Home Blog Page 105

Otot Kawat, Balung Wesi

0

Bersua dengan para sahabat memberikan kegembiraan  dan tawa ria pada  saat  pesta perak imamat Pastor Yus Noron, Pr dan Pastor Roy Djakaria, Pr di Gereja Maria Regina-Bintaro Jaya, Tangerang, Minggu malam, 18 Agustus 2013.

Hati ingin lama-lama bercanda ria karena tiada yang tahu kapan bisa berjumpa lagi.

 

Seorang ibu datang  dengan permohonan : “Romo, kapan bisa berbagi peneguhan terhadap mamaku yang sakit ?”

Jawabanku  “sekarang” menyentakkannya.

 

Seorang ibu yang sedang menanggung sakit kanker bangun seketika menyambut kedatanganku  .

Di  tengah kelelahannya terpancar senyuman ketabahan.

Ia tidak mengeluhkan penyakitnya, tetapi justru menunjuk suaminya yang telah mengalami mukjizat dari Tuhan :

“Aku harus mempunyai otot kawat, balung  wesi/otot kawat, tulang besi, seperti suamiku.  Ia dua kali terserang penyakit kanker dan Tuhan telah menyembuhkannya.

Dengan merawatnya sekian lama dengan kasih sayang, aku mendapatkan ilmu untuk menghadapi penyakitku dengan kesabaran.

Semua penyakit dapat dijinakkan dengan keihklasan, tanpa menyalahkan siapa saja”.

 

Di dalam kelemahan raga ibu itu tersimpan kata-kata bijaksana  yang hanya dapat dipahami oleh makhluk yang murni jiwanya :

“Di balik tangisan, tersimpan senyuman.

Di balik kerapuhan, tersimpan kekuatan.

Di balik penderitaan, tersimpan kebahagiaan.

Di balik rasa benci, tersimpan kasih sayang.

Di balik kekecewaan, tersimpan pengharapan.

Doa menjadi musik yang menyejukkan jiwa di kala berada dalam pergumulan, bagaikan  mata air di tengah  gurun pasir yang gersang.

Di dalam Tuhan, air mata berubah menjadi mutiara ketabahan yang berkilauan.

Ketabahan karena kekuatan Tuhan menghindarkan  dari sebuah kehancuran.

Itulah makna “Otot Kawat, Balung wesi” /Otot Kawat, balung besi”.

 

Romo Yus Noron, Pr mengistilahkannya dalam kotbah pesta perak imamatnya bahwa hidup  adalah seperti berlatih sepeda yang pasti jatuh dan bangun untuk menjadi kuat dan lebih sempurna yang akhirnya membuahkan kebahagiaan.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun ” (Yakobus 1:2-4).

Tuhan memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

 

Kaki Tuhan

0

Malam menyekap bulan di atas biara susteran SFD  di Tiga Raksa,  Tangerang.

Suster Jovita SFD, usia empat puluh lima tahun, datang dari Medan, telah menungguku.

Ia akan mensharingkan pengalaman atas penyakit lupus yang ia derita sejak Februari Silam.

Lupus yang membuat harapannya sempat muram,  tetapi akhirnya  membukakan matanya akan kedahsyatan Tuhan pada dirinya.

Kisah seorang anak  yang disembuhkan dari penyakit lupus yang aku tuliskan dalam buku “Jangan Galau  Allah Peduli” rupanya menguatkan dan meneguhkannya di kala ia sedang bergulat dengan berbagai rasa yang berkecamuk di  dalam hatinya.

Ia mendapatkan pengobatan  ketika perutnya mulai membesar,  jantungnya membesar karena berisi air 2500 mg, dan levernya membengkak.

Ia memilih menjalani perawatan di biara agar bisa berdoa  untuk mohon kesembuhan dari Tuhan.

Ia berdoa dengan air matanya  sambil memandang luka kaki Tuhan yang tergantung pada salib.

Iman dan obat sungguh luar biasa bekerja karena dalam waktu singkat jantung dan levernya kembali normal.

 

Ketika ia sedang menikmati keajaiban Tuhan, ia tiba-tiba  tak berdaya dan harus dirawat di rumah sakit  satu bulan kemudian.

Ia merasa bahwa ajalnya akan segera tiba sehingga meminta  kedatangan imam untuk memberikan bekal-bekal rohani yang diperlukan dalam perjalanannya ke rumah Bapa.

Tuhan menghendakinya hidup.

Ia mulai perlahan-lahan dipulihkanNya  dari penyakit lupus.

Ia kini sudah bisa bekerja dengan ditopang obat yang ada  dan iman yang ia punya.

Ia yakin pada waktunya Tuhan akan menyembuhkannya secara sempurna.

 

Kepercayaan  akan janji penyembuhan Tuhan kami nyanyikan dalam doa  bersama di kapela :

Apapun yang terjadi dalam hidupku ini
Tak pernah kuragukan kasih-Mu Tuhan
Lewat gunung yang tinggi, dalam lembah yang curam
Tak pernah kuragukan janji-Mu Tuhan

Kau berfirman dan sembuhkanku
Kau bersabda dan s’lamatkanku
Tiada yang mustahil bagiMu
Yesus kupercaya padaMu

Lagu itu menuntunnya ke altar Tuhan untuk memegang luka kaki Tuhan Yesus :

“Tuhan,  penyakit lupus ini membuatku tidak bisa keluar karena aku tidak boleh kena sengatan matahari”.

Ia kemudian menatap mataku :

“Romo, Tuhan Yesus berkata bahwa aku pasti bisa keluar untuk melayani karena sekarang  Dia memberikan kaki-Nya bagiku untuk berjalan”.

Kini ada gairah kuat di dalam dirinya  untuk merangkai jalan kerakal yang berduri ini.

Pesan yang perlu dihayati dalam kisah ini :

Tuhan tidak menjanjikan taman  bunga mawar yang membuaikan mata kita dalam kehidupan ini, tetapi Dia dengan kaki-Nya senantiasa berada dalam setiap kesulitan dan penderitaan yang kita alami sehingga kita dapat bertahan dan melewatinya”.

“Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Korintus 4:10).

Tuhan Memberkati

 

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paus : Memikul penderitaan dengan sabar dan mengatasi penindasan dengan kasih

3

paus-fransiskus-senyum“Menderita dengan kesabaran dan mengatasi penindasan eksternal dan internal dengan kasih.” Itu merupakan doa Paus Fransiskus hari ini di Domus Sanctae Martae saat Misa pada hari raya Maria Penolong umat Kristen [24/05/2013].

Dalam homilinya, Paus Fransiskus meminta dua rahmat: “Bertahan dengan kesabaran dan mengatasi dengan kasih.” Ini adalah “rahmat yang cocok bagi seorang Kristen.” “Menderita dengan kesabaran,” ia mencatat, “adalah tidak mudah.” “Itu adalah tidak mudah, entah kesulitan-kesulitan itu datang dari luar, atau pun masalah-masalah dari dalam hati, jiwa, persoalan internal.” Tapi menderita, jelasnya, tidak hanya untuk “menanggung dengan kesulitan.”:

“Menderita adalah mengambil kesulitan dan memikulnya dengan kekuatan, sehingga kesulitan tidak menyeret kita ke bawah. Untuk memikulnya dengan kekuatan: ini merupakan kebajikan Kristen. Santo Paulus mengatakan beberapa kali: Menderita (bertahan). Ini berarti tidak membiarkan diri kita diatasi dengan kesulitan. Ini berarti bahwa orang Kristen memiliki kekuatan untuk tidak menyerah, untuk memikul kesulitan dengan kekuatan. Memikul mereka, tetapi dengan kekuatan. Hal ini tidak mudah, karena keputusasaan datang, dan salah satunya memiliki dorongan untuk menyerah dan berkata, ‘Baiklah, ayolah, kita akan melakukan apa yang kita bisa tapi tidak lebih [dari itu].’ Tidak demikian halnya dengan karunia untuk menderita. Dalam kesulitan-kesulitan, kita harus meminta rahmat ini, di dalam kesulitan.”

Rahmat lainnya yang Paus minta adalah “mengatasi dengan kasih”:

“Ada banyak cara untuk menang, tetapi rahmat yang kita minta hari ini adalah anugerah kemenangan dengan kasih, melalui kasih. Dan ini tidak mudah. Ketika kita memiliki musuh eksternal yang membuat kita menderita begitu banyak: ini adalah tidak mudah, untuk memenangkan dengan kasih. Ada keinginan untuk membalas dendam, untuk mengajak orang lain melawan musuh … Kasih: kelemahlembutan yang Yesus ajarkan pada kita. Dan itu adalah kemenangan tersebut! Rasul Yohanes mengatakan dalam bacaan pertama: ‘Ini adalah kemenangan kita, iman kita.’ Iman kita ialah justru ini: percaya kepada Yesus yang mengajarkan kita kasih dan mengajarkan kita untuk mengasihi semua orang. Dan bukti bahwa kita di dalam kasih adalah ketika kita berdoa untuk musuh-musuh kita.”

Untuk berdoa bagi para musuh, bagi mereka yang membuat kita menderita, Paus melanjutkan, “tentunya tidak mudah.” Tapi kita menjadi “orang Kristen yang kalah” jika kita tidak mengampuni para musuh, dan jika kita tidak berdoa untuk mereka. Dan “kita menemukan begitu banyak orang Kristen yang sedih dan putus asa,” ia berseru, sebab “mereka tidak memiliki karunia ini untuk bertahan dengan kesabaran dan mengatasi dengan kasih”:

“Oleh karena itu, kita meminta Bunda Maria untuk memberi kita rahmat itu untuk bertahan dengan kesabaran dan mengatasi dengan kasih. Berapa banyak orang – begitu banyak pria dan wanita – telah mengambil jalan ini! Dan indah melihat mereka: mereka memiliki roman muka yang indah itu, kebahagiaan yang tenang itu. Mereka tidak banyak bicara, tapi memiliki hati yang sabar, hati yang dipenuhi dengan kasih. Mereka tahu apa itu pengampunan bagi para musuh, mereka tahu apa itu berdoa bagi para musuh. Begitu banyak orang Kristen yang seperti itu!”

Misa ini dihadiri oleh para pegawai dari Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial dipimpin oleh presiden mereka, Uskup Agung Claudio Maria Celli. Dan, pada Hari Doa Sedunia bagi Gereja di Cina, Uskup Agung Savio Hon Tai-Fai, Sekretaris Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa, dan sekelompok imam, religius, seminaris dan orang awam dari China juga menghadiri perayaan ini. Pada akhir doa-doa umat beriman, Paus berdoa: “Untuk orang-orang Cina yang mulia: Semoga Tuhan memberkati mereka dan Bunda kita menjaga mereka.” Misa diakhiri dengan sebuah lagu untuk Perawan Maria dalam bahasa Cina.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 24 Mei 2013

Diterjemahkan dari : www.news.va

Yesus adalah rahasia kebajikan Kristiani

0

Bagi orang Kristen, Yesus adalah “segalanya”, dan ini adalah sumber kebajikannya. Ini adalah fokus pesan Paus Fransiskus saat Misa Senin pagi [17/06/2013] di Domus Sanctae Marthae. Paus juga menegaskan bahwa kebenaran Yesus melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat, yang lebih unggul dibandingkan dengan keadilan semacam “mata ganti mata, gigi ganti gigi” itu. Di antara mereka yang hadir pada Misa yang dirayakan oleh Kardinal Attilio Nicora, adalah sekelompok kolaborator dari Otoritas Informasi Keuangan Vatikan dan sekelompok kolaborator dari Museum Vatikan dengan didampingi oleh direktur administrasi Museum, Pastor Paolo Nicolini. Uskup Agung Manila, Kardinal Luis Tagle, juga turut hadir.

“Jika seseorang menampar pipi kananmu, tawarkan pipi kirimu juga”. Paus Fransiskus memfokuskan homilinya pada kata-kata Yesus yang menggetarkan bumi bagi murid-murid-Nya. Tamparan pipi – katanya – telah menjadi klasik dipakai dan digunakan oleh beberapa orang untuk menertawakan orang-orang Kristen. Dalam kehidupan, jelasnya, logika sehari-hari mengajarkan kita untuk “berjuang mempertahankan keberadaan kita” dan jika kita menerima sebuah tamparan “kita bereaksi dan kembali membalas dua tamparan guna membela diri kita sendiri”. Di sisi lain, Paus mengatakan, ketika saya menyarankan para orangtua untuk memarahi anak-anak mereka, saya selalu berkata: “Jangan pernah menampar pipi mereka”, karena “pipi adalah martabat”. Dan Yesus, lanjutnya, setelah perihal menampar pipi lebih lanjut mengajak kita untuk menyerahkan jubah kita juga, untuk menelanjangi diri kita sepenuhnya.

Kebenaran yang Ia bawa – Paus menegaskan – adalah jenis lain dari keadilan yang benar-benar berbeda dari “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Ini merupakan keadilan yang beda. Hal ini jelas ketika St Paulus berbicara tentang orang-orang Kristen sebagai “orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa dalam diri mereka sendiri namun memiliki segala sesuatu di dalam Kristus”. Jadi, keamanan Kristiani tepatnya adalah “segalanya” ini yang berada dalam Kristus. “Segalanya” – ia menambahkan – adalah Yesus Kristus. Hal-hal lain “tidak berarti apa-apa” bagi seorang Kristen. Sebaliknya, Paus memperingatkan, “untuk roh dunia “segalanya” berarti sesuatu: kekayaan, kesombongan”, itu artinya “diterima dengan baik dalam masyarakat” di mana “Yesus bukan apa-apa”. Jadi, seorang Kristen akan berjalan 100 kilometer meski ia hanya diminta untuk berjalan 10 kilometer, “sebab baginya ini “tidaklah ada apa-apanya”. Dan dengan ketenangan, “ia rela memberikan pakaiannya saat diminta jubahnya”. Ini adalah rahasia kebajikan Kristiani yang selalu melangkah bersama-sama dengan kelemahlembutan”: itu adalah” segalanya”, yang adalah Yesus Kristus:

“Seorang Kristen adalah seorang yang membuka hatinya dengan semangat kebajikan, karena ia memiliki “segalanya”: Yesus Kristus. Hal-hal lain “tidak ada apa-apanya”. Beberapa ada yang baik, mereka memiliki tujuan, tapi dalam momen harus memilih dia selalu memilih “segalanya”, dengan kelemah lembutan itu, kelemahlembutan Kristiani yang merupakan tanda murid-murid Yesus: kelemahlembutan dan kebajikan. Untuk hidup seperti ini adalah tidak mudah, karena kalian benar-benar akan menerima tamparan! Bahkan pada kedua pipi! Tapi seorang Kristen adalah lemah lembut, seorang Kristen penuh kebajikan: dia membuka hatinya. Kadang-kadang kita menemukan di antara orang-orang Kristen ini seorang yang kecil hati, dengan ciut hati…. Ini bukan Kekristenan: ini adalah keegoisan, yang bertopeng Kekristenan”.

“Seorang Kristen sejati” – Paus melanjutkan – “tahu bagaimana memecahkan oposisi bi-polar ini, ketegangan yang ada antara “segalanya” dan yang “tidak ada artinya samasekali”, sama seperti Yesus telah mengajarkan kita: “Cari dulu Kerajaan Allah dan keadilannya, yang lainnya akan datang sesudahnya”.

“Kerajaan Allah adalah “segalanya”, yang lainnya adalah sekunder. Dan semua kesalahan orang Kristen, semua kesalahan Gereja, semua kesalahan kita berasal dari saat kita mengatakan “yang tidak berarti” adalah “segalanya”, dan “segalanya” itu kita katakan tidak masuk hitungan … Mengikuti Yesus tidak mudah, namun tidak sulit juga, karena pada jalan kasih Tuhan melakukan hal-hal sedemikian rupa sehingga kita dapat melangkah maju; Tuhan sendiri yang membuka hati kita”.

Inilah yang harus kita doakan – Paus mengatakan – “ketika kita dihadapkan dengan pilihan antara [menerima] tamparan, [melepaskan] jubah, [melangkah] 100 kilometer”, kita harus berdoa kepada Tuhan untuk “membuka hati kita” sehingga “kita penuh kebajikan dan lemah lembut”. Kita harus berdoa supaya kita tidak “berjuang untuk hal-hal kecil, “yang tak berarti apa-apa” dari kehidupan sehari-hari”.

“Ketika seseorang menentukan pilihan untuk “yang tidak berarti apa-apa”, dari pilihan yang menimbulkan konflik dalam keluarga, dalam persahabatan, antar teman, dalam masyarakat. Konflik yang berakhir dengan perang: untuk “sesuatu yang tidak ada artinya”! “Sesuatu yang tidak berarti apa-apa” selalu menjadi benih perang. Karena itu adalah benih keegoisan. “Segalanya” adalah Yesus. Mari kita mohon kepada Tuhan untuk membuka hati kita, membuat kita rendah hati, lemah lembut dan penuh kebajikan karena kita memiliki “segalanya” dalam Dia; dan mari kita mohon kepada-Nya untuk menolong kita menghindari pemicuan masalah sehari-hari yang berasal dari “sesuatu yang tidak berarti apa-apa”.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 17 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

 

Pelajaran sulit untuk mengasihi musuh-musuh kita

0

Memang sulit untuk mengasihi musuh-musuh kita, tapi itu adalah tepat apa yang Allah minta untuk kita lakukan, kata Paus Fransiskus saat misa Selasa pagi [18/06/2013]. Dia mengatakan kita harus berdoa bagi mereka yang membenci kita dan telah berbuat salah kepada kita, ‘sehingga hati batu mereka diubah menjadi daging, supaya mereka merasa lega dan mengasihi.’ Allah membiarkan sinar matahari dan hujan jatuh pada yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang tidak benar dan, Paus menambahkan, kita harus melakukan hal yang sama itu atau bila tidak demikian kita bukanlah seorang Kristen. Emer McCarthy melaporkan:

Paus Fransiskus memulai homilinya dengan serangkaian pertanyaan yang mencakup beberapa drama yang paling mendesak umat manusia. Bagaimana kita bisa mengasihi musuh-musuh kita? Paus bertanya, bagaimana kita bisa mencintai orang-orang yang memutuskan untuk “membom dan membunuh begitu banyak orang?” Dan lagi, bagaimana kita bisa “mengasihi mereka karena cintanya akan uang, mencegah orang-orang tua untuk mengakses obat-obatan yang diperlukan dan membiarkan mereka mati ?” Atau mereka yang hanya mencari “kepentingan terbaik bagi mereka sendiri, kekuasaan untuk diri mereka sendiri dan melakukan begitu banyak kejahatan?” “Tampaknya sulit untuk mengasihi musuh-musuh kalian,” katanya, tetapi Yesus meminta hal ini kepada kita. Liturgi saat ini, katanya, menyampaikan “hukum yang diperbaharui Yesus”, hukum Gunung Sinai diperbaharui dengan hukum Gunung Kebahagiaan. Paus juga menunjukkan bahwa kita semua memiliki musuh, tetapi jauh di lubuk hati, kita juga, kita bisa menjadi musuh bagi orang lain:

“Kita terlalu sering menjadi musuh bagi orang lain: kita tidak mengharapkan mereka baik. Serta Yesus memberitahu kita untuk mengasihi musuh-musuh kita! Dan hal ini tidak mudah! Tidaklah mudah … kita bahkan berpikir bahwa Yesus meminta terlalu banyak dari kita! Kita meninggalkan hal ini kepada para biarawati, yang kudus, kita meninggalkan hal ini kepada beberapa jiwa kudus, tetapi hal ini tidak benar untuk kehidupan sehari-hari. Tapi itu pasti benar! Yesus berkata: “Tidak, kita harus melakukan hal ini! Karena jika tidak, kalian akan seperti para pemungut cukai itu, seperti orang-orang kafir itu. Bukan lagi orang-orang Kristen.

Jadi bagaimana kita bisa mengasihi musuh-musuh kita? Paus Fransiskus mencatat bahwa Yesus, “memberitahu kita dua hal”: pertama memandang kepada Bapa yang “membuat matahari terbit bagi si jahat dan si baik” dan “curah hujan bagi orang yang adil dan tidak adil”. Allah “mengasihi semua orang.” Dan kemudian ia melanjutkan, Yesus memberitahu kita untuk menjadi “sempurna seperti Bapa Surgawi sempurna”, “meniru Bapa-Nya dengan kesempurnaan kasih itu.” Dia menambahkan, Yesus “mengampuni musuh-musuh-Nya”, “melakukan segala sesuatu untuk mengampuni mereka”. Dia memperingatkan yang membalas dendam adalah bukan orang Kristen. Paus bertanya: Tapi bagaimana kita bisa berhasil dalam mengasihi musuh-musuh kita? Dengan berdoa. “Ketika kita berdoa untuk apa yang membuat kita menderita – Paus berkata – itu seolah-olah Tuhan datang dengan minyak dan mempersiapkan hati kita untuk damai”:

Berdoalah! Hal ini adalah apa yang Yesus nasihatkan kepada kita: Berdoalah bagi musuh-musuh kalian! Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian! Berdoalah!’ Dan katakan kepada Tuhan: ‘Ubahlah hati mereka. Mereka memiliki sebuah hati dari batu, tapi ubahlah itu, beri mereka sebuah hati dari daging, sehingga mereka boleh merasa lega dan mengasihi’. Biarkan saya ajukan pertanyaan ini dan mari kita masing-masing menjawabnya dalam hati kita sendiri: “Apakah aku berdoa bagi musuh-musuhku? Apakah aku berdoa bagi mereka yang tidak mengasihiku? ‘Jika kita mengatakan ‘ya’, saya akan berkata,’ Ayo, lebih banyak lagi berdoa, kalian berada pada jalan yang benar! Jika jawabannya adalah ‘tidak’, Tuhan akan berkata: “Kasihan. Kalian juga adalah musuh bagi orang lain! Berdoalah agar Tuhan boleh mengubah hati mereka. Kita dapat berkata: ‘Tapi orang ini benar-benar menganiaya aku, atau mereka telah melakukan hal-hal buruk dan hal ini memiskinkan orang-orang, memiskinkan umat manusia. Dengan mengikuti pemikiran lepas ini kita ingin membalas dendam atau berkeinginan mata ganti mata, gigi ganti gigi”.

Paus Fransiskus menegaskan, memang benar bahwa kasih untuk musuh-musuh kita “memiskinkan kita”, karena itu membuat kita miskin “seperti Yesus”, yang, ketika Ia datang kepada kita, merendahkan diri-Nya dan menjadi miskin bagi kita. Paus mencatat bahwa beberapa orang bisa membantah hal ini adalah sebuah kesepakatan yang tidak bagus “jika musuh itu membuat aku semakin miskin” dan tentu saja, “sesuai dengan kriteria dari dunia ini, itu bukan kesepakatan yang bagus.” Tapi hal ini, katanya, adalah “jalan di mana Yesus lalui” yang dari kaya menjadi miskin bagi kita. Di dalam kemiskinan ini, “di dalam Yesus yang merendahkan diri-Nya ini – katanya – ada rahmat yang telah dibenarkan kita semua, telah membuat kita semua kaya.” Ini adalah “misteri keselamatan-Nya”:

Dengan pengampunan, dengan kasih untuk musuh kita, kita menjadi lebih miskin: kasih memiskinkan kita, tapi kemiskinan itu adalah benih kesuburan dan kasih untuk orang lain. Sama seperti kemiskinan Yesus menjadi rahmat keselamatan bagi kita semua, kekayaan luar biasa ... Mari kita berpikir pada Misa hari ini, mari kita memikirkan musuh-musuh kita, orang-orang yang tidak ingin kita baik: alangkah baiknya jika kita mempersembahkan Misa bagi mereka: Yesus, pengorbanan Yesus, bagi mereka, bagi mereka yang tidak mengasihi kita. Dan bagi kita juga, sehingga Tuhan mengajarkan kita kebijaksanaan yang begitu sulit ini, tapi begitu indah, sebab itu membuat kita terlihat seperti Bapa-Nya, seperti Bapa kita: Membawa matahari bersinar keluar untuk semua orang, yang baik dan yang buruk. Itu membuat kita lebih seperti Putra-Nya, Yesus, yang dalam penghinaan yang dialami-Nya menjadi miskin untuk memperkaya kita, dengan kemiskinan-Nya.”

 

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 17 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Paus Fransiskus mengutuk kemunafikan

0

Kekristenan bukanlah sekedar studi hukum atau perintah: hal ini adalah hambatan untuk memahami dan menerima kebenaran bahwa Allah adalah sukacita dan kemurahan hati. Ini adalah pesan dari Paus Fransiskus pada Misa pagi ini [19/06/2013] di Casa Santa Marta.

Orang-orang munafik yang “memimpin umat Allah menyusuri jalan buntu”, Paus Fransiskus mengatakan, adalah subyek dari Injil hari ini. Paus merefleksikan pada perikop terkenal dari Injil Matius yang mengkontraskan perilaku para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – yang membuat acara untuk berdoa, puasa, dan sedekah – dengan jalan yang ditunjukkan oleh Yesus, Yang menunjukkan kepada murid-murid-Nya sikap yang tepat untuk mengasumsikan dalam situasi yang sama: memberi sedekah dan berdoa “secara tersembunyi.” “Dan Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Paus Fransiskus tidak hanya mengkritik kesia-siaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi juga mereka yang memaksakan “begitu banyak ajaran-ajaran pada orang-orang beriman.” Dia menyebut mereka “munafik kasuistis,” “intelektual tanpa bakat” yang “tidak memiliki kecerdasan untuk menemukan Allah, untuk menjelaskan Allah dengan pemahaman,” dan dengan demikian mencegah dirinya dan orang lain masuk ke dalam Kerajaan Allah:

Yesus berkata: ‘Kamu sendiri tidak masuk, kamu juga menghalang-halangi orang lain yang berusaha untuk masuk.” Mereka adalah ahli etika tanpa kebaikan, mereka tidak tahu apa itu kebaikan. Tapi mereka adalah para ahli etika, bukan? ‘Kalian harus melakukan ini, dan ini, dan ini…Mereka mengisi kalian dengan sila-sila, namun tanpa kebaikan. Dan hal-hal itu merupakan beberapa dari keterpesonaan, dari rumbai-rumbainya mereka memperpanjang begitu banyak hal, untuk membuat sebuah kepura-puraan menjadi megah, sempurna, [namun] mereka tidak memiliki rasa keindahan. Mereka tidak memiliki rasa keindahan. Mereka hanya mencapai keindahan [yang pantas untuk] museum. Mereka adalah para intelektual tanpa bakat, para ahli etika tanpa kebaikan, para pembawa keindahan dari museum. Ini adalah orang-orang munafik yang Yesus tegur begitu keras.

“Tetapi Dia tidak berhenti di situ,” lanjut Paus Fransiskus. “Dalam Injil hari ini, Tuhan berbicara tentang kelas lain dari orang-orang munafik, [yaitu] ‘orang-orang sok suci’ (It: quelli che Vanno sul sakro):

“Tuhan berbicara tentang puasa, tentang doa, tentang sedekah: tiga pilar kesalehan Kristiani, pertobatan interior, yang Gereja usulkan kepada kita semua dalam masa Prapaskah. Bahkan ada orang-orang munafik di sepanjang jalan ini, yang membuat acara puasa, memberi sedekah, berdoa. Saya berpikir bahwa ketika kemunafikan mencapai titik ini dalam hubungannya dengan Tuhan, kita semakin dekat dengan dosa melawan Roh Kudus. Mereka tidak tahu keindahan, mereka tidak tahu kasih, mereka tidak tahu kebenaran: mereka kecil, pengecut.

“Kita berpikir tentang kemunafikan dalam Gereja: seberapa buruk itu buat kita semua,” kata Paus Fransiskus terus terang. Sebaliknya, ia menunjukkan “ikon” lain untuk dicontoh, seorang yang diuraikan dalam perikop lain dari Injil: [yakni] pemungut cukai yang berdoa dengan kesederhanaan yang rendah hati, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, orang berdosa”, Hal ini, Paus mengatakan, “adalah doa yang seharusnya kita katakan setiap hari, mengetahui bahwa kita adalah orang-orang berdosa” tetapi “dengan dosa-dosa konkret, bukan dosa-dosa teoritis.” Dan doa ini, ia menyimpulkan,” akan membantu kita untuk mengambil jalan yang berlawanan,” jalan yang menentang kemunafikan yang kita semua tergoda untuk itu:

Tapi kita semua juga memiliki rahmat, rahmat yang datang dari Yesus Kristus: rahmat sukacita, rahmat keluhuran budi, rahmat murah hati. Orang-orang munafik tidak tahu apa itu sukacita, apa itu kemurahan hati, apa itu keluhuran budi.”

Bapa Suci mengkonselebrasikan Misa dengan Kardinal Marc Ouellet dan Uskup Agung Lorenzo Baldisseri, prefek dan sekretaris Kongregasi untuk para Uskup, dan dengan Uskup Agung Vincenzo Paglia dan Uskup Jean Lafitte, presiden dan sekretaris Dewan Keluarga Kepausan. Para anggota Kongregasi Uskup dan Dewan Keluarga Kepausan hadir pada Misa itu.

(AR)

Paus Fransiskus,

Domus Sanctae Marthae, 19 Juni 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab