Home Blog Page 79

Paus Fransiskus: Siapakah Katekis Itu?

0

Berikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus pada Hari para Katekis dalam Tahun Iman:

1. “Celakalah atas orang-orang yang berpuas diri di Sion, atas mereka yang merasa aman … berbaring di atas tempat tidur dari gading!” (Am 6:1,4). Mereka makan, mereka minum, mereka bernyanyi, mereka bermain dan mereka tidak peduli apa-apa tentang masalah-masalah orang lain. Ini adalah kata-kata tajam yang Nabi Amos ucapkan, namun demikian kata-kata itu memperingatkan kita akan bahaya yang kita semua hadapi. Apa yang utusan Allah ini cela secara terang-terangan; apa yang dia inginkan dari orang-orang yang hidup dalam jamannya, dan diri kita masa kini, untuk disadari? Bahaya dari kepuasan, kenyamanan, keduniawian dalam gaya hidup kita dan dalam hati kita, [bahaya] dari membuat kesejahteraan kita [menjadi] hal yang paling penting dalam hidup kita. Ini adalah perkara orang kaya dalam Injil itu, yang mengenakan pakaian halus dan setiap hari mengadakan dalam jamuan makan mewah; ini adalah apa yang penting baginya. Dan orang miskin di depan pintu rumahnya yang tidak punya sesuatu apapun untuk mengurangi rasa laparnya? Itu bukan urusannya, itu tidak jadi soal baginya. Setiap kali hal-hal materi, uang, keduniawian, menjadi pusat kehidupan kita, mereka memegang kita, mereka memiliki kita; kita kehilangan identitas kita sebagai manusia. Ingatlah hal itu: orang kaya dalam Injil itu tidak memiliki nama, ia hanya “seorang kaya”. Hal-hal materi, harta miliknya, adalah wajahnya; ia tidak memiliki apapun lainnya.

Mari kita coba untuk berpikir: Bagaimana sesuatu seperti ini terjadi? Bagaimana beberapa orang, mungkin termasuk diri kita sendiri, berakhir menjadi terpaku pada kegiatan dan pikiran sendiri dan menemukan jaminan dalam hal-hal materi yang akhirnya merampas kita dari muka kita, wajah manusia kita? Inilah yang terjadi ketika kita menjadi berpuas diri, ketika kita tidak lagi mengingat Allah. “Celakalah atas orang-orang yang berpuas diri di Sion”, kata nabi itu. Jika kita tidak berpikir tentang Allah, semuanya berakhir datar, semuanya berakhir menjadi tentang “aku” dan kenyamanan diri sendiri. Kehidupan, dunia, orang lain, semua dari ini menjadi tidak nyata, mereka tidak lagi peduli, semuanya bermuara pada satu hal: memiliki. Ketika kita tidak lagi mengingat Allah, kita juga menjadi tidak nyata, kita juga menjadi kosong; seperti orang kaya dalam Injil itu, kita tidak lagi memiliki muka! Mereka yang mengejar akan sesuatu yang tidak berarti apa-apa akan menjadi sesuatu yang tidak berarti apa-apa pula – sebagaimana nabi besar lainnya, Yeremia, telah amati (lih. Yer 2:5). Kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, bukan gambar dan rupa dari benda-benda material, dari berhala-berhala!

2. Jadi, ketika saya melihat kalian, saya pikir: Siapa itu para katekis? Mereka adalah orang-orang yang menyimpan memori akan Allah yang hidup; mereka mempertahankannya dalam diri mereka sendiri dan mereka mampu menghidupkan itu kembali dalam orang lain. Hal ini merupakan sesuatu yang indah: untuk mengingat Allah, seperti Perawan Maria, yang melihat perbuatan-perbuatan Allah yang menakjubkan dalam hidupnya tetapi tidak berpikir tentang kehormatan, gengsi atau kekayaan; dia tidak menjadi terpaku pada kegiatan dan pikiran sendiri. Sebaliknya, setelah menerima pesan dari malaikat dan mengandung seorang Putera Allah, apa dia lakukan? Dia berangkat memulai suatu perjalanan, dia pergi untuk membantu, kakak perempuan sanak keluarga-nya, Elizabeth, yang juga sedang mengandung. Dan hal pertama yang ia lakukan pada pertemuannya dengan Elizabeth adalah mengingat perbuatan Allah, kesetiaan Allah, dalam hidupnya sendiri, dalam sejarah bangsanya, dalam sejarah kita: “Jiwaku memuliakan Tuhan … Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … rahmat-Nya turun menurun”(Luk 1:46, 48, 50). Maria mengingat Allah.

Kidung pujian Maria ini juga berisi kenangan akan sejarah pribadinya, sejarah Allah dengan-nya, pengalaman imannya sendiri. Dan hal ini adalah sesungguhnya juga untuk masing-masing orang dari kita dan bagi setiap orang Kristen: iman berisi memori kita sendiri akan sejarah Allah dengan kita, memori perjumpaan Allah kita yang selalu mengambil langkah lebih dulu, yang menciptakan, menyelamatkan dan mengubah kita. Iman adalah kenangan akan firman-Nya yang menghangatkan hati kita, dan akan karya penyelamatan-Nya yang memberi hidup, memurnikan kita, peduli dan memelihara kita. Katekis adalah seorang Kristen yang menempatkan kenangan ini pada pelayanan pewartaan, bukan untuk terlihat penting, bukan untuk berbicara tentang dirinya sendiri, tapi untuk berbicara tentang Allah, tentang kasih-Nya dan kesetiaan-Nya. Untuk berbicara tentang dan untuk mewariskan semua yang Allah telah ungkapkan, ajaran-Nya dalam totalitasnya, bukan memangkas kurang atau juga bukan menambahkannya pada itu.

Santo Paulus menyarankan satu hal khususnya kepada murid dan rekan kerjanya Timotius: Ingat, ingat akan Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang aku wartakan dan untuk siapa aku menderita (lih. 2 Tim 2:8-9). Rasul dapat mengatakan hal ini karena dia juga ingat Kristus, yang telah memanggilnya ketika ia menganiaya orang Kristen, yang telah menyentuh dia dan mengubah dia dengan rahmat-Nya.

Katekis, kemudian, adalah seorang Kristen yang penuh perhatian akan Allah, yang dibimbing oleh memori akan Allah di dalam seluruh kehidupannya dan yang mampu membangkitkan memori itu dalam hati orang lain. Hal ini tidak mudah! Ini melibatkan seluruh keberadaan kita! Apa Katekismus itu sendiri, jika bukan memori akan Allah, memori akan perbuatan-perbuatan-Nya dalam sejarah dan kedekatan-Nya kepada kita dalam Kristus yang hadir dalam firman-Nya, dalam sakramen-sakramen-Nya, dalam Gereja-Nya, dalam kasih-Nya? Para katekis terkasih, saya bertanya pada kalian: Apakah kita pada kenyataannya adalah memori akan Allah itu? Apakah kita benar-benar seperti para penjaga yang membangunkan dalam orang-orang lain memori akan Allah itu yang menghangatkan hati?

3. “Celakalah atas orang-orang yang berpuas diri di Sion!”, kata nabi itu. Apa yang harus kita lakukan agar tidak menjadi “berpuas diri” – orang-orang yang menemukan jaminan mereka dalam diri mereka sendiri dan dalam hal-hal materi – tetapi laki-laki dan perempuan dari memori Allah? Dalam bacaan kedua, Santo Paulus, sekali lagi menulis kepada Timotius, memberikan beberapa indikasi yang juga dapat menjadi tonggak-tonggak penunjuk bagi kita dalam karya-karya kita sebagai katekis: kejarlah keadilan, ibadah, iman, kasih, kesabaran, kelembutan (lih. 1 Tim 6:11 ).

Para katekis adalah pria dan wanita dari memori akan Allah jika mereka memiliki sebuah hubungan relasi konstan , yang hidup bersama Dia dan dengan tetangga mereka; jika mereka adalah pria dan wanita beriman yang benar-benar mempercayai Tuhan dan menempatkan keselamatan mereka di dalam Dia; jika mereka adalah pria dan wanita dari kebaikan hati, kasih, yang melihat orang lain sebagai saudara dan saudari; jika mereka adalah laki-laki dan perempuan “hypomone” [Yunani: hupo = di bawah, meno = patuh], kesabaran dan ketekunan, mampu menghadapi kesulitan-kesulitan, pencobaan-pencobaan dan kegagalan-kegagalan dengan ketenangan dan pengharapan di dalam Tuhan; jika mereka lembut, mampu memahami dan berbelas kasihan.

Mari kita mohon Tuhan agar semoga kita semua menjadi laki-laki dan perempuan yang mempertahankan memori akan Allah hidup dalam diri kita, dan mampu membangkitkannya dalam hati orang lain. Amin.
(AR)

Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Petrus, 29 September 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Pintu Pengharapan (Refleksi Malam Paskah)

0

Satu jam sebelum Misa Malam Paskah, tanggal 19 April 2014, aku dikejutkan dengan adanya telepon. Telepon itu dari seorang anak berusia sebelas tahun: “Moo, tolong doakan Mamaku dalam Misa Malam Paskah ya. Biar Mama sudah bisa merayakan Paskah bersama Tuhan Yesus di surga”. Aku mengenal anak itu pada tanggal 03 Maret 2014 ketika merayakan Misa peringatan empat puluh hari meninggalnya mamanya. Mamanya meninggal dunia pada usia empat puluh tiga tahun karena penyakit kanker rahim. Ia telah berhasil menyelesaikan proses kemoterapi tahap pertama, yaitu sebelas kali. Dalam masa sakitnya, ia nampak tegar dan mengandalkan Tuhan. Setiap jam 21.00 ia berdoa rosario untuk memohon kekuatan Tuhan. Tuhan ternyata memanggilnya untuk menikmati istirahat abadi.

Sebelum Misa mulai, anak itu mengatakan kepadaku: “Romo, mamaku sangat lucu. Ia senantiasa menghiburku ketika aku sedih. Kata banyak orang bahwa mamaku sudah meninggal dunia. Akan tetapi, Mama bagiku tidak pernah meninggal dunia. Mama hanya pindah rumah. Ketika aku sedang susah, Mama terasa melucu sehingga aku bisa bergembira lagi. Mama terasa mendorongku untuk belajar dengan semangat sehingga aku dapat meraih cita-citaku. Aku ingin menjadi dokter untuk menyenangkan Mama”.

Setelah mengatakan demikian, anak itu menunjukkan kepadaku foto-fotonya bersama mama dan papanya. Foto-foto itu tergantung di dinding. Foto-foto itu menyinarkan kebahagiaan. Foto-foto itu hidup karena memberikan kekuatan dan peneguhan.

Setelah selesai Misa, anak itu berkata kepadaku: “Romo, aku setiap malam jam 21.00 berdoa satu kali doa ‘Salam Maria’ bagi mamaku agar mamaku tetap melucu di surga”. Ia kemudian berfoto dengan wajah ceria bersama paduan suara yang baru saja menyanyikan lagu “Nderek Dewi Maria/Ikut Bunda Maria”.

Sikap anak yang lucu itu membuat Misa Malam Paskah di Paroki Santa Odilia- Tangerang, yang dihadiri kurang lebih lima ribu umat, sungguh bermakna. Perarakan menuju pintu Gereja, untuk upacara ‘Cahaya’ menjadi suatu tanda kerinduan akan Sang Terang dari hati yang letih dan lesu karena beban kehidupan: “Habis jiwaku merindukan keselamatan dari padaMu, aku berharap kepada firman-Mu” (Mazmur 119:81).

“Lilin Paskah” yang bernyala dengan seruan “Kristus Cahaya Dunia” masuk ke dalam hati umat yang dilambangkan dengan lilin-lilin kecil yang beryala di tangan. Semakin lama cahaya-cahaya dari lilin-lilin kecil itu semakin luas dan menerangi kegelapan hati. Lilin Paskah, Tuhan Yesus Kristus, menjadi harapan yang terus menyala di dalam jiwa. Selama Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit, Sang Pengharapan, tetap terpelihara dalam jiwa kita, ia mampu menyalakan kembali damai, iman, kasih, dan semangat yang telah padam.

Tuhan Yesus bangkit melalui kematian. Kebangkitan Tuhan menjadi pesan bahwa senantiasa ada kejayaan setelah kesukaran jika dihadapi dengan iman. Tuhan Yesus Kristus telah bangkit menjadi pintu pengharapan bagi umat-Nya. Karena itu, senantiasalah berpengharapan kepada Tuhan karena berpengharapan kepadaNya akan membuka jalan ketika tiada pintu gerbang yang terbuka. Ingatlah bahwa masa depan kita lebih besar daripada masa lalu kita. Kuasa Tuhan lebih hebat daripada masalah kita: “dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 1:19).

Tuhan memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Pesan Waisak Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (15 Mei 2014)

0

“Umat Budha dan umat Kristiani : Bersama-sama Membina Persaudaraan”

Sahabat-sahabat umat Budha terkasih,

1.Atas nama Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, kami ingin sekali lagi melapangkan bagi Anda semua, di seluruh dunia, ucapan paling tulus kami pada kesempatan Hari Raya Waisak.

2. Salam ramah kami tahun ini diilhami oleh Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Perdamaian Dunia 2014, yang berjudul “Persaudaraan, Dasar dan Jalan Bagi Perdamaian”. Di sana, Paus Fransiskus mengamati bahwa “persaudaraan merupakan sebuah kualitas manusiawi yang penting, karena kita adalah makhluk relasional. Sebuah kesadaran yang hidup dari keterkaitan kita membantu kita untuk memandang dan memperlakukan setiap orang sebagai seorang saudari atau saudara sejati; tanpa persaudaraan tidaklah mungkin membangun sebuah masyarakat yang adil dan sebuah perdamaian yang padu dan abadi … “(no. 1).

3. Sahabat-sahabat terkasih, tradisi keagamaan Anda mengilhami keyakinan bahwa hubungan persahabatan, dialog, berbagi anugerah, dan pertukaran pandang yang penuh hormat dan selaras menyebabkan sikap kebaikan dan kasih yang pada gilirannya menghasilkan hubungan yang otentik dan bersifat persaudaraan. Anda juga diyakinkan bahwa akar segala kejahatan adalah ketidaktahuan dan kesalahpahaman yang lahir dari keserakahan dan kebencian, yang pada gilirannya menghancurkan ikatan-ikatan persaudaraan. Sayangnya, “tindakan keegoisan sehari-hari, yang merupakan akar dari begitu banyak peperangan dan begitu banyak ketidakadilan”, menghalangi kita melihat orang lain “sebagai makhluk yang diciptakan bagi ketimbalbalikan, bagi persekutuan dan pemberian diri” (Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2014, no. 2).

Keegoisan tersebut pastinya akan mengarah pada melihat orang lain sebagai sebuah ancaman.

4. Sebagai umat Budha dan umat Kristiani, kita semua hidup di dunia terlalu sering terkoyak oleh penindasan, egoisme, paham kesukuan, persaingan etnis, kekerasan, dan fundamentalisme agama, sebuah dunia di mana “orang lain” diperlakukan sebagai rendahan, bukan pribadi, atau seseorang yang disegani serta dilenyapkan jika mungkin. Namun, kita dipanggil, dalam semangat kerja sama dengan para peziarah lain dan dengan orang-orang yang berkehendak baik, untuk menghormati dan membela kemanusiaan kita bersama dalam berbagai konteks sosial-ekonomi, politik, dan agama. Mempergunakan keyakinan agama kita yang berbeda, kita dipanggil terutama untuk menjadi blak-blakan dalam mengecam semua penyakit sosial yang merusak persaudaraan tersebut; menjadi para penyembuh yang memungkinkan orang lain bertumbuh dalam kemurahan hati tanpa pamrih, dan menjadi para pemersatu yang memecah tembok perpecahan dan membina persaudaraan sejati antara pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok dalam masyarakat.

5. Dunia kita saat ini sedang menjadi saksi tumbuhnya rasa kemanusiaan bersama kita dan upaya global untuk dunia yang lebih adil, penuh damai dan persaudaraan. Namun pemenuhan harapan-harapan tersebut tergantung pada pengakuan nilai-nilai universal. Kami berharap bahwa dialog antaragama akan memberikan sumbangsih, dalam pengakuan prinsip-prinsip dasar etika universal, mendorong rasa persatuan dan persaudaraan yang diperbaharui dan diperdalam di antara semua anggota keluarga manusia. Memang, “kita masing-masing dipanggil untuk menjadi seorang pengrajin perdamaian, dengan menyatukan dan tidak memecah-belah, dengan memadamkan kebencian dan tidak berpaut padanya, dengan membuka jalan untuk dialog dan bukan dengan membangun tembok-tembok baru! Mari kita berdialog dan saling bertemu dalam rangka membangun sebuah budaya dialog di dunia, sebuah budaya perjumpaan!” (Paus Fransiskus, Kepada para peserta dalam pertemuan Internasional untuk Perdamaian, yang disponsori oleh Komunitas “Sant Egidio”, 30 September 2013).

6. Sahabat-sahabat terkasih, membangun sebuah dunia persaudaraan, sangatlah penting karena kita bergabung untuk mendidik orang-orang, khususnya kaum muda, untuk menemukan persaudaraan, hidup dalam persaudaraan dan berani membangun persaudaraan. Kami berdoa agar perayaan Waisak Anda akan menjadi sebuah kesempatan untuk menemukan kembali dan sekali lagi menggalakkan persaudaraan, terutama dalam masyarakat kita yang terpecah belah. Sekali lagi izinkan kami mengungkapkan salam tulus kami dan mengucapkan bagi Anda semua Selamat Hari Raya Waisak.

Jean-Louis Kardinal Tauran
Ketua

Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot, MCCJ

Sekretaris

**************
(Alih bahasa: Peter Suriadi)

Ya Yesus, tinggallah bersama kami!

0

[Hari Minggu Paskah ke III: Kis 2:14, 22-33; Mzm 16: 1-11; 1Ptr 1:17-21; Luk 24:13-35]

“Tahukah kamu, bahwa kisah penampakan Tuhan Yesus di perjalanan kedua murid ke Emaus ini telah mengubah seluruh hidupku?” Demikianlah tutur seorang teman kami, saat membagikan kisah kesaksian hidupnya. Sebelum menjadi Katolik, teman kami itu adalah seorang pendeta Methodis. Kehidupannya sebagai seorang pendeta mengharuskannya untuk secara tekun mempelajari dan merenungkan Kitab Suci, untuk mempersiapkan khotbah yang selalu dinanti-nantikan oleh jemaatnya. Suatu hari, saat merenungkan perikop ini, hatinya terusik. Mata hatinya terbuka ketika menyadari bahwa Tuhan Yesus berkenan menyatakan kehadiran- Nya secara istimewa dalam dua cara. Yang pertama melalui pernyataan Sabda, yaitu nubuat para nabi dan penggenapannya seperti yang tertulis dalam Kitab Suci; dan kedua, melalui pemecahan roti. Bahkan baru pada saat Yesus memecahkan roti inilah, para murid itu menyadari kehadiran Tuhan Yesus yang telah bangkit di tengah- tengah mereka. Inilah yang membuatnya bertanya-tanya dalam hati…. adakah hal ini masih terjadi sekarang ini. Pertanyaannya ini sedikit demi sedikit mendorongnya untuk mencari tahu jawabnya, sampai akhirnya ia sampai ke pangkuan Gereja Katolik.

Dalam Gereja Katoliklah, ditemukan peng-abadian kenangan akan Kristus sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Kristus yang hadir di tengah umat-Nya, dalam liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi, menjadikan pengalaman perjalanan ke Emaus menjadi milik semua murid-Nya yang lain di sepanjang sejarah Gereja. Kehadiran-Nya tidak hanya diperuntukkan bagi para murid yang hidup dua ribu tahun yang lalu. Kuasa Roh Kudus-Nya yang telah membangkitkan-Nya dari kematian, memungkinkan Kristus untuk hadir kembali mengatasi ruang dan waktu, dalam pembacaan Sabda Allah dan kurban Ekaristi, di tengah-tengah Gereja-Nya sampai akhir zaman. Kristus Sang Roti Hidup memang menghendaki agar dikenang dengan cara ini, “Inilah Tubuh-Ku… inilah DarahKu…. (Mat 26:26-28). Barangsiapa makan Tubuh-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia….” (lih. Yoh 6:56). Kristus tidak mengatakan bahwa roti itu hanyalah simbol Tubuh-Nya, ataupun anggur itu hanyalah simbol Darah-Nya, namun betapa banyak umat Kristen sekarang ini yang beranggapan demikian. Sebaliknya, Yesus mengatakan bahwa Tubuh-Nya itu adalah benar-benar makanan untuk kita makan, agar kita memperoleh hidup di dalam Dia (lih. Yoh 6:55-57). Maka Yesus menghendaki para murid-Nya untuk mengenangkan perjamuan kudus sebagai suatu kenangan akan pengorbanan-Nya yang sungguh nyata, agar kita dapat memperoleh hidup yang kekal. Kesadaran ini mendorong teman kami untuk membuat keputusan yang cukup besar dalam hidupnya. Katanya, “Akhirnya aku menjadi Katolik, sebab aku ingin lebih penuh mengambil bagian dalam kenangan yang hidup akan kurban Kristus, yang diperingati dalam perayaan Ekaristi. Jika Tuhan Yesus memilih cara ini untuk hadir di tengah umat-Nya, bukankah aku harus mengikuti-Nya? Sudah saatnya aku mengikuti cara yang Kristus kehendaki, agar Ia dapat tinggal di hatiku dan memberiku hidup yang kekal sebagaimana yang dijanjikan-Nya.”

Sungguh, selayaknya kita juga merenungkan kisah perjalanan ke Emaus ini sebagai kisah yang hidup. Sebab kita, seperti kedua murid itu, mungkin juga pernah mengalami kegalauan ataupun alasan yang lain, sehingga kita mau menjalani kehidupan menurut kehendak dan cara kita sendiri. Bukankah pada pagi hari itu, para murid sudah diberitahu oleh wanita yang menjadi saksi kebangkitan Yesus, agar mereka pergi ke Galilea untuk menemui Yesus yang bangkit di sana? (lih. Mat 28:7) Tetapi kedua murid itu malah pergi ke Emaus, yang terletak di sebelah barat Yerusalem, suatu tujuan yang bertentangan dengan arah yang ditunjukkan oleh Kristus. Namun demikian, Kristus berkenan menyapa kedua murid yang sedang galau itu, dan hadir di tengah mereka. Kedua murid itu awalnya tidak menyadari kehadiran Yesus. Tetapi pada saat Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan memecah- mecahkannya, mereka  menyadari bahwa Orang yang mereka pikir adalah seorang musafir asing, ternyata adalah Tuhan Yesus yang telah bangkit dari mati. Sudahkah kita menyadari kehadiran Yesus dalam pemecahan roti setiap kali kita merayakan Ekaristi? Apakah hati kita juga berkobar-kobar saat mendengarkan Sabda Tuhan?

Tuhan Yesus, ubahlah hatiku yang sering bebal ini, agar semakin berkobar saat mendengarkan dan merenungkan Sabda-Mu. Biarlah mata hatiku melihat Engkau yang hadir dalam Ekaristi kudus. Jangan sampai aku yang telah menerima Engkau dalam kepenuhannya, malah menjadi kurang bersyukur dan kurang menghargai pemberian Diri-Mu yang luar biasa ini. O Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih setia-Mu yang menyertaiku dan seluruh Gereja-Mu. Mari, tinggallah terus bersama dengan kami, dan tuntunlah kami sampai kepada kehidupan kekal yang Engkau janjikan. Amin.”

Asal usul Doa Salam Maria

5

Doa ‘Salam Maria’ adalah doa yang dikenal sebagai doa penghormatan Gereja kepada Bunda Maria. Berikut ini adalah sekilas asal usul doa Salam Maria, yang mengambil sumber utama dari link ini, silakan klik:

Umumnya doa ini dijabarkan sebagai doa yang terdiri dari tiga bagian:

1) “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…..” merupakan kutipan perkataan Malaikat Gabriel ketika mengunjungi Perawan Maria (lih. Luk 1:28).

2) “Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu (Yesus)”, diambil dari salam Elisabet kepada Perawan Maria ketika Maria datang mengunjunginya (lih. Luk 1:42)

3) “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, dinyatakan oleh Katekismus Konsili Trente, sebagai doa yang disusun oleh Gereja. Katekismus tersebut menyatakan, “Adalah sangat tepat, bahwa Gereja Tuhan yang kudus menambahkan kepada ucapan syukur ini, permohonan kepada Bunda Allah yang kudus untuk mendoakan kita, dan dengan demikian supaya kita memohon bantuan kepadanya agar oleh doa-doa syafaatnya, ia mengusahakan persahabatan antara Allah dan kita manusia, dan memperoleh bagi kita, berkat yang kita butuhkan untuk hidup sekarang ini dan untuk hidup yang tidak berkesudahan.”

Namun walaupun bagian ketiga ini dikatakan sebagai ‘doa Gereja’ oleh Katekismus Konsili Trente di abad ke-16, permohonan Gereja terhadap bantuan/ perlindungan Bunda Maria, itu bukan baru muncul di abad ke-16. Doa Gereja di abad awal, yang dikenal dengan doa Sub Tuum Praesidium, berbunyi, “Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, [o engkau] yang suci dan terberkati.” (Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, abad ke- 2 atau 3).

Memang, penyusunan doa Salam Maria ini memiliki kisahnya tersendiri. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” (Ave Maria, gratia plena) itu mengacu kepada Kitab Suci terjemahan Vulgata, yang menerjemahkan secara literal, kata Yunani, chaire kecharitomene, yang sekilas sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” ini telah dipergunakan oleh para Bapa Gereja sebagai ungkapan penghormatan kepada Bunda Maria. Di abad ke-7, St. Gregorius telah memasukkan ungkapan doa “Salam Maria” ini dalam Liber Antiphonarious, sebagai frasa dalam doa persembahan, dalam teks Misa Minggu keempat Masa Adven.  Seabad kemudian, frasa “Salam Maria” ini tercatat sebagai bagian dalam tulisan pengajaran St. Andreas dari Kreta dan St. Yohanes Damaskinus (abad ke 8).

Namun demikian, “Salam Maria” sebagai rumusan doa devosi belum jelas ditemukan sebelum tahun 1050. Dua buah manuskrip tua Anglo-Saxon di British Museum, yang salah satunya berasal dari tahun 1030, menunjukkan bahwa kata, “Salam Maria…. terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” itu tertulis berulang-ulang dalam sebuah doa penghormatan kepada Bunda Maria.

Tahun 1184, Uskup Agung Canterbury, Abbot Baldwin, menulis:

“Terhadap salam dari Malaikat ini, yang dengannya kita setiap hari menyapa Sang Perawan yang Terberkati dengan devosi sedemikian, kita biasa menambahkan, “dan terpujilah buah tubuhmu,” yang dikatakan oleh Elisabet kemudian, setelah mendengar salam dari Maria, seolah melengkapi perkataan dari malaikat itu, dengan berkata: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.”

Tahun 1196, dekrit sinoda dari Eudes de Sully, Uskup Paris, mengajarkan kepada para klerus, “Salam kepada Perawan Maria” ini sebagai rumusan doa yang telah dikenal di keuskupannya, sebagaimana doa resmi lainnya, seperti doa Bapa Kami dan Aku Percaya. Sejak saat itu, doa Salam Maria ini diperkenalkan dan dianjurkan kepada umat beriman, dimulai dari Sinoda di Durham di Inggris, tahun 1217.

Doa Salam Maria ini kemudian dikenal sebagai doa-doa yang umum didoakan oleh para orang kudus (Santo dan Santa), seperti St. Aybert, St. Louis dari Perancis, St. Margaret, St. Dominic dan doa di biara-biara, sebagai doa ungkapan pertobatan. Doa ini umum diulangi, sampai puluhan kali, 50 atau bahkan 150 kali, mengikuti pola pengulangan doa “Kudus, kudus, kudus” yang terus diulangi tanpa putusnya di hadapan tahta Allah yang Maha Tinggi.

Di zaman St. Louis, doa “Salam Maria” berakhir dengan “… terpujilah buah tubuhmu”. Penambahan “Yesus” sesudah frasa itu umumnya dikenal dari abad 15, menurut anjuran Paus Urban IV (1261) dan Paus Yohanes XXII (1316-1344). Teks doa Salam Maria seperti yang kita ketahui sekarang, tercatat sebagai bagian depan salah satu karya Girolamo Savonarola, di tahun 1495. Savonarola adalah seorang biarawan, yang dikenal sebagai reformer ordo Dominikan. Dua tahun sebelumnya, frasa “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini. Amin,” tercatat dalam Calendar of Shepherds, edisi bahasa Perancis. Namun penerimaan resmi teks doa Salam Maria selengkapnya, meskipun sudah disebutkan dalam Katekismus Konsili Trente, baru akhirnya dinyatakan dalam Roman Breviary tahun 1568.

Ya Yesus, Engkaulah Tuhanku dan Allahku!

3

[Hari Minggu Paskah ke II, Hari Minggu Kerahiman Ilahi: Kis 2:42-47; Mzm 118:2-24; 1Ptr 1:3-9; Yoh 20:19-31]

Ada banyak orang yang mungkin sulit untuk percaya kepada Tuhan, terutama jika mereka merasa sepertinya Tuhan tidak berbuat apa-apa untuk mengalahkan ketidakadilan. Tak usah susah-susah mencari contoh, nampaknya inilah yang terjadi pada Rasul Tomas. Ia, yang dulunya sempat begitu bersemangat untuk mati bersama Kristus (lih. Yoh 11:16), tak kuasa membendung kekecewaannya ketika melihat Yesus ternyata benar-benar wafat, setelah begitu menderita menanggung fitnah dan siksa di kayu salib, yang bahkan kata-kata tak sanggup untuk menjabarkannya. Kekecewaannya ini mungkin menyebabkannya tidak mau berkumpul bersama dengan para rasul yang lain, pada malam hari kebangkitan Yesus. Di malam itu,  mereka semua, kecuali Tomas, menyaksikan Yesus yang hidup kembali dan hadir di tengah mereka, walaupun semua pintu terkunci rapat. Kesaksian yang penuh semangat dari rekan sesama rasul, “Kami telah melihat Tuhan”, tidaklah membuat Tomas percaya bahwa Yesus sungguh telah bangkit. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,” demikian kata Tomas. Suatu ungkapan kekerasan hati, yang mungkin serupa dengan tuntutan sejumlah orang zaman ini, “Sebelum aku melihat Tuhan sendiri menampakkan diri kepadaku, aku tak akan percaya.” Ya, seperti Tomas yang menganggap Yesus telah mati, dan karena itu berakhirlah segalanya; mungkin banyak orang saat ini menganggap Yesus telah mati, dan tidak pernah berarti bagi hidup mereka. Kepada mereka inilah kita diutus untuk menjadi seperti para rasul lainnya yang bersaksi, “Kami telah melihat Tuhan!” Sebab Kristus sungguh hidup dan tetap hadir menyertai kita. Ia rindu agar semua orang mengenal-Nya dan mengalami belas kasih-Nya.

Namun demikian, Yesus memahami kegundahan hati Tomas, yang mewakili kegundahan semua orang yang kurang, atau bahkan tidak percaya. Delapan hari kemudian, Yesus kembali mengunjungi para murid-Nya, dan saat itu Tomas ada di situ. Tanpa perlu diberitahu, Yesus langsung menyapa Tomas dengan lembut, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yoh 20: 27) Setelah melihat Kristus, dan membuktikan sendiri bahwa Ia benar-benar Kristus yang telah bangkit, akhirnya Tomas percaya. “Ya Tuhanku, dan Allahku,” demikian kata Tomas. Ia mengakui Kristus sebagai Tuhan yang telah bangkit mengalahkan kematian. Imannya ini bahkan menjadi dasar yang kuat untuk meniru teladan hidup Yesus sampai kepada kesempurnaannya. Rasul Tomas dikenal sebagai pewarta Injil ke mana- mana, bahkan sampai ke India, dan akhirnya wafat sebagai martir. Ia menyerahkan hidupnya untuk Kristus, yang diakuinya sebagai Tuhan dan Allahnya.

Sungguh, pengakuan iman Tomas ini layak untuk juga menjadi pengakuan iman kita. Allah memahami setiap pergumulan kita, dan Ia rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada kita, bahwa Ia adalah Allah yang hidup dan Tuhan yang sanggup menolong kita. Sebab meskipun mata jasmani kita tidak dapat melihat Kristus, namun kehadiran-Nya begitu nyata dalam hidup kita. Kita hanya perlu menajamkan mata hati kita untuk melihat penyelenggaraan kasih-Nya setiap hari. Betapa besar kemurahan hati-Nya, betapa sering Ia meluputkan kita dari bencana. Betapa besar belas kasih-Nya yang mengampuni dan menyembuhkan penyakit kita, betapa setia-Nya Ia menyertai dan menghibur kita. Tuhan peduli dan tidak berpangku tangan melihat kesusahan kita. Ia ingin agar kita percaya kepada-Nya, dan berbahagia karena mengandalkan Dia.  Itulah sebabnya Ia berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29).

Hari ini, kita juga merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Kita merayakan belas kasih Allah yang tak terpahami, yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Inti terpenting dari devosi Kerahiman Ilahi adalah kepercayaan yang total kepada Kristus, sebagaimana nyata dalam slogannya, “Yesus, aku mengandalkan Engkau. Jesus, I trust in You.” Kepada St. Faustina Tuhan Yesus berkata, “Dosa ketidakpercayaan melukai-Ku dengan begitu hebatnya…. Tak ada satu jiwapun yang dibenarkan jika ia tidak menaruh kepercayaan kepada belas kasih-Ku…. Jika kepercayaanmu besar, maka kemurahan hati-Ku juga menjadi tak terbatas…. Jiwa yang semakin percaya, akan semakin menerima….”

Mari, di hari Minggu Kerahiman Ilahi ini, kita menyerukan kembali pengakuan iman kita kepada Kristus, “Ya, Yesus, Engkaulah Tuhanku dan Allahku. Aku mengandalkan Engkau. Jadilah Penolong dan Tempat perlindungan bagiku, sampai selamanya. Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab