roh mengubah kita! Dan visi Santo Yohanes mengingatkan kita bahwa kita semua sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem surgawi, puncak kebaruan yang menanti kita dan semua kehidupan, hari bahagia ketika kita akan melihat wajah Tuhan – wajah yang luar biasa, wajah yang paling indah dari Tuhan Yesus – dan untuk selamanya denganNya, dalam kasih-Nya.

Kalian lihat, hal-hal baru dari Allah tidak seperti hal-hal baru dari dunia ini, yang semuanya bersifat sementara, mereka datang dan pergi, dan kita tidak pernah terpuaskan. Hal-hal baru yang Allah berikan untuk hidup kita tidak pernah berakhir, tidak hanya di masa depan, ketika kita akan bersamaNya, tapi hari ini juga. Bahkan sekarang pun Allah sedang membuat segala sesuatu menjadi baru; Roh Kudus benar-benar mengubah kita, dan melalui kita Dia juga ingin mengubah dunia di mana kita hidup. Marilah kita membukakan pintu kepada Roh, membiarkan diri dibimbing olehNya, dan mengijinkan pertolongan Allah yang konstan untuk menjadikan kita laki-laki dan perempuan baru, terinspirasi oleh kasih Allah yang melimpahkan Roh Kudus pada kita! Betapa akan indahnya jika masing-masing dari kalian, setiap malam, bisa mengatakan: Hari ini di sekolah, di rumah, di tempat kerja, dibimbing oleh Allah, saya menunjukkan tanda cinta terhadap salah satu teman saya, orang tua saya, seseorang yang lebih tua! Betapa indahnya!

2. Refleksi kedua. Dalam bacaan pertama Paulus dan Barnabas mengatakan bahwa “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak pencobaan ” (Kis 14:22). Pengembaraan Gereja, dan perjalanan pribadi kita sendiri sebagai orang Kristen, tidak selalu mudah, sepanjang perjalanan bertemu dengan kesulitan-kesulitan dan cobaan-cobaan. Mengikuti Tuhan, membiarkan Roh-Nya mengubah kegelapan hidup kita, cara-cara bertindak kita yang durhaka, dan menyucikan kita dari dosa-dosa kita, berarti memulai perjalanan yang penuh dengan rintangan, baik di dunia di sekitar kita, dan juga di dalam kita, di dalam hati. Tetapi kesulitan-kesulitan dan cobaan-cobaan merupakan bagian dari jalan setapak yang membawa kita kepada kemuliaan Allah, sama seperti kesulitan-kesulitan dan cobaan-cobaan bagi Yesus, yang dimuliakan di kayu salib, akan selalu kita temukan dalam hidup! Jangan berkecil hati! Kita memiliki kuasa Roh Kudus untuk mengatasi pencobaan ini!

3. Dan di sini saya sampai pada pokok terakhir pemikiran saya. Sebuah undangan yang saya buat untuk kalian, para [calon] penerima sakramen penguatan, dan untuk semua yang hadir. Tetaplah tabah dalam perjalanan iman, dengan harapan teguh dalam Tuhan. Ini adalah rahasia dari perjalanan kita! Dia memberi kita keberanian untuk berenang melawan arus. Perhatikan, teman-teman muda-ku: untuk melawan arus, baik untuk jantung, tetapi kita perlu keberanian untuk berenang melawan arus. Yesus memberi kita keberanian ini! Tidak ada kesulitan, cobaan atau kesalahpahaman yang perlu ditakuti, asalkan kita tetap bersatu dengan Allah seperti cabang pokok anggur, asalkan kita tidak kehilangan persahabatan kita dengan Dia, asalkan kita menyediakan lebih banyak lagi ruang bagiNya dalam hidup kita. Hal ini khususnya terjadi setiap kali kita merasa miskin, lemah dan berdosa, karena Allah memberikan kekuatan untuk kelemahan kita, kekayaan untuk kemiskinan kita, pertobatan dan pengampunan atas dosa kita. Tuhan begitu kaya dengan belas kasih: setiap kali, bila kita pergi kepadaNya, Dia mengampuni kita. Marilah kita percaya dalam karya Tuhan! Dengan Dia kita dapat melakukan hal-hal yang besar, Ia akan memberi kita sukacita dengan menjadi murid-murid-Nya, saksi-saksi-Nya. Komitmenkan diri kalian untuk cita-cita yang besar, untuk hal-hal yang paling penting. Kita orang-orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan untuk hal-hal kecil, melainkan didorong maju untuk menuju prinsip tertinggi. Pertaruhkan hidup kalian pada cita-cita mulia, kaum muda-ku yang terkasih!

Hal-hal baru dari Allah, cobaan-cobaan hidup, tetap teguh dalam Tuhan. Sahabat-sahabat terkasih, mari kita membuka lebar-lebar pintu hidup kita kepada hal-hal baru dari Allah yang Roh Kudus berikan kepada kita. Semoga Ia mengubah kita, meneguhkan kita dalam pencobaan, memperkuat persatuan kita dengan Tuhan, ketabahan kita dalam diri-Nya: ini adalah sukacita sejati! Maka semoga terjadi demikian.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 28 April 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Paus Fransiskus: Gunakan waktu kalian sebaik mungkin untuk Penghakiman Terakhir!

2

Berikut adalah terjemahan bebas dari katekese yang diberikan Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 24 April 2013:

Saudara saudari terkasih, Selamat Pagi!

Dalam Syahadat kita mengakui bahwa Yesus “akan datang lagi dalam kemuliaan untuk mengadili yang hidup dan yang mati”. Sejarah manusia dimulai dengan penciptaan pria dan wanita sesuai gambar Allah dan berakhir dengan Penghakiman Terakhir Kristus. Kedua kutub sejarah ini sering dilupakan; dan khususnya iman akan kedatangan Kristus kembali dan Penghakiman Terakhir, kadang-kadang tidak begitu jelas dan tegas dalam hati orang-orang Kristen. Dalam kehidupan-Nya di depan umum, seringkali Yesus merefleksikan kebenaran dari Akhir Kedatangan-Nya. Hari ini saya ingin merefleksikan tiga teks Injil yang membantu kita untuk menembus misteri ini: [yaitu] tentang sepuluh gadis, tentang talenta dan tentang Penghakiman Terakhir. Ketiganya merupakan bagian dari wacana Yesus tentang akhir zaman yang dapat ditemukan dalam Injil Matius.

Mari kita ingat pertama-tama dari semua, bahwa dalam peristiwa Kenaikan ke Surga Allah Putra membawa kepada Bapa kemanusiaan kita yang mana telah dikenakanNya, dan bahwa Ia ingin menarik semua [umat manusia] kepadaNya, memanggil seluruh dunia untuk disambut dalam pelukan Allah sehingga pada akhir dari sejarah keseluruhan realitas dapat diserahkan kepada Bapa. Namun ada “waktu segera” antara Kedatangan Kristus yang Pertama dan yang Terakhir ini, dan itu adalah waktu yang benar-benar yang di dalamnya kita hidup. Perumpamaan tentang sepuluh gadis pas sesuai dalam konteks dengan waktu “segera” ini (bdk. Mat 25:1-13). Mereka adalah sepuluh gadis muda yang sedang menunggu kedatangan Mempelai Pria, tapi ia terlambat dan mereka jatuh tidur. Saat mendadak diumumkan bahwa Mempelai Pria datang, mereka segera mempersiapkan diri untuk menyambutnya; sementara lima dari mereka, yang bijaksana, memiliki minyak untuk  menyalakan pelita mereka, sedangkan yang lain, yang bodoh, telah kehabisan minyak hingga pelita mereka padam. Saat sementara mereka pergi untuk mendapatkan minyak lagi, sang Mempelai Pria tiba dan gadis-gadis yang bodoh itu menemukan bahwa pintu ke balai pesta pernikahan telah ditutup.

Mereka mengetuk lagi dan lagi, tapi sekarang sudah terlambat, Mempelai Pria menjawab: Aku tidak mengenal kamu. Sang Mempelai Pria adalah Tuhan, dan waktu menunggu kedatangan-Nya adalah waktu yang Dia berikan kepada kita, kepada kita semua, sebelum Kedatangan-Nya yang Terakhir dengan belas kasihan dan kesabaran; itu adalah waktu berjaga-jaga, waktu di mana kita harus menjaga pelita iman, harapan dan kasih tetap menyala; waktu di mana hati kita tetap terbuka untuk kebaikan, keindahan dan kebenaran. Ini adalah waktu untuk hidup seturut dengan Allah, karena kita juga tidak tahu hari atau jam kedatangan Kristus. Apa yang Dia minta dari kita adalah siap untuk perjumpaan tersebut- siap untuk sebuah perjumpaan, untuk sebuah perjumpaan yang indah, perjumpaan dengan Yesus, yang berarti mampu melihat tanda-tanda kehadiran-Nya, menjaga iman kita hidup dengan doa, dengan sakramen, dan berjaga-jaga untuk tidak terlelap tidur sehingga tidak melupakan Tuhan. Kehidupan orang-orang Kristen yang sedang tertidur pulas merupakan kehidupan yang menyedihkan, itu bukan kehidupan yang bahagia. Orang-orang Kristen harus senang bahagia, dengan sukacita Yesus. Jangan kita jatuh tertidur!

Perumpamaan kedua, perumpamaan tentang talenta, membuat kita berpikir tentang hubungan antara bagaimana kita menggunakan karunia-karunia yang kita terima dari Allah dan saat Dia kembali,  Ia akan bertanya kepada kita apa yang telah kita buat dengan karunia-karunia itu (bdk. Mat 25:14-30). Kita mengenal baik perumpamaan tersebut: [bahwa] sebelum keberangkatannya sang tuan memberikan beberapa talenta kepada setiap hamba-hambanya dengan memastikan bahwa talenta-talenta tersebut akan dimanfaatkan dengan baik selama ketidakhadirannya. Dia memberikan lima talenta kepada hamba pertama, dua talenta kepada hamba kedua dan satu talenta kepada hamba ketiga. Dalam periode ketidakhadiran tuan mereka, dua hambanya yang pertama meningkatkan talenta-talenta mereka – yang berupa koin-koin kuno – sedangkan hamba ketiga lebih suka mengubur dan mengembalikannya kepada tuannya seperti sebagaimana awalnya.

Sekembalinya, sang tuan mengadili apa yang telah mereka lakukan: ia memuji dua hamba yang pertama sementara dia melempar keluar hamba ketiga ke dalam kegelapan yang sangat gelap, karena rasa takut, hamba ketiga telah menyembunyikan talentanya, dalam dirinya sendiri. Seorang Kristen yang menarik diri ke dalam dirinya sendiri, yang menyembunyikan segala sesuatu yang Tuhan telah berikan kepadanya, adalah seorang Kristen yang … bukan seorang Kristen! Dia adalah seorang Kristen yang tidak bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya!

Perumpamaan ini memberitahukan kita bahwa ekspektasi kedatangan Tuhan kembali adalah waktu untuk berbuat – kita berada dalam waktu untuk berbuat tersebut- waktu di mana kita harus menghasilkan buah limpah dari karunia-karunia Allah, yang bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia, untuk Gereja, untuk orang lain. Waktu untuk berupaya meningkatkan kebaikan di dunia ini selalu; dan khususnya, dalam masa krisis, hari ini, penting untuk tidak berfokus pada diri kita sendiri atau mengubur bakat kita sendiri, kekayaan rohani, kekayaan intelektual, dan kekayaan materi kita, segala sesuatu yang Tuhan telah berikan kepada kita, melainkan lebih untuk membuka diri, menjadi suportif, menaruh perhatian kepada orang lain.

Di lapangan [Santo Petrus] ini saya telah melihat bahwa ada banyak orang muda di sini: Benar, bukan? Apakah ada banyak orang muda? Di mana mereka? Saya bertanya kepada kalian yang baru saja memulai perjalanan kalian melewati kehidupan: Apakah kalian  sudah berpikir tentang talenta-talenta yang Allah telah berikan kepada kalian? Pernahkah kalian berpikir bagaimana kalian dapat menempatkan talenta-talenta tersebut pada pelayanan orang lain? Jangan mengubur bakat-bakat kalian! Gantungkan cita – cita kalian pada  hal – hal besar, cita-cita yang membesarkan hati, cita-cita pelayanan yang membuat bakat kalian berbuah. Hidup diberikan kepada kita bukan untuk dijaga ketat untuk diri kita sendiri, tetapi diberikan kepada kita sehingga kita bisa memberi kehidupan pada orang lain pada gilirannya. Orang-orang muda terkasih, miliki semangat yang mendalam! Jangan takut untuk bermimpi hal-hal besar!

Yang terakhir, sepatah kata tentang perikop Penghakiman Terakhir di mana Kedatangan Tuhan yang ke Dua dijelaskan, ketika Ia akan menghakimi semua manusia, yang hidup dan yang mati (bdk. Mat 25:31-46). Gambaran yang digunakan oleh Penginjil adalah gambaran tentang gembala yang memisahkan domba dari kawanan kambing. Di sebelah kanan-Nya Ia menempatkan orang-orang yang telah bertindak sesuai dengan kehendak Allah, yang pergi memberikan bantuan kepada sesama mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit atau dipenjarakan – saya katakan “asing”: [sebab] Saya sedang memikirkan banyaknya orang-orang asing yang berada di sini di Keuskupan Roma: Apa yang kita lakukan untuk mereka? Sementara di sebelah kiri-Nya adalah orang-orang yang tidak membantu sesama mereka. Ini memberitahukan kita bahwa Allah akan menghakimi kita berdasarkan kasih kita, tentang bagaimana kita telah mengasihi saudara-saudara kita, terutama yang paling lemah dan yang paling membutuhkan. Tentu saja kita harus selalu ingat dengan jelas bahwa kita dibenarkan, kita diselamatkan melalui kasih karunia, melalui tindakan kasih yang dengan bebas diberikan oleh Allah yang selalu mendahului kita; bergantung pada kita sendiri kita tidak bisa melakukan apa-apa. Iman pertama – tama adalah karunia yang kita terima. Tetapi untuk berbuah, kasih karunia Allah selalu menuntut keterbukaan kita kepada-Nya, jawaban bebas dan nyata dari kita. Kristus datang untuk membawakan kita belas kasihan Allah yang menyelamatkan. Kita diminta untuk percaya kepada-Nya, untuk membalas karunia kasih-Nya dengan kehidupan yang baik, yang diisi dengan tindakan yang dilatarbelakangi oleh iman dan kasih.

Saudara dan saudari terkasih,  semoga memikirkan Penghakiman Terakhir tidak pernah membuat kita takut: sebaliknya, semoga hal itu mendorong kita untuk menjalani hidup saat ini dengan lebih baik. Allah menawarkan kita kali ini belas kasihan dan kesabaran sehingga kita dapat belajar setiap hari untuk mengenali-Nya dalam orang-orang miskin dan orang-orang rendahan. Mari kita berjuang untuk kebaikan dan berjaga-jaga dalam doa dan kasih. Semoga Tuhan, di akhir hidup kita dan pada akhir sejarah, dapat mengenali kita sebagai hamba yang baik dan setia. Banyak terima kasih!

Salam:

Dengan gembira saya menyambut para peziarah Vietnam dari Keuskupan Agung Ho Chi Minh Ville, yang dipimpin oleh Kardinal Jean-Baptiste Pham Minh Man. Saya juga menyambut kelompok Bruder Marist yang sedang mengambil bagian dalam program reuni spiritual. Sambutan ramah juga saya tujukan kepada para pengunjung dari Cambridge Muslim College di Inggris. Kepada semua pengunjung berbahasa Inggris yang hadir pada Audiensi hari ini, termasuk yang berasal dari Inggris, Irlandia, Norwegia, Australia, Korea Selatan dan Amerika Serikat, saya mohon sukacita dan damai dari Tuhan yang Bangkit.

Terakhir, saya sampaikan sebuah pemikiran kasih sayang kepada para kaum muda, para penderita sakit dan para pengantin baru. Semoga Kristus Gembala yang Baik memberikan rasa aman bagi masing-masing dari kalian, para kaum muda terkasih, terutama untuk sejumlah besar pelajar, sehingga dalam mengikuti suara-Nya kalian tidak kehilangan cara kalian; semoga Ia menunjang kalian, para penderita sakit yang terkasih, dalam membawa salib kalian sehari – hari; dan semoga Dia membantu kalian, para pengantin baru yang terkasih, untuk membangun keluarga kalian berdasarkan kasih Allah. Terima kasih!

(AR)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 24 April 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab