Home Blog Page 289

Profanitas, apa artinya?

18

Pertanyaan:

Shalom Saudara Stef dan Inggrid, yang diberkati TUHAN
Sejak awal situs ini dibuka sy selalu menyimaknya sampai hari ini, situs ini sangat berarti bagi saya pribadi dan semoga demikian juga bagi siapa saja yang membacanya. Amin
Mohon pencerahan dari saudara berdua; Sebenarnya hal apa saja yang bisa disebut “PROFAN” , apa dasarnya hal tersebut dikatakan ‘profan’ (Alkitab, Ajaran Gereja).
Misalnya saja, acara tiup lilin ulang tahun ‘di depan’ altar gereja walaupun bukan dalam acara misa (dlm acara persekutuan doa), bagi sy hal tersebut tidak layak dan tidak boleh dilakukan, tetapi imam / pastor tampaknya tidak keberatan, jadi sebenarnya dan seharusnya bagaimana ?
Sebelum dan sesudahnya sy sampaikan banyak terima kasih atas pencerahannya.

GBU, Henry H

Jawaban:

Shalom Henry,

Definisi “Profanitas/ profanity” (menurut New Catholic Encyclopedia, vol XI, The Catholic University of America, Washington DC, 1967, reprint 1981, p. 828):

“the irreverent use of names, or irreverent reference to attributes or qualities of God or holy persons or things held in esteem because of their relationship to God.”

Terjemahannya:

“penggunaan nama-nama yang kurang sopan atau referensi yang kurang sopan terhadap sifat-sifat dan ciri-ciri Tuhan atau orang-orang kudus atau barang-barang yang dihargai karena hubungan mereka dengan Tuhan.”

Profanity berasal dari kata Latin Pro- fanum, yang menandai sebuah sifat sesuatu yang berada di luar tempat suci, yang karenanya dimengerti sebagai sesuatu yang tidak suci.

Sedangkan menurut Kitab Suci, umat memprofan-kan nama Tuhan yang kudus jika: 1) mereka bertindak dengan cara yang tidak layak bagi kekudusan Tuhan, 2) mereka gagal untuk mengakui kekudusan-Nya, 3) mereka menghalangi orang lain untuk mengakui kekudusan Tuhan. Di dalam PL, profanitas umumnya ditimbulkan dari kebiasaan orang Israel untuk mencampur adukkan penyembahan kepada Allah dengan persembahan berhala-berhala kepada allah lain, dan ini sungguh tidak berkenan bagi Allah (lihat Im 20:3; 22:2 Yeh 36:20). Dalam kasus yang ditanyakan Henry, memang tidak ada persembahan berhala, namun prinsip utama harus dipegang, bahwa gedung gereja sebagai rumah Tuhan selayaknya hanya dipergunakan untuk memuji/ menyembah Tuhan, dan bukan acara/ kegiatan lain.

Maka dalam kasus merayakan ulang tahun di depan altar dengan memotong kue ulang tahun, saya pribadi memang merasa hal itu tidak tepat, terutama jika sebenarnya di paroki terdapat ruang aula/ ruang pertemuan yang dapat dipergunakan untuk acara tersebut, dan rasanya lebih tepat. Karena jika hal itu dilakukan, maka walaupun tanpa disengaja, orang dapat bersikap kurang menghormati tempat kudus Tuhan, yaitu altar dan tabernakel-Nya, entah dengan riuh rendah bertepuk tangan atau bersorak untuk sesuatu yang bukan ditujukan kepada Tuhan sendiri. Padahal seharusnya, jika kita berada di dalam gedung gereja di mana Kristus sendiri hadir dalam tabernakel, maka seharusnya, fokus utama umat adalah kepada Kristus yang hadir di tabernakel tersebut (dan bukan kepada kue ulang tahun).

Alangkah baiknya, jika sebelum diadakan acara tersebut diadakan pertemuan dengan Romo untuk membahas mengenai hal ini, tentu dengan semangat kasih, berembuk agar diperoleh solusi yang baik,  supaya umat dapat menghargai “rumah Allah dan tabernakel-Nya” dengan penghormatan yang semestinya. Jika sudah terlanjur, ya mungkin bisa untuk lain kali diperbaiki.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus?

53

Pertanyaan:

“2) Kenapa orang Kristen Protestan kebanyakan tidak meneladani Bunda Maria? Mungkin istilahnya bukannya mereka tidak meneladani Bunda Maria, sebab saya percaya bahwa jemaat Protestan juga percaya bahwa Bunda Maria adalah seorang yang kudus,.. ”
sejak kapan Kristen protestan percaya (bunda) Maria itu seorang yang kudus? klaim dari mana itu pak?
bahkan Maria pun perlu beriman pada Yesus untuk bisa masuk surga. kalo memang Maria patut untuk disembah, seharusnya dalam peristiwa kelahiran Yesus, Orang2 Majus itu menyembah dia (maria ibunya), apalagi Yesus nya saat itu masih bayi. kenapa coba? Erantzo

Jawaban:

Shalom Erantzo,

Sebenarnya, jika anda bertanya sejak kapan umat Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus, jawabannya adalah sejak dari awal mula gereja Protestan berdiri. Sebab pendiri gereja Protestan, yaitu Martin Luther, sendiri mengajarkan bahwa Maria adalah seorang yang kudus, dan ia sudah berada di surga. Berikut ini adalah kutipannya (dalam bahasa Inggris dan Indonesia, untuk teks lengkapnya silakan klik di link ini dan link ini):

1. In his sermon of August 15, 1522, the last time Martin Luther preached on the Feast of the Assumption, he stated:
T
here can be no doubt that the Virgin Mary is in heaven. How it happened we do not know. And since the Holy Spirit has told us nothing about it, we can make of it no article of faith . . . It is enough to know that she lives in Christ.”

2. The veneration of Mary is inscribed in the very depths of the human heart. (Sermon, September 1, 1522).

3. [She is the] highest woman and the noblest gem in Christianity after Christ . . . She is nobility, wisdom, and holiness personified. We can never honor her enough. Still honor and praise must be given to her in such a way as to injure neither Christ nor the Scriptures. (Sermon, Christmas, 1531).

4. No woman is like you. You are more than Eve or Sarah, blessed above all nobility, wisdom, and sanctity. (Sermon, Feast of the Visitation, 1537).

5. One should honor Mary as she herself wished and as she expressed it in the Magnificat. She praised God for his deeds. How then can we praise her? The true honor of Mary is the honor of God, the praise of God’s grace . . . Mary is nothing for the sake of herself, but for the sake of Christ . . . Mary does not wish that we come to her, but through her to God. (Explanation of the Magnificat, 1521)

6. It is the consolation and the superabundant goodness of God, that man is able to exult in such a treasure. Mary is his true Mother, Christ is his brother, God is his father. (Sermon, Christmas, 1522) Mary is the Mother of Jesus and the Mother of all of us even though it was Christ alone who reposed on her knees…If he is ours, we ought to be in his situation; there where he is, we ought also to be and all that he has ought to be ours, and his mother is also our mother. (Sermon, Christmas, 1529).

Terjemahannya:

1. Di dalam sermon tgl 15 Agustus 1522, pada saat terakhir kali Martin Luther berkhotbah di hari Perayaan Maria Diangkat ke surga, ia menyatakan:
“Tidak perlu diragukan lagi, bahwa Perawan Maria berada di surga. Bagaimana terjadinya, kita tidak mengetahuinya. Dan karena Roh Kudus tidak mengatakan apapun tentang itu, kita menyatakannya tidak sebagai pokok iman (article of faith) ….. Adalah cukup untuk mengetahui bahwa ia hidup di dalam Kristus.”

2. “Penghormatan kepada Maria tertuliskan di kedalaman hati manusia yang terdalam.” (Sermon, 1 September 1522).

3. “[Ia adalah] seorang perempuan yang tertinggi dan batu permata yang terhormat dalam Kristianitas setelah Kristus… Ia adalah manusia yang merupakan perwujudan kehormatan, kebijaksanaan, dan kekudusan. Kita tidak akan pernah cukup menghormatinya. Namun demikian penghormatan dan pujian harus diberikan dengan cara yang tidak melukai baik Kristus maupun Kitab Suci.” (Sermon, Natal, 1531).

4. “Tidak ada perempuan yang seperti engkau. Engkau adalah lebih daripada Hawa atau Sarah, terberkati di atas segala kehormatan, kebijaksanaan dan kekudusan.” (Sermon, Perayaan Maria Mengunjungi Elizabeth, 1537).

5. “Seseorang harus menghormati Maria sesuai dengan yang diharapkannya dan seperti yang dinyatakannya di dalam Kidung Magniicat. Ia memuliakan Tuhan untuk segala perbuatan-Nya. Lalu bagaimana kita dapat memujinya? Penghormatan yang benar kepada Maria adalah penghormatan kepada Tuhan, pujian kepada rahmat Tuhan …. Maria dari dirinya sendiri adalah bukan siapa-siapa tetapi demi Kristus …. Maria tidak mengharapkan agar kita datang kepadanya, tetapi melalui dia [kita datang] kepada Tuhan.” (Penjelasan tentang Magnificat, 1521).

6. “Adalah sebuah penghiburan dan kebaikan Allah yang sangat berlimpah, bahwa manusia dapat bersuka ria dalam hal kekayaan [rohani] ini. Maria adalah ibunya, Kristus adalah Saudaranya, dan Tuhan adalah Bapanya. (Sermon, Natal, 1522) Maria adalah Bunda Kristus, dan Bunda semua dari kita, meskipun hanya Kristus sendiri yang beristirahat di lututnya…. Jika Ia [Kristus] adalah milik kita, maka kita harus berada di dalam keadaan-Nya’; di manapun Ia berada kitapun berada, dan semua yang menjadi milik-Nya adalah milik kita juga, dan ibu-Nya juga menjadi ibu kita. (Sermon, Natal, 1529).

Maka, di atas ini Luther sendiri mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah seorang yang kudus, telah berada di surga, dan ia layak dihormati oleh semua orang, dan ia menjadi ibu rohani bagi semua umat Kristiani. Memang menjadi sesuatu yang perlu kita renungkan adalah mengapa, meskipun pendiri Gereja Protestan pada awalnya mengakui kekudusan Bunda Maria, dan menghormatinya, namun sekarang sepertinya umat Protestan tidak mempunyai penghayatan yang sama?

Perlu diketahui juga bahwa meskipun umat Katolik menghormati Bunda Maria, namun pernghormatan ini tidak pernah menggantikan penghormatan kepada Allah. Umat Katolik menghormati Maria, karena Allah-lah yang pertama menghormatinya, dengan memilihnya menjadi ibu bagi Yesus Putera-Nya. Umat Katolik juga tidak menyembah Maria, seperti yang sering disangka oleh umat Protestan. Mungkin jika anda ingin membaca lebih lanjut, silakan membaca tanya jawab ini, tentang tanggapan terhadap kesalahpahaman Protestan perihal Bunda Maria ini, silakan klik.

Maka benarlah pernyataan Erantzo,  bahwa Bunda Maria tetap perlu beriman dan memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dan memang karena jasa Yesus, Bunda Maria memperoleh rahmat dan disucikan dari segala dosa. Erantzo juga benar, bahwa Bunda Maria tidak layak disembah, dan tidak perlu disembah. Para majus dan gembala yang mengunjungi Bayi Yesus tidak menyembah Maria, dan demikian pula, umat Katolik tidak menyembah Maria. Umat Katolik hanya menghormatinya, karena mengikuti teladan Yesus yang menghormati ibu-Nya.

Keselamatan adalah anugerah Allah?

27

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Dear Ingrid

Setelah mempelajari tulisan anda diatas dan membandingkan dengan ayat2 yang tertulis didalam Injil Matius 25 (khususnya perumpamaan tentang Domba dan Kambing) .

Matius 25 : 34 (Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DIJADIKAN).

Ayat 35 sampai ayat 45 menceriterakan bahwa baik Domba maupun Kambing tidak merasa berbuat / melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Gembala tersebut, namun yang diterima sangat berbeda

Matius 25 : 46 (Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal)

Maka saya berkesimpulan bahwa keselamatan itu adalah ANUGERAH dari Allah.

Bagaimana tanggapan anda

Terima kasih
Mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

1. Ya, benar, memang keselamatan adalah anugerah Allah. Tepatnya Rasul Paulus mengatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Ef 2:8). Jadi keselamatan bukan diperoleh karena hasil melakukan hukum sunat, tetapi oleh Roh Kudus, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal 5:6)

Maka, kita melihat bahwa keselamatan diperoleh karena kasih karunia Allah melalui iman yang bekerja oleh kasih.

2. Jika kita membaca kisah Penghakiman Terakhir pada Mat 25:31-46, kita mengetahui bahwa memang keselamatan diberikan karena anugerah/ karunia Allah, namun ini tak bisa dipisahkan dari perbuatan kasih yang dilakukan oleh setiap orang. Sebab, yang tidak disadari oleh orang-orang itu adalah bahwa apa yang dilakukan (atau tidak dilakukan) terhadap saudara yang terkecil/ terhina itu mereka lakukan terhadap Kristus Tuhan. Kristus dapat mengidentifikasikan diriNya di dalam mereka yang menderita itu disebabkan karena Kristus telah menebus mereka dengan korban salib-Nya.

Namun  semua orang itu, terutama yang melakukan perbuatan kasih, tentu sadar akan apa yang dilakukan mereka, sebab untuk melakukan sesuatu (atau tidak melakukan sesuatu) itu umumnya melibatkan kesadaran dan kehendak manusia.
Hal ini nyata dalam pengalaman kita sehari-hari, di mana untuk berbuat baik, itu melibatkan kehendak kita; ataupun kalau kita menolak untuk berbuat baik, itu juga melibatkan keputusan kita.

3. Memang karena pengetahuan Allah yang tak terbatas, maka sejak dari awal mula memang Tuhan telah mengetahui akan segala keputusan kita, apakah kita akan bekerja sama dengan kasih karunia-Nya atau tidak. Namun Allah tidak dari awal menjadikan kita seperti boneka wayang, yang hanya mengikuti saja apa yang ditentukan-Nya, seolah- olah sejak dari awal Tuhan menakdirkan sebagian orang untuk masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka. Tuhan “menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4). Jika manusia sampai masuk ke neraka, itu disebabkan bukan karena Tuhan yang secara aktif memasukkan mereka ke dalam neraka, tetapi karena orang-orang itu sendiri yang menolak untuk bekerja sama dengan rahmat Allah yang diberikan kepada mereka [dan semua orang] untuk keselamatan.

Pada perikop Mat 25 tersebut terlihat bahwa mereka yang telah bekerja-sama dengan karunia Allah itu dengan melakukan perbuatan kasih, maka Tuhan berkenan, dan menyelamatkan mereka, sedangkan mereka yang tidak bekerja sama dengan rahmat Allah itu, dengan tidak berbuat kasih kepada sesama, maka Tuhan tidak berkenan.

4. Mungkin yang paling jelas adalah pengajaran Yesus sendiri tentang bagaimana caranya memperoleh hidup kekal yaitu keselamatan. Yesus mengajarkan kepada orang muda yang kaya itu, “…jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup [yang kekal], turutilah segala perintah Allah.”(Mat 19:17) Dan ketika ditanya perintah yang mana, Yesus menjawabnya dengan perintah kasih, kepada orang tua, dan kepada sesama terutama orang-orang miskin (Mat 19: 19-21).

Maka dari sini kita mengetahui bahwa keselamatan tak semata-mata anugerah yang tidak perlu diikuti oleh perbuatan kasih, melainkan harus menjadi kesatuan: anugerah Allah yang menyebabkan seseorang dapat beriman, namun iman itu harus dinyatakan dengan kasih, dan ini tidak terpisahkan. Silakan membaca lebih lanjut penjelasan tentang iman dan kasih ini seperti yang diajarkan oleh Paus Benediktus XVI tentang Sola Fide menurut pandangan Gereja Katolik, di sini, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah itu Ajaran Sosial Gereja?

17

Pertanyaan:

Salam Katolisitas, Pak Stef dan Bu Ingrid. Perkenankanlah menjelang HUT Kemerdekaan RI ini saya bertanya. Apakah dasar ajaran Gereja dan alkitab dari kecintaan kita pada tanah air? Saya pernah mendengar istilah “teologi sosial-politik”. Apakah itu sama dengan Ajaran Sosial Gereja? Apakah itu Ajaran Sosial Gereja? Apakah itu sama dengan instruksi agar Gereja Katolik membuat kegiatan dan lembaga sosial dalam masyarakat? Kita tahu Gereja banyak mendirikan rumah yatim-piatu, sekolah dan rumah perawatan/Rumah Sakit. Apakah itu artinya Gereja sudah melaksanakan ajaran sosial dari Tuhan? Mohon maaf pertanyaan saya jika mengganggu. Soalnya, lembaga agama lain seperti misalnya Muhammadiyah pun membuat rumah sakit dan pelayanan umum. Apakah Ajaran Sosial gereja juga mirip seperti Muhammadiyah yaitu supaya membuat pelaksanaan ajaran agama mencapai masyarakat umum? Terima kasih atas kesediaan menerangi ketidaktahuan saya. Shaloom: Isa Inigo.

Jawaban:

Shalom Isa Inigo,

Ajaran sosial Gereja sebenarnya adalah ajaran Gereja yang diperuntukkan bagi kebaikan bersama (common good) dalam masyarakat, untuk mengarahkan masyarakat kepada kebahagiaan. Banyak orang menghubungkan surat ensiklik Bapa Paus Leo XIII, Rerum Novarum, tahun 1891, sebagai tanggapan Gereja Katolik yang nyata terhadap keadaan krisis sosial dunia.  Namun sebenarnya, keberadaan ajaran sosial Gereja telah ada sejak lama, bahkan sejak jaman Perjanjian Lama.

Maka sumber ajaran sosial Gereja Katolik adalah: (disarikan dari buku karangan Arthur Hippler, Citizens of the Heavenly City, A Catechism of Catholic Social Teaching, (Rockford Illinois: Borromeo Books, 2003) p. 1-11:

1. Kitab Suci, terutama ke-sepuluh perintah Allah yang menjadi dasar pengajaran moral dalam Gereja Katolik (lih. KGK 264-2068). Melalui hukum-hukum Musa di Perjanjian Lama, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa Allah memberikan hukum tidak hanya untuk mengatur penyembahan kepada Allah, tapi juga untuk mengatur kehidupan yang benar antara sesama keluarga dan masyarakat. Hukum ini yang kemudian disarikan menjadi “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu dan kekuatanmu… dan kasihilah sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri” (lih. Mat 22:37-39)

2. Pengajaran para Bapa Gereja dan para Pujangga Gereja (Doctors of the Church), terutama St. Agustinus (354-430) melalui bukunya The City of God, yang mengatur pengajaran tentang manusia dan masyarakat; dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), dengan bukunya, Summa Theologiae, di mana bagian yang terbesar dari Summa adalah Teologi moral/ Moral Theology.

3. Pengajaran dari Bapa Paus, yaitu dari surat-surat ensiklik dan pengajaran lisan/ dalam homili/ sermon/ pidato. Pengajaran dari Bapa Paus ini merangkum Kitab Suci dan pengajaran dari para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja. Bapa Paus yang mengajarkannya ajaran sosial ini kepada dunia adalah merupakan tanda bahwa Kristus tak meninggalkan umat manusia bagai yatim piatu, namun terus menyertainya dengan ajaran-Nya yang ditujukan bagi semua orang, demi kebaikan bersama.

Memang banyak orang sukar melihat bahwa ajaran dari Bapa Paus merupakan ajaran bagi semua orang, sebab mereka berpikir bahwa Paus hanya mengajar umat Katolik. Namun sebagai the Vicar of Christ, wakil Kristus di dunia, sebenarnya, Paus mempunyai tugas untuk mengajar semua orang. Otoritas Paus dalam mengajarkan doktrin sosial Gereja sifatnya tetap, tidak terpengaruh ‘masa jabatan’. Maka artinya:

1. Paus yang sekarang ini mengajarkan sesuatu yang telah menjadi pengajaran Gereja sepanjang sejarah, dan tidak mengajarkan hal yang baru/ ‘inovasi’ yang dibuatnya sendiri.

2. Demikian pula, ajaran para Paus di masa lampau tetap berlaku. Contohnya, surat ensiklikal Centesimus Annus dari Paus Yohanes Paulus II ditulis berdasarkan Rerum Novarum dari Paus Leo XIII dan Quadragesimo anno dari Paus Pius XII. Dan yang baru-baru ini surat ensiklik Caritatis in Veritate dari Paus Benediktus XVI merupakan pengembangan/ kelanjutan dari surat-surat ensiklik dari para Paus pendahulunya tersebut. Dalam surat ensikliknya, khususnya Rerum Novarum dan Centesimus Annus, Paus mendorong dibentuknya kegiatan dan lembaga sosial dalam masyarakat yang sifatnya untuk mendukung masyarakat itu sendiri, namun harus dilihat dasarnya, bahwa semua itu adalah untuk menerapkan hukum kasih dalam masyarakat.

Memang dalam hal ini Gereja tidak mengajarkan penemuan suatu sistem bisnis/ pengaturan masyarakat, namun Gereja mengajarkan prinsip-prinsip dasarnya demi mengarahkan umat manusia kepada kekudusan, sehingga manusia dapat mencapai tujuan akhirnya, yaitu surga. Semua perkembangan di dunia tidak boleh menghalangi manusia untuk mencapai tujuan akhir ini.

Maka dengan demikian, ajaran sosial Gereja tidak terbatas pada mendirikan rumah sakit atau keterlibatan politik, atau “teologi sosial politik” seperti yang pernah anda dengar. Mungkin ada baiknya jika anda membaca surat ensiklik Paus Benediktus XVI Caritas in Veritate (In Charity and Truth), silakan klik, sehingga anda memperoleh gambaran tentang ajaran sosial Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan para kudus?

68

Pertanyaan:

Memang agak susah untuk dimengerti…, tapi bagi saya gereja harus kembali kpada dasar2 alkitab dan bukan tradisi2 yang dibuat oleh manusia. sering gereja berlebihan memperlakukan orang2 kudus, memnganggap mereka seperti “dewa”, hal ini dipengaruhi oleh tradisi masyarakat roma seblm kristen yaitu pengkultusan individu. Yesus kristus sudah cukup. orang kristen tdk perlu minta bantuan kepada org2 kudus yang lama meni nggal. tidak ada hub org hidup dan mati. oleh sebab itu semasih didunia Yesus mengutus RohNya yaitu Roh kudus untuk menolong manusia. Gereja harus menulis kembali doktrin2 yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman. pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin atau ajaran. setiap orang mengalami dengan berbeda.
Yesus adalah satu2nya Tuhan, imam, nabi, sahabat kita. Ialah yang menjadi juru safaat kita baca di Yoh 17. sekian, slm kenal Tuhan Yesus memberkati

Salam – Efaproditus

Jawaban:

Shalom Efaproditus,

Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan saya akan komentar efaproditus:

1)Efaproditus mengatakan “Memang agak susah untuk dimengerti…, tapi bagi saya gereja harus kembali kpada dasar2 alkitab dan bukan tradisi2 yang dibuat oleh manusia.

a) Memang Gereja Katolik mendasarkan pengajaran-Nya pada Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang dijaga kemurniaannya lewat Magisterium Gereja. Dan prinsip ini adalah sesuai dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab (silakan melihat link ini untuk pembahasan tentang topik ini – silakan klik). Hanya mendasarkan pada Alkitab adalah tidak alkitabiah. Silakan melihat artikel ini (silakan klik). Saudara/i dari denominasi lain banyak yang salah paham terhadap pengajaran Gereja Katolik, sehingga mengatakan bahwa dogma/doktrin dari Gereja Katolik adalah hanya buatan manusia. Kitab Suci dan Tradisi Suci bersumber dari Kristus (Sang Sabda) yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan.
Ingatlah bahwa Alkitab terbentuk dari kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja dalam Tradisi Suci. Di Kitab Suci sendiri tertulis, bahwa yang menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (jemaat) (lih. 1 Tim 3:15); maka kita tidak boleh mengecilkan peran Gereja seolah-olah Gereja ada di bawah Kitab Suci. Kita justru harus melihatnya sebagai yang utama, karena fakta menunjukkan bahwa Kitab Suci terbentuk karena Gereja. Sebelum terbentuk kanon Kitab Suci (dari abad 1-4), Gereja sudah ada, dan itu suatu bukti bahwa agama Kristiani bukan agama yang tergantung semata-mata pada buku/ kitab, tetapi justru kepada iman yang hidup di dalam jemaat (Gereja). Iman yang hidup di dalam Gereja terlihat dari Tradisi Suci. Kitab Suci memang menjadi pedoman bagi anggota Gereja untuk memberikan pengajaran, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16), namun hal ini tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci.

Maka, kalau dilihat, dogma dari Gereja Katolik mempunyai dasar perkembangan yang konsisten yang dapat ditelusuri dari Kitab Suci, dan Tradisi Suci yang berdasarkan iman jemaat perdana, tulisan dari Bapa Gereja dan konsili-konsili:

a) Kalau memang sesederhana seperti yang dikatakan Efaproditus, bahwa seharusnya gereja harus kembali kepada Alkitab dan dengan asumsi bahwa Gereja Katolik mengajarkan doktrin yang dibuat oleh manusia, maka saya ingin bertanya:

1) Anggaplah bahwa yang dikatakan oleh Efaproditus adalah benar bahwa Gereja Katolik telah tersesat dan tidak mendasarkan ajarannya pada Alkitab. Pertanyaannya adalah, mengapa Gereja Katolik mempunyai dogma yang tidak berubah dari awal sampai saat ini, dengan jemaat lebih dari 1 Milyar, dan mempunyai karakter satu, kudus, katolik dan apostolik?

2) Anggaplah apa yang dikatakan oleh Efaproditus adalah benar, yaitu bahwa gereja-gereja mulai dari Martin Luther benar-benar kembali kepada Kitab Suci. Seharusnya setelah kembali ke dasar Kitab Suci, maka tidak terjadi perpecahan antar gereja. Namun yang terjadi adalah perpecahan terjadi di mana-mana, sehingga ada 28,000 denominasi sampai saat ini. Mengapa hanya berdasarkan Alkitab menimbulkan begitu banyak perpecahan?

Dari hal di atas, kita dapat belajar bahwa dengan dasar Kitab Suci saja, maka gereja-gereja bukannya bersatu padu, malah tercerai berai. Hal ini disebabkan semua orang dapat menginterpretasikan sendiri-sendiri akan makna Kitab Suci. Bukankah perpecahan ini berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri di Yohanes 17?

2) Efaproditus mengatakan “sering gereja berlebihan memperlakukan orang2 kudus, memnganggap mereka seperti “dewa”, hal ini dipengaruhi oleh tradisi masyarakat roma seblm kristen yaitu pengkultusan individu.” Untuk menjawab hal ini, mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan oleh jemaat perdana (catatan: mereka ini adalah orang-orang yang telah menjadi Kristen).

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215)

“Dengan cara ini, ia [seorang Kristen sejati] selalu murni dalam doa. Ia juga berdoa dalam kumpulan para malaikat, sebagai seorang berada di tingkatan malaikat, dan ia tak pernah beranjak dari perlindungan mereka; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia telah berada di dalam paduan suara para kudus yang berdiri dengannya [dalam doa]” (St. Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12 [A.D. 208]).

  • Origen  (185-254)

“Tetapi bukan Sang Imam Agung [Kristus] sendiri yang berdoa untuk mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat … demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal dunia” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11 [A.D. 233]).

  • St. Siprianus dari Karthago (200-270)

“Mari kita mengingat satu sama lain dalam harmoni dan kesatuan suara. Mari kita, di kedua belah pihak [yang terpisah kematian] selalu berdoa bagi satu sama lain. Mari mengangkat beban-beban dan kesedihan dengan dengan saling mengasihi, sehingga jika salah seorang dari kita, dengan pergerakan perlindungan ilahi, telah pergi terlebih dahulu [wafat], kasih kita dapat terus berlanjut dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti dalam hadirat belas kasihan Allah Bapa” (St. Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5 [A.D. 253]).

  • St. Efraim dari Syria (306-373)

“Kalian, para martir yang berjaya, yang bertahan dalam penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, kalian yang mempunyai keberanian berbicara di hadapan Tuhan sendiri, kalian para orang kudus, berdoa syafaat-lah untuk kami, orang-orang yang lemah dan berdosa, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami dan menerangi hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (St. Ephraim the Syrian, Commentary on Mark, The Nisibene Hymns, [A.D. 370]).

  • St. Basilius Agung (329-379)

“Atas perintah Putera Tunggal-Mu, kami berkomunikasi dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus.” (St. Basil the Great, Letter 243,  Liturgy of St. Basil, [A.D. 373]).

  • St. Gregorius dari Nisa (325-386)

“[Efraim], engkau yang berdiri di hadapan altar ilahi [di Surga] … ingatlah kami semua, mohonkanlah bagi kami pengampunan dosa-dosa, dan penggenapan janji Kerajaan kekal” (St. Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ,  Sermon on Ephraim the Syrian [A.D. 380]).

  • St. Gregorius dari Nazianza (325-389)

“Ya, saya diyakinkan bahwa doa syafaat [ayah saya] sekarang lebih berguna daripada pengajarannya di hari-hari terdahulu, sebab kini ia lebih dekat kepada Tuhan, bahwa ia telah menanggalkan keterbatasan tubuhnya, dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang dulu mengaburkannya, dan kini mengadakan pembicaraan yang terus terang dengan Sang Pikiran yang utama dan murni, yang telah diangkat… ke tingkatan dan keyakinan seorang malaikat” (St. Gregory Nazianzen, Oration 18:4)

“Semoga engkau [Siprianus], dari atas memandang ke bawah dengan belas kasih kepada kami, dan membimbing perkataan dan hidup kami; dan menggembalakan kawanan yang kudus ini …. menyenangkan Allah Trinitas yang kudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (St. Gregory Nazianzen, Oration 17, 24)

  • St. Yohanes Krisostomus (347-407 AD)

“Ketika kamu merasa bahwa Tuhan menyesahmu, jangan berlari kepada musuh-musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir, para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang mempunyai kuasa yang besar [di dalam Tuhan].” (St. John Chrysostom, Orations 8:6, Homily 8 on Romans [A.D. 396])

“Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu, seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai mahkota mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (St. John Chrysostom, Homilies 26 on Second Corinthians  [A.D. 392]).

  • St. Hieronimus, (347-420)

“Engkau mengatakan di alam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi setelahnya ketika kita telah mati, tak ada doa seorangpun yang dapat didengar …. Tetapi jika para Rasul dan martir ketika masih tinggal di dalam tubuh dapat mendoakan orang lain, pada saat di mana mereka masih dapat memikirkan diri mereka sendiri, berapa lebih banyak-kah yang dapat mereka lakukan setelah mereka menerima mahkota, kemenangan dan kejayaan?” (St. Jerome, Against Vigilantius 6 [A.D. 406]).

  • St. Agustinus dari Hippo (354-430)

“Sebuah bangsa Kristen merayakan bersama dalam perayaan religius, kenangan para martir, baik untuk menekankan teladan mereka agar diikuti, maupun agar bangsa itu dapat mengambil bagian dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo,  The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean [A.D. 400]).)

“Juga, jiwa-jiwa orang beriman yang telah wafat tidak terpisah dari Gereja, yang bahkan sekarang adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak demikian, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam komunikasi Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 9:2 [A.D. 419]).

“Di altar Tuhan kita tidak mengenang para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan terhadap mereka yang telah meninggal untuk mendoakan mereka, melainkan agar mereka [para martir itu] mendoakan kita sehingga kita dapat mengikuti jejak kaki mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate/ Homilies on John, 84 (John 15:13) [A.D. 416]).

Dari beberapa tulisan dari jemaat awal, yang nota bene adalah Kristen, maka kita melihat bahwa mereka percaya bahwa para kudus, walaupun telah meninggal dunia, namun mereka masih hidup dan membentuk persatuan para kudus di Sorga. Kalau kita percaya bahwa Kristus menjadi Pengantara kita dan terus mendoakan kita, maka akan sulit dibayangkan bahwa orang-orang kudus di Sorga hanya berpangku tangan dan tidak melakukan apapun. Kalau di Sorga, kasih mereka menjadi sempurna, apakah melihat Kristus terus bekerja dan kemudian para kudus hanya menikmati kebahagiaan sorgawi merupakan manifestasi dari kasih yang sempurna? Sampai kedatangan Kristus yang kedua, para kudus di Sorga akan terus berdoa bagi umat Allah di dunia dan di Api Penyucian.

3) Efaproditus mengatakan “Yesus kristus sudah cukup. orang kristen tdk perlu minta bantuan kepada org2 kudus yang lama meninggal. tidak ada hub org hidup dan mati. oleh sebab itu semasih didunia Yesus mengutus RohNya yaitu Roh kudus untuk menolong manusia.

a) Inilah yang menjadi perbedaan antara apa yang dipercaya oleh Gereja Katolik dengan gereja non-Katolik. Gereja Katolik percaya bahwa mereka yang telah meninggal dunia, tetap hidup, karena mereka tetap hidup di dalam Kristus. Surat kepada jemaat di Roma menegaskan ““38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39)

b) Bukankah ayat di atas mengatakan bahwa maut maupun hidup tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah? Oleh karena itu, Gereja Katolik percaya bahwa ikatan kasih ini – para kudus di Sorga dan manusia di bumi dan di Api Penyucian – adalah kekal, karena diikat oleh kasih Kristus.

4) Efaproditus mengatakan “Gereja harus menulis kembali doktrin2 yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman. pengalaman tidak bisa dijadikan doktrin atau ajaran. setiap orang mengalami dengan berbeda.

a) Semoga uraian di atas dapat membuktikan bahwa pengajaran tentang persatuan para kudus bukanlah pengajaran manusia semata, namun berakar pada Alkitab dan Tradisi Suci. Mungkin sudah saatnya kita bersama-sama meneliti satu persatu doktrin yang kekristenan yang kita kenal, misalkan mulai dari “persatuan para kudus“. Bagaimana kita tahu bahwa suatu doktrin berasal dari manusia? Kalau tidak ada perkembangan doktrin (development of doctrine) dari jemaat awal sampai saat ini atau dari yang ada menjadi tidak ada atau sebaliknya, maka kita perlu mempertanyakan doktrin tersebut. Kalau kita melihat bahwa jemaat awal percaya akan hal ini, seperti yang saya paparkan di atas – dengan tulisan para Bapa Gereja – dan kemudian tiba-tiba mulai abad 16, kita tidak mempercayainya lagi, maka ini berarti tidak ada perkembangan doktrin. Perkembangan doktrin bukanlah dari sesuatu yang tidak ada menjadi tiba-tiba ada, atau sesuatu yang ada menjadi tiba-tiba tidak ada, namun sesuatu yang berkembang terus menerus, diperjelas dan diapplikasikan secara lebih mendalam, seperti perkembangan pohon dari kecil menjadi besar.

b) Oleh karena itu, pernyataan bahwa Gereja harus menuliskan kembali doktrin-doktrin yang sebenarnya hanya tradisi dan pengalaman adalah tidak tepat. Pertama, kalau menuliskan kembali adalah untuk memperjelas suatu doktrin, maka itu dapat dibenarkan, karena ini adalah seperti perumpamaan pohon yang kecil menjadi pohon yang besar. Namun kalau “menuliskan kembali” adalah menghilangkan dari yang tadinya ada atau menambahkan dari yang tadinya tidak ada, maka ini adalah sesuatu yang salah. Bayangkan kalau “menuliskan kembali” dalam pengertian yang ke dua ini berlangsung terus-menerus, maka setiap generasi akan dengan bebas menghapuskan atau menambahkan doktrin, walaupun semua generasi menyatakan bahwa semuanya bersumber pada Kitab Suci. Kalau hal ini terus-menerus terjadi, maka pada akhirnya tidak ada lagi yang tahu secara persis perkembangan dari suatu doktrin.

c) Gereja Katolik tidak pernah menuliskan doktrin atau pengajaran berdasarkan pengalaman. Kalau penulisan suatu doktrin berdasarkan pengalaman, maka akan berubah dari generasi ke generasi, karena pengalaman setiap generasi berubah. Mungkin Efaproditus dapat memberikan contoh, doktrin mana dari Gereja Katolik yang berdasarkan pengalaman?

5) Akhirnya Efaproditus mengatakan “Yesus adalah satu2nya Tuhan, imam, nabi, sahabat kita. Ialah yang menjadi juru safaat kita baca di Yoh 17. sekian, slm kenal Tuhan Yesus memberkati.

a) Tentu saja saya setuju dengan pernyataan di atas. Yang membuat perbedaan kita adalah satu-satunya pengantara tidak berarti melarang umat beriman untuk turut serta berpartisipasi dalam karya Kristus. Kita melihat bahwa walaupun Yesus pengantara kita, kita juga masih meminta tolong teman-teman kita, penatua jemaat, pendeta, pastor, untuk mendoakan kita kalau kita mempunyai masalah. Atau contoh yang lain, walaupun Efaproditus mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya imam, nabi, dan sahabat kita, namun rasul Petrus mengatakan “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri..” (1 Pet 2:9).

Semoga penjelasan ini dapat membantu untuk menghilangkan kesalahpahaman dari Efaproditus akan pengajaran dari Gereja Katolik tentang persekutuan para kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Lectio Divina

42

Pendahuluan

Saya mempunyai seorang sahabat baik yang saya kenal sejak saya SMA kelas 2. Kami masih berhubungan dengan sangat baik sampai sekarang, bahkan seperti saudara sendiri. Usia persahabatan kami bahkan lebih panjang daripada usia kami saat pertama kali bertemu. Banyak sekali suka duka dalam persahabatan kami, namun satu hal yang kami akui, hal itu dimulai dengan saling mendengarkan satu sama lain. Ya, “mendengarkan” merupakan awal yang penting dalam membina persahabatan. Ini adalah suatu permenungan juga dalam hubungan kita dengan Tuhan. Jika sungguh kita ingin mengalami persahabatan yang erat dengan Allah, maka pertanyaannya adalah: sudah cukupkah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan Dia?

Lectio Divina, apakah itu?

Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”. ((Lih. M. Basil Pennington, Lectio Divina, (New York: A Crossroad Book, 1998), p. 1)) Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka memang, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal. Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. Melalui Lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!

Empat hal dalam proses Lectio Divina

Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, proses yang terjadi dalam Lectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses lectio divina ini menyangkut empat hal, yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio. ((Lih. Ibid., p. 57, 88)).

1. Lectio
Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh Tuhan kepada kita.

2. Meditatio
Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.

3. Oratio
Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada Tuhan, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.

4. Contemplatio
Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai  doa persatuan dengan Allah/ prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.” ((St. Teresa of Avila, The Way of Perfection, text prepared by Kieran Kavanaugh, OCD, Washington DC: ICS Publication, 2000), p. 358.))

Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai persatuan.

Bagaimana caranya memulai Lectio Divina

Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah lectio divina adalah sebagai berikut:

1. Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.

2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan pengertian yang benar.

3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.

4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”

5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.

Berdoa Ibadat Harian/ Liturgy of the Hour

Tradisi Gereja Katolik juga mengenal adanya doa “Ibadat Harian/Liturgy of the hour/ Divine office“, yaitu doa yang pada awalnya didoakan oleh para biarawan/ biarawati. Doa ini secara lengkapnya terdiri dari doa pagi, dan doa sore, doa tengah hari, doa menjelang tengah hari, doa sesudah tengah hari, dan doa malam; serta bacaan dan renungan hari itu (Office of the Reading). Setelah Konsili Vatikan ke II, Ibadat Harian ini dianjurkan juga bagi para awam, terutama doa pagi (Laudes/ Morning prayer) dan doa sore (Vesper/Evening prayer). ((lih. Sacrosanctum Concilium, 87, 89)).

Pendarasan doa Ibadat Harian ini mempunyai makna yang sangat dalam, yang jika didoakan bersama-sama dengan imam, dapat merupakan suara Gereja, sebagai Mempelai Kristus kepada Kristus, atau bahkan juga doa kita sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus dengan kesatuan dengan Kristus sebagai Kepalanya, kepada Allah Bapa. ((lih. Sacrosanctum Concilium, 84))

Begitu indahnya doa Ibadat Harian ini, doa ini terdiri dari kutipan-kutipan mazmur yang kemudian diikuti oleh perikop singkat dari Kitab Suci. Selanjutnya baru diikuti oleh Kidung Zakaria (untuk doa pagi) atau Kidung Magnificat (untuk doa sore) dan baru kemudian doa-doa permohonan, dan diakhiri oleh doa Bapa Kami dan doa penutup. Selanjutnya silakan klik di sini untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang doa Ibadat Harian/ “Liturgy of the Hour” ini.

Contoh merenungkan Alkitab dengan Lectio divina

Mari kita melihat bacaan Injil kemarin, Kamis 13 Agustus 2009, yang diambil dari Mat 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari?

Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan], maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak dapat/ sukar mengampuni orang lain. Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini?  Siapakah kiranya orang yang Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus kuampuni…?

Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita. Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.

Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka, kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya, betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” (Mat 19:2). Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “…. dan Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita untuk mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita sebagai manusia.

Memang, pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita berhenti pada meditatio/ permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat mengadakan percakapan/ oratio yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur, pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita.

Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit mengubah kita, dan mendorong kita untuk juga memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-Nya untuk hidup mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri: suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid-Nya.

Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk mengikuti kehendak Allah, maka  kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu….” Dan dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.

Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati, dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di dalam diri kita.” ((Henri J.M. Nouwen, The Way of the Heart, (New York: Ballantine Books, 1991), p.59)), maka contemplatio adalah puncak doa. Ini adalah saat di mana kita memandang Yesus dengan pandangan iman: “Aku memandang Dia dan Dia memandangku.” ((KGK 2715)) Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.

Apa buah-buah dari Lectio divina?

Buah-buah dari Lectio divina adalah Compassio dan Operatio. ((lih. M. Basil Pennington, Lectio Divina, Ibid., p. 89)). Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).

Mari, memulai perjalanan iman dengan Lectio divina

Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Alkitab. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari. Membaca atau menghafalkan ayat- ayat Alkitab adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus Tuhan kita.

“O, Tuhan Yesus, tambahkanlah di dalam hatiku, kasih kepada-Mu; sehingga aku dapat setia menginginkan persahabatan dengan Engkau melalui doa dan Sabda.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab