Home Blog Page 107

Detik Sejuta Arti

0

Perjumpaan dengan seorang pria bersama anak dan istrinya menyampaikan pesan.
Ia datang dari Paroki Santa Monika Serpong untuk berdiskusi tentang masa depan puteri bungsunya.
Pesannya akan ditangkap dalam kisah panggung kehidupan selanjutnya.

Wajahnya menghitam karena penyakit diabetes yang semakin parah karena kelelahan.
Usaha spareparts mobil dijalankannya di Lampung karena belum banyak saingannya.
Jauh dari keluarga merupakan konsekuensinya.
Teki-teki di otak banyak orang tentang ketidakbersamaannya setiap saat dengan keluarga dipendam di dalam hatinya.
Jauh dari keluarga merupakan penderitaan hatinya yang tak terselami.
Semua itu dilakoninya karena tiada pilihan lain untuk menghidupi keluarga.

Ketika anak bungsunya menyampaikan pertanyaan “Kapan Bapak mempunyai waktu lebih lama bersama kami”, ia menatapnya dengan mata yang berlinang.
Ucapannya sangat lirih karena mulutnya seakan-akan terkunci : “Bapak tidak perlu membela diri. Engkau tidak memahaminya sekarang. Ketika saatnya tiba, engkau akan mengerti bahwa ini adalah resiko dari kasih.
Ia kemudian mengatakan bahwa sebentar lagi akan pensiun sehingga bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari.
Tatapan matanya yang penuh arti terkuak tidak lama setelah percakapan dari hati ke hati.

Pagi hari, tanggal 16 Agustus 2013, ia bersama istri dan puteri bungsunya menjemput puteri sulungnya yang datang dari magang di luar negeri.
Ia kemudian memimpin doa di Gua Maria Gereja Trinitas Cengkareng untuk mensyukuri bahwa keluarganya telah berkumpul.

Kerinduannya itu diungkapkannya dalam telepon kepadaku pada tanggal 15 Agustus 2013.
Setelah makan bersama, ia menghembuskan nafas kehidupannya.

Ia menyudahi kehidupannya dengan memecahkan misteri selama ini.
Detik akhir kehidupannya memberikan makna dan sejuta arti.

Istri dan anak-anaknya berterimakasih kepada Tuhan karena telah dianugerahi suami dan ayah yang telah rela menderita, sakit, dan mati demi sebuah kasih.

Kini ia menikmati jerih payahnya di dalam kemuliaan surgawi.

Pesan yang indah untuk diresapi :

“Setiap keindahan tidak selamanya tersembunyi, tetapi senantiasa ada mata yang memandangnya. Setiap kebenaran tidak selamanya terlewati, tetapi pasti ada telinga yang mendengarnya. Setiap kasih yang tercurah dari hati yang murni senantiasa ada yang menerimanya”.

Tuhan Memberkati.
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Sudahkah Kita Rendah Hati?

1

Di suatu halaman Facebook, ada tertulis: “Jangan biarkan orang lain merendahkan kamu ..….” Ya, ada begitu banyak pesan di sekitar kita, yang intinya mendorong agar jangan sampai orang merendahkan kita. Maka tak heran, ada banyak orang, mungkin termasuk kita juga, yang tidak senang direndahkan, mudah sakit hati kalau orang merendahkan kita. Tapi apa pesan Yesus hari ini?

Kerendahan hati. Itulah pesan sederhana di awal Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2013 ini. Bacaan Injil hari ini mengisahkan saat Yesus mengamati bagaimana sikap orang-orang yang datang ke suatu perjamuan orang Farisi. Mereka berlomba-lomba menduduki tempat yang terpenting. Maka Yesus mengatakan perumpamaan ini, “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan….” (Luk 14: 8). Artinya, janganlah kita mencari penghormatan di mata manusia. Dunia mungkin mendorong kita untuk mencapai ketenaran ataupun pengakuan dari banyak orang. Namun hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kita hal sebaliknya, yaitu agar kita tidak mengejar ambisi untuk terlihat hebat atau terkenal di hadapan orang banyak. Mengapa? Sebab itu bukan jalan Tuhan yang membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Ada banyak orang yang terkenal di mata dunia, tidak merasa bahagia, dan bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Maka tak berlebihan, jika St. Agustinus mengatakan, “Kalau kamu bertanya kepadaku apa itu jalan Tuhan, aku akan menjawab bahwa yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati. Bukan berarti tidak ada lagi ajaran untuk diberikan, tetapi jika kerendahan hati tidak mendasari semua perbuatan kita, maka semua perbuatan kita menjadi tidak berarti….” Wow! Kalau begitu, apakah arti kerendahan hati? Kerendahan hati adalah hasil dari pengenalan akan diri sendiri dan pengenalan akan Tuhan, sehingga kita dapat mengakui bahwa kita ini bukan apa-apa di hadapan Tuhan, namun dikasihi oleh-Nya dan dilimpahi-Nya dengan rahmat. Maka, segala yang baik yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan, dan tak perlu membuat kita menjadi tinggi hati. Kita mensyukuri setiap talenta pemberian Tuhan itu, dan menyadari bahwa semua itu adalah untuk kita kembangkan demi kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, kerendahan hati yang sejati tidak bertentangan dengan kehendak yang sepantasnya untuk memperoleh kemajuan dalam kehidupan sosial ataupun perlakuan yang wajar seturut martabat manusia. Namun orang yang rendah hati tidak suka pamer ataupun mencari penghargaan dari orang lain. Sebab sesungguhnya kita ini hanya alat saja di hadapan Tuhan, yang dipercayakan oleh-Nya untuk membawa harta ilahi-Nya yang tiada ternilai. Sudahkah kita menjadi orang yang rendah hati?

Sapaan Allah di kesunyian Waghete

12

 

[Dari Editor: Terima kasih kepada Br. Dieng SJ, atas kesaksian yang indah ini. Sungguh, di hari peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-68 hari ini, baik jika kita mengarahkan perhatian kepada saudara-saudari kita di Papua, yang jauh dari hiruk pikuk dan kemajuan ibu kota, namun yang juga memerlukan uluran tangan dan doa-doa kita. Terima kasih atas karya kerasulan yang Bruder lakukan untuk masyarakat Papua, semoga Tuhan selalu memberkati Bruder. Teriring doa kami di katolisitas.org]

Ceritaku di Papua

Saat ini saya mempunyai nama panggilan baru, yaitu Bludel. Itulah nama yang diteriakkan anak-anak kecil ketika mereka bertemu dengan saya. Tanpa mempedulikan ingus mereka yang mengalir seperti angka sebelas, berulang-ulang mereka memanggil dengan meneriakkan bludel daa… Mereka juga tidak begitu peduli dengan lumpur yang berlepotan di kaki, bahkan tanpa mengenakan celana, hanya koteka.

Entah mengapa, ketika mengalami suasana itu, hati saya diliputi kegembiraan, senyum pun menghias di bibir. Saya merasakan penghiburan atas kepolosan, keceriaan dan keadaan apa adanya anak-anak itu. Saya juga merasa bahagia ketika mereka menyerukan ‘bludel’ dengan lidah mereka yang masih cedal. Seharusnya mereka memanggil saya ‘bruder’!  Tak apalah.

Ketika saya mengamati lebih dekat, wajah-wajah mereka tidaklah asing. Mereka adalah anak-anak TK Komugai di mana saat ini saya sebagai kepala sekolahnya. Mengurus anak-anak kecil ini bukanlah hal yang mudah. Mereka seperti lembaran-lembaran kertas putih yang siap untuk digoresi tinta masa depan. Melalui TK Komugai, anak-anak kecil itu telah mengambil langkah dini untuk maju dalam bidang pendidikan. Semoga, mereka nantinya menjadi generasi baru yang terdidik dan berpikiran maju.

Papuaisme

Saat ini, saya bersama dengan seorang teman Jesuit berkarya di sebuah paroki terpencil di pedalaman Papua. Tepatnya, kami berkarya di Paroki St. Yohanes Pemandi, Waghete. Paroki ini berada di wilayah Dekenat Paniai. Dekenat Paniai sendiri berada di bawah naungan keuskupan Timika. Paroki Waghete terletak 255 km dari kota Nabire. Kota Nabire ini terletak di Teluk Cendrawasih.

Seperti apakah Papua itu? Anda tidak akan pernah tahu persis yang sebenarnya hingga Anda berada di sana. Apalagi, ketika kita berbicara tentang Papua di daerah pedalaman. Rasanya, ada banyak hal jika dibicarakan tidak akan pernah selesai.

Sebagian orang menyebut bahwa karya di Papua itu adalah karya frontier. Kenyataannya memang demikian. Salah satu tanda ke-frontier-an itu bisa ditandai dengan adanya aneka tantangan dan keterbatasan yang ada, entah itu dari medan perutusan yang sulit, fasilitas kehidupan yang terbatas, komunikasi dengan dunia luar yang hampir tidak ada dan berhadapan dengan umat yang memiliki budaya yang sungguh berbeda.

Hanya sebagai gambaran kecil; mungkin, ini hanya terjadi di Papua, ketika kita harus naik pesawat hanya untuk membeli mie instan atau minyak goreng. Mungkin, ini juga hanya di Papua ketika kita harus menempuh jarak 70 km hanya untuk mengirim short messege service (SMS) atau menelepon. Mungkin hanya ada di Papua ucapan kartu Natal tiba pada saat masa Paskah dan sebaliknya. Dan, mungkin ini juga hanya di Papua ketika kita berjumpa dengan umat yang mengenakan koteka, moge (pakaian untuk perempuan) dan tarian susu.

Adanya tantangan dan keterbatasan-keterbatasan yang ada bagi kami bukan menjadi alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya, apa yang bisa kita buat dalam aneka tantangan dan keterbatasan tersebut. Saya sendiri merasakan bahwa kualitas pribadi dan keaslian diri saya justru tampak dengan jelas dalam situasi yang sulit. Apakah dalam situasi yang tidak mudah itu saya mampu keluar dan berbuat baik bagi sesama yang saya layani? Apakah dalam berbagai keterbatasan itu saya bisa tetap kreatif dan produktif?

TK Komugai

Sejak awal kehadiran Paroki Waghete di tengah-tengah suku Mee di Waghete 64 tahun yang lalu, bidang pendidikan telah menjadi perhatian utama. Maka sejak saat itu dibangunlah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di kompleks gereja. Berbagai macam usaha pendidikan pun dilakukan oleh para petugas gereja, bahkan oleh pastor, bruder dan suster yang ada. Namun, tantangan di bidang pendidikan ini serasa tidak pernah ada habisnya, entah itu karena sarana pendidikan yang terbatas, gedung-gedung sekolah yang tidak memadai dan tenaga pengajar yang kurang berkompeten. Perbaikan di sana-sini pun terus dilakukan.

Sejak tahun 2003 muncul inovasi baru di bidang pendidikan di Paroki Waghete, yaitu didirikannya TK Komugai. TK ini didirikan oleh Br. Norbert Mujiana, SJ, dan Rm. Eddy Anthony, SJ bersama umat. TK ini bisa disebut sebagai bentuk inovasi sebab kehadirannya berusaha menjawab salah satu kebuntuan bidang pendidikan saat itu. Atas keprihatinan bahwa kebanyakan anak-anak SD dan SMP belum bisa membaca, menulis dan menghitung.

Sejak tahun 2010, saya menerima tongkat estafet kepemimpinan di TK Komugai itu. Komugai sendiri berarti mengumpulkan atau memanfaatkan suatu hal atau barang-barang yang sudah ada dan menggunakannya dengan baik.

Dalam arti tertentu, mendampingi TK Komugai ini terasa menggembirakan, sebab setiap kali saya datang ke TK, saya bisa melihat keceriaan dan kepolosan anak-anak yang hitam kulitnya dan berambut keriting (seperti lagu yang sering dinyanyikan di sana,” hitam kulitku dan keriting rambutku…”) yang penuh semangat untuk belajar.

“Neng neng neng, neng neng neng dengarlah lonceng itu. Neng neng neng, neng neng neng itulah tanda waktu. Marilah kawan bentuk barisan di muka pintu. Masuk ruangan perlahan lahan bersama bu guru…”

Sebelum lagu di atas dinyanyikan dan anak-anak TK mulai masuk ke dalam kelas untuk belajar biasanya kami mengajukan beberapa pertanyaan: Siapa yang sudah mandi? Siapa yang belum mandi? Siapa yang tidak punya ingus di hidungnya? Siapa yang hidungnya masih beringus? Anak-anak pun di minta membersihkan dulu ingusnya—ini adalah pelajaran paling awal di muka kelas. Bagi yang belum mandi, mereka diminta untuk mencuci mukanya di bak air yang tersedia di samping kelas. Dengan kaki telanjang tanpa mengenakan apa pun, anak-anak masuk ke dalam kelas untuk belajar.

Menangkap Rahmat Tuhan

“Bludel daa” adalah ungkapan yang begitu sederhana, namun ungkapan tersebut menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Dalam arti tertentu, menjadi gembira dan merasa bahagia bagi saya adalah sebuah pilihan. Bisa saja situasi di sekitar saya sungguh-sungguh tidak memberikan ruang atau suasana yang menggembirakan, namun bukan berarti kegembiraan itu absen dengan juga darinya. Dalam situasi itu saya diajak untuk menjadi sungguh-sungguh peka, peka untuk melihat kehadiran Allah dalam bentuk apa pun. Ini adalah pilihan. Kehadiran anak-anak kecil di sekitar saya menjadi bukti bahwa kegembiraan itu tidaklah absen. Ketika kegembiraan hati semacam ini saya dapati, saya juga merasa bahagia.

Jika dirasakan lebih jauh, rasanya memang tidak mudah berkarya di tanah Papua dengan aneka keterbatasan dan tantangannya. Namun, di dalamnya saya justru merasakan bisa belajar banyak hal. Hal pertama yang masuk dalam permenungan saya adalah tentang keaslian diri. Dalam keadaan yang sulit dan penuh tantangan, kualitas pribadi menjadi taruhan. Apakah saya ini tipe orang yang tangguh? Apakah saya ini seorang yang dewasa? Apakah saya ini tipe orang yang setia dan kreatif, dan seterusnya? Membandingkan kehidupan di pedalaman Papua dengan kehidupan di Jawa tentulah tidak sepadan. Dalam keadaan ini saya belajar untuk mengenali diri lebih jauh, apa kekurangan dan kelebihan saya. Pengalaman ini pelan-pelan saya tangkap sebagai salah satu rahmat yang ditawarkan Tuhan kepada saya. Saya dituntun untuk mengenali diri lebih dalam.

Hal kedua yang saya kira tak kalah menariknya adalah perjumpaan saya dengan Allah secara pribadi. Hal seperti ini tidak pernah saya temukan sebelumnya pada saat di sekitar saya ada banyak sahabat, keluarga dan orang-orang yang saya kenal. Ketika berada di pedalaman Papua, mereka semua seperti hilang dan tercerabut. Di samping itu, saya juga cukup sering mengalami pengalaman hidup sendiri di tempat perutusan ini ketika teman Jesuit saya pergi. Ketika malam, gelap, sepi dan sendiri, saya menemukan bahwa pada akhirnya hidup ini adalah antara diri saya dengan Allah. Dalam gelap malam, kesepian dan kesendirian, sebagai orang yang beriman, saya hanya bisa bertumpu pada Allah semata. Rasanya, tidak ada tempat lain untuk berlabuh.

Berangkat dari pengalaman di atas, saya mencoba lebih peka dan atentif atas berbagai pengalaman harian saya. Saya pun kemudian diajak untuk tidak hanya bisa menemukan Allah dalam keadaan kegelapan, kesepian dan kesendirian, namun dalam keadaan apa pun adanya. Saya juga diajak untuk menemukan Allah melalui wajah dan tatapan anak-anak berkulit hitam dan berambut keriting. Kegembiraan berjumpa dengan mereka yang begitu polos dengan apa adanya diri mereka rupanya adalah sapaan Allah tersendiri dalam kehidupan harian saya.

Kepolosan dan sikap apa adanya di atas sebenarnya adalah gambaran hampir menyeluruh dari kehidupan umat di pedalaman Waghete. Mereka adalah manusia-manusia “telanjang” dari peradaban yang masih polos dan apa adanya—serba terbatas—yang hidup bersama dengan kita—yang lebih suka disebut sebagai manusia-manusia modern. Mengenali mereka adalah memahami tanpa memberikan jeda terhadap pemahaman kita. Karena mereka begitu berbeda. Untuk hal yang satu ini, saya secara khusus memohon rahmat kepada Allah.

Br Dieng SJ

Doa Puitis Menjelang Rosario Bumi: Peristiwa Gembira Ketiga

0

Pakaian Allah

Allah Bapa yang Mahakasih,

Engkau ternyata bukan Pribadi yang sulit untuk dikenal.

Pakaian keagungan-Mu terhampar dalam alam semesta.

Indahnya langit menjelang mentari tenggelam.

Tari-tarian dari gulungan ombak lautan lepas menambah cantiknya cakrawala.

Sungguh mengagumkan bahwa Engkau sudi berpakaian keindahan alam semesta

agar setiap mata mudah mengenalMu sebagai Bapa.

Keindahan pakaian-Mu merupakan sebuah percikan dari keindahan kasih-Mu yang tak terurai dengan kata.

Semoga kami dapat bermenung ditemani semilirnya angin sepoi-sepoi.

Sosok diri-Mu sebagai Sang Pencipta, yang penuh kasih, yang ingin menyelamatkan dunia

akan memenuhi alam pikiran kami.

Hati kami pun berbisik dalam doa :

Ya, Allah Bapa, betapa indah alam ciptaan-Mu.

Ia mengungkapkan kesempurnaan kasih-MU kepada kami.

Kami akan mengasihi sesama kami, yaitu manusia dan alam semesta, yang merupakan kilauan indah-Nya kasih-Mu yang hanya terselami dengan hati yang murni”.

Amin.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Tikar Pandan

0

Sinar Lampu bertengger di tengah gelap gulitanya malam.

Lampu di dalam kegelapan memberikan permenungan alami dalam Misa Pesta Pelindung Santo Yakobus Rasul – Paroki Citra Raya, Tangerang, pada tanggal 25 Juli 2013.

Lebih dari seratus bocah dan orang dewasa, memenuhi ruang dalam dan luar rumah.
Mereka sangat antusias untuk menerima pencerahan spiritual yang akan terkalung pada leher mereka selamanya.

Iman Santo Yakobus yang teguh dan semangat bajanya dijentrehkan/diterangkan dengan apa yang ada di dalam alam semesta.
Gelap gulita yang membentang menyadarkan kebutuhan akan perlindungan Tuhan atas ancaman dari kekuatan jahat.
Sunyi sepi tak akan menyeramkan karena kehadiran Tuhan, yang dilambangkan dengan terang lampu, tak akan pernah meninggalkan.

Hamparan tikar yang mereka duduki mengingatkan tikar plastik dan tikar pandan.
Tikar plastik dan tikar pandan melambangkan dua kekuatan besar di dalam dunia.
Tikar plastik buatan pabrik dan tikar pandan merupakan hasil anyaman tangan.
Tikar pabrik makin mendesak, tetapi tikar pandan bertahan.
Kekuatan dosa menyerang, tetapi kita bertahan karena kita adalah rajutan tangan Tuhan yang tentu sangat kuat karena kuasa Roh Kudus yang melindunginya.
Kemartiran terwujud dalam kesetiaan iman di tengah godaan yang ingin merenggut kebahagiaan yang kekal berkat senjata Allah yang ada di dalam diri kita.

Iman yang tangguh ada dalam diri anak-anak sehingga mereka disebut pemilik Kerajaan Allah.
Ketika aku sedang duduk bersila, seorang anak laki-laki tiba-tiba duduk di pangkuanku sambil berkata seperti orang dewasa : “Romo, sebentar lagi, aku duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Sekarang berarti kurang permainan dan tambah belajarnya karena aku sudah bertambah besar. Romo doakan aku ya, besok aku ulang tahun biar rajin belajar dan nanti naik kelas”.
Setelah berkata demikan dengan manjanya, ia ngluyur sambil membawa tas sekolah yang aku hadiahkan. Tas itu tampak lebih besar daripada badannya.

Di samping anak itu, aku melihat seorang wanita yang berusia lebih dari setengah baya tersenyum girang. Ternyata ia adalah neneknya.
Ia mengatakan : “Romo, lare jaler punika wayah kula. Kula, saking Jawi. Kula mriki amarginpun mboten saget dipisahaken sareng wayah kula. Kula ingkang njaggi lan ngopeni wayah kula punika wiwit tasih bayi amargi tiyang sepuhipun kedah nyambut damel ing Tangerang kagem nyekapi panguripan keluargi. Menawi ngomong, wayah kula punika kados tiyang sampun dewoso. Wasis…. sanget …ndamel ngangeni/Romo, anak laki-laki kecil itu cucu saya. Saya datang dari Jawa karena tidak bisa berpisah dengan cucu saya. Saya menjaga dan merawatnya sejak bayi karena orang tuanya harus bekerja di Tangerang untuk memenuhi kehidupan kami. Bicaranya kadang-kadang seperti orang sudah dewasa. Terampil banget dan lancar yang membuat saya sangat kangen padanya ”.

Pesan indah yang perlu dihidupi : Bila kita ingin mendapatkan kejayaan, janganlah cuma memandang tangga, tetapi kita harus belajar menaiki tangga. Kebahagiaan kekal bukan hanya sebuah tontonan yang indah, tetapi perlu perjuangan dengan berani melawati tangga-tangga kehidupan yang kadang-kadang membuat gemetaran. Iman memampukan tetap melangkah sampai pada kesudahannya. Tuhan mengenang orang yang tidak menuntut kehidupan serba mudah : “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14).

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kristen, muridku di Sekolah Minggu

3

anak kecilDidiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.(Amsal 22:6)

Dari sejumlah murid Sekolah Minggu di paroki Katedral Sacred Heart of Jesus, Keuskupan Galveston-Houston di mana saya membantu mengajar, Kristen, dengan rambut ikalnya yang dikepang kecil-kecil, memang tampak berbeda. Bukan karena dia satu-satunya anak berkulit hitam di kelas usia 7-9 tahun itu, tetapi keceriaannya yang sangat spontan selalu membuat saya betah mengajaknya mengobrol di sela-sela waktu kosong, sambil menunggu orangtuanya datang menjemput sesudah kelas usai.

Suatu hari saya bertanya kepada Kristen apa warna kesukaannya. “Green”, jawabnya segera, sambil memamerkan senyum cerianya yang khas. Ketika saya bertanya lebih lanjut, mengapa dia suka warna hijau, Kristen dengan spontan nyaris tanpa berpikir, menjawab, karena warna itu mengingatkannya pada uang. “I looovee money…” sambungnya lagi dengan penuh semangat. Ya, uang dollar Amerika memang berwarna kehijauan, terutama lembaran satu dollar, yang tentu lebih banyak dilihat dan dipegang anak seusia Kristen daripada lembaran dengan nilai yang lebih tinggi.

Saya agak terhenyak mendapat jawaban yang tidak terduga itu. Seorang anak 7 tahun yang mencintai uang. Saya bertanya kembali apa istimewanya uang baginya sehingga ia mencintai uang. Ia menjawab sambil memandang saya dengan mata polosnya yang berbinar-binar, “Because we can have everything we want with money”. Saya tersenyum, “smart girl”, pikir saya. Saya belum sempat bercakap-cakap lebih jauh dengan Kristen, ketika ibunya yang sedang hamil datang menjemputnya sambil menggandeng adiknya yang baru berumur 2 tahun. Setelah mengucapkan selamat tinggal, Kristen segera menghilang di balik pintu kelas dengan langkah melompat-lompat seperti seekor kelinci yang kegirangan. Saya tercenung menyadari tingkahnya yang penuh kegembiraan itu, sambil membayangkan apa yang dilakukan kedua orangtuanya dalam kehidupan keluarga sehari-hari, walau mungkin bukan sesuatu yang mereka sadari, sehingga di usia sedini itu Kristen mempunyai disposisi khusus kepada uang?

Betapa antusiasnya jiwa seorang kanak-kanak memandang kehidupan. Baginya segala sesuatu adalah baik adanya dan penuh dengan kemungkinan. Saya membayangkannya seperti mata Tuhan sendiri ketika pertama kali menciptakan kita. Semuanya baik, semuanya mungkin, semuanya mulia, karena Tuhan menciptakan dengan tujuan yang indah dan mulia sejak semula.

Usia kanak-kanak, terutama di saat usia dini sekitar usia 2-10 tahun, sangat ideal untuk memperkenalkan segala yang baik dan mulia yang diajarkan Tuhan, yang sangat penting sebagai landasan bagi manusia untuk menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Karena kepolosan dan rasa percayanya yang besar kepada kehidupan terutama kepada orang-orang dewasa yang menjadi figur panutannya, anak-anak akan mengikuti dengan sendirinya definisi yang kita berikan kepada mereka tentang kebahagiaan, tentang kesedihan, tentang nilai kehidupan, tergantung apa yang kita berikan kepadanya untuk dipercayai. Jika itu sesuatu yang luhur, maka seringkali jika hanya diungkapkan sekedar dalam kata-kata, nilai itu tidak menjadi miliknya. Tetapi bila hal itu dilihat dan dialaminya sendiri melalui perbuatan nyata, maka nilai itu menetap dan menjadi bagian dari diri mereka.

Pikiran saya melayang kepada keponakan saya di tanah air, yang seusia dengan Kristen. Pada Natal dua tahun lalu, saya mengajaknya merayakan kelahiran bayi Yesus dengan merelakan satu atau dua mobil-mobilan dari koleksi mobil mainannya yang sangat banyak, untuk diberikan kepada tetangga atau anak pembantu kami yang diketahuinya ingin mempunyai mainan tetapi tidak mempunyai uang untuk membelinya. Melihatnya lama menimbang-nimbang, tiba-tiba saya berkesempatan menegur diri saya sendiri, relakah saya sendiri juga melepaskan satu atau dua pasang sepatu saya dari kumpulan sepatu kesayangan saya untuk orang lain yang saya lihat sedang memerlukan? Bukan yang sudah mulai pudar warnanya atau yang sudah tidak muat lagi di kaki saya, tetapi yang masih bagus dan utuh, serta indah warnanya. Kalau saya meminta keponakan saya mempunyai nilai yang luhur untuk menjadi nilai yang diyakininya, saya harus mulai dengan diri sendiri dulu dan memberinya contoh nyata yang tidak akan dilupakannya. Oleh karena itu, mengajar nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak sesungguhnya adalah mengajar diri kita sendiri. Saya tidak dapat memberikan pengajaran nilai yang saya sendiri tidak mempraktekkannya. Jika hanya sekedar kata-kata dan nasehat yang saya sendiri belum tentu melakukannya, maka bukan hanya saya akan akan jatuh dalam dosa kemunafikan, anak-anak pun tidak akan menganggapnya cukup serius untuk dijadikan nilai hidup yang harus diperjuangkan.

Nilai-nilai takut akan Tuhan dan selalu berdoa untuk senantiasa dekat kepada Tuhan, mampu diserap dengan baik oleh anak-anak bila orangtua, sanak saudara, dan guru-gurunya juga senantiasa mempunyai sikap takut akan Tuhan dalam kehidupan nyata dan selalu berdoa dengan tekun siang dan malam. Sebaliknya, ketika saya mengajar mereka bahwa bergosip itu tidak baik dan menyedihkan hati Tuhan, tetapi saya masih membicarakan kelemahan pribadi tetangga atau membicarakan kesalahan orang lain di belakang punggungnya, maka anak-anak di sekitar saya akan menganggapnya sesuatu yang biasa dan lumrah untuk dilakukan.

Saya masih mempunyai pekerjaan rumah yang besar untuk Kristen, pekerjaan rumah bagi diri saya sendiri. Kelak Kristen akan mengerti bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa didapatkan dengan uang, dan tidak semua yang bisa didapatkan dengan uang akan membuat kita bahagia. Karena uang hanyalah sarana yang dikaruniakan Tuhan. Sebagaimana semangat kasih Tuhan yang mengaruniakannya sebagai suatu sarana, uang hanya akan benar-benar indah jika ia menjadi sarana untuk meringankan penderitaan dan kesusahan sesama manusia dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan, dan bukan hanya untuk memuaskan kesenangan diri kita sendiri. Itulah tujuan sebenarnya dari uang, sama seperti sarana-sarana lainnya dalam hidup. Namun proses seperti apa yang akan membuat Kristen mengerti, juga tergantung dari bagaimana orang-orang dewasa di sekitarnya menunjukkan jalan kepada pemahaman itu, dan orang terdekat itu adalah orangtua dan guru-gurunya, termasuk saya.

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 19:14)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab