Home Blog Page 299

Penyaliban Kristus dan penal substitution

31

Ada orang yang mendasarkan ayat 2Kor 5:21 dan Yes 53:12 dan kemudian menyimpulkan bahwa Yesus telah berdosa. 2 Kor 5:21 mengatakan “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Dan Yesaya 53:12 mengatakan “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” Pertanyaannya apakah Yesus menjadi orang berdosa?

1) Rasul Paulus mengatakan bahwa Yesus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa. Hal ini dapat diartikan bahwa Yesus telah menanggung upah dosa, yaitu maut (lih Rm 6:23). Inilah yang dialami oleh Yesus, yaitu mati di kayu salib untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, sehingga kita dapat memperoleh keselamatan kekal. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Yesus menjadi orang berdosa. Rasul Paulus mengatakan “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr 4:15). Yang tidak dapat dilakukan oleh Allah adalah mengkontradiksi Diri-Nya sendiri. Kalau Dia adalah kudus, dan dosa adalah melawan Allah dan melawan kekudusan, maka Allah tidak mungkin berdosa.

2) Kalau demikian, apakah semua dosa kita telah ditanggung oleh Kristus, dan kemudian kita tidak perlu menanggung dosa lagi karena Kristus telah menanggung dosa banyak orang (Yes 53:12)? Memang dosa kita telah ditanggung oleh Kristus, karena kasih-Nya kepada umat manusia. Namun, Gereja Katolik tidak mengajarkan “penal substitution“,suatu konsep yang mempercayai bahwa Kristus dihukum (penalized) sebagai ganti (subsitution) untuk dosa-dosa manusia. Konsep penal substitution memberikan konsekuensi bahwa Yesus mati di kayu salib sebagai hukuman dari Allah kepada Yesus yang menggantikan manusia. Sebagai konsekuensinya, maka Yesus juga masuk ke dalam nerakan selama tiga hari sebelum kebangkitan-Nya.
Kalau ditelusuri, Penal Substitution diakibatkan karena pandangan yang terlalu menekankan konsep keselamatan sebagai suatu konsep hukum dan keadilan (legal justice). Namun lebih daripada legal justice, keselamatan melalui pengorbanan Kristus adalah manifestasi terbesar dan sempurna dari kasih, dan bukan hanya terbatas pada konsep keadilan. Berikut ini adalah keberatan tentang Penal Substitution:

a) Penal Substitution membuat Kristus yang tidak berdosa sebagai terhukum menggantikan manusia, sehingga bertentangan dengan prinsip keadilan. Manusia dihukum oleh Tuhan adalah adil, karena manusia berdosa. Dengan konsep Penal Substitution, maka Kristus dihukum oleh Tuhan untuk menggantikan hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Dan dengan dihukumnya Kristus yang tidak berdosa oleh Tuhan, maka hal ini bertentangan dengan konsep keadilan Tuhan. Tuhan tidak mungkin mempertentangkan diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, Tuhan tidak mungkin menghukum Kristus yang tidak berdosa. Karena Tuhan adalah maha kasih, maka Dia mengorbankan Putera-Nya, namun tidak berarti bahwa Tuhan dapat menjadi tidak adil dengan menghukum Putera-Nya, walaupun untuk tujuan yang baik sekalipun.

b) Menurut Penal Substitution, sebagai akibat bahwa Yesus dihukum, maka Yesus turun ke neraka untuk menerima hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia. Hal ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau neraka adalah keterpisahan dengan Tuhan dan kasih secara kekal, maka Yesus yang adalah kasih dan Tuhan, tidak akan mungkin masuk ke dalam neraka, walaupun untuk menanggung dosa manusia. Waktu tiga hari sebelum kebangkitan-Nya, Yesus mengunjungi umat-Nya di limbo of the just atau bosom of Abraham (lhat cerita orang kaya dan lazarus – Lk 16:19-21).

c) Lalu bagaimana dengan derita fisik dan spiritual yang dialami oleh Yesus? Kita tidak dapat mengatakan bahwa ini sebagai bukti penal substitution, karena tidak mungkin Tuhan yang menjatuhkan hukuman kepada Yesus. Yang menghukum Yesus adalah para prajurit Roma dan orang-orang yang terkait dalam pembunuhan Yesus. Dalam kemahatahuan-Nya, Tuhan tahu bahwa Yesus akan dihukum, namun dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan memakai situasi ini untuk mendatangkan sesuatu yang baik. Sama seperti dosa Adam menjadi suatu kesempatan bagi Tuhan untuk mendatangkan Sang Penebus. Inilah sebabnya para Bapa Gereja menyanyikan “Felix Culpa” atau “O Happy fault” atau dosa yang membahagiakan, karena mendatangkan Sang Penebus.

3) Penebusan Kristus adalah sumber keselamatan umat manusia. Namun penderitaan Kristus bukanlah hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada Kristus sebagai pengganti hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada manusia. Penderitaan Kristus bukanlah hukuman Tuhan, namun dilakukan oleh Kristus dengan kasih-Nya yang tak terhingga untuk menerima dengan rela semua hinaan dan siksaan dari para prajurit. Pengorbanan yang dilakukan dengan kasih oleh Kristus inilah yang membuat penderitaan Kristus dapat menyenangkan Tuhan secara berlimpah (Lih. St. Thomas Aquinas, ST, III, q.48, a.2). Dan pengorbanan ini bukan sebagai akibat Tuhan memberikan hukuman kepada Yesus, namun sebagai suatu cara bagi Tuhan untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.

Luk: mengasihi musuh, Yoh: mengasihi sahabat?

10

Pertanyaan:

Numpang tanya : Luk 6:32 versus Yoh 15:13
Lukas
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.

Yohanes
15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Saya kira Yoh tidak membaca Luk (dan sebaliknya) saat mereka menulis ayat-ayat diatas – tapi saya yang membaca keduanya merasa ada yang rada aneh.
Yoh mengajarkan bahwa menyerahkan nyawa pada sehabat (apakah sahabat bukan orang2 yang mengasihi kita?) adalah perbuatan yang layak diteladani – tetapi kata Luk, hal seperti itu adalah lumrah – karena dikerjakan semua orang.
Ada yang dapat memberi pencerahan ?
salam, Skywalker

Jawaban:

Shalom Skywalker,
Untuk mendapat pengertian yang menyeluruh tentang ajaran Kristus, memang kita perlu untuk melihat kaitan ayat-ayat di dalam Kitab Suci, karena ayat yang satu akan mendukung ayat yang lain. Maka ajaran Kristus untuk mengasihi musuh (lihat Luk 6: 27- 36) tidak bertentangan dengan ajaran-Nya untuk mengasihi sahabat (Yoh 15:12-17). Mari kita mengingat bahwa pengajaran ini bukan berasal dari Lukas atau Rasul Yohanes secara pribadi, melainkan mereka hanya menuliskan apa yang menjadi ajaran Kristus. Dan karena ‘Sumber’-nya sama maka tidak akan bertentangan. Ajaran Kristus ini adalah  ajaran mengasihi sesama sampai kepada titik kesempurnaan, yaitu kasih tanpa pandang bulu/ kepada semua orang dan kasih yang tanpa batas, sampai kepada tahap menyerahkan nyawa. Maka penjelasan tentang kasih yang sempurna tersebut adalah sebagai berikut:

1) Pada Injil Lukas, Yesus mau menekankan perintah mengasihi sesama tanpa pandang bulu, dan ini mencapai kesempurnaannya dengan mengasihi bahkan orang yang membenci kita.  Kristus berkata, “Kasihilah musuhmu , berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu…berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Sebab jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? ….(Luk 6: 27-28, 32) Yesus sendiri melaksanakan ajaran-Nya ini pada saat Ia mendoakan orang-orang yang menganiaya Dia di kayu salib, saat Ia berdoa kepada Bapa, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23: 34)
2) Pada Injil Yohanes, Yesus mau menekankan perintah untuk mengasihi hingga titik yang tertinggi yaitu sampai pada titik menyerahkan nyawa. Kristus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15: 13) Dan ayat ini dipenuhinya dengan menyerahkan Diri-Nya di kayu salib.
3) Kita mengetahui bahwa Yesus menggenapi perintah mengasihi ini sampai pada kesempurnaannya, yaitu menyerahkan nyawa-Nya bahkan kepada para musuh-Nya, yaitu dengan wafat-Nya di salib demi menyelamatkan semua manusia yang hidup dalam dosa, karena dosa memisahkan manusia dengan Allah. Dengan perkataan lain, dosa menjadikan manusia sebagai ‘musuh’ Allah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengajarkan, “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. …Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, ketika kita masih berdosa….Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! (Rom 5:6-10).
Sebab Yesus telah mati disalib bukan hanya demi sahabat-sahabat-Nya tetapi juga untuk semua orang, termasuk mereka yang telah membenci Dia dan menyalibkan-Nya.
Teladan Kristus ini seharusnya mengajar kita, walaupun kita pasti harus berjuang untuk sungguh dapat melaksanakannya. Kedua sisi dalam mengasihi ini memang sangat penting, yaitu pertama, mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang telah melukai hati kita, dan kedua, mengasihi dengan memberikan diri kita sepenuhnya, yang berarti rela berkorban demi kebaikan sesama. Semoga Tuhan mendapati kita bertumbuh dalam kasih, dan dengan demikian kita dibentuk-Nya untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Apakah orang Katolik dijamin pasti selamat?

7

Pertanyaan:

Dear semua pengasuh/evangelizer/imam ytk
Saya simpatisan GK, dan belajar Alkitab.
Saya ingin menanyakan, “Apakah dijamin pasti SELAMAT (masuk sorga) kalau kita beriman kepada Yesus dengan sungguh2 ?
Mohon penjelasan, Thanks
Shalom, Mahmud Zulkarnain

Jawaban:

Shalom Mahmud Zulkarnain,
Keselamatan bagi kita umat Katolik merupakan rahmat Allah, namun kitapun harus bekerja sama dengan rahmat tersebut. Artinya jika kita yang sudah dibaptis tetapi tidak hidup sesuai dengan janji baptis kita, dan jatuh dalam dosa berat dan tidak bertobat, maka kita tidak dapat diselamatkan. Hal ini disebabkan karena Gereja Katolik, berpegang pada ajaran Alkitab, percaya bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future):

  1. Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5)
  2. Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9)
  3. Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).

Bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).

Lumen Gentium 14, mengatakan,
Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”[26]. Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras[27].”

  1. Karena kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik, umat Katolik seharusnya dapat hidup lebih kudus, karena berkat-berkat yang mengalir dari Sakramen-sakramen, seperti: Ekaristi, Pengampunan Dosa.
  2. Namun demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang tidak dibaptis air (secara sakramen) pasti masuk neraka, sebab ada kondisi-kondisi lain (yang telah disebutkan di atas) yang diperhitungkan. Yang terpenting adalah, satu-satunya keselamatan hanya melalui Kristus dan melalui pembaptisan. Tetapi bagi orang-orang yang dalam kondisi “bukan karena kesalahannya sendiri” tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja-Nya, dan juga mereka berbuat kasih dan mengalami pertobatan, orang tersebut sebetulnya mengalami “baptism of desire” (lih KGK, 1258-1259). Silakan membaca tentang Baptisan Rindu/ Baptism of desire ini dalam tulisan ini (silakan klik). Adapula kondisi lain, yaitu bagi orang-orang yang mengalami kematian karena iman akan Kristus, yaitu seperti para martir, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, mereka juga dapat diselamatkan karena mereka telah menerima “Baptisan darah” (KGK, 1258). Faktor-faktor tersebut di atas adalah syarat bagi seseorang untuk memperoleh keselamatan. Atau, dengan kata lain, Gereja tidak mengenal cara lain selain pembaptisan untuk masuk surga (KGK, 1257). Akan tetapi, bagi orang yang telah dibaptis namun tidak menjalankan kasih, ia dapat kehilangan keselamatannya.
  3. Kalau begitu apakah kita harus membawa orang kepada Kristus? Tentu saja. Kristus adalah harta terbesar yang kita miliki. Adalah menjadi perbuatan kasih kalau kita membagikan harta terbesar ini kepada semua orang. Namun tentu saja kita harus melakukannya dengan bijaksana dan penuh kasih.

Demikianlah yang dapat kami tuliskan sehubungan dengan pertanyaan anda. Semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid & Stef- www.katolisitas.org

Berapa kali orang Katolik menerima Baptisan?

13

Pertanyaan:

Dear Ingrid,
Ingrid menulis : Pada saat seseorang dibaptis, maka ia menerima Roh Kudus.
Pada waktu Yesus naik ke Surga Ia memesan pada murid2Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem sampai mereka dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dari tempat yang maha tinggi. Jadi menurut pengertian saya orang awam, selama kurun waktu itu murid2 hanya menerima baptisan Yohanes saja dan belum menerima Roh Kudus. Mereka baru menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta , dimana mereka berbicara dalam ber-bagai2 bahasa atau yang menurut orang2 dinamakan bahasa roh.
Kalau pengertian saya ini benar, maka berarti setiap orang Kristiani mengalami tiga kali baptisan yaitu :
1. Baptisan air
2. Baptisan Roh Kudus dan
3, Baptisan Api

Bagaimana menurut Ingrid

Salam
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Gereja Katolik mengajarkan bahwa pada seseorang dibaptis, maka ia ‘dikuburkan dalam kematian Kristus, untuk kemudian dibangkitkan bersama Dia menjadi ciptaan baru’ (lihat KGK 1214). Maka melalui Pembaptisan ini, secara prinsip ada dua hal yang terjadi:
1) Pemurnian dari dosa-dosa (baik dosa asal yang diturunkan dari Adam dan Hawa, maupun dosa pribadi)
2) Kelahiran menjadi manusia baru bersama Kristus, yang menjadikan kita anak-anak angkat Allah dan mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya.
Pengajaran ini yang berdasarkan dari Alkitab,  disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik:
KGK 1214 Orang menamakannya Pembaptisan sesuai dengan inti ritusnya: membaptis [bahasa Yunani “baptizein”] berarti “mencelup”. Pencelupan ke dalam air melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus, dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia (Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12) sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17; Gal 6:15).
KGK 1215 Sakramen ini juga dinamakan “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3: 5).
KGK 1265 Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7.; ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).
Maka, Roh Kudus yang mengangkat kodrat manusia ke dalam lingkup ilahi, telah diberikan pada saat Pembaptisan. Sesudahnya, pada Sakramen Penguatan, kita yang telah menerima Roh Kudus melalui Pembaptisan ini dikuatkan dan diperkaya dalam karunia-karunia Roh Kudus. Jadi fungsinya, jika dibandingkan dengan kehidupan kodrat manusia adalah: Pembaptisan adalah kelahiran, Penguatan adalah pertumbuhan menjadi dewasa. Jadi Sakramen Penguatan ini bukan Baptisan Roh Kudus, karena Roh Kudus sudah diberikan pada saat Pembaptisan. Seperti halnya orang yang lahir ke dunia menerima karunia hidup hanya satu kali, dan selanjutnya hanya bertumbuh menjadi dewasa, demikian pula, Pembaptisan yang menandai permulaan kehidupan supernatural seseorang, hanya diterima satu kali. Dalam Sakramen Penguatan, yang diberikan adalah rahmat agar kita yang sudah dibaptis diberi kekuatan untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dengan karunia-karunia Roh Kudus agar kita dapat menjadi saksi Kristus.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa terdapat tiga sakramen yang merupakan sakramen inisiasi, yang menandai permulaan seseorang menjadi anggota Gereja, yaitu Baptisan, Ekaristi dan Penguatan.
KGK 1285 Bersama dengan Pembaptisan dan Ekaristi, Sakramen Penguatan membentuk “Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen”, yang kesatuannya harus dipertahankan. Jadi, perlu dijelaskan kepada umat beriman bahwa penerimaan Penguatan itu perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan (Bdk. Ocf praenotanda 1). “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (LG 11) Bdk. Ocf praenotanda 2.

Bahwa di dalam Alkitab seolah dibedakan adanya Baptisan air dan Baptisan Roh Kudus, itu disebabkan karena makna Pembaptisan baru sempurna setelah kebangkitan Yesus. Sebelum Yesus bangkit dan naik ke surga,  Pembaptisan Yohanes baru memberikan satu arti yaitu penyucian dari dosa-dosa, maka kita membaca dalam Alkitab, pembaptisan itu disebut sebagai Baptisan pengampunan dosa (lihat Mrk 1:4); dan pesan utama St, Yohanes Pembaptis adalah: “Bertobatlah.” (lihat juga Mat 3:1-6, Luk 3:3-6, 15-17, Yoh 1:19-28).
Namun walaupun tidak dikatakan di dalam Alkitab, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa para Rasul telah menerima Pembaptisan dalam air dan Roh Kudus sebelum Kristus wafat [yang diberikan oleh Kristus]; karena pada Perjamuan Terakhir, Kristus mengordinasikan/ mentahbiskan mereka menjadi imam dan memberikan mereka Ekaristi yang pertama. Setelah Yesus bangkit, naik ke surga dan kemudian mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta, maka para murid memperoleh rahmat kekuatan dari Roh Kudus, sehingga kemudian mereka-pun dapat membaptis orang-orang lain dengan makna yang penuh, yaitu: pengampunan dosa, dan kehidupan baru bersama Kristus oleh kuasa Roh Kudus, dan dengan berani menjadi saksi Kristus. Maka untuk para Rasul, Pentakosta mempunyai makna sbb: mereka dikuatkan dalam iman dan dilengkapi dengan karunia-karunia Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus (makna sakramen Penguatan), dan mereka diberi semangat yang berkobar-kobar untuk mengabarkan Injil. Dengan ini mereka dapat memenuhi apa yang dipesankan oleh Kristus sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu tang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28: 19-20).
Maka dalam hal ini Gereja Katolik tidak memakai istilah Baptisan Roh Kudus dan juga Baptisan Api. Walaupun memang,  dalam acara-acara Persekutuan doa Karismatik Katolik ada yang disebutkan sebagai ‘pencurahan Roh Kudus’. Pada dasarnya ibadat tersebut merupakan doa memohon agar Tuhan mencurahkan karunia Roh Kudus, agar Roh Kudus yang sudah diterima dapat sungguh berkarya dalam kehidupan umat beriman yang hadir. Karena berkaryanya Roh Kudus dalam hidup seseorang itu mensyaratkan juga kerjasama orang tersebut dengan pimpinan Roh Kudus. Selanjutnya, karunia-karunia Roh Kudus yang diberikan dimaksudkan untuk membangun iman umat/ Gereja.

Lebih lanjut tentang Pembaptisan ini, silakan membaca artikel: Sudahkah Kita diselamatkan? (silakan klik).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati.

Komuni: hosti saja, mengambil hosti lalu celup di anggur, bolehkah?

50

Pertanyaan:

Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus
Kenapa dalam ekaristi, yang dibagikan hanya tubuh Kristus (hosti) sedangkan darah Kristus (anggur) tidak?
Dulu pernah saya ikut Ekaristi dan saat komuni, hostinya kita celupkan ke anggur, sebenarnya menurut ajaran gereja Katolik harusnya bagaimana ?
Terima kasih

Rudolfus

Jawaban:

Shalom Rudolfus,
1) Umumnya dalam perayaan Ekaristi, yang dibagikan kepada umat hanya Tubuh Kristus dalam rupa hosti, tanpa anggur, tetapi hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa kita menerima keseluruhan Kristus, “Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allah-an-Nya” KGK 1374, 1413, bdk. Konsili Trente, DS 1640; 1651).
Selanjutnya ini dijelaskan lebih lanjut:
KGK 1390     Karena Kristus hadir secara sakramental dalam setiap rupa itu [dalam rupa roti dan dalam rupa anggur], maka seluruh buah rahmat Ekaristi dapat diterima, walaupun komuni hanya diterima dalam rupa Roti saja. Karena alasan-alasan pastoral, maka cara menerima komuni inilah yang paling biasa di dalam ritus Latin. Tetapi “arti perlambangan komuni dinyatakan secara lebih penuh, apabila ia diberikan dalam dua rupa. Dalam bentuk ini lambang perjamuan Ekaristi dinyatakan atas cara yang lebih sempurna” (General Instruction of the Roman Missal/ GIRM 240). Di dalam ritus Gereja-gereja Timur cara menerima komuni macam inilah yang biasa dipergunakan.  Maka karena Kristus hadir secara penuh secara sakramental dalam kedua rupa, yaitu rupa Roti saja atau Anggur saja, maka sesungguhnya seseorang dapat menerima keseluruhan rahmat hanya dengan menerima salah satu rupa. Memang, untuk alasan kepraktisan, maka dalam perayaan misa di Indonesia yang dibagikan adalah hosti saja, namun itu tidak mengurangi maknanya dan rahmat yang diterima tetap sama.

2) Apakah boleh mencelupkan sendiri hosti yang sudah dikonsekrasi ke dalam anggur yang dikonsekrasi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dahulu maksud dari perayaan Ekaristi, yang selain untuk turut mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah-Nya, kita juga merayakan persatuan dengan seluruh umat beriman yang hadir. Jika diputuskan bahwa komuni dalam dua rupa, maka simbolisasi makna ‘mengambil bagian dari Hosti yang sama dan minum dari piala yang sama’ (bdk 1Kor 10:17 dan 1 Kor 11:26) menjadi lebih jelas terwujud, dengan menerima Tubuh Yesus dalam rupa Hosti dan meminum [bukan mencelupkan hosti] dari piala yang berisi Darah Yesus, dalam rupa anggur.
Selanjutnya,  menerima komuni bukan hanya sekedar ‘makan dan minum’ Tubuh dan Darah Yesus, namun juga mewujudkan ikatan sacramental antara pelayan yang membagikan komuni dengan yang menerima komuni, di mana yang menerima menjawab “Amin” terhadap Tubuh dan Darah Yesus tersebut. Maka sesungguhnya apapun bentuk ‘self service’/ ‘melayani sendiri’,  tidak dapat dibenarkan (lihat General Instruction of the Roman Missal/ GIRM (Pedoman Umum Misale Romawi 160).

PUMR 160…. Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut entah sambil berdiri, sesuai ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah-kaidah mengenai Komuni.

Lebih lanjut tentang hal ini, silakan melihat tulisan pastor Dennis C. Smolarski, SJ, di link ini (silakan klik).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Meditasi dan Kontemplasi

34

Pertanyaan:

Bu Ingrid,
Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.
Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tuhan memberkati,

Andryhart

Jawaban:

Shalom Andryhart,
1) Jika kita melihat meditasi dan kontemplasi dalam tradisi doa Gereja Katolik, maka kita dapat melihat pengertian meditasi- kontemplasi yang anda sampaikan adalah benar. Dalam tradisi doa Karmelit, seperti yang diajarkan oleh St. Teresa dari Avila, dan diteruskan oleh Padre Tomas de Jesus (1587), maka terlihat meditasi dan kontemplasi merupakan dua metoda doa yang saling berkaitan. Ketujuh bagian dalam metoda doa Karmelit adalah: persiapan, pembacaan dari Alkitab/ bacaan rohani, meditasi, kontemplasi, ucapan syukur, permohonan, dan penutup.
Memang meditasi menurut St. Teresa dari Avila, sebaiknya diikuti oleh Prayer of recollection, yang artinya mengumpulkan semua usaha dari jiwa, yaitu, baik memori, imajinasi, intelek/ pemikiran, ataupun keinginan untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah. Langkah selanjutnya dari Prayer of recollection ini adalah Prayer of Quiet, yang menjadi awal dari kontemplasi. Di dalam bukunya “Puri Batin/ Interior Castle“, St. Teresa mengumpamakan sebuah ‘istana kristal’ yang berlapis-lapis yang ada dalam hati kita. Pada pusatnya hadirlah Yesus dengan terang-Nya yang memancar. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui lapisan-lapisan ‘bilik/ mansion‘ tersebut, yang totalnya berjumlah 7 lapisan. Pada lapisan awal itu terdapat banyak ‘binatang melata’ yang mengganggu kita, yaitu pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasi kita sewaktu berdoa. Nah, untuk menepiskan gangguan ini, menurut St. Teresa, seseorang harus mengumpulkan segenap kemampuan jiwanya, agar ia dapat terus memusatkan diri kepada Yesus yang ada pada lapisan yang terakhir (bilik yang ketujuh). Pada lapisan terakhir inilah kita mengalami persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan kontemplasi. Maka terlihat di sini bahwa meditasi dan prayer of recollection tersebut merupakan langkah/ jalan menuju kontemplasi. Mungkin suatu saat nanti Katolisitas akan menuliskan apa saja ketujuh tahapan menurut St. Teresa tersebut, sehingga bersama kita akan dapat semakin memahami perjalanan doa menuju kontemplasi.

Nah, melihat pola tingkatan ini, maka ajaran Fr. John Main OSB dengan memperkenalkan cara meditasi dengan mantra Kristiani, ataupun ajaran Romo Yohanes O Carm tentang doa Yesus dengan ritme tarikan/ hembusan nafas, dapat dikatakan tidak bertentangan dengan tradisi doa meditasi Katolik. Dengan catatan, jika mau menggunakan ‘mantra’ untuk membantu, kata itu haruslah yang umum kita kenal dan kita ketahui artinya dalam tradisi Kristiani. Jika demikian, tentu hal ini dapat saja dilakukan, karena itu hanya merupakan cara memusatkan hati dan pikiran. Jika kita sudah terbiasa dengan ritme tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menggunakan imajinasi atau pikiran kita untuk merenungkan tentang Allah. Jadi prinsipnya mirip dengan yang diajarkan oleh St. Teresa, bahwa kita perlu memusatkan segenap hati dan pikiran kepada Tuhan di dalam doa-doa kita. Ini sungguh merupakan perjuangan, karena memang tak jarang, begitu kita mulai berdoa, ada banyak pikiran yang dapat mengganggu konsentrasi kita. St. Teresa mengandaikan tahap pemula ini sebagai seorang petani yang harus bersusah payah menimba air sumur untuk mengairi sawahnya, sedangkan lama kelamaan jika tidak terlalu banyak usaha yang diperlukan, itu seumpama petani yang mengairi sawahnya dengan mengarahkan air dari sungai/ mata air.
Jika kita dengan disiplin melatih rohani kita dengan meditasi/ prayer of recollection, maka ada saatnya dimana doa bukan menjadi sesuatu yang sangat sulit/ merupakan perjuangan keras [untuk mengalahkan pikiran yang berkecamuk] namun hati yang terarah kepada Tuhan akan lebih mudah tercapai. Di sini, perlu kita ketahui bahwa ada dua jenis kontemplasi, yang pertama disebut acquired contemplation yaitu kontemplasi yang diperoleh dengan ‘usaha’ dari pihak kita, dan kedua, disebut sebagai infused contemplation, yaitu kontemplasi yang sungguh diberikan dari Allah sendiri.  Tentu kedua tahap ini mensyaratkan disposisi hati yang baik di dalam doa dan kehidupan rohani kita. Menurut St. Teresa, pure contemplation adalah infused contemplation, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.Di akhir kontemplasi ini adalah pengalaman persatuan dengan Tuhan, dimana hanya kasih Allah yang begitu besar yang mengatasi segalanya, sehingga tidak dapat lagi diuraikan dengan kata-kata. St. Teresa mengandaikan hal ini sebagai seorang petani yang tidak perlu lagi mengairi sawahnya, karena hujan yang begitu deras telah turun dari surga dengan limpahnya, dan sang petani hanya menikmati siraman air kehidupan tersebut dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Perlu juga diketahui, bahwa St. Teresa tidak merendahkan makna doa vokal/ dengan kata-kata. Sebab jika didoakan dengan sepenuh hati, maka doa vokal ini dapat pula menghatar seseorang kepada kontemplasi.

2) Melihat pengertian di atas, maka hubungan kita dengan Tuhan di dunia ini sesungguhnya meliputi kedua sisi yang anda sampaikan. Yaitu kita harus belajar bertumbuh dalam kerendahan hati untuk duduk di kaki Tuhan seperti Maria (Luk 10:42), dan mempunyai hati sebagai seorang hamba, yang mau dengan segenap jiwa dan tenaga berusaha melaksanakan kehendak-Allah. Namun, kita juga percaya, bahwa di tengah-tengah perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan menyertai kita dan tinggal di tengah kita. Inilah yang secara khusus kita rayakan dan kita alami dalam Ekaristi Kudus. Walaupun, kita juga menyadari bahwa persatuan kita dengan Allah secara sempurna hanya terjadi di Surga, namun sementara hidup kita di dunia, Tuhan telah mengizinkan kita untuk mulai mengalami rahmat persatuan itu, melalui dan di dalam Gereja Katolik. Lumen Gentium 1 dan KGK 776 mengatakan, Gereja adalah sarana keselamatan bagi semua orang, “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”
Memang pada akhirnya, jika kita sampai di surga nanti, yang ada tinggal persatuan kita yang sempurna dengan Tuhan, atau disebut juga dengan kontemplasi yang sempurna (beatific vision), di mana kita memandang Allah di dalam Dia dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:3), karena kita telah dipersatukan dengan Kristus. Dalam hal ini, tepatlah apa yang disampaikan oleh Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”. Namun perlu kita ingat dalam persatuan antara kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita manusia sebagai Allah. Setiap manusia akan tetap mempunyai identitasnya sendiri-sendiri, namun semuanya tergabung dalam kesatuan yang sempurna dalam kesatuan Umat Allah, sebagai satu Tubuh Kristus, yang dibangun sebagai Bait Roh Kudus, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28). Inilah tujuan akhir dari Gereja yang jaya di surga kelak.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab