Home Blog Page 47

Tuhan, bantulah aku agar tidak mudah berubah setia kepada-Mu!

0
Sumber gambar: http://www.saintmina-holmdel.org/index.php/coptic-orthodox/pope-shenouda-iii/8-coptic-orthodox/articles/184-palm-sunday

[Hari Minggu Palma: Mrk 11:1-10; Yes 50:4-7; Mzm 22:6-24; Flp 2:6-11;Mrk 14:1-15:47].

Begitu mendengar “Minggu Palma”, terbayang olehku seruan lagu, “Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu!” Kita berduyun-duyun datang ke gereja, dengan membawa daun-daun palma. Sudahkah kita hayati maknanya?  St. Andreas dari Kreta dalam khotbahnya di hari Minggu Palma mengatakan, “Saat kita memperingati langkah kita ke Bukit Zaitun, mari menyongsong Kristus, yang hari ini kembali dari Betania, dan atas kehendak-Nya sendiri bergegas menuju sengsara-Nya yang terberkati, yang melaluinya, Ia menggenapi misteri keselamatan umat manusia” (St. Andrew of Crete, Sermon 9).

Yesus meninggalkan Betania di fajar pagi hari. Banyak pengikut-Nya telah mengikuti Dia sejak malam sebelumnya. Sejumlah di antara mereka adalah orang-orang yang mengikuti Dia setelah melihat mukjizat-Nya membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Bersama mereka, Yesus mengambil jalan ke Yerusalem lewat Bukit Zaitun, tempat di mana Ia dapat melihat kota Yerusalem dari atas bukit. Sementara itu orang-orang membuat prosesi penyambutan rombongan Yesus. Konon terdapat kebiasaan bahwa orang-orang menyambut kelompok peziarah yang datang dengan jumlah besar. Tuhan Yesus tidak menolak penyambutan itu. Ia memilih mengendarai keledai menuju Yerusalem. Ketika mereka telah sampai di dekat kota, orang-orang banyak yang mengikut Yesus berseru dengan suka cita dan memuji Tuhan, untuk segala perbuatan besar yang dikerjakan Yesus yang telah mereka lihat. Orang-orang menggelar selimut sebagai alas duduk bagi Yesus, dan yang lain meletakkan pakaian mereka di tanah sebagai karpet untuk dilalui-Nya. Mereka mengelu-elukan Yesus dengan daun palma, sambil menyerukan, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di Sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk 19: 38) Demikianlah Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Mesias yang mengendarai keledai, dan dengan demikian menggenapi nubuat Zakaria berabad-abad sebelumnya (lih. Zak 9:9).

Ketika Yesus sudah dekat kota itu, Ia menangisinya. Ia melihat bagaimana kota yang membentang di hadapan-Nya telah tenggelam dalam dosa, buta, karena tidak mengenali Juru Selamatnya. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang mengelu-elukan Dia, Tuhan Yesus telah melihat bagaimana orang-orang itu, dalam waktu kurang dari seminggu, akan berbalik menghujat Dia. Yesus menangisi Yerusalem, yang kelak dihancurkan dan diluluhlantakkan sampai rata dengan tanah. Hal itu tergenapi di tahun 70. Yesus menangisi kekerasan hati manusia, yang tidak mau bertobat dan bahkan menolak Dia. Banyak hal telah dilakukan oleh Yesus, baik mukjizat, maupun berbagai perbuatan dan perkataan, baik dengan nada keras, maupun lemah lembut …. semua telah dilakukan Yesus untuk semua orang, agar mereka bertobat. Yesus telah siap untuk melakukan segalanya bagi umat manusia tetapi sejumlah orang tidak mau membuka pintu hatinya untuk menerima belas kasih-Nya.

“Betapa bedanya seruan itu, “kata St. Bernardus, “Buang saja, buang saja, salibkanlah Dia,” dengan “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan!” Betapa jauh bedanya, teriakan yang sekarang menyebutnya Raja Israel, dengan beberapa hari lagi, saat teriakan itu berubah menjadi, “Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!” Betapa kontras perbedaan antara daun yang hijau dengan palang salib, dan antara bunga-bunga dan mahkota duri! Sebelumnya mereka membentangkan pakaian mereka di tanah untuk dilalui oleh Yesus, dan tak lama setelah itu, mereka melucuti pakaian Yesus dan membuang undi atasnya” (St. Bernard, Sermon on Palm Sunday 2,4).

Di Minggu Palma ini, mari kita memeriksa batin kita. Adakah kita berbuat serupa dengan orang-orang itu? Sebab di setiap Misa, kita pun mendaraskan doa, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan…. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di Surga!” Namun dengan mulut yang sama kita menyakiti-Nya, jika kita membicarakan keburukan orang lain, mengucapkan kata yang sia-sia, dan bahkan meninggikan diri sendiri. Ini bertentangan dengan pengakuan kita akan Kristus yang adalah Tuhan dan teladan kita. Setiakah kita untuk berkata “ya” kepada dorongan Tuhan untuk berbuat baik; dan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk memikirkan diri sendiri, malas dan kurang berbuat kasih, bahkan untuk hal yang kecil-kecil? “Ya, Tuhan, bantulah aku, untuk tidak mudah berubah setia, sebentar mau dekat dengan-Mu, namun lain waktu menolak Engkau dengan perbuatan maupun perkataanku yang menyedihkan hati-Mu! Mengingat kelemahanku sendiri, bantulah aku juga mengampuni sesamaku, yang sekali waktu dekat denganku namun kini menjauh dariku. Biarlah bersama Bunda Maria, mata hatiku tertuju kepada-Mu di Pekan Suci ini, agar aku dapat masuk dalam misteri Sengsara dan Wafat-Mu sampai pada Kebangkitan-Mu!

Tersanjung, Siap Tersungkur

0
Sumber gambar: http://beamerfilms.com/sermon-videos/worship-loops-backgrounds/palm-sunday-loop-05

Renungan Puitis Minggu Palma
Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Daun Palma diangkat di tangan dan mulut berteriak “Hosana, Raja Daud”.

Itulah prosesi yang mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem dalam Minggu Palma.

Suatu pengulangan yang menggali makna awal perjalanan penderitaan Tuhan.

Pesan Yesus dalam prosesi yang meriah dilakukanNya dengan sebuah sikap dan tanpa kata.

Pesan-Nya sangat indah ketika direnungkan dengan sebuah keheningan jiwa.

“Awas setan, penggoda yang cerdas”, itulah yang ingin disampaikanNya dalam perarakan.

Di tengah sanjungan, elu-elukan, dan pujian, kehancuran siap menerkam kita.

Sanjungan muncul dari asas manfaat atau kepentingan.

Tuhan Yesus telah mengantisipasi bahaya sanjungan.

Ia disanjung dan dielukan karena Ia mempunyai potensi sebagai raja

Raja yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penindasan Roma.

Kemakmuran duniawi menjadi harapan mereka.

Kemampuan-kemampuan ajaib dari Yesus pasti akan mewujudkan impian mereka.

Akan tetapi,

Tuhan Yesus tidak hanyut, tidak tergiur, dan tidak terhipnotis dengan racun sanjungan.

Ia tahu bahwa sekali sanjungan menyengat, maka semuanya akan berantakan.

Ia tidak mengubah sikap dengan menggantikan keledai betina dengan kuda dan kereta kencana yang akan membuat penampilan-Nya gagah dan keren.

Mata-Nya tidak tertuju pada sanjungan dan sorak-sorai itu.

Ia tidak menggubris jeritan-jeritan kekaguman kepadaNya dari lautan manusia.

Ia lewati “yel… yel…yel…” yang mengelu-elukanNya itu.

Ia tidak sedikit pun tergoda dengan sanjungan manusiawi tersebut.

Ia sadar bahwa kebesaran yang didapatkanNya dari sanjungan itu adalah kebesaran karbitan, bahkan bisa dikatakan kebesaran palsu.

Kebesaran itu adalah kebesaran lipstik seperti gincu.

Kebesaran itu akan cepat berlalu, hilang tanpa bekas.

Semuanya itu terjadi karena sanjungan itu bukan sanjungan yang tulus,

tetapi sanjungan yang membungkus keinginan pribadi.

Lihatlah beberapa hari kemudian

Orang-orang yang menyanjungNya itu berubah menjadi orang-orang yang berteriak “Salibkanlah Dia… Salibkanlah Dia”.

“Sayang yang berakhir dengan tendangan”.

Dukungan berubah menjadi kriminalisasi terhadap Tuhan Yesus karena kecewa dan tak terpenuhi kehendak mereka.

Karena itu, di tengah tawaran kebesaran dari sanjungan, hati dan pikiran Tuhan Yesus tetap terarah pada Yerusalem sebagai tujuan final perjalanan-Nya,

Yerusalem adalah tempat untuk penderitaan-Nya, tetapi juga kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

Tiada mahkota, tanpa derita.

Tiada kemuliaan, tanpa salib.

Pada Minggu Palma ini,

Tuhan Yesus mengajak kita untuk menempuh perjalanan yang sama.

Perjalanan yang tidak parkir pada sanjungan.

Sanjungan dunia akan roboh pada saatnya nanti.

Yang berdiri di atasnya akan terjerembab, hancur lebur, dan tak berdaya.

Pendek kata, yang tersanjung akan tersungkur.

“Saling kriminalisasi” menjadikan satu-satunya trik untuk mempertahankan gengsi.

Teguran nurani dilibasnya dan akal budi ditumpulkannya sendiri untuk menunda bencana aib diri.

“Duduk di kursi suami sendiri” bisa menjadi tuduhan pelanggaran hukum”.

Itulah bukti tindakan lucu orang yang telah kehilangan diri.

Orang seperti ini telah mati suri karena berkutat dengan panik.

Karena itu,

Fokuslah pada tujuan perjalanan hidup yang dikehendaki Allah Bapa.

Tujuan hidup kita adalah kemuliaan sejati yang tidak memerlukan sanjungan manusia.

Kemuliaan sejati ditempuh melalui kepahitan, luka, dan derita.

Kasih membuat kita tidak frustrasi.

Kepahitan, luka, dan derita karena kasih akan membuahkan kesembuhan dan pengangkatan yang tinggi dan sejati.

Ingatlah pepatah ini: Taburan garam di atas luka memang perih, tapi membuatnya mengering dan beranjak pulih.

Sabda Sang Guru menjadi jaminan abadi: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:29-30)

Tuhan Memberkati

Sabar Itu Indah

0

Hasrat mensharingkan pengalaman akan kuasa Allah tak akan pernah dapat dicegah oleh perjalanan waktu dan perasaan malu. Sharing pengalaman itu menjadi sebuah ungkapan syukur yang melegakan atas kebaikan Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Ibu Riani yang berusia lima puluh tajuh tahun. Ia tinggal di Serpong.

Ibu Riani, pada tanggal 09 Maret 2015, mengunjungiku di Pastoran Gereja Katolik Santo Odilia – Citra Raya. Ia bertandang bersama anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya. Ia ingin menyampaikan kepadaku tentang pengalamannya akan kebaikan Tuhan. Ia mengalami kesembuhan dari penyakit kanker rahim, dalam Adorasi Jam Suci pada tahun 2011, di Gereja Santa Odilia – Tangerang itu. Ia sudah menderita kanker rahim yang sangat parah selama bertahun-tahun. Ia tidak mau menjalani kemoterapi seperti yang disarankan tim medis di Singapore. Pada tahun 2011 itu, tim medis di Singapore, menyatakan kankernya telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Hidupnya dinyatakan hanya tiga bulan lagi. Ia terkejut, tetapi tidak sampai patah hati. Dari kawannya, ia mendengar ada adorasi jam suci setiap Kamis Malam Jumat Pertama di Gereja Santa Odilia. Ia datang dalam adorasi itu bukan terutama untuk kesembuhan dari kankernya, tetapi lebih sebagai sebuah kesempatan terakhir baginya untuk menyembah Tuhan. Ia memegang erat Velum (kain penyelubung Sakramen Mahakudus), sambil menangis ketika Sakramen Mahakudus aku bawa kehadapannya: “Tuhan, memang semua sudah kelihatan akan lenyap, tetapi masih ada Engkau, Tuhan. Aku menyembahMu. Semoga kekudusan-Mu menyucikan jiwaku dan menjaganya sampai Allah memanggilku untuk pulang ke rumah-Nya dalam waktu dekat ini”. Perkataanku kepadanya “Bu, engkau pasti sembuh” diimaninya sebagai suara Tuhan yang menyembuhkan imannya di kala nyawanya sudah diambang surga. Ia mengisi waktu singkatnya dengan mengubah hidupnya semakin hari semakin seperti yang Tuhan kehendaki.

Pada tahun 2012, ia datang ke dokter Singapore. Ia dengan tenang siap untuk menyambut pernyataan dari tim medis tentang kematiannya. Ia siap menerima kematiannya karena mengimani bahwa kematian merupakan perpindahan hidup yang membahagiakan bagi yang telah mempersiapkan jiwanya. Setelah menjalani berbagai cek medis, tim medis menyatakan bahwa semua tumornya telah hilang dan tidak menyebar. Ia disembuhkan Tuhan secara ajaib. Namun, tim medis itu juga mengatakan bahwa sel-sel kanker itu akan bertumbuh atau berhenti total setelah lima tahun kemudian. Itulah yang membuatnya tidak berani mensharingkan pengalaman imannya ini sebelum lima tahun sejak tahun 2011. Akan tetapi, ia sangat gelisah sampai ia membagikan pengalaman anugerah kesembuhan dari Tuhan ini. Ia mengalami penyembuhan Tuhan sebagai sebuah hidup yang baru. Ia mengisi hidup baru ini dengan penuh syukur, menjaga hidupnya dari dosa, dan berbagi kasih. Ia tidak peduli pada tahun 2016 (tahun kelima) apakah kankernya akan tumbuh lagi atau tidak. Ia sudah merasakan bahwa hidup baru selama empat tahun ini sungguh memberikan kepadanya damai dan sukacita.

Pesan yang dapat kita syukuri dari ceritera ini: Tetaplah kayuh sepeda kita dengan segala kekuatan yang ada ketika angin besar menghantam kita supaya kita tidak jatuh tertimpa olehnya. Kehancuran hidup datang dari kita sendiri yang namanya menyerah dan putus asa. Jalani hidup kita ini dengan penuh kesungguhan. Terimalah kenyataan dengan jiwa besar, yaitu kesabaran. Sabar bukan berarti lemah dan kalah. Sabar adalah obat penangkal terbaik dari keputusasaan sehingga kita yang sabar disebut lebih dari pahlawan: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32). Hadiah yang kita terima dari Tuhan adalah kebahagiaan. Kesimpulannya adalah sabar itu susah, sabar itu cape, sabar itu stress, sabar itu sakit, tetapi sabar itu indah.

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Bertobat Agar Dapat Selalu Berada Bersama Dengan Kristus

0
Sumber gambar: http://truthbook.com/urantia-book/paper-171-on-the-way-to-jerusalem

[Hari Minggu Prapaskah V: Yer 31:31-34; Mzm 51:3-15; Ibr 5:7-9; Yoh 12:20-33].

Ketika aku membaca penjelasan St. Agustinus tentang Injil hari ini, mata hatiku terbuka akan begitu indahnya makna perikop ini. Semoga penjelasan St. Agustinus ini mencerahkan kita semua:

“Lihatlah, sementara orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus, namun di sini disebutkan, bahwa orang-orang Yunani mau berjumpa dengan-Nya. Dengan demikian, kaum yang bersunat dan tidak bersunat yang tadinya sangat jauh terpisah… kini bertemu di dalam iman akan Kristus. Dan Yesus menjawab, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Apakah Ia berpikir bahwa Ia ditinggikan karena orang-orang Yunani ini mau bertemu dengan-Nya? Tidak. Tetapi Ia melihat bahwa setelah wafat dan kebangkitan-Nya, bangsa-bangsa lain akan percaya kepada-Nya. Ia menganggap permohonan beberapa orang Yunani ini sebagai kesempatan untuk memaklumkan datangnya seluruh bangsa-bangsa lain, sebab saatnya Ia dimuliakan telah dekat, dan bahwa setelah Ia dimuliakan di Surga, bangsa-bangsa lain akan percaya; seperti disebutkan dalam Mazmur, “Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!” (Mzm 57:6)

Tetapi kemuliaan-Nya harus didahului oleh sengsara-Nya, maka Yesus berkata, “Sesungguhnya jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, Ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Yesus-lah biji itu, yang mati oleh ketidakpercayaan bangsa Yahudi, namun yang akan menghasilkan banyak buah oleh iman dari bangsa-bangsa lain.

Bagaimana memahami, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya?” (Yoh 12:25) Ini dipahami dalam dua arti: 1) Jika kamu ingin mempertahankan nyawamu di dalam Kristus, jangan takut mati untuk Kristus. 2) Jangan mencintai nyawamu di dunia ini, sebab sesudahnya kamu akan kehilangan nyawamu. Ia yang membenci nyawanya di dunia ini, akan memperolehnya di kehidupan kekal. Tapi jangan terburu-buru berpikir, bahwa dengan membenci nyawamu, itu artinya kamu boleh bunuh diri. Sebab orang-orang yang menyimpang telah salah memahaminya, dan telah membakar diri atau mencekik dirinya sendiri… untuk mengakhiri hidupnya. Ini tidak diajarkan Kristus! Tetapi ketika tidak ada pilihan bagimu, ketika penganiaya mengancammu dan kamu harus memilih antara mengingkari hukum Tuhan atau mati, maka bencilah nyawamu di dunia ini, supaya kamu dapat memperolehnya dalam kehidupan kekal.

Tetapi apakah artinya “melayani Kristus”? Mereka yang melayani Kristus adalah mereka yang tidak mencari apapun bagi dirinya sendiri tetapi bagi Kristus, yaitu mereka yang mengikuti Dia, berjalan di jalan-Nya,  dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Kristus…, sehingga akhirnya mereka menyelesaikan karya kasih yang besar, dan menyerahkan nyawa mereka bagi saudara-saudara mereka. Tapi kamu bertanya, apakah upahnya? Jawabannya ada di kalimat berikut: “Dan di manapun Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12: 26). Maka kasihilah Dia demi diri-Nya sendiri, dan pikirkanlah upah yang demikian besar bagi pelayananmu, yaitu kamu akan ada bersama dengan Dia…

Yesus menghendaki kamu agar bangkit dari kelemahanmu. Ia mengambil kerapuhan manusia, supaya dapat mengajarkan kepada mereka yang rapuh untuk berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi.” Dan Yesus melanjutkan, “Sebab untuk itulah aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Yaitu, di dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Mu. Maka dari Sorga terdengar suara, “Aku telah memuliakan-Nya”, yaitu sebelum Allah menciptakan dunia; “dan akan memuliakan-Nya lagi!” Yaitu, ketika Engkau bangkit dari kematian. Atau, “Aku telah memuliakan-Nya”, yaitu ketika Engkau dilahirkan oleh seorang Perawan, mengerjakan berbagai mukjizat, dinyatakan  oleh Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati; “dan akan memuliakan-Nya lagi”, yaitu ketika Engkau bangkit dari kematian, dan sebagai Allah, ditinggikan di atas langit dan kemuliaan-Mu mengatasi bumi. Para bangsa akan berdiri dan mendengarnya. Maka suara dari Sorga itu tidak datang untuk memberitahu Yesus—sebab Ia sudah mengetahuinya—tetapi kepada orang-orang banyak itu, yang perlu mengetahuinya. Jadi suara itu datang bukan demi Dia tetapi demi mereka.

Penghakiman di akhir dunia adalah berkenaan dengan penghargaan kekal atau penghukuman kekal. Tetapi terdapat penghakiman lainnya, yang bukan penghukuman tetapi pemilihan. Inilah yang dimaksudkan di sini, yaitu pemilihan orang-orang yang ditebus-Nya sendiri, dan pembebasan mereka dari kuasa setan. Kini penguasa dunia telah dilemparkan ke luar. Setan disebut penguasa dunia di sini, namun tidak untuk diartikan sebagai penguasa langit dan bumi. Tuhan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Dunia di sini maksudnya adalah orang-orang jahat yang telah tersebar di seluruh dunia. Dalam arti ini, setan adalah penguasa dunia, yaitu: penguasa semua orang jahat yang hidup di dunia. [Namun] dunia juga kadang dimaksudkan sebagai orang-orang baik yang tersebar di seluruh dunia, contohnya di ayat: Allah, di dalam Kristus mendamaikan dunia, dengan diri-Nya (2Kor 5:19). Ini adalah mereka, yang dari dalam hati mereka-lah, setan, penguasa dunia dilemparkan ke luar. Tuhan kita telah mengetahui bahwa setelah sengsara, wafat dan kemuliaan-Nya, bangsa-bangsa di seluruh dunia akan bertobat. Dari dalam hati merekalah, yang telah sungguh menolak setan, setan itu akan dilemparkan ke luar.

“Apabila Aku ditinggikan dari bumi”, kata Yesus. Yesus tidak ragu, bahwa Ia akan menyelesaikan karya keselamatan, yang karenanya Ia datang. Ia ditinggikan, maksud-Nya adalah: dengan sengsara dan wafat-Nya di salib. Sebagaimana dikatakan Yohanes Penginjil, “Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana cara-Nya Ia akan mati” (St. Agustinus, seperti dikutip oleh St. Thomas Aquinas dalam Catena Aurea).

Di Minggu ke-V Prapaska ini, kita semakin mendekati peringatan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Kita diajak untuk menjadi orang-orang yang bertobat, sehingga dari dalam diri kita, setan akan dilemparkan ke luar. Kita dikuatkan di dalam kerapuhan kita, untuk berserah kepada Tuhan, dan membiarkan kehendak-Nya terjadi dalam kehidupan kita, sebab Ia pasti memberikan yang terbaik. Kita diundang untuk memberikan keseluruhan diri kita untuk Kristus dan melayani Dia, dan bukan melayani kehendak kita sendiri. Supaya dengan demikian, kita dapat selalu bersama-sama dengan Kristus: di manapun Ia berada, kitapun berada. Dalam kebersamaan ini, kita akan dimampukan menghadapi apapun pergumulan hidup kita, sebab bukankah firman Tuhan berkata, “Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31)

Semoga Tuhan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sehingga kita dapat sungguh bertobat dan kembali kepada-Nya. Biarlah bersama pemazmur hari ini, kita daraskan doa ini dalam hati kita, “Sebab dengan belas kasih-Mu, Engkau begitu menyayangiku, dan karena itu kumohon, semoga Engkau rela membersihkan jiwaku” (lih. Mzm 51: 3-4).

Pakaian Keikhlasan

0

Secarik kertas aku temukan di atas meja kerjaku. Tulisan sederhana dan singkat dari seseorang yang sederhana pula. Tulisan yang sederhana dan singkat itu mengandung pesan kehidupan yang tak ternilai harganya. “Berpakaian keikhlasan”. Itulah kabar yang ingin disampaikannya. Pesan “berpakaian keikhlasan” itu terkandung dalam permohonan untuk pemberkatan rumah secara sederhana karena keadaan.

Pemberkatan rumah itu aku laksanakan pada tanggal 24 Februari 2015. Pemberkatan rumah tersebut menjadi awal pembelajaran tentang sikap hidup yang didambakan banyak orang, tetapi sekaligus yang paling sulit dilaksanakan. Pengajaran itu adalah pengajaran tentang keikhlasan yang terpancar dari seorang bapak yang berusia setengah baya, seorang ibu yang berumur empat puluh tahunan, dan mama mereka. Aku membuka percakapan dengan pertanyaan yang biasa aku lontarkan: “Bapak dan ibu sudah berapa lama menikah dan dikaruniai Tuhan berapa anak?” Bapak itu menjawabku tanpa tersinggung: “Kami bukan suami dan istri. Kami adalah kakak dan adik. Kami tidak menikah”. Bapak itu kemudian menceritakan mengapa ia dan adiknya tidak menikah serta sampai mereka pindah ke rumahnya yang sekarang: “Kami tidak menikah karena harus mengurus secara bergantian papa yang tergeletak karena stroke bertahun-tahun lamanya. Tidak gampang mengurus penderita stroke karena ia mudah tersinggung. Kami sendiri yang memandikan papa, mengganti pakaiannya, dan memberikan obat-obatan. Dengan merawat papa sendiri, ia merasa tidak sia-sia sebagai papa karena ia merasa bahwa anak-anaknya tidak meninggalkannya ketika ia sedang sakit. Mama kami pun merasa dikuatkan dengan kehadiran kami, anak-anaknya. Papa akhirnya meninggal belum lama ini dengan membawa bakti kami. Kami tidak menikah dengan manusia, tetapi menikah dengan keikhlasan”. Setelah mengungkapkan isi hatinya, wajahnya menyinarkan kelegaan. Ia melanjutkan ceritanya mengapa sampai ia tinggal di rumahnya sekarang ini: “Setelah papa pulang ke surga, aku menjual rumahku yang besar dan tinggal di rumah yang kecil sekarang ini. Aku menjualnya untuk menyelesaikan semua pembayaran untuk perawatan papa. Aku tidak pernah merasa merana tinggal di rumah sederhana. Rumah sederhana ini jauh lebih indah dan nyaman dibandingkan dengan rumah-rumah megah karena diterangi dengan kesabaran yang bersinar dari lampu keikhlasan. Rumah ini akan menjadi pintu keikhlasan yang akan kulewati untuk menjadi calon penghuni Surga kelak”.

Setitik “keikhlasan” ini akan memancing keharuan bagi manusia modern yang jiwanya gersang dan gelisah. Kegelisahan dan kegersangan manusia modern terbentuk dengan sikap hidup “Lu dan Gue” alias tidak peduli. Ketidakpedulian membuat hidup terasa terisolasi kini dan nanti. Ketika keikhlasan berbicara, hati yang gersang dan gelisah menjadi hati yang tentram karena masih ada nilai kehidupan selain materi. Keikhlasan menjadi penawar kepahitan hidup. Keikhlasan membuka bibir yang telah tertutup untuk tersenyum kembali. Kembalinya “Senyuman” yang telah lama hilang itu karena sifat Allah yang murah hati terasakan dalam keihklasan hati: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.“ (Lukas 6:36).

Pesan dari pengalaman ini: Bangunlah hidup dengan kemurahan hati, maka cahaya keikhlasan akan bersinar selamanya. Keikhlasan tersusun menjadi untaian doa kepada Allah yang akan mengalirkan berkat dari Surga: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Berkat-Nya adalah hidup menjadi sebuah kisah yang lucu dan haru. Karena itu, marilah kita berdoa untuk kehidupan kita seperti Pemazmur: “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau” (Mazmur 25:21).

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Mungkinkah Memikul Salib dengan Sukacita?

0
Sumber gambar: http://imgarcade.com/1/jesus-carries-his-cross-painting/

[Hari Minggu Prapaskah IV -Minggu Laetare: 2Taw 36:14-23; Mzm 137:1-6; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21].

Bersukacitalah, … hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.” Demikian Antifon Pembuka di Minggu Laetare ini. Hari ini kita sampai di pertengahan masa Prapaska, dan Gereja mengajak kita untuk bersukacita. Mengapa bersukacita? Mungkinkah bersukacita di tengah masa pantang dan puasa? Atau, apakah pengorbanan dapat dilakukan dengan sukacita? Betapapun ini nampaknya tidak masuk akal, tetapi teladan Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa kedua hal itu—pengorbanan dan sukacita—yang sepertinya bertentangan, dapat dilakukan bersama-sama. Yesus sendiri menanti-nantikan saatnya di mana Ia dapat menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (lih. Luk 12:50), sebagai tanda betapa besar kasih-Nya dan Ia mau melakukan pengorbanan-Nya dengan rela, agar kita dapat memperoleh hidup yang kekal. Lewat korban salib-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita, tanpa kata-kata, bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan sukacita akan mendatangkan kebahagiaan yang sejati, yaitu keselamatan kekal dalam Kerajaan Surga.

Demikianlah, bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita akan kasih karunia Allah yang dinyatakan-Nya secara sempurna melalui pengorbanan Kristus itu. Oleh pengorbanan Kristus itu, kita dihidupkan bersama-sama dengan Dia. Rasul Paulus mengawali suratnya dengan kalimat ini, “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan… supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus” (Ef 2:5-7). Adakah kasih yang lebih besar daripada kasih yang mampu memberikan hidup pada seseorang yang sudah mati? Betapa besar kasih karunia-Nya, yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita di dalam Kristus, yang memberikan kepada kita hidup ilahi-Nya! Betapa kita patut bersukacita karenanya! Sebab walaupun kita telah berdosa, dan layak menerima maut oleh karena kesalahan kita, Tuhan Yesus tetap mau mengampuni kita. Tuhan selalu memberikan kepada kita kesempatan untuk bertobat, sebagaimana Ia telah berkali-kali mengampuni bangsa Israel yang sering berubah setia (lih. 2Taw 36:14). Tuhan tetap mendorong kita umat-Nya, agar kembali kepada-Nya. Demikianlah, Tuhan selalu menyertai kita dengan kasih karunia-Nya, mendorong kita untuk senantiasa mengimani Dia dan melakukan perbuatan- perbuatan baik, agar kelak kita dapat beroleh kasih karunia-Nya yang berlimpah di Surga sampai selama-lamanya.

Maka kasih karunia dan iman adalah dua hal yang tak terpisahkan, sebagaimana dinyatakan dalam bacaan Injil hari ini. Dari pihak Allah, Ia telah menunjukkan kasih-Nya dengan mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal; dan dari pihak manusia, kita menanggapinya dengan percaya dan mengimani Dia. Hanya jika kita menanggapi kasih-Nya dengan percaya kepada-Nya, kita dapat beroleh hidup yang kekal. Maka kasih karunia Allah itu membutuhkan tanggapan dari kita, yang kita nyatakan dengan sejauh mana kita mau mengikuti Dia. Maukah kita hidup di dalam terang kasih-Nya dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik? Ataukah kita malah memilih hidup dalam kegelapan seturut kehendak kita sendiri? Sebab terang Kristus akan menyatakan apakah perbuatan kita adalah perbuatan yang baik atau sebaliknya. Di masa Tobat ini, kita diajak kembali kepada terang Kristus, dan kembali ke jalan-Nya. Memilih jalan Tuhan—rela mengampuni, berbelas kasih, menghindari segala dosa—memang tidaklah mudah. Seringnya dibutuhkan pengorbanan, yaitu untuk mematikan ke-ego-an kita, agar kita bisa mengikuti teladan-Nya. Oleh karena jalan pengorbanan itulah yang dipilih oleh Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita, maka tak mengherankan, bahwa jalan itu pulalah yang dapat menyatakan kasih kita kepada-Nya dan kepada sesama. Dan jika Kristus telah melakukannya dengan sukacita, maka kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Jika dalam kehidupan ini, kesulitan dan pergumulan tidaklah secara total dapat dihindari, maka pilihannya bagi kita adalah, apakah kita akan menerimanya sambil bersungut-sungut, atau menerimanya dengan sukacita? Sebab bersama Yesus, salib kehidupan itu akan diubah-Nya menjadi kemuliaan pada waktu-Nya.

Maka marilah mengikuti Yesus dengan sukacita ke Yerusalem, ke Kalvari, kepada Salib itu, dan salib kehidupan kita. St. Jose M. Escriva mengatakan, “Bukankah benar, ketika kamu berhenti takut kepada salib, kepada apa yang orang katakan sebagai salib, dan ketika kamu berketetapan akan menerima kehendak Tuhan, di saat itulah kamu akan menemukan kebahagiaan, dan semua kekuatiranmu, dan semua penderitaanmu, akan sirna?” (The Way of the Cross, Second Station) Semoga Tuhan memberikan kepada kita sukacita sejati, sebab kita percaya bahwa kasih karunia-Nya akan mendatangkan kebaikan bagi kita yang percaya dan berharap kepada-Nya.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab