Home Blog Page 108

Misteri Bahagia : Ratapan Penuh Iman

9

Baru sehari aku merasakan hidup dalam biara, telepon biara sudah berbunyi. Dari keluargaku. Adikku menanyakan apakah ada barang yang masih aku perlukan dalam biara. Semua sudah cukup di sini, jadi aku tidak perlu apa-apa lagi. Tapi, setelah itu, adikku menawarkan pada mamaku apakah ingin berbicara padaku. Ia hanya menangis, meminta agar aku pulang saja ke rumah. Seberapapun sedihnya hati ini, aku tidak bisa pulang. Ia memanggilku untuk suatu hal, untuk Gereja-Nya. Ijin dan restu dari orangtuaku adalah persembahan terbesar mereka bagi Tuhan dan diriku. Aku tidak bisa memberikan apapun, atau melakukan apapun untuk membalas kasih dari orangtuaku, bahkan seandainya aku tidak masuk biara. Selesai berbicara lewat telepon, aku hanya bisa berjalan ke kapel untuk bertemu Yesus dengan rantai Rosario dan hati yang memohon.

Maria Mendapat Kabar dari Malaikat Tuhan

Bunda Maria mendapat kabar dari Malaikat Gabriel. Kabar tersebut datang mendadak, tiba-tiba, tidak dapat diprediksi, dan membawa kabar yang tidak pernah bisa diduga seorangpun di dunia. Ia akan menjadi Bunda Allah. Kebingungan Bunda Maria sungguh besar, begitu pula ketidakpastian yang menunggu di masa depannya. Namun, dengan penuh iman, Bunda berkata : Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Mamaku juga terkejut dan terguncang mendengar kabar panggilan Allah dalam diriku. Ketidakpastian dan kebingungan meliputi hatinya. Kekhawatirannya akan hidupku nanti. Kehilangan yang ia rasakan. Tapi, di tengah kegelapan tersebut, ia telah menjawab, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Ya Allah, kupercayakan orangtuaku ke dalam Tangan Kasih-Mu.

Maria Mengunjungi Elizabeth

Bunda Maria yang mendapat kabar mengejutkan dari Malaikat Gabriel segera berangkat mengunjungi Elizabeth, saudarinya. Elizabeth, seorang wanita tua yang tiba-tiba mengandung. Maria, seorang wanita muda yang hamil sebelum bersuami. Pandangan negatif masyarakat Israel terhadap kejadian ini tentu saja tidak terelakkan. Namun, kedua wanita terberkati ini saling menguatkan. Mereka saling meneguhkan bahwa Allah berkarya dalam diri mereka. Perbuatan besar dikerjakan oleh Yang Mahakuasa.

Keluargaku bukanlah dari kalangan Katolik. Aku sendiri bukanlah seseorang dengan latar belakang yang bersih suci. Panggilan untuk mengikuti Yesus tentu saja tidak selalu ditanggapi secara positif oleh semua orang. Akan ada orang yang berkata,”Anaknya menjadi pastor Katolik, tuh. Kok eman ya? Kok sampai anaknya dibiarkan “hilang” begitu.” Ada juga yang mungkin berkata,”Aku tahu orang ini dari dulu. Orang bejat seperti ini jadi pastor? Nggak salah??” Tapi, orang tua dan saudara-saudaraku tetap mendukungku, dan aku senantiasa mempersembahkan mereka pada Allah. Ya Allah, kuatkanlah kami senantiasa dalam perjalanan kami.

Yesus Dilahirkan di Kandang Domba

Bunda sekeluarga tidak menemukan tempat tinggal. Hanya kandang hina yang tersedia. Betapa dingin malam itu. Betapa keras lantai kandang. Penuh tikus, domba, keledai, dan hewan-hewan lain. Di tengah penderitaan dan kehinaan itu, lahirlah Imam Agung yang akan menyelamatkan dunia. Ketika Yesus lahir, air mata penderitaan Bunda berubah menjadi air mata sukacita. Kehinaan kandang domba adalah kemuliaan Raja Semesta Alam.

Melepaskan putranya tentu bukan hal mudah bagi mama. Rasa kehilangan, kerinduan, impian yang terpendam. Penderitaan mama tentu berat sekali. Namun, demi menjawab panggilan Allah, ia rela menanggungnya. Sambil mengutip lagi homili imam yang pernah ia dengar, ia berpesan,”Mama sudah melahirkan kamu dua kali. Sebagai manusia, dan sebagai imam. Jangan membuat mama malu dan menyesal.” Ya Allah, semoga air mata duka mamaku yang kehilangan akan berubah menjadi air mata sukacita.

Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Bunda Maria bukanlah keluarga yang kaya raya. Ia hanya istri seorang tukang kayu biasa. Kehidupannya tidak glamor. Pada perayaan pemurniannya, St. Yusuf hanya bisa memberikan persembahan yang menjadi syarat keluarga miskin. Hartanya satu-satunya adalah Yesus. Namun, Bunda Maria tidak menuntut Harta Sejati untuk menjadi miliknya seorang. Sebaliknya, ia mempersembahkannya pada Allah.
Keluargaku memang berkecukupan, tapi kehidupan kami juga jauh dari mewah sekali. Sekalipun cukup, harta mamaku sebenarnya terletak pada anak-anaknya. Ia mencintai setiap anaknya seolah masing-masing mereka adalah anak tunggal. Kehilangan seorang anak sama seperti kehilangan anak satu-satunya. Namun, mama tidak kehilangan anak. Ia mempersembahkannya pada Allah. Kendati sebilah pedang menusuk hatinya, ia percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Ya Allah, terimalah persembahan keluarga kami.

Yesus Diketemukan di Bait Allah

Bunda Maria bingung dan khawatir karena Putra satu-satunya telah tiga hari tidak tampak. Tiga hari merupakan waktu yang sangat lama bagi Bunda, karena kedekatannya yang istimewa dengan Allah Putra. Keterpisahan barang semenit dari Allah terasa seperti kematian yang menggerogoti. Oleh sebab itu, betapa ia mengeluh mengapa Yesus meninggalkannya ketika ditemukannya Yesus dalam Bait Allah. Di balik keluhannya, dalam hati Bunda telah merasa damai. Ia telah menemukan kembali kebahagiaan jiwanya dalam Bait Allah.

Proses menjadi imam bukanlah mudah. Seorang calon imam dididik hingga rata-rata sepuluh tahun sebelum menjadi seorang imam yang tertahbis. Waktu yang sangat lama. Selama waktu itu, mamaku mungkin akan merasakan kehilangan yang berat. Tangisan mungkin kadang menghiasi malamnya sebelum tidur. Namun, ketika Allah berkenan membawaku ke dalam Bait-Nya, aku percaya mamaku akan melihat kebahagiaannya kembali, yakni bukti betapa Allah mengasihi aku dan keluargaku.

Ya Allah, dalam misteri Bahagia ini, kami persembahkan penderitaan kami sebagai wujud cinta kami sekeluarga untukMu. Semoga melalui penderitaan kami, Nama-Mu dimuliakan, Putra-Mu tersenyum manis, dan Roh Kudus bergelora gembira. Terimalah gulali sederhana ini, bertabur duka yang kami percaya akan membawa pula suka pada waktu-Mu.

“Cinta yang tidak mampu menderita, tidak pantas disebut sebagai cinta” – St. Clara
Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. (1 Pet 5 : 10).

Homili Misa Kudus Hari “Injil Kehidupan” (Evangelium Vitae)

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada 16 Juni 2013 dari Lapangan St Petrus:

Saudara-saudari terkasih,

Perayaan ini memiliki nama yang sangat indah: Injil Kehidupan. Dalam Ekaristi ini, dalam Tahun Iman, marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas karunia kehidupan dalam segala bentuknya, dan pada saat yang sama marilah kita mewartakan Injil Kehidupan itu.

Berdasarkan firman Allah yang telah kita dengar, saya ingin menyampaikan kepada kalian tiga poin meditasi sederhana untuk iman kita: pertama, Alkitab menunjukkan kepada kita Allah yang Hidup, Allah yang adalah hidup dan sumber kehidupan; kedua, Yesus Kristus menganugerahi hidup dan Roh Kudus memelihara kita dalam hidup, dan ketiga, mengikuti jalan Allah menuntun kepada kehidupan, sedangkan mengikuti berhala-berhala menggiring kepada kematian.

1. Bacaan pertama, diambil dari Kitab Kedua Samuel, berbicara kepada kita tentang kehidupan dan kematian. Raja Daud ingin menyembunyikan perzinahan yang ia lakukan dengan istri Uria, orang Het, seorang tentara dalam pasukannya. Untuk melakukannya, ia memberikan perintah agar Uria ditempatkan di garis depan sehingga terbunuh dalam pertempuran. Alkitab menunjukkan kepada kita drama manusia dalam semua realitasnya: baik dan jahat, gairah, dosa dan konsekuensinya. Setiap kali kita ingin menuntut diri kita sendiri, ketika kita menjadi terbungkus dalam keegoisan kita sendiri dan menempatkan diri pada posisi Allah, kita akhirnya berpijak pada kematian. Perzinahan Raja Daud adalah salah satu contoh dari hal ini. Keegoisan mengarah pada kebohongan, sebagai upaya kita untuk menipu diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Tapi Tuhan tidak bisa ditipu. Kita mendengar bagaimana nabi berkata kepada Daud: “Mengapa engkau melakukan apa yang jahat di mata TUHAN? (lih. 2 Sam 12:9). Raja itu dipaksa untuk menghadapi perbuatan-perbuatannya yang membawa pada kematian, apa yang telah dilakukannya adalah benar-benar perbuatan kematian, bukan kehidupan! Ia mengakui apa yang telah ia lakukan dan ia memohon pengampunan: “Aku telah berdosa kepada TUHAN!” (Ayat 13). Allah yang penuh kasih, yang menginginkan kehidupan dan selalu mengampuni kita, kini mengampuni Daud dan mengembalikan dia untuk hidup. Nabi mengatakan kepadanya: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu, engkau tidak akan mati”.

Gambaran [citra] apa yang kita peroleh tentang Allah? Mungkin Ia tampak kepada kita sebagai hakim yang keras, sebagai pribadi yang membatasi kebebasan kita dan cara kita menjalani hidup. Tapi Alkitab memberitahu kita di mana-mana bahwa Allah adalah Yang Hidup, Dia yang menganugerahi hidup dan menunjukkan cara untuk kepenuhan hidup. Saya pikir dari awal Kitab Kejadian: Allah membentuk manusia itu dari debu tanah; Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya, dan demikian manusia itu menjadi makhluk yang hidup (lih. 2:7). Allah adalah sumber kehidupan, berkat nafas-Nya, manusia memiliki hidup. Nafas Allah menopang seluruh perjalanan hidup kita di bumi. Saya juga berpikir tentang panggilan Musa, di mana Tuhan berkata bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Allah yang hidup. Ketika Dia mengirim Musa menghadap Firaun untuk membebaskan bangsa-Nya, Ia mengungkapkan nama-Nya: “Aku adalah Aku”, Allah yang masuk ke dalam sejarah kita, membebaskan kita dari perbudakan dan kematian, dan membawa kehidupan kepada bangsa-Nya karena Dia adalah Yang Hidup. Saya juga berpikir tentang karunia Sepuluh Perintah Allah: sebuah jalan yang Allah tunjukkan kepada kita menuju kehidupan yang benar-benar bebas dan memenuhi. Perintah-perintah itu bukan merupakan litani larangan – kalian tidak harus melakukan ini, kalian tidak harus melakukan itu, kalian tidak harus melakukan yang lain; sebaliknya, mereka adalah sebuah “Ya!” yang luar biasa: sebuah Ya untuk Tuhan, untuk Kasih, untuk hidup. Sahabat-sahabat terkasih, hidup kita dipenuhi dalam Allah saja, karena hanya Dia Yang Hidup!

2. Injil hari ini membawa kita satu langkah maju lagi. Yesus mengijinkan seorang perempuan berdosa untuk mendekatinya saat makan di rumah seorang Farisi, menjadi sandungan bagi mereka yang hadir. Tidak hanya Dia membiarkan perempuan itu mendekati, tetapi Ia bahkan mengampuni dosa-dosanya, dengan berkata: “dosanya yang banyak itu telah diampuni, oleh karena ia telah banyak berbuat kasih; tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit [juga ia] berbuat kasih” (Luk 7:47). Yesus adalah inkarnasi dari Allah yang Hidup, seorang yang membawa kehidupan di tengah begitu banyaknya perbuatan-perbuatan mematikan, di tengah dosa, keegoisan dan penyerapan diri. Yesus menerima, mengasihi, meninggikan, mendorong, mengampuni, mengembalikan kemampuan untuk berjalan, memberikan kembali kehidupan. Sepanjang Injil kita melihat bagaimana Yesus dengan kata-kata dan perbuatan-perbuatan-Nya membawa hidup Allah yang mengubah. Ini adalah pengalaman perempuan itu yang mengurapi kaki Tuhan dengan minyak: ia merasa dipahami, dicintai, dan ia telah menanggapinya dengan sikap kasih: ia membiarkan dirinya disentuh oleh belas kasihan Tuhan, ia memperoleh pengampunan dan ia memulai hidup baru. Allah, Yang Hidup, penuh dengan belas kasihan. Apakah kalian setuju? Katakanlah bersama-sama: Allah, Yang Hidup, penuh dengan belas kasihan! Semua bersama-sama sekarang: Allah, Yang Hidup, penuh dengan belas kasihan. Sekali lagi: Allah, Dia yang Hidup penuh dengan belas kasihan!

Ini juga adalah pengalaman Rasul Paulus, seperti yang kita dengar dalam bacaan kedua: “Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Putra Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Apakah hidup ini? Ini adalah hidup Allah sendiri. Dan siapa yang membawakan kita hidup ini? Ini adalah Roh Kudus, karunia Kristus yang bangkit. Roh itu menuntun kita ke dalam hidup ilahi sebagai anak-anak Allah yang sejati, sebagai putra putri dalam Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus. Apakah kita terbuka untuk Roh Kudus? Apakah kita membiarkan diri dibimbing oleh-Nya? Kristen adalah “spiritual”. Ini tidak berarti bahwa kita adalah orang-orang yang hidup “di awan”, jauh dari kehidupan nyata, seolah-olah itu semacam fatamorgana. Tidak! Orang Kristen adalah seorang yang berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kehendak Allah, seorang yang memperkenankan hidupnya untuk dibimbing dan dipelihara oleh Roh Kudus, untuk hidup penuh, suatu kehidupan yang layak bagi putra putri sejati. Dan ini memerlukan realisme dan buah melimpah. Mereka yang membiarkan diri mereka dipimpin oleh Roh Kudus adalah realis, mereka tahu bagaimana untuk mensurvei dan menilai realitas. Mereka juga berbuah, hidup mereka membawa kehidupan baru bagi kelahiran di sekitar mereka.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita melihat kepada Allah sebagai Allah Kehidupan, mari kita melihat ke hukum-Nya, ke pesan Injil, sebagai jalan menuju kebebasan dan kehidupan. Allah yang Hidup membebaskan kita! Mari kita mengatakan “Ya” untuk mengasihi dan tidak mementingkan diri sendiri. Mari kita mengatakan “Ya” untuk kehidupan dan tidak untuk kematian. Mari kita mengatakan “Ya” untuk kebebasan dan tidak untuk perbudakan kepada banyak berhala dari zaman kita. Dalam sebuah kata, mari kita mengatakan “Ya” kepada Allah yang adalah kasih, kehidupan dan kebebasan, dan Yang tidak pernah mengecewakan (lih. 1 Yoh 4:08, Yoh 11:02, Yoh 8:32); mari kita katakan “Ya “kepada Allah, Dia yang Hidup dan yang penuh dengan belas kasihan. Hanya iman kepada Allah yang Hidup menyelamatkan kita: pada Allah yang dalam Yesus Kristus telah memberi kita hidup-Nya sendiri oleh karunia Roh Kudus dan telah memungkinkan untuk hidup sebagai putra putri sejati Allah melalui rahmat-Nya. Iman ini membawa kita kebebasan dan kebahagiaan. Mari kita memohon Maria, Bunda Kehidupan untuk membantu kita menerima dan menjadi saksi tetap bagi “Injil Kehidupan” itu. Amin.
(AR)

Paus Fransiskus

Sumber:
http://www.vatican.va/holy_father/francesco/homilies/2013/documents/papa-francesco_20130616_omelia-evangelium-vitae_en.html

Bengkel Kehidupan

0

Serat-serat lampu menembus deretan umat yang sedang berdiri untuk menerima berkat ulang tahun kelahiran dan perkawinan dalam Misa pesta nama Lingkungan Santo Barnabas, Paroki Santa Odilia, Tangerang, pada tanggal 11 Juni 2013.

Aku terperanjat dengan kehadiran seorang pria gagah yang didampingi istrinya tercinta yang penuh khidmat menimba berkat atas ulang tahun pernikahan mereka.

Andito, namanya tertulis dalam ingatanku karena peristiwa yang menyentaknya, keluarganya, dan teman-temannya dalam waktu singkat.
Aku pernah memberikan Sakramen Perminyakan Suci kepadanya di sebuah rumah sakit di Semanggi, pada pukul 02.00 dini hari ketika nyawanya sudah berada di ujung tanduk akibat terdapat pembuluh darah di otaknya yang menggelembung dan sudah bocor.
Pada waktu itu, ia masih muda, berusia tiga puluh tujuh tahun.
Kejadian itu justru terjadi ketika ia sedang menjalankan tugas dari Tuhan menjadi bendahara panitia Natal paroki.

Operasi kateterisasi (angiography) pemasangan semacam koil di pembuluh darah yang telah bocor telah dilaksanakan dengan resiko kena stroke.
Setelah operasi, ia tak sadarkan diri.
Istrinya sudah tidak bisa berharap kepada kekuatan apapun di dunia selain memohon keajaiban Tuhan melalui doa novena terus menerus yang dibungkus dengan tumpahan air matanya dan bersama-sama umat lingkungannya.

Ketika istrinya mendatanginya, begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya.
Ia tiba-tiba menggerakkan kakinya dan membuka matanya.
Ia sadar jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan karena mungkin aura kedatangan istrinya tercinta memulihkannya segera.

Evaluasi medis menunjukkan bahwa kondisi pembuluh darahnya bagus dan bisa pulang ke rumah walaupun dengan kondisi setengah lumpuh akibat stroke.
Dengan dukungan istrinya, ia bertekun melatih diri untuk menyembuhkannya dari kelumpuhannya.
Puji Tuhan kondisinya sekarang sudah membaik, bisa bekerja dan beraktivitas seperti sedia kala.

Istrinya memaknai peristiwa yang menimpa suaminya yang dapat aku istilahkan dengan tiga kata “Terpana dalam Gulita”.
Banyak mukjizat didapatkannya.
Semua jalan terbuka dengan mudahnya.
Kepanikan dapat diatasinya sehingga pertolongan pertama dapat dilakukannya.
Tim dokter yang hebat disediakannya.
Biaya besar dapat diatasinya.
Pemulihan suaminya sungguh merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa.
Ia mensyukurinya dengan berdoa dan mencium salib di ruang doa pastoran karena Ia wafat dan bangkit untuk memulihkan kehidupannya.

Pesan sukacita iman yang perlu disyukuri : “Tangan Tuhan memeluk dan menjaga kita setiap detik”.

Ketika ada sesuatu yang kurang beres dalam hidup kita, kita membawanya kepada Bengkel Kehidupan, yaitu Tuhan Allah yang menciptakan kita.
Karena Dia menciptakan kita, Dia tahu seluk beluk dalam diri kita.
Dia akan membereskan kehidupan kita secara tepat dan jitu.
Kita akhirnya lebih dari pemenang karena Tuhan telah mengasihi kita : “tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37).

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Dekapan Tuhan

0

Bahana rindu untuk mensyukuri kebaikan Tuhan terpancar seperti harum bunga dari lagu pujian awal “Tuhan itu Baik” yang dinyanyikan sebelum Misa Pembukaan Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santo Lukas (PDKK Para Medis), pada tanggal 21 Juli 2013 di Gedung Shekinah, Jakarta Pusat.

Ratusan umat larut dalam sukacita atas kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan.

Acungan jempol dari muka-muka yang gembira dan bibir-bibir yang tersenyum dipersembahkan kepada Tuhan Yesus yang senantiasa baik kepada umat-Nya.

Pengalaman bahwa dunia tidak akan pernah menjauhkan umat Tuhan dari kasih-Nya membawa jiwa masuk ke dalam penyembahan kepadaNya.

Hadirat Tuhan dirasakan begitu dekat sehingga menggetarkan relung-relung jiwa.

Getaran spiritual itu menciptakan suasana doa yang khusuk dan khidmat.

Kedekatan dengan Tuhan memberanikan diri mohon kekuatan, penyembuhan, dan peneguhan melalui doa penumpangan tangan dari imam-Nya.

Sabda Tuhan Yesus dalam Matius 21: 22 “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” menjadi penopang keyakinan bahwa kuasa Allah pasti terjadi bagi orang yang percaya.

Seorang kakek, berusia delapan puluh tujuh tahun, meyakini kekuatan doa itu.

Setelah pelayanan doa purna, ia tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan berkata : “Romo, istri saya belum didoakan. Maaf istri saya sudah berumur delapan puluh sembilan tahun sehingga ia tidak bisa berdiri ketika romo mendoakan umat”.

Setelah menerima doa, kakek dan nenek itu dengan wajah gembira mengatakan bahwa usia pernikahan mereka telah berusia enam puluh delapan tahun.

Mereka sangat berterimakasih kepada Tuhan karena telah dianugerahi tiga anak dan enam cucu.

Kunci kelanggengan pernikahan mereka dinyatakan dalam syair iman : “Duduk diam mendengarkan Tuhan dalam doa bersama membingkai keteguhan cinta mereka. Cinta yang terus dirajut bersama Tuhan membuat mereka menikmati kebahagiaan sejati kini dan di surga nanti. Pernikahan suci merupakan salah satu kunci untuk memasuki gerbang Surga”.

Pesannya : “Jangan risaukan apa yang belum kita dapati, tetapi risaukan apa yang belum kita syukuri.

Kebaikan Tuhan tak akan pernah berhenti nampak gamblang bagi hati yang dipenuhi dengan rasa syukur.

Kerisauan dan kesepian yang senantiasa menggoda hati tidak akan membunuh kebahagiaan di dalam gelanggang kehidupan ini karena Tuhan senantiasa menyertai: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman” (Matius 28:20).

“Tuhan senantiasa mendekap anak-anak-Nya yang mau menyembah dan memujiNya setiap hari”.

Bergabunglah dalam Misa Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santo Lukas setiap Minggu ketiga pukul 10.00 pagi, anda pasti akan merasakan dekapan kasih Ilahi.

Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Anak Panah Kehidupan

2

Perayaan Ekaristi malam ini merupakan kado istimewa ulang tahun ketujuh puluh delapan seorang bapak yang terbaring lemah karena kanker ganas yang telah menjalar ke seluruh darahnya.

Ia mengetahui bahwa perayaan ulang tahunnya dalam Ekaristi ini merupakan perayaan ulang tahunnya yang terakhir walaupun istri dan anak-anaknya merahasiakan penyakit yang sebenarnya.

Ia tidak memprotes kerahasiaan ini karena ia menyadari bahwa mereka tidak mau membuatnya jatuh dalam keputusasaan yang tentu akan memperparah keadaannya.

Ia benar-benar menghidupi makna cinta yang terasa indah walaupun ajal sudah di ambang mata.

Ia mengungkapkan penghayatannya akan makna cinta dengan suara yang masih jelas dan yang keluar dari kedalaman batinnya :

Romo, hatiku sangat bergembira sekali dengan perayaan ulang tahun terakhirku ini. Dalam perayaan ulang tahunku ini, aku mensyukuri kelahiranku sebagai benih cinta Tuhan yang ditanamkan dalam kehidupanku. Aku telah berhasil membangun cinta dalam keluargaku bersama istri, dan empat anak yang memberikan cucu-cucu yang menyenangkan. Terimakasih cinta karena engkau mengajariku tentang kematian yang bermakna”.

Setelah mengungkapkan kegembiraan hatinya, ia memelukku sambil membisikkan kata-kata yang mengharukan : “Romo, aku mengangkat Romo menjadi anak sulungku karena telah menjadi orang pertama yang mendengarkan kesimpulan sejarah kehidupanku”.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala menahan banjir tangis di kerongkongan.

Ia menjabat tanganku kuat-kuat dan berkata : “Aku akan menunjukkan ketegaran di sisa-sisa hidupku demi anak cucuku. Aku harap Romo menemaniku ketika Malaikat Mikael siap menjemputku”.

Satu bulan kemudian keadaannya semakin memburuk.

Ia pun meminta seorang anaknya memanggilkanku.

Aku datang pukul 12.30 dini hari dan langsung duduk di sampingnya.

Kata-kata perpisahan disampaikan dengan penuh makna :

“Nafas ilahi dalam diriku telah berada di dalam ujung tenggorokanku yang membuat dadaku terasa sangat sesak. Aku sadar bahwa tidak lama lagi nafasku akan meninggalkan ruang di dadaku. Nyawaku siap diambil sang Pemiliknya untuk hidup bahagia di surga karena telah membangun rumah cinta di dunia. Tinggal di rumah Tuhan itulah satu-satunya keriduanku”.

Aku pun menyanyikan lagu “Satu Hal Yang Kurindu” untuk mengiringi kembalinya ke rumah Bapa :

Berdiam di dalam rumah-Mu
Satu hal yang kupinta
Menikmati bait-Mu Tuhan

Lebih baik satu hari di pelataran-Mu
Dari pada s’ribu hari di tempat lain
memujiMu menyembahMu
Kau Allah yang hidup
Dan menikmati s’mua kemurahan-Mu.

Esok harinya Ia menghadap Allah Bapa dengan tenang dan damai.

Ia memberikan pesan kehidupan yang bisa kita maknai:

“Sadarilah bahwa hidup ini bagaikan sebuah anak panah yang telah tertarik oleh busur kematian dan tidak ada yang menyangka akan meninggalkan busur kehidupan di dunia. Bangunlah anak panah ini dengan cinta sehingga akan sampai pada tempat cinta yang kekal, yaitu surga yang tak akan pernah binasa”.

Tuhan Memberkati
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Rukun Itu Indah

0

Waktu satu jam yang sangat indah untuk dinikmati dalam  kebersamaan antar tokoh agama, masyarakat, pemerintahan, dan keamanan Kecamatan Panongan- Tangerang – Banten.

Pertemuan singkat yang penuh makna ini diadakan di aula Taman Kanak-Kanak Tarakanita di samping Gereja Katolik Santa Odilia Citra Raya-Tangerang, pada tanggal 02 Agustus 2013.

Pertemuan ini dihadiri sekitar empat puluh lima orang dan  dipandu oleh Haji Yaya yang didampingi sesepuh umat Islam dan masyarakat Panongan, yaitu Haji Wawa.

Kedua tokoh agama Islam ini besysukur bisa menjadi perintis toleransi antar agama.

Kedua tokoh ini ikut  meletakkan batu pertama berdirinya Gereja Santa Odilia yang dibangun hampir bersamaan dengan Islamic Centre.

Haji Yaya juga ikut meletakkan batu pertama pembangunan gedung Pelayanan Santo Damian di kompleks Gereja Santa Odilia tiga tahun silam.

Letak Gereja  Katolik Santa Odilia dan Islamic Centre  yang  berdekatan di perumahan Citra Raya menjadi simbol kerukunan antar umat beragama.

Sambutan-sambutan mengungkapkan kenangan yang indah atas pengalaman kebersamaan dalam perbedaan.

Suster Melani CB, sebagai tuan rumah, berterimakasih kepada para tokoh agama, masyarakat, dan pemerintahan atas bantuannya sehingga Sekolah Tarakanita di Citra Raya ini bisa berdiri.

Keluarga besar Sekolah Tarakanita dan Kongregasi CB merasa aman di lingkungan ini.

Wakil dari Bapak Camat Panongan juga mengungkapkan kebanggaannya dengan Sekolah Taranita karena Sekolah Tarakanita  Gading Serpong mewakili Provinsi Banten menjadi sekolah sehat sehingga Bapak Bupati Tangerang sudah berkali-kali mengunjunginya.

Nasihat Haji Yaya sangat menarik untuk diresapkan di dalam hati : “Tuhan bisa saja menjadikan manusia satu warna. Akan tetapi, Tuhan menciptakannya dengan berbagai warna karena dunia akan indah kalau warna-warni”.

Saat berbuka puasa bersama, Haji Wawa yang sekarang berusia tujuh puluh tiga tahun menyampaikan kata-kata bijaksana : “Romo, tolong doakan saya agar tetap diberi kesehatan dalam umur yang mulai tua ini. Semoga kerukunan antar agama yang kami rintis menjadi sejarah yang tertanam dalam hati banyak orang sehingga menjadi cerminan untuk senantiasa memeliharanya”.

Pesan yang dapat  saya simpulkan  : “Musik  yang bagus berawal dari suara dan tangga nada yang berbeda. Ketika perbedaan itu dipadukan dengan niat  yang tulus, simponi hidup akan terasa indah dan menyenangkan”.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab