Home Blog Page 294

Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-2)

75

Apakah tanda-tanda akhir jaman?

Injil Matius (terutama Mat 24) dan juga kitab Wahyu menuliskan tentang akhir jaman. Kita perlu membaca ayat-ayat tersebut dengan cermat, sebab sebagian dari ayat-ayat Mat 24 telah terjadi sebelum kehancuran Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 AD, dan sebagian lagi dari ayat-ayat itu mengacu pada akhir jaman. Dan ada juga tanda-tanda yang mengacu pada keduanya. Mari kita melihat satu-persatu. ((Sumber: Spirago- Clark, The Catechism Explained, A Practical Manual, (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc, 1899, 1921, 1993) p. 273-274; Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics: The End of Time, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars), p. 3-5. )):

1. Kerajaan seribu tahun/ Milennium (berdasarkan Why 20).

“[Seorang malaikat] menangkap naga, si ular itu, yaitu Iblis dan Setan, dan mengikatnya seribu tahun lamanya….. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus… hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun…. Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa…” (Why 20:1-8)

Gereja Katolik tidak secara khusus mendefinisikan Millennium ini, namun mengambil patokan dari pengajaran St. Agustinus, yang menginterpretasikan secara allegoris, yaitu mengartikan 1000 tahun ini sebagai simbol, sebagai ‘jangka waktu yang cukup lama’, sebagaimana teks angka ‘1000’ yang lain dalam Alkitab merupakan simbol dari jumlah yang banyak/ ribuan. ((Lihat Mzm 50:10 dan Dan 7:10: seribu dan beribu-ribu di sini maksudnya adalah banyak sekali)) Seribu tahun kejayaan ini di mana Iblis diikat dan para kudus memimpin bersama Kristus ini sebagai Gereja Katolik yang masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebarkan nilai-nilai Injil. Jadi seribu tahun kejayaan ini mengacu pada era Kekristenan. Pengikatan Iblis selama 1000 tahun ini dikaitkan dengan perumpamaan yang diajarkan oleh Kristus tentang orang kaya yang diikat: …Bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang yang kuat itu? Sesudah diikatnya, barulah dapat ia merampok rumah itu.” ((Mat 12:29, lihat St. Augustine, City of God, book XX, chap. 8.)) Kristus telah mengikat Iblis dengan korban sengsara dan salib-Nya. Namun demikian, Iblis terus berusaha mempengaruhi banyak bangsa, walaupun akhirnya mereka berangsur ‘tunduk’ dengan menerima nilai-nilai Injil dan pertobatan.

Maka, ke 1000 tahun tersebut adalah untuk diartikan sebagai simbol, yang mengacu pada arti jangka waktu yang lama antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua. Namun menjelang akhir jaman, terjadi pelepasan ikatan Iblis, yang dihubungkan dengan kejayaan singkat suatu kesesatan/apostasy yang besar yang memuncak pada kejayaan Anti-Kristus. Pada saat inilah Gereja akan mengalami pencobaan yang hebat (lihat Why 20:7-9, KGK 675).

Gereja Katolik menolak untuk mengajarkan pandangan mengartikan 1000 tahun itu sebagai sesuatu masa yang literal. Hal ini dinyatakan secara tegas pada pernyataan Congregation for the Doctrine of the Faith di Roma pada tahun 1944, bunyinya sebagai berikut:

In recent times, on several occasions this Supreme Sacred Congregation of the Holy Office has been asked what must be thought of the system of mitigated Millenarianism, which teaches for example, that Christ the Lord before the final judgment, whether or not preceded by the resurrection of the many just, will come visibly to rule over this world. The answer is: The system of mitigated Millenarianism cannot be taught safely.” ((Congregation for the Doctrine of the Faith, Decree of 19 July 1944, DS, 3839.))

Kelihatannya pernyataan ini sulit, tetapi maksudnya sebenarnya sederhana: sebagai orang Katolik, kita menolak doktrin yang mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua, maka Kristus akan datang lagi sebagai manusia dalam sejarah manusia, untuk memimpin kerajaan-Nya di dunia.

2. Kebangkitan Antikristus (1Yoh 2:18-23, 2Tes 2:3-4, Why 13, KGK 675-676)

“Seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus…” (1 Yoh 2:18)

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan berbagai cara…Sebab sebelum Hari itu, haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa…. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mikjizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat…” (2Tes 2:3-10)

Antikris adalah seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Kristus, dan dengan bantuan Iblis akan melakukan banyak mukjizat untuk menarik banyak orang (lih. 2Tes 2:9-10) dan ia akan menganiaya Gereja (lih. KGK 675). Antikristus ini juga disebut oleh Rasul Paulus sebagai “manusia durhaka” atau yang disebut dalam kitab Wahyu sebagai “binatang yang keluar dari dalam laut” yang disembah sebagai nabi palsu.

3. Penyesatan secara besar-besaran (2Tes 2-3, Why 13:3, Mat 24:11-12 dan Luk 18:8).

“Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8)

Alkitab mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi banyak orang meninggalkan iman Kristiani. Banyak orang akan tertipu oleh nabi-nabi palsu, terutama nabi palsu yang terakhir, yaitu, Antikristus.

4. Pertobatan bangsa Yahudi (Rom 11)

“Aku mau kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan…” (Rom 11:25-26)

Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa bangsa Israel akan akhirnya menerima Yesus sebagai Sang Mesias.

5. Pemberitaan Injil sampai ke ujung dunia (Mat 24:14)

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat 24:14)

Maksudnya, ini bukan hanya penyiaran Injil melalui mass-media dan internet, namun merupakan penanaman nilai-nilai Injil di setiap bangsa.

6. Tampaknya tanda Kristus [dimengerti sebagai tanda salib] di langit (Mat 24:30)

“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit…” (Mat 24:30)

7. Tanda-tanda yang menakutkan di langit, bencana alam yang dashyat dan kerusakan hebat yang disebabkan oleh manusia (Mat 24: Luk 21:25-26).

“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Mat 24: 29)

“Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang. Dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelombang laut…” (Luk 21:25)

8. Kemenangan Kristus di dunia tidak terjadi oleh karena kemajuan yang terus menerus oleh kemenangan historis Gereja (lih. Why 3:18), tetapi oleh kemenangan Allah dalam perjuangan akhir melawan Si jahat (lih. Why 20:7-10).

Dapatkah kita mengetahui waktu kedatangan Yesus yang kedua kali?

Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua (Mat 24:42). Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua ini sifatnya seperti pencuri, dan tak pernah dapat diketahui (lih. Mat 25: 13. Luk 17:22-35, 1 Tes 5:2 dan 2 Pet 3:10). Hal ini juga dinyatakan dengan jelas dalam KGK 673 dan KGK 1040), bahwa hanya Tuhan saja yang mengetahui kapan saatnya kedatangan Yesus yang kedua tersebut.

Jika kita teliti tanda-tanda yang diberikan itu tidak dengan jelas menunjukkan urutan-urutannya, juga periode/ interval yang ada tidak jelas disebutkan jangka waktunya, dan banyak dari tanda itu mempunyai banyak arti dan telah terpenuhi, dan kita tidak tahu persis apakah hal yang lebih besar akan terjadi sebagai pemenuhan tanda-tanda tersebut. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak orang telah berusaha mengartikan tanda-tanda, menghitung tahun-tahun untuk meramalkan akhir jaman, namun hanya berakhir dengan sejumlah teori yang tidak menjadi kenyataan.

Jadi, apa gunanya diberitahukan tanda-tanda/ angka-angka tersebut?

  1. Jawabannya adalah sederhana: tidak banyak. St. Agustinus mengajarkan bahwa tanda, angka, simbol yang kurang jelas tersebut dimaksudkan untuk mengajar pada kita kerendahan hati, untuk tidak berkutat meneliti yang melebihi kemampuan kita. Bahwa, kita tidak dapat mengerti semuanya detail Alkitab, dan karenanya kita dibawa untuk menerima apa yang diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang yang mengiterpretasikan sendiri tentang akhir jaman ini, tidak ada yang berhasil.
  2. Tanda-tanda tersebut juga untuk mengajarkan pada kita bahwa hidup kita sangat rentan terhadap serangan kejahatan. Kita diingatkan akan bahaya ‘kesesatan’ yang mungkin akan kita hadapi, yang disebabkan oleh pengajaran nabi-nabi palsu.
  3. Untuk mengingatkan kita bahwa kita harus selalu berjaga-jaga, bijaksana menilai tanda-tanda itu dan waspada, sebab walaupun kita tidak mengalami akhir jaman sewaktu kita masih hidup, kita akan tetap mengalami ‘akhir dari jaman kita’ pada waktu kita meninggal dunia.
  4. Untuk mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, meskipun Iblis kelihatan sangat hebat, namun kuasa Allah tetap lebih besar dan akan mengalahkan Iblis.

Apa yang terjadi pada Kedatangan Yesus yang kedua tersebut?

  1. Akhir dunia.
  2. Akhir dari waktu, sebab sesudah itu hanya ada keabadian.
  3. Akhir dari kematian, sebab semua yang masih hidup pada saat Yesus datang yang kedua ini tidak mengalami kematian, tetapi ‘diubah’ (lih 1Kor 15:51; 1Tes 14:17)
  4. Akhir dari Api Penyucian. Setelah kedatangan Yesus ini maka semua orang yang ada dalam Api Penyucian akan memasuki surga.
  5. Kebangkitan orang mati. Orang-orang mati akan dibangkitkan (Yoh 5:27-29; 11:23-24). Tubuh orang-orang yang jahat akan bersatu dengan jiwanya dan masuk dalam siksa abadi di neraka, sedangkan tubuh orang-orang benar akan bersatu dengan jiwanya dan akan memasuki kebahagiaan kekal di surga. Tubuh orang-orang benar akan bersinar seperti matahari (Mat 13:43) dan tak bisa lagi mengalami penderitaan, penyakit dan kematian (1 Kor 15:42).
  6. Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46; Why 20:1-15). Seluruh umat manusia akan dikumpulkan di hadapan tribunal yang akan menyatakan keseluruhan sejarah manusia. Segala sesuatu yang diperbuat seseorang akan dinyatakan di hadapan segala mahluk, tak ada yang tersembunyi. Tuhan akan mengumumkan penghakiman/ hukuman final, atau penghargaan final yang melibatkan tubuh dan jiwa setiap manusia: ke neraka atau ke surga. Mereka yang wafat sebelum kedatangan Yesus yang kedua telah mengetahui tujuan akhir mereka pada saat penghakiman khusus, dan hal ini tidak berubah. Hanya pada Pengadilan Akhir, pengadilan mereka dinyatakan kembali dan diumumkan hasilnya pada segenap mahluk, dan jiwa mereka bersatu dengan tubuh mereka menuju ke tempat tujuan akhir: surga atau neraka sesuai dengan hasil Penghakiman tersebut. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan klik tanya jawab ini.
    Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang Penghakiman Terakhir:
    KGK 1038 Sesudah kebangkitan semua orang mati “baik orang yang benar maupun yang tidak benar” (Kis 24:15), menyusullah pengadilan terakhir. Itulah saatnya, di mana “semua orang yang di dalam kubur akan mendengar suara-Nya. Dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29). Lalu, “Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia. … Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. … Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup kekal” (Mat 25:31.32-33.46).
    KGK 1039 Di depan Kristus, yang adalah kebenaran, akan nyata secara definitif hubungan setiap manusia dengan Allah yang sebenarnya (Bdk. Yoh 12:49). Pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini….
    KGK 1040 Pengadilan terakhir akan berlangsung pada kedatangan kembali Kristus yang mulia. Hanya Bapa yang mengetahui hari dan jam, Ia sendiri menentukan, kapan itu akan terjadi. Lalu, melalui Putera-Nya Yesus Kristus Ia akan menilai secara definitif seluruh sejarah. Kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, yang di atasnya penyelenggaraan ilahi telah membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian (Bdk. Kid 8:6).
    KGK 1041 Kabar mengenai pengadilan terakhir mengajak manusia supaya bertobat, selama Allah masih memberi kepada mereka “waktu rahmat”, satu “hari penyelamatan” (2 Kor 6:2). Kabar itu membangkitkan ketakutan suci akan Allah dan mewajibkan orang melakukan keadilan Kerajaan Allah. Ia mengumumkan “pengharapan yang penuh bahagia” (Tit 2:13) akan parusia (?) Tuhan yang akan datang, “untuk dimuliakan di antara orang kudus-Nya, dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya” (2 Tes 1:10).
  7. Restorasi universal (Kis 3:21, 1 Kor 15:28, KGK 671, 769). Setelah Penghakiman Terakhir, maka Gereja akan disempurnakan dalam kemuliaannya, sebagai Yerusalem yang baru (Why 21). Gereja hanya akan terdiri dari orang-orang kudus, yaitu semua orang benar sejak Adam, dari Abel sampai ke orang pilihan terakhir (KGK 769). Para orang kudus akan berjaya bersama Kristus, dalam tubuh dan jiwa yang mulia, dan akan melihat Allah dengan pandangan yang membahagiakan, dimana Allah akan membuka Diri kepada orang-orang pilihan-Nya secara tidak terbatas dan akan menjadi sumber kebahagiaan, perdamaian dan persekutuan sempurna, tanpa akhir (lih. KGK 1044-1045). Unsur-unsur dunia akan hancur karena nyala api ilahi, dan Tuhan akan menciptakan langit dan bumi yang baru (2 Pet 3:12-13), kuasa jahat dikalahkan, dan segala sesuatu akan ditaklukkan di bawah-Nya, dan Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).

Untuk akhir yang mulia inilah maka, kita tidak perlu gelisah dan takut menghadapi akhir jaman. Sebab jika kita setia beriman kepada Tuhan dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, maka malah selayaknya bersuka-cita akan adanya akhir jaman ini, di mana Kristus akan kembali lagi sebagai Raja semesta alam.

Kesimpulan

Jadi apa yang harus kita lakukan jika akhir dunia itu datang esok hari? Mungkin ada baiknya kita mengingat kisah kuno yang sering dikaitkan dengan St. Fransiskus Assisi, walaupun mungkin ini hanya sekedar legenda. Ada orang yang bertanya kepadanya demikian, “Apa yang akan kamu lakukan kalau besok kiamat?” Pada waktu ia sedang mencabut alang-alang di kebunnya. Lalu ia menjawab dengan cepat, “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Ini adalah jawaban seseorang yang yakin bahwa ia telah berusaha melayani Tuhan, sehingga tidak takut menghadapi akhir dunia. Jika Tuhan Yesus datang kembali, ia hanya berharap akan mendengar Yesus berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat 25:21). Tentu, karena hidup St. Fransiskus yang selalu melaksanakan perbuatan yang ditugaskan kepadanya dengan setia, dengan mata hati terarah kepada Tuhan.

Sekarang memang masalahnya adalah, apakah kita dapat mengatakan demikian, jika pertanyaan itu ditujukan pada kita. Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan setia sesuai dengan panggilan hidup kita? Apakah kita sudah berusaha melakukan kehendak Tuhan? Maka, belajar dari St. Fransiskus, maka mari kita melakukan hal yang serupa, yaitu mencabut alang-alang dalam kebun hati kita, yaitu mencabut ajaran-ajaran yang keliru tentang akhir jaman, dan mengisinya dengan biji kebajikan, iman, pengharapan dan kasih. Semoga dengan demikian, kita dapat melihat akhir jaman dalam perspektif iman, sebab kita percaya, bahwa akhir jaman akan membawa kita, orang-orang yang percaya, kepada kepenuhan janji Kristus, yaitu keselamatan kekal dan persatuan dengan Allah yang tak terbatas. Maranatha, datanglah, ya Tuhan Yesus!

Akhir Jaman menurut Ajaran Gereja Katolik (bagian ke-1)

104

Pendahuluan

Saya teringat akan wejangan nenek saya tentang akhir zaman. Sebelum menjadi Katolik, ia adalah seorang Protestan. Sebelum ia wafat, ia pernah berkata demikian pada saya, “Sudah sejak saya masih kecil, saya mendengar akhir jaman dikhotbahkan dan ‘diramalkan’. Katanya sudah hampir datang, tetapi ternyata belum juga datang ya! Jadi lebih baik kita serahkan pada Tuhan, sedangkan bagian kita adalah rajin-rajin berdoa dan berbuat baik saja…” Saya rasa pesan ini sangat bijaksana, sebab jika kita melihat, memang apa yang dikatakan oleh nenek saya itu ada benarnya. Lihat saja, banyak orang meneliti ayat-ayat Alkitab untuk menghitung tahun untuk ‘meramalkan’ akhir jaman, lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988… hanyalah sekedar contohnya, tetapi tak ada satupun yang benar. Memang akhir zaman adalah suatu misteri. Kita tak akan mungkin dapat mengetahuinya secara tepat, dan pasti tidak mungkin kita ketahui sampai pada saatnya. Namun, ada banyak hal yang dapat kita ketahui tentang kedatangan Yesus yang kedua ini, dan jangan sampai kita tidak mau tahu tentang hal ini.

Mengapa ajaran Gereja Katolik berbeda dengan ajaran Protestan tentang ini?

Gereja Katolik dan Protestan sama-sama setuju bahwa Yesus Kristus akan datang kembali pada akhir jaman. Namun demikian, ada perbedaan yang cukup mendasar antara pandangan Protestan dengan ajaran Gereja Katolik tentang hal ini. Dua sebab historis yang cukup berpengaruh adalah: ((Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics: The End of Time, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars), p. 3.))

  1. Gereja Protestan tidak melihat bahwa banyak nubuatan dari kitab Daniel yang telah terpenuhi pada masa Yudas Makabe. Karena Alkitab Protestan tidak memasukkan kitab Makabe, maka dapat dimengerti, mengapa demikian.
  2. Kurang memadainya pemahaman tentang kejadian seputar kehancuran Bait Allah di Yerusalem yang terjadi pada tahun 70 AD, yang juga merupakan pemenuhan sebagian dari perkataan Yesus sendiri pada Injil Matius, Markus dan Lukas.

Dua pandangan Protestan: Post- millenniarism dan Premilleniarism

Mungkin ada baiknya, sebelum kita mempelajari apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, kita melihat terlebih dahulu tentang apa yang diajarkan oleh gereja Protestan tentang akhir zaman ini. Gereja Protestan kebanyakan mengkaitkan kedatangan Yesus yang kedua dengan Kerajaan 1000 tahun yang disebutkan dalam Why 20:1-6. Mengenai hal ini terdapat dua pandangan yang berbeda: pandangan yang meletakkan kedatangan Kristus sebelum kerajaan 1000 tahun adalah Pre-millennialism, sedangkan yang meletakkan kedatangan Kristus sesudah kerajaan 1000 tahun adalah Post-millennialism.

Post-millenialism mencapai puncaknya pada abad 18-19 pada komunitas Anglo- Amerika, yang ditandai dengan pandangan optimistik tentang sejarah manusia, yang menuju kepada kemajuan secara universal. Pandangan ini mengharapkan 1000 tahun kejayaan Kristus yang akan tercapai dalam sejarah manusia. Pada akhir periode kejayaan ini, Iblis akan dilepaskan, perang Armageddon akan terjadi dan Kristus akan kembali datang dengan kemulian-Nya. Kerajaan 1000 tahun menurut pandangan ini mengacu kepada keadaan ideal di segala bidang, yang dihubungkan dengan revolusi politik dan keadilan sosial. Menarik di sini, bahwa ide ini bahkan juga mempengaruhi mental para atheists, seperti Marxism, Nazism dan regim totalitarian lainnya. Namun, dewasa ini, lama-kelamaan faham ini menjadi kurang populer, karena terjadinya kejadian-kejadian brutal di abad ke- 20, dan juga penurunan standar moral, di mana orang-orang tidak lagi menerapkan ajaran iman dan moral Kristiani. Maka pandangan akan kemajuan optimistik akan sejarah manusia dianggap menjadi terlalu naïf.

Maka sekarang, ada tendensi bahwa gereja Protestan tidak lagi mengharapkan kerajaan 1000 tahun melalui kemajuan sejarah manusia. Sebaliknya, mereka mengakui bahwa dimensi kehidupan manusia akan mengalami kemunduran di dalam hal iman dan moral. Nah, maka, timbullah paham Pre-millennialism, di mana keadaan manusia akan semakin memburuk, menjelang akhir jaman/ kedatangan Yesus yang kedua kali. Dalam pandangan ini, terdapat pengajaran yang dikenal sebagai Rapture dan Dispensationalism.

Apakah akan ada “the Secret Rapture”?

Sering kita dengar teori dari saudara/i kita yang Protestan, bahwa akan ada yang disebut sebagai “the secret rapture”. Yang paling terkenal adalah yang dapat kita baca dalam seri “Left Behind: A Novel of the Earth’s Last Days” karangan Tim LaHaye and Jerry Jenkins. Maksudnya di sini adalah di akhir jaman nanti Yesus akan datang dua kali: 1) Yang pertama, Yesus akan ‘mengangkat’ orang-orang yang sungguh beriman agar tidak mengalami pencobaan/ penderitaan di akhir jaman. [Orang ‘beriman’ yang dimaksud di sini adalah orang yang mengimani apa yang mereka ajarkan]. 2) Yang kedua, setelah pengangkatan ini, maka orang-orang yang tertinggal di dunia akan mengalami kesengsaraan akhir “final tribulation”, karena Antikristus akan dibiarkan berkuasa dan akan terjadi bermacam-macam bencana, yang mencapai puncaknya pada penghukuman orang-orang yang menolak Tuhan, pada saat kedatangan Kristus kembali. Jadi ini merupakan kedatangan Yesus yang ‘ketiga’ [jika kelahiran Yesus sebagai manusia dihitung sebagai kedatangan-Nya yang pertama], walaupun para rapturists mengatakan hal ini tidak terpisah dari kedatangan-Nya yang rahasia tersebut di atas.

Ketidaksepakatan dari para rapturists mengenai kapan rapture terjadi ((Paul Thigpen, The Rapture Trap, PA: Ascension Press, 2001, p. 127.))

Para rapturists tersebut mengatakan bahwa menurut Alkitab, kesengsaraan akhir akan terjadi pada tujuh tahun terakhir, dan “secret rapture” itu akan terjadi di dalam periode tersebut. Tetapi, di antara para rapturists itu, tidak ada kesepakatan, kapan sebenarnya akan terjadi “rapture” tersebut. Ada yang mengatakan sebelum kesengsaraan akhir (pre-tribulationists), namun ada juga yang yakin terjadi di tengah-tengah kesengsaraan (mid- tribulationists) dan sesudah kesengsaraan (post-tribulationists). Atau ada juga yang mengajarkan partial rapture, yang artinya hanya sebagian orang-orang Kristen saja yang ‘diangkat’ sebelum kesengsaraan akhir, sedangkan yang lain pada saat sesudahnya. Ketidaksepakatan ini tak jarang menyebabkan perdebatan yang keras. Suatu ironi, karena setiap rapturist itu mengklaim bahwa ia mengartikan secara harafiah berdasarkan “the plain sense of Scripture”. Rupanya, tentang rapture ini ternyata tidak terlalu “plain”/ jelas, bahkan di mata para rapturists itu sendiri.

Kalau begitu, dari mana mereka mendapatkan ide secret rapture ini?

Sebenarnya, ide “secret rapture/ pengangkatan rahasia” ini hanya dipegang oleh sebagian kecil dari umat Kristen di seluruh dunia. Umat Katolik, Ritus Timur Orthodox, dan bahkan jemaat Protestan sendiri banyak yang menganggap teori rapture ini sebagai sesuatu yang asing. Yang pasti, hal rapture ini tidak ada dalam syahadat Aku Percaya. Yang ada dalam Credo sebenarnya adalah “Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya tidak akan berakhir.” ((Menurut Konsili Nicea, 325 AD)) Syahadat tidak mengatakan apapun tentang kedatangan Yesus ‘tambahan’ secara rahasia untuk mengangkat umat beriman untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan akhir jaman. Jadi kesimpulannya, bukan saja hanya para Paus saja yang tidak mengajarkan secret rapture ini, bahkan para pendiri Gereja Protestan, yaitu Martin Luther, John Calvin dan John Wesley tidak mengajarkan secret rapture. Maka, jika ada orang bertanya, mengapa di Credo tidak disebutkan mengenai ‘secret rapture’ ini, karena memang ide ini tidak diimani oleh mayoritas umat Kristiani dalam sejarah Gereja, dan tidak berakar dari pengajaran Bapa Gereja.

Dispensationalism

Dispensationalism, adalah pengajaran yang dipelopori oleh John Nelson Darby (1859-1874), pemimpin sekte Kristen di Inggris, yang bernama Plymouth Brethern yang mengajarkan doktrinnya ke Amerika dan Kanada. Dinamakan ‘dispensationalism’ karena ia membagi sejarah manusia menjadi 7 masa dispensasi/ tahap dimana Tuhan menyatakan wahyu-Nya kepada manusia. Namun di setiap tahap, manusia gagal dalam ujian, sehingga penghakiman terjadi di akhir setiap tahap, dan tahap baru akan menyusul sesudahnya. Maka menurut Darby terdapat perbedaan tak terseberangi antara bangsa Israel dan Gereja, sehingga ia membagi misalnya, bahwa nubuat Perjanjian Lama hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, dan tak ada satupun untuk Gereja. Menurut para dispensationalists, karena bangsa Israel menolak pembentukan Kerajaan Mesias di dunia dengan menolak Kristus, maka Tuhan menunda pembentukan Kerajaan tersebut, dan berpaling pada bangsa-bangsa non-Yahudi. Karenanya, jam/ lonceng nubuatan Yahudi berhenti berdetak, dan hanya lembali berdetak setelah Antikristus datang, dan ‘rapture’ orang-orang beriman terjadi. Setelah para beriman diangkat, maka akan ada penderitaan akhir/ great tribulation bagi dunia, dengan bangsa Israel sebagai pusatnya. Lalu Yesus akan datang ke dunia yang terakhir kali, dan berjaya selama 1000 tahun.

Dispensationalism dan ‘rapture’ tidak tertulis secara harafiah dalam Alkitab

Meskipun para rapturists mengatakan bahwa ide mereka diperoleh melalui “the plain sense of Scripture” namun di Alkitab tidak ada pernyataan yang jelas dan harafiah seperti ini: “Kristus akan kembali datang ke dunia secara rahasia untuk mengangkat umat-Nya ke surga dan kemudian sekali lagi dalam kemuliaan-Nya untuk menghakimi dunia.” Atau, “Tuhan akan mengangkat umat-Nya sebelum kejayaan Antikristus, untuk membebaskan mereka dari penghakiman/ kesengsaraan akhir.” Tidak ada satupun ayat yang mengatakan demikian.

Ayat yang sering mereka kutip adalah Mat 24:37-42, “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya… kedatangan Anak Manusia. …kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan… Karena itu berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Menurut para rapturists, maka yang dibawa/ diangkat adalah para orang percaya, sedangkan yang tertinggal adalah yang orang yang tidak percaya. Padahal banyak orang Kristen percaya, bahwa ayat ini mengacu pada penghancuran Yerusalem oleh bangsa Roma. Maka jika konteks air bah jaman Nabi Nuh yang dipakai sebagai acuan, …”air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua.” (Mat 24:37, 39) maka yang ‘dibawa/ dilenyapkan’ adalah orang-orang yang jahat sedangkan orang-orang yang benar malah ditinggalkan, yaitu Nabi Nuh dan anggota keluarganya. ((Lihat A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom Orchard, OSB, New York: Thomas Nelson and Sons Ltd., 1953, p. 896.)) Namun demikian, meskipun diartikan bahwa yang diangkat adalah orang-orang yang benar, dalam ayat itu tidak dikatakan bahwa Yesus akan datang secara ‘rahasia’ untuk mengadakan pengangkatan umat pilihan-Nya.

Ayat lainnya yang sering dikutip adalah 1 Tes 4:13-17. Pada ayat ini Rasul Paulus bermaksud menghibur umat di Tesalonika akan kesedihan yang berlebihan meratapi anggota komunitas yang telah wafat. Namun pada saat yang sama ia juga menyinggung tentang kedatangan Tuhan yang kedua: “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

Seorang ahli Alkitab Protestan, Douglas J. Moo yang menentang teori secret rapture mengatakan, “Teks Perjanjian Baru secara garis besar diarahkan untuk kondisi khusus dalam kehidupan Gereja. Artinya… bahwa pengarang [kitab] akan memasukkan apa yang ia ingin sampaikan pada kondisi tertentu dan tidak menyertakan sesuatu yang tidak perlu jika tidak sesuai dengan maksudnya.” ((Diterjemahkan dari Douglas J Moo, “Response to Feinberg” in Gleason L Archer, et al., The Rapture: Pre- Mid-, or Post- Tribulational? (Grand Rapids, Mich: Zondervan, 1984), p. 99-100.)) Maka untuk konteks 1 Tes 4:13-18, Rasul Paulus menekankan kebangkitan untuk menghibur umat Kristen yang berduka; sedangkan 2 Tes 1:3-10, ia menekankan pada penganiayaan dan penghakiman untuk menguatkan umat Kristen yang sedang menderita penganiayaan. Namun demikian, Rasul Paulus tetap mengacu pada kejadian yang sama, yaitu: Kedatangan Kristus yang kedua yang terjadi hanya satu kali, dalam kemuliaan-Nya. Moo kemudian membandingkan dengan penuturan dan penekanan yang berbeda pada ke-empat Injil tentang kisah sengsara Yesus di salib, namun semuanya mengacu pada kejadian yang satu dan sama, yaitu penyaliban Yesus di Golgotha.

Jadi apa pengajaran Bapa Gereja mengenai akhir jaman? ((Diringkas dari The Rapture Trap, Paul Thigpen, PA: Ascension Press, 2001, p. 132-140.))

  1. St. Yustinus Martir (100-160): “…. Dua kedatangan Kristus yang telah diberitakan, adalah: pertama waktu Ia datang dalam penderitaan, tidak dalam kemuliaan, tidak dihormati dan disalibkan; tetapi kemudian Ia akan datang [kembali] dari surga dengan kemuliaan, ketika … Antikristus [lihat 2 Tes 2:3] yang mengajarkan hal-hal yang menentang Yang MahaTinggi, datang untuk melakukan hal-hal yang jahat di dunia melawan orang-orang Kristiani.” ((St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho, 110, , dapat dilihat dalam The Ante-Nicene Fathers: Translations of the Writings of the Fathers Down to AD 325, Alexander Roberts and James Donaldson, eds. (Grand Rapids, Mich: Eerdmans, 1987, reprint). 10 volumes.)) Maka di sini kita ketahui hanya ada dua kali kedatangan Kristus. Kedatangan yang kedua adalah setelah Gereja mengalami penganiayaan yang disebabkan oleh Antikristus. Tidak disebutkan adanya ‘secret rapture’ untuk membebaskan orang percaya dari penderitaan/ tribulations.
  2. St. Irenaeus (125-203): St. Irenaeus, yang adalah murid St. Policarpus, yang adalah murid St. Yohanes, mengatakan bahwa ke-10 raja yang disebut dalam Dan 7:24 dan Why 17:12, akan “memberikan kerajaan mereka kepada Antikris, dan mengusir Gereja.” Tetapi, para orang beriman akan bertemu dengan Tuhan pada “kebangkitan orang-orang benar, yang akan terjadi setelah kedatangan Antikristus, dan kehancuran semua bangsa di bawah kepemimpinannya.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, V, 26, 1; 35, 1))
    Di sini juga jelas bahwa Gereja harus bertahan menghadapi penderitaan/ tribulation yang disebabkan oleh Antikristus, namun kemudian Kristus akan datang dan mengumpulkan para kudusnya dalam kebangkitan orang mati.
  3. St. Hippolytus (wafat 235): Ia juga mengajarkan dalam komentar kitab Daniel 12:1, bahwa akan terjadi masa kesulitan setelah kedatangan Antikristus yang menyebabkan kehancuran, baru setelah itu Kristus akan datang terakhir kali dari surga, “yang membawa api dan pengadilan yang adil bagi mereka yang menolak untuk percaya kepada-Nya.” ((St. Hippolytus, Treatise on Christ and Antichrist, 64.))
    Di sini juga tidak disebutkan bahwa ada kedatangan Yesus yang ‘ekstra’ dan rahasia untuk membebaskan Gereja dari penderitaan terakhir.
  4. Selanjutnya, pengajaran senada juga diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti dalam Surat-surat Barnabas, Hermas, Didache, Tertullian, Lactantius, Melito dari Sardis dan Methodius.
  5. St. Jerome (342-420), dengan mengacu pada beberapa ayat dalam Kitab Suci mengajarkan, bahwa orang-orang Kristen akan mengalami ‘final tribulation’ seperti yang mereka alami dalam setiap generasi. “Kamu keliru jika kamu menyangka bahwa tidak akan ada waktu bagi orang-orang Kristen untuk menderita akibat penganiayaan Iblis… Harinya akan datang…terberkatilah pelayan yang didapati Tuannya siap sedia. Lalu pada suara sangkakala dan bangsa-bangsa ketakutan, namun kamu malah bersuka cita… sebab kamu akan bergembira, tertawa dan berkata, Lihatlah, Tuhanku yang tersalib, lihat, Hakim-ku.” ((St. Jerome, Letter XIV.))
  6. St. Agustinus (354-430), mengatakan bahwa, “Allah yang Maha Besar sama sekali tidak membebaskan para kudus-Nya dari pencobaan, tetapi hanya melindungi hati mereka (“the inner man”), di mana iman berada, supaya dengan pencobaan dari luar, mereka [malah] bertumbuh di dalam rahmat… Pencobaan/penganiayaan ini yang terjadi di hari terakhir adalah sangat hebat, dan akan menjadi yang terakhir untuk dihadapi oleh Gereja yang Kudus di seluruh dunia, seluruh kota Kristus akan diserang oleh kota Iblis, yang keduanya ada di dunia.” Lalu St. Agustinus mengatakan, bahwa Kristus akan datang kembali untuk membangkitkan orang mati dan menghakimi dunia. ((St. Augustine of Hippo, City of God, XX, 8, 11, 14)) “Kebangkitan pertama” yang disebutkan dalam Why 20:5 diartikan sebagai Pembaptisan dan kehidupan dalam rahmat yang diberikan kepada umat beriman melalui sakramen-sakramen Gereja. Jadi uraian St. Agustinus jelas mengatakan, bahwa kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi hanya satu kali, dalam kemuliaan, dan dapat dilihat oleh semua orang, sebagai akhir dari penderitaan yang besar yang dialami Gereja.
  7. St. Yohanes Krisostomus (347-407) juga percaya bahwa “pengangkatan” orang beriman akan terjadi bersamaan dengan kedatangan Kristus kembali dengan mulia di akhir sejarah manusia, untuk membangkitkan orang-orang mati dan menghakimi dunia. Dalam komentarnya terhadap 1 Tes 4:15-17 dia menjawab pertanyaan, “Kalau Kristus hendak turun ke dunia, mengapa kita perlu ‘diangkat’? Jawabnya adalah: “demi menghormati Dia.” ((St. John Chrysostom, Homilies on Thessalonians, VIII, “When a king drives into a city, those who are in honor go out to meet him; but those who are condemned await the judged inside the city. And at the coming of an affectionate father, his children and all those who are worthy to be his children are taken out to Him in chariot, so that they may see him and kiss him. But those of his servants who have offended him remain inside the house. We are carried upon the chariot of our Father. For He received Christ up in the clouds, and we shall be caught up in the clouds [see Acts 1:9]. Do you see how great is the honor? And as He descends, we go forth to meet Him…so shall we be with Him.“ (see 1 Tes 4:17).)) Di sini St. Yohanes menghubungkan pengangkatan dengan kebiasaan di masyarakat kuno, yang menyambut raja yang datang menuju tempat tujuannya. Bahkan hal ini juga terjadi pada keluarga, di mana ketika ayah datang, maka anak-anak datang menyambutnya.
  8. St. Thomas Aquinas (1225-1274) Ia mengutip St. Gregorius Agung yang dikutip oleh St. Albert yang mengatakan bahwa “suara sangkakala itu tidak lain adalah Sang Putera Allah yang turun ke dunia untuk menjadi Hakim.” ((St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Suppl. Q.77. Art.2.)) Hal ini berkaitan dengan Mat 24:27, “Sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pula-lah kelak kedatangan Anak manusia.”

Dari tulisan di atas, kita mengetahui, bahwa sepanjang sejarah Gereja, para Bapa Gereja tidak mengenal adanya teori “secret rapture”. Walaupun para rapturist ada yang mengutip suatu tulisan kuno yang tak jelas siapa pengarangnya, namun yang mungkin dipercayai oleh sejumlah umat Kristen awal. Pengarangnya disebut sebagai “Pseudo-Ephraem.” ((Pseudo, disini artinya, menurut Wikipedia: The prefix pseudo (from Greek ?????? “lying, false”) is used to mark something as false, fraudulent, or pretending to be something it is not. Jadi Pseudo- Ephraem, adalah tulisan yang diperkirakan seperti tulisan St. Ephraem tetapi sebenarnya bukan.)) Dalam teks kuno tersebut memang ada bagian yang jika dilepaskan dari konteksnya, dapat seolah mendukung teori rapture. ((For the saints and elect of God are gathered, prior to the tribulation that is to come, are taken to the Lord lest they ever see the confusion that is to overwhelm the world because of our sins….” Seperti dikutip oleh Gundry, First the Anti Christ, 162-63. Buku ini menceritakan pandangan Protestan tentang akhir jaman. Namun secara keseluruhan kita dapat melihat bahwa pandangan seorang evangelical Protestant dapat menentang ajaran “secret rapture” ini. Juga hal ini dijelaskan dalam buku Gundry yang lain, The Church and Tribulation.
)) Namun, sesungguhnya pernyataan tersebut cukup problematik, sebab secara keseluruhan teks tersebut menceritakan tentang kedatangan Kristus dengan kemuliaan-Nya diiringi oleh para malaikat dan para kudus-Nya untuk membangkitkan orang-orang mati pada Hari Penghakiman. Sehingga, hal ini bertentangan dengan pengangkatan orang beriman yang sudah meninggal secara rahasia/ secret rapture. Juga, pada teks yang sama dikatakan bahwa umat Kristen akan mengalami penderitaan akhir/ final tribulation di bawah Antikris, jadi ini juga bertentangan dengan pandangan bahwa secret rapture adalah untuk membebaskan para beriman dari penderitaan akhir.

Namun, seandainya pun ada yang menganggap teks ini adalah dasar pengajaran “secret rapture”, maka sesungguhnya, secara objektif dapat dikatakan bahwa pandangan tersebut hanyalah merupakan pendapat sekelompok jemaat awal berdasarkan dari pengarang yang tidak dikenal yang tidak mempunyai wewenang mengajar di Gereja, dan tidak sesuai dengan pengajaran para Bapa Gereja yang lain.

Pengajaran para pendiri Gereja Protestan tentang akhir jaman

Baik Luther maupun Calvin mengikuti pengajaran St. Agustinus: bahwa Gereja tidak dilepaskan dari penderitaan/ tribulation di tangan Antikristus, namun akhirnya, Kristus akan kembali dengan kemuliaan-Nya:

  1. Martin Luther, mengomentari kitab Wahyu, mengatakan bahwa kitab itu merupakan penjabaran tentang “penderitaan dan bencana yang akan terjadi pada dunia Kristen sepanjang sejarah.” ((Martin Luther, Preface to the Revelation of St. John, II; and Sermon on John 16:13.))
  2. John Calvin mengatakan, bahwa Antikristus akan menyelesaikan “penceraiberaian Gereja secara publik”. Namun akhirnya, Kristus akan mengalahkannya “dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya [dengan segala kesesatannya], pada saat Ia datang kembali.” (lih. 2Tes 2:8). Maka bahkan Calvin sendiri yakin bahwa kejadian 1 Kor 15:20-28 dan 1 Tes 4:13 adalah satu kejadian. Ia mengatakan, perihal bunyi sangkakala terakhir,….”I prefer to understand the expression as metaphorical. In 1 Tes 4:16, …connects together the voice of the archangel and the trumpet of God. As therefore a commander, with the sound of a trumpet, summons his army to battle, so Christ, by His far- sounding proclamation, which will be heard throughout the whole world, will summon all the dead… to the tribunal of God.” ((John Calvin, Commentary on First Corinthians, 52.))

Jadi apa prinsip pengajaran Gereja Katolik tentang kedatangan Yesus yang kedua?

Secara prinsip ada empat hal yang perlu kita ketahui:

1. Kedatangan Yesus yang kedua tidak akan terjadi secara rahasia, melainkan akan terjadi secara publik, kelihatan oleh semua orang, penuh dengan kemuliaan, dan kejayaan. Maka, kedatangan Kristus yang kedua hanya akan terjadi satu kali saja.

  • “Lihat, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia.” (Why 1:7).
  • “… semua bangsa di bumi…. akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan kekuasaan dan kemulianNya.” (Mat 24:30)
  • Kedatangannya akan diiringi dengan bunyi sangkakala (Mat 24:31).
    “…. dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia” (Mat 25:31).

2. Kedatangan-Nya yang kedua akan diikuti oleh Penghakiman Terakhir yang mengadili semua orang.

  • ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang …” (Mat 25:31-32).

3. Seperti Yesus mengingatkan para murid-Nya, Gereja akan mengalami banyak penganiayaan sebelum kedatangan-Nya yang kedua. Kekuatan Iblis akan menyerang umat Allah, dan para beriman tidak dibebaskan dari kesulitan ini. Namun Tuhan akan memberikan rahmat untuk bertahan, dan siapa yang bertahan sampai kesudahannya melalui pemurnian dan kesetiaan dalam pencobaan ini, akan diselamatkan (lihat perikop tentang Siksaan yang berat dan mesias-mesias palsu pada Mat 24:15-28, Mrk 13:14-23, Luk 21:20-24).

4. Kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi tanpa diduga, dengan cara yang sama seperti saat Ia naik ke surga. Artinya, tidak dapat diketahui sebelumnya (lih. KGK 673). Karena itu sikap yang tepat untuk menghadapinya adalah berjaga-jaga.

  • “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:44)
  • “Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis 1:9-11).
  • “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Mat 24:42)
  • “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Maka KGK 1040 mengatakan, “Hanya Bapa yang mengetahui hari dan jam, Ia sendiri menentukan, kapan itu akan terjadi.”

Kesimpulan

Sementara banyak gereja Kristen non Katolik mengajarkan tentang akhir zaman ini dengan begitu banyak variasinya, yang bahkan bisa saling bertentangan, Magisterium Gereja Katolik memang memilih dengan tenang untuk teguh berpegang pada Tradisi yang diajarkan oleh para Bapa Gereja. Intinya, kedatangan Yesus yang kedua hanya terjadi satu kali, tiba-tiba dan tak dapat diketahui sebelumnya oleh manusia, dan Kristus akan datang dengan kemuliaan-Nya. Gereja Katolik tidak berusaha meramalkan siapakah Antikristus, ataupun menghubungkan skenario kitab Daniel dan kitab Wahyu. Namun bukan berarti kita layak mengacuhkannya, sebab permenungan akan akhir dunia akan sangat berguna untuk meletakkan kehidupan sehari-hari dalam perspektif yang benar, agar kita tidak terlena dengan kesenangan dan harta duniawi. Hal akhir jaman ini memang layak kita cermati, walaupun itu hanya menyadarkan kita bahwa kita mempunyai beberapa kemungkinan jawaban daripada sesuatu yang sudah pasti.

Selanjutnya, sebagai umat Katolik, tak usah kita lekas gelisah jika mendengar tentang pengajaran tentang akhir jaman. Akhir jaman memang harus menjadi perhatian kita, namun maksudnya agar kita dapat hidup dengan lebih baik dengan mempergunakan waktu yang Tuhan berikan pada kita dengan sebaik-baiknya untuk berbuat kasih dan kebaikan. Kita tidak perlu turut menghitung tahun dan waktu kedatangan Yesus yang kedua, karena besar kemungkinan hal itu tidak benar, seperti yang telah terbukti dalam sejarah manusia. Hasil hitungan kita akan hanya menambah panjang daftar kekeliruan ramalan manusia akan perhitungan akhir jaman, sebab Tuhan sendiri mengatakan bahwa kita tidak akan tahu hari mana Ia akan datang (Mat 24:42). Namun sebaliknya, kita juga tidak boleh mengacuhkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua ini, apalagi sampai hidup seolah-olah tidak akan ada Hari Penghakiman. Sebab jika demikian, kita akan menyesatkan diri sendiri dan akan menerima ganjarannya di akhir jaman nanti. Jadi, mari kita melakukan apa yang diajarkan oleh Gereja, yaitu, berjuang untuk hidup kudus, dengan mengasihi Tuhan dan sesama, sesuai dengan panggilan hidup kita, entah sebagai kaum awam atau kaum tertahbis. (( Lihat Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium bab 5, Panggilan untuk hidup kudus.)) Supaya jika saatnya tiba, entah pada akhir hidup kita, ataupun jika kita masih hidup, pada hari kedatangan-Nya, maka kita didapati-Nya sebagai hamba yang setia dan berjaga-jaga. Agar kita boleh mendengar sabda-Nya, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Mat 25:34).

Keselamatan: theosentris, kristosentris, eklesiosentris?

9

Pertanyaan:

shalom pak stef,

saya masih bingung dengan model keselamatan yg ada dalam gereja Katolik, yakni model theosentris, kristosentris, dan eklesiosentris…(seperti yg telah diajarkan dosen saya)
bagaimana kita menyikapi ketiga model tersebut, apakah ketiga model keselamatan ini tak dapat dipisahkan? Menurut saya, ketiga model keselamatan itu sangat berbeda satu dengan lainnya
dalam theosentris kita mempercayai setiap agama memperoleh keselamatan, padahal dalam kristosentris, satu-satu nya jalan keselamatan adalah Tuhan Yesus.. Manakah yang harus saya pegang?
Saya sering ditanyai oleh saudara Protestan tentang keselamatan ini bahkan sampai berdiskusi hangat dengan mereka.. saya menjadi semakin bingung
Ayat alkitab manakah yang menunjukkan ketiga model keselamatan ini?
Kemudian saya ingin menanyakan beberapa pernyataan dari teman saya protestan yang sampai saat ini saya tidak dapat menjawabnya pak, yakni:
– Menurut mereka ” perbuatan baik tidak mempengaruhi keselamatan. Keselaman adalah anugrah dan tak akan hilang dari manusia. Iman kita kepada Tuhan Yesus lah yang menyelamatkan kita, tidak ada yg lain. Beriman kepada Yesus berarti menjadikan Dia sebagai Juruselamat dan Tuan atas kita. Menjadikan Yesus sbg Tuan atas kita berarti kita itu baik adanya. Dengan percaya Yesus, kita telah menjadi baik.. Jadi perbuatan baik bukan lah jalan menuju keselamatan melainkan perbuatan baik adalah bagian dari iman kita kepada kristus..”
Bagaimanakah Gereja Katolik menyikapi pertanyaan ini? Bukankah dalam gereja Katolik kita mempercayai perbuatan kita dan cara hidup kita jg menentukan apakah kita diselamatkan atau tidak? Ayat alkitab manakah yang menunjukkan hal tersebut?
-Kenapa banyak saudara Kristen Protestan (hampir semua dari kenalan Protestan saya) meyakini mereka pasti akan masuk surga? Padahal kalau Katolik tidak mengatakan demikian?

Maaf pak mungkin pertanyaan saya terlalu banyak namun saya sangat ingin mengetahui jawaban dari kebingungan dan kegundahan saya selama ini, terlebih teman saya protestan sering membukakan ke semua hal tersebut pada saya. Terima kasih pak..
Tuhan Yesus memberkati – Tina.

Jawaban:

Shalom Tina,

Terima kasih atas pertanyaannya yang bagus. Memang ada beberapa model keselamatan yang diajukan oleh beberapa teolog, seperti theosentris, kristosentris, dan eklesiosentris. Dalam theosentris, maka keselamatan dikarenakan iman kepada Tuhan. Oleh karena itu, agama apapun dapat memperoleh keselamatan. Dalam kristosentris, keselamatan bersumber pada Kristus. Dan eklesiosentris, keselamatan bersumber pada gereja. Dari pengertian ini, bagaimanakah pengajaran Gereja Katolik?

1) Theosentris mengatakan bahwa keselamatan adalah karena Tuhan. Namun ini dapat diartikan secara luas, karena bagi naturalists, Tuhan ditemukan di alam, dan oleh karena itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang “personal” (mempunyai intellect and will). Dan banyak “natural religion” yang berpendapat seperti ini. Oleh karena itu, theosentris mempunyai konotasi yang begitu luas, karena menyangkut pertanyan: “Tuhan yang seperti apa?” Namun, “revealed religion” (agama berdasarkan wahyu, seperti: Islam, Yahudi, Kristen) juga mempercayai theosentris. Kita dapat melihat bagaimana Tuhan mewahyukan Diri-Nya dan rencana-Nya melalui perantaraan para nabi di dalam Perjanjian Lama.

2) Namun agama Kristen bukanlah agama buku, namun bersumber pada Kristus, sungguh Allah dan sungguh manusia. Seorang Kristen tidak dapat mendasarkan imannya hanya pada Perjanjian Lama, karena rencana keselamatan Allah belum sepenuhnya dinyatakan. Dalam diri Yesuslah, seluruh rencana keselamatan terbentang di hadapan manusia, karena Kristus yang sungguh Allah menjadi manusia sama seperti kita – kecuali dalam hal dosa. Pada saat seseorang mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan yang datang ke dunia, menebus dosa manusia sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, maka segala kuasa di bumi dan di Surga adalah wewenang Kristus. Dikatakan “16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia [Yesus].” (Kol 1:16) Oleh karena itu, seluruh keselamatan umat manusia mengalir dari misteri Paskah, yang berarti keselamatan hanya melalui Kristus (kristosentris).

Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1741)mengatakan “Pembebasan dan keselamatan. Dengan salib-Nya yang mulia, Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan mereka dari dosa yang membelenggu mereka. “Kristus telah memerdekakan kita” (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil bagian dalam “kebenaran” yang memerdekakan (Yoh 8:32). Kepada kita diberi Roh Kudus, dan “di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17), demikian santo Paulus mengajarkan. Sejak sekarang kita bermegah bahwa “kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8:21).

KGK 270 – “Penciptaan adalah “awal tata keselamatan”, “awal sejarah keselamatan” (DCG 51) yang berpuncak pada Kristus. Sebaliknya misteri Kristus adalah terang misteri penciptaan yang menentukan; ia menyingkap tujuan, untuk apa Allah menciptakan “pada mulanya… langit dan bumi” (Kej 1:1). Sejak awal Allah telah memikirkan kemuliaan ciptaan baru di dalam Kristus (Bdk Rm 8:18-23).

3) Pada saat seseorang percaya bahwa Kristus mendirikan Gereja-Nya di atas rasul Petrus dan juga pengikutnya [para paus sebagai penerus rasul Petrus] (lih. Mt 16:16-19), maka seseorang akan percaya bahwa keselamatan adalah melalui Gereja Katolik (Eklesiosentris). Hal ini diperkuat bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, dengan Kristus sebagai kepala dari Gereja (ef 5:23). Kalau Kepala dan Tubuh tak terpisahkan, maka kristosentris tidak akan terpisahkan dengan eklesiosentis. Oleh karena itu Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

KGK, 846: “Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (LG 14).

Jadi sebagai kesimpulan, Gereja Katolik percaya akan theosentris, karena Gereja mengakui bahwa keselamatan adalah dari Tuhan. Namun Tuhan yang sama menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus. Oleh karena itu theosentris tak dapat terpisahkan dari kristosentris. Dan karena Yesus memberikan kuasa kepada Gereja Katolik sebagai sakramen keselamatan, maka kristosentris tak terpisahkan dengan eklesiosentris. Oleh karena itu, theosentris, kristosentris dan eklesiosentris adalah tak terpisahkan, karena ketiganya merangkum kepenuhan rencana keselamatan Allah.

Untuk pertanyaan yang lain:

1) Konsep keselamatan: silakan untuk membaca beberapa artikel berikut ini: Siapa saja yang dapat diselamatkan? ; Paus Benediktus XVI dan Sola Fide

2) Umat Kristen Protestan meyakini bahwa mereka pasti akan masuk Sorga: silakan baca artikel ini Sekali selamat tetap selamat – tidak Alkitabiah.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Semoga dapat berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Siapakah tujuh gereja di Asia Kecil?

10

Pertanyaan:

Dear Stefanus

Anda menulis sbb :
Tujuh juga melambangkan “totality”. Dan kesatuan ini adalah sesuatu yang “universal”/umum atau katolik. Jadi, tujuh gereja dan gereja-gereja lain adalah tergabung dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dan inilah Gereja Katolik.

Apakah maksud anda seluruh karakter 7 gereja tsb ada di dalam gereja katholik ?

Sebab hampir semua dari 7 gereja ini tidak ada yang baik dihadapan Allah, semua dicela,apalagi Laodikia mau dimuntahkan oleh Allah dan hanya Filadelfia yang baik.
Salam – Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,

Terima kasih atas tanggapannya. Saya memang mengatakan bahwa Gereja Katolik yang satu, kudus, satu, dan apostolik adalah semua gereja, termasuk gereja perdana yang disebutkan di dalam Alkitab, tujuh Gereja di Asia Minor, juga semua gereja setelah itu dan sampai saat ini yang mempunyai kesatuan dengan Paus, sebagai pemimpin Gereja Katolik tertinggi, yang menjadi penerus rasul Petrus, yang diberi kuasa oleh Yesus sendiri untuk memimpin Gereja (Mt 16:18) dan untuk menggembalakan umat Allah (Jn 21:15-19). Oleh karena itu:

1) Tujuh gereja di Asia Minor adalah merupakan bagian dari Gereja Katolik. Sama seperti Gereja Katolik ada di seluruh negara, termasuk Indonesia, Asean, Amerika, Afrika, dll. Di masing-masing negara, Gereja Katolik dibagi dalam beberapa keuskupan (dipimpin oleh seorang uskup), yang terdiri dari banyak paroki. Maka adalah wajar, kalau misalkan beberapa paroki tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus dan Gereja-Nya, maka akan mendapatkan teguran dari uskup.

2) Mari kita melihat apa yang menjadi masalah dari tujuh Gereja yang disebutkan di kitab Wahyu. Kalau kita melihat surat teguran ini ditujukan kepada malaikat dari tujuh Gereja tersebut (contoh Why 2:1). Dan malaikat ini dapat diartikan sebagai uskup / pejabat Gereja yang diberi wewenang untuk menggembalakan umat.

a) Gereja di Efesus “1 “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. 2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. 4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. 7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” (Why 2:1-7)

b) Gereja di Smirna “1 “8 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali: 9 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmunamun engkau kaya–dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. 10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 11 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.”
(Why 2:8-11).

c) Gereja di Pergamus12 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: 13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. 14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. 15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. 16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. 17 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” (Why 2:12-17)

d) Gereja di Tiatira 18 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: 19 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. 20 Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. 21 Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. 22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. 23 Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. 24 Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. 25 Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. 26 Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; 27 dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk–sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku– 28 dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur. 29 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” (Why 2:18-29)

e) Gereja di Sardis1 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. 3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. 4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. 5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. 6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” (Why 3:1-6)

f) Gereja di Filadelfia7 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. 9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. 10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. 11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. 12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. 13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” (Why 3:7-13)

g) Gereja di Laodikia14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” (Why 3:14-22)

3) Machmud mengatakan “Sebab hampir semua dari 7 gereja ini tidak ada yang baik dihadapan Allah, semua dicela,apalagi Laodikia mau dimuntahkan oleh Allah dan hanya Filadelfia yang baik.” Saya menyarankan agar Machud membaca sekali lagi. Di point 2) saya telah mencoba memberikan highlight (yang di-bold: adalah yang baik, dan yang di-garis bawah adalah bagian yang jelek dan perlu diperbaiki). Dari surat-surat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa:

a) Semua Gereja di daerah tertentu mempunyai sesuatu yang baik dan yang buruk atau sesuatu yang harus diperjuangkan. Kalaupun ada yang semuanya baik (seperti Filadelfia, Smirna), dituntut untuk setia sampai akhir hayat mereka, dimana ditegaskan kepada Gereja di Filadelfia – “Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.” (Why 3:11) dan kepada Gereja Smirna – “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Why 2:10). Inilah yang terjadi pada Gereja Katolik sampai saat ini. Dari surat-surat tersebut kita tidak menemukan adanya kesalahan doktrin yang diberikan oleh Gereja, namun ada yang berbuat salah dalam implementasinya, seperti kesalahan tingkah laku, tidak baik dalam administrasi, menjadi suam-suam kuku, dll.

b) Pada saat Paus berbicara ex-cathedra, dia tidak mungkin sesat. Topik ini dapat dibaca disini (silakan klik). Dan surat kepada malaikat-malaikat (para uskup) dari tujuh Gereja ini semakin menegaskan bahwa para Uskup adalah penjaga dan pelindung ajaran dari Kristus. Bahwa ada beberapa keuskupan yang tidak menerapkan doktrin tersebut secara baik, tidak berarti bahwa doktrinnya salah.

Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Machmud.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Tahta Suci, Kuria Roma dan Negara Kota Vatikan

19

Pertanyaan:

Salam,

Saya ingin bertanya tentang sistem administrasi vatikan. Apa bedanya Tahta Suci, Kuria Roma dan Negara Kota Vatikan? Saya tahu urusan diplomatik (dubes/nuncio) adalah urusan Tahta Suci, kenapa dari namanya Tahta Suci malah urusan politik bukan urusan agama? Apakah jabatan diplomat di Tahta Suci adalah jabatan diplomat karir seperti pada negara-negara lain umumnya.
Pertanyaan tambahan, bagaimana pandangan bu Inggrid dan pak Stef tentang Gereja Katolik di China?
Salam, Michael

Jawaban:

Shalom Michael,

Terima kasih untuk pertanyaannya tentang sistem administrasi Vatican.

1) Tahta Suci, Kuria Roma, Negara Kota Vatican: (sumber – silakan klik)

a) Tahta Suci (Holy See) merujuk kepada otoritas tertinggi dari Gereja, dimana Paus sebagai uskup Roma dan kepala dari  persekutuan para uskup. Tahta Suci adalah merupakan pusat pemerintahan dari Gereja Katolik, yang mempunyai hukum internasional, seperti menandatangani persetujuan, dll.

The expression Holy See  refers to the supreme Authority of the Church, and thus the Pope as Bishop of Rome and head of the College of Bishops.  Defines therefore the Central Government of the Catholic Church.  As such, the Holy See is an institution which, according to the international laws and customs, has a juridical personality which permits it to sign treaties and to send and receive diplomatic representatives, as juridical equivalent of a state.

b) Kuria Roma (Roman Curia) adalah orang-orang yang ditunjuk untuk membantu Paus dalam mengatur Gereja.

The Roman Curia consists of institutions which assist the Holy Father in the government of the Church: Secretariat of State (divided into Section of General Affairs and Section for the Relations with the States); Congregations (for the Doctrine of the Faith, for Oriental Churches, for Divine Worship and Discipline of the Sacraments, for the Causes of Saints, for Bishops, for the Evangelization of Peoples, for the Clergy, for Institutes of Consecrated Life and Societies of Apostolic Life, for Catholic Education); Pontifical Councils (for the Laity, for Promoting Christian Unity, for the Family, for Justice and Peace, “Cor Unum”, for the Pastoral Care of Migrants and Itinerant People, for the Pastoral Assistance of Health Care Workers, for Legislative Texts, for Inter-religious Dialogue, for Culture, for Social Communications); Tribunals (Apostolic Penitentiary, Supreme Tribunal of the Apostolic Signature, Roman Rota); Offices (Apostolic Chamber,  Administration of the Patrimony of the Apostolic See, Prefecture of the Economic Affairs of the Holy See);  Other Institutions of the Roman Curia (Prefecture of the Pontifical Household, Office of Papal Liturgical Celebrations, Holy See Press Office, Central Statistics Office of the Church); Pontifical Commissions (for the Cultural Heritage of the Church, for Sacred Archeology, Biblical, for the Revision and the Emendation of the Vulgate, “Ecclesia Dei”); Pontifical Committees and the Commissions of Cardinals;  Institutions connected with the Holy See (Vatican Secret Archives, Vatican Apostolic Library, Vatican Typography, L’Osservatore Romano, Vatican Publishing House (Libreria Editrice Vaticana), Radio Vatican, Vatican Television Center, Fabric of Saint Peter’s, Office of Papal Charities), Labor Office of the Apostolic See, Pontifical Administrations and Delegations.

c) Negara Kota Vatican adalah hasil dari persetujuan Lateran antara Tahta Suci dengan kerajaan Itali tahun 1929. Tahta Suci mempunyai hak atas kota Vatican secara penuh, sehingga Paus dapat mengatur Gereja Katolik di seluruh dunia.

The State of Vatican City came into existence with the Lateran Treaty between the Holy See and the Kingdom of Italy  on 11 February 1929 and ratified on 7 June 1929, by which Italy recognized the full property rights and exclusive sovereignty on the Vatican as it is made up at present.  It is a very small territorial entity, with the purpose of making it possible for the Pope to exercise freely his Ministry of governing the universal Church   .

2) Dubes/nuncio berkonotasi politik dan bukan keagamaan?

Nuncio atau apostolic nuncio adalah perwakilan dari Paus atau duta besar yang ditunjuk oleh Paus sebagai wakilnya di negara tertentu. Tugas dari nuncio ini adalah untuk melindungi kepentingan dari Tahta Suci, baik diplomatik maupun urusan gereja. Dari definisi ini, jelas jabatan nuncio bukan hanya mengatur urusan diplomatik namun juga keagamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa urusan diplomatik yang diembannya senantiasa berkaitan dengan kepentingan keagamaan. Seperti seorang duta besar yang memperjuangkan dan melindungi kepentingan negara yang diwakilinya, maka seorang nuncio harus memperjuangkan dan melindungi kepentingan Tahta Suci, yaitu untuk menjadikan Gereja sebagai Sakramen Keselamatan bagi seluruh bangsa dengan cara memberitakan Kristus.

3) Gereja Katolik di China

Saya tidak terlalu mendalami tentang topik ini secara mendalam. Namun yang saya tahu secara sekilas adalah sebagai berikut: Gereja Katolik yang diakui oleh pemerintahan Cina adalah Gereja Katolik Patriotik (patriotic church). Uskup dari Patriotic Church ini ditunjuk oleh pemerintah Cina, namun biasanya uskup tersebut meminta restu dari Roma. Sedangkan Gereja yang lain adalah Gereja Katolik bawah tanah, yang setia terhadap Roma.

Paus Benediktus XVI melalui surat pastoralnya berusaha untuk merangkul umat Katolik di Cina dan pada saat bersamaan berusaha untuk mengadakan relasi diplomatik antara Tahta Suci dengan pemerintahan Cina. Yang menjadi masalah adalah Pemerintah Cina bersikeras untuk menunjuk uskup tanpa persetujuan Roma, sedangkan Roma mengatakan bahwa penunjukkan uskup adalah hak Paus, dan penunjukan uskup bukanlah untuk merubah struktur negara namun untuk memberitakan Kristus.

Lebih lanjut dalam suratnya, Paus Benediktus XVI mengatakan “that concrete forms of communication and cooperation between the Holy See and the People’s Republic of China may soon be established“. (sumber: silakan klik).

Kita turut mendoakan Gereja Katolik di Cina, agar mereka dapat terus bertumbuh di dalam iman walaupun dalam kondisi yang sulit. Kita percaya bahwa berkat Tuhan dicurahkan secara luar biasa dalam kondisi-kondisi yang sulit.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Michael.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Tanbahan dari Romo Wanta:

Michael Yth

Sejarah pengakuan internasional Takhta Suci sebagai Negara yang berkedudukan di Vatikan sudah dimulai sejak persetujuan di Laterano IV Roma tahun 1850an. Karena memiliki hubungan ke beberapa negara dalam hal keagamaan dan berkaitan hubungan dengan Negara ybs maka Takhta Suci diakui sebagai Negara kecil seperti Monaco, dll yang memiliki hanya 40 ha luas tanah diperbukitan kota Roma (Vatikan). Jadi yang benar bukan Vatikannya tapi Takhta suci (bukan kedutaan Vatikan tetapi kedutaan Takhta Suci). Unsur hubungan keagamaan lebih dominan ke beberpa negara yang tentunya hak diplomatik sama dengan negara lain tapi bidang karya berbeda. Kuria disebut Kuria Romana: Beberapa departmen yang membantu Paus dalam urusan kegamaan. Politik hanya karena kaitan dengan Negara ybs. Apa itu politik? Politik termasuk di dalam urusan mengusahakan kebaikan bersama maka Gereja juga bisa dan boleh berpolitik tetapi tidak praktis, demi kebaikan bersama Gereja dapat ikut serta menciptakan dunia yang lebih baik. Dalam jabatan tidak ada karier seperti di dunia pada umumnya.

salam
Rm Wanta

Bangsa Israel kejam?

15

Pertanyaan:

Dear Ibu Inggrid dan Bpk. Stef,

Baru2 ini banyak berita tentang umat Yahudi/ bangsa Israel menyerang bangsa Arab terutama Palestina. didalam benak aku timbul banyak pertanyaan diantaranya:
1. Kenapa sejak dahulu bangsa israel dan bangsa Arab tidak pernah rukun?padahal sama2 mahluk ciptaan Allah
2. banyak sekali orang yg mengatakan bahwa bangsa israel adalah bangsa yg kejam yg selalu menginginkan perang, knp?dan banyak dari umat muslim yg mengatakan seperti itu.
3. Bangsa Israel adalah Bangsa pilihan Allah tetapi kenapa banyak perbuatan yg tidak terpuji telah dilakukan?
4. Aku merasa sebagai umat yahudi, aku sungguh sangat tidak terima jika dikatakan sebagai umat yg kejam, jahat…..dll.

Aku sungguh sangat sedih sekali mendengarnya…aku ingin sekali antara umat nazrani dan umat muslim saling berdamai. tidak ada perselisihan.

Aku juga ingin bisa memberikan jawaban atas pertanyaan teman saya yg muslim bahwa semuanya itu tidak benar tentang berita bangsa israel adalah bangsa yg kejam.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga rasa bingung yg ada dipikiran saya bisa terjawab.

Terima Kasih,
Yuliana

Jawaban:

Shalom Yuliana,

Sebenarnya, kita sebagai umat Kristiani tidak dapat dikatakan sebagai umat Yahudi dalam arti harafiah, sebab memang kita bukan orang Yahudi. Namun memang benar kita adalah umat pilihan Allah, atau dapat dikatakan sebagai Israel yang baru “the New Israel”,  karena telah percaya kepada Kristus yang adalah Putera Allah yang dilahirkan sebagai orang Yahudi sekitar 2000 tahun yang lalu. Dan karena Pembaptisan kita diangkat menjadi saudara-saudari angkat Yesus, maka di sinilah kita tergabung dengan Yesus dan Gereja, yang menjadi bangsa pilihan Allah yang baru (the New People of God). Ini adalah tanggapan saya untuk pertanyaan anda:
1) Kita patut prihatin dengan ketidak- rukunan antara bangsa Israel dan bangsa Arab. Ya, seharusnya, memang sebagai umat ciptaan Allah kita harus saling mengasihi. Namun tak bisa dipungkiri, ada banyak kejadian di sepanjang sejarah manusia yang saling berbalasan antara kedua bangsa tersebut. Justru kita, yang telah percaya kepada Kristus, seharusnya dapat menunjukkan kepada teman-teman kita yang muslim, bahwa bukan demikianlah yang diajarkan oleh Kristus. Sebab ajaran yang kita terima dari Kristus adalah yang hukum Kasih kepada Tuhan dan sesama, yang menyempurnakan kesepuluh perintah Allah. Jika kita membaca Perjanjian Lama, memang kita melihat bagaimana berulang-ulang bangsa Israel tidak mematuhi perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa. St. Agustinus menerangkan hal ini dengan mengatakan, sebab hanya dengan mengetahui perintah Tuhan saja tidak cukup, kita harus menerima rahmat Roh Kudus dari Tuhan yang tercurah di dalam Kristus, baru kita dapat hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Orang-orang Yahudi yang sekarang hidup di Tanah Suci, kebanyakan bukan pengikut Kristus. Prosentase umat Kristen di Tanah suci adalah sekitar 8 %, dan umat Katolik bahkan mungkin tidak sampai setengahnya. Kebanyakan dari mereka adalah penganut Yahudi yang tidak percaya bahwa Kristus adalah Sang Mesias.
2) Jika kita melihat film The Passion of the Christ, kita dapat melihat kekejaman orang-orang Yahudi yang menyalibkan Kristus. Kekejaman orang Yahudi itu sebenarnya mewakili kekejaman manusia, yang bisa terjadi dalam banyak hal. Bukan untuk membela diri, tetapi kita bisa melihat bahwa peperangan antara bangsa-bangsa non Yahudi juga merupakan kekejaman. Dan bangsa Arab sendiri bukannya tidak pernah membalas kekejaman itu dengan bentuk kekejaman yang lain. Beberapa kasus bom manusia dan bom mobil adalah salah satu contohnya. Ini sebetulnya harus menjadi bahan permenungan kita, bahwa memang kita tak cukup hanya berdoa bagi diri kita dan keluarga kita tetapi juga bagi dunia, bagi mereka yang belum mengenal Kristus atau bahkan mereka yang mengaku mengenal Kristus namun hidupnya tidak mencerminkan hal itu. Juga, kita perlu berdoa agar kesaksian hidup kita sesuai dengan ajaran Kristus, yaitu kasih.
3) Menurut rencana keselamatan Allah, memang bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan, oleh karena itu, Yesus Kristus Putera Allah memilih untuk dilahirkan sebagai orang Yahudi.  Namun demikian, bangsa Yahudi telah menolak Tuhannya, seperti yang dituliskan dalam kitab Yesaya, “Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka [bangsa Israel] memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yes 1:2-3). Alkitab berkali-kali menceritakan ketidaksetiaan bangsa Yahudi kepada Allah yang telah memilih mereka, dan ini memang merupakan misteri bagi kita. Mungkin Allah mengizinkan hal itu terjadi, untuk mengajarkan kepada kita akan besarnya kasih-Nya, yang tetap setia walaupun umat-Nya tidak setia. Dan ini mencapai puncaknya, dengan mengutus Kristus Putera-Nya, yang diizinkan-Nya untuk diserahkan ke tangan orang-orang Yahudi, disiksa sampai wafat di kayu salib, demi menghapus dosa manusia. Jadi perbuatan yang tidak terpuji dari bangsa Israel yang sekarang ini harusnya malah menjadi pendorong bagi kita, para pengikut Kristus agar menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai bangsa pilihan Allah yang baru (the New People of God/ the New Israel). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan, agar kita tidak menuntut mata ganti mata dan gigi ganti gigi, melainkan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:38-44). Jika Tuhan Yesus sendiri melaksanakan ayat ini, maka kitapun sebagai pengikut-Nya, selayaknya melaksanakannya.
4) Jika kita mendengar kecaman dari pihak non-Katolik yang mengatakan bahwa orang Yahudi itu kejam, kita mungkin perlu meluruskan terlebih dahulu, dari segi definisinya. Sebab orang Katolik atau orang Kristen bukanlah orang Yahudi/ Israel menurut daging, walaupun memang, dengan mengimani Kristus, kita menjadi keturunan Abraham, menjadi bagian dari bangsa pilihan Allah yang baru. Jadi memang mungkin perlu kita mengakui bahwa memang secara fakta, mereka [orang Yahudi yang berperang di Tanah Suci] itu kejam dengan segala taktik perang mereka, seperti kita juga mengakui bahwa bangsa Arab yang berperang dengan mereka juga sama-sama melakukan kekejaman. Ini adalah realitas yang selayaknya menggugah hati kita untuk terus berdoa bagi perdamaian dunia, dan mungkin dalam skala kecil, membina persahabatan yang tulus dengan teman-teman kita yang  Muslim. Semoga dengan bersahabat dengan kita, mereka dapat mengetahui bahwa agama Kristen/ Katolik tidak pernah mengajarkan kekejaman, dan malah sebaliknya, mengajarkan kasih kepada semua orang. Selanjutnya, marilah juga jangan kita menyamaratakan bahwa semua orang Yahudi itu kejam, dan juga jangan mengatakan bahwa semua orang Arab itu kejam, hanya karena ada sebagian dari mereka yang melakukan kekejaman. Semoga kasih yang ada di dalam hati kita membuka mata hati kita untuk melihat hal yang positif di dalam setiap orang.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab