Home Blog Page 78

Buat apa susah…. susah itu tak ada gunanya!

0

[Hari Minggu Paskah ke V: Kis 6:1-7; Mzm 33: 1-22; 1Ptr 2: 4-9; Yoh 14:1-12]

….Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya…”  Ini lirik lagu masa kecil, yang tadinya kupikir tidak ada kaitannya dengan pesan Injil. Tapi ternyata ajakan untuk tidak susah dan gelisah, menjadi salah satu pesan bacaan Kitab Suci hari ini. Mungkin Tuhan tahu bahwa manusia pada dasarnya mudah gelisah, maka kerap kali Ia mengingatkan kita, bahwa kita tidak perlu resah sebab Ia setia mendampingi kita. Walau mata jasmani kita tidak melihat Dia, namun Allah tidak jauh dengan kita. Allah menghendaki agar kita mengingat besarnya cinta-Nya yang selalu memelihara dan menyertai kita (lih. Mzm 33: 19-22). Jika kita mengingat kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, bukankah kita memiliki alasan untuk tidak gelisah?

Tetapi nampaknya, bukan hanya kita di zaman sekarang yang mudah gelisah, bahkan para Rasul-pun juga pernah mengalami kegelisahan hati. Ini kita ketahui dari pembicaraan Tuhan Yesus dan para Rasul, ketika sebelumnya Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi ke suatu tempat di mana mereka belum bisa mengikuti-Nya saat itu. Ketika Rasul Petrus berkata ia mau mengikuti Yesus, dan bahkan akan menyerahkan nyawanya untuk mengikuti Dia, Yesus malah memperingatkan Petrus bahwa ia akan menyangkal Yesus sebanyak tiga kali (lih. Yoh 13:38). Hal ini membuat para Rasul yang lain menjadi gelisah: ke manakah Tuhan Yesus akan pergi meninggalkan mereka? Mengapa mereka tidak bisa ikut saat itu? Bahkan Petrus pemimpin para Rasul itupun tidak? Namun Yesus mengetahui kegalauan hati mereka. Jawaban Tuhan Yesus selanjutnya, menjadi juga jawaban bagi kita, setiap kali kita merasa gelisah seperti para Rasul itu. Yesus berkata, “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku…. Aku telah menyediakan tempat bagi-mu dan Aku akan membawa kamu ke tempat-Ku supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yoh 14:1-3) Setelah wafat dan kebangkitan Kristus, tentu para Rasul memaknai kebenaran perkataan Yesus ini dengan pemahaman yang baru. Sebab jika terhadap kematian, yaitu permasalahan yang dianggap terbesar dan tak ter-elakkan bagi manusia saja Tuhan Yesus mempunyai jalan keluarnya, apalagi terhadap berbagai permasalahan lainnya di dunia ini yang tidak sebesar itu. Tentu dengan kasih penyertaan-Nya, Tuhan Yesus akan mendampingi kita untuk menghadapinya. Maka, kita tidak perlu gelisah, sebab kita mengetahui bahwa tiada hal yang mustahil bagi Allah.

Dengan kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Sang Hidup yang mengatasi segala kegelapan dan maut. Ia memberikan hidup-Nya kepada kita, agar kita tidak gelisah dalam menjalani kehidupan ini, betapapun gelap lorong yang harus kita lalui, atau betapapun pelik masalah yang kita hadapi. Rasul Petrus berkata dalam suratnya, bahwa Kristus “telah memanggil kamu keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan” (1Pet 2:9). Ya, ke dalam terang kehidupan-Nya itulah Kristus telah memanggil kita, dan Ia telah membukakan jalannya. Bersama Yesus kita menjalani kehidupan ini, termasuk jatuh bangunnya, untuk mengatasi berbagai masalah dan kelemahan kita. Sebab kita memiliki pengharapan yang teguh, yaitu bahwa jika kita percaya dan setia menjalani perjalanan hidup kita di dunia ini bersama Tuhan Yesus, maka Ia akan membawa kita kepada tujuan akhir kita, di mana Ia berada dalam kesatuan dengan Allah Bapa. Di sanalah kita dapat memperoleh makna yang terdalam akan perkataan Tuhan Yesus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9).

Sementara menantikan saat yang membahagiakan itu, mari kita melakukan pekerjaan- pekerjaan kita dengan sepenuh hati. Biarlah melalui pekerjaan kita sehari-hari, kita “memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah” (1 Pet 2:9).

Tuhan Yesus, aku bersyukur untuk besarnya kuat kuasa kasih-Mu yang mengalahkan maut. Bantulah aku, untuk selalu mengandalkan Engkau dalam kehidupanku. Dengan mata hati tertuju kepada-Mu, biarlah hatiku tidak lekas gelisah dan susah, sebab Engkau selalu menyertaiku dan akan membuka jalan bagiku sampai kelak aku kembali kepada-Mu di  tempat yang Engkau sediakan bagiku. Amin.

Doa pada Jam 3 siang (Jam Kerahiman Ilahi)

2

Ya Yesus,
Engkau telah wafat,
namun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa-jiwa,
Dan terbukalah lautan kerahiman bagi seluruh dunia,
O Sumber kehidupan, Kerahiman ilahi yang tak terselami,
Naungilah segenap dunia, dan curahkanlah diri-Mu pada kami.
O, Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus,
sebagai Sumber Kerahiman bagi kami,
Engkaulah andalanku!

Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal, kasihanilah kami,
dan seluruh dunia ….. 3x

Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
Engkaulah Andalanku.

Amin

(dapat dilanjutkan dengan Doa Koronka)

Jika Kasih itu tidak cemburu, mengapa Allah cemburu?

3

Ada orang bertanya, jika Allah adalah Kasih dan kasih itu tidak cemburu (1 Kor 13:4), mengapa  dikatakan bahwa Allah itu cemburu (Kel 20:5; Ul 4:24)?

Istilah ‘cemburu’ yang kita pahami sekarang memang cenderung mengarah kepada arti negatif. Artinya sering dihubungkan dengan rasa iri, atau curiga terhadap pihak lain. Nampaknya inilah yang terjadi dalam jemaat sebagaimana ditulis oleh Rasul Paulus di dalam suratnya di Korintus (lih. 2Kor 12:20) dan Roma (lih. Rm 13:13). Rasul Paulus mengkhawatirkan adanya “perselisihan dan iri hati…./ quarelling and jealousy (RSV) dalam jemaat.

Namun dalam Kitab Suci, kata yang sama, dapat digunakan untuk menggambarkan arti yang baik. Kata ‘cemburu’ dalam bahasa Ibrani adalah qi’nah, atau dalam bahasa Yunani zelos, mempunyai akar kata ‘hangat/ panas’. Maka tergantung konteksnya, kata ‘cemburu’ ini dapat digunakan untuk menggambarkan baik suatu perasaan negatif, ataupun positif. Rasul Paulus menggunakan kata yang sama ini, zeloo, ‘earnestly desire’, yang diterjemahkan LAI dengan ‘berusahalah untuk memperoleh’, yaitu untuk memperoleh karunia-karunia rohani (lih. 1Kor 12:31; 14:1,39). Atau yang lebih eksplisit adalah dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Rasul Paulus berkata:

“Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.” (2 Kor 11:2-4)

Pada ayat-ayat tersebut, ‘cemburu’ mempunyai arti positif, yaitu: mengasihi sedemikian, sehingga menjaga agar jangan sampai yang dikasihi tersesat dan tidak setia. Dalam arti yang positif inilah, Allah dikatakan sebagai Allah yang cemburu. Allah tidak cemburu dalam arti iri hati terhadap bangsa Israel, tetapi bahwa Ia begitu mengasihi bangsa Israel dengan kasih yang kuat bagaikan api yang panas, yang tidak menghendaki umat-Nya mendua hati. Demikianlah kita membaca dalam Kitab Ulangan, “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (Ul 4:24); sebagai kesimpulan dari nasihat Nabi Musa agar bangsa Israel tidak melupakan perjanjian dengan Allah, dengan menjadi tidak setia (lih. Ul 4:21-23). Di sini Kitab Suci menggambarkan perkawinan rohani antara Allah dengan umat-Nya bagaikan kasih antara suami dan istri. Allah menghendaki agar bangsa pilihan-Nya hanya menyembah-Nya sebagai Allah yang satu-satunya. Sayangnya, bangsa Israel berkali-kali tidak setia kepada Allah, mereka berpaling kepada para dewa/ berhala, sehingga dalam Kitab Suci sering dikatakan bahwa bangsa Israel dan Yehuda ‘bersundal’ (lih. Yer 3:6-10). Sebaliknya, Allah adalah Allah yang tetap setia. Allah tetap menunjukkan bahwa kasih-Nya kepada umat-Nya itu adalah kasih yang begitu total dan kuat/ intense,  yang menghendaki balasan yang serupa. Ia menjaga umat-Nya dengan kasih yang ‘cemburu’ dalam arti positif, yang tak ingin bertoleransi dengan kehadiran allah-allah lain di tengah umat-Nya (lih. Kel 20:3-6, Yos 24:24-16,19-20, dst). Arti ‘cemburu’ ilahi yang sedemikian berbeda dengan ‘cemburu’ yang disebutkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13:4. Namun karena akar katanya sama, arti positif dan negatif dari kata tersebut, disampaikan dalam kata yang sama.

 

Tuhan, tambahkanlah ‘imam’ kami!

0

[Hari Minggu Paskah ke IV: Kis 2:14, 36-41; Mzm 23: 1-6; 1Ptr 2: 20-25; Yoh 10:1-10]

Konon, salah satu kemajuan suatu paroki ditunjukkan dari berapa banyak anggotanya yang menjadi imam, ataupun menjadi biarawan dan biarawati. Dari paroki kita yang berusia sekitar 37 tahun, sudah adakah yang menjadi imam? Entah karena saking langkanya, atau mungkin belum ada, maka sepertinya tidak terdengar kabar beritanya. Ini sesungguhnya adalah suatu pertanyaan yang pantas kita renungkan. Sebab benih panggilan Tuhan hanya dapat bertumbuh subur dalam keluarga dan paroki yang mendukung pertumbuhan benih tersebut. Sudahkah kita sebagai keluarga maupun paroki, melakukan bagian kita untuk mendukung pertumbuhan benih panggilan Tuhan itu? Jangan-jangan kita hanya rajin berdoa, “Ya Tuhan, biarlah semakin banyak anak muda menjawab panggilan untuk menjadi imam…”, namun di dalam hati lekas menambahkan, “tetapi kalau bisa, jangan anak saya…”

Hari ini kita merayakan bersama Hari Minggu Panggilan. Ya, panggilan Tuhan adalah sesuatu yang perlu kita rayakan, kita doakan, tetapi juga yang kita pupuk dalam hidup sehari-hari. Walaupun tidak semua orang dapat menjawab panggilan untuk menjadi imam, ataupun biarawan dan biarawati, tetapi kita semua dapat mengambil bagian agar panggilan tersebut dapat hidup dan bertumbuh dalam keluarga maupun paroki kita. Sudahkah kita sebagai orang tua meneruskan iman kepada anak-anak kita? Sudahkah kita mendukung mereka untuk melakukan proses discernment agar mengenali jalan panggilan hidup mereka? Sebab panggilan hidup sebagai imam, biarawan dan biarawati, pada dasarnya merupakan pemberian diri yang seutuhnya bagi Kerajaan Allah. Ini merupakan suatu tanggapan terhadap rahmat Allah yang telah terlebih dahulu diterima. Namun untuk sampai kepada keputusan tersebut, diperlukan juga lingkungan yang kondusif bagi generasi muda kita. Jika orang tua terlalu sibuk, ataupun waktu anak-anak didominasi oleh  game di hp dan  game on line hampir sepanjang hari, atau dengan berbagai les pelajaran, sampai tak ada lagi waktu untuk berdoa bersama ataupun sekedar berbicara dari hati ke hati, kapankah orang tua dapat menyampaikan mutiara iman kepada anak-anak? Begitu besarnya daya tarik dunia di sekitar kita, menawarkan banyak berita dan kenikmatan semu, sampai perhatian kita kepada Allah sering kali tidak menempati urutan nomor satu.

Maka tepatlah peringatan dari Rasul Petrus di bacaan pertama hari ini. “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini” (Kis 2:40). Ya, kita perlu senantiasa memeriksa diri dan bertobat agar menyadari bahwa kita ini milik Tuhan, dan suatu saat akan kembali kepada-Nya. Seperti halnya domba-domba mengikuti gembalanya, demikianlah kita mengikuti Kristus, Sang Gembala kita. Sebagai Gembala yang baik, Kristus telah telah menyatakan kasih-Nya yang tak terhingga, dengan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Dan oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan (lih. 1 Ptr 2:24). Teladan kasih-Nya ini memanggil kita untuk melakukan hal yang sama.  Yaitu, untuk memberikan diri kita kepada Allah dan sesama. Memberi diri dalam hal apa? Injil hari ini mengungkapkan salah satu caranya. St. Agustinus mengajarkan bahwa dengan mengumpamakan sebagai pintu, Kristus menghendaki agar kita masuk melaluinya untuk dapat sampai kepada kebahagiaan kekal. Kita masuk melalui pintu itu, kata St. Agustinus,  jika kita mengikuti jejak pengorbanan Kristus dengan kerendahan hati seperti Dia. Demikianlah kita melihat cerminan pengorbanan Kristus sampai pada tingkat yang total dalam kehidupan para imam, biarawan dan biarawati; dan juga orang tua mereka yang mempersembahkan anak-anak mereka kepada Allah itu. Melalui kasih dan pengorbanan mereka semualah, Gereja hidup dan bertumbuh. Sebab melalui para imam, kita menerima Kristus yang menghidupi Gereja-Nya melalui sakramen-sakramen-Nya, khususnya dalam Ekaristi. Ya, Kristus mengundang  para anggota-Nya agar turut serta mengambil bagian dalam kasih dan pengorbanan-Nya, untuk dapat membawa semua kawanan-Nya memasuki kebahagiaan kekal. Adakah kita terpanggil untuk undangan Allah ini? Sudahkah kita tekun berdoa agar Allah memampukan banyak orang muda untuk menanggapi panggilan menjadi imam, biarawan dan biarawati? Termasuk juga, memperkenalkan jalan panggilan Tuhan itu kepada anak-anak kita, ataupun kepada anak-anak baptis kita, dan mendukung jika mereka mau menanggapinya?

Tuhan Yesus, curahkanlah rahmat panggilan suci-Mu kepada banyak orang muda dalam Gereja-Mu. Mampukanlah mereka untuk menanggapinya, dan bantulah kami untuk turut serta menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan benih panggilan- Mu. Kumohon ya Tuhan, tambahkanlah imam bagi umat-Mu. Amin.”

Paus Fransiskus: Kita bisa tidak setia, tetapi Allah tidak bisa!

0

Berikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus pada Hari para Maria dalam Tahun Iman:

Dalam Mazmur kita berkata: “Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru, karena Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (Mzm 98:1).

Hari ini kita perhatikan satu dari perbuatan-perbuatan ajaib yang Tuhan telah lakukan: Maria! Seorang wanita yang rendah dan lemah seperti kita, dia dipilih menjadi Bunda Allah, Bunda dari Penciptanya.

Menilik Maria dalam terang bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar, saya ingin merefleksikan dengan kalian pada tiga hal: pertama, Allah mengejutkan kita, ke-dua, Allah meminta kita untuk setia, dan ke-tiga, Allah adalah kekuatan kita.

1. Pertama: Allah mengejutkan kita. Kisah Naaman, panglima tentara raja Aram, adalah luar biasa. Agar disembuhkan dari penyakit kusta, ia berpaling menuju nabi Allah, Elisa, yang tidak melakukan sihir atau menuntut sesuatu yang tidak biasa darinya, tapi hanya meminta dia untuk percaya pada Allah dan untuk mandi di perairan sungai. Bukan di salah satu sungai besar di Damaskus, akan tetapi di sungai kecil dari sungai Yordan. Naaman dibiarkan terkejut, bahkan terperanjat. Allah macam apa ini yang meminta sesuatu sedemikian sederhana? Dia ingin berpaling pulang, tapi kemudian dia melanjutkan, dia menenggelamkan dirinya di Sungai Yordan dan langsung sembuh (lih. 2 Kg 5:1-4). Demikian adanya: Allah mengejutkan kita. Justru dalam kemiskinan, dalam kelemahan dan dalam kerendahan hati yang Ia nyatakan diri-Nya dan memberi kita kasih-Nya, yang menyelamatkan kita, menyembuhkan kita dan memberi kita kekuatan. Dia meminta kita hanya untuk mentaati firman-Nya dan percaya kepadaNya.

Berikut ini adalah pengalaman Perawan Maria. Saat mendapat kabar dari malaikat, dia tidak menyembunyikan rasa terkejutnya. Ini adalah ketakjuban dari perwujudan bahwa Allah, menjadi manusia, telah memilih dia, seorang gadis sederhana dari Nazaret. Bukan seseorang yang tinggal di sebuah istana di tengah kekuasaan dan kekayaan, atau seseorang yang telah melakukan hal-hal yang luar biasa, melainkan hanya seseorang yang terbuka kepada Allah dan menaruh kepercayaannya dalam Dia, bahkan tanpa memahami segalanya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”(Luk 1:38). Itulah jawabannya. Tuhan terus mengejutkan kita, ia meledakkan kategori-kategori kita, Dia membuat kekacauan dengan rencana-rencana kita. Dan Dia katakan kepada kita: Percayalah, jangan takut, biarkan diri kalian dikejutkan, biarkan diri kalian di belakang dan ikuti Aku!

Hari ini mari kita semua bertanya pada diri sendiri apakah kita takut akan apa yang Allah mungkin minta, atau akan apa yang Dia sesungguhnya minta. Apakah aku membiarkan diriku dikejutkan oleh Allah, seperti halnya Maria, atau apakah aku tetap terjebak dalam zona aman-ku sendiri: dalam bentuk-bentuk materi, keamanan intelektual atau ideologis, yang berlindung dalam proyek-proyek dan rencana-rencanaku sendiri? Apakah aku benar-benar membiarkan Allah ke dalam hidupku? Bagaimana aku menjawabnya?

2. Dalam kutipan pendek dari Santo Paulus yang telah kita dengar, Rasul itu memberitahu muridnya Timotius: Ingatlah Yesus Kristus; jika kita bertahan dengan Dia, kita juga akan ikut memerintah dengan Dia (lih. 2 Tim 2:8-13). Hal ini adalah hal kedua: mengingat Kristus selalu – menjadi penuh perhatian akan Yesus Kristus – dan dengan demikian bertekun dalam iman. Allah mengejutkan kita dengan kasih-Nya, tetapi Ia menuntut agar kita setia dalam mengikutiNya. Kita bisa tidak setia, tapi Dia tidak bisa: Dia adalah “Yang setia” dan Ia menuntut kita kesetiaan yang sama itu. Pikirkan semua saat-saat ketika kita bersemangat tentang sesuatu atau yang lain, beberapa inisiatif, beberapa tugas, tapi setelah itu, pada tanda kesulitan pertama, kita mengaku kalah. Sayangnya, hal ini juga terjadi dalam kasus keputusan-keputusan mendasar, seperti misalnya pernikahan. Yang adalah kesulitan untuk tetap teguh, setia kepada keputusan-keputusan yang telah kita buat dan kepada komitmen-komitmen yang telah kita buat. Seringkali cukup mudah untuk mengatakan “ya”, tapi kemudian kita gagal untuk mengulang “ya” ini setiap hari dan sehari-harinya. Kita gagal untuk setia.

Maria telah berkata “ya”-nya kepada Allah: sebuah “ya” yang menghabiskan kehidupannya yang sederhana di Nazaret ke dalam kekacauan, dan tidak hanya sekali. Beberapa kali dia telah ucapkan “ya”-nya yang tulus pada saat-saat suka dan duka, yang berpuncak dalam “ya”-nya dia telah tunjukkan di kaki Salib. Di sini saat ini ada banyak ibu-ibu yang hadir; ingatlah segenap kesetiaan Maria kepada Allah: yang melihat Putra Tunggalnya tergantung di kayu Salib. Wanita setia itu, masih berdiri, benar-benar hancur hati, namun setia dan kuat.

Dan saya bertanya pada diri sendiri: Apakah aku seorang Kristen secara tak beraturan [secocok dan sesukanya], ataukah aku seorang Kristen penuh waktu? Budaya kefanaan kita, relativitas itu, juga menelan korban pada cara kita menjalani iman kita. Allah meminta kita untuk setia kepadaNya, sehari-hari, dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia terus mengatakan itu, sekalipun kita kadang-kadang tidak setia kepadaNya, Dia tetap setia. Dalam belas kasihan-Nya, Dia tidak pernah lelah merentangkan tangan-Nya untuk mengangkat kita, mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kita, untuk kembali dan menceritakan kepadaNya akan kelemahan kita, sehingga Dia dapat memberikan kita kekuatan-Nya. Hal ini adalah perjalanan yang nyata: berjalan bersama Tuhan selalu, juga pada saat-saat lemah, juga dalam dosa-dosa kita. Jangan pernah lebih menyukai jalan pintas kita sendiri. Yang membunuh kita. Iman adalah dasar kesetiaan, seperti kesetiaan Maria.

3. Hal terakhir: Allah adalah kekuatan kita. Saya mengingat sepuluh orang kusta di Injil yang disembuhkan oleh Yesus. Mereka mendekatiNya dan, menjaga jarak mereka, mereka berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Luk 17:13). Mereka sakit, mereka membutuhkan kasih dan kekuatan, dan mereka sedang mencari seseorang untuk menyembuhkan mereka. Yesus menanggapi dengan membebaskan mereka dari penyakit mereka. Dengan cara yang menyolok, namun hanya salah satu dari mereka datang kembali, memuliakan Allah dan bersyukur kepadaNya dengan suara keras. Yesus memperhatikan hal ini: sepuluh [orang] telah meminta untuk disembuhkan dan hanya satu [orang] yang kembali untuk memuji Allah dengan suara keras dan mengakui bahwa Dia adalah kekuatan kita. Mengetahui bagaimana untuk bersyukur, untuk memberikan pujian atas segala sesuatu yang telah Tuhan telah lakukan bagi kita.

Mengutip Maria. Setelah Kabar Gembira, tindakan pertamanya adalah satu dari kebaikan hati menuju kakak perempuan sanak keluarganya, Elizabeth. Kata-kata pertamanya adalah: “Jiwaku memuliakan Tuhan”, dengan kata lain, sebuah lagu pujian dan syukur kepada Allah tidak hanya untuk apa yang Dia lakukan untuknya, tetapi untuk apa yang Dia telah lakukan sepanjang sejarah keselamatan itu. Semuanya adalah karunia-Nya. Jika kita dapat menyadari bahwa segala sesuatu adalah karunia Allah, betapa bahagianya hati kita! Semuanya adalah karunia-Nya. Dia adalah kekuatan kita! Mengatakan “terima kasih ” adalah semacam hal yang mudah, dan belum begitu sulit! Seberapa sering kita katakan “terima kasih” kepada satu sama lain dalam keluarga kita? Kata-kata ini penting bagi kehidupan kita bersama. “Maaf”, “permisi”, ” terima kasih”. Jika keluarga-keluarga bisa mengatakan tiga hal ini, mereka akan baik-baik saja. “Maaf”, “permisi”, “terima kasih”. Seberapa sering kita katakan “terima kasih” dalam keluarga kita ? Seberapa sering kita katakan “terima kasih” kepada mereka yang membantu kita, mereka yang dekat dengan kita, mereka yang berada di sisi kita sepanjang hidup? Terlalu sering kita menganggap segala sesuatu sudah semestinya! Hal ini terjadi dengan Allah juga. Sangat mudah untuk mendekati Tuhan untuk meminta akan sesuatu, tapi untuk pergi dan bersyukur padaNya: ” Yah, aku tidak perlu”.

Sambil kita melanjutkan perayaan Ekaristi kita, marilah kita memohon perantaraan Maria. Semoga ia membantu kita untuk terbuka akan kejutan Allah, untuk menjadi setia kepadaNya setiap hari dan sehari-harinya, dan untuk memuji dan bersyukur padaNya, karena Dia adalah kekuatan kita. Amin.

* * *

Tindakan penyerahan diri kepada Maria

Santa Perawan Maria dari Fatima,
dengan rasa syukur yang diperbaharui atas kehadiranmu yang keibuan
kami bergabung dalam suara dari semua generasi yang menyebut-mu yang terpuji.

Kami memuji di dalammu perbuatan-perbuatan besar Allah,
yang tidak pernah lelah merendahkan diri-Nya dalam belas kasihan atas manusia,
telah menderita oleh yang jahat dan telah terluka oleh dosa,
untuk menyembuhkan dan untuk menyelamatkannya.

Percaya dengan kebajikan seorang Ibu
tindakan mempercayakan ini yang kita buat dalam iman hari ini,
di hadapan ini gambaranmu, yang terkasih bagi kami.
Kami yakin bahwa setiap orang dari kami adalah berharga di matamu
dan bahwa tiada apapun di hati kami telah menjauhkanmu.

Kami yakin bahwa setiap orang dari kami adalah berharga di matamu
dan bahwa tidak ada apapun di hati kami telah menjauhkanmu

Semoga itu kami perbolehkan tatapan manismu
meraih kami dan kehangatan abadi dari senyummu itu

Jagalah kehidupan kami dengan pelukanmu:
berkati dan kuatkan setiap keinginan bagi kebaikan;
berikan kehidupan baru dan makanan bergizi kepada iman;
pertahankan dan cerahkan pengharapan;
bangkitkan dan hidupkan kebaikan hati;
bimbing kami semua pada jalan menuju kekudusan.

Ajarilah kami kasih milikmu yang istimewa bagi yang kecil dan yang miskin,
bagi yang dikecualikan dan yang menderita,
bagi para pendosa dan yang terluka hati:
berkumpul bersama semua orang di bawah perlindunganmu
dan sampaikan kami semua kepada Puteramu terkasih, Tuhan Yesus.

Amin.
(AR)

Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Petrus, 13 Oktober 2013

Perjalanan Ini dan Itu

0

Setelah menempuh Ujian Tengah Semester, aku dan semua anggota biara mengikuti outing bersama. Kami pergi ke salah satu tempat rekreasi di kota ini. Kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari biara. Demi menghayati kaul kemiskinan, tentu kita tidak naik mobil atau kendaraan. Kita naik alat transportasi alami yang Allah berikan : kaki. Alhasil, kami berombongan berjalan bersama menuju tempat wisata itu dan menjadi tontonan orang, karena jumlah kami cukup banyak seperti hendak demo harga BBM.

Menurut peta, memang tempatnya tidak terlalu jauh. Tapi, kalau dibawa jalan kaki ternyata jauh juga ya. Apalagi, sinar matahari sedang galak-galaknya. Kulit gosong dengan sukses sebelum mencapai tempat tujuan. Tetapi, perjalanan itu tidak terasa terlalu membosankan. Ada banyak saudara yang menemaniku selama perjalanan ini. Ada banyak canda dan tawa, terkadang kita saling berbagi cerita hidup dan pengalaman. Lebih asyik lagi kalau suplai snack dan minuman sudah muncul. Biar berjalan jauh dan lelah, perjalanan ini sangat menyenangkan.

Tapi, karena berjalan berombongan, terkadang kami agak terpisah-pisah. Orang-orang yang menemaniku juga berganti-ganti. Terkadang ditemani saudara ini, terkadang saudara itu. Terkadang oleh saudara yang dekat denganku ini, kadang dengan saudara yang kurang aku kenal baik itu. Terkadang, aku berjalan bersama orang-orang yang riuh dengan tawa ini. Terkadang, aku harus melalui beberapa meter langkah dengan sunyi senyap itu, malah sendirian. Terkadang juga berhenti terduduk karena capek atau hampir jatuh tersandung oleh batu besar. Namun, toh aku tetap berjalan dan akhirnya tiba di tempat tujuan dengan selamat. Kita bermain air, berenang, balap perahu, dan banyak permainan lain. Lebih nikmat lagi, bakso dan nasi pecel lele terhidang setelah bermain-main. Secara keseluruhan, perjalanan itu menyenangkan dan bernilai.

Mungkin, begitu juga dengan perjalanan menuju kekudusan. Perjalanan yang ini juga melelahkan, sering membikin putus asa, dan rasanya nggak kunjung sampai. Namun, aku sebenarnya tidak sendirian karena ditemani oleh banyak saudara-saudara, dari saudara-saudaraku se-biara, keluargaku, sesama umat Katolik, semua orang di dunia, seluruh jiwa di api penyucian, para malaikat, semua para kudus di surga, Bunda Maria, dan Allah Tritunggal sendiri.

Dalam perjalananku ini, terkadang aku merasa berjalan dalam sepi ini, terkadang ditemani saudara-saudaraku itu. Terkadang, aku ditemani orang tak dikenal ini, terkadang ditemani orang kudus itu. Terkadang, aku berjalan dalam manisnya penghiburan ini, terkadang dalam gelapnya kesedihan dan cobaan itu. Terkadang, gulali bikinanku gagal dan gosong karena tersandung dosa, terkadang rahmat-Nya memampukanku memintal gulali manis untuk banyak orang dan kemuliaan-Nya. Secara keseluruhan, aku percaya dan berharap perjalanan ini akan menyenangkan dan bernilai, sekalipun dipenuhi tantangan dan halangan. Aku percaya, karena aku tidak sendirian. Aku ditemani oleh keluargaku, Allah dan Gereja.

“Kita harus belajar menemukan Allah dalam hidup biasa sehari-hari, atau kita tidak akan pernah bisa menemukanNya” – St. Josemaria Escriva

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab