Home Blog Page 281

Tentang Kitab Ayub

13

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Dear Pengasuh katolisitas

Apa yang dimaksud dengan luasnya bumi (bhs Ingris lebarnya bumi) dalam Ayub 38 : 18 (Apakah engkau mengerti LUASnya bumi? Nyatakanlah, kalau engkau tahu semuanya itu.)

Salam
Mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

Sebelum membahas pertanyaan anda tentang maksud ayat Ayub 38: 18, saya ingin mengulas sedikit tentang Kitab Ayub itu sendiri. Sebab perikop Ayub 38 tersebut berkaitan dengan maksud kitab Ayub secara keseluruhan.

Fr. Dominique Barthelemy O.P, seorang pakar Kitab Suci, menulis dalam bukunya God in His Image, An Outline of Biblical Theology,  menempatkan Kitab Ayub di awal ulasannya, untuk menjelaskan pentingnya membaca Kitab Suci dengan melihat secara keseluruhan. Ini yang disebutkan kondisi yang disyaratkan untuk memahami teologi biblis, yaitu ((Dominique Barthelemy O.P, God in His Image, An Outline of Biblical Theology, (New York: Sheed and Ward, 1966), p. ix)):
1. Tidak bisa kita memutuskan satu kitab dengan kitab lainnya, sebab Kitab suci adalah sebuah satu kesatuan.
2. Kita harus memusatkan kepada apa yang hendak dikatakan oleh Tuhan tentang Diri-Nya kepada kita.

Ringkasannya (menurut A Holy Commentary on Holy Scripture, ed Dom Orchard):

Kitab Ayub menceritakan kepada kita tentang seseorang yang hidup di tanah Us, kaya dengan hewan ternak peliharaannya, hasil tanah miliknya dan jumlah anak-anaknya. Namun atas hasil pembicaraan di surga, Tuhan mengizinkan ujian bagi Ayub, dan satu persatu dari segala miliknya diambil daripadanya mulai dari anak-anak dan harta miliknya. Namun Ayub tetap setia dengan berpegang bahwa “Tuhan sudah memberi, Tuhan yang mengambil kembali, terpujilah Tuhan.” (1:21)

Namun kemudian datanglah ujian berikutnya  di mana ia mendapat penyakit yang menjijikkan, sampai istrinya tidak dapat memberikan dukungan moral lagi, menyuruh Ayub mengutuk Tuhan lalu mati. Namun iman Ayub lebih besar daripada iman istrinya, dan sekali lagi menunjukkan imannya: “Jika kita menerima hal yang baik dari Tuhan, mengapakah kita tidak menerima yang buruk?” (2:10)

Lalu tiga teman-teman Ayub datang, Elifas, Bildad dan Zofar. Mereka melihat kondisi Ayub yang menyedihkan, dan rasa kasihan mereka hilang, sebab mereka yakin mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang sedang dikutuk oleh Tuhan. Mereka seperti orang-orang pada jaman itu beranggapan bahwa berkat kekayaan adalah penghargaan Tuhan bagi kebajikan, dan musibah adalah hukuman Tuhan atas dosa. Maka melihat kondisi Ayub yang mengenaskan mereka berkesimpulan bahwa hal ini disebabkan oleh dosa-dosa Ayub.

Ayub telah menderita selama berbulan-bulan. Ayub telah menjadi seorang yang kurus kering (19:20). Oleh karena kekerasan sikap teman-temannya, dan kepahitannya karena tak menerima simpati dari teman-temannya itu, maka setelah pengalaman penderitaan mental dan fisik yang lama, maka kesabaran Ayub yang luar biasa itu akhirnya sirna, dan ia mulai mengucapkan penyesalan, mengapa Tuhan membiarkan dirinya hidup.

Maka teman-temannya mulai memberikan pandangan mereka sesuai dengan pengertian mereka sendiri tentang Tuhan, yaitu: Ayub bersalah, dan layak dihukum. Jika Ayub bertobat maka semua akan menjadi baik kembali. Namun Ayub menolak interpretasi ini. Ia mengetahui bahwa ia tidak bersalah dan tidak dapat menerima bahwa ia bersalah. Ia mengakui telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil yang umum dilakukan manusia (13:26; 14:4), tapi tidaklah sepadan dengan penderitaan yang harus ditanggungnya sekarang. Maka terjadilah pergumulan di jiwa Ayub: ia mengetahui bahwa Tuhan itu adil, namun kelihatannya yang dilakukan Allah terhadapnya sungguh tidak adil. Ayub-pun selalu yakin bahwa perlakuan Tuhan terhadap manusia adalah sebanding dengan perbuatannya. Maka jiwanya bergolak. Teman-temannya memberikan jawaban, namun ia dalam hati nuraninya menolak mempercayainya.

Maka kedua hal ini yang kelihatannya tidak sesuai: keadilan Tuhan yang sempurna dan dirinya yang tidak bersalah. Maka Ayub menuduh Tuhan telah memperlakukannya dengan tidak adil (27:2) maka ia berharap untuk bertemu dengan Tuhan untuk menyatakan kasusnya, dan ia percaya segalanya akan baik kembali (23:3-7) seolah-olah Tuhan tidak tahu fakta yang sebenarnya. Tetapi sebenarnya Ayub tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah (16:20). Ini adalah bentuk pergumulan dalam jiwa Ayub, walaupun ia percaya bahwa pada akhirnya keadilan Tuhan akan dinyatakan baginya (19:23-27).

Pada saat ini, Elihu menyampaikan pandangannya. Ia kesal terhadap para pendahulunya yang tak dapat mempertahankan keadilan Tuhan dan meyakinkan Ayub akan kesalahannya. Ia menekankan bahwa penderitaan dan musibah tidak saja merupakan ganjaran/ hukuman tetapi juga bersifat mengobati demi pertobatan.  Oleh penderitaan, Tuhan membuka telinga orang yang menderita untuk menarik diri dari perbuatan yang jahat (36:7-12; 33:14-28). Elihu memaparkan tentang kuasa Tuhan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan jawaban Tuhan.

Jawaban Tuhan sendiri datang di dalam badai untuk mengakhiri debat (Ayb 38-42). Ia mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya mengetahui segala rahasia tentang rencana Tuhan. Bagian manusia adalah mengakui, tidak hanya kuasa Tuhan namun juga kebijaksanaan-Nya dan oleh karena itu dengan rendah hati menerima pengaturan alam semesta dan memasrahkan diri pada penyelenggaraan-Nya walaupun hal itu melampaui pengertian manusia yang kecil. Maka untuk menjelaskan hal ini, Tuhan menjabarkan pelajaran tentang kuasa Tuhan yang dinyatakan dengan penciptaan dunia, keajaiban penciptaan terang, hujan, salju, dan alam binatang. Lagi dan lagi Ayub dibawa kepada pengertian bahwa ia tak sedikitpun memahami akan hal ini. Bagaimana Ayub yang tidak mengerti sedikitpun tentang kejadian alam yang terjadi sehari-hari, mengharapkan untuk memahami pengaturan Tuhan akan moralitas dunia dan mengapa ia begitu berani menempatkan dirinya sendiri sebagai hakim atas benar atau tidaknya pengaturan Tuhan itu?

Penjelasan ini membuat Ayub menyadari kesalahannya (Ayb 42). Ia menjawab dengan rendah hati bahwa ia telah berbicara tidak sepantasnya, dan tak ingin menambahkan lagi. Maka Allah menutup pengajaran-Nya dengan menyatakan kuasa-Nya dan ketidakberdayaan manusia. Ayub lalu mengakui kemahakuasa-an Tuhan dan pengertiannya yang sungguh lemah. Ia menyesali perkataannya dan bertobat. Tuhan akhirnya menegur teman-teman Ayub atas kesalah- ucapan mereka, namun mengampuni mereka atas permohonan Ayub. Tuhan mengembalikan Ayub dengan ukuran dua kali lipat dari apa yang dipunyainya terdahulu. Ia kembali diberkati dengan banyak keturunan dan wafat di usia yang lanjut dalam keadaan berlimpah.

Maka, kitab Ayub ini pada dasarnya mempertanyaan eksistensi manusia. Maka dalam kitab ini seolah terjadi dua drama: 1) manusia ‘berbunga’ namun kemudian ‘dipotong’ [Ayub yang termasuk kaya dan diberkati, tiba-tiba dalam sekejap kehilangan segalanya]; 2) Tuhan membawa si manusia yang lemah itu ke hadapan penghakiman-Nya dan menuntut keadilan daripadanya.

Nah ayat Ayub 38:18 itu berada dalam perikop di mana Tuhan memberikan pengajaran-Nya kepada Ayub, untuk menyadarkannya akan kelemahannya sebagai manusia. Manusia tidak mengerti luasnya bumi yang diciptakan Allah pada awal mula dunia, sebab manusia belum ada pada saat itu. Bahkan setelah manusia diciptakan sekalipun, manusia tidak dapat memahaminya. Tentu yang dimaksud bukan luas bumi/ diameter bumi secara ilmu pengetahuan, namun maksudnya adalah pengertian akan luasnya bumi secara keseluruhan.

Ayat ini senada dengan ayat-ayat lainnya pada perikop itu; seperti apakah engkau pernah mendatangkan fajar (ay. 12), turun ke dasar samudera (ay. 16), pernah mendatangkan hujan (ay. 26), menumbuhkan rumput (27), melepaskan kilat (ay. 35)?

Maka jika kita melihat ayat Ayub 38:18 sebagai bagian dari kesatuan seluruh perikop, kita mengetahui bahwa ayat itu merupakan sebagian dari penjelasan Tuhan kepada manusia akan keterbatasan pengertian manusia, dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan akan segala sesuatu. Ayat ini merupakan bagian dari jawaban Tuhan kepada Ayub, pernyataan tentang Diri-Nyakepada manusia tentang kemahakuasaan-Nya.

Semoga kitapun dapat belajar dari kitab Ayub ini, sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan, yang mengakui keterbatasan kita di dalam segala hal dan mengakui kemahakuasa-an Tuhan yang mengatasi segala sesuatu. Semoga kita juga dapat menerima segala penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup ini dengan iman dan pengharapan, bahwa jika kita menjalani hidup ini dengan setia, maka suatu saat nanti keadilan dan kasih Tuhan akan dinyatakan bagi kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang Paganisme dan Sinkretisme

18

Pertanyaan:

Shalom !
Apa yang dimaksud dengan PAGANISME dan SINKRISTISME dalam konteks keagamaan ?
Terima kasih, Agustinus

Jawaban:

Shalom Agustinus,

1. Paganisme
Menurut New Advent Encyclopedia, Paganisme dalam arti luas termasuk semua agama yang di luar agama yang berasal dari wahyu Allah, dan dalam arti sempit adalah semua [agama] kecuali agama Kristiani, Yahudi dan Islam. Dan istilah paganisme ini juga sama dengan politheisme (kepercayaan tentang adanya banyak tuhan).

Asal kata paganisme adalah kata Latin, pagus, atau juga pagani, yang dapat diartikan mereka yang hidup di pedalaman/ pedesaan, yang tetap tidak percaya kepada Tuhan sebagaimana yang diwahyukan-Nya tersebut, setelah penduduk kota-kota telah menjadi Kristen. Bentuk- bentuk Paganisme misalnya Hindu, Budha, Mithraisme. Selanjutnya tentang paganisme, silakan klik di link ini.

2. Sinkretisme

Berasal dari kata ‘sygkretizein‘. Penjelasan yang diberikan oleh Plutarch dalam “Opera Moralia”, ed. Reiske, VII, 910 untuk menjelaskan makna sinkretisme ini adalah dengan memberi contoh bagaimana penduduk Kretan yang sering terlibat pertengkaran di antara mereka sendiri, tetapi begitu ada musuh dari luar datang, maka mereka segera berdamai.

Pada abad ke 15 istilah sinkretisme ini dikenal melalui tulisan Erasmus, “Adagia”. Istilah ini dipergunakan untuk menandai adanya persamaan antara pihak-pihak yang ingkar, di samping segala perbedaan mereka, terutama, ketika itu menyangkut perbedaan pemahaman dalam hal Theologi.

Kemudian ketika istilah ini mengacu kepada kata ‘sygkerannynai‘, secara tidak akurat kata ini digunakan untuk menandai campuran dari hal-hal/ ide-ide yang tidak sama atau bahkan bertentangan. Penggunaan istilah yang tidak tepat ini masih berlanjut sampai sekarang.

1) Sinkretisme kadang digunakan untuk menandai adanya peleburan/ campuran agama- agama pagan. Contohnya adalah peleburan agama dunia Timur dan Yunani pada saat dunia Timur di hellenisasi oleh Kaisar Alexander Agung di abad ke 4 sebelum masehi. Maka dewa-dewi Yunani di-identifikasikan dengan dewa-dewi Timur. Setelah kerajaan Romawi mengalahkan Yunani, maka kerajaan Romawi juga mengambil budaya Yunani, dan menerima agama-agama bangsa-bangsa yang dikuasainya. Sinkretisme ini mencapai puncaknya di abad ke-3. Maka pada masa ini terdapat banyak sekali cult, yang dianggap sebagai berbagai bentuk yang tidak essential, namun sama saja. Maka pendapat inilah yang membuka jalan bagi kecenderungan ke arah Monotheisme.

2) Terdapat kecenderungan para peneliti modern yang menganggap bahwa agama yang berdasarkan Alkitab merupakan hasil dari sinkretisme. Maka agama Yahudi dikatakan mengambil sumber dari mitos Kanaan, Mesir, Babilonia kuno, dan Persia, yang kemudian berkembang menjadi Monotheism. Pendapat ini menganggap asal agama Kristiani merupakan kelanjutan dari ide-ide Yahudi  dengan pengaruh agama- agama lainnya dan dari filosofi Stoik, Philonik dan neo- Platonik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat persamaan antara agama Yahudi dan  Kristiani dengan agama- agama lainnya dalam hal bentuk eksternal dan ide-idenya, sebab memang terdapat ide-ide religius yang sama dalam kehidupan semua umat manusia. Namun persamaan ini terletak hanya pada bentuknya saja, dan bukan isi/ ‘content‘ yang menyangkut kepada makna/ hakekatnya.

Dengan demikian, Theologi Katolik tetap berpegang teguh kepada wahyu Allah dan kepada pondasi Kristianitas, yang dibangun oleh Yesus Kristus. (Jadi bukan karena sinkretisme)

3) The Syncretistic Strife

The Syncretistic Strife (1640-1686) adalah nama yang diberikan pada gerakan pergolakan yang dipimpin oleh Georg Calixt yang intinya merumuskan beberapa butir-butir pengajaran theologi dari pihak Lutheran yang ditawarkan kepada Gereja Katolik dan gereja-geraja reformasi. Maka dalam hal ini Calixt berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan ajaran yang ada dengan mengusulkan hal fundamental minimum yang dapat disetujui bersama.

Usulan Calixt ini tidak dengan mudah diterima oleh gereja-gereja reformasi, walaupun sedikitnya dapat mengurangi ketegangan yang terjadi di antara mereka dan memajukan saling pengertian/ kesabaran. Gerakan ini membawa kebaikan bagi Gereja Katolik, karena melalui gerakan ini Gereja Katolik menjadi lebih dimengerti dan dihargai oleh gereja-gereja Protestan.

4) Sekarang ini sinkretisme sering dikaitkan dengan percampuran nilai-nilai religius, yang menghasilkan suatu ‘paham/ agama’ baru yang ‘asing’/ bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani.

Paus Benediktus XVI menyebutkan perihal sinkretisme ini di dalam surat ensiklik-nya yang terbaru, Caritatis in Veritate, 55 (Kasih di dalam Kebenaran), demikian:

“Kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama yang lain mengajarkan persaudaraan dan damai dan oleh karena itu menjadi sangat penting bagi perkembangan manusia seutuhnya. Namun demikian, beberapa sikap religius dan kultural tidak sepenuhnya merangkul prinsip kasih dan kebenaran, dan oleh karena itu mengakibatkan pemuduran atau penghambatan terhadap perkembangan manusia yang otentik. Terdapat budaya-budaya religius tertentu di dunia sekarang ini yang tidak mengharuskan para pria dan wanita untuk hidup di dalam persekutuan tetapi malah dipisahkan satu dengan yang lainnya demi memenuhi kesejahteraan individual, terbatas kepada pemuasan keinginan-keinginan psikologis. Selanjutnya, sebuah perkembangan tertentu dari “jalan-jalan” religius yang berbeda- beda, menarik kelompok- kelompok kecil atau bahkan orang-orang secara pribadi, bersama- sama dengan sinkretisme religius, dapat menghasilkan perpisahan dan pemutusan hubungan. Salah satu efek negatif dari proses globalisasi adalah kecenderungan untuk menyukai bentuk sinkretisme ini dengan mendorong bentuk-bentuk “agama” yang bukannya membawa orang-orang untuk bersama, tapi malah mengasingkan mereka satu dengan yang lainnya dan memisahkan mereka dari realitas….”

Demikian sekilas tentang Paganisme dan Sinkretisme.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang Perkawinan tak terceraikan Mrk 10:1-12

85

Pertanyaan:

Syalom, Katolisitas
Sebelumnya banyak terima kasih dan saya ingin menanyakan lagi, apa maksud ayat-ayat di Markus 10 : 1-12
Salam kasih
Adnilem.Sg

Jawaban:

Shalom Adnilem,

Perikop Markus 10:1-12 sebenarnya ingin menjelaskan ajaran Yesus tentang Perkawinan yang tidak terceraikan (walaupun di judul perikop dalam Alkitab LAI, ditulis: “Perceraian”). Berikut ini saya sarikan apa yang tertulis dalam Navarre Bible, dan A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, OSB:

Secara umum ayat Mrk 10:1-12:

Perikop ini sebenarnya menggambarkan bagaimana para orang Farisi ingin menjebak Yesus dengan pertanyaan- pertanyaan supaya Yesus didapatkan oleh mereka menentang hukum Taurat Musa. Namun Yesus yang adalah Putera Allah, mempunyai pengertian yang sempurna tentang hukum Taurat Musa, dan bagaimana sampai Musa mengeluarkan ketentuan yang memperbolehkan perceraian. Musa memperbolehkan perceraian, karena kekerasan hati bangsa Israel yang pada masa dahulu memang menganggap wanita sebagai warga kelas rendah, bahkan seperti budak, hampir seperti binatang. Maka Musa melindungi hak martabat wanita dari perlakuan semacam ini, sebab seandainya wanita tersebut dimadu, tentu kondisinya lebih buruk lagi. Maka ketika Musa  memperbolehkan membuat surat cerai, ini sudah merupakan ‘kemajuan’ kondisi sosial yang memperhatikan martabat pihak wanita. Sebab pada saat suaminya ‘mengusir’nya, ia dapat memperoleh kebebasan.

Namun Yesus mengembalikan ajaran ini kepada hakekat perkawinan seperti yang ditentukan Allah dari semula, pada awal penciptaan dunia. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24). Allah telah menentukan sejak semula, bahwa kesatuan perkawinan tidak terceraikan. Pengajaran Magisterium Gereja Katolik menjaga dan mempertahankan ajaran ini dalam banyak dokumen (Konsili Florence, Pro Armeniis; Konsili Trente, De Sacram. matr; Pius XI, Casti connubii; Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, dll)

10: 2

Dalam hukum Musa, Ul 24:1-4, Musa memang memperbolehkan perceraian, “Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai …. sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya…” Dengan demikian ikatan perkawinan dikatakan putus, dan kedua pihak dapat menikah lagi. Meskipun orang-orang Yahudi setuju bahwa perceraian diizinkan, mereka tidak sepakat akan interpretasi perkataan ‘didapatinya tidak senonoh’, yang dapat menjadi alasan bagi suaminya untuk menceraikannya. Kelompok Shammai menyebutkan perzinahan sebagai satu-satunya alasan, sedangkan kelompok Hillel memperbolehkan alasan- alasan yang lain. Orang-orang Farisi mengetahui hal ini dan ingin menjebak Yesus, supaya Yesus membuat kontradiksi dengan ajaran hukum Taurat Musa ini.

10: 3-5

Yesus mengetahui maksud jahat orang-orang Farisi ini. Ia juga mengetahui bahwa Musa memperbolehkan perceraian justru untuk melindungi hak dan martabat kaum wanita. Peraturan Musa ini bukan untuk mendorong/ memberi hak istimewa kepada orang Yahudi untuk menceraikan istrinya. Perceraian pada jaman nabi Musa diizinkan demi mentolerir suatu kesalahan karena kekerasan hati mereka. Maka perceraian tidak pernah sesuai dengan rencana awal Allah Bapa saat menciptakan laki-laki dan perempuan.

10: 6-9

Rencana Tuhan untuk perkawinan manusia dinyatakan dalam kitab Kej 1:27 dan 2:24. Ikatan laki-laki dan perempuan itu nyata dan tetap seperti ikatan yang mempersatukan anggota keluarga. Di tengah dunia yang berpikir bahwa mengikatkan diri pada satu orang sepanjang hidup sebagai sesuatu yang sulit atau bahkan tidak mungkin; kita harus berani mengabarkan Kabar Gembira, bahwa hal itu mungkin dan dapat terjadi, sebab memang demikianlah yang menjadi rencana Tuhan terhadap perkawinan yang mempunyai dasar dan kekuatan di dalam Kristus (lih. Ef 5:25).

Perkawinan berakar dari kasih penyerahan diri secara total antara suami dan istri dan diarahkan untuk kebaikan anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan kepada mereka, dan oleh karena itu Allah menghendaki agar perkawinan tidak terceraikan. Tuhan berkehendak agar perkawinan menjadi buah, tanda, dan persyaratan dari kasih setia yang absolut Tuhan berikan kepada manusia, dan yang Yesus berikan kepada Gereja-Nya.

Kristus memperbaharui dan mengembalikan makna perkawinan seperti yang direncanakan Allah dari semula. Perkawinan yang diangkat oleh Yesus menjadi sakramen, memberikan kepada pasangan suami istri sebuah hati yang baru yang dapat mengatasi ‘kekerasan hati’ (Mat 19:8). Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah (2 Kor 1:20) dan pasangan suami istri diajak untuk mengambil bagian di dalam realisasi dari kesetiaan kasih Allah kepada manusia dengan juga mengatakan “ya” pada janji perkawinan. Maka dengan ikatan perkawinan yang tak terceraikan ini, pasangan Kristiani mengambil bagian dalam ikatan kasih yang tak terceraikan antara Kristus dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja-Nya, yang dikasihi-Nya sampai akhir (lih. Yoh 13:1)

Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Untuk memberi kesaksian tentang nilai yang tak terhingga dari perkawinan yang tak terceraikan dan kesetiaan perkawinan adalah salah satu dari tugas-tugas yang paling berharga dan paling genting bagi para pasangan Kristiani di masa sekarang ini.” (Familiaris Consortio, 20)

10:10-12

Di sini Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya yang mungkin terkejut akan pengajaran yang bertentangan dengan ajaran yang pada saat itu diterima oleh semua orang Yahudi. Yesus mengajarkan bahwa tidak satupun pihak (baik istri maupun suami) yang mempunyai hak untuk menikah lagi setelah berpisah.

Inilah yang sampai sekarang ini dipegang oleh Gereja Katolik, bahwa jika perkawinan yang dilakukan itu sah (tidak ada cacat konsensus, tidak ada halangan pernikahan dan perkawinan sesuai dilakukan dengan ketentuan kanonik), maka  jika suatu saat kedua pihak memutuskan untuk berpisah, kedua pihak tidak dapat menikah lagi. Namun ada kalanya, setelah dilakukan pemeriksaan dari pihak tribunal Gereja (yang didahului permohonan dari pihak pasangan/ salah satu pasangan), dapat ditemukan adanya: 1) cacat konsensus 2) halangan/ ketidakmampuan seseorang untuk menikah, ataupun 3) perkawinan yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan kanonik, sehingga perkawinan dapat dianggap tidak sah. Inilah yang disebut sebagai Anulasi (annulment) dalam Gereja Katolik. Maka anulasi tidak sama dengan perceraian, tetapi pernyataan dari pihak tribunal keuskupan bahwa perkawinan tersebut tidak sah dari awalnya, yang disebabkan oleh adanya ketiga hal tersebut yang terjadi sebelum dan pada saat dibuatnya kesepakatan nikah (jadi bukan berdasarkan kejadian-kejadian negatif yang baru terjadi sesudah kesepakatan perkawinan). Jika permohonan anulasi dikabulkan, artinya di mata Gereja perkawinan tersebut tidak sah, sehingga kedua pihak dapat menikah lagi, tentu harapannya kali ini dilakukan dengan sah, dan dengan demikian tidak terceraikan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang perikop Mrk 10:1-12. Semoga dapat dipahami, bahwa pada dasarnya kehendak Tuhan bagi perkawinan adalah  satu suami satu istri, yang setia satu sama lain dan tidak terceraikan seumur hidup. Sebab Allah menghendaki agar perkawinan menjadi tanda lambang kasih-Nya kepada  manusia, dan melalui perkawinan manusia mengambil bagian dalam kesetiaan kasih-Nya kepada manusia, yang juga tetap selamanya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Krisis cinta terhadap istri dan perselingkuhan

61

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan Forum Tanya Jawab disini..
Mohon Pencerahan mengenai masalah yang saya alami.
Saya seorang Pria yang sudah berkeluarga,namun beberapa kali saya mengalami Krisis Cinta terhadap istri saya dengan kekurangan-kekurangan yang ada padanya,sehingga sering kali saya menjalin hubungan dengan orang lain yang saya rasa bisa mengerti saya ( Egois memang ) saya menyadari kekeliruan saya, dan Jujur bercerita pada istri mengenai perselingkuhan2 saya dengan wanita lain dengan harapan istri dapat memaafkan perbuatan saya. Saya juga berusaha untuk tidak mengulangnya kembali,karena saya ingin kami dapat menemukan kasih sayang yang yang selama ini saya rasa mulai pudar.
Namun pada perjalanan tobat saya, istri saya cenderung sering mengungkit kesalahan saya bila ada sesuatu hal yang tidak benar dalam perbuatan saya, yang padahal menurut saya itu baik ( mungkin karena sudah hilang kepercayaan terhadap saya ;perselingkuhan saya memang termasuk dosa yang berat karena terjadi hubungan badan ) karena merasa kecewa dengan sikap istri saya mengulanng lagi perslingkuhan lainnya ( kali ini tidak sampai berhubungan badan ) dan inipun saya juga bercerita pada istri saya.
Saya sadar ini melukai kembali perasaannya.
Pertanyaan saya :
1. Bagaimana cara menghidupkan kembali rasa Cinta saya terhadap istri?
2. Apa yang harus saya lakukan setelah pada akhirnya toh istri saya sudah terlanjur tidak percaya terhadap saya?
3. Apakah saya harus mengaku dosa dengan Romo/Pastur?
4. Bagaimana Tips menghindari perselingkuhan ?
5. Apakah saya masih boleh menerima Hosti di gereja?
6. Apakah saya harus meminta maaf dengan dengan wanita2 yang pernah menjalin hubungan dengan saya, ( mereka tau saya sudah berkeluarga,dan tidak menuntut saya karena tulus mecintai saya )
Terima kasih, mohon Pencerahan

Martin

Jawaban:

Shalom Martin,

Terima kasih atas keterbukaan dari Martin untuk menceritakan permasalahan keluarga. Pertama saya turut prihatin akan apa yang dialami oleh keluarga Martin. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat saya sampaikan:

1) Pada saat kita memutuskan untuk menerima Sakramen Pernikahan, maka kita telah berjanji di hadapan Tuhan untuk setia terhadap pasangan hidup kita, baik dalam untung maupun malang, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Dan ini juga termasuk menerima semua kekurangan-kekurangan pasangan kita. Di dalam Sakramen Pernikahan, kita telah menerima rahmat Allah, yang memungkinkan kita dapat mengarungi kehidupan perkawinan dengan baik. Oleh karena itu, dalam perkawinan Katolik, kita harus menyadari bahwa kekuatan dari perkawinan bukan hanya dari pasangan suami istri, namun terutama adalah Tuhan. Untuk itu, pasangan suami istri harus senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan tindakan setiap hari. Pada saat Tuhan tidak dilibatkan dalam perkawinan, maka cepat atau lambat, perkawinan akan menghadapi permasalahan.

Dengan dasar ini, maka hubungan yang erat dengan Tuhan adalah menjadi kunci dari setiap perkawinan Katolik. Setiap pasangan dituntut untuk mempunyai kebiasaan untuk berdoa bersama, pergi ke Gereja bersama. Dengan mempunyai hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan, maka dengan sendirinya dosa-dosa akan tersingkirkan, termasuk dosa-dosa ketidaksetiaan, seperti: perselingkungan, perzinahan, dll. Untuk dapat mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, kita harus bertumbuh secara spiritual, dengan doa, Sakramen Ekaristi dan Tobat, Firman Tuhan, dll. Silakan untuk membaca artikel tentang pertumbuhan (silakan klik).

2) Kalau di atas, hubungan pribadi/pasangan dengan Tuhan sangat penting, maka hal yang lain adalah hubungan dengan pasangan atau suami-istri memegang peranan yang sangat penting. Kristus mengatakan “37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mt 22:37-39). Oleh karena itu selain mengasihi Tuhan, kita juga harus mengasihi sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Pada saat kita menerima Sakramen Perkawinan, maka kita menyatakan kasih kita kepada pasangan kita, karena pasangan kita adalah seseorang yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk menjadi teman hidup kita sampai maut memisahkan kita. Kasih kita kepada pasangan kita harus berdasarkan kasih kita kepada Tuhan, sehingga pada saat pasangan hidup kita mengecewakan, kita tetap dapat bertahan. Di sinilah kita dapat belajar untuk mengasihi secara murni, yaitu dengan memberikan diri kita (self-giving love), seperti yang dicontohkan oleh Kristus sendiri. Rasul Paulus menegaskan “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef 5:25). Kalau kita sebagai suami menuntut kepatuhan istri, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (Ef 5:23), periksalah diri kita sendiri apakah kita telah menerapkan ayat 25, yaitu mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya. Bagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya? Dengan memberikan nyawa-Nya.

3) Karena manusia, terdiri dari tubuh dan jiwa, maka diperlukan suatu komunikasi yang baik. Kita tidak dapat beranggapan bahwa pasangan kita mengerti apa yang kita pikirkan. Yang harus kita lakukan adalah mengkomunikasikannya dengan pasangan kita dengan perkataan maupun dalam tulisan. Komunikasi yang tidak baik akan menimbulkan begitu banyak permasalah yang tidak perlu di dalam rumah tangga. Untuk itu, binalah komunikasi dengan baik, sehingga kesalahpahaman dapat dihindari. Saya ingin mengusulkan kepada Martin untuk mengikuti retret ME (Marriage Encounter) bersama dengan istri. Silakan menghubungi mereka lewat website ini (silakan klik).

Itulah beberapa prinsip sederhana yang mungkin dapat diterapkan oleh Martin dan istri. Berikut ini adalah jawaban saya atas beberapa pertanyaan dari Martin:

1) Bagaimana cara menghidupkan kembali rasa Cinta saya terhadap istri? Pertama, kita mengingat bahwa kita mengasihi istri kita atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Kalau Tuhan telah menyatukan Martin dan istri dalam Sakramen Perkawinan, maka rahmat Tuhan adalah cukup, sehingga Martin dan istri dapat saling mengasihi dan mendapatkan perkawinan yang sejati. Untuk itu, cobalah memperbaiki hubungan Martin dengan Tuhan. Di dalam doa, mintalah Tuhan untuk menambahkan kasih anda kepada istri. Berdoalah rosario, mohon agar Bunda Maria untuk mendoakan anda, sehingga anda dapat mengasihi kembali istri anda. Bunda Maria akan menjadi perantara yang begitu hebat, dan dia akan mengatakan kepada Yesus “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3). Berdoalah agar Yesus mengubah cinta yang tawar menjadi manis seperti anggur (lih. Yoh 2:7-9). Namun, agar semua ini dapat terjadi, syaratnya ada di ayat 5, yaitu “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!“. Turutilah permintaan Yesus untuk hidup kudus, maka cinta yang tawar akan menjadi manis seperti anggur.

2) Apa yang harus saya lakukan setelah pada akhirnya toh istri saya sudah terlanjur tidak percaya terhadap saya? Janganlah menyalahkan istri kalau istri anda tidak percaya lagi kepada anda. Coba bayangkan kalau misalkan kejadiannya dibalik. Istri anda yang selingkuh – bukan hanya sekali namun beberapa kali -, apakah anda dapat melupakan semua ketidaksetiaan ini dengan mudah? Yang dapat anda lakukan adalah mohon pengampunan dari istri dengan benar-benar dan berjanji untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Berdoalah kepada Tuhan, agar Tuhan melembutkan hati istri anda. Untuk itu, doa bersama-sama akan membantu proses kesembuhan ini. Ikutilah retret bersama dengan istri, misalkan retret di Cikanyere (Telp: 0263-582062, Fax: 0263-582063).

Nyatakanlah kasih kepada istri secara jelas, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Mudah-mudahan dengan bantuan Tuhan dan usaha untuk mengasihi istri anda dengan sungguh-sungguh, maka istri anda dapat mempercayai anda kembali.

3) Apakah saya harus mengaku dosa dengan Romo/Pastur? Anda harus menyadari bahwa apa yang anda lakukan adalah tergolong dosa berat. Dan dosa berat ini, kalau tidak diampuni dapat membahayakan keselamatan kekal dari Martin. Silakan membaca beberapa artikel tentang Sakramen Pengakuan Dosa: (bagian 1, 2, 3, 4). Pada bagian 3 diulas apa sebenarnya Sakramen Pengakuan Dosa dan pada bagian 4 diulas bagaimana untuk mengadakan pemeriksaan batin. Saran saya, lakukanlah pemeriksaan batin dengan baik, dan secepatnya pergi kepada pastor untuk mengaku dosa. Sebelum anda mengaku dosa, saya menyarankan agar anda tidak menyambut komuni kudus.

4) Bagaimana Tips menghindari perselingkuhan? Kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita akan terhindar dari dosa ini. Kalau kita setia dengan kehidupan doa dan sakramen, kita akan terhindar dari dosa-dosa berat. Kehidupan doa yang baik dan dosa berat adalah saling bertentangan dan tidak mungkin dapat berjalan berdampingan – salah satu dari keduanya akan berhenti. Oleh karena itu, kalau kehidupan doa baik, maka dosa berat akan berhenti. Kita mungkin dapat menipu istri (karena istri tidak melihat perbuatan selingkuh), namun kita tidak dapat menipu Tuhan, yang dengan jelas melihat seluruh perbuatan kita. Dan kita harus menyadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan dosa kita di hadapan Tuhan. Pada tahap awal, motivasi untuk menghindari api neraka, mungkin dapat membantu anda untuk menghindari perselingkuhan.

5) Apakah saya masih boleh menerima Hosti di gereja? Tidak dapat, sebelum anda mengakukan dosa kepada pastor. Dan Pengakuan Dosa mensyaratkan pertobatan, yang berarti menghentikan perbuatan dosa. Oleh karena itu, pemutusan hubungan dengan wanita-wanita tersebut adalah merupakan manifestasi dari pertobatan.

6) Apakah saya harus meminta maaf dengan dengan wanita2 yang pernah menjalin hubungan dengan saya, (mereka tau saya sudah berkeluarga,dan tidak menuntut saya karena tulus mecintai saya)? Saran saya, kalau Martin tidak menjalin hubungan lagi dengan wanita-wanita sebelumnya (misal: A, B, C), maka Martin tidak perlu menghubungi lagi dan justru menghindar jauh-jauh. Ini berlaku kalau Martin tidak mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Martin. Kalau ada anak yang terlahir dari perbuatan ini, maka Martin harus bertanggungjawab terhadap kehidupan anak tersebut. Namun, kalau pada saat ini Martin masih menjalin hubungan dengan seorang atau beberapa wanita (misal: D, E), maka Martin harus datang kepada wanita-wanita tersebut untuk meminta maaf dan mengakhiri hubungan dosa ini. Hal ini dilakukan setelah Martin mengaku dosa kepada pastor atau setelah retret, sehingga Martin mempunyai kekuatan untuk mengakhiri hubungan dengan mereka untuk selama-lamanya. Diskusikan dengan istri, dan katakan bahwa anda benar-benar serius untuk mengakhiri semua hubungan dengan wanita-wanita tersebut.

Kalau anda bertemu dengan wanita-wanita tersebut, mungkin mereka akan menangis, atau melakukan sesuatu yang membuat anda tidak tega untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Namun, ingatlah, keselamatan kekal dari anda dan juga wanita-wanita tersebut lebih utama dibandingkan dengan kenikmatan sesaat di dunia ini. Oleh karena itu, teguhkanlah hati dan benar-benar datang kepada mereka dengan niatan untuk memutuskan hubungan. Kalau anda mempunyai anak dari wanita-wanita ini, anda harus bertanggung jawab dengan tetap memberikan nafkah kepada mereka, namun tetap memutuskan hubungan dengan wanita-wanita tersebut. Kalau mereka benar-benar tulus mengasihi anda, mereka akan membiarkan anda pergi dari kehidupan mereka.

Semoga jawaban di atas dapat membantu Martin. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, sebenarnya anda telah menyadari bahwa anda telah melakukan dosa berat. Hal ini adalah kerja dari Roh Kudus. Namun, anda perlu bekerja sama dengan Roh Kudus, untuk benar-benar memperoleh pertobatan yang benar. Semoga, melalui kejadian ini, anda dapat benar-benar mengasihi istri anda dengan lebih lagi. Saya turut mendoakan. Anda dapat juga mengajukan ujud doa di katolisitas (silakan klik), sehingga romo Kris dan tim dapat turut mendoakan. Sudah saatnya kita semua berfokus pada tujuan akhir dari kehidupan kita, yaitu Kerajaan Sorga, dimana kebagiaan akan terus berlangsung untuk selama-lamanya. Untuk itu, mari kita berusaha untuk hidup kudus, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (termasuk istri) atas dasar kasih kita kepada Tuhan.

Sebagai tambahan: mulai malam hari ini sampai menerima Sakramen Pengakuan Dosa, bacalah Mazmur 51. (Mazmur ini dimadahkan oleh raja Daud, setelah dia melakukan perzinahan dengan Batsyeba. Raja Daud bertobat dan meminta belas kasih Allah untuk menghapuskan dosa-dosanya). Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

1-1-3: Misi Roh Kudus

4

Bacaan: Kis 2:1-36

Renungan:

Pada hari Pentakosta, Gereja lahir. Yesus menghibur para murid-Nya akan kematian-Nya yang akan datang dengan menjanjikan bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus (Yoh 16:7). Namun, baru pada saat kedatangan Sang Penghibur di hari Pentakosta, para murid-Nya memahami dengan jelas bahwa mereka tidak terpisahkan sama sekali dari Tuhan mereka. Melalui Roh Kudus, Kristus hadir dengan cara yang baru! Kristus bangkit, hidup dan berada di sisi kanan Allah Bapa. Bagaimana kita mengetahuinya? Karena Ia telah mengutus Roh Kudus, seperti yang telah dijanjikan-Nya!

Roh Kudus tidak membawa pendapat- pendapat baru; Ia tidak memulai pekerjaan yang sama sekali baru. Misi-Nya adalah untuk menjadi saksi bagi Allah Putera dan untuk melanjutkan misi Kristus dengan memampukan umat manusia untuk mengambil bagian di dalamnya. Apapun yang dilakukan oleh Roh Kudus mengacu kepada Kristus. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Ef 3:16-17)

Yesus Kristus Sang Nabi, Imam dan Raja mempersiapkan para murid-Nya untuk menerima Roh Kudus. Yesus Sang Nabi telah mengajarkan kepada mereka kebenaran yang memerdekakan (Yoh 8:32) dan yang telah menjadi saksi kebenaran melalui hidup-Nya dengan perkataan dan teladan perbuatan (Yoh 18:37). Setelah Kenaikan-Nya ke surga, Ia mengutus Roh Kebenaran (Yoh 14:16 dan 15:26) yang mendorong orang-orang untuk percaya kepada Yesus Kristus (Kis 16:14) dan yang bekerjasama dengan para murid menjadi saksi Kristus (Kis 5:32).

Roh Kudus adalah buah yang nyata dari kasih Tuhan kepada kita, tanda yang tidak mungkin salah bahwa kurban Kristus menyenangkan Allah Bapa dan diterima oleh-Nya. Karunia Roh Kudus memeteraikan Perjanjian Baru (2 Kor 3:6) yang untuknya Kristus menumpahkan darah-Nya (Mat 26:28). Yesus Sang Imam mengutus Roh Kekudusan yang menjadikan para murid-Nya sebagai bait/ kenisah di mana Tuhan disembah di dalam roh dan kebenaran (Yoh 2:24). Di dalam Roh Kudus umat Kristiani mengorbankan kurban rohani dari diri mereka sendiri di dalam persatuan dengan Yesus Kristus di dalam persembahan kurban kasih dan Diri-Nya sendiri kepada Allah Bapa (Rom 15:16).

Yesus Sang Raja mengutus Roh kerajaan kemerdekaan, damai dan persatuan. Kristus telah menjanjikan damai (Yoh 14:27) dan kemerdekaan (Yoh 8:36) dan telah mendoakan persatuan (Yoh 17:21). Ia menepati janji-Nya dan doa-Nya dipenuhi dengan mengutus Roh kedamaian (Ef 4:30), kemerdekaan (2 Kor 3:17) dan persatuan (1 Kor 12:13). Seperti Kristus datang untuk melayani daripada dilayani (Mrk 10:45). maka Roh Kudus mendorong para pengikut-Nya untuk meniru Kristus di dalam pelayanan dengan kerendahan hati. Setelah mengalami belas kasih Allah dan dibebaskan dari kemalangan dosa, umat Kristiani memenuhi perintah kasih seperti Kristus mengasihi, dengan menaruh belas kasihan yang besar terhadap mereka yang menderita. Pelayanan Kristiani adalah tanda yang tak mungkin salah dari kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan, dan mengambil bentuk sebagai usaha-usaha untuk meringankan penderitaan.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Yesus telah benar-benar bangkit dari mati dan naik ke surga?
  2. Bagaimana engkau akan merangkum misi dari Roh Kudus?
  3. Tentang siapa Roh Kudus selalu memberikan kesaksian?
  4. Apakah yang menjadi tanda yang tidak mungkin salah dari seseorang yang mempunyai kemerdekaan di dalam Roh Kudus?
  5. Apakah kemerdekaan/ kebebasan adalah kemampuan untuk “berbuat apapun yang aku mau?”

Tambahan dari Katolisitas:

  1. Ceritakanlah pengalaman anda mengalami kehidupan baru di dalam Roh Kudus
  2. Apa yang menjadi buah-buahnya dalam hidup anda, setelah anda membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus?
  3. Ceritakan bagaimana Roh Kudus dapat menyadarikan anda atas kesalahan anda

1-1-2: Misi Yesus Kristus

15

Bacaan: Efesus 1:3-14

Renungan:

Perikop yang indah dari Rasul Paulus ini merangkum karya Allah Trinitas yang membawa kita kembali untuk mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi-Nya. Jika kita berpusat kepada misi Allah Putera, terdapat banyak cara untuk menjabarkan maksud kedatangan Kristus ke dunia. Kitab Suci menggunakan banyak penggambaran. Ia telah datang untuk menyelamatkan atau membebaskan apa yang tadinya terikat perbudakan, untuk menemukan yang hilang, untuk memperdamaikan dengan Allah Bapa mereka yang telah terpisah dari-Nya oleh karena dosa, untuk membersihkan atau memurnikan kita dari dosa, untuk membawa terang kepada dunia yang penuh kegelapan, untuk memberikan hidup dan mengalahkan maut.

Apa yang sama dari semua penggambaran ini adalah bahwa Yesus datang untuk membawa sebuah perubahan yang nyata dalam diri kita. Karena tindakan-tindakan-Nya yang menyelamatkan dan oleh rahmat-Nya, kita beralih dari keadaan tersesat menjadi ditemukan, dari terasing menjadi berada di dalam persekutuan, dari kematian ke dalam kehidupan, dari kegelapan menuju terang, dari ketidakmurnian menjadi dimurnikan. Satu kata merangkum semua ekspresi dan penggambaran ini: kekudusan. Kristus datang untuk menjadikan kita kudus. Ia datang untuk memungkinkan kita mengambil bagian di dalam kehidupan Tuhan sendiri, yang di dalam Alkitab dikatakan kudus. Ia datang untuk mengantar kita ke dalam sebuah hubungan timbal balik saling membagi, sebuah persekutuan hidup dengan Tuhan.

Yesus menyelesaikan penyelamatan kita dengan bertindak sebagai seorang Nabi, Imam Agung dan Raja. Ketiga hal ini disebut sebagai ketiga jabatan Kristus. Misi-Nya untuk membawa kita ke dalam persekutuan dengan Tuhan dipenuhi melalui yang dikerjakan-Nya sebagai Nabi, Imam Agung dan Raja.

Sebagai Nabi, Yesus menyatakan kebenaran kepada kita. Sebagai gambaran Allah, kita diciptakan untuk kebenaran. Untuk menaati kebenaran adalah martabat kita. Kita selalu membutuhkan kebenaran sebab karena dosa kita telah diperbudak oleh tipuan Iblis dan dihalangi oleh ketidaktahuan/ kebodohan. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan bahwa kebenaran memerdekakan kita (Yoh 8:32), dan kematian-Nya adalah saksi kebenaran tersebut (Yoh 8:40; 18:37) tentang Tuhan yang adalah Kasih dan Kebenaran tentang kita. Kebenaran memampukan kita untuk mengambil bagian di dalam kurban Kristus dalam cara yang sungguh-sungguh manusiawi, disengaja, dan dengan penuh kesadaran. Jabatan/ tugas kenabian mengarah dan melayani tugas ke- imamat-an.

Sebagai Imam, Yesus mempersembahkan kurban yang sempurna dalam hal ketaatan dengan penuh kasih dan ketaatan seorang anak (Ibr 10:1-10). Kurban ini menyenangkan Allah Bapa dan mencapai pendamaian dunia dengan Allah Bapa. Oleh rahmat, yang dimenangkan oleh Kristus di kayu salib, kita dibebaskan dari keterasingan dari Tuhan dan diberikan bagian di dalam kehidupan Allah sendiri dan dijadikan kudus.

Sebagai Raja, Yesus mendirikan Kerajaan Allah di dunia. Mukjizat-mukjizat-Nya membuktikan kuasa-Nya untuk membebaskan kita dari semua penderitaan, pengusiran kuasa jahat yang dilakukan oleh Yesus membuktikan dominasi-Nya atas kerajaan setan, dan pengendalian diri-Nya menyatakan penguasaan diri yang dicari semua orang. Sebagai orang yang secara sempurna bebas dari dosa, Yesus dapat melayani. Kebebasan ini mengalir dari kebebasan-Nya yang sempurna untuk melakukan kehendak Bapa. Jabatan/ tugas raja mengalir dari tugas ke- imamat-an sebagai buahnya.

Ketika Ia membagikan hidup-Nya kepada kita, ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi nabi, imam dan raja.  Oleh rahmat, Yesus memampukan kita untuk melakukan seperti yang dilakukan-Nya. Ia juga memberikan kepada kita contoh yang sempurna untuk ditiru.

Latihan untuk permenungan dan diskusi

  1. Apa saja ketiga jabatan/ tugas Kristus?
  2. Apakah artinya ‘menjadi kudus’?
  3. Dari apakah kita terbebas melalui ketiga jabatan/ tugas Kristus?
  4. Apakah hubungan antara kebebasan dan pelayanan?
  5. Apakah perbuatan yang telah engkau lakukan atau yang dapat engkau lakukan untuk meniru Kristus Sang Nabi, Imam, dan Raja?

Tambahan dari Katolisitas:

  1. Ceritakan pengalaman anda mencari kebenaran/ menyebarkan kebenaran ajaran Tuhan dan Gereja Katolik kepada teman/ saudara/ anggota keluarga anda/ orang lain.
  2. Ceritakan pengalaman anda mendoakan orang lain dan buah-buahnya.
  3. Ceritakan pengalaman anda membantu orang yang kesusahan/ melayani orang yang membutuhkan pertolongan

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab