Home Blog Page 120

Paus Emeritus Kembali ke Vatikan

1

VATICAN- Paus emeritus Benediktus XVI kembali ke Vatikan setelah dua bulan mengundurkan diri dari posisinya sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik.

Ia datang dengan helikopter dari kediaman musim panas kepausan, Castel Gandolfo, untuk tinggal permanen di Vatikan.

Berbeda dengan waktu kepergiannya dari Vatikan, kali ini tidak ada satu TV pun yang meliput kembalinya Paus emeritus ke Vatikan secara langsung. Kedatangannya disambut oleh Paus Fransiskus yang menyatakan bahwa Vatikan menyambut Benediktus “dengan keramahan dan persaudaraan.” Keduanya kemudian mengadakan “doa sesaat” di kapel kediaman Benediktus.

Beberapa saat setelah kedatangan Paus emeritus, Vatikan merilis sebuah foto yang memperlihatkan Benediktus dan Paus Fransiskus sedang berjabat tangan.

Paus emeritus akan tinggal bersama sekretaris pribadinya Georg Gaenswein di biara  Maria Ecclesiae yang terletak tepat di belakang Basilika Santo Petrus.

Direktur pers dan informasi Vatikan, Pastor Federico Lombardi, SJ  menggambarkan tempat tinggal Benediktus sebagai tempat yang “kecil tapi lengkap” dan dilengkapi oleh sebuah kapel, perpustakaan dan ruang kerja. Terdapat juga sebuah kamar tamu yang bisa ditempati sewaktu-waktu bila kakaknya, Georg Ratzinger, berkunjung.

Belum pernah terjadi sebelumnya, seorang mantan Paus tinggal dekat dengan penggantinya di Vatikan.

Namun pada saat turun tahta, Benediktus mengatakan dia tidak akan mencoba mempengaruhi penggantinya, dan ia akan menjalani sisa hari-harinya dengan “tersembunyi dari dunia.” Benediktus ingin mendedikasikan hidupnya untuk berdoa dan melakukan pelayanan gereja, kata Vatikan. Pada pertemuan di bulan Maret dengan Paus Fransiskus, dia juga mengulangi “penghormatan tanpa syarat dan ketaatan” kepada penggantinya. (Reuters/AP)

Paus Fransiskus: Roh Kudus membawa Pembaruan, Harmoni, dan Misi!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada hari Minggu Pentakosta bersama dengan gerakan kerasulan awam:

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita dalam liturgi merenungkan dan kembali menghidupkan Pencurahan Roh Kudus yang diutus oleh Kristus yang telah bangkit atas Gereja-Nya, sebuah peristiwa rahmat yang memenuhi Ruang Atas di Yerusalem dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Tapi apa yang terjadi pada hari itu, begitu jauh dari kita akan tetapi sedemikian dekat hingga sampai menyentuh lubuk hati kita? St Lukas memberi kita jawabannya dalam perikop Kisah Para Rasul yang telah kita dengar (2:1-11). Penginjil membawa kita kembali ke Yerusalem, ke Ruang Atas di mana para rasul berkumpul. Elemen pertama yang menarik perhatian kita adalah bunyi yang tiba-tiba datang dari langit “seperti tiupan kencang angin keras”, dan memenuhi rumah itu, kemudian “lidah-lidah seperti nyala api” yang bertebaran dan hinggap pada setiap rasul. Bunyi dan lidah-lidah api: hal ini jelas, tanda-tanda konkret yang menyentuh para rasul tidak hanya di luar tetapi juga di dalam: jauh di dalam pikiran dan hati mereka. Akibatnya, “mereka semua penuh dengan Roh Kudus”, yang melepaskan kekuatan yang tak tertahankan dengan konsekuensi yang luar biasa: mereka semua “mulai berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda, sebagai Roh yang memberi mereka kemampuan”. Sebuah adegan yang sama sekali tak terduga terbuka di hadapan mata kita: kerumunan besar berkumpul, terheran-heran karena masing-masing mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua mengalami sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: “Kami mendengar mereka, masing-masing dari kita, berbicara dalam bahasa kita sendiri”. Dan apa itu yang mereka mereka bicarakan? “Perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”.

Dalam terang perikop Kisah Para Rasul ini, saya ingin merefleksikan tiga kata yang terkait dengan karya Roh Kudus: [yaitu] pembaruan, harmoni dan misi.

1. Pembaruan selalu membuat kita sedikit takut, karena kita merasa lebih aman jika kita memiliki segalanya terkendali, jika kita yang membangun, memprogram, dan merencanakan hidup kita sesuai dengan ide-ide kita sendiri, kenyamanan kita sendiri, selera kita sendiri. Ini juga halnya ketika [kita] datang kepada Allah. Seringkali kita mengikut-Nya, kita menerimaNya, tapi hanya sampai pada titik tertentu saja. Sulit untuk berserah diri kepadaNya dengan penuh kepercayaan, mengijinkan Roh Kudus untuk menjadi jiwa dan panduan dari kehidupan kita dalam setiap keputusan kita. Kita takut Allah mungkin memaksa kita untuk memulai jalur – jalur baru dan meninggalkan di belakang semua batas-batas pemikiran [kita] yang terlalu sempit, tertutup dan egois agar menjadi terbuka terhadap diri-Nya. Namun sepanjang sejarah keselamatan, setiap kali Allah menyatakan diri-Nya, Ia membawa pembaruan – Allah selalu membawa pembaruan -, dan menuntut kepercayaan penuh kita: Nuh, diejek oleh semua orang, membangun sebuah bahtera dan diselamatkan; Abraham meninggalkan negerinya dengan hanya janji dalam tangan; Musa menghadapi dengan berani kekuatan Firaun dan menuntun bangsanya kepada kebebasan; para rasul, berkumpul ketakutan di Ruang Atas, [tetapi] keluar dengan keberanian untuk mewartakan Injil. Ini bukan sesuatu yang baru hanya demi pengalaman yang baru saja, pencarian sesuatu yang baru untuk menghilangkan kebosanan kita, seperti yang sering terjadi di zaman kita [sekarang ini]. Pembaruan yang Allah bawa ke dalam hidup kita adalah sesuatu yang benar-benar membawa pemenuhan, yang memberikan sukacita sejati, ketenangan sejati, karena Allah mengasihi kita dan hanya menginginkan yang baik bagi kita. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri hari ini: Apakah kita terbuka untuk “kejutan Allah”? Atau kita tertutup dan takut akan pembaruan Roh Kudus? Apakah kita memiliki keberanian untuk memulai jalan baru yang mana pembaruan Allah telah mengaturnya bagi kita, ataukah kita menolak, terkurung dalam struktur fana yang mana telah kehilangan kemampuannya untuk terbuka terhadap sesuatu yang baru? Kita akan hidup dengan baik jika kita terus bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan ini sepanjang hari.

2. Hal yang kedua: [bahwasanya] Roh Kudus nampaknya menciptakan kekacauan di dalam Gereja, karena Ia membawa beraneka ragam karisma dan karunia, namun semua ini, oleh karya-Nya, adalah sebuah sumber kekayaan yang besar, karena Roh Kudus adalah Roh persatuan, yang tidak berarti keseragaman, namun yang membawa semuanya kembali ke keharmonisan. Dalam Gereja, Roh Kuduslah yang menciptakan keharmonisan. Salah satu Bapa Gereja mempunyai sebuah ekspresi yang saya suka: [bahwasanya] Roh Kudus sendiri adalah keharmonisan – “Ipse harmonia est“. Dia memang adalah keharmonisan. Hanya Roh yang dapat membangkitkan keanekaragaman, pluralitas dan pelipatgandaan, sementara pada saat yang sama membangun persatuan. Di sini pula, ketika kita adalah orangnya yang mencoba untuk menciptakan keanekaragaman dan menutup diri dalam apa yang membuat kita berbeda dengan yang lain, [maka] kita membawa perpecahan. Ketika kita adalah seorang yang ingin membangun persatuan yang sesuai dengan rencana manusia, kita akhirnya menciptakan keseragaman, standarisasi. Tapi jika sebaliknya kita membiarkan diri kita sendiri dibimbing oleh Roh itu, [maka] kekayaan, variasi dan keragaman tidak pernah menjadi sumber konflik, karena Ia mendorong kita untuk mengalami variasi dalam persekutuan Gereja. Melakukan perjalanan bersama dalam Gereja, di bawah bimbingan para pastornya yang memiliki karisma dan pelayanan khusus, adalah tanda dari karya Roh Kudus. Memiliki rasa akan Gereja adalah sesuatu yang fundamental bagi setiap orang Kristen, setiap masyarakat dan setiap pergerakan. Ini adalah Gereja yang membawa Kristus kepada saya, dan saya kepada Kristus; perjalanan yang paralel sangat berbahaya! Ketika kita bertualang melewati (proagon) ajaran Gereja dan komunitas – Rasul Yohanes memberitahu kita dalam Surat Keduanya – dan jangan tetap tinggal di antara mereka, kita tidak satu dengan Allah Yesus Kristus (lih. 2 Yoh 1:9). Jadi mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku terbuka untuk keharmonisan Roh Kudus, mengatasi setiap bentuk eksklusivitas? Apakah aku membiarkan diriku dibimbing olehNya, tinggal dalam Gereja dan dengan Gereja?

3. Point terakhir. Ahli teologi senior biasa mengatakan bahwa jiwa adalah semacam perahu layar, Roh Kudus adalah angin yang mengisi layar dan mendorong ke depan, dan hembusan angin adalah karunia-karunia Roh. Kekurangan dorongan-Nya dan kasih karunia-Nya, kita tidak bergerak maju. Roh Kudus membawa kita ke dalam misteri Allah yang hidup dan menyelamatkan kita dari ancaman Gereja yang mistik dan merujuk pada dirinya sendiri, tertutup dalam dirinya sendiri; Ia mendorong kita untuk membuka pintu-pintu tersebut dan keluar untuk mewartakan dan menjadi saksi kabar baik dari Injil, untuk mengkomunikasikan sukacita iman, pertemuan dengan Kristus. Roh Kudus adalah jiwa dari misi. Peristiwa yang terjadi di Yerusalem hampir dua ribu tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang jauh terpencil dari kita, mereka adalah peristiwa yang mempengaruhi kita dan menjadi pengalaman hidup dalam masing-masing dari kita. Pentakosta di Ruang Atas di Yerusalem adalah permulaan, sebuah permulaan yang bertahan. Roh Kudus adalah karunia tertinggi dari Kristus yang bangkit kepada para rasul-Nya, namun Ia ingin karunia itu menjangkau semua orang. Seperti yang kita dengar dalam Injil, Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Dia akan memberikan seorang Penolong yang lain untuk tetap menyertai kamu selamanya” (Yoh 14:16). Ini adalah Roh Penghibur, “Penghibur”, yang memberi kita keberanian untuk turun ke jalan-jalan di dunia, membawakan Injil! Roh Kudus membuat kita melihat ke batas – batas dunia dan menghantar kita ke keberadaan yang sangat terpinggir untuk mewartakan hidup dalam Yesus Kristus. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita cenderung untuk tetap tertutup pada diri kita sendiri, pada kelompok kita, atau kita membiarkan Roh Kudus membuka kita untuk misi-Nya? Hari ini mari kita ingat tiga kata ini: pembaruan, harmoni dan misi.

Liturgi hari ini merupakan sebuah doa luar biasa yang mana Gereja, dalam kesatuan dengan Yesus, panjatkan kepada Bapa, memintaNya untuk memperbarui pencurahan Roh Kudus itu. Semoga masing-masing dari kita, dan setiap kelompok dan pergerakan, dalam keharmonisan Gereja, berseru kepada Bapa dan memohon karunia ini. Hari ini juga, seperti pada asalnya, Gereja, dalam persatuan dengan Maria, berseru: “Veni, Sancte Spiritus! Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati  umat-Mu, dan kobarkan di dalamnya api cinta Kalian! “Amin.

(AR)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 19 Mei 2013

 

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

Taburkan kasih

0

Minggu Pagi, 12 Mei 2013, empat puluh dua umat  Lingkungan Maria Bunda Rosario Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, bersujud di hadapan Bunda Allah di Gua Maria, belakang pastoran Gereja Santa Odilia Tangerang.

Awan tipis melindungi mereka  dari teriknya matahari sehingga mereka dapat dengan khusuk merenungkan kebaikan Hati Bunda Surgawi.

Kebaikan ilahi dengan perantaraan Bunda Tersuci disyukuri dalam Ekaristi.

Ucapan syukur  atas kebaikan Tuhan diungkapkan dalam perhatian bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus yang masih kecil-kecil.

Kerinduan akan kasih menjalar di hati meskipun tak tahu bagaimana mengutarakannya.

Sesuap nasi yang diberikan kepada mereka membuat mereka merasa berarti.

Kebahagiaan mereka dinyatakan dengan seruan lirih, yang hanya dimengerti dengan bahasa hati.  Walaupun tangan tak mampu menjabat, hati mereka mengatakan terimakasih.

Sinar mata mereka ada rahasia, sinar mata mereka ada dambaan untuk dihargai.

Ada pesan di balik sinar mata mereka, yaitu bersabar dalam menanti.

Tangan yang gemetar tiada berhenti dan ketidakmampuan untuk mandiri menjadi sebuah peringatan dini agar tidak terjadi tsunami kehidupan jika saatnya kita kembali seperti bayi.

Kita mungkin harus bersabar menantikan bantuan karena sudah tidak mampu melakukan segalanya sendiri.

Tiada sesuatu yang kekal dalam kehidupan ini, selain harapan, iman, dan kasih Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 3:13). Kami pulang dengan sebuah permenungan “Taburkan kasih, maka akan menunai kasih”.

Tuhan Memberkati

 Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Paus Fransiskus: Gereja berada dalam Sebuah Kisah Cinta

1

Gereja bukanlah sebuah organisasi birokrasi, melainkan sebuah kisah cinta. Ini adalah pesan Paus Fransiskus pada Misa Rabu di Kapel Casa Santa Marta.

Turut menghadiri Misa pagi ini [24/4/2013] adalah karyawan dari Institut bagi Karya Keagamaan, yang biasa disebut bank Vatikan. Kardinal Javier Lozano Barragán, Presiden Emeritus Dewan Kepausan untuk Pelayanan Pastoral bagi Pekerja Kesehatan, mengkonselebrasi Misa dengan Bapa Suci.

Bacaan hari ini menceritakan kisah pertumbuhan komunitas Kristen yang pertama. Dalam homilinya, Paus memperingatkan agar tidak tergoda untuk membuat “kesepakatan” yang sekedar untuk mendapatkan “lebih banyak mitra dalam perusahaan ini.”

Malahan, katanya, “Jalan yang Yesus kehendaki untuk Gereja-Nya adalah sebaliknya: [yaitu] jalan kesulitan, jalan Salib, jalan penganiayaan. Dan ini membuat kita bertanya-tanya: Gereja apa ini? Karena tampaknya ini bukan merupakan usaha manusia.”

Gereja, katanya, adalah “sesuatu yang lain.” Para murid tidak membuat Gereja – mereka adalah utusan yang dikirim oleh Yesus. Dan Kristus diutus oleh Bapa: “Gereja dimulai di sana,” katanya, “di dalam jantung hati Bapa, yang memiliki ide ini. . . dari cinta kasih. Begitulah kisah cinta ini dimulai, sebuah kisah yang telah berlangsung begitu lama, dan belum berakhir. Kita, para wanita dan pria Gereja, kita berada di tengah-tengah sebuah kisah cinta: masing-masing dari kita adalah sebuah mata rantai dalam rantai kasih ini. Dan apabila kita tidak memahami hal ini, [berarti] kita tidak memahami apapun tentang apa itu Gereja.”

Godaannya adalah berfokus pada pertumbuhan Gereja tanpa mengambil jalan cinta: “Tapi Gereja tumbuh bukan dengan kekuatan manusia. Beberapa orang Kristen telah keliru dikarenakan alasan-alasan sejarah, mereka telah mengambil jalan yang salah, mereka telah menggalang bala tentara, mereka telah melancarkan perang agama: itu adalah kisah lain, itu bukanlah kisah cinta. Namun kita belajar, dengan kesalahan kita, bagaimana kisah cinta ini berjalan. Tapi bagaimana Gereja itu berkembang? Yesus katakan dengan sederhana: seperti biji sesawi, ia tumbuh seperti ragi dalam tepung, tanpa gaduh.”

Seorang kepala negara pernah bertanya seberapa besar tentara Paus saat itu. Gereja berkembang bukan “melalui kekuatan militer”, kata Paus Fransiskus, tetapi melalui kuasa Roh Kudus. Hal ini karena Gereja tidak seperti organisasi lain: “dia adalah Ibu” katanya. Paus berkomentar tentang jumlah ibu-ibu yang hadir waktu Misa. “Bagaimana perasaan kalian,” tanyanya, “jika seseorang mengatakan: ia adalah seorang pengurus rumah tangga? [Kalian tentunya akan berkata:] “Tidak, saya adalah seorang ibu ! ‘Dan Gereja adalah Ibu. Dan kita berada di tengah-tengah sebuah kisah cinta yang terus berlanjut berkat kuasa Roh Kudus. Semua dari kita bersama-sama merupakan sebuah keluarga di dalam Gereja, yang adalah Ibu kita.”

Paus mengakhiri refleksinya dengan sebuah doa kepada Maria, meminta semoga ia “memberi kita kasih karunia sukacita rohani dari turut mengambil bagian dalam kisah cinta ini”.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 24 April 2013

 

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Paus Fransiskus: Perjuangan untuk menolak gosip

0

Semoga Roh Kudus membawa perdamaian kepada komunitas Kristen dan mengajarkan anggotanya untuk menjadi lemah lembut, menolak untuk menjelek-jelekkan orang lain. Dengan harapan ini, Paus Fransiskus mengakhiri homilinya pada Misa Selasa pagi [9/4/2013] dengan para staf dari pelayanan medis Vatikan dan staf kantor Pemerintah Kota Vatikan. “Komunitas Kristen pertama tersebut merupakan model abadi bagi komunitas Kristen hari ini, karena mereka satu hati dan satu jiwa, melalui Roh Kudus yang membawa mereka ke dalam sebuah “hidup baru “. Emer McCarthy melaporkan:

Dalam homilinya Paus Fransiskus berefleksi pada perikop Injil yang menceritakan dialog antara Yesus dan Nikodemus, yang tidak segera memahami bagaimana seseorang bisa “dilahirkan kembali”. Melalui Roh Kudus, Paus mengatakan, kita dilahirkan ke dalam hidup baru yang telah kita terima dalam Baptisan.” Namun, Paus Fransiskus menambahkan, ini adalah hidup yang harus dikembangkan, hal itu tidak datang secara otomatis. Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk memastikan bahwa hidup kita berkembang ke dalam hidup baru”, yang mungkin [berupa] “perjalanan yang melelahkan” namun satu yang “tergantung terutama pada Roh Kudus” serta pada kemampuan kita untuk menjadi “terbuka bagi nafas-Nya “.

Dan ini, Paus menunjukkan, adalah persis apa yang terjadi pada umat Kristen awali. Mereka memiliki “hidup baru”, yang dinyatakan dalam hidup mereka dengan satu hati dan satu jiwa. Mereka memiliki, Paus katakan, “kesatuan itu, kebulatan suara itu, keharmonian perasaan kasih itu, saling mengasihi itu…”. Sebuah dimensi yang perlu ditemukan kembali. Paus mencatat bahwa saat ini, misalnya, aspek “kelemahlembutan di masyarakat,” merupakan ‘kebajikan yang agak terlupakan’. Kerendahan hati ternodai, kerendahan hati memiliki “banyak musuh”, yang pertama darinya adalah gosip.

Paus Fransiskus kemudian mengembangkan refleksi ini. “Ketika kita memilih untuk bergosip, bergosip tentang orang lain, mengkritik orang lain-ini adalah hal sehari-hari yang terjadi pada setiap orang, termasuk saya – ini adalah godaan si jahat yang tidak ingin Roh datang kepada kita dan membawakan perdamaian dan kelemahlembutan dalam komunitas Kristen”. “Perjuangan ini selalu ada” dalam paroki, dalam keluarga, dalam lingkungan, di antara teman-teman”. Sebaliknya melalui Roh kita dilahirkan ke dalam kehidupan baru, Dia membuat kita “lemah lembut, berhati lembut”.

Bapa Suci kemudian menggarisbawahi perilaku yang benar bagi seorang Kristen. Pertama, “tidak menghakimi seorangpun” karena “satu-satunya Hakim adalah Tuhan”. Kemudian “mencoba diam” dan jika kalian memiliki sesuatu untuk dikatakan, katakanlah kepada pihak yang berkepentingan, [yaitu] kepada orang-orang “yang dapat memperbaiki situasi,” tetapi “bukan ke seluruh lingkungan sekitar”. Paus Fransiskus berkesimpulan, bahwa “Jika kita, oleh karena kasih karunia Roh Kudus – telah berhasil untuk tidak pernah bergosip, [maka] itu akan menjadi langkah besar ke depan” dan “akan membuat kita semua baik”.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 9 April 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

 

Paus Fransiskus : Apakah aku setia pada Kristus?

0

Berikut adalah terjemahan homili Paus Fransiskus pada Misa Minggu Paskah ke – 7 yang sekaligus hari kanonisasi bagi Beato Antonio Primaldo dan kawan – kawan, Beata Lauda dari Santa Katharina dari Siena dan Beata María Guadalupe García Zavala:

Saudara-saudari terkasih,

Pada Minggu Paskah Ke-tujuh ini kita berkumpul bersama dalam sukacita untuk merayakan pesta kekudusan. Mari kita bersyukur kepada Allah yang telah membuat kemuliaan-Nya, kemuliaan Kasih, bersinar pada para Martir dari Otranto, pada Ibu Laura Montoya dan Ibu María Guadalupe García Zavala. Saya menyambut kalian yang telah datang untuk perayaan ini – dari Italia, Kolombia, Meksiko dan negara-negara lain – dan saya berterima kasih pada kalian! Mari kita lihat para kudus baru yang dinyatakan dalam terang firman Allah . Ini adalah firman yang telah mengundang kita untuk menjadi setia kepada Kristus, bahkan sampai menjadi martir; hal ini telah mengingatkan kita akan pentingnya dan indahnya membawa Kristus dan Injil-Nya kepada semua orang; dan hal ini telah berbicara kepada kita tentang kesaksian amal, yang tanpanya bahkan kemartiran dan misi tersebut kehilangan cita rasa Kristiani mereka.

1. Ketika Kisah Para Rasul menceritakan kita tentang Diakon Stefanus, Martir Pertama, tertulis bahwa ia adalah seorang pria “penuh dengan Roh Kudus” (6:5; 7:55). Apa artinya ini? Ini berarti bahwa ia dipenuhi dengan kasih Allah, yang seluruh dirinya, hidupnya, terinspirasi oleh Roh Kristus yang bangkit sehingga ia mengikuti Yesus dengan kesetiaan total, sampai menyerahkan dirinya.

Hari ini Gereja mengangkat untuk penghormatan kita sekelompok martir yang pada 1480 telah dipanggil untuk menanggung kesaksian tertinggi kepada Injil secara bersama – sama. Sekitar 800 orang, yang selamat dari pengepungan dan penyerbuan Otranto, telah dipenggal kepalanya di lingkungan kota itu. Mereka menolak untuk menyangkal iman mereka dan mati karena mengakui Kristus yang Bangkit. Dari mana mereka menemukan kekuatan tersebut untuk tetap setia? Dalam iman itu sendiri, yang memungkinkan kita untuk melihat melampaui batas penglihatan manusia, melampaui batas-batas kehidupan duniawi. Itu memberikan kita kesempatan untuk merenungkan “langit terbuka”, sebagaimana St Stefanus katakan, dan Kristus yang hidup di sebelah kanan Allah. Teman-teman terkasih, mari kita menjaga iman yang telah kita terima dan yang adalah harta sejati kita, mari kita memperbaharui kesetiaan kita kepada Tuhan, bahkan di tengah-tengah hambatan dan kesalahpahaman. Allah tidak akan membiarkan kita kekurangan kekuatan dan ketenangan. Sementara kita menghormati para martir dari Otranto, marilah kita meminta Allah untuk menguatkan semua orang Kristen yang masih menderita kekerasan sampai saat ini dan di banyak belahan dunia dan untuk memberi mereka keberanian untuk tetap setia dan untuk menanggapi kejahatan dengan kebaikan.

2. Kita boleh mengambil gagasan kedua dari kata-kata Yesus yang kita dengar dalam Injil: “Aku berdoa tidak hanya untuk mereka ini saja, tetapi juga bagi orang – orang yang percaya kepada-Ku melalui perkataan mereka, semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Kamu, agar mereka juga di dalam Kita “(Yoh 17:20). St Laura Montoya adalah instrumen evangelisasi, pertama – tama sebagai guru dan kemudian sebagai ibu spiritual dari masyarakat adat yang didalamnya ia menanamkan harapan, menyambut mereka dengan kasih yang ia pelajari dari Allah dan membawa mereka kepada Dia dengan pedagogi efektif yang memberikan penghormatan terhadap budaya mereka dan tidak bertentangan dengannya. Dalam karya penginjilannya Ibu Laura benar-benar membuat dirinya [menjadi] segala-galanya bagi semua orang, untuk meminjam kata-kata St Paulus (lih. 1 Kor 9:22). Hari ini juga, seperti garda depan Gereja, putri – putri spiritualnya hidup dan membawa Injil ke tempat-tempat terjauh dan paling membutuhkan.

Orang kudus pertama, yang lahir di negara indah Kolombia ini, mengajarkan kita untuk bermurah hati kepada Allah dan tidak untuk menghidupi iman dalam kesendirian – seolah-olah hal itu mungkin untuk menghidupi iman sendirian! – tapi untuk mengkomunikasikan ini dan untuk membuat sukacita Injil bersinar keluar dalam kata-kata kita dan dalam kesaksian hidup kita di manapun kita bertemu orang lain. Dimanapun kita mungkin berada, untuk memancarkan kehidupan Injil ini. Ia mengajarkan kita untuk melihat wajah Yesus yang tercermin pada orang lain dan untuk mengalahkan ketidakpedulian dan individualisme yang mengkorosi komunitas Kristen dan menggerogoti hati kita sendiri. Ia juga mengajarkan kita untuk menerima semua orang tanpa prasangka, tanpa diskriminasi dan tanpa keengganan, melainkan dengan cinta yang tulus, memberi mereka yang terbaik dari diri kita sendiri dan, terutama, berbagi dengan mereka harta paling berharga kita; hal ini bukan salah satu lembaga atau organisasi kita, tidak. Hal yang paling berharga yang kita miliki adalah Kristus dan Injil-Nya.

3. Terakhir, gagasan yang ketiga. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa dengan kata-kata: ” Aku telah memberitahukan kepada mereka nama-Mu dan Aku akan memberitahukannya, agar kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”(Yoh 17:26). Peristiwa kesetiaan martir sampai mati dan pewartaan Injil kepada semua orang berakar, memiliki akar mereka, dalam kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus (lih. Rom 5:5), dan dalam kesaksian yang harus kita tanggung dalam hidup kita untuk kasih ini.

St Guadalupe García Zavala sangat menyadari hal ini. Dengan menyangkal kehidupan yang nyaman – betapa besar mudarat yang diakibatkan oleh kehidupan yang mudah dan kesejahteraan; adopsi hati borjuis melumpuhkan kita – dengan melepaskan kehidupan yang mudah untuk mengikuti panggilan Yesus ia mengajarkan orang bagaimana mencintai kemiskinan, bagaimana merasakan kasih yang lebih besar bagi kaum miskin dan orang sakit. Ibu Lupita akan berlutut di lantai rumah sakit, di hadapan [seorang] yang sakit, dihadapan [seorang] yang ditinggalkan, dalam rangka untuk melayani mereka dengan kelembutan dan kasih sayang. Dan ini disebut [dengan] “sentuhan daging Kristus”. Orang miskin, orang yang ditelantarkan, orang sakit dan terpinggirkan adalah daging Kristus. Dan Ibu Lupita menyentuh daging Kristus dan mengajarkan kita perilaku ini: tidak untuk merasa malu, tidak untuk takut, tidak untuk berpikir “menyentuh daging Kristus” menjijikkan. Ibu Lupita menyadari apa arti “sentuhan daging Kristus” sebenarnya. Hari ini juga para putri spiritualnya mencoba untuk mencerminkan kasih Allah dalam karya amal, tak tanggung-tanggung dalam pengorbanan dan menghadapi setiap rintangan dengan kepatuhan dan dengan ketekunan apostolik (hypomonē), menanggungnya dengan keberanian.

Orang kudus Meksiko baru ini mengajak kita untuk mengasihi seperti Yesus mengasihi kita. Ini tidak berarti penarikan ke dalam diri kita, ke dalam masalah kita sendiri, kedalam ide-ide kita sendiri, ke dalam kepentingan kita sendiri, ke dalam dunia kecil yang sangat berbahaya bagi kita, melainkan untuk keluar dari diri kita sendiri dan peduli untuk mereka yang membutuhkan perhatian, pengertian dan bantuan, untuk membawa mereka kedekatan yang hangat akan kasih Allah melalui tindakan nyata dari kepekaan, kasih sayang yang tulus dan cinta.

Kesetiaan kepada Kristus dan Injil-Nya, untuk memberitakan mereka dengan kata-kata kita dan hidup kita, bersaksi tentang kasih Allah dengan cinta kita sendiri dan dengan amal kita semua: ini adalah contoh – contoh dan ajaran – ajaran yang bercahaya dari para orang kudus yang dikanonisasikan hari ini yang ditawarkan bagi kita tetapi juga mereka mempertanyakan kehidupan Kristen kita: bagaimana aku setia kepada Kristus? Mari kita ambil pertanyaan ini dengan kita, untuk berpikir tentang hal itu sepanjang hari: bagaimana aku setia kepada Kristus? Apakah aku bisa “membuat iman-ku dilihat dengan hormat, tetapi juga dengan keberanian? Apakah aku memperhatikan orang lain, apakah aku menyatari siapa yang membutuhkan, apakah aku melihat semua orang sebagai saudara dan saudari untuk dikasihi? Mari kita mohon kepada Tuhan, melalui perantaraan Santa Perawan Maria dan para kudus yang baru, untuk mengisi hidup kita dengan sukacita akan kasih-Nya. Semoga terjadi demikian.

 

(AR)

Paus Fransiskus,

Lapangan Santo Petrus, 12 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

 

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab