Home Blog Page 49

Allah Mengingat Perjanjian-Nya, Bagaimana dengan Aku?

0
Sumber gambar: https://virgoclemens.wordpress.com/2014/06/21/jesus-temptations/

[Hari Minggu Prapaskah I: Kej 9:8-15; Mzm 25:4-10; 1Ptr 3:18-22; Mrk 1:12-15].

Di awal masa Prapaska ini, sabda Tuhan mengingatkan kita akan kesetiaan Tuhan pada perjanjian-Nya (lih. Kej 9:15). Mazmur hari ini juga mengumandangkannya, “Tuhan adalah kasih setia, bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya” (Mzm 25:10). Maka kita diingatkan bahwa dalam perjanjian ini ada dua pihak yang terlibat. Pertama adalah pihak Allah, dan kedua, adalah pihak manusia, yaitu kita. Dari pihak Allah, Ia selalu setia, namun bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan aku, setiakah aku pada Tuhan?

Masa Prapaska adalah masa retret agung yang setiap tahun dirayakan oleh Gereja Katolik menjelang Paskah. Masa persiapan 40 hari ini mengacu kepada masa di mana Tuhan Yesus sendiri mengawali pelayanan publik-Nya dengan berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Di sanalah Ia dicobai oleh Iblis. Kadang aku bertanya kepada diri sendiri, mengapa, Tuhan Yesus kok mau-maunya membiarkan diri-Nya dicobai oleh Iblis? Ada suatu elemen misteri di sini. Namun Tuhan Yesus memang menghendaki agar Ia mengalami segala hal yang dialami oleh manusia termasuk berbagai kesulitannya, agar Ia dapat meninggalkan contoh bagi kita, bagaimana seharusnya kita mengalahkan pencobaan. “…. Sebab oleh karena Ia [Yesus] sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (Ibr 2:18). Bukankah kita cenderung lebih mudah menangkap pelajaran, jika kita diberi contoh soal? Tidak seperti Injil Matius dan Lukas yang mengisahkan secara rinci pencobaan yang dialami Yesus, Injil Markus hari ini hanya menyebutkan secara ringkas tentang peristiwa tersebut. Namun kita mengetahui bahwa Yesus tidak jatuh dalam pencobaan, dan bahwa akhirnya, malaikat-malaikat Tuhan melayani Dia (lih. Mrk 1:13). Dalam kelaparan, kehausan dan kesendirian-Nya di padang gurun, Tuhan Yesus tidak menyerah kepada godaan iblis yang ingin membuat-Nya terjebak dalam keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan. Godaan-godaan serupa ini juga kita alami sekarang dalam keseharian kita. Akupun sering heran, mengapa godaan seringnya timbul pada saat aku sedang bertekad untuk tidak memikirkannya. Misalnya, biasanya aku tidak begitu suka jajan atau ngemil, tapi mengapa pada saat aku bertekad untuk tidak ngemil sama sekali, tiba-tiba perut yang biasanya tidak lapar, mendadak bisa lapar sekali. Begitu aku bertekad untuk tidak membicarakan orang lain, mengapa pas hari itu ada orang yang begitu menjengkelkan aku? Begitu aku bertekad untuk menjadi sabar, mengapa malah timbul keadaan yang membuat aku gregetan? Begitu berniat untuk lebih rendah hati, mengapa datang pengalaman diremehkan, bahkan dimarahi orang untuk suatu tuduhan yang keliru? Tetapi justru melalui berbagai kejadian itu, aku  teringat  bahwa Tuhan Yesus juga pernah mengalami pencobaan seperti yang kualami, namun tidak mengalah kepada kecenderungan berbuat dosa. Yesus, “dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita…. sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Maka pencobaan diizinkan Allah untuk membuat kita semakin teguh melawan dosa. Tuhan “mengizinkan pencobaan, dan menggunakannya untuk memurnikan kamu, untuk menguduskanmu, membuatmu lebih terlepas dari hal-hal duniawi, mengarahkan kamu kepada-Nya dan mengambil jalan yang Ia kehendaki bagimu, agar kamu bisa hidup bahagia di tengah dunia yang mungkin tidak nyaman; untuk memberikan kedewasaan iman, pengertian dan dayaguna dalam karya kerasulanmu, dan …. di atas semua itu, untuk membuatmu menjadi rendah hati…” (Salvatore Canals, Jesus as Friends). Dengan mengandalkan rahmat-Nya, kita percaya Tuhan Yesus akan membantu kita untuk hidup mengikuti teladan-Nya, yaitu dengan kerendahan hati mematahkan jerat dosa yang utama, yaitu kesombongan.

Di masa Prapaska ini kita dipanggil untuk mengikuti Kristus dan mengambil bagian dalam cara yang dipilih-Nya untuk mengalahkan kuasa dosa. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). Kristus mau agar kita menyangkal diri —artinya memilih untuk tidak melakukan apa yang kita sukai dan yang sebenarnya boleh kita lakukan— agar kita dapat mengikuti jejak-Nya. Ia yang adalah Allah dan Empunya segala sesuatu, telah dengan rela merendahkan diri-Nya, mengambil rupa manusia, hidup miskin dan wafat dengan cara yang hina, demi menyelamatkan kita. Sesungguhnya apapun bentuk pengorbanan kita tak akan dapat dibandingkan dengan besarnya pengorbanan Kristus bagi kita. Namun justru  jarak tak terhingga antara pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus, mengingatkan kita akan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita. Kita diingatkan akan kesetiaan Tuhan pada perjanjian-Nya bahwa Tuhan berkehendak menyelamatkan kita, apapun harganya, asal kita mau setia berpegang kepada perjanjian-Nya, senantiasa “bertobat dan percaya kepada Injil” (Mrk 1:15). “Tuhan Yesus, di masa Prapaska ini, topanglah aku dengan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengalahkan segala kecenderunganku terhadap dosa, terutama dosa yang begitu sering kuulangi. Bantulah aku setia kepada-Mu, sebagaimana Engkau selalu setia kepada perjanjian-Mu, untuk menyelamatkan aku. Amin.

Jamahlah Aku, ya Tuhan, Maka Aku Akan Sembuh!

0
Sumber gambar: http://bible-library.com/imageresults?searchtext=jesus,miracle,leper

[Hari Minggu Biasa ke-VI: Im 13:1-2.44-46; Mzm 32:1-2.5.11; 1Kor 10:31-11:1; Mrk 1:40-45].

Tak terbayangkan olehku, betapa memalukannya menjadi seorang yang sakit kusta, di zaman nabi Musa (lih. Im 13 dan 14) bahkan sampai ke zaman Yesus. Sudah badannya sakit, masih ditambah dikucilkan semua orang, termasuk oleh keluarganya sendiri. Ia harus memakai pakaian yang rombeng, dan membiarkan rambutnya terurai —mungkin maksudnya biar terlihat acak-acakan dan menarik perhatian. Ia harus menutupi mukanya sambil berteriak-teriak, “Najis! Najis!” supaya orang-orang menjauh dan tidak tertular. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit dan mata, anggota-anggota tubuh yang memendek dan bengkok…. Singkatnya, membuat orang yang terkena penyakit itu menjadi buruk rupa.

Jika demikian keadaan orang kusta itu, tidaklah mengherankan jika ia menjadi nyaris putus asa, karena kesembuhan yang dinanti nampak mustahil, seiring dengan bertambah parahnya penyakitnya. Dalam keadaan semacam ini, ia mendengar tentang Yesus yang dikabarkan telah menyembuhkan banyak orang sakit (lih. Mrk 1:34). Maka orang kusta itu pun nekad mendatangi Yesus. Walau menurut hukum Musa, orang kusta harus tinggal terasing di luar kota, namun hari itu ia masuk kota untuk menemui Yesus yang sedang berkeliling di sekitar Galilea. Ia datang kepada Yesus. Tersungkur dan berlutut di hadapan Tuhan Yesus, ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu. Tak sulit membayangkan betapa besar kasih Yesus kepadanya dan oh, betapa besar rasa syukur orang kusta itu, ketika mendengar perkataan Yesus, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Suatu adegan yang mestinya sangat membekas di hati para murid-Nya, sehingga  ketiga penulis Injil —Matius, Lukas dan Markus— mencatat frasa yang sama persis: Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu. Yesus tidak segan menjamah orang itu, walaupun menurut hukum Musa, orang yang menyentuh seorang yang kusta akan dianggap najis. Namun Yesus tidak berada di bawah hukum Taurat, melainkan berada di atasnya. St. Bede mengatakan, “Tuhan Yesus datang tidak untuk membatalkan hukum Taurat namun untuk menggenapinya. [Maka] orang yang dikeluarkan oleh hukum Taurat ditahirkan oleh kuasa Tuhan Yesus. Rahmat yang membersihkan kotoran kusta orang itu tidak datang dari hukum Taurat, tetapi dari Yang ada di atas hukum Taurat…. Dengan menjamah orang kusta itu, Yesus membuktikan bahwa Ia tidak dapat menjadi najis [oleh hukum itu]. Sebab yang terjadi adalah sebaliknya, Ia membebaskan orang yang sakit itu dari kenajisannya. Juga mengagumkan, bahwa Yesus menyembuhkan dengan cara yang sama dengan cara bagaimana orang itu telah memohon agar disembuhkan….” (St. Bede, Marc. i,9) Orang kusta itu telah merendahkan dirinya, dengan datang berlutut di hadapan Yesus, maka Yesuspun datang merengkuhnya, menjamahnya dan menyembuhkan dia.

Rindukah kita akan belas kasih Tuhan seperti ini? Sebenarnya, Tuhanlah yang lebih dulu rindu menyembuhkan kita dari segala kelemahan dan dosa kita. Kita tak perlu berlama-lama menunggu agar Yesus datang melintasi tempat tinggal kita. Setiap hari kita dapat menjumpai-Nya dalam Ekaristi kudus, dalam tabernakel-Nya, dan dalam jiwa kita sendiri jika kita berada dalam keadaan rahmat. Dan secara khusus, Yesus hadir dalam sakramen Pengakuan dosa. Di sanalah Ia akan menyembuhkan kita dari segala dosa kita, jika kita membiarkan rahmat-Nya menembus kedalaman jiwa kita. Namun untuk memperoleh kesembuhan itu, diperlukan kerendahan hati dari pihak kita, seperti yang dilakukan oleh orang kusta itu. Kemunafikan dan kesombongan yang membuat kita menyembunyikan kesalahan, sesungguhnya merupakan penyakit terburuk bagi jiwa kita. Sebab sikap ini membuat kita tidak pernah sungguh bertobat. Namun kejujuran terhadap diri sendiri dapat membantu kita melihat segala kelemahan kita. Kerendahan hati untuk mengakui dosa-dosa kita adalah syarat utama agar jiwa kita dapat disembuhkan oleh Tuhan. Maka marilah kita mempersiapkan hati untuk memasuki Masa Prapaska yang telah menanti di ambang pintu. Dengan pertobatan sejati, marilah kita menghampiri sakramen Pengakuan Dosa, untuk menjumpai Tuhan Yesus sendiri yang melalui para imam-Nya, akan mengampuni kita.

Biarlah dengan tersungkur di hadapan Tuhan, seperti orang kusta itu, aku berseru, “Ya Tuhan, kalau Engkau mau—dan aku tahu Engkau selalu mau—Engkau dapat menyembuhkan aku. Inilah kelemahan dan dosa-dosaku… Engkau tahu aku telah mengalami pergumulan ini, yang membuatku merasa tak berdaya. Tuhan, inilah luka-luka di jiwaku. Jika luka-luka ini bahkan telah membengkak, aku tak malu memperlihatkan semua itu kepada-Mu, sebab kuyakin Engkau dapat menyembuhkannya. Berbelas kasihanlah kepadaku, ya Tuhan, dan ampunilah aku. Biarlah aku mendengar perkataan-Mu yang kurindukan itu, “Aku mau. Jadilah engkau sembuh.” Dan jamahan-Mu itu tentu akan menyembuhkan dan memulihkan jiwaku. Terima kasih ya Tuhanku, dan Allahku. Amin.

Kacamata Tuhan

0

Di dalam kehidupan ini, banyak kejadian yang tak terduga, tetapi bermakna. Pada tanggal 06 Januari 2015, aku diminta melayani Misa tutup peti dari seorang ibu di Oasis Lestari. Awalnya aku tidak mengenalnya, yang penting aku melayaninya. Sesampainya di rumah duka itu, aku terkejut karena aku pernah mengunjunginya di rumahnya di Melati Mas, Paroki Santa Monika, Serpong. Ibu itu sudah menderita stroke selama lima tahun.

Sebelum Misa, kenangan terhadap ibu itu terputar kembali dalam otakku. Ibu itu memberi inspirasi dalam hidupku dan hidup umat di wilayah Melati Mas. Kenangan itu begitu dalam pada jiwaku sehingga tak sengaja tanganku menyentuh kacamataku sehingga jatuh di lantai dan pecah. Kacamataku yang pecah itu mengingatkan aku akan prinsip rohani yang membuatnya bersemangat untuk melayani dalam keterbatasannya. Walaupun menderita stroke, ia tetap melayani dengan mengumpulkan beras dan menyalurkannya ke beberapa panti asuhan. Kehendak untuk dapat menyalurkan kasih ini memberikan semangat dalam melatih diri sehingga kondisinya semakin membaik. Matanya yang buta menjadi terang kembali sehingga bisa melihat dengan lebih baik daripada sebelumnya. Ia juga sudah bisa berbicara walaupun masih pelo/terbata-bata. Ia pun sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih setelah mengalami kelumpuhan. Ketika aku bertanya kepadanya tentang apa yang membuatnya bersemangat dalam hidupnya dan dalam pelayanan kasih, jawabannya tak terduga dan memberi inspirasi bagi orang yang mendengarkannya. Jawaban yang penuh inspirasi itu: “Romo, saya selalu mengenakan kacamata. Kacamata ini bukan kacamata biasa. Kacamata biasa bisa retak sehingga pandangan kita terhadap orang-orang di sekitar kita menjadi kacau. Kacamata yang senantiasa aku kenakan adalah kacamata Tuhan. Kacamata Tuhan sangat tajam sehingga Ia melihat ke kedalaman hati manusia. Dengan mengenakan kacamata Tuhan, aku tahu mimpi-Nya. Mimpi Tuhan menjadi mimpiku. Mimpi Tuhan adalah Ia ingin selalu mencurahkan kasih-Nya kepada umat-Nya, khususnya yang menderita. Aku bersemangat untuk menjalani hidup ini supaya aku dapat semakin panjang bisa mewujudkankan mimpi Tuhan itu. Dengan mengenakan kacamata Tuhan, jalan kepadaNya sangat jelas, yaitu jalan kasih. Karena itu, aku mantap dan tak tergoyahkan oleh penyakit strokeku untuk terus berbuat kasih kepada sesamaku”.

Kacamata Tuhan yang ia hayati dalam hidupnya semakin dapat aku mengerti ketika aku menyetir mobil sendiri tanpa kacamata dari Oasis Lestari menuju Pastoran Gereja Santa Odilia – Citra Raya- Tangerang. Pandanganku menjadi gelap dan tak jelas. Pandangan yang tak jelas membuatku penuh keraguan. Akibatnya, jarak lima kilo meter aku tempuh selama dua jam.

Pesan yang sangat indah dari kehidupan ibu itu: Kenakan kacamata Tuhan! Mengenakan kacamata Tuhan berarti mengenakan kacamata belaskasih-Nya: “Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia” (Matius 20:34). Dengan mengenakan kacamata Tuhan, hidup tidak hanya berkutat pada diri sendiri, tetapi peka terhadap penderitaan dan kesulitan sesama. Belas kasih yang kita kenakan akan membuat Tuhan mempesona bagi banyak orang.

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Alat Bantu Dengar Rohani

0
Sumber gambar: http://www.wisegeek.com/what-are-hearing-impaired-telephones.htm

Suatu hari ayah saya memeriksakan telinganya ke dokter ahli THT. Karena faktor usia, pendengaran beliau sudah berkurang dan dokter menyarankannya untuk menggunakan alat bantu dengar. Bagiku dan kebanyakan orang, dalam hal mendengarkan orang lain, sekalipun pendengaran kita masih normal, mendengarkan tidaklah selalu mudah. Apalagi untuk menjadi seorang pendengar yang baik, di mana aku tidak cukup hanya mendengar, tetapi mendengarkan.

Ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Mendengar hanya membutuhkan telinga, tetapi mendengarkan dengan baik, melibatkan hati. Dibutuhkan kemauan dan kerendahan hati untuk melupakan diriku sejenak dan mencoba mengerti apa yang dirasakan orang lain lewat pembicaraannya. Mendengarkan dengan baik juga termasuk mengamati bahasa tubuh lawan bicara, karena seringkali maksud yang sesungguhnya justru tidak terkatakan secara verbal, namun secara tak sadar disampaikan lewat bahasa tubuh. Komunikasi dalam keluarga atau di antara rekan sekerja tidak menghasilkan hubungan yang hangat atau bermanfaat manakala kita tidak saling mendengarkan dengan baik. Maksud yang ditangkap secara salah akhirnya akan menghasilkan respon yang juga tidak tepat, sehingga relasi yang saling menumbuhkan dan memberikan arti yang baik bagi kedua pihak tidak terjadi.

Menurut sumber yang pernah kubaca, rata-rata kita hanya mampu mendengarkan dengan konsentrasi penuh di tujuh menit pertama saja dari sebuah pembicaraan, dan setelah itu konsentrasi kita pelan-pelan berkurang, apalagi bila kemudian terjadi komplikasi seperti hal-hal ini:
-aku sibuk memikirkan ide atau gagasanku sendiri untuk segera diucapkan, sehingga mengurangi daya serapku kepada apa yang sedang dibicarakan sesamaku
-aku tidak cukup sabar / rendah hati untuk menunggu lawan bicaraku selesai bicara, apalagi ketika apa yang ia kemukakan itu sesuatu yang tidak kusukai atau bertentangan dengan nilai-nilai yang kuyakini
-isi pembicaraan itu sesuatu yang sudah kekutahui atau aku merasa tahu lebih banyak dari lawan bicaraku
-aku kurang menghargai buah pikiran sesama atau terburu-buru menghakimi apa yang diucapkannya
-aku sedang sibuk dengan pekerjaan atau keprihatinanku sendiri, atau pikiran sedang melayang ke berbagai hal, sehingga aku tidak mendengarkan dengan seksama

Akibat dari berbagai komplikasi itu, aku tidak fokus kepada isi pembicaraan, atau tidak menunjukkan keseriusan mendengarkan, atau bahkan lantas memotong pembicaraan. Dan demikianlah komunikasi yang baik dan kesempatan untuk memberikan kasihku lewat mendengarkan akhirnya tidak tercapai. Padahal dari aktivitas mendengarkan dengan baik sehingga bisa merespon dengan tepat, hadir banyak kesempatan berbuat kebaikan dan menyampaikan kasih Tuhan kepada sesama atau sebaliknya, menerima sapaan kasih Tuhan buat kita lewat sesama. Baiklah kita juga mengingat pengajaran Rasul Yakobus mengenai mendengarkan: ”Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak 1:19)

Mendengarkan dengan baik adalah tanda kasih dan pemberian diriku kepada orang lain. Untuk menghadapi tantangan komplikasi dalam mendengarkan, hati harus dilibatkan, dan untuk itu, aku perlu merelakan egoku. Sepanjang yang kualami, hanya kasih yang bermuara dari kasihku kepada Tuhan yang dapat membantuku mengendalikan ego.

Pengalaman mendengarkan orang lain dengan hati juga membantu kita menjalin relasi kasih dan ketaatan terhadap Tuhan. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar”
adalah kalimat seruan yang berkali-kali Yesus ucapkan setelah menceritakan sebuah kisah perumpamaan untuk mengajar para murid-Nya (salah satunya dalam Mat 11:15). Mendengarkan dengan baik memampukan kita menangkap esensi dari pesan yang disampaikan Yesus, menghayatinya, dan membantu kita menerapkan ajaran-Nya itu dalam tindakan nyata. Bagaimana aku mendengarkan Tuhan selama ini?

Tuhan ingin selalu hadir dalam pergumulan kita setiap hari. Ia rindu mencurahkan kasih setia-Nya kepada kita, setiap saat. Sayangnya, karena tidak meluangkan waktu dan perhatian khusus untuk mendengarkan Dia, atau tidak mengundangNya untuk selalu terlibat di dalam setiap keputusan dan pertimbanganku, dengan sendirinya aku jadi tidak peka untuk menangkap pesan-pesan-Nya yang lembut dan sarat dengan kasih. Sesungguhnya tidak jarang ketika aku sedang sedih, kehilangan motivasi, atau saat sedang cenderung berbuat dosa, Tuhan mengirimkan peneguhan-Nya dan teguran-Nya dengan segera, baik lewat bacaan Kitab Suci, di dalam perenungan pribadi dan Ekaristi, atau lewat bacaan apapun di dekatku, dan juga lewat hal-hal yang dikatakan orang lain padaku. Tuhan hadir dalam setiap peristiwa hidup kita dari peristiwa yang besar hingga aspek yang terkecil. Justru Tuhan sering menyapa kita lewat peristiwa sehari-hari yang sederhana. Kesadaran itu amat indah. Tetapi Tuhan kerap terasa tidak ada dalam suka duka kehidupan ini, karena aku tidak mengundangNya, tidak pertama-tama menceritakan atau bertanya tentang segala sesuatu pada Dia yang selalu menyertaiku, sebelum aku menceritakannya kepada orang lain atau mengambil keputusan sendiri. Sebab kita ingat bahwa “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh 1:3). St. Gregorius dari Nazianze pernah mengatakan, “Kita harus mengingat Allah lebih sering daripada tarikan napas kita”.

Tuhan selalu memandu dan menunjukkan jalan terbaik untuk kita, jika hati kita terarah selalu kepadaNya, karena Ia mengatakan dalam Wahyu 3:20, ”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”, dan dalam Amsal 3:6 kita mendapati pesan senada “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Tetapi dalam Ibr 3: 15 Rasul Paulus menasehati,“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”

Lectio Divina yang sudah menjadi tradisi umat Katolik sejak ribuan tahun adalah suatu bentuk latihan mendalami kata-kata yang Tuhan sampaikan di dalam Kitab Suci, dapat dibaca di sini selengkapnya: https://katolisitas.org/2376/lectio-divina. Lectio Divina adalah saat kita meluangkan waktu khusus dalam diam dan keterbukaan hati di hadirat-Nya untuk menerima sapaan-Nya lewat kata-kata-Nya di dalam Kitab Suci. Merayakan Misa Kudus dan Adorasi juga suatu latihan sekaligus kesempatan yang indah dan intim untuk mengalami kehadiran Kristus yang nyata dan mendengarkan suara Tuhan yang lembut di dalam hati kita. Kesadaran bahwa Tuhan selalu ada dan dekat pada setiap langkah hidup kita adalah sebuah kekayaan rohani yang amat indah dan meneguhkan. Itulah sebabnya kepada mereka yang percaya, Tuhan Yesus mengatakan, ”Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar“ (Mat 13:16).

Teladan Bunda Maria menunjukkan pada kita anak-anaknya, bagaimana cara terbaik mendengarkan Tuhan dengan setia, sehingga beliau mampu menjadi pelaku Firman yang konsisten dan membawa manusia dalam kepenuhan rencana agung-Nya. Bunda mendengarkan Tuhan melalui kebiasaan beliau menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Luk 2:19). Kebiasaan kudus Bunda itu mengajar kita bahwa merenungkan segala sesuatu dalam hati dengan terang iman dan kasih padaNya adalah awal perjalanan ketaatan kita menerima bimbingan Tuhan dan melaksanakan kehendak-Nya. Tuhan juga rindu agar kita menangkap pesan-pesan keselamatan dariNya. Hati yang dipenuhi kasih pada Allah akan menjadi alat bantu dengar rohani yang terbaik. Mari kita berdoa pada Tuhan agar Ia menajamkan pendengaran kita untuk mendengar seperti seorang murid (bdk. Yes 50:4b).

Doa: Terima kasih Tuhan, setiap pagi Engkau menyapa kami satu persatu dengan kasih-Mu yang tidak berkesudahan. Kami pun rindu mengundang Roh Kudus-Mu untuk memampukan kami mendengarkan Engkau dengan segenap hati, dalam semangat ketaatan dan kerendahan hati. Supaya kami selalu bersukacita menyadari berkat-Mu yang tidak pernah jeda, dan boleh senantiasa berada dalam kepenuhan rancangan-Mu yang agung. Dalam nama Yesus Tuhan dan Guru kami, dan teladan Bunda Maria kekuatan kami, kami berdoa, amin.

Mendoakan Firman Tuhan : Doa Mohon Pasangannya Menjadi Seiman

0
Sumber gambar: http://www.boundless.org/adulthood/2005/pray-boldly

Refleksi Iman oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika istri mengalami luka dan sakit hati karena pasangannya tidak seiman, ia bisa memenangkan suaminya dengan mendoakan Firman Tuhan dari 1 Petrus 3:1-4: “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas, atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah”.

2. Maksud Ayat-Ayat Kitab Suci itu

1 Petrus 3:1-4 dapat dimengerti dengan memahami budaya Yunani yang melatarbelakanginya. Dalam budaya Yunani, istri menyangkut keturunan yang sah bagi suami. Istri bukan hamba, tetapi dituntut untuk taat kepada suami. Ketaatan istri terhadap suami juga termasuk dalam hal agama. Seorang istri harus mengikuti agama suaminya. Berdasarkan latar belakang budaya Yunani itu, Petrus mengalamatkan nasihatnya ini untuk para istri yang suaminya tidak seiman karena jarang ada istri yang tidak mengikuti agama suaminya. Petrus menasihati para istri yang suaminya tidak seiman untuk memenangkan suaminya bagi Kristus. Para istri itu dapat membawa suaminya yang tidak seiman pada Kristus dengan kesaksian hidup. Kesaksian hidup para istri ini menyangkut sikap dan cara hidup yang baik. Sikap hidup ini menyangkut perilaku yang saleh dan murni. Perilaku hidup yang saleh dan murni ini terungkap dalam sikap tunduk terhadap suaminya. Sikap tunduk ini tidak berarti harus mengikuti kepercayaan suaminya, tetapi siap tidak mengikuti agamanya. Tunduk kepada suaminya berarti menjadi istri yang baik. Cara hidup yang baik adalah keindahan batiniah, yang menyangkut pembaharuan batin. Perhiasan batiniah menyangkut kelemahlembutan dan keramahan. Dengan mengenakan perhiasan batiniah itu, para istri akan menyinarkan Kristus sehingga akan menarik para suaminya yang tidak seiman.

Pernikahan istri dengan suami yang tidak seiman merupakan realita kehidupan. Pernikahan dengan suami yang tidak seiman akan membuat hidup istrinya penuh dengan kesulitan dan deraian air mata. Dalam pernikahan dengan pasangan yang tidak seiman akan terjadi perbedaan cara penanganan masalah. Para suami yang tidak seiman akan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kegiatan-kegiatan rohani istrinya. Istri dengan pasangan yang tidak seiman merasa kesepian terutama ketika pergi ke gereja sendirian. Anak-anak pun bingung dengan pendidikan iman yang berbeda. Hal-hal kecil dan besar sering menyebabkan keributan karena konsep kehidupan yang berbeda. Semuanya bersumber pada ungkapan ini: “Betapa sulitnya mendayung perahu dengan dayung yang berbeda”.

Istri dapat memenangkan suaminya yang tidak seiman dengan tetap teguh pada prinsip-prinsip Firman Tuhan. Prinsip-prinsip Firman Tuhan itu:

a. Cantik Batiniah

Para istri dapat memenangkan suaminya yang tidak seiman bukan dengan menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk berdandan, tetapi terus mengenakan perhiasan batiniah. Perhiasan batiniah itu akan membuat dirinya cantik yang muncul dari hatinya yang penuh dengan kesabaran, kelemahlembutan, ketabahan, dan tanggung jawab. Kecantikan batiniah ini akan lebih indah daripada kecantikan karena make up yang menghabiskan berjuta-juta rupiah. Kecantikan batiniah para istri akan membuat suaminya melihat iman kristiani itu indah. Kecantikan batiniah adalah cara yang paling jitu untuk memenangkan suaminya yang tidak seiman dengan tanpa kata.

b. Tetap hidup dengan sukacita

Para istri tetap hidup dalam sukacita walaupun banyak penderitaan dan kesulitan karena suaminya tidak seiman. Sukacita istri akan membuat hidup keluarga bahagia. Kebahagiaan keluarga yang diciptakan oleh sang istri akan membuat suaminya mengerti sukacita istrinya mengalir dari imannya.

c. Tetap Tekun Berdoa

Walaupun belum ada tanda-tanda bahwa suaminya akan mengikuti imannya, istri hendaknya tetap tekun berdoa. Tuhan pasti akan memperhatikan permohonan orang yang tetap berharap kepadanya: “Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zefanya 3:17a)

3. Doa

Jadikan Pasanganku Menjadi Seiman


“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:1-4).

Allah Bapa Yang Maha Baik,

Suamiku adalah anugerah terindah yang Engkau berikan untukku.
Suamiku adalah orang yang kukasihi selama hidupku.
Dan aku bahagia menghabiskan hidupku bersamanya.

Kebahagiaan rumah tanggaku akan menjadi sempurna ketika suamiku menjadi seiman.

Perbedaan iman sering menjadi penyebab keributan dan salah paham.

Saling menyalahkan menjadi makanan sehari-hari.

Anak-anakku menjadi bingung atas perbedaan iman ini.

Aku telah mendoakan suamiku agar menjadi seiman denganku, tetapi belum terjadi perubahan sampai sekarang.

Aku kini mengerti bahwa kecantikanku secara batiniah merupakan jalan yang membuat suamiku tertarik dengan imanku.

Berikan aku ketekunan untuk senantiasa mengenakan perhiasan batiniah, yaitu kesabaran, kelembutan, dan rasa tanggung jawab sebagai istri.

Aku yakin bahwa kecantikan batiniah yang aku bangun akan membuat suamiku melihat keindahan dari imanku.

Amin.

Catatan : Artikel ini memang ditujukan kepada para istri yang suaminya yang tidak seiman. Alasannya adalah budaya patriarkal dalam lingkungan kita masih kuat, yaitu istri harus mengikuti suaminya dalam segala hal. Karena itu, banyak istri kristiani mengalami kesulitan ketika suaminya tidak seiman.

Tiada Syukur Tanpa Mewartakan Injil

0
Sumber gambar: http://bryananthony.org/2013/09/18/the-cruciality-of-preaching-in-the-apostolic-view/

[Hari Minggu Biasa ke-V: Ayb 7:1-4,6-7; Mzm 147:1-6; 1Kor 9:16-19, 22-23; Mrk 1:29-39].

Peduli pada sesama, itulah wujud syukur… kar’na tiada syukur, tanpa peduli…” Demikian sepenggal lirik lagu Tahun Syukur, yang mulai akrab di telinga kita, umat Keuskupan Agung Jakarta. Namun hari ini Rasul Paulus mengingatkan kita satu hal yang tiada terpisahkan dari “peduli pada sesama” sebagai wujud syukur, yaitu: mewartakan Injil. Sebab jika kita sungguh peduli pada sesama, kita tidak akan hanya peduli pada kebutuhan jasmani mereka untuk hidup di dunia ini, tetapi juga kebutuhan rohani mereka untuk hidup yang kekal. Sebab sesungguhnya setiap manusia merindukan Kasih Ilahi, dan hanya Tuhanlah yang dapat memenuhi kerinduan ini. Itulah sebabnya, setelah Rasul Paulus mengalami kasih Tuhan Yesus yang luar biasa yang mengubah hidupnya, ia menjadi begitu bersemangat untuk membagikan pengalamannya itu kepada sesamanya. Ada luapan rasa syukur yang membuatnya seolah ingin membalas “hutang” kasihnya kepada Tuhan, dengan memberitahukan kepada semua orang akan kasih Allah yang tiada terukur yang telah diterimanya di dalam Yesus Kristus. Betapa ia menghendaki agar semua orang, seperti dirinya, menemukan Kristus di dalam Injil! Maka dengan hati berkobar, Rasul Paulus berseru, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16)

Pertanyaannya adalah, apakah hati kita juga berkobar seperti Rasul Paulus, untuk mewartakan Injil—Kabar Sukacita Kristus? Atau pertanyaan yang mestinya lebih dulu ditanyakan adalah, apakah kita sudah berjumpa dengan Kristus dalam Injil, sehingga kita dapat mewartakannya? Sebab kita tak dapat membagikan kepada orang lain, apa yang kita sendiri tidak punya. Injil mengungkapkan kepada kita, Allah adalah Kebenaran dan Kasih, yang dirindukan oleh umat manusia. Oleh Baptisan, kita sesungguhnya telah memperoleh Kebenaran yang menyelamatkan itu, dan Kasih, yang memuaskan kehausan jiwa kita. Sebab oleh Baptisan, Allah menjadikan kita sebagai tempat kediaman-Nya sendiri. Namun mengapa kita “belum berkobar” seperti Rasul Paulus?

Dalam surat ensikliknya yang pertama, Lumen Fidei, Paus Fransiskus menghubungkan Kebenaran dengan pengalaman perjumpaan dengan Kristus. “Kebenaran yang diungkapkan iman kepada kita adalah sebuah kebenaran yang berpusat pada sebuah perjumpaan dengan Kristus, pada permenungan akan hidup-Nya dan pada kesadaran akan kehadiran-Nya…” (LF 30). Sedangkan iman itu sendiri, kata Paus, “lahir ketika kita menerima cinta kasih Allah yang begitu besar yang mengubah kita dari dalam” (LF 26), sehingga kita melihat realita kehidupan dengan mata yang baru. Maka di sini, Paus Fransiskus menekankan pentingnya pengalaman perjumpaan kita dengan Kristus dan pengalaman kita menerima cinta kasih Allah. Bagaimanakah caranya? Dalam salah satu homilinya, Paus Fransiskus mengajak umat untuk menerima Sabda Tuhan setiap hari dengan dua cara sederhana. Pertama, dengan mendengarkan homili dari imam dan merenungkannya. Kedua, Paus mengatakan dengan selorohnya yang khas, “Apakah aku dapat—perhatikan pertanyaan ini— apakah aku dapat membeli kitab Injil yang kecil, yang murah, eh? Dan menaruhnya di kantongku, di tas-ku, dan mengeluarkannya ketika aku dapat, sepanjang hari, untuk membaca satu perikopnya, dan menemukan Yesus di sana?” (Homili, Santa Marta, 1/9/2014). Sepertinya ini adalah hal kecil dan sederhana, tapi mungkin kita belum melaksanakannya. Yaitu membaca dan merenungkan Injil di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari. Mungkin kita lebih sering melihat HP, daripada membaca/ merenungkan Injil. O ya, meskipun kita mempunyai aplikasi Kitab Suci di HP kita, tapi berapa sering kita membacanya? Jangan-jangan kita lebih sering membaca Facebook daripada Holybook [Kitab Suci]. Padahal Kristus rindu untuk menjumpai dan menyapa kita lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci. Ia rindu mengingatkan kita bahwa Ia hadir, dalam sabda-Nya, dalam sakramen-Nya, dalam diri kita, dalam sesama kita dan bahkan dalam penderitaan kita. Jika kita mampu menangkap kehadiran Tuhan Yesus yang begitu mengasihi kita senantiasa di dalam hidup kita, tentu ini akan mengubah kita! Kita akan semakin jatuh cinta pada sabda-Nya, dan rindu menerima sakramen-Nya, sebab Ia ada di sana. Kita akan mempunyai motivasi yang kuat untuk peduli pada sesama, sebab Ia ada dalam diri mereka. Kita akan berjuang menjaga kemurnian tubuh kita, sebab Ia tinggal di sana. Dan kita akan menerima penderitaan kita dengan penyerahan diri, sebab melaluinya Ia membentuk kita menjadi semakin serupa dengan-Nya. Sebab tak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. “O Tuhan, jika kuingat betapa besar kasih-Mu kepadaku, apakah yang bisa kubalas kepada-Mu? Mari, kobarkanlah hatiku, seperti dahulu Engkau mengobarkan hati para murid-Mu, supaya akupun rindu untuk mengasihi Engkau, dan membagikan kasih-Mu dan Kabar Sukacita-Mu kepada sesamaku.”

Inti dari pewartaan Injil adalah untuk mengatakan kepada semua orang, “Tuhan Yesus mengasihimu.” Semua orang dipanggil untuk menjadi kudus…. Jangan lewatkan kesempatan itu.” (Mother Angelica, pendiri stasiun TV Katolik terbesar di dunia, EWTN- Eternal Word Television Network)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab