Home Blog Page 325

Bagaimanakah sikap dan waktu doa?

16

Pertanyaan:

Kel. Stefanus Tay yang dikasihi Tuhan.
Bagaimanakah sebaiknya sikap kita berdoa?.
Sikap doa Tuhan Yesus dan rasul2Nya bermacam-macam al. : berdiri (Mrk.11:25), Yesus menengadah ke langit (Yoh.17:1), dengan menadahkan tangan yang suci (I Tim.2:8), Paulus berlutut (Kis.20:36), berlutut dan berdoa (Luk.22:41), sujud dan berdoa” (Mat.26:39), merebahkan diri ke tanah dan berdoa (Mrk.14:35), “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa” (Ef.3:14), “maka tersungkurlah…di hadapana Dia…dan menyembah Dia…“ (Why.4:10). dsb.nya.

Bangsa Yahudi/ orang Israel dan Kristen Orthodox di Timur Tengah melakukan doa pada jam-jam : jam pertama, jam ke tiga, jam ke enam, jam ke sembilan, sholat senja, sholat purna bujana, sholat tengah malam.
Apakah tradisi gereja pernah melakukan cara doa pada jam-jam tertentu?.
Terima kasih atas penjelasannya. – Julius

Jawaban:

Shalom Julius,

Terima kasih untuk pertanyaannya.

I. Sikap dalam berdoa:

1) Memang benar seperti yang dikatakan oleh Julius bahwa Alkitab mencatat banyak sekali sikap berdoa, seperti berdiri, menengadah ke langit, merebahkan diri ke tanah, bersujud, dll. Namun, satu hal yang perlu dicatat disini adalah semua sikap yang terlihat (duduk, berdiri, bersujud, dll) adalah merupakan ungkapan hati. Tuhan lebih melihat apa yang ada di dalam hati daripada apa yang nampak di luar, walaupun kita tidak mengatakan bahwa ekpresi berdoa tidaklah penting, karena yang diekpresikan keluar adalah ungkapan hati. Disinilah dikatakan bahwa “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Maz 51:17). Katekismus menegaskan bahwa kegiatan kurban atau persembahan harus menjadi ungkapan kurban batin (KGK, 2100).

2) Kalau kita perhatikan, sebenarnya di dalam perayaan Ekaristi sarat dengan begitu banyak simbol, baik dari gerak tubuh, warna, dupa, lilin, dll. Semuanya adalah untuk mendukung agar umat dapat mengarahkan hati untuk bertemu dengan Tuhan. Semua hal tadi adalah sifatnya terlihat yang membantu agar hati manusia dapat bertemu dengan Tuhan sendiri. Jadi tantangan bagi kita masing-masing untuk semakin menghayati simbol-simbol yang ada di dalam Ekaristi, sehingga kita semakin dapat menghayati kurban Kristus yang diperingati dalam setiap perayaan Ekaristi.

3) Untuk prakteknya, saya ingin menganjurkan agar masing-masing dari kita mempuyai pojok doa, dimana setiap kali kita berdoa, kita dapat berlutut dan juga menyalakan lilin. Dan semua ini membantu kita untuk mengarahkan hati kepada Tuhan.

II. Waktu berdoa:

1) Tentang waktu berdoa, dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepada keturunan Harun untuk mempersembahkan kurban setiap pagi dan sore (Kel 29:38-41). Dan selain dua waktu ini, kita juga tahu bahwa ada doa pada jam ke 3, 6, 9 atau sekitar jam 9:00 , 12:00 dan 15:00 (Kis 2:15; Kis 10:9; 10:3,13).Dan Daud mengatakan “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil (Maz 119:164).

2) Nah, dalam tradisi kehidupan biara, yaitu ordo Benedictus, dikatakan bahwa mereka berdoa pagi atau Prime (jam ke 1 atau waktu matahari terbit), Terce (jam ke-3 atau sekitar jam 09:00), Sext (jam ke 6 atau jam 12:00), None (jam ke-9 atau jam 15:00), Vespers (doa sore, sekitar matahari terbenam), dan Compline (doa malam sebelum tidur). Dan tambahan yang lain adalah mereka membaca Office of Matins (dapat jam 21:00, 24:00, 03:00).

3) Dan tradisi ini terus dilanjutkan sampai sekarang dalam brevier atau liturgi of the hour. Dikatakan bahwa setelah Misa, maka liturgy of the hour adalah doa yang terpenting, dimana semua umat beriman berdoa bersama dengan Gereja. Semua pastor diharuskan untuk berdoa brevier. Umat beriman dianjurkan untuk berdoa brevier, minimal doa pagi dan sore.

4) Sebagai umat yang begitu sibuk dengan kehidupan sehari-hari, kita juga dapat berdoa di sela-sela kesibukan kita. Pada waktu kita di mobil menuju kantor, kita bisa rosario, atau waktu kita berolahraga kita juga bisa berdoa. Waktu kita sibuk di kantor, kita menyempatkan untuk berdoa, walaupun singkat, mungkin cuma satu kalimat. Namun ini menunjukkan bahwa kita ingat kepada Tuhan dan membawa Tuhan dalam kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, sehingga apa yang kita lakukan sehari-hari juga dapat dikuduskan oleh Tuhan. Namun, kita tetap membutuhkan waktu yang khusus untuk berdoa.

Demikian penjelasan singkat tentang sikap doa dan waktu doa. Mari kita bersama-sama lebih setia dalam kehidupan doa kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Apakah Yesus mempunyai istri?

13

Pertanyaan:

Salam sejahtera…
Saya mau tanya, benar atau tidak Yesus mempunyai istri?sejak kecil saya suka dan bahkan dengan senang hati mengikuti sekolah minggu, dan tidak pernah ada yang mengajarkan kalau yesus punya istri.dan tidak satu pun ada tulisan yang mengatakan yesus punya istri( alkitap ).saya berharap jawabannya bisa membantu saya, Tuhan memberkati.
Salam – Jonner

Jawaban:

Salam damai Jonner,

Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan tentang apakah Yesus mempunyai istri atau tidak, mungkin tidak pernah terlintas oleh orang yang beragama Kristen, karena umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari sekarang kita lihat satu persatu keberatan tersebut:

  1. Ada yang mengajukan argumentasi bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena berdasarkan beberapa kitab-kitab yang tidak termasuk dalam alkitab. Dan inilah yang dijabarkan secara panjang lebar dalam karya fiksi (fiksi = tidak nyata) dalam Da Vinci Code tulisan Dan Brown.
  2. Karena Yesus seorang rabbi (Yoh 1:38) dan hampir semua rabbi di jaman Yesus menikah, maka Yesus pasti menikah.

Dari keberatan-keberatan tersebut, mari kita menganalisanya satu-persatu.

I. Maria Magdalena di Kitab Perjanjian Baru.

  1. Dalam Injil diceritakan akan beberapa nama Maria, seperti: Maria – Bunda Yesus, Maria – saudara Lazarus dan Marta (Luk 10:38-42), Maria Magdalena (Maria yang berasal dari Magdala, di daerah sekitar Danau Galilea).
  2. Maria Magdalena ini adalah yang diceritakan dalam Injil bahwa Maria Magdalena bersama dengan beberapa perempuan lain melayani para Yesus dan murid dalam pelayanan mereka (Luk 8:1-3). Dia juga dibebaskan dari tujuh roh jahat (Luk 8:2). Dan dia juga yang menyaksikan dari dekat drama penyaliban Kristus (Mk 15:40), dan kemudian Yesus menyatakan kebangkitan-Nya kepada Maria Magdalena (Yoh 20:1-18).
  3. Dan kemudian di Luk 7:36-50 dikatakan ada seorang wanita pendosa yang menangis dan meminyaki kaki Yesus, serta mengusap kaki Yesus dengan rambutnya. Cerita ini justru menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena di ayat 48 dan 50 dikatakan bahwa Yesus mengampuni dosa wanita pendosa tersebut. Hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  4. Itulah sekilas yang diceritakan dalam Injil tentang keberadaan Maria Magdalena, yang sebenarnya dari semua cerita tersebut, tidak ada hal yang yang mendukung tentang keistimewaan hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena.

II. Maria Magdalena di kitab-kitab yang tidak termasuk dalam Alkitab.

  1. The Gospel of Thomas, The Gospel of Peter, The Sophia of Jesus Christ, The Pistis Sophia, The Gospel of Mary, The Dialogue of the Saviour, The Gospel of Philip, adalah buku-buku yang sering dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Namun di semua buku-buku tersebut, setahu saya tidak berkata bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, yang ada hanya menceritakan kedekatan mereka. Jadi pernyataan bahwa Yesus menikah adalah merupakan kesimpulan dari kedekatan yang digambarkan antara Yesus dan Maria Magdalena dalam buku-buku tersebut.
  2. Buku-buku yang disebutkan di atas ditulis sekitar abad ke 2-3, mungkin yang paling awal adalah The Gospel of Thomas. Sedangkan buku-buku yang termasuk di dalam Alkitab Perjanjian Baru ditulis dari sekitar tahun 50 – 100 AD, seperti: Matius, 1 dan 2 Tesalonika (50-55), Markus, Lukas, Kisah Para Rasul (55-62), dan paling akhir Yohanes dan Wahyu (90-100). Kesimpulannya, apa yang terlebih dahulu ditulis mempunyai kemungkinan untuk yang lebih besar bahwa dokumen tersebut tidak ditambah-tambah karena ketidakbenaran suatu fakta. Kalau memang fakta di dalam dokumen perjanjian baru tidak benar-benar terjadi, seperti: mukjijat, kematian Yesus, kebangkitan Yesus, maka akan ada banyak orang yang menuliskan dokumen lain dan memprotes akan ketidakbenaran Injil dan buku yang lain pada saat itu. Namun kenyataannya, kita tidak menemukan dokumen-dokumen tersebut di tengah-tengah begitu banyak saksi yang masih hidup pada waktu Perjanjian Baru ditulis. Mengapa kita percaya akan kemurnian dari Alkitab, dapat dibaca di artikel ini.
  3. Yang terjadi dengan perkembangan kekristenan di masa jemaat awal adalah suatu konsistensi yang mempertahankan bahwa Yesus adalah satu Pribadi yang mempunyai dua nature (manusia dan Tuhan). Dan inilah yang diperjuangkan dan diimani oleh Gereja Katolik.

III. Apakah seorang Yahudi dan Rabbi harus menikah.

  1. Kita tahu dari beberapa tulisan pakar histori, bahwa ada banyak orang yang tidak menikah pada jaman Yesus, sebagai contoh:- Menurut Philo (filsuf Yahudi yang tinggal di Alexandria, Mesir) dalam bukunya Hypothetica 11.14-17, dikatakan bahwa suku Essenes tidak memiliki istri.- Menurut Josephus (sejarahwan Yahudi) dalam bukunya Jewish War, 2.8.2 dan juga Antiquities 18.1.5 mengatakan bahwa banyak orang dari suku Essenes yang mempraktekkan kaul kemurnian seumur hidup, yang berarti tidak menikah.
  2. Jadi, tidaklah aneh kalau orang-orang seperti Yohanes Pembaptis, Rasul Yohanes atau Rasul Paulus tidak menikah. Dan tentu saja tidaklah aneh kalau Yesus sendiri tidak menikah.

Jadi, kenapa Yesus tidak menikah?

  1. Kita melihat dari percakapan Yesus dengan murid-muridnya di Mat 19:3-12, bahwa Yesus mengajarkan akan kesucian akan pernikahan dan tidak mengijinkan akan perceraian. Namun di ayat 11-12, dikatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Nah dari sini, kalau ada orang-orang yang untuk kerajaan surga tidak menikah, apalagi Yesus, yang datang dari Sorga, yang adalah Allah sendiri, sungguh menjadi layak untuk tidak menikah di dunia ini. Bukan karena Yesus merendahkan perkawinan, namun menjadi layak (fitting) bahwa Dia tidak menikah, sehingga Dia dapat menyebarkan Kerajaan Allah secara total. Dan ini juga ditegaskan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak menikah lebih memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan (1 Kor 7:32-33). Dan inilah yang dilakukan oleh para pastor dan suster, yang mau meneladani secara penuh apa yang dicontohkan oleh Yesus.
  2. Akan menjadi fitting kalau Yesus tidak menikah, karena kedatangan-Nya adalah untuk menebus dosa manusia. Dimana karya penebusan ini jauh lebih tinggi/ infinite (tak terbatas) jika dibandingkan dengan pernikahan. Sebagai contoh, seorang penjual yang mempunyai proyek 900 triliun US$ tidak akan tergoda dengan proyek yang bernilai 100 rupiah. Ini adalah contoh yang sungguh tidak sempurna untuk membandingkan nature dari karya penebusan (yang sifatnya supernatural/grace) dibandingkan dengan natural. Perbedaan antara nature dan grace/supernatural level adalah tidak terbatas, sehingga contoh di atas sesungguhnya tidak dapat menggambarkan perbedaan tersebut.
  3. Sebenarnya pernikahan adalah suatu gambaran yang sekilas akan Kerajaan Allah yang abadi, dimana sepasang suami istri dapat memberikan diri masing-masing dalam kasih yang tulus. Disinilah inti dari kasih yang sebenarnya terwujud dalam kesucian perkawinan, dimana suami istri mengatakan satu-sama lain: saya memberikan diriku, dan saya adalah milikmu. Pernikahan adalah suatu cara untuk mengekpresikan kasih seperti ini. Namun di dalam diri Yesus, ada kepenuhan kasih yang paling sempurna, yaitu kasih di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, sehingga dalam kesatuan dengan Allah ini (karena memang Yesus adalah Allah) tidak diperlukan pernikahan dengan manusia.
  4. Pernikahan yang kita kenal di dunia ini bersifat sementara sampai maut memisahkan suami istri. Inilah yang diajarkan oleh Yesus sendiri, bahwa di Surga tidak ada hubungan pernikahan seperti yang kita kenal di dunia ini (Mat 22:23-32). Jadi, kalau Yesus sendiri senantiasa mengalami Kerajaan Surga (karena Yesus mempunyai Beatific Vision secara terus-menerus), maka adalah fitting bahwa Yesus tidak memilih pernikahan seperti yang ada di dunia ini.
  5. Karya penebusan ini menempatkan Yesus sebagai mempelai laki-laki, dengan Gereja sebagai mempelai perempuan yang dikuduskan-Nya dengan air dan firman, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus (Ef 5:25-32). Akan tidak fitting kalau Yesus menikah, karena ini berarti ada dua mempelai perempuan. Sedangkan Yesus sendiri mengatakan bahwa perkawinan hanya untuk 1 laki-laki dan 1 perempuan (Mat 19:3-12). Di sini, Gereja sebagai Mempelai Yesus memiliki arti Ilahi, sehingga makna Perkawinan Kristus dengan Gereja jauh melampaui makna perkawinan antar manusia di dunia. Gambaran kasih antara Yesus dan Gereja inilah yang menjadi acuan/ teladan kasih suami istri dalam Sakramen Perkawinan Katolik, yaitu kasih mempelai laki-laki yang sampai menyerahkan nyawa bagi mempelai perempuan-nya dan kasih mempelai perempuan yang tunduk menghormati suaminya. Persatuan antara Yesus dengan GerejaNya di akhir zaman digambarkan sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba dalam kitab Wayhu 19:6-10.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Jonner.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit

24

Pendahuluan

“Tuhan Yesus setia.” (2 Tes 3:3) Ini adalah janji Tuhan yang selalu ditepati-Nya. Terutama dalam keadaan sakit, saat kita tidak lagi dapat mengandalkan manusia, kita dapat bersandar pada janji Tuhan ini. Memang, pada saat kita sakit dan menderita, kita justru dapat lebih memahami sengsara Yesus pada saat memanggul salibNya ke gunung Kalvari, sehingga kita sungguh dapat merasakan persatuan dengan Yesus. Janganlah kita lupa bahwa pada saat yang sulit ini, Tuhan Yesus rindu untuk mempersatukan kita dengan DiriNya, agar kita memperoleh jamahan-Nya. Syukur kepada Tuhan, Gereja memiliki Sakramen Urapan Orang Sakit, yang menjadi tanda penyertaan Kristus, sarana pengurapan dan penyembuhan orang sakit, yang dapat mendatangkan rahmat yang luar biasa, entah berupa kesembuhan rohani, jasmani, ataupun keduanya, atau jika waktunya telah tiba, merupakan persiapan bagi kita untuk bertemu muka dengan muka dengan Tuhan.

Penyakit dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan

Tak dapat kita pungkiri, bahwa penyakit dan penderitaan merupakan pencobaan yang terberat dalam kehidupan manusia. Melalui penyakit, kita mengalami bahwa kita terbatas dalam banyak hal; bahwa segala kepandaian dan kekayaan bahkan tidak dapat menggantikan arti kesehatan. Dan di atas semua itu, kita diingatkan akan kematian.[1] Maka, tak jarang, penyakit dapat menimbulkan rasa takut, ingin menutup diri, bahkan putus asa dan ‘marah’ kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya, penyakit dapat membuat kita lebih pasrah, lebih dapat melihat apa yang terpenting di dalam hidup ini, sehingga kita tidak lagi mencari segala sesuatu yang tidak penting. Seringkali, penyakit membawa kita mencari Tuhan dan kembali kepada-Nya.[2]

Jadi meskipun kelihatannya penyakit itu sesuatu yang buruk, namun sesungguhnya ia dapat memberikan kepada kita sesuatu yang positif. Yang pertama adalah pertobatan.[3] Biasanya dengan mengalami sakit, terutama jika sakit yang cukup berat, kita menjadi sadar bahwa telah sekian waktu kita mengandalkan kekuatan sendiri, dan kurang mengandalkan Tuhan. Kita disadarkan bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan dan Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya, karena semuanya itu akhirnya akan berpulang kepada-Nya.

Kedua, penyakit kita dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain. Artinya, dalam keadaan sakit, kita dapat mendoakan orang lain, terutama untuk pertobatan mereka, dan Tuhan dapat berkenan mengabulkannya. Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostoliknya, Salvifici Doloris (On the Christian Meaning of Human Suffering), mengatakan bahwa setiap manusia yang menderita dapat mengambil bagian dalam karya Keselamatan[4] yang dipenuhi oleh Kristus. Oleh karena persatuan dengan penderitaan Kristus, penderitaan kita memperoleh arti yang baru.[5] Inilah yang disebut oleh Rasul Paulus, “Di dalam tubuhku, aku melengkapi apa yang kurang dalam penderitaan Kristus demi TubuhNya, yaitu Gereja-Nya.” (Kol 1:24). Jadi hanya dalam konteks Gereja, Tubuh mistik Kristus yang kini masih berkembang dalam ruang dan waktu, kita dapat berpikir tentang ‘apa yang kurang dalam penderitaan Kristus’. Ini berarti bahwa penderitaan Kristus yang menyelamatkan dapat selalu dilengkapi secara terus menerus oleh penderitaan manusia sepanjang zaman, sampai pada kesudahannya nanti di akhir dunia. Oleh karena inilah, penderitaan selalu menjadi perhatian Gereja, dan Gereja tunduk menghormati penderitaan di dalam iman akan Keselamatan [6] yang menjadi buahnya oleh jasa Kristus.

Mungkin saya dapat membagikan cerita mengenai hal ini, lewat kesaksian pastor pembimbing saya sewaktu saya tinggal di Filipina, yaitu Pastor Bob. Pastor Bob menceriterakan pengalamannya saat ia rutin mengunjungi rumah sakit. Suatu hari ia mengunjungi seorang ibu yang terkena multiple sclerosis yang menyebabkan ia harus diamputasi kedua lengan dan kakinya sampai ke pangkal paha. Ia menjadi sangat putus asa dan merasa tidak berguna. Pada saat itulah Pastor Bob mengunjungi dia dan memberikan sakramen Pengurapan Orang sakit. Lalu, ibu itu bertanya pada Pastor, suatu pertanyaan yang membuat Pastor Bob terhenyak, “Pastor, untuk apa saya hidup? Kenapa Tuhan tidak langsung saja mengambil nyawa saya?” Karena tidak tahu harus menjawab apa, lalu Pastor Bob berjanji akan mencari jawabnya dalam kunjungannya seminggu kemudian. Begitu ia pulang ke pastoran, Pastor Bob mendapat tugas untuk memimpin retret anak-anak muda di paroki, minggu depan, bertepatan dengan hari kunjungan Pastor ke rumah sakit. Maka sehari sebelum Pastor berangkat ke retret, ia berkunjung ke ibu yang sakit itu, sambil berkata, “Nah, sekarang aku mengetahui apa yang akan kukatakan kepadamu, mengenai arti hidupmu. Maukah engkau berdoa bagi anak-anak muda yang akan mengikuti retret besok?” Ibu itu setuju, dan Pastor Bob memberikan kepada ibu itu, daftar nama anak-anak yang mengikuti retret. Pastor itu mengatakan, “Doakanlah anak-anak ini, agar mereka dapat mengalami kasih Tuhan dan pertobatan yang sungguh.” Kemudian Pastor Bob meninggalkannya dan ibu itu mulai berdoa, mendoakan anak-anak itu satu demi satu.

Esok harinya retret anak muda itu dimulai dan ketika retret mencapai akhirnya, Pastor Bob menjadi sangat tertegun karena retret itu menjadi salah satu retret yang terbaik yang pernah dia pimpin. Semua peserta retret mengalami kasih Tuhan yang luar biasa, dan banyak dari mereka mengalami pertobatan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus. Pastor itu segera teringat akan ibu yang terbaring di rumah sakit. Akhirnya ia mengumumkan kepada para peserta retret, “Jika kalian telah mengalami kasih Tuhan malam ini, bersyukurlah kepada Tuhan. Namun ketahuilah juga bahwa ada seorang ibu yang terbaring sakit yang mendoakan setiap dari kalian selama tiga hari ini. Saya percaya, Tuhan mendengarkan doa ibu itu, yang didoakan ditengah penderitaan dan kesakitannya. Tuhan berkenan mengabulkannya dan membuat kalian semua di sini mengalami kasih Allah yang ajaib. Ibu itu adalah ….(diberikannya nama ibu itu beserta nomor kamar rumah sakit).”

Hari berikutnya sepulang dari retret, Pastor Bob mengunjungi ibu itu di rumah sakit. Di sana ia menemukan ibu itu sedang sibuk membaca surat-surat yang ditulis oleh anak-anak muda yang baru saja selesai mengikuti retret. Mereka mengirimkan juga bunga dan kartu ucapan terima kasih. Akhirnya, ibu itu berkata, “Pastor, sekarang aku tahu untuk apa aku hidup. Aku akan terus berdoa untuk pertobatan banyak orang, termasuk mereka yang kukasihi, anak- anak dan anggota keluargaku. Kini aku tahu mengapa Yesus mengizinkan aku memikul salibku ini, yaitu agar aku dapat berjalan bersama-Nya untuk ikut mendatangkan keselamatan bagi dunia…”

Pengalaman ibu ini mengajarkan kita, agar kita tidak menyia-nyiakan pengalaman sakit yang kita alami. Sebab, justru pada saat kita sakit, kita dapat mempersatukan penderitaan yang kita alami untuk mendoakan banyak orang untuk keselamatan mereka,[7] termasuk mohon ampun untuk kesalahan kita sendiri di masa lalu. Kita dapat memohon agar melalui penyakit ini banyak orang dapat diselamatkan dan kita sendiri dimurnikan oleh Tuhan. Lihatlah akan banyak keajaiban yang mungkin terjadi melalui doa-doa yang kita naikkan ditengah-tengah penderitaan kita yang menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus; karena dengan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya, kita beroleh kuasa kebangkitan-Nya yang menyelamatkan.[8]

Dasar dari Kitab Suci

Sesungguhnya, pengurapan orang sakit diberikan atas perintah Yesus sendiri. Yesus memberikan perintah kepada para muridNya untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan mengurapi orang sakit dengan minyak (lih. Mrk 6:13, Luk 10:8-9). “Sembuhkanlah orang sakit,” (Mat 10:8) demikianlah seruan Yesus kepada para rasulNya. Penderitaan dan penyakit manusia selalu menarik perhatian Tuhan, sehingga semasa hidupNya, kemanapun Yesus pergi mengajar, hampir selalu disertai dengan mukjizat penyembuhan orang-orang sakit (Mat 12:5, 14:36, Mrk 1:34, 3:10).

Dalam menyembuhkan, Yesus tidak hanya menyembuhkan badan namun juga jiwa para orang sakit dengan mengampuni dosa mereka (lih. Mrk 2:5-12); dan pengampunan dosa (kesembuhan rohani) dilihat oleh Yesus sebagai sesuatu yang lebih utama daripada kesembuhan badan. Yesus menginginkan agar para penderita sakit untuk percaya kepada-Nya (lih. Mrk 5: 34,36). Ia menggunakan tanda-tanda untuk menyembuhkan, seperti ludah dan perletakan tangan (lih. Mrk 7:32-36; 8:22-25), adonan dari tanah dan pembasuhan (lih. Yoh 9:6-7), ataupun penjamahan jubahNya (lih. Luk 6:19).

Perhatian Yesus inilah yang diteruskan secara turun temurun oleh para rasul dan para murid-Nya. Rasul Yakobus adalah yang secara khusus menuliskan hal ini, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia mamanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesinya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak 5:14-15). Tradisi ini yang diturunkan menjadi salah satu dari ketujuh sakramen Gereja.[9]

Pengurapan Orang Sakit dalam menurut Tradisi Gereja

  1. St. Yohanes Krisostom (387), mengatakan bahwa para imam menerima kuasa dari Tuhan untuk membersihkan jiwa dari dosa. Dalam hal ini mereka lebih daripada para imam Yahudi yang diberi kuasa untuk menyatakan apakah seseorang sudah sembuh/ tahir dari penyakit lepra. Sebab para imam sekarang oleh kuasa Kristus tidak hanya ‘menyatakan’ seseorang tahir, tetapi sungguh menjadikan orang tahir dari dosa. Imam melakukan hal ini tidak saja dengan pengajaran, tetapi dengan kuasa doa. Bukan saja pada waktu Pembaptisan, tetapi sesudahnya sesuai dengan pesan Rasul Yakobus…”[10]
  2. St. Paus Innocentius I (wafat tahun 417) menyatakan bahwa Pengurapan Orang sakit dengan minyak yang telah diberkati oleh Uskup adalah sakramen yang ditujukan untuk menghapuskan dosa, dan meningkatkan kekuatan jiwa dan badan.[11]
  3. Sakramen Urapan Orang Sakit dinyatakan oleh Konsili Trente (1545-1563) sebagai salah satu dari ke-tujuh sakramen. Konsili Trente menyebutkan bahwa “Urapan ini ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita…., yang disinggung oleh Markus, tetapi dianjurkan kepada orang beriman dan diumumkan oleh Yakobus, Rasul dan saudara Tuhan.”[12]
  4. Konsili Vatikan II (1962-1965) menganjurkan agar Sakramen Pengurapan ini tidak hanya diberikan kepada seseorang yang sedang mengalami ajal, namun juga kepada siapa saja yang mulai mengalami sakit berat dan mereka yang menderita kelemahan karena usia lanjut. Dalam hal ini Gereja meneruskan tugas yang dipercayakan oleh Yesus untuk menyembuhkan orang sakit, terutama kesembuhan rohani.

Kapan sebaiknya menerima Sakramen Urapan Orang Sakit?

Katekismus mengikuti pengajaran Vatikan II, menegaskan bahwa Urapan orang sakit tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka saat yang baik adalah pada saat kita mulai menghadapi bahaya maut, misalnya ketika akan menghadapi operasi besar, ataupun ketika baru mendapat diagnosa penyakit tertentu yang cukup serius; ataupun jika kita sudah lanjut usia.[13] Jika sesudah menerima sakramen ini kita sembuh, kita dapat menerimanya kembali jika kita mengalami sakit berat lagi.[14]

Siapa yang dapat memberikan Sakramen Urapan Orang Sakit?

Yang dapat memberikan sakramen Urapan Orang sakit hanyalah imam (Uskup dan pastor). Kita hendaknya mendorong para orang sakit untuk memanggil imam untuk menerima Sakramen ini, termasuk jika kita sendiri mengalami sakit berat. Sebelum menerima sakramen ini, hendaknya orang yang sakit mempersiapkan diri, sehingga dapat menerimanya dengan keadaan batin yang baik.[15]

Bagaimana Urapan Orang Sakit dirayakan?

Sakramen Urapan orang sakit adalah perayaan liturgi dan perayaan bersama, baik itu di rumah, rumah sakit atau di gereja. Jadi sakramen ini bukan hanya melibatkan imam dan orang yang sakit, melainkan juga komunitas; yaitu anggota keluarga ataupun yang merawat orang yang sakit. Jika memungkinkan, Urapan Orang sakit ini dapat dirayakan di dalam perayaan Ekaristi, yaitu kenangan Paska Tuhan; yang dapat didahului oleh penerimaan Sakramen Pengakuan Dosa. Sehingga urutannya adalah Sakramen Pengakuan, lalu diikuti oleh sakramen Urapan Orang Sakit dan ditutup dengan Sakramen Ekaristi. Jika tiba waktunya, memang Ekaristi sebaiknya menjadi Sakramen terakhir yang kita terima dalam perjalanan hidup kita di dunia, dan menjadi bekal untuk peralihan ke hidup abadi.[16] Sebagai sakramen kematian dan kebangkitan Yesus, Ekaristi menjadi sakramen peralihan dari kematian kita menuju kehidupan yang baru di rumah Allah Bapa.[17]

Jika dirayakan di dalam Misa Kudus di gereja, demikianlah urutannya:

  1. Misa dimulai seperti biasa, diawali dengan doa khusus untuk mereka yang akan menerima Pengurapan. Bacaan diambil dari bacaan Mingguan atau bacaan khusus yang disiapkan untuk perayaan misa tersebut.
  2. Sesudah homili, dibacakan litani doa untuk yang sakit dan mereka yang merawat yang sakit.
  3. Mereka yang sakit kemudian dibawa ke depan altar. Imam akan meletakkan tangan di atas kepala setiap yang sakit, mengikuti cara Yesus yang menumpangkan tangan atas para penderita sakit dan menyembuhkan mereka (lih. Luk 4:40).
  4. Minyak dibawa ke altar dan doa dibacakan atas minyak tersebut.
  5. Imam membuat tanda salib dan memberkati para orang sakit itu dengan minyak di dahi, sambil berdoa, “Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus.” Semua menjawab: “Amin”. Lalu imam mengurapi telapak tangan orang yang sakit dengan tanda salib sambil berkata, “Semoga Tuhan membebaskan Saudara dari dosa dan membangunkan Saudara dalam rahmat-Nya.” Semua menjawab: “Amen.”
  6. Kemudian, Misa dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi, seperti biasa.

Jika Pengurapan dilakukan di rumah atau di rumah sakit, demikian urutannya:

  1. Ritus dimulai dengan tanda  salib dengan air suci yang mengingatkan kita akan janji baptis, bahwa kita akan mati bersama Kristus agar dapat bangkit dengan kehidupan baru bersama Dia.
  2. Bacaan Kitab Suci sesuai dengan kondisi orang yang sakit. Imam akan berdoa dan akan menyampaikan doa-doa dari sesama anggota Gereja dan mengundang yang sakit untuk juga berdoa bagi anggota Gereja.
  3. Imam menumpangkan tangan ke atas kepala orang yang sakit, berdoa atas minyak suci dan mengurapi dahi dan tangan orang yang sakit.[18]
  4. Imam mendoakan orang yang sakit dan mengundang semua yang hadir untuk berdoa “Bapa Kami”.
  5. Selanjutnya, orang yang sakit dapat menerima Komuni kudus.
  6. Imam kemudian memberkati orang sakit dan semua yang hadir.

Apakah kita pasti mengalami kesembuhan setelah menerima Pengurapan?

Perlu kita ketahui bahwa hal karunia kesembuhan total adalah kehendak Tuhan. Adalah suatu misteri, bahwa jika setelah berdoa mohon kesembuhan, atau menerima sakramen pengurapan orang yang sakit, tidak semua orang sakit disembuhkan secara jasmani. Namun, kita dapat mengimani bahwa sakramen pengurapan membawa kesembuhan rohani yang lebih penting daripada kesembuhan jasmani, terutama jika diterima dengan disposisi hati yang baik.

Kenyataan ini membuat hati kita dapat menjadi lebih berpasrah kepada Tuhan. Sebab Rasul Paulus sendiri mengalami sakit badani (Gal 4:13-14), ataupun sakit yang disebutnya sebagai ‘duri dalam daging’. Rasul Paulus memohon agar Tuhan menyembuhkannya, namun Tuhan membiarkan hal itu, untuk maksud menyatakan kuasa-Nya di tengah kelemahan manusia (2 Kor 12:7-9).

Buah-buah Pengurapan Orang Sakit

Sakramen Urapan Orang Sakit ini mendatangkan buah-buah yang baik bagi yang sakit, yaitu:

  1. Suatu anugerah khusus dari Roh Kudus. Melalui kisah pengalaman Pastor Bob di atas, kita mengetahui bahwa rahmat sakramen ini adalah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan penyakit tersebut ataupun kelemahan karena usia lanjut. Rahmat ini memperbaharui iman dan pengharapan, sehingga orang yang sakit tidak berkecil hati dan tidak takut menghadapi kematian. Rahmat ini dapat mendatangkan pengampunan dosa, menyembuhkan jiwa, dan dapat pula menyembuhkan badan, jika hal tersebut sesuai dengan kehendak Allah.[19]
  2. Persatuan dengan sengsara Kristus. Oleh Sakramen ini orang yang sakit menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat lagi dengan sengsara Tuhan Yesus. Dalam keadaan sedemikian, orang yang sakit seolah diangkat menjadi ‘sahabat sejati’ Tuhan Yesus yang tidak saja menjadi sahabat di waktu senang, tetapi juga di waktu susah. Dengan menderita bersama Yesus, sengsara kita akibat dari dosa asal mendapat suatu nilai yang baru: kita dapat turut serta dalam karya keselamatan Yesus.[20] Inilah yang disebut sebagai “redemptive suffering” atau sengsara yang menyelamatkan.
  3. Rahmat Gerejani. Orang yang sakit dapat menggabungkan penderitaannya dengan penderitaan Yesus dan memberikan sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah.[21] Dari contoh kisah Pastor Bob di atas dapat kita lihat bagaimana doa sang ibu yang sakit dapat membawa buah pertobatan bagi banyak anak muda anggota Gereja. Jadi Pengurapan dapat menghasilkan buah yang ganda, sebab yang menerima rahmat tidak saja orang yang sakit, tetapi juga para anggota Gereja. Orang sakit yang didoakan oleh Gereja (melalui imam) dalam persekutuan orang kudus menerima rahmat Roh Kudus, dan orang yang sakit tersebut menyumbangkan rahmat yang diterimanya dari Pengurapan, yaitu doa yang menguduskan Gereja.[22]
  4. Persiapan untuk perjalanan terakhir. Urapan ini merupakan persiapan untuk perjalanan terakhir terutama bagi mereka yang tengah menghadapi ajal. Bagi mereka, Urapan ini membuat mereka semakin serupa dengan Kristus sendiri. Urapan Orang sakit ini menjadi semacam rangkuman kehidupan kita di dunia, yang telah dimulai dengan (1)Pembaptisan yang telah mempersatukan kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus, dan yang telah memberikan kehidupan baru dalam Roh, (2)Penguatan meneguhkan kita di dalam iman, dan (3) Pengurapan Terakhir (temasuk Ekaristi) membekali kita untuk menghadapi perjuangan sebelum memasuki kehidupan kekal di rumah Bapa.[23]

Penutup

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan untuk karunia Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Karena melalui sakramen ini, Tuhan Yesus menjamah dan menguduskan orang sakit untuk mendatangkan kesembuhan jasmani dan rohani, namun terutama kesembuhan rohani, dengan membersihkan dari dosa, dan memberikan rahmat Roh Kudus-Nya. Jika oleh kebijaksanaan-Nya, Tuhan memandang bahwa kesembuhan jasmani itu baik bagi pertumbuhan iman dan keselamatan kita, Ia dapat memberikan kepada kita kesembuhan itu. Namun ada kalanya, Tuhan memandang sebaliknya, diizinkannya kita memikul salib kita, agar kita dapat lebih bertumbuh di dalam iman dan kasih kepada-Nya. Dalam keadaan apapun, kita diundang untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mempercayakan hidup kita ke dalam tangan-Nya. Apapun rencana Tuhan bagi kita, Ia tak pernah mengizinkan pencobaan melampaui kekuatan kita (1Kor 10:13), dan jika kenyataannya Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk hidup, artinya tugas kita di dunia belum selesai. Maka baiklah kita menjalaninya dengan semangat hidup dan kasih yang berkobar. Ya,  rahmat Allah akan memampukan kita untuk selalu mempunyai damai sejahtera dalam keadaan apapun juga. Rahmat ini khusus diberikan-Nya melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Melalui Pengurapan ini, Yesus mempersatukan kita yang sakit dengan Diri-Nya sendiri, sehingga kita dapat mempersembahkan penderitaan kita yang dengan kesatuannya dengan penderitaan Kristus dapat mendatangkan keselamatan, baik bagi diri kita maupun orang lain. Jika saatnya tiba bagi kita masing-masing, mari kita menyambut sakramen ini dengan hati lapang, “Tuhan Yesus, kuterima rahmat-Mu, yang mempersatukan aku dengan sengsara-Mu yang menyelamatkan. Semoga rahmat-Mu mendatangkan pengampunan, kesembuhan dan keselamatan bagiku, juga bagi mereka yang kudoakan, dan bagi dunia. Semoga rahmat-Mu mempersiapkan aku untuk menyongsong Engkau kelak dalam kehidupan abadi di surga. Aku tak tahu kapan saatnya Engkau memanggilku pulang, namun izinkanlah aku mengandalkan kasih-Mu dan kebaikan-Mu. Bantulah aku agar sungguh bertobat, dan agar aku tidak menjadi tawar hati. Biarlah selalu bergema di hatiku, bahwa  penderitaanku, apapun bentuknya,  tidak dapat memisahkan aku daripada-Mu, yang telah lebih dahulu memilih untuk menderita bagiku demi menyelamatkan aku. Mari, peganglah tanganku ya Tuhan, dalam menjalani kehidupanku ini, sampai saatnya nanti aku memandang Engkau di dalam kehidupan yang akan datang ….”


[1] Lihat Katekismus Gereja Katolik 1500.

[2] Lihat KGK 1501

[3] Lihat KGK 1502

[4] Lihat Pope John Paul II, Salfivici Doloris (On the Christian Meaning of Human Suffering), 19

[5] Lihat Ibid., 20

[6] Ibid., 24

[7] Lihat Lumen Gentium 41

[8] KGK 1505

[9] Lihat KGK 1510, 1526

[10] Diterjemahkan dari St. Yohanes Krisostomus, On the Priesthood 3:6:190ff

[11] Lihat St. Innocent, “Letter to Decentius”, seperti dikutip oleh John Willis, The Teaching of the Church Fathers, (Ignatius Press, San Francisco, 2002), p. 430-431.

[12] Konsili Trente, DS 16, 95 seperti dikutip di KGK 1511.

[13] Lihat KGK 1514, 1515

[14] Lihat KGK 1515

[15] Lihat KGK 1516

[16] Lihat KGK 1517, 1525

[17] Lihat KGK 1524

[18] Lihat KGK 1519

[19] Lihat KGK 1520

[20] Lihat KGK 1521

[21] Lihat Lumen Gentium 11, seperti dikutip di KGK 1522

[22] Lihat KGK 1522

[23] Lihat KGK 1523

9 pertanyaan kekristenan

21

Pertanyaan:

[Tanpa mengurangi esensi dari pertanyaan Bong Felix, Admin telah mengedit komentar ini, karena ada 9 tulisan yang panjang sekali dalam pesan ini. Semoga bisa dimengerti]

Terima kasih Kepada para moderator Katolisitas.org yang cukup membantu kita sebagai umat/bagian dari gereja,untuk mendapat informasi yang tepat guna dalam pengembangan iman secara Katolik. Terus terang saya agak sedikit gusar dengan perkembangan dewasa ini yang begitu bebas menyatakan pendapatnya tentang hal-hal yang bekenaan dengan agama dan keyakinan, dan baru-baru ini saya sempat masuk ke webside nya komunitas muslim, mereka begitu antusias mempelajari Injilnya Kristen dan tentunya hal ini membuat kita senang , namun diluar dugaan juga bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan Komunitas Kristiani, dan disini saya mau bertanya: apa yang harus kita lakukan apabila mendapatkan pertanyaan-pertanyan berikut ini

  1. Mana pengakuan Yesus di dalam Alkitab bahwa dia beragama Kristen?
    Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia beragama Kristen. Kristen mulai dipakai di Antiokia (Kis 11:23-26). Jadi yang membuat nama Kristen adalah adalah Barnabas dan Paulus. Kristen hanya disebut 6x (Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16).
  2. Mana ajaran Yesus ketika berumur 13-29 tahun? Injil tidak menceritakan hal ini, dan ini berarti Injil tidak komplit.
  3. Yesus tidak pernah mengatakan “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja.
  4. Yesus tidak pernah mengatakan “”Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”
  5. Mana perintah Yesus atau Tuhan untuk beribadah pada hari Minggu? Kemudian membandingkan dengan sepuluh perintah Allah yang mengharuskan seseorang beribadah pada hari Sabat.
  6. Dimanakah Alkitab mengatakan bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia? Yesus tidak pernah mengatakan hal itu. Kemudian argumentasi berkembang dengan memberikan Jesus seminar sebagai dasar bahwa Yesus tidak pernah mengatakan hal tersebut, dan Jesus seminar menyimpulkan bahwa 82% dari Injil bukan benar-benar diucapkan oleh Yesus.
  7. Mana dalilnya asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dijamin “pasti masuk surga”?
  8. Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya?
  9. Mana dalilnya Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah merayakannya!

Jawaban:

Shalom Bong Felix,

Terima kasih atas semua pertanyaannya. Kita tidak boleh gusar, karena memang Islam tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kami minta maaf, bahwa jawaban yang akan kami berikan mungkin tidak dapat terlalu panjang mengingat waktu yang terbatas. Namun secara perlahan-lahan kita akan menjawabnya dalam bentuk artikel-artikel yang lebih lengkap di masa datang. Jadi mohon kesabarannya. Artikel-artikel yang berhubungan dengan jawaban ini dapat dilihat di: Yesus Tuhan, Gereja Katolik, Inkarnasi, nubuat, Yesus menurut sejarah.

Mari kita sekarang melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang menjadi permasalah di sini adalah pertanyaan-pertanyaan di atas (1-6) mencoba memaksakan suatu bukti dengan cara yang kriteria yang dibuat sendiri, tanpa melihat bukti-bukti lain yang mendukung suatu pernyataan. Ini dapat digambarkan seperti seseorang berkata:

  1. “Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya.” Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Atau contoh yang lain, seorang anak mengatakan “saya tidak percaya bahwa orang tua saya mencintai saya, karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka mencintai saya.” Namun orang tua dari anak itu, sebenarnya begitu memperhatikan, berlaku lemah lembut, selalu ada di samping anak itu kalau anak itu mengalami kesulitan, mencukupi semua kebutuhan anak itu, meluangkan waktu untuk bercanda, bercerita, dll.
  3. Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan “Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita.” Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.
  4. Begitu mudah orang untuk mengatakan bahwa “saya kaya, saya mengasihi engkau”, namun belum tentu terbukti. Nah dalam hal ini, Tuhan kita yang menjelma menjadi manusia, telah menunjukkannya dalam segala perkataan dan juga dalam perbuatan, bahwa dia adalah Allah yang benar-benar mengasihi umat-Nya. Mana yang lebih besar tanda kasihnya “perkataan saya mengasihi engkau” atau “mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia”? Oleh karena itu, jawaban-jawaban berikut ini tidak akan mencoba untuk mencari-cari perkataan seperti yang diinginkan oleh penanya, namun membuktikan apa yang sesungguhnya mau ditanya.

Mari sekarang kita melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut:

I. Tentang pengakuan Yesus bahwa Dia beragama Kristen.

  1. Yesus memang tidak pernah mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk mendirikan agama Kristen. Namun Yesus mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa (Yoh 3:17; Yoh 12:47). Yesus juga mendirikan Gereja, seperti yang dikatakan-Nya di Mat 16:18, bahwa Dia mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (batu karang) dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Dan juga begitu banyak perkataan akan “kerajaan Allah”, yang sebenarnya merujuk kepada “Gereja”. Nah, sampai di sini, kita setuju bahwa Yesus mendirikan Gereja. Apakah nama Gereja-Nya? Dalam perkembangannya, memang betul bahwa nama Kristen mulai dipakai di Antiokia (Kis 11:23-26). Dan agama Kristen terus berkembang, yang mendasari ajarannya berdasarkan akan perkataan dan perbuatan Kristus.
  2. Dan Gereja Katolik mulai dipakai pada tahun 110 AD oleh St. Ignasius, seperti yang tertulis dalam suratnya kepada Smyrnaeans (jemaat di Smyrna), dimana dia mengatakan bahwa dimana uskup ada, disitu juga umat berada, dan dimana Jesus ada, disitu juga ada Gereja Katolik. Dan ini terus diteguhkan dengan surat dari St. Polikarpus, dll, sampai saat ini. Dan begitu banyak surat-surat yang ada untuk membuktikan hal ini.
  3. Jadi, sampai sini, kita tahu bahwa Yesus telah mendirikan Gereja, kemudian berkembang dengan nama Kristen, yang dimanifestasikan dalam Gereja Katolik. Nah, Yesus dalam banyak kesempatan mengatakan “ikutlah aku” (Mat 4:19; Mat 9:9; Mk 1:17; Lk 9:59; Yoh 1:43). Seseorang yang mengikuti Kristus disebut “Kristen” atau “Christian“. Jadi Yesus tidak mengakan Dia beragama Kristen, namun Dia mengatakan “Ikutlah Aku”. Jadi, Yesus Kristus memang bukan beragama Kristen, namun Dia adalah pendiri agama Kristen; karena Ia memberikan perintah untuk mengikuti Dia. Pengikut Kristus inilah yang disebut Kristen.

II. Mana ajaran Yesus ketika berumur 13-29 tahun?

  1. Kalau dikatakan bahwa ketidakkomplitan Injil karena kurang lengkapnya memuat biografi dari Yesus, maka pernyataan tersebut adalah benar. Bahkan, Alkitab menegaskan kebenaran ini, seperti yang dikatakan oleh Rasul Yohanes, bahwa tidak semua tercantum di sini (Yoh 21:25). Namun Kitab Suci ditulis bukan untuk memuat biografi Yesus secara lengkap. Namun Kitab Suci memuat perkataan dan perbuatan Yesus, sehingga semua orang dapat percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan yang mengikuti Dia akan memperoleh keselamatan. Kita mempercayai bahwa ketika Yesus berumur 13-29 tahun, Yesus tidak melakukan karya publik apapun untuk menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, namun Yesus hidup sebagaimana layaknya manusia biasa. Tentu saja hal seperti ini tidak perlu ditulis dalam Alkitab.
  2. Namun dibalik sesuatu yang sederhana ketika Yesus melakukan tugas sehari-hari, kekayaan dan keindahan doktrin Inkarnasi menjadi semakin jelas dan terkuak. Yesus datang ke dunia dan mengambil nature/kodrat manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, sehingga Yesus bisa mengangkatnya dan menjadikannya kudus. Jadi pada saat Yesus datang ke dunia ini dan menjadi manusia, Yesus mempunyai intelek dan keinginan, seperti manusia. Dan akal budi inilah yang diangkat oleh Yesus, sehingga menjadi kudus. Pada saat Yesus lahir ke dunia, Dia mengangkat kodrat manusia yang dilahirkan ke dunia ini, sebagai gambaran Allah. Pada saat Yesus melakukan tugas sehari-hari sampai berumur 30 tahun, bukan berarti Dia tidak melakukan apa-apa. Yang dilakukan adalah mengangkat semua pekerjaan sehari-hari untuk menjadi kudus dan memuliakan Allah.
  3. Disinilah pentingnya untuk menyadari bahwa, Yesus, dengan memutuskan hidup sebagai manusia, Dia sungguh-sungguh hidup seperti layaknya manusia, yang harus bekerja, menurut perkataan orang tua, belajar, melakukan pekerjaan sehari-hari, dll. Dan inilah yang menunjukkan kedalaman kasih Allah kepada manusia, bahwa Dia rela untuk menjadi terbatas, seperti manusia, sehingga Dia dapat menyelamatkan manusia. Kalau kita mau menerima alasan Inkarnasi, kita akan dapat menerima bahwa Yesus melakukan pekerjaan sebagaimana layaknya manusia sebelum Dia melakukan karya publik-Nya. Dan tidak ada yang aneh dengan hal ini. Dan sebagai pengikut Kristus, kita semakin didorong untuk mengkuduskan segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari, karena Yesus juga melakukan hal yang sama.

III. Yesus tidak pernah mengatakan “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja.

  1. Ini adalah contoh bagaimana seseorang ingin memaksakan bahwa Bill Gates kaya hanya kalau dia pernah mengatakan bahwa dia kaya. Ini merupakan suatu argumen yang menurut saya kurang masuk diakal. Dengan mudah sekali orang berkata, bahwa saya adalah yang paling pintar di kelas, namun belum tentu dia benar-benar paling pintar di kelas. Namun kalau dia dapat membuktikan bahwa dia benar-benar mendapatkan nilai A dalam setiap ujian, dan nilainya paling tinggi di kelas itu, maka tanpa dia pernah mengucapkan bahwa dia paling pintar, orang akan mengakui bahwa dia paling pintar di kelas.
  2. Inilah yang dilakukan Yesus, tanpa Dia berkata “Akulah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja,” orang percaya kepada-Nya bahwa Dia Tuhan. Kenapa? Karena para nabi di Perjanjian Lama telah memberitakannya melalui ratusan nubuat. Kalau memang Tuhan tidak datang ke dunia ini, kenapa para nabi memberikan ratusan nubuat? Dan nubuat ini dipenuhi secara persis dalam diri Yesus. Tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini. Tidak ada tokoh-tokoh agama lain yang kedatangannya diberitakan sebelumnya dengan ratusan nubuat.
  3. Dan, di dalam kehidupannya, Yesus dalam beberapa kesempatan menyatakan ke-Allahan-Nya, baik dengan perkataan maupun dari mukjijat yang Dia lakukan. Tentang hal ini, dapat dibaca di artikel ini.
  4. Jadi dapat disimpulkan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja,” namun dia menyatakannya dalam kesempatan yang berbeda-beda dan dalam perbuatan nyata. Orang mengatakan “Action speaks lauder than words.”

IV. Yesus tidak pernah mengatakan “”Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”

  1. Memang Yesus tidak mengatakan bahwa Dialah yang mewahyukan Alkitab, dan kemudian berjanji menjaga-Nya. Namun Dia berkata bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Nya, dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18). Dan dengan kelahiran Gereja, maka lahir pulalah Alkitab. Alkitab menjadi salah satu pilar dari Gereja bersama dengan Tradisi. Alkitab dan Tradisi berasal dari sumber yang sama, yaitu Roh Kudus. Dan karena Gereja yang melahirkannya, Gereja pulalah yang berhak untuk menginterpretasikannya melalui Magisterium. Jadi dengan ini, Gereja mempunyai tiga pilar yang tak terpisahkan, yaitu Sacred Scripture, Sacred Tradition, dan Sacred Magisterium (KGK 95). Ketiga hal ini tak terpisahkan, dimana yang satu tidak dapat berdiri sendiri tanpa yang lain. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke-3)
  2. Ketika Gereja Katolik mengatakan tentang “Sacred Tradition“, ini merujuk kepada elemen-elemen dari Sabda Allah yang tidak tertulis (Lih. 1 Kor 11:2; 2 Thes 2:15; KGK 81, 83). Oleh karena itu, Tradisi ini menduduki tempat yang penting sama seperti Kitab Suci, karena keduanya berasal dari sumber yang sama (KGK, 80). Karena Gereja Katolik percaya bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (1 Tim 3:15) dan Yesus sendiri yang akan melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18), maka Gereja Katolik mempunyai Sacred Magisterium, yang mempunyai otoritas tertinggi untuk menginterpretasikan doktrin dan ajaran Gereja. Inilah yang membuat pengajaran Gereja Katolik tidak berubah dari awal sampai saat ini, karena kebenaran tidak berubah.
  3. Jadi memang benar, bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk mewahyukan alkitab, namun Dia datang ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia, yang karya-Nya dilakukan dilanjutkan oleh Gereja-Nya yaitu Gereja Katolik. Dan Melalui Gereja Katolik inilah, maka keselamatan dapat menjangkau seluruh bangsa. Dan janji Yesus terpenuhi sampai saat ini, bahwa Gereja-Nya dilindungi sampai akhir jaman. Sejarah membuktikan bahwa walaupun banyak sekali tantangan, namun Gereja tetap bertahan. Mengapa Gereja-Nya ada di Gereja Katolik dapat dibaca di artikel ini.

V. Mana perintah Yesus atau Tuhan untuk beribadah pada hari Minggu?

  1. Disini perlu dijelaskan bahwa ibadah merupakan suatu bentuk penghayatan untuk merayakan secara publik apa yang dipercayai. Dari definisi ini, agama Kristen mempunyai kepercayaan bahwa Yesus bangkit pada hari Minggu, dimana ini adalah kemenangan atas maut yang telah diberitakan dari awal mula (Gen 3:15).
  2. Jadi dengan beribadah pada hari Minggu, agama Kristen memperingati kebangkitan Kristus yang melambangkan bahwa kita menjadi ciptaan baru di dalam Dia. Sehingga hari Tuhan tidak diperingati pada hari Sabat atau hari terakhir penciptaan, dimana Tuhan beristirahat, namun menjadi hari pertama penciptaan, yang terjadi pada hari Minggu. Disinilah pentingnya memperingati hari Tuhan pada hari Minggu, karena kita telah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.
  3. Pada masa Gereja awal, banyak orang-orang Kristen yang berasal dari Yahudi hendak memaksakan ibadah pada hari Sabat. Namun Bapa Gereja di masa-masa Gereja perdana menentang hal ini, karena seolah-olah mereka yang merayakan ibadah pada hari Sabat tidak pernah menerima berkat dari Yesus, atau seolah-olah keselamatan di dapat karena pekerjaan dari hukum Taurat. Namun seorang Kristen diselamatkan bukan karena menjalankan hukum Taurat, namun karena rahmat Tuhan semata, dimana diterima lewat berkat pengorbanan Kristus di kayu salib.

VI. Dimanakah Alkitab mengatakan bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia?

  1. Pertanyaan seperti ini, sebenarnya mau mengatakan bahwa Yesus tidak pernah berkata bahwa Dia Tuhan namun pada saat yang bersamaan Dia adalah manusia. Pertanyaan ini bukan hanya berkembang pada saat ini, namun sudah mulai berkembang di masa-masa Gereja awal. Namun di Gereja awal, ada yang mempertentangkan dua nature Yesus, yaitu bagaimana dalam satu orang mempunyai dua nature? Dan semua heresy/bidaah tentang Yesus adalah yang terlalu memandang rendah kemanusiaan atau ke-Allahan Yesus Kristus. Bagaimana intelect dan keinginan (will) dari nature Yesus sebagai manusia dan nature Yesus sebagai Tuhan saling berkerjasama dalam karya keselamatan?
  2. Saya tidak mau mengomentari terlalu panjang lebar tentang The Jesus Seminar. Secara logika, mari kita renungkan, kalau kita mau mendengar cerita tentang nenek moyang kita 4 generasi yang lalu, kita lebih percaya akan perkataan tetangga kita yang hidup 1 generasi yang lalu, atau berdasarkan catatan teman-teman nenek moyang kita, yang hidup di masa yang sama? Kalau kita lebih percaya kepada perkataan tetangga kita daripada catatan teman-teman nenek moyang kita, maka rasanya tidak logis. Inilah yang menjadi dasar kenapa orang Kristen percaya akan keaslian dari Kitab Suci. Karena trustworthiness (kepercayaan) terhadap sumbernya. Jadi, kalau Alkitab, yang ditulis relatif dengan banyak saksi yang masih hidup, tidak memberikan pernyataan yang benar, misalkan bahwa Yesus tidak bangkit, maka pasti ada banyak dokumen pada masa awal, yang menentang kebohongan ini. Namun kita tidak pernah menemukan dokumen yang mempertentangkan hal ini pada masa-masa awal kekristenan. Untuk lebih lengkapnya, baca artikel ini.
  3. Kembali untuk mengatakan bahwa Yesus tidak 100% manusia dan juga bukan 100% Tuhan, karena Yesus tidak pernah mengatakannya, adalah argumentasi yang terlalu dibuat-buat. Mungkin ini akan menjadi pertanyaan yang lebih masuk logis, kalau pertanyaan ini diubah menjadi “bagaimana membuktikan bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Tuhan?” Ini berarti pembuktian bukan hanya terbatas pada ayat yang mengatakan bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia. Dengan ini, kita dapat melihat konteks dari Alkitab secara keseluruhan.
  4. Bagaimana membuktikan bahwa Yesus adalah 100% manusia? Josephus, sejarahwan berkebangsaan Yahudi menjelaskan adanya keberadaan Yesus di dalam sejarah manusia. Dan Injil menyatakan bagaimana Dia melakukan segala sesuatunya seperti manusia, kecuali dalam hal dosa. Jadi pembuktian ini tidaklah terlalu sulit. Kenyataan bahwa Yesus mengalami penderitaan dan mati seperti manusia, juga membuktikan bahwa Dia manusia seperti kita. Jadi Yesus adalah 100% manusia.
  5. Namun kita kembali kepada pertanyaan yang lain, bagaimana membuktikan bahwa Yesus Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini silakan membaca artikel ini. Dimana Yesus menyatakan bahwa Dia Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Dan mukjijat seperti menyembuhkan berbagai penyakit, membangkitkan orang mati dan juga kebangkitan-Nya adalah bukti yang kuat bahwa Dia adalah Tuhan. Juga, bahwa Dia mengampuni dosa seseorang adalah suatu pernyataan yang cukup explisit bahwa Yesus itu Tuhan, karena hanya Tuhan saja yang dapat mengampuni dosa. Dan kedua nature ini dirangkum dalam St. Paulus yang mengatakan “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenal-Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1 Cor 2:8).

VII. Mana dalilnya asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dijamin “pasti masuk surga”?

  1. Telah diterangkan di depan bahwa Gereja Katolik mempunyai tiga pilar, yaitu Sacred Scripture, Sacred Tradition, dan Sacred Magisterium. Dalam hal-hal yang begitu penting, seperti konsep keselamatan, kita tidak dapat menginterpretasikannya menurut kehendak kita pribadi, namun harus berdasarkan Sacred Magisterium. Saya rasa, hal ini bukanlah hal yang aneh, karena kalau kita mau meniliti banyak umat dari agama-agama lain juga tidak mengerti 100% akan arti dari banyak ayat di dalam Kitab Suci mereka. Dan para ahli membantu untuk menafsirkannya. Perbedaannya, dalam Gereja Katolik, kita mengakui bahwa penafsiran yang pasti ada pada Sacred Magisterium. Dengan ini, umat Katolik mendapatkan kepastian suatu ajaran, yang bersumber pada Alkitab dan Tradisi Gereja, yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan, karena kebenaran tidak berubah.
  2. Jadi apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang keselamatan? Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan datang dari berkat Tuhan semata yang mengalir dari Misteri Paska, yaitu penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus. Karena Kristuslah, manusia memperoleh jalan untuk bersatu dengan Tuhan. Jalan sudah tersedia, mamun karena manusia mempunyai kehendak bebas, manusia dapat mengatakan “tidak” atau “ya” terhadap jalan yang telah ditawarkan oleh Kristus. Dengan ini, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita harus berusaha dengan segala kekuatan kita dan juga bergantung kepada rahmat Tuhan untuk berkata “ya” secara terus-menerus terhadap kehendak Tuhan, sampai pada saat kita dipanggil Tuhan.
  3. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa sekali mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka dia akan diselamatkan sampai selamanya. Di sinilah, terlihat bahwa dalam menafsirkan Kitab Suci, perlu dilihat secara keseluruhan. Gereja Katolik percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future), dengan dasar ini:
    • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
    • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
    • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
  4. Kesadaran bahwa keselamatan adalah suatu berkat dan Rahmat Tuhan semata – karena hanya semata perbuatan kita, kita tidak mendapatkan keselamatan -, namun pada saat yang bersamaan Tuhan menuntut kerjasama dari umat-Nya untuk senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan, membuat umat Katolik senantiasa berjuang dalam kekudusan, yang diwujudkan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Dan ini adalah perjuangan seumur hidup.
  5. Mungkin untuk keterangan detail tentang keselamatan menurut Gereja Katolik, akan ditulis dalam artikel tersendiri. Artikel yang berhubungan dengan hal ini, dapat dibaca di artikel ini.

VIII. Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya?

  1. Manusia mempunyai keinginan untuk menggambarkan apa yang dia percayai, karena manusia mempunyai senses. Di dalam Perjanjian Lama, umat Tuhan tidak dapat mempresentasikan Tuhan dengan benda-benda atau gambaran apapun, namun di dalam Perjanjian Baru, Tuhan telah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, seperti yang dikatakan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (1 Kol 1:15). Dengan ini, maka manusia mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan Yesus dalam gambar atau seni yang lain.
  2. Sebenarnya, setiap orang, dapat menangkap universality dari sesuatu yang digambarkan dalam imaginasinya. Sebagai contoh, kalau kita bilang kata kucing, maka secara otomatis, kita menggambarkan kucing yang ada di dalam imaginasi kita. Kemampuan untuk menangkap universalitas, membuat manusia dapat menangkap esensi kucing, walaupun kucing itu kecil, besar, berbeda warna, dll. Contoh ini juga dapat diterapkan di semua agama. Pada waktu seseorang ditanya, apa yang tergambar pada waktu seseorang berdoa? Mungkin umat dari agama lain dapat mengatakan bahwa yang tergambar dalam pemikirannya adalah cahaya, atau huruf, atau yang lain. Namun bagi umat Kristen sebagian besar tergambar wajah Yesus, karena umat Kristen mempercayai bahwa Yesus, adalah Tuhan yang datang menjadi manusia. Itu adalah latar belakang dari seni atau gambar yang mempresentasikan Yesus.
  3. Nah, permasalahannya adalah bagaimana kita tahu bahwa Yesus yang ada sekarang adalah Yesus seperti yang ada pada gambar-gambar yang kita kenal? Namun sebelum kita melihat hal ini, kita perlu menganalisa bahwa ada hal-hal yang bersifat accidental dan essensi. Accidental dari manusia adalah berkumis, berjenggot, tinggi/pendek, kulit hitam atau putih, rambut panjang atau pendek, dll. Namun essensi dari manusia adalah mempunyai tubuh dan juga jiwa, dimana jiwanya adalah bersifat kekal dan juga spiritual. Spiritualnya karena manusia mempunyai akal budi (intellect dan juga keinginan/will). Dan kesempurnaan manusia ditunjukkan dengan bagaimana manusia dapat bersikap sebagaimana layaknya manusia, dimana tujuan akhirnya adalah Tuhan. Disinilah, Yesus sebagai Tuhan datang ke dunia ini untuk memberikan jalan kepada manusia dan menunjukkan bagaimana seharusnya manusia bersikap sebagaimana layaknya manusia menurut gambaran Allah (yaitu dengan kasih, baik terhadap Allah dan sesama), sehingga manusia pada akhirnya akan memperoleh persatuan dengan Allah. Jadi dari sini, tidaklah terlalu penting apakah Yesus berjenggot atau tidak, karena jenggot, warna kulit, dll adalah accidental, yang tidak menentukan kualitas dari orang tersebut. Yang menentukan kualitas dari orang adalah esensi, bagaimana seseorang menjadi gambaran Allah. Dan Yesus, bukan hanya kepenuhan dari gambaran Allah, namun Dia sendiri adalah Allah. Jadi dalam seni, yang paling penting adalah mempresentasikan dan mengekspresikan tentang sosok tersebut, misalkan Yesus akan terlihat: lemah lembut, penuh kasih, dll.
  4. Nah, sumber-sumber yang penting yang menjadi acuan bagi penggambaran wajah Yesus adalah “shroud of Turinsilakan klik, dan gambar-gambar dari katakombe, yang menjadi tempat penguburan jemaat Kristen pada sekitar abad ke 2. Di sanalah, menurut penemuan arkeologis, ditemukan gambar Yesus, seperti yang kita lihat saat ini, di katakombe/ gereja-gereja bawah tanah di Roma. Beberapa galeri dari katombe bisa dilihat di link ini, silakan klik. Beberapa dokumen bisa dibaca di link ini, silakan klik, di mana dikatakan bahwa gambar-gambar Yesus yang kita lihat sekarang mengacu kepada gambar ikon Yesus dari Gereja Kristen Timur sekitar abad ke 6.

IX. Mana dalilnya Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah merayakannya!!

  1. Saya pernah menjawab pertanyaan ini di jawaban ini (silakan klik). Tidak terlalu penting tahu tanggal Yesus lahir di dunia ini secara persis. Namun kita percaya bahwa Yesus datang ke dunia ini. Dan kedatangan-Nya bahkan membagi sejarah dalam dua, sebelum masehi (BC / Before Christ) dan setelah masehi atau AD (Anno Domini Nostri Iesu Christi atau In the Year of Our Lord Jesus Christ / di tahun Tuhan kita Yesus Kristus). Sadar atau tidak, perhitungan tahun yang kita pakai sekarang berdasarkan kedatangan Kristus di dunia ini. Kalaupun benar bahwa tanggal 25 Desember adalah diambil dari tradisi orang pagan, juga tidak menjadi masalah, karena dengan ini, memberikan nilai yang baru dan benar terhadap kepercayaan yang salah. Dan memang, kita tidak tahu secara persis tanggal lahir dari Yesus. Namun kembali tanggal persis tidaklah penting, namun kita harus mengakui bahwa ada suatu tanggal dan tahun, dimana Yesus, Tuhan Allah masuk dalam sejarah manusia. Namun, Gereja Katolik tidak berkompromi terhadap keinginan pada masa awal, dimana banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen ingin menyelenggarakan ibadah pada hari Sabat. Kenapa? Karena, kita tahu secara persis, bahwa kebangkitan Kristus jatuh pada hari Minggu, dan juga karena alasan yang saya sudah uraikan di nomor V.
  2. Semua manusia pada dasarnya mempunyai kebutuhan untuk mengekpresikan rasa syukur, hormat, dan hal-hal lain dalam bentuk yang dapat dirasakan, diraba, atau dilihat, yang intinya adalah dapat dirasakan oleh senses kita. Pertanyaan ini sama seperti, mana dalilnya manusia di dunia ini harus merayakan ulang tahun seseorang? Tidak peduli agama apapun, sudah jamak bahwa orang merayakan ulang tahun seseorang. Kalau manusia merayakan ulang tahun sesamanya tidak dipertanyakan, kenapa mempertanyakan ulang tahun dari Yesus Kristus, Tuhan yang datang ke dunia ini?

Demikitan jawaban singkat kami dan semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Kembali kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus dalam 1 Pet 3;15 “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat“.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef –  https://katolisitas.org

Menyikapi teman yang ingin pindah dari Gereja Katolik

19

Pertanyaan:

shalom…saya ingin minta nasihat,apa yg patut saya lakukan terhadap kawan saya dia berniat hendak convert agama lain…saya ingin menyelamatkan dia dari memasuki agama lain…apa yang patut saya lakukan… – Anna

Jawaban:

Shalom Anna,

Berikut ini adalah yang mungkin dapat Anna lakukan:

  1. Berdoalah terlebih dahulu, mohon kebijaksanaan dan pendampingan dari Tuhan sendiri agar Anna dapat sungguh menjadi sahabat, namun juga dapat menjadi ‘perpanjangan tangan Tuhan’ dalam menyatakan kasih dan kebenaran.
  2. Dengarkan masalahnya, kenapa sampai teman Anna mau pindah agama. Dan pindah agama-nya ke mana, masih dalam iman kepada Kristus (pindah gereja) atau meninggalkan iman Kristiani (pindah ke agama lain).
  3. Jika masalahnya adalah masalah ajaran agama, Anna dapat menyampaikan apa yang Anna ketahui, bahwa iman Katolik sesungguhnya sangat kaya, dan kita meyakini bahwa di dalam Gereja Katolik terdapat kepenuhan kebenaran yang sejati. Bagikanlah pengalaman Anna sendiri, bagaimana sampai Anna mengimani demikian. Atau, catatlah keberatan apa, atau pertanyaan iman dalam hal apa yang menjadikannya ingin meninggalkan iman Katolik. Pertanyaan ini dapat Anna tanyakan kepada Pastor, atau kepada https://katolisitas.org atau website katolik yang lain yang Anna percayai. Kalau Anna bertanya https://katolisitas.org kami akan berusaha menjawabnya.
  4. Jika masalahnya masalah pergaulan, dan ingin bergabung dengan komunitas yang lebih ‘hangat’, maka, Anna dapat mengajaknya untuk bergabung di dalam komunitas Katolik, seperti kelompok mudika/ OMK, persekutuan doa, legio Maria, koor, atau kelompok lainnya untuk mendapatkan pergaulan yang baik bersama teman-teman seiman.
  5. Jika Anna mau lebih serius, doakanlah teman Anna itu secara khusus. Masukkan ujud doa Misa untuk mendoakan teman Anna tersebut, berdoalah rosario dengan ujud doa untuk teman itu, berpuasalah dengan ujud doa untuk dia selama hari-hari ini, saat dia dalam masa mau memutuskan pindah agama.Jika akhirnya teman Anna itu memutuskan tetap tinggal dalam iman Katolik, bersyukurlah dan pujilah Tuhan! Bersyukurlah bahwa Tuhan memakai Anna sebagai alat-Nya untuk merangkul dia dalam pangkuan Gereja Katolik.
  6. Jika pada akhirnya teman Anna tetap memutuskan untuk pindah agama, jangan Anna bersedih/ putus asa. Kita harus dengan lapang hati menerima hal itu. Karena kita dapat melakukan bagian kita, namun akhirnya, soal ‘mengubah hati’ itu hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Sering orang mengambil jalan panjang dan berputar untuk sampai kepada Dia, namun Tuhan tetap mengasihi mereka. Maka, kitapun juga harus berusaha mengasihi teman kita walaupun mereka tidak satu agama dengan kita. Yakinkan pada teman itu, jika sampai ada kesulitan di masa mendatang, Anna akan siap sedia membantu, dan penuhilah janji itu, jika saatnya datang. Sebab mungkin baru pada saat mendatang itu dia dapat melihat kebenaran pengajaran Gereja Katolik melalui kehadiran Anna sebagai sahabat yang sejati.

Demikian saran yang dapat saya sampaikan. Selamat berjuang dalam menyampaikan kasih dan kebenaran Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Tugas, ajaran, sikap, dan dialog dari Gereja Katolik

6

Pertanyaan:

aku mau tanya tugas agama katolik di sini: ajaran imannya bagaima? bagaiman sikapnya dengan orang lain? bentuk dialog yang dia bangun? dasar imannya? – Sam

Jawaban:

Shalom Sam,
Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaannya yang bagus. Pertanyaannya singkat, namun sebenarnya jawabannya bisa panjang sekali, sebab setiap pertanyaan dapat diuraikan menjadi beberapa artikel. Namun karena keterbatasan waktu, saya akan mencoba menjawab dengan singkat:
Tiga pertanyaan saya kelompokkan menjadi satu, yaitu: Apakah dasar iman, ajaran iman, dan tugas dari Gereja Katolik.

  1. Untuk tahu apakah dasar iman, ajaran, dan tugas dari Gereja Katolik, kita harus tahu terlebih dahulu apakah sebenarnya hakekat dari Gereja. Dalam katolisitas.org, kami baru menulis sekitar 6 artikel, yang dapat dibaca di sini. Namun secara singkat dapat dikatakan apa yang seharusnya orang Katolik percayai tentang Gereja Katolik: Kita meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus, dengan empat tanda, yaitu: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi “sakramen keselamatan” bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus sehingga ia dapat diselamatkan dan memperoleh kehidupan kekal.
  2. Ada tiga pilar kebenaran di dalam Gereja Katolik, yang terdiri dari: Sacred Scripture (Kitab Suci), Sacred Tradition (Tradisi Suci), Sacred Magisterium (Magisterium Gereja). Karena Tradisi Suci dan Kitab Suci berasal dari sumber yang sama (Dei Verbum/DV, 9), dan dipercayakan kepada Gereja, maka Gereja harus menjaganya dan menginterpretasikannya agar sesuai dengan apa yang diberikan oleh Kristus sendiri. Ketiga hal ini tidak bertentangan dan tidak dapat berdiri sendiri. Untuk keterangan lebih lengkap, baca di sini. Dan kalau mau ditanya apakah yang dipercayai oleh orang Katolik adalah seperti yang kita ucapkan setiap hari minggu dalam doa “Aku Percaya”.
  3. Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik dapat dilihat di dalam Katekismus Gereja Katolik, yang terdiri dari empat pilar, yaitu:
    • Aku Percaya (apakah yang dipercayai atau diimani oleh Gereja)
    • Sakramen (bagaimana untuk merayakan apa yang kita percayai)
    • Ajaran bagaimana untuk Hidup dalam Kristus atau Moral (bagaimana hidup sesuai dengan apa yang dipercayai)
    • Doa (bagaimana untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ajaran Allah serta bagaimana untuk mendapatkan relasi pribadi dengan Allah). Jadi dari empat pilar ini, kita melihat adanya dimensi vertikal dan horisontal, dimensi pribadi dan komunitas.
  4. Karena Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa, maka Gereja (setiap anggota gereja termasuk di dalamnya), harus secara aktif berkarya dalam dunia ini, sehingga mengantar setiap orang dalam Kehidupan Kekal, yaitu di Surga. Untuk ini, secara pribadi, sebagai anggota Gereja, masing-masing dari kita harus berjuang untuk hidup kudus, yang terwujud dalam kasih kepada Allah dan Sesama. Dengan kekudusan yang terpancar dari setiap anggota Gereja, maka Gereja menjadi pancaran kasih Kristus sendiri, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus, dapat tertarik untuk menjadi bagian dari Gereja.
  5. Dapat disimpulkan juga bahwa tugas dari Gereja adalah melanjutkan karya Kristus di dunia ini sebagai Raja, Nabi, dan Imam. Dan setiap anggota Gereja juga mempunyai hak dan kewajiban untuk menjalankan tiga misi ini.

Pertanyaan group ke dua adalah, bagaimana sikapnya dengan orang lain dan bagaimana bentuk dialog yang dibangun?

  1. Sikap Gereja Katolik dan juga setiap anggota Gereja terhadap orang lain adalah sama seperti sikap Kristus terhadap orang lain, yaitu kasih. Sikap kasih inilah yang dituntut dari setiap anggota Gereja, sehingga masing-masing dari kita akan menjadi saksi yang hidup. Tanpa kesaksian yang baik, maka semua kebenaran hanyalah menjadi teori belaka tanpa ada realitasnya. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk menjadi kudus. Namun sikap kasih ini tidak berarti mengorbankan kebenaran. Jadi Gereja tetap mewartakan kebenaran yang sama, seperti yang diwartakan oleh Kristus, walaupun berbeda dengan apa yang dipercayai oleh agama atau kepercayaan yang lain. Mewartakan kebenaran adalah salah satu bentuk dari kasih.
  2. Bentuk dialog dapat berdasarkan seperti yang dijabarkan oleh Paus Paulus VI dalam Ensiklik “Ecclesiam Suam (ES)”, dimana digambarkan seperti lingkaran-lingkaran yang punya satu titik pusat. Paus Paulus VI membaginya menjadi:
    • Lingkaran yang terluar adalah dialog dengan dunia, dimana dunia mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan nilai-nilai kekristenan. Dunia ini juga termasuk di dalamnya adalah atheis. Percaya akan kasih Allah yang menjangkau semua orang, Gereja mempunyai pengharapan yang besar, agar suatu saat mereka juga akan masuk dalam Gereja Katolik. Untuk ini, Gereja Katolik harus secara aktif bekerjaasama dengan mereka untuk perdamaian dunia (ES, 106).
    • Lingkaran yang lebih dalam adalah dialog dengan orang yang mempunyai kepercayaan akan Tuhan yang Satu, termasuk di dalamnya adalah agama Yahudi dan agama Islam. Dalam diskusi ini, Gereja harus secara terbuka menyatakan kebenaran bahwa agama Kristen satu-satunya agama yang benar (ES, 107). Tentu saja pernyataan ini harus dilakukan dengan penuh hormat dan semangat kasih. Ini adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban akan iman kita (1 Pet 3:15). Menutupi kebenaran bukanlah satu perbuatan kasih.
    • Lingkaran yang lebih dalam lagi adalah dialog dengan agama Kristen, non Katolik, yang percaya akan Yesus Kristus sebagai Tuhan, namun tidak mengakui akan Gereja Katolk sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Disini, kita harus juga menekankan hal-hal yang menyatukan, namun dengan juga menekankan akan otoritas Paus yang diberikan oleh Kristus sendiri. (Mat 16:16-19).
    • Akhirnya, lingkaran yang terdalam adalah dialog dalam Gereja Katolik sendiri, yang percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dialog ini diharapkan dapat saling menguatkan dan membawa setiap anggota Gereja menuju hidup yang lebih kudus (ES, 113).
  3. Hubungan antara Gereja Katolik dengan agama lain juga dijabarkan dalam Katekismus Gereja Katolik 839-845.

Jadi kesimpulannya, setiap anggota Gereja harus menyadari hakekat Gereja, apa yang dipercayai, bagaimana merayakan apa yang dipercayai, hidup menurut apa yang dipercayai, dan berdoa yang menguatkan umat untuk hidup sesuai dengan apa yang dipercayai dan mempunyai relasi pribadi dengan Allah. Dengan ini, Gereja menjadi pancaran terang Kristus. Dan ini dapat disingkat lagi dalam satu kata “KEKUDUSAN“, yang terwujud dalam kasih terhadap Tuhan dan sesama (lihat artikel: Apa itu kekudusan? dan Semua orang dipanggil untuk hidup kudus)

Maka, mari kita bersama-sama untuk menjadi saksi Kristus yang baik dan mewartakan kebenaran Kristus dan Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik, yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab