Home Blog Page 77

Paus Fransiskus: Berapa banyak ibu yang meneteskan air mata agar anak – anak mereka kembali kepada Kristus?

0

Berikut ini adalah terjemahan homili Paus Fransiskus saat membuka Sidang Umum ordo Agustinian:

“Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, dan hati kami gelisah, sampai ia beristirahat di dalam Engkau” (Pengakuan-pengakuan, 1, 1, 1). Dengan kata-kata yang terkenal ini St Agustinus menyapa (merujuk kepada) Allah dalam Pengakuan-pengakuan imannya, dan kata-kata ini meringkas seluruh kehidupannya.

“Kegelisahan”: kata ini berkesan bagi saya dan membuat saya berpikir. Saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan: Kegelisahan mendasar apakah yang Agustinus jalani dalam hidupnya? Atau mungkin saya harus katakan: Jenis kegelisahan apakah yang orang agung dan suci ini minta kepada kita untuk bangkit dan untuk terus hidup dalam keberadaan kita sendiri? Saya mengusulkan tiga jenis ini: kegelisahan pencarian yang rohani, kegelisahan perjumpaan dengan Allah, kegelisahan kasih.

1. Yang pertama: kegelisahan pencarian yang rohani. Agustinus menjalani pengalaman hidup yang cukup umum seperti masa kini: yang cukup umum di antara orang-orang muda saat ini. Ia dibesarkan dalam iman Kristiani oleh ibunya, Monika, meskipun ia tidak menerima baptisan. Namun, saat ia tumbuh dewasa ia jatuh menjauh dari iman, yang gagal untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, keinginan-keinginan hatinya, dan tertarik dengan ide-ide lainnya. Dia kemudian bergabung dengan sekelompok kaum Manichaean [red-kepercayaan pada suatu dualisme agama sinkretis di Persia pada abad ke-tiga AD yang mengajarkan pelepasan roh dari materi melalui asketisme/pertapaan], mengabdikan diri dengan rajin pada studinya, tidak meluangkan waktu untuk kesenangan hura-hura, tontonan pertunjukan di masanya itu dan persahabatan-persahabatan yang erat. Ia telah mengalami cinta yang kuat dan memiliki karir yang cemerlang sebagai guru retorika hingga bahkan membawa dia ke istana kekaisaran di Milan. Agustinus adalah seorang pria yang telah “berhasil”, dia punya segalanya. Namun demikian, hatinya masih merindukan makna mendalam kehidupan; hatinya tidak dapat diatasi dengan tidur. Saya boleh katakan seperti hal yang tidak terbius oleh keberhasilan, oleh harta benda, atau oleh kekuasaan. Agustinus tidak menarik ke dalam dirinya sendiri, ia tidak tinggal diam, ia terus melanjutkan usahanya mencari kebenaran, makna hidup. Dia terus mencari wajah Allah. Tentu saja dia telah berbuat kesalahan, ia telah mengambil pilihan-pilihan yang salah, ia telah berdosa, ia adalah seorang pendosa. Namun dia telah memelihara kegelisahan pencarian yang rohani itu. Dengan cara ini dia menemukan bahwa Allah sedang menunggunya, dan memang, bahwa Ia tidak pernah berhenti untuk menjadi yang lebih dulu untuk mencari dia. Saya ingin beritahu mereka yang merasa acuh tak acuh terhadap Allah, terhadap iman, dan mereka yang jauh dari Allah atau yang telah menjauhkan diri dari-Nya, bahwa kita juga, dengan sikap kita yang “menjauhkan” dan “meninggalkan” Allah, yang mungkin nampaknya tidak signifikan tetapi begitu banyak dalam kehidupan kita sehari-hari: lihatlah ke dalam lubuk hati kalian, lihat ke dalam batin milik kalian dan tanyakan pada diri sendiri: apakah kalian memiliki hati yang menginginkan sesuatu yang besar, atau hati yang telah terbuai tidur oleh harta benda? Apakah hati kalian telah memelihara kegelisahan pencarian itu atau apakah kalian telah membiarkan itu tercekik oleh harta benda yang berakhir dengan memperkerasnya? Allah menantikan kalian, Ia mencari kalian; bagaimana kalian menanggapinya? Apakah kalian menyadari situasi jiwa kalian? Atau apakah kalian telah tertidur? Apakah kalian percaya bahwa Allah sedang menunggu kalian atau apakah kebenaran ini hanyalah “kata-kata” saja?

2. Dalam diri Agustinus kegelisahan yang luar biasa dalam hatinya inilah yang telah menyadarkan dia kepada sebuah perjumpaan pribadi dengan Kristus, telah membawa dia untuk memahami bahwa Allah yang jauh yang sedang dia cari adalah Allah yang dekat dengan setiap manusia, Allah dekat dengan hati kita, yang “lebih dalam lagi daripada diriku yang terdalam” (cf. ibid. III, 6, 11). Namun bahkan dalam penemuan dan perjumpaannya dengan Allah, Agustinus tidak berhenti, dia tidak menyerah, dia tidak menarik diri ke dalam dirinya sendiri seperti mereka yang telah sampai, tetapi terus melanjutkan pencariannya. Kegelisahan akan pencarian kebenaran, akan pencarian Allah, telah menjadi kegelisahan untuk mengenal Dia semakin lebih baik dan mengetahui yang keluar dari Diri-Nya untuk membuat orang lain mengenal Dia. Justru itu adalah kegelisahan kasih. Dia telah menginginkan sebuah kehidupan yang penuh damai dari belajar dan berdoa tapi Allah memanggilnya untuk menjadi Pastor di Hippo, dalam sebuah periode yang sulit, dengan sebuah komunitas yang terpecah-belah dan perang di pintu-pintu gerbang. Dan Agustinus membiarkan Allah membuatnya gelisah, ia tidak pernah lelah mewartakan Dia, melakukan evangelisasi dengan keberanian dan tanpa rasa takut, ia telah berusaha untuk menjadi gambaran Yesus Gembala yang Baik yang mengenali domba-domba-Nya (bdk. Yoh 10:14). Memang, sebagaimana saya ingin katakan ulang, ia “telah mengenali bau domba-dombanya”, dan pergi keluar untuk mencari mereka yang telah menyimpang. Agustinus menjalani hidup sebagaimana St Paulus telah instruksikan kepada Timotius dan masing-masing dari kita: ia mewartakan Sabda, dia berjuang keras sepanjang musim yang terus berganti, ia menyatakan Injil dengan hati yang murah hati, dengan hati yang besar (lih. 2 Tim 4:2), hati seorang Pastor yang cemas akan domba-dombanya. Harta karun Agustinus adalah sikap yang luar biasa ini: yang selalu pergi menuju Allah, yang selalu keluar menuju kawanan itu…. Dia adalah orang yang secara konstan merentangkan diri di antara kutub-kutub ini; tidak pernah “memprivatisasi” kasih … selalu melakukan perjalanan! Selalu berada dalam perjalanan, kata Bapa. Juga untuk kalian, selalulah siaga!

Dan hal ini merupakan kedamaian dari kegelisahan. Kita mungkin bertanya pada diri kita sendiri: apakah aku cemas bagi Allah, cemas untuk mewartakanNya, untuk membuatNya dikenal? Atau apakah aku mengijinkan keduniawian yang rohani itu untuk memikatku yang mendorong orang-orang untuk melakukan segalanya demi kasih mereka sendiri? Kita telah mengkonsekrasikan orang-orang dengan berpikir tentang kepentingan-kepentingan pribadi kita, tentang fungsi-fungsi pekerjaan kita, karir-karir kita. Eh! Kita bisa berpikir tentang banyak hal …. Apakah aku, demikian dikatakan, “telah membuat diriku sendiri ‘nyaman'” dalam kehidupan Kristianiku, dalam kehidupan imamatku, dalam kehidupan beragamaku, dan juga dalam kehidupan komunitasku? Atau apakah aku mempertahankan kekuatan kegelisahan itu bagi Allah, karena Firman-Nya yang membuat aku “melangkah keluar” dari diriku sendiri terhadap orang lain?

3. Dan mari kita datang pada jenis terakhir dari kegelisahan itu, kecemasan kasih itu. Di sini saya tidak bisa tidak melihat ibu itu: Monika ini! Berapa banyak air mata yang perempuan kudus itu telah tumpahkan demi pertobatan puteranya! Dan saat ini juga berapa banyak ibu-ibu yang meneteskan air mata agar anak-anak mereka akan kembali kepada Kristus! Jangan kehilangan pengharapan dalam rahmat Allah! Dalam Pengakuan-pengakuan kita membaca kalimat ini bahwa seorang uskup berkata kepada St Monika yang meminta dia untuk membantu puteranya menemukan jalan kepada iman: “itu tidaklah mungkin bahwa putera dari begitu banyak air mata harus binasa” (III, 12, 21). Setelah pertobatannya, Agustinus sendiri, yang ditujukan kepada Allah, menulisnya: “Ibuku, orang setia-Mu, menangis di hadapan-Mu melebihi dari pada ibu-ibu yang biasa menangisi kematian badani anak-anak mereka” (ibid, III, 11, 19). Seorang wanita yang gelisah, wanita ini yang pada akhir hidupnya mengucapkan kata-kata yang indah ini: “cumulatius hoc Mihi Deus praestitit!” [Tuhan telah mengganjar pengharapanku dengan berlimpah-limpah] (ibid., IX, 10, 26). Allah dengan boros telah mengabulkan permintaannya yang penuh dengan air mata! Dan Agustinus adalah pewaris Monika, darinya ia telah menerima benih kegelisahan itu. Ini, kemudian, merupakan kegelisahan kasih: yang tak henti-hentinya mencari kebaikan dari yang lain, dari yang dikasihinya, yang tanpa pernah berhenti dan dengan intensitas yang menuntun bahkan sampai mengeluarkan air mata. Lalu saya berpikir tentang Yesus yang menangis di makam sahabat-Nya, Lazarus; tentang Petrus yang, setelah menyangkal Yesus, menjumpai tatapan-Nya penuh belas kasihan dan kasih, menangis getir, dan tentang ayah yang menantikan di teras akan kedatangan kembali puteranya dan ketika ia sudah melihat dia yang masih jauh berjalan untuk menemuinya; Perawan Maria terlintas dalam pikiran dengan penuh kasih yang mengikuti Putranya Yesus bahkan ke kayu Salib. Apakah kita merasakan kegelisahan kasih itu? Apakah kita percaya pada kasih bagi Allah dan bagi orang lain? Atau kita tidak peduli dengan hal ini? Bukan dengan cara yang abstrak, tidak hanya dalam kata-kata, tetapi sebagai seorang saudara yang nyata kepada mereka yang kita temui, saudara yang berada di samping kita! Apakah kita digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan mereka atau kita tetap tertutup pada diri kita sendiri, dalam komunitas-komunitas kita yang seringnya adalah “komunitas-komunitas yang berguna” bagi kita? Pada saat kita bisa hidup dalam sebuah gedung tanpa mengenal tetangga sebelah kita; atau kita bisa berada dalam sebuah komunitas tanpa benar-benar mengenali saudara kita sendiri: Saya berpikir sedih dengan orang-orang yang dikonsekrasikan itu yang adalah “perjaka-perjaka tua” yang tidak subur. Kegelisahan kasih selalu sebuah insentif [dorongan semangat] untuk pergi ke arah lain, tanpa menunggu yang lain untuk mewujudkan kebutuhannya. Kegelisahan kasih memberi kita karunia produktivitas pastoral, dan kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, masing-masing dari kita: apakah kesuburan rohaniku sehat, apakah kerasulanku subur?

Mari kita mohon Tuhan untuk kalian, para Agustinian terkasih yang sedang memulai Sidang Umum kalian, dan untuk semua dari kita, agar Dia tetap menghidupi dalam hati kita kegelisahan yang rohani yang mendorong kita untuk mencari Dia selalu, kegelisahan untuk mewartakan Dia dengan berani, kegelisahan kasih bagi setiap saudara dan saudari. Maka jadilah itu.
(AR)

Paus Fransiskus,
Basilika St Agustinus, Campo Marzio, Roma, 28 Agustus 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Menjadikan Saat Menanti Saat yang Berarti

0

[Hari Minggu Paskah ke VII: Kis 1:12-14; Mzm 27:1-13; 1Ptr 4:13-16; Yoh 17:1-11]

Ada banyak orang yang tidak senang menunggu, karena beranggapan bahwa menunggu itu membosankan. Maka kita sering melihat, bahwa dalam jalur antrian yang panjang, umumnya orang mulai gelisah. Ada yang sibuk memainkan Hp, entah mengirim SMS, bermain game atau, orang yang beruntung mengantri bersama teman, akan menggunakan waktu untuk mengobrol. Tapi biasanya, kalau ditanya, sepertinya orang lebih suka, kalau bisa tidak usah menunggu, langsung mendapat apa yang diharapkan. Namun bacaan- bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini mengingatkan kita untuk menghargai saat-saat menunggu. Sebab menantikan kedatangan janji Tuhan adalah saat-saat yang memberkati.

Bacaan pertama mengisahkan bagaimana para rasul dan para murid Yesus lainnya, termasuk Bunda Maria, tekun berdoa menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Dikatakan bahwa mereka ‘sehati dalam doa bersama-sama’ (Kis 1:14). Tuhan menghendaki agar kita berdoa, mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan, saat kita menantikan penggenapan janji-Nya. Doa menantikan Roh Kudus inilah yang menjadi cikal bakal tradisi doa novena sembilan hari berturut-turut yang sampai sekarang tetap dipertahankan dalam Gereja Katolik. Menjelang hari Pentakosta, mari kita mengambil bagian dalam doa bersama- sama Gereja, yang menantikan datang-Nya Roh Kudus. Dengan memperingati hari Pentakosta, Gereja menantikan turunnya Roh Kudus secara baru atas kita anggota-anggotanya, sebagaimana dahulu Roh Kudus turun atas para murid Kristus.

Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengingatkan kita akan arti yang lebih luas dari masa penantian, yaitu kehidupan kita di dunia ini. Rasul Paulus mengingatkan agar kita tidak lekas menjadi tawar hati dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini, terutama jika kita mengalami penderitaan maupun berbagai kesulitan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Terhadap semua pergumulan ini, Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar mempunyai pengharapan yang teguh, bahwa jika kita setia kepada-Nya, maka kelak kita akan digabungkan dalam kemuliaan-Nya. “Bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1Ptr 4:13). Di sini kita diingatkan, bahwa mengikuti Yesus tidak identik dengan terbebas dari kesulitan dan penderitaan. Sebaliknya, justru kita harus bersuka cita, jika Tuhan mengizinkan kita mengalami penderitaan, sebab jika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus, maka kita kelak dapat mengambil bagian dalam sukacita kemuliaan-Nya. Di dalam Dia, dukacita akan diubah menjadi sukacita (lih. Yoh 16:20).

Selanjutnya dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengajarkan kita akan makna hidup kekal yang dijanjikan oleh-Nya. Yaitu, pengenalan akan Allah, sebagai satu-satunya Allah yang benar, dan pengenalan akan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya (lih. Yoh 17:3). Jika demikianlah arti hidup kekal, maka bukankah kita perlu bertumbuh dalam pengenalan kita akan Allah? Sebab jangan sampai pengenalan kita akan Dia hanya sebatas di kepala, tetapi belum sampai turun ke hati. Sebab pengenalan akan Allah yang benar dan akan Kristus yang diutus-Nya, membawa kita kepada iman dan pengharapan akan hidup yang kekal, dan kepada kasih yang menyempurnakan. Kristus memahami perjuangan kita untuk mempertahankan iman, harapan dan kasih, maka Ia mendoakan kita semua yang telah percaya kepada-Nya. Kristus menyebut kita semua yang percaya kepada-Nya sebagai milik-Nya, dan karena itu kita semua adalah milik Allah (lih. Yoh 17:9-10). Betapa seharusnya kita bersyukur akan penyertaan Tuhan Yesus ini, yang setia mendampingi kita dan menjadikan kita milik-Nya, agar kita dapat mengambil bagian dalam kemuliaan- Nya!

Maka agar saat menanti dapat menjadi saat yang berarti, mari kita mengingat ketiga hal ini: yaitu, berdoalah,  berharaplah, dan bertumbuhlah dalam pengenalan akan Allah.  Saat menantikan Roh Kudus, namun juga di sepanjang hidup kita, saat kita menantikan penggenapan janji Tuhan, mari kita menujukan mata hati kita kepada-Nya.

Aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm 27:13-14)

Kutemukan Cinta-Nya Membebaskanku Dari Kenikmatan Semu

0

Pengantar dari editor:

Di masa muda yang penuh dengan gejolak perubahan, Gerard Martin Thema terseret dalam pergaulan anak muda pengguna narkotika dan obat terlarang. Terima kasih Gerard untuk keberanian, kasih, dan keterbukaan Gerard menceritakan pengalaman masa lalu yang mencekam ini, supaya orang lain dapat belajar dari kesalahan Gerard dan dengan rasa percaya diri yang sama, terdorong untuk mengandalkan Tuhan semata dan menemukan kekuatan sejati di dalam Dia yang Maha Memelihara. Supaya akhirnya kita dimampukan untuk memilih apa yang membawa kepada kehidupan yang berkelimpahan yang Dia rancang sejak semula untuk anak-anak-Nya. Kini Gerard merasa rindu dan siap untuk membantu sesama yang mengalami masalah yang sama, syukur kepada Tuhan. Semoga kisahnya ini menjadi suluh yang menerangi kaum muda untuk menyadari konsekuensi penggunaan narkoba dan mampu memilih yang benar demi masa depan yang penuh harapan dan kebaikan di dalam Tuhan.

Nama saya Gerard, umur saya saat ini 32 tahun dan sekarang saya bekerja sebagai seorang Konsultan Rekrutmen di perusahaan yang saya dirikan bersama rekan kerja.

Saya seorang mantan pecandu narkoba. Suatu pernyataan yang selama 10 tahun terakhir saya sembunyikan dari lingkungan dan keluarga saya sendiri. Tetapi saat ini berkaca pada hidup saya, saya memutuskan untuk tidak malu menyatakan hal tersebut kembali.

Lebih spesifik, saya adalah mantan pengguna dan pecandu narkoba jenis ekstasi dan ganja. Saya juga beberapa kali menggunakan shabu tetapi memang tidak sampai pada tahap pecandu. Berkenalan dengan ekstasi dimulai pada tahun 1996 ketika saya memasuki masa SMA di salah satu SMA Katolik di Jakarta. Saat itu saya merupakan lulusan SMP yang minder dan tertutup. Saya juga tidak mempunyai banyak teman karena saya senantiasa merasa minder. Saat itu selepas SMP saya sangat ingin mempunyai banyak teman dan sangat ingin masuk ke dalam suatu “geng” untuk merasa dapat “dihargai” oleh lingkungan saya. Saat itu saya sedang mencari jati diri saya.

Saat saya mencari lingkungan pergaulan baru, saya berkenalan dengan beberapa teman yang merupakan pengguna. Melihat teman-teman saya yang merupakan “tokoh” yang disegani di lingkungan sekolah, maka saya sangat tertarik untuk masuk ke dalam “geng” mereka dengan konsekuensi saya harus menjadi pemakai “Inex” atau “Ekstasi”.

Teman-teman baru saya merupakan anak “diskotik” di mana setiap malam Minggu kami selalu pergi ke salah satu diskotik di bilangan Mangga Dua. Di sanalah saya berkenalan dengan dunia narkoba.

Dosis mulai dari seperempat, lanjut ke setengah, sampai dua pil untuk “on” menjadikan saya menjadi pengguna reguler ekstasi. Mulai dari jenis Pink Lady, Blue Ocean, atau jenis lainnya dalam ekstasi membuat kehidupan saya berantakan. Setiap Senin pada hari pertama sekolah setiap minggunya saya sudah memikirkan “on” di hari selain hari Sabtu malam. Setiap Sabtu malam/malam Minggu saya selalu menghabiskan sekitar 8-10 jam di diskotik dengan mengkonsumsi ekstasi. Pernah beberapa kali saya sampai keluar diskotik pada jam 9 pagi yang kalau ditotal saya menghabiskan waktu 14 jam di diskotik tersebut. Es batu, menthol, dan minuman berenergi menjadi teman saya dalam mengkonsumsi ekstasi untuk memaksimalkan “on”. Biasa satu dosis ekstasi akan bertahan sekitar 3-4 jam yang berarti saya bisa menghabiskan 5 pil ekstasi dalam satu malam.

Hidup saya berantakan, saya mulai banyak membolos sekolah, saya mulai banyak mencuri barang milik orangtua di rumah. Saya sampai menggadaikan perhiasan ibu saya untuk mendapatkan uang yang saya habiskan di diskotik. Berat badan saya turun drastis dan selama dua tahun yang saya pikirkan adalah ekstasi dan ekstasi.

Situasi puncak dari kondisi saya adalah saat saya membolos sekolah selama 30 hari berturut-turut tanpa pemberitahuan. Saat itu orang tua saya ditelpon oleh pihak sekolah menanyakan diri saya dan mereka dipanggil ke sekolah untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Saya masih ingat saat itu saya diwajibkan untuk melakukan pengecekan urine tetapi saya berhasil lolos tes urine tersebut karena saya menukar urine saya dengan urine teman yang bukan pengguna.

Meskipun lolos dari tes urine, sekolah tetap memutuskan untuk menskors saya selama satu tahun ajaran. Suatu pukulan untuk saya dan keluarga. Saya masih ingat keluarga saya dikucilkan oleh keluarga besar. Orang tua saya dianggap tidak bisa membesarkan anaknya dengan baik. Saya masih ingat saat itu papa mama saya hampir setiap minggu bertengkar mengenai saya. Sesuatu yang mendorong tumbuhnya kesadaran dalam diri saya.

Saya sangat bersyukur memiliki orangtua yang menyayangi saya. Saat itu mereka dengan sabar mendampingi saya dan menanyakan apa yang saya inginkan untuk masa depan. Tetapi mereka tidak mau kalau saya pindah sekolah. Menurut orang tua saya, apa yang sudah saya mulai harus saya selesaikan juga. Bagi mereka, kalau saya keluar dari SMU tersebut atas kehendak saya maka saya tidak bisa bersekolah di tempat lain. Beruntung pihak sekolah mau menerima saya kembali setelah 9 bulan tidak bersekolah dengan konsekuensi saya harus mengulang kelas 2 SMU saya lagi.

Saat itu saya rasakan dukungan orangtua yang besar yang membuat saya berubah. Selain itu ketidakhadiran teman-teman pengguna karena saya diskors membuat saya punya banyak waktu merenung. Ditambah ayah saya yang melarang saya keluar rumah di malam hari karena saya tidak bersekolah membuat suatu perubahan positif di dalam kehidupan saya.

Saya berhasil lulus SMU dengan 4 tahun masa belajar. Sesuatu yang saya syukuri karena saya bisa menyelesaikan sekolah menengah saya. Dukungan dan cinta kasih yang saya rasakan dari orangtua merupakan anugerah terindah untuk memotivasi saya keluar dari masa kelam saya.

Selepas masa SMU saya memutuskan untuk mencari lingkungan baru dan aktif dalam berbagai kegiatan di universitas dan juga Gereja. Kalau banyak orang beranggapan bahwa masa-masa di SMU merupakan masa terindah mereka, bagi saya masa di universitaslah yang merupakan masa terindah saya karena di universitas saya dapat mengaktualisasikan diri tanpa narkoba.

Saya berhasil keluar dari jeratan narkoba tidak dengan rehab. Saya berhasil keluar karena adanya cinta kasih yang besar dari kedua orangtua. Mereka pun tidak tahu bahwa saya adalah pengguna narkoba. Tetapi di saat saya mulai jatuh lebih dalam ke dalam dunia narkoba, Tuhan menyelamatkan saya dengan cara yang sakit di awal yaitu skors dan hukuman sosial yang menyadarkan saya bahwa Cinta Kasih Tuhan lebih besar dari segalanya.

Saya merasa bersyukur bahwa saya bisa keluar dari jeratan narkoba karena saya mendengar ada dua orang teman yang meninggal akibat over dosis. Teman “geng” yang tidak bisa menyelamatkan dirinya.

Saat ini sudah kurang lebih 15 tahun saya tidak mengkonsumsi narkoba. Sesuatu hal yang baru saya dapatkan yaitu Tuhan sangat sayang kepada saya. Selepas universitas saya berkenalan dengan World Youth Day di mana saya aktif di acara tersebut sampai sekarang.

Narkoba sangat menyesatkan. Enak di awal mengkonsumsi, tetapi menjadi setan bagi masa depan. Saya sangat percaya dukungan cinta kasih dan perhatian menjadi obat paling manjur untuk pengguna. Dukungan doa dan juga komunitas mantan pengguna juga sangat bermanfaat bagi mereka. Oleh karena itu saya siap untuk membantu mereka dan semoga kisah ini menjadi makna positif bagi para pengguna.

Oleh Gerard Martin Thema
Kisah ini juga telah dimuat dalam buletin KELUARGA, terbitan Komisi Keluarga KWI, edisi I / Januari 2014, hlm 27-31.

DOA
Tuhan Bapa di Surga, sepanjang jalan hidupku Engkau telah selalu mengawalku dengan kasih setia-Mu. Sekalipun aku sudah memilih jalanku sendiri dan terjatuh dalam kegelapan, Engkau tidak pernah melepaskan tanganku, Engkau tetap bersamaku. Di saat aku memutuskan untuk menggapai kembali cahaya hidupku, tangan-tanganMu yang kuat segera menopangku dan memulihkan hidupku. Terima kasih Bapa atas kasih setia-Mu. Bimbinglah aku dalam Roh Kudus-Mu bersama teladan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus Putera-Mu dan doa Bunda Maria, untuk meneguhkan saudara-saudaraku kaum muda dan khususnya mereka yang mengalami pergumulan yang sama, supaya mereka pun menemukan cahaya mereka lagi dan hidup dalam kelimpahan sebagaimana Engkau rancang bagi kami sejak semula. Amin.

St Paulus dan Setan

2

Kebun dan taman biara ini luas banget!! Di sekeliling kapel, ada padang rumput dan bunga-bunga yang warna-warni. Di bagian belakang biara, ada kebun yang penuh dengan berbagai tanaman, mulai dari pepohonan yang nggak bisa dimakan sampai sayur-sayuran yang siap dipanen demi keselamatan perut para penghuni biara. Kebun dan taman juga pemandangan segar buat mata, terutama waktu pagi. Permasalahannya adalah: kebun dan taman yang lebih luas = pekerjaan tangan yang lebih banyak dan berat!

Pekerjaan yang paling simpel adalah mencabuti rumput liar yang tumbuh, entah di sekitar tanaman atau di sekitar paving stone untuk berjalan dan jogging. Waktu musim kemarau sih agak enteng karena rumput & ilalang nggak begitu banyak. Setelah dicabut, beberapa hari baru mulai tumbuh lagi. Tapi, sekarang sedang musim hujan. Para tanaman mulai jingkrak-jingkrak, termasuk rerumputan liar itu. Mereka tumbuh berjamaah dengan kecepatan tinggi. Setelah hari ini kerja tangan cabutin rumput, eh.. besok mereka datang lagi sama teman-teman se-provinsi. Capek dehh..

Kadang, rasanya aku sedang melakukan pekerjaan percuma. Habisnya, kondisi kebun rasanya sudah tidak tertolong. Terlalu banyak tanaman liar yang menjajah kebun. Lebih gampang dibakar saja supaya tanaman liar itu habis semuanya. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, nanti terong-terong nikmat dan kangkung-kangkung yang cantik bisa ikut terbakar. Kalau terbakar habis, nanti makan pecel dan sambelnya pakai apa dong? Wah, sedih juga ya. Terpaksa, aku kembali jongkok dan mencabuti rerumputan yang mengganggu itu dengan tangan.

Kalau dipikir-pikir, kebun itu kadang-kadang mirip aku ya, tidak tertolong karena dosa yang bertimbun. Dosa-dosa itu datang seperti anjing-anjing biara yang tekun membongkar tong sampah dan nambahin kerjaan sie kebersihan, atau rerumputan liar yang mewabah di kebun di musim hujan. Malah, kayaknya punyaku sudah jadi hutan belantara. Kalau Tuhan nanti nggak tahan lagi sama aku, bisa jadi aku dibakar habis, kayak rencana kejamku terhadap rerumputan liar tadi. Tapi, Ia memang panjang sabar dan penuh kerahiman. “Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkannya, sumbu yang pudar takkan dipadamkannya” (Yes 42.3). Diriku yang terjangkit parah oleh “rerumputan liar dosa” tidak dibakar habis olehNya.

Ven. Fulton J. Sheen pernah bilang kalau kemampuan orang menjadi jahat berbanding lurus dengan kemampuannya menjadi baik. Orang yang luar biasa jahat berpotensi menjadi seseorang yang luar biasa baik jika ia bertobat. Orang yang luar biasa baik juga berpotensi menjadi luar biasa jahat jika dia berbalik dari Allah. Contohnya, ya St. Paulus dan Setan. Awalnya, St. Paulus dengan begitu luar biasa kejam memburu dan membunuh umat Kristiani. Setelah bertobat, beliau menjadi salah satu rasul dan pewarta Injil yang luar biasa bersemangat. Bahkan, St. Paulus menghadapi kemartirannya dengan berani di Roma. Begitu juga St. Agustinus dari Hippo, seorang Bapa Gereja yang dulunya seorang bidat dan kumpul kebo dengan wanita. Setelah bertobat, ia menjadi Uskup dan Pujangga Gereja yang kudus dan penuh karya.

Hidup mereka adalah sinar harapan sekaligus peringatan buat aku. Mereka menunjukkan kalau aku, yang parah dan tampak tidak tertolong ini, memiliki kesempatan menjadi orang kudus yang membanggakan bagi Yesus. Kalau aku bertobat terus menerus dan bekerjasama dengan Yesus membabati belantara dosaku dengan tekun, aku akan bisa mendirikan puri batin yang sangat indah untuk Allah. Bagi Allah, tiada yang mustahil.

Tapi, aku harus tetap rendah hati dan waspada. Setan dulunya adalah malaikat yang sangat indah dan mulia. Karena pilihannya adalah berbalik dari Allah, ia jatuh dan berubah menjadi begitu jahat. Begitu parah. Begitu pula aku. Jika aku berbalik dari Allah, belantara dosa ini akan terus bertumbuh dan menutupi semuanya hingga menjadi gelap gulita. Di belakang seorang kudus, ada masa lalu sebagai seorang pendosa. Di depan seorang pendosa, ada harapan menjadi orang kudus di masa depan.

Kebahagiaan Hanya di Dalam Tuhan Menurut Aristoteles

1

Orang-orang di masa moderen ini sulit menerima bahwa kebahagiaan hanya di dalam Tuhan; mereka menyangkal kebenaran itu dengan mengatakan bahwa pernyataan itu hanyalah ungkapan iman dan tidak bisa didemonstrasikan kebenarannya. Penyangkalan ini tidak lain adalah hasil dari lumpuhnya pendidikan modern yang memandang sebelah mata pendidikan klasik, padahal pemikiran dari orang-orang seperti Homer, Aristoteles, St. Augustine, dan St. Thomas Aquinas lah yang membentuk dunia sekarang ini. Tanpa mempelajari Aristoteles dan St. Thomas Aquinas, seseorang akan sulit menerima bahwa sesungguhnya artikel-artikel iman memiliki fondasi rasional yang begitu kokoh, termasuk mengenai “kebahagiaan hanya di dalam Tuhan.”

Dalam karyanya Nicomachean Ethics, Aristoteles (384­–322 BC) mendiskusikan tentang Etika, yaitu bagaimana seseorang itu harus hidup dan mengapa ada cara hidup yang lebih sempurna dari yang lainnya. Karya ini, walaupun seringkali dilupakan oleh pendidikan modern, adalah fondasi bagi perkembangan filosofi, politik, dan teologi sejak abad pertengahan. Dalam beberapa buku-buku awalnya dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles mempertanyakan hal-hal fundamental, dan tema yang paling besar adalah mengenai tujuan akhir manusia (atau semua aktivitas manusia). Seperti yang biasa diterapkannya, Aristoteles menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dengan argumen yang kokoh dan logis. Namun, ketika membahas tentang tujuan akhir manusia yang ia mengerti sebagai “kebahagiaan,” ia hanya berhenti di satu titik abstrak di mana tanpa pewahyuan Allah argumen tersebut sulit dikembangkan lebih jauh. St. Thomas Aquinas kemudian menyempurnakan pencarian jawaban dari pertanyaan “apakah tujuan akhir manusia” dalam karyanya Summa Theologica dengan jawaban yang lebih konkrit, tentunya dibantu oleh keuntungan yang ia dapatkan dari pewahyuan Allah.

Dalam kesempatan ini, logika dan argumen Aristoteles dalam menjelaskan tujuan akhir manusia akan dijabarkan ke dalam enam poin singkat.

Semua aktivitas mengarah kepada suatu tujuan ((Aristoteles, Nicomachean Ethics I:1))

Aristoteles selalu memulai argumennya dengan pernyataan yang kebenarannya dapat diterima semua orang: semua aktivitas mengarah kepada suatu tujuan. Tampaknya, pertanyaan tersebut tidak bisa dibantah kebenarannya. Tumbuhan bertumbuh untuk suatu tujuan: menghasilkan buah. Sapi memakan rumput untuk suatu tujuan: bertahan hidup. Manusia berolahraga untuk tujuan tertentu: menjaga kesehatan. Semua aktivitas mengarah pada tujuan tertentu dan tidak ada aktivitas yang dilakukan tidak untuk mencapai sesuatu, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Tujuan-tujuan tidak mungkin berjumlah tak terhingga ((NE I:2))

Suatu tujuan itu mengarah pada tujuan lain. Manusia bekerja, misalkan, untuk mencari uang, dan uang digunakan untuk memeroleh makanan, dan seterusnya. Namun, tujuan-tujuan manusia tidak mungkin berjumlah tak terhingga karena, bila manusia memunyai tujuan-tujuan yang tak terhingga, maka manusia tidak memunyai tujuan apapun, dan itu adalah tidak masuk akal. ((Pembuktian pernyataan ini menggunakan metode reductio ad absurdum, yaitu dengan menunjukkan bahwa penyangkalan pernyataan tersebut akan menghasilkan implikasi yang salah atau tidak masuk akal. Contohnya, pernyataan “semua manusia itu bisa meninggal” itu benar karena bila “ada manusia yang tidak bisa meninggal,” maka sekarang ada manusia yang berumur ribuan tahun, dan pernyataan itu adalah tidak masuk akal (absurd).)) Penjelasan argumen tersebut adalah sebagai berikut.

A –> B, B –> C, C –> D

A = tujuan awal

B, C = tujuan pertengahan

D = tujuan akhir

Bila tujuan-tujuan manusia itu tak terhingga, maka tidak ada tujuan akhir (tujuan yang tidak mengarah pada hal lain). Tanpa tujuan akhir (misalkan D), maka tidak mungkin ada tujuan-tujuan pertengahan (misalkan B, C) dan, maka, tidak mungkin ada tujuan awal (misalkan A): pernyataan ini tidak masuk akal karena dengan demikian tidak ada yang pernah terjadi. Maka dari itu, tujuan-tujuan manusia pasti mengarah pada satu tujuan akhir, dan bukan berjumlah tak terhingga.

Tujuan akhir manusia adalah sesuatu yang setelah dicapainya, ia tidak lagi mencari tujuan lain, atau tujuan akhir manusia adalah sesuatu yang dicari demi hal itu sendiri dan tidak demi hal lain. ((NE I:2))

Apa itu “tujuan akhir”? Tujuan dari suatu aktivitas itu berbeda-beda, dan nampaknya, ada tujuan yang lebih penting dan sempurna dari yang lainnya. Tujuan yang paling penting dan sempurna adalah tujuan yang dicari demi tujuan itu sendiri. Uang bukanlah tujuan manusia yang paling penting karena uang digunakan untuk mencari tujuan lain, seperti makanan. Makanan juga bukan tujuan manusia yang paling penting karena makanan digunakan untuk mencari tujuan lain, yaitu bertahan hidup. Bila telah dibuktikan bahwa manusia pasti memiliki tujuan akhir, tujuan akhir tersebut tidak akan dicari demi tujuan lain, melainkan demi tujuan itu sendiri.

Kebahagiaan adalah tujuan akhir manusia ((NE I:2))

Kebahagiaan (Gk. eudaimonia), nampaknya, adalah tujuan akhir manusia, karena kebahagiaan tidak digunakan untuk mencari tujuan lain; kebahagiaan dicari demi kebahagiaan itu sendiri. Sebagai experimen, andaikan kita mengetahui cara langsung untuk mendapatkan kabahagiaan yang sempurna dan abadi; pasti kita tidak ragu untuk menggunakan cara itu, dan uang, kenikmatan, kekuasaan, dan hal-hal lain menjadi tidak penting karena semuanya pun dicari demi kebahagiaan. Namun, apakah kebahagiaan itu? Istilah ini harus dijelaskan sebelum kita bisa memahami apakah tujuan akhir manusia.

Macam-macam kebahagiaan (pendapat orang-orang mengenai kebahagiaan) ((NE I:5))

Aristoteles menganalisa dengan bertanya: apakah pendapat orang-orang mengenai kebahagiaan? Setidaknya ada tiga pendapat umum mengenai apa kebahagiaan itu. Pertama, seseorang mengira bahwa kebahagiaan adalah gratifikasi, atau kesenangan (gratification/pleasure). Namun, tampaknya ini bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya dicari manusia; kehidupan yang hanya mencari hal tersebut tidaklah berbeda dengan kehidupan sapi atau binatang-binatang lainnya yang hanya mencari rumput demi kepuasan dirinya. Manusia seharusnya memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi.

Ada pula yang berpikir bahwa kebahagiaan terletak di kekuasaan politik, yaitu menjalani hidup yang berkebajikan. Ada pula yang berpikir bahwa kebahagiaan terletak di aktivitas intelektual (Gk. theorein). Kepemilikan uang sudah jelas bukanlah kebahagiaan yang dicari manusia karena uang hanyalah alat untuk mendapatkan hal-hal di atas: kesenangan, kekuasaan, dan kecerdasan. Untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya dicari manusia, kita harus melihat apakah fungsi manusia itu yang membedakan dia dari makhluk-makhluk lain karena setiap aktivitas bergantung pada fungsinya.

Kebahagiaan itu harus dicari berdasarkan fungsi unik manusia ((NE I:7))

Ada tiga tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, fungsi manusia adalah sebagai makhluk hidup (living being). Sebagai makhluk hidup, manusia selalu mencari cara untuk mempertahankan eksistensinya, baik dengan makanan ataupun keturunan. Fungsi ini, nampaknya, bukanlah fungsi unik manusia karena semua tumbuhan juga memiliki disposisi atau kecenderungan yang serupa. Pohon berusaha tumbuh ke atas untuk mencari sinar matahari yang akan mempertahankan hidupnya.

Kedua, fungsi manusia adalah sebagai makhluk perasa (sensing being). Selain berusaha mempertahankan hidupnya, manusia juga dapat merasakan sakit dan senang, buruk dan baik, suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Namun, ini juga bukanlah fungsi manusia yang paling sempurna karena setiap binatang juga memiliki kecenderungan yang sama: mencari yang baik dan menjauhi yang buruk. Seekor domba akan menjauhi serigala dan mencari gembalanya.

Ketiga, fungsi manusia adalah sebagai makhluk berakal budi (rational being). Tampaknya, inilah fungsi manusia yang paling sempurna karena hanya manusialah yang memiliki kekuatan untuk berakal budi, yaitu kekuatan yang terletak pada aktivitas jiwa/roh manusia. Maka dari itu, bila fungsi utama seorang nahkoda adalah membawa kapalnya sampai di tujuannya, aktivitas itulah yang harus menjadi tujuan utama oleh nahkoda tersebut—selama ia adalah nahkoda (a sailor insofar as a sailor). Sama halnya seperti manusia: bila fungsi utama manusia adalah aktivitas dalam berakal budi, maka tujuan akhir dari manusia, atau kebahagiaan, seharusnya adalah kesempurnaan dalam aktivitas berakal budi.

Kesimpulan: Kebahagiaan menurut Aristoteles

Hidup di abad keempat BC, Aristoteles, tanpa mendapatkan pewayhuan Allah, berhasil mencari tujuan akhir manusia sampai pada pengertian kebahagiaan sebagai penyempurnaan dalam aktivitas berakal budi, dan penyempurnaan ini yang dia mengerti sebagai kebajikan. ((Kebajikan (virtue), dalam hal ini, adalah penyempurnaan aktivitas berakal budi (NE I:7), dan akal budi adalah bagian dari jiwa (NE I:8). Maka, definisi kebahagiaan menurut Aristoteles: Happiness is a sort of activity of the soul expressing virtue (cf. NE I:9,10), dan definisi orang bahagia menurut Aristoteles: “the one who expresses complete virtue in his activities, with an adequate supply of external goods, not for just any time but for a complete life” (NE I:10).)) Namun, pencarian tujuan akhir manusia ini tentu belum sempurna. Selama tujuan akhir manusia belum ditemukan dalam kesempurnaannya, dan karena setiap aktivitas itu dilakukan berdasarkan tujuan akhirnya, Etika masih diselimuti ketidakpastian: bagaimana seseorang harus hidup dan berperilaku? St. Thomas akan melanjutkan pencarian ini, dan dengan bantuan pewahyuan Allah, ia berhasil memberikan jawaban yang lebih pasti mengenai apakah kebahagiaan itu yang sebenarnya dicari manusia.

Jika sudah diberi “Penolong”, sudahkah kita menghargainya?

0

[Hari Minggu Paskah ke VI: Kis 8: 5-8,14-17; Mzm 66:1-20; 1Pet 3:15-18; Yoh 14:15-21]

Siapa sih, yang kalau sedang butuh pertolongan tidak ingin ditolong? Kita semua senang ditolong, dan Tuhan mengetahui bahwa kita membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, Tuhan Yesus menjanjikan Penolong yang akan terus menyertai kita, ketika Ia harus beralih dari kehidupan sebagai manusia di dunia ini. Sang Penolong itu telah diutus kepada kita, yang percaya kepada-Nya .

Bacaan Injil pada hari ini mengingatkan kita akan janji Tuhan Yesus itu. Tuhan Yesus menghendaki agar kita bertumbuh dalam kasih dan menuruti segala perintah-Nya, agar kelak kita dapat sampai kepada kehidupan kekal di Surga. Namun, Tuhan mengetahui bahwa akan sangat sulit bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya itu, jika Ia sendiri tidak memampukan kita. Bukankah cukup sulit bagi kita untuk berbuat yang benar dan jujur, jika orang-orang di sekitar kita mencemooh kita? Bukankah tak mudah bagi kita untuk terus mengasihi dan mengampuni?  Memang, jika kita mengandalkan kekuatan sendiri, akan mustahil bagi kita untuk melaksanakan perintah Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran dan Kasih itu, untuk memampukan kita. Ini seumpama orang tua yang memberikan kemampuan dan modal yang cukup kepada anak-anaknya, agar mereka dapat melakukan usaha dengan baik. Atau, seumpama guru yang meneruskan seluruh ilmu dan kemampuannya kepada anak-anak didiknya. Sekarang tergantung kepada tanggapan anak-anak itu sendiri: sejauh mana mereka mau menggunakan kemampuan dan modal yang sudah diberikan oleh orang tua dan guru mereka itu agar sukses dalam usaha dan studi mereka.

Sungguh, Tuhan Yesus telah melakukan sesuatu yang jauh melampaui apa yang diberikan oleh orang tua dan guru yang baik itu. Kristus telah memberikan segala-galanya kepada kita semua para murid-Nya. Setelah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, Ia tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu (lih. Yoh 14:18). Ia selalu menyertai kita dengan Roh Kudus-Nya sendiri yang berdiam di dalam kita (Yoh 14:17). Ya, Tuhan berdiam di dalam kita. Betapa kita perlu meresapkan perkataan ini. Bukankah bagi orang yang saling mengasihi, hal yang terpenting adalah kebersamaan dengan orang yang dikasihi? Allah telah melakukannya untuk kita! Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa secara khusus, melalui sakramen- sakramen Gereja kita menerima kuasa Roh Kudus yang tetap hidup dan menghidupkan kita sebagai murid-murid Kristus (lih. KGK 1116). Melalui sakramen- sakramen itulah, kita menerima kepenuhan hidup di dalam Yesus; dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya kita dibimbing kepada seluruh kebenaran yang dijanjikan oleh Kristus itu (lih. KGK 1117).

Belum lama ini kita membaca berita, bahwa Ulf Ekman, seorang pendeta yang mendirikan sekolah Alkitab terbesar di Skandinavia, memutuskan untuk menjadi Katolik. Sekolah itu berperan dalam mendirikan lebih dari 1000 gereja di Rusia. Tentu pergumulan yang dilalui Ekman dan istrinya sebelum memutuskan hal ini, tidaklah kecil. Mereka siap menerima segala konsekuensi dari keputusan mereka, termasuk menjelaskannya kepada sekitar 3,300 orang jemaat yang dipimpinnya selama 30 tahun; dan bahwa dengan menjadi Katolik, Ekman tidak lagi dapat menerima apa-apa yang tadinya menjadi haknya semasa menjadi pendeta di kongregasi tersebut. Namun semua ini mereka tempuh, sebab mereka merindukan kepenuhan janji Tuhan yang mereka sadari ada dalam Gereja Katolik. Kehidupan sakramen, kesatuan dan otoritas kepemimpinan Gereja, itulah yang mendorong Ekman dan istrinya untuk bergabung dalam Gereja Katolik. Mereka rindu untuk menerima kepenuhan pertolongan rahmat Tuhan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang murid Kristus. Telah bertahun-tahun lamanya mereka membawa pergumulan ini dalam doa-doa dan permenungan akan firman Tuhan, dan baru pada tahun inilah mereka mewujudkannya. “Saya memerlukan, kita semua memerlukan, apa yang Tuhan sudah berikan kepada Gereja Katolik untuk hidup sepenuhnya sebagai umat Kristen. Itulah sebabnya, mengapa kami mau menjadi Katolik”, demikian ujar Ekman.

Semoga kisah singkat seorang Ulf Ekman, dapat membuka mata hati kita, untuk semakin menghargai kepenuhan sarana keselamatan yang Tuhan sudah berikan di dalam Gereja Katolik, yang melaluinya Allah berdiam dan tinggal di dalam kita. Roh Kudus, Sang Penolong itu, telah diberikan Allah dalam Gereja-Nya, untuk membantu kita hidup dalam kebenaran dan kasih. Kini pertanyaannya adalah: sudahkah kita menyadarinya, merindukannya dan menghargainya?

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab