Home Blog Page 304

Allah di dalam Perjanjian Lama, Israel, Kitab Taurat

10

Pertanyaan:

Puji Syukur dan Terimakasih atas segala kebaikan Tuhan Yesus, dan atas kesediaan seluruh tim https://katolisitas.org. untuk memberikan pelayanan kepada sesama. Apalagi, dengan tidak disertai adanya unsur komersial. Saya yakin hal seperti ini hanya dapat terjadi karena KUASA TUHAN. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati seluruh tim https://katolisitas.org. atas segala pelayanan yang telah diberikan bagi sesama.

Menurut saya, web ini sungguh sangat membantu dalam memperdalam iman kita akan Yesus Kristus, terlebih lagi tentang ajaran katolik, yang mungkin sebagai seorang katolik awam, benar – benar suatu “pencerahan” atau hal yang benar benar baru dan dapat menjadi acuan dari dasar ajaran – ajaran gereja.

Sebelumnya, saya sendiri sering bertanya dalam hati “kenapa banyak ajaran yang secara sepintas tidak masuk akal, seperti tentang Bunda Maria, Api Penyucian (saya pikir dulu adalah Api Pencucian, hehe…), Misa Arwah, dan masih banyak hal lain yang biasanya bertentangan dengan saudara Protestan, yang biasanya kalo mereka bertanya dan memperdebatkan hal tersebut, saya tidak dapat menjelaskannya.

Sejak bulan Oktober tahun lalu,setelah kami menikan, saya bersama istri memutuskan mulai membaca Alkitab setiap hari, minimal 1 Pasal Perjanjian Baru, kemudian diteruskan 1 Pasal Perjanjian Lama. Saya akui istri lebih tekun dalam membacanya, sampai sekarang saya baru sampai 2 Korintus 4 u/ PB dan Bilangan 15 u/ PL.

Saat membaca perjanjian lama,saya merasa seolah – olah menggambarkan Allah yang sangat sering “menghukum”, bahkan hukuman mati, dan kenapa hanya Israel umat pilihannya??? padahal umat ini sering mambangkang??? Apakah dengan “membedakan” bangsa Israel dengan manusia lain yang juga adalah ciptaan-Nya, Allah bertindak Adil??? Pertanyaan itu sering muncul dan semakin jauh lagi mengarah ke pertanyaan : Siapa penulis PL??? Terutama Kejadian – Ulangan???

Mengapa ada yang tau tentang penciptaan dunia oleh Allah, padahal yang ada saat itu hanya Allah dan belum ada manusia???
Akan tetapi pertanyaan2 tersebut tidak membuat saya ragu akan segala yang telah saya Imani.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan sosok Allah dalam diri Yesus, yang menggambarkan Allah yang selalu mengampuni.

Mohon dapat diberikan pencerahan akan hal2 tersebut, dan saya ada sedikit pertanyaan tentang adat istiadat seperti Selamatan Rumah, Mitoni, cari hari, dsb…. Saya sebagai anak, hanya bisa menuruti ortu yang juga beralasan demi keselamatan…. Padahal, saya percaya keselamatan hanya ada pada Tuhan Yesus.

Mengingat dulu saat Selamatan rumah, ada Modin yang mendoakan dengan cara Islam, dan sebentar lagi mau diadakan upacara Mitoni, mengingat istri sedang hamil hampir 7 bulan.

Saya mohon dengan suka rela tim https://katolisitas.org. dapat memberikan pencerahan kepada kami dan juga mohon doanya untuk kelancaran proses persalinan anak kami yang pertama.

Terima kasih , Tuhan Memberkati – Hendra

Jawaban:

Shalom Hendra Wijaya,

Terima kasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Website ini dapat terus berjalan karena belas kasih Tuhan yang menggerakkan beberapa orang donatur untuk mendukung jalannya website ini.

Ajaran Katolik kalau dipelajari lebih mendalam tidak akan bertentangan dengan Alkitab, karena Alkitab adalah salah satu pilar kebenaran bersama dengan Magisterium dan Tradisi Suci. Karena ketiganya datang dari sumber yang sama – Tuhan – maka ketiganya tidak mungkin bertentangan.

Saya juga bersyukur bahwa Hendra dan istri dengan setia membaca Alkitab. Saya ingin mengusulkan agar Hendra membaca Perjanjian Baru (PB) terlebih dahulu, dan kemudian ke Perjanjian Lama (PL). Hal ini disebabkan karena Perjanjian Lama harus dibaca dalam terang Perjanjian Baru. Dengan membaca PB secara keseluruhan, maka akan lebih mudah untuk mengkaitkan antara apa yang ada di PL dengan terang PB. Untuk itu, silakan membaca beberapa artikel tentang bagaimana membaca Kitab Suci (silakan klik, klik ini juga, dan juga ini).

Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan terhadap beberapa pertanyaan dari Hendra.
I. Allah di dalam Perjanjian Lama:

1) Memang kalau dibaca secara sekilas terlihat bahwa Allah di dalam PL digambarkan berbeda dengan PB, walaupun sebenarnya Allah yang sama yang memberikan inspirasi dalam penulisan Alkitab dan juga Allah yang sama, yang begitu mengasihi manusia. Dan Allah yang berbelas kasih dan penuh kasih terungkap dalam begitu banyak ayat-ayat di PL, misalkan: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” (Mzm 103:8). “Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!” (Yes 30:18).

2) Namun, bagaimana kita mengartikan apa yang tertulis di PL bahwa Tuhan sering digambarkan sebagai Tuhan yang menghukum manusia dan pemarah? Sebagai contoh adalah: Ul. 13, 1 Sam 15, dll. Ada beberapa prinsip yang harus kita pegang dalam mengartikan beberapa ayat yang terlihat menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang tidak berbelas kasih:

a) Kita harus berpegang teguh bahwa Tuhan adalah kasih, adil, dan berbelas kasih (Mzm 103:8). Oleh karena itu, Tuhan tidak mungkin melakukan apapun yang bertentangan dengan kasih, keadilan, dan belas kasih, karena semua itu adalah hakekat dari Tuhan. Jadi, pada waktu membaca PL dan kita terbentur pada pemikiran bahwa Tuhan tidak adil, maka kita harus mencoba untuk menganalisa dan merenungkan bagaimana keadilan, belas kasih Tuhan terefleksi dalam ayat-ayat tersebut.
b) Kita juga harus menyadari bahwa upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Oleh karena itu, hukuman yang diterima oleh orang-orang berdosa, termasuk kita sendiri, adalah adil.
c) Mati dan hidup adalah kewenangan Tuhan, karena Tuhan adalah Sang Pemberi Hidup. Oleh karena itu, tidaklah bertentangan dengan prinsip keadilan kalau Tuhan ingin mengambil kehidupan di dunia ini yang telah diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma.
d) Namun bagaimana dengan kematian anak-anak atau “innocent suffering“, yang diakibatkan oleh perintah Tuhan? Bukankah itu bertentangan dengan prinsip keadilan? Kita harus melihat bahwa bagi Tuhan, kehidupan yang terpenting adalah kehidupan bersama Tuhan di Surga untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, penderitaan dan bahkan kematian orang-orang yang tak berdosa tidak bertentangan dengan keadilan Tuhan, karena Tuhan akan memperhitungkan semuanya, terutama dalam kehidupan kekal. Akan menjadi tidak adil, kalau kita melihat hanya kehidupan di dunia ini.
e) Kita juga harus melihat konteks dari ayat-ayat yang menggambarkan Allah yang seolah-olah tidak berbelas kasih, karena dapat saja Tuhan bermaksud mengajar umat-Nya dengan menunjukkan keadilan-Nya, bahwa selalu ada konsekuensi dari dosa dan kesalahan. Contoh yang jelas misalnya pada kisah pemberontakan Korah, Datan dan Abiram (Bil 16).

II. Mengapa umat Israel?

1) Pada saat Tuhan memutuskan untuk masuk di dalam sejarah manusia, yang terikat oleh waktu dan tempat, Tuhan memilih untuk menjadi terikat oleh suatu bangsa dan komunitas tertentu, seperti yang ditunjukkan oleh Inkarnasi. Dan ini adalah merupakan rencana Tuhan, yang memang dimulai dari Adam dan Hawa (sebagai sebuah perkawinan), Nabi Nuh (sebagai keluarga), Abraham (dalam suatu suku), Musa (satu bangsa), Raja Daud (Kerajaan Bangsa Pilihan), dan kemudian Yesus (yang mendirikan Gereja Katolik dan mencakup seluruh bangsa).

Dan kalau dilihat, semua langkah-langkah di atas dari Adam sampai Raja Daud senantiasa diwarnai oleh ketidaksetiaan terhadap Tuhan, juga termasuk dimensi kemanusiaan dari Gereja Katolik. Hanya Yesuslah yang menunjukkan bagaimana seharusnya untuk senantiasa melaksanakan kehendak Bapa.

2) Allah tidak bertindak tidak adil dengan memilih bangsa Israel. Kembali kita harus melihat bahwa Allah melihat kehidupan manusia secara keseluruhan, baik di dunia maupun kehidupan kekal. Bagi bangsa Israel yang telah dipilih oleh Allah dan mengerti tentang hukum-hukum Allah, mereka dituntut lebih banyak daripada bangsa-bangsa yang tidak mengerti hukum Allah. Dan setelah kedatangan Yesus, maka keselamatan dan rahmat Tuhan terbuka untuk seluruh umat manusia, baik bangsa Israel maupun bangsa-bangsa yang lain.

Demikian juga, bukan tidak menjadi tidak adil kalau saya dan Hendra dan umat Katolik yang lain tergabung dalam Gereja Katolik, Tubuh Mistik Kristus yang mempunyai kebenaran penuh, karena bagi kita yang menjadi umat Katolik, dituntut lebih banyak daripada umat yang lain. Yesus mengatakan ” Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lk 12:48).
III. Penulis Kitab Taurat (Kej, Kel, Im, Bil, Ul)

1) Ahli Alkitab mempercayai bahwa penulis dari lima kitab pertama (The Pentateuch) adalah Musa. Ada beberapa teori tentang hal ini, apakah Nabi Musa sendiri yang menuliskan atau orang lain yang mencatat akan perkataan dari Nabi Musa.

2) Bagaimana manusia tahu tentang penciptaan dunia, dan hal-hal lain? Hal ini dikarenakan Tuhan sendiri yang mewahyukannya kepada manusia. Kita dapat melihat:

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” (Kel 34:27).
Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel.“(Ul 31:9,24)
(Deu 31:24)

IV. Hal-hal lain:

1) Untuk selamatan rumah, silakan memberi pengertian kepada orang tua perlahan-lahan. Kemudian, usulkan bahwa sebenarnya seorang pastor juga dapat mendokan untuk keselamatan rumah, yaitu dengan mengadakan pemberkatan rumah, yang kadang kala dapat disertai dengan misa di rumah tersebut.

2) Upacara mitoni, kalau dapat didiskusikan dengan orang tua, maka dapat diganti dengan acara doa bersama. Mungkin dapat mengundang teman-teman satu lingkungan dan juga pastor untuk berdoa bersama.

Demikian jawaban singkat yang dapat saya sampaikan dan semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Relikwi, mengantar kita kepada Tuhan

52

Pendahuluan

Pada waktu saya SMP dan sedang belajar pelajaran agama Katolik, saya diberitahu bahwa di altar gereja, yaitu di bawah kotak marmer ada relikwi, yaitu bagian tubuh atau benda yang bersentuhan dengan santa atau santo. Waktu itu saya terbengong-bengong dan tidak tahu mengapa Gereja Katolik menempatkan relikwi tersebut di altar. Saya yakin, banyak pertanyaan dari para pembaca tentang hal ini. Dan sering, umat yang tidak terlalu tahu mengatakan bahwa relikwi ini adalah sama seperti jimat, yang dapat mendatangkan keuntungan.

Apakah sebenarnya relikwi?

Relikwi dapat didefinisikan sebagai suatu material, baik berupa bagian tubuh dari para santa-santo atau para kudus yang telah meninggal, dan juga benda-benda yang bersentuhan dengan mereka. Relikwi dibagi menjadi tigakelas. Relikwi kelas pertama adalah semua bagian tubuh dari orang kudus tersebut; kelas kedua adalah pakaian dan segala sesuatu yang penting yang dipunyai oleh santa-santo, serta alat-alat penyiksaan yang membunuh santa-santo; kelas ketiga adalah benda-benda yang disentuhkan kepada orang kudus atau ke makam orang kudus. Salah satu contoh relikwi di Indonesia adalah yang baru-baru ini ditempatkan di Paroki Stella Maris, Pluit – Jakarta. Di sana ditempatkan relikwi dari Santa Maria Faustina Kowalska.

Namun pertanyaan yang mendasar adalah, mengapa Gereja Katolik menganggap relikwi sebagai sesuatu yang istimewa dan perlu dihormati?

Relikwi adalah tanda kasih dari para kudus untuk mendekatkan kita kepada Tuhan

Para santa dan santo adalah mereka yang dipercaya dan dinyatakan bahwa mereka telah bersatu dengan Tuhan. Oleh sebab itu, tubuh mereka juga akan dimuliakan di surga. Kita adalah bait Allah (1 Kor 3:16; 2 Kor 6:16), dimana pada saat kita dibaptis kita menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal Maha Kudus. Dan pada orang-orang yang benar-benar bertumbuh dalam Kristus dan menerapkan kekudusan, Tuhan berdiam secara khusus menjadi para terkasih Allah atau “the beloved“. Orang-orang Kudus adalah orang yang benar-benar dengan segala hati, pikiran, dan kekuatannya mengasihi Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, seluruh umat beriman menghormati jiwa-jiwa orang kudus yang berada di Surga. Dan penghormatan ini juga dilakukan terhadap tubuh mereka yang berada di dunia ini yang nantinya akan dibangkitkan pada pengadilan terakhir dan bersatu dengan jiwa mereka.

Oleh karena itu, kita sebagai umat beriman harus mensyukuri akan anugerah para orang Kudus yang membangun Tubuh Mistik Kristus atau Gereja dengan hidup mereka yang mencerminkan kasih Kristus dan yang telah menerapkan kasih mengikuti jejak Kristus. Mereka juga menyadarkan kita bahwa kita yang telah dibaptis sebenarnya tergabung dalam kekuarga kudus, keluarga Allah, yang terikat dalam satu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Mungkin kita dapat menghubungkan konsep relikwi ini dengan peninggalan orang tua atau orang yang kita kasihi yang telah meninggal. Kita menghormati peninggalan mereka, seperti album foto, pakaian, dll. Dalam pengertian yang sama dan lebih mendalam, kita menghormat relikwi, karena mengingatkan kita tentang bagaimana para santa dan santo berjuang untuk hidup kudus, sehingga kita juga terpacu untuk hidup kudus, dalam kapasitas kita masing-masing. Teladan mereka membuat kita berbesar hati, sebab mereka yang adalah manusia biasa seperti kita, namun dapat benar-benar mencurahkan seluruh keberadaan mereka untuk memuliakan Tuhan. Maka, kitapun dapat memohon rahmat Allah untuk berbuat serupa dengan mereka.

Dan secara lebih mendalam dan terpenting, relikwi juga mengingatkan kita akan Tuhan sendiri. Pada saat kita melihat patung Pieta – Bunda Maria menggendong jenasah Yesus – karya maestro Michael Angelo, maka kita mengagumi karya tersebut, namun terutama kita mengagumi sang maestro yang begitu hebat. Demikian juga, pada saat kita menghormati relikwi, kita mengagumi santa atau santo tersebut yang hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun terutama kita terpesona akan karya Tuhan yang memberikan kekuatan dan berkat kepada para santa dan santo, sehingga mereka dapat bertahan sampai akhir hidup mereka dalam kasih. Jadi, mengagumi ‘pieta’ tanpa mengenal maestronya adalah tidak lengkap dan mengagumi relikwi dari orang kudus tanpa mengagumi Tuhan yang menciptakan dan memberikan berkat kepada orang kudus tersebut adalah keliru.

Penghormatan terhadap relikwi yang hanya berhenti pada relikwi itu sendiri atau santa dan santo itu sendiri, atau keuntungan material semata tanpa sampai kepada penyembahan kepada Tuhan bukanlah suatu hal yang benar. Sebagai contoh, kalau kita ke gereja tempat St. Padre Pio di Giovanni – Rotondo, Italia, kita dapat menghormati relikwi – tubuh St. Padre Pio yang pada waktu hidupnya mengalami luka-luka Yesus (stigmata). Namun penghormatan tersebut harus membawa kita kepada Tuhan, seperti: bagaimana kita dapat mencontoh St. Padre Pio, sehingga kita menyadari bahwa di dalam setiap penderitaan kita sehari-hari, kita harus senantiasa menghadapinya bersama dengan Yesus dan menyatukan setiap penderitaan kita dengan penderitaan Yesus di kayu salib. Tentu saja kita dapat meminta hal-hal yang lain, namun yang paling utama adalah agar kita diberikan rahmat Tuhan seperti orang kudus tersebut untuk menerima Roh Kudus dan menghasilkan buah-buah Roh yang berlimpah.

Dasar Alkitab

Penghormatan terhadap relikwi ini bukanlah karangan dari Gereja Katolik semata, namun mempunyai dasar Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Kita tahu bahwa Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib dan sering dengan menggunakan perantaraan manusia atau material yang lain. Di dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Musa membawa tulang-tulang Yusuf sebagai pemenuhan akan permintaan Yusuf (Kel 13:19; Yos 24:32). Dan yang lebih eksplisit adalah bagaimana Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14). Di kitab yang sama, diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa, dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21).

Di dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian disembuhkan (Kis 5:15).

Dari beberapa ayat di atas, kita melihat bahwa kesembuhan dan mukjijat yang terjadi karena bersentuhan dengan relikwi dari para kudus adalah disebabkan oleh kuasa Allah. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa relikwi adalah seperti jimat yang mempunyai kuasa secara terpisah dari kuasa Allah. Allah mempunyai kebebasan untuk menyatakan kuasa-Nya, dan salah satunya dengan menggunakan relikwi. Dan memang begitu banyak mukjijat, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, lewat relikwi di dalam sejarah Gereja dari awal sampai saat ini.

Perkembangan dari relikwi

Perkembangan penghormatan terhadap relikwi ini dapat ditelusuri mulai dari pertengahan abad ke dua, dimana kita dapat melihat surat dari jemaat di Symria yang menginginkan jenazah yang tertinggal dari St. Polikarpus yang dihukum bakar di tiang (156 – 157). Di surat tersebut dikatakan “Kami mengambil tulang-tulangnya, yang jauh lebih berharga daripada batu-batu mulia dan lebih murni daripada emas murni, dan meletakkannya di sebuah tempat yang pantas, dimana Tuhan akan mengijinkan kami untuk berkumpul bersama, sesering yang kami dapat, dalam kebahagiaan dan sukacita, dan untuk merayakan hari kemartirannya.” Dan masih begitu banyak surat-surat di abad-abad awal kekristenan yang menyatakan penghormatan mereka akan relikwi.

Dan tradisi penghormatan terhadap relikwi ini terus berkembang dengan pesat sejalan dengan ditemukannya begitu banyak mukjijat yang juga disaksikan sendiri oleh St. Augustinus. Namun pada saat yang bersamaan St. Augustinus juga mengecam penipu-penipu yang memperdagangkan relikwi, yang seringkali diragukan keaslian dari relikwi tersebut. Konsili Trente, sesi ke-25, juga mengeluarkan peraturan untuk menghindari penipuan-penipuan relikwi. Kitab Hukum Gereja 1190 dikatakan:

Kan. 1190 – § 1. Sama sekali tidak dibenarkan menjual relikwi-relikwi suci.

§ 2. Relikwi-relikwi yang bernilai tinggi dan relikwi lain, yang sangat dihormati oleh umat, tidak bisa dengan sah dialih-milikkan dengan cara apapun atau dipindahkan untuk selamanya tanpa izin Takhta Apostolik.

§ 3. Ketentuan § 2 itu berlaku juga untuk gambar atau patung suci yang dalam suatu gereja sangat dihormati oleh umat.

Namun tentu saja penipuan-penipuan ini tidak menghilangkan kebenaran bahwa secara teologis, penghormatan kepada relikwi ini mempunyai dasar yang kuat, seperti yang dilakukan oleh konsili trente, sesi ke-25 tentang permohonan, penghormatan, dan relikwi dari para kudus dan gambar-gambar yang suci “Tubuh sakral para martir yang kudus maupun para kudus lainnya yang hidup dalam Kristus, yang adalah anggota-anggota tubuh Kristus yang hidup dan bait Roh Kudus, dan yang dimaksudkan untuk dibangkitkan serta dimuliakan oleh-Nya dalam kehidupan kekal, hendaknya juga dihormati oleh umat beriman. Daripadanya, banyak manfaat dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia.” Dan ini diteguhkan dalam Kitab Hukum Kanonik no. 1237 – § 2. “Hendaknya tradisi kuno untuk meletakkan relikwi-relikwi para Martir atau orang-orang Kudus lain di bawah altar-tetap, dipertahankan menurut norma-norma yang diberikan dalam buku-buku liturgi.

Bapa Gereja

Kita juga melihat tulisan beberapa para kudus, seperti St. Jerome (340-420) yang mengatakan “Kita tidak menyembah (non colimus, non adoramus), karena takut bahwa kami harus bersembah sujud kepada ciptaan daripada kepada Sang Pencipta, tetapi kita menghormati (honoramus) relikwi dari para martir sehingga kita dapat menyembah Dia, yang empunya para martir” (Ad Riparium”, i, P. L., XXII, 907).

Kemudian Cyril dari Alexandria (378-444) mengatakan “Kita, bukanlah menganggap bahwa para martir kudus sebagai tuhan, atau bersembah sujud menyembah mereka, tetapi hanya secara relatif dan secara hormat [ou latreutikos alla schetikos kai timetikos].” (Adv. Julian.”, vi, P. G. LXXVI, 812).

Dan masih begitu banyak tulisan dari para santa dan santo yang menyatakan bahwa sudah semestinya umat beriman menghormati relikwi, sehingga umat beriman dapat lebih memuji dan menyembah Tuhan yang memberikan inspirasi dan berkat kepada para kudus dan para martir.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, kita melihat bahwa relikwi mempunyai dasar teologis yang kuat, baik ditinjau dari Alkitab, perkembangan historis, dan juga perkembangan teologis. Relikwi dapat membawa umat kepada Tuhan yang memberikan inspirasi dan berkat kepada para kudus. Pada akhirnya ini dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengikuti jejak para kudus yang bekerja sama dengan rahmat Tuhan, sehingga seperti mereka, kita bisa tetap setia beriman dan berbuat kasih sampai akhir hayat kita. Akhirnya, kita tidak dapat memperlakukan relikwi sebagai sebuah jimat yang mendatangkan keuntungan bagi kita. Sebab, kalaupun terjadi mukjijat, kita harus senantiasa mengingat bahwa itu semua adalah karena kebesaran Tuhan yang bekerja melalui relikwi.


New Catholic Encyclopedia, Vol. 12 QAT-SCR, 2nd ed. (Gacl, 1981), p.234

Manakah yang lebih baik: dikremasi atau dikubur?

52

Pertanyaan:

Hi Tay dan Ingrid.
Banyak orang sangat takut untuk di kremasikan, sehubungan dengan pada kedatangan Yesus yang ke dua kali akan dibangkitkan karena sudah dibakar jadi tidak dapat bangkit. meskipun jadi tanah atau dibakar sama2 habis. Pertanyaannya: Yang akan dibangkitkan itu tubuh rohani atau tubuh jasmani(fana).
Yks. Gbu

Jawaban:

Shalom Meyta,

Ini dokter Meyta ya? Terima kasih atas pertanyaannya dokter Meyta. Memang ada banyak orang yang mempertanyakan apakah kremasi bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik tentang kebangkitan badan. Berikut ini adalah sedikit latar belakang dan penjelasan sehubungan dengan masalah ini:

I. Penguburan dan Kremasi:

(1) Jemaat Kristen perdana memang tidak menggunakan cara kremasi, karena mengikuti Kristus yang dikuburkan. Dan kita dapat melihat dalam sejarah bahwa banyak orang yang mencoba untuk menyelamatkan bagian tubuh dari para martir untuk diadakan penguburan secara kristen. Bahkan orang-orang kafir pada masa-masa awal mencoba untuk menghancurkan iman Kristen dengan membakar para martir Kristen, dengan harapan bahwa mereka tidak dapat bangkit lagi.

(2) Alasan utama bahwa pada masa-masa awal, Gereja tidak memperbolehkan kremasi karena begitu banyak praktek-praktek dari para “kafir” dan juga “freemasons” yang mengkremasi orang yang meninggal. Dan bagi jemaat Kristen yang mengkremasikan tubuh orang yang meninggal dikhawatirkan mengikuti jejak para kafir dan freemasons, yang tidak percaya akan kebangkitan badan. Hal ini juga diungkapkan di dalam:

Katekismus Gereja Katolik, 2301 “Otopsi jenazah demi pemeriksaan pengadilan atau demi penyelidikan ilmiah diperbolehkan secara moral. Penyerahan organ tubuh secara cuma-cuma sesudah kematian, diperbolehkan dan dapat sangat berjasa. Gereja mengizinkan pembakaran mayat, sejauh ini tidak ingin menyangkal kepercayaan akan kebangkitan badan.”
Dan kanon 1176 § 3. “Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani.

(3) Hal yang lain juga ada banyak alasan kepraktisan, dimana ada banyak negara yang mempunyai keterbatasan tanah, misalkan Singapura, yang tidak mempunyai tempat penguburan yang cukup.

(4) Jadi dari dasar-dasar di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan: seorang Katolik kalau meninggal sebaiknya dikubur. Kalau memang tidak memungkinkan dan alasannya bukan karena tidak percaya kebangkitan badan atau hal-hal yang bertentangan dengan iman Katolik, maka kremasi tidak dilarang. Namun abu dari hasil kremasi tidak boleh ditaburkan di laut, untuk menghormati kesakralan tubuh, tempat di mana jiwa manusia tinggal sebelumnya, yang nanti juga akan dibangkitkan pada penghakiman terakhir. Jika sampai dilakukan kremasi, maka abu seluruhnya dimasukkan dalam kolumbarium atau dikubur.

Ketentuannya adalah:

NORMA LITURGIS TENTANG KREMASI
Kongregasi Penyembahan Ilahi

KETENTUAN PEMAKAMAN KRISTEN, Appendiks 2, “Kremasi” ….

417. Abu jenazah yang dikremasi harus diperlakukan dengan penghormatan yang sama yang diberikan kepada tubuh manusia asalnya. Ini termasuk penggunaan bejana yang layak untuk menyimpan abu tersebut, cara bejana abu itu dibawa, dan perlakuan dan perhatian kepada penempatan yang layak dan transportasinya dan perletakan akhir bejana abu tersebut. Abu jenazah yang dikremasi harus dikubur di makam atau disemayamkan di kubur besar yang indah (mausoleum) atau kolumbarium. Praktek menyebarkan abu kremasi di laut, dari udara, atau di atas tanah, atau menyimpan abu kremasi di rumah saudara atau teman dari orang yang meninggal, bukan merupakan sikap penghormatan yang disyaratkan oleh Gereja. Jika memungkinkan, harus dipilih cara-cara yang layak untuk mengabadikan kenangan akan orang yang meninggal itu dengan cara yang terhormat, seperti dibuatnya plakat atau batu yang mencantumkan nama dari orang yang meninggal.”

Tiga alternatif cara untuk memperlakukan abu sisa kremasi dengan hormat disebut dalam Ordo Exsequiarum (Tata Cara Pemakaman Katolik) yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat (CDW) tanggal 22 Januari 1966, yaitu: Pertama, abu kremasi disimpan di guci dan dikuburkan di pemakaman seperti jenazah. Gereja sangat menghargai kebiasaan saleh untuk pemakaman ini (OE 417). Dua, abu kremasi ditempatkan di guci dan diistirahatkan di kolumbarium (OE 417). Tiga, abu kremasi bisa dikuburkan “di dasar laut” (OE 406, #4). Guci tersebut dibenamkan, maksudnya diturunkan ke dasar laut dan ditinggalkan di sana. Jika cara ketiga yang dipilih, guci harus dibuat sedemikian berat supaya dapat dibenamkan sampai ke dasar laut, dalam keadaan tetap tertutup rapat.

II. Kebangkitan badan

Jiwa kita yang bersifat kekal, pada saat penghakiman terakhir akan bersatu kembali dengan badan kita. Katekismus mengatakan “Oleh kematian, jiwa dipisahkan dari badan; tetapi dalam kebangkitan, Allah akan memberi kehidupan abadi kepada badan yang telah diubah, dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup untuk selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat.” (KGK, 1016). Jadi apakah yang dibangkitkan adalah tubuh rohani atau fana, maka lebih tepatnya adalah “badan yang telah diubah” atau “glorious body“, seperti yang dialami oleh Kristus pada saat kebangkitan-Nya. Dalam kondisi ini, Maria Magdalena tetap mengenali Kristus, namun dalam keadaan yang telah dimuliakan.

(a) Rasul Paulus mengkoreksi pandangan dari platonis yang percaya bahwa kebangkitan hanyalah suatu yang bersifat spiritual. Oleh karena itu rasul Paulus di 1 Kor 15:12-23 mengatakan:

12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus–padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. 20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. 22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. 23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.

(b) Manusia dikatakan sebagai manusia karena persatuan antara tubuh dan jiwa yang tak terpisahkan. Jadi pada waktu kita dibangkitkan, maka persatuan antara tubuh dan jiwa akan terjadi dalam bentuk yang lebih sempurna, karena tubuh mendapatkan bentuk yang telah diubah atau dimuliakan dan menjadi kekal, sehingga dapat bersatu secara kekal dengan jiwa.
(c) Seperti apakah badan yang diubah dan dimuliakan? Kita tidak dapat mengatakan bahwa yang dibangkitkan adalah tubuh rohani dalam pengertian tidak ada wujud fisik dan sama sekali terpisah dan tidak berhubungan dengan tubuh jasmani kita waktu di dunia ini. Namun kita tidak dapat juga mengatakan tubuh yang dibangkitkan adalah sama seperti tubuh yang kita punyai saat kita di dunia. Yang dikatakan di dalam Alkitab dan pengajaran Gereja adalah tubuh yang telah diubah“, yang memang tidak dapat kita bayangkan. Namun itulah yang dijanjikan oleh Tuhan sendiri.
Rasul Paulus menjelaskannya di 1 Kor 15:35-54 :

35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. 37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. 45 Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. 48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. 50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.”

Untuk mempelajarari tentang hal ini secara lebih detail, silakan membaca Katekismus Gereja Katolik no: 992-1004.

Mari kita bersama-sama menaruh pengharapan yang teguh kepada Kristus yang bangkit, dan kita yang ‘mati’ terhadap dosa melalui Pembaptisan dan juga tetap setia kepada-Nya sampai kita meninggal di dalam Kristus, kita juga akan dibangkitkan pada akhir jaman, sehingga kita dapat bersatu dengan Kristus selama-lamanya.
Alleluia!

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef tay – https://katolisitas.org

Alleluia! Kristus Telah Bangkit!

12

Alleluia!

Mari kita merenungkan, andaikata kita hidup di jaman Yesus, apakah yang akan kita lakukan pada hari raya Paskah ini, ketika pada hari Jumat yang baru lalu kita menyaksikan kematian-Nya di kayu salib? Akankah kita bangun pagi-pagi benar untuk menuju ke kubur Yesus seperti para wanita itu? (lih. Mrk 16:1-7). Sebenarnya kita perlu kagum dengan para wanita itu. Walaupun mereka tidak tahu bagaimana mereka dapat melihat Yesus, karena mereka tidak dapat menggeser sendiri pintu kubur yang terbuat dari batu, namun itu tidak mencegah mereka untuk tetap datang ke kubur Yesus. Mereka membawa rempah- rempah, tentu dengan harapan agar dapat melihat Yesus yang terbaring di kubur. Namun apa yang mereka temukan? Kubur telah terbuka, dan kosong!

Malaikat dari surga menampakkan diri kepada mereka dan memberitakan tentang kebangkitan Yesus, “Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit. … Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada para rasul dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea, di sana kamu akan melihat Dia…” (Mrk 16:6-7). O, betapa bahagianya mereka mendengar kabar ini. Yesus yang mereka sembah dan mereka kasihi telah bangkit mengalahkan maut. Alleluia! Alleluia! Dengan suka cita tak terkira para wanita itu segera beranjak dan berlari untuk menemui para rasul dan mengabarkan kabar kebangkitan Yesus. Di saat itulah Yesus menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Salam bagimu.” (Mat 28:9). Dan para wanita itu tunduk dan sujud menyembah-Nya. Karena mata mereka telah menyaksikan pemenuhan perkataan Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yoh 11:25). Betapa Kristus telah menggenapi firman ini dengan kebangkitan-Nya sendiri dari kematian-Nya. Dan berbahagialah para wanita itu, karena Allah berkenan menanggapi keinginan mereka yang begitu kuat untuk bertemu Yesus: mereka menjadi saksi pertama kebangkitan Kristus. Dan ya, mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit!

Mari tengoklah ke dalam diri kita masing-masing. Adakah kitapun memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu Yesus seperti mereka. Mungkin ada di antara kita yang telah mencari Dia selama bertahun-tahun. Mungkin pula hal ini dibarengi dengan usaha menggulingkan batu kesombongan di dalam hati, seperti batu di pintu kubur itu. Jika kita sungguh-sungguh ingin bertemu dengan Dia, maka pada saat itu juga kita akan menerima juga rahmat-Nya untuk membuang dan mengatasi semua halangan. Mengikuti teladan para wanita itu, mari kita berusaha untuk terus mencari dan menemukan-Nya di dalam hidup kita. Tentu usaha ini juga kita barengi dengan kepercayaan dan pengharapan bahwa Allah akan membantu dengan rahmat-Nya sehingga kita dapat menemukan Dia. Kristus adalah Putera Allah yang sanggup menjadikan kita sungguh-sungguh ‘hidup’, sebab Ia telah mengalahkan segala kuasa dosa yang menjadi musuh kehidupan manusia, dan musuh yang terakhir adalah maut (1 Kor 15:26). Oleh kebangkitan Kristus, kita tidak memandang maut sebagai akhir dari segalanya, sebab kita percaya, ada kehidupan yang baru dan kekal yang menyusul sesudah itu, bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.

Kenyataan bahwa Yesus sudah bangkit, padahal hari masih pagi-pagi benar, menyatakan kerinduan-Nya untuk segera bertemu dengan para murid-Nya untuk menguatkan iman mereka. Kristus sungguh ingin menyatakan pada kita bahwa Ia sudah mengalahkan kuasa dosa dan maut; dan karenanya tujuan rencana Allah dengan kedatangan-Nya di dunia ini sudah digenapi. Oleh kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka jalan bagi kita. Pintu surga sudah kembali terbuka bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.

Maka, kebangkitan Kristus merupakan suatu kenyataan justru karena demikian besar buah-buahnya sampai sekarang. Kristus sungguh hidup! Berapa banyak orang yang percaya, termasuk juga kita, mengalami betapa hidup kita berubah dan diperbaharui setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus? Rasul Paulus jelas mengatakan bahwa terdapat banyak saksi yang melihat Yesus telah sungguh bangkit dan menampakkan diri sesudah kematian-Nya, suatu keadaan yang tidak mungkin terjadi jika Ia bukan Tuhan (lih 1 Kor 15: 1-11). Karena banyaknya saksi mata, maka tak ada suatu karya tulispun di abad itu yang menentang kebangkitan Yesus. Hanya pada beberapa abad kemudian, atau bahkan di jaman modern ini orang mulai mempertanyakan bagaimana itu mungkin terjadi karena kelihatan tidak mungkin, jika ditinjau dari sisi pandang akal manusia. Maka kita dihadapkan pada pilihan kepada siapa kita mau percaya, kepada kesaksian Alkitab yang adalah Sabda Allah, ataukah kepada pendapat manusia?

Sebagai pengikut Kristus, selayaknya kita tidak digoyahkan oleh pandangan manusia, karena kita berpegang pada kesaksian Allah yang pasti benar. Kristus sungguh bangkit, sebab memang itulah yang menjadi kehendak Allah. Sebab jika Kristus tidak sungguh bangkit, maka sia-sialah pemberitaan Injil, dan sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14). Demikianlah iman kita dapat teguh berdiri, sebab iman kita tidak didasari oleh pengajaran orang yang mati, tetapi oleh Allah yang hidup. Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, memang memilih untuk mati dan bangkit pada hari ketiga, untuk mengalahkan kuasa dosa dan maut. Dengan kebangkitan-Nya, Kritus menjadi yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal untuk bangkit dari mati agar segala sesuatu ditaklukkan dan Allah dapat meraja di dalam semua (lih. 1 Kor 15:20-28). Oleh wafat dan kebangkitan-Nya, kita dimampukan untuk berjuang meninggalkan dosa dan kelemahan kita, dan hidup baru di dalam Tuhan. Oleh kebangkitan-Nya dari mati, maka kematian bagi kita orang yang percaya bukan menjadi akhir dari segalanya, melainkan suatu awal dari kehidupan yang baru bersama Tuhan. Karena kebangkitan Kristus, kita selalu mempunyai pengharapan bahwa kesusahan dan penderitaan yang kita hadapi sekarang ini akan menghantar kita kepada kemenangan bersama Dia pada saat-Nya!

Mari kita bersuka untuk kemenangan Kristus pada hari raya Paskah. Dan semoga suka cita ini kita pelihara dalam hati kita, terutama setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi. Sebab pada setiap kali Ekaristi dirayakan, kita merayakan kembali Misteri Paskah ini yang merupakan kenangan akan kurban Kristus dan kebangkitan-Nya, dan karena itu kita memperoleh buah-buahnya (lih. KGK 1366). Maka oleh kuasa Roh Kudus di dalam Gereja-Nya, kurban Kristus yang satu-satunya itu dapat terus dihadirkan kembali dan mendatangkan buah-buahnya bagi kita sampai sekarang. Kita dapat terus diperbaharui dalam iman dan kasih kepada-Nya, dan dalam pengharapan akan keselamatan kekal. Oleh rahmat-Nya, kita dapat menjalani kehidupan kita di dunia dengan suka cita sebab Tuhan Yesus yang hidup selalu beserta kita.

Selamat Hari Raya Paskah! Semoga suka cita Paskah selalu menyertai kita semua.

Alleluia! Alleluia!

Apakah Yang Harus Diperbaiki Dalam Proses Katekese?

126

Pernahkah kita berpikir, mengapa cukup banyak orang Katolik yang meninggalkan Gereja Katolik walaupun hampir semua telah mengalami proses katekese atau pelajaran agama selama satu tahun? Data di Amerika menunjukkan bahwa sekitar 10% orang Katolik meninggalkan Gereja Katolik. Mungkin data di Indonesia tidak jauh berbeda. Lalu, bagaimanakah kita menyikapi hal ini?

Kami, dari tim katolisitas.org ingin mengundang semua teman-teman dan pengunjung katolisitas.org untuk membagikan pengalaman, atau masukan apa yang harus diperbaiki dalam proses katekese, sehingga umat Katolik yang telah mengikuti proses katekese ini dapat benar-benar menjadi umat Katolik yang mengetahui dan mengasihi iman Katolik. Bagian dari proses katekese manakah yang harus diperbaiki? Apakah dari segi bahannya? Apakah cara pengajarannya? Ataukah sistemnya? Silakan memberikan sumbang saran anda, sehingga kita bersama-sama dapat membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

Terima kasih atas semua sumbangan saran, kritik yang membangun, dan pengalaman menjalani proses katekese ataukah pengalaman mengajar katekumen.

Tuhan memberkati.
Tim katolisitas.org

Arti dari mengampuni 70 kali 7 kali

22

Pertanyaan:

Saya ada pertanyaan tentang mengampuni. Yesus menginginkan kita untuk mengampuni tak terbatas, 70×7x. Pertanyaannya ialah apakah sikap kita terhadap orang yang menyakiti kita tetapi tidak menyesal dan meminta maaf kepada kita? Sebab dalam contoh2 kitab suci, semua pendosa harus terlebih dahulu menyesal dan minta maaf kepada Tuhan, barulah diampuni.
Apakah kita harus bersikap seperti Tuhan? tidak mengampuni orang yang tidak menyesal dan minta maaf.
Salam – Erwin

Jawaban:

Shalom Erwin,
Memang bagi kita manusia, ‘mengampuni’ adalah sesuatu yang tidak mudah, dan karenanya kita perlu memohon kekuatan dari Tuhan. Sebenarnya, Tuhan Yesus tidak mengajarkan bahwa orang yang bersalah kepada kita itu harus minta maaf terlebih dahulu baru kemudian ‘layak’ kita ampuni. Berikut ini adalah beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa kita harus mengampuni tanpa syarat, seperti yang diajarkan oleh Tuhan:

1) Dalam doa Bapa Kami, kita setiap kali berdoa, “Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami…” (Mat 6: 12). Di sini tidak dikatakan “asalkan mereka minta maaf kepada kami”. Jadi sesungguhnya apapun yang terjadi, Tuhan menghendaki agar kita mengampuni orang yang bersalah pada kita- tanpa ada syarat apa-apa lagi.
2) Pada khotbah-Nya di bukit, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mt 5:44) Di sini tidak dikatakan apakah musuh itu harus minta maaf atau menyesal dahulu, baru kita ampuni/ kasihi. Makna “kasihilah” di sini adalah sesuatu yang lebih dalam daripada mengampuni, karena mengampuni saja sudah sulit, apalagi mengasihi dan mendoakan mereka.
3) Yesus memberikan sendiri contoh yang sempurna terhadap pengajaran-Nya ini dengan menyerahkan Diri-Nya di kayu salib. Pada saat Ia tergantung di salib, ketika tangan-Nya terentang antara langit dan bumi, Ia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ” (Luk 23: 34). Dalam kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus mengampuni mereka yang telah menyalibkan Dia, walaupun pada saat itu mereka tidak bertobat atau minta ampun pada Yesus.
4) Rasul Paulus mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8). Jadi Kristus memilih untuk wafat di salib untuk menebus dosa-dosa kita manusia, meskipun pada waktu itu manusia belum bertobat. Dan kasih Allah yang besar inilah yang sesungguhnya malah mengantar kita kepada pertobatan.
5) Sebenarnya kita mengampuni bukanlah melulu demi orang yang bersalah kepada kita, seolah-olah jika kita mengampuni maka ‘dia yang untung dan kita yang rugi’. Sebaliknya, jika kita mengampuni sesungguhnya itu adalah untuk kebaikan kita sendiri, karena dengan kita mengampuni, kita dibenarkan oleh Tuhan karena kita mengikuti teladan-Nya dan kita menjauhkan dari diri kita segala bentuk sakit penyakit badani dan rohani yang berkaitan dengan kekecewaan, kesesakan, kepahitan dan sakit hati yang terpendam. Kitab Mazmur mengatakan, “Kasihanilah aku ya, Tuhan, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah…” (Mz 31: 10-11). Tentulah karena Tuhan mengasihi kita, maka Ia ingin agar kita belajar mengampuni, agar kita tidak menyimpan sakit hati yang dapat mendatangkan hal-hal negatif terhadap diri kita sendiri, baik rohani maupun jasmani.

Contoh yang paling indah saya rasa adalah bagaimana Bapa Paus Yohanes Paulus II yang mengampuni Mehmet Ali Agca, yang telah berusaha membunuhnya, dengan menembaknya pada tgl 13 mei 1981. Begitu Bapa Paus sembuh, beliau mengunjungi Ali di penjara, dan menyatakan bahwa beliau mengampuni Ali, walaupun setahu saya, tidak didahului oleh permintaan maaf dari Ali. Entah bagaimana jika kita yang ada di posisi Bapa Paus, sanggupkah kita mengampuni orang yang telah berusaha membunuh kita?

Memang, mengampuni bukan sesuatu yang mudah, namun itu adalah pengajaran Tuhan yang tak bisa ditawar. Maka kita semua memang harus berusaha untuk melakukannya, tentu dengan bantuan rahmat Tuhan. Jika kita dizinkan Tuhan untuk mengalami pengalaman disakiti oleh orang lain, maka kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan sedikit dari penderitaan-Nya di kayu salib. Dan untuk itu, obat yang paling mujarab adalah: kita kembali mempersembahkan rasa sakit hati/ hati yang hancur kita di hadapan Tuhan (lih. Mzm 51:19), dan mempersatukannya dengan korban Yesus dalam Ekaristi Kudus, agar kita memperoleh buah-buahnya, yaitu dosa kita diampuni, sakit hati kita disembuhkan, dan kita diberi kekuatan oleh Tuhan untuk mengampuni, dengan kekuatan yang bukan berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari Tuhan. Dengan pertolongan rahmat Tuhan, maka kita akan dapat mengampuni sesama yang bersalah pada kita, walaupun yang bersangkutan tidak minta maaf pada kita. Hal ini dapat terjadi sekaligus, ataupun merupakan perjuangan yang bertahap, namun kita harus terus mengusahakannya, sebab inilah yang dikehendaki oleh Tuhan bagi kita, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:35).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab