Home Blog Page 305

Salib Tanda Kasih Kristus

29

Pandanglah Salib Kristus

Pekan suci merupakan saat yang indah dalam kalender liturgi Gereja. Namun sejauh mana kita juga melibatkan diri untuk merenungkan misteri kasih Allah dalam masa yang indah ini? Jika kita ingin lebih menghayati Pekan Suci ini, mari tengoklah ke dalam hati kita, baik dari segi persiapan batin untuk menyambut tri-hari suci, namun terlebih-lebih lagi, merenungkan dan meresapkan kisah sengsara Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita.

Maka, marilah kita memandang salib Kristus. Di sana terlihat bukti kasih Allah yang tiada batasnya. Ia mau melakukan segala sesuatu untuk mengangkat kita agar kita dapat bersatu dengan-Nya di surga. Karena Ia mengetahui bahwa dosa-lah yang menghalangi rencana-Nya itu, maka Ia melakukan apa saja untuk menghapuskan dosa itu. Ya, walaupun itu berarti Ia harus mengorbankan segala-galanya. Allah yang Maha mulia, telah meninggalkan kemuliaan surga demi kasih-Nya kepada kita. Ia mengosongkan diri, mengambil rupa sebagai seorang hamba, dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa kita manusia (lih. Fil 2:6-8). Betapa kita mesti berdoa, agar semakin memahami misteri kasih-Nya ini….

Tuhan kita menderita?

Mungkin banyak orang berpikir bahwa tak sepantasnya Tuhan menderita. Atau dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak pernah bisa menderita, karena Tuhan itu Maha Sempurna. Di sinilah memang letak misteri Kristus, karena walaupun Ia sungguh-sungguh Allah, namun Ia juga sungguh-sungguh manusia. Maka walaupun Ke-Allahan-Nya sempurna dan tak bisa menderita, namun dari segi kemanusiaanNya Ia sungguh-sungguh dapat menderita. Dan… betapa besarlah penderitaan-Nya, justru karena Ia sungguh manusia namun sekaligus Allah: yaitu saat Dia melihat bagaimana kekejaman dosa manusia terjadi di depan mata-Nya. Dosa menyebabkan manusia menutup pintu hati bagi Tuhan dan menutup diri terhadap kebenaran. Dosa membuat manusia menjadi sombong, iri hati, dan kejam. Manusia tidak lagi mau mengasihi, gampang sakit hati, tidak mau mengampuni dan bahkan dapat merancangkan segala yang jahat kepada sesamanya. Betapa jauhnya hal ini dengan rencana Allah semula, saat menciptakan manusia dalam kasih, agar semua manusia hidup dalam kasih, seperti gambaran kehidupan Diri-Nya sendiri. Maka kepedihan hati Yesus sebagai manusia diperolehNya dari kesatuan-Nya dengan ke-Allahan-Nya: sebab apa yang pada mulanya diciptakan-Nya dengan baik adanya, sekarang terancam rusak karena dosa. Jika kita sebagai orang tua saja tahu bagaimana harus berjuang sekuat tenaga untuk melindungi dan menjaga anak-anak kita, terlebih lagi Tuhan! Sungguh, itulah yang dilakukan-Nya dalam diri Yesus Kristus yang menyerahkan Diri-Nya untuk disalibkan, sebab Ia tak mau kita semua sebagai ciptaan-Nya, binasa karena dosa.

Tangis Yesus

Maka, Tuhan Yesus tidak sama dengan kita. Kita manusia lahir dengan keinginan utama untuk hidup, namun Tuhan Yesus lahir dengan keinginan utama untuk mati. Mati di sini bukan karena putus asa atau tidak menghargai hidup di dunia, namun karena ingin membuka jalan bagi kita kepada hidup yang kekal. Kematian-Nya ini disebut Yesus sendiri sebagai ‘baptisan’, dan betapa Ia menanti sampai saat itu tiba (lih. Luk 12:50). Dan betapa besar derita yang harus dialami-Nya sampai semua itu tergenapi! Ya, telah menjadi kehendak Yesus untuk taat kepada rencana Allah Bapa. Ia mengetahui bahwa Korban DiriNya di kayu salib adalah untuk menggantikan korban hewan bakaran penghapus dosa yang selama berabad-abad dilakukan oleh umat Israel pilihan-Nya. Saat menjelma menjadi manusia, Yesus berkata kepada Bapa, “Sungguh, Aku datang, untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” (Ibr 10: 7) Dan ketaatan itu menghantar-Nya sampai wafat di kayu salib, agar dengan demikian digenapilah rencana Allah, yaitu kuasa dosa dipatahkan dan manusia dapat memperoleh hidup kekal.

Maka hari Jumat Agung adalah hari yang telah dinanti-nantikan oleh Tuhan Yesus, dari sejak awal kedatangan-Nya ke dunia. Seluruh pengajaran dan pelayanan-Nya tertuju untuk korban salib-Nya, yaitu sumber kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Menjelang wafatNya, Ia berdoa di bukit Zaitun: doa yang dipanjatkan-Nya sebagai manusia, namun dalam kesatuan sempurna dengan Allah. Doa yang penuh dengan ratap tangis dan keluhan kepada Allah (lih. Ibr 5:7) karena melihat betapa kejamnya pengaruh dosa atas manusia di dunia.

Oleh persatuan-Nya yang sempurna dengan Allah Bapa, maka dalam doa-Nya malam itu, Yesus dapat melihat di dalam Hati Kudus-Nya, segala sesuatu sejak awal mula sampai akhir dunia. Semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi, dari sejak penciptaan dunia sampai akhir zaman, terpampang di hadapanNya sebagai ‘saat ini’, sebab Allah mengatasi segala tempat dan waktu. Setidaknya inilah yang menjadi keyakinan para Bapa Gereja. Bahwa pada saat Kristus bedoa di taman Getsemani, Ia merenungkan rancangan keselamatan Allah dalam kontemplasi yang sempurna. Dan segalanya menjadi nyata bagi-Nya: dari saat awal mula dunia, saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, sehingga Ia merencanakan untuk menjelma menjadi manusia. Betapa kedatangan-Nya di dunia telah dipersiapkan oleh banyak generasi, termasuk pembentukan bangsa Israel yang kenyataannya telah berkali-kali meninggalkan Dia. Para nabi yang diutusNya-pun sering ditolak oleh mereka, hingga akhirnya, Ia memutuskan untuk turun ke dunia dan mengambil rupa seorang hamba, agar semua orang dapat datang kepada-Nya tanpa sungkan.

Betapa hati-Nya dipenuhi oleh kasih yang begitu besar kepada umat manusia yang diciptakan-Nya! Ia mengajar, Ia menyembuhkan, Ia melakukan mukjizat, hanya untuk menyatakan bahwa Allah peduli dan Allah mau melakukan apa saja agar manusia percaya kepada-Nya. Namun, apa yang diperoleh-Nya sebagai balasan? Orang-orang terdekat-Nya yaitu para rasul dan para pengikut-Nya tercerai berai dan meninggalkan Dia. Ia dituduh menghujat Allah, padahal Ia hanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa Ia datang dari Allah karena Ia adalah Putera Allah! (lih. Yoh 8:42) Ia diserahkan kepada para imam kepala, dihina, diludahi, diberi mahkota duri, didera, ditelanjangi dan disalibkan… segala bentuk penghinaan yang tak terbayangkan karena sungguh di luar pemahaman kita.

Sayangnya, dalam sejarah kehidupan manusia, tak banyak orang yang setia kepada-Nya. Ya, bahkan saat berdoa di Taman Getsemani itu, Yesus telah melihat apa yang akan terjadi padaNya setelah malam itu. Saat Ia didera, diberi mahkota duri, saat memanggul salib-Nya, saat paku menembus tangan dan kakiNya, dan saat salib ditegakkan, dan saat tubuhNya terentang antara langit dan bumi sampai tarikan nafas-Nya yang terakhir. Di kaki salib itu, tak banyak yang setia mendampingi, hanya murid yang dikasihi-Nya dan Bunda Maria. Sedangkan, para pengikut-Nya yang lain tercerai berai meninggalkan Dia. “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Dalam doa terakhir-Nya, Ia juga melihat jauh ke depan, yaitu setelah kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga dan pengutusan Roh Kudus, murid-murid dikuatkan sebagai saksi-Nya, walaupun kemudian mereka disiksa oleh orang-orang yang menolak-Nya. Selanjutnya, saatnya akan datang di mana banyak orang akan mengaku datang dari Allah namun tidak mengajarkan pengajaran-Nya; dan betapa banyak orang yang disesatkan oleh mereka. Kemudian, Yesuspun mengetahui bahwa walaupun Ia menyerahkan nyawa-Nya, dunia tidak serta merta percaya kepada-Nya. Pengorbanan-Nya dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi sebab terlalu merendahkan Tuhan, ataupun dianggap sebagai kebodohan. Manusia lebih memilih mengikuti gambarannya sendiri tentang Tuhan, daripada berusaha memahami misteri kasih Allah yang terpancar dari salib Kristus. Dunia lalu hidup seperti seolah-olah tidak ada Tuhan. Mereka saling menyalahkan, dan tidak menjaga persatuan. Bahkan Gereja yang didirikan-Nya tak luput dilanda pergolakan dan perpecahan. Betapa Ia disakiti oleh orang-orang pilihan-Nya yang tidak setia! “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Dalam permenungan-Nya, Yesus melihat segala jenis dosa: kekerasan, pengkhianatan, kebohongan, pembunuhan, perzinahan, iri hati, kesombongan, cinta uang, aborsi, keserakahan, kemalasan, kemarahan ….semua itu dengan lengkap wajah-wajah pelakunya, ya, termasuk anda dan saya. Yesus melihat kepada setiap jiwa kita yang kemudian menjadi pengikut-Nya: betapa hati-Nya bersuka menerima pertobatan kita, namun juga betapa hati-Nya terluka, pada saat kita jatuh dalam dosa, mengacuhkan dan meninggalkan Dia.… Kita menyalibkan Dia dengan dosa-dosa kita, kita hidup mengikuti kehendak sendiri, sibuk dengan urusan sendiri, dan tidak sungguh peduli kepada Tuhan. Ya, kita semua yang termasuk bilangan orang-orang yang dipilih dan sangat dikasihi Tuhan begitu rupa, namun sering lupa, alpa, dan meletakkan Tuhan di tempat nomor dua. Betapa pada setiap dosa itu dilakukan, Yesus menerima pukulan dan siksaan… “Hai, umat-Ku, apa salah-Ku pada-Mu?

Maka tak mengherankan, bahwa menurut para Bapa Gereja, penderitaan terbesar Tuhan kita Yesus Kristus adalah penderitaan batin. Walaupun siksa yang harus ditanggung-Nya di salib sangatlah besar, namun penderitaan di kayu salib itu bukanlah penderitaan yang paling menyiksa bagi-Nya, karena salib hanyalah merupakan penderitaan badan. Yang paling membuat hancur Hati-Nya ialah kenyataan bahwa Ia dikhianati, difitnahkan segala yang jahat, dan ditinggalkan. Banyak orang yang dikasihiNya tidak membalas kasihNya, atau menjadi suam-suam kuku, tidak sungguh-sungguh mengasihi-Nya, atau hanya mengasihi di mulut saja, namun tidak sampai di hati. Inilah yang membuat-Nya mengalami duka yang sangat, hingga mengeluarkan keringat berupa titik-titik darah. “Ya, Bapa-Ku jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”(Luk 22: 42).

Ketaatan Yesus

Namun, betapa besarlah teladan ketaatan yang diberikan Kristus kepada kita. Ia melaksanakan perkataan yang diajarkan-Nya dalam doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga.” Kehendak Allah Bapa inilah yang akhirnya menjadi pilihan-Nya. Keinginan-Nya untuk bersatu dengan kita mengatasi segala sesuatu, dan karena Yesus melihat bahwa di akhir jaman persatuan itu tercapai di dalam Gereja kudus-Nya. Maka meskipun besar sengsara yang harus ditanggung-Nya untuk mencapai ke sana, Ia rela menghadapinya. Malam itu digenapilah perkataan Yesus, “Tidak seorangpun mengambil nyawa-Ku daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.” (Yoh 10: 18). Maka pada saat para prajurit suruhan imam-imam kepala datang untuk menangkap-Nya, Yesus menyerahkan diri-Nya dan berkata, “Akulah Dia.” (Yoh 18:5). Kekuatan Tuhanlah yang memampukan Kristus menyongsong penderitaan- Nya dengan hati lapang, dan bahkan dengan kasih yang sangat melimpah, Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Karena mata-Nya hanya tertuju pada setiap kita, merindukan agar kita semua dapat berkata, “Kristus Putera Allah, telah mengasihi aku dan menyerahkan Diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20)

Korban SalibNya membawa kepada kebangkitan

Ya, setiap kali kita merenungkan salib Tuhan Yesus, kita merenungkan kasih Allah yang melampaui segala akal. Sebab meskipun kita masih berdosa, Ia mengasihi kita sampai mau mati bagi kita (lih. Rom 5:8). Besarlah kuasa kasih-Nya itu sehingga bagi kita yang percaya, kita memiliki pengharapan, bahwa jika kita turut mati bersama Kristus, kita akan dibangkitkan bersama Dia (Rom 6:8). Maka salib Kristus bagi kita adalah kemenangan; walaupun kita tak pernah memandang kemenangan itu terlepas dari Salib. Hari Minggu Paska hanya terjadi karena adanya Jumat Agung. Kemenangan selalu tak lepas dari perjuangan. Ini sesungguhnya menjadi pengharapan bagi kita, karena sudah menjadi kenyataan bahwa hidup kita di dunia ini adalah perjuangan. Menutupi hal ini dengan iming-iming kemenangan yang pasti di tangan tanpa perjuangan adalah janji yang kosong, sebab Kristus sendiri tidak mengajarkan demikian. Sebab kemenangan di dalam Tuhan hanya dapat kita peroleh jika kita berjuang di dalam hidup ini, setia kepadaNya sampai akhir hidup kita. Untuk itu, mari mengarahkan pandangan kita pada salib Yesus, dan menimba kekuatan daripada-Nya.

“Tuhan Yesus, aku bersyukur atas kasihMu yang begitu besar yang telah Engkau nyatakan di kayu salib. Salib-Mu menjadi sumber kekuatan bagiku untuk menjalani kehidupan ini. Kumohon, ya Tuhan, agar aku mampu memikul salibku dengan pengharapan dan iman. Bantulah aku mempersatukan segala penderitaanku dengan korban salib-Mu, supaya aku beroleh kekuatan untuk berkata kepada Allah Bapa, ‘Jadilah kehendak-Mu’. Mohon berikanlah kepadaku karunia kasih yang besar, sehingga aku tidak mudah mengeluh, dan mempunyai hati yang peka untuk meringankan juga penderitaan orang lain. Di atas semua itu, bantulah aku supaya setia kepada-Mu, dan mengasihi-Mu dengan segenap hatiku. Agar pada saat yang Kau tentukan, aku dapat bangkit bersama-Mu dalam kemenangan: kemenangan atas kuasa dosa dan kelemahanku, sehingga tiada lagi yang dapat memisahkan kita.

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau mau mati bagiku. Kini mampukanlah aku hidup, hanya bagi-Mu. Amin. ”

Ave, Verum CorpusBy: Wolfgang Amadeus Mozart

Ave, Verum Corpus
natum de Maria Virgine
Vere passum, immolatum
In cruce pro homine
Cujus latus, perforatum
Unda fluxit et sanguine
Esto nobis praegustatum
In mortis examine

cross

Salam, Tubuh yang Mulia

Salam, Tubuh yang Mulia, yang dilahirkan oleh Perawan Maria
yang sungguh menderita, disalibkan di kayu salib untuk manusia,
yang lambung-Nya ditikam, mencurahkan air dan darah
Jadilah bagi kami cicipan ilahi, saat kematian menjemput kami

Empat Prinsip untuk Menginterpretasikan Alkitab

66

Pendahuluan

Pada bulan Desember 2006 yang lalu, saya dan suami saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Shrine of the Most Blessed Sacrament di Hanceville, Alabama. Saya sungguh terkagum-kagum melihat kompleks gereja itu. Alangkah indahnya! Gereja beserta biara terletak di tanah seluas 400 acres, begitu luas dan memukau. Apalagi setelah melihat ke dalam bangunan gereja. Wah, cantik sekali! Begitu juga ketika kami mengunjungi studio TV EWTN (Eternal Word Television Network), sebuah stasiun TV Katolik yang terbesar di Amerika yang berdekatan dengan shrine itu. Terlebih-lebih lagi, kami tertegun dan tak habis memuji Tuhan, setelah membaca riwayat dibangunnya kedua kompleks itu. Ya, kompleks studio EWTN yang begitu lengkap dan ‘canggih’ itu bermula dari gudang biara pada tahun 1981, dimulai oleh seorang biarawati Poor Clare (ordo Fransiskan) yang bernama Mother Angelica. Kejadian demi kejadian melengkapi dalam kesatuan rencana pembangunan sampai selesai dan semua itu menyatakan kebesaran penyelenggaraan Ilahi.

Demikianlah dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa untuk lebih memahami dan menghargai suatu kejadian, kita perlu mempelajari latar belakang terjadinya kejadian tersebut. Maka untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama yang merupakan latar belakang Perjanjian baru, merupakan kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[1]

Alkitab merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan.[2] Maka jika kita ingin memahami Alkitab, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Dan karena Alkitab bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Alkitab sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci, dan dengan cara demikianlah jemaat awal mengartikan Kitab Suci.

Ke-4 Prinsip Mengartikan Alkitab

Secara umum, Alkitab mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[3] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

1. Arti literal/ harafiah.

Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah”.[4] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.

2. Arti alegoris

Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:

a) Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
b) Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan tanda kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7)).
c) Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
d) Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16) dan roti manna (Kel 25:30); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35).

3. Arti moral

Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam Alkitab. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).

a) Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
b) Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
c) Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.

4. Arti anagogis

Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:

a) Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
b) Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).

Pepatah mengenai ke-4 arti Alkitab

Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan:

Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[5]

Contoh interpretasi Alkitab menggunakan ke-4 prinsip

Maka semua kejadian di dalam Alkitab memiliki makna harafiah, walaupun dapat mengandung arti rohaniah juga. Contohnya adalah kisah Allah menurunkan roti manna di padang gurun (Kel 16).[6]

  • Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
  • Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat beriman yang masih berziarah di dunia ini.
  • Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain Yoshua dan Kaleb).
  • Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristi juga akan berakhir pada saat kita masuk ke Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan muka dengan muka.

Peran Gaya Bahasa dalam Alkitab

Seperti halnya pada sebuah karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Alkitab, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Alkitab sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Alkitab, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Memang ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:[7]

1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.

2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.

3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.

4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).

5. Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.

6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).

Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:

  1. Jika Alkitab jelas mengatakan bahwa yang disampaikan adalah perumpamaan. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
  2. Interpretasi harafiah dilakukan sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut, berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
  3. Jika pengartian secara harafiah malah menujukkan kontradiksi pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Dalam hal ini penting sekali kita melihat ayat-ayat lain untuk melihat gambaran yang lebih jelas akan makna ayat tersebut. Contoh: Dalam Mat 23:9, Yesus berkata “Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Selanjutnya kita melihat bagaimana Rasul Paulus kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai “bapa” bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan kepada Onesimus (Flm 10). Maka ayat Mat 23:9 tidak mungkin diartikan secara harafiah. Dalam hal ini, Yesus menggunakan gaya bahasa hyperbolisme untuk menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.

Tips utama dan contohnya

Jadi di sini kita perlu mengingat bahwa jika bahasa yang dipakai tidak menunjuk kepada arti figuratif, dan jika tidak ada kondisi kekecualian seperti yang disebutkan di atas, maka kita harus menginterpretasikan perikop secara harafiah, kecuali adanya argumentasi yang sangat meyakinkan untuk mengartikan sebaliknya. Kita tidak boleh memilih-milih ayat mana yang kelihatannya baik dan mudah untuk dicerna, dan mana yang tidak, untuk menentukan apakah dapat diartikan secara harafiah atau tidak. Misalnya, ada banyak orang tidak menyukai adanya neraka, maka mereka menganggap perkataan Yesus tentang neraka hanya sebagai ucapan simbolis. Ini tentu saja keliru! Atau misalnya, banyak orang salah mengartikan perikop tentang Roti Hidup pada Injil Yohanes 6. Mereka tidak dapat menerima ucapan Yesus secara harafiah,“Jikalau kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu; dan barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal …” (Yoh 6:53-54). Mereka mengartikannya bahwa Yesus hanya berbicara secara simbolik saja. Hal ini tentu adalah sikap yang keliru, yaitu mengartikan suatu perikop secara harafiah atau simbolik hanya berdasarkan ‘selera’ saja atau terbatas pada pemikiran yang sempit.

Jika seseorang menganggap perikop Roti Hidup sebagai ‘ayat yang sulit sehingga lebih baik tidak diartikan secara literal tetapi figuratif saja’, maka orang itu memasukkan dirinya dalam golongan orang-orang yang pada jaman Yesus juga menganggap ayat itu terlalu sulit, dan memilih untuk meninggalkan Yesus. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Dan sungguh banyak murid-murid-Nya yang pergi mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia, setelah Yesus mengajarkan demikian. (Yoh 6:66). Jika pengajaran ini hanya bermaksud simbolis, tentu Yesus akan mencegah mereka pergi. Namun Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Menanggapi hal ini, Yesus malah bertanya kepada para rasulnya, apakah mereka mau pergi juga. Dan Petrus, mewakili para rasul menjawabNya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6: 68). Maka kita ketahui bahwa hanya para Rasul dan mereka yang setia memegang ajaran ini, adalah mereka yang kepadanya Yesus telah berjanji, “Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku… ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6: 57-58). Sekarang memang kita perlu menilik ke dalam diri kita, termasuk golongan manakah kita ini: yang menerima ayat tersebut secara harafiah ataukah yang figuratif? Jika kita menerima ayat itu secara harafiah sesuai kehendak Yesus, dan kita sudah percaya kepada kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi, selanjutnya, apakah sikap kita dalam menyambut Ekaristi sudah mencerminkan iman kita itu?

Contoh yang lain adalah cerita Nabi Yunus yang ditelan oleh ikan besar selama 3 hari (Yun 1:17), sebelum dimuntahkan ke laut. Banyak orang menganggap kisah ini tidak masuk akal, sehingga lebih baik dianggap figuratif saja. Namun bagi kita yang percaya pada Sabda Allah, maka sesungguhnya tidaklah sulit bagi kita untuk percaya bahwa hal ini harafiah terjadi, apalagi kisah inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan kematian-Nya sebelum Ia bangkit pada hari ketiga (Mat 12:39-41; Luk 11:29-32). Melihat pentingnya misteri wafat dan kebangkitan-Nya, tentulah Yesus tidak sekedar hanya mengambil kisah simbolis, namun kisah yang sungguh terjadi.

Di sini kita melihat, jika kita mulai mempertanyakan terus dan hanya mau menerima apa yang dapat dibuktikan dengan akal, maka kita dapat terjebak pada memilih-milih ayat sesuai dengan keinginan kita, dan akhirnya dapat mempertanyakan segala mukjizat yang ada dalam Kitab Suci. Hal inilah yang dimiliki oleh banyak ahli Kitab suci jaman modern, yang berusaha merasionalisasikan Alkitab, dan sedapat mungkin mencoret unsur mukjizat dan intervensi ilahi. Sikap yang demikian bukanlah sikap yang rendah hati yang disyaratkan untuk membaca Sabda Tuhan, dan kita sungguh perlu berdoa agar kita tidak mempunyai sikap yang demikian.

Kesimpulan

Keempat prinsip untuk menginterpretasikan Alkitab adalah pedoman bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam akan ayat-ayat Kitab Suci. Prinsip-prinsip tersebut membantu kita untuk dapat “membaca dan menginterpretasikan Kitab Suci dengan semangat roh yang sama dengan bagaimana kitab tersebut dituliskan”,[8] dan dengan demikian kita dapat mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang makna ayat-ayat dalam Kitab suci, karena kita melihat juga kaitan satu ayat dengan ayat-ayat yang lain. Sudah menjadi Tradisi Gereja bahwa ayat-ayat Alkitab tidak untuk dipertentangkan satu dengan yang lain, tetapi selalu dilihat dalam satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Mari kita belajar dari teladan kebaikan Tuhan, yang walaupun tetap mempertahankan kebenaran dan kekudusan-Nya, telah sedemikian menyesuaikan Diri-Nya untuk menjangkau kita semua dengan menggunakan bahasa manusia. Mari kita melakukan bagian kita, dengan berusaha untuk memahami apa yang hendak disampaikan-Nya kepada kita.


[1] KGK 129

[2] lihat KGK 106

[3] lihat KGK 115-117

[4] St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, I, 10 ad 1

[5] KGK 118

[6] Untuk kebih lanjut mengenai ke-4 arti dalam Alkitab ini, silakan membaca buku karangan Mark P. Shea, “Making Sense Out of Scripture: Reading the Bible as the First Christians did (Rancho Santa Fe, CA: Basilica Press, 1999).

[7] Father Frank Chacon & Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (San Juan Catholic Seminars, Farmington, NM, 2003) p. 24-25.

[8] Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 12, Vatikan II.

Mengapa Tuhan tidak membuat mukjijat saat ini?

4

Pertanyaan:

D. TUHAN YANG TAK TERLIHAT
Problema Tuhan Yang Tak Terlihat

Orang-orang Theis selalu mengklaim bahwa Tuhan menginginkan kita untuk percaya kepada-Nya sehingga kita bisa terselamatkan. Kalau Tuhan mau kita percaya, mengapa Tuhan tidak membuat mukjizat sehingga bisa terlihat oleh semua orang supaya semua orang bisa percaya?

Mungkin orang Theis akan menjawab, Tuhan ingin kita percaya dengan iman, bukan dengan pandangan mata.
Tetapi Alkitab sendiri mengatakan bahwa di masa yang lampau Tuhan melakukan mukjizat yang paling luar biasa dan sering kali memunculkan diri-Nya di dalam kehidupan manusia dengan tujuan supaya manusia bisa melihat dan percaya kepada-Nya.

Kalau Tuhan menampakkan diri-Nya atau mukjizat-Nya dimasa lampau, mengapa Tuhan tidak menampakkan diri-Nya atau mukjizat-Nya di masa kini?

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan begitu banyaknya pertentangan antara ilmu pengetahuan dan isi Alkitab, maka sudah lebih masuk akal bila Tuhan lebih memperlihatkan diri-Nya dan melakukan mukjizat di zaman sekarang.

Tapi mukjizat dan diri-Nya tidak pernah muncul. Ini membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada sama sekali.

Orang-orang Theis akan berkata bahwa Tuhan melakukan mukjizat dan keajaiban di masa sekarang, misalnya dengan penyembuhan, membantu memecahkan masalah pribadi, dan sebagainya. Tapi manusia yang bandel dan jahat menolak untuk percaya. Sedangkan keajaiban-keajaiban yang dikumandangkan itu bersifat kecil dan pribadi, sehingga lebih menimbulkan keraguan daripada kepercayaan.

Kalau Tuhan melakukan mukjizat yang luar biasa dan luas, manusia mau tidak mau harus percaya. Tapi mukjizat itu tidak pernah ada.

Bahkan menurut Alkitab, orang-orang Israel berkelana di gurun pasir selama 40 tahun lamanya, dan Tuhan memberi mereka makan dengan menjatuhkan makanan dari langit (Keluaran 16:4). Di tahun 1980-an, jutaan umat Theis diEthiopia mati secara perlahan-lahan karena kemarau yang panjang. Tuhan mempunyai kesempatan emas untuk kembali menjatuhkan makanan dari langit, seperti yang diutarakan di Alkitab, untuk membuktikan keberadaan diri-Nya dan membuktikan cinta-Nya yang besar kepada manusia.

Ini merupakan salah satu bukti kalau Tuhan tidak ada sama sekali. – Lodewijk

Jawaban:

Shalom Lodewijk,
Berikut ini adalah
JAWABAN UNTUK POINT D: TUHAN YANG TIDAK KELIHATAN, MENGAPA TIDAK MEMBUAT MUKJIZAT?
Orang yang tidak percaya kepada Tuhan memang umumnya menuntut adanya tanda/ mukjizat yang membuktikan bahwa Tuhan sungguh ada. Sebenarnya sikap seperti ini bukan saja hanya ada di jaman sekarang, tetapi memang sudah ada dari jaman dahulu. Pada jaman Yesus, orang-orang Farisi meminta tanda kepada Yesus, yang dijawab Yesus bahwa tanda yang diberikan adalah tanda kebangkitanNya tiga hari setelah kematian-Nya (Mat 12:39-41; Luk 11:29-32). Sebenarnya mereka hanya perlu lebih objektif sedikit untuk melihat bahwa pada saat itu sudah banyak sekali mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, mulai dari menyembuhkan banyak orang sakit, memperbanyak roti untuk memberi makan ribuan orang, meredakan badai, membangkitkan orang mati, dst. Lebih lanjut mengenai hal ini, silakan baca artikel ini: Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah (silakan klik).
Namun memang mukjizat Kristus yang terbesar adalah kebangkitan-Nya sendiri dari kematian-Nya. Hal ini tidak dapat disangkal karena terlalu banyak saksi mata-nya, sehingga pada waktu para saksi mata masih hidup, tidak ada orang yang berani menuliskan sesuatu yang menentang kebenaran ini. Kita melihat hal ini dari tulisan Rasul Paulus pada Gereja di Korintus (1 Kor 15:1-8). Bahwa di jaman berikutnya terdapat tulisan-tulisan yang menentang mukjizat kebangkitan Yesus, tidak menjadi dasar untuk meragukan kebangkitan Yesus. Fakta ini malah semakin menguatkan kebenaran bahwa Yesus sungguh bangkit. Sebab,  mengapa tulisan itu baru dituliskan pada saat generasi para saksi hidup sudah tidak ada lagi? Karena jika tulisan itu ditulis pada masa para saksi mata masih hidup, pastilah mereka semua menentangnya, karena mereka benar-benar melihat bahwa Yesus sungguh bangkit dan hidup setelah kematian-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat berbuat demikian (bangkit dari mati); sehingga mukjizat ini merupakan bukti yang nyata bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan.
Mukjizat besar yang berikutnya adalah keberadaan Gereja Katolik yang bertahan sepanjang 2000 tahun lebih. Tak ada kelompok/ organisasi manusia yang dapat bertahan terus sampai 2000 tahun, yang memegang ajaran/ aturan yang sama, dan dengan sistem kepemimpinan yang sama. Walaupun dalam sejarahnya, Gereja dilanda banyak tantangan dari luar dan dalam, namun Gereja Katolik tetap eksis berdiri. Fakta ini menunjukkan bahwa Gereja ini bukan didirikan oleh manusia, melainkan oleh Tuhan sendiri.
Mukjizat yang lain-lainnya adalah mukjizat yang nyata terjadi di beberapa tempat ziarah, dan pada tempat asal para orang kudus. Silakan mengunjungi kota seperti Lourdes misalnya, dan temukanlah kesaksian mukjizat yang didukung oleh fakta medis di sana. Belum lagi kenyataan banyak orang kudus yang sudah meninggal dan tubuhnya tetap utuh/ incorrupt (seperti pada St. Catherine Laboure, St. Vincent de Paul, St. Bernadette Soubirous, St. Therese of Liseux, Padre Pio, dst.) itu juga menunjukkan tanda tersendiri bahwa Tuhan mau menunjukkan mukjizat-Nya pada orang-orang pilihan-Nya, yang melampaui hukum kodrat manusia. Mukjizat lain yang terus berlangsung memang adalah mukjizat yang bersifat pribadi, yang dapat dialami oleh setiap orang percaya kepada Tuhan Yesus.
Bahwa kenyataannya banyak orang kelaparan di Ethiopia dan negara Afrika lainnya, harusnya itu menjadi keprihatinan manusia, dalam hal ini negara- negara yang lebih maju. Manusia seharusnya belajar hidup lebih peduli dengan sesamanya, dan ini sesungguhnya yang juga menjadi prinsip pengajaran sosial etik dalam Gereja Katolik. Selama berabad-abad memang Gereja Katolik turut berkarya membangun peradaban manusia, dan dalam hal ini memang Tuhan bekerja lewat pelayanan Gereja (lewat bermacam kongregasi religius yang mempelopori pelayanan kesehatan dan pendidikan), dan bukan dengan mukjizat langsung. Untuk inilah maka Gereja dipanggil untuk terus melanjutkan karya kemanusiaan ini, walaupun harus juga dalam perspektif yang lebih luas, yang terarah pada Keselamatan. Karena yang terpenting bagi Tuhan akhirnya adalah keselamatan jiwa manusia, bukanlah semata kesejahteraan badan. Bahwa pada Perjanjian Lama Tuhan memberi manna dari langit selama 40 tahun kepada umat Israel sampai menuju Tanah Terjanji, adalah karena Ia mau mempersiapkan jalan bagi pengajaran tentang Yesus sebagai Roti Hidup yang harus kita terima agar kita dapat masuk ke Surga sebagai ‘Tanah Terjanji’. Adalah kebijaksanaan Tuhan yang menentukan hal ini, dan jika kita bertanya terus mengapa, maka kita dapat terjebak pada kesombongan, dengan mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan, seolah kita lebih pandai dari Tuhan. Sebab manusia sering menitikberatkan pada kebutuhan dan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara, sedangkan Tuhan lebih menitikberatkan pada kebahagiaan kekal. Mukjizat kesembuhan, dst yang diharapkan manusia, bagaimanapun sifatnya sementara, sebab pada suatu saat orang yang disembuhkan juga pasti meninggal dunia. Jika-pun Tuhan memberikan mukjizat kepada-Nya, harapannya adalah agar orang itu percaya seterusnya dan memperoleh kehidupan kekal. Jadi, jika tidak membawa manusia kepada keselamatan kekal, maka sebenarnya mukjizat tidak ada gunanya. Dan Tuhan yang mengetahui segalanya, Ia yang paling bijaksana untuk menentukan sendiri kepada siapa, dan dalam hal apa Ia akan melakukan mukjizat-Nya.
Mukjizat yang juga tak kalah besar, justru karena kesederhanaannya, adalah mukjizat Ekaristi. Karena pada setiap Misa Kudus, setelah konsekrasi, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, oleh kuasa Roh Kudus. Maka Tuhan Yesus yang sama hadir kembali di tengah Gereja-Nya, dan kuasa-Nya dapat dinyatakan ditengah kita. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca: Sudahkah Kita pahami Ekaristi? (silakan klik).
Di atas semua itu, baiklah kita ingat pepatah ini, “Memang bagi orang percaya penjelasan yang rinci tidak diperlukan sedangkan bagi orang yang tidak percaya, penjelasan yang seperti apapun tidak akan pernah memuaskan.” Maka akhirnya, kita dapat berkata, bahwa iman adalah karunia Allah. Yesus berkata,  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh 20: 29). Rasul Pauluspun mengajarkan, “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya, setia.” (Ibr 10: 23). Mari kita mengandalkan janji Allah ini daripada menggantungkan pada pengertian dan pendapat manusia.

Salam kasih dari https://katolisitas.org
Ingrid Listiati

Perbedaan takdir dan nasib

28

Pertanyaan:

Shalom Bu Ingrid,
mungkin perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian “takdir” ini. Apa yang dimaksud dengan “takdir”? Seseorang kapan lahir atau mati atau dia dilahirkan sebagai lelaki atau perempuan atau siapa orang tuanya atau kakak/adiknya, bukankah dia tidak bisa memilih dan sudah ditentukan oleh Tuhan. Pengertian “takdir” ini mungkin perlu dibedakan dengan “nasib”. Untuk “nasib” memang kita sendiri yang menentukan, namun “takdir” (seperti contoh diatas) adalah Tuhan yang menentukan. Kita memang sering mencampuradukkan (salah kaprah) pengertian “takdir” dengan “nasib”.
Mohon penjelasan. Terima kasih. – Chandra

Jawaban:

Shalom Chandra,
Memang penjelasan tentang takdir ini tidak sederhana, dan sangat tergantung dari definisi dan pengertian kata ‘takdir’ itu sendiri. Saya sendiri cenderung untuk mengikuti apa yang tertulis di Alkitab dan pengajaran Gereja Katolik tentang hal ini, daripada mengikuti pengertian yang berbeda-beda yang ada dalam masyarakat. Umumnya memang takdir dan nasib diartikan sama, bahkan dalam bahasa Inggris juga demikian. Takdir dan nasib umumnya diterjemahkan sebagai ‘destiny, fate’, yang artinya mengarah kepada ’segala sesuatunya sudah ditentukan dari ‘Atas’ (yaitu Tuhan) dan manusia tidak ada andil/ kehendak bebas untuk mengubahnya. Dalam pengertian yang demikianlah Gereja Katolik tidak mengajarkan ‘takdir’, justru karena Gereja mengajarkan adanya kehendak bebas pada manusia yang dapat memilih hendak bekerjasama dengan kehendak Allah atau tidak. Juga, kita dapat melihat perkataan ‘takdir’ tidak muncul di dalam Alkitab. Ayat-ayat  yang sering dikatakan menyebutkan tentang konsep ‘predestination’ yang sering diartikan sebagai takdir, adalah Rom 8:29-30 dan Ef 1:5, 11. Namun di sana yang dituliskan adalah ‘ditentukan’ oleh Allah, bukan ‘ditakdirkan’.

Sekarang, mungkin kita perlu menelaah, apa bedanya, arti ‘ditentukan’ dengan ‘ditakdirkan’? ‘Ditentukan’ di sini adalah berkaitan dengan kehendak Tuhan. Nah, dengan melihat uraian St. Thomas Aquinas (lihat ST, I, q.19), tentang dua macam kehendak Allah (the Will of God) secara umum, maka kita dapat lebih memahami tentang kehendak Allah ini:

1. Antecedent Will: Kehendak Allah yang universal terhadap semua manusia, yaitu agar semua manusia di selamatkan. Inilah yang dikenal dengan ajaran ‘predestination’, yaitu bahwa Allah menghendaki semua manusia diselamatkan dan memiliki pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4). Maka kita mengetahui bahwa Gereja Katolik, berpegang pada pengertian ini, mengajarkan konsep ‘predestination‘, yaitu bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Yang tidak diajarkan oleh Gereja Katolik adalah ‘double predestination‘ yaitu bahwa Allah dari sejak awal sudah menentukan orang-orang yang akan masuk ke surga (diselamatkan) dan orang-orang yang masuk neraka (tidak diselamatkan), seperti yang diajarkan oleh Calvinism.
Gereja Katolik tidak mengajarkan konsep double predestination, sebab ini bertentangan dengan hakekat Allah sendiri yang adalah Maha Kasih dan Maha Adil. Sebab Kasih selalu menginginkan kebaikan terjadi pada orang yang dikasihi, dan Keadilan selalu mengacu pada sesuatu yang layak sesuai dengan yang seharusnya. Menentukan seseorang yang tidak bersalah langsung ke neraka, itu bertentangan dengan sifat Keadilan, karena itu tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan, sebab Tuhan tidak mungkin menyangkal DiriNya sendiri (lih. 2 Tim 2:13).

2. Consequent Will: Kehendak Allah yang melibatkan pihak kehendak bebas manusia; sehingga meskipun Allah menghendaki semua manusia diselamatkan, namun karena Allah menghormati keputusan kehendak bebas manusia yang menolak-Nya, maka tidak semua dari yang ditentukan Allah sejak semula untuk diselamatkan, dapat diselamatkan.
Dengan prinsip yang sama,  maka bukan Tuhan yang menghendaki kejahatan terjadi, sebab yang terjadi sesungguhnya manusia dengan kehendak bebasnya yang berbuat jahat. Dalam hal ini, Tuhan mengizinkan hal kejahatan itu terjadi,  karena Ia menghormati kehendak bebas manusia yang diciptakan-Nya. Inilah yang dikenal sebagai penderitaan yang disebabkan oleh dosa manusia. Namun kenyataannya, ada pula penderitaan yang tidak disebabkan oleh dosa, yang dikenal sebagai ‘the suffering of the innocent‘. Pada kedua jenis penderitaan ini hal ini, meskipun hal yang jahat/ buruk terjadi dalam hidup manusia, itu tidak mengejutkan Tuhan, karena Tuhan sudah mengetahui segala sesuatunya sejak awal mula, dan Ia dengan kuasa-Nya pula tetap dapat memasukkan keadaaan yang negatif tersebut ke dalam rancangan-Nya yang mendatangkan kebaikan. Dalam hal ini kebaikan yang dirancangkan Tuhan adalah untuk membawa seseorang kepada pertobatan, membentuk karakter orang yang bersangkutan, dan mendatangkan kasih, atau agar orang tersebut mengalami pengalaman dikasihi, baik oleh Tuhan maupun oleh orang lain. (Lebih lanjut mengenai hal ini, silakan baca Surat Apostolik Bapa Paus Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, atau beberapa point ringkasannya yang saya tuliskan di sini (silakan klik).

Soal kita dilahirkan tidak dapat memilih sendiri, itu memang benar. Namun dalam hal kita dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, kita lebih baik menyebutkannya sebagai ‘diciptakan’ (bukan ‘ditakdirkan’) sebagai laki-laki atau perempuan. Pertama-tama, karena Alkitab menyebutkannya demikian. “Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; …laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Allah- lah yang menciptakan jiwa manusia, sebagai laki-laki atau perempuan. Kedua, kita melihat hal penciptaan Allah ini melibatkan juga kehendak bebas dari orang tua kita, karena kita dilahirkan sebagai buah kasih mereka sebagai suami istri. Dengan demikian, dalam hal ini, penciptaan manusia tidak semata-mata ‘takdir’ yang seolah-olah hanya dari ‘Atas’, sebab kenyataannya ada campur tangan manusia juga walaupun itu bukan campur tangan dari janin-nya, tapi dari orang tuanya. Peran orang tua itulah yang menyebabkan seseorang lahir dalam keluarga tertentu, punya kakak dan adik tertentu. Walaupun, tentu saja, Allah mengetahui semuanya ini sejak awal mula.

Demikian pula jika kita melihat soal kematian. Kematian merupakan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. “Upah dosa adalah maut” (Rom 6:23). Sesungguhnya Allah tidak menginginkan kita mati, sebab kematian, penyakit, kecelakaan dan sebagainya bukan merupakan rancangan Tuhan. Yer 29:11 mengatakan, “Sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukannya rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
St. Thomas mengatakan, “God therefore neither wills evil to be done, nor wills it not to be done, but wills to permit evil to be done; and this is a good.” (Tuhan tidak menghendaki hal yang jahat terjadi, atau menghendaki itu tidak terjadi, tetapi mengizinkan hal yang jahat itu terjadi, dan ini merupakan kebaikan). Jadi, jika ada hal yang buruk terjadi di dalam kehidupan kita, kita dapat melihatnya demikian: Allah mengizinkan hal buruk itu terjadi dalam kehidupan kita, sebab Ia melihat bahwa itu dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Maka oleh kuasa kasih Allah, segala bencana, penyakit, bahkan kematian, dapat mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Tuhan (lih. Rom 8:28). Dengan iman kita kepada Kristus, kematian bagi kita malah merupakan gerbang untuk menuju kehidupan kita yang sesungguhnya, yaitu kehidupan kekal bersama Tuhan.
Dalam hal kematian, sama seperti kelahiran, terdapat banyak faktor yang terlibat, misalnya, meninggal karena kecelakaan lalu lintas, disebabkan karena kecerobohan pengendara; atau orang yang meninggal karena sakit tertentu, mungkin karena pola makan dan istirahat yang tidak teratur, dst, yang melibatkan kehendak bebas/ faktor manusia juga. Kenyataannya memang orang lahir dan mati di luar keinginan sendiri, namun ini menurut pengetahuan saya, tidak umum disebut ‘takdir’ oleh Gereja.  Atau tepatnya, Gereja tidak menyebutnya sebagai takdir. Namun jika ada orang yang tetap memakai istilah ini, ya silakan saja, hanya perlu diberi pengertian yang lebih rinci. Saya sendiri mengusulkan, agar kita tidak memakai istilah ‘takdir’ ini, justru karena artinya yang rancu, dan kalau tidak ada penjelasan yang lebih lanjut, dapat mengarah kepada kesalahpahaman.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Apakah tujuan penciptaan?

8

Pertanyaan:

C. TENTANG PENCIPTAAN
Problema Tentang Penciptaan
Untuk Apa Mencipta? Apa Tujuan dari Penciptaan?

Orang-orang Theis mengklaim bahwa Tuhan itu Maha Sempurna, dan Dia itu Sempurna dalam segala hal. Tapi, jika Tuhan memang benar Sang Pencipta, pernyataan di bawah akan membuktikan bahwa Tuhan itu tidak sempurna.

Marilah kita lihat dan buktikan bersama.

Sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini, yang ada hanyalah kekosongan dan kehampaan – tidak ada matahari, tidak ada bumi, tidak ada orang, tidak ada kebaikan maupun kejahatan, tidak ada penderitaan. Yang ada hanyalah Tuhan yang Maha Sempurna di mata orang Theis. Jadi, jika Tuhan itu sempurna dan hanya ada kesempurnaan sebelum diciptakannnya alam semesta, apa gerangan yang menggerakkan Tuhan untuk menciptakan alam semesta dan ketidaksempurnaan ke dalam seluruh ciptaan-Nya? Apakah karena Tuhan itu bosan dan tidak punya kerjaan? Apakah karena Tuhan merasa kesepian dan ingin didoakan dan dipuja?

Menurut orang-orang Theis, Tuhan menciptakan semuanya karena cinta-Nya yang besar kepada manusia. Tapi ini adalah mustahil! Tuhan tidak mungkin bisa mencintai manusia sebelum manusia itu tercipta. Sama halnya seorang wanita tidak mungkin bisa mencintai anaknya jika wanita itu tidak mengandung dan melahirkan anaknya. Keinginan dan kebutuhan Tuhan untuk mencipta telah menjelaskan bahwa Tuhan sangat tidak puas dengan segala sesuatu sebelum penciptaan. Ketidakpuasan Tuhan itu telah membuktikan bahwa Tuhan itu tidak sempurna (kalau Tuhan ada). Orang-orang Theis mungkin akan mengatakan Tuhan menciptakan secara spontan tanpa keinginan ataupun kebutuhan untuk mencipta. Pernyataan seperti ini hanyalah membuktikan bahwa penciptaan alam semesta ini sama sekali tidak ada tujuannya, dan tidak ada rencana di balik penciptaan alam semesta ini.

Tuhan macam apa yang menciptakan segala sesuatu tanpa perencanaan dan tujuan?
Tentu saja bukan Tuhan yang Maha Pengasih dan Pencipta. – Lodewijk

Jawaban:

JAWABAN UNTUK POINT C: TENTANG PENCIPTAAN

Berikut ini adalah jawaban untuk point C, yaitu keraguan tentang mengapa Tuhan menciptakan manusia berdasarkan kasih. Orang ini beranggapan bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia berdasarkan kasih karena seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang belum ada. Oleh karena itu, Tuhan tidak mungkin menciptakan berdasarkan kasih, namun karena ketidaksempurnaan Tuhan, yaitu merujuk kepada ketidakpuasan Tuhan. Dan Akhirnya disimpulkan bahwa penciptaan alam semesta tidak ada tujuannya, yang berarti bahwa Tuhan tidak mempunyai rencana dan tujuan, sehingga kesimpulan akhir adalah Tuhan bukan Maha Pengasih dan Pencipta.

I. TUJUAN PENCIPTAAN

1) Mari kita sekarang melihat argumentasi penciptaan. Untuk masuk ke dalam diskusi ini mensyaratkan seseorang untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Kalau bukan Tuhan Pencipta segala sesuatu atau segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka percuma saja membahas untuk apakah Tuhan menciptakan segala sesuatu. Syarat yang lain adalah Tuhan adalah Maha Sempurna dan Maha Kasih. Kalau kita belum menerima tentang hakekat Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Kasih, maka kita belum setuju tentang konsep Tuhan. Tuhan yang tidak Maha Sempurna dan Maha Kasih bukanlah Tuhan. Kalau dua hal ini terpenuhi, maka kita baru dapat masuk ke dalam diskusi ini. Saya mengusulkan untuk membaca artikel tentang: Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi (silakan klik).

2) Kalau Tuhan Maha Sempurna, maka Dia tidak kekurangan suatu apapun. Kalau Dia tidak kekurangan suatu apapun, maka akibatnya adalah Tuhan tidak membutuhkan siapa-siapa. Dan Tuhan yang Maha Sempurna ini adalah suatu Pribadi, yang mempunyai akal budi (reason) yang terdiri dari pemikiran (intellect) dan keinginan (will). Inilah sebabnya manusia sebagai mahluk, yang diciptakan menurut gambaran Allah mempunyai akal budi (intellect) dan kehendak bebas (will). Berdasarkan prinsip ” sesuatu tidak mungkin memberi yang tidak dipunyai” dan “sebab selalu lebih besar daripada akibat“, maka Tuhan harus mempunyai akal budi sebelum Tuhan memberikannya kepada manusia. Nah, mari kita lihat analogi ini: kalau manusia menyatakan suatu pemikiran, maka manusia memerlukan kata-kata. Tuhan, dalam kadar sempurna, menyatakan pikiran-Nya dalam bentuk Sang Sabda, yang kita kenal sebagai Yesus, Putera Allah. Inilah sebabnya, Injil Yohanes 1:1 menyatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

3) Argumentasi dari definisi kasih:Kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini antara Allah Bapa dan Putera inilah yang disebut sebagai Roh Kudus.

Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

4) Dari point-point tersebut di atas, maka tidak mungkin Tuhan tergantung kepada manusia untuk menyalurkan kasih-Nya, karena di dalam Tuhan telah ada kegiatan mengetahui dan mengasihi secara Ilahi dan sempurna. Kalau Tuhan tergantung dari manusia untuk pemenuhan kasih, maka Tuhan bukan Tuhan lagi, karena kasih yang tergantung dari manusia tidaklah mungkin sempurna – karena manusia dapat berubah-ubah.

5) Oleh karena itu, satu-satunya yang memungkinkan dari semua alternatif tentang penciptaan manusia adalah karena kasih Allah yang ingin membagikan kebaikan-Nya kepada semua ciptaan-Nya. Pada akhirnya semua ciptaan akan memuliakan Tuhan. Namun demikian, perlu diingat bahwa kemuliaan Tuhan tidaklah berkurang dengan manusia turut serta memuliakan atau menolak untuk memuja Tuhan, karena kesempurnaan Tuhan adalah mutlak dan tidak tergantung dari apapun.

II. TIDAK MUNGKIN MENGASIHI SESUATU YANG TIDAK/ BELUM ADA

1) Dalam argumentasinya, orang ini berpendapat bahwa seseorang, termasuk Tuhan tidak mungkin mengasihi seseorang kalau orang tersebut belum ada. Prinsip ini ada benarnya dalam ukuran manusia, karena “seseorang tidak mungkin mengasihi sesuatu yang tidak diketahuinya“. Dalam contoh yang dikemukakan, seorang ibu tidak mungkin mengasihi anaknya kalau dia belum mengandung atau melahirkan anaknya. Namun kalau kita mundur sedikit, dan kita tanya kepada ibu tersebut: “Apakah, kalau dia mengandung dan melahirkan dari buah kasih dari suami tercinta, dia akan mengasihi anaknya?” Jawabannya pasti “Ya”. Hanya dengan memaparkan ide tentang kemungkinan untuk mempunyai anak, buah dari kasih antara dia dan sang suami mendatangkan perasaan yang penuh kasih dan hangat.

2) Nah, di dalam contoh di atas, untuk manusia yang mengalami sesuatu dalam urutan waktu, seperti yang dialami oleh ibu tersebut, mulai dari pernikahan, saling mengasihi dengan suami, mengandung, dan melahirkan, maka proses dari ide untuk mempunyai anak sampai kepada realitas, terikat oleh dimensi waktu. Namun kita tidak dapat menerapkan hal ini pada Tuhan, karena Tuhan tidak terikat oleh dimensi waktu. Di dalam Tuhan, sebuah ide atau pemikiran adalah sebuah kenyataan ’saat ini‘. Jadi, pada waktu Dia menciptakan manusia pertama, semua manusia dari Adam sampai manusia terakhir terbentang di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan dapat mengasihi manusia sebelum manusia, seperti kita, dilahirkan di dunia ini. Oleh karena itu Tuhan menciptakan manusia dengan didasari kasih, karena seluruh kehidupan manusia terbentang di hadapan-Nya dengan jelas. Ini artinya, Tuhan dapat mengasihi kita secara pribadi – termasuk orang yang bertanya tentang hal ini, bukan hanya semua umat manusia.

III. KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, maka sangat jelas, bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam raya dan manusia menurut rencana, kebijaksanaan, dan kasih Tuhan. Kesimpulan yang dinyatakan oleh orang yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara spontan tidaklah benar. Perkataan “spontan” juga tidak tepat, karena mengandung konotasi “terikat dimensi waktu” dan “tidak ada rencana”, yang berarti “seolah-olah terkejut dengan apa yang terjadi”. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, maka tidak ada “keterkejutan” dalam segala apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan.

IV. PERTANYAAN:

Saya ingin juga bertanya, kalau manusia bukan diciptakan karena kasih Allah, maka apakah manusia diciptakan karena kebetulan? Kalau manusia diciptakan secara kebetulan, maka sungguh keberadaan kita menjadi sangat menyedihkan. Apakah jiwa manusia diciptakan oleh manusia atau oleh Tuhan? Kalau memang diciptakan oleh manusia, bagaimana manusia – yang terdiri dari tubuh dan jiwa – dapat menciptakan jiwa yang bersifat kekal?

Demikian jawaban dan pertanyaan yang dapat saya berikan untuk point C. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dari https://katolisitas.org
stef

Keberadaan Tuhan dan kehendak bebas

28

Pertanyaan:

Kita telah melihat bahwa argumen-argumen yang digunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan itu tidaklah pantas. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa Tuhan yang Maha Tahu, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Kuasa seperti yang dimiliki oleh orang Theis itu tidak mungkin ada.

Problema Kebebasan Kehendak

Untuk menghidupi kehidupan beragama yang berarti, kita harus memiliki kebebasan kehendak, kita harus bisa memilih yang baik dan yang buruk. Kalau kita tidak memiliki kebebasan kehendak, kita tidak dapat bertanggung jawab atas kelakuan kita sendiri.

Menurut orang-orang Theis, Tuhan itu Maha Tahu. Dia tahu masa yang lampau, masa sekarang, dan semua di masa yang akan datang. Kalau benar demikian, maka Tuhan pasti sudah tahu semua yang kita mau kerjakan jauh sebelum kita perbuat. Ini berarti seluruh hidup kita sudah ditentukan sebelumnya, dan kita bertindak bukanlah atas dasar kebebasan kehendak, tetapi kita telah ditentukan untuk berbuat apa yang kita perbuat. Kalau kita sebelumnya sudah ditentukan untuk menjadi orang baik, maka kita akan menjadi baik, dan bila kita sebelumnya ditentukan untuk menjadi buruk, maka kita akan menjadi orang buruk/jahat. Kita tidak akan berbuat atas dasar kebebasan kehendak kita, akan tetapi kita berbuat atas dasar apa yang telah Tuhan tentukan. Meskipun orang Theis tetap memaksakan bahwa adanya kebebasan kehendak, ke-Maha Tahuan Tuhan justru membuat hal ini mustahil untuk dimengerti. Alkitab pun menyatakan bahwa orang hanya akan berbuat apa yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Jadi ternyata di dalam ajaran Theis, jalan hidup seseorang dan takdir adalah sepenuhnya ulah Tuhan. Dan sebagai manusia kita tidak punya hak untuk mengeluh tentang apa yang telah Tuhan putuskan untuk kita. Ide di mana semuanya telah ditentukan dengan ide bahwa Tuhan itu Maha Tahu memang tampak sejalan, tetapi ide tersebut tidak masuk akal ke dalam konsep usaha untuk berbuat kebaikan atau menghindari kejahatan. – Lodewijk

Jawaban:

Shalom Lodewijk,
Terima kasih atas pertanyaannya yang bagus, yang mungkin banyak menjadi pertanyaan bagi banyak orang, juga termasuk saya. Mari kita bersama-sama mengupas pertanyaan yang diajukan oleh teman Lodewijk.

Jawaban:

1. Keberadaan Tuhan

Dikatakan bahwa argumentasi-argumentasi yang digunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan tidaklah pantas. Untuk menjawab hal ini, silakan membaca artikel tentang: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada (silakan klik), dimana saya mencoba memaparkan keberadaan Tuhan seperti yang dikemukakan oleh St. Thomas Aquinas. Pembuktian ini terdiri dari: 1) Prinsip pergerakan, 2) Prinsip sebab akibat, 3) Ketidakkekalan dan kekekalan, 4) Derajat kesempurnaan, 5) Desain dunia ini.

Argumentasi di atas adalah untuk membuktikan keberadaan Tuhan dari sisi akal-budi. Katekismus Gereja Katolik, 286 mengatakan “Memang akal budi manusia dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai asal segala sesuatu. Adanya seorang pencipta dapat diketahui dengan pasti dari karya-karya-Nya berkat cahaya akal budi manusiawi, walaupun pengetahuan ini sering digelapkan dan dinodai oleh kekhilafan. Oleh karena itu, iman memperkuat dan menerangi akal budi supaya ia mengerti kebenaran ini dengan tepat: “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr 11:3).

2. Kehendak bebas dan Tuhan yang maha tahu

1) Sebelum menjawab pertanyaan tentang relasi antara kehendak bebas manusia dan Tuhan yang maha tahu, maka pertama-tama kita harus menerima bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan adalah maha tahu, maha kuasa, maha adil, maha kasih, dan sifat-sifat lain yang menjadi hakekat dari Tuhan. Tanpa percaya akan keberadaan Tuhan, maka kita tidak dapat masuk dalam diskusi point ke-II, karena tidak mungkin kita mendiskusikan hakekat dari sesuatu yang tidak ada. Kalau kita menerima bahwa Tuhan ada, maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana untuk menggabungkan antara Tuhan yang maha tahu dengan kehendak bebas manusia:

a) Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan tidak mengetahui segalanya, maka kita sama saja mengatakan bahwa Tuhan adalah bukan Tuhan, karena hakekat dari Tuhan adalah segalanya dan Dia Maha mengetahui, dan segalanya dijadikan oleh-Nya. Atau kalau kita mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu apa yang akan kita buat (dengan segala alternatifnya), maka rencana Tuhan seolah-olah dikejutkan oleh perbuatan kita, dan Tuhan bereaksi sesuai dengan keputusan yang kita ambil. Ini berarti bahwa Tuhan tergantung dari keputusan manusia. Dan tentu saja hal ini salah, karena tidak mungkin Pencipta tergantung dari yang diciptakan. Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu akan masa depan, maka seolah-olah Tuhan terikat oleh waktu. Dan ini berarti, kita menganggap bahwa Tuhan adalah terbatas, karena waktu adalah dimensi yang membatasi. Jadi, dengan kata lain, kalau kita percaya bahwa Tuhan ada, dan mempunyai hakekat Tuhan, maka kita harus menerima bahwa Tuhan adalah maha tahu.

b) Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan tidak memberikan kehendak bebas kepada manusia, maka kita sama saja mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Maha Kasih. Kalau semuanya telah ditentukan oleh Tuhan dan manusia tidak mempuyai kehendak bebas untuk berkata “ya” atau “tidak”, maka ini sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai robot dan bukan sebagai mahluk yang dikasihi dan diciptakan menurut gambaran Allah (lihat artikel: Kesempurnaan rancangan keselamatan Allah – silakan klik). Menciptakan manusia sebagai robot bertentangan dengan hakekat Tuhan yang maha kasih. Sebagai contoh, kalau kita mengasihi istri/suami, atau pacar, maka kita menginginkan agar orang yang kita kasihi dapat mengasihi kita dengan bebas tanpa adanya paksaan. Jadi Tuhan memberikan manusia kehendak bebas sebagai bukti akan kasih Tuhan.

2) Bagaimanakah sebenarnya pengertian bahwa Tuhan adalah Maha Tahu?

Tuhan Maha Tahu adalah memang hakekat dari Tuhan, karena di dalam Tuhan tidak ada pembatas apapun, termasuk dimensi waktu atau tempat. Di dalam Tuhan, semuanya adalah “sekarang” tidak ada lampau maupun masa depan. Oleh karena itu, semua yang terjadi pada masa lampau, sekarang, dan masa depan terbentang di hadapan Tuhan. Namun kemahatahuan Tuhan tidak bertentangan dengan keinginan bebas manusia, karena:

a) “And if human and divine present may be compared, just as you see certain things in this your present time, so God sees all things in His eternal present. So that this divine foreknowledge does not change the nature and property of things; it simply sees things present to it exactly as they will happen at some time as future events. It makes no confused judgments of things, but with one glance of its mind distinguishes all that is to come to pass whether it is necessitated or not…. God sees those future events which happen of free will as present events. . . . All things, therefore, whose future occurrence is known to God do without doubt happen, but some of them are the result of free will.” (Consolation of Philosophy, (New York: Penguin, 1969), bk, 5. sec. 6, pp. 163-164.)

Jadi dengan hakekat Tuhan sebagai yang Maha Kekal dan Maha Tahu, maka Dia tahu apa yang akan diperbuat oleh manusia, termasuk adalah keputusan yang akan diambil oleh seseorang sesuai dengan kehendak bebas yang menjadi hakekat manusia. Tuhan melihatnya secara jelas dan melihat semuanya sebagai sebab akibat. Jadi ada banyak hal yang menjadi akibat dari keputusan yang dibuat dengan kehendak bebas manusia.b) Sebagai contoh: Seorang atheis yang pertama pada akhirnya percaya akan Tuhan, sedangkan seorang atheis yang ke-dua tetap tidak percaya akan Tuhan. Dalam contoh ini, Tuhan telah memberikan berkat yang cukup bagi dua orang atheis tersebut untuk menjawab panggilan Tuhan. Karena kalau Tuhan tidak memberikan berkat yang cukup kepada semua orang, maka Tuhan bukanlah Tuhan yang maha adil. Namun berkat Tuhan yang tercurah kepada oleh dua orang atheis tersebut, tidak ditanggapi oleh mereka dengan cara yang sama. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai kehendak bebas. Tuhan dari awal mula tahu bahwa orang yang satu akan menjawab panggilan Tuhan, sedang orang yang lainnya akan menolak, karena Tuhan adalah maha tahu. Dalam hal ini, Tuhan telah memberikan semua yang diperlukan oleh dua orang tersebut untuk mengenal Tuhan, namun Tuhan tetap menghormati kehendak bebas dari keduanya, termasuk kehendak bebas dari seorang atheis yang kedua yang tidak bertobat.

Dalam contoh di atas, kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak maha tahu, atau kita juga tidak dapat mengatakan bahwa kedua atheis tersebut tidak mempunyai kehendak bebas. Yang benar adalah Tuhan tahu segalanya, karena semua hal bagi Tuhan terlihat sebagai sesuatu yang terjadi “saat ini”, bukan karena semuanya telah ditentukan atau ditakdirkan. Dan Tuhan memberikan keberadaan suatu ciptaan sesuai dengan kodrat dari ciptaan tersebut. Untuk manusia, Tuhan memberikan akal budi, yang memungkinkan manusia untuk mempunyai kehendak bebas. Jadi kebesaran Tuhan tidak bertentangan dengan keinginan bebas.

Namun di satu sisi, kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan hanya berdiam diri dan melihat semua yang terjadi. Berpendapat seperti ini akan membuat orang terjerumus ke dalam paham “Deism”. Namun memang, karena Tuhan Maha Tahu dan Ia sudah mengetahui segalanya, maka keinginan Tuhan tidak mungkin berubah (immutable of God). Keinginan Tuhan untuk menyelamatkan manusia dan campur tangan-Nya dalam kehidupan manusia memuncak dengan Inkarnasi, yaitu Yesus, Putera Allah yang datang dalam sejarah manusia dan menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

3) Apakah Alkitab mengatakan bahwa orang hanya akan berbuat apa yang telah ditentukan oleh Tuhan?
Saya akan mencoba menjawab hal ini dari sisi Alkitab, walaupun mungkin orang yang memberikan argumentasi tidak percaya akan Alkitab. Sayang dia tidak memberikan bukti-bukti yang mendukung hal ini.

a) Biasanya orang akan mengutip beberapa ayat di Alkitab untuk mendukung konsep bahwa semua telah ditentukan oleh Tuhan, seperti: Mt 25:34 “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan“, dan juga lihat Why 20:15; Rm 8:28; Ef 1:4-11; Yoh 10:28. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca artikel di New Advent (silakan klik). Semua ayat-ayat di atas hanya mendukung bahwa Tuhan adalah Maha Tahu dan Dia memang tahu siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Namun yang masuk neraka bukan ditakdirkan oleh Tuhan, karena Tuhan menginginkan agar semua orang masuk surga. Kalau ada sampai orang masuk neraka, itu adalah kesalahan manusia sendiri, karena manusia tidak mau bekerjasama dengan rahmat Tuhan.

b) Alkitab juga memuat bahwa kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh berjuang untuk hidup kudus, sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, seperti yang telah disediakan oleh Tuhan. Kita dapat melihat beberapa ayat di Alkitab seperti 2 Pet 1:10 “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” Lihat juga beberapa ayat yang lain, seperti: Why 3:5; Kel 32:33. Lebih lanjut dalam Why 20:12 dikatakan “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.” Jadi seseorang masuk neraka atau surga tergantung dari bagaimana orang itu menanggapi rahmat Allah (bukan karena takdir). Orang yang percaya dan bekerjasama dengan rahmat Allah dengan hidup kudus akan masuk surga, sedangkan orang yang tidak percaya dan yang tidak bekerjasama dengan rahmat Tuhan itu, akan memasukkan dirinya sendiri ke neraka.

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan untuk point A. Untuk point-point yang lain, pasti akan kami jawab.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab