Pertanyaan:
Shalom Pak Stef & Bu Ingrid
Mau tanya nich :
1. Apakah Bunda Maria dan Santo Yosef juga Dibaptis dan menerima Komuni (I)?
2. Kapan Misa pertama dilakukan (setelah Pengorbanan & Kenaikan Yesus ke Surga) dan siapa yang memimpin Misa tsb?
Thanks, GBU
Simon
Jawaban:
Shalom Simon,Terimakasih atas pertanyaan anda yang sangat unik ini. Saya sampai memohon bantuan kepada profesor saya yang mengajar tentang Kristologi dan Mariologi, yaitu Dr. Lawrence Feingold, untuk menjawab pertanyaanmui, dan inilah yang dapat saya sampaikan. (Many thanks to Dr. Feingold!)
1) Walaupun kita tidak dapat secara pasti mendapatkan jawaban tentang hal ini, namun masuk akal jika kita berpikir bahwa St. Yusuf tidak dibaptis, sebab ia telah wafat sebelum pengajaran Injil, dan sebelum dikenal Pembaptisan Kristus. Sakramen Baptis belum didirikan pada saat itu [yaitu pada masa hidup St, Yusuf]. Pensyaratan Baptisan sebagai jalan untuk menperoleh keselamatan baru berlaku pada saat Pembaptisan didirikan dan diajarkan secara luas.
Maka sebelum pengajaran Injil dan pendirian/ institusi sakramen-sakramen, Tuhan membuat keselamatan memungkinkan dari rahmat pengudusan melalui jasa pengorbanan Kristus yang baru akan terjadi pada jaman Perjanjian Baru. [Hal ini memungkinkan karena Allah mengatasi ruang dan waktu]. Oleh karena itu St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa Tuhan memberikan rahmat dan mengampuni dosa asal orang-orang Israel [yang hidup sebelum Kristus] pada saat mereka disunat pada hari ke-8 setelah kelahiran mereka. Walaupun St. Thomas tidak secara spesifik menyebutkan untuk kasus anak-anak perempuan, namun dapat pula kita simpulkan bahwa anak-anak perempuan, walaupun tidak disunat, juga menerima rahmat pengudusan pada hari ke-8, pada upacara pemberian nama. Upacara tersebut tidak sama maknanya dengan sakramen, namun Allah memakai kesempatan ini untuk memberikan rahmat-Nya, sebagai tanda yang kelihatan bagi penggabungan mereka [baik anak-anak laki-laki maupun perempuan] ke dalam bangsa pilihan-Nya. Pemberian rahmat pengudusan yang diberikan pada bayi/ anak-anak Israel pada hari ke-8 memang tidak diajarkan oleh Magisterium Gereja, namun merupakan pendapat umum para Pujangga Gereja (Doctors of the Church), termasuk di antaranya St. Thomas Aquinas.
Namun, jika dikatakan bahwa rahmat pengudusan itu tidak diberikan pada saat sunat, Tuhan akan tetap memberikan rahmat tersebut pada anak-anak Israel pada saat mereka mencapai “the age of reason”, pada saat mereka mereka menerapkan tindakan iman, pengharapan dan kasih. Tentu saja, mereka dapat kehilangan rahmat awal ini jika mereka berbuat dosa berat, dan ini hanya dapat dipulihkan melalui pertobatan yang sungguh seperti yang dilakukan oleh Raja Daud sehabis ia berbuat dosa berat.
Karena itu, kita dapat yakin bahwa St. Yusuf berada dalam kondisi rahmat ini, sebab Rasul Matius menjabarkannya sebagai “orang benar”/ a just man, dan justice dalam Alkitab mengacu kepada kekudusan. Demikian pula halnya dengan para kudus dari Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, Daud, dst.
Adalah benar bahwa kepenuhan rahmat Roh Kudus baru terpenuhi setelah pengajaran Injil dan pendirian/ institusi dari sakramen-sakramen. Namun demikian, para orang kudus di Perjanjian Lama menerima kepenuhan rahmat secara khusus sesuai dengan misi mereka dalam rencana keselamatan Allah, dan melalui kerjasama mereka yang tulus dan sepenuh hati dengan rahmat yang telah mereka terima.
Secara jelas dan khusus adalah St. Yusuf, sehubungan dengan misinya yang sangat besar sebagai bapa angkat dari Yesus Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, dan perannya sebagai kepala keluarga kudus di Nazareth. Selama hidupnya ia hidup dalam persekutuan yang erat dengan Yesus dan Bunda Maria. Ia dan Bunda Maria sungguh merupakan orang-orang pilihan Allah yang diberi kesempatan untuk hidup bersama-sama di bawah satu atap dengan Kristus, Sang Putera Allah. Sehingga, St. Yusuf tidak memerlukan Sakramen Baptis untuk membantunya untuk hidup kudus. Rahmat Allah yang secara khusus diberikan kepadanya dan Kristus sendiri yang hidup bersamanya setiap hari- itu sudah menuntunnya untuk hidup kudus. Ia juga tidak menerima Komuni/ Ekaristi selama hidupnya, sebab Ekaristi baru di-institusikan oleh Yesus pada Perjamuan Terakhir. Namun demikian, kehidupan St. Yusuf sudah merupakan perwujudan paling nyata sebuah komuni/ persekutuan yang erat mesra dengan Kristus.
Sekarang, tentang Bunda Maria. Menjadi sangat masuk akal untuk beranggapan bahwa Bunda Maria menerima Sakramen Pembaptisan, setelah Sakramen Pembaptisan tersebut didirikan oleh Yesus. Namun, karena Bunda Maria tidak mempunyai dosa asal (lihat artikel: Bunda Maria tetap Perawan: mungkinkah? silakan klik di sini) dan juga tak mempunyai dosa pribadi, maka ia tidak memerlukan Sakramen Baptisan untuk pengampunan dosa ataupun pemberian rahmat pengudusan; sebab ia telah menerima kepenuhan rahmat Allah sejak ia masih dalam kandungan dalam kadar yang lebih besar daripada manusia yang lain. Namun, kita ketahui bahwa Pembaptisan tidak hanya bertujuan untuk mengampuni dosa, melainkan juga untuk memberikan meterai/ karakter Baptisan dan untuk menggabungkan seseorang ke dalam Tubuh Kristus yang kelihatan (Gereja). Nah, Bunda Maria adalah Bunda Gereja, dan anggota Tubuh mistik Kristus yang paling istimewa. Maka sangat layaklah Bunda Maria tergabung di dalam Gereja dengan cara yang kelihatan juga, dan menerima meterai/ karakter Baptisan. Apabila Yesus saja yang mau merendahkan diri untuk dibaptis oleh St. Yohanes Pembaptis, walaupun Ia tidak mempunyai dosa sedikitpun- maka sangat pantaslah jika Bunda Maria-pun mau merendahkan diri untuk menerima Baptisan dari Puteranya, meskipun ia juga tidak berdosa.
Meskipun hal ini hanya merupakan pendapat Teologi dan tidak tercatat di dalam Alkitab, tetapi sesungguhnya hal ini sangat masuk akal dan kami sendiri sangat yakin akan hal ini.
Pandangan ini dijelaskan dengan sangat indahnya dalam buku karangan Gregory Alastruy, The Blessed Virgin Mary, (St. Louis: B. Herder Book Co., 1963), vol. 1, p. 172-173,[berikut ini saya terjemahkan]
Ia mengatakan, “Mengenai Sakramen-sakramen Hukum yang Baru, Bunda Maria menerima Pembaptisan, yang menghasilkan efek di dalamnya. Ketika Baptisan diberikan kepada orang yang sudah dibenarkan, Baptisan itu akan meningkatkan rahmat; dan karenanya Bunda Maria meningkat dalam rahmat, meskipun ia telah menerima kepenuhan rahmat pada sejak ia terbentuk di dalam kandungan. Terlebih lagi, adalah pantas dalam pembaptisan, melalui meterai/ karakter yang diberikan, seseorang digabungkan di dalam Kristus dan Gereja-Nya yang kelihatan dan untuk membuatnya mampu untuk menerima sakramen-sakramen yang lain. Karena Bunda Maria telah menerima Pembaptisan, maka ia telah ditandai oleh meterai/karakter Baptisan sebagai yang pertama dari semua orang beriman, dan sebagai anggota Gereja yang paling mulia/ terhormat; dan melalui Baptisan itu, ia telah siap menerima sakramen-sakramen yang lain. Akhirnya, dengan menerima Pembaptisan, Bunda Maria mengikuti jejak Kristus, yang juga dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Maka ia memberikan kepada orang beriman sebuah teladan akan pemenuhan hukum Allah dengan sempurna, seperti pada waktu sebelumnya, ia juga tunduk pada ritual pemurnian, dengan setia memenuhi hukum Allah, meskipun sesungguhnya hal itu tidak perlu baginya.
“Tetapi kapan dan oleh siapa Bunda Maria dibaptis? Meskipun sudah pasti bahwa Pembaptisan tidak diperlukan sebelum kematian Kristus, para rasul diordinasikan menjadi imam dan menerima Komuni sebelum sengsara Yesus di salib. Menurut ketentuan umum (yang darinya tidak mungkin Yesus memberi pengecualian kepada para murid-Nya), tak seorangpun dapat menerima sakramen-sakramen lain, sebelum ia dibaptis terlebih dahulu, maka sudah selayaknya para rasul itu juga sudah dibaptis sebelum kematian Kristus, dan juga Bunda Maria, sebelum mereka semua, sebab Bunda Maria selalu mendahului mereka dalam hal kebajikan dan kekudusan.”
“Jika mereka telah dibaptis sebelum sengsara Kristus, kata Maldonado, tak diragukan lagi mereka dibaptis oleh Kristus, sebab Ia membaptis sebelum sengsara-Nya, dan membaptis di dalam Roh Kudus. Pernyataan Yohanesbahwa Kristus tidak membaptis (Yoh 4:2) dapat diinterpretasikan bahwa Yesus tidak biasanya membaptis, walaupun pada kesempatan khusus Ia dapat membaptis. Suarez setuju…. bahwa adalah suci, dan kemungkinan Kristus membaptis Petrus dan Bunda Maria Ibu-Nya, dan Petrus membaptis para rasul yang lain. Adalah masuk akal dan layak, mengingat bahwa Bunda Maria mempunyai kehormatan yang utama, maka ia dibaptis langsung oleh Puteranya sendiri.”
“Bunda Maria juga menerima Penguatan, tidak dalam tanda yang kelihatan atau dengan ritus yang digunakan sekarang dalam Gereja, tetapi dalam bentuk efek/ akibat sakramen: rahmat dan kekuatan iman dari Roh Kudus untuk menyatakan iman. Bunda Maria menerima efek ini pada hari Pentakosta.”
Tentang apakah Bunda Maria menerima Komuni, maka masuk akal jika ia menerima Komuni dari para rasul, sebab ia selalu menyertai para rasul setelah wafat dan kebangkitan Kristus. Rasul Yohanes telah menerimanya sebagai ibunya, sesuai dengan pesan Kristus di kayu salib (Yoh 19:26-27).
2) Mengenai Misa Pertama.
Sebelum wafatnya, yaitu pada Perjamuan Terakhir, Kristus menginsitusikan Ekaristi. Ini sudah sangat jelas. Silakan melihat (Mat 26:20-29, Mrk 14:17-25, Luk 22: 14-23).
Sesudah kebangkitan Yesus, Yesus menampakkan Diri kepada dua orang murid-Nya di jalan ke Emmaus (lihat perikop Luk 24:13-35). Jika ini dianggap sebagai Misa pertama setelah kebangkitan Yesus, maka Misa ini dipimpin oleh Yesus sendiri. Walaupun Alkitab tidak menyebutkan teks misa secara detail namun kedua bagian Misa sangat jelas disebutkan di sini. Dimulai dengan penjelasan tentang Kitab Suci (Luk 24:27) dan diikuti dengan pemecahan roti (Luk 24:30). Inilah yang menjadi dasar ada dua liturgi dalam Misa Kudus, Liturgi Sabda, dan Liturgi Ekaristi.
Sesudah kenaikan Yesus dan Pentakosta, dalam Alkitab dikatakan bahwa para murid “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul dan memecahkan roti dan berdoa.” (Kis 2: 42) Hal ini dikisahkan sebagai bagian dari perikop “Cara hidup jemaat yang pertama”, yang dikisahkan sebagai kelanjutan dari khotbah Petrus dalam perikop sebelumnya (Kis 2:14-40) yang mengambil peran sebagai pembicara dan wakil dari para rasul untuk menjelaskan peristiwa Pentakosta. Peristiwa Pentakosta sendiri yang merupakan hari ‘pencurahan Roh Kudus’ atas para Rasul, kita yakini sebagai hari manifestasi kelahiran Gereja. Setelah dipenuhi oleh Roh Kudus, Rasul Petrus dan kesebelas rasul berdiri di hadapan orang Yahudi, dan Rasul Petrus berkhotbah dengan berani tentang Kristus. Mereka yang mendengar dan percaya segera dibaptis pada hari itu juga. Maka, walaupun tidak tertulis, besar kemungkinan, bahwa Rasul Petrus yang pertama tampil sebagai pembicara/ pemimpin, ia pula-lah yang memimpin Misa Kudus (pemecahan roti) yang pertama, walaupun mungkin bentuknya belum baku seperti sekarang ini. Baru kemudian tradisi ini dilanjutkan oleh para rasul yang lainnya dan diteruskan kemudian oleh para uskup, imam (presbiter). Hal ini kita ketahui dari tulisan St. Ignatius Martir (110), yaitu dalam suratnya kepada jemaat di Trallian, n.2, 7. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, dan juga yang menjadi Uskup di Antiokhia setelah Rasul Petrus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org