Home Blog Page 297

Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain?

7

Pertanyaan:

Kalau dilihat banyak pertentangan Apakah Bunda Maria memliki anak lagi selain Jesus dari pernikahan dengan Jusuf & tentang kesucian Bunda Maria sebelum dan setelah melahirkan Jesus.
Yang paling hakiki dari kaum kristiani adalah Bunda Maria benar saat sebelum melahirkan Jesus, beliau adalah perawan suci.
Jesus dilahirkan dari benih Roh Kudus yang dikandung oleh seorang “hamba Tuhan” yang bernama Maria, dan Jusuf adalah suami sah dari Maria, yang berarti ayah ” tiri ” Jesus ( Lukas 1 :38). Jadi Jusuf juga berperan penting dalam kehidupan Jesus, karena dari Jusuf lah silsilah Jesus ada ( Matius 1 :1-17).

Untuk kebenaran bahwa Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas adalah anak dari Maria dan Jusuf yang mana saudara kandung dari Jesus, itu memang “teka teki” bagi banyak kalangan. tetapi yang dapat membuktikan keabsahan itu benar adalah Rasul2 ( Matius, markus, Lukas, Yohanes ) yang hidup pada zaman itu. Dalam Luk 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin… Penjelasan anak sulung ini memang benar mempunyai arti luas, bisa juga diartikan seperti Kejadian 4:4.

Dalam hal keperawanan Maria, memang sebelum Jesus lahir, betul Maria adalah perawan suci, tetapi setelah melahirkan Jesus apakah Maria masih perawan memang banyak opini disana sini.
Tapi coba kita lihat silsilah Jesus dalam Matius 1: 6, dilihat bahwa Jesus keturunan Salomo, Salomo adalah
anak dari Raja Daud dan Batsyeba ( yang sebelumnya istri Uria).
Disini jelas sekali bahwa dalam silsilah Jesus ada juga yang tidak perawan sebelumnya. tetapi tetap diakui di dalam FirmanNya.Hal ini bukan berarti kesucian keperawan tidak penting.

Intinya semua hamba Tuhan itu kudus, baik Maria, Jusuf , Abraham ( Bp Orang beriman ), yakub, Ishak, Rasul2, Paulus, dll ( nama2 silsilah Jesus) tidak ada tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah. karena Tuhan juga tidak memberikan tingkatan dari mereka itu.
Bukan berarti Bunda Maria lebih tinggi kedudukanya dari Bp Abraham atau sebaliknya atau yg lain. (Bandingkan (Kejadian 22-16-18) & (lukas 1 : 26-38) Manakah yang lebih tinggi pangkatnya….. tidak ada semua sama tingginya.

Karena hanya ada 1 saja yang lebih tinggi dari semuanya itu yi: Filipi 2: 1-11 dan Yohanes 14 :6. So masihkah dipermasalahkan Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?

Thx

Jawaban:

Shalom Jimmy,
Terima kasih atas kunjungan anda ke website katolisitas. Memang yang kami paparkan dalam website ini adalah pengajaran dari Gereja Katolik, oleh sebab itu yang kami sampaikan adalah bukan pendapat kami sendiri, tetapi yang kami ketahui dari pengajaran Gereja Katolik, yang juga didasari oleh Alkitab, dan pengajaran para Bapa Gereja. Banyak dari umat Kristen non-Katolik tidak memiliki pandangan yang sama tentang pengajaran beberapa pokok iman dan doktrin, dan salah satunya adalah pengajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria.
Saya tidak tahu apakah Jimmy sudah pernah membaca artikel di website ini tentang Bunda Maria, yang walaupun belum banyak, tetapi sedikitnya, anda dapat melihat dasar Alkitab dan pengajaran Bapa Gereja tentang peran Bunda Maria yang istimewa dalam rencana keselamatan Allah. Seandainya belum membaca, kami mempersilakan anda membaca 2 artikel lainnya tentang Maria yaitu Maria Bunda Allah (silakan klik) dan Maria dikandung tanpa noda: apa maksudnya? (silakan klik)
Memang dalam Alkitab, Bunda Maria tidak banyak diceritakan dan ditonjolkan, sebab memang fokus utama Alkitab adalah Tuhan Yesus Kristus. Namun demikian, dalam keterbatasan teks tentang Maria dalam Alkitab, tidak menjadikannya ia ‘sama’ dengan yang lain, justru karena kita melihat fakta yang sangat nyata dalam diri Maria: bahwa ia dipilih Tuhan untuk melahirkan Putera-Nya sendiri. Tuhan memilih seorang ciptaan-Nya [yaitu Bunda Maria] untuk melahirkan Dia, Sang Pencipta. Tak ada seorang manusiapun, entah dia itu nabi ataupun orang kudus yang mendapat kesempatan ini sepanjang sejarah manusia, dan memang kesempatan satu-satunya ini diberikan hanya kepada Bunda Maria. Diperlukan kejujuran dan keterbukaan hati untuk mengakui bahwa ini adalah suatu berkat istimewa dari Tuhan. Dan inilah yang dilihat dan diakui oleh para Bapa Gereja sejak abad awal.

Para Bapa Gereja menghubungkan Alkitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru untuk mengajarkan bahwa apa yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam Perjanjian Baru. Bahwa dalam Alkitab dikatakan oleh ketidaktaatan Adam yang pertama, manusia jatuh dalam dosa, maka oleh ketaatan Adam yang kedua, yaitu Kristus, manusia memperoleh pengampunan dosa (lih. Rom 5:12-21). Oleh ketidaktaatan Hawa yang pertama, maka manusia terikat dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria, maka keterikatan itu dilepaskan [seperti pengajaran St. Irenaeus sekitar thn 189]. Sebab oleh ketaatan Bunda Maria, maka Tuhan Yesus terbentuk di dalam rahimnya dan manusia memperoleh Juruselamatnya (lih Luk 1: 38).

Maka menurut pandangan Bapa Gereja, Bunda Maria adalah seorang yang istimewa, dan memang jika kita jeli membaca Alkitab, kita ketahui bahwa sapaan Allah yang diberikan kepada Mariamelalui malaikat, yaitu “Hail Mary, full of grace” -semacam salam hormat yang tinggi- itu hanya pernah diberikan kepada Maria. Jika kita membaca seluruh Kitab Suci, dan melihat bagaimana Allah menyapa ciptaan-Nya entah lewat dialog, atau melalui perantaraan malaikat, tak ada satu orangpun yang disapa dengan cara demikian. Jadi kita menghormati Maria, pertama-tama karena Allah menghormatinya terlebih dahulu.
Maka dari satu ayat itupun, para Bapa Gereja mengajarkan banyak hal tentang keistimewaan Bunda Maria. Gereja Katolik dengan taat memegang pengajaran para rasul dan Bapa Gereja sebagai Tradisi Suci dan melihatnya sebagai kesatuan dengan Alkitab. Sebab, sebelum kanon Alkitab ditentukan oleh Magisterium Gereja (yaitu pada Konsili Hippo 393 dan Carthage 397), Tradisi suci tersebut itulah yang sudah ada untuk menuntun umat beriman. Untuk mengetahui lebih lanjut peran Tradisi Suci dan Magisterium, silakan membaca artikel ini (silakan klik) dan jawaban ini (silakan klik).

Pada dasarnya Gereja Katolik melihat adanya perbedaan peran satu orang dengan yang lainnya dalam rencana keselamatan Allah, sama seperti adanya perbedaan talenta yang diberikan oleh tiap-tiap pekerja dalam perumpamaan talenta (lihat Mat 25:14-30). Atau seperti peran setiap anggota tubuh yang berbeda-beda (1Kor 12:1-31) dalam kesatuan dengan Kepala-nya yaitu Kristus (lih. Kol 1:18). Dan dalam hal ini Maria memang diberikan anugerah yang istimewa, justru karena perannya yang sangat istimewa dalam rencana keselamatan Allah [walaupun Maria sendiri tidak lebih besar dari Kristus, sama seperti Hawa tidak lebih besar dari Adam, atau anggota tubuh tidak lebih besar dari kepala-nya]. Dan dalam keistimewaannya inilah, Gereja Katolik mengimani bahwa Bunda Maria tetap perawan, sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Yesus. Keistimewaan ini bukan datang dari diri Maria sendiri, tetapi Allah yang memberikannya, berkaitan dengan kehendak-Nya yang menjadikan Maria sebagai sarana untuk menghadirkan Kristus ke dunia. Uraiannya singkat tentang hal ini ada di artikel Bunda Maria Tetap Perawan, Mungkinkah? (silakan klik) Walaupun demikian, Gereja juga mengakui peran khusus St. Yusuf sebagai bapa angkat Yesus, ataupun para nabi dan orang kudus yang lain. Oleh karena itu memang Gereja Katolik percaya bahwa para kudus di surga memang menyertai umat beriman dengan doa-doa mereka.

Maka, jika seseorang menganggap Bunda Maria itu sama dengan tokoh-tokoh lain dalam Alkitab, itu sebenarnya adalah pandangan yang berbeda dengan pandangan para Bapa Gereja. Kami di sini hanya bermaksud untuk mengajarkan apa yang menjadi pengajaran Gereja Katolik yang memang bersumber dari Alkitab dan pengajaran Bapa Gereja. Pertama, dengan harapan agar umat Katolik semakin mengenal imannya. Selanjutnya, agar pembaca yang non-Katolik dapat mengetahui dari sisi pandang Gereja Katolik.

Mengapa harus ada tiga pribadi di dalam Trinitas, bukan 2 atau 4?

32

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah mengapa di dalam Trinitas ada tiga pribadi Allah, bukan dua pribadi maupun empat pribadi. Bukanlah Allah maha kuasa, sehingga Dia tidak memerlukan tiga pribadi? Memang tidaklah mudah untuk menangkap pengajaran tentang Tritunggal Maha Kudus. Analogi apapun yang digunakan pasti tidak akan pernah sempurna untuk menggambarkan Trinitas, sama seperti kita tidak dapat menggambarkan Tuhan dengan kata-kata kita. Mari sekaran kita melihat mengapa di dalam Trinitas hanya ada tiga pribadi bukan kurang atau lebih?

I. Mengapa ada tiga pribadi di dalam Trinitas

1) Definisi Trinitas adalah satu Allah dalam tiga pribadi.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 253) mengatakan “Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804).”

Perkataan Satu Allah dalam tiga pribadi atau Tritunggal yang sehakikat dapat dijabarkan sebagai berikut. Hakekat (essence) dari Allah adalah satu, namun pribadi (person) di dalam Allah adalah tiga. Hakekat adalah mengacu kepada pertanyaan “what is it” sedangkan pribadi mengacu kepada pertanyaan “who is it“.

2) Pertanyaannya adalah, mengapa pribadi di dalam Trinitias ada tiga. Pertama kita melihat dahulu hakekat dari pribadi (person). Boethius: an individual substance of a rational nature (rationalis naturae individua substantia) mengatakan bahwa “A person therefore is a complete and distinct (subsisting) individual of an intellectual or spiritual nature, an individual endowed with rationality or intellect. An individual is one who is distinct from others but one in himself.” Jadi, sebuah pribadi adalah satu individu yang lengkap dan berbeda dengan yang lain. Individu yang lengkap adalah individu yang mempunyai harkat (dignity), yang mampu untuk melakukan sesuatunya secara bebas, yang mempunyai kemampuan untuk masuk dalam hubungan dengan yang lain, dan dapat memberikan dirinya secara bebas kepada orang lain.
Nah, di dalam suatu relasi, harus ada 1) yang memberi, 2) yang menerima, dan 3) apa yang diterima dan diberi. Yang memberi dan menerima adalah Allah Bapa dan Allah Putera, dimana Allah Bapa dan Allah Putera saling memberi dan menerima kasih, yang adalah Roh Kudus. Dan aktifitas memberi dan menerima ini berlangsung secara abadi (eternal).

a) Kita tidak dapat mengatakan bahwa di dalam Trinitas hanya ada satu pribadi, karena seseorang tidak dapat memberi kalau tidak ada yang menerima dan seseorang tidak dapat menerima kalau tidak ada yang memberi.
b) Kita tidak dapat mengatakan bahwa di dalam Trinitas hanya ada dua pribadi, karena untuk memberi dan menerima harus ada sesuatu yang diberi dan diterima.
c) Kita tidak dapat mengatakan bahwa di dalam Trinitas lebih dari tiga pribadi, karena ketiga hal tersebut (memberi, menerima, dan apa yang diterima dan diberi) telah cukup untuk mencakup seluruh relasi. Atribut-atribut yang lain dapat dimasukkan ke dalam tiga pribadi, dan tidak dapat berdiri sendiri.
d) Jadi di dalam Trinitas hanya ada tiga: 1) yang memberi, 2) yang menerima, dan 3) apa yang diberi dan diterima.
(silakan juga melihat St. Thomas Aquinas, ST, I, q.30, a.2) – silakan klik.

Dan bukti yang terkuat, tentu saja dari Wahyu Tuhan sendiri yang diwahyukan-Nya di dalam Alkitab, seperti: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.“(1 Yoh 5:7). Dan masih begitu banyak kesaksian yang lain. Untuk itu, silakan membaca artikel tentang Trinitas (silakan klik).

II. Mengapa harus ada Trinitas dengan Tiga Pribadi?
Machmud menyatakan bahwa “Allah itu maha tahu dan maha kuasa, sebab itu satu Pribadi Allah saja sanggup melakukan semua pekerjaan dan rencanaNya”. Kita sebenarnya sependapat dalam hal hakekat Allah yang adalah satu. Pengertian Trinitas bukanlah Allah yang tiga dalam hakekat, namun tiga dalam pribadi. Jadi kalau ditanya mengapa harus ada tiga pribadi di dalam Trinitas, maka:

1) Keharusan ini bukan datang dari diri manusia, namun Allah sendiri yang menyatakannya kepada manusia. Trinitas adalah kehidupan pribadi Allah. Dan manusia tidak akan tahu kalau Tuhan sendiri tidak menyatakannya kepada manusia, karena secara kodrat (dengan akal budi manusia), maka manusia tidak akan dapat mencapai pengertian ini. Konsep Trinitas yang dinyatakan di dalam Alkitab, sebenarnya Allah hendak menyatakan siapakah Diri-Nya yang sebenarnya secara lebih pribadi kepada umat manusia? Karena Allah sendiri yang memilih untuk menyatakannnya kepada manusia, maka tentu saja ini sangat penting bagi keselamatan manusia.

2) Kita coba melihat manfaat apa saja dengan mengetahui konsep Trinitas. Hal yang mungkin paling mudah untuk dimengerti adalah dengan sosok Yesus, yaitu pribadi ke-2 di dalam Trinitas. Dengan Allah menyatakan Diri-Nya dalam rupa manusia, maka manusia mendapatkan begitu banyak manfaat untuk menguak misteri Allah, sebagai contoh:

a) Manusia dapat bertumbuh di dalam kebajikan ilahi (iman, pengharapan, dan kasih). Iman manusia akan berkembang karena Allah sendiri yang berbicara dan mengajar secara langsung kepada manusia. Dan kasih menusia kepada Allah menjadi lebih besar karena melihat bukti kasih Allah yang begitu besar, yang dibuktikan-Nya dengan mati di kayu salib untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Karena melihat kasih Allah yang sedemikian besar dan janji Yesus sendiri untuk memberikan kehidupan kekal di Surga, maka manusia mempunyai pengharapan yang besar. Ketiga hal ini – iman, pengharapan, dan kasih – adalah begitu penting untuk keselamatan manusia.
b) Kristus telah menunjukkan bagaimana seharusnya menjadi manusia yang sempurna, dengan cara menunjukkan kepada manusia untuk selalu melaksanakan kehendak Bapa di dalam kehidupan. Seluruh kehidupan Kristus dapat menjadi suatu pelajaran yang tak ternilai untuk membimbing manusia menjadi manusia yang sempurna, yang memang diciptakan menurut gambaran Allah.
c) Inkarnasi juga membuat manusia untuk menghindari dosa. Manusia dapat mencontoh Kristus, sehingga manusia dapat dengan segala daya upaya menghindari dosa. Kerendahan hati Kristus juga menjadi inspirasi bagi manusia untuk tidak jatuh dalam dosa kesombongan. Dengan Kristus disalibkan, manusia juga menyadari akan akibat dosa yang begitu jahat.
d) Kristus juga menujukkan bahwa Allah adalah Bapa, dimana manusia dapat memanggil Allah dengan sebutan Bapa/Abba. Dan Kristus juga menunjukkan bahwa Dia akan mengirimkan Roh Kudus-Nya, yang terjadi pada peristiwa Pentakosta.
d) Dan masih begitu banyak hal yang lain yang dapat kita petik dari misteri inkarnasi.

Konsili Valencia (1229): Orang Katolik dilarang membaca Alkitab?

9

Ada tuduhan yang mengatakan bahwa ada satu waktu bahwa Gereja Katolik melarang umatnya untuk membaca Kitab Suci. Tuduhan yang sama dibuat oleh seorang Teolog Kristen Protestan yang bernama Loraine Boettner (sekitar thn 1928), yang mengatakan, “Alkitab dilarang untuk orang awam, yang dimasukkan dalam buku Indeks Buku-buku Terlarang oleh Konsili Valencia thn 1229” (“Bible forbidden to laymen, placed on the Index of Forbidden Books by the Council of Valencia . . . [A.D.] 1229.“)
Namun sebenarnya Boettner mengutip sumber yang keliru. Sebab, indeks Buku-buku Terlarang itu baru dikeluarkan tahun 1559, sehingga Konsili yang diadakan jauh sebelumnya, tidak mungkin memasukkan daftar buku-buku tersebut.

Hal kedua yang cukup penting adalah, kelihatannya sangat tidak mungkin diadakan Konsili Gereja Katolik di Valencia, Spanyol pada tahun itu. Seandainya ada, semestinya terjadi sebelum tahun 1229, sebab pada tahun itu, orang-orang Islam menguasai kota itu. Sangat sukar dibayangkan, jika orang-orang Muslim pada saat itu, yang menentang orang-orang Kristen di Spanyol, dapat memberikan izin bagi para Uskup Katolik untuk mengadakan Konsili di salah satu kota mereka. Pasukan Kristen baru dapat membebaskan Valencia setelah 9 tahun kemudian. Maka, besar kemungkinan, Konsili Valencia sebenarnya tidak pernah ada.

Tetapi ada juga kemungkinan lain, yaitu yang dimaksud adalah Konsili di Toulouse, Perancis yang diadakan pada tahun 1229, sebab Konsili tersebut membahas tentang Kitab Suci. Konsili tersebut diadakan sebagai reaksi terhadap heresi Albigensian/ Catharist, yang percaya pada dua Tuhan (Tuhan yang Baik dan yang Jahat) dan bahwa perkawinan adalah jahat/ buruk, sebab melibatkan tubuh/ matter, karena tubuh dianggap buruk. Heresi ini menyimpulkan bahwa perzinahan bukan dosa, dan bahkan menganjurkan bunuh diri di antara anggota-anggotanya, karena tubuh dianggap sebagai sesuatu yang buruk/ jahat. Untuk menyebarluaskan paham ini, maka para Albigensian menyebarluaskan terjemahan Alkitab yang tidak akurat dalam bahasa setempat (menyerupai terjemahan Alkitab dari Saksi Yehova sekarang ini). Seandainya terjemahan itu akurat, tentu Gereja Katolik tidak berkeberatan. Sebab terjemahan dalam bahasa lokal memang sudah ada sejak lama. Tetapi apa yang dikeluarkan dari Albigensian ini adalah Alkitab yang sudah ‘salah terjemahan’. Maka para Uskup di Toulouse melarang para awam untuk membacanya, sebab isinya keliru. Ini adalah langkah untuk melindungi umat, sama seperti para pendeta Protestan sekarang ini juga yang melarang jemaatnya membaca Injil Saksi Yehova.

Selanjutnya, mari kita lihat sikap resmi yang dikatakan oleh Gereja Katolik. Demikian menurut Paus Klemens XI melalui Bull Unigenitus 1713, yang memuat 101 proposisi menanggapi ajaran sesat Quesnel. Silakan membaca di link ini tentang keseluruhan Bull tersebut –silakan klik Maksudnya adalah, agar pembacaan Alkitab oleh umat beriman harus dilakukan dengan tuntunan Gereja.

Jadi dari jawaban di atas, telah jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya.
Mari kita melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang objektif, melihat fakta sejarah, namun juga dengan kepercayaan penuh kepada apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja. Jangan lupa, bahwa Roh Kudus yang telah diutus oleh Yesus untuk melindungi Gereja-Nya adalah Roh Kudus yang sama yang menuntun para pemimpin Gereja yang adalah penerus para Rasul.

Kini melalui Konsili Vatikan ke II, Dei Verbum 25,  kita mengetahui bahwa kita sebagai umat beriman dianjurkan untuk membaca Alkitab, terutama para imam dan pengajar iman seperti para katekis. Namun demikian, pembacaannya harus didahului dengan doa sehingga kita dapat mendengar Dia (Tuhan) sendiri lewat ayat-ayat ilahi yang kita baca. Demikian kutipannya, Dei Verbum 25:

“Begitu pula Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp3:8). “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus”. Maka hendaklah mereka dengan suka hati menghadapi nas yang suci sendiri, entah melalui liturgi suci yang sarat dengan sabda-sabda ilahi, entah melalui bacaan yang saleh, entah melalui lembaga-lembaga yang cocok untuk itu serta bantuan-bantuan lain, yang berkat persetujuan dan usaha para Gembala Gereja dewasa ini tersebar di mana-mana dengan amat baik. Namun hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab “kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi.”

Catatan: Sebagian dari jawaban diterjemahkan dari Catholic Answers. Selengkapnya silakan membaca di sini.

Mengapa Tuhan menciptakan manusia?

19

Pertanyaan:

Salam damai sejahteraSetelah saya membaca tentang KESEMPURNAAN RANCANGAN KESELAMATAN ALLAH diatas maka timbul suatu pertanyaan dalam diri saya sbb : [dari admin: saya berikan penomoran agar mudah berdiskusi]

I. Untuk apa Allah menciptakan manusia ?
Dan mengapa diberikan tubuh daging yang menyeretnya untuk berbuat dosa ?
Bukankah kalau hanya memiliki roh saja seperti malaikat tentu tidak pernah timbul nafsu2 kedagingan ?
Mengapa harus ditempatkan di dunia yang penuh dengan dosa dan kekerasan ?
Di dunia manusia tidak pernah memandang muka Allah, sedangkan malaikat setiap hari melihatnya, tetapi manusia dituntut untuk mempercayai FirmanNya.

II. Apakah memang manusia di program untuk menjadi allah-allah, seperti yang di ucapkan oleh Yesus : kamulah alah-alah. Maka oleh sebab itu manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan sifat ilahi dan diharapkan akan ada sebagian manusia yang menjadi seperti DIA di dalam kehidupannya yang sia2 di bawah matahari. Memang masih ada sisa-sisa kemuliaan Allah dalam diri manusia yaitu kasih dan itu tidak didapati dalam ciptaan yang lainnya. Dan manusia ditempatkan di dunia bukan di Surga supaya diolah ,ditumbuhkan dan disempurnakan, oleh sebab itu ketika manusia berbuat dosa, Allah masih mengampuni, tetapi malaikat sekali berbuat dosa langsung dibuang.

III. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah akan ada manusia-manusia yang sempurna seperti yang direncanakan oleh Allah ? Atau mungkinkah rencana Allah terhadap manusia akan gagal ?

IV. Kalau kita membaca kitab Kejadian kita temukan sbb : In the beginning God created the heaven and the earth.And the earth was without form, and void; and darkness [was] upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. Sangat berbeda dengan penciptaan yang lain : and God saw that [it was] good. Saya tidak berani mengatakan bahwa penciptaan yang pertama tersebut gagal,tetapi begitulah Alkitab menulisnya.

V. Hanya saja Alkitab menulis bahwa akan ada orang2 yang sempurna di akhir zaman yang berjumlah 144.000 orang. Apapun itu saya masih belum mengerti untuk apa saya diciptakan dan ditempatkan dalam dunia ini ?

Terima kasih
Machmud

Jawaban:

Salam damai Machmud,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang keberadaan manusia. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus, karena hanya manusia yang dapat mempertanyakan keberadaannya. Untuk itulah Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah seorang filsuf (John Paul II, fides et ratio, 64). Manusia dapat mempertanyakan keberadaannya, karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26). Mari kita membahas pertanyaan Machmud satu persatu.

I. Untuk apa Allah menciptakan manusia?

1) Diskusi ini mensyaratkan seseorang untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Kalau Tuhan bukan yang menciptakan segala sesuatu atau segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka percuma saja membahas untuk apakah Tuhan menciptakan segala sesuatu. Syarat yang lain adalah Tuhan adalah Maha Sempurna dan Maha Kasih. Kalau kita belum menerima tentang hakekat Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Kasih, maka kita belum setuju tentang konsep Tuhan, dan oleh karena itu, kita harus berdiskusi terlebih dahulu tentang hakekat Tuhan.

2) Kita tidak dapat mengatakan bahwa manusia diciptakan secara kebetulan. Kalau manusia adalah merupakan produk “kebetulan”, maka sungguh sangat tragis bahwa kita semua adalah produk yang tidak diinginkan, namun hanyalah suatu kebetulan semata. Ini sama seperti anak lahir namun tidak pernah diinginkan oleh orang tuanya, dan terjadi karena suatu kecelakaan. Sesuatu yang kebetulan juga bertentangan dengan hakekat Allah, karena di dalam Allah tidak ada yang bersifat kebetulan. Hal ini disebabkan karena Allah adalah Maha Tahu, dan semuanya adalah transparan di hadapan-Nya.

3) Jadi, semua yang diciptakan oleh Allah adalah merupakan hasil rancangan menurut kebijaksanaan dan kasih-Nya. Karena Allah adalah Maha Sempurna, maka sebetulnya Dia tidak memerlukan siapapun. Namun karena Allah adalah baik dan penuh kasih, maka Dia menginginkan lebih banyak mahluk dari segala macam tingkat untuk dapat berpartisipasi dalam kebaikan tersebut, sehingga semua mahluk dari berbagai tingkatan dapat berbahagia dan memuliakan Allah. Hal ini sama seperti orang tua yang senantiasa ingin membagikan apa yang dipunyainya kepada anak-anaknya, baik dari yang terkecil maupun yang terbesar. Kalau sesuatu yang baik ini benar untuk manusia dalam tingkatan kodrat, maka ini juga benar untuk Tuhan dalam tingkatan adi kodradi (supernatural). Tuhan juga menciptakan mahluk dalam berbagai tingkatan dari 1) para malaikat yang murni spiritual, 2) manusia yang terdiri tubuh dan jiwa, 3) binatang, tumbuhan, dan segala macam yang ada di alam raya. Semuanya diciptakan Allah baik adanya. Dan kebaikan ini hanya terjadi jika semuanya bertindak sesuai dengan kodratnya.

a) Oleh karena itu, pernyataan Machmud bahwa kalau manusia diciptakan tanpa tubuh dan hanya jiwa, maka manusia terbebas dari nafsu-nafsu daging ada benarnya dan ada salahnya. Benar, karena dengan memiliki tubuh dan jiwa, maka manusia – dengan akal budi dan kehendak bebas – mempunyai percobaan yang bersifat daging dan jiwa. Salah, karena seolah-olah kalau manusia terdiri dari hanya Jiwa, maka manusia tidak pernah mengalami percobaan. Padahal, kalau kita melihat, godaan manusia yang pertama bukan masalah kedagingan, namun lebih kepada godaan spiritual, yaitu kesombongan rohani. Dan jangan juga lupa, bahwa malaikat yang hanya mempunyai jiwa dan tidak berbadan, juga mengalami percobaan. Karena malaikat juga mempunyai akal budi, maka mereka juga dapat memilih untuk mengikuti Tuhan atau melawan Tuhan. Dan sayangnya, sebagian memilih berkata “tidak” terhadap Tuhan.

b) Jadi baik malaikat yang tanpa badan dan manusia yang berbadan dan berjiwa, semuanya mengalami godaan masing-masing. Namun keduanya diciptakan baik adanya. Inilah sebabnya, pada awalnya, semua keinginan daging dari manusia pertama sepenuhnya tunduk kepada akal budi (the gift of integrity). Namun karena dosa, maka manusia kehilangan “the gift of integrity” atau tunduknya daging terhadap akal budi (reason). Oleh karena itu, manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa atau disebut “concupiscence“. Dan hal inilah yang membuat manusia mempunyai nafsu-nafsu daging. Rasul Paulus menegaskan “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”(Gal 5:17)

c) Jadi, kembali ke pertanyaan Machmud, maka Allah menciptakan manusia atas dasar kasih, sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan memuliakan Tuhan. Dan karena pada awalnya semuanya baik, maka tubuh yang menjadi bagian dari manusia adalah baik adanya. Dan semua nafsu kedagingan yang ada (concupiscence) adalah merupakan akibat dosa manusia. Namun, keadaan ini dapat menjadi kesempatan bagi manusia untuk bertumbuh dalam kekudusan dengan berjuang agar dengan akal budi, manusia dapat menundukkan nafsu kedagingan, seperti yang terjadi dalam kondisi awal penciptaan. Dan semua kekerasan di dunia ini bukan Tuhan yang membuatnya, karena jika Tuhan yang membuatnya, maka itu bertentangan dengan hakekat Tuhan yang adalah Maha Kasih. Sedangkan dosa dan kekerasan adalah bertentangan dengan kasih.

4) Machmud mengatakan bahwa dunia tidak pernah memandang muka Allah, sedangkan malaikat setiap hari melihatnya, tetapi manusia dituntut untuk mempercayai FIrmanNya. Dunia pernah melihat Allah, yaitu dalam diri Yesus, Putera Allah yang turun ke dunia. Dan sebelum Dia wafat, Dia mengadakan Perjamuan Terakhir, yang diteruskan sampai saat ini dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus. Disinilah, dengan kacamata iman, umat Allah dapat memandang Allah. Tidak berarti bahwa seseorang yang memandang Allah secara otomatis akan mempercayai Firman-Nya. Malaikat yang mempunyai pengetahuan lebih sempurna, sebagian jatuh ke dalam dosa. Manusia pertama yang mempunyai hubungan begitu erat dengan Tuhan, melakukan dosa pertama. Orang-orang Yahudi yang bertemu dengan Yesus, bahkan Yudas – salah satu murid Yesus – juga tidak percaya akan Firman-Nya. Jadi dalam hal ini “melihat” bukan menjadi tolak ukur untuk percaya. Keterangan tentang iman dapat dilihat disini (silakan klik).

II. Manusia dijadikan allah-allah?

Machmud bertanya apakah manusia diprogram untuk menjadi allah-allah? Mungkin orang yang mengatakan tentang hal ini mendasarkan argumentasinya dari “Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?” (Yoh 10:34). Juga dapat direferensikan dengan Maz 82:6 “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” Namun, dalam konteks ayat-ayat tersebut, Yesus mengambil dari Maz 82:6, yang menggunakan perkataan allah-allah dalam hubungannya dengan hakim-hakim, yang mempresentasikan Allah di dunia. Dan Tuhan memberikan peringatan keras bagi para hakim yang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Saya tidak akan mengulas secara lebih detail tentang hal ini dalam pembahasan ini.
Namun manusia tidak mungkin menjadi Allah, kecuali pada diri Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia.

Pada saat kita mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, ini berarti bahwa manusia dianugrahi akal budi (reason) yang terdiri dari akal (intellect) dan kehendak (will). Akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kehendak bebas untuk berkata “ya” atau “tidak” terhadap Pencipta. Dengan kodrat manusia sebelum jatuh dalam manusia, maka maka manusia tidak akan mungkin menjadi Allah. Inilah dosa yang pertama, karena manusia ingin menjadi Allah bagi dirinya sendiri. Kodrat manusia dan Allah adalah tak terbatas (infinite) bedanya, dimana manusia adalah mahluk ciptaan dan Allah adalah Sang Pencipta. Jadi pada saat kita mengatakan ada unsur Allah di dalam manusia, sesungguhnya ini berarti manusia berpartisipasi di dalam Allah. Namun manusia tidak akan pernah menjadi Allah, sekalipun dia telah berada di Surga.

Manusia diusir dari taman Eden bukan supaya ditumbuhkan dan disempurnakan, namun karena dosa manusialah yang menjadikan menusia hidup di dunia seperti sekarang ini. Namun, Tuhan dapat mempergunakan sesuatu yang buruk untuk mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu, walaupun manusia hidup di dunia yang penuh dengan dosa dan kekerasan. manusia dapat terus berkembang dan berusaha untuk menjadi kudus, yaitu menerapkan kasih terhadap Tuhan dan sesama.

Ketika manusia berbuat dosa, memang Tuhan masih mengampuni manusia, karena memang kodrat manusia terikat di dalam dimensi waktu. Dan dalam dimensi waktu inilah, manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertumbuh dalam kekudusan sampai Tuhan memanggilnya. Namun malaikat diciptakan dalam kodrat yang berbeda, karena mereka adalah mahluk spiritual (pure spirit), dimana mempunyai kodrat spiritual dan pengetahuan yang begitu tinggi tentang Tuhan. Oleh karena itu, sekali mereka mengambil keputusan, maka tidak akan pernah berubah. Dan karena tidak mungkin berubah maka sekali mereka berbuat dosa mereka tidak akan mungkin mendapatkan pengampunan. Sebaliknya sekali mereka mengatakan “ya” kepada Tuhan, mereka tidak akan mungkin berbuat dosa.

III. Apakah ada manusia yang sempurna?

Apakah ada manusia-manusia yang sempurna seperti rancangan Allah? Jawabannya ada. Pertama, terjadi dalam sosok Yesus. Salah satu misi dari Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menunjukan seperti apakah manusia yang sebenarnya, yang diciptakan menurut gambaran Allah. Dan Yesus telah menunjukannya dengan senantiasa mengikuti dan melaksanakan kehendak Allah. Mungkin ada yang mengatakan, bahwa hal ini terjadi karena Yesus adalah Tuhan. Kita dapat melihat pada sosok ke-dua, yaitu Bunda Maria. Bunda Maria adalah sosok yang tanpa dosa, yang juga senantiasa melaksanakan kehendak Allah, termasuk di dalamnya adalah menjadi ibu dari Sang Penebus. Dan kesetiaan Bunda Maria terus dibuktikannya sampai akhir hayatnya. Namun, mungkin ada yang mengatakan “tentu saja Bunda Maria dapat melakukan hal ini, karena dia lahir tanpa dosa.”

Kita dapat melihat pada figur yang ketiga, yaitu para kudus. Para kudus inilah yang menjadi bukti bagi kita semua bahwa manusia yang penuh kelemahan dapat mengikuti perintah Kristus, karena Kristus memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang. Para Kudus mempunyai kodrat yang sama seperti kita. Mereka mempunyai kelemahan sama seperti kita, dan mereka terus berjuang untuk hidup kudus. Namun mereka telah membuktikan bahwa dengan bantuan rahmat Tuhan, maka mereka dapat melaksanakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan mereka. Contoh dari para kudus ini, misalkan: Ibu Teresa dari Kalkuta yang melayani orang-orang yang miskin di India, atau St. Damien yang melayani para penderita kusta, sampai dia sendiri meninggal terkena kusta, atau St. Maximillian Kolbe, yang mengorbankan dirinya untuk keselamatan seseorang napi di penjara Auschwitz.
Para santo dan santa dapat melakukan hal tersebut di atas, karena Roh Kristus sendiri yang memberikan kekuatan kepada mereka. Dan dengan kehendak bebas, mereka bekerja dengan rahmat Tuhan.
Jadi, rencana Allah untuk membawa manusia kepada keselamatan tidak akan pernah gagal. Bahkan semua rencana Allah pasti akan terjadi.

IV. Pada awalnya: semuanya diciptakan baik adanya:

Di dalam kitab kejadian dikatakan “1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:1-2). Saya tidak melihat bahwa ayat ini bertentangan dengan semua penciptaan yang lain, yang diakhiri dengan “itu baik“. Hal ini dikarenakan bahwa di Kej 1:1-2 adalah merupakan suatu persiapan untuk penciptaan selanjutnya yang diakhiri dengan “itu baik”. “langit dan bumi” di ayat 1 adalah “universe” atau alam semesta. Dan kemudian “gelap gulita” disini bukan berarti “chaos” atau kacau balau, namun untuk menceritakan bagaimana Tuhan memang menciptakan semuanya dari tidak ada menjadi ada. Dan ini termasuk bukan saja dunia ini dan segala isinya, namun juga seluruh alam raya. Bandingkan dengan Kis 24:17 “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia.

V. 144,000 orang

Kitab wahyu mengatakan tentang 144,000 orang yang dimateraikan. (lih Why 7:4; 14:1,3). Seperti yang kita tahu, bahwa kitab wahyu berisi begitu banyak simbol. 144 ribu menggambarkan 1000 x 12 x 12, yang berarti begitu banyak jumlahnya dan tak terhitung (great multitude). Dan inilah Israel yang baru, yang dapat diartikan sebagai Gereja.

Demikian jawaban singkat yang dapat saya berikan. Menegaskan kembali mengapa manusia diciptakan, maka kita percaya bahwa manusia diciptakan atas dasar kasih Allah, sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan memuliakan Tuhan. Dan kebahagiaan sejati manusia adalah bersatu dengan Sang Pencipta, Tuhan. Bagaimana untuk sampai kesana, umat Katolik percaya bahwa keselamatan adalah melalui Kristus lewat Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Mari kita bersama-sama percaya kepada Tuhan yang penuh kasih yang menciptakan masing-masing dari kita baik adanya. Dan masing-masing dari kita mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Tuhan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Kerajaan damai 1000 tahun

16

Pertanyaan:

Mohon tanya, Dimana saya bisa dapatkan penjelasan tentang Kerajaan damai 1.000 tahun seperti yang tertulis di buku Yesaya. Terima kasih, Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Ada beberapa interpretasi tentang Kerajaan damai 1000 tahun ini (lihat Why 20:1-8). Pengharapan akan seribu tahun kejayaan Mesias di dunia sebelum Penghakiman Terakhir, sering dikenal dengan konsep “Millennialism“. Pengertian ini berasal dari pengaruh Yudaism, yang mengartikan Mesias sebagai pemimpin kerajaan Israel seperti Raja Daud dan Salomo. Beberapa Bapa Gereja sebelum konsili Nicea condong menginterpretasilan secara literal seperti ini tetapi kemudian, interpretasi ini digantikan dengan interpretasi allegorikal yang mengartikan 1000 tahun ini sebagai simbol, sebagai ‘jangka waktu yang cukup lama’, sebagaimana teks angka ‘1000’ yang lain dalam Alkitab merupakan simbol dari jumlah yang banyak/ ribuan. Interpretasi ini diajarkan oleh St. Agustinus: ia mengartikan bahwa 1000 tahun kejayaan ini dimana Iblis diikat dan para kudus memimpin bersama Kristus ini sebagai Gereja Katolik yang masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebarkan nilai-nilai Injil. Jadi keseribu tahun kejayaan ini mengacu pada era Christendom. Pengikatan Iblis selama 1000 tahun ini dikaitkan dengan perumpamaan yang diajarkan oleh Kristus tentang orang kaya yang diikat (Mat 12:29, lihat City of God, book 20, chap. 8): …Bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang yang kuat itu? Sesudah diikatnya, barulah dapat ia merampok rumah itu.” Kristus telah mengikat Iblis dengan korban sengsara dan salib-Nya. Namun demikian, Iblis terus berusaha mempengaruhi banyak bangsa, sampai Gereja perlahan-lahan menyebar dan mempengaruhi bangsa-bangsa untuk bertobat dan menerima nilai-nilai Injil, walaupun dalam perwujudannya tetap terdapat pergumulan.
Maka, ke 1000 tahun tersebut adalah untuk diartikan sebagai simbol, yang mengacu pada arti jangka waktu yang lama. sedangkan pelepasan ikatan Iblis itu dihubungkan dengan kejayaan singkat suatu apostasy yang besar yang memuncak pada kejayaan Anti-Kristus.

Setelah St. Agustinus, paham millenialism pupus, namun ada kecenderungan untuk timbul kembali dalam beberapa sekte sesat. Antara lain yang dipimpin oleh Joakim dari Fiore (1135-1202, Calabria), yang menjabarkan Trinitas dalam sejarah manusia, membaginya menjadi 3 bagian: Masa Allah Bapa (Yudaism), Masa Allah Putera (pendirian Gereja dan strukturnya) dan Masa Allah Roh Kudus (kejayaan Gereja karismatik).  Ajaran ini dikecam oleh Gereja pada abad ke-13.
Setelah revolusi Protestan, paham millennialism-pun mengambil 2 macam aliran yang berbeda atau bahkan 3, yaitu:
1) Premillennialism: kedatangan Kristus terjadi sebelum kerajaan 1000 tahun, atau
2) Postmilliennialism:kedatangan Kristus terjadi sesudah kerajaan 1000 tahun atau
3) Amillennialism: mengikuti ajaran St. Agustinus, sehingga ini sama dengan pandangan Gereja Katolik.
Gereja Katolik sendiri tidak menyebutnya sebagai amillennialism, tetapi “ecclesiological interpretation of the Millennium.”
Demikian yang bisa saya tuliskan secara singkat tentang interpretasi kerajaan 1000 tahun. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bagaimana menanggapi film Angels and Demons

9

Pertanyaan:

Bagaimana sikap kita melihat film “Angels & Demons” yang “katanya” mulai heboh di seluruh dunia, saya sendiri tidak tahu apa isi film tersebut. – Chris

Jawaban:

Shalom Chris,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang bagaimana menyikapi film Angels and Demons. Saya minta maaf, karena menunda menjawab pertanyaan ini cukup lama, karena menyelesaikan tugas akhir, serta begitu banyak pertanyaan yang masuk ke katolisitas.org.
Saya sendiri terus terang belum menonton film ini. Link yang memberikan review tentang film ini adalah USCCB (silakan klik) dan juga ini (silakan klik), ini (silakan klik). Secara prinsip film ini adalah film yang tidak membahayakan iman dan gereja, seperti yang diberitakan di L’Osservatore Romano. Tidak seperti film Da Vinci Code yang menyerang pokok iman Katolik, maka film Angels and Demons mencoba mempertentangkan antara ilmu pengetahuan dan Gereja. Namun sesungguhnya tidak ada yang bertentangan, karena Gereja Katolik sendiri tidak anti akan ilmu pengetahuan, malah sebaliknya mendukung ilmu pengetahuan sejauh tidak bertentangan dengan iman.
Dikatakan bahwa film ini menyajikan data-data histori yang tidak akurat. Jadi sejauh kita beranggapan bahwa film ini adalah film fiksi, maka sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang sama yang melatarbelakangi pembuatan film sebelumnya, yang bertentangan dengan iman Katolik.

Berikut ini adalah kutipan dari vatican paper yang saya cut and paste  – [penekanan adalah dari saya]

Vatican paper: ‘Angels & Demons’ film is harmless
May 6, 2009

VATICAN CITY (AP) — Reviewers at the Vatican’s newspaper have passed judgment on “Angels & Demons,” finding the religious thriller commercial and inaccurate, but concluding it is “harmless” entertainment and not a danger to the church.

L’Osservatore Romano ran a review and an editorial in Wednesday’s edition, critiquing the movie based on the Dan Brown best-selling novel of the same name.

“Angels & Demons” had its world premiere Monday in Rome, after director Ron Howard charged that the Vatican interfered with getting film permits to shoot scenes in the city — a contention the Vatican said was a publicity stunt.

The newspaper wrote that the movie was “a gigantic and smart commercial operation” filled with “stereotyped characters.” The paper suggested moviegoers could make a game out of finding the many historical inaccuracies in the plot.

However, L’Osservatore praised Howard’s “dynamic direction” and the “magnificent” reconstruction of locations like St. Peter’s Basilica and the Sistine Chapel. Much of the film was shot on sets that painstakingly recreated church landmarks.

The film offers “more than two hours of harmless entertainment, which hardly affects the genius and mystery of Christianity,” L’Osservatore’s reviewer wrote. It’s “a videogame that first of all sparks curiosity and is also, maybe, a bit of fun.”

“Angels & Demons” features Harvard symbologist Robert Langdon of “The Da Vinci Code” fame, played by Tom Hanks. In the film, the Vatican turns to Langdon after an ancient secret brotherhood called the Illuminati kidnap four cardinals considered front-runners to be the next pope, and threaten to kill one an hour and then explode a bomb at the Vatican.

On Sunday, Howard said the Vatican had interfered with his efforts to get permits to shoot some scenes. A Vatican spokesman said the statement was designed purely to drum up publicity for the film.

Top church officials strongly objected to “The Da Vinci Code” because it was based on the idea that Jesus married and fathered children and depicted the conservative Catholic movement, Opus Dei, as a murderous cult.

Semoga dapat berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab