Home Blog Page 306

Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah

36

Pendahuluan

Orang berkata “banyak jalan menuju Roma”. Kita sering mendengar pepatah tersebut, dan orang-orang sering menerapkannya di dalam konteks agama, seolah-olah semua agama adalah sama karena mengajarkan tentang Tuhan dan perbuatan baik. Toh akhirnya, semua itu akan membawa seseorang kepada keselamatan. Namun, kenyataannya dibutuhkan peta yang baik untuk sampai ke Roma. Tanpa peta dan rencana yang baik, maka sangat sulit seseorang untuk sampai ke Roma dengan selamat. Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan peta dan rencana keselamatan manusia yang memuncak pada kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Dan dari misteri Paska inilah Gereja dilahirkan untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa untuk memenuhi pesan Yesus yang terakhir, yaitu “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

Keselamatan adalah suatu tujuan

Doktrin tentang keselamatan adalah salah satu hal yang paling penting dalam setiap agama, karena keselamatan adalah tujuan akhir hidup manusia atau “END“. Tujuan akan menentukan langkah hidup seseorang. Jika seseorang mempunyai tujuan hidup untuk menjadi kaya, maka orang tersebut akan terus berusaha untuk menjadi kaya dengan tidak melewatkan peluang-peluang yang ada atau bahkan membuat peluang-peluang yang baru. Seseorang yang tujuan hidupnya menjadi seorang pemain bulutangkis yang terkenal akan berlatih secara teratur, baik latihan fisik maupun teknik bermain bulutangkis dengan baik. Dari sini kita melihat bahwa setiap usaha senantiasa dipengaruhi oleh tujuan akhir. Bahkan dapat dikatakan, bahwa seseorang yang tidak mempunyai tujuan akhir, tidak dapat mengambil keputusan dengan baik dan tidak akan mempunyai prinsip yang teguh.

Setiap agama mempunyai konsep keselamatan, baik tujuan akhir atau keselamatan itu sendiri maupun cara untuk mencapainya. Konsep ini dapat merupakan permenungan dari pemikiran manusia maupun dari wahyu Allah, seperti yang ditunjukkan oleh agama-agama yang mempercayai satu Tuhan. Untuk mengkaji konsep keselamatan tersebut, maka satu hal yang dapat menjadi tolak ukur adalah keharmonisan antara akal budi dan wahyu, karena keduanya bersumber dari Tuhan yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan. Jadi pada saat seseorang memaparkan konsep keselamatan, namun menyimpang dari akal sehat, maka konsep keselamatan tersebut perlu diragukan. Menyimpang dari akal sehat, misalnya adalah meragukan keadilan, kebaikan, dan kasih Tuhan. Hal yang lain adalah kalau konsep keselamatan tersebut bertentangan dengan hukum kodrat, misalkan: melakukan kekerasan, membunuh sesama, dll.

Bagi orang Katolik dan juga agama yang percaya akan satu Tuhan, maka tujuan akhir dari keselamatan adalah bersatu dengan Tuhan, walaupun konsep persatuan dalam tiap-tiap agama itu berbeda satu sama lain. Bagi umat Katolik, wujud persatuan dengan Tuhan adalah “beatific vision“, dimana seseorang dapat melihat Allah muka dengan muka, dapat mengetahui dan mengasihi Tuhan. Ini adalah perwujudan kasih yang sempurna, di mana dalam kehidupan kekal, manusia dapat memberi dan menerima kasih secara sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Tujuan akhir ini adalah tujuan yang bersifat adi kodrati atau “supernatural“, yang melebihi tujuan akhir dari manusia yang sesuai dengan kodrat manusia. Hal ini disebabkan karena, melalui Pembaptisan, Tuhan mengangkat derajat manusia, sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaan kekal bersama dengan Tuhan.

Artikel ini akan membahas tentang beberapa aspek dalam keselamatan dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya, yaitu: 1) Penciptaan, 2) Dosa asal, 3) Inkarnasi, 4) Gereja, 5) Sakramen Pembaptisan, dan 6) Sakramen-sakramen lainnya, terutama Ekaristi.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.

Karena Tuhan adalah maha baik dan maha bijaksana, maka segala rancangan dan ciptaan-Nya adalah baik dan sempurna sesuai dengan kodrat yang diberikan. Di dalam kitab Kejadian, dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26-27). Kemudian Tuhan mengatakan bahwa itu adalah sangat baik (Kej 1:31). Pada saat Tuhan menciptakan segala yang ada di bumi, maka Tuhan hanya bersabda, dan semuanya terjadi. Namun pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia melakukan suatu aktifitas yang tidak hanya bersabda, yaitu membentuk manusia dari tanah, dan kemudian Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia (Lih. Kej 2:7). Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan lebih sempurna dibandingkan dengan semua yang ada di alam semesta, walaupun hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan malaikat (lih. Ibr 2:7).

Pada saat Tuhan mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, ini berarti bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk spiritual, dan di dalam kondisi yang berkenan di hadapan Allah. Hal ini dikarenakan manusia diberikan suatu berkat yang dinamakan “rahmat kekudusan” dan juga “preternatural gifts1. Manusia juga dikaruniai akal budi, yang terdiri dari akal (intellect) dan keinginan (will). Dan akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi pencipta-Nya.2 Dan sesuai dengan prinsip bahwa “segala sesuatu bergerak menuju tujuan akhir“, maka Tuhan telah memateraikan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk mencapai tujuan akhir untuk bersatu dengan Penciptanya, yaitu Tuhan.3

Dosa membuat manusia terpisah dari Allah.

Akal budi yang menjadi kodrat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah merupakan suatu berkat yang begitu indah. Dengan karunia akal budi, manusia mempunyai keinginan bebas, termasuk kebebasan untuk berkata “tidak” atau “ya” terhadap Penciptanya. Ini adalah suatu bentuk kasih Tuhan kepada manusia. Pada saat seseorang mengasihi, maka ia ingin memberikan kebebasan kepada orang yang dikasihi untuk mengasihi dengan bebas tanpa paksaan. Namun kebebasan yang disalahgunakan inilah yang menjadi sumber dosa pertama.

Adam dan Hawa berdosa pada saat mereka berkata “ya” terhadap godaan setan dan berkata “tidak” terhadap perintah Tuhan (Lih. Kej 3:1-7), atau pada saat manusia pertama menempatkan ciptaan lebih tinggi dari pada Sang Pencipta. Pada saat mereka menempatkan baik dan buruk dengan parameter mereka sendiri, dan bukan dari Tuhan, maka mereka tidak berada di dalam kasih Tuhan dan kebenaran. Atau dengan kata lain, mereka menjadi sombong dan lupa akan hakekat mereka yang sesungguhnya sebagai ciptaan yang tidak mungkin menjadi pencipta. Manusia seharusnya bergantung kepada Penciptanya terutama dalam menentukan yang benar dan yang salah. Jika kita berontak dari Allah dan ingin menentukan sendiri akan apa yang benar dan salah, maka kita menjadi seperti Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa asal.

Karena Tuhan adalah kudus (Maz 99:9) dan kasih (1 Yoh 4:8), maka dosa – yang berlawanan dengan kekudusan Tuhan dan merupakan penolakan akan kasih Allah – secara otomatis memisahkan manusia dengan Tuhan. Di dalam kitab kKejadian digambarkan manusia diusir dari Taman Firdaus (lih. Kej 3:22-24). Karena manusia pertama gagal untuk meneruskan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace” dan “preternatural gifts4 yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma, maka seluruh umat manusia kehilangan berkat-berkat ini.

Terlepas dari Tuhan dan terbelenggu oleh dosa, maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa di luar Allah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 15:4). Karena dosa adalah penolakan manusia akan kasih Allah, maka dosa adalah ketidakadaan kasih. Oleh karena itu, dosa hanya dapat digagalkan dengan mengisinya dengan kasih. Namun terpisah dari Allah, maka manusia menjadi semakin tidak berdaya, karena ketiadaan kasih menjadi semakin dalam. Atau dengan kata lain, kasih adalah suatu pemberian, dan oleh karena manusia yang berdosa tidak punya kasih, maka ia tidak dapat memberikan kasih itu. Sebab seseorang tak dapat memberikan kasih kalau ia tidak terlebih dahulu mempunyai kasih itu. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, tanpa bantuan Tuhan, Sang Kasih. Dan semakin manusia menjauh dari Allah atau Kasih itu sendiri (lih. 1 Yoh 4:8), maka manusia semakin tidak memiliki kasih dan semakin tidak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.

Karena dosa adalah suatu perlawanan dari hukum Tuhan, maka secara kodrat, dosa mempunyai suatu konsekuensi. Sebagai contoh, Kalau kita melanggar peraturan lalu lintas, maka kita juga menanggung akibat dari pelanggaran kita. Semakin yang dilanggar mempunyai derajat yang lebih tinggi, maka akibatnya akan semakin besar.

Karena manusia berdosa terhadap Tuhan yang mempunyai martabat yang begitu tinggi, maka manusia menjadi begitu berdosa dan tidak dapat menebusnya sendiri. Bayangkanlah, apakah ada bedanya kalau kita menghina teman kita dengan kalau kita menghina seorang presiden? Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar, karena seorang presiden mempunyai martabat lebih tinggi dibandingkan dengan teman kita dan seorang presiden adalah suatu simbol dari suatu negara. Dan menghina presiden mempunyai implikasi menghina suatu negara. Tentu saja suatu negara mempunyai derajat lebih tinggi daripada seseorang atau beberapa individu. Oleh karena itu penghinaan terhadap suatu negara tidak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf dari satu atau beberapa individu, namun harus diselesaikan antara perwakilan negara yang satu dengan perwakilan negara yang lain. Dengan alasan yang sama, maka manusia tidak dapat melepaskan diri dari dosa tanpa adanya campur tangan dari Tuhan sendiri.

Kristus adalah satu-satunya jalan untuk menyambung kembali hubungan manusia dengan Tuhan.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan manusia, maka Tuhan yang begitu mengasihi umat-Nya tidaklah membiarkan manusia tidak berdaya dibelenggu dosa. Oleh karena itu, Tuhan sejak awal telah mempunyai rencana untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk keselamatan manusia dalam misteri Inkarnasi. Hal ini dinyatakan setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dimana Tuhan berkata kepada setan ” Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [the woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Perhatikan juga di ayat 21 ” Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” – yang dapat mengacu kepada kurban Kristus sebagai Anak Domba yang menghapus dosa. Dia yang melingkupi manusia dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Dan rencana Tuhan telah dipersiapkan dari awal mula dan Tuhan juga berbicara dengan perantaraan para nabi untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus ke dunia atau misteri Inkarnasi.

Misteri Inkarnasi ini menjadi begitu sempurna, karena Yesus sebagai Putera Allah, yang mempunyai derajat yang sama dengan Tuhan, menjadi manusia. Sama seperti contoh di atas, bahwa perwakilan suatu negara menyelesaikan permasalahan dengan perwakilan negara yang lain, maka Yesus, yang sungguh adalah Tuhan dan manusia dapat menyelesaikan permasalahan antara keduanya. Yesus mempunyai derajat yang sama dengan Allah Bapa dan pada saat yang bersamaan, Yesus – yang sungguh adalah manusia – menjadi perwakilan seluruh manusia yang telah berdosa. Maka, Yesus memberikan suatu korban yang berkenan kepada Allah Bapa demi tersambungnya kembali hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan.

Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus

Dari kayu salib inilah, Kristus melahirkan Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Sama seperti Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja terbentuk dari darah dan air yang mengalir dari luka di lambung Kristus.5 Dan lahirnya Gereja dimanifestasikan secara penuh pada saat Pentekosta, dimana Roh Kristus sendiri turun dan berkarya atas para rasul. Di kayu salib inilah, kasih Kristus yang sehabis-habisnya dicurahkan kepada Allah Bapa dan manusia untuk menebus dosa-dosa manusia.

Di kayu salib, saat darah dan air mengalir dari sisi Kristus, Gereja dilahirkan. Inilah pemenuhan dari janji Kristus ketika Dia mengatakan kepada rasul Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mt 16:18) Namun kenapa Yesus melahirkan Gereja-Nya pada saat kematian-Nya di kayu Salib? Karena ini adalah puncak ketaatan dari Adam terakhir atau Kristus. Ketidaktaatan dan dosa Adam pertama ditebus dengan ketaatan dan kasih dari Adam yang baru (lih. Rm 5:15). Dan kemudian, pada saat hari Pentakosta – hari pemenuhan janji kristus, yang mengatakan akan mengirimkan Roh Penghibur, Roh Kebenaran (Yoh 15:26; 16:13) – Gereja dimanifestasikan secara penuh di hadapan berbagai macam bangsa dan bahasa. Dan Gereja ini adalah Gereja yang sama yang dikatakan oleh rasul Paulus sebagai Tubuh Mistik Kristus (Ef 5:23), dan juga Gereja yang bertahan terus sampai saat ini di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan penerusnya (Mt 16:18). Gereja ini adalah Gereja Katolik.

Kalau kita percaya bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus yang didirikan oleh Kristus, dan keselamatan mengalir dari Kristus, Sang Kepala Gereja, maka akibat logis dari hal ini adalah keselamatan manusia mengalir dari Gereja. Mengapa keselamatan harus melalui mediasi Gereja? Hal ini adalah sesuai dengan prinsip “mediation“/ pengantaraan. Adalah menjadi kebijaksanaan Tuhan untuk memilih prinsip pengantaraan ini untuk melaksanakan rencana keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, prinsip ini menjadi “fitting” dan paling tepat. Dan rasul Paulus menegaskan bahwa sama seperti dosa turun ke dunia melalui satu orang (Adam), maka melalui satu orang juga, Adam yang baru (Kristus), maka belenggu dosa dipatahkan dan berkat-berkat mengalir (Rm 5:15). Dengan konsep “mediation” yang sama, maka pada masa Perjanjian Lama Allah mengutus para nabi untuk menjadi perantara antara Dia dan umat pilihan-Nya. Pada masa Perjanjian Baru, Kristus menjadi Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia, dan peran ini kemudian diteruskan oleh Gereja sampai akhir jaman. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus juga menjadi perantara untuk membagikan berkat-berkat dari Kristus Sang Pengantara satu-satunya, melalui sakramen-sakramen.

Maka, kita melihat bagaimana Adam sesungguhnya dipilih Allah untuk menjadi suatu pengantara/ saluran “rahmat kekudusan (sanctifying grace)” yang dari Allah kepada segenap umat manusia, namun Adam gagal untuk melaksanakan tugas ini. Namun Allah terus menerus mengusahakan pulihnya hubungan kasih-Nya dengan manusia dengan mengutus para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berbicara kepada manusia dengan menggunakan perantaraan para nabi. Ia juga menggunakan perantaraan para imam untuk mempersembahkan kurban bakaran, baik berupa kurban syukur ataupun kurban penebus dosa. Sampai akhirnya Tuhan mengutus Putera-Nya sendiri, untuk menjadi Perantara yang sejati, yang menjadi Korban sekaligus Imam, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Kristuslah tanda Perjanjian Baru dan kekal; dan karena bersifat kekal, maka artinya, karya-Nya masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini dimungkinkan karena karya Roh Kudus yang terus bekerja melalui Gereja-Nya.

Namun demikian, mungkin ada keberatan yang menyatakan bahwa Yesus adalah Perantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan dan tidak ada yang lain (lih. 1 Tim 2:5), sehingga manusia tidak membutuhkan Gereja. Keberatan ini sesungguhnya tidak mendasar, dengan beberapa alasan. Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja, dan Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus (1 Kor 12:27). Oleh karena itu ada kesatuan yang terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Tanpa Kristus sebagai Kepala Gereja, maka Gereja tidak mungkin menjadi perantara. Oleh karena itu, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan, maka Gereja juga menjadi perantara antara manusia dan Tuhan.

Kedua, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya, itu berarti tidak menghalangi yang lain menjadi perantara, sejauh perantara yang lain tetap berhubungan dengan satu-satunya Pengantara sejati, yaitu Kristus. Kalau Kristus yang melahirkan Gereja, maka tidaklah mungkin Gereja bertentangan dengan Kristus, sama seperti tubuh tidak mungkin bertentangan dengan kepala. Kita dapat melihat contoh sehari-hari, bahwa Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak menghalangi umat Kristen untuk meminta doa dari sesama anggota dalam satu iman. Apakah umat yang lain kemudian kita anggap sebagai penghalang? Tentu saja tidak, karena doa dari umat yang lain adalah merupakan partisipasi di dalam Kristus dan bahkan Kristus sendiri yang memerintahkan kita untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus.

Ketiga, karena Roh Kristus adalah sebagai Roh yang menuntun seseorang kepada pertobatan dan keselamatan dan Roh Kristus ini sendiri yang terus berkarya di dalam Gereja, maka Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi manusia. Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus bekerja secara terus-menerus, memberikan inspirasi, dan melindungi Gereja sampai akhir jaman? Hal ini terjadi karena hakekat Gereja itu sendiri, sebagai Tubuh Mistik Kristus, yang senantiasa bersatu dengan Kepala Gereja, yaitu Kristus. Oleh sebab itu, Roh Kristus sendirilah yang menjadi jiwa dari Gereja.

Baptisan adalah pertemuan antara pengorbanan Kristus dan jawaban “ya” dari manusia

Kita melihat bahwa jalan sudah dibukakan oleh Kristus agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu Surga. Kristus, melalui penderitaan-Nya di kayu salib telah melahirkan Gereja yang dinyatakan kepada dunia di hari Pentakosta. Sejak Pentakosta, Kristus memberikan Roh Kudus-Nya untuk berkarya secara terus-menerus di dalam Gereja-Nya yaitu Gereja Katolik. Karya Kristus nyata dalam ketujuh sakramen, yang ditentukan-Nya untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya kepada setiap anggota Gereja. Selanjutnya, Tuhan juga terus mendorong setiap anggota-Nya agar dapat mengalami pertobatan dan mempunyai hubungan yang pribadi dengan-Nya. Dapat dikatakan bahwa Tuhan telah dan akan terus melakukan segala sesuatu untuk membawa manusia kepada-Nya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia benar-benar mau untuk menjawab panggilan Tuhan? Tindakan yang nyata dari manusia untuk menjawab tawaran kasih Kristus adalah dengan melalui Sakramen Pembaptisan, karena dengan Pembaptisan, seseorang diampuni dosanya, dan dilahirkan kembali di dalam Kristus. Melalui Baptisan, ia mendapatkan rahmat kekudusan, karunia Roh Kudus, “supernatural virtue atau kebajikan Ilahi”, yang mengalir dari Gereja dan bersumber pada Kristus. Juga melalui Sakramen Pembaptisan, seseorang menjadi anggota Gereja Katolik secara penuh. Rahmat kekudusan inilah yang membuat orang yang dibaptis menjadi berkenan di hadapan Allah, sama seperti keadaan Adam dan Hawa sebelum mereka berdosa. Itulah sebabnya Sakramen Pembaptisan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan, karena melalui Sakramen ini, seseorang diangkat menjadi anak Allah melalui Kristus, Sang Putera Allah.

Sakramen-sakramen lainnya, terutama Ekaristi, menghantar kepada kesempurnaan persatuan manusia dengan Allah di Surga

Setelah seseorang dilahirkan kembali di dalam Kristus, Allah sendiri menghendaki agar ia bertumbuh di dalam Dia. Pertumbuhan ini diperoleh dari diri-Nya sendiri dalam rupa Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan dari Kristus Sang Putera Allah. Ialah Sang Roti Hidup yang memberikan hidup-Nya kepada dunia (lih. Yoh 6:33). Ia bersabda bahwa barang siapa yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan memperoleh hidup yang kekal (lih. Yoh 6:54). Oleh kuasa Roh Kudus yang terus menyertai Gereja-Nya, kurban Tubuh dan Darah Kristus ini dihadirkan kembali dalam Ekaristi, agar semua umat-Nya disatukan dengan-Nya dan menerima buah-buah penebusan-Nya.

Maka Ekaristi menjadi santapan rohani yang menyatukan kita dengan Tuhan sepanjang peziarahan kita di dunia, yang menghantarkan kita kepada kesempurnaannya di Surga kelak. Persekutuan antara manusia dan Tuhan yang dulu telah dirusak oleh dosa, kini dipulihkan oleh jasa pengorbanan Kristus; dan kita memperoleh buah-buahnya melalui sakramen-sakramen Gereja, terutama melalui Ekaristi, di mana kita menerima Kristus yang mempersatukan kita dengan Dia, dan melalui-Nya kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, maka terlihat jelas, bahwa keselamatan adalah adalah suatu anugerah dari Allah, di mana manusia sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkannya karena terpisah oleh dosa, karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Namun karena Tuhan begitu mengasihi manusia, Dia tidak membiarkan manusia untuk terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Inkarnasi adalah jawaban dari Tuhan terhadap hukuman dosa, karena melalui Inkarnasi, Yesus dapat melaksanakan misi-Nya di dunia untuk menebus dosa-dosa manusia melalui misteri Paska-Nya, yaitu penderitaan, wafat-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Surga. Karya keselamatan ini diteruskan oleh Gereja Katolik, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dengan sakramen-sakramen yang didirikan oleh Kristus, pertama-tama melalui Sakramen Pembaptisan yang menjadi pintu gerbang untuk menerima sakramen-sakramen yang lain, yang mencapai puncaknya dalam sakramen Ekaristi.

Dari sini kita melihat adanya suatu hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara penciptaan, dosa, Inkarnasi, Gereja Katolik, dan Sakramen Pembaptisan, Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Keenam hal tersebut adalah karya Allah Tritunggal yang memuncak dalam misteri Inkarnasi Yesus Kristus, yaitu: 1) Tuhan menciptakan segalanya baik adanya, namun 2) dosa memisahkan manusia dari Tuhan, dan 3) Inkarnasi adalah jawaban dari Allah sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, 4) Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus, yang menjadi sakramen keselamatan bagi umat manusia, dan 5) Sakramen Baptis menjadi sarana untuk keselamatan manusia, karena manusia menerima kembali harkatnya sebagai gambaran Allah untuk bersatu kembali dengan Allah. 6) Sakramen-sakramen -terutama Ekaristi- memelihara persatuan manusia dengan Allah sampai kepada kesempurnaan kesatuan ini di Sorga. Dalam beberapa tulisan mendatang tentang keselamatan, akan dibahas secara lebih mendalam mengapa keselamatan hanya ada di dalam Kristus dan hanya ada di dalam Gereja Katolik.

 

Catatan kaki:

1 Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

2 KGK 32

3 Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-I, q.1, a.1 Adalah merupakan kodrat manusia untuk bertindak sesuai dengan tujuan akhir yang telah ditetapkan oleh Penciptanya.

4 Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts ini yang hilang akibat dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/ concupiscence. Concupiscence/ kecenderungan berbuat dosa ini adalah mencakup keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16)

5 KGK 766

Tujuan penulisan surat Rasul Paulus

5

Kalau kita membaca surat-surat rasul Paulus, maka kita akan melihat bagaimana dia sungguh mempunyai semangat untuk mewartakan Kristus dengan luar biasa. Beberapa latar belakang tentang surat-surat rasul Paulus mungkin dapat membantu kita untuk mengerti apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh rasul Paulus dari surat-surat yang dituliskannya.

Dari beberapa sumber referensi yang kami miliki (yang kami sertakan berikut ini), maka diketahui bahwa tujuan penulisan surat-surat Rasul Paulus tidak semuanya bermotif untuk menyelesaikan permasalahan Gereja, karena ada juga masalah yang bukan baru saat itu timbul tapi yang sudah berakar lama dalam masyarakat pada kota tersebut. Karena itu, surat-surat Rasul Paulus tidak semua berisi teguran, tetapi juga wejangan, penegasan akan doktrin dan pengajaran moral, ataupun pesan-pesan apostolik lainnya. Hal ini dilakukannya karena Rasul Paulus mengetahui panggilan khususnya sebagai rasul yang diutus kepada umat Non-Yahudi, sehingga ia melakukan perjalanan keliling ke kawasan Mediteranian dan sekitarnya sebanyak 3 kali untuk melaksanakan misinya itu.

Peta lengkap perjalanan Rasul Paulus ada di buku Montague, George T. The Living Thought of St. Paul, Second Edition, Encino, CA: Benzinger, 1976. Di internet, peta perjalanan Rasul Paulus ada di link ini (silakan klik di sini)

Secara garis besar maksud tujuan surat-surat Rasul Paulus kepada Gereja-gereja adalah sebagai berikut:

a. Surat Rasul Paulus kepada Gereja Tesalonika I dan II: Ditulis pada waktu Rasul Paulus berada di Korintus, pada sekitar tahun 52. Surat ini dikenal sebagai surat Rasul Paulus yang pertama. Pesan utama Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Tesalonika yang pertama adalah:

1. Pengajaran kehidupan Kristiani (4:1-12)
2. Pengajaran tentang akhir jaman (4: 13-18)
3. Anjuran untuk berjaga-jaga menjelang kedatangan Kristus yang kedua (5: 1-11)
4. Kehidupan dalam komunitas Kristen (5:12-22)

Surat Paulus yang kedua kepada Gereja Tesalonika dituliskan karena ada kesalahpahaman yang mengartikan bahwa kedatangan Yesus yang kedua sudah sangat dekat, sehingga ada umat yang tidak mau bekerja, hanya menunggu saat hari kiamat.

1. Maka Rasul Paulus menuliskan penjelasan lebih lanjut mengenai Penghakiman Terakhir (1: 5-12)
2. Penjelasan kembali tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan pengajaran untuk menyambut hari itu (2:1-17)
3. Nasihat untuk berdoa dan tetap bekerja (3: 1-13).

b. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Galatia: Kemungkinan ditulis pada sekitar tahun 54-55, dan dikenal sebagai surat utama para rasul yang ditujukan pada umat non-Yahudi. Pada surat ini dituliskan bahwa umat Non-Yahudi tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi hukum Taurat Yahudi, terutama keharusan untuk disunat. Pada saat itu ada desakan dari umat Kristen Yahudi yang ingin tetap menerapkan hukum sunat pada umat Non-Yahudi yang menjadi pengikut Kristus. Rasul Paulus mengajarkan:

1. Manusia diselamatkan oleh iman, dan bukan karena melakukan hukum Taurat (3:1-4:31)
2. Kebebasan Kristiani yang diperoleh dalam Kristus yang memimpin pada hidup menurut Roh dan bukan hidup menurut daging (5: 1-6:10).

c. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Korintus I dan II: Dituliskan pada sekitar tahun 57. Surat ini ditujukan untuk memberi pengajaran kepada umat di Korintus yang pada saat itu mengalami:

1. masalah perpecahan (factionalism) (1:10- 4:21)
2. kemerosotan moral (immorality) (5:1-6:8)
3. pengaruh dari penyembahan kaum kafir (influence from pagan worship) (8: 1- 11:1), dan
4. masalah ketidakteraturan dalam ibadat (karena kesombongan rohani/ spiritual pride) (12: 14-40).

Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Korintus yang kedua, dituliskan sekitar tahun 57-58. Surat ini ditujukan untuk menegaskan bahwa ialah Rasul yang otentik.  Maka ia menuliskan:

1. Tanda Rasul Kristus yang otentik (2: 14- 6:10)
2. Penjelasan tentang riwayat hidupnya, yang menyangkut ketaatan, dan kesediaannya merendahkan diri demi Kristus (10:1-12:13)

d. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Roma: Dituliskan sekitar tahun 58, dengan maksud memberikan pengajaran pada umat, terutama tentang pengajaran theologi keselamatan, karena Rasul Paulus menyadari akan peran kota Roma sebagai pusat dunia pada saat itu, yang dapat juga menjadi pusat penyebaran Injil. Ia menuliskan suratnya untuk mempersiapkan kunjungannya ke kota Roma dalam perjalanannya ke Spanyol. Pada saat itu tak banyak kaum Kristen Yahudi di Roma, maka isu hukum Taurat tidak banyak dikemukakan di surat ini. Masalah yang mungkin khas Roma adalah masalah makan makanan haram dan masalah puasa. Rasul Paulus mengajarkan:

1. Manusia dibenarkan karena iman yang tak terlepas dari kasih (1:17-4:25)
2. Pengharapan Kristiani (5:1-11:36).
3. Kehidupan Kristiani dan pelayanan kasih: yang kuat imannya memberi contoh pada yang lemah imannya (12:1- 15:33)

e. Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi: Ditulis pada saat Rasul Paulus pertama kali di penjara di Roma sekitar tahun 61-63. Waktu dipenjara ia dikunjungi oleh Epafroditus, salah seorang umat Filipi. Saat mengunjungi Rasul Paulus, Epafroditus sakit dan hampir mati, namun akhirnya ia sembuh. Rasul Paulus mengirimnya kembali dengan surat dan ucapan terima kasih atas kebaikan umat Filipi. Surat kepada Gereja di Filipi, tema utamanya adalah suka cita Kristiani. Maka di sini ditekankan beberapa pengajaran:

1. Teladan apostolik (1:1-14)
2. Wejangan untuk menjaga persatuan, kerendahan hati, dan ketaatan (2: 1-18)
3. Ditekankan bahwa Yesuslah tujuan kita umat beriman (3:1-21)
4. Damai dan suka cita sebagai ciri-ciri kehidupan Kristiani (4: 1-19)

f. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Kolose: Dituliskan sekitar tahun 61-63. Surat ini ditujukan untuk mengingatkan umat atas pengaruh ajaran sesat pre-Gnostik, dan ajaran filosofi yang keliru yang menyebutkan bahwa dunia diatur oleh kekuatan-kekuatan spiritual dalam kaitannya dengan kosmologi. Untuk itu Rasul Paulus menegaskan:

1. Keutamaan Kristus yang mengatasi segala kuasa (1:15-20)
2. Misteri Gereja yang dinyatakan dengan kepenuhan hidup di dalam Kristus (1:24: 2:8)
3. Agar umat waspada terhadap ajaran sesat (2:8-4:6)

g. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Efesus: Dituliskan pada saat Rasul Paulus dipenjara di Roma  (sekitar musim semi thn 63). Maksudnya adalah untuk mengajar umat di Efesus (dan mungkin juga pada umat di Kolose, Laodicea, Hierapolis, dst, yang bergantung pada Gereja Efesus). Kota Efesus terkenal dengan dengan praktek magis dan Okultisme. Rasul Paulus mengajarkan:

1. Rencana keselamatan Tuhan yang dinyatakan melalui Kristus (1:15-3:21)
2. Kehidupan baru dalam Kristus yang ditandai dengan kesetiaan hidup dalam Roh Kudus (4:1-6:22)

h. Surat Rasul Paulus kepada Gereja di Ibrani: Kemungkinan dituliskan sekitar tahun 66. Tujuannya adalah untuk menguatkan semangat umat Kristen Ibrani yang pada saat itu mengalami ‘kelesuan’ iman. Karena itu sepanjang surat ini menunjukkan kaitan antara Perjanjian Lama dengan Injil, dan dimaksudkan untuk menguatkan iman mereka dengan mengarahkan pandangan kepada kemuliaan surga bagi mereka yang setia beriman kepada Tuhan Yesus.

Sumber referensi yang sangat baik untuk topik surat rasul Paulus adalah:

1. Montague, George T. The Living Thought of St. Paul, Second Edition, Encino, CA: Benzinger, 1976.
2. Casciaro, Jose Maria, ed. The Navarre Bible, Dublin, Four Courts Pres, 1991.
3. Orchard, Dom Bernard, et. al. A Catholic Commentary on Holy Scripture. New York: Thomas Nelson & Sons, 1953.
4. Amiot, Francois. How to Read St. Paul. Translated by Michael D. Meilach O.F.M Chicago: Franciscan Herald Press, 1964.
5. Cerfaux, Lucien, The Christian in the Theology of St. Paul. New York: Herder and Herder, 1967.
6. Prat, Fernand, SJ, The Theology of St. Paul, 2 vols, Translated from 10th French Edition by John L. Stoddard, Westminster, MD: The Newman Press, 1952.
7. Lebih lanjut tentang Rasul Paulus, dapat juga dilihat di link ini (silakan klik)

Inkulturasi dan kejawen

40

Pertanyaan:

salam sejahtera,
maaf saya ada pertanyaan mengenai tradisi lokal dalam hubungannya dengan Gereja. salah seorang teman di dunia maya yang sangat erat dan mendalami budaya kejawen merasa kesulitan atas ketidakselarasan dengan ajaran Gereja. mungkin bpk/ibu/romo ada masukan tentang hal ini, karena menurut ybs bila praktek2 kejawen dihilangkan ”isi” nya maka jadi sia – sia. sementara ini ybs masih lebih memberati ajaran kejawennya, sementara iman Katoliknya kelihatannnya belum ada titik temu dan cenderung dikompromikan.
thx sebelumnya ya.
GBu – Sisilia

Tambahan informasi dari Sisilia: contoh praktek kejawen dalam konteks ini adalah:
merawat benda2 pusaka, tapi beserta dengan ‘ISI’nya. Adanya hari baik dan hari buruk
kesenian2 beserta dengan ‘ISI’nya. Meditasi yang menurutnya berbeda dengan meditasi yang dijiwai secara katolik.

Jawaban:

Shalom Sisilia,

Terima kasih atas pertanyaannya. Untuk menjawab apakah praktek kejawen yang mengarah kepada praktek “pengisian” benda-benda pusaka, dll, maka kita perlu terlebih dahulu (A) mengerti tentang konsep inkulturasi, (B) mengerti alasan utama, mengapa teman Sisilia masih tetap ingin mempraktekkan kejawen. Setelah dua hal ini dimengerti, maka kita dapat menarik dengan jelas batas-batas inkulturasi yang tidak melanggar ajaran Gereja Katolik dan pada saat yang bersamaan dapat juga membantu teman Sisilia.

A. TENTANG INKULTURASI:

(1) Paus Yohanes Paulus II dalam “Redemptoris Missio: Chapter V: The Paths of Mission, paragraf 52”, mengatakan: “As she carries out missionary activity among the nations, the Church encounters different cultures and becomes involved in the process of inculturation. The need for such involvement has marked the Church’s pilgrimage throughout her history, but today it is particularly urgent.
The process of the Church’s insertion into peoples’ cultures is a lengthy one. It is not a matter of purely external adaptation, for inculturation “means the intimate transformation of authentic cultural values through their integration in Christianity and the insertion of Christianity in the various human cultures.” The process is thus a profound and all-embracing one, which involves the Christian message and also the Church’s reflection and practice. But at the same time it is a difficult process, for it must in no way compromise the distinctiveness and integrity of the Christian faith.
Through inculturation the Church makes the Gospel incarnate in different cultures and at the same time introduces peoples, together with their cultures, into her own community. She transmits to them her own values, at the same time taking the good elements that already exist in them and renewing them from within. Through inculturation the Church, for her part, becomes a more intelligible sign of what she is, and a more effective instrument of mission.
Thanks to this action within the local churches, the universal Church herself is enriched with forms of expression and values in the various sectors of Christian life, such as evangelization, worship, theology and charitable works. She comes to know and to express better the mystery of Christ, all the while being motivated to continual renewal. During my pastoral visits to the young churches I have repeatedly dealt with these themes, which are present in the Council and the subsequent Magisterium.
Inculturation is a slow journey which accompanies the whole of missionary life. It involves those working in the Church’s mission Ad Gentes, the Christian communities as they develop, and the bishops, who have the task of providing discernment and encouragement for its implementation.
(2) Katekismus Gereja Katolik, 854 mengatakan “Dalam perutusannya, “Gereja menempuh perjalanan bersama dengan seluruh umat manusia, dan bersama dengan dunia mengalami nasib keduniaan yang sama. Gereja hadir ibarat ragi dan bagaikan penjiwa masyarakat manusia, yang harus diperbaharui dalam Kristus dan diubah menjadi keluarga Allah” (GS 40,2). Dengan demikian misi menuntut kesabaran. Ia mulai dengan pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok yang belum percaya kepada Kristus; ia maju terus dan membentuk kelompok-kelompok Kristen, yang harus menjadi “tanda kehadiran Allah di dunia” (AG 15), serta selanjutnya mendirikan Gereja-gereja lokal. Ia menuntut suatu proses inkulturasi, yang olehnya Injil ditanamkan dalam kebudayaan bangsa-bangsa, dan ia sendiri pun tidak bebas dari mengalami kegagalan-kegagalan. “Adapun mengenai orang-orang, golongan-golongan dan bangsa-bangsa, Gereja hanya menyentuh dan merasuki mereka secara berangsur-angsur, dan begitulah Gereja menampung mereka dalam kepenuhan katolik” (AG 6).”
(3) Dari dua dokumen tersebut, maka ada beberapa hal pokok yang dapat kita simpulkan, yaitu:

(a) Karena misi evangelisasi untuk mewartakan Kristus pasti akan bersentuhan dengan manusia yang mempunyai peradaban, budaya yang berbeda-beda, inkulturasi tidak dapat dihindarkan. Dimana Gereja memberikan nilai-nilai pengajaran Gereja, dan kemudian mengambil unsur-unsur yang baik yang ada dalam budaya lokal, dan kemudian memperbaharuinya dari dalam.
(b) Pertanyaannya adalah sampai seberapa jauh Gereja Katolik dapat mengambil unsur-unsur yang baik dari kebudayaan setempat dan kemudian mengangkatnya sehingga nilai-nilai kristiani dapat dimengerti dengan lebih baik?  Dari dokumen Redemptoris Missio, kita dapat melihat bahwa kebudayaan lokal dapat diterapkan, sejauh tidak mengaburkan integritas dari nilai-nilai dan pengajaran kristiani. Yang menjadi masalah adalah memang definisi ini menjadi cukup luas cakupannya dan oleh karena itu dapat terjadi kekaburan dan ketidakjelasan sampai seberapa jauh suatu budaya dapat diterapkan dalam proses inkulturasi. Namun pada saat yang bersamaan, kalau kita menelaah, maka kita akan dapat memahami bahwa setiap budaya adalah bersifat unik dan oleh karena itu akan menjadi masalah kalau dibuat dengan penerapan yang sangat khusus.

(4) Mari kita masuk dalam diskusi budaya kejawen. Saya terus terang tidak terlalu mengerti tentang tradisi kejawen, walaupun saya tinggal di Jawa, dan sekolah di Jogja selama tiga tahun. Namun kalau kebudayaan kejawen yang dimaksudkan di sini adalah dengan memberikan “isi” terhadap keris, dan benda-benda pusaka yang lain, serta mungkin melakukan meditasi, sehingga mempumyai ilmu tertentu maupun kekuatan tertentu, maka saya cenderung mengatakan bahwa dalam hal ini inkulturasi yang dimaksudkan telah melampaui batas-batas yang ada. Hal ini dikarenakan bahwa penerapan praktek-praktek kejawen tersebut mengaburkan nilai-nilai Kristiani.

(a) Pengisian benda-benda dengan “sesuatu“, memberikan suatu konotasi bahwa kita mencoba berkomunikasi dengan alam lain. Dan pertanyaan lebih lanjut adalah, mengapa kita mengisi suatu benda pusaka dengan suatu kekuatan? Kalau memang ternyata ada kekuatan di dalamnya, terus apa yang akan kita lakukan terhadap benda-benda tersebut? Kemudian, dalam pengisian, apa yang perlu dilakukan oleh orang yang mengisi. Saya terus terang tidak tahu secara persis, persiapan apa yang dilakukan untuk melakukan hal ini. Namun kalau pengisian ini melibatkan kekuatan supernatural di luar Tuhan, maka saya berfikir semua proses tersebut akan membahayakan kehidupan spiritual kita.
Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang lemah, yang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, sehingga komunikasi dengan hal-hal gaib menjadi cukup membahayakan spiritualitas kita. Kita dapat melihat bahwa Yesus pada waktu mengusir kuasa-kuasa gelap tidak pernah berkomunikasi, berdiskusi dengan mereka, namun memerintahkan mereka (lih. Mt 8:16; 8:32; Mk 1:34).
Untuk menghindari dosa ini, maka berhubungan dengan roh-roh dilarang. Kita dapat melihatnya di Imamat 20:6  “Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya.
(b) Mungkin seseorang dapat mengatakan bahwa yang penting adalah tidak menyembah barang tersebut atau roh tersebut. Seperti yang dikatakan di dalam kitab Imamat, maka kontak dengan roh-roh yang lain adalah menduakan Tuhan. Semakin kita menjauhi hal tersebut, maka akan semakin baik.
Ini juga berlaku untuk hal-hal lain yang dapat membuat kita berdosa dan menduakan Tuhan, misalkan menonton televisi, yang seringnya menayangkan program-program yang tidak sesuai dengan iman Katolik kita. Tentu saja kita tidak menyembah televisi, namun semakin kita menonton televisi dan tidak membatasi diri, maka semakin lama kita akan terjerumus, seperti: menonton televisi yang berlebihan sehingga lupa akan berdoa, memandang dengan biasa norma-norma yang tidak sesuai dengan iman Katolik.

(B) ALASAN UTAMA UNTUK MEMPRAKTEKKAN KEJAWEN:

Jadi untuk membantu teman Sisilia, maka lebih lanjut perlu tahu secara jelas apa yang menyebabkan dia masih ingin melestarikan budaya kejawen walaupun dia telah menjadi Katolik. Ada unsur budaya-budaya dari Jawa yang dapat diterima, seperti alat musik, dll. Namun hal-hal yang bersifat gaib dari kebudayaan kejawen, saya rasa dapat mengaburkan identitas iman Katolik kita.

Kita dapat belajar dari St. Paulus yang walaupun sebelumnya adalah seorang Farisi yang taat, namun setelah dia mengenal Yesus, dia meninggalkan manusia yang lama dan menjadi manusia yang baru (lih. Rm 6:6; Ef 4:22). Lihat juga keputusan dari konsili Yerusalem yang pertama, yang tidak membuat sunat menjadi bagian dari Perjanjian Baru, walaupun sunat adalah merupakan tanda Perjanjian dengan Allah di dalam perjanjian lama (lih. Kis 15:27-29). Jadi dalam penerapan suatu hukum, maka kita akan senantiasa melihatnya dalam terang Kristus. Semua yang dapat membuat kita menjauh dari Kristus harus kita hindari, dan hal-hal yang dapat mendekatkan kita kepada Kristus, dapat kita terapkan. Tentu saja sebagai umat Katolik, kita juga taat akan keputusan dari gereja-gereja lokal, yang dikepalai oleh para Uskup.

Jadi pertanyaan untuk teman Sisilia adalah, apakah dengan mempraktekkan kejawen seperti yang digambarkan di atas dapat mendekatkan dirinya kepada Yesus, atau malah menjauh dari Yesus? Dan mungkin yang lebih utama adalah apakah yang bersangkutan mau sungguh-sungguh mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Yesus, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasul Paulus?

Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu.

Tuhan memberkati dan selamat mempersiapkan Paskah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Syahadat Para Rasul, jalan salib, novena dan takdir

20

Pertanyaan:

terima kasih atas jawaban yang sudah diberikan beberapa waktu lalu.
sekarang mau tanya lagi nih…
darimana asal mula doa Syahadat Para Rasul, Jalan Salib dan Novena baik Novena Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus?
apakah dalam iman Katolik (juga iman keada Tuhan ) dibenarkan jika kita percaya pada takdir? kalau boleh minta tolong dijabarkan juga apa sebenarnya takdir itu. itu saja dulu, terma kasih sebelumnya…
sukses selalu dan Berkah Dalem – Christ

Jawaban:

Shalom Christ,
Saya berusaha menjawab pertanyaan anda tentang 4 hal berikut, yaitu mengenai Syahadat Para Rasul, Jalan Salib, Novena dan Takdir.

Syahadat Para Rasul

Syahadat para rasul yang kita kenal sekarang ada dua, yaitu syahadat singkat (disebut syahadat apostolik) dan syahadat yang panjang (disebut syahadat Nisea), yang berasal dari syahadat Konsili Nisea. Teksnya dapat kita lihat dalam Ketekismus Gereja Katolik, sebelum Bagian Kedua, KGK 185.
KGK 194:
Syahadat apostolik, yang dinamakan demikian karena dengan alasan kuat ia dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul. Itulah pengakuan Pembaptisan lama dalam Gereja Roma. Karena itu ia mempunyai otoritas tinggi: “Itulah simbolum yang dijaga Gereja Roma, di mana Petrus, yang pertama di antara para Rasul, mempunyai takhtanya dan ke mana ia membawa ajaran iman para Rasul itu” (Ambrosius, symb. 7).
KGK 195:
Juga apa yang dinamakan Syahadat Nisea-Konstantinopel mempunyai otoritas besar karena ia dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (325 dan 381) dan sampai hari ini merupakan milik bersama semua Gereja besar di Timur dan di Barat.

Jalan Salib

Sejarah perkembangan devosi Jalan Salib dapat dibaca di link ini (silakan klik). Devosi Jalan Salib ini memang telah berakar lama dalam Gereja Katolik, yang diawali dengan tradisi para peziarah yang mengunjungi Yerusalem. Sejak abad keempat, jaman Kaisar Konstantin, para peziarah telah mempunyai tradisi berdoa merenungkan sengsara Yesus melalui jalan yang sekarang dikenal dengan Via Dolorosa, walaupun pada masa itu belum disebut demikian. Tradisi menyebutkan bahwa setiap hari setelah wafat-Nya, Bunda Maria mengunjungi rute perjalanan sengsara Puteranya Yesus, dari tempat-Nya dihukum mati sampai ke Golgota.  St. Jerome/ Hieronimus juga menyebutkan banyaknya peziarah yang mengunjungi tempat-tempat kudus di Yerusalem pada zamannya. Dari sinilah kita mengetahui bahwa sejak awal telah ada tradisi merenungkan sengsara Kristus yang kita kenal sekarang sebagai Jalan Salib.
Namun secara lebih meluas, tradisi Jalan Salib ini mulai berkembang pesat setelah beberapa tempat di Yerusalem dipercayakan kepada ordo Fransiskan pada tahun 1342. Maka setelah itu dikenal beberapa versi Jalan Salib, seperti yang ditetapkan oleh Alvarest Yang Terberkati (1420), Eustochia, dan Emmerich (1465) dan Ketzel.
Seiring dengan perkembangan waktu, maka kita melihat banyak Bapa Paus yang menganjurkan Doa Jalan Salib, karena ini merupakan cara doa yang paling mudah untuk menghayati kisah sengsara Yesus dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Bapa Paus yang menganjurkan Jalan Salib ini adalah Paus Innocent XI (1686), Innocent XII (1694), Benedict XIII (1726), Clementius XII (1731), Benediktus XIV (1742).
Ke 14 perhentian Jalan Salib yang telah disetujui oleh pihak otoritas Gereja Katolik adalah:
1. Yesus dijatuhi hukuman mati
2. Yesus memikul salib ke gunung Golgotha
3. Yesus jatuh untuk pertama kalinya
4. Yesus berjumpa dengan Bunda Maria, Ibu-Nya
5. Simon dari Kirene membantu memikul salib Yesus
6. Veronika mengusap wajah Yesus
7. Yesus jatuh untuk yang kedua kalinya
8. Yesus menghibur wanita-wanita yang menangis
9. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
10. Pakaian Yesus ditanggalkan
11. Yesus dipaku pada kayu salib
12. Yesus wafat di kayu salib
13. Yesus diturunkan dari kayu salib
14. Yesus dikuburkan.

Novena Hati Kudus Yesus

Novena berasal dari kata Latin, ‘novenus’ artinya sembilan. Tradisi berdoa Novena berasal dari Alkitab. Pada saat kenaikannya ke surga, Yesus berjanji pada murid-muridNya bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus-Nya, sehingga mereka akan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (lih. Kis 1:8). Maka murid-muridNya berdoa besama dengan Bunda Maria (lih Kis 1: 14) selama 9 hari berturut-turut sampai pada hari Pentakosta, yaitu pada saat Kristus memenuhi janjinya, yaitu dengan turunnya Roh Kudus atas para rasul (lih Kis 2:1-4).

Mengenai Asal usul Novena Hati Kudus Yesus dapat dibaca di link ini (silakan klik)
Novena ini kita kenal melalui pesan Yesus yang disampaikan melalui St. Margareth Maria Alacoque (1647-1690). Melalui St. Margarreth, Kristus menyatakan keinginan hati kudus-Nya agar devosi ini disebarluaskan, agar para beriman mengetahui akan keajaiban kasih-Nya, dan kerinduan-Nya untuk menbagikan kekayaan kebaikan-Nya. Yesus menginginkan juga agar devosi diadakan bersamaaan kerinduan agar umat lebih sering menerima komuni (frequent communion), komuni pada setiap Jumat pertama dalam setiap bulan, dan berdoa satu jam setiap hari. Penampakan Yesus pada saat Perayaan Corpus Christi (Tubuh Kristus, tahun 1675), mengatakan pada St. Margareth, betapa hati-Nya yang begitu mengasihi manusia ditanggapi bukan dengan ucapan syukur, tetapi malah dengan keacuhan/ tidak ada rasa syukur. St. Margareth kemudian memberitahukan hal ini kepada Fr. de la Colombiere, yang kemudian juga mempersembahkan dirinya kepada Hati Kudus Yesus, Ia menuliskan penampakan dan devosi ini, yang kemudian dicetak di Lyon pada tahun 1684, dua tahun setelah ia meninggal.

Novena Hati Maria yang tak Bernoda

Asal usul devosi kepada hati Bunda Maria yang tak bernoda, dapat dilihat di sini (silakan klik).
Serupa dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus, devosi kepada hati Maria yang tak bernoda ini juga sudah berakar sangat lama dlam Gereja. Awalnya adalah dari meditasi jemaat Kristen pertama yang merenungkan ketulusan hati Maria terutama yang ditunjukkan dengan kelapangan hatinya menyertai Yesus sampai di kaki salibNya. Pada saat itulah dipenuhi nubuat nabi Simeon, bahwa “sebuah pedang akan menembus jiwanya” (Luk 2: 35).
St. Leo dan St. Augustinus mengungkapkan bahwa Bunda Maria pertama kali mengandung Yesus di dalam hatinya sebalum mengandung-Nya di dalam rahimnya. Maka Yesus mengatakan memujinya sebagai “dia yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8: 21).

Devosi terhadap hati Maria pertama dikenal secara luas, disebarkan oleh St. Anselm Lucca di abad ke- 11. Selanjutnya devosi ini diteruskan oleh banyak para orang kudus, di antaranya: St. Bernard, St Bridget, St Mechtildes, St. Gertrude, St. Francis de Sales, karena Bunda Maria menjadi teladan yang sempurna bagi kekudusan umat beriman. Pada tahun 1805 Paus Pius VII memberikan izin agar devosi kepada hati Bunda Maria yang tak bernoda dapat dilakukan  bersama-sama dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus.

Takdir

Gereja Katolik tidak mengajarkan adanya takdir (yang artinya bahwa segala sesuatunya telah ditentukan Allah). Walaupun Allah yang Maha Tahu telah mengetahui segala sesuatunya dari sejak awal mula dunia, Ia tidak memaksakan atau mengatur segala sesuatu, sehingga manusia hidup hanya sebagai ‘boneka’. Manusia diberi kehendak bebas yang dapat menentukan/ memutuskan segala sesuatu. Namun karena Allah yang menciptakan kita mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri, maka Ia dapat membaca pikiran kita dalam segala sesuatu; sehingga Ia tahu apa yang akan kita putuskan. Tetapi, dalam proses pengambilan keputusan itu, Allah tidak ‘memaksa’ atau mengatur kita seperti paham orang yang percaya pada takdir.
Sama seperti jika kita sungguh mengenal seseorang, maka kita dapat ‘membaca’/ mengetahui keputusan yang akan diambil orang itu dalam keadaan tertentu. Demikian pula Allah, Ia mengetahui akan apa yang akan kita putuskan, namun Ia tidak menentukannya buat kita, sebab ia menghargai pilihan kehendak bebas kita.
Lebih lanjut mengenai hal ini, silakan baca artikel ini: Apakah Berdoa itu Percuma, bagian -2 (silakan klik)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Pengalaman berharga dari mengganti diaper

15

prapaskah

Mengganti diaper

Sudah hampir tiga tahun saya dan suami tinggal di Amerika ini, dan selama ini kami tinggal di rumah keluarga sepupu saya. Anak-anak sepupu saya ini masih kecil-kecil, 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Tinggal bersama keponakan dan satu rumah merupakan pengalaman yang pasti tak akan saya lupakan seumur hidup, karena mereka sungguh telah menjadi berkat buat saya. Tanpa kata-kata, sesungguhnya mereka telah banyak mengajar saya untuk bertumbuh di dalam iman di dalam keseharian. Ketulusan, kesederhanaan, kerendahan hati dan suka cita mereka selalu menjadi bahan inspirasi bagi saya. Saya menikmati saat-saat bermain, bercanda, makan, dan bertukar ceritera dengan mereka. Tapi ada satu pengalaman yang saya pikir sangat istimewa, yaitu: mengganti diaper!

Sadarkah kita, bahwa kita perlu dibersihkan dari dosa

Nicholas keponakan saya yang paling kecil adalah anak yang sangat periang dan lucu. Ia selalu mempunyai cara untuk membuat kami serumah tertawa. Tapi rupanya dalam hal membedakan diapernya masih bersih atau sudah ‘sarat muatan’ dia belum bisa. Jadi kalau saya tanya, “Nicholas, apa kamu pu?” Lalu dengan jawaban sangat yakin dan serius dia menjawab, “NO!” Padahal sudah jelas bahwa pasti diapernya sudah perlu diganti, wong aromanya sudah ‘membahana’. Karena beberapa kali saya mengalami hal ini, maka saya jadi merenung…. Ya, memang mungkin itu masalah anak-anak, tapi sebenarnya hal inilah yang sering terjadi dalam spiritualitas kita sebagai orang dewasa. Pengalaman mengganti diaper memang tidak sepenuhnya cocok untuk menggambarkan kehidupan rohani kita, namun menurut saya, ada sedikit kemiripannya. Pernahkah anda mendengar, bahwa ada orang yang tidak mau ke Sakramen Tobat, karena merasa tidak berdosa. Terus keluarlah komentar- komentar seperti ini: “Males ngaku dosa, ah. Habis nggak tahu dosaku apa”, atau “Buat apa ngaku dosa ke Pastor, wong Pastor-nya juga manusia berdosa.” Atau, bagi yang sudah bertumbuh di dalam iman, tetap saja ada godaan untuk merasa diri sudah cukup baik. Padahal mungkin malah itu dapat berarti bahwa kita sombong rohani, dipenuhi cinta diri yang berlebihan. Mata hati kita seolah tertutup, sebab meskipun masih banyak yang dapat kita lakukan untuk bertumbuh di dalam iman dan kasih, tapi kita tak menyadari dan berpuas diri. Singkatnya: kita dapat menjadi kurang peka, bahwa ‘diaper‘ rohani kita sudah penuh dan siap diganti. Sudah saatnya kita datang dengan kerendahan hati kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat, dan berdoa kepada-Nya, “Ampunilah aku, Tuhan, sebab aku telah berdosa terhadap Engkau. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.” (Mzm 51:4)

Masa Prapaska: masa pertobatan

Pertobatan dimulai dengan mengakui dengan rendah hati bahwa kita sudah berdosa terhadap Tuhan. Pengalaman mengganti diaper keponakan saya mengajarkan kepada saya, bahwa pertobatan melibatkan keterbukaan diri. Diaper yang lama harus dibuka dulu, baru diganti. Jadi selain kita mengakui bahwa kita kita telah berdosa, kita juga harus mau membuka diri, dan dengan jujur menyebutkan segala dosa-dosa kita di hadapan Tuhan dalam Sakramen Tobat. Mungkin hal ini dapat melibatkan perasaan malu, takut, atau enggan, tetapi layaklah kita berharap bahwa segala perasaan ini akan musnah, jika kita memiliki motivasi yang kuat untuk mengasihi Tuhan yang sudah lebih dahulu mengasihi kita. Maka dengan demikian kita dapat memiliki kelapangan hati untuk mengatakan segala dosa kita di hadapan pastor, yang adalah wakil Kristus. “Tuhan, aku tak mau terpisah dari-Mu oleh karena dosa-dosa-ku. Berikan kepadaku kerendahan hati untuk mengakui semua salahku kepada-Mu, dan meninggalkan segala dosaku demi kasihku kepada-Mu.”

Masa Prapaska adalah masa yang penuh rahmat, yang harusnya membuat kita semakin sadar, bahwa kita ini manusia lemah yang sering jatuh dalam dosa. Namun demikian, Tuhan yang Maha Kasih selalu menunggu dengan setia untuk menerima kita kembali dengan kasih-Nya yang tiada terkira. Dosa kita, seberapapun besarnya, tak akan pernah lebih besar dari belas kasih Tuhan. Kasih Tuhan selalu melebihi segalanya, dan kasih itu tercurah pada kita, jika kita menanggapi panggilan-Nya untuk bertobat. Dan karena selama hidup ini kita tidak pernah sempurna, maka pertobatan ini tak cukup hanya sekali, namun seterusnya sepanjang hidup kita. St. Agustinus mengajarkan, “Awal dari kehidupan yang benar adalah pengakuan dosa.” Maka, jika kita ingin hidup mengikuti jalan kebenaran, kita harus merendahkan diri untuk berani mengakui kesalahan kita; tidak hanya sekali, tetapi setiap kali kita jatuh di dalam dosa. Allah Bapa yang Maha Pengampun selalu menunggu kita  untuk menyambut kita sebagai ‘anak yang hilang’ yang pulang kembali ke rumah bapanya (lihat Luk 15: 11-32). Kasih Allah yang besar itu tersedia bagi kita di dalam sakramen Pengakuan Dosa, dan sungguh, betapa Ia merindukan kita semua untuk bertobat dan kembali kepadaNya.  Ia rindu untuk dapat membalut luka-luka batin kita akibat dosa, menyembuhkan kita, dan menjadikan kita manusia baru di dalam Dia. Ya, jika kita mengakui dosa kita dengan tulus, maka kita akan beroleh pengampunan dari Tuhan. Pada saat itu kita akan mengalami kasih Tuhan yang luar biasa, sebab pengalaman ‘anak yang hilang’ menjadi pengalaman kita, dan seluruh surga bersuka menyambut kembalinya kita ke dalam rumah Tuhan. Pertobatan kita akan mempersatukan kita dengan Tuhan, karena tiada lagi dosa yang menjadi penghalang antara kita dengan Dia.

Pertobatan yang terus menerus membawa rahmat yang selalu baru

Sungguh, Tuhan kita memang Maha Rahim dan Maha Pengampun. Namun jangan sampai  kita menjadi terlalu pede (percaya diri) bahwa meskipun kita tidak menyesal dan bertobat, Tuhan juga pasti mengampuni. Justru, karena Tuhan begitu mengasihi kita, Dia tidak menjadikan kita seperti boneka wayang, yang tidak dapat mengambil keputusan untuk bertobat dan menghindari kesalahan. Rahmat Pembaptisan kita adalah bekal awal yang cukup untuk menghantar kita berjuang dalam kehidupan sehari-hari untuk menolak dosa. Apalagi jika kita setia menerima Kristus di dalam Ekaristi Kudus. Namun sayangnya, oleh kelemahan kita, meskipun kita sudah berusaha menghindari kesalahan, sering kita jatuh lagi. Dan dalam kejatuhan itu kita berpikir…. alangkah indahnya kalau kita bisa bangkit dan hidup senantiasa dalam kelimpahan suka cita dan rahmat. Betapa sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa kebangkitan dimulai dari satu langkah sederhana: kesediaan kita bertobat dan mempercayakan hidup kita ke dalam pimpinan-Nya. Selebihnya, Tuhan yang akan menolong kita untuk berjuang dan bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih.

Marilah  kita memandang Yesus Kristus dan temukanlah bukti nyata akan kasih Allah yang tak terbatas. Di sanalah kita akan melihat  Kristus telah rela meninggalkan kemuliaan-Nya, menjadi seorang hamba, dan rela memberikan diri-Nya bagi kita sampai wafat di kayu salib (lih. Fil 2:6-9), untuk menebus dosa-dosa kita. Ya, bahkan dosa yang terbesar sekalipun. Dengan mata tertuju pada salib Kristus, marilah kita sadari, “Betapa besar dan dalamnya kasih-Mu, ya Tuhan, sebab Engkau rela menanggung siksa dan derita untuk menghapus segala dosaku. Bantulah aku untuk bangkit dari kesalahanku, dan hidup seturut perintah-Mu. Tambahkanlah kasih di dalam hatiku, ya Tuhan, supaya aku dapat lebih mengasihi Engkau dan sesamaku.”

Ya, Kristuslah jawaban untuk menghadapi ujian hidup ini. Yesus-lah sumber kekuatan kita; pada-Nyalah kita menaruh pengharapan dan iman. Dan pengharapan di dalam Dia tidak pernah mengecewakan sebab Ia yang menjanjikan pertolongan dan keselamatan adalah Allah yang setia (lih. Ibr 10:23). Mari kita berjalan mengiringi Yesus di jalan salib-Nya, sambil memikul salib kehidupan kita. Memikul salib ini juga berarti kita bersedia ‘mati’ terhadap dosa, untuk dibangkitkan bersama Kristus, dan hidup di dalam Dia (Rom 6:11). Di dalam Dialah letak sukacita yang tak dapat diberikan oleh dunia. Sebab meskipun keadaan yang kita hadapi mungkin tetap sama, tetapi kita dapat menghadapinya dengan kekuatan yang istimewa untuk meninggalkan dosa dan kelemahan kita, sebab Kristus menopang dan memberi kekuatan kepada kita. Inilah rahmat Allah yang dijanjikan-Nya bagi kita yang senantiasa memeriksa diri dan bertobat. Rahmat-Nya selalu baru dan tak pernah terlambat pertolongan-Nya sebab besar setia-Nya di dalam hidup kita!

Selamat menjalani masa Prapaska. Semoga Tuhan memberikan rahmat pertobatan dan kerendahan hati kepada kita semua.

PS: Untuk pemeriksaan batin yang baik, silakan membaca artikel: Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (bagian ke-4).

Persatuan dengan Gereja Timur

33

Pertanyaan:

Dear Pengasuh Situs Katolisitas (dhi Sdr.Stefanus Tay dan Sdri Inggrid),

Saya mengucapkan proficiat atas karya luar biasa kalian dalam menyebarluaskan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Bersama para Romo pengasuh, situs ini menjadi sumber terpercaya bagi kaum awam yang ingin menambah wawasan Katolik.

Namun demikian, katolisitas akan berarti besar dalam unitas Gereja. Gereja Roma Katolik tidak akan kuat berdiri sendiri menggarami dan menerangi dunia. Dia perlu bersatu dengan Timur bahkan sangat mendesak. Oleh sebab itu, selayaknya kita berdoa agar Gereja Roma Katolik lewat Bapa Suci BXVI menjadi pelopor aktif dalam persatuan Gereja dimulai dari persatuan tanggal Paskah. Saya harap GRK kembali ke Penanggalan Julian.

God bless, Leo

Jawaban:

Shalom Leo,
Terima kasih atas kunjungan dan dukungan anda terhadap situs ini. Ya, kita memang harus berdoa bagi persatuan Gereja, sebab kesatuan Gereja merupakan kehendak Yesus, dan menjadi doa Yesus sendiri sebelum Ia mengalami sengsara dan wafat-Nya di kayu salib. Yesus berdoa kepada Allah Bapa bagi para pengikut-Nya, “… supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengtus Aku. ” (Yoh 17: 21)

1) Maka sebagai orang Katolik, kita sepantasnya mengusahakan persatuan sesama pengikut Kristus atas dasar kasih. Karena kita percaya bahwa Kristus telah mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus, maka kita juga percaya Gereja Katolik ini akan tetap berdiri sampai akhir zaman (lih. Mat 16:18), seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus. Jika kita berpikir sebaliknya, ataupun meragukan apakah Gereja Katolik akan kuat menghadapi jaman, maka sesungguhnya kita meragukan janji Kristus yang pasti akan selalu menyertai Gereja-Nya, dan bahkan alam maut tidak akan menguasainya (lih. Mat 28:20; 16:18).

2) Maka Gereja Katolik adalah seperti batang pokok dimana kesatuan dengan Kristus sebagai kepala-Nya terjamin. Mereka yang melepaskan diri (entah pribadi atau kelompok) dari kesatuan ini, dengan alasan apapun, sesungguhnya telah melepaskan diri juga dari kepenuhan rahmat kesatuan ini. Dekrit tentang Ekumenism (Unitatis Reditegration) 3 , Vatikan II mengatakan,
“Oleh karena itu Gereja-Gereja[19]]dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik. Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan.” (UR 3)

3) Perlu diketahui di sini bahwa tidak semua Gereja-gereja Timur sekarang terpisah/ tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus, sebab dewasa ini terdapat 23 Gereja Timur yang ada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Dokumen Gereja yang penting tentang Gereja-gereja Timur ini yang sudah dalam persatuan dengan Gereja Katolik adalah Dekrit tentang Gereja Katolik Ritus Timur, Vatikan II (Orientalium Ecclesiarum) dan juga Kitab Hukum Gereja khusus untuk Gereja Timur yang dalam persatuan dengan Gereja Katolik (CCEO) yang berlaku 1 Oktober 1991.

4) Menurut sejarah, pemisahan Gereja-gereja Timur Orthodox dari Roma (yang ditandai oleh Photius 867 dan Cerularius 1054)  berlangsung lebih karena motif politik, yang akhirnya berakhir dengan keputusan gereja Timur untuk tidak mengakui kepemimpinan Roma, meskipun telah bertahun-tahun sebelumnya selalu mengakuinya. (Hal ini mungkin kelak dapat dibahas lebih lanjut saat kami menuliskan topik sejarah Gereja).
Namun pada prinsipnya, hubungan mereka dengan Gereja Katolik sesungguhnya sangat erat karena Gereja-gereja Timur ini memiliki devosi yang sangat dalam/ besar terhadap liturgi dan perayaan Ekaristi, mereka mempunyai garis penurunan tradisi apostolik dari para Rasul, dan mempunyai juga sakramen imamat dan sakramen-sakaramen yang lain (lihat UR 15). Oleh karena itu, “….Konsili menganjurkan kepada para Gembala serta umat Gereja katolik untuk menjalin hubungan-hubungan dengan mereka, yang tidak hidup di Timur lagi, melainkan merantau jauh dari tanah air. Maksudnya supaya makin meningkatlah kerja sama persaudaraan dengan mereka itu dalam semangat cinta kasih, dengan menyisihkan segala segala keinginan untuk bersaing. Kalau usaha itu digiatkan sepenuh hati, Konsili suci mengharapkan, supaya robohlah dinding pemisah antara Gereja Barat dan Gereja Timur, pada akhirnya terwujudlah kediaman satu-satunya, dibangun atas Batu Penjuru, yakni Kristus Yesus, yang akan menyatukan kedua pihak[27]].” (UR 18).

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai harapan untuk persatuan Gereja-gereja Timur Orthodox dengan Gereja Katolik yang berpusat di Roma. Mari kita mengingat bersama, bahwa kesatuan yang telah ada sekarang di dalam Gereja Katolik bukan kesatuan yang tidak lengkap, sehingga Gereja Katolik tidak akan kuat berdiri sendiri menghadapi jaman untuk menggarami dunia, tetapi kita yakini bahwa kesatuan ini adalah suatu rahmat yang memang sudah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada Gereja-Nya, namun selayaknya kesatuan ini terus ditingkatkan, untuk lebih lagi dapat menggarami dunia. Ini dikatakan juga dalam Vatikan II, “Kesatuan [persekutuan gerejawi] itulah yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya. Kita percaya, bahwa kesatuan itu tetap lestari terdapat dalam Gereja Katolik, dan berharap, agar kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman.”

Marilah kita terus berdoa untuk persatuan Gereja Kristus, di bawah kepemimpinan Bapa Paus, penerus Rasul Petrus, yang kepadanya Tuhan Yesus berjanji, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab