Home Blog Page 88

Menjadi Bijak di Dalam Iman

6

[Minggu Biasa ke VI: Sir 15:15-20; Mzm 119:1-34; 1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37]

Mungkin telah sering kali kita  mendengar perikop Injil yang dibacakan hari ini. Yaitu bahwa Yesus tidak datang untuk membatalkan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Namun sejujurnya, mungkin ada banyak orang yang tidak sepenuhnya memahami, seperti apakah artinya ‘penggenapan’ dalam diri Kristus. Ini terlihat dari fakta bahwa ada banyak orang yang menggunakan ayat Mat 5:18 sebagai dasar bagi ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Soal penggenapan hukum sunat, hukum perkawinan, dan perayaan Sabat, hanyalah beberapa contohnya. Lalu seringkali hanya dengan ditunjukkan ayat Mat 5:18, lalu sejumlah umat Katolik sudah bingung, dan bahkan ada yang kemudian memutuskan untuk meninggalkan Gereja Katolik.

Gereja melalui bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajarkan, bahwa Kristus menggenapi hukum Taurat dengan mengembalikan, menyempurnakan dan mengangkat hukum-hukum Taurat Perjanjian Lama itu ke maksud asalnya, yaitu ke tingkatan yang lebih tinggi daripada peraturan yang terbatas oleh ketentuan lahiriah. Itulah sebabnya baptisan sebagai sunat rohani menjadi penggenapan sunat jasmani; perkawinan monogam tak terceraikan menjadi penggenapan makna perkawinan; perayaan hari Minggu sebagai hari Tuhan menjadi penggenapan hukum Sabat, dan seterusnya. Hukum Taurat itu memang tidak dibatalkan, namun digenapi dengan cara yang berbeda dalam Perjanjian Baru. Kristus mengajar para Rasul-Nya untuk memahami kebijaksanaan Allah yang mendasari segala hukum Taurat. Kristus, yang dalam Perjanjian Lama sering digambarkan sebagai Sang Kebijaksanaan Allah, menuntun para Rasul sehingga merekapun beroleh kebijaksanaan untuk memahami dan menyampaikan arti dan maksud hukum-hukum Allah ini kepada Gereja-Nya. Gereja kemudian melestarikan hukum-hukum ini, yang telah digenapi oleh Kristus. Maka, jika kita ingin memperoleh pemahaman yang benar akan maksud ayat-ayat Kitab Suci dan ajaran Kristus, kita perlu mendengarkan Gereja. Paus Paulus VI dalam khotbahnya tanggal 1 Maret 1967, berkata, “Ketika kita menerima Iman yang diajarkan oleh Gereja, kita berhubungan langsung dengan para Rasul… dan melalui mereka, kita berhubungan dengan Yesus Kristus, Guru kita yang pertama dan satu-satunya. Kita bersekolah di sekolah mereka, sepertinya demikian, dan mengatasi rentang abad yang memisahkan kita dari mereka.”

Sungguh, kita perlu berterima kasih kepada Magisterium Gereja Katolik -yaitu para Paus sebagai penerus Rasul Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengan Paus. Sebab melalui Magisterium, Gereja Katolik mempunyai ajaran yang sama sejak saat ia didirikan oleh Kristus di abad pertama, sampai sekarang, dan selama-lamanya. Dengan mempelajari ajaran Gereja-lah, yang adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15), kita memperoleh pemahaman yang benar akan ajaran iman kita, sebagaimana diajarkan oleh Kristus. Melalui ajaran Magisterium Gereja-lah, kita tahu bagaimana menyikapi berbagai informasi yang beredar di sekitar kita, yang kadang berpotensi melemahkan iman. Dengan prinsip kebijaksanaan Kristus yang melatarbelakangi setiap hukum Tuhan, kita mengetahui bahwa dalam keadaan apapun, Gereja tidak mungkin memperbolehkan aborsi ataupun perkawinan sesama jenis -kedua hal yang belakangan ini ramai dibicarakan di internet dan pesan BB. Kristus yang mengajarkan bahwa berzinah dalam pikiran saja sudah merupakan dosa (lih. Mat 5:27-28), tidak mungkin mengizinkan perbuatan zinah ataupun tindakan nyata lainnya yang melanggar kemurnian. Walaupun mungkin sejumlah tokoh dunia menghendaki Gereja Katolik mengubah ajarannya, namun sebagaimana kita baca di Injil hari ini, Gereja tidak mungkin mengubah ajarannya, karena ketaatannya kepada Kristus yang mendirikannya. Marilah kita mendoakan Paus Fransiskus, agar ia beroleh rahmat kebijaksanaan untuk memimpin Gereja dengan ketaatan dan kesetiaan. Juga marilah kita memohon rahmat Allah agar kitapun  beroleh hikmat kebijaksanaan agar dapat bertumbuh dalam iman.

Tuhan Yesus, kumohon hikmat dari-Mu, agar aku dapat membedakan apa yang baik dan yang jahat, apa yang sungguh berasal dari-Mu dan yang bukan. Berikanlah kepadaku juga kerendahan hati untuk menerima ajaran Gereja, yang menuntunku untuk memahami ajaran-Mu dalam kepenuhannya.”

Dari mana asalnya Kitab Suci?

8

Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau sejumlah orang meragukannya, ataupun membencinya, namun Kitab Suci tetap terbukti merupakan buku yang paling banyak dibaca orang sepanjang sejarah. Walaupun di sepanjang sejarah ada banyak orang bermaksud melenyapkan Kitab Suci – seperti sejumlah kaisar Romawi di abad-abad awal yang mengeluarkan dekrit untuk membakar semua Kitab Suci- toh kenyataannya ada saja salinan Kitab Suci yang tetap ‘survive‘ dan Kitab Suci tetap eksis sampai sekarang. Voltaire, seorang seorang tokoh Enlightenment dari Perancis, yang dikenal karena sikap skeptiknya terhadap Gereja, konon pernah memperkirakan bahwa di abad ke -19, Kitab Suci akan menjadi buku antik yang hanya dipajang di museum. Namun faktanya, perkiraan Voltaire meleset jauh, sebab yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah wafatnya, nama Voltaire dan tulisannya mungkin hanya dikenal dalam buku sejarah, tetapi Kitab Suci masih tetap hidup dan dibaca banyak orang setiap hari, dan menjadi pegangan bagi kehidupan banyak orang, sampai saat ini.

Bible: Kitab yang suci

Bible berasal dari kata Yunani, biblos atau biblon. Kita mengenal kata ‘bible‘ dalam artinya sekarang dari St. Hieronimus di abad ke-4, yang menyebutnya sebagai “the Holy Books“, atau “the Books“, ta biblia. Persamaan kata dari the Holy Bible adalah the Holy Scriptures, yang mengacu kepada kitab-kitab yang dikenal sebagai sabda Allah yang merupakan satu kesatuan dalam kesinambungan ilahi.

Unik dalam penulisannya, unik dalam pelestariannya

Sejak dari penulisannya sampai juga kepada pelestariannya, Kitab Suci mempunyai ciri khasnya tersendiri, yang tidak dimiliki oleh buku-buku lainnya.

Ke- 73 kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam rentang waktu berabad-abad, sekitar 1600 tahun, yang ditulis oleh sekitar 50 orang yang berbeda dari negara ataupun tempat yang berbeda. Namun semuanya menuliskan rencana keselamatan Allah yang mengacu dan mengerucut kepada Kristus. Kitab-kitab Perjanjian Lama menjabarkannya secara samar-samar, entah melalui nubuat maupun gambaran tokoh-tokohnya, namun kitab-kitab Perjanjian Baru menyampaikan penggenapannya secara jelas dan sempurna, di dalam Kristus Sang Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Koherensi atau keselarasan semua bagian dari kitab-kitab ini yang ditulis oleh banyak penulis yang berbeda sepanjang rentang abad yang cukup panjang- sekitar 17 abad ini- membuktikan bahwa kitab ini bukan semata karya tulis manusia, namun Allah sendiri-lah yang menginspirasikan penulisannya.

Buku yang berasal dari perkataan Sabda

Kita hidup di zaman tulisan, entah lewat media buku atau sekarang, melalui internet. Maka sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa Kitab Suci itu asalnya adalah dari perkataan lisan. Berikut ini adalah penjelasan yang disarikan dari buku What is the Bible, karangan Henri Daniel- Rops ((Cf. Henri Daniel- Rops, What is the Bible, The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism, volume 60, (New York: Hawthorn Books, 1959) p. 14-25)):

Kitab Suci kita yang nampaknya relatif seragam sekarang, sebenarnya berasal dari komponen-komponen yang beragam. Ada saatnya di mana sebelum kalimat-kalimat tersebut dicetak dalam buku, perkataan tersebut pertama-tama didaraskan kepada para pendengar oleh para pembawa Kabar Gembira. Maka jauh sebelum dicetak, Kitab Suci pada awalnya merupakan ajaran lisan. Bentuknya adalah kisah narasi, yang disampaikan dengan pola tertentu, yaitu dengan ritme tertentu dan puisi bersajak, rangkaian kata-kata bijak yang ringkas, ataupun dengan pengulangan kata-kata tertentu yang sama. Hal ini memungkinkan teks tersebut dapat diturunkan dari generasi ke generasi, ketika bahasa tulisan belum menjadi alat komunikasi yang umum. Ini sejalan dengan keadaan budaya, spiritualitas dan sastra dalam masyarakat di mana Kitab Suci berasal. Kitab Suci bertumbuh dalam pola masyarakat yang komunal dan tidak individual, sebagai sesuatu yang spontan dan hidup; jauh berbeda dengan budaya kertas di zaman modern, di mana bahasa tulisan menjadi sesuatu yang otomatis dan umum. Agaknya sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ada suatu zaman dalam sejarah, di mana masyarakat dapat hidup tanpa ketentuan baku yang tertulis.

Dalam kehidupan masyarakat Israel kuno, sampai zaman Kristus, keadaannya sangat berbeda dengan zaman kita. Masyarakat saat itu terbiasa untuk berbicara dengan fasih berdasarkan kemampuan mengingat akan suatu fakta/ kebenaran. Maka sistem pendidikan saat itu bertujuan mendidik para murid, agar mempunyai ingatan seperti seumpama sumur, yang tidak membiarkan setetes-pun dari ajaran gurunya menghilang ke luar. Maka ini dilihat dari seni menghafal dan menyusun suatu komposisi teks. Ada ritme ataupun pengulangan kata-kata tertentu, atau kemiripan bunyi, untuk membantu agar teks menjadi lebih mudah untuk diingat. Kita mengetahui bahwa ajaran sudah ada jauh sebelum dituliskan, seperti halnya nubuat-nubuat nabi Yeremia yang sudah diajarkan secara lisan tujuh puluh dua tahun lamanya sebelum ajaran itu dituliskan dalam kitab. Demikian juga halnya dengan kitab-kitab nubuat lainnya, kitab Mazmur dan kitab Kidung Agung.

Namun demikian, bukan berarti bahwa di zaman itu, elemen tertulis tidak ada sama sekali. Kitab Suci sendiri secara tidak langsung menyebutkan adanya suatu kitab tertentu. Di kitab Yosua, disebutkan adanya “Kitab Orang Jujur” (Yos 10:13). Dewasa ini setelah penemuan-penemuan arkeologis dari Sinai ke Ras Shamra, diketahui adanya tulisan-tulisan Kitab Suci sejak abad ke-sepuluh dan keduabelas sebelum masehi. Sejak zaman Nabi Musa di Mesir, tulisan telah menjadi penggunaan umum di daerah sungai Nil selama lima belas abad. Namun demikian, elemen-elemen tulisan ini hanya menjadi alat bantu untuk mengingat, sebelum elemen-elemen tersebut dikompilasikan menjadi kitab-kitab seperti yang kita kenal sekarang.

Proses yang sama terjadi pada kitab Perjanjian Baru, yaitu Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Rasul dan Kitab Wahyu. Surat-surat Rasul Paulus didiktekan, dan di sini gaya lisan timbul. Juga, kitab-kitab Injil jelaslah merupakan ajaran lisan, sebelum dituliskan. Generasi pertama Gereja hidup dari ketergantungan terhadap ajaran lisan ini. Selama empat atau lima generasi Kristen mendengarkan Injil sebagai kisah yang diturunkan melalui perkataan lisan, oleh para saksi yang kredibel. Sekitar tahun 130, ketika keempat pengarang Injil telah menuliskan kitab-kitab mereka, St. Papias, Uskup Hierapolis di Phyrgia menegaskan bahwa bagaimanapun juga, ia lebih menghargai suara/ ajaran lisan dari para Rasul yang telah hidup dan berakar dalam Gereja. ((Cf. St. Papias, Fragment of Papias, Ch. I. From the Exposition of the Oracles of the Lord, in Ante-Nicene Fathers: St. Papias berkata, “Maka, jika siapapun yang telah mendengarkan pengajaran para tua-tua datang, aku bertanya dengan serinci-rincinya tentang apakah yang mereka ajarkan, – apa yang dikatakan oleh St. Andreas, atau St. Petrus, atau apakah yang dikatakan oleh Filipus, atau Tomas, atau Yakobus, atau oleh Yohanes, atau Matius, atau oleh para murid Tuhan lainnya…. Sebab aku membayangkan bahwa apa yang harus diperoleh dari kitab-kitab tidaklah sedemikian bergunanya bagiku, seperti apa yang datang dari suara/ ajaran lisan yang telah hidup dan menetap.)) Demikian pula, St. Irenaeus di Lyons, mengenang hari-hari ketika ia biasa mendengarkan St. Polycarpus, Uskup agung Smyrna, apapun yang didengarnya sendiri dari St. Yohanes Rasul. Namun demikian, demi kepentingan membimbing mereka yang meneruskan kitab Injil, dan keinginan untuk menghindari deviasi, kesalahan, distorsi, maka akhirnya Injil dituliskan.

Transisi menjadi ajaran yang tertulis

Transisi dari ajaran lisan menjadi tulisan juga menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama adalah soal waktu, yaitu pada titik mana teks tersebut ditulis? Pada teks Perjanjian Lama, terdapat kemungkinan tiga kali periode penulisan yang intensif: 1) Pada zaman Hezekiah/ Ezechias (Hizkia) anak Raja Ahaz, kemungkinan ajaran lisan maupun tulisan di Kerajaan Selatan (Yehuda) disusun, untuk dibandingkan dengan ajaran- ajaran yang dikumpulkan oleh Kerajaan Utara (Israel), yang dibawa oleh para ahli Samaritan, yang melarikan diri ke Yerusalem di sekitar tahun 722 SM (lih. Ams 25). 2) Di zaman Yosia, ditemukan kitab Ulangan dan versi lengkap yang pertama dari kelima kitab Musa atau Pentateuch. Karya ini diselesaikan setelah orang-orang Israel kembali dari zaman pengasingan, ketika Raja Cyrus (Koresh) di tahun 538 memperbolehkan kaum sisa Israel yang dibuang di Babilon untuk kembali ke negara mereka dan mendirikan semacam negara kecil di bawah perlindungan negara Persia. 3) Seperti Nehemia di sekitar tahun 445 SM membangun kembali tembok Yerusalem, Esdras (Ezra) membangun tembok benteng rohani, yaitu Bible/ Kitab Suci. Dikatakan bahwa ia mendiktekan kitab-kitab suci dan membuat bangsa tersebut mengikuti ketentuan-ketentuannya. Di abad kelima sebelum Masehi ini, versi-versi kuno yang berupa fragmen dikumpulkan, ajaran lisan dituliskan dan semua elemen yang bervariasi ini disusun menjadi koheren. Terhadap susunan Kitab Suci inilah, kemudian ditambahkan sejumlah kecil teks-teks rohani yang berasal dari abad-abad sesudahnya.

Fakta tentang Kitab Perjanjian Baru, kemungkinan lebih dikenal. Sebagaimana jelas tertulis di dalamnya, Kisah para Rasul, Surat-surat dan Kitab Wahyu merupakan teks yang dituliskan atau didiktekan. Sedangkan untuk keempat Injil, transisi dari perkataan mulut menjadi kitab terjadi dalam waktu yang berbeda, untuk alasan yang berbeda dan dalam keadaan yang berbeda. Kesaksian Papias mengatakan demikian: “Matius adalah yang pertama menuliskan perkataan Tuhan dalam bahasa Ibrani.” Maka diperkirakan Rasul Matius yang dulunya adalah pemungut cukai, adalah yang pertama menuliskan Injilnya, di sekitar tahun 50-an dengan bahasa Aram. Segera setelah itu, St. Petrus, yang saat itu di Roma, diikuti oleh Markus, seorang muda Yahudi yang mengenal bahasa Yunani. Dengan mendengarkan Rasul Petrus, Markus menulis apa yang didengarnya, dan membandingkan catatannya dengan bantuan ingatan banyak orang/ saksi pada saat itu, dan di tahun 55-62 menuliskan Injilnya.  Injil Markus ini ditulis dalam bahasa Yunani popular dan ditujukan untuk umat Kristen golongan bawah di Roma. Pada saat yang bersamaan, Lukas, seorang tabib/ dokter yang terpelajar yang menjadi teman seperjalanan Rasul Paulus tiba di Roma. Ia telah belajar banyak dari Rasul Paulus dan sepanjang waktu ia tinggal di Yerusalem telah mengumpulkan informasi langsung dari para saksi, termasuk kemungkinan dari Bunda Maria sendiri. Lukas lalu menuliskan Injilnya dalam bahasa Yunani yang sempurna dan ditujukan pertama-tama kepada orang-orang yang terpelajar yang ada disekitar Rasul Paulus. Kitab Injil-injil Yunani ini kemudian mulai dikenal orang, dan Rasul Matius juga kemudian menerjemahkan Injilnya dari bahasa Aram ke bahasa Yunani, kemungkinan sekitar tahun 64-68. Sedangkan Injil yang keempat, dari Rasul Yohanes, ditulis di Efesus setelah ketiga Injil yang lain ditulis. Injil Yohanes merupakan campuran antara kenangan, dokumentasi dan permenungan spiritual dan biasanya diperkirakan ditulis pada akhir abad pertama, kemungkinan sekitar 96-98. Urutan penulisan Injil sedemikian: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, dicatat dalam kesaksian St. Irenaeus, murid St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. ((lih. St. Irenaeus, Against the Heresies, Book III, ch 1,1))

Dalam bahasa apa Kitab Suci ditulis?

Secara umum terdapat tiga bahasa asli Kitab Suci:

1. Bahasa Ibrani, digunakan dalam kitab-kitab yang berasal dari tradisi Yahudi. Penemuan Dead Sea Scroll semakin memperkuat hal itu. Komunitas Essenes masih menggunakan bahasa Ibrani dalam naskah kitab-kitab mereka.

2. Bahasa Aram, yang berkaitan dengan bahasa Semitik, yaitu dialek bahasa Ibrani sehari-hari. Kitab yang ditulis dalam bahasa Aram adalah Injil Matius yang mula-mula, beberapa kitab Esdras (Ezra), Daniel dan Yeremia.

3. Bahasa Yunani, yang telah digunakan di zaman sesaat sebelum zaman Kristus -seperti yang digunakan dalam Kitab kedua Makabe dan Kebijaksanaan Salomo- dan juga di zaman Kristus dan setelahnya, sehingga kemudian kitab-kitab Kristiani di abad-abad awal ditulis dalam bahasa Yunani.

Cara penulisan Kitab Suci juga berbeda-beda dari abad yang berbeda. Tulisan Ibrani kuno tidak sama dengan tulisan Ibrani di zaman sekarang. Dalam tulisan Ibrani kuno tidak ada tanda-tanda dan titik yang menunjukkan adanya huruf hidup. Sedangkan tulisan Yunani dalam teks-teks Kitab Suci lebih mirip dengan tulisan Yunani yang dikenal sekarang, hanya saja pada teks asli tersebut, para penyalin tidak menyisakan spasi ataupun pemenggalan, sehingga sering menimbulkan kesulitan tersendiri untuk membacanya, ataupun untuk menurunkannya ke abad-abad berikutnya.

Pada bahan apa Kitab Suci yang asli ditulis?

Terdapat dua bahan material yang digunakan untuk menuliskan teks Kitab Suci: Yang pertama adalah papyrus, yaitu semacam batang rumput ilalang Mesir, yang diratakan dan gabungkan dengan coating, menjadi asal usul pembuatan kertas. Material ini lebih murah, namun lebih tidak tahan lama. Yang kedua adalah bahan dari kulit binatang, yang sering dikenal dengan sebutan parchment/vellum. Bahan ini lebih tahan lama. Awalnya baik papyrus maupun vellum digabungkan menjadi gulungan (disebut scroll), namun kemudian berkembang penulisan pada lembaran vellum yang disatukan menjadi bentuk buku, dan ini disebut codex. Penyusunan menjadi codex ini sudah dimulai di abad kedua sebelum Masehi, namun kemudian menjadi populer di zaman umat Kristen.

Manuskrip Kitab Suci

Mengingat sifat bahan manuskrip yang relatif tidak tahan lama, tidaklah mengherankan jika manuskrip asli kitab-kitab Suci telah punah. Hal ini juga terjadi pada manuskrip kitab-kitab non-religius di zaman itu, seperti Homer dan Pindar. Yang kita ketahui tentang kitab-kitab itu hanyalah salinannya. Namun demikian ada kekhususan dari manuskrip Kitab Suci, jika dibandingkan dengan karya-karya tulis lain sezamannya. Jika kita membicarakan teks-teks kuno, kita mau tidak mau harus memahami fakta yang terjadi sebelum ditemukannya mesin pencetak. Teks-teks tersebut akan diturunkan ke generasi berikutnya dengan salinan-salinan. Karena disalin secara manual maka memang terdapat bahaya adanya masalah akurasi dalam proses penyalinan. Hal ini berlaku pada penyalinan karya-karya sastra zaman kuno secara umum. Mungkin tak banyak orang yang mengetahui bahwa dalam penulisan karya-karya sastra klasik yang besar, terdapat interval/ selang waktu yang cukup besar antara saat karya tersebut disusun oleh pengarangnya dan saat ditemukannya salinan manuskrip yang pertama. Umumnya selang waktu itu mencapai seribu-an tahun. Hal ini juga membuktikan suatu fakta bahwa karya-karya sastra tersebut merupakan suatu warisan lisan yang telah hidup dan berakar dalam masyarakat tertentu selama berabad-abad, sebelum kemudian menjadi suatu karya tulis yang diturunkan. Demikianlah yang terjadi pada karya-karya yang ditulis oleh pengarang Yunani, seperti Sophocles (abad ke-5 SM), dan juga Aeshylus, Aristophanes,Thucydides, dan Plato, di mana manuskrip pertama yang diketahui berjarak 1100-1400 tahun dari saat penyusunan karya tersebut oleh pengarang-nya.

Demikian juga untuk kitab-kitab suci Ibrani. Teks tertua yang ditemukan, nampaknya adalah teks yang ditemukan di sinagoga di Karasubazar di Crimea, yang kurang lebih berasal dari abad 7 sampai 10. Di awal abad pertengahan para rabbi yang dikenal dengan sebutan Masorete memberikan perhatian terhadap tugas memperbaiki teks dan pelafalannya, dengan memberikan tambahan huruf hidup kepada teks Ibrani kuno. Teks ini kemudian dikenal dengan sebutan Massora. Konsekuensinya, memang terdapat perbedaan di sana sini antara teks Masoretik ini dengan sejumlah salinan teks lainnya, juga dari teks yang umurnya lebih tua, seperti manuskrip Septuaginta. Kitab Septuaginta adalah terjemahan Yunani (di abad ke-3-2 SM) dari kitab-kitab Perjanjian Lama Ibrani yang digunakan di Mesir dan Israel, yang kemudian kerap dikutip dalam Kitab-kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, secara umum, penemuan the Dead Sea Scroll di sekitar 1947, menunjukkan bahwa tingkat akurasi penyalinan kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut sangatlah baik. The Dead Sea Scroll adalah naskah-naskah kuno -yang mengandung teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama- yang diperkirakan disembunyikan di gua-gua Qumran sekitar tahun 66-70, sebelum Jewish War. Teks-teks itu diperkirakan sudah eksis di abad-abad sebelumnya, yaitu diperkirakan sejak abad ke-2 atau bahkan ke- 4 sebelum Masehi. Salinan lengkap kitab Yesaya dan sebagian kitab Kejadian, Ulangan dan Keluaran- menunjukkan salinan yang sangatlah mirip atau hampir identik dengan teks yang kita kenal sekarang.

Bagaimana sekarang dengan teks dalam kitab Perjanjian Baru? Fakta menunjukkan Kitab Suci Perjanjian Baru menunjukkan bukti keotentikan yang jauh melebihi karya-karya tulis sezamannya. Sebagaimana telah disinggung di atas, keotentikan suatu tulisan bersejarah, pertama-tama dilihat dari jangka waktu antara ketika karya itu dituliskan sampai ketika manuskrip pertama ditemukan. Semakin pendek jangka waktunya, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dan korupsi dari kisah kejadian yang sesungguhnya oleh kesalahan penulisan. Yang kedua, kita dapat melihat tingkat otentisitas manuskrip dari berapa banyak manuskrip otentik yang ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan keotentikan dokumen.

Sekarang mari kita lihat melihat fakta karya tulis yang penting dalam literatur sejarah, jika dibandingkan dengan teks Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru:

Karya tulis Kapan ditulis Copy pertama Jangka waktu Jumlah copy
Herodotus 488-428 BC 900 AD 1,300-1400 8
Thucydides 100 AD 1100 1,000 20
Caesar’s Gallic War 58-50 BC 900 AD 950 9-10
Roman History 59 BC-17 AD 900 AD 900 20
Homer (Iliad) 900 BC 400 BC 500 643
Injil dan PB 38-100 AD 130 AD 30-50 5000 ++ Yunani,
10,000 Latin,
9,300 bhs lain

Maka kita melihat bahwa dokumen tentang sejarah Romawi ditemukan sekitar 900 tahun atau hampir 1 millenium setelah kejadian terjadi, dan hanya ada 20 copy yang masih eksis. Sedangkan, penemuan arkeologis membuktikan bahwa manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian, dan bahwa terdapat lebih dari 5500 manuskrip asli ((Robert Stewart. ed, The Reliability of the New Testament: Bart Ehrman and Daniel Wallace in Dialogue, (Minneapolis: Fortress Press, 2011), p.17.)) dalam bahasa Yunani (dan sekitar 20,000 non-Yunani) yang eksis. Kitab Injil dan Perjanjian Baru yang asli seluruhnya dituliskan dalam bahasa Yunani, karena bahasa Yunani pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai, bahkan oleh kaum Yahudi. Banyaknya manuskrip Yunani yang asli tersebut dapat membantu mengidentifikasi adanya kelainan teks dan dengan demikian dapat diketahui teks aslinya. Banyaknya teks asli Perjanjian Baru juga tidak mendukung perkiraan bahwa teks tersebut dipalsukan. Sebab seseorang yang mau memalsukan harus juga mengubah beribu manuskrip yang sudah ada dan beredar di tempat-tempat yang berbeda.

Dengan melihat tabel di atas, secara obyektif kita melihat bahwa karya tulis sejarah Romawi bahkan terlihat sangat ‘minim’ jika dibandingkan dengan Injil, dari segi ke-otentikannya, akurasi dan integritasnya. Padahal orang zaman sekarang tidak mempunyai kesulitan untuk menerima sejarah Romawi tersebut sebagai kebenaran. Suatu permenungan adalah bagaimana Injil yang secara obyektif lebih ‘meyakinkan’ keasliannya dibandingkan sejarah Romawi malah mengundang perdebatan. Keaslian Injil juga kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja, seperti St. Klemens (95) sudah mengutip ayat-ayat Injil, berarti pada saat itu Injil sudah dituliskan, demikian pula Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Juga di awal abad ke-2, St. Ignatius (115) telah mengutip ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.

Dari banyaknya manuskrip asli tersebut, memang banyak orang menyangka bahwa akan terdapat banyak perbedaan-perbedaan teks. Namun ternyata, fakta menunjukkan tidak demikian. Tingkat kesesuaian manuskrip Perjanjian Baru adalah 99.5 % (dibandingkan dengan Homer/ Iliad 95%). Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah doktrin Kristiani.

Memang untuk teks Perjanjian Baru, kita mengenal salinan-salinan dari zaman yang berbeda, sehingga teks dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu dengan istilah minuscule, uncials dan papyri. Minuscules adalah salinan yang diperoleh setelah abad ke-9; pada saat ini, ialah ada semacam standar penulisan teks, dan ini disebut ‘received text‘. Uncials adalah manuskrip yang ditemukan antara abad ke-4 sampai abad ke-9. Teks abad ke-4 yang terkenal adalah Codex Vaticanus (yang tersimpan di Vatikan), Codex Sinaiticus (yang ditemukan di biara Sinai, dan dibawa ke Rusia dan dijual ke British Museum). Codex Bezae di Cambridge adalah dari abad ke-5. Codex itu sampai ke tangan seorang murid Calvin yang bernama Theodore Beza, dan diberikan kepada Universitas di Cambridge tahun 1581. (Selanjutnya tentang banyaknya ragam codex, silakan membaca di link ini, silakan klik). Sedangkan untuk papyri, yang terkenal adalah Egerton papyrus yang disimpan di British Museum; The Chester Beatty papyri, yang kemudian disimpan di universitas Michigan. Fragmen papyri yang terbesar, mencakup hampir keseluruhan surat-surat Rasul Paulus. Namun papyrus yang paling berharga adalah Ryland papyrus yang disimpan di Manchester, yaitu papyrus yang mengandung tulisan Injil Yohanes bab 18, yang berasal dari tahun 130, yang hampir bersamaan dengan teks aslinya yang berasal dari tahun 96-98.

Kesimpulan: Kaitan tak terpisahkan antara Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium Gereja

Pemahaman akan asal usul terbentuknya Kitab Suci harusnya semakin membantu kita untuk mengakui bahwa sesungguhnya Kitab Suci (yaitu ajaran Kristus dan para Rasul yang dituliskan), tidak terpisahkan dari Tradisi Suci (ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul). Sebab Kitab Suci berasal dari ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul, yang kemudian dituliskan, atas dasar kemampuan memori dari para penulisnya, dan juga pertama-tama atas dorongan Roh Kudus. Dengan kata lain, Kitab Suci mengambil sumbernya dari Tradisi Suci yang telah hidup dan berakar dalam jemaat perdana. Maka, tidak menjadi masalah, jika faktanya teks Kitab Suci yang asli/ original kemungkinan sudah punah di abad kedua, sebab ajaran yang terkandung di dalam Kitab Suci sudah ada, tetap hidup dan dilestarikan dalam kehidupan Gereja. Hal ini terlihat dari banyaknya teks Kitab Suci yang dikutip dalam tulisan para Bapa Gereja yang hidup di abad-abad awal tersebut. Inilah yang menyebabkan Kitab Suci dapat terus diturunkan dan dituliskan dengan tingkat akurasi yang tinggi, walaupun salinannya baru dapat ditemukan di abad berikutnya (sejumlah salinan teks ditemukan di tahun 130, atau mayoritas teks ditemukan dalam codices yang umumnya berasal dari abad ke-4).

Selanjutnya terbentuknya Kitab Suci juga tidak dapat dipisahkan dari proses penentuan kanonnya. Sebab tidak semua dari karya tulis di abad-abad pertama dapat dikatakan sebagai karya yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Magisterium Gerejalah – pertama kali oleh Paus Damasus I- yang pada tahun 382 menentukan kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga termasuk dalam kanon Kitab Suci. Maka Kitab Suci yang kita ketahui sekarang, berasal dari Magisterium Gereja Katolik.

Tentang sejarah kanon Kitab Suci, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Lampiran:

Tabel Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pengarang dan perkiraan tahun penyusunannya

No  Nama Kitab  Pengarang Kitab  Perkiraan tahun penyusunan
PERJANJIAN LAMA:
A Kitab-kitab Hukum Musa
1 Kejadian Musa \  dikarang oleh Musa stl Exodus
2 Keluaran Musa  |   1600/ 1200 SM
3 Imamat Musa  | ditulis dalam beberapa tahapan
4 Bilangan Musa  |   850,750,650,450 SM
5 Ulangan Musa /
B Kitab-kitab Historis
6 Yosua NN/ Yosua sekitar 1200 SM
7 Hakim-hakim NN sekitar 1200- 970 SM
8 Ruth NN 1000-700 SM atau sebelum abad ke-6 SM
9 1 Samuel NN/ Samuel sekitar abad ke-6 SM
10 2 Samuel NN/ Samuel sekitar abad ke-6 SM
11 1 Raja-raja Yeremia 587 s/d sebelum 538 SM
12 2 Raja-raja Yeremia 587 s/d sebelum 538 SM
13 1 Tawarikh Ezra setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
14 2 Tawarikh Ezra setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
15 Ezra Ezra 458 SM
16 Nehemia Nehemia 445 SM
17 Tobit Tobit dan Tobias 350-170 SM
18 Yudit NN sekitar abad ke-2 SM
19 Ester Mordekhai setelah 480/465 SM
20 Ayub NN/ Musa sekitar 600- 400 SM
C Kitab-kitab Puitis dan Kebijaksanaan
21 Mazmur Daud, Musa,
Salomo, Asaph,
bani Korah, Eman,
Ethan, NN
sekitar abad ke-8 SM
22 Amsal Salomo 800 SM/sebelum abad ke-6 SM
s/d abad  ke-5 SM
23 Pengkhotbah NN/ Pseudo Salomo abad ke-3 SM
24 Kidung Agung Salomo setelah abad ke-8 SM
25 Kebijaksanaan NN/ Pseudo Salomo 200-150 SM
26 Sirakh Yeshua bin Sirakh 190-180 SM
D Kitab-kitab Nubuat
para Nabi
27 Yesaya Yesaya 742-701 SM, >539 SM, <520-473 SM
28 Yeremia Yeremia 627- <587 SM
29 Ratapan Yeremia sekitar abad ke-6 SM
30 Barukh Barukh/NN sekitar abad ke-6- 5 SM
31 Yehezkiel Yehezkiel sekitar abad ke-6 SM (592-570 SM)
32 Daniel Daniel sekitar abad ke-6 SM/ abad ke-2 SM
33 Hosea Hosea sekitar abad ke-8 SM (750-725 SM)
34 Yoel Yoel sekitar abad ke-8 SM/ abad ke-4 SM
35 Amos Amos 791-753 SM
36 Obadiah Obadiah sekitar abad ke-9 SM/ ke-6 SM/ <500 SM
37 Yunus Yunus/ NN sekitar abad ke-8 SM/ ke-7 SM
38 Mikha Mikha 740-695 SM
39 Nahum Nahum 663-612 SM
40 Habakkuk Habakkuk 610-600 SM
41 Zefanya Zefanya 640-609 SM
42 Hagai Hagai 520 SM (586-445 SM)
43 Zakaria Zakaria 520-518 SM
44 Maleakhi Maleakhi >460 SM
45 1 Makabe NN 134 SM
46 2 Makabe NN 124 SM
PERJANJIAN BARU:
47 Matius Matius 50 an
48 Markus Markus 55-62
49 Lukas Lukas 62
50 Yohanes Yohanes 90-100
51 Kisah Para Rasul Lukas 63
52 Roma Paulus 57/58
53 1 Korintus Paulus 54-57
54 2 Korintus Paulus 57
55 Galatia Paulus 57/58
56 Efesus Paulus 61-63
57 Filipi Paulus 54-57
58 Kolose Paulus 61-63
59 1 Tesalonika Paulus 50-52
60 2 Tesalonika Paulus 50-52
61 1 Timotius Paulus 65
62 2 Timotius Paulus 66-67
63 Titus Paulus 65
64 Filemon Paulus 61-63
65 Ibrani Paulus 64-67
66 Yakobus Yakobus sebelum 62
67 1 Petrus Petrus sebelum 67
68 2 Petrus Petrus sebelum 67
69 1 Yohanes Yohanes 90-100
70 2 Yohanes Yohanes 90-100
71 3 Yohanes Yohanes 90-100
72 Yudas Yudas 50-70
73 Wahyu Yohanes 60-70

Sumber:

1. Dom Orchard, gen.ed., A Catholic Commentary on Holy Scripture, (New York: Thomas Nelson and Sons, 1953)

2. Scott Hahn, gen. ed., Catholic Bible Dictionary, (New York: Double Day, 2009)

3. James D Newsome, The Hebrew Prophets, (Altanta: John Knox Press, 1984), alt. by David Twellman

4. George T. Montague SM, The Living Thought of St. Paul, (Encino, California: Benzinger Bruce & Glencoe, Inc., 1976)

Singgasana Surga

0

Pagi yang cerah aku datang ke rumah sakit untuk mengunjungi seorang ibu yang sakit lever. Penyakit levernya sudah sangat parah. Ia adalah umatku dari Lingkungan Santa Klara, Paroki Santa Odilia. Ia menunjukkan sikap ketabahan yang luar biasa. Ia tidak mengeluh sama sekali dengan derita yang ia alami. Ia tetap aktif dalam banyak kegiatan sehingga mempunyai banyak teman. Ia rajin berolahraga untuk terus menerus memupuk semangat hidupnya. “Semangat dalam jiwa bisa menguatkan kerapuhan raga”, prinsipnya. Semangatnya tak pudar walaupun ia sampai pingsan yang membuatnya terbaring di ICU.

Hidup rohaninya yang mendalam membuatnya merasa bahwa kehidupan kekal akan segera dianugerahkan kepadanya. Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-tigapuluh dua pada tanggal 19 Januari 2014. Setelah merayakan ulang tahunnya ini, ia menulis kata-kata yang memberikan pesan yang jelas di profile Facebooknya : “Ini ulang tahunku yang terakhir. Aku rindu pada Penciptaku”. Ia menghadap Sang Pencipta yang menjadi kerinduannya pada tanggal 24 Januari pukul 06.00 pada saat doa “Malaikat Tuhan”.

Ungkapan hatinya yang disampaikan sebelum meninggal dunia sungguh menyentuh hati dan menguatkan jiwa : “Hampir sepuluh tahun pernikahanku dengan suamiku, aku belum dikaruniai Tuhan seorang malaikat kecil. Aku tidak kecewa karena aku yakin Tuhan mempunyai rencana bagi kami walaupun masih misteri sampai saat ini. Meskipun belum ada tangisan bayi di rumah kami, kami tetap menjaga komitmen cinta kami. Komentar banyak orang ‘lihatlah pasangan ini harmonis dan romantis walaupun belum dikaruniai anak’ membuat hatiku bersukacita. Ia mengatakan dengan hati berbunga-bunga : Aku adalah wanita yang paling bahagia karena menemukan pria yang berhati mulia.”

Banyak air mata bercucuran ketika aku menceriterakan kembali proses kematiannya yang begitu indah dalam homili di Misa Requiem baginya. Sebelum petinya ditutup, suaminya menatapnya dengan sesenggukan sambil menyapanya : “Istriku, engkau segalanya….”. Aku pegang bahunya untuk menguatkannya.

Sepuluh hari setelah kepergiannya aku dikejutkan dengan sebuah peristiwa yang tak terduga. Pada hari Sabtu Malam, tanggal 01 Februari 2014, aku merayakan Misa Pesta Tuhan Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Aku tiba-tiba teringat akan ibu itu yang sepertinya mengucapkan kata-kata Simeon : “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu” (Lukas 2:29). Ternyata pada hari itu persis pada tanggal ulang tahun pernikahannya sepuluh tahun silam. Aku yakin bahwa ibu itu telah melihat keselamatan seperti Simeon dan berada di Bait Allah abadi.

Pesan dari peristiwa kehidupan ini : Ketika dua hati yang tulus saling mencintai, kesetiaan terpatri di dalam segala lini kehidupan. Ketika kita tahu artinya setia, tidak ada waktu yang terlalu lama, tak ada jarak yang terlalu jauh, tak ada pekerjaan yang terasa berat, dan tak ada kematian yang memisahkannya. Karena itu, jadikan apa yang ada sekarang untuk menjadi pemacu keabadian cinta sampai menggapai Singgasana Surga.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-22, 11 Februari 2014

0

Iman dan Kasih :
“Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
(1 Yohanes 3:16)

Saudara-saudari terkasih,

1. Pada Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22, yang tahun ini bertema: Iman dan Kasih : “Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1 Yohanes 3:16), saya ingin memberi perhatian khusus kepada orang sakit dan semua orang yang membantu dan merawat mereka. Gereja melihat di dalam diri Anda, orang-orang sakit, suatu kehadiran istimewa Kristus yang menderita. Ini benar. Penderitaan kita – dan sesungguhnya dalam penderitaan kita, adalah penderitaan Kristus sendiri; Dia menanggung beban penderitaan ini bersama dengan kita dan Dia menunjukkan maknanya. Ketika Putera Allah bergantung di kayu salib, Dia musnahkan kesepian derita dan memberi terang atas kegelapan penderitaan itu. Dengan demikian kita dapat menemukan diri kita berada di hadapan misteri kasih Allah, yang memberi kita harapan dan keberanian: harapan, karena di dalam rencana kasih Allah, bahkan malam gelap penderitaan menghasilkan terang Kebangkitan (Paskah); dan keberanian, yang memampukan kita menghadapi setiap penderitaan bersama Dia dan dalam persatuan denganNya.

2. Penjelmaan Putera Allah tidak menghapus penyakit dan penderitaan dari pengalaman manusia tetapi Dia sendiri memikulnya, mengubahnya dan memberinya makna baru. Makna baru, karena penyakit dan penderitaan bukanlah kata terakhir, sebaliknya, memiliki makna hidup baru dan berkelimpahan; mengubahnya, karena di dalam persatuan dengan Kristus, penyakit dan penderitaan tidak lagi bermakna negatif tetapi positif. Yesus adalah jalan, dan bersama Roh-Nya, kita dapat mengikutiNya. Sebagaimana Bapa telah memberi kita Putera-Nya karena kasih, dan Putera memberikan diri-Nya kepada kita karena kasih yang sama, maka kita pun dapat mengasihi sesama sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, saling memberikan hidup kita satu sama lain. Iman kepada Allah menghasilkan kebaikan, iman kepada Kristus yang tersalib menjadi kekuatan untuk mengasihi sesama sampai selama-lamanya, bahkan musuh-musuh kita. Bukti iman yang otentik kepada Kristus adalah penyerahan diri dan menyebarkan kasih kepada sesama kita, khususnya kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung, kepada mereka yang menderita dan kepada mereka yang tersingkirkan.

3. Berkat Sakramen Baptis dan Penguatan, kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang adalah seorang Samaria yang baik hati bagi semua orang yang menderita. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yoh.3:16). Ketika kita mendekati orang-orang yang membutuhkan perhatian, dengan kasih yang lembut, kita membawa harapan dan senyum Allah kepada dunia yang penuh dengan kontradiksi. Ketika bakti diri kita bagi orang lain menjadi ciri khas dari tindakan-tindakan kita, itu berarti kita membuka jalan bagi Hati Kristus dan kita tinggal di dalam kehangatan hati-Nya; dengan demikian kita berperan serta dalam mewujudkan Kerajaan Allah.

4. Agar tumbuh dalam kasih yang lembut dan rasa hormat serta kemurahan hati yang peka, kita memiliki teladan Kristiani yang sudah pasti untuk direnungkan: yaitu Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, yang selalu memperhatikan Suara Allah dan aneka kebutuhan serta kesulitan-kesulitan anak-anaknya. Maria, didorong oleh belas kasih Allah yang menjadi manusia di dalam dirinya, tanpa memperitungkan dirinya segera bergegas dari Galilea ke Yudea untuk bertemu dan membantu saudarinya Elizabeth. Maria meminta Puteranya pada pesta perkawinan di Kana ketika ia melihat di sana kekurangan anggur. Dia menyimpan di dalam hatinya, sepanjang peziarahan hidupnya, kata-kata Simeon di usia senjanya yang meramalkan bahwa sebuah pedang akan menembus jiwanya, dan dengan kekuatan yang tegar berdiri di kaki salib Yesus. Maria mengetahui jalan yang harus ditempuh, dan karena itu ia menjadi ibu bagi semua orang yang sakit dan menderita. Kepadanya kita dapat berpaling dengan yakin dan berbakti kepadanya sebagai anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa ia akan menolong kita, mendukung kita dan tidak akan meninggalkan kita. Maria adalah Bunda Kristus yang tersalib dan bangkit: ia berdiri di samping salib-salib kita dan mendampingi kita dalam perjalanan menuju kebangkitan dan kepenuhan hidup.

5. Santo Yohanes, murid yang berdiri bersama Maria di bawah salib, mengantar kita kepada sumber-sumber iman dan kasih, mengantar kita kepada hati Allah yang adalah “kasih” (1Yoh.4:8.16). Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat mengasihi Allah bila kita tidak mengasihi saudara dan saudari kita. Mereka yang berdiri bersama dengan Maria di bawah salib, belajar mengasihi seperti yang Yesus lakukan. Salib adalah “kepastian kasih setia yang Allah miliki untuk kita. Kasih yang begitu agung masuk ke dalam dosa kita dan mengampuninya, masuk ke dalam penderitaan kita dan memberi kita kekuatan untuk menanggungnya. Inilah kasih yang masuk ke dalam alam maut untuk mengalahkannya dan untuk menyelamatkan kita… salib Kristus mengundang kita juga untuk membiarkan diri kita dikuasai oleh kasihNya, yang mengajar kita selalu memandang orang lain dengan belas kasih dan lemah-lembut, khususnya mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pertolongan” (Jalan Salib Bersama Kaum Muda, Rio de Janeiro, 26 Juli 2013).

Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22 ini kepada doa-doa Maria. Saya memohon dia untuk menolong orang yang sakit agar mampu menanggung penderitaan mereka dalam persekutuan dengan Yesus Kristus dan mendukung semua orang yang mempedulikan mereka. Bagi semua orang yang sakit, dan bagi semua karyawan perawat kesehatan dan sukarelawan yang membantu mereka, dengan tulus hati saya memberikan Berkat Apostolik saya.

Dari Vatican, 6 Desember 2013
Paus Fransiskus

Penerjemah: Karya Kepausan Indonesia (KKI) d.a. KWI, Jl Cut Mutiah 10 Jakarta Pusat, web http://www.kkindonesia.org/

Bintang Pengharapan

0

Gerimis membasahi sepanjang jalan yang aku lalui menuju Cisoka, daerah terujung dari pusat Parokiku Santa Odilia- Tangerang, untuk merayakan Malam Natal. Perjalanan panjang selama dua jam dan dengan jarak empat puluh kilometer, beratapkan langit yang gelap dan beralaskan jalan yang berlubang, tidak mengurangi kebahagiaan untuk menghayati makna kelahiran Sang Juru Selamat. Kelahiran Tuhan Yesus sungguh ditampilkan dengan perayaan Malam Natal dalam kesederhanaan oleh lebih dari empat ratus umat dewasa, belum termasuk anak-anak yang tak terhitung banyaknya. Kelahiran Tuhan Yesus di gua atau kandang Betlehem sangat terasa dengan perayaan Malam Natal di bawah tenda yang dipasang di jalan berkerikil, tanpa air condition dan kegemerlapan, seperti di kota-kota. Umat datang dalam Misa dengan berpakaian rapi walaupun dengan baju lama. Banyak di antara mereka berjalan kaki selama satu jam untuk merayakan kelahiran Putera Allah ke dalam dunia. Semuanya itu pasti menimbulkan keharuan bagi hati yang peka.

Paduan suara kaum muda yang begitu indah membahana di tengah sunyinya malam dalam Misa di pinggir sawah ini. “Lagu Malam Kudus” pun terasa menggetarkan jiwa dalam suasana sunyi dan sepi. Sebelum berkat penutup, aku berlutut di hadapan umat yang mendoakanku untuk membaharui kaul religiusku, yaitu kaul ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan, seumur hidup.

Kesederhanaan tidak mengurangi kebahagiaan mereka. Persaudaraan yang tulus justru terwujud dalam kebersamaan tanpa keterpaksaan. Mereka makan apa adanya sambil tertawa renyah melihat pertunjukan-pertunjukan, baik yang telah dipersiapkan ataupun yang spontan saat itu. Semuanya bersumber pada hati yang bersyukur atas berkat Tuhan.

Hati yang bersyukur itu diungkapkan oleh seorang anak yang tiba-tiba memeluk pinggangku ketika aku membagikan bingkisan sebuah minuman ringan dan roti kecil. Ia berkata sambil memandang mataku : “Romo, papaku tak punya uang sehingga Natal ini aku tetap memakai baju dan sepatu lama. Keindahan Natal tidak tergantung pada baju dan sepatu baru, ya Mo…, tetapi pada hati yang baru. Yang penting Tuhan Yesus tinggal di dalam hatiku. Aku tidak mempunyai kado untuk Tuhan Yesus yang diletakkan di bawah pohon Natal seperti di rumah banyak kawanku. Aku akan lebih rukun dengan kakak, adik, dan teman-temanku, sebagai kado untuk Tuhan Yesus. Itulah satu-satunya yang aku punya untuk Tuhan Yesusku”. Setelah itu, ia memandang ke langit sambil mengatakan sesuatu kepada mama dan papanya : “Papa dan mama jangan sedih karena tidak bisa membelikan aku baju dan sepatu baru pada Natal ini. Tidak mengapa papa dan mama … aku tetap memakai baju dan sepatu yang lama. Lihatlah hatiku tetap bersukacita karena aku yakin bahwa Tuhan Yesus menuntun jiwaku untuk meraih surga. Kemudian aku bertanya kepadanya : “Kalau besar mau menjadi apa nak ?”. Ia menjawab : “Aku akan menjadi dokter agar bisa menolong banyak orang, Romo.…”. Hatiku trenyuh/tersentuh mendengarkan ungkapan syahdu dari anak yang lugu ini. Sungguh di dalam hidupnya memancarkan bintang pengharapan karena Tuhan Yesus Kristus lahir dan bersemayam di dalam jiwanya.

Dari kisah anak itu dan kesederhanaan perayaan Natal, ada tiga hal yang perlu dihidupi untuk menyambut damai sejahtera : “Hiduplah untuk berkawan dan bukannya mencari lawan; Tanamkanlah damai dan bukannya merusak kedamaian; hiduplah saling menolong dan bukannya saling mendorong dan merongrong”. Berkawan, menanamkan damai, dan saling menolong membuat hidup kita terberkati : “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kolose 3:15). Alangkah indahnya hidup kita ketika Tuhan Yesus tinggal di dalam hati karena kedamaian, sukacita, dan pengharapan memahkotai kita.

Tuhan memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

The Grand Divine Mosaic Ep. II

1

Hidup setiap manusia itu seperti mosaik yang menyusun kaca jendela Gereja. Gambar itu tersusun dari kepingan-kepingan kaca yang beraneka ragam. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang berwarna, ada yang bening. Ada yang bersegi, ada yang tidak. Kendati beragam dan berbeda-beda, aku bisa melihat wajah Kristus yang bersinar. Cantik sekali. Hidupku di dunia ini sama seperti sekeping mosaik di tengah kaca jendela itu, bersama-sama dengan seluruh manusia, menyusun citra Allah yang mengagumkan. Oleh sebab itu, aku berusaha melakukan apa yang aku bisa dalam biara ini untuk menjadi mosaik yang baik.

Dalam biara, kami juga mendapat beragam mata kuliah yang berguna bagi formasi dan masa studi di tahap berikutnya. Salah satunya adalah Bahasa Inggris. Untuk memperlancar proses belajar-mengajar, sang dosen membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dengan seorang tutor dalam tiap kelompok. Tutor dipilih dari siswa yang memiliki nilai Bahasa Inggris yang cukup baik. Kebetulan, aku dipercaya menjadi salah satu tutor. Karena aku memang menyukai bahasa Inggris, membagikan apa yang aku tahu adalah hal yang menyenangkan hati. Kami sering belajar bersama untuk mempersiapkan materi kelas Bahasa Inggris yang mendatang atau persiapan menghadapi ulangan. Aku berusaha menjadi tutor sebaik mungkin.

Sayangnya, setelah beberapa kali pertemuan dan ulangan, kelompokku tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. Bahkan, dosen sempat menegur aku karena nilai kelompokku tidak menunjukkan peningkatan. Aku merasa gagal sebagai seorang tutor. Kegagalan ini diperparah dengan permasalahan dalam keluargaku, yang sedang dilanda perpecahan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan dan mencari solusi, sekalipun aku terpisah jarak dari mereka. Aku menghujankan novena agar Tuhan bersedia menolong. Aku juga mencari berbagai retret dan menghubungi imam-imam yang dapat membantu mendamaikan mereka. Tapi, perpecahan itu tetap saja ada, bahkan semakin memburuk. Belum lagi ada sedikit konflik ini-itu dengan beberapa anggota komunitas. Aku merasa gagal membagikan talentaku, gagal sebagai anak, dan gagal sebagai anggota komunitas biara.

Kekecewaan pada diriku ini dikarenakan aku ingin memberi diri pada orang-orang yang ada di sekitarku. Aku ingin menolong semua mereka yang membutuhkan bantuanku dan memecahkan semua persoalan mereka. Tapi, mungkin di situlah letak permasalahannya. Dalam niat baik itu terselip kesombongan diri bahwa aku bisa melakukan segalanya sendiri. Seringkali, aku mencoba mengatasi hanya berdasarkan pertimbanganku pribadi dan caraku sendiri. Padahal, aku memiliki teman untuk diajak diskusi, formator untuk dimintai nasehat, dan, terutama, Allah yang menyediakan segalanya. Segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Fil 4 : 13). Seharusnya, aku ingat akan hal tersebut.

Aku bukan lagi ingin menjadi sekeping mosaik, melainkan seluruh gambar di jendela kaca tersebut. Padahal, aku hanya memiliki satu warna, satu bentuk, dan satu rupa. Bayangkan jika jendela itu hanya dihiasi sekeping mosaik dengan satu warna. Tentu saja bukan rupa Kristus yang tampak, melainkan rupaku sendiri, dan rupa itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Kristus.

Pemintal gulali ini harus ingat bahwa sekeping mosaik memiliki batasan dan kekurangan. Ia tidak dapat menjadi seluruh gambar karena ia hanyalah kepingan. Ia dapat melakukan sekuat tenaga apa yang ia bisa persembahkan kepada Kristus dan sesama. Namun, ia harus ingat bahwa ia juga memiliki keterbatasan. Ia tidak bisa melakukan semua hal secara sempurna, apalagi bila ia tidak bernaung pada pertolongan Allah. Ini juga bukan alasan baginya untuk berlindung di balik kelemahannya dan tidak berusaha memberikan usaha terbaik bagi Allah dan sesama. Kerendahan hatilah kuncinya, seperti sekeping mosaik yang kecil yang meneruskan cahaya Matahari Ilahi.

Kerendahan hati adalah satu-satunya hal yang tidak dapat ditiru oleh setan.” – St. Yohanes Klimakus

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab