Home Blog Page 296

Apakah skapulir dapat menyelamatkan?

20

Pertanyaan:

selamat siang saya mau tanya, scapulir itu apa? apa manfaatnya? dasar alkitabnya? terima kasih – Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang skapulir. Skapulir (Ingris: Scapular) berasal dari bahasa latin: “scapula” yang berarti bahu. Skapulir ini awalnya berupa kain yang cukup lebar yang melintang di bahu. Pada awalnya, skapulir ini berasal dari kehidupan para rahib. Sama seperti yang memakai stola adalah seorang iman, maka seorang rahib ditandai dengan skapulir. Kemungkinan, pemakaian skapulir ini dapat ditelusuri mulai abad ke-7, dimana skapulir menjadi salah satu peraturan dari ordo benediktus. Dengan berkembangnya ordo-ordo, seperti ordo ketiga (third order) – yang terdiri dari kaum awam, maka skapulir ini juga berkembang, bukan hanya kain yang besar yang dikenakan oleh para rahib, namun skapulir yang cukup kecil, yang juga digunakan oleh kaum awam. Lebih lanjut, ordo Karmel berjasa dalam menyebarkan devosi skapular (sekitar abad 13), yaitu dengan skapulir coklat atau “brown scapular”. Ada begitu banyak jenis skapulir. Dan devosi ini mencapai puncaknya pada abad pertengahan, dimana skapulir dan rosario menjadi dua devosi kepada Bunda Maria.
Untuk mengenakan skapulir ini, tergantung dari jenis skapulirnya, setelah diberkati oleh pastor, maka dengan seseorang memakai skapulir, dia memakai simbol persaudaraan (membership in confraternity). Ada beberapa skapulir yang sering dipakai oleh umat Katolik, seperti: 1) The brown scapular of Our Lady of Mt. Carmel, yang berwarna coklat dan sering dihubungkan dengan sabbatine (Sabtu) Privilege, 2) The red scapular of Christ’s passion, 3) The black scapular of the seven sorrows of Mary, 4) The blue scapular of the Immaculate Conception, 5) The white scapular of the Holy Trinity. Dan ada juga scapular medal – yang mempunyai gambar hati kudus Yesus di satu sisi dan hati kudus Maria di sisi yang lain. Scapular medal ini disetujui oleh Vatikan pada tahun 1910.
Apakah manfaat dari skapulir ini?
Manfaatnya adalah tergabung dalam persaudaraan dari skapulir tersebut. Misalkan seseorang menggunakan skapulir coklat, maka dia tergabung dalam persaudaraan “our Lady of Mt. Carmel”. Dan Bunda Maria menjanjikan untuk orang-orang yang memakai skapulir sampai pada akhir hayatnya akan diselamatkan.
Namun satu prinsip yang harus kita pegang, benda-benda seperti rosario, skapulir adalah benda-benda sakramentali. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1667-1668 mengatakan:

1667: “Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja. Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan belbagai situasi hidup disucikan” (SC 60). (Bdk. CIC, can. 1166; CCEO, can. 867.)
1668 “Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia. Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman. Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan.

Dari dokumen di atas, kita melihat bahwa rahmat yang mengalir dari sakramentali tergantung dari disposisi hati yang memakai. Pada saat seseorang memakai skapulir dengan devosi dan disposisi hati yang baik, maka orang tersebut akan senantiasa diingatkan akan Bunda Maria dan Yesus, sebagai contoh: pada waktu orang tersebut melepaskan dan memakai skapukir, atau pada waktu-waktu tertentu, dia merasakan dan menyadari bahwa dia memakai skapulir. Jadi dalam satu hari, orang tersebut mempunyai kebiasaan untuk mengingat Yesus dan Bunda Maria. Dengan disposisi hati yang baik, maka rahmat Tuhan mengalir, sehingga dapat menyucikan berbagai situasi hidup. (lih KGK, 1667). Oleh karena itu, orang yang memakai skapulir, yang senantiasa diingatkan untuk menyucikan berbagai situasi hidup sampai akhir hayatnya, akan memperoleh keselamatan kekal.
Apakah orang yang memakai skapulir ini pasti masuk Surga? Tidak pasti, karena rahmat dari benda-benda sakramentali tergantung dari disposisi hati orang yang memakai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah berkat Allah semata, dengan melalui iman dalam Kristus Tuhan dan dimanifestasikan dengan ketaatan untuk mengikuti seluruh perintah Tuhan. Jadi orang yang memakai skapulir belum tentu diselamatkan, kalau tidak disertai dengan iman kepada Kristus dan melaksanakan seluruh perintah-Nya. Namun, dengan disposisi hati yang baik, seseorang yang memakai skapulir dapat mencapai kekudusan dan memperoleh keselamatan. Sebaliknya, orang yang tidak memakai skapulir, namun terus bertumbuh dalam iman dan sakramen dan melaksanakan perintah Kristus sampai akhir hayatnya, dia juga dapat diselamatkan.
Skapulir dapat dianalogikan seperti cincin pernikahan. Orang yang memakai cincin belum tentu telah menikah. Namun orang yang menikah dan memakai cincin kawin, dengan disposisi hati yang benar, dapat membantu untuk setia terhadap pasangan.
Apakah dasar alkitab dari skapulir?
Kita dapat menghubungkan dasar-dasar Alkitab tentang skapulir dengan dasar-dasar Alkitab untuk pengajaran tentang relikwi, seperti:

Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14). Di kitab yang sama, diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa, dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21).
Di dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian disembuhkan (Kis 5:15).
Pembahasan menyeluruh tentang hal ini, silakan membaca artikel “Relikwi, mengantar kita kepada Tuhan” (silakan klik).

Secara prinsip, Tuhan dapat menggunakan benda-benda, baik berupa relikwi yang berhubungan dengan santa dan santo, atau skapulir yang diberikan oleh Gereja, untuk mengantar umat pada kekudusan. Semua devosi ini harus mengalir dari disposisi hati yang baik, seperti semua persembahan yang bersifat ekterior mengalir dari disposisi hati yang benar.
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Ben.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Benarkah bahwa asal percaya, kita diampuni Tuhan & tak perlu mengaku dosa?

6

Pertanyaan:

selamat malam romo saya mau tanya
1. kis 10 : (43) Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”
dr ayat ini di gereja non katolik menyatakan bahwa kita tidak perlu mengaku dosa di hadapan iman,
2. kis 10 :(35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
ayat ini menyatakan jika kita ingin benar di hadapan Tuhan lihat ayat tersebut?
bagaimana tanggapan magisterium gereja atas2 ke dua ayat ini? relevan tidak dengan pernyataan tersebut dari sudut gereja katolik?
3. apakah yang dimaksud kebenaran itu adalah firman?
terima kasih, Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
1) Kis 10:43, berkata: Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.” Jadi, konteksnya di sini adalah bagaimana dari sejak dulu, para nabi telah menubuatkan bahwa suatu saat nanti keselamatan akan menjangkau semua bangsa, asalkan mereka percaya kepada Tuhan. Janji Tuhan ini akhirnya dipenuhi melalui Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, yang dengan wafat dan kebangkitan-Nya membuka jalan keselamatan bagi semua orang.
Dalam Perjanjian Lama, kita melihat tentang janji Allah yang ingin menjangkau segala bangsa atau siapapun juga yang percaya kepadanya, misalnya dalam Yes 49:6, Mal 1:1, Yun 3 dan 4, ayat-ayat Mazmur.
Selanjutnya, ayat Kis 10:43 merupakan bagian dari perikop yang mengisahkan Kornelius, seorang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus dan dibaptis. Jadi, ayat tersebut merupakan penegasan pengajaran bahwa dari sejak dulu sebenarnya Allah ingin mendatangkan keselamatan bagi semua bangsa, [tak terbatas pada bangsa Yahudi saja], asalkan mereka percaya kepada Yesus. Hubungkanlah ayat Kis 10:43 ini dengan ayat Luk 24: 47: “…dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Maka Gereja Katolik juga mengimani yang disebutkan dalam Kis 10:43 tersebut, bahwa pengampunan dosa hanya didapatkan dalam nama Yesus.
Namun ayat ini tidak untuk diartikan bahwa hanya dengan percaya saja, artinya segala dosa otomatis diampuni; karena konteks dari ayat tersebut bukan itu. Dalam hal inilah, maka Gereja Katolik sering mengingatkan umatnya agar berusaha memahami Alkitab dengan melihat konteksnya, dan jangan memisahkan ayat-ayat tanpa melihat hubungannya dengan ayat yang lain. Silakan membaca artikel ini untuk melihat lebih lanjut bagaimana cara yang dianjurkan Gereja Katolik untuk membaca Alkitab (silakan klik). Karena jelas dalam Injil Yohanes, Yesus memberikan kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa dengan mengatakan, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:22-23).
Dengan demikian, Gereja Katolik memegang ayat ini sebagai bagaimana seseorang yang sudah percaya kepada Yesus dapat diampuni dosanya. Ia harus mengaku dosanya di hadapan imam, sebagai penerus para rasul yang sudah diberi kuasa oleh Yesus sendiri.
Jangan kita lupa, bahwa hal mengaku dosa ini tidak hanya berlaku untuk kaum awam, tetapi juga kepada para imam. Para imam-pun tidak terlepas dari dosa, dan karenanya, juga perlu mengaku dosa kepada sesama imam. Hal ini yang sering tidak diketahui oelah saudara-saudari kita yang Kristen Protestan. Kebanyakan, orang tidak mau mengaku dosa, karena berpikir: buat apa mengaku dosa kepada manusia, lebih baik langsung kepada Tuhan. Memang diperlukan kerendahan hati untuk mengaku dosa di hadapan seorang imam, namun itulah yang menjadi pengajaran Tuhan Yesus. Selanjutnya, memang tergantung dari kita apakah kita mau mentaati semua perintah-Nya, ataukah kita mau memilih sendiri pengajaran-Nya sesuai dengan kehendak kita. Namun jika kita pilih-pilih, sebenarnya kita belum sungguh-sungguh percaya total kepada Tuhan Yesus.

Maka pengertian ‘percaya’ atau beriman kepada Tuhan menurut ajaran Gereja Katolik adalah bukan hanya semata percaya kepada Tuhan saja, tetapi harus juga percaya dan taat kepada semua pengajaran yang diwahyukan-Nya, yang secara penuh diajarkan dalam Gereja Katolik, demikian bunyinya dari Dei Verbum 5 (Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi, Vatikan II):
Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26 ; lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan[4], dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”[5]. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.

Selanjutnya Dei Verbum 7- 10 menjelaskan tentang bagaimana Wahyu Ilahi tersebut diturunkan kepada kita, yaitu melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan klik di sini untuk membaca Dei Verbum.

2) Maka pengertian tentang keselamatan yang ditawarkan Tuhan kepada semua bangsa ini, sejalan dengan yang dikatakan dalam Kis 10 : 35 yang mengatakan, “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”
Ayat ini, yang masih berkaitan dengan kisah Kornelius tersebut, mengajarkan bahwa keselamatan terbuka bagi semua bangsa.  Seseorang dapat dibenarkan oleh Tuhan melalui Kristus dan menerima karunia Allah, tanpa harus memenuhi hukum Taurat Musa, dalam hal ini sunat dan hukum seremonial lainnya.
Takut akan Tuhan, di sini maksudnya adalah, “membenci kejahatan” (Ams 8:13). Maka, ayat Kis 10:35 mau mengatakan bahwa dengan kita membenci kejahatan dan mengamalkan kebenaran (mohon lihat jawaban point 3 di bawah ini); maka Tuhan akan berkenan.

3) Apakah yang dimaksud dengan kebenaran adalah firman?
Kebenaran adalah firman, itu sesuai dengan ajaran Yesus sendiri, yang mengatakan, “Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup.” (Yoh 14:6). Maka kebenaran adalah Yesus sendiri yang adalah Firman yang Hidup (lih. Yoh 1:1, 14). Kebenaran di sini memang bisa berarti firman yang diajarkan kepada kita melalui Alkitab, namun sebenarnya tak terbatas hanya itu. Sebab jika kita perhatikan, Kristus sendiri mengatakan, Ia sendirilah Sang Firman.
Oleh karena itu ibadah yang tertinggi dalam Gereja Katolik adalah Perayaan Ekaristi/ Misa kudus, dimana di situ kita memperoleh kepenuhan Kristus, Firman Allah yang hidup. Pada liturgi Sabda, kita mendengarkan dan meresapkan firman Tuhan, pada liturgi Ekaristi, kita menerima Kristus dalam rupa hosti. Maka jika ditanya apakah kebenaran itu, saya rasa jawabannya yang paling tepat adalah Kristus beserta dengan semua ajaran-ajaran-Nya. Maka, firman di sini tidak terbatas hanya dalam kata-kata firman yang ada dalam Alkitab, tetapi keseluruhan Kristus yang dapat kita terima melalui sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik, terutama dalam Perayaan Ekaristi. Sebab dalam diri Kristuslah semua firman Allah digenapi. Semoga dengan mengambil bagian dalam Kristus, kita umat Katolik dapat hidup mengamalkan kebenaran, dan dengan demikian dapat berkenan di hadapan Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Kehendak bebas menurut Alkitab?

6

Pertanyaan:

Numpang tanya, saya tidak yakin apakah ayat2 berikut layak dijadikan bahan untuk bertanya soal kehendak bebas Misal Keluaran 12:36 dan Keluaran 14:8;  disana dikatakan Tuhan melunak/mengeraskan hati orang Mesir. Jika sungguh demikian maka orang mesir dan epik Musa cuma boneka belaka.

pertanyaan
a) bagaimana mestinya ayat2 tsb dipahami?
b) dimana persisnya ajaran tentang kehendak bebas tercantum dalam kitab suci ?
mohon edukasi

Jawaban:

Shalom Skywalker,
Gereja Katolik mengajarkan kehendak bebas sebagai berikut:
KGK 1730 Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan telah memberi kepadanya martabat seorang pribadi, yang bertindak seturut kehendak sendiri dan menguasai segaIa perbuatannya. “Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri” (Sir 15:14), supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan” (Gaudium et Spes 17).
“Manusia itu berakal budi dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya” (St. Ireneus, Against Heresies/Adv. haeres. 4,4,3).

Maka dengan pengertian ini, kita mengetahui Allah tidak dengan secara aktif menentukan segala sesuatu bagi manusia tanpa melibatkan kehendak bebas manusia, sebab jika demikian manusia hidup seperti robot saja, dan tidak mungkin dapat dikatakan berakal budi dan mempunyai citra Allah. Juga, Allah tidak mungkin secara aktif menjadikan manusia berdosa; sebab itu bertentangan dengan hakekat Allah yang penuh kasih, sehingga tak mungkin Ia ‘menjerumuskan’ manusia ke dalam dosa.

Dalam konteks Kel 12:36 dan Kel 14:8 kita melihat bagaimana Allah bekerja dalam kehendak bebas orang tersebut.
1) Dalam Kel 12:36, dikisahkan bagaimana orang-orang Mesir didorong oleh Allah untuk bermurah hati kepada umat Israel, sehingga mereka memberikan harta benda mereka kepada orang-orang Israel. Hal ini tak terlepas dari kenyataan bagaimana orang-orang Mesir telah melihat bagaimana Allah telah menyertai bangsa Israel, bagaimana kekerasan hati Firaun malah mendatangkan kesepuluh tulah bagi bangsa Mesir. Maka dengan kemurahan hati mereka, mereka mengakui kehadiran Allah yang menyertai bangsa Israel.
Dengan terang Perjanjian Baru, ayat ini dapat dimengerti dengan lebih baik. Sebab bangsa Israel di sini adalah gambaran/ prefigurasi dari Gereja. (lihat Lumen Gentium 9, yang mengatakan, “Adapun seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang gurun, sudah di sebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1 dst). Kita mengetahui bahwa kini para bangsa di dunia mengakui bahwa Allah hadir dalam Gereja, sehingga mereka ‘menyumbangkan harta’ mereka, berupa aneka kebudayaan, dan kekayaan mereka ke dalam Gereja.

2) Dalam Kel 14:8 dikatakan bahwa “Allah mengeraskan hati Firaun.” Untuk menginterpretasikan ayat ini saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh St. Agustinus tentang kehendak bebas dalam A Treatise on Grace and Free will , chap 45 [XXIII], di mana ia menghubungkan hal mengeraskan hati ini dengan ayat dalam Rm 9:18, “Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya.”:
” ….dalam kasus ia yang dikeraskan hatinya, perbuatan-perbuatan jahatnya layak untuk menerima penghakiman, sedangkan pada ia yang menerima belas kasihan-Nya, engkau harus mengakui bahwa rahmat Allah “tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun memberikan berkat-berkat. Jangan engkau mengambil kehendak bebas dari Firaun, [hanya] karena ada ayat tertulis, “Aku telah mengeraskan hati Firaun” atau “Aku sudah mengeraskan atau akan mengeraskan hati Firaun” (lih. Kel 4:21; 7:3; 14:4,8), sebab itu tidak berarti bahwa Firaun sendiri tidak mengeraskan hatinya. Sebab hal inipun tertulis dalam Alkitab, setelah diambilnya tulah lalat dari bangsa Mesir, “Tetapi sekali inipun, Firaun tetap berkeras hati; ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.” (Kel 8:32). Oleh karena itu, memang Tuhan mengeraskan hatinya dengan penghakiman- Nya, tetapi juga Firaun oleh kehendak bebasnya. Maka yakinlah kamu bahwa usaha perbuatanmu tidak pernah sia-sia, jika engkau menempatkan maksud yang baik di atas segalanya, dan tetap mengusahakannya sampai akhir. Sebab Tuhan, yang tak pernah gagal untuk memperhitungkan segala perbuatan… akan “membalas setiap orang menurut perbuatannya.”(Mat 16:27). Maka, Tuhan pasti akan membalaskan kejahatan dengan kejahatan, sebab ia adalah adil, dan kebaikan untuk membalas kejahatan, sebab Ia baik, dan kebaikan dengan kebaikan sebab Ia baik dan adil; hanya Ia tak pernah membalaskan kejahatan terhadap kebaikan karena Ia tidak mungkin berlaku tidak adil. Ia akan…. [membalas] penghukuman kepada yang jahat, rahmat kepada yang jahat, dan Ia akan membalas kebaikan kepada yang baik….”

Maka di sini memang kita harus mengakui bahwa Tuhan yang di dalam kebijaksanaan dan keadilannya, telah mengetahui segala sesuatu dalam diri ciptaan-Nya. Dengan kebijakan-Nya, Ia tidak memberikan rahmat kepada Firaun untuk menjadikannya berbelas kasihan, tetapi ini tidak berarti bahwa Allah-lah yang mendorong Firaun untuk berbuat jahat kepada bangsa Israel (lihat the Letter of St. Augustine to Simplician, 15), sebab perbuatan jahat ini adalah sesuatu yang diputuskan melalui kehendak bebas Firaun sendiri.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab?

11

Pertanyaan:

1) Kalau boleh tau dalam kitab suci mengapa Rasul rasul spt : Matius, markus, Lukas, yohanes Paulus, Petrus, dll yang hidup pada zaman itu tidak mengajarkan tentang bunda Maria? karena yang pasti ajarannya adalah pada Matius 28 : 19-20. Dan kalaupun bunda Maria adalah bunda gereja spt yang telah ditetapkan, seharusnya para rasul yang hidup pada waktu itu juga mengajarkan hal tersebut di dalam kitab2 yang ditulisnya kepada jemaat2nya spt saat Paulus di korintus, filipi, roma, galatia, Efesus, ibrani dll

2) Mengapa jika ada pengakuan bunda maria adalah bunda gereja maka seharusnya Jusuf juga sebagai bapak Gereja karena tindakan mulia yang diambil Jusuf ( matius 1: 18-20)
Jesus dilahirkan dari benih Roh Kudus yang dikandung oleh seorang “hamba Tuhan” yang bernama Maria, dan Jusuf adalah suami sah dari Maria, yang berarti ayah ” tiri ” Jesus. ( Lukas 1 :38)
Jadi Jusuf juga berperan penting dalam kehidupan Jesus, karena dari Jusuf lah silsilah Jesus ada.
( Matius 1 :1-17) Bisa dipastikan bahwa Jusuf juga seorang perjaka tulen yang saleh sama seperti perawan Maria saat ditemui Malaikat . dan Allah sangat tahu alasan mengapa dipilihnya Jusuf dari antara para lelaki saat itu. sebagai suami Maria dan bukan hanya supaya Jesus memliki silsilah keturunan saja.Mengapa silsilah Jesus diambil dari Jusuf bukan dari bunda Maria? karena dalam tradisi yahudi pada saat itu adalah : seorang putra akan mewarisi silsilah ayahnya. dan silsilah dari Jusuf inilah Abraham dll ( Matius 1 :1-17) berada.

Dalam Luk 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin… Penjelasan anak sulung ini mempunyai arti luas, bisa juga diartikan seperti Kejadian 4:4.
Jika diperhatikan kedua ayat ini maka sangatlah jelas kemiripan persembahan yang diterima oleh Allah Bapa yi: keduanya sama sama sulung dari antara yang lain.

3) Intinya semua hamba Tuhan itu kudus, baik Maria, Jusuf , Abraham ( Bp Orang beriman ), yakub, Ishak, Rasul2, Paulus, dll ( nama2 silsilah Jesus) tidak ada tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah. karena Tuhan juga tidak memberikan tingkatan dari mereka itu.
Bukan berarti Bunda Maria lebih tinggi kedudukanya dari Bp Abraham atau sebaliknya atau yg lain. (
Bandingkan (Kejadian 22-16-18) & (lukas 1 : 26-38) Manakah yang lebih tinggi pangkatnya….. tidak ada, semua sama tingginya.Karena ketaataan Bunda maria kepada Allah Bapa sama seperti ketaatan Bp Abraham,Yakub, Daud, Ayub, , Rut, Ester, Paulus, Petrus, dll

Karena hanya ada 1 yang lebih tinggi dari semuanya itu The One and only One yi: Filipi 2: 5 -11 dan Yohanes 14 :6
Thx, Jimmy

Jawaban:

Shalom Jimmy,

Saya percaya maksud Jimmy menuliskan pertanyaan ini adalah untuk mengetahui dasar pengajaran dari Gereja Katolik tentang peran Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah. Untuk itu, saya mencoba menuliskannya.
Namun pertama-tama, mari kita sadari bersama bahwa Gereja Katolik, sama dengan gereja Kristen Protestan, tidak pernah menganggap Bunda Maria sama, atau bahkan lebih tinggi dari Tuhan Yesus. Maka ayat Filipi 2:5-11 dan Yohanes 14:6 itu sungguh-sungguh menjadi pegangan kita bersama. Hanya Kristuslah Jalan, kebenaran dan Hidup.

Berikut ini adalah tanggapan saya tentang keberatan Jimmy:

1) Mengapa ajaran tentang Bunda Maria tidak ada dalam Alkitab? Apakah pengajaran tentang Maria sebagai Bunda Gereja ada di Alkitab, sebab nampaknya tidak disebutkan dalam pengajaran para rasul Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus?

Jawab: Tentu pengajaran tentang Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dan bersumber dari  Alkitab. Berikut ini saya sertakan ayat-ayatnya. Memang Maria tidak disebutkan banyak dalam Alkitab, karena fokus dari Alkitab adalah Tuhan Yesus; tetapi dari sedikit yang yang dijabarkan sudah cukup untuk menjadi dasar pengajaran Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja.

Bunda Maria adalah Bunda Allah menurut Alkitab:

Lukas 1:43, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.

Matius 1:23, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” Maka, Bunda Maria adalah ibu dari Allah yang beserta kita.

Lukas 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.

Galatia 4:4: “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Bunda Maria adalah Bunda Gereja menurut Alkitab:

Yohanes 19: 26-27. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada  ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu” kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibumu!”/ Behold, your mother! Dan sejak itu murid itu [Yohanes] menerima dia [Maria] di dalam rumahnya.” Kita ketahui Yesus hanya berkata 7 kali sebelum wafatNya dan pastilah itu merupakan pengajaran yang penting. Gereja Katolik selalu memahami ucapan tersebut, sebagai Yesus yang mempercayakan Ibu-Nya kepada kita semua, yang diwakili oleh Rasul Yohanes. Sama seperti Yohanes Pembaptis menyebutkan sesuatu yang penting tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah”/ Behold, the Lamb of God (Yoh 1:29); maka Tuhan Yesus juga menyebutkan hal yang penting tentang Maria, dengan berkata kepada para murid-Nya, “Inilah ibumu!”/ Behold, your mother!

1 Korintus 12. Dalam perikop ini kita diajarkan oleh Rasul Paulus bahwa kita merupakan anggota dari Tubuh Kristus, walaupun bukan secara literal merupakan anggota Tubuh fisik Kristus. Nah, menurut pengajaran Rasul Paulus, oleh rahmat Allah kita dipersatukan dengan Kristus secara rohani, maka hubungannya adalah, kalau Bunda Maria adalah ibu literal dari Yesus, dan kalau anggota-anggota Gereja adalah anggota-anggota Tubuh Kristus (secara rohani) maka Bunda Maria adalah ibu spiritual/rohani kita juga.

Ibrani 2:11. Rasul Paulus juga mengajarkan, bahwa jika Tuhan Yesus tidak malu menyebut kita sebagai saudara-Nya, maka sepantasnya kita tidak malu untuk menyebut ibu-Nya sebagai ibu kita. Sebab kita juga memanggil Bapa-Nya, yaitu Allah Bapa, sebagai Bapa kita.

Wahyu 12. Di sini dikisahkan tentang seorang perempuan yang berselubungkan matahari. Orang-orang Kristen setuju bahwa anak dari perempuan ini adalah Kristus, maka ibu dari anak ini adalah Bunda Maria. Memang secara simbolis, dapat saja diartikan bahwa perempuan ini adalah Gereja ataupun bangsa Israel. Namun secara literal, perempuan ini adalah Bunda Maria.  Pada Wahyu 12:17, dikatakan bahwa perempuan itu memiliki “keturunan yang lain yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Dari sini kita ketahui bahwa Bunda Maria merupakan ibu literal dari Yesus, dan ibu spiritual dari Gereja/ umat beriman.

Demikianlah kutipan-kutipan ayat dari Perjanjian Baru yang menjadi dasar interpretasi Gereja Katolik tentang Bunda Maria adalah Bunda Gereja. Dalam hal ini Gereja Katolik memang memegang interpretasi yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, sejak Gereja awal, seperti yang diajarkan oleh St. Ignatius dari Antiokhia (110) dan St. Irenaeus dari Lyon (180-199).

Para pendiri Gereja Protestan juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah:

Martin Luther (Weimer, The Works of Luther, English translation by Pelikan, Concordia, St. Louis, Vol.7, p. 572): “Dalam karya ini, di mana ia [Bunda Maria] dijadikan Bunda Allah, terdapat banyak sekali karunia yang diberikan kepadanya sehingga tak seorangpun dapat memahaminya…. Tak hanya bahwa Bunda Maria adalah ibu dari Dia yang lahir [di Betlehem], tetapi juga ibu Tuhan Yesus, yang berasal dari Allah Bapa,  Ibudari seorang yang terbatas oleh waktu dan pada saat yang sama manusia dan Allah.”

John Calvin (Calvini Opera, Corpus Reformatorum, Braunschweig-Berlin, 1863- 1900 vol.45, p. 348, 335):
“Tidak dapat dipungkiri bahwa Allah dengan memilih Bunda Maria sebagai Ibu dari Putera-Nya, memberikan penghormatan tertinggi kepadanya…. Elisabeth memanggil Maria sebagai Ibu Tuhan, sebab kesatuan dalam Pribadi Yesus antara kedua kodrat Kristus [Allah dan manusia] adalah sedemikian sehingga dapat dikatakan bahwa manusia fana yang dikandung dalam rahim Maria adalah pada saat yang sama Tuhan yang ilahi.”

Ulrich Zwingli (Zwingli Opera, Corpus Reformatorum, Berlin, 1905, in Evang Luc., Op. Comp., vol.6, I, p. 639): “Adalah diberikan kepadanya apa yang tidak dipunyai oleh ciptaan yang lain, bahwa dalam dagingnya, ia [Maria] melahirkan Putera Allah.”

Dari sumber-sumber di atas, dapat diketahui bahwa pengajaran Gereja Katolik bahwa Maria adalah Bunda Allah dan Bunda Gereja sesungguhnya bersumber dari Alkitab. Para pendiri gereja Protestan-pun mengakui Bunda Maria sebagai Bunda Allah; hanya saja mereka tidak mempunyai pandangan yang sama tentang Bunda Maria sebagai Bunda Gereja, yang disebabkan karena mereka memiliki pandangan yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik tentang hakekat Gereja.

2) Mengapa ada perlakuan berbeda dengan St. Yusuf, sebab jika Maria Bunda Gereja maka Yusuf juga bapa Gereja?

Walaupun kita percaya bahwa St. Yusuf juga seorang yang suci, benar dan tulus hati di hadapan Allah (Mat 1:17), namun tidak bisa dipungkiri, perannya dalam rencana keselamatan terbatas sebagai bapa angkat Yesus. Sebab Yesus tidak dilahirkan dari hasil benih St. Yusuf. Namun Yesus lahir dari rahim Maria: tubuh-Nya sebagai manusia ‘mengambil’ tubuh dari Maria sebagai ibu-Nya. Maka peran St. Yusuf tidak akan pernah sama dengan Bunda Maria. Yusuf tidak bisa dikatakan sebagai Bapa Gereja. [Sebab jika analogi ini digunakan maka Kristus menjadi Anak/ Putera Gereja].

Jika kita melihat pengajaran dari Para Bapa Gereja, terutama St. Irenaeus, murid  Rasul Yohanes(180), yang mengatakan bahwa Bunda Maria adalah “Hawa yang Baru” (the New Eve), maka kita akan memahami mengapa Maria disebut sebagai Bunda Gereja. Perbandingan antara Hawa yang lama dan baru adalah sebagai berikut:

– Kepada malaikat yang sesat (Iblis), Hawa yang lama menyatakan ketidaktaatannya kepada Tuhan, sedangkan kepada malaikat Tuhan (Gabriel) Hawa yang baru [Maria] menyatakan ketaatannya kepada Tuhan.
-Hawa yang lama bekerjasama dengan Adam mendatangkan dosa kepada seluruh umat manusia, sedangkan Hawa yang baru [Maria] bekerjasama dengan Kristus mendatangkan keselamatan bagi umat manusia.

Maria hadir selalu dalam sejarah perkembangan Gereja. Ia adalah umat beriman yang pertama, saat ia mengatakan “YA” kepada malaikat Gabriel (Luk 1:38), saat Gereja terbentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Kristus di kayu salib [ini seperti halnya Hawa terbentuk dari rusuk Adam] (Yoh 19:25,34) dan pada saat manifestasi kelahiran Gereja pada hari Pentakosta (Kis 1:14). Maria pula yang hadir mempersatukan perbedaan antara Rasul Petrus dan Paulus, seperti diketahui dari gambar-gambar di katakombe. Maria selalu menyertai para murid, karena sejak Yesus wafat, Rasul Yohanes mengambilnya sebagai ibunya. Dan setelah Bunda Maria wafat dan diangkat ke surga, ia masih menyertai Gereja dengan doa-doanya.

Kita ketahui bahwa St. Yusuf tidak memiliki keterikatan sedemikian dengan Gereja. Ia bahkan telah wafat sebelum terbentuknya Gereja. Maka kita tidak menyebutnya sebagai Bapa Gereja. Ia memang sangat berjasa sebagai bapa angkat Yesus, dan oleh dia maka Yesus disebut sebagai keturunan Daud; namun ia tidak disebut sebagai Bapa Gereja, sebab memang peran yang dijalankannya dalam rencana keselamatan Allah bukan sebagai Bapa Gereja. Yang kemudian disebut sebagai Para Bapa Gereja, adalah para penerus murid-murid Yesus yang berperan besar dalam menjelaskan ajaran-ajaran Gereja, sesuai dengan pengajaran yang mereka terima dari para Rasul.

3) Menurut Alkitab, Kita semua mengakui bahwa “Karena Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” (1 Tim 2:5). Namun memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan pandangan tentang ke-esaan pengantaraan Yesus ini. Bagi umat Kristen Protestan, pengantaraan ini terbatas pada Yesus saja, sedangkan menurut ajaran Gereja Katolik, pengantaraan ini melibatkan juga para orang kudus-Nya, dengan derajat yang berbeda-beda, karena mereka tergabung dalam Tubuh Kristus. Maka dengan prinsip ini diketahui bahwa pengantaraan anggota-anggota Tubuh yang lain itu hanya dimungkinkan oleh Kristus sang Kepala. Prinsip yang sama berlaku dengan pengantaraan Bunda Maria. Segala yang dilakukannya bagi Gereja adalah karena kuasa Yesus dan hanya karena kuasa Yesus. Jadi memang Gereja Katolik memegang ajaran ini bahwa “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh…. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang Satu dan sama yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor 12:4, 11).

Maka walaupun di dalam Alkitab tidak disebutkan urutan tingkatan para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab, tetapi kita secara objektif dapat mengakui bahwa misalnya ada nabi yang utama (major prophets) dan nabi yangminor (minor prophets). Pembedaan ini berlaku dalam studi Alkitab, baik oleh Protestan maupun Katolik. Misal, Nabi Musa, adalah ‘major’, sedangkan Nabi Amos ‘minor’. Namun pembedaan ini tidak untuk mengecilkan yang satu terhadap yang lain seperti dalam tubuh, jantung tidak dapat berkata kepada jari tangan, “Aku tidak butuh kamu.”Hal ini dijelaskan sangat baik oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 12. Maka, sebagai umat beriman kita selayaknya juga mempunyai pengertian demikian. Memang ada bermacam-macam karunia, dan dibagikan kepada tiap-tiap orang tidak sama rata, namun maksudnya adalah agar yang memiliki lebih banyak karunia dapat membagikan dan membangun anggota-anggota yang lainnya. Bukankah pesan ini yang sering kali muncul dalam Akitab? Lihat perumpamaan talenta (Mt 25: 14-30), Luk 12:48, dan Rom 15:1. Di antara segala ciptaan Tuhan, Bunda Maria memang diberi lebih banyak karunia oleh Tuhan [ia disebut sebagai ‘penuh rahmat’ lih. Luk 1:28], karena daripadanya Tuhan mempercayakan tugas yang sangat besar: yaitu melahirkan dan membesarkan Kristus Sang Putera, dan agar menjadi teladan iman bagi para pengikut Kristus. Maka marilah kita dengan rendah hati mengakui peran Bunda Maria yang istimewa ini, bukan untuk memuja Maria sebagai Tuhan, tetapi untuk memuja Tuhan yang telah memberikan karunia yang istimewa ini kepada Bunda Maria, sehingga oleh ketaatannya kita semua memperoleh Kristus.

Apakah Rasul Paulus sombong, sehingga ‘duri’ dalam dagingnya dibiarkan?

9

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera
Ada yang ingin saya tanyakan, mengapa doa PAULUS untuk mencabut duri yang ada dalam dagingnya tidak dikabulkan oleh Allah ?

Sedangkan kalau PAULUS mendoakan hampir semua orang yang sakit dijawab dan orang tersebut disembuhkan.
Mungkinkan disebabkan karena PAULUS terpeleset dalam ucapan seperti yang tertulis :
Turutlah teladanku seperti aku menurut teladan Kristus.

Memang kalimat diatas kalau kita baca sepintas lalu tidak ada yang salah, namun apabila kita renungkan baik2 ada sifat kesombongan tersirat didalamnya, dan Allah tidak berkenan akan hal itu. Dan apakah mungkin karena itu maka doa PAULUS tidak dikabulkan. Sebab Tuhan sendiri menjawab kepadanya : justru didalam kelemahanmulah kuasaKU boleh bekerja.

Seperti MUSA yang kesalahan bicara sedikit saja, maka berakibat fatal Musa tidak boleh masuk ketanah Perjanjian. Sebab Musa tahu banyak tentang Allah, sebab itu Musa dituntut banyak, demikian juga PAULUS. (Itulah kekerasan/ketegasan Allah terhadap dosa).

Jadi kalau begitu apakah kita tidak perlu tahu banyak2 akan rahasia Firman Allah ? tentu saja tidak.
Sebab kalau kita mengerti lebih banyak akan Firman Allah, maka kita bisa mencocokkan hidup ini dengan FirmanNya dengan kehendakNya, dan dengan demikian kita semakin tahu akan rencanaNya didalam kehidupan kita.
Mungkin barangkali PAULUS seharusnya berkata begini :
Turutlah teladan Kristus seperti aku menurut teladanNYA.
Salam
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Izinkan saya meringkas pertanyaan anda:
Anda bertanya mengapa doa Rasul Paulus untuk mencabut duri yang ada dalam dagingnya tidak dikabulkan oleh Allah. Dan anda berpikir bahwa kemungkinan Allah tidak mengabulkannya karena Rasul Paulus ‘terpeleset lidah’ dengan mengatakan ‘Turutilah teladanku’ yang menyiratkan kesombongan sehingga Tuhan tidak berkenan. Anda menghubungkannya dengan Musa yang juga ‘salah bicara’ sehingga Tuhan tidak mengizinkannya masuk ke Tanah Perjanjian.

Berikut ini saya tuliskan apa yang saya ketahui tentang pertanyaan anda:
Pada dasarnya, Gereja Katolik mengajarkan agar jika kita membaca Alkitab, kita harus mengiterpretasikan ayat yang satu dalam kaitannya dengan ayat yang lainnya dalam keseluruhan Alkitab (lihat KGK 112). Kita juga membaca Alkitab dengan terang Tradisi Gereja, dan tulisan dari Bapa Gereja. (KGK 113). Dengan prinsip ini, maka kita merenungkan ayat tersebut:
1) Apakah itu artinya ‘duri’ dalam daging Rasul Paulus (lih. 2 Kor 12:7-9)

  • Dalam A Catholic Commentary on Holy Scripture ed. Dom Orchard, p.1110 dikatakan bahwa duri dalam daging tersebut kemungkinan adalah penyakit, seperti yang disebutkannya dalam Gal 4:13-14. Kemungkinan penyakitnya adalah nervous disorder/kelainan yang menyebabkan gugup, opthalmia/ kelainan mata, dan malaria. Utusan Iblis yang disebutkan di sini mengacu kepada kenyataan bahwa segala bentuk kelainan dan penyakit dihubungkan dengan Iblis.
  • Dalam The Navarre Bible, the Letters of St Paul, p. 341, dikatakan bahwa St.Paulus menunjukkan kerendahan hatinya, dengan mengatakan bahwa Tuhan mengizinkan ia mengalami hal ini agar ia tidak menjadi sombong walaupun ia banyak dikaruniai karunia-karunia supernatural. Adalah tidak mungkin untuk memastikan apakah arti persis dari ‘duri dalam daging ini’, dan berikut ini pandangan para Bapa Gereja:
    – St. Augustinus: ‘duri’ ini mengacu pada penyakit tubuh yang memalukan(lih. Gal 4:13-14)
    – St. Yohanes Krisostomus: ‘duri’ ini mengacu pada penderitaan/ sakitnya selama penganiayaan.
    – St. Gregorius Agung: ‘duri’ ini mengacu pada pencobaan yang mengganggu hati nurani.
    Kenyataan bahwa Tuhan tidak mengabulkannya, karena Ia ingin menunjukkan pada Rasul Paulus bahwa dalam kelemahan dan penganiayaan yang dialaminya, ia malah menjadi kuat, dengan adanya berkat supernatural dari Tuhan.
    – St. Thomas Aquinas dalam komentarnya pada perikop ini, mengajarkan bahwa ada kalanya Tuhan mengizinkan terjadinya kejahatan (evil) untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar: contohnya, agar menjaga orang dari kesombongan [yaitu dosa yang terbesar], Ia sering mengizinkan orang-orang pilihan-Nya untuk ‘dipermalukan’ dengan penyakit, kelemahan, atau bahkan dengan dosa berat, supaya orang yang diajar untuk rendah hati tersebut dapat menyadari bahwa ia tak dapat berdiri teguh dengan usahanya sendiri….

Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Allah membiarkan ‘duri dalam daging’ Rasul Paulus, dengan maksud untuk mengajarkan kepadanya dan kepada kita semua untuk rendah hati dan mengakui bahwa kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri dalam segala sesuatu. St. Alfonsus mengajarkan sehubungan dengan ayat ini, sebagai berikut:
“Kita harus bermegah di dalam pengetahuan akan kelemahan kita sendiri, agar kita dapat memperoleh kekuatan yang berasal dari Kristus, yaitu kerendahan hati yang kudus, tanpa menyerah ke dalam kekurangan kepercayaan diri, seperti yang diinginkan Iblis, dan jatuh ke dalam dosa yang lebih serius.” (St. Alfonsus, Treasury of Preaching Material, 2,6, seperti yang dikutip oleh the Navarre Bible, the Letters of St. Paul, (New York: Scepter Publishers, 2003, p. 342).

2) Namun apakah ‘duri’ dalam daging ini merupakan ‘hukuman’ karena Rasul Paulus ‘terpeleset lidah’/ sombong dengan mengatakan “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Kor 11:1)?
Sebenarnya selayaknya kita tidak terlalu cepat beranggapan demikian. Mari kita melihat konteks kalimat tersebut. Perkataan Rasul Paulus itu diucapkannya sesudah pengajarannya tentang hal makanan sembahyangan. Ia mengajarkan agar kita jangan jadi batu sandungan dalam hal makan dan minum (lih. 1 Kor 10:18-33), baik terhadap orang Yahudi maupun Yunani. Dia mengajarkan agar umat tidak berpartisipasi dalam persembahan kepada roh-roh jahat (ay. 20-22), namun umat dapat tetap memakan daging yang dibeli di pasar walaupun mungkin itu berasal dari daging persembahan kuil, [asalkan umat tak terlibat dalam mempersembahkan kurban di kuil], dan sepanjang tidak menjadi batu sandungan dari orang lain. Karena pada dasarnya semua makanan adalah baik dan berkat dari Tuhan.
Hal ini memang khas ajaran Rasul Paulus, dan ia mengambil prinsip pengajaran dari Kristus, “bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Mat 15:11).
Maka jika kita melihat konteksnya, sebenarnya kita dapat melihat bahwa nampaknya maksud Rasul Paulus bukan untuk menyombongkan diri. Ia hanya mau menjelaskan pengajaran yang relevan pada saat itu di Korintus, (yang pada jaman Kristus hidup belum secara rinci diajarkan) dengan mendasarinya dengan prinsip pengajaran Kristus. Maka ‘jadilah pengikutku’ di sini maksudnya adalah untuk menanggapi masalah yang terjadi saat itu, di mana ia mendasari sikapnya dari ajaran Kristus. Lebih lanjut tentang diskusi perihal makanan sembahyangan ini, dapat dilihat di sini (silakan klik).
Dari kedua buku referensi di atas, ada satu hal yang perlu kita kita ketahui: yaitu bahwa ayat 2 Kor 12:7-9 itu berkaitan dengan ayat sebelumnya yaitu 2 Kor 12:2-6. Dikatakan di sana bahwa Rasul Paulus mengetahui seseorang yang diangkat ke sorga empat belas tahun yang lalu. Para Bapa Gereja tidak meragukan bahwa yang dibicarakan di sini adalah diri Rasul Paulus sendiri. Rasul Paulus hanya tidak mengatakannya, justru karena ia ingin merendahkan diri, supaya jangan sampai orang memperhitungkan kepadanya lebih dari yang mereka lihat padanya (ay. 6). Pengalaman istimewa ini terjadi kemungkinan pada tahun 43-44, saat Rasul Paulus tinggal di Tarsus (lih. Kis 9:30), Antiokhia (Kis 11:25-dst, 13:1-3) atau di Yerusalem (Kis 11:30). Kita ketahui bahwa kalau orang tidak rendah hati dan kudus, tidak mungkin ia dapat melihat Allah (lih. Ibr.12:14). Justru karena pengalaman spiritual yang istimewa inilah maka, sesudahnya, Allah membiarkan tetap adanya kekurangan dalam tubuh Rasul Paulus, agar ia tetap tinggal dalam kerendahan hatinya.

3) Apakah Musa juga ‘salah bicara’ sehingga dihukum Tuhan?
Musa menerima konsekuensi tidak dapat masuk ke Tanah Terjanji, karena kurang percaya dan tidak taat. Kurang percayanya Musa nampak ketika ia mengeluh kepada Allah tentang sikap bangsa Israel terhadapnya. Mazmur 106: 32-33 mengatakan, “Mereka (orang Israel) menggusarkan Dia (Allah) dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya.”
Namun juga, ketidaktaatan Musa nampak pada waktu ia tidak menaati persis apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk mendatangkan air dari batu di Meribah. Tuhan memerintahkan pada Musa untuk ‘menyuruh’ batu itu (dalam Bil 20:8-dst, katakanlah … kepada batu itu)  untuk mengeluarkan air di depan bangsa Israel, namun yang dilakukan oleh Musa adalah ia memukulkan tongkatnya dua kali atas batu itu (ay. 11), dan akibatnya Allah mengatakan, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku…. di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa mereka ke negeri yang Kuberikan kepada mereka.” (ay.12).

Namun demikian, jangan kita lupa bahwa Musa merupakan seorang nabi yang besar. Dikatakan dalam Kitab Suci bahwa hanya dengan Nabi Musalah Allah berhadapan muka, dan tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel yang melakukan tanda dan mukjizat dengan segala kekuatan dan kedasyatan seperti yang dilakukan oleh Musa di depan bangsa Israel (lih. Ul 34:10-12).

Saya pribadi, jika merenungkan tokoh-tokoh Alkitab, merasa bahwa betapa jauhnya saya jika dibandingkan dengan mereka dalam hal iman dan kasih mereka kepada Allah. Terus terang, saya tidak berani mengkritik mereka, sebab saya tahu bahwa meskipun sama-sama manusia biasa, mereka jauh lebih kudus daripada kebanyakan dari kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

PS: Melalui pengalaman Rasul Paulus ini memang Tuhan mengajarkan pada kita untuk berdoa dengan sikap batin yang baik. Silakan membaca rangkaian artikel berikut tentang doa ini:

Doa menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan seorang Kristen. Namun ada tiga kesalahan persepsi tentang doa yang dinyatakan oleh St. Thomas Aquinas. Tiga kesalahan tersebut dapat dilihat pada tulisan berikut ini: 1) Tuhan tidak campur tangan, 2) Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga doa tidak diperlukan, 3) Kita dapat merubah keputusan Tuhan dalam doa. Kemudian sebagai kesimpulan dijelaskan 4) konsep doa dengan mengambil definisi doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus.

Apa itu “Implicit desire for Baptism?”

10

Pertanyaan:

Pak Stef & bu Ingrid, Saya ada keraguan dan mohon penjelasan: 1. KGK-1259 saya dapat mengerti, karena katekumen yg meninggal pasti punya explicit desire untuk dibaptis sebelum meninggal, sehingga mendapat keselamatan. 2. KGK-1260: ini yg membuat saya agak bingung. Untuk orang yg tidak kenal Injil & Gereja, “…but seeks the truth and does the will of God in accordance with his understanding of it,” apakah sudah cukup untuk selamat ? Tetapi kenapa di pasal ini ditambah kalimat: “It may be supposed that such persons would have desired Baptism explicitly if they had known its necessity.” ? Kalimat di Catechism masih lunak, di sini saya masih bisa memaksa diri mengerti, yaitu: kita punya dugaan positif terhadap orang tsb, kalau mengerti perlunya baptis pasti mau dibaptis. Di Catholic Encyclopedia definisi untuk “baptism of desire” lebih keras: “… is a perfect contrition of heart, and every act of perfect charity or pure love of God which contains, at least implicitly, a desire (votum) of baptism.”. Apakah “contrition of heart and charity” saja tidak cukup? Harus ditambah “love God”, dan lagi HARUS ada “implicit desire” untuk dibaptis? Apakah maksud “IMPLICIT DESIRE” ini, kenapa tidak ada di Catechism tapi banyak Paus juga menyebutnya? Misal: “Further the Catechism of Pope St. Pius X states that “The absence of Baptism can be supplied by martyrdom, which is called Baptism of Blood, or by an act of perfect love of God, or of contrition, along with the desire, at least IMPLICIT OF BAPTISM, and this is called Baptism of Desire”. Apakah pendeta-2 Budha di kuil terpencil yang berusaha menjalankan dharma dgn sempurna, tapi punya konsep ttg God berbeda dengan iman Kristiani, tidak pernah dengar Kristus, Gereja, dan Baptism sehingga tidak punya “implicit desire” untuk dibaptis (karena tidak tahu apa itu Baptis, Gereja, maupun Kristus) menurut Gereja apakah mereka dapat selamat ? Juga, bagaimana orang yang berusaha berbuat baik / charity karena memegang nilai2 leluhur, tetapi tidak begitu peduli / ingin tahu ttg Tuhan, bisa selamat? 3. Sebenarnya , mana yg utama: a) berusaha membuat orang tsb mau dibaptis b) mengajak orang tsb berbuat baik / kasih ? bukankah St.Yohanes berkata “setiap orang yg mengasihi tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia… Sebab Allah adalah kasih”? Kenapa Gereja seolah menambah: Kasih saja tidak cukup, harus ada “at least implicit desire for baptism”? Demikian pertanyaan saya, maaf kalau terlalu panjang. Saya ingin bertanya ini bukan sekedar ingin tahu, tetapi menurut saya ini berhubungan dengan pandangan hidup kita. Sekali lagi, terima kasih.

[Dari Admin: komentar berikut ini digabungkan]

maaf ada tambahan:
saya dapat dari website, kutipan dari St.Thomas Aquinas, juga menekankan pentingnya “implicit desire”:

St. Thomas Aquinas when speaking of the salvation of infidels states that “Granted that everyone is bound to believe something explicitly, no untenable conclusion follows even if someone is brought up in the forest or among wild beasts. For it pertains to divine providence to furnish everyone with what is necessary for salvation, provided that of his part there is no hindrance. Thus, if someone so brought up followed the direction of natural reason in seeking good and avoiding evil, we must most certainly hold that God would either reveal to him through internal inspiration what had to be believed, (in which case a desire for baptism would still be necessary) or would send some preacher of the faith to him as he sent Peter to Cornelius (Acts 10:20).”

Dan, tentang hal-hal berikut, saya lebih pusing lagi…. mohon pencerahan:

It is only with a proper understanding of the faith that we are able to put the Church’s teaching on this issue in its proper context, without avoiding excess or defect. For that same reason, it is worth noting that the Church has always condemned the following as errors opposed to the faith:[30]

First error: “Every man is free to embrace and profess that religion which, guided by the light of reason, he shall consider true.” (Proposition XV).

Second error that: “Man may, in the observance of any religion whatever, find the way of eternal salvation and arrive at eternal salvation.” (Proposition XVI).

Third error: “Good hope at least is to be entertained of the eternal salvation of all those who are not at all in the true Church of Christ.” (Proposition XVII).

Fourth error: “Protestantism is nothing more than another form of the same true Christian religion, in which form it is given to please God equally as in the Catholic Church.” (Proposition XVIII).
wah … jadi orang Katolik saja, dan at least “yang ingin jadi Katolik eksplisit atau implisit (takut karena di lingkungan tdk kondisif)” SAJA yang bisa selamat?

Fxe

Jawaban:

Shalom Fxe,
Menurut ajaran Gereja Katolik, “Impicit desire for Baptism” atau yang diterjemahkan menjadi keinginan tersembunyi untuk dibaptis memang menjadi syarat agar seseorang untuk dapat diselamatkan, walaupun mungkin ia tidak tahu persis seperti apa itu Baptisan yang disyaratkan Allah. Orang yang termasuk dalam katagori ini adalah orang yang membenci dosa (Kis 2:38), dan mau bertobat akan segala kesalahannya, dan mereka yang dengan segenap hatinya mencari Tuhan dan mau taat melaksanakan kehendak-Nya dengan melaksanakan hukum kasih (lihat Yak 2:17, 2:24 -6, Yoh 14:15, 1 Kor 13:2). Maka di sini memang, diperlukan ‘a perfect contrition‘ (penyesalan/ pertobatan yang sungguh), dan ‘acts of perfect charity or pure love of God‘ yang maksudnya tindakan kasih yang sempurna yang didasari oleh kasih yang murni kepada Tuhan. Misalnya jika ia membantu orang miskin, maksudnya harus demi kasihnya kepada Tuhan, dan bukan agar dihargai oleh orang lain. Jadi walaupun istilah ‘implicit desire‘ ini tidak disebut secara khusus dalam Katekismus, namun maknanya tertulis di sana, yaitu:

KGK 1260 “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu” (GS 22) Bdk. LG 16; AG 7.. Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.
Kalimat tersebut (yang diberi garis bawah) menjelaskan makna ‘implicit desire for Baptism‘.

Oleh karena itu ‘implicit desire for Baptism‘ memang diajarkan oleh para Bapa Paus, contohnya Paus St. Pius X, yang mengajarkan sesuai juga dengan pengajaran St. Thomas Aquinas, bahwa, ketiadaan Pembaptisan [dengan air] hanya dapat diisi dengan Kemartiran (Baptism of Blood/ Baptis darah) dan kasih yang murni kepada Allah, penyesalan/ pertobatan, dan sedikitnya keinginan untuk dibaptis (Baptism of Desire/ Baptis rindu).
Nah sekarang pertanyaannya:
1) Bagaimana dengan para pendeta Buddha yang terpencil, yang telah berusaha menjalankan dharma dengan sempurna, namun punya konsep Tuhan yang berbeda dengan iman Kristiani, tidak pernah dengar tentang Kristus dan Gereja-Nya?
Memang, akan sulit bagi orang yang tidak pernah mendengar tentang Tuhan Yesus dan Gereja Katolik akan mempunyai keinginan untuk dibaptis, sebab mereka tidak tahu apa itu baptisan. Tetapi sesungguhnya, menurut St. Thomas, kerinduan untuk dibaptis itu dapat dinyatakan dengan keinginan yang sungguh untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Berikut ini adalah kutipan St. Agustinus dalam De Baptismo, IV.25,32, yaitu bahwa St. Agustinus menghubungkan antara Pembaptisan dan pertobatan untuk kembali kepada Tuhan. Ia mengajarkan bahwa jika keduanya tidak dapat dilakukan, maka salah satu dapat menjadi cukup pada kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan. Misalnya, jika anak kecil yang sudah dibaptis meninggal dunia, sebelum ia mencapai usia akal/ “the age of reason” yang memungkinkannya menggunakan akal untuk bertobat, maka anak itu tetap dapat diselamatkan. Demikian pula, jika seorang dewasa sungguh-sungguh bertobat sebelum meninggal, namun tak mungkin baginya untuk mengenal Kristus dan Gereja, dan asalkan ia tidak dalam bentuk apapun membenci sakramen baptis, maka ia dapat diselamatkan. Jika orang tersebut sungguh-sungguh dalam kapasitasnya mengasihi Allah, dan karena Allah adalah Kasih dan kebenaran, maka sesungguhnya dapat saja ia mempunyai tobat sejati, dan jika ia dipenuhi oleh kasih, maka ia tidak akan membenci orang lain, ataupun membenci sakramen Pembaptisan. Masalahnya di sini memang, tidak ada yang tahu persis, apakah orang itu sungguh bertobat, dan tidak membenci Pembaptisan, dan apakah benar bahwa memang tidak ada kemungkinan/ jalan baginya untuk dapat mengenal Kristus dan Gereja Katolik. Namun, di atas semuanya itu, kita juga perlu menyadari bahwa pada akhirnya urusan penentuan keselamatan ini merupakan sepenuhnya hak Tuhan, dan Tuhan yang paling memahami hati semua orang.

2) Bagaimana orang yang memegang nilai-nilai leluhur tetapi tidak ingin tahu tentang Tuhan, apakah bisa selamat?
Sebenarnya di sini kata kuncinya adalah, apakah orang itu mengakui dahulu ada “Seseorang/ Sesuatu” di atas dirinya, dan apakah orang itu dengan kapasitas yang dimilikinya telah mencari dengan segenap hatinya, untuk mengenal “Seseorang/ Sesuatu”, yang adalah Tuhan, di atas dirinya itu. Karena sesungguhnya, entah seseorang itu pengikut Kristus atau bukan, setiap orang diberi oleh Tuhan keinginan untuk mengenal dan mengasihi Penciptannya. Namun, Tuhan juga memberi kesempatan pada manusia untuk memilih bekerja sama dengan rahmat itu atau tidak. Jika manusia memilih untuk sama sekali tidak bekerja sama dengan rahmat itu, maka ia tidak diselamatkan, karena ia menutup diri sendiri terhadap Allah yang menyelamatkan.

3) Mana yang lebih utama, mengajak seorang untuk mau dibaptis atau mengajak orang tersebut berbuat baik/ kasih? Sebenarnya, dengan definisi di atas, kedua hal ini mengacu kepada sumber yang sama. Sebab sesungguhnya kasih yang murni kepada Allah akan membawa seseorang kepada keinginan untuk mengikuti semua pengajaran-Nya, dan kalau ia mengetahui bahwa Allah menginginkan bahwa Pembaptisan adalah jalannya, maka orang tersebut akan dengan keterbukaan hati menaatinya. Dalam hal ini, niat untuk berbuat kasih mudah-mudahan dapat menghantarnya kepada Kasih yang sesungguhnya yaitu Kristus. Untuk memutuskan ajakan yang pertama atau kedua, kita perlu mempertimbangkannya dengan kebijaksanaan kita (prudence), mana yang paling tepat pada situasi tertentu. Misalnya jika pada orang tua yang sudah sakit-sakitan, memang menurut saya, lebih baik ‘to the point‘ saja, mengajak apakah ia mau dibaptis, sebab waktu yang tersedia baginya untuk mencari Tuhan mungkin sudah terbatas. Namun tentu, hal ini juga harus dilakukan dengan kasih dan tidak memaksa, dan dengan menceritakan terlebih dahulu kepadanya makna Pembaptisan dan pengajaran pokok-pokok iman Katolik (seperti yang ada dalam syahadat). Namun, jika misalnya kepada orang muda yang kritis dan banyak mempertanyakan masalah keimanan, kita tidak perlu ‘terburu-buru’ untuk mengajak mereka untuk dibaptis [walaupun jika kita sudah mengenalnya dengan baik dan saatnya kita pandang tepat, maka kita dapat melakukannya]. Dalam hal ini mungkin teladan hidup kita yang baik, akan jauh lebih berbicara daripada segala ajakan langsung agar ia dibaptis. Prinsipnya, kita percaya bahwa rahmat Tuhan sendiri akan memimpin orang itu untuk sampai kepada kepenuhan kebenaran. Maka, dalam hal ini kita dapat terus membawanya dalam doa.
Jadi kita ketahui sebenarnya kedua hal di atas (ajakan untuk pembaptisan dan ajakan berbuat kasih) sesungguhnya sangat berkaitan dan tak terpisahkan. Jika kita mengajak seseorang untuk dibaptis, selayaknya ini diimbangi dengan mengajaknya untuk berbuat kasih, dan sebaliknya ajakan untuk berbuat baik/ kasih, harus dibarengi dengan teladan hidup kita yang penuh kasih, agar mereka pada waktunya dapat tertarik untuk dibaptis.

4) Kenapa walaupun Rasul Yohanes mengatakan, “setiap orang yg mengasihi tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia… Sebab Allah adalah kasih” – Gereja masih menambahkan “at least implicit desire for baptism“?
Sebenarnya, Gereja bukannya menambahkan syarat, sebab yang mensyaratkan pembaptisan adalah Tuhan Yesus sendiri, seperti yang tertulis dalam Yoh 3: 5, “…sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah.” Dengan perkataan Yesus ini, kita mengetahui betapa pentingnya Pembaptisan bagi keselamatan kita, sebab tanpanya kita tidak dapat masuk Kerajaan Allah. Begitu pentingnya hal Pembaptisan ini, sehingga Gereja tidak dapat menghilangkan persyaratan ini. Maka Gereja mengajarkan bahwa jika seseorang tidak dapat secara eksplisit menginginkan Pembaptisan, minimal ia harus mempunyai keinginan implisit.

Baptisan sendiri di sini adalah merupakan sakramen/ tanda Ilahi yang menunjukkan bahwa keselamatan bukan semata-mata usaha manusia, dan bukan diperoleh karena jasa manusia melakukan perbuatan baik. Keselamatan adalah pertama-tama rahmat/ pemberian Tuhan (Ef 2:5, 8), dan pemberian rahmat ini adalah dengan cara Pembaptisan.

5) Implicit desire menurut St. Thomas, apa maksudnya?

St. Thomas Aquinas when speaking of the salvation of infidels states that “Granted that everyone is bound to believe something explicitly, no untenable conclusion follows even if someone is brought up in the forest or among wild beasts. For it pertains to divine providence to furnish everyone with what is necessary for salvation, provided that of his part there is no hindrance. Thus, if someone so brought up followed the direction of natural reason in seeking good and avoiding evil, we must most certainly hold that God would either reveal to him through internal inspiration what had to be believed, (in which case a desire for baptism would still be necessary) or would send some preacher of the faith to him as he sent Peter to Cornelius (Acts 10:20).

Terjemahannya kurang lebih adalah: menurut St. Thomas, setiap orang harus mengimani sesuatu secara eksplisit, dan ini berlaku pada semua orang, entah ia dibesarkan di hutan atau dikelilingi binatang. Sebab sudah menjadi bagian dari kebijaksanaa Ilahi untuk memperlengkapi setiap orang dengan pengetahuan akan apa yang diperlukan untuk mencapai keselamatan, asalkan tidak ada penolakan dari pihak orang itu sendiri. Jadi jika seseorang dibesarkan dengan mengikuti arahan akal budi untuk mengejar sesuatu yang baik dan menghindari yang jahat, maka kita musti yakin bahwa Tuhan akan berbuat dua hal terhadap orang tersebut: entah Tuhan akan menyatakan sendiri dalam hati orang itu melalui dorongan/ inspirasi untukmempercayai apa yang seharusnya dipercaya, (dalam hal ini keinginan untuk dibaptis juga termasuk di dalamnya) atau Tuhan akan mengirimkan kepadanya seorang hamba Tuhan, seperti ketika ia mengirimkan Rasul Petrus kepada Kornelius (Kis 12:20).

Jadi St. Thomas hanya ingin menunjukkan bahwa, keinginan untuk mempercayai Tuhan dengan segenap hati seharusnya juga sampai kepada keinginan untuk memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan Allah untuk mencapai keselamatan.

6) Pernyataan kesalahan persepsi tentang Keselamatan, yang diajarkan oleh Paus Pius X dalam Principal errors concerning the Church, Syllabus, Dec. 8, 1884″

First error: “Every man is free to embrace and profess that religion which, guided by the light of reason, he shall consider true.” (Proposition XV).

Kesalahan #1: “Setiap orang bebas untuk memeluk dan menyatakan agamanya, sesuai dengan terang akal, yang ia anggap benar.”
Artinya, sesungguhnya orang tidak boleh hanya mengandalkan akal semata-mata untuk menentukan agamanya. Jika hanya akal saja patokannya, maka seseorang tidak dapat dianggap benar. Sebab dalam pencarian kebenaran, akal dan iman harus berjalan bersama-sama, seperti yang diajarkan juga oleh Paus Yohanes Paulus II dalam pembukaan surat ensikliknya Fides et Ratio, “Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth.” Artinya akal harus dibarengi oleh iman, baru seseorang dapat mencapai kepada kebenaran yang menghantar kepada keselamatan.

Second error that: “Man may, in the observance of any religion whatever, find the way of eternal salvation and arrive at eternal salvation.” (Proposition XVI).

Kesalahan #2:”Manusia boleh, dengan memenuhi kewajiban agama manapun, dapat menemukan jalan keselamatan dan sampai pada keselamatkan kekal.”
Artinya,  keselamatan itu bukannya sesuatu yang diperoleh sebagai ‘gaji’/ wage yang harus dibayarkan oleh majikan kepada pelayannya. Sebab jika demikian, hubungannya adalah seolah-olah Tuhan berhutang dengan manusia: kalau manusia melakukan tugasnya maka ia layak diberi upah keselamatan. Menurut Alkitab, keselamatan adalah semata-mata rahmat Tuhan. “Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman: itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Ef 2:8-9).

Third error: “Good hope at least is to be entertained of the eternal salvation of all those who are not at all in the true Church of Christ.” (Proposition XVII).

Kesalahan #3: “Ada pengharapan yang baik untuk memperoleh keselamatan kekal bagi semua orang yang tidak dalam Gereja sejati yang didirikan Kristus.”
Artinya, bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen dapat memperoleh keselamatan. Sebab sekarang terdapat banyak sekali jenis gereja, yang mengaku Kristen, namun bahkan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Dalam keadaan demikian, mereka tidak dapat dikatakan memiliki kemungkinan besar untuk diselamatkan, terutama jika kemudian ada faktor mengeraskan hati untuk menerima kebenaran yang ditawarkan oleh Tuhan. St. Agustinus mengajarkan, bahwa sebagai orang Kristen kita harus menginginkan persatuan umat Kristen, dan jika ini diabaikan, dengan memisahkan diri dengan kesatuan Gereja, maka ia dapat dikatakan tidak lagi memiliki kasih yang murni kepada Allah. St. Agustinus mengatakan, “Those who do not love the unity of the Church do not have the love of God in them.” (De Baptismo, III, 16,21). Dan kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan dengan Gereja Katolik, sebab Gereja sebagai Tubuh Kristus dan Mempelai Kristus hanya ada satu. Ia mengatakan, “The Catholic Church alone is the Body of Christ…. (Epistle 185, 11). Maka, sekarang terpulang kepada sikap batin para saudara kita yang non-Katolik, jika bukan karena kesalahannya mereka tidak menjadi anggota Gereja Katolik, [misalnya dibesarkan dalam gereja Protestan], sejauh mana mereka juga menginginkan persatuan Gereja, dan memandang kita umat Katolik sebagai saudara dalam Kristus.

Vatikan II menjelaskan hubungan antara gereja-gereja Protestan dengan Gereja Katolik sebagai saudara, namun tidak dalam persatuan sempurna. Vatikan II, dalam Unitatis Redintegratio 3, mengatakan:

“Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja katolik, kadang-kadang bukan karena kesalahan kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja katolik, baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, persekutuan gerejawi yang sepenuhnya terhalang oleh cukup banyak hambatan, diantaranya ada yang memang agak berat. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus[17]]. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan[18]]……

Oleh karena itu Gereja-Gereja[19]]dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.

Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah. Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.”

Fourth error: “Protestantism is nothing more than another form of the same true Christian religion, in which form it is given to please God equally as in the Catholic Church.” (Proposition XVIII).

Kesalahan #4: “Gereja Protestan adalah sebuah bentuk agama Kristen, yang dibentuk untuk menyenangkan hati Tuhan, sama dengan Gereja Katolik.”
Maksudnya, disini tidak mungkin fakta perpecahan Gereja merupakan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan. Tuhan Yesus sendiri dalam doanya menjelang sengsara-Nya, berdoa untuk persatuan Gereja, “Aku berdoa, ….untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka [para rasul], supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (Yoh 17: 20-21).
Vatikan II, dalam Unitatis Redintegratio 1 mengatakan:
Sebab yang didirikan oleh Kristus Tuhan ialah Gereja yang satu dan tunggal. Sedangkan banyak persekutuan kristen membawakan diri sebagai pusaka warisan Yesus Kristus yang sejati bagi umat manusia. Mereka semua mengaku sebagai murid-murid Tuhan, tetapi berbeda-beda pandangan dan menempuh jalan yang berlain-lainan pula, seolah-olah Kristus sendiri terbagi-bagi [1]]. Jelaslah perpecahan itu terang-terangan berlawanan dengan kehendak Kristus, dan menjadi batu sandungan bagi dunia, serta merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk.

Maka dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa saudara-saudari kita yang beragama Kristen Protestan, jika karena invincible ignorance (ketidaktahuannya) akan pengajaran Gereja Katolik namun hidup sesuai dengan pimpinan hati nuraninya, maka ia dapat diselamatkan. Tulisan tentang ini sudah pernah dijawab oleh Stef di sini (silakan klik).
Demikianlah Fxe, yang dapat saya tuliskan sehubungan dengan pertanyaan anda. Semoga saya menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab