Home Blog Page 106

Ingat Apa di Hari Ulang Tahun?

0

Kue tart. Tiup lilin. Lagu Happy Birthday. Kado. Mungkin itu yang nyantol di pikiran banyak orang, begitu mendengar kata ‘ulang tahun’. Mungkin ketika kita masih anak-anak, hal-hal itulah juga yang muncul di pikiran kita, jika kita berulang tahun. Tapi seiring dengan bertambahnya umur, kita melihat bahwa peringatan ulang tahun bermakna lebih dalam daripada sekedar berhura-hura. Ulang tahun semestinya membuat kita bersyukur untuk karunia hidup yang sudah Tuhan anugerahkan kepada kita. Ulang tahun adalah saat untuk merenungkan apakah waktu yang sudah Tuhan beri kepada kita, telah kita gunakan sesuai dengan kehendak-Nya. Apakah kita sudah sungguh mengasihi Tuhan baik di saat senang ataupun susah?

Hari ini Gereja memperingati hari kelahiran Bunda Maria. Namun Injil hari ini tidak bernuansa hura-hura. Sebaliknya, Injil mengisahkan tentang bahwa kita perlu memanggul salib. Lho, kok gitu?! Ya, karena bagi kita umat Kristiani, salib tidak terpisahkan dari makna dan sukacita kehidupan. Bukankah tidak menjadi rahasia, bahwa saat-saat bahagia umumnya dicapai melalui pengorbanan? Sukacita akan kelahiran anak dicapai melalui pengorbanan ibunya selama 9 bulan mengandung dan mengalami sakit melahirkan. Kebahagiaan keluarga dicapai melalui pengorbanan orang tua. Lulus sekolah dicapai dari bertahun-tahun jerih payah belajar. Dan masih banyak contoh lain, termasuk hal pertumbuhan rohani untuk menjadi murid Kristus. Kedewasaan iman kita dibuktikan dengan seberapa tulus kasih kita kepada Tuhan, yaitu dengan kesediaan untuk mengikuti-Nya dengan setia memikul salib kita sehari-hari. Yesus bersabda, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku…. yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:27,33)

Maka, murid Yesus yang tulus hati adalah ia yang setia mengikuti Yesus, tanpa mengharapkan balasan apapun, tanpa takut akan kesulitan yang dihadapi. Ketulusan ini dinyatakan dengan keterpautan hati sepenuhnya kepada Tuhan. Jika kita mau menjadi murid Tuhan, kita tak boleh menolak salib, dan kita tidak sepantasnya menempatkan milik kita: kekayaan, kecantikan, nama baik, dst- di tempat utama di hati kita, yang harusnya menjadi milik Tuhan. Untuk itulah kita perlu melihat teladan Bunda Maria. Ia mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, saat ia berkata: “Terjadilah padaku, menurut perkataan-Mu.” (Luk 1:38) Bunda Maria menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, tanpa takut menanggung derita, dan ia taat setia menyertai Putera-nya sampai akhir.

Selamat ulang tahun, Bunda Maria. Doakanlah kami agar kami dapat menjadi murid Kristus, dan makin hari kami dapat makin lebih tulus mengasihi Dia.

[Minggu Biasa XXIII: Keb 9:13-18; Fil 1:9-17; Luk 14: 25-33]

Apa maksud ‘pakaian pesta’ (Mat 22:11-12)?

3

Penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, OSB, tentang ayat Mat 22:11-12 tersebut adalah:

“…. Adalah tidak mengherankan jika ada tamu-tamu yang tidak berpakaian yang layak untuk pesta, karena mereka telah terburu-buru datang ke pesta dan seolah dikumpulkan tanpa dipilih-pilih. Maka keputusan sang raja hanya dapat dibenarkan jika kita mengasumsikan bahwa alasan mereka berpakaian seadanya itu adalah suatu kesalahan yang disengaja. [Namun] perumpamaan tidak ditujukan untuk menjelaskan detail-detail semacam ini. Kita diharapkan untuk melihat secara otomatis, bahwa ‘pakaian pesta’ adalah simbol yang mewakili kelayakan bagi Kerajaan. Kurangnya kelayakan tersebut, jelas merupakan kesalahan yang disengaja, dan tidak perlu dijelaskan lagi. Orang itu tak memiliki excuse/ tak dapat mengelak. Raja mengeluarkan keputusan dan pesta dimulai atau dilanjutkan dengan keadaan yang baru, yaitu menjadi pesta di mana semua yang hadir adalah sempurna…..”

Haddock’s Commentary menjelaskan tentang makna ‘pakaian pesta’ dalam Mat 22:11-12 tersebut demikian:

“St. Agustinus mengatakan bahwa pakaian pesta itu adalah … perbuatan cinta kasih. Inilah yang juga diajarkan oleh St. Gregorius, St. Ambrosius dan lainnya. Apa yang dijabarkan oleh St. Yohanes Krisostomus, bahwa itu adalah kehidupan yang murni, atau kehidupan yang bersinar dengan kebajikan, bebas dari dosa, adalah hampir sama dengan cinta kasih, sebab cinta kasih tidak dapat ada tanpa kehidupan yang baik, demikian juga kemurnian hidup yang baik, tidak dapat ada tanpa cinta kasih. Di homilinya yang ke-70, St. Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa pakaian kehidupan adalah perbuatan-perbuatan kita, … agar jangan orang menganggap bahwa iman saja cukup untuk keselamatan. Maka ketika kita dipanggil oleh rahmat Tuhan, kita diberi jubah putih, untuk kita jaga dari noda dosa, dari setiap dosa berat, tergantung dari ketekunan (berjaga dan berdoa) dari setiap individu….”

Rahmat untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain

0

Semoga Tuhan memberi kita rahmat-Nya untuk menjaga lidah kita menjadi berhati-hati dengan apa yang kita sampaikan tentang orang lain, karena melalui kelemahan dan dosa kita, kita sering lebih mudah menghina dan merendahkan daripada mengatakan atau melakukan yang baik. Hal ini merupakan pelajaran hati dari homili Paus Fransiskus saat Misa Kamis pagi [13/06/2013], yang dirayakan dalam bahasa asalnya, bahasa Spanyol. Dalam menyampaikan salam kepada para bapak dan ibu yang bekerja di kedutaan Argentina dan konsulat Italia dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di Roma, Paus Fransiskus mencatat “Ini pertama kalinya saya merayakan Misa dalam bahasa Spanyol lagi sejak 26 Februari !” katanya menambahkan, “senang rasanya!”. Emer McCarthy melaporkan:

Sebagaimana tradisinya, homili Paus Fransiskus terinspirasi oleh Injil hari itu, dalam kata-kata tertentu Kristus kepada murid-murid-Nya “Jika hidupmu tidak lebih benar daripada hidup ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Paus mencatat bagaimana Injil ini mengikuti Sabda Bahagia dan janji Yesus bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Paus Fransiskus mengatakan bahwa Kristus menginginkan “reformasi dalam kontinuitas: dari pembenihan hingga pembuahan”.

Paus Fransiskus memperingatkan bahwa siapa pun yang “memasuki kehidupan Kristiani” akan “dituntut lebih besar dari mereka daripada lainnya” dan bukannya “keuntungan-keuntungan besar”. Ia mengatakan Yesus menyebutkan beberapa tuntutan ini, khususnya masalah “hubungan buruk di antara saudara-saudara”. Jika hati kita menyembunyikan “perasaan buruk” terhadap saudara-saudara kita, Paus mengatakan, “sesuatu ada yang tidak beres dan kita harus mengkonversinya, kita harus mengubahnya.” Paus Fransiskus mencatat bahwa “kemarahan terhadap seorang saudara adalah sebuah penghinaan, sesuatu hal yang hampir mematikan”, “itu membunuhnya.” Dia kemudian mengamati itu, terutama dalam tradisi Latin, ada “kreativitas indah” dalam menciptakan julukan. Tapi, ia mengingatkan, “jika julukan ini ramah, hal ini baik-baik saja, masalahnya adalah ketika ada jenis lain dari menjuluki”, ketika “mekanisme penghinaan” ikut bermain ke dalam, yang merupakan “bentuk fitnah terhadap orang lain”.

“Y no hace falta ir al psicologo…” – Dan kamu tidak perlu pergi ke psikolog …”

Paus Fransiskus melanjutkan: “Tidak perlu pergi ke psikolog untuk mengetahui kalau kita mencemarkan orang lain oleh karena kita tidak mampu bertumbuh hingga perlu meremehkan orang lain, agar merasa lebih penting.” Hal ini, katanya, adalah “mekanisme buruk”. Yesus dengan segala kesederhanaan-Nya mengatakan: “Jangan berbicara keburukan satu sama lain. Jangan merendahkan satu sama lain. Jangan meremehkan satu sama lain.” Paus mencatat, “pada akhirnya kita semua melangkah pada jalan yang sama”, “kita semua melalui jalan itu yang akan membawa kita sampai akhir.” Oleh karena itu “jika kita tidak memilih jalan persaudaraan, maka akan berakhir buruk, baik bagi orang yang menghina maupun yang dihina”. Paus mencatat bahwa “jika kita tidak mampu menjaga lidah kita terawasi, kita kalah”. “Agresi Alam, yaitu Kain terhadap Habel, berulang sepanjang sejarah.” Paus Fransiskus mengamati itu bukan bahwa kita jahat, melainkan “kita lemah dan berdosa.” Itulah sebabnya mengapa kita “lebih mudah” menyelesaikan situasi dengan penghinaan, dengan fitnah, dengan pencemaran nama baik, bukannya menyelesaikan dengan cara yang baik”.

“Yo quisiera pedir al Señor que…”- Saya akan memohon kepada Tuhan…

Paus Fransiskus menyimpulkan: “Saya akan mohon Tuhan untuk memberi kita semua rahmat yang menjaga lidah kita, mengawasi apa yang kita katakan tentang orang lain.” “Ini adalah sebuah penebusan dosa kecil – ia menambahkan – tapi itu menghasilkan banyak buah”. “Kadang-kadang, kita lapar dan berpikir, ‘Sayang sekali aku tidak mencicipi buah komentar lezat terhadap orang lain.” Tapi, katanya, “kelaparan yang menghasilkan buah dalam jangka panjang adalah baik untuk kita.” Itulah sebabnya mengapa kita memohon kepada Tuhan atas rahmat ini: untuk mengadaptasi hidup kita terhadap “hukum baru ini, yang mana merupakan hukum kelemahlembutan, hukum kasih, hukum perdamaian, dan setidaknya ‘pangkas’ lidah kita sedikit, ‘pangkas’ komentar-komentar yang kita buat tentang orang lain dan ledekan-ledekan yang menghantar kita kepada kemarahan atau penghinaan. Semoga Tuhan memberikan kita semua rahmat ini”.

(AR)

 

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 13 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Tanpa Kerendahan Hati, kalian tidak dapat mencapai keselamatan dan mewartakan Kristus

0

Tanpa kerendahan hati, tanpa kemampuan untuk mengakui secara terbuka dosa-dosa kalian dan kelemahan kalian sendiri sebagai manusia, kalian tidak dapat mencapai keselamatan dan mewartakan Kristus, atau berpura-pura menjadi saksi-Nya. Paus Fransiskus mengajak semua untuk merenungkan tema kerendahan hati Kristiani dalam homilinya pada Misa Jumat pagi, 14 Juni [2013], di Kapel Domus Sanctae Marthae. Turut berkonselebrasi dengannya antara lain Kardinal Giuseppe Bertello, Presiden Gubernuran, dan Kardinal Mauro Piacenza, Prefek Kongregasi untuk Klerus. Hadir pula para pejabat dan karyawan dari Departemen. Mendampingi Kardinal Bertello juga hadir para kerabat dari almarhum Uskup Agung Ubaldo Calabresi, yang selama bertahun-tahun adalah Nuncio Apostolik untuk Argentina. Saat doa umat beriman, Bapa Suci memohon doa untuk uskup yang kepadanya ia terikat oleh persahabatan yang mendalam.

Bacaan harian dari surat kedua Paulus kepada jemaat di Korintus (4:7-15) dan Injil Matius (5:27-32) adalah menjadi pusat meditasi Paus, yang mengaitkan gambaran dari “keindahan Yesus, kuasa Yesus, dan keselamatan yang Yesus bawa untuk kita”, yang Rasul Paulus bicarakan, dengan gambaran dari “bejana tanah liat” yang di dalamnya harta iman terkandung.

Orang-orang Kristen adalah seumpama pot tanah liat, karena mereka lemah, dalam artian bahwa mereka adalah orang berdosa. Namun demikian, Paus mengatakan, antara “kita bejana tanah liat yang malang” dan “kuasa Yesus Kristus” adalah sebuah dialog, dan itu adalah “dialog keselamatan”. Dia memperingatkan bahwa ketika dialog ini mengasumsikan nada pembenaran diri, itu berarti bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan di situ tidak ada keselamatan. Kerendahan hati seorang Kristen adalah orang yang mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Rasul. “Kita harus mengakui dosa-dosa kita dengan benar dan tidak menampilkan diri dengan citra palsu”.

“Saudara-saudara, kita memiliki harta: [yaitu] Juruselamat Yesus Kristus, salib Yesus Kristus adalah harta di mana kita bersukacita”, tetapi marilah kita tidak melupakan “untuk juga mengakui dosa-dosa kita” karena hanya dengan cara ini “dialog yang Kristiani, Katolik, dan konkret”. “Yesus Kristus tidak menyelamatkan kita dengan ide, atau dengan program intelektual. Dia menyelamatkan kita dengan daging-Nya, dengan kekonkretan daging-Nya. Dia merendahkan diri-Nya, menjadi manusia, dan menjadi manusia sampai akhirnya”. Kalian hanya dapat memahami harta seperti ini jika kalian dapat diubah bentuk seumpama pot tanah liat.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 14 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Sejuta Kenangan

0

Sakramen Perminyakan Suci yang aku berikan kepada  seorang bapak yang menderita kanker stadium final pada tanggal 15 Desember 2012  mengubah hati dan pikirannya.

Ia menerima penyakitnya dengan tegar walaupun hatinya menangis.

Ia mengatakan  tanpa sebuah kata kepada istri dan anaknya  untuk tidak gundah :

“Lihatlah  aku tegar,

Aku masih tersenyum,

Aku masih bisa bercanda,

Aku tidak bersedih,

Aku tidak mengeluh.

Semuanya karena ada Tuhan dan kamu, istri dan anakku”.

Hidupnya semakin bersemangat sehingga ia bisa bekerja kembali selama delapan bulan karena penyakitnya tiba-tiba tak terdeteksi  lagi.

Ia menulis sejuta kenangan dalam hari-hari penantiannya.

Kenangan yang indah karena hidupnya semakin mencintai Tuhan dan keluarganya.

Setiap malam dihabiskannya dengan doa bersama.

Tuhan memang akhirnya memanggilnya dengan bibir tersenyum indah pada Pesta Maria Ratu Surgawi pada tanggal 22 Agustus 2013.

Senyuman bibirnya menjadi sebuah prasasti kenangan kekal selepas kepergiannya sebagaimana kesaksian istrinya yang aku rumuskan  :

“Aku telah mengukir kebahagiaan dalam cerita kehidupan.

Kini aku telah menghargai waktu yang singkat dalam kehidupan.

Apapun yang terjadi harus  aku maknai sepenuh hati dalam waktu yang masih ada.

Tuhan semakin bermakna dan Kitab Suci benar-benar menjadi jalan Tuhan yang membimbing pada kebenaran.

Pengorbananku  yang ikhlas  akan menghangatkan cinta yang ada”.

 

Tangisan berubah menjadi tangisan damai karena makna kehidupannya yang  indah yang terpatri di dalam jiwa orang-orang yang ditinggalkannya.

Pesan indah untuk dihidupi : hidup yang singkat  akan bermakna bila ucapan dan sikap kita mencerahkan.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS,CC

Sejuta Harap

0

Bintang berkedip menghiasi malam yang sunyi.

Rembulan tersenyum  menyapa  umat  dalam Misa dan Adorasi di Gereja Santo Yakobus Rasul-Kelapa Gading, Jakarta Utara, 01 Agustus  2013.
Rmbulan dengan ramah  menawarkan sejuta harap dan cinta.

Kemuraman terangkat ke hadirat Tuhan dalam bait-bait syair “Kubawa hidupku sekarang, ke tempat kudus-Mu Tuhan” yang disenandungkan sangat indah oleh para singers yang rendah hati.

Seorang nenek, usia tujuh puluh tahunan, duduk di sampingku dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

Walaupun sudah tua, ia masih kuat dan mempunyai semangat hidup.

Ia menyetir sendiri mobilnya yang sederhana ke mana saja.

Ia mengatakan suatu pengalaman iman yang mendalam :

“Aku tidak mau hidupku menjadi buram  karena tidak nampak kedalamannya walaupun kadang-kadang banyak hal  yang aku temui tidak seindah dengan mimpiku.

Kedekatan dengan Tuhan memberikan kegembiraan hati yang tiada bisa dirampok oleh kesepian dan kesendirian.

Menemani anak dan cucu dalam Misa hari Minggu membuat hidupku berarti sebagai sebuah pelayanan yang dapat aku lakukan dengan ketulusan hati saat ini”.

Tuhan menaburkan benih-benih kebahagiaan dalam relung-relung pikiran kita.

Ketidakbahagiaan terjadi bukan dari pihak Tuhan, tetapi kita sendiri yang menimbun pikiran dan hati kita dengan banyak kerisuan sehingga kebahagiaan tidak mampu menggeliat.

Kebahagiaan akan bersemi kembali ketika kita sanggup melemparkan jauh-jauh segala kerisauan.

 

Beriman kepada Tuhan merupakan kunci menaklukkan kerisauan.

Kita pun  merasa aman ketika memandang mata Tuhan yang mengetahui segala isi hati kita.

Muka kita pun akan berseri karena percaya bahwa  Tuhan tidak akan membuat kita malu :

“Tujukkanlah pandanganmu kepadaNya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Mzm. 34:6).

Hati pun teguh sekokoh gunung dan penuh kasih yang tulus selembut embun karena adanya sejuta harapan yang berasal dari iman.

Tuhan Memberkati

 

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab