Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

169

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan

Dalam tulisan terdahulu, kita telah membahas bahwa kepercayaan kepada satu Tuhan adalah sesuatu yang sangat logis/ masuk akal (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Tahap selanjutnya adalah: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus dan menjadi seorang Kristen. Namun pertanyaannya sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi

Pertanyaan di atas menjadi penting  di zaman sekarang ini, mengingat bahwa dewasa ini ada begitu banyak tipe kekristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih dahulu tentang Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus, adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Maka, kerap kali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:

  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.

Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Padahal, dalam pencarian kebenaran, seharusnya, fokus kita bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada kebenaran, yang akhirnya mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus Kristus. Dengan kata lain,  kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja yang mana?

Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah: “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangatlah mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir zaman.

Gereja terpecah belah

Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Menurut mereka, pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus. Sebelumnya sang pendiri ini adalah salah seorang anggota jemaat gereja Y. Kemudian karena sesuatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana bila suatu saat, karena sesuatu hal, ada umat di gereja X yang juga mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, bukankah nanti dapat terjadi ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”

Kalau kita meneliti dengan jujur, inilah yang terjadi  sekarang ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia. Data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah, “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, mengapa tidak ada kesatuan? Padahal kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu dan bukan roh pemecah.”

Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak jemaat awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Namun, sayangnya perpecahan ini tetap terjadi, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Di abad- abad berikutnya,   perpecahan gereja terus terjadi, contohnya:

  • Gereja Timur Orthodox (1054).
  • Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
  • Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
  • Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
  • Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
  • Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
  • Presbyterian di Skotlandia (1560).
  • Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
  • Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
  • Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.

Perpecahan ini terus bertambah setiap hari sampai saat ini, walaupun sesungguhnya, perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum sengsara-Nya. Yesus berdoa untuk semua orang yang percaya kepada-Nya agar bersatu seperti Ia bersatu dengan Allah Bapa agar dunia bisa percaya kepada-Nya (lih. Yoh 17:21).

Mungkin ada orang yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua gereja percaya akan Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu yang tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama. Contohnya: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Ada berapakah jumlah sakramen? Isu-isu tentang otoritas, dan lain sebagainya. Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dan hal perbedaan ajaran terjadi juga di antara sesama gereja-gereja non- Katolik.

Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa

Ada banyak orang beranggapan bahwa yang penting adalah seseorang percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, namun tidaklah penting dari gereja yang mana. Mungkin anggapan seperti ini sedikit banyak sejalan dengan tulisan C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen seumpama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Maka yang terpenting adalah, pertama- tama masuk ke rumah tersebut terlebih dahulu, sedangkan hal masuk di ruangan mana tidaklah menjadi terlalu penting. Di sini, ruangan diartikan sebagai denominasi gereja-gereja.

Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti tentang hakekat gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita dapat mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal dalam satu rumah, memilih ruangan masing-masing, namun tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama? Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita, masing-masing rumah tangga mempunyai peraturan yang harus ditaati, agar semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mrk 3:25). Kalau sebuah rumah yang besar terpecah-pecah dalam berbagai ajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Jika pemahaman yang diajarkan oleh C.S Lewis ini benar, maka, seharusnya semakin lama semua orang yang sama-sama tinggal di rumah itu semakin bersatu, dan bukannya semakin terpecah.

Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak

Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, mengapa gereja- gereja itu mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab jika dipahami tentang hakekat Gereja itu sendiri.

Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus adalah Kepala, dan Gereja adalah anggota-anggota tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan Gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan Kepalanya, yaitu Kristus. Kalau Yesus sendiri menghendaki agar para anggota-Nya bersatu, maka mereka harus mengikuti. Persatuan ini dikehendaki oleh Kristus, sehingga Ia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya terdiri dari satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan -sebagai Mempelai Kristus- juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja hanyalah bersifat spiritual, di mana para anggotanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul, maka Ia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi di mana ada dua atau tiga orang jemaat berkumpul,  di situlah terbentuk Gereja. Namun di sinilah letak permasalahannya, sebab hakekat Gereja bukanlah hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]

Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih Allah ini agar semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Oleh karena itu, Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus menerus mengalami pemurnian dan pertobatan agar sampai kepada tujuan akhirnya, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.

Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus

Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakramen, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah Kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berasal dari para rasul yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik-lah yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Karena Gereja didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, maka tidak ada suatu apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]

Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya

Mungkin ada pula orang yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni; dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi, menurut anggapan ini, Gereja Katolik yang sekarang adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, mari kita telusuri lebih jauh. Anggaplah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada zaman reformasi. Seharusnya setelah diperbaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah zaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) maka gereja justru semakin terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denominasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.

Keberatan yang lain ialah anggapan yang mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak. Sejak abad awal sudah ada begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Selanjutnya, banyak orang yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, terdapat pula percobaan yang terjadi di dalam tubuh Gereja Katolik sendiri, baik karena korupsi maupun penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dan lain-lain. Gereja Katolik mengakui bahwa hal- hal ini terjadi karena adanya unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Namun demikian, kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun diterpa berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Jika Gereja Katolik hanya buatan manusia, maka Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.

Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus

Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Ajaran Gereja Katolik selalu mengambil sumber dari pengajaran Yesus dan para rasul, sebagaimana yang dilestarikan oleh para penerus mereka. Perumusan suatu ajaran yang diadakan di abad- abad kemudian bukan merupakan perubahan ataupun tambahan yang sama sekali baru terhadap suatu ajaran, namun merupakan penjelasan yang semakin menyempurnakan ajaran tersebut. Hal perkembangan ini dikenal dengan istilah “pertumbuhan organik” suatu ajaran.[11] Konsistensi ajaran Gereja dapat dibuktikan dari segi waktu maupun tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.

Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?

(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).

Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak mengenal Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, karena bukan kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan melaksanakan hukum kasih[13], di mana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka tetap diperoleh dari Yesus Kristus.[15]

Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalnya memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup di dalam kasih, dll. Bahkan Gereja Katolik mengakui pembaptisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. Konsili menegaskan bahwa “andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” (Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium 14)

Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?

Akhirnya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Konsili Vatikan II menegaskan akan pentingnya kita untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mengasihi Tuhan dan sesama[1]. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmani, namun bukan secara rohani, dan orang yang sedemikian tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).

Mungkin ada dari kalangan non- Katolik yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik – yang seharusnya telah mengetahui bahwa kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini – untuk senantiasa berjuang setiap hari untuk melaksanakan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh para orang kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?


[1]Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan “actual grace” atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembaptisan.

[2] Rasul Yohanes mengatakan “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.

[3] (Lih. Yoh 14:6) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.

[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)

[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. – Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat Gereja, namun menerimanya dari Kristus. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.

[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di Api penyucian.

[8] Lihat Lumen Gentium 8, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakan Gereja kepada Petrus dan para rasul lainnya, untuk diperluas dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”

[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata ” Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan “jemaat-Ku”. Namun dalam bahasa aslinya adalah “ekklesia” yang berarti “gereja”. Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada “satu”.

[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscence). kecenderungan untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.

[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “An Essay of the Development of Christian Doctrines“, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajaran yang dapat ditelusuri sampai kepada zaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam hal pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk karena ia menempatkan kebenaran di atas segalanya, ia berpindah dari gereja Anglikan ke Gereja Katolik.

[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.

[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan hukum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan akhir – yaitu persatuan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.

[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”

[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).

[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan “. Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.

[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.


CATATAN KAKI:
  1. lih. Lumen Gentium 14 []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

169 Comments

  1. Bro Stef & Sis Ingrid yang terkasih dalam Yesus Kristus,

    Saya sangat bersyukur sekali dapat mengenal situs ini, yang mengajarkan banyak tentang iman katolik.

    Saya di kantor setiap jumat ke dua dan keempat dalam setiap bulan ada ibadat oikumene. Yang ingin saya tanyakan :
    1. Dalam ibadat tersebut ada pujian yang menggunakan kata-kata alleluya, apakah dalam masa prapaska saya boleh menyanyikan pujian tersebut?
    2. Apakah saya boleh mengikuti ibadat oikumene ? Bagaimana kalau yang diberitakan tidak sesuai dengan iman katolik saya ?
    3. Apa yang menjadi dasar pada masa prapaska tidak ada kemuliaan, alleluya ?

    Semoga Allah sumber pengharapan memenuhi kamu dengan damai dan sukacita., supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita semua berlimpah limpah dalam pengharapan. Amin

    Terima kasih. GBU
    antherus

    • Shalom Antherus,
      Sebelum kita membahas mengapa  Gereja Katolik tidak menyanyikan "Alleluia" pada masa Prapaska, mari kita lihat dulu apa arti kata "Alleluia". Alleluia berasal dari bahasa Ibrani, yang artinya "Terpujilah Tuhan." Namun pujian ini bermakna sangat istimewa, yang merujuk kepada arti pemujaan kepada Tuhan dan kedatangan kerajaan-Nya di dunia ini dalam Gereja-Nya. Memang Gereja Katolik, kita yakini sebagai Kerajaan Allah yang hadir di dunia yang mengarungi jaman dan akan mencapai kesempurnaannya di surga nanti.  Pujian Alleluia  ini juga kita lihat di dalam Alkitab sebagai pujian kepada Allah yang dinyanyikan oleh para malaikat di surga (lihat Why 19). Maka pada saat kita menyanyikan "Alleluia", kita menggabungkan pujian kita dengan pujian para malaikat di surga.

      Dengan pengertian Alleluia seperti di atas, kita mengetahui alasan mengapa kita tidak menyanyikan Alleluia pada masa Prapaska. Karena masa Prapaska bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan dosa-dosa kita dan agar kita dapat bertobat, maka fokusnya adalah menantikan kedatangan kerajaan-Nya -dan sesungguhnya kita memang menantikan kedatangan Yesus yang kedua pada akhir jaman. Kita diajak untuk sungguh-sungguh merenungkan dan mempersiapkan diri akan kedatangan Yesus dan hari penghakiman, sehingga kita dapat mempunyai tekad yang bulat untuk meninggalkan dosa dan hidup di dalam Kristus, dan dengan demikian kita mempunyai pengharapan bahwa kita akan dibenarkan oleh-Nya dan dibawa-Nya pada kemuliaan surgawi.

      Dengan demikian maka saya akan berusaha menjawab pertanyaan Antherus:

      1) Apakah boleh menyanyikan "Alleluia" dalam Masa Prapaska? Maka jawabnya adalah, jika kita sungguh mau menghayati masa pertobatan ini, kita tidak menyanyikan "Alleluia". Kita tetap boleh menyanyikan pujian kepada Tuhan, tetapi tidak dengan ucapan Alleluia. Jika di PD Oikumene ada nyanyian tersebut, maka menurut saya, pilihannya ada dua: 1) jika pengurusnya anda kenal, maka boleh anda sampaikan pengertian anda, semoga di lain kesempatan (masih dalam masa Prapaska) mereka memilih lagu-lagu yang tidak memakai kata Alleluia, untuk menghormati umat Katolik (yang merupakan bagian dari komunitas tersebut) 2) Jika pilihan pertama tidak mungkin, maka saya menganjurkan anda tidak mengikuti PD tersebut sementara waktu sampai masa Prapaska selesai- jika anda memutuskan untuk bergabung dalam PD tersebut.

      2) Apakah boleh mengikuti ibadat Oikumene? Bagaimana kalau pengajarannya tidak sesuai dengan iman Katolik? Untuk menjawab hal ini, saya pulangkan kepada hati nurani anda, yang dapat menilai, sejauh mana anda dapat terpengaruh atas pengajaran yang diberikan. Jika anda mempunyai pengetahuan yang cukup mendalam akan iman Katolik, maka ikut kegiatan Oikumene tidak akan mendatangkan pengaruh buruk pada iman anda. Sebab malah sebaliknya, silakan menggabungkan diri dalam kepengurusan komunitas, sehingga anda dapat memberi masukan pandangan Katolik kepada rekan-rekan sekomunitas, agar merekapun menghormati apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik. Namun sebaliknya, jika anda merasa anda belum terlalu memahami iman Katolik anda, jika boleh saya sarankan agar anda tidak mengikuti PD Oikumene, sebab nanti anda akan mengalami kebingungan dan tidak ada rasa damai. Dulu, saya pernah mengalami hal itu, ketika saya masih bekerja di daerah Jl. Sudirman, Jakarta, ketika saya mengikuti beberapa kali kegiatan PD Oikumene di sana. Masalahnya timbul terutama setelah pengajaran tentang keselamatan dan akhir jaman, yang memang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik.
      Jika anda memiliki beberapa teman Katolik yang merasakan hal yang sama, silakan membentuk grup Rosario bersama dan sharing Alkitab yang juga mungkin dapat lebih berguna untuk membangun iman Katolik.

      3) Pertanyaan ketiga, akan kenapa tidak ada nyanyian "Alleluia" dalam masa Prapaska, sudah dijawab pada uraian di atas. Justru karena kita mengerti kedalaman arti kata "Alleluia" maka kita diajak untuk tidak asal menyanyikannya, tanpa menyesuaikannya dengan suasana hati dan sikap batin yang mendukung makna tersebut. 

      Demikian jawaban saya, semoga berguna ya. Selamat berjuang menjadi saksi Kristus.

      Salam dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

  2. [Dari admin: saya pindahkan komentar ini ke artikel: Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik]
    saya seorang protestan. Dari kecil saya hidup di lingkup gereja protestan. Beranjak dewasa, tepatnya sejak saya mulai bekerja, saya membuka diri untuk bergaul dengan teman2 kerja yang beragama katholik.

    Hingga akhirnya, saya memiliki keyakinan yang kuat [tapi belum terlaksana] mengenal ajaran katholik. Salah satu hal yang membuat saya sangat ingin menjadi katholik adalah kehidupan sosial rekan2 kerja yang penuh dengan empati, simpati, dan wawasan luas terhadap problema dunia. Mereka tidak menjadi serupa namun tidak menutup diri.

    Saya berpikir, andai sejak kecil saya berada di atmosfer itu. Mungkin saat ini saya akan lebih peka dan peduli terhadap sesama. Namun, saya tidak bermaksud menyudutkan kehidupan protestan secara universal. Sayangnya, saya bertumbuh di lingkungan yang tidak se-visi. Itu saja.

    Tidak ada yang mengetahui kerinduan hati saya untuk mengenal karunia Tuhan lewat kehidupan katholik. Lalu, bagaimana saya harus bersikap dengan kesenyapan ini? Hampa, saat tak bisa terbuka dan berbagi. Tapi takut jika saya memulai dan tidak diterima keluarga dan teman.

    Saya ingin mengenal katholik karena terlanjur mencintai karakter pengikutnya. Apakah itu salah? Bukankah manusia yang berkenan adalah cermin Tuhan di dunia? Syalom.

    • Shalom Komix,

      Terima kasih atas kunjungan dan pertanyaannya di katolisitas.org. Saya juga berterima kasih atas sharingnya. Memang hidup kudus, hidup seperti yang diperintahkan oleh Kristus adalah suatu cara untuk bersaksi dan membangun Gereja. Inilah yang dialami oleh Komix, yang tertarik kepada Gereja Katolik melalui saksi-saksi yang hidup.

      Untuk tahap awal, keinginan untuk menjadi Katolik karena tertarik oleh pengikut Gereja Katolik adalah baik sekali, namun tidak cukup kuat untuk jangka panjang. Bisa saja, suatu saat Komix bertemu dengan umat Katolik yang kurang dapat mencerminkan ajaran Kristus.
      Untuk menjadi Katolik, Komix harus benar-benar yakin bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang mempunyai kepenuhan kebenaran, sehingga pada akhirnya dapat membawa keselamatan kekal bagi Komix. Mungkin artikel ini dapat membantu Komix untuk menemukan jawaban: mengapa seseorang memilih Gereja Katolik (silakan klik).

      Setelah Komix yakin dengan hal di atas, maka Komix harus berusaha untuk mencapai kebenaran itu, termasuk dengan semua resikonya, karena itu adalah merupakan cerminan dari mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap pikiran. Ini berarti menempatkan kebenaran di atas segala-galanya, termasuk di atas segala ketakutan dan pergolakan yang harus dihadapi.
      Saya mengusulkan agar Komix membawa hal ini di dalam doa setiap hari, agar Tuhan sendiri yang memberi kekuatan dan berkat-Nya sehingga Komix dapat benar-benar mengikuti dorongan Roh Kristus. Pada saat yang bersamaan, mohonlah kekuatan dari Tuhan, sehingga kalau memang mengikuti dorongan Roh Kudus, Komix rindu untuk masuk ke Gereja Katolik, Komix diberikan kekuatan untuk melangkah dengan mantap.
      Setelah itu, tanyalah teman Katolik di kantor yang Komix anggap baik untuk menunjukkan kepada Komix siapa pastor yang dapat dihubungi. Atau, Komix dapat juga menghubungi pastor Gereja Katolik terdekat. Diskusikan dengan pastor tersebut, sehingga Komix dapat diteguhkan (bukan dibaptis ulang, kalau memang baptisan yang dulu dianggap sah), setelah melalui beberapa persiapan.
      Kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang lain, saya bersedia untuk menjawabnya sejauh saya mampu.

      Saya juga turut mendoakan agar Komix juga dapat masuk ke dalam Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus, sehingga pada saatnya nanti, Komix juga dapat mengatakan kepada Yesus "Yesus, aku telah berusaha dengan segala pikiran dan kekuatan untuk menjalankan semua perintah-Mu, termasuk adalah untuk bersatu di dalam Gereja yang Engkau dirikan." Namun tentu saja, hanya Komix yang dapat memutuskan hal ini. Tuhan memberkati.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  3. salam sejahtera,
    saya wanita 23thn anggota GKI hendak menikah dgn pria muslim,saya yakin pria ini bisa menjadi suami yang baik dan ayah yg baik utk anak2 kami kelak.saya bnr2 tdk tahu hrs mulai darimana untuk mengurus atau menemui siapa.sebenarnya dari pihak pria keberatan untuk menikah di katolik.tetapi saya bersikeras untuk bisa menikah di gereja katolik walaupun saya bukan katolik,smua semata mata untuk anak2 saya kelak,karena setahu sy di dalam katolik tidak ada perceraian,apakh bnr?ketakutan ini berasal dari masa lalu saya,hingga detik ini saya bahkan tidak tahu nama ibu yang melahirkan saya,hanya bbrp org sekitar blg,bahwa ibu saya(muslim menikah secara islam) ditinggal suaminya dan terpaksa meninggalkan saya dgn orang lain.saya bnr2 takut itu terjadi ke anak2 saya kelak,cukup saya merasakan.di dalam keyakinan pasangan saya,yang saya lihat perceraian mudah sekali dilakukan sperti membalikkan telapak tangan.jadi saya mohon pendapat untuk hal ini,dalam bahasa kasarnya apakah saya bisa meminta bantuan gereja katolik selain menikahkan kami,yg paling utama adalah menjaga anak2 saya nanti,mempunyai status yg jelas tg ayah dan ibu mereka,sekalipun salah satu dari orang tua menikah lagi atau pergi begitu saja meninggalkan rumah tangga,karena manusia bisa saja berubah ataupun ingkar,dan anak2 hanya menjadi korban(seperti kebanyakan kasus suami istri belakangan,mohon doa agar jangan sampai terjadi kpd kami)
    atas doa pendapat kritik dan saran kami ucapkan banyak2 terima kasih.
    Tuhan berkati,
    Arief Ikhwani & permata sari

    • Salam damai Arief dan Permata,
      Terima kasih atas pertanyaannya, dan saya juga ikut bersyukur bahwa dalam persiapan pernikahan Arief dan Permata telah memikirkan masa depan anak-anak.
      Saya juga menghargai keinginan Arief dan Permata untuk menikah di Gereja Katolik demi masa depan anak-anak. Berikut ini adalah beberapa tanggapan dari saya:

      1) Sakramen Perkawinan adalah merupakan suatu sakramen, dimana berkat dari Tuhan tercurah secara khusus kepada pasangan sehingga mereka dapat saling menguduskan dan mengasihi. Pada saat yang bersamaan, mereka diberi kekuatan untuk dapat saling mengasihi baik dalam suka maupun duka, baik sakit atau sehat. Penjelasan lengkap tentang Sakramen Perkawinan dapat dilihat di tulisan ini (bagian 1, 2 – silakan klik). Dan Sakramen Perkawinan ini membentuk suatu "gereja kecil" (lih. Katekismus Gereja Katolik, 1647)., dimana suami istri dapat mendidik anak-anaknya untuk mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.
      Makna dari Sakramen Perkawinan ini begitu dalam, karena melambangkan suatu janji yang tak terceraikan antara Allah dan manusia, antara Yesus dengan Gereja. Oleh karena itu, suami istri yang dipersatukan dalam Sakramen Perkawinan (dan tidak mempunyai cacat perkawinan) tidaklah terceraikan sampai maut memisahkan mereka.

      2) Sakramen Baptis adalah merupakan pintu gerbang untuk menerima sakramen-sakramen yang lain. Oleh karena itu, orang yang belum dibaptis tidak dapat menerima sakramen-sakramen yang lain, termasuk adalah Sakramen Perkawinan.
      Hal ini adalah sudah pantas, karena dengan Sakramen Baptis, seseorang menjadi anak Allah di dalam Kristus dan menerima rahmat kekudusan, namun secara nyata menjadi anggota dari Gereja Katolik.
      Bandingkan dalam "natural order", misalkan seseorang ingin mendapatkan pensiun dari pemerintah Indonesia, maka yang harus dilakukan adalah untuk menjadi pegawai negeri, menjalankan semua yang diperlukan untuk menjadi seorang pegawai negeri yang baik, dan pada saatnya tiba, maka orang tersebut akan menerima pensiun.

      Jadi apa yang dapat dilakukan oleh Arief dan Permata?

      1) Yang pertama, mungkin Arief dan Permata harus benar-benar untuk berdiskusi secara terbuka bagaimana untuk menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada, terutama adalah perbedaan agama. Untuk dapat terus bertahan dalam pernikahan satu agama saja cukup sulit, apalagi dengan pernikahan yang berbeda agama. Namun apakah mungkin dilakukan? Inilah yang harus dijawab sendiri oleh Arief dan Permata.

      2) Alternatif untuk menikah dalam Sakramen Pernikahan di Gereja Katolik adalah tidak mungkin pada saat ini, kalau salah satu atau dua-duanya belum menjadi menjadi Katolik. Namun untuk menjadi Katolik hanya berdasarkan motif agar pernikahan dapat berlangsung langgeng dan anak-anak dapat terdidik dengan baik adalah baik, namun kurang kuat.

      3) Pertimbangkan lagi apakah Arief dan Permata ingin menjadi Katolik. Kalau ya, tidak cukup dengan alasan di atas, namun harus lebih daripada itu, yaitu untuk keselamatan kekal, yaitu agar kita dapat bersatu dengan Tuhan untuk selamanya. Kehidupan kita di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Dan perkawinan adalah merupakan gambaran yang terbatas akan persatuan kasih antara Tuhan dan manusia di Surga.
      Kalau belum yakin akan pokok-pokok iman Katolik dan bahwa Gereja Katolik dapat mengantar Arief dan Permata kepada kehidupan kekal, maka janganlah masuk dulu ke Gereja Katolik. Diskusikan hal ini secara terbuka dan dari hati ke hati. Beberapa artikel yang berhubungan dengan Tuhan, Kristus, dan Gereja Katolik dapat dibaca di sini:
      Tulisan ini adalah suatu rangkaian tulisan untuk membuktikan tiga pilar kebenaran: 1) Kebenaran akan Tuhan, 2) Kebenaran akan Yesus sebagai Tuhan, yang telah dinubuatkan para nabi untuk  menjadi manusia, dan tertulis dalam sejarah,  3) dan Kebenaran akan Gereja Katolik sebagai sakramen keselamatan. Filosofi digunakan untuk membantu menerangkan misteri iman, sehingga misteri iman tersebuat dapat terkuak dengan lebih jelas.

      Itulah yang dapat saya sampaikan, semoga Arief dan Permata dapat membawa hal ini di dalam doa, sehingga Tuhan sendiri yang menuntun perjalanan Arief dan Permata. Dan saya doakan agar Tuhan menuntun Arief dan Permata kepada kebenaran.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • salam sejahtera,
        saya baru saja menerima dan membaca pendapat,masukan,dan semua kebaikan2 atas pergumulan2 yang sedang kami hadapi.karena baru saya yg membaca,maka akn saya sampaikan terlebih dahulu kpd Arief untuk selanjutnya kami diskusikan,bicarakan dari hati ke hati.setelah kami memahami,mendiskusikan semuanya,maka kami baru akan kembali menuliskan hasil diskusi atau pertanyaan jika ada bbrp yg msh kurang kami mengerti (jika diperkenankan).saya sangat berterima kasih krn ada yang mau peduli kpd kami yang membuka diri dan masih mencari kebenaran…untuk permata sendiri sudah yakin ingin melangkah kedalam gereja katolik dan bisa menjadi seorang katolik yang baik di mata Tuhan Yesus,yang berat adalah meyakinkan Arief bahwa gereja katolik lah yang terbaik untuk memberkati,menyatukan kita dalam sakramen pernikahan…semoga Tuhan memberikan saya kekuatan yang lebih untuk bisa mengajak arief bersama melangkah menuju kebenaran yang sejati, membentuk sebuah keluarga dimana juru Slamat akan hadir ditengah tengah untuk memberkati kami, dan selanjutnya khidupan yang kekal,amien
        Tuhan memberkati,

        permata

        • Shalom Permata,

          Terima kasih atas balasannya. Saya turut bersyukur akan kemantapan Permata untuk menjadi seorang Katolik yang baik. Bawalah hal ini di dalam doa setiap hari, sehingga Roh Kudus sendiri yang bekerja untuk membantu permata dalam mengambil keputusan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Kalau ada pertanyaan untuk menjadi seorang Katolik, Permata dapat menghubungi seorang pastor di paroki yang terdekat.

          Dan jangan lupa juga untuk mendoakan Arief, sehingga dia juga benar-benar dapat mencari kebenaran. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mudah untuk mengambil keputusan pindah agama. Kita dapat berusaha sesuai dengan kemampuan kita untuk menjelaskan, namun merubah hati adalah urusan Tuhan.

          Kalau masih ada pertanyaan-pertanyaan yang lain, silakan menuliskan pesan dan kita dapat mendiskusikannya bersama. Hanya mohon bersabar, kalau tidak dapat langsung saya jawab, karena kesibukan kuliah. Saya turut berdoa agar diskusi dengan Arief dapat berjalan dengan baik. Mulailah diskusi dengan doa kepada Tuhan, sehngga diskusi dapat berjalan dengan baik dan diwarnai semangat kasih.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef

    • Permata dan Arief Ikhwan Yth.

      Perkawinan katolik terjadi kalau salah satu dari calon pengantin adalah katolik. Karena aturan Gereja Katolik untuk orang katolik. Maka anda yang beragama GKI tidak termasuk di dalam aturan Gereja Katolik kecuali menjadi katolik. Jadi jika anda mau diteguhkan perkawinan di Gereja Katolik maka harus menjadi katolik lebih dulu. Ketidakceraian itu bukan hanya karena ajaran Gereja tetapi juga tanggungjawab setiap pasangan suami isteri untuk setia pada janji perkawinan.
      Tuhan memberkatimu.

      salam
      Rm Wanta Pr

  4. Julius Santoso on

    Syalom Bpk. Stefanus Tay.

    Dalam kitab Wahyu dikatakan, bahwa :”Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Why 20:15).
    1. Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bahwa Gereja tidak tahu ada cara lain selain Baptisan yang membuat orang dapat masuk ke kehidupan kekal di surga.

    Berarti bahwa agar tidak dilemparkan ke dalam lautan api, namanya harus tertulis dalam kitab kehidupan dan Gereja Katolik tidak mengetahui cara lain selain Baptisan agar dapat masuk ke kehidupan kekal.

    2. Namun disisi lain seseorang, bukan kesengajaannya tidak mengenal Kristus karena bukan kesalahan mereka, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi”.

    Apakah hal tersebut no. 1 dan 2 diatas tidak bertentangan ?

    • Shalom Julius,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah menjawab pertanyaan tersebut di jawaban ini: (klik ini, dan juga klik ini).
      Dimana di salah satu jawaban tersebut, saya mengatakan:
      Point II. 5:

      Jadi kesimpulannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis air (secara sakramen) pasti masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Namun, satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembabtisan. Jadi bagi orang-orang seperti yang disebutkan di atas, yang dalam kondisi "bukan karena kesalahannya sendiri" tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami "baptism of desire" (lih KGK, 1258-1259). Dan bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima "Baptisan darah" (KGK, 1258). Dengan penggabungan faktor-faktor tersebut di atas, maka kita juga dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga atau dikatakan bahwa Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Dan bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih juga dapat kehilangan keselamatannya.

      IV. Kontradiksi konsep keselamatan?

      1) Lumen Gentium, 14 mengatakan
      "Orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi."
      Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari "invincible ignorance" (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.

      2) Hal ini tidaklah bertentangan dengan "Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan."
      Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.

      3) Dan juga tidak bertentangan dengan:
      "Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”.
      Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai "kepenuhan kebenaran" harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.

      4) Kita kembali kepada prinsip di awal, bahwa Tuhan adalah maha adil dan kasih. Juga rahmat Tuhan adalah cukup bagi semua orang untuk bersatu dengan Tuhan. Oleh karena hal ini adalah sangat masuk akal, bahwa semuanya mempunyai resiko dan tugas masing-masing untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan adalah suatu proses yang berakhir pada saat kita meninggal. Orang yang tidak mengenal Kristus, yang mengenal Kristus di luar Gereja Katolik, dan anggota Gereja Katolik, semuanya mempunyai resiko kehilangan keselamatan. Yang menjadi perbedaan adalah Gereja Katolik mempunyai "kepenuhan kebenaran", gereja yang lain tidak mempunyai kepenuhan kebenaran, dan agama-agama lain mempunyai beberapa unsur kebenaran, yang harus dilihat sebagai persiapan untuk menerima pesan Injil (lih. Lumen Gentium, 16).

      5) Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future):

      Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).

      Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).

      Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).

      Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas konsep keselamatan.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  5. Bernadus Wibowo on

    Saya seorang Katolik dan sampai sekarang saya sangat bangga dan bersyukur dengan agama saya ini, namun beberapa waktu terakhir ini saya dbenturkan dengan permasalahan Karismatik. Apakah semua orang katolik wajib ikut karismatik agar benar-benar diselamatkan ? kemudian ada kelompok pelayanan kasih yang menamakan diri Kelompok Pelayanan Kasih Maria Ibu Yang Bahagia yang menyatakan bahwa pemimpin kelompok ini yaitu Ibu Agnes mendapat wahyu langsung dari Bunda Maria mengenai hari Pemurnian, bahkan ibu Agnes ini dapat bercakap2 langsung dengan Bunda Maria dan beberapa orang kudus lainnya, bagaimana saya harus menyikapi hal ini ? karena tidak semua dari gereja2 Katolik dapat menerima hal ini, bahkan ada yang mengatakan bahwa aliran ini termasuk sesat.
    Mohon pencerahan, terima kasih…………

    • Shalom Bernadus,
      Terimakasih atas pertanyaannya. Kita memang harus bangga dan bersyukur atas karunia iman sehingga kita menjadi anggota Gereja Katolik, dimana kepenuhan kebenaran ada di dalam-Nya. Namun, pada saat yang bersamaan, ini menjadi suatu tantangan agar kita berjuang untuk hidup seperti, mengikuti ajaran Kristus. Mari kita membahas pertanyaan Bernadus:

      1) Setiap orang Katolik tidak harus ikut Karismatik untuk dapat diselamatkan. Keselamatan adalah berkat dari Tuhan semata yang diwujudkan dalam Sakramen Baptis sebagai jawaban "ya" kita atas rahmat Tuhan. Dan untuk diselamatkan, kita perlu hidup kudus, seperti yang diajarkan oleh Kristus. Silakan membaca rangkaian artikel tentang kekudusan:
      Kekudusan itu sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang. Kekudusan menjadi tanda yang nyata bagi kita sebagai pengikut Kristus, dan kekudusan adalah sesuatu yang diperhitungkan pada saat akhir hidup kita (Apa itu Kekudusan?). Marilah kita memeriksa diri sendiri, sudahkah kita hidup kudus (Refleksi praktis tentang Kekudusan), dan mulai mempraktekkannya dengan belajar untuk lebih rendah hati (Kerendahan hati Dasar dan Jalan menuju Kekudusan).

      2) Bahkan seseorang Katolik yang baik harus bertumbuh terutama dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Seseorang yang mengikuti kelompok karismatik namun meninggalkan sakramen-sakramen dapat dikatakan salah jalan. Sakramen Ekaristi adalah bentuk doa dan penyembahan yang tertinggi, dan tidak dapat digantikan oleh bentuk doa apapun(silakan klik: 1, 2, 3).

      3) Tentang kelompok Ibu Agnes, saya belum pernah mendengarnya. Namun untuk kasus wahyu pribadi, saya pernah menjawabnya disini (silakan klik) dan di sini (silakan klik) dimana saya mengatakan:

      a) Umat beriman terikat oleh wahyu umum, seperti yang diberitakan lewat Kitab Suci, Tradisi Suci. Dan Magisterium yang menginterpretasikan wahyu-wahyu umum tersebut. Dan sebagai orang Katolik, kita harus mengikutinya.

      b) Wahyu pribadi tidak mengikat umat beriman untuk mengikutinya. Ada yang telah diakui oleh Gereja, seperti penampakan di Lourdes dari St. Bernadette Soubirous, stigmata yang dialami oleh Padre Pio, devosi kerahiman Ilahi yang diberikan melalui St. Faustina Kowalska, dll. Namun ada juga yang belum diakui dan tidak diakui oleh pihak Gereja.

      c) Biasanya kebenaran dari wahyu-wahyu pribadi akan terlihat dengan perjalanan waktu. Dan oleh sebab itu Gereja benar-benar berhati-hati untuk sampai menyetujui bahwa wahyu pribadi tersebut otentik (benar) dan tidak bertentangan dengan pesan Kristus.

      d) Karena wahyu umum telah selesai (KGK 65-67) dan wahyu pribadi tidak bersifat mengikat, maka umat boleh percaya atau tidak percaya terhadap wahyu pribadi. Umat tidaklah berdosa kalau mengatakan "Saya tidak percaya akan wahyu ini."

      Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Bernadus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

        • Shalom Bernadus,

          Saya minta maaf karena belum sempat untuk membaca website tersebut, karena keterbatasan waktu. Saat ini saya sedang berkonsentrasi untuk menulis beberapa artikel. Namun secara prinsip, semua wahyu pribadi harus tunduk dengan hirarki Gereja. Dan kalau memang wahyu itu dari Tuhan, maka waktu yang akan membuktikannya. Kita tidak usah terlalu takut dengan bencana atau akhir jaman, karena ada saatnya kita dipanggil Tuhan. Yang paling penting adalah bagaimana kita dapat hidup kudus, sehingga pada saat kita dipanggil oleh Tuhan – baik karena meninggal secara alami atau karena akhir jaman – kita dapat diterima di dalam kerajaan Surga.
          Dan Tuhan sudah menyediakan semua cara bagi kita untuk hidup kudus, terutama lewat Sakramen-sakrament, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef

          Tambahan: Terima kasih kepada Christ yang telah memberikan link berikut ini, yaitu tanggapan secara detil tentang hal ini. Silakan untuk melihatnya di sini: link to imankatolik.or.id

  6. Senang sekali membaca tulisan-tulisan yang ada dalam website ini. Setelah lama mencari sumber-sumber penjelasan iman katolik yang bisa terjamin, saya mensyukuri hadirnya web ini.
    Ada yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan Surat St.Petrus, yakni 1 Petrus 3 : 18 – 20 dan 1 Pet 4:6. Tepatkah ayat tersebut jika saya pergunakan untuk menjelaskan mengenai adanya Purgatory ?

    Sehubungan dengan iman saudara kristen lain, yang seringkali menggunakan ayat Luk 23:43, yang intinya hari ini juga Dia akan bersama-sama dengan-Nya di Firdaus. Untuk membuktikan bahwa orang yang meninggal langsung ke surga (Firdaus = Surga)atau ke neraka. Biasanya saya menunjukkan kepada mereka ayat Yoh 20 : 17, yang menyatakan Yesus belum pergi ke pada Bapa setelah tiga hari meninggal, ini untuk mempertentangkan hari ini juga dengan 3 hari kemudian, dan kepergian Yesus kepada roh-roh dalam penjara (Surat 1Petrus tadi). Mohon penjelasannya. Terima kasih.

    • Shalom Saulus,

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya terhadap katolisitas.org. Untuk doktrin tentang Api Penyucian atau Purgatory, telah ditulis dalam artikel tersendiri (klik disini).

      Ayat Luk 23:43,  dimana Yesus mengatakan "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus", bukan merujuk kepada Surga, namun "Limbo of the Fathers", yaitu tempat orang-orang yang tidak masuk dalam neraka, namun belum dapat masuk ke surga karena Yesus belum bangkit dan dimuliakan. Jadi pada hari itu juga, pencuri yang bertobat bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam Firdaus atau limbo of the fathers dan bukan surga. Orang-orang yang berada di limbo of the fathers kemudian dapat masuk ke dalam surga atau melalui Api Penyucian setelah kebangkitan Kristus dan dengan dinyatakannya kemuliaan Kristus. Untuk keterangan tentang hal ini, saya telah menjawabnya di sini (klik disini).

      Semoga artikel tersebut dapat semakin menguatkan kita semua akan adanya suatu pengharapan untuk berkumpul bersama dengan Yesus di Surga, baik secara langsung maupun harus melalui purgatory.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  7. Selamat siang, Bu Ingrid dan Pak Stef…

    Terima kasih atas tanggapan yang terdahulu tentang komentar saya.

    Dalam suatu diskusi singkat (tidak sampai 5 menit barangkali, :-)) dengan Pastor Pembantu di Paroki saya [Admin: menghapus nama paroki], beberapa waktu lalu, saya bertanya apakah Dogma Extra Ecclesia Nulla Sallus atau EENS masih dipegang oleh Gereja Katolik? Jawabannya sungguh mencengangkan saya, yaitu katanya bahwa Dogma EENS sudah lama ditinggalkan oleh Gereja Katolik, terutama pasca Konsili Vatikan II yang (katanya) mengakui adanya keselamatan di luar Gereja Katolik.

    Saya hanya mengelus dada waktu itu, dan ketika saya membaca beberapa artikel dari para Bapa Gereja, terbukti bahwa Dogma EENS masih dipegang teguh oleh Gereja Katolik.

    Satu hal yang saya yakini adalah bahwa suatu Konsili diadakan pertama – tama bukan untuk meniadakan suatu atau beberapa Dogma dalam Ajaran GerejaNYA, tetapi adalah untuk menjawab kebutuhan umat Katolik dalam menjawab tantangan dan persoalan yang dihadapi umat, terutama yang berkaitan dengan kehidupan iman Katolik.

    Sebagai contoh, Konsili Trente diadakan untuk menjawab keresahan umat Katolik pada waktu itu akan bahaya dari sepak terjang paham Protestantisme.

    Saya mohon dukungan data dan artikel dari Bu Ingrid dan Pak Stef untuk bahan saya dalam membuat artikel apologetika di buletin mingguan Paroki saya [Admin: menghapus nama paroki], terutama yang berkaitan dengan Dogma EENS itu.

    Terima kasih. Semoga Tuhan selalu memberkati karya dan kehidupan Bu Ingrid dan Pak Stef sekeluarga.

    [Admin memindahkan pertanyaan ini dari artikel lain ke artikel Gereja Katolik]

    • Shalom Andi,
      Terima kasih telah berkunjung kembali ke katolisitas.org. Memang, seringkali orang salah mengerti bahwa dengan adanya Vatican II, maka doktrin yang lama dihilangkan. Padahal, kalau kita membaca dengan teliti, doktrin yang baru senantiasa berdasarkan doktrin dan dasar teologi yang lama, namun dibuat dengan ekpresi yang baru, sehingga doktrin tersebut dapat semakin jelas dan menjawab tantangan pada jaman tersebut, seperti yang juga dikemukakan Andi.
      Kalau konsili Trente dibuat untuk merespon ajaran Protestan, maka Vatican II mengadakan pendekatan pastoral, dan bagaimana Gereja menjawab tantangan dunia modern, serta bagaimana semua anggota terlibat dalam proses evangelisasi dengan menjadi saksi Kristus yang baik, yaitu hidup kudus.
      Untuk ajaran EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus atau Tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik), maka Andi dapat melihat di beberapa jawaban: 1), 2), 3). Semoga jawaban-jawaban tersebut dapat membantu Andi.

      Kemudian dalam berdiskusi dengan orang lain, kita harus melakukannnya dengan hormat dan lemah lembut (1 Pet 3:15), apalagi terhadap seorang pastor. Kita harus menganggap bahwa pastor adalah bapa kita secara rohani, jadi dalam diskusi dengan pastor, sama seperti diskusi kita dengan ayah kita. Kita tidak senantiasa mengiyakan kalau ada pendapat yang berbeda, namun disampaikan dengan lemah lembut dan hormat.

      Kami doakan agar Andi dapat menulis artikel dengan baik dan mewartakan kebenaran.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

      • Tidakkah perlu dilakukan penyeragaman pendapat para imam ttg EENS ini?
        Jika banyak imam tdk lagi memegang doktrin ini, bagaimana dgn umatnya?

        • Shalom Agnus Dei,
          Terima kasih atas pesannya. Memang pada akhirnya semua ini adalah tergantung dari training (formation) yang diberikan. Setelah Vatikan II, banyak yang salah sangka bahwa EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus) tidak berlaku lagi. Jadi, mari kita bersama-sama mendoakan seluruh umat dan juga seluruh pastor agar semuanya dapat menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Doakan juga kami, agar di dalam keterbatasan pengetahuan kami, kami dapat menyampaikan kebenaran dengan baik, sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik. Beberapa tulisan mengenai hal ini ada di sini: 1) silakan klik, 2) silakan klik, 3) silakan klik.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef & ingrid.

          • Ini adalah keprihatinan saya.
            Saya lihat banyak ajaran2 GK yg mulai dikikis secara halus dgn mengatasnamakan humanisme, sekularisme, toleransi dsb.

            • Shalom Agnus Dei,
              Memang ada banyak gejala dimana nilai-nilai kebenaran Gereja Katolik dikikis dengan humanisme, sekularim, toleransi, dll.
              Namun sesungguhnya, manusia akan semakin menjadi lebih manusia atau “human” kalau dia dapat menemukan Yesus, karena Yesus adalah “fully human” dan “fully God”. Dan Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Tuhan, sehingga manusia mempunyai kodrat untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya.
              Sekularism yang mencoba membentuk masyarakat tanpa Tuhan tidak akan membawa manusia kepada kebahagiaan, karena bertentangan dengan kodrat manusia.
              Sedangkan toleransi yang menggeser kebenaran tidak akan membawa damai, karena bertentangan dengan kebenaran dan kasih.
              Mari kita bersama-sama, di dalam kapasitas kita masing-masing berusaha untuk mengetahui dan mengasihi kebenaran di dalam Gereja Katolik, sehingga kita dapat membagikannya kepada orang-orang yang kita jumpai – bukan hanya dengan kata-kata, namun terutama dengan hidup kudus – sehingga kebenaran itu dapat memancar melalui kehidupan kita. Dan pada akhirnya lebih banyak lagi orang yang dapat menemukan dan mengasihi Yesus lewat Tubuh Mistik-Nya, yaitu Gereja Katolik.
              Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
              stef

  8. Untuk meyakinkan pemeluk agama lain, kita tidak perlu berdebat dengan mereka atau menginjili mereka tetapi dapat menyatakan iman melalui ucapan dan perbuatan kita kepada mereka.
    Berikut ini contoh nyata yang benar-benar terjadi pada sebuah rumah sakit Katolik. Sebagaimana lazimnya, di rumah sakit Katolik digantungkan patung salib dengan korpus pada dinding setiap kamar perawatan. Seorang pasien yang beragama Islam tidak menyukai hal ini dan menganggap patung itu sebagai berhala. Patung tersebut diturunkan dan kemudian ditaruhnya secara diam-diam di dalam lemari. Ketika seorang biarawati mengetahuinya, dia tidak memarahi pasien tersebut. Tetapi dia hanya mengatakan, “Pak. Kami hanya bisa melayani Bapak dengan kasih dan pengorbanan sepenuh hati jika kami selalu diingatkan oleh iman kepercayaan kami. Dan iman itu berupa patung salib yang Bapak turunkan. Jadi, tanpa diingatkan oleh salib tersebut, kami akan bekerja tanpa kasih dan mungkin tidak dapat melayani Bapak dengan sebaik mungkin.” Mendengar penjelasan suster, Bapak itu terdiam. Akan tetapi, ketika keesokan harinya suster yang sama masuk ke kamar Bapak tersebut, patung salib itu sudah tergantung kembali pada tempatnya. Rupanya secara diam-diam Bapak tersebut menyadari kesalahannya sekaligus merasa khawatir kalau-kalau dirinya tidak dilayani dengan kasih jika tidak mengembalikan salib tersebut ke tempatnya semula.

    • Shalom Andryhart,

      Terimakasih atas pesannya yang mengingatkan kita semua untuk melakukan proses pewartaan dengan iman melalui ucapan dan perbuatan kita. Kita semua memang dipanggil untuk menyatakan kabar gembira tentang Kristus kepada semua orang, dan caranya sesuai dengan kapasitas dan keadaan kita masing-masing. St Fransiskus Asisi pernah mengatakan "Senantiasalah untuk melakukan pewartaan, kalau memang terpaksa dengan menggunakan kata-kata". Namun ini juga berarti bahwa kita harus senantiasa siap sedia untuk mempertanggungjawabkan iman kita dengan menggunakan kata-kata yang disampaikan dengan penuh hormat dan kasih (lih 1 Pet. 3:15)

      Mari kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan, sehingga Tuhan menuntun kita semua dalam proses pewartaan dan rencana Tuhan dalam hidup kita dapat terwujud dengan indah.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  9. Christopher on

    Pak Stefanus, saya ingin meminta bantuan anda.

    Saya memiliki seorang sepupu. Sekarang ini dia beragama Buddha, namun ketika kecil (SD) dia pernah dibaptis menjadi Katolik. Saat pembaptisan itu, kedua orang tuanya beragama Buddha dan rumah tangga mereka sudah perada di “pinggir jurang”. Sepupu saya ini tinggal bersama ibunya yang lebih toleran dan tinggal di kota Bogor. Ia menjadi Katolik mungkin karena suasana bersekolah di sekolah Katolik. Beberapa tahun kemudian, orang tuanya resmi bercerai, dan ia tinggal bersama Bapaknya di Jakarta. Bapaknya ini berasal dari keluarga Cina totok dengan budaya Buddha yang kental. Anak ini dimasukan ke sekolah Buddha dan dilarang ke Gereja. Awalnya, sepupu saya ini masih memegang teguh iman Katoliknya. Namun karena tekanan dari ayahnya, bersekolah di sekolah Buddha, aksesnya ke Gereja Katolik ditutup sama sekali, di masa SMAnya ia mulai mendalami agama Buddha secara bersungguh2 sampai akhirnya sekarang menjadi Buddha. Ia mengatakan ia lebih dapat menemukan “kedamaian” dalam agama Buddha. Bahkan beberapa bulan yang lalu, ia sering bertanya kepada keluarga saya, bagaimana caranya membatalkan baptisan Katolik sehingga ia dapat dibaptis secara Buddha. Kami sudah melakukan sejumlah dialog dengannya namun ia selalu menolak ketika diajak ke Gereja dan tetap rutin pergi ke wihara setiap minggunya. Iman Buddhanya masih tetap kuat, walau ia mengakui mulai muncul sejumlah panggilan untuk kembali ke Gereja Katolik berkat pembicaraan2 yang kami lakukan.

    Karena itulah saya ingin meminta bantuan anda. Bagaimana cara cara yang baik sehingga kami dapat membawanya kembali ke Gereja Katolik?

    • Shalom Christopher,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Kita semua perlu mendoakan sepupu Christopher. Bagaimana cara membawa sepupu Christopher ke pangkuan Gereja dapat membaca jawaban ini, yang pernah dibahas sebelumnya. Tambahan yang lain adalah, karena banyak sekali meditasi di dalam ajaran Budha, maka Christopher dapat memberikan buku-buku seperti karangan Teresa of Avilla, yaitu puri batin atau Yohanes Salib. Saya tidak tahu apakah ke dua buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun seingat saya, Pastor Yohanes Indra Kusuma telah membuat satu buku tentang doa berdasarkan Santa Teresa Avilla dan Yohanes Salib.

      Pembaptisan tidak dapat dibatalkan, karena Sakramen Baptis adalah sakramen yang memberikan karakter kepada jiwa kita, dimana kita menerima tiga kebajikan Ilahi, karunia Roh Kudus, bersatu dengan Gereja, dan menjadi anak Allah. Itulah sebabnya sakramen ini tidak dapat diulang.

      Dalam hal ini, tidak usah terburu-buru. Lakukan percakapan dengan sepupu Christopher berlandaskan kasih. Kita tidak pernah tahu waktunya. Namun semakin kita ngotot, dia akan semakin menjauh. Yang penting bawa terus di dalam doa, karena pada akhirnya konversi hati adalah urusan Tuhan. Kita hanya sebagai alat Tuhan.
      Semoga Christopher diberikan kebijaksanaan oleh Tuhan untuk memberitakan kebenaran Injil dan membawa sepupu Christopher ke dalam pangkuan Gereja Katolik.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

    • Shalom Christ,

      Untuk pertanyaan pertama tentang Katolik Latin dan Katolik Timur adalah:

      1) Katolik Latin adalah Western Church, atau Katolik Roma. Sedangkan Katolik Timur adalah Gereja Katolik Timur, yang tetap dalam kesatuan Gereja Katolik.

      2) Gereja Katolik Timur ini mempunyai pengajaran yang sama dengan Katolik Roma, dan mereka mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik. Mereka mempunyai liturgi yang begitu indah, dimana Konsili Vatican II dalam Orientalium Ecclesiarum mengatakan bahwa mereka didorong untuk merayakan Ekaristi dengan tradisi yang sudah ada, karena Gereja ingin mempertahankan warisan ini.

      3) Kitab Hukum Gereja yang dipakai mereka adalah CCEO (Code of the Canons of the Eastern Church), yang dipakai oleh 21 Gereja Katolik Timur. CCEO ini disahkan oleh Paus John Paul II tanggal 18 Oktober 1990, yang mulai berlaku tanggal 1 Oktober 1991. Sedangkan Latin Church memakai Kitab Hukum Kanonik 1983, yang disahkan oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983, dan berlaku mulai tangal 27 November 1983 (hari pertama advent). Namun semuanya adalah Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

      Tentang mengapa kita berdoa kepada orang kudus:

      1) Perlu diluruskan terlebih dahulu, bahwa sebenarnya tidak tepat perkataan "harus", karena kita tetap menjadi orang Katolik, kalau kita tidak berdoa bersama orang Kudus. Kita tidak berdoa kepada orang kudus namun berdoa "bersama" orang kudus. Kita hanya berdoa kepada Tuhan.

      2) Bayangkan, ada orang-orang yang Christ kenal baik (seorang pastor atau saudara, atau teman gereja) dan mereka sangat suci dan baik hidupnya.Kalau Christ sedang menghadapi kesulitan, bukankah Christ akan telpon mereka dan minta doa mereka? Kenapa? Karena kita tahu bahwa doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16). Kita juga tahu bahwa dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, disitu Yesus hadir di tengah-tengah mereka (Mat 18:20). Kita semua, baik Katolik maupun Kristen- Non katolik percaya akan hal ini. Namun yang membedakan adalah: Apakah setelah dipisahkan oleh kematian, hal ini tetap berlaku atau tidak?

      3) Orang Katolik percaya akan apa yang dikatakan oleh St. Paulus "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Rom 8:38-39). Jadi walaupun para orang kudus telah meninggal, mereka tidak terpisah dari kita. Inilah sebabnya, Gereja Katolik percaya akan Satu Gereja, yang mempunyai 3 keadaan: 1) Gereja yang masih mengembara di dunia ini, 2) Gereja yang dimurnikan – ada di api penyucian, dan 3) Gereja yang Mulia, ada di surga (KGK 954, 962). Ketiganya tidak terpisahkan dan menjadi satu tubuh Kristus dengan Kristus sendiri menjadi kepala-Nya.

      4) Kita juga percaya bahwa para kudus telah bersatu dengan Tuhan. Hal inilah yang meyakinkan kita, bahwa mereka benar-benar mempunyai kesatuan abadi dengan Tuhan, yang artinya mereka adalah "orang benar".

      5) Jadi kalau orang kudus, adalah orang benar dan kematian tidak memisahkan mereka dengan kita, apakah kita tidak "rugi" kalau kita tidak meminta doa-doa dari mereka? Kalau kita tidak minta doa-doa mereka, kita yang sebenarnya dirugikan.

      6) Karena para kudus adalah orang yang benar dan telah bersatu dengan Allah, maka kasih mereka jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kasih orang-orang di dunia ini. Kalau orang yang berbelas kasih di dunia ini berdoa untuk pertobatan orang-orang, apakah kita berpendapat bahwa mereka di surga hanya berpangku tangan saja, dan tidak melakukan apa-apa? Disinilah, Gereja mempercayai bahwa mereka yang ada di surga tetap mendoakan Gereja yang mengembara dan Gereja yang sedang dimurnikan (KGK 956, Lumen Gentium 49).

      7) Suatu saat, katolisitas.org akan membuat artikel tersendiri tentang persatuan para kudus.

      Semoga pemaparan singkat di atas dapat membantu. Mari kita, yang masih mengembara di dunia ini dapat terus berjuang untuk hidup kudus, sehingga kita semua akan dipersatukan dengan semua orang kudus di surga.
      Para kudus di surga,…. doakanlah kami.

      Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
      stef

  10. Pak Stefanus,saya sudah menikah sekitar 6 thn yg lalu dan istri saya kebetulan dari pantekosta,namun pada waktu menikah kami diberkati di gereja katolik.saya sangat berterimakasih thdp istri saya karena selama ini dialah yg membimbing saya dan selalu mengajak saya untuk pergi kegereja paroki saya,tanpa dia mungkin saya tidak akan mengenal Yesus dan bunda Maria spt skrg ini,ada ganjanlan serta keinginan dlm hati saya kapan istri saya dapat disatukan dlm gereja katolik,saya tidak dapat memaksakan keinginan saya thdp dia dlm masalah ini karena takut menyinggung hati dan perasaannya,dan saya tahu kalau iman istri saya cukup kuat untuk mempertahankan keyakinannya apalagi dalam memgupas isi alkitab saya pribadi patut memujinya, sedangkan saya sendiri secara pribadi masih teramat dangkal serta dlm tahap belajar dlm segi keimanan saya,masih perlu banyak bimbingan.Kadang diselasela waktu dan dlm suasana santai saya ada sedikit2 membahas tentang agama katolik thdp istri saya sesuai kemampuan diri saya tapi rasanya masih jauh dan belum tergerak hatinya,bagaimana diri saya menghadapi hal ini,saya mohon bimbingannya.Oh ya,satu hal lagi mengenai kakak perempuan istri saya pernah bertanya karena tahu saya seorang katolik,kenapa kamu berdoa mesti melalui bunda Maria bukannya langsung ke Yesus dan dibarengi dgn sejumlah pertanyaan yg lain yg kurang lebih sama dgn pertanyaan2 dari rekan2 protestan yg lainnya,ada perasaan sakit hati dlm diri saya dihujani pertanyaan2 spt itu,tapi saya mencoba bersabar dan saya jawab sekemampuan saya tapi kelihatan kurang puas penerimaannya,daripada ribut akhirnya saya coba menghindar dan saya berikan pengertian lbh baik kita tidak usah meributkan masalah agama/keyakinan kita masing2.Pak Stefanus,kira2 jawaban apa yg paling baik dan diterima oleh kakak ipar saya,terima kasih atas perhatiannya Tuhan memberkati.

    • Shalom Andi,

      Terimakasih atas pertanyaannya. Saya ikut bersyukur bahwa Tuhan memberikan berkat perkawinan yang baik walaupun tidak satu agama. Dan bersyukur juga untuk istri Andi yang begitu penuh pengertian.

      Untuk pertanyaan pertama tentang bagaimana untuk menggerakkan istri agar dapat menjadi satu iman, saya ingin menyarankan hal-hal berikut ini:

      1) Yang pertama adalah berdoa terus agar istri Andi dapat masuk dalam pangkuan Gereja Katolik. Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan contoh bagaimana menjadi suami Katolik yang baik, misalnya dengan berlaku lemah lembut dan penuh kasih.

      2) Mengakui bahwa kita musti banyak belajar, seperti yang Andi katakan adalah menjadi langkah awal yang baik. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang Katolik untuk mengetahui dan mengasihi iman Katolik kita. Tanpa pengetahuan yang baik akan sulit mengasihi. Bayangkan kalau di dalam pekerjaan, untuk dapat menyelesaikan pekerjaan, sering kita dituntut untuk tahu banyak hal. Dan karena pekerjaan begitu penting dalam hidup kita, maka kita akan melakukan apapun, sehingga kita jadi tahu dan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut.
      Kita sebenarnya dapat menerapkan usaha-usaha yang kita lakukan untuk pekerjaan kita ke dalam kehidupan spiritual kita. Kalau kita dapat memberikan setengahnya saja, maka kehidupan spiritual kita akan menjadi lebih baik.
      Seorang Santo mengatakan bahwa kalau saja setiap manusia mempunyai usaha dan kemauan yang sama dalam kehidupan rohani, seperti usaha dan kemauan dalam mencapai hal-hal duniawi, maka semua orang dapat masuk surga.

      3) Untuk itu, saya ingin mengusulkan untuk bersama-sama bergabung dalam kegiatan di paroki, misalkan: pendalaman Alkitab, berdoa rosario, atau aktif di lingkungan, dll. Bahkan kalau memungkinkan, dapat diadakan pertemuan lingkungan di rumah, juga rosario bersama di rumah.

      4) Dapat juga pada waktu pagi dan malam berdoa bersama-sama, yang kadang-kadang bisa divariasikan dengan doa rosario.

      5) Kalau ada pertanyaan-pertanyaan dari istri Andi, dan Andi bingung untuk menjawabnya, bilang dengan jujur bahwa saat ini Andi tidak tahu, namun berjanji untuk mencari tahu. Setelah itu Andi dapat bertanya kepada pastor atau orang-orang yang Andi percayai.
      Memberikan jawaban yang salah lebih fatal akibatnya daripada berkata jujur bahwa kita memang tidak tahu.

      Kemudian pertanyaan kedua, yaitu tentang pertanyaan-pertanyaan yang datang dari kakak perempuan istri Andi:

      1) Kembali kewajiban dari kita semua untuk tahu atau benar-benar mencari tahu apa yang kita percayai. Dan dalam berdiskusi tidak usah sakit hati atau sampai emosi. Memang kita tidak harus terus berdebat tentang agama, namun tahu akan apa yang kita percayai dapat memberikan kepercayaan iman yang lebih, sehingga kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita yang dilakukan dengan penuh hormat dan kasih (1 Pet 3:15).

      2) Kalau ada pertanyaan-pertanyaan seperti Bunda Maria, orang Katolik menyembah patung, dll., Andi dapat memberikan artikel yang ada di website ini kepada dia. Semua artikel dapat Andi berikan, asalkan mencantumkan sumbernya: http://www.katolisitas.org.
      Untuk artikel-artikel yang berhubungan dengan apologetik dapat diakses disini.

      3) Kesaksian tidak hanya berupa dengan kata-kata atau argumentasi-argumentasi yang canggih, namun terutama dengan menunjukkan perbuatan kita sebagai orang Katolik yang baik.

      Semoga uraian singkat di atas dapat membantu Andi. Mari kita bersama-sama semakin mengasihi Yesus dan Gereja-Nya, sehingga orang-orang di sekitar kita juga dapat merasakannya dan tertarik untuk mengetahui iman Katolik.

      Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
      stef

      • Saya menjadi Katolik karena mengikuti teman-teman Katolik saat bersekolah di sekolah Katolik. Saya menjadi Katolik karena ingin seperti teman-teman Katolik yang boleh menerima hosti setelah dibaptis. Jadi, saya menjadi Katolik bukan karena tertarik kepada ajarannya atau pun karena dipanggil oleh Tuhan, tetapi karena ikut-ikutan untuk bisa menerima hosti. Sebagai remaja berusia belasan tahun, saya memiliki keingintahuan yang sangat besar tentang bagaimana rasanya hosti yang begitu dihormati umat Katolik sehingga saya mengikuti pelajaran agama Katolik dan bersedia dibaptis sekalipun tidak disetujui oleh orangtua saya (karena saya dianggap masih kecil sehingga orangtua saya yang tidak beragama saat itu memandang pembaptisan saya terlalu dini dan dapat menimbulkan persoalan kalau saya menemukan pasangan hidup yang berbeda agama).
        Isteri saya menganut agama Kristen. Sebelum menikah, dia biasa beribadah ke gereja Pentakosta tetapi kadang-kadang ke GKI. Semua saudaranya menikah dengan pendeta dan evangelist. Dia mengajak saya untuk ke gerejanya karena menurutnya, ibadah di gerejanya tidak membosankan dan tidak rumit dengan berbagai ritual seperti di gereja Katolik. Pada saat pacaran, memang dia mengajak saya untuk pindah ke agamanya. Tetapi saya menolaknya karena saya tidak mau dibaptis ulang. Kami menikah di catatan sipil.
        Setelah mempunyai dua orang anak, kemudian kami mencoba mengambil keputusan. Pernikahan yang tidak diberkati di gereja ternyata membuat kami serba salah. Jika saya memaksakan diri untuk menerima komuni, saya merasa berdosa. Jika tidak, lama-lama saya dan isteri akan malas ke gereja karena tidak bisa mengimani ibadah yang berlangsung di dalam gereja.
        Akhirnya kami memutuskan untuk memohon sakramen perkawinan dari gereja Katolik. Isteri saya menyetujui karena dia tidak perlu dibaptis ulang dan pastor yang akan memberikan sakramen perkawinan mengatakan bahwa saya dan isteri hanya berbeda gereja tetapi tetap satu iman, yaitu percaya bahwa Yesus merupakan jalan satu-satunya keselamatan kita.
        Selanjutnya tanpa disadari kami mulai rajin ke gereja dan mulai bisa merasakan makna ibadahnya, bahkan kami juga mulai ikut kegiatan lingkungan. Isteri saya ternyata lebih aktif dari saya dalam hal kegiatan seperti doa Rosario, ikut koor dan bahkan ikut kursus penginjilan Shekinah. Mungkin dia lebih mempunyai waktu dibandingkan diri saya atau kesadarannya untuk beribadah dengan baik tumbuh lebih dahulu daripada saya. Akhir-akhir ini kami juga sering berwisata ziarah ke Carmel dan Gedono. Semua kegiatan ini mendorong saya untuk belajar lebih lanjut tentang Kitab Suci, tradisi suci gereja dan magisterium. Dorongan ini lebih kuat lagi ketika iparnya yang merupakan seorang pendeta mengalami kecelakaan berat (patah tulang tangan kaki dan retak tulang kepala/muka). Iparnya itu mengalami mukjizat karena selain Tuhan telah menyembuhkannya, juga biaya rumah sakit yang ratusan juta (sehingga tidak mungkin bisa ditanggung oleh pendeta biasa yang umatnya bukan orang kaya)dibayarkan oleh orang lain. Dia mengalami mukjizat ketika pada malam harinya menjelang kesembuhannya berdoa di kapel R.S. Elizabeth Semarang dan disentuh hatinya oleh biarawati yang menegurnya serta menghiburnya. Biarawati itu menasihati bahwa dalam menghadapi cobaan di mana bagi manusia, cobaan itu tidak mungkin bisa diatasi, maka mukjizat akan terjadi karena bagi Allah tidak ada perkara yang mustahil. Kini ipar saya mengikuti doa mazmur di Gedono yang dekat dengan Salatiga, tempat tinggalnya. Memang kami berbeda gereja tetapi itu tidak berarti kami berbeda iman karena dia pun bersama isterinya akhirnya dapat memahami ajaran gereja Katolik. Sekarang saya sendiri harus terus mendalami iman dan ajaran gereja Katolik, yaitu ajaran gereja perdana yang selama 300 tahun setelah kematian Kristus diimani oleh para pengikut Kristus sehingga mereka lebih bersedia mati dianiaya daripada meninggalkan Kristus. Saya telah menemukan sumber ajaran tersebut dari berbagai artikel, komentar dan jawabannya, kesaksian dan sebagainya dalam http://www.katolisitas.org ini di samping dari ajaran dalam berbagai retret. Karena itu, saya berdoa agar situs ini tetap lestari untuk menjadi sumber mata air yang dapat menghilangkan dahaga kami akan ajaran kebenaran yang sejati.

  11. chandra christian on

    shalommmmm…..
    bagaimana cara untuk menumbuh iman katolik mereka ketika mereka mulai goyah?
    sebagai contohnya adalah ada seorang yang menjadi katolik padahal sebelumnya di8a berasal dari gereja yang lainnya. dengan satu alasan dia masuk ke gereja katolik. Dia suka membandingkan antara gerejanya dengan gerejanya sebelum dia masuk katolik. dia jadi malas untuk pergi ke gereja dan mengajak anaknya untuk masuk ke gerejanya dulu dan juga mengikuti peraYaan ekaristi. Bagaimana apakah mengganggu keimanan anak tersebut tentang katoliknya? apakah dia yang mengajak anaknya itu salah?/??????

    satu Lagi tolong dong Kirimin Ke email ku kalau ngak salah…… Dulu aku punya ssurat wasiat dari kubur Yesus. yang menuliskan beberapa tetes darah Yesus yang tumpah, Berapa yang Ikut denganNYa pada saat penyalipan, berapa jumlah algojonya, dll. Pada saat Yesus menampakkan diri kepada Seorang Suster. tolongnya. sebab buku itu sekarang di pakai oleh saudara ku yang membutuhkan buku itu. jad aku minta tolong umtuk dikirimin kalau ada.

    terima kasih atas WaktunyaA yang berharaga. TUHAN Yesus memberkati.

    • Shalom Chandra,

      Pertama, saya tidak tahu alasan dia untuk pindah ke Gereja Katolik dan apakah dia benar-benar mendapatkan proses katekese yang baik. Inilah yang menjadi masalahnya, bahwa tanpa katekese yang baik, maka seseorang akan sulit untuk tahu dan mengasihi iman Katolik. Mengasihi harus terlebih dahulu tahu. Kita tidak bisa mengasihi tanpa tahu terlebih dahulu. Contohnya, bagaimana seseorang dapat mengasihi Ekaristi, kalau dia tidak benar-benar tahu bahwa disitulah segala penderitaan Yesus dihadirkan kembali? Bagaimana seseorang mengasihi Gereja Katolik, kalau dia tidak tahu bahwa Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus?

      Jadi saya ingin mengusulkan hal praktis berikut ini yang dapat dilakukan oleh Chandra:

      1) Berdoa dan memberikan kesaksian yang baik bagi orang tersebut, sehingga orang tersebut bisa melihat bahwa anggota Gereja Katolik yang baik dapat bersikap dengan penuh kasih.

      2) Dalam beberapa kesempatan, orang tersebut dapat diajak untuk berdiskusi untuk mengenal secara baik tentang liturgi, terutama adalah Ekaristi. Ekaristi membutuhkan kesadaran, aktif partisipasi dari yang hadir (KGK, 1071). Bisa juga diberikan buku tentang Ekaristi dan iman katolik. Maaf, saat ini saya tidak tahu buku apa dalam bahasa Indonesia yang membahas tentang Ekaristi dengan baik. Kalau ada buku yang bagus, bisa minta dia untuk membacanya. Yang jelas Katekismus Gereja Katolik adalah buku yang harus dipunyai oleh setiap umat Katolik. Yang menjadi masalah, mungkin tidak semua orang dapat mengerti akan keindahan dan kedalaman dari buku ini.

      3) Ajak juga ke komunitas Gereja, sehingga dia dapat tumbuh bersama, misalkan: ikut pendalaman Alkitab, kelompok doa, dst-nya. Karena pada dasarnya orang butuh komunitas untuk bertumbuh.

      4) Orang juga perlu melayani untuk bertumbuh. Semakin kita memberikan diri untuk orang lain, semakin kita dapat lebih bertumbuh.

      5) Untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, orang yang telah dibaptis membutuhkan: doa (terutama mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi), menerima sakramen-sakramen yang lain (Sakramen Tobat, dll), membaca Firman Tuhan, bergabung dalam komunitas, mengikuti pelayanan.

      Kemudian tentang anaknya yang diajak untuk ke Gereja yang lain adalah salah, dengan alasan berikut ini:

      1) Pada waktu dia menikah, dia berjanji di hadapan Tuhan untuk mendidik anaknya secara Katolik. Dan ini bukan untuk kepentingan Tuhan, namun untuk kepentingan manusia, karena di dalam Gereja Katolik ada kepenuhan kebenaran. Anggota Gereja Katolik mendapatkan kekuatan dari sakramen-sakramen yang tidak di dapat di Gereja yang lain, dan juga dengan semua doktrinnya yang menuntun seluruh anggota gereja untuk hidup kudus dan mencapai kebahagiaan sejati di Surga.

      2) Kalau dia mengajak anaknya ke gereja lain, maka hal tersebut akan membuat anak tersebut menjadi bingung. Yang menjadi masalah adalah apakah sebelum mengajak ke gereja yang lain, "apakah dia benar-benar mencari dengan sungguh-sungguh dengan segala kekuatannya untuk mencari kebenaran di Gereja Katolik?" Tanpa pencarian kebenaran yang sungguh-sungguh dan membawa anaknya ke gereja yang lain adalah tidak tepat dan merupakan kesalahan besar. Ini berarti seseorang menempatkan perasaan pribadi di atas kebenaran. Kebenaran tidak tergantung dari "perasaan", ini berarti bahwa kalau kita datang ke perayaan Ekaristi dan mengalami "perasaan bosan", tidak menghilangkan bahwa kebenaran bahwa "Ekaristi adalah bentuk doa dan penyembahan yang tertinggi, karena Yesus sendiri menjadi Kurban dan Imam". Tidak ada doa (pribadi, praise and worship, puji-pujian, dll) yang dapat menyamai Ekaristi.

      Untuk dokumen tentang detail penderitaan Yesus Kristus, saya tidak mempunyai datanya. Saya punya empat buku tebal "The life of Jesus Christ karangan Anne Catherine Emmerich", yang salah satunya menceritakan tentang penderitaan Kristus secara detail. Penglihatan-penglihatan dari Anne Catherine Emerich dan Mary of Agreda menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Mel Gibson dalam filmnya "The Passion of the Christ." Hal yang paling penting di sini adalah, Yesus menyediakan diri-Nya untuk mengalami siksaan yang begitu kejam untuk menebus dosa kita. Dan peristiwa dan penderitaan ini dihadirkan kembali dalam setiap perayaan Ekaristi.

      Semoga pemaparan di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.

      Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
      stef

  12. shalom…
    aku mau tanya begini… kan Kristen itu banyak sekali…. bukan….
    aku mau tanya secara jelas apa seeh geeja ortodoks dan anglikan itu. apa persamaan dan perbedaaannya. dan apakh mereka mempunyai dogma yang sama dengan geeja kita dan satu lagi… bagaimana cra untuk dapat membuat seorang anak kecil yang malas ke gereja untuk pergi ke gereja. apakah perlu unsur paksaan.

    juga apakah kita boleh untuk membuat sebuah kapel kecil di rumah. apa saja syaratnya
    thanks Tuhan membekati

    • Shalom Christ,
      Untuk pertanyaan pertama, memang ada banyak yang kekristenan yang dapat kita lihat sampai saat ini, namun sebagai orang Katolik kita percaya bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri, dengan empat tanda "satu, kudus, katolik, dan apostolik". Jika ada banyak gereja yang memisahkan diri dari Gereja Katolik dengan berbagai alasan yang berbeda, hal itu tidak ‘mengurangi’ ke-empat ciri Gereja Katolik tersebut. Mengenai pemisahan Gereja Othodox dan Anglikan adalah sebagai berikut:

      1) Pertama-tama perlu diketahui bahwa tidak semua Gereja Timur memisahkan diri dari Gereja Katolik. Dokumen Vatikan II mengenai Gereja Timur yang mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik ditulis dalam Orientalium Ecclesiarum (OE) yaitu Dekrit Tentang Gereja-gereja Timur Katolik. Istilah ‘Orthodox’ yang berarti “true believer/ orang beriman sejati” pada mulanya digunakan oleh Gereja-gereja Timur yang menolak ajaran sesat Nestorians dan Monophysites. Namun kemudian gereja-gereja Orthodox ini tergabung dalam schism Photius (abad ke 9) dan Cerularius (abad ke 11) yang kemudian memisahkan dari dari kesatuan Gereja Katolik Roma. Maka “Orthodox” ini adalah nama teknis dari Gereja-gereja Timur (di Eropa Timur, Mesir dan Asia) yang tidak mengakui kesatuan dengan Gereja Katolik. Untuk lebih lengkapnya mungkin uraian ini akan dapat kami tuliskan di artikel terpisah di waktu yang akan datang.
      Dengan demikian, terdapat 2 kelompok Gereja Timur, yang pertama masih dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma, dan yang kedua tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik Roma (yang dikenal dengan Gereja Orthodox). Gereja Katolik mempunyai ikatan yang erat dengan Gereja-gereja Timur tersebut, termasuk Gereja Orthodox yang walaupun tidak berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, namun mereka mempunyai apostolik, imamat dan Ekaristi (KGK, 1399). Jadi secara prinsip Gereja Orthodox mempunyai pengajaran dan sakramen seperti yang ada dalam Gereja Katolik, namun mereka tidak mengakui otoritas Gereja Katolik Roma. Namun, melalui Vatikan II Gereja Katolik berusaha mengusahakan kesatuan kembali dengan Gereja-gerja tersebut, yang dapat dilihat misalnya dalam hal pemberian sakramen. Orientalium Ecclesiarum 27 mengatakan,”…kepada para anggota Gereja-Gereja Timur, yang tanpa kesalahan apapun terpisah dari Gereja Katolik, dapat diterimakan Sakramen Tobat, Ekaristi dan Pengurapan Orang Sakit, bila mereka sendiri memintanya dan berada dalam disposisi baik. Bahkan orang-orang Katolik pun boleh meminta Sakramen-Sakramen itu kepada pelayan-pelayan yang tidak Katolik (imam Orthodox- red), bila Gereja-Gereja mereka mempunyai Sakramen-Sakramen yang sah, setiap kali itu dibutuhkan, atau sungguh ada manfaat rohaninya, dan bila secara fisik atau moril tidak dapat ditemui seorang imam katolik (maksudnya, jika dalam keadaan darurat atau di daerah itu tidak terdapat imam Katolik- red).”

      2) Gereja Anglikan – didirikan oleh Raja Henry VIII di abad ke16. Untuk gereja-gereja yang memisahkan diri dari Gereja katolik dan yang mucul dari jaman Reformasi (termasuk di sini gereja Anglikan), telah kehilangan hakikat misteri Ekaristi karena mereka tidak mempunyai Sakramen Tahbisan (KGK, 1400). Gereja Anglikan kehilangan apostoliknya, seperti yang dikatakan Paus Leo XIII dalam suratnya Apostolicae Curae (1896). Ada perdebatan tentang hal ini. Mereka juga mengakui bahwa hanya ada 2 sakramen yang diinstitusikan oleh Yesus sendiri, yaitu: Baptis dan Ekaristi, sedang lima sakramen yang lain dimasukkan sebagai sakramen yang berasal dari Injil. Gereja Anglikan juga mendasarkan ajarannya dalam 9 point berikut ini (sumber: New Advent): 1) tidak mengakui kepausan, 2) tidak mengakui Gereja yang mempunyai "sifat tidak dapat sesat" (Church infallibility), 3) pembenaran hanya berdasarkan iman semata, 4) keutamaan Alkitab sebagai artikel iman, 5) Ekaristi sebagai persekutuan bukan kurban, dan tidak mengakui transubstantiation – sehingga tidak ada adorasi di depan Sakramen Maha Kudus, 6) Sakramen Pengakuan Dosa tidaklah penting, 7) menolak bantuan doa dari Bunda Maria dan para kudus, 8 ) menolak dokrin api penyucian, 9) menolak indulgensi.
      Kardinal Henry Newman dengan Oxford Movementnya berusaha untuk menyatukan Gereja Katolik dan Anglikan, namun akhirnya Kardinal Newman sendiri, yang tadinya seorang Anglikan menjadi Katolik karena dia melihat bahwa apostolik yang penuh hanya berada di dalam Gereja Katolik dan hanya doktrin/ ajaran Gereja Katolik yang mempunyai perkembangan yang bersifat organik, yaitu tidak berubah, namun seperti pohon, dari kecil menjadi besar. Artinya di dalam Gereja Katolik tidak ada perubahan doktrin. Yang ada hanyalah penjabaran doktrin sehingga menjadi lebih jelas sejalan dengan berjalannya waktu.

      Untuk pertanyaan tentang bagaimana membuat anak yang malas ke gereja untuk datang ke gereja:

      1) Ke gereja satu kali seminggu tidaklah cukup untuk perkembangan kehidupan rohani anak. Sama seperti anak tidak cukup makan satu kali seminggu. Saya pikir anak juga harus mempunyai suatu kebiasaan berdoa bersama di dalam keluarga. Ibu Teresa mengatakan "keluarga yang berdoa bersama akan terus tinggal bersama". Anak juga harus melihat bahwa dengan menjadi Katolik, ke gereja bersama, membantu terbentuknya suasana kasih di dalam rumah.

      2) Pertanyaan ini sama seperti "bagaimana membuat anak yang sakit, namun malas untuk makan obat yang diberikan oleh dokter?" Kita tentu akan melakukan segala cara untuk memberikan obat kepada anak tersebut. Saya pikir, bahwa kewajiban orang tua yang pertama adalah membawa anak untuk dapat masuk surga, dan caranya adalah dengan mengasihi Tuhan dan sesama, yang salah satunya terwujud dalam ibadah minggu. Apakah harus dipaksa? Dalam kadar tertentu ya, apalagi kalau anak tersebut di bawah "age of reason" sekitar 7-9 tahun. Namun tentu saja memberikan motivasi lebih baik daripada memaksa.

      3) Namun di atas semua itu, yang penting adalah: mendoakan anak itu dan memberikan contoh yang baik dengan perbuatan kasih.

      Untuk mendirikan kapel pribadi, setahu saya tidak ada syarat apapun selama tidak ada tabernakel, yaitu tempat untuk menyimpan Tubuh Kristus.
      Semoga penjelasan di atas dapat menjawab pertanyaan Christ.

      Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
      Stefanus Tay dan Ingrid Listiati

  13. bagaimana mengatasi kondisi dimana kalau dilingkungan kita berada banyak yang bilang kalau Katolik(khususnya kristen) adalah kafir? Saya bingung menjelaskan kepada teman yg beragama lain,soalnya mereka selalu ingin tahu tentang katolik.
    tolong dibalas. makasih banyak. God Bless Us!

    • Shalom Doughlas, Berikut ini adalah beberapa petunjuk praktis untuk berdiskusi dengan saudara kita, baik yang satu agama maupun yang berbeda agama:

      1) Hal pertama yang kita lakukan adalah mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus "Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" (1 Pet 3:15). Ini berarti bahwa kita harus berusaha dengan kemampuan kita masing-masing untuk mempelajari iman Katolik dengan sungguh-sungguh. Sumber paling baik adalah Katekismus Gereja Katolik, yang mungkin bisa didapatkan di Obor atau toko buku Gramedia. http://www.katolisitas.org akan menyediakan Katekismus Gereja Katolik secara online dalam waktu dekat ini.

      2) Rasul Petrus mengingatkan kita, bahwa dalam berdiskusi dan menerangkan iman kita, harus dilakukan dengan lemah-lembut dan hormat. Ini berarti harus dilakukan dengan kasih tanpa menghilangkan kebenaran. Misalkan saja, kita tidak bisa berkata "… ah semua agama sama saja..", tanpa ada konteks yang jelas. Kita harus berani berkata apa yang memang berbeda dengan semangat kasih. Menyamaratakan semua agama adalah mengaburkan kebenaran.

      3) Kalau kita ragu-ragu, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan bahwa saya tidak tahu, namun saya akan mencari jawabannya. Dengan ini kita tidak memberikan keterangan yang bertentangan dengan ajaran Katolik. Dan setelah itu, carilah jawaban menurut ajaran Gereja Katolik, yang bisa didapatkan dengan membaca Katekismus Gereja Katolik, atau bertanya dengan Romo, dll.

      4) Yang paling penting adalah menunjukkan apa yang kita percayai dengan cara hidup kudus, sehingga umat dari agama lain juga ingin tahu apa yang membuat kita bertidak dengan penuh kasih.

      Mari sekarang kita melihat secara khusus pertanyaan dari mereka, yang mungkin dapat saya simpulkan bahwa yang bertanya adalah dari saudara kita umat beragama Islam. Saya sendiri tidak terlalu mendalami tentang agama Islam, namun ada beberapa hal penting yang dapat kita lihat:

      1) Dalam berdiskusi dengan umat Islam, kita tidak dapat menggunakan ayat-ayat dari Alkitab, karena mereka tidak mempercayainya. Dalam berdiskusi, harus ada titik yang menjadi acuan diskusi yang dipandang baik oleh kedua belah pihak. Jadi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan human reason karena kedua belah pihak mempunyai akal budi. 

      2) Satu persamaan dari beberapa persamaan yang lain antara Katolik dan Islam adalah kita sama-sama percaya akan satu Tuhan, walaupun umat Islam sering salah mengerti akan ajaran Trinitas, dan mengatakan bahwa umat Kristen percaya akan 3 tuhan. Mereka percaya akan Tuhan yang besar, namun bukan Tuhan yang imanuel (yang beserta kita), yang kita imani sebagai Yesus Kristus. Bagi mereka, adalah tidak mungkin bahwa Tuhan menjelma menjadi manusia, karena itu sama saja dengan merendahkan dan menghina Tuhan yang besar. Namun, bagi kita, justru dengan datang di dunia, Tuhan telah menunjukkan kasih yang sehabis-habisnya kepada manusia, sehingga kita malah semakin mengasihi Tuhan kita. Nanti akan ada artikel tersendiri yang membahas tentang "Mengapa Tuhan menjadi manusia".

      3) Kepercayaan bahwa agama Kristen adalah agama kafir menurut Islam, saya tidak benar-benar yakin, karena ada beberapa penjelasan yang mengatakan bahwa Islam membedakan antara golongan yang menyembah berhala (polytheism) dan menyembah satu Tuhan, seperti agama Yahudi dan Kristen (monotheism). Untuk pengertian kafir, dapat dilihat disini. Dan lihat diskusi ini, dan ini, bahwa agama Yahudi dan Kristen disebut "agama buku atau dapat disebut kaum Yahudi dan kaum Kristen" (Al-Baqarah 2:109; Al-Hashr 59:2).

      4) Jadi kalau sampai dibilang kafir, tanya apa maksudnya dan penjelasannya. Karena dari penjelasan di atas, kafir tidak ditujukan untuk kaum Yahudi dan Kristen.

      5) Kalau mereka ingin tahu tentang pengajaran Katolik, mungkin dapat dimulai dengan sosok Kristus, karena sumber iman kita adalah Kristus, Allah yang menjadi manusia. Keingintahuan mereka tentang agama Katolik adalah merupakan langkah awal yang baik. Mungkin artikel "Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan" dapat membantu. Kalau mereka setuju bahwa umat Kristen bukanlah kafir, namun disebut agama buku, maka tunjukkan bahwa agama Kristen bukanlah agama buku, namun agama yang mengikuti sosok Seseorang, yaitu Yesus, karena Dia adalah Tuhan, dan Dia berkata "Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup" (Yoh 14:6).

      6) Akhirnya bawalah mereka dalam doa, sehingga Yesus sendiri yang dapat memberikan karunia iman kepada mereka.

      Semoga pemaparan singkat ini dapat menjawab pertanyaan Doughlas.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  14. chandra christian on

    hallo salam dmai dari Tuhan kepada kita selalu
    Memang banyak dari gereja lain yang beranggapan bahwa kita hanya menyembah patung? dan menganggap bahawa apakah maria tetaP perawan. menurut saya pribadi bahawa kita memakai patung bukan untuk susjud di hadapan patung itu tetapi kita mengenang dan melihat sosok dari patung tersebut dan membuat kita pasti dapat berbuat yang lebih dari pada itu
    kepada tuhan ALLah. tuhan adalah gembala kita yang menuntun kita tapi menurut mereka begitu apak boleh buat

    • Shalom Chandra,
      Terimakasih buat komentarnya. Memang ada banyak perbedaan antara Katolik dengan saudara kita dari agama Kristen yang lain. Namun kita juga dipersatukan dengan mereka dalam Sakramen Baptis (Lih Dok Vatikan II, Unitatis Redintegratio/UR,3). Archbishop Fulton J. Sheen berkata “There are not a hundred people in America who hate the Catholic Church. There are millions of people who hate what they wrongly believe to be the Catholic Church— which is, of course, quite a different thing.” Dari sini kita melihat, bahwa banyak orang mempunyai begitu banyak kesalahan persepsi tentang ajaran dan dokrin Gereja Katolik, sehingga mereka tidak menyukai Gereja Katolik dan segala pengajarannya – padahal sebenarnya kalau diteliti, semua ajaran dan dokrin Katolik sungguh-sungguh berasal dari Tuhan sendiri.

      Dengan semangat kasih dan menempatkan kebenaran di atas segalanya, kita harus mencoba dengan segala kemampuan kita untuk menerangkan bagaimana iman Katolik yang sebenarnya. Dan kebenaran ini bukan hanya ditunjukkan dengan kata-kata. Kebenaran akan lebih bersinar, jika ditunjukkan dengan perbuatan kita sebagai orang Katolik untuk terus berusaha hidup kudus.

      Inilah yang ditunjukkan oleh para orang kudus. Pada saat seorang Ibu Teresa menunjukkan kepada dunia akan arti kasih yang sebenarnya – yang bersumber pada Yesus, Maria, Ekaristi, doa adorasi di depan Sakramen Maha Kudus – , maka dunia akan melihat kebenaran akan ajaran-ajaran Gereja dengan lebih jelas. Namun, kita harus selalu siap untuk menjelaskan iman kita dengan kelemah-lembutan dan hormat (lih. 1Pet 3:15).

      Mari, kita bersama-sama berusaha untuk menjadi saksi Kristus yang baik, sehingga Kristus akan semakin bersinar.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

  15. Saya ada pengalaman pribadi tentang artikel ini, mengapa kita memilih Gereja Katolik?

    yah, saya dari keluarga yang berlatarbelakang 3 agama (protestan, katolik dan buddha). Kedua orang tua saya itu Buddha, kakek moyang saya itu seorang penginjil Protestan. Kadang saya merasa aneh, napa hal ini bisa terjadi di keluarga besar saya.

    Walau saya sendiri belom dibaptis (akan dibaptis di bulan September 2008). Saya merasa bangga bisa memutuskan untuk memilih ke Katolik, padahal dari kecil sampe tamat SMU, saya sekolah di Methodist (Protestan). Nah yang menjadi pertanyaan, napa saya tidak terpengaruh memilih ke Protestan?
    Secara jujur saya mengatakan bahwa prinsip di Protestan itu jauh berbeda dengan saya sendiri. Di dalam Katolik, saya belajar begitu banyak tentang moral dan bagaimana kita hidup beriman. Di sini, saya tidak menjelaskan secara detail tentang Protestan, saya yakin bahwa temen temen seiman di Katolik juga mungkin mengalami hal yang sama dengan saya dan tahu secara jelas bagaimana pandangan Protestan ke Katolik.

    Percaya atau tidak, saya merasakan suatu kedamaian dalam Katolik. Yang secara nyata saya sadarin sewaktu saya mengikuti misa di gereja Katolik, dimana perasaan ini tidak pernah saya alamin di gereja lain. Sebenarnya saya sudah merasakan hal ini sewaktu pertama kali saya datangin universitas katolik di melbourne (ACU), tapi saya tidak begitu perduli akan hal ini, sampe di awal tahun ini Feb 2008, saya memutuskan untuk menjadi Katolik dan mengikuti kelas katekumen.

    Mungkin Tuhan tahu saat yang tepat bagi saya untuk memutuskan, sebab jika saya memilih katolik waktu itu, mungkin saya tidak akan banyak belajar dari agama lain.
    Tentang komentar dari bapak Yosep, saya juga pernah alamin di kehidupan saya, yang melakukan itu malah seorang pendeta Protestan. Seorang pendeta itu harusnya memberikan teladan, tp ini malah kebalikan. Sampai waktu itu saya pernah mengkritik pendeta itu di depan temen temen Protestan, kalo saya mungkin lebih mulia dari dia seorang pendeta. Emank saya salah, dimana tidak seharusnya saya mengecam seorang pendeta. Justru setelah di katolik, saya makin sadar, kalo saya tidak boleh mengecam orang bersalah, tapi haruslah kita berusaha untuk mendoakan supaya dia sadar. Dan juga saya sering disudutkan oleh orang Protestan tentang Katolik, terutama tentang penghormatan kepada Bunda Maria. Yah, untung saja saya pernah belajar di Protestan, jadi saya mempunyai cara menjawab mereka, walaupun ujung-ujungnya mereka marah ke saya, tapi itulah yang diajarkan di Protestan. Saya yakin kalo banyak diantara kita mengerti bagaimana pandangan Protestan ke katolik. Tidak usah berkecil hati, semakin kita didiskreditkan, maka semakin kuat dan teguh iman kita. Dan itulah membuktikan kebesaran kasih Katolik bagi hidup manusia.

    Tidak jarang, sekarang banyak orang-orang non Katolik selalu mengambil kesalahan pastor (yang melalukan pelecehan seksual) untuk menyatakan kita Katolik itu agama yang tidak bener, di sini, saya hanya bisa berkata, kalo itu adalah oknum dan tidak mewakili semua orang iman Katolik. Maafkan saya kalo ada kata-kata yang salah di sini.

    Terima kasih
    felix

    • Shalom Felix,
      Terima kasih buat sharingnya. Memang pada akhirnya, orang akan tertarik kepada Gereja Katolik kalau umat Gereja dapat menjadi contoh yang baik, yaitu dengan cara hidup kudus. Kekudusan, seperti yang ditunjukkan oleh para santa dan santo, adalah cara untuk memperbaiki Gereja dari dalam. Mahatma Gandi pernah mengatakan bahwa kalau orang Kristen di India mempraktekkan apa yang tertulis di dalam Alkitab, maka tidak ada lagi orang Hindu di India. Ini adalah tantangan bagi kita semua untuk menunjukkan bahwa umat Katolik yang diberkati dengan kepenuhan kebenaran dapat menjadi contoh bagi bagi umat dari agama lain.
      Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, sehingga Gereja benar-benar dapat menjadi refleksi terang Kristus.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef tay

  16. Saya katolik, orangtua saya katolik (alm. mama) dan (papa) protestan. Suami saya protestan,kami menikah dan diberkati di gereja katolik. Menghindari perselisihan atas permintaan suami, saya merelakan kedua anak saya di baptis (bayi) di gereja protestan. Untuk ibadah minggu, kami sepakat di satu gereja yang beraliran kharismatik/injili (meski diluar gereja katolik & protestan). Karena lingkungan keluarga mayoritas protestan dgn denominasinya, saya jarang mengikuti aturan/perayaan gereja katolik lagi (hanya berpuasa pada Jumat Agung). Selama ini kami dan keluarga besar hampir tidak pernah mempertentangkan perbedaan gereja kami. Deep down inside saya sadar saya tetaplah katolik, saat2 tertentu saya masih berdoa Rosario sekaligus percaya bahwa Yesus Kristus adalah Kepala Gereja yang utama. Saya kok merasa dengan latar belakang “iman yang sangat kaya” tersebut justru saya lebih bisa menghormati dan menghayati nilai dan tradisi gereja Katolik. Bahkan bila ada kesempatan mengikuti misa kudus di gereja Katolik saya merasakan kekhusukan dan suka cita yang amat sangat. Belakangan saya sering membaca artikel2 di situs katolik, terus terang saya tergugah dan bertanya-tanya dimana iman saya berada. Salahkah bila iman saya seperti itu ? Mohon saran ya & GBU..

    • Shalom Oelean,

      Saya tidak tahu secara persis latar belakang dari perkawinan Oelean, apakah diberkati di Gereja Katolik atau tidak. Karena kalau diberkati di Gereja Katolik, seharusnya pastor sudah meminta kepada pihak yang bukan beragama Katolik, dalam hal ini suami Oelean untuk menandatangani surat pernyataan bahwa dia tidak akan melarang Oelean untuk melakukan ibadah secara Katolik dan harus mendidik anak-anak dengan iman Katolik. Namun, memang banyak kenyataan tidak segampang itu. Sering perkawinan campur akan mempunyai permasalahan yang cukup rumit. Jadi saya ingin menyarankan hal-hal berikut ini:

      1) Pertama, datang ke pastor, ceritakan tentang semua situasi ini, dan kemudian mengaku dosa, karena tidak mengikuti perayaan Misa dan tidak mendidik anak-anak secara Katolik. Diskusikan hal ini dengan pastor, sehingga pastor juga dapat memberikan saran-saran yang lain.

      2) Diskusikan dengan semangat kasih kepada suami, agar diperbolehkan untuk mengikuti Misa di Gereja Katolik pada hari Sabtu sore, dan kemudian pada hari Minggu dapat ke gereja Protestan bersama-sama dengan suami dan anak-anak. Jadi dalam langkah pertama ini, hanya Oelean yang pergi ke gereja Katolik.

      3) Kalau Oelean diperbolehkan ke Gereja Katolik, Oelean harus dapat menunjukkan kepada suami dan anak-anak bahwa dengan Oelean pergi ke Gereja Katolik tidak membuat mereka jadi terlantar, namun justru membuat semuanya lebih baik. Dalam hal ini, Oelean harus berusaha lebih baik untuk mengasihi mereka. Semangat kasih inilah yang akan memenangkan hati suami dan anak-anak. Lihat artikel: tentang kekudusan.

      4) Berdoa dengan sungguh-sungguh agar Oelean diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini dengan hati yang tegar. Saya menyarankan untuk berdoa rosario secara teratur, yang sebenarnya dapat dilakukan kapan saja: waktu memasak, waktu mencuci, di mobil dalam keadaan macet, dll. Dan bersiap-siaplah bahwa mungkin situasi ini berlangsung tidak hanya sebentar, namun bisa berlangsung lama. Tuhan yang tahu secara persis apa yang terbaik untuk keluarga Oelean. Jika Tuhan menghendaki, bukanlah tidak mungkin bahwa suatu saat Tuhan dapat mempersatukan seluruh keluarga Oelean dalam pangkuan Gereja Katolik yang kudus.

      Kami akan bawa Oelean dan keluarga dalam doa. Yakinlah bahwa Tuhan senantiasa menyertai Oelean dalam pergumulan ini.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Stef

      • Terima kasih untuk sarannya, kalau ada kesempatan yang baik saya akan bicara dengan pastor. Pada dasarnya suami tidak pernah melarang saya ke gereja katolik, tapi karna sudah berkeluarga memang saya “terpaksa” harus menyesuaikan diri dengan jadwal keluarga.

        Kebetulan di gereja yang saya dan suami hadiri tiap minggu, pemberian sakramen tubuh dan darah Kristus hanya di awal bulan saja, atau sekali sebulan. Kalau kebanyakan gereja protestan menganggap pembagian roti dan anggur hanya sebagai simbol atau peringatan belaka ; pada denominasi yang saya ikuti ini pendeta/ pemimpin ibadah selalu menekankan pada jemaat bahwa Roti yang diterima adalah benar2 tubuh Kristus dan Anggur yang diminum adalah benar2 darah Kristus. (Kesimpulan saya bahwa mereka juga mempercayai sakramen Roti dan Anggur sebagaimana misteri paska pada gereja katolik.) Bagaimana sikap gereja Katolik tentang hal ini ?

        • Shalom Oelean,

          Untuk pertanyaan tentang ekaristi, silakan membaca juga tulisan “Sudahkah engkau pahami tentang Ekaristi?”.

          Untuk menjawab pertanyaan Oelean, ada beberapa hal yang harus dimengerti:

          1) Apostolic Succession: Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan Sakramen Ekaristi dari gereja lain, kecuali dari Gereja Timur Ortodox. Hal ini karena "konsekrasi" atau "kata-kata untuk merubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus oleh kekuatan Roh Kudus" harus dilakukan oleh imam yang ditahbiskan oleh Uskup yang mempunyai "apostolic succession", yang kalau ditelusuri tahbisan dan "laying of hands" ini adalah berasal dari para rasul, yang menerima mandat dari Yesus sendiri. Gereja Katolik mengakui bahwa Gereja Timur Ortodox mempunyai tahbisan yang sah, sehingga sakramen yang dilakukan dalam gereja mereka juga sah.Gereja Anglikan, juga Protestan kehilangan apostolic succession, sehingga Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan sakramen Ekaristi mereka.

          2) Transubstantiation dan Consubstantiation: Gereja Katolik mengajarkan bahwa roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah konsekrasi (disebut: transubstantiation). Ini artinya, bahwa yang termakan atau sisa dari Roti yang sudah dikonsekrasi adalah benar-benar Tubuh Kristus. Ini menyebabkan Gereja Katolik menyimpannya dalam tabernakel, dan juga ada doa Adorasi, yaitu doa di depan Sakramen Maha Kudus. Beberapa gereja Protestan mengakui consubstantiation, yang berarti roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah di konsekrasi dan dimakan/diminum. Jadi bagi gereja Protestan, sisa roti dan anggur yang tidak termakan/terminum bukanlah tubuh dan darah Kristus, namun hanya roti dan anggur biasa.

          Dari sini kita melihat bahwa apostolic succession memegang peranan yang begitu penting untuk berlangsungnya kehidupan Gereja Kristus di dunia ini. Mari kita semua berdoa, agar Tuhan juga memanggil kaum muda untuk mau menjawab panggilan Tuhan sebagai imam.

          Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Oelean.
          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef tay

  17. Stef,
    Rindu mendoakan kondisi kantor yang dalam pemikiran saya memang harus banyak didoakan, maka saya mengajak teman2 non muslim/kristen untuk berdoa bersama. Istilah populer nya: PD -Persekutuan Doa- Ternyata peminat terbesar justru teman2 Kristen yang bukan Katolik. Tak terlintas pikiran apapun saat itu kecuali: rindu untuk menyembah dan memuliakan Tuhan, terlebih dalam kondisi pekerjaan yang terasa makin membebani. Bahagia sekali rasanya waktu itu, bisa kumpulkan teman2 dan adakan PD; apalagi itu adalah pertamakalinya setelah usia kantor yang lebih 10thn dan bahkan menabrak larangan Pimpinan untuk mengadakan PD. Semangat saya berkobar, kenapa juga musti takut PD? toh tujuannya bagus -mendoakan perusahaan yg notabene termasuk mendoakan para Pimpinan Perusahaan-. PD sudah berjalan hampir 2 bulan, 1x seminggu. Diisi dengan nyanyian -mostly Kristen atau biasanya Karismatik- dan dilanjutkan dengan doa yang mengalir sangat lancar, biasanya dari rekan dari gereja Kristen,yang Katolik biasanya diem.
    Malem ini, setelah membaca artikel ‘mengapa memilih gereja katolik’,saya jadi ragu, apakah yang saya lakukan itu benar? karena tepat sekali spt tertulis dalam artikel ini, ‘yang penting sama2 pengikut Yesus’, juga keyakinan bahwa dimana ada 2 atau 3 jemaat berkumpul, maka Yesus hadir di situ…Saya tidak menyadari dan tidak bermaksud untuk mendirikan gereja tentu saja. Dan saya tetap katolik dan bahkan makin mantap setelah baca2 web ini. Apakah sebaiknya saya berhenti dari kegiatan tsb? aduhh, saya jadi terusik sekali merasa bersalah menyamaratakan semua gereja. Mohon sarannya ya…. terimakasih banyak! GBU both.

    • Hi Nicola,
      Yesus pasti senang dengan kerinduan Nicola dan juga teman-teman di kantor untuk memuji dan menyembah-Nya. Jangan merasa bersalah dengan PD di kantor. Kita melihat bahwa Paus Yohanes Paulus ke II mengumpulkan semua pemuka agama untuk berdoa bersama di Asisi. Yang dilakukan di kantor bukan membuat gereja, namun berdoa bersama.

      jadi, PD di kantor jangan dibubarkan. Yang menjadi masalah adalah sering PD di kantor hanya mengundang pendeta atau pengkotbah dari agama Kristen yang lain, yang kadang apa yang disampaikan bertentangan dengan iman Katolik. Hal penting yang lain adalah, Nicola harus mengerti dan menunjukkan bahwa bentuk pujian, doa, dan penyembahan yang tertinggi dan tak dapat digantikan oleh apapun juga adalah Ekaristi Kudus (lihat artikel: link to katolisitas.org). Jadi yang harus dilakukan di kantor, kalau ada PD, jangan hanya mengundang pendeta, namun juga mengundang pastor-pastor yang bagus, sehingga banyak orang yang bukan Katolik dapat mengerti keindahan dan kebenaran ajaran Katolik. Dalam beberapa kesempatan, mungkin ada baiknya diadakan perayaan Ekaristi Kudus, sehingga orang Katolik juga akan mau ikut.

      Perlu juga dipikirkan agar jangan sampai bentrok dengan pimpinan perusahaan.

      Mari kita syukuri bersama anugrah yang diberikan oleh Yesus, yaitu Tubuh-Nya sendiri, Gereja Katolik yang “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Mari kita juga sama-sama belajar untuk mendalami kekayaan Gereja Katolik yang begitu baik, benar, dan indah.

      Selamat melayani Tuhan.
      Salam kasih dari katolisitas.org – stef.

  18. Bpk Stefanus & Ibu Inggrid,

    Syukur kepada Allah Bapa yg mengaruniakan hikmat & kasih karuniaNYA kepada anda yg telah bersusah payah mendirikan website ini. Semua artikel di sini sangat informatif & dalam dengan teologi Katolik berdasarkan Tradisi Suci, Alkitab, dan Magisterium Gereja. Hal ini sangat menyentuh hati saya, dan atas kehendak Tuhan akan membawa banyak jiwa-jiwa kembali ke pangkuan Gereja Katolik.
    Kiranya Roh Kudus senantiasa menaungi hati saudara, melindungi saudara, dan memberkati anda dengan sinar IllahiNYA. Demi Kristus Yesus Tuhan & Pengantara kami. Amin.

    Saya akan berdoa utk anda berdua dalam doa harian saya.

    Teriring salam dalam kasih Tuhan,
    Herdi

    • Stefanus Tay on

      Terimakasih atas doa Bapak Herdi. Kita saling mendoakan. Mari kita bersama-sama mengasihi Yesus dan Gereja-Nya, juga melayani-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita.
      Shalom – stef & ing

  19. Dulu saya bangga dan selalu mempertahankan Katolik saya. Karena dulu saya merasakan dan menghayati bahwa hidup sebagai orang Katolik akan tampak berbeda, kita akan dilihat karena kita yang rendah hati, baik lagi tidak sombong. Sekarang setelah saya punya dua anak, saya bingung untuk menjelaskan bahwa sebagai KATOLIK harus bersikap baik, jujur dan benar. Karena apa yang dia alami dan nyatakan dalam pergaulan sekolah jauh berbeda dengan logo dan simbol sekolahnya yang katolik dengan VISI ” SOSIAL DAN CINTA KASIH “. Yang dia terima disekolah baik oleh sebagian besar an guru adalah DISKRIMINATIF DAN RASIALIS. Sehingga saya harus menekankan jika kamu mau bertahan maka harus menyerang dan lawan yang mengejek dan menghina. Anak kami adalah minoritas di sekolah tersebut walaupun kami warga negara mayoritas. Kami memang tidak pernah dan mau memberikan hadiah atau apapun pada saat penerimaan rapor kepada guru-guru, karena tugas dan kewajiban kerja mereka. Dan kami dianggap aneh dalam sekolah Katolik tersebut. Masih perlukah saya bangga sebagai KATOLIK. Kita sudah jauh tertinggal oleh perkembangan sosial dan peningkatan kepemimpinan dari saudara muslim, yang mengembangkan sekolah ber-asrama/kolese. Sedang kita meninggalkan bentuk sekolah yang menjadi ciri KATOLIK. Dan, saya sering merasa ragu dan tersenyum dalam hati sambil berucap – bukan basa basi – saat kita saling memberikan salam damai setelah doa berkat damai sebelum anak domba allah. Mau kemana kita dalam KATOLIK ??? Disadari atau tidak oleh para pemuka jemaat dan petinggi gereja, di aras bawah tumbuh sikap apatis dan perngkotak-kotakan, Karismatik vs non karismatik, Kaya vs Miskin, Pribumi vs Non Pribumi ?????????

    • Shalom, Bapak Yosep.
      Saya turut bersedih akan perlakuan yang tidak baik terhadap anak bapak di sekolah, baik dari pihak guru, sekolah, maupun teman-teman dan lingkungan yang mungkin tidak mencerminkan ciri Katolik yang baik. Namun saya rasa, yang paling bersedih adalah Yesus sendiri, karena Dia melihat bahwa ada anggota Tubuh-Nya yang tidak berfungsi dengan semestinya.
      Kalau kita berkata bahwa Gereja itu kudus, itu adalah karena sumbernya dan pendirinya, yaitu Kristus sendiri (Lumen Gentium 39; Ef 5:25-26). Namun Gereja di dunia yang sedang mengembara perlu untuk senantiasa dimurnikan, sama seperti kita semua dimurnikan. Jadi, sebagai anggota Gereja, kita tetap mengasihi Gereja, sama seperti kita mengasihi ibu kita, walaupun anggotanya tidak sempurna.
      Untuk anak-anak, saya berfikir bahwa tugas orang tua yang paling penting adalah memberikan bekal yang cukup agar anak-anak bisa masuk surga. Jadi yang harus diajarkan kepada anak-anak adalah kekudusan, yang terwujud dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Mungkin dalam prakteknya:
      – Ajarkan anak-anak untuk berterimakasih kepada Guru dan jangan membalas kalau dihina.
      – Tidak perlu memberikan hadiah kepada guru, cukup dengan kartu ucapan terima kasih.
      – Dll.
      Untuk Gereja kita di dunia ini, apakah ada yang harus diperbaiki? Tentu saja, yaitu Gereja sebagai “sarana” (baca: link to katolisitas.org). Terutama agar seluruh anggota Gereja menerapkan hidup kudus, sehingga Gereja dapat menjadi pantulan dari Kristus sendiri.
      Namun ini adalah undangan untuk kita semua, bukan cuma untuk para pastor dan suster (Lumen Gentium 40,42).
      Mari, dalam kegelapan, kita menjadi lilin kecil. Bapak menjadi lilin buat anggota keluarga, anak bapak menjadi lilin buat teman-teman, dstnya.
      Kita saling mendoakan agar kita dapat menerapkan kekudusan, walaupun itu sulit. Dan mari kita terus mengasihi Kristus, dengan juga mengasihi tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik.

      Salam damai dalam kristus dari
      katolisitas.org

  20. Pak Stef,
    saya mau nanya ttg
    LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”

    apakah kita sebagai umat Katolik perlu untuk memberitahu kepada orang orang ttg Yesus mendirikan Gereja Katolik?
    Bagaimana seharusnya sikap kita?

    Terima-kasih

  21. Shalom Kristofer,

    Terima kasih atas pertanyaannya tentang Lumen Gentium 14 (LG, 14), dimana dikatakan "… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”. Pembahasan tentang hal ini pernah saya jawab disini (silakan klik).

    Karena ini adalah hal yang begitu penting – tentang keselamatan kekal – maka kita harus mewartakan kebenaran ini. Namun pertanyaannya adalah dengan cara seperti apa? Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita, namun kita tetap harus mewartakan kebenaran dengan dasar kasih. Kita tidak dapat mengecap bahwa orang yang tidak mendengarkan pendapat kita dan tidak mau berpindah ke Gereja Katolik pasti masuk neraka, karena kita tidak pernah tahu apakah orang tersebut "benar-benar tahu" tentang Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus. Mungkin karena cara kita menjelaskan kurang baik, atau mungkin kondisi orang tersebut yang dibesarkan dengan prinsip dan pengetahuan tertentu, dll. Yang penting disini adalah, kita menjalankan bagian kita untuk mewartakan kebenaran dengan dasar kasih, dan selanjutnya, biarlah Roh Kudus yang berkarya untuk mengubah hati orang tersebut. Selanjutnya, tugas kita adalah membawa mereka di dalam doa.

    Semoga keterangan singkat tersebut dapat berguna.
    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    stef – http://www.katolisitas.org

  22. hadi santosa on

    Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus Tuhan kita,

    Saya seorang Protestan, ingin belajar mengenai Katolik.

    Mohon petunjuk.

    Terima kasih.

  23. Shalom Hadi,
    Jika anda ingin belajar mengenai iman Katolik, silakan anda membaca buku Katekismus Gereja Katolik, karena di situ tertulis ajaran tentang pokok-pokok iman Katolik. Atau, jika anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, saya menyarankan agar anda bergabung dengan kursus katekumen (calon baptis) di paroki anda, sambil anda mempelajari tentang iman Katolik dari sumber- sumber yang lain, entah dari buku-buku, situs Katolik maupun dari pergaulan anda di lingkungan umat Katolik. Kemudian kalau anda terpanggil untuk menjadi Katolik, maka di akhir masa katekumen adalah penerimaan Sakramen Pembaptisan, dan setelah itu anda secara penuh tergabung dalam Gereja Katolik.

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply