Home Blog Page 46

Ucapan ‘Happy Easter’, salah kaprah?

20

Memang ada orang yang menduga bahwa Easter berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). Memang sekilas bunyinya mirip, seperti halnya juga, bahwa besar kemungkinan kata “Easter” berakar dari kata “Eostur”, yang berarti “musim kebangkitan” (season of rising) yang mengacu kepada musim semi. Maka kata “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi. Sedang di negara- negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bagi Latin dan Yunani), ” Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Pasen” (Belanda), …dst yang semua berasal dari kata Ibrani (“Pesach”) yang artinya “Passover”.

Jika kita melihat kepada bahasa Jerman, kata Ostern (yang artinya Easter) berasal dari kata Ost (east atau terbitnya matahari), dan berasal dari bentuk kata Teutonik yaitu erster (artinya yang pertama/ first) dan stehen (artinya berdiri/ stand) yang kemudian menjadi ‘erstehen’ (bentuk kuno dari kata kebangkitan/ resurrection), yang kemudian menjadi ‘auferstehen’ (kata kebangkitan dalam bahasa Jerman sekarang). Jadi kata Ester/Eostur dalam bahasa Inggris yang berubah menjadi Easter, adalah setara dengan kata Oster dalam bahasa Jerman yang kemudian menjadi Ostern. Maka jika ada kemiripan bunyi Easter dengan Isthar itu hanya kebetulan, dan tidak dapat dipaksakan bahwa bahwa keduanya berhubungan. Ini serupa dengan memaksakan kata “belum” dalam bahasa Indonesia, yang dianggap mengacu kepada kata “bloom” (artinya berkembang) dalam bahasa Inggris, yang bunyinya mirip tapi tidak ada hubungan sama sekali, karena artinya pun lain. Jadi bukan berarti karena sebutan Easter mirip dengan Isthar atau Eostre, maka ucapan “Happy Easter” berkaitan dengan penyembahan berhala. Sebab bagi umat Kristen, perayaan Easter/ Pascha/ Paska itu bersumber dari penggenapan nubuat Perjanjian Lama di dalam kurban Salib Kristus yang memberikan buah Kebangkitan.

Mungkin menarik untuk diketahui bahwa William Tyndale (1494-1536), seorang tokoh pemimpin Protestan, ahli dan penerjemah Kitab Suci yang terkenal, adalah yang pertama kali memasukkan kata “Easter” di dalam Kitab Suci terjemahan bahasa Inggris, dan bersamaan dengan itu ia juga menyebutkan kata Passover. Jadi penggunaan kata “Easter” itu bukan ‘penemuan’ Gereja Katolik.

Jangan lupa bahwa sedikit banyak nama hari- hari dalam bahasa Inggris semua dapat dihubungkan dengan asal- usul pagan. Sebab Sunday, berkaitan dengan matahari (Sun), Monday, dengan bulan (moon), Tuesday dengan dewa Tiu, Wednesday dengan dewa Woden, Thursday dengan dewa Thor, Friday dengan Freya, Saturday dengan Saturnus. Jadi jika mau konsisten, sebaiknya mereka yang menolak menyebut Easter, juga menolak semua nama hari dalam bahasa Inggris yang kedengarannya juga berbau pagan. Namun, Gereja Katolik menguduskan hal-hal yang dulunya mengacu kepada pagan, dengan memberi arti/ makna baru dan mengkonsekrasikannya kepada Tuhan. Seperti bangunan gereja- gereja pada abad- abad pertama yang tidak mereka bangun sendiri, melainkan dulunya bekas kuil- kuil pagan yang sudah ditinggalkan, lalu dirombak dan disesuaikan dengan prinsip dan kebutuhan ibadah Kristiani, dan dikonsekrasikan kepada Kristus. Allah penguasa segalanya, juga berkuasa menguduskan segala sesuatu di dalam nama-Nya.

Dengan demikian, tidak perlulah kita risau jika menggunakan kata “Easter”, karena bagi kita umat Kristiani kata itu tidak mengacu kepada Isthar, tetapi kepada “Eostur”, “erster- stehen/ erstehen” yang artinya mengacu kepada kebangkitan, yaitu Kebangkitan Kristus. Jangan lupa bahwa Kitab Suci menyebutkan tanda kelahiran Kristus dengan bintang di timur (Mat 2:2,9) sehingga makna Terang di Timur (East) memperoleh makna yang baru dan sempurna, setelah kelahiran dan terutama Kebangkitan Kristus.

Tentang Hari Wafat dan Kebangkitan Kristus

26

Untuk membuktikan bahwa Yesus bangkit pada hari ke-tiga seperti dikatakan-Nya, kita perlu mengetahui hari wafat-Nya. Berikut ini adalah penjelasan yang mengambil sumber utama dari penjelasan EWTN. ((http://www.philvaz.com/apologetics/num56.htm))

1. Hari penyaliban Yesus dan penguburan-Nya jatuh pada hari Jumat

Kitab Suci mengatakan demikian:

“Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat.” (Mrk 15:42)
And when evening had come, since it was the day of Preparation, that is, the day before the sabbath...” (Mrk 15:42, RSV)

Ayat ini menjadi ayat kunci untuk memahami pada hari apakah Yesus wafat dan langsung dikuburkan (lih. Mat 27:57-64; Mrk 15:42-47; Luk 23:50-56; Yoh 19:31-42). Injil Markus sendiri mendefinisikan hari persiapan sebagai hari sebelum hari Sabat. Jika para ahli Kitab Suci menyebutkan bahwa hari Sabat Yahudi adalah hari Sabtu (hari ketujuh), maka hari sebelum Sabat adalah hari Jumat. St. Matius juga menyebutkan bahwa keesokan harinya (setelah Yesus wafat itu) adalah hari sesudah hari persiapan (Mat 27:62). Dengan demikian apa yang disampaikan Injil Markus sesuai dengan yang disampaikan oleh Injil Matius.

Untuk mengetahui bahwa “Hari Persiapan” (Yunani Paraskeue / Latin Parasceve) itu adalah hari Jumat, kita mengacu kepada apa yang tertulis dalam Kitab Yudit (Yud 8:6) dan Makabe (2 Mak 8:26); di mana hari sebelum hari Sabat telah dianggap sebagai hari khusus untuk mempersiapkan hari Sabat. Ahli sejarah Josephus (Antiquities of the Jews 16:163), demikian juga tulisan Bapa Gereja, yaitu Didache (8:1) and the Martyrdom of Polycarp (7:1), juga mengatakan hal serupa, bahwa hari persiapan mengacu kepada hari Jumat, yaitu hari ke-enam.

Maka mayoritas/hampir semua ahli Kitab Suci, baik dari kalangan Katolik maupun Protestan, juga meyakini bahwa Yesus wafat pada hari Jumat, dan hal ini sudah diterima sampai sekitar 2000 tahun:

“Keempat Injil sepakat, sebagaimana juga keseluruhan Tradisi Gereja bahwa Kristus wafat pada hari Jumat” (Warren Carroll, The Founding of Christendom, (Christendom Press: 1985), p. 366)

“Kata terakhir “persiapan”, dapat berarti “hari persiapan” (Mrk 15:42; Mat 27:62; Yoh 19:14,31,42). Ini mengacu kepada hari pada pekan Yahudi, tepat sebelum Sabat (yaitu Kamis malam sampai Jumat malam) … Di sini maksudnya pastilah Jumat, sebagaimana frasa berikutnya jelas menyebutkannya [Luk 23:540.” (I. Howard Marshall, The Gospel of Luke, (Wm. B. Eerdmans Publishing Co: 1978), p. 881)

“Kenyataan harus dihadapi bahwa tidak ada contoh lain tentang penerapan [Hari Persiapan dalam bahasa Yunani] disebutkan mengacu kepada hari lain kecuali hari Jumat. Sebab penyebutan hari Jumat, dihubungkan dengan Sabat (lih. Josephus, Ant 16.163) dan dari teks di abad ke-2 (Didache 8.1; Martyrdom of Polycarp 7.1). Bukti bahwa istilah tersebut digunakan untuk hari Jumat harus diterima.” (Leon Morris, The Gospel According to John, (Wm. B. Eerdmans Publishing Company:1995), p. 687)

2. Hari Kebangkian Kristus jatuh pada hari Minggu

Injil mencatat bahwa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia akan dianiaya oleh para tua-tua/ imam kepala Yahudi, dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (lih. Mat 16:21; 17:23; 20:19; Luk 9:22; 18:33; 24:7,46; Kis 10:40; 1 Kor 15:4).

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Mat 16:21)

“….Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (1 Kor 15:4)

Sehingga frasa “pada hari yang ketiga” menjadi frasa utama yang menentukan untuk memahami hari kebangkitan Yesus. Nah, di point 1 telah dibuktikan bahwa hari wafat Yesus jatuh pada hari Jumat. Kini untuk menghitungnya kita mengacu kepada cara menghitung hari menurut kebiasaan Yahudi, yaitu secara inklusif, maka hari Jumat tersebut (yaitu hari Yesus dibunuh dan dikubur) dihitung sebagai hari pertama, sehingga hari yang ketiga jatuh pada hari Minggu. Yesus wafat di hari Jumat jam 3 siang, sebelum hari Sabat (Sabtu). Maka penghitungan dimulai hari Jumat (hari pertama, walau hanya beberapa jam sebelum jam 6 sore), hari Sabtu (hari kedua) dan hari Minggu (hari ketiga).

Kitab Suci bahasa Inggris versi The New Living Translation yang dikeluarkan baru-baru oleh kelompok Evangelikal bahkan menerjemahkan demikian:

It was early on Sunday Morning when Jesus rose from the dead .…” (Mrk 16:9, NLT)

Frasa tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah:

“Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu…. (Mrk 16:9)

Sebab menurut perhitungan Yahudi hari pertama minggu adalah hari Minggu. Maka jelas Kitab Suci menyatakan bahwa pada hari ketiga itu jatuh pada hari pertama minggu itu yaitu hari Minggu.

3. Arti “tiga hari tiga malam” dalam perhitungan Yahudi

Orang-orang yang mempermasalahkan hari wafat dan kebangkitan Yesus ini, umumnya mengambil dasar ayat-ayat Kitab Suci yang menyebutkan bahwa Kristus bangkit “sesudah tiga hari” (Mat 27:63; Mk 8:31; 9:31; 10:34).

Memang Kitab Suci menyebutkan frasa “tiga hari tiga malam”, “sesudah tiga hari”, atau “dalam tiga hari”, yang mengacu kepada kebangkitan Yesus:

“Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Mat 12:29-40, Bdk. Yun 1:17; Lk 11:30)

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” (Mrk 8:31)

“Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2:19, Bdk Mt 26:61; Mt 27:40; Mk 14:58; Mk 15:29).

Namun frasa ini tidak untuk diartikan sebagai 3x 24 jam menurut pola pikir masyarakat zaman sekarang, sehingga menjadi 72 jam. Mengapa? Karena jika diartikan demikian, justru malah tidak sesuai dengan penyebutan hari yang sudah jelas dan eksplisit disebutkan dalam Kitab Suci, yaitu bahwa Yesus wafat dan dikubur pada hari Jumat (hari persiapan Sabat), yang dengan cara penghitungan inklusif menunjukkan hari ketiga jatuh pada hari Minggu. Jika dipaksakan 3x 24 jam dihitung sejak hari Jumat, maka konsekuensinya Yesus bangkit pada hari Senin atau hari ke-empat. Namun bukan ini yang ditulis secara eksplisit dan berulang-ulang dalam Kitab Suci, yaitu bahwa Yesus bangkit pada hari ketiga, dan itu jatuh pada hari pertama minggu itu.

Ada juga hipotesa sejumlah orang yang mengatakan bahwa Yesus wafat pada hari Rabu, lalu dari hari Rabu ditambahkan 3×24 menjadi hari Sabtu sore atau Minggu dinihari. Tetapi ini malah tidak cocok dengan frasa “pada hari yang ketiga” sebab dengan hipotesa perhitungan ini, maka Yesus bangkit pada hari yang ke-empat, atau malah kelima.

Mungkin bagi sejumlah orang, frasa ‘hari yang ketiga’, artinya berbeda dengan ‘sesudah tiga hari’, atau ‘tiga hari tiga malam’. Namun menurut pemahaman dan gaya bahasa Yahudi, ketiga frasa tersebut artinya sama saja. Ini kita ketahui dari Injil Matius:

“Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” (Mat 27:62-64)

Selain itu, kunci untuk mengetahui bahwa hari yang ketiga itu jatuh pada hari pertama minggu (hari Minggu) juga disebutkan dalam penampakan Yesus kepada dua murid-Nya ke Emaus. Dikatakan di sana, bahwa sore itu tetap masih hari yang ketiga (bukan hari keempat atau kelima), sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa penampakan Yesus itu terjadi pada hari yang sama dengan hari kebangkitan-Nya, yaitu hari pertama minggu itu (lih. Luk 24:1,13). Dengan demikian, perikop ini saja (Luk 24:1, 13-27) membuktikan bahwa Yesus wafat pada hari Jumat dan bangkit pada hari Minggu (hari pertama minggu itu).

“Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?…. Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.” (Luk 24:18-21)

Concerning Jesus of Nazareth, who was a prophet mighty in deed and word before God and all the people, and how our chief priests and rulers delivered him up to be condemned to death, and crucified him….it is now the third day since this happened”  (Luke 24:18-21 RSV)

Yesus wafat hari Jumat jam 3 siang sebelum hari Sabat jam 6 sore, ini sudah dihitung 1 hari (hari pertama). Hari Sabat (dari Jumat sore-Sabtu sore) dihitung 1 hari (hari kedua). Dari hari Sabtu sore sampai hari keesokan harinya pagi-pagi benar ketika para wanita menemukan Yesus telah bangkit, dihitung 1 hari (hari ketiga). Maka frasa “sesudah tiga hari” dan “sampai hari ketiga” adalah sama artinya (lih. Mat 27:62-), semikian juga “pada hari ketiga” (te trite hemera) dan “setelah tiga hari” (meta treis hemeras), seperti terlihat dalam teks Mat 16:21 dan Mrk 8:31.Lebih lanjut tentang hal ini sudah permah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Jadi ‘tiga hari tiga malam’ SAMA artinya dengan ‘tiga hari’. Kita mengetahui prinsip ini antara lain dari penjabaran tentang lamanya Yesus berpuasa, yang disebut dalam Injil Matius sebagai “empat puluh hari dan empat puluh malam” (Mat 4:2), sedangkan pada perikop paralelnya yaitu Injil Lukas, dikatakan bahwa Yesus berpuasa “empat puluh hari lamanya” (Luk 4:2). Dari sini kita ketahui bahwa jika empat puluh hari empat puluh malam = empat puluh hari lamanya, maka dengan prinsip yang sama, tiga hari tiga malam = tiga hari, yang disebut sebagai hari ketiga ataupun setelah tiga hari. Ayat-ayat lain dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa ‘tiga hari lamanya’ sama dengan ‘pada hari yang ketiga’ terdapat dalam Kitab Ester (Est 4:16-17 – 5:1)

Konsekuensi penghitungan hari secara inklusif ini, mengakibatkan bahwa jangka waktu seminggu yang telah lewat sama artinya dengan “delapan hari kemudian” (lih. Yoh 10:26). Sebab hari kejadian [yaitu hari kebangkitan Yesus dan penampakan-Nya kepada para murid-Nya], dihitung sebagai hari pertama; sehingga maksudnya adalah seminggu telah lewat sehubungan dengan kejadian tersebut. Menurut cara penghitungan Yahudi hari Minggu ke hari Minggu berikutnya adalah delapan hari. Maka, jika dari hari Minggu ke Minggu dikatakan sebagai “delapan hari kemudian” atau sesudah delapan hari, maka dari hari Jumat ke Minggu dikatakan sebagai “tiga hari kemudian” atau sesudah tiga hari.

Maka dengan membaca ayat-ayat Kitab Suci tentang bagaimana cara orang Yahudi menghitung hari, kita ketahui bahwa cara mereka menghitung hari adalah secara inklusif, di mana hari kejadian walaupun kurang dari satu hari, tetap dihitung sehari penuh.  Dengan demikian, “sesudah tiga hari” atau “tiga hari tiga malam” tidak perlu harus berarti tiga hari penuh atau 72 jam. Penghitungan hari menurut cara Yahudi ini juga dapat dilihat dari penulisan catatan sejarah Yahudi di abad pertama oleh Josephus (Antiquities 7:280f; 8:214/218; 5:17), juga dari “Jewish Talmud” dan “The Babylonian Jerusalem Talmud (The Commentaries of the Jews)“. Mengingat Kitab Suci ditulis dengan latar belakang budaya/ pemahaman Yahudi, kita harus menerima keseluruhan cara penghitungan hari menurut kebiasaan Yahudi, yaitu baik bahwa hitungan hari yang dimulai jam 6 sore sampai 6 sore berikutnya, maupun cara menghitung jumlah hari secara inklusif tersebut (bahwa beberapa jam sebelum jam 6 sore sudah dihitung satu hari penuh). Kita tidak bisa mengadopsi hanya sebagian, yaitu menghitung hari mulai jam 6 sore sampai jam 6 sore berikutnya, tetapi menghitung jumlah hari sesuai pengertian pribadi pada zaman sekarang. Pemahaman macam ini tidak cocok dengan pemahaman Yahudi yang dengannya Kitab Suci dituliskan, dan membuat orang menjadi salah paham.

Artikel di luar katolisitas tentang hal ini:

  • Selanjutnya tentang penjelasan para ahli Kitab Suci tentang “tiga hari tiga malam” ini, silakan membaca di link ini, silakan klik.

Yesus wafat di salib atau di tiang?

27

Ada sebagian orang percaya bahwa Yesus disalib di tiang dan bukan dipaku di tiang berbentuk salib. Sebenarnya fakta bahwa Yesus benar- benar disalibkan [artinya dipaku di tiang berbentuk salib] sesungguhnya tertulis dalam Kitab Suci, dan dapat dipelajari dari fakta- fakta sejarah.

1. Dari Kitab Suci:

Yesus berkata: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 20:18-19)

“Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” (Mat 27:31-32, lih. Mrk 15:20-21, Luk 23:26)

“Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.” (Matius 27:38, lih. Mrk 15:27-28)

Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya, (Luk 23:33, lih. Yoh 19:18)

“Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” (Mat 27:42)

Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” (Luk 24:4-7)

2. Dari tulisan Bapa Gereja

a. St. Ignatius dari Antiokhia (35-117)

“Aku memuliakan Yesus Kristus, Tuhan yang telah melimpahi kamu dengan kebijaksanaan sedemikian….  Tentang Tuhan kita, kamu telah sepenuhnya yakin bahwa Ia adalah keturunan Daud menurut kemanusiaan-Nya, dan Sang Putera Allah menurut kehendak dan kuasa-Nya; bahwa Ia  sungguh lahir dari seorang Perawan dan dibaptis oleh Yohanes agar segala pelaksanaan hukum dapat digenapi oleh-Nya (Mat 3:15); bahwa di dalam tubuh-Nya Ia sungguh-sungguh dipakukan di kayu salib demi kita, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus dan Herodes, sang tetrakh, yang dari kisah Sengsara-Nya itu kita adalah buahnya, sehingga melalui kebangkitan-Nya, Ia dapat membangkitkan untuk sepanjang segala abad, sebuah standar bagi para orang kudus dan umat beriman di dalam satu tubuh Gereja-Nya, baik itu di kalangan orang Yahudi ataupun non- Yahudi.” (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, Ch. 1)

b. St. Yustinus Martir (100-165)

“Jika, dengan demikian Bapa menghendaki agar Kristus mengambil bagi-Nya kutuk atas seluruh umat manusia, dengan memahami bahwa, setelah Ia disalibkan dan wafat, Ia akan membangkitkan Dia, mengapa kamu mempertanyakan tentang-Nya, yang taat untuk menderita semuanya ini menurut kehendak Bapa, seolah Ia dikutuk, dan bukannya malah menangisi dirimu sendiri?….” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, ch. 95)

3. Dari fakta sejarah

a. Sejarah mencatat bahwa penyaliban merupakan salah satu cara hukuman mati yang dilakukan di Persia, Seleusia, Carthage dan Roma sekitar abad 6 BC sampai abad 4 AD.

Tahun 337 hukuman penyaliban ini dihapuskan oleh Kaisar Konstantin di Roma. Memang istilah ‘crucifixion‘ dapat mengacu kepada hukuman siksaan di tiang ataupun pada pohon, namun juga dapat berarti pemakuan pada kombinasi palang kayu tiang terdiri dari tiang vertikal dan horizontal. Jika palang horizontal digunakan maka narapidana tersebut dipaksa untuk memanggulnya di bahunya, yang kemungkinan sudah luka- luka karena cambukan, ke tempat penyaliban. Sedangkan tiang vertikalnya umumnya sudah ada di tempat penyaliban. Kitab Suci mengatakan, bahwa setelah didera/ dihajar (lih. Luk 23:16) Yesus dibawa keluar untuk disalibkan, dan kemudian Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu memikul salib Kristus (lih. Mrk 15: 21, Luk 23:16). Maka kita ketahui di sini bahwa Yesus disalibkan dengan pada tiang dengan palang mendatar/ horizontal, sebab palang inilah yang dipikul-Nya dan oleh Simon yang kemudian membantu-Nya.

b. Josephus (37-100), seorang sejarahwan Yahudi pada abad awal menuliskan beberapa cara penyiksaan dan posisi penyaliban pada sekitar keruntuhan Yerusalem di abad pertama.

Terdapat banyak cara penyaliban, namun yang umum adalah dengan palang salib horisontal tepat di di atas tiang sehingga membentuk huruf “T” atau palang tersebut diletakkan sedikit ke bawah seperti yang umum dikenal oleh kita umat Kristiani sebagai salib Kristus.

Josephus menuliskan demikian:

“Sekarang, sekitar waktu ini, Yesus, seorang yang bijak, kalau itu benar/ lawful memanggilnya sebagai manusia; sebab ia adalah seorang pembuat mukjizat, seorang guru bagi orang- orang yang menerima kebenaran dengan suka cita. Ia menarik kepadanya banyak orang Yahudi maupun non- Yahudi. Ia adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas dorongan para pemimpin di antara kita, telah menghukumnya ke salib, mereka yang mengasihinya tidak meninggalkan dia; sebab ia menampakkan diri kepada mereka pada hari ketiga; seperti dinubuatkan oleh para nabi tentang hal ini dan sepuluh ribu hal ajaib lainnya tentang dia. Dan suku Kristen, yang mengambil nama darinya, tidak punah sampai hari ini…” (Josephus, Antiquities of the Jews, XVIII, 3:8-10)

Tulisan- tulisan pertama yang menjabarkan tentang penyaliban Yesus tidak secara khusus menyebutkan bentuk salib-Nya, tetapi tulisan-tulisan sekitar tahun 100 menyebutkan salib Kristus tersebut berbentuk T (huruf Tunani ‘tau’, seperti dituliskan dalam Surat Barnabas bab 9) atau komposisi palang vertikal dan horizontal, dengan sedikit tonjolan di atas- nya (lih. Irenaeus (130-202) Adversus Haereses II, xxiv,4). Ini cocok dengan penjabaran Mat 27:37, yang menuliskan bahwa di atas kepala Yesus, terpasang tulisan, “Inilah Yesus Raja orang Yahudi”.

c. Penemuan terkini tentang penyaliban adalah melalui penemuan arkeologis dari penggalian tahun 1968 di sekitar arah timur laut Yerusalem.

Ditemukan sebuah sisa- sisa jenazah seorang laki- laki, yang diidentifikasikan sebagai Yohan Ben Ha’galgol, yang meninggal tahun 70 AD. Analisa yang dilakukan oleh Hadassah Medical School, menyatakan bahwa luka-luka di tubuhnya seuai dengan yang dikisahkan sebagai luka- luka pada penyaliban Kristus. Penemuan lainnya adalah yang juga berasal dari abad pertama, dengan penemuan tulang kaki dengan paku, yang ditemukan di Yerusalem, yang kini disimpan oleh Israel Antiquities Authority di Israel Museum, juga menggambarkan luka- luka di kaki akibat penyaliban.

d. Bukti dari Kain kafan Turin (The Shroud of Turin), yang selengkapnya dapat dibaca di situs ini, silakan klik.

Pihak Vatikan memang belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang keotentikan kain kafan Turin ini, namun dari data- data yang dapat kita baca mengenai penyelidikan sains tentang kain ini, semakin menunjukkan bukti yang cukup kuat bahwa kain ini bukan merupakan produk forgery/ pemalsuan dari abad pertengahan.

Dari informasi yang dapat kita baca di link di atas, kain kafan Turin diyakini sebagai kain yang membungkus jenazah Yesus pada saat Ia dikuburkan. Menurut fakta sejarah, kain ini pertama ditemukan di dinding kota Edessa (antara tahun 525-544) ketika kota itu diserang pasukan Persia. Sebelum kejadian itu tidaklah diketahui dengan pasti kisah dari kain Turin ini. Menurut sejarahwan Ian Wilson, yang mempelajari tradisi dan tulisan- tulisan pada abad awal, kemungkinan murid Yesus yang bernama Addai [Yudas Thaddeus] membawa kain kafan ini dari Yerusalem ke Edessa atas permintaan Raja Akbar V, yang pada saat itu sakit keras. Namun kemudian cucu dari Raja Akbar V tersebut menyerang umat Kristen, sehingga kain tersebut hilang ataupun disembunyikan. Kisah tentang Raja Akbar V ini dimuat dalam catatan sejarah Eusebius. Selanjutnya, berabad kemudian kain kafan ini ditemukan kembali oleh seorang prajurit Perancis, Geoffrey de Charny (1349), yang diperolehnya dari Konstantinopel.

Sejarah menunjukkan bahwa telah diadakan berkali- kali pemeriksaan akan keotentikan kain kafan dan gambar yang tercetak pada kain tersebut, yang padanya ‘tercetak’ gambar tubuh seorang laki- laki dengan luka- luka penyaliban. Jadi terdapat dua jenis gambar pada kain itu, yaitu bercak darah yang disebabkan oleh luka- luka; dan gambar rupa manusia yang bukan disebabkan oleh bercak darah. Asal gambar ini tidak dapat dijelaskan menurut para ahli yang telah meneliti kain kafan tersebut. Yang jelas, gambar itu bukan hasil pencetakan/ lukisan, dan bukan pula berasal dari darah atau karena persentuhan dengan tubuh manusia. (lih. Ray Rogers, Comments on the Book, The Resurrection of the Shroud by Mark Antonacci, 2001, p.4)

Melalui gambar tersebut, terdapat bukti luka- luka sebagai berikut:

1. Luka cambukan, sebanyak 120 buah (menurut Giulio Ricci 220 buah). Walaupun batas pencambukan menurut hukum Yahudi adalah 40, namun kemungkinan prajurit Romawi tidak mengikuti aturan ini, atau cambukannya terdiri dari tiga cabang sehingga semuanya berjumlah 120 cambukan.

2. Luka pada mahkota duri di kepala

3. Luka bekas paku di tangan dan kaki.
Mengenai luka di tangan, gambarnya sudah pernah kami tayangkan di sini, silakan klik.

4. Memar di muka, fraktur di hidung, luka besar di pipi kanan, luka di bawah mata kanan sehingga membuat mata kanan menutup, darah dari kedua lubang hidung, dan pipi sebelah kiri.

5. Luka besar di bahu, akibat memikul salib. Ini cocok dengan deskripsi bahwa Yesus memikul palang salib horizontal di bahu-Nya ke Golgota, walau di tengah jalan Simon dari Kirene dipaksa oleh para serdadu untuk membantu-Nya.

6. Tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan. Luka paku 7 inci terlihat pada kakinya.

7. Luka pada lambungnya, karena tikaman.

3. Kesimpulannya: dari ayat- ayat Kitab Suci maupun fakta sejarah, kita ketahui bahwa Yesus disalibkan di tiang yang terdiri dari palang vertikal dan horisontal (bentuk salib), jadi bukan ‘hanya’ pada tiang/ pohon vertikal.

Demikianlah sekilas yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Suatu saat nanti mungkin Katolisitas akan menuliskan tentang hasil penelitian Kain kafan Turin ini secara lebih mendetail. Memang di saat yang lalu ada laporan yang bernada skeptikal tentang kain ini, namun berdasarkan penelitian terakhir, cukup banyak ditemukan bukti- bukti yang mendukung keotentikan kain ini, setidaknya mematahkan argumen bahwa gambar pada kain ini hanya karya artis pada jaman Abad Pertengahan.

Catatan:
Informasi tentang Kain Kafan Turin, disarikan dari:

  1. Dr. Leoncio A Garza-Valdes, The DNA pf God? Newly Discovered Secrets of the Shrouds of Turin, (New York: Berkley Books, 1999)
  2. C. Bernard Ruffin, The Shrouds of Turin, Our Sunday Visitor Publishing, Huntington, Ind. 1999, pp- 26-27.
  3. Dr. Frederick T. Zugibe, The Cross and the Shroud, (Minnesota, Paragon House: 1981)

Surat Cinta dari Bukit Golgota

0
Sumber gambar: http://www.backtoclassics.com/gallery/tintoretto/crucifixion-detail/

Di Gunung Sinai 20/09/2009

Lihatlah ….

Perjalanan Tuhan ke Bukit Golgota, bukan sebuah perjalan wisata,

seperti yang telah menjadi “trend” dalam diri umat Allah masa kini, yaitu ziarek (ziarah dan rekreasi).

Perjalanan Tuhan itu adalah perjalanan kehampaan, tanpa senyuman.

Darah dan peluh mengucur dari bilur-bilurnya,

mengiringi setiap langkah perjalanan ke bukit kematian.

Tanpa ada kata-kata perpisahan yang membuat dirinya berharga.

Sorak-sorai lautan manusia bukanlah sorak-sorai pujian kepadaNya seperti yang mereka kumandangkan di Minggu Palma.

Inilah sifat manusia, kawan bisa menjadi lawan dalam sekejap mata ketika menyangkut materi dan harga diri.

Kelelahan dan kesakitan membuatnya mengerang tanpa suara.

Kelelahan bukan karena beratnya kayu salib yang Ia panggul.

Rasa sakit bukan karena tujuh ratus dua puluh bilur akibat cambukan yang tergores di dalam Tubuh-Nya sehingga tak berbentuk.

Kelelahan dan kesakitan-Nya karena Ia tidak mengerti sifat hati manusia, yang katanya merupakan gambaran Bapa-Nya.

Ia tidak mengerti mengapa banyak manusia kehilangan hati,

mengapa manusia kehilangan rasa “terima kasih” atas cinta Allah yang mereka alami ?”.

Ia tertunduk sedih karena melihat orang-orang yang Ia cintai

telah bebal terhadap rasa peduli.

Rasa peduli terkubur karena lenyapnya rasa syukur dari hati nurani yang bersih.

Di tengah kegelisahan dan kegundahan hati-Nya, syukurlah ada Veronika dengan usapan kain pada wajah-Nya.

Usapan itu merupakan ungkapan kasih yang sederhana,

namun sangat berarti bagiNya karena Ia sedang berada dalam kegersangan cinta.

Setetes kasih itu menjadi energi baru yang meneguhkanNya untuk melanjutkan pendakian-Nya ke puncak Bukit Tengkorak demi cinta pula.

Di atas bukit Golgota itu, Ia tergantung di atas kayu salib.

Gelapnya langit menceriterakan tentang kegelapan sejati.

Kegelapan sejati adalah dosa manusia.

Dosa serta kematian dan kutukan yang merupakan akibatnya

membuatnya menderita amat sangat.

Ia merasakan kesendirian sampai Bapa-Nya seakan-akan telah membuang wajah-Nya.

Ia berseru: “Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Seruan-Nya itu mengandung sebuah permohonan penyertaan Bapa-Nya dalam peperangan yang sangat berat melawan kuasa kegelapan.

Di balik kegelapan langit, tangan Allah Bapa tetap ada di sana.

Kesetiaan-Nya pada cinta sampai pada kematian: “Sudah selesai….” Dan, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahan nyawa-Ku”.

Kesetiaan dan kasih-Nya telah meluluhlantakkan dosa manusia.

Luluh lantaknya dosa itu terlukis dalam terbelahnya tirai Bait Suci dan gempa bumi.

Setelah tegoncangnya bumi, langit gelap menjadi terang dan bercahaya.

“Habis gelap terbitlah terang” menjadi sebuah pesan yang terukir kekal, yaitu

“sehabis pederitaan, datanglah kebangkitan kepadaNya”.

Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan yang membawa keselamatan bagi banyak jiwa.

Jiwa telah mengalami kematian, dihidupkanNya.

Manusia yang terkutuk, diangkatNya menjadi anak-anak pewaris Kerajaan, sehingga memanggilNya : “Ya Abba, ya Bapa”.

Derita, kematian, dan kebangkitan-Nya memberikan kepada kita jalan memperoleh kemenangan.

Jalan itu adalah Tujuh Sabda Terakhir-Nya di tengah-tengah tetesan-tetesan darah-Nya di Kayu Salib.

Ketujuh Sabda-Nya itu terangkum dalam lima kata: “Di Salib Tuhan ada derita, pengorbanan, kesetiaan, kasih, dan pengampunan.”

Lima kata itu bersinar dalam sikap hidup “Tiada Syukur, Tanpa Peduli”.

Peduli menjadi sikap yang tak ternilai di dalam dunia yang membegal makna kata ini :

Lihatlah reaksi hukuman mati bagi gembong-gembong narkoba yang telah menikmati indahnya dunia secara tak manusiawi.

Hukuman mati itu telah menarik perhatian dunia dan pembelaan di sana sini.

Sebaliknya, lihatlah seorang nenek, berusia tujuhpuluh tahun, yang telah mendekam di dalam hotel prodeo selama tiga bulan.

Gara-garanya ia dituduh sebagai pencuri kayu jati yang katanya berada di kebunnya sendiri

Sujudnya sampai mencium lantai di ruang pengadilan demi sebuah permohonan “Lepaskan aku dari semua tuduhan ini”.

Air matanya tidak membuat iba pada para pembawa keadilan di negeri tercinta ini.

Nenek ini pun akhirnya kembali merasakan dinginnya ruangan terali-terali besi.

Dinginnya lantai dalam penjara ini tentu tidak sedingin hati manusia saat ini yang sering kehilangan empati.

Peduli dengan keadaan sekitar menjadi sekolah mempertajam hati nurani untuk senantiasa bersyukur .

“Jangan hanya menikmati indah dan nyamannya gedung gereja, tetapi jangan tinggalkan tisu di dalamnya.

Jangan hanya menikmati indahnya pantai-pantai, tetapi berjalanlah sambil memungut botol-botol minuman yang berserakan.

Jangan hanya menangis melihat penderitaan banyak anak manusia karena keadaan, rangkullah dan rengkuhlah mereka sehingga hidup ini masih ada arti”.

Ungkapan syukur dengan sikap peduli ini akan menanamkan Kerajaan Allah, yaitu keselamatan, di bumi ini.

Semoga pesan dan permenungan Paskah yang terbingkai dalam puisi ini mempunyai kekuatan untuk mengubah hati.

Puisi ini mudah-mudahan menegur nurani yang ingkar janji atas pesan Tuhan yang tergantung di Kayu Salib.

Kata-kata di dalamnya semoga menjadi peneguhan bagi yang haus akan keselamatan.

Pada akhirnya “Seruan Cinta dari Bukit Golgota” dapat menjadi permenungan atas perjalanan kehidupan untuk mencapai kemenangan.

Kemenangan rohani yang membawa pada kemuliaan Surgawi.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24)

Tuhan Memberkati

Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Sang Bos Menjadi Pelayan

0

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

 

Kamis Putih merupakan kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir,

  yang diadakan oleh Tuhan Yesus bersama para murid-Nya.

Perjamuan Malam terakhir itu dilakukanNya menjelang kematian-Nya.

 

Kenangan ini bukan berhenti pada sekedar kenangan.

Kenangan ini berisi  sebuah pesan yang diwariskan oleh Sang Guru.

Pesan-Nya itu tidak diserukan dengan perkataan.

Pesan-Nya disampaikanNya dengan teladan.

“Rendahkanlah diri untuk melayani sebagai hamba”.

Itulah teladan yang harus dihidupi oleh para murid-Nya.

Inilah janji bagi yang rela dan tekun melaksanakannya :

“Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan dalam kemuliaan Allah”.

 

Pelayanan sebagai hamba adalah mencuci kaki tuannya dan sahabat-sabahatnya sebelum perjamuan.

Pada saat menjelang Paskah itu, tiada satu pun hamba di tempat Tuhan Yesus akan mengadakan perjamuan malam terakhir.

Tidak ada satupun dari para murid-Nya yang dengan sukarela menjalankan pekerjaan hamba  itu. .

Semua murid diam saja.

Mereka mengharapkan yang lain  melakukannya.

Semua dikuasai dengan gengsi.

Semua murid merasa  diri orang yang paling terhormat.

Mereka  takut diremehkan dan direndahkan karena mau mengerjakan pekerjaan para hamba.

 

Di tengah krisis melayani sebagai hamba di antara para murid-Nya,

Tuhan Yesus menanggalkan jubah-Nya.

Ia kemudian mencuci kaki semua murid-Nya.

Jubah adalah lambang kemuliaan dan kehormatan.

Dengan menanggalkan jubah-Nya, Ia meninggalkan kehormatan-Nya untuk menjadi hamba bagi semuanya.

Ia merendahkan diri untuk melayani manusia.

Melayani dengan tulus dan rendah hati merupakan ungkapan kasih-Nya yang sejati.

 

Tindakan Yesus itu tentu bikin heboh.

Sang Bos mau menjadi pelayan bagi para bawahan-Nya.

Teladan-Nya ini wajib dan tidak bisa ditawar untuk juga dilakukan oleh orang yang mengakui diri sebagai murid-Nya.

 

Mengapa sangat sulit melayani dengan rendah hati  ?

Jawabannya : “Melayani tanpa mau menanggalkan kehormatan dan kemuliaan”.

Sebutan “yang terhormat” bagi para pejuang kepentingan rakyat

dan “yang mulia” bagi pejuang keadilan,

menjadi  sesuatu yang harus dipertahankan setengah mati.

Akibatnya, bukan pelayanan yang bertengger, tetapi kemunafikan.

“Kutu loncat”, orang yang mencla-mencle”, dan pembelot merupakan pemandangan biasa.

Tiada pelayanan sebagai faedah,

tetapi paling tidak ada hiburan dagelan yang dapat dinikmati.

Dalam dunia  pelayanan rohani, Tuhan juga sering dijadikan kosmetik.

Tuhan juga sering dijadikan bungkus dalam pelayanan agar kelihatan suci sehingga dapat melancarkan bisnis atau kebanggaan rohani.

Lihatlah kini yang dominan adalah lebih banyak bicara daripada berbuat, lebih pandai berargumentasi daripada bermeditasi, dan lebih suka menjadi penasehat daripada teladan.

 

Capai deh cari teladan  pelayanan yang tulus dari manusia jaman ini.

Karena itu, kita bisa menggali inspirasi dari “akar pohon”  untuk melayani dengan ketulusan hati.

Ketika benih ditanam di tanah, akar akan berusaha menumbuhkannya.

Akar akan menjulur ke atas  melalui gelapnya tanah,

dan meliuk-liuk melewati tajamnya bebatuan untuk menumbuhkan benih itu.

Ketika benih itu telah bertunas, akar akan semakin dalam menjulur ke tanah.

Ketika  tunas itu bertumbuh besar dan ranting-ranting dipenuhi dengan banyak dedaunan,

akar akan menancapkan dirinya ke tanah lebih dalam lagi agar dapat menopangnya ketika angin menerpa.

Pada saat pohon itu berbuah, orang memuji buah dan pohon itu, tanpa melihat peranan akar.

Namun, akar tidak iri hati, apalagi frustasi.

Akar tetap mencari air untuk menyuplai makanan bagi pohon itu agar tetap hidup.

Kerendahan hati dan ketulusan pelayanan akar karena prinsip hidupnya :

“Biarlah aku tenggelam dalam gelapnya tanah, agar pohon dan buahnya dapat menikmati terang dan indahnya dunia”.

 

Demikian juga kita,

Bersyukurlah  ketika tiada orang yang menghargai karya kita dan ketika  orang lain mendapatkan pujian dari apa yang kita lakukan !

Disitulah pelayanan dengan tulus dan rendah hati mulai terjadi.

Berkatnya adalah kita menjadi besar secara rohani :

“Berbahagialah orang yang suci

hatinya,  karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8).

 

Tuhan Memberkati

Dokter Agung

0

Pada tanggal 29 Maret 2015, aku dengan antusias merayakan Misa Syukur atas ulang tahun ke tujuh puluh delapan tahun dari seorang nenek. Nama nenek itu adalah Lianiwati Ganda Wijaya. Aku yakin akan mendapatkan hikmat kehidupan darinya.

Benarlah yang aku yakini. Ketika aku tiba, nenek itu menyambutku dengan ramah. Kehadirannya membangkitkan rasa sayang dan kagum kepadanya. Ia tidak tertatih-tatih walaupun tulang kakinya sudah lemah. Ia bisa mengerti dan menimpali pembicaraan walaupun pendengaran jasmaninya sudah banyak berkurang. Sorotan matanya memancarkan kesabaran. Senyuman menyunggingkan ucapan syukur. Seluruh hidupnya telah menjadi lima roti dan dua ikan, yaitu mukjizat yang melimpah, bagi dirinya dan sesamanya yang mau menyelaminya

Kehidupannya yang tenang dan penuh syukur merupakan buah dari  penghayatannya akan bentukan Tuhan dalam segala peristiwa kehidupannya. Ia telah menderita kanker payudara selama tiga puluh tahun, tyroid selama lima belas tahun, gangguan jantung, dan sirosis hati sejak beberapa bulan lalu. Berbagai penyakit yang ditanggungnya tidak membuatnya mengeluh : “Mengeluh hanya akan memperparah penyakit. Aku mempunyai Dokter yang hebat. Dokter itu nama-Nya adalah Dokter Agung, yaitu Tuhan sendiri. Ia tidak hanya mampu menyembuhkan, tetapi Ia meneguhkan dan turut menanggung penyakitku dalam bilur-bilur-Nya. Dokter Agung itu membuat aku menerima penyakitku dengan penuh syukur. Menerima berarti berserah kepada-Nya dan tanpa menyerah.  Bersama dengan Dokter Agung itu, semua beban penyakitku terasa ringan. Aku pun senantiasa tersenyum dan hilang rasa sakitku”.

Aku bingung dan sekaligus kagum bahwa nenek itu bisa bersyukur atas berbagai penyakit yang dialaminya sehingga aku ingin mendapatkan jawabannya : “Oma, mengapa Oma bersyukur atas begitu banyak penyakit yang Oma tanggung. Orang lain pasti sudah frustasi  loh… Oma”.Jawabannya sungguh menunjukkan bahwa oma itu memang manusia yang sangat rohani : “Aku mendapatkan banyak hikmat dari macam-macam penyakitku ini. Dengan mengalami berbagai penyakit ini, aku ternyata disayang Tuhan. Melalui penyakitku ini, aku menyadari diri seorang manusia yang lemah. Dengan menyadari diri sebagai manusia yang lemah, aku menjauhkan diri dari kesombongan. Aku bersandar total kepada Tuhan. Karena Tuhan adalah sandaranku, aku senantiasa datang kepadaNya untuk menimba kekuatan dariNya. Semakin aku sering datang kepadaNya, relasiku juga semakin dekat denganNya. Orang yang dekat dengan Tuhan pasti disayangiNya. Selain disayang Tuhan, aku juga sangat disayang oleh kelima anakku, cucu-cucuku, dan suamiku yang telah mendampingiku selama lima puluh dua tahun.  Perhatian dan cinta mereka yang tulus sungguh aku rasakan ketika aku menghadapi berbagai penyakit ini. Mereka telah memperpanjang nafas hidupku”. Semua yang terjadi  diolahnya sebagai sesuatu pesan sayang/cinta dari Tuhan sehingga hidupnya dipenuhi dengan kesabaranKelima anaknya mengatakan bahwa mamanya itu tidak pernah marah selama hidupnya. Pengalamannya disayang Tuhan karena dekat denganNya mengingatkanku akan Firman Tuhan :“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

Hikmat yang dapat kita pelajari dari  kehidupan oma ini : Ketika kita sedang terluka, terhina, atau sakit, jangan pernah frustasi. Renungkanlah kehidupan rumput di depan mata kita, maka harapan akan muncul kembali. Walapun diinjak, dipotong, dihancurkan, dan dibakar, rumput itu tidak lama lagi akan muncul lebih hijau, lebih kuat, dan lebih indah. Terimalah luka, hinaan, dan sakit dan penyakit sebagai  pembentukan Tuhan, hidup akan menjadi lebih indah dan berseri karena memancarkan ketegaran, ketabahan, dan syukur :Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya(Yeremia 18:4).

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab