Home Blog Page 293

Ketidakmampuan memberikan kesepakatan perkawinan

7

Relevansi Kanon, 1095

Cacat kesepakatan

Kanon-kanon yang berbicara tentang cacat kesepakatan nikah adalah kanon 1095 sampai dengan 1103. Kanon 1095 – kan 1100 dan kan 1102 – 1103 berbicara tentang cacat dalam perbuatan kemauan; dan kanon 1101 berbicara tentang cacat dalam tujuannya.

Kanon 1095 berbicara tentang: tidak mampu melangsungkan perkawinan:

  1. Yang kekurangan penggunaan akal budi yang memadai,
  2. Yang menderita cacat berat dalam kemampuan menegaskan penilaian mengenai hak-hak serta kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan yang harus diserahkan dan diterima secara timbal balik
  3. Yang karena alasan-alasan psikis tidak mampu mengemban kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan.

Perbuatan kemauan memberikan kesepakatan perkawinan sebagai suatu perbuatan manusiawi menuntut suatu kesadaran diri akan apa yang sedang dibuat dan kebebasan kehendak untuk memilih melakukan hal itu.

Kan 1095 no. 1

Kanon ini berbicara tentang mereka yang tidak mampu melaksanakan perbuatan kemauan karena alasan tidak dapat menggunakan akalbudinya secukupnya. Misalnya pada waktu menikah tidak secukupnya sadar akan apa yang dilakukan. Menggunakan akal budi secukupnya bukan semata-mata berarti sui compos (usia dewasa) tetapi menyangkut suatu keadaan tidak sadar dalam hubungannya dengan beratnya perbuatan kemauan yang menuntut keterlibatan semur hidup. Seseorang bisa menjadi tidak mampu menggunakan akal budi secukupnya untuk kesepakatan nikah oleh karena cacat permanen, seperti penyakit mental atau oleh karena cacat sementara. Contohnya, gangguan mental sementara yang serius adalah gangguan karena diracuni oleh obat atau alkohol dan sebagainya. Sedangkan gangguan yang mengakibatkan seseorang tidak mampu menggunakan akal secukupnya adalah sesuatu yang permanen seperti penyakit mental tetap. Hal itu menyebabkan cacat berat dalam pembentukan pandangan dan bahkan bagi yang menderita, sebab orang ini sesungguhnya tidak mampu memenuhi kesepakatan nikah.

Kan. 1095 no. 2

Supaya orang bisa menikah dengan sah, selain mengetahui apa yang sedang dilakukan kini dan di sini, orang itu juga harus mampu mengerti kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan dan memilihnya dengan bebas dan bertanggungjawab. Untuk itu dituntut kemampuan tertentu dalam membentuk pandangannya tentang kewajiban perkawinan. Pembentukan pandangan ini adalah kemampuan kodrati yang memungkinkan seseorang untuk membuat penilaian evaluatif yakni tidak hanya mengetahui sesuatu tetapi juga kewajiban atau rentetan perbuatan yang diakibatkan bagi dia sendiri sebagai konsekuensinya. Kemudian, setelah melalui pertimbangan yang masak mengenai hal ini, memilih dengan kehendak bebas untuk bertindak.

Kita harus ingat bahwa dalam tindakan manusiawi manapun pikiran dan kehendak saling bekerjasama. Pikiran memahami suatu obyek, tentang apakah obyek itu, dan selanjutnya membentuk pemahaman atas obyek itu lewat kemampuan kognitif. Jika timbul minat untuk memiliki obyek itu, lalu pikiran di bawah pengawasan kehendak, mulai membuat penilaian evaluatif tentang obyek itu. Kemudian mengolah apa yang menjadi dampak dari pilihan itu, apakah yang akan memengaruhi hidupnya, apa yang akan diakibatkan, kewajiban apa yang ditimbulkan dan sebagainya.

Jika seseoarang menjadi dewasa, biasanya dia mendapatkan kemampuan membentuk pandangan ini. Pembentukan pandangan dapat menjadi cacat karena ketidakdewasaan, karena penyakit psikis tertentu yang mengganggu proses penilaian itu atau karena cacat kepribadian yang begitu memengaruhi seorang sehingga dia tidak mampu menegaskan penilaian. Kebebasan untuk memilih dapat secara serius terpengaruh oleh penyakit psikis tertentu dan membuat seseorang hanya mengikuti dorongan yang tidak rasional yang tidak terkontrol. Kan. 1095 no.2 tidak berbicara tentang tidak adanya sama sekali kemampuan membentuk pandangan tetapi adanya cacat serius yang menyangkut hak-hak dan kewajiban-kewajiban perkawinan. Apa itu cacat serius harus dinilai seimbang dengan apa itu perkawinan yakni keterlibatan seumur hidup yang tak bisa dibatalkan (communio totius vitae).

Sehubungan dengan ketidakdewasaan, telah ditunjukkan bahwa dalam menangani perkara-perkara semacam itu suasana hidup mempelai harus diperhitungkan juga, sebab beberapa unsur ikut memengaruhi. Misalnya sejarah, latar belakang keluarga, kepercayaan religius mempunyai pengaruh kuat atas seseorang dan dapat menghalangi pemahaman hak dan kewajiban perkawinan.

Kan 1095 no 3

Seseorang yang menikah diandaikan mampu memikul kewajiban-keajiban hakiki perkawinan. Tetapi bisa terjadi bahwa seseorang walaupun mampu menyadari apa yang menjadi kewajiban-kewajiban hakiki dan dampaknya, tidak mampu memenuhi atau mengemban kewajiban-kewajiban itu. Bukan karena ia jahat, tetapi karena ada cacat dalam kepribadiannya. Maka kan. 1095, no. 3 menegaskan bahwa mereka yang karena alasan-alasan yang bersifat psikologis tidak mampu memikul kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan, tidak mampu melaksanakan perkawinan.

Ungkapan karena alasan-alsan psikis bersifat terbuka, maksudnya memberi kesempatan berkembang bagi penafsiran kanonik dan iursiprudensi. Iurisprudensi Rota Romana telah memilih beberapa kewajiban hakiki perkawinan yang mungkin ditolak oleh salah satu atau kedua mempelai karena adanya kelainan psikis yang serius (bdk. A. Mendoça, Psychopatic Personality and the Nullity of Marriage, studia Canonica, 1982, p. 101-102):

  1. Hak dan kewajiban persetubuhan,
  2. Kelanggengan hak dan kewajiban persetubuhan,
  3. Ekslusivitas hak dan kewajiban persetubuhan,
  4. Hak dan kewajiban untuk bersetubuh mensura normali et moho humani,
  5. Hak dan kewajiban untuk kesejahteraan fisik anak sejak di dalam kandungan,
  6. Hak dan kewajiban untuk pendidikan rohani dari anak,
  7. Hak dan kewajiban untuk membangun hubungan pribadi (communio viate),
  8. Kelanggengan dan eksklusivitas dari hak dan kewajiban atas communio vitae.

Kesimpulan

Hak-hak dan kewajiban-kewajiban di atas adalah apa yang dituntut untuk membangun dan mendukung persekutuan hidup suami-isteri (communio totius vitae). Maka seseorang harus mampu membangun hubungan antar pribadi mengusahakan kebaikan pasangannya (bonum coniugum), menjadikan perbuatan persetubuhan norma dan manusiawi untuk dirinya untuk melahirkan anak dan dengan cara yang wajar mengusahakan pengembangan fisik dan rohani anak-anak (bonum proli) serta menaati kesetiaan suami-isteri (bonum fidei).

Tanggapan Katolik tentang dua tahap Kedatangan Kristus di akhir jaman

10

Pertanyaan:

[Dari Katolisitas: Tulisan berikut ini adalah pandangan Machmud, yang mewakili pandangan salah satu gereja Protestan tentang teori ‘Secret Rapture’/ ‘pengangkatan rahasia’ yang mengajarkan bahwa di akhir dunia nanti Yesus akan datang dua tahap, pertama secara rahasia, untuk mengangkat jiwa-jiwa orang-orang pilihan-Nya dan yang kedua adalah secara publik, sebagai Hakim dan Raja.

Di bawah tulisan Machmud adalah jawaban Ingrid yang mengambil dasar dari pengajaran Alkitab seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik].

Salam damai sejahtera

Ingrid menulis :
Jadi menurut ajaran Gereja Katolik, kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir jaman nanti hanya akan terjadi satu kali.
Saya kira Gereja Katolik tidak mengajarkan seperti itu, sebab kalau tidak maka berarti ajaran Gereja Katolik tidak sesuai dengan apa yang ditulis di dalam Alkitab.

Menurut saya:
Mungkin Ingrid kurang jeli dalam mempelajari Alkitab dan hanya mengikuti saja apa yang sudah ditulis oleh para bapa2 Gereja.

Injil Mat 10 : 26-27 menulis : Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.

Jadi kalau bapa2 Gereja tidak/belum menuliskan tentang hal kedatangan Tuhan dengan lengkap, maka kita sebagai generasi akhir zaman wajib untuk menyelidiki dan menemukan apa yang tersembunyi itu dan memberitakan kepada orang lain,sebab Tuhan sudah berjanji akan membukakanNya.
Jangan kita terpaku (puas) hanya dengan apa yang diajarkan oleh bapa2 Gereja saja, tapi marilah kita belajar untuk mengetahui apa2 yang masih termeterai/tersembunyi yang belum dibukakan tersebut.

Kalau A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom Orchard p. 637-638 meng interpretasikan hanya sampai hari kedatangan Yesus yang pertama kali, maka itu berarti tidak lengkap, sebab 70 minggu Daniel itu mencakup mulai zaman Daniel sampai dengan Kerajaan 1000 tahun.
Pada akhir zaman sekarang ini semua janji Allah yang tertulis di dalam Alkitab akan segera digenapi, dan semua yang dahulu masih tertutup tidak pernah diketahui oleh para orang2 suci akan dibukakan bagi kita (asalkan kita mau menyelidiki Alkitab dengan diterangi oleh Roh Kudus)
Juga tentang Kerajaan 1000 tahun itu pasti ada nanti diatas bumi kita yang sekarang ini, jadi Alkitab bukan hanya menunjukkan tentang suatu masa/waktu yang panjang, sebab semuanya ada tertulis di dalam Alkitab. Cobalah selidiki dengan cermat.

Dan untuk kedatanganNya yang kedua kali ternyata memang terjadi dalam 2 tahap, Tahap pertama Dia datang sebagai pencuri, sehingga orang2 beriman yang tidak ber-jaga2 dan tidak penuh Roh Kudus pasti akan tertinggal.
Sebab dalam tahap yang pertama ini Dia menjemput mempelaiNya (orang2 pilihanNya) baik yang sudah mati maupun yang masih hidup.
KedatanganNya tahap pertama terjadi pada pertengahan minggu ke 70 Daniel, jadi kalau sudah terjadi pengangkatan (1Tes 4 : 16-17), maka kita pasti akan tahu kapan Tuhan datang lagi pada tahap yang kedua yaitu 1.260 hari lagi atau 3,5 tahun lagi.
Itulah sebabnya saya katakan bahwa minggu ke 70 Daniel adalah PATOKAN untuk menghitung kapan Tuhan datang yang kedua kali tahap yang kedua.
Berikut ini ayat2 yang menceriterakan tentang hal itu.

TAHAP I :
Tuhan datang seperti pencuri untuk menjemput mempelainya, Dia datang di-awan2 dan tidak semua orang melihat/tahu kecuali orang2 pilihannya .

1Tes 4 : 16-17 (Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan).
1Tes 5 : 2 (karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam).
1Tes 5 : 4 (Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri)

Wah 3 : 3 (Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu).

Wah 16 : 15 (”Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”)

TAHAP II
Tuhan datang sebagai HAKIM dan RAJA untuk mengadili umat manusia yang tertinggal yang tidak ikut terangkat pada kedatanganNya yang kedua tahap pertama.
Dia datang di dunia untuk membinasakan Antikris dan para pengikut2nya.
Dan kedatanganNya ini dilihat oleh semua orang yang ketinggalan.

Mat 24 : 30 (Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.)
Luk 21 : 27 (Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.)
Yudas 14 (Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya,)
Wah 1 : 7 (Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.)

Inilah sedikit dari apa yang sudah saya ketahui yang ingin saya bagikan buat katolisitas.org. Semoga bisa menjadi berkat buat semua orang yang membacanya.

Salam, Machmud

Tambahan informasi dari Machmud tanggal 6 Juni 2009

Salam dami sejahtera

Berikut ini bukti2 kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua dalam 2 tahap :

BUKTI-BUKTI 2 TAHAP KEDATANGAN TUHAN YESUS :
Alkitab menulis bahwa ada 2 macam kedatangan Tuhan
Inilah bukti-buktinya :

2 TAHAP
Tahap I , biasanya disebut PENGANGKATAN .
Ini adalah kedatangan Tuhan untuk Gereja / UmatNya 1Tes 4 : 16-17
Waktunya sebelum zaman Antikris,
Keterangan : Gereja tidak mengalami zaman Antikris tetapi baptisan api atau masa hukuman Gereja dalam 3,5 tahun I sebelum Antikris.
Tahap II, biasanya disebut KEDATANGAN TUHAN YANG KE-2.
Ini adalah kedatangan Tuhan untuk umum, untuk orang berdosa , untuk seluruh dunia
Waktunya sesudah zaman Antikris

SAAT KEDATANGANNYA
Tahap I sebelum zaman Antikris
2Tes2 : 7-8, Antikris baru nyata sesudah Gereja lenyap
Mat 24 :20-21. “lari” = pengangkatan, lalu zaman Antikris tiba
Tahap II sesudah zaman Antikris
Wah 19 : 19-20 Tuhan Yesus datang dengan orang suci mengalahkan Antikris
2Tes 2 : 8 dengan nafas mulut, Tuhan Yesus membinasakan Antikris

KERAHASIAAN WAKTU KEDATANGANNYA
Tahap I rahasia
1Tes 5 : 2 seperti pencuri, lihat Wah 18 : 4-5 / Wah 16 : 15 / Mat 24 : 36 & 43 / Luk 12 : 39-40 / 2Pet 3 : 10 / Wah 3 :
Tahap II dapat dihitung
Wah 11 : 2 sesudah zaman Antikris 1260 hari

NAMA HARI ITU
Tahap I hari Tuhan
1Kor 1 : 8 kesukaan,penghiburan,kemegahan 1Kor 5 : 5 / 2Kor 1 : 14 / 1Tes 5 : 2 / 2Pet 3 : 10
Tahap II hari yang besar (Murka,hukuman)
Yud 6 Penghakinan (penghukuman) pada hari yang besar
Mat 4 : 5 hari Tuhan yang besar dan dahsyat/hebat
Wah 6 : 17 / Wah 16 : 14 hari besar murka

PERISTIWA YANG TERJADI PADA KEDATANGAN TUHAN
Tahap I pengangkatan 1Tes 4 : 17 / Luk 17 : 34-37 / Mat 24 : 40-41
Tahap II perang Harmagedon Wah 16 : 16 / Wah 19 : 16-21

DATANG SEBAGAI APA (I)
Tahap I sebagai pencuri Wah 3 / 3 / Wah 16 : 15
Yer 49 : 9a + Obaja 5 mengambil barang berharganya, secukupnya
Yer 49 : 9b memetik buah anggur, meninggalkan tuaian susulan.
Tahap II sebagai raja, menyebabkan orang2 ketakutan Wah 19 : 16 / Wah 1 : 7 / Mat 24 : 30 / Luk 21 : 27

DATANG SEBAGAI APA (II)
Tahap I mempelai laki-laki Mat 25 : 1
Masuk pesta perjamuan malam pernikahan Anak Domba Allah Wah 19 : 7-9
Yang dibawa : 5 anak dara yang punya minyak
Tahap II hakim yang menjatuhkan hukuman 2Tim 4 : 1 / Wah 1 : 7

CARA KEDATANGANNYA
Tahap I tersembunyi, tahu2 orang Kristen yang sungguh2 hilang Luk 17 : 34-36
Hilang tampa permisi Mat 24 : 40-41
Mat 24 : 23 & 26 dipalsukan sebab tidak diketahui
Tahap II secara umum, terang-terangan
Wah 1 : 7 setiap mata memandang Dia , tidak ada yang memalsukan

TUJUAN KEDATANGANNYA
Tahap I meluputkan
Luk 21 : 36 / Mat 24 : 16-18 dihitung layak, terluput dari aniaya besar, bertemu Anak Manusia
Tahap II menghukum pemberontak
2Tes 1 : 8 jangan sampai tidak bisa luput

UNTUK SIAPA
Tahap I khusus untuk gereja,umat Tuhan yang ber-jaga2 (penuh Roh Kudus) Ibr 9 : 28 / Mat 25 : 10 / 1Tes 4 : 16-17
Tahap II untuk umum, orang berdosa,seluruh dunia
Mat 24 : 30 semua bangsa melihat
Wah 1 : 7 semua mata melihat Wah 19 : 19-20

DATANG DIMANA
Tahap I datang di-awan2 hadirat Tuhan
1Tes 4 : 17 yang tertinggal tidak melihatNya Mat 24 : 40-41 / Luk 17 : 34-36
Tahap II mendarat dibumi
Zak 14 : 4 mendarat di bukit Zaitun
Kis 1 : 11 / Wah 19 : 19-21 / Mat 25 : 31-31

DATANG DENGAN SIAPA
Tahap I dengan malaikatNya 2Tes 1 : 7 / Mrk 8 : 38 / Mat 16 : 27 / Luk 9 : 26
Tahap II dengan orang2 suciNya yang sudah naik dalam tahap I
Yud 1 : 14 dengan beribu-ribu orang suci , Zak 14 : 5

ARTINYA BAGI YANG MENUNGGU
Tahap I pengharapan yang keberkatan Tit 2 : 13
1Pet 4 : 13 kesukaan yang amat besar
1Pet 1 : 7-8 / 1Yoh 3 : 2 / 1Tes 4 : 18
Tahap II hari murka yang dahsyat
Wah 6 : 16-17 lebih baik mati, belum diadili,belum dihukum, sudah takut, sebab mereka tahu perbuatannya jahat
Yud 1 : 14-15 menjatuhkan hukuman
Mat 24 : 30 / Wah 1 : 7 semua meratap

APA YANG DIALAMI ORANG-ORANG YANG MENUNGGU
Tahap I sukacita, naik ikut ke pesta Perjamuan malam pernikahan Anak Domba Allah
1Tes 4 : 17 ber-sama2 dengan Tuhan se-lama2nya
Wah 12 : 14 & 6 dipelihara oleh Allah
Mat 16 : 27 mendapat upah perbuatannya
Tahap II ketakutan, meratap dan dibunuh mati
Wah 19 : 15 & 21 semua dibunuh
2Tes 2 : 8 dibunuh dengan nafas mulutNya

DISERTAI KEBANGKITAN ORANG MATI (Mat 27 : 52 / Mat 28 : 2)
Tahap I semua orang beriman yang mati bangkit (1Tes 4 : 16)
Tahap II tidak ada tanda2 kebangkitan orang mati
Wah 6 : 15 bersembunyi sebab takut

TANDA-TANDA KHAS DARI KEDATANGAN TUHAN
Tahap I orang2 hilang bersamaan diseluruh dunia
Luk 24 : 12 / Yoh 20 : 6-7 pakaian yang tertinggal
Mat 27 : 52 / Yhz 37 : 12-13 kubur yang pecah
Tahap II tidak ada tanda sebab hampir semua dibunuh Wah 19 : 17-18

AKHIR DARI DOSA
Tahap I terlepas dari akibat dosa
Luk 21 : 28 mengalami penebusan tubuh, lepas dari akibat dosa (maut).
Kita sudah mengalami tebus roh, masih menunggu tebus tubuh Ef 4 : 30 / Rom 8 : 23
Tahap II merasakan akibat dosa se-penuh2nya
Mat 24 : 27 = tahap I
Mat 24 : 30-32 = tahap II = suara sangkakala yang besar, kumpulan orang terpilih

Demikianlah bukti-bukti bahwa kedatangan Tuhan yang ke dua itu terjadi dalam 2 tahap.

Salam
Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Pertama-tama, terima kasih anda sudah menuliskan panjang lebar pandangan anda tentang tahapan kedatangan Yesus di akhir jaman. Setidak-tidaknya, sekarang pembaca Katolisitas dapat membaca dari tulisan anda, apa yang menjadi pandangan salah satu gereja Protestan tentang hal ini.
Namun sebagai orang Katolik, saya juga tetap memegang apa yang menjadi pengajaran Gereja Katolik, yang memang berbeda dengan pandangan tersebut. Saya telah mencoba menjabarkannya dalam artikel “Rapture” menurut ajaran Gereja Katolik (silakan klik), dan saya akan mencoba menjelaskan sekali lagi pada jawaban saya ini. Semoga Machmud dapat membaca dan merenungkannya, dan saya persilakan anda menilai menurut terang hati nurani anda, mana yang benar.

1. Gereja Katolik berpegang pada pengajaran di Alkitab, bahwa kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi hanya satu kali saja, secara tiba-tiba seperti pencuri, dan tidak dapat diketahui sebelumnya:

– Ibr 9:28: “…demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”
– 1Tes 5 : 2 “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.”
– Mat 24:44: Yesus memperingatkan bahwa kedatangan-Nya adalah “pada saat yang tidak kamu duga.”
– Mat 25: 13: Yesus berkata, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”
– Mat 13:35-37: Dalam perumpamaan, Yesus mengajarkan agar kita berjaga-jaga, sebab “kamu tidak tahu bilamana tuan rumah itu pulang.”
– Luk 12:46: “Tuan rumah itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, pada saat yang tidak diketahuinya.”
– Kis 1:7: Yesus berkata, bahwa kita “tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”
-1 Tes 5:2; 2 Pet 3:10; Why 3:3, Why 16:15 – Hari Tuhan akan datang seperti pencuri ….

Maka orang-orang yang berusaha menghitung akhir jaman, apalagi yang sampai dengan yakin mengumumkannya, sebenarnya tidak mengindahkan pengajaran yang disampaikan oleh ayat- ayat ini.

2. Gereja Katolik, berpegang pada ajaran Bapa Gereja, terutama St. Agustinus (lihat City of God, buku XX, 8) , tidak mengartikan 1000 tahun tersebut sebagai arti literal, namun mengartikannya sebagai masa Gereja Katolik, yang terbentang antara kedatangan Yesus yang pertama dan kedatangan-nya yang kedua di akhir jaman. Ia menggambarkan bahwa Iblis telah diikat oleh kematian dan kebangkitan Yesus. Maka  kata seribu di sini merupakan simbol, seperti juga ayat-ayat yang lain dalam Alkitab yang mengatakan ‘seribu’, atau ‘beribu-ribu’ sebagai angka yang menggambarkan jumlah yang besar/ banyak sekali. Contoh:

– Mzm 50:10, “sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” (dalam bahasa Inggris, “a thousand hills”)
– Dan 7:10, “seribu kali beribu-ribu melayani Dia” (dalam bahasa Inggris, “a thousand thousands served Him.”)
– 2 Pet 3:8, “di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.”

Lebih lanjut tentang penjelasan seribu tahun ini, silakan juga membaca jawaban ini (silakan klik).

3. Anda mengutip Mat 10:26-27. Ya Gereja Katolik juga meyakini bahwa ayat itu akan digenapi pada saat Penghakiman Umum/ Terakhir, di mana Yesus akan menyatakan segala sesuatu, dan tidak ada yang tersembunyi. Dosa yang terkecilpun akan dinyatakan salah di hadapan semua orang, dan kebaikan biar yang kecil sekalipun akan dihargai dan dinyatakan di hadapan semua orang.

4. Anda menulis, “Jadi kalau bapa2 Gereja tidak/belum menuliskan tentang hal kedatangan Tuhan dengan lengkap, maka kita sebagai generasi akhir zaman wajib untuk menyelidiki dan menemukan apa yang tersembunyi itu dan memberitakan kepada orang lain, sebab Tuhan sudah berjanji akan membukakanNya.
Jangan kita terpaku (puas) hanya dengan apa yang diajarkan oleh bapa2 Gereja saja, tapi marilah kita belajar untuk mengetahui apa2 yang masih termeterai/tersembunyi yang belum dibukakan tersebut.”

Dalam hal ini saya kurang sepaham dengan anda. Bagi saya, seandainya masih ada kekurangan yang belum dinyatakan oleh Bapa Gereja, maka saya sebagai orang Katolik hanya mengimani apa yang dinyatakan oleh Magisterium Gereja Katolik, sebab mereka adalah para penerus rasul-rasul Yesus, yang dipimpin oleh Roh Kudus sehingga tidak mungkin sesat sampai akhir jaman (lih. Mat 28:20, Mat 16:18, Mat 18:18). Maka saya tidak dapat dan bahkan tidak berani mengemukakan pendapat saya sendiri dalam hal doktrin, sebab saya tidak mau melepaskan diri dari ajaran yang sudah ditetapkan oleh Yesus dan para rasul, seperti yang dipercayakan kepada para penerus mereka, yaitu Magisterium Gereja Katolik.

5. Buku A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen ed. Dom Orchard p. 637-638, memang menyampaikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang kedatangan Yesus. Namun apa yang saya tuliskan tidak terbatas pada buku itu saja. Pertama-tama, malah saya mengambil sumber dari Alkitab, pengajaran Bapa Gereja dan Katekismus Gereja Katolik yang juga mengajarkan hal yang sama. Seperti yang sudah saya katakan tadi, kedatangan kedua ini tidak terjadi bertahap-tahap, tetapi satu kali saja. Jadi apa yang anda pisahkan, tahap I dan tahap II sebenarnya menurut ajaran Gereja Katolik, merupakan satu peristiwa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa gereja Protestan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang hal ini. Bahkan tentang kedatangan tahap 1-pun banyak pendapat. Ada yang mengatakan rapture terjadi pada awal minggu ke 70, ada yang mengatakan ditengah-tengah minggu tersebut. Keduanya pada dasarnya mengacu pada kedatangan Yesus yang terjadi lebih dari sekali, pertama, pada saat rapture/ pengangkatan, kedua saat mengalahkan Anti-Kristus, atau bahkan mungkin juga pada akhir kerajaan 1000 tahun di dunia. Hal ini tidak sesuai dengan Aklitab yang jelas mengatakan kedatangan Yesus yang kedua hanya terjadi satu kali, dan Alkitab tidak mengatakan adanya dua tahap kedatangan Kristus di akhir jaman (yang dikatakan adalah the Second Coming of Christ, bukan comings)

6. Mari sekarang kita melihat kepada tahapan seperti yang anda tuliskan:

Anda menulis: quote “TAHAP I :
Tuhan datang seperti pencuri untuk menjemput mempelainya, Dia datang di-awan2 dan tidak semua orang melihat/tahu kecuali orang2 pilihannya.” unquote.

Menurut anda, ini berdasarkan ayat:

1Tes 4 : 16-17  “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”.

Dari ayat ini sesungguhnya, tidak disampaikan bahwa kedatangan Tuhan adalah rahasia.  Malaikat yang berseru, dan sangkakala berbunyi adalah gambaran yang sangat jelas dan tidak tersembunyi. Kita teringat akan bunyi sangkakala yang meruntuhkan tembok Yerikho pada jaman nabi Yosua (lihat Yos 6). Bunyi sangkakala di sini adalah sesuatu yang keras sekali, sehingga tidak mungkin rahasia. Juga hal Yesus datang di awan-awan, itu juga merupakan sesuatu yang kelihatan.  Ayat-ayat di atas tidak menyebutkan bahwa kejadian tersebut tidak kelihatan. Juga perkataan,”tidak semua orang melihat/ tahu kecuali orang-orang pilihan-Nya” tidak tertulis dalam teks.

Sedangkan ayat berikut yang anda kutip yaitu 1Tes 5 : 2, 4, Why 3:3, 16:15 yang menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua yang tiba-tiba seperti pencuri itu juga diyakini oleh Gereja Katolik. Tetapi ‘seperti pencuri’ ini tidak untuk diartikan sebagai ‘rahasia’. Sebab, kedatangan pencuri tidak identik dengan kerahasiaan, namun yang jelas pencuri datang tiba-tiba dan tak disangka-sangka.

Jadi dalam hal ini, kesimpulan yang anda tuliskan tersebut sesungguhnya bukan langsung diperoleh dari  teks, tetapi ide “secret rapture” itu sepertinya sudah ada dulu, baru kemudian dicocok-cocokkan dengan yang tertulis dalam ayat tersebut. Padahal jika kita membaca langsung dari ayat tersebut, tidak demikian. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh para Bapa Gereja dan semakin saya renungkan ayat ini, semakin saya meyakini ajaran mereka.

Lalu anda menulis: quote “TAHAP II
Tuhan datang sebagai HAKIM dan RAJA untuk mengadili umat manusia yang tertinggal yang tidak ikut terangkat pada kedatanganNya yang kedua tahap pertama. Dia datang di dunia untuk membinasakan Antikris dan para pengikut2nya. Dan kedatanganNya ini dilihat oleh semua orang yang ketinggalan.” unquote

Mat 24 : 30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Luk 21 : 27  Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Yudas 14 Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya.
Why 1 : 7 Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.

Pada ayat-ayat tersebut, tidak dikatakan bahwa ‘yang tertinggal, yang tidak terangkat pada kedatangan pertama’ akan melihat Dia. Malah dikatakan, “semua bangsa di bumi akan meratapi Dia”.

Maka para Bapa Gereja yang selalu membicarakan kedatangan Yesus yang kedua sebagai satu kali saja, melihat bahwa kejadian yang anda jabarkan dalam tahap kedua ini sebenarnya sama dengan kejadian tahap ke I. Tuhan Yesus akan datang bersama-sama dengan para orang kudusnya yang sudah meninggal pada akhir jaman. Dan memang segala sesuatunya akan terjadi “dalam sekejap mata” (2 Kor 15:52), seperti kata Rasul Paulus, maka memang tidak dimaksudkan untuk dijabarkan secara rinci. Secara umum,  rombongan Kristus itu akan disambut di awan-awan oleh orang-orang yang beriman. Inilah “pertemuan” umat beriman dengan Yesus di angkasa [atau ‘rapture’], namun ini terjadi tidak rahasia. Seluruh kawanan, yaitu Yesus dan umat beriman, akan turun ke dunia. Semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan. Sesaat setelah itu Pengadilan Terakhir diadakan untuk mengadili setiap manusia di hadapan segala ciptaan, untuk menyatakan segala sesuatu (yang benar dan yang salah) di hadapan semua orang. Setalah Pengadilan Terakhir, tidak ada lagi waktu, yang ada hanya keabadian. Orang yang jahat, tubuh dan jiwanya akan masuk neraka, sedangkan orang yang baik, tubuh dan jiwanya akan masuk ke surga. Bumi/ dunia akan diubah oleh Tuhan Yesus, dan dijadikan satu dengan kesempurnaan surgawi, sehingga dikatakan sebagai “Surga dan bumi yang baru”.

7. Berikut ini adalah keterangan yang diberikan oleh Dr. Lawrence Feingold, STD pembimbing Teologi website ini [yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia]

“Mengenai ayat 1 Tes 4:13-18 tersebut, tak diragukan lagi bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh Rasul Paulus adalah metaphor/ lambang, seperti halnya yang disebutkan dalam kitab Wahyu. ‘Pengangkatan’ para beriman untuk bertemu dengan Yesus di awan-awan tersebut adalah sehubungan dengan penyambutan agung yang dilakukan oleh para beriman yang menjadi anggota Tubuh Kristus, untuk menjemputnya ke dunia dan kemudian terjadi Penghakiman Umum/Terakhir. Penjemputan ini bukan hanya merupakan “rapture”/ pengangkatan para beriman yang masih hidup pada saat itu, tetapi juga termasuk para beriman yang telah wafat. Inilah sebabnya, mengapa Rasul Paulus dalam 1 Tes 4 mengajarkan kepada umat di Tesalonika agar tidak berdukacita berlebihan terhadap mereka yang telah meninggal. Sebab, umat beriman yang masih hidup pada kedatangan Kristus yang kedua tidak berarti mempunyai kelebihan/ keuntungan jika dibandingkan dengan umat beriman yang sudah meninggal. Untuk alasan ini, Rasul Paulus berkata, “…kita yang masih hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.” (ay.15). Maka umat beriman, baik yang masih hidup pada saat itu maupun yang sudah meninggal akan sama-sama menyaksikan kemuliaan Tuhan pada kedatangan-Nya yang kedua, bagaimana kejahatan dikalahkan, kebangkitan semua orang mati dan Pengadilan Umum/ Terakhir. Sepertinya, hal ini terjadi hampir bersamaan. Maka pertemuan umat beriman yang menjemput dengan Kristus di awan-awan tersebut merupakan peristiwa publik, sehingga bertentangan dengan teori Protestan tentang “secret rapture“/ “pengangkatan rahasia” tersebut.

Hal yang penting lainnya adalah pertemuan antara Yesus dengan umat beriman ini tidak terjadi sebelum penderitaan/ Tribulation, untuk membebaskan umat beriman dari penganiayaan sang Antikritus. Pertemuan ini justru akan terjadi di akhir masa kejayaan Antikristus, ketika Kristus datang, untuk mengalahkan kejahatan dan menghakimi dunia.

Karena Rasul Paulus menyampaikan pengajaran ini dengan gaya bahasa metafor, maka kita seharusnya tidak mengartikan metafor ini terlalu harafiah, untuk mengetahu secara persis sinopsis kronologis tentang rentetan kejadian pada kedatangan Kristus yang kedua ini, misalnya siapa-siapa yang bangkit terlebih dahulu, dst. Keinginan untuk mengartikan secara detail inilah yang melahirkan begitu banyak interpretasi gereja Protestan tentang “rapture” dan kejadian pada kitab Wahyu, padahal sesungguhnya bukan itu yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus.”

Demikianlah tanggapan saya terhadap pandangan anda tentang kedua tahap kedatangan Yesus di akhir jaman, termasuk di dalamnya pengajaran “secret rapture“/ pengangkatan rahasia umat beriman.
Saya memahami maksud baik Machmud untuk mengingatkan saya tentang hal “rapture” ini dari sudut pandang anda. Namun semakin saya mempelajarinya [baik dari Alkitab maupun tulisan para Bapa Gereja dan para pakar rapture] dan merenungkannya, semakin saya menjadi yakin akan ajaran Gereja Katolik. Untuk hal ini malah saya perlu berterima kasih kepada anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tahun berapakah Yesus lahir?

18

Berikut ini adalah beberapa fakta tentang perhitungan tahun kelahiran Yesus.

1) Dionysius Exiguus (470-544) adalah seorang anggota Scythian monks, yang akhirnya tinggal di Roma sekitar tahun 500. Dionysius adalah orang yang pertama kali memperkenalkan AD (Anno Domini / the year of the Lord) pada waktu dia membuat kalendar Paskah (Easter). Sistem penanggalan ini menggantikan sistem penanggalan Diocletian, karena Dionysius tidak ingin menggunakan Diocletian, seorang yang menganiaya jemaat Kristen. Dionysius mengatakan bahwa Anno Domini dimulai 754 tahun dari pondasi Roma (A.U.C) atau tahun 1 AD, yaitu tahun dimana Yesus lahir (dalam perhitungan Dionysius). Namun berdasarkan perhitungan para ahli, terutama berdasarkan bukti sejarah dari Josephus, maka perhitungan ini dipandang tidak terlalu tepat.

2) Kitab Matius mengatakan “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem” (Mt 2:1). Josephus, seorang ahli sejarah mengatakan bahwa Raja Herodes meninggal setelah berkuasa selama 34 tahun (de facto) dari meninggalnya Antigonus dan 37 tahun (de jure) sejak Roma mengeluarkan perintah yang menyatakan bahwa dia adalah raja (Josephus, Antiquities, 17,8, 1). Antigonus meninggal pada saat Marcus Agrippa dan Caninius Gallus menjadi konsulat, yaitu pada tahun 37 BC. (Josephus, Antiquities, 14,16, 4). Herodes menjadi raja pada saat Caius Domitias Calvinus dan Caius Asinius Pollio menjadi konsulat pada tahun 40 BC. Oleh karena itu perhitungannya adalah:

  • Dihitung dari meninggalnya Antigonus: 37 BC – 34 = 3 BC
  • Dihitung dari Raja Herodes menjadi raja: 40 BC – 37 = 3 BC.

Oleh karena itu, raja Herodes dipercaya meninggal sekitar 3 BC – 5 BC, atau kemungkinan sekitar 4 BC. Hal ini dikarenakan Josephus mengatakan bahwa pada saat tahun itu juga terjadi gerhana bulan (Josephus, Antiquities, 17,6, 4). Dan gerhana bulan ini terjadi pada tahun 4 BC. Tentang terjadinya gerhana bulan ini masih menjadi perdebatan.
3) Kalau kita mengikuti asumsi gerhana bulan pada waktu itu adalah 4 BC, yang menjadi rujukan kapan Herodes meninggal, maka Kristus harus lahir sebelum tahun 4 BC. Dan diperkirakan Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian raja Herodes. Berdasarkan perhitungan tersebut di atas, sebagian ahli percaya bahwa kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 7 BC – 6 BC.

Benarkah kita tak bisa mohon para kudus untuk mendoakan kita?

25

Pertanyaan:

1. maaf pertanyaan saya agak kurang nyambung tapi masih terkait bacaan lazarus tersebut, temen saya dari gereja protestan berkata bahwa kita tidak bisa mendoakan arwah orang mati karena di cerita itu jelas ada perikop
ayat 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
temen saya bilang, antara si lazarus dan orang kaya itu dalam 1 dunia ( alam kematian) saja tidak bisa berhubungan, apalagi kita yang masih hidup di dunia yang berbeda,
2. Temen saya juga bilang bahwa kata-kata orang kudus yang ada di alkitab itu adalah orang yang masih hidup, ciri-ciri orang hidup memiliki badan, jiwa dan roh, oleh karena itu jika kita berdoa bersama orang kudus yang sekarang( santo santa) itu sudah tidak relevan lagi karena mereka itu orang yang sudah meninggal yang tidak memilki badan dan jiwa.
menurut romo, ibu Ingrid atau Pak stef, bagaimana saya harus menanggapi pernyataan teman saya tersebut?
terima kasih, Ben

Jawaban:

Shalom Ben,
1. Ayat 26 yang disebutkan dalam perikop kisah orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31) menceritakan jurang yang tak terseberangi antara neraka (tempat jiwa-jiwa orang yang jahat) dan pangkuan Abraham/ “the bosom of Abraham” (tempat jiwa-jiwa orang beriman menanti saat mereka boleh memasuki Surga setelah kebangkitan Yesus). Maka setelah Yesus yang bangkit turun ke tempat penantian  (yaitu pangkuan Abraham ini) maka semua jiwa yang di dalamnya dibawa ke Surga, karena Yesuslah yang sulung dari semuanya, dan Ia-lah yang membuka pintu Surga (lih. Kol 1:15-18). Oleh karena itu, jarak yang terbentang dan tak terseberangi adalah jarak antara surga dan neraka.

Namun antara para Kudus yang di Surga dan orang-orang beriman yang masih berziarah di dunia tidak terpisah oleh jurang yang tak terseberangi. Kenapa? Justru karena Yesus yang mempersatukan anggota-anggota Tubuh-Nya. Yesus mengajarkan bahwa Para Orang Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut tidak “mati” (lih. Yoh 11:25-26). Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” (Yoh 11:25-26). Para orang kudus yang telah percaya kepada Yesus itu, tidak mati, melainkan mereka tetap hidup di dalam Yesus.  Tuhan Yesus telah mengaruniakan hidup kekal kepada mereka yang telah makan Tubuh dan Darah Kristus (dalam Ekaristi) seperti yang dijanjikannya dalam Yoh 6:35, 48, 51, 53-58, “…Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu…. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Jadi dalam pengertian ini, Para Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut, sesungguhnya lebih “hidup” dari pada kita, sebab mereka melah telah bersatu dengan Sang Hidup itu sendiri yaitu Kristus, di surga.

Jadi walaupun pengertian orang kudus dalam Alkitab memang sering dipakai untuk menjelaskan orang-orang Kristen secara umum, namun Gereja Katolik tidak membatasi bahwa pengertian “orang kudus” ini hanya terbatas pada orang-orang yang masih hidup di dunia. Orang kudus yang meninggal dalam Kristus, tidak berhenti menjadi orang kudus setelah ia memasuki hadirat Allah yang ilahi. Para Orang Kudus yang sudah meninggal dan masuk Surga ini juga merupakan bagian dari Gereja yang Satu. Mereka tetap menjadi anggota Tubuh Kristus [yang satu] oleh karena jasa Yesus Kristus sebagai Kepalanya. (Dengan pengertian ini maka kita juga dapat mendoakan saudara-saudara kita, para beriman yang berada di dalam Api Penyucian, karena merekapun tergabung dalam Tubuh Kristus/ Gereja yang Satu itu).

Maka kalau Rasul Paulus mengajarkan bahwa sebagai umat beriman kita harus saling mendoakan, maka sangat masuk akal kalau kitapun dapat memohon para orang kudus di Surga untuk mendoakan kita. Alkitab sendiri mengatakan bahwa para “tua-tua” dalam Why 4:9, 5:8, 6:9-11 mengajukan doa-doa mereka ke hadapan Allah. “Tua-tua” ini adalah Para kudus. Mereka adalah jiwa-jiwa orang yang telah diselamatkan, dan karena mereka berada di surga, maka mereka pasti kudus, karena semua yang tidak kudus, tidak mungkin masuk surga. Maka mereka adalah juga “Orang-orang kudus.”

1 Tim 2:1-2 Rasul Paulus mengajarkan agar kita “menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang”.  Jadi yang melakukan doa syafaat/ pengantaraan bukan saja hanya Kristus dan Roh Kudus, namun kita semua diundang untuk berdoa syafaat, saling mendoakan satu sama lain. Para beriman atau semua orang kudus diajar untuk berdoa atau berdoa syafaat, dan ini diajarkan dalam 32 ayat yang lain dalam Perjanjian Baru. Namun tentu saja doa syafaat kita ini hanya dapat terjadi karena Pengantaraan Kristus yang satu-satunya itu, dan tidak bisa telepas dari Kristus.

Gereja Katolik percaya bahwa Kristus dan Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita. Doa syafaat ini secara sempurna kita lihat dalam Perayaan Ekaristi, di mana doa-doa ditujukan kepada Allah Bapa, melalui Kristus Sang Putera, di dalam Roh Kudus (silakan melihat teks Misa Kudus). Tidak pernah doa- doa ini dinyatakan di dalam nama Maria atau nama para kudus: Santa/ Santo.

Selanjutnya, karena kita percaya bahwa kematian akan membawa kita kepada kehidupan bersama Kristus, melihat Dia dan menjadi serupa dengan-Nya (1 Yoh 3:2), maka di surga nanti, saat kita bersatu dengan Kristus, kita akan melakukan juga apa yang dilakukan oleh Kristus, yaitu berdoa/ mendoakan orang-orang lain yang masih berziarah di dunia.

Gereja Katolik tidak pernah memaksa para anggotanya untuk mempunyai devosi khusus kepada Orang Kudus. Gereja hanya merekomendasikan devosi ini atas dasar ajaran Kitab Suci seperti. Alkitab sendiri tidak melarang kita untuk memohon kepada orang Kudus di surga untuk mendoakan kita. Maka sebaiknya, kita juga tidak melarangnya.

2. Teman anda itu mengatakan bahwa istilah Orang Kudus dalam Alkitab hanya terbatas pada orang yang masih hidup di dunia. Jadi katanya, berdoa kepada Santo/ Santa yang sudah meninggal sudah tidak relevan, karena mereka sudah tidak memiliki badan dan jiwa. Benarkah?

Hal ini sebagian telah dijawab dalam point 1. Perbedaannya di sini nampaknya adalah:  teman anda itu membatasi definisi orang kudus hanya pada orang yang masih hidup di dunia, sedangkan pengertian Gereja Katolik tidak demikian. Gereja Katolik berpegang pada janji Kristus, bahwa barangsiapa yang makan Tubuh-Nya yang adalah Roti Hidup, maka ia akan hidup selama-lamanya (lih. Yoh 6:58). Bandingkan di sini bahwa Yesus membandingkan nenek moyang bangsa Israel yang tidak memakan Tubuh-Nya, dan hanya makan manna di padang gurun. Yesus mengatakan bahwa mereka telah “mati”, tetapi yang makan Tubuh-Nya akan hidup selama-lamanya (Yoh 6:51). Maka, ada perbedaan definisi di sini. Teman anda membatasi pengertian “mati” dengan keadaan empiris bahwa orang yang mati sudah ‘tidak bernafas’, sedangkan ayat-ayat di perikop Yoh 6 ini mengajarkan bahwa pengertian “mati” adalah mereka yang tidak mempunyai hidup di dalam Kristus, yang diperoleh melalui makan Tubuh-Nya, Sang Roti Hidup. Di sini, kita sebagai orang Katolik bukannya mengingkari bahwa orang yang mati itu sudah tidak bernafas, tetapi kita memegang suatu prinsip yang lain, yaitu bahwa meskipun Para Orang Kudus yang wafat itu telah mati secara empiris, namun mereka “hidup” di dalam Tuhan, atas jasa Kristus. Yesus sendiri berkata, “Barangsiapa menuruti firman-Ku ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yoh 8:51) Maka menurut pengajaran Yesus sendiri, bagi orang percaya yang memegang teguh firman-Nya, kematian tidak menjadikannya “mati”, melainkan hidup di dalam Dia.

Maka jika kita berpegang pada ajaran Yesus dari perikop Yoh 6 ini, kita percaya bahwa orang-orang beriman yang masuk di surga itu adalah tetap orang-orang kudus. Walaupun mereka tidak lagi bernafas, mereka sebenarnya tidak “mati”, tetapi mereka “hidup” oleh karena Kristus, Sang Roti Hidup, telah memberi kehidupan kekal kepada mereka (lih. Yoh 6:54). Dan setelah mereka bersatu dengan Yesus di surga, maka merekapun akan bersatu dengan Yesus dalam mendoakan orang-orang yang masih berziarah di dunia, sebab Tubuh akan selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Sang Kepala. Namun demikian, doa syafaat yang dilakukan oleh Para Kudus itu hanya dimungkinkan oleh Doa Syafaat dan Pengantaraan Kristus yang esa dan satu-satunya itu, dan doa syafaat tersebut tidak bertentangan, karena para orang kudus yang sudah bersatu dengan Kristus tidak mungkin menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Kristus sang Kepala. Para Kudus tersebut adalah sahabat-sahabat Kristus, dan karena itu, sesungguhnya mereka juga adalah sahabat-sahabat kita. Kasih Kristuslah yang mempersatukan kita semua sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus yang Satu itu. Dan, karena kita percaya bahwa “tidak ada suatu kuasa-pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah” (Rom 8:38-39) maka kematian tidak mungkin memisahkan kita dengan Allah dan dengan sahabat-sahabat-Nya.

Untuk lebih lanjutnya tentang topik Para Orang Kudus ini, Stef akan mengulasnya dalam artikel terpisah. Mohon kesabarannya ya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Rapture menurut sudut pandang ajaran Gereja Katolik

52

Pendahuluan

Pertama saya mendengar teori tentang rapture ini adalah ketika saya pernah berbincang-bincang dengan teman saya yang beragama Protestan di sekitar tahun 1997. Terus terang, pada saat itu, saya tidak tahu banyak tentang hal ini, sehingga saya lebih banyak diam dan mendengarkan. Tentu hal ini membuat hati saya bertanya-tanya, namun saya bersyukur, bahwa setelah saya mempelajari lebih lanjut tentang ajaran Gereja Katolik tentang akhir jaman, pertanyaan saya ini terjawab. Saya bersyukur akan rahmat yang Tuhan berikan melalui pengajaran Magisterium yang diteruskan oleh para ahli kitab suci dan tokoh apologetik Katolik yang mampu menyampaikan ajaran ini dengan jelas dan rinci. Dalam hal ini saya bersyukur atas keterangan yang diberikan oleh Fr. Frank Chacon dan Jim Burham, melalui buku mereka Beginning Apologetics 8, The End Times, sumber utama yang saya ambil untuk menjelaskan topik yang penting ini. ((Lihat Father Frank Chacon & Jim Burnham, Beginning Apologetics 8: The End Times, (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminary, 2005), esp. pp.10-17.))

Teori “secret rapture” adalah bagian dari ajaran Dispensationalism, yang pertama diajarkan oleh John Nelson Darby (1859-1874) dan dipopulerkan di Schofield Study Bible pada tahun 1909, serta belum lama ini menjadi ‘hit’ melalui buku seri Left Behind. Kita sebagai umat Katolik memang perlu waspada akan pengajaran “rapture” ini, sebab selain memperkenalkan interpretasi yang asing tentang Kedatangan Kristus yang kedua, teori ini juga mengajarkan hal yang keliru tentang pengertian Gereja. Maka mari kita lihat dulu pandangan Gereja Katolik baru kemudian pandangan Protestan dalam hal “rapture” ini.

Pandangan Katolik tentang “rapture”

Kata “rapture” berasal dari bahasa Latin yang artinya “to be caught up/ taken up” atau “diangkat”. Kata ini terdapat pada perikop 1 Tes 4:17:

“Sesudah itu kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka [para kudus] dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

Orang Katolik percaya bahwa mereka yang masih hidup pada saat kedatangan Kristus yang kedua tidak akan mengalami kematian yang membuat tubuh terurai di kubur, melainkan akan diubah dalam kemuliaan dan menyongsong (dengan ‘diangkat’) para kudus yang sudah bersama-sama dengan Kristus. Maka penyambutan Kristus di awan-awan tidak saja melibatkan para beriman yang masih hidup, namun juga para beriman yang telah meninggal. Interpretasi ini juga diimani oleh gereja Orthodox, dan sejumlah besar umat Protestan.

Pandangan Protestan Fundamentalis tentang “secret rapture”

Pada abad ke 19, di Amerika berkembang banyak aliran yang memusatkan perhatian pada keadatangan Yesus yang kedua. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikenal dengan Dispensationalism. Dispensationalism, adalah pengajaran yang dipelopori oleh John Nelson Darby (1859-1874), pemimpin sekte Kristen di Inggris, yang bernama Plymouth Brethern. Dinamakan ‘dispensationalism’ karena ia membagi sejarah manusia menjadi 7 masa dispensasi/ tahap dimana Tuhan menyatakan wahyu-Nya kepada manusia. Namun di setiap tahap, manusia gagal dalam ujian, sehingga penghakiman terjadi di akhir setiap tahap, dan tahap baru akan menyusul sesudahnya.

Kita hanya akan membahas 2 aspek saja dalam tulisannya yang berkaitan dengan rapture, yaitu: 1) pandangannya tentang kedatangan Kristus; 2) pandangannya tentang Gereja. Menurut Darby terdapat perbedaan tak terseberangi antara bangsa Israel dan Gereja, sehingga ia membagi misalnya, bahwa nubuat Perjanjian Lama hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, dan tak ada satupun untuk Gereja. Menurut para dispensationalists, karena bangsa Israel menolak pembentukan Kerajaan Mesias di dunia dengan menolak Kristus, maka Tuhan menunda pembentukan Kerajaan tersebut, dan berpaling pada bangsa-bangsa non-Yahudi. Karena itu, jam/ lonceng nubuatan Yahudi berhenti berdetak ketika Yesus wafat; dan karena itu, semua nubuatan Perjanjian Lama bagi bangsa Israel ditunda.

Setelah waktu pemenuhan bangsa-bangsa non Yahudi (Luk 21:24), menurut Darby, Yesus akan kembali dengan rahasia untuk mengangkat Gereja yang terdiri dari orang-orang beriman non-Yahudi- ke surga. Mereka akan diangkat untuk bertemu dengan Yesus di surga. Setelah kedatangan Yesus ini, dimulailah masa tujuh tahun penderitaan/ tribulation dan pengrusakan dunia, di mana Antikristus akan berjaya. Setelah tujuh tahun penderitaan, baru Yesus akan datang secara publik dan mengalahkan Antikristus.

Selanjutnya, orang-orang Yahudi akan menerima Kristus sebagai Penyelamat mereka. Kristus akan memimpin dunia selama 1000 tahun (Millennium menurut Why 20:4) yang memerintah atas bangsa Israel yang telah dipulihkan. Pada masa ini nubuatan Perjanjian Lama akan bangsa Israel akan dipenuhi. Jam nubuatan bagi Israel kembali berdetak. Israel akan kembali membentuk agama yang sesuai dengan ritual dan kurban-kurban sesuai dengan Perjanjian Lama. Inilah kerajaan yang diajarkan oleh Yesus di Injil. Israel akan menjadi bangsa pilihan Allah lagi. Maka Gereja hanya menjadi solusi sementara, ‘pengisi masa kekosongan’ sampai Israel kembali kepada Tuhan. Setelah 1000 tahun, maka setan akan dilepaskan dan segera dikalahkan, dan dunia akan sampai pada akhirnya.

Dengan ide seperti ini, maka tak heran, bahwa orang-orang Kristen Fundamentalis memiliki pandangan yang rendah tentang Gereja, sebab hanya dianggap sebagai pengisi kekosongan masa saja. Dengan berpegang pada ide di atas, maka banyak dari mereka menganggap bahwa pendirian negara Israel pada tahun 1948 adalah sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka berpendapat bahwa saat itulah maka jam nubuatan Israel kembali berdetak lagi. Israel akan kembali menjadi bangsa pilihan, “rapture” akan segera terjadi, dan para beriman yang tergabung dalam Gereja akan segera ‘diangkat’.

Beberapa Masalah dari teori Dispensationalism tentang Rapture

1. Kesalahpahaman pandangan tentang Gereja.

Terdapat dua kekeliruan di sini: 1) Pandangan yang menganggap bahwa Gereja hanya mengisi kekosongan demi kepentingan bangsa non- Yahudi 2) Kerajaan Allah yang dikhotbahkan Yesus adalah berkenaan dengan bangsa Israel di masa mendatang yang telah dipulihkan.

Kenapa? Karena pada Mat 4:17 Yesus berkata, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Dan juga dalam Mat 16: 13-20 ketika Yesus mengatakan akan “mendirikan Gereja-Nya atas batu karang” (Rasul Petrus), Ia berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”

Alkitab mengatakan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus (Ef 5:23; Kol 1:24), Yerusalem yang baru (Why 21:2), kota yang beranggotakan orang-orang Kudus yang diangkat menjadi keluarga Allah, dan kota yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi (lihat Why 21:14 dan Ef 2:19-22), Kerajaan Surga (Mat 13), Mempelai Kristus pada akhir jaman (Why 21:9). Dan Yesus juga mengatakan akan menyertai Gereja-Nya sampai pada akhir jaman (Mat 28:20).

Maka ide bahwa Gereja hanya sebagai ‘fase yang terlewati’ sampai bangsa Israel dipulihkan sebenarnya tidak ditemukan di dalam Alkitab. Terlebih lagi, pandangan ini tidak sesuai dengan bukti biblikal yang menyatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Gereja. Bahkan yang lebih menyedihkan, beberapa pendukung ajaran ini malah mengatakan bahwa Gereja Katolik adalah agama yang sesat dan yang akan menjadi Antikristus- kota Babel (the Whore of Babylon) pada Why 18!

2. Kekurangpahaman akan makna sakramen, pengubahan diri kita di dalam hidup Kristus sebagai aspek penting untuk memperoleh keselamatan, dan karya Roh Kudus dalam Magisterium Gereja.

Karena pandangan yang keliru tentang Gereja, maka dengan sendirinya, para rapturist menolak sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja sebagai tanda yang menyampaikan rahmat Tuhan. Dengan menolak sakramen, mereka memusatkan perhatian kepada Alkitab saja, dan terutama ayat untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dengan mulut (Rom 10:10). Tak heran, biasanya tujuan dari khotbah akhir jaman, adalah supaya seseorang dapat menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi, dan dengan demikian Tuhan membenarkan dia, dan menyelamatkannya. Supaya dengan kondisi ini, ia dapat memiliki kepastian, bahwa ia ‘pasti’ diangkat dalam “secret rapture”, jika Yesus datang kembali. Maka di sini yang digarisbawahi hanya iman.

Padahal menurut ajaran Gereja Katolik yang berpegang pada ajaran Yesus dalam Yoh 3:5, untuk diselamatkan seseorang tidak hanya harus percaya kepada Yesus dan mengaku dengan mulut, namun juga seseorang harus lahir kembali dalam air dan Roh, yaitu dengan dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, (Mat 28:19), dan selanjutnya hidupnya harus berubah sesuai dengan perintah Tuhan, yaitu: dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik (lih. Yak 2:24) dan mengambil bagian dalam hidup ilahi (Rom 8: 10-11), yang kita terima melalui sakramen-sakramen, terutama Ekaristi.

Penolakan akan pengajaran ini menunjukkan betapa para rapturist itu tidak mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dalam Magisterium Gereja Katolik. Namun penolakan terhadap ajaran Magisterium mengakibatkan mereka tidak memiliki keseragaman dalam pemahaman tentang rapture ini, sebab mereka hanya mengandalkan khotbah dari berbagai tokoh rapture, yang dapat mengajarkan pengajaran yang berbeda-beda.

3. Kesalahpahaman pandangan tentang Israel

Perjanjian Lama (PL) digenapi di Perjanjian Baru (PB). Peran Imamat dalam PL telah dipenuhi dalam Kristus sebagai Imam Agung yang lebih tinggi dari Harun –imam dalam PL (lihat Ibr 7:11-28). Maka segala kurban dalam PL telah digenapi di dalam kurban salib Yesus di Golgota, yang kemudian dihadirkan kembali di sepanjang segala abad dalam Sakramen Ekaristi. Maka, bangsa Israel dalam PL telah digenapi oleh Gereja dalam PB, yang disebut sebagai bangsa Israel yang baru (Gal 6:16). Nubuatan- nubuatan PL tentang Israel menemukan pemenuhannya di dalam Gereja. Jadi, tidak mungkin ada titik balik menuju bangsa Israel seperti dalam PL, sebab Gereja dalam PB adalah merupakan bangsa pilihan Allah yang baru dan kekal.

Maka pengakuan bangsa Israel secara sekular pada tahun 1948 oleh PBB yang adalah institusi non-Kristen tidak ada hubungannya dengan perjanjian bangsa Israel dengan Allah seperti pada Perjanjian Lama. Perjanjian bangsa Israel dengan Allah dalam PL terbentuk melalui perjanjian yang diberikan kepada Nabi Musa di Gunung Sinai. Oleh karena itu, Bangsa Israel adalah bangsa perjanjian. Sedangkan pembentukan Negara Israel secara sekular tidak mempunyai nilai religius yang penting bagi umat Kristen. Namun demikian, kita percaya bahwa bangsa Israel tetap ada dalam rencana Tuhan, seperti yang diajarkan oleh rasul Paulus dalam Rom 11. Suatu hari nanti mereka akan bergabung dengan Gereja dan menjadi bagian dari PB: bangsa pilihan Allah yang baru.

4. Kekeliruan dalam mengartikan 1 Tes 4

Tak ada dalam ayat 1 Tes 4 yang menyatakan kedatangan Kristus secara rahasia. Pada perikop ini yang diajarkan oleh Rasul Paulus adalah tentang kebangkitan orang mati yang terjadi pada waktu kedatangan Yesus yang kedua. Umat di Tesalonika waktu itu berduka dan cemas memikirkan keadaan umat Kristen yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua: akankah mereka turut mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus. Maka Rasul Paulus mengajarkan bahwa mereka yang telah wafat dalam Kristus akan bangkit terlebih dahulu. Baru kemudian, umat Kristen yang masih hidup akan bergabung dengan mereka yang telah bangkit, dan “bersama-sama dengan mereka, akan bertemu dengan Tuhan di angkasa” Dengan demikian, “kita akan selalu bersama-sama dengan Tuhan.” (a.17)

Jadi perhatian Rasul Paulus yang utama adalah untuk menghibur umat di Tesalonika dengan ajaran kebenaran bahwa pada akhirnya, kita akan berjumpa dengan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua. Tidak satupun orang, termasuk yang sudah mati akan ditinggalkan, sebab semua orang mati akan dibangkitkan. Maka para beriman yang masih hidup juga akan bergabung bersama mereka yang telah mendahului kita dan bersama dengan mereka akan mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus yang turun dari Surga ke dunia.

Rasul Paulus mengajarkan tentang satu kali kedatangan Kristus (‘coming’ not ‘comings’). Silakan lihat tabel berikut ini untuk melihat hubungan perikop 1 Tes 4:13-17 ini dengan 3 perikop yang lain, yang menunjukkan bahwa yang dijabarkan mengacu pada kejadian yang sama. Kedatangan Kristus akan diumumkan dengan seruan malaikat dan suara sangkakala, dan ini bukan “secret rapture”/ masa pengangkatan ataupun kedatangan yang rahasia. Dalam perikop ini tidak dikatakan bahwa Yesus akan datang secara rahasia untuk mengangkat orang-orang Kristen ke surga untuk menghindari mereka dari masa penderitaan selama 7 tahun.

Empat perikop yang menjabarkan tentang Kedatangan Kristus yang kedua.

1 Tes 4:13-17

Mat 24:29-31

2 Tes 2:1,3,8

1 Kor 15

“kedatangan Tuhan” (a.14)

“Anak Manusia itu datang” (a.30)

“kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus” (a.1)

_

“penghulu malaikat berseru” (a.16)

“malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala” (a.31)

_

_

“sangkakala Allah berbunyi” (a.16)

“sangkakala yang dahsyat bunyinya” (a.31)

_

“nafiri akan berbunyi” /“nafiri terakhir” (a.52,51)

“mereka yang mati dalam Kristus akan bangkit” (a.16)

_

_

“orang-orang mati akan dibangkitkan (a.52)

“diangkat bersama-sama… menyongsong Tuhan di angkasa” (a.17)

“mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya” (a.31)

“terhimpunnya kita dengan Dia” (a.1)

“dalam awan” (a.17)

“di atas awan-awan” (a.30)

_

[Kapankah peristiwa ini terjadi?]

“Segera sesudah siksaan pada masa itu” (a.29)

“Sebab sebelum hari itu haruslah datang dulu murtad dan harus dinyatakan dahulu manusia durhaka (Antikristus)” (a.3)

“pada waktu bunyi nafiri yang terakhir” (a.51)

Juga, tak kalah pentingnya, tak ada sebutan bahwa Yesus akan merubah haluan. Perhatikanlah bahwa, Yesus “akan turun dari surga.” Ia akan turun dari surga ke dunia. Tidak dikatakan bahwa Yesus akan membuat jalan putar balik (U-turn) setelah umat Kristen bertemu dengan-Nya di angkasa, lalu Ia akan kembali ke surga. Melainkan, ayat ini menjabarkan kembalinya Kristus dengan mulia ke dunia, dan kebangkitan orang mati akan terjadi bersamaan dengan hal ini. (Mengenai penjelasan U-turn ini silakan lihat Appendix- 1 di bawah artikel ini).

Dalam 1 Kor 15: 50-58, Rasul Paulus juga membahas hal yang sama. Ia mengatakan bahwa suara sangkakala di sini merupakan bunyi nafiri yang terakhir. Maka kematian akan berakhir, ”yang dapat binasa mengenakan yang tidak dapat binasa… Maut telah ditelan dalam kemenangan.” (1Kor 15:54). Jelaslah di sini bahwa Rasul Paulus mengajarkan tentang kedatangan Yesus yang kedua pada akhir jaman, di mana pada saat itu tidak ada kematian lagi.

Mat 24: 29-31 juga menjabarkan peristiwa yang sama dengan 1 Tes 4. Kedua perikop menceritakan kedatangan Kristus dalam awan-awan, dengan para malaikat dan suara sangkakala, dan pengumpulan orang-orang pilihan-Nya. [Namun para dispensationalists membedakan kedua peristiwa itu; 1 Tes 4 adalah pada waktu Yesus datang secara rahasia, dan pada Mat 24:29-31 adalah pada kedatangannya yang terakhir].

Mat 24:29-31: “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi…”

Maka karena ayat ini membahas kedatangan Yesus di akhir jaman seperti yang juga disetujui oleh para rapturist, dan karena 1 Tes 4:13-18 juga membicarakan peristiwa yang sama, maka sesungguhnya “rapture”/ pengangkatan tidak mungkin terjadi sebelum siksaan/ tribulation, tetapi segera sesudah siksaan pada saat kedatangan Yesus yang kedua.

2 Tes 2:1,3,8, juga meneguhkan bahwa “rapture” tidak terjadi sebelum siksaan tetapi sebaliknya, yaitu sesudah terjadi kesesatan/ pemberontakan dan pernyataan Antikritus/ manusia durhaka. Jadi, pengangkatan para beriman untuk bertemu dengan Kristus tidak terjadi sebelum 7 tahun siksaan/ tribulation dan kedatangan Yesus yang kedua. Sebaliknya, terjadi bersamaan dengan kedatangan Yesus yang kedua pada akhir jaman.

2 Tes 2:1,3,8: “Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, ….Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagimanapun juga! Sebab sebelum Hari ini haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka… tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali.”

Jadi “rapture” tidak datang sebelum siksaan/ tribulation, tetapi sesudah siksaan, pemberontakan, dan Antikristus. “Rapture” itu terjadi saat sangkakala dibunyikan pada kedatangan Yesus kembali di akhir jaman.

5. Kesalahan interpretasi Mat 24:38-41

Mat 24: 38-41: “Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah….mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikianlah pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Para penganut paham secret rapture mengajarkan bahwa ayat-ayat ini mengisahkan adanya pengangkatan umat beriman secara rahasia. Tetapi sebenarnya, ayat-ayat ini tidak mengatakan secara jelas akan adanya pengangkatan rahasia itu. Yang jelas, Yesus mengambil contoh tersebut untuk menekankan betapa tiba-tiba dan tidak diketahui-nya kedatangan-Nya yang kedua. Nampaknya, ide ‘pengangkatan rahasia’ telah dimasukkan ke dalamnya; dan bukannya diperoleh langsung dari teks tersebut.

Di perikop  paralelnya dalam Luk 17:22-37, Yesus juga menggunakan contoh air bah untuk menjelaskan kedatangan-Nya kembali yang tiba-tiba. Ia menambahkan contoh lain tentang kehancuran Sodom. Kedua contoh menggambarkan satu ciri: kedatangan-Nya yang tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.

Jadi tidak ada pengajaran tentang ‘pengangkatan secara rahasia’ menurut ayat-ayat Kitab Suci. Tuhan Yesus memulai perikop dengan mengatakan bahwa Hari kedatangan-Nya akan terlihat jelas: “Sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya” (Luk 17:24). Kita tahu, tak ada yang rahasia tentang kilat yang menyambar di langit. Yesus menyatakan bahwa seperti penghakiman di zaman Nabi Nuh dan Lot yang terjadi tanpa peringatan terlebih dahulu, “Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan Diri-Nya” (Luk 17:30). Menyatakan diri adalah lawan kata dari menyembunyikan atau merahasiakan diri. ‘Hari ini’ mengacu pada kedatangan Yesus yang diketahui secara publik, dan tiba-tiba pada akhir zaman. Kedatangan-Nya akan jelas kelihatan seperti banjir air bah, jelas seperti kehancuran kota Sodom, dan jelas seperti kilat di langit.

Penganut paham ‘pengangkatan rahasia/ secret rapture’ memakai contoh air bah di zaman Nabi Nuh dan kehancuran Sodom untuk mendukung teori bahwa orang-orang benar lah yang akan diangkat, dan orang-orang yang jahat ditinggalkan. Tetapi dalam kedua contoh itu, yang terjadi malah sebaliknya: mereka yang diangkat/ dilenyapkan adalah yang jahat. Malah yang tinggal di dunia adalah orang-orang yang benar. Ini malah bertentangan dengan teori ‘pengangkatan rahasia’ tersebut.

6. Kesalahpahaman berpikir bahwa misi Yesus di dunia belum selesai

Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus menyelesaikan Penyelamatan kita dalam tiga tahun pelayanan-Nya kepada publik. Di Golgota, Yesus “tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai”, sehingga kata terakhir sebelum Ia wafat adalah, “Sudah selesai” (Yoh 19:28-30). Maka mengapa kemudian [seperti anggapan para dispensationalist] secara literal Ia akan kembali untuk suatu pelayanan publik yang lain selama 1000 tahun? Apakah ada sesuatu yang belum selesai? Bukankah Yesus berkata bahwa “Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33). Maka masuk akal jika pada tahun 1944, Magisterium Gereja Katolik mengeluarkan pernyataan menolak ajaran millenniarism seperti ini. Hal ini diulangi dalam KGK 676. ((KGK 676: Kebohongan yang ditujukan kepada Kristus ini selalu muncul di dunia, apabila orang mengkhayalkan bahwa dalam sejarahnya mereka sudah memenuhi harapan mesianis, yang hanya dapat mencapai tujuannya sesudah sejarah melalui pengadilan eskatologis. Gereja telah menolak pemalsuan Kerajaan yang akan datang, juga dalam bentuknya yang halus, yang dinamakan “milenarisme”, tetapi terutama bentuk politis dari mesianisme sekular yang secara mendalam bersifat salah.))

7. Kesalahan untuk tidak melihat pernyataan kitab Wahyu 13

Para rapturist mengajarkan bahwa orang-orang kudus akan diangkat sebelum Antikristus datang dan siksaan/ tribulation terjadi. Tetapi dalam Why 13:7-8, dikatakan bahwa Antikritus (binatang buas/ the Beast) malah memerangi para kudus tersebut di dunia!

8. Kesalahpahaman dalam memandang hal penderitaan

Para rapturist mengajarkan bahwa orang beriman akan diangkat untuk dibebaskan dari siksaan dan penderitaan yang besar. Mereka gagal untuk memahami bahwa Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan dan ujian hidup adalah suatu hak istimewa bagi para pengikut Kristus (lihat Kol 1:24, Rom 8:17-18, Yak 1:2-4). Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan memikul salib (Mat 16:24) dan bahwa kita akan menderita di dunia (Yoh 16:33). Dalam Kis 14:22 kita diajarkan, “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Maka Alkitab sangat jelas mengajarkan bahwa untuk mengikuti Yesus berarti kita juga harus mengambil bagian di dalam sengsara-Nya.

Pengajaran yang mengatakan bahwa para orang beriman akan dibebaskan dari siksaan besar/ the great tribulation, adalah pemikian yang tidak berdasarkan Alkitab. Ini hanya semacam keinginan sebagian orang yang menolak salib dan nilai –nilai luhur dari penderitaan. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca dalam tulisan ini silakan klik

9. Ketidak-adaan bukti dalam sejarah

Jika teori “rapture” para beriman ini benar, kita layak mengharapkan bahwa teori ini diajarkan secara eksplisit dalam Alkitab dan para Bapa Gereja; tapi ternyata, hal ini tidak secara jelas diajarkan di Alkitab. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa kedatangan Yesus yang kedua terjadi lebih dari satu kali. Kedatangan Yesus yang kedua ini selalu disebut dalam bentuk singular “Second coming” [bukan “comings”] dan mengacu pada kedatangan-Nya di akhir jaman. Juga, para Bapa Gereja mengajarkan bahwa kedatangan Yesus kembali hanya terjadi satu kali di akhir jaman.

Kesimpulan

Melalui tulisan di atas, semoga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa teori Dispensationalist dan “secret rapture” merupakan ajaran yang tidak didasarkan atas pemahaman Alkitab, yang bahkan merendahkan peran Gereja. Teori ini tidak pernah terdengar sampai tahun 1830; dan juga ditolak oleh mayoritas orang Protestan sendiri. Ini adalah mirip seperti ajaran Saksi Yehova yang mengatakan bahwa orang yang masuk surga adalah 144,000 orang, atau ajaran Mormon yang mengajarkan pembaptisan orang mati.

Perlu kita ketahui di sini, bahwa Teologi berbeda dengan Ilmu Pengetahuan empiris, sebab dalam Teologi, teori yang betul-betul baru malah perlu dicurigai, justru karena keterlepasannya dari Tradisi para rasul yang jelas-jelas telah diinspirasikan oleh Roh Kudus. Perkembangan doktrin haruslah merupakan perkembangan organik, yang merupakan buah perkembangan dari biji/ akar yang sudah ada dari semula, dan bukannya merupakan ‘buah’ yang tidak ada asal-usulnya. Marilah kita berdoa agar kita diberi rahmat discernment oleh Tuhan untuk melihat manakah pengajaran yang benar berasal dari Tuhan, dan mana yang tidak, agar kita dapat dengan bijaksana menyikapi ajaran- ajaran yang berkembang di jaman modern ini. Salah satunya, tentang akhir jaman ini.

Appendix 1

Siapa yang membuat U- turn (jalan balik arah)?

Kata “bertemu/ menemui” dalam bahasa Yunani adalah apantesis. (( Apantesis dipergunakan dalam papyri [karya tulis Yunani]… sepertinya kata itu berarti sebagai penyambutan resmi dari orang terkemuka yang baru datang. (Moulton, Greek Test. Gram Vol I, 14) W.E. Vine, Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (Nashville: TN: Thomas Nelson Publishers, 1996), p.402.

“The word seems to have been a kind of technical term for the official of a newly arrived dignitary- a usage which accords excellently with its NT usage.” J.H. Moulton and G. Milligan, Vocabulary of the Greek New Testament (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1997), p. 53.

“The use of apanthesis in 1 Tes 4:17 is noteworthy. The ancient expression for the civic welcome of an important visitor or the triumphant entry of a new ruler into the capital city and thus to his reign is applied to Christ.” Colin Brown, ed. New International Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1986), p.235.

Also see Barbara R. Rossing, The Rapture Exposed: The Message of Hope in the Book of Revelation (Boulder, CO: Westview Press, 2004),p. 174-177.)) Kata ini mengacu pada praktek masyarakat kuno, di mana para warga yang berkedudukan penting keluar untuk menyambut kedatangan raja atau orang terkemuka, dan menjemput beliau kembali ke kota. Dengan demikian, para warga itu mengambil bagian dalam kemuliaan kedatangan Tamu mereka itu. Perhatikanlah, bahwa di sini yang terjadi adalah: para warga meninggalkan kota, bertemu dengan orang terkemuka, dan kemudian kembali bersamanya ke kota. Yang berganti haluan adalah para warga, sedangkan orang yang terkemuka itu tidak. Ia terus menuju tempat tujuannya. Inilah arti kata apantesis yang digunakan di perikop-perikop lain di Alkitab.

Pada Mat 25: 6, dikisahkan lima perempuan yang bijaksana yang pergi keluar untuk menemui [apantesis] mempelai pria dan lalu menemaninya kembali ke pesta perkawinan. Lihatlah bahwa di sini para perempuan itulah yang kembali berbalik arah setelah pergi keluar menemui mempelai laki-laki. Pengantin laki-lakinya tidak membuat U-turn/ berbalik arah; ia terus menuju ke tempat tujuannya.

Kis 28:15, menceritakan bagaimana saudara-saudara Kristen, setalah mendengar bahwa Rasul Paulus mendekati Roma, mereka pergi ke luar kota untuk menemui [apantesis] Paulus, dan menghantarnya kembali ke Roma. Lagi-lagi, saudara-saudara Kristen itu yang membuat langkah balik setelah bertemu dengan Rasul Paulus. Rasul Paulus tidak membuat U-turn, ia tetap terus menuju tujuannya. Maka apantesis di sini seperti menjemput seseorang di airport/ stasiun kereta api. Artinya, untuk “menemui dan kembali bersama” orang yang dijemput, dan bukan untuk menemui dan “pergi meninggalkan [tempat asalnya] bersama.”

Jadi ketika 1 Tes 4:17 mengatakan bahwa semua orang Kristen akan bangkit menemui [apantesis] Kristus di awan-awan, maka bukan berarti bahwa kemudian secara tiba-tiba Yesus mengubah haluan/ berbalik kembali ke surga. Apantesis di sini artinya, bahwa kitalah yang akan mengubah haluan setelah menemui Kristus, dan menjemput Raja kita itu, saat Ia terus menuju tempat tujuan kedatangan-Nya yaitu ke dunia. Jadi 1 Tes 4:17 tidak menceritakan kisah yang mengerikan tentang mereka yang tertinggal dan tidak diangkat dalam “secret rapture”. Melainkan, ayat itu menceritakan partisipasi kita yang mulia pada kedatangan Yesus yang kedua. Kita akan bertemu dengan Tuhan kita di angkasa dan mengambil bagian dalam kedatangan-Nya yang mulia, saat Ia mengambil semua milik-Nya di dunia dan mengakhiri sejarah manusia.

Apakah hukum dosa dan hukum maut?

21

Pertanyaan:

Pengasuh Katolisitas
Mohon tanya apakah artinya hukum dosa dan hukum maut seperti yang ditulis dalam kitab Injil ?
Terima kasih. – H.Mudaya

Jawaban:

Shalom H. Mudaya,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang hukum dosa dan hukum maut.

Kita melihat di dalam Roma 8:1-4 “1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. 2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. 3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, 4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.

Dari ayat-ayat tersebut di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan (lengkapnya silakan untuk membaca artikel ini – silakan klik):
1) Sebelum kedatangan Kristus, semua manusia berdosa dan tidak berdaya untuk melepaskan dosa. Hal ini dikarenakan bahwa setelah manusia pertama berdosa, manusia kehilangan rahmat kekudusan dan “four preternatural gifts“, yang termasuk “the gift of integrity“, yaitu karunia bahwa semua keinginan daging (passion) menurut secara penuh terhadap akal budi (reason). Karena dosa manusia pertama, semua manusia kehilangan rahmat kekudusan dan “four-preternatural gifts” (yaitu: (a) immortality, (b) immunity from suffering, (c) infused knowledge, and (d) integrity). Tanpa berkat-berkat ini, manusia hidup dalam gelimang dosa dan tidak kuasa untuk melepaskan diri dari dosa. Karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23), maka adalah adil kalau manusia menerima hukum dosa dan hukum maut.

2) Hukum dosa dan hukum maut adalah dalam pengertian manusia kehilangan kebahagiaan abadi di Surga, atau manusia kehilangan kesempatan untuk dapat melihat muka dengan muka dengan Allah di Sorga. Namun di dalam kasih-Nya, Tuhan tidak membiarkan hal yang begitu mengenaskan ini terjadi pada umat manusia. Oleh karena itu Allah mengirimkan Putera-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia dan menebus dosa manusia. Dan melalui Kristus – sungguh Allah, sungguh manusia – jembatan yang terputus antara Allah dan manusia dapat tersambung kembali.

3) Untuk menyambung kembali jembatan yang terputus, dan menerima kembali rahmat kekudusan (sanctifying grace), maka manusia perlu untuk menerima Sakramen Baptis. Berkat yang mengalir dalam Sakramen ini adalah bersumber pada misteri Paskah Kristus (sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus). Dan dengan menerima Sakramen Baptis, manusia diberi Roh Allah, sehingga dia dapat menjadi anak Allah di dalam Kristus, yang memampukannya untuk hidup kudus. Inilah sebabnya rasul Paulus menekankan akan kelahiran baru di dalam Kristus, yaitu melalui Sakramen Baptis.

4) Gereja Katolik mengajarkan bahwa Sakramen Baptis ini adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, seperti yang dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1257) mengatakan:

Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5.). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16.). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.

Semoga keterangan singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Mudaya. Mari kita bersama-sama mensyukuri rahmat Sakramen Baptis yang membuat kita menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab