Home Blog Page 48

Tuhan, Ajarku Untuk Rendah Hati

0
Sumber gambar: http://thenextweb.com/voice/2014/01/15/boost-startup/

“Mulai dari mana dulu ya,” pikirku sambil termangu-mangu di hadapan tumpukan berpuluh-puluh kardus yang bederet di hadapan kami, berisi berbagai perabotan rumah tangga, pakaian, peralatan dapur, dan seribu satu barang-barang kami. Semuanya sudah selesai diturunkan dari truk kontainer dan diletakkan di rumah baru kami oleh para petugas pengangkut barang. Kini giliran kami membukanya satu per satu dan menatanya kembali sesuai fungsi dan tempatnya masing-masing. Walaupun sudah enam kali aku mengikuti suami berpindah domisili di lima negara yang berbeda, kegiatan mengepak barang dan kemudian membongkarnya lagi di tempat yang baru untuk ditata kembali tidak pernah menjadi pekerjaan yang ringan dan sederhana.

‘Mulai dari mana dulu ya’ menjadi pertanyaan yang sama yang muncul dalam diriku ketika masa Prapaska tiba. Rasanya begitu banyak hal dalam diri yang harus dibereskan dan diluruskan. Atau, jangan-jangan justru aku berpuas diri dengan kondisi batin dan kelakuanku selama ini dan menganggap segala sesuatunya baik-baik saja? “Tuhan”, bisikku dalam hati, “Terangilah aku agar tampak jelas bagi kesadaran jiwaku, pelanggaran-pelanggaranku, serta aneka keiginanku yang tidak teratur, yang selama ini dengan sengaja maupun tidak, telah kubiarkan menguasaiku, sehingga aku tidak lagi berjalan seirama denganMu. Jika diibaratkan pohon, buah-buahku mungkin tidak lagi manis, tetapi hambar, atau bahkan masam, menyusahkan orang-orang di sekitarku yang seharusnya kukasihi dan kulayani segenap hati, atau menghambat tumbuhnya kerajaan-Mu, sebagaimana teladan dan tugas perutusan dariMu Tuhan”

Teladan penyelamatan Kristus bagi keselamatan dunia dan seisinya ini diawali dengan kerendahan hati-Nya untuk mengosongkan diri-Nya, Raja segala raja semesta alam, untuk menjadi sama seperti manusia ciptaan-Nya yang lemah dan serba terbatas ini. Bahkan di akhir tugas suci dari Bapa yang dipikulNya dengan setia, Tuhan Yesus merelakan segalanya direnggut daripadaNya: kehormatan, nama baik, harga diri, martabat, kekuatan fisiknya, hingga nyawa-Nya. Demi aku, Ia tidak menyayangkan apapun dan tidak menahan satu hal pun dari keberadaan-Nya sebagai manusia, semua diserahkanNya dengan penuh cinta, supaya aku selamat. Melalui Firman-Nya, Tuhan menunjukkan, supaya aku mampu menerima cinta sebesar itu, yaitu sebesar kurban penebusan yang telah dicurahkanNya sehabis-habisnya dengan kerelaan yang penuh, agaknya aku harus mulai dengan latihan pengosongan diri dan kerendahan hati.

Awal kejatuhan manusia ke dalam dosa yang terjadi pada Adam dan Hawa ditandai dengan kesombongan. “…lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian,” pikir Hawa (lih.Kej 3: 4-6). Ingin menjadi seperti Allah, namun terlepas dari Allah, mau menentukan sendiri hal yang baik dan benar. Itulah motivasi yang mendasari dosa pertama. Kesombongan bahwa aku bisa mengontrol segala sesuatu dan bisa meraih apa yang kurencanakan dengan kekuatanku sendiri, pergi dari kehendak-Nya, melepaskan diri dari ketaatan padaNya. Padahal kasih pemeliharaan Allah tidak pernah lepas dari pengajaran dan peringatan, dengan tujuan supaya manusia bahagia sepenuhnya dalam kebebasan yang bertanggungjawab.

Faktor penghambat utama yang membuat kaum Farisi tidak mampu mengenali dan tidak mau mengakui Kristus Sang Mesias, juga adalah kesombongan. Dan kurasa masih panjang daftar buah-buah dosa kesombongan. Pertengkaran, kemalasan, gosip, ketidakharmonisan dalam keluarga, korupsi, penipuan, komunikasi yang macet antara sesama anggota pelayanan, kekerasan fisik dan kekerasan verbal, acuh tak acuh kepada derita sesama, ketidakpedulian kepada tatanan hidup bersama atau kepada pelanggaran hak-hak kemanusiaan, apakah akar dari semuanya itu kalau bukan kesombongan? Merasa paling tahu, paling penting, paling baik, paling harus dihargai, sedangkan bagaimana dengan orang lain dan kepentingannya? Yah maaf saja, itu nomer dua, atau nomer ke-sekian. Kesombongan juga memicuku untuk menginginkan kenikmatan duniawi secara berlebihan, kalau perlu dengan cara-cara yang mengorbankan kepentingan sesama atau alam sekitarku. Kesombongan akhirnya membuatku tak lagi bisa melihat Kristus yang melihat padaku dengan tatapan penuh kasih sayang dari atas kayu salib di mana Ia sedang sangat menderita. Kristus telah menyerahkan segalanya, supaya aku menemukan jalan kerendahan hati yang sudah lebih dulu Ia tempuh, dan mengikutiNya dalam kemuliaan.

Kerendahan hati adalah obat penawar kesombongan yang telah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dari kerendahan hati lahirlah ketaatan, seperti teladan Bunda Maria dan para Kudus. Dari kerendahan hati meluaplah rasa syukur dalam segala perkara, karena mengakui dan mempercayai bahwa Tuhan terus berkarya mendatangkan kebaikan lewat suka maupun duka hidup ini (bdk. Rm 8:28). Dari kerendahan hati mengalirlah kasih dan kepedulian bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih kita, tak hanya dana tetapi juga waktu, sapaan kasih, dan perhatian. Dari kerendahan hati, aku belajar tidak menyela pembicaraan orang-orang terdekatku, belajar menerima kritik dan saran yang tidak mengenakkan, belajar melayani tanpa mengharapkan pujian dan penghargaan, belajar membantu sekalipun yang dibantu tidak berterimakasih, belajar menahan diri bila tersinggung oleh kelakuan sesama, belajar mengampuni serta tetap mengasihi dan bahkan mendoakan sesama yang sudah melukaiku, belajar tidak ingin dihormati dan menjadi terkenal agar nama Tuhan saja yang dimuliakan, belajar mengekang keinginan fisik supaya lapar fisikku diubah menjadi lapar akan kasih dan hikmat Tuhan, belajar menomorduakan diri demi memberi kesempatan orang lain untuk maju dan berkembang, belajar bersukacita dengan keberhasilan orang lain dan berprihatin bersama kesedihan orang lain, belajar mendengarkan saat orang lain berbicara, belajar tidak membantah dan ngeyel ketika orang lain memberi masukan, belajar menerima perlakuaan yang tidak adil dari sesama, belajar tidak membela diri ketika orang lain memberikan penilaian yang negatif agar aku belajar terus dari kekuranganku, belajar hidup sederhana dan tidak membeli benda-benda secara berlebihan, belajar melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak disukai dengan rela, belajar menerima celaan karena sudah berusaha menegur sesama yang berdosa, bahkan belajar rela dicap ‘sok suci’ demi tegaknya kebaikan. Beratkah semua itu? Sangat. Ya jalan salib-Nya memang sungguh berat. Namun Kristus sudah menang, Ia selalu membantu kita di sepanjang jalan penyangkalan diri ini. Mungkin langkah besar yang berat itu bisa kumulai dengan langkah awal yang sederhana dengan menahan diri tidak makan makanan yang kusukai serta tidak melakukan hal-hal yang kusenangi di masa puasa dan pantang ini.

Oleh kesombongan, manusia jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya. Dan lewat lawan dari kesombongan, yaitu kerendahan hati, manusia menemukan jalan kembali kepada keselamatan, yang telah dirintis oleh Kristus Penebus, Sang Raja kerendahan hati. Semoga dengan terus belajar dalam semangat kerendahan hati, pengorbanan Kristus yang menyerahkan segala yang ada padaNya hingga wafat supaya aku hidup, tidak menjadi sia-sia, melainkan menghasilkan buah pertobatan yang nyata yang memampukanku terus mengikutiNya dalam kasih, dan agar daya keselamatan Tuhan juga bekerja pada diri sesamaku sehingga sesamaku pun dapat sampai kepadaNya.

Mendoakan Firman Tuhan : Suami Ganteng, Bikin Puyeng

0

1. Ayat Kitab Suci

Ketika istri puyeng karena suaminya ganteng dan dikagumi oleh banyak perempuan lain, ia bisa mendoakan Firman Tuhan dari Amsal 31:10-11 : ”Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan” .

2. Maksud Ayat tersebut

Makna Amsal 31:10-11 dapat dipahami dari seluruh konteksnya, yaitu Amsal 31:10-31. Amsal ini berbicara tentang istri yang cakap. Ciri-ciri istri yang cakap :

a. Kuat sekaligus lembut.

Pribadi istri yang cakap adalah pribadi yang terbentuk dari peleburan antara kekuatan dan kelemahlembutan. Perpaduan antara kekuatan dan kelembutan itu sesuai dengan arti makna cakap dalam bahasa Ibrani, yaitu “chayil”. Istri yang kuat dan sekaligus lembut lebih berharga daripada permata. Ia lebih berharga daripada permata berarti ia dipercaya, dibanggakan, dikagumi, dihormati, dan dihargai.

b. Bekerja dalam semangat melayani dengan tulus hati/tidak ngedumel.

Ia mengutamakan keluarganya lebih dahulu daripada dirinya sendiri. Ia sudah bangun pada waktu subuh sebelum seisi rumahnya terjaga dari tidurnya. Ia mempersiapkan segala sesuatu dari pagi sampai menjelang malam dengan tanpa mengeluh demi keluarganya.

c. Pandai dalam membuat perencanaan.

Istri yang cakap adalah istri yang pawai dalam mengatur keuangan untuk mencukupi kebutuhannya. Ia bisa membuat empat prioritas kebutuhan. Empat prioritas kebutuhan itu : 1) kebutuhan yang penting dan mendesak; 2) Kebutuhan yang penting dan tidak mendesak; 3) kebutuhan yang tidak penting, tetapi mendesak; 4) kebutuhan yang tidak penting dan tidak mendesak seperti sepatu kaca, sepatunya Cinderela. Perencanaan yang baik ini digambarkan dengan tidak takut dengan salju karena seisinya berpakaian tebal, yaitu berpakaian rangkap : “Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap” (Amsal 31 :21). Tanpa perencanaan yang baik, kehidupan sebulan terasa ngap-ngap karena berat. Akibatnya :istri akan mempunyai bakat baru, yaitu gali lubang dan tutup lubang.

d. Semangat dan daya juang yang tinggi.

Ia mempunyai daya dan semangat yang tinggi karena ia senantiasa memiliki optimis terhadap masa depan keluarganya.

1) Bagi Suaminya

Ia yakin bahwa suaminya pasti mempunyai bakat dan telenta. Keyakinannya ini membuatnya tahu caranya membangkitkan kembali semangat dan kepercayaan suaminya ketika ia sedang down.

2) Bagi anak-anaknya

Ia adalah motivator yang tiada duanya bagi anak-anak untuk mencapai masa depannya. Ia rela disebut si bawel atau si cerewet demi masa depan anak-anaknya. Gambaran sebagai motivator bagi anak-anaknya adalah mulutnya penuh hikmat dan lidahnya penuh dengan pengajaran.

e. Cakap tidak selalu sama dengan cakep.

Istri yang cakap adalah istri yang takut akan Tuhan dan mengenal cara Tuhan berkarya dan mencukupkan kebutuhan keluarga.

Para istri itu minder karena ia kehilangan rasa bangga sebagai istri yang cakap sehingga kegantengan suaminya justru membuatnya puyeng. Kegantengan suaminya yang dulu menjadi kebanggaannya kini malah membuatnya tertekan. Suaminya menjadi idola dan dikagumi banyak wanita, sedangkan ia menjadi omongan banyak orang “kok enggak seimbang dengan suaminya ya….”. Ia kadang-kadang merasa lebih pantas sebagai pembantu daripada pendamping suaminya. Perasaan tidak mau kalah ini membuatnya sibuk menghias dirinya secara berlebihan. Perasaan untuk senantiasa menang dalam persaingan dengan bayang-bayang tidak akan pernah purna. Ia akhirnya mengalami kelelahan yang menghilangkan sukacita. Istri yang puyeng atas suami yang ganteng sering disebut ‘istri doktor’, wajahnya medok, tetapi rumahnya kotor.

Jalan satu-satunya untuk mengatasi rasa minder atas suami yang ganteng adalah terus menyempurnakan kecakapan daripada kecakepan. Kecakepan akan hilang secara alami sesuai dengan perjalanan waktu dan sesuai dengan keuangan : “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji” (Amsal 31:30). Kecakapan bersifat kekal karena akan dikenang dan dijadikan pedoman. Percayalah suami yang ganteng akan senantiasa kesengsem (jatuh hati sampai ke kedalaman jiwa) pada kecakapan istri. Kacakapan istri semakin hari akan semakin bertambah karena kecakapan mengalir dari jiwa yang semakin murni dan semakin tulus. Karena itu, banyak wanita semakin tua malah semakin menarik. Kecakapan ini disebut inner beauty, kecantikan dari dalam hati.

3. Doa

Jadikan Aku Istri yang Cakap
(Doa saat minder ketika suami ganteng, tetapi bikin puyeng)
”Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan” (Amsal 31:10-11)

Allah Bapa Yang Mahabaik,
Aku bersyukur karena Engkau telah memberikan kepadaku suami yang gagah dan ganteng.
Pada awalnya, aku sangat bangga dengan kegantengannya.
Aku seakan-akan ingin memamerkannya kepada seluruh dunia ‘diberkatilah aku karena ia memilihku menjadi pendampingnya”.

Dalam perjalanan waktu, kegantengan suamiku justru membuatku puyeng dan bahkan hampir gendeng.
Banyak pujaan dan kekaguman dari para wanita terhadap suamiku.
Pujaan dan kekaguman dari mereka yang cantik dan pintar itu membuatku merasa tak nyaman.
Aku merasa diri bahwa suamiku malu memiliki istri diriku.
Perasaan minder melandaku karena aku tidak mampu menjadi seperti mereka.
Aku berusaha menjadi puteri bermahkotakan berlian untuk mengatasi keminderanku.
Kuhabiskan waktuku untuk memilih baju-baju trendy dan memperbaiki penampilanku di shalon-shalon yang mahal.

Penampilanku yang berbeda ternyata tidak membuat suamiku berubah.
Aku terjerat dalam kelelahan.
Senyumku pun tersembunyi dalam deraian air mata.
Kata-kata mesra menjadi tanpa daya karena terperangkap dalam prasangka.

Tuhan,
Berikanlah aku kekuatan untuk menyempurnakan kecakapan.
Kecakapan adalah kecantikan yang tidak akan pernah purna.
Kecantikan yang mengalir dari jiwa yang penuh dengan cinta.
Kecantikan yang terungkap dalam sikap ini.
Menjadi istri yang senantiasa ingat akan Tuhan dalam setiap langkahku.
Menjadi istri yang tidak bermukam masam ketika suamiku terlambat pulang, lalu menuduhnya macam-macam.
Menjadi istri yang sabar dalam mendidik anak dan mendampingi suami tercinta.

Aku yakin kecakapan sebagai seorang istri akan membentengi suamiku pergi dan pindah ke lain hati.
Suami dan anak-anakku akan bangga mempunyai istri dan ibu yang senantiasa memelihara kecakapannya.
Kepercayaan diriku akhirnya dipulihkan dan aku mampu bersyukur sebagai istri pilihan.
Amin.

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Begal Cinta

0

Puisi refleksi iman oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Ganasnya para begal jalan raya menjadi berita sana-sini.

Banyak korban telah terjadi.

Akibat senjata tajam atau senjata api yang telah menakutkan nyali.

Memasrahkan diri sebagai jalan agar tidak mati.

Korban dilanda trauma setengah mati.

Kadang-kadang menjerit sendiri.

Hidup pun menjadi tak nyaman lagi.

Kengerian senantiasa mengikuti.

Polisi mengejarnya agar pembegalan tak terulang lagi.

Jangan jalan sendiri di malam hari,

agar tak tertimpa malapetaka seperti ini.

Itulah jalan paling jitu untuk perlindungan diri.

Tapi…..

Tahukan kita, ada begal yang lebih ganas daripada begal jalan raya ini ?

Begal ini tak kasat mata, bak siluman.

Tempat persembunyiannya di hati.

Mangsanya adalah jiwa yang kosong, tanpa isi.

Namanya adalah begal cinta.

Tiada perlawanan dari korban begal cinta ini.

Tapi justru memasrahkan diri dan menikmati.

Pesona indah terus membayangi diri karena bius rayuan manis. .

Sekali terperangkap di dalamnya,

korban begal cinta enggan untuk melepaskan diri.

Apa akibat dari pembegalan cinta ini?

Tsunami akan memporakporandakan keluarga yang pernah ia cintai.

Anak-anak merasa tak berarti.

Lukanya sulit dioperasi.

Penegak hukum duniawi tidak akan peduli terhadap para begal cinta ini.

Para malaikatlah yang akan mengejarnya.

Mereka akan membawanya ke Hakim Agung, yaitu Tuhan sendiri.

Hukumannya pasti hukuman mati,

yaitu, dibenamkan dalam api neraka yang tak terkendali.

Karena itu, lebih baik menjaga diri dengan doa dan Firman di hati.

Jangan main api,

supaya tidak menyesal nanti.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Mengapa ada corpus Yesus di salib Katolik

0

[Hari Minggu Prapaskah III: Kel 20:1-17; Mzm 19:8-11; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25].

“Orang Yahudi menuntut tanda dan orang Yunani mencari hikmat,” kata Rasul Paulus, “Tetapi kami memberitakan Kristus yang tersalib. Suatu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi, tetapi bagi mereka yang dipanggil… Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah!” (1Kor 1:22-24) Bahkan dengan lebih tegas Rasul Paulus melanjutkan, “Aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…” (1Kor 2:2). Kristus yang tersalib. Itulah yang menjadi inti pewartaan Rasul Paulus. Tentu, ini tidak berarti bahwa ia tidak percaya Tuhan Yesus telah bangkit, sebab Paulus juga berkata, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:14). Maka, pemberitaan Kristus yang tersalib, sesungguhnya bertujuan mengingatkan kita semua, akan betapa mahal harga yang harus dibayar oleh Kristus Tuhan kita, sebelum Ia bangkit dari kematian-Nya, untuk melepaskan kita—umat manusia—dari ikatan dosa dan maut. Di kayu salib itu, Yesus menggenapi apa yang dikatakan-Nya sendiri kepada para murid-Nya, “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Maka, Gereja Katolik tidak dapat tidak, untuk mewartakan hal yang sama. Di setiap gedung-gedung gereja Katolik, dan rumah umat Katolik, bahkan dikenakan di leher orang Katolik, ada salib yang padanya tergantung suatu penggambaran tubuh atau ‘corpus’ Kristus yang tersalib. Ini menjadi suatu tanda bukti, betapa Gereja dengan setia mengenangkan pengorbanan Kristus, yang dengan salib suci-Nya, telah menebus dunia. “Apakah yang terjadi pada Injil dan pada Kekristenan, jika tanpa Salib Kristus, tanpa kurban penderitaan-Nya?” tanya Paus Paulus VI. “Itu akan menjadi sebuah Injil, sebuah Kekristenan, tanpa Penebusan dosa, tanpa Penyelamatan; sebuah Penebusan dan Penyelamatan yang tentangnya—kita harus mengakuinya di sini dengan ketulusan yang tak dapat dikurangi—kita mutlak membutuhkannya. Tuhan telah menebus kita dengan Salib itu, dengan kematian-Nya. Ia telah memberikan kita kembali, hak untuk hidup…” (Paus Paulus VI, Khotbah, 24 Maret 1967). Dengan memandang kepada Salib Kristus, kita  diingatkan akan begitu kejamnya dosa—termasuk dosa-dosa kita—yang membuat-Nya sampai tergantung di sana. Namun juga, kita diyakinkan akan kasih Allah yang tiada bertepi, yang membuat-Nya mau menebus dosa kita, sampai menumpahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Penderitaan dan wafat-Nya juga mendorong kita untuk tetap tabah dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup sampai akhir hayat, sebab kita percaya, bahwa Tuhan Yesus menyertai kita. Ia telah terlebih dahulu melalui segala derita, untuk sampai kepada kemuliaan-Nya. Kitapun akan sampai ke sana, jika kita setia dan rela memikul salib kehidupan kita.

Namun tak dapat dipungkiri, bahwa penggambaran Kristus yang tersalib kadang mengundang rasa curiga dari sejumlah orang yang mempertentangkan penggambaran itu dengan firman Tuhan yang kita baca hari ini di Bacaan Pertama. Di sana disampaikan bahwa Tuhan melarang orang Israel untuk membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit, di bumi maupun di bawah bumi (lih. Kel 20:4). Namun Gereja Katolik tidak mengartikan ayat itu terlepas dari ayat-ayat yang lain dalam Kitab Suci. Ayat tersebut berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu bahwa  kita tidak boleh mempunyai allah lain di hadapan Tuhan. Sebab pada zaman kitab itu ditulis, bangsa Israel kerap membuat patung dan menjadikan patung itu sebagai allah lain di hadapan Allah. Mereka menjadikan patung anak lembu emas menjadi allah mereka (lih. Kel 32). Maka tentu Allah tidak berkenan. Namun jika patung dibuat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan dan tidak disembah sebagai allah lain, hal itu tidak dilarang. Bahkan Allah sendiri memerintahkannya, seperti pada saat Ia menyuruh bangsa Israel untuk membuat patung kerub (malaikat) untuk diletakkan di atas tabut perjanjian (lih. Kel 25:18-22). Di Perjanjian Baru, Allah sendiri memperbaharui perintah-Nya tentang hal ini, dengan menjadikan Kristus “gambar dari Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15). Maka Gereja Katolik hanya mengikuti teladan dari Allah sendiri, untuk membuat gambaran Kristus, yang adalah gambaran Allah. Bukti peninggalan dari Gereja perdana juga menunjukkan hal ini. Mereka membuat gambar-gambar dan simbol Yesus di dinding-dinding katakomba (gereja bawah tanah), di mana mereka beribadah. Tentu mereka tidak menduakan Allah dengan gambar-gambar itu. Hal itu justru menunjukkan kesatuan mereka dengan Kristus sehingga walaupun dianiaya karena mengimani Kristus, mereka lebih memilih mati daripada meninggalkan Dia. Mereka mengikuti jejak Kristus yang tersalib untuk sampai kepada kehidupan kekal.

Melalui cermin di hadapanku, kupandang salib Kristus itu yang menggantung di leherku. “Ya, Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu. Kumohon rahmat-Mu agar aku boleh tetap setia sampai akhir, untuk mengimani Engkau yang disalibkan untukku dan seluruh dunia, demi menebus dosa-dosa kami.”

Setitik Abu (Doa dan Renungan Hari Rabu Abu)

0

Bapaku yang baik,
Hari Rabu Abu ini, Engkau goreskan setitik abu di dahiku.
Setitik abu di dahiku itu tiada bermakna jika tanpa ditopang dengan iman.
Tanpa iman, abu itu hanya seperti hiasan para badut yang tak lucu.
Dengan iman, setitik abu itu dahsyat, mampu membuka pikiran dan menyadarkan jiwa.
Pikiran dan mata jiwaku terbuka bahwa hidupku di dunia ini akan berakhir.
Siapkah kini aku menghadap kepadaMu jika Engkau memanggilku ?
Setitik abu itu membuatku rela untuk menyerahkan hatiku kepadaMu.
Biarlah Engkau membelahnya.
Mataku pun terbelalak karena tersingkap banyak dosaku.
Hatiku pilu karena malu.
Hatiku sedih karena telah melukai..
Aku pun mengakui segala dosa dan kesalahanku di hadapanMu.
Setitik abu di dahiku ini telah mengubah hidupku.
Hidupku menjadi berarti karena ada tangan-Mu yang siap mengampuni.
Pengampunan-Mu merupakan wujud dari kasih-Mu.
Kasih-Mu meresap di dalam hati.
Kasih-Mu memantapkan hati untuk lebih berhat-hati agar tidak jatuh lagi.
Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8:11).

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kucari wajah-Mu, ya Tuhan

0
Sumber gambar: http://www.afterlife.co.nz/2010/theology/conditional-immortality/the-mount-of-transfiguration-matthew-171-9-mark-92-9-luke-928-36-by-warren-prestidge/

[Hari Minggu Prapaskah II: Kej 22:1-18; Mzm 116:10-19; Rm 8:31-34; Mrk 9:2-10].

Sebuah pesan masuk ke HP-ku, dari seorang teman. Ia menyertakan kisah hidup seorang bruder sahabatnya di Singapura. Sebelum menjadi bruder, sahabatnya itu bekerja sebagai seorang pengacara yang sukses, tinggal di Penthouse apartment, memiliki mobil BMW plus supir pribadi. Namun semua harta benda itu ditinggalkannya untuk menjadi seorang biarawan Katolik dan melayani orang-orang jompo. Belum lama ini bruder itu terkena kanker lidah, sehingga harus kehilangan separuh lidahnya. Dokter memperkirakan bahwa ia takkan dapat berbicara lagi seumur hidup. Namun mukjizat terjadi. Beberapa bulan kemudian, ia dapat kembali berbicara secara normal seperti ketika lidahnya belum dioperasi. Temanku bertanya, “Bruder sudah meninggalkan kemewahan duniawi untuk membaktikan diri pada Tuhan, tetapi malah terkena kanker lidah. Apakah bruder nggak marah pada Tuhan?” Jawab bruder, “Kalau Tuhan mau saya punya lidah cuma separuh, saya terima. Kebahagiaan saya terletak pada melakukan kehendak Tuhan apapun itu wujudnya. Justru saya bersyukur walaupun lidah saya tinggal separuh, tapi saya bisa bicara dengan lancar…” Aku tertegun membaca pesan itu. Betapa aku perlu belajar beriman seperti bruder itu, yang dengan caranya sendiri, meneladan iman bapa Abraham (lih Kej 22:1-18). Yaitu, mau melaksanakan kehendak Tuhan dan menyerahkan segalanya bagi Tuhan tanpa pamrih. Ia percaya penuh kepada Tuhan, di tengah keadaan apapun yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupannya, sebab ia tahu bahwa pertolongan Tuhan tidak akan datang terlambat.

Rasul Paulus dalam suratnya yang dibacakan hari ini, juga mengingatkan kita untuk terus menaruh harap pada kuasa pertolongan Tuhan. “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31) Allah yang bahkan tidak menyayangkan Putra-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya untuk menyelamatkan kita, tentu Ia akan menganugerahkan segala sesuatu yang kita perlukan untuk menghadapi kehidupan ini, bersama dengan Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus (lih. Rm 8:32). Demikianlah salah satu maksud utama peristiwa Transfigurasi, yaitu ketika Allah menyatakan kemuliaan Yesus Putra-Nya di hadapan Rasul Petrus, Yohanes dan Yakobus. Allah menghibur mereka dari kegelisahan hati setelah mereka mendengar nubuat tentang penderitaan dan kematian yang harus dilalui Yesus sebelum kebangkitan-Nya. Namun terang kemuliaan Allah yang mereka lihat di gunung itu tidak bertahan selamanya, dan mereka harus kembali ke kehidupan sehari-hari. Mereka kembali melihat Yesus apa adanya seperti manusia biasa, yang bisa lapar, haus, lelah dan sedih. Dari pengalaman para Rasul, kitapun diajak untuk mencari dan menemukan Kristus yang hadir secara nyata dalam banyak peristiwa di dalam hidup kita. Kristus hadir di tengah Gereja-Nya, mengampuni kita dalam sakramen Pengakuan Dosa, dan terutama dalam sakramen Ekaristi. Kristus juga hadir dan menyapa kita lewat sesama kita yang membutuhkan bantuan, mereka yang lapar dan haus, yang berduka, yang sakit dan miskin. Sebab Tuhan Yesus, yang di Injil hari ini menyatakan kemuliaan-Nya di gunung Tabor, adalah Tuhan Yesus yang sama yang selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Ia hadir untuk menopang dan menolong kita, namun juga menyapa kita, agar kita mau mengulurkan tangan kepada-Nya yang hadir di dalam diri sesama kita yang memerlukan bantuan.

St. Alfonsus Liguori berkata, “Ketika Tuhan memberimu rahmat untuk merasakan kehadiran-Nya, dan menghendaki agar engkau dapat berbicara kepada-Nya seperti kepada sahabat yang terkasih, katakanlah kepada-Nya perasaanmu dengan bebas dan percaya diri. Sang Kebijaksanaan itu akan bersegera menyatakan diri-Nya kepada orang-orang yang mencari-Nya (lih. Keb 6:14). Ia akan bersegera menghampirimu, ketika engkau mencari kasih-Nya. Ia akan menghadirkan diri-Nya kepadamu, untuk memberimu rahmat dan obat yang engkau perlukan. Ia hanya menunggu satu kata darimu, untuk menunjukkan bahwa Ia ada di sisimu dan mau mendengarkanmu dan menopangmu….” (St. Alfonsus Liguori, How to converse continually and familiarly with God). Bukankah masa Prapaska ini akan menjadi berbeda, jika kita terus merasakan kehadiran Allah dalam setiap kejadian yang kita alami sehari-hari? Semoga Tuhan membantu kita untuk mengarahkan hati kepada-Nya di masa tobat ini, agar kita lebih sering mengucapkan doa-doa sederhana yang dipenuhi rasa cinta dan penyerahan diri kepada-Nya; lebih terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih dan silih atas dosa-dosa kita, dan lebih lagi merindukan persekutuan dengan-Nya.

Biarlah kisah iman bapa Abraham, Rasul Paulus, juga Rasul Petrus, Yohanes, Yakobus,  mengingatkan kita untuk terus percaya kepada Tuhan dan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita. Biarlah doa sederhana yang menjadi Antifon di awal perayaan Ekaristi hari ini terus menggema di dalam hati kita, “Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, “Kucari wajah-Mu.” Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan wajah-Mu daripadaku” (Mzm 27:8-9).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab