Home Blog Page 280

Partisipasi kita untuk melanjutkan misi Kristus

12

Kasih Allah mengatasi semua

Siapakah orang yang paling mengasihi anda di dalam hidup anda? Mungkin ada yang mengatakan orang tua, atau pacar, atau bagi yang sudah menikah mungkin mengatakan suami atau istri. Ya, kita boleh membayangkan mereka jika kita berpikir tentang kasih. Tetapi sesungguhnya di atas mereka itu, yang paling mengasihi kita adalah Tuhan. Sebab kasih Tuhan jauh melampaui kasih yang dapat kita dapatkan dari siapapun di dunia. Kasih yang kita dapatkan dari orang-orang yang mengasihi kita adalah hanya sedikit bayang-bayang kasih Tuhan.

Apa tanda atau bukti dari kasih? Biasanya orang yang mengasihi, mau ‘berbagi’ dengan orang yang dikasihi, memberi yang terbaik kepadanya, dan rela berkorban baginya. Mother Teresa pernah berkata, “Love… and love until it hurts.”  Dalam hal inilah kita melihat kesempurnaan kasih Allah. Allah menciptakan kita menurut gambaran-Nya (Kej 1:26) supaya Ia dapat ‘membagikan’ kehidupan ilahiNya dengan kita. Sayangnya, sudah disayang-sayang oleh Tuhan, namun ternyata manusia, ya, kita-kita ini, jatuh ke dalam dosa. Dosa inilah yang menghalangi kita untuk menerima kehidupan ilahi dari Allah, karena Tuhan yang Maha Kudus tidak bisa bersatu dengan dosa. Alkitab mengatakan Allah itu Kudus (Im 19:2) dan tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14), apalagi bersatu dengan Allah dalam kehidupan ilahi. Namun kasih Allah mengatasi segalanya, termasuk dosa-dosa kita. Diutus-Nya-lah Yesus Kristus Putera-Nya bagi kita, untuk datang ke dunia menyelamatkan kita dari segala dosa yang memisahkan kita dari Allah. Cara-Nyapun di luar batas pemahaman kita: Yesus memilih untuk mengambil rupa sebagai manusia, menjadi hamba yang miskin, taat sampai mati di kayu salib (lih. Flp 2: 6-8). Seolah Yesus mau mengatakan pada kita, “Kutinggalkan segala yang Kupunya, sebab Aku mau ‘berbagi’ hidup di dunia denganmu, supaya oleh semua ini engkau memahami kasih-Ku dan mau ‘berbagi’ kehidupan ilahi bersama-Ku.”

Misi Yesus: mengubah kita menjadi kudus, menjadi Gereja-Nya

Setiap kali kita memandang gambar Yesus yang tersalib, sesungguhnya kita mempunyai kesempatan untuk merenungkan misteri kasih Allah ini. Tuhan Yesus telah melakukan apa saja untuk kita, mengorbankan segala-galanya bagi kita, seperti orang yang benar-benar jatuh cinta. Dan memang benar, Ia sungguh-sungguh mengasihi setiap dari kita, yang dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan, supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef 1:4). Ya, supaya, meskipun kita telah berdosa, kita dapat datang kembali kepada Allah, untuk dikuduskan oleh-Nya sehingga dapat menikmati persatuan dengan-Nya di dalam Kristus yang menjadi Kepala dari segala sesuatu (Ef 1:10). Inilah sebenarnya kebahagiaan kita dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya: yaitu bersatu dengan Allah di dalam Kristus. Nah, persatuan kita dengan Allah dan dengan sesama yang juga hidup di dalam Kristus ini-lah yang dinamakan Gereja. Maka sesungguhnya, tujuan penciptaan Allah adalah Gereja, yaitu di mana semua orang beriman yang sudah dikuduskan dipersatukan dengan Allah di dalam Kristus.

Maka jangan sampai kita berpikir bahwa Gereja hanya organisasi, hirarki, atau orang-orang yang bertemu seminggu sekali memuji Tuhan, atau yang lebih parah lagi, hanya ‘bangunan’ saja. Gereja itu adalah tujuan, mengapa Allah menciptakan dunia ini.  “Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja.” ((Katekismus Gereja Katolik 760)).

Cara Yesus menguduskan kita: dengan peran-Nya sebagai Nabi, Imam dan Raja

Yesus adalah Tuhan Penyelamat kita, yang melaksanakan rencana keselamatan Allah melalui tiga cara, yaitu sebagai Nabi, Imam dan Raja.

1) Yesus menjalankan peran sebagai Nabi dengan mengajarkan kebenaran kepada kita. Tak mengherankan, sebab Yesus adalah Sang Kebenaran itu sendiri (Yoh 14:6), maka yang diajarkan pada kita adalah Kebenaran Allah. Nah, karena kita diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah, maka kita diciptakan untuk selalu merindukan dan mencari Kebenaran Allah itu. Dan kebenaran ini terutama ditunjukkan oleh Kristus dengan menyerahkan diri-Nya di kayu salib. Dengan demikian, Yesus menjadi bukti yang nyata atas kebenaran kasih Tuhan yang tiada batasnya (Yoh 8:40; 18:37), dan kebenaran tentang diri  manusia, bahwa arti hidup manusia tergantung dari sejauh mana ia mau memberikan dirinya kepada Tuhan dan orang lain.

2) Seluruh hidup Yesus yang menunjukkan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa, adalah bentuk persembahan yang sempurna kepada Allah. Persembahan sempurna ini mencapai puncaknya pada kematian-Nya di kayu salib. Sebagai Imam, Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai persembahan penebus dosa manusia, dengan kasih dan ketaatanNya kepada Allah Bapa (Ibr 10:1-10). Dan oleh persembahan Yesus yang sempurna ini, dosa-dosa kita diampuni,  kita dapat memperoleh kembali kehidupan ilahi yang direncanakan Allah bagi kita sejak awal mula. Singkatnya, kita dikuduskan oleh korban Kristus ini (ay.10).

3) Sebagai Raja, Yesus mendirikan Kerajaan Allah dan mewartakan-Nya sepanjang hidup-Nya di dunia dengan mengalahkan kuasa jahat dan melayani sesama. Kuasa-Nya mengusir dan mengalahkan kuasa Iblis. Mukjizat-mukjizat-Nya menyembuhkan banyak orang sakit.  Teladan-Nya mengajarkan akan keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang lemah dan miskin.

Berbagi hidup dengan Yesus= mengambil bagian dalam peran-Nya sebagai nabi, imam dan raja

Ketika kita ‘berbagi’ kehidupan dengan Yesus, maka artinya, kita mengambil bagian di dalam ketiga peran Kristus ini. Yaitu, kita semua dipanggil menjadi nabi, imam dan raja. Caranya? Mari kita melihatnya satu persatu:

Pertama, sebagai Nabi kita harus mencintai Kebenaran dan menyebarkan Kebenaran. Kebenaran ini kita peroleh di dalam Kristus dan Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Kebenaran yang paling mendasar yang harus kita hayati dan kita sebarkan adalah bahwa Allah mengasihi kita dan kita dipanggil pula untuk mengasihi Allah dan sesama. Hanya dengan mengasihi-lah kita menemukan arti hidup dan kebahagiaan yang sejati. Maka, kesempurnaan kasih Allah adalah kebenaran yang utama, yang dapat kita lihat contohnya di dalam diri Kristus sendiri.

Kita diselamatkan karena kasih Allah yang menghendaki agar kita dapat memperoleh kebahagiaan sejati.  Allah telah memberitahukan kepada kita jalannya; yaitu bahwa kita harus mau menerima pesan Injil dengan iman dan mewartakannya dengan perkataan dan perbuatan, dan tanpa ragu menolak segala perbuatan jahat. ((Ibid., 14)) Allah mengajarkan kita untuk mengasihi; seperti Kristus mengasihi kita. Kita harus berani berkorban demi kasih kita kepada Tuhan dan kepada orang- orang yang kita kasihi. Sebab kalau kita hanya sekedar bicara “Aku sayang kamu”, tapi tidak mau melakukan apa-apa, itu hanya sejenis ‘rayuan gombal’. Maka sekarang, mari kita bertanya pada diri kita: Apa yang sudah kita lakukan untuk membagikan kasih dan kebenaran Kristus? Apa usaha kita untuk lebih mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya? Sudahkah kita menempatkan Tuhan dan kebenaran-Nya di atas kehendak dan pendapat kita sendiri? Apakah kita sudah mewartakan Injil dalam perkataan dan perbuatan?  Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar kita kepada peran berikutnya, yaitu sebagai imam.

Kedua, sebagaimana Yesus sebagai Imam mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa, maka kitapun harus mempersembahkan diri dan hidup kita kepada Allah. Peran imamat ini bukan berari kita semua harus ditahbiskan menjadi imam atau kedudukan kita menjadi sama persis dengan para imam yang ditahbiskan. Bukan! Kita mempunyai peran imamat bersama, karena kesatuan kita sebagai anggota Kristus yang adalah Sang Imam Agung. Rasul Petrus mengajarkan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia…” (1 Pet 2:9). Maka sebagai kaum awam, kita memiliki tugas imamat bersama yang kita terima melalui Pembaptisan. Tugas imamat ini dipenuhi saat kita mempersembahkan kepada Tuhan seluruh kurban rohani, yaitu kegiatan kita, doa, tugas kerasulan, kehidupan keluarga dan bahkan saat-saat santai ataupun saat memikul kesulitan kita. ((Lihat surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Christifidelis Laici, 14)) Penyerahan diri kita mencapai puncaknya, setiap kita mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, yaitu saat kita mempersatukan kurban diri kita dengan kurban Yesus. Rahmat yang kita dari Ekaristi inilah yang memberikan kepada kita kehidupan ilahi, sebab kita menyambut Kristus sendiri. Dengan menjalankan tugas imamat bersama ini,  menjalankan peran sebagai “kawan sekerja Allah”. (1 Kor 3:9) yaitu dengan membawa Yesus kepada sesama kita dan sesama kita kepada Yesus.

Suatu permenungan adalah: Sudahkah kita memperkenalkan Yesus kepada sesama? Sudahkah kita mempersembahkan diri kita, segala pikiran, perkataan, perbuatan sebagai persembahan kepada Allah? Apakah dalam doa pagi kita mempersembahkan segala yang akan kita lakukan kepada Allah? Apakah setiap kali kita mengikuti Misa Kudus, kita juga secara aktif mempersembahkan kurban kita: syukur, memohon ampun atas dosa kita ataupun mendoakan orang lain? Apakah kita dengan teratur mengaku dosa dalam Sakramen Tobat? Apakah kita rajin berdoa bagi para imam, uskup dan Paus? Apakah kita rajin berdoa bagi pertobatan mereka yang belum mengenal Allah ataupun yang menolak Allah?

Ketiga, buah dari peran imamat kita adalah peran kita sebagai raja. Kita menjalankan peran raja pada saat kita berjuang untuk mengalahkan kuasa dosa, (lih. Rom 6:12) dan pada saat kita memberikan diri kita untuk melayani sesama, terutama yang terkecil dan termiskin (lih Mat 25:40). ((Ibid. )) Pada Perjamuan Terakhir Yesus memberikan perintah untuk saling melayani (lih Yoh 13:1-17). Ia yang adalah Guru dan Tuhan, membasuh kaki para murid-Nya. ini adalah bukti dari ajaran-Nya sendiri, “Tetapi … yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” (Luk 22:26).

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita berjuang mengalahkan kebiasaan buruk dan kecenderungan kita berbuat dosa? Sudahkah kita melakukan perbuatan untuk melayani orang-orang yang di sekitar kita? Apakah kita memperhatikan orang-orang yang lemah dan miskin? (Miskin di sini, tidak hanya miskin jasmani tetapi dapat juga berarti miskin rohani). Jika belum, apakah yang dapat kulakukan untuk memulainya? Jika sudah, apakah kita melayani mereka dengan senang hati? Apakah kita teringat kepada Yesus pada saat kita melayani sesama?

Mengambil bagian dalam peran Yesus bersama dengan Roh Kudus

Sepintas mungkin ada yang berkomentar, “Kok banyak betul tugas kita?” Sebenarnya, tidak juga. Sebab jika kita mempunyai kasih di dalam hati kita, maka tidak ada yang terlalu berat untuk dilakukan. Kita hanya perlu memberi arti dan motivasi yang lebih baik kepada setiap kegiatan kita sehari- hari. Dan untuk inilah Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus-Nya, yang adalah Roh Kasih dan Kebenaran-Nya (Yoh 14:16-17; 15:26) kepada kita, supaya kita dapat memandang hidup ini dengan kaca mata yang lain. Berjalan bersama Roh Kudus membuat perbuatan yang berat menjadi ringan, dan kita mempunyai kekuatan baru untuk melaksanakannya.

Nah, maka kuncinya, adalah: sudahkah kita mengalami kasih Allah secara pribadi? Mungkin ada di antara kita yang langsung menjawab, sudah, tapi mungkin ada yang ragu-ragu, terutama jika sedang mengalami permasalahan dan kesusahan. Namun, Alitab mengajarkan bahwa segala permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, pada dasarnya adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Sebab, Allah dapat menggunakan masalah kita untuk menyampaikan kasih-Nya kepada kita. Rasul Paulus mengajarkan, “….Kita malah bermegah di dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita.” (Rom 5:3-5)

Jika kita telah mengalami kasih Tuhan secara pribadi, maka kita dapat melihat kepada diri kita sendiri dengan lebih jujur. Umumnya, tanda yang paling jelas adalah, kita mampu melihat kekurangan dan dosa-dosa kita. Inilah salah satu misi utama Roh Kudus pada setiap kita; yaitu untuk membawa kita kepada pertobatan. Dan pertobatan ini tidak hanya sekali, tetapi terus menerus. Jadi jika kita sudah dapat melihat kekurangan dan dosa kita, berbahagialah! Sebab itu artinya: Roh Kudus bekerja di dalam kita.

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa tugas Roh Kudus adalah menginsyafkan kita dari dosa, dan meyakinkan kita akan kebenaran dan penghakiman akan dosa (lih. Yoh 16:8). Kita hidup di dunia yang sepertinya sudah tidak ‘takut’ lagi akan Tuhan, apalagi di negara Amerika. Pergaulan bebas, pornografi, aborsi, kehidupan konsumtif dan seterusnya begitu meraja lela. Maka kita sebagai murid Kristus, dipanggil untuk tidak hidup menurut arus dunia, tetapi menurut ajaran kasih dan kebenaran Kristus. Dengan demikian, kita tidak memusatkan hati pada kesenangan dunia, tetapi kepada kehidupan kekal. Orang-orang dunia ini menyangka bahwa jika kita hidup menurut pimpinan Roh Kudus, maka kita sepertinya dibelenggu: tidak boleh ini, tidak boleh itu. Ini sungguh keliru! Yang benar adalah, bersama Roh Kudus kita dapat menilai dengan bijaksana, perbuatan- perbuatan yang berguna dan yang tidak, bagi keselamatan kita. Akibatnya, kita malah menjadi orang yang paling merdeka (2 Kor 3:17). Artinya, kita tidak terikat lagi oleh ‘kebiasaan/ standar’ yang ditentukan dunia. Kita tidak takut untuk “berani tampil beda” demi kasih kita kepada Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita.

Pengalaman akan kasih Allah dan pertobatan yang terus menerus ini adalah bekal bagi kita untuk melaksanakan peran sebagai nabi, imam dan raja dengan lebih baik. Dengan kembalinya kita ke jalan Tuhan, maka kita dapat selalu melihat kebenaran ajaran Allah di atas tawaran dunia ini; dan kita dapat membagikan kebenaran ini kepada orang lain. Dengan mengalami kasih dan pengampunan Tuhan, maka kita dapat mengasihi dan mengampuni orang lain. Dengan mengingat bahwa kitapun pernah mengalami kesusahan, maka kita dapat mempunyai belas kasihan kepada orang yang kesusahan. Pertolongan yang kita terima dari Tuhan melalui orang- orang lain, harus juga menjadikan kita mau dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang lain.

Selanjutnya, peran Roh Kudus adalah untuk memberi hidup ilahi kepada kita. Sebab dengan menerima Roh Kudus, maka artinya kita menerima Roh yang sama dengan Roh yang membangkitkan Yesus dari kematian-Nya (lih. Rom 8:11). Oleh Roh Kudus inilah kita dapat meninggalkan dosa dan hidup menurut perintah Tuhan. Dengan demikian kita tidak menjadi hamba dosa melainkan anak- anak angkat Allah, dan dapat memanggil-Nya sebagai Abba/ Bapa (Rom 8:15).

Melanjutkan peran Kristus sebagai anggota Gereja

Kisah Para Rasul dan surat-surat Rasul Paulus mengajarkan bahwa Kristus membagi-bagikan karunia- karunia Roh Kudus-Nya kepada para murid-Nya dengan tujuan untuk membangun umat/ Gereja-Nya. Maka karunia-karunia Roh kudus yang kita terima tidak boleh kita anggap sebagai milik sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada orang lain demi kebaikan orang lain juga. Sama seperti di dalam tubuh manusia, segala tingkah laku merupakan hasil kerjasama anggota-anggota tubuh dengan komando yang sama, maka demikianlah pula yang terjadi di dalam Tubuh Kristus. Yesus memimpin Gereja-Nya melalui para pemimpin Gereja, dalam koordinasi dengan Bapa Paus, pengganti Rasul Petrus sebagai pimpinan tertinggi. Maka sebagai anggota Gereja Katolik kita harus menaati semua pengajaran Gereja, dengan motivasi ketaatan kepada Kristus yang telah mendirikannya.

Inilah makna bertumbuh dalam karunia-karunia Roh Kudus dalam kesatuan dengan Gereja. Sebab kita semua ini adalah anggota dari Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Maka jika hubungan kita dengan Kristus sudah “diperbaharui”, maka bukti selanjutnya adalah bagaimana hubungan kita dengan Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik. Karena kalau kita tunduk kepada Sang Kepala, seharusnya kita juga mempunyai kerendahan hati untuk bergabung dengan anggota-anggota yang lain yang dalam kesatuan dengan Kristus Sang Kepala Tubuh itu. Kita tidak dapat mempertentangkan Roh Kudus yang kita terima, dengan Roh Kudus yang sudah 2000 tahun lebih dicurahkan bagi Gereja-Nya; karena Kedua-Nya adalah Roh Kudus yang sama.

Pembaharuan umat beriman menjadi inti pembaharuan Gereja

Ketiga misi Kristus ini (sebagai nabi, imam dan raja) merupakan hal yang paling esensial dalam Gereja. Maka pembaharuan Gereja tidak akan pernah mengubah ketiga hal ini. Gereja akan tetap mempunyai ajaran- ajaran (peran nabi), sakramen- sakramen (peran imam), dan hirarki yang melayani (peran raja). Maka yang diajarkan dalam pembaharuan umat adalah, bagaimana agar kita menjadi lebih tanggap dan lebih murah hati dalam bekerjasama dengan Roh Kudus untuk menjalankan ketiga peran ini. Pembaharuan Gereja bertujuan untuk memperdalam persekutuan umat beriman dengan Allah, di dalam kebenaran, kasih dan belas kasihan. Jadi inti yang terdalam dari pembaharuan bukan terletak pada kegiatan ataupun struktur organisasi, (walaupun semua itu juga penting), melainkan pada pembaharuan hati umat beriman.

Dengan demikian, pembaharuan Gereja pada intinya adalah penghayatan dan pembaharuan iman kita semua. Pembaharuan iman ini membawa kita untuk lebih menghayati makna ‘hidup bersama Kristus’ dan bertumbuh dalam kekudusan. Harapannya adalah, setiap dari kita dapat menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Kristus dapat hadir dan aktif bekerja di dalam kehidupan semua orang. Nah, karena penghayatan hanya dimungkinkan oleh adanya pengetahuan terlebih dahulu, maka program ini dibuat agar dapat memberikan pengetahuan dasar akan kasih Allah, karunia-karunia-Nya dan pembaharuan iman.

Kesimpulan

Setiap dari kita mempunyai kisah yang berbeda-beda tentang kasih Allah yang kita alami. Namun persamaannya adalah bahwa kita semua menerima kasih Allah yang tak terbatas yang dicurahkan melalui Tuhan Yesus yang telah menyerahkan Diri-Nya dan menumpahkan darah-Nya demi menyelamatkan kita. Ia melakukan semua ini, supaya kita dapat bersatu dengan-Nya di dalam satu kesatuan Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Sekarang pertanyaannya, setelah kita menerima kasih yang luar biasa itu, apakah tanggapan kita? Tuhan Yesus telah memberikan hidup-Nya supaya kita mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya. Persatuan kita dengan Kristus ini menjadikan kita turut serta mengemban misi Keselamatan-Nya, sebagai nabi, imam dan raja. Caranya, dengan menyebarkan kebenaran, mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, hidup kudus dan melayani sesama. Kristus telah membekali kita dengan Roh Kudus-Nya yang memampukan kita untuk melanjutkan misi ini.

Ya, Kristus menghendaki kita untuk ikut serta dalam karya Keselamatan-Nya. Karya Keselamatan ini dilanjutkan oleh Gereja, melalui ajaran-ajarannya, sakramen- sakramen dan karya- karya kerasulan. Maka jika kita ingin bertumbuh secara rohani, selayaknya kita bertumbuh di dalam penghayatan akan ajaran Gereja, sakramen-sakramennya dan ikut serta juga di dalam karya-karya kerasulannya. Dengan demikian, kita bertumbuh di dalam kesatuan dengan Gereja yang didirikan-Nya dan juga bersama-sama membangun Gereja-Nya. Dengan kesatuan dengan Gereja, kita mewartakan kebenaran Injil, agar semakin banyak orang dapat mengalami kasih-Nya dan percaya kepada-Nya.  Sekarang memang terpulang kepada kita, maukah kita melaksanakannya?

Tentang Bahasa Roh

64

Berikut ini adalah beberapa tanya jawab tentang bahasa roh:

Sepanjang pengetahuan saya, memang Gereja Katolik belum mengeluarkan dokumen resmi yang mengajarkan mengenai bahasa Roh ini, walaupun pengajaran tentang Roh Kudus bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, dan banyak terdapat dalam Kitab Suci. Salah satu pengajaran penting dari Magisterium tentang peran Roh Kudus terdapat dalam surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II yang berjudul, Dominum et Vivificantem (Roh Kudus di dalam kehidupan Gereja dan dunia). Dokumen tersebut membahas tentang peran utama Roh Kudus, yaitu untuk: 1) menginsyafkan dunia akan dosa, meyakinkan tentang kebenaran dan penghakiman (lih. Yoh 16:8) dan 2) memberikan kehidupan ilahi kepada kita dan menjadikan kita anak-anak angkat Allah (lih. Gal 4:6, Rom 5:5, 2 Kor 1:22; Rom 8:15). Mengenai yang terakhir ini kita alami pada waktu Baptisan dan selanjutnya di dalam sakramen-sakramen Gereja, sedangkan hal menginsyafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman ini, dapat kita alami sepanjang kehidupan kita di dunia.

Maka, pemberian karunia bahasa Roh, menurut ajaran Gereja Katolik, tidak terlepas dari misi Roh Kudus ini. Bahwa karunia berdoa dalam bahasa Roh yang otentik harus disertai juga dengan pertobatan, dan penghayatan akan kehidupan ilahi yang Tuhan berikan kepada kita melalui sakramen-sakramen.

1. Apakah tanda seseorang mendapatkan karunia berdoa dalam bahasa Roh?

Saya harus dengan jujur mengatakan bahwa karunia bahasa Roh ini lebih mudah dijelaskan kalau sudah pernah dialami. Sebab jika belum mengalami, maka akan sulit untuk menjabarkannya dengan kata-kata. Namun yang pasti ada beberapa prinsip yang berkaitan dengan karunia bahasa Roh ini.

a) Umumnya karunia ini diberikan pada saat/ setelah orang tersebut bertobat dan mempunyai komitmen yang baru untuk percaya dan berserah secara total kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya.

b) Karunia berdoa di dalam Roh ini merupakan pemenuhan janji Rom 8:26, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Oleh dorongan Roh Kudus, seseorang yang mendapat karunia bahasa Roh akan dapat berdoa dengan cara yang baru, yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Pada saat ia memusatkan hati memuji Allah dan membuka mulutnya, maka ia akan mengeluarkan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” yang melibatkan pergerakan lidahnya, sehingga bahasa Roh kadang juga disebut bahasa lidah. Inilah yang dikenal dengan berdoa dengan bahasa Roh, di mana Roh Kudus sendiri yang membantunya berdoa.

c) Buah dari bahasa Roh ini adalah sesuai dengan buah Roh Kudus yang dijanjikan, yaitu, kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22). Maka pengalaman pada saat orang mendapat karunia berdoa dalam bahasa Roh, pertama-tama adalah pengalaman akan kasih Tuhan, yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, dengan suka cita dan damai sejahtera yang melimpah.

d) Seseorang yang mendapat karunia berdoa dalam bahasa Roh ini dapat menggunakannya pada saat ia berdoa, namun ia mempunyai kuasa untuk menggunakannya atau tidak, ataupun mengendalikannya. Jadi bukan seperti orang ‘kesurupan’ di mana ucapan-ucapan menjadi tidak terkendali.

e) Umumnya seseorang dapat memperoleh karunia bahasa Roh dalam pertemuan doa yang dikenal dalam Seminar Hidup dalam Roh Kudus (SHDR), namun tidak menutup kemungkinan diperolehnya karunia ini dalam doa pribadi, doa rosario, maupun pada saat mendoakan Ibadat Harian, seperti yang pernah dialami oleh Fr. Raniero Cantalamessa, pengkhotbah kepausan di Roma, dan pada saat membaca dan merenungkan Kitab Suci, seperti yang dialami oleh Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), atau saat berdoa Adorasi di hadapan sakramen Maha Kudus, seperti yang dialami oleh beberapa mahasiswa Katolik pertama yang menerima karunia Roh Kudus tersebut dalam ‘Duquesne weekend’ di tahun 1967.

f) Namun apapun caranya, akibat yang dialami dari orang yang menerima karunia bahasa Roh, adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan semangat yang luar biasa untuk membalas kasih-Nya, kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya dan membina hubungan yang pribadi dengan-Nya. Pengalaman rohani ini mendorongnya untuk selalu selalu bertobat dan memperbaiki diri, dan melakukannya dengan senang hati. Selanjutnya, ada yang terinsiprasi untuk membaca Kitab Suci, mempelajari tulisan para Bapa Gereja, dan mempelajari imannya karena didorong oleh keinginan yang besar untuk semakin mengenal Allah dan Kebenaran-Nya. Ada pula yang terdorong untuk semakin memberikan komitmen dalam doa pribadi dan doa syafaat bagi orang lain, melibatkan diri dalam komunitas kerasulan awam, semakin menghayati misteri kasih Allah di dalam sakramen- sakramen dan sebagainya.

2. Ada orang yang berdoa dengan keras dengan bahasa tak dikenal. Apakah itu bahasa Roh? Bagaimana menafsirkan?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Agaknya sulit untuk menentukan, sebab terdapat beberapa faktor yang menentukan. Mungkin sebaiknya kita melihat kepada Alkitab untuk menyikapinya. Walaupun tidak secara eksplisit dibedakan, namun Alkitab menuliskan setidaknya terdapat perbedaan perwujudan doa dalam bahasa Roh ini:

a) merupakan doa pribadi, di mana Roh Kudus berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan yang tak terucapkan (Rom 8:26). Jadi dalam hal ini, keluhan yang tak terucapkan tersebut merupakan bentuk doa pribadi, sehingga tidak memerlukan interpretasi untuk diketahui orang lain. Menurut pandangan saya, jika didoakan bersama dalam satu kesatuan/harmoni, bentuk doa ini, walau tidak diinterpretasikan, tetap terdengar indah.

b) merupakan perkataan dalam bahasa lain (salah satu bahasa di dunia), yang sebelumnya tidak diketahui oleh sang pembicara, yang dapat dimengerti oleh yang mendengarkannya, karena sesuai dengan bahasa yang dipergunakan oleh negara asal pendengar (lih. Kis 2:7-11).

c) merupakan perkataan dalam bahasa yang bukan merupakan salah satu bahasa di dunia, yang diucapkan kepada jemaat sebagai nubuat. Bahasa Roh ini memerlukan interpretasi, entah dari orang yang mengatakannya atau dari orang lain, dengan maksud membangun umat (lih. 1 Kor 14:5, 13), sebab tanpa interpretasi maka umat yang hadir tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan. Untuk maksud inilah Rasul Paulus berkata, dalam pertemuan umat, setidaknya dua atau tiga mengucapkan doa bahasa Roh, dan dilanjutkan dengan interpretasinya (lih. 1 Kor 14:  27, 29).

Kebanyakan dalam pertemuan doa Karismatik Katolik, yang umum dilakukan adalah bentuk yang pertama (point a., berdoa pribadi dalam bahasa Roh bersama-sama) dan tak banyak persekutuan doa yang juga menyampaikan bentuk doa yang ketiga (point.c). Menurut pandangan saya, jika didoakan bersama dalam satu kesatuan/harmoni, berdoa bersama dalam bahasa Roh ini walau tidak diinterpretasikan, tetap terdengar indah (terutama jika didukung oleh tim musik ). Namun, jika ada orang yang kemudian mengucapkannya dengan keras di hadapan jemaat, yang dikenal juga dengan istilah “speaking in tongue”/ berbicara di dalam Roh untuk menyampaikan pesan Allah, maka dapat dimengerti bahwa hal ini baru dapat membangun keseluruhan umat jika ada yang menginterpretasikannya.

Jika tidak ada yang menginterpretasikan bahasa Roh ini, menurut Rasul Paulus, lebih baik digunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh semua orang, untuk membangun iman umat yang hadir (lih.  1Kor 14:19). Oleh karena itu, memang Rasul Paulus mendorong agar ibadat bahasa roh ini diadakan dengan tertib (lih. 1 Kor 14:33, 40). Maksudnya di sini, jangan sampai di pertemuan jemaat orang saling berbicara keras, yang melibatkan lebih dari tiga nubuatan dalam bahasa Roh namun tidak ada yang menginterpretasikannya.

Penafsiran bahasa Roh ini bukan suatu ilmu yang bisa dipelajari, namun merupakan karunia Tuhan. Karunia menafsirkan bahasa Roh ini dihubungkan dengan karunia bernubuat (lih. 1 Kor 12:10; 14:5). Rasul Paulus berkata, “Usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang berkata-kata dalam bahasa Roh.” (1Kor 14:39)

3. Bagaimana meyakinkan bahwa bahasa Roh tersebut berasal dari Allah?

Yesus mengajarkan agar kita menilai baik dan buruknya suatu pohon dari buahnya (Mat 12:33). Maka khusus mengenai bahasa Roh ini, kita menilainya buahnya dari:

a) Jika karunia bahasa Roh tersebut memberikan pertobatan sejati yang terus menerus dalam kehidupan orang tersebut.

b) Jika karunia bahasa Roh tersebut menghasilkan buah yang baik sesuai dengan pengajaran Alkitab: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (lih. Gal 5:22)

c) Jika karunia tersebut menjadikan orang tersebut semakin rendah hati untuk bertumbuh di dalam iman dan pengenalannya akan Allah, dan untuk menggunakan karunia yang diberikan oleh Roh Kudus itu untuk membangun umat. Bagi umat Katolik, maka sikap kerendahan hati juga diwujudkan ketaatan kepada pihak otoritas Gereja Katolik.

Berikut ini adalah pengajaran Magisterium yang terdapat dalam Lumen Gentium 12:

“Selain itu Roh Kudus juga tidak hanya menyucikan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen serta pelayanan-pelayanan, dan menghiasnya dengan keutamaan-keutamaan saja. Melainkan Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya yang sepantasnya, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. (… but judgment as to their genuinity and proper use belongs to those who are appointed leaders in the Church). Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).”

d) Selanjutnya untuk memeriksa keotentikan karunia nubuat, ialah: nubuat itu harus sesuai dengan Alkitab dan yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sebab Roh Kudus tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah pernah diwahyukan-Nya kepada Gereja.

e) jika nubuat yang disampaikan bertentangan dengan Alkitab dan ajaran Gereja, apalagi kemudian tidak terbukti, maka dapat dikatakan itu bukan dari Roh Kudus.

4.  Dari point 1-3 di atas, maka saya telah menyampaikan secara ringkas tentang bahasa Roh; semoga berguna bagi anda.

Selanjutnya tentang karismatik, mungkin dapat kami uraikan lebih lanjut dalam artikel terpisah. Mohon kesabarannya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Saksi Yehuwa bukanlah saksi Kristus

176

Pendahuluan

Ketika, saya tinggal di Jakarta, suatu hari saya mendengar ketukan pintu rumah. Dan ternyata yang datang berkunjung adalah dua orang wanita, yang tersenyum ramah, serta mengatakan ingin bersaksi tentang kebaikan Allah. Tentu saja saya menyambut baik kedatangan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka, bahwa mereka adalah anggota Saksi Yehova. Dan seperti biasa yang pernah saya dengar, mereka mulai mempertanyakan keadaan dunia ini yang terlihat menyedihkan dengan begitu banyak penderitaan dan kejahatan. Mereka telah mempersiapkan brosur yang berisi kegiatan dan pengajaran dari Saksi Yehovah, termasuk mendiskusikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ini sungguh menyedihkan, namun di dalam hati, saya sungguh memuji kesungguhan hati mereka untuk mewartakan ajaran-ajaran yang dipercaya oleh kelompok Saksi Yehovah ini. Di sisi yang lain, saya merasa bahwa pewartaan yang tidak mewartakan kebenaran secara penuh, atau malah bertentangan dengan kebenaran, bukanlah pewartaan Kabar Gembira yang sejati. Mewartakan dimensi manusia dari Kristus tanpa mewartakan dimensi Ilahi-Nya adalah tidak lengkap dan bertentangan dengan kebenaran. Hal ini juga diperparah dengan ajaran lain yang menyimpang dari akal budi, prinsip keadilan, dan Alkitab, seperti ajaran tentang: tujuan akhir manusia, konsep antropologi yang salah, dll. Dalam tulisan ini, kita akan melihat sejarah berdirinya sekte ini, pengajaran mereka, dan memaparkan bahwa beberapa prinsip ajaran mereka adalah tidak benar.

Tentang Saksi Yehova

Pada tahun 1872, Charles Taze Russell (1852-1916) mendirikan satu sekte yang dinamakan Saksi Yehova atau Saksi Yehuwa (Jehovah’s witnesses). Charles T. Russell mempunyai latar belakang aliran Protestan (Congregationalism), dan kemudian dia mengikuti aliran Adventisme (Adventism), sebelum akhirnya mendirikan the Watchtower Bible and Tract Society, yang mengontrol perkembangan dan pengajaran dari Saksi Yehova, yang berpusat di Brooklyn, USA. Dari latar belakang ini, maka dapat dimengerti kalau beberapa doktrin yang dianutnya adalah dari Protestan dan juga dari Adventisme. ((Adventisme mengacu kepada gerakan keagamaan yang sangat kuat di sekitar tahun 1800-an, seperti the Mormons, the Seventh Day Adventists / Tujuh Hari Adven)) Beberapa doktrin Protestan yang dianut oleh Saksi Yehova adalah: penolakan terhadap beberapa pengajaran Katolik, seperti Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Api Penyucian, Perantaraan Para Kudus, dll. Pengaruh dari Adventisme  dapat terlihat dari beberapa ajaran Saksi Yehuwa, seperti akhir jaman, Roh Kudus bukan pribadi, Yesus bukan Tuhan namun Malaikat Mikael – yang lebih rendah dari Allah, dll. Mari sekarang kita membahas beberapa pengajaran pokok dari Saksi Yehuwa yang sebenarnya bertentangan dengan Kitab Suci, akal budi, dan prinsip keadilan.

  1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
  2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menempatkan Pencipta menjadi ciptaan.
  3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.
  4. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.
  5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.
  6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.
  7. Pengajaran bahwa tidak ada neraka yang kekal menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

1. Mempercayai Yesus bukanlah Tuhan adalah bertentangan dengan kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salah satu pengajaran dari Saksi Yehuwa yang sungguh berbeda dibandingkan dengan pengajaran agama Kristen adalah mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah Yehuwa, dan bukan Trinitas – Satu Tuhan dalam tiga pribadi. Kalau ditelusuri, sebenarnya ajaran ini telah diajarkan oleh Arius, yang pada tahun 318 mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Dan para Bapa Gereja akhirnya dapat memusnahkan ajaran sesat ini pada tahun 325 melalui konsili Nicea, walaupun pengaruh ajaran Arius masih terus berlangsung sampai kurang lebih abad ke- 5. Di dalam kunjungan mereka ke rumah-rumah, biasanya, pada awalnya, mereka tidak terlalu membahas tentang identitas Yesus yang bukan Tuhan (dalam pengertian pribadi ke-2 dalam Trinitas). Mereka akan menceritakan tentang Yesus yang sungguh-sungguh memberikan jalan dan pengajaran yang begitu luar biasa kepada manusia, bahkan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Namun, kalau ditanya lebih lanjut, apakah Yesus adalah Allah dalam pengertian Trinitas, Satu Allah dalam tiga pribadi, di mana Yesus adalah pribadi yang ke-dua, maka mereka akan mengatakan tidak. Saksi-saksi Yehuwa memberitakan setengah kebenaran, yaitu kemanusiaan Yesus, tanpa memberitakan kebenaran yang lain, yaitu ke-Allahan Yesus. Di dalam sejarah kekristenan, ajaran sesat yang berhubungan dengan kristologi, senantiasa menekankan sisi yang satu tanpa melihat sisi yang lain. ((Ajaran yang menolak kemanusiaan Yesus: Docetism, Gnosticism, Manichaeism, Apollinarism, Monophisitism. Ajaran yang menolak ke-Allahan Yesus: Adoptionism, Arianism)) Untuk menjawab keberatan mereka tentang ke-Allah Yesus, maka silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi yang telah ditulis oleh katolisitas.org:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. Dan Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Berikut ini adalah beberapa pembuktian dari tulisan di atas, yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Pernyataan Yesus ini dilakukan dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan:

  1. Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
  2. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
  3. Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
  4. Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
  5. Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
  6. Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
  7. Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
  8. Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
  9. Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
  10. Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
  11. Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
    • Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
    • Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
    • Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
    • Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
    • Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
    • Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
    • Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
    • Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
  12. Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
  13. Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
  14. Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
  15. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
  16. Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

2. Mempercayai Yesus adalah penghulu malaikat Mikael adalah menjadikan Pencipta menjadi seorang ciptaan.

Kalau bukan Tuhan, bagaimana Saksi Yehuwa mempercayai Yesus? Mereka mempercayai bahwa Yesus, Adam ke-dua, adalah penghulu malaikat Mikael. ((lih. Aid to Bible Understanding, p. 1152, yang mengatakan “Michael the Archangel, the first creation of Jehovah, before He came to earth and returned to the identity of Michael after his ressurection.“; lihat juga United in Worship, p. 29 yang mengatakan “Michael the Archangel is no other than the only begotten son of God, now Jesus Christ. That Jehovah directly created only one thing, Michael the arch angel and that Michael created all other things.“)) Ajaran ini kalau ditelurusi merupakan suatu modifikasi dari ajaran agama gereja Mormon, yang percaya bahwa malaikat Mikael adalah Adam ((Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 3, mengambil sumber dari Brigham Young, Journal of Discourse)) Kalau kita dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ajaran bahwa Yesus adalah malaikat Mikael adalah tidak mempunyai dasar. Oleh karena itu, silakan melihat beberapa artikel Kristologi dan argumentasi di atas. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka tidak mungkin dia berhenti menjadi Tuhan, dan kemudian menjadi malaikat, mahluk yang diciptakan.

3. Beberapa ramalan tentang akhir dunia yang terbukti gagal membuktikan bahwa nubuat tersebut bukan dari Allah.

Salah satu pengaruh dari Adventisme kepada Saksi -saksi Yehuwa adalah meramalkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan akhir dunia. Mari kita melihat beberapa ramalan yang diberikan, yang saya ambil dari site Catholic Answer (silakan klik):

  • 1889: “Peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa (Why 6:14), dimana akan berakhir di tahun 1914 ..” (Studies, Vol. 2,1908 edition, 101) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1891: “Dengan berakhirnya tahun 1914, apa yang Tuhan sebut Babilonia, dan apa yang orang-orang sebut Chistendom, akan berlalu, seperti yang telah ditunjukkan dalam nubuat” (Studies, Vol. 3, 153)
  • 1894: “Akhir dari tahun 1914 bukanlah hari untuk permulaan, namun untuk berakhirnya masa kesukaran” (WT Reprints, 1-1-1894, 1605 and 1677)
  • 1897: “Tuhan kita sekarang hadir, sejak Oktober 1874” (Studies, Vol. 4, 1897 edition, 621)
  • 1916: “Enam masa 1000 tahun yang bermula dari Adam telah berakhir, dan masa hari ke tujuh, 1000 tahun dari pemerintahan Kristus telah dimulai di tahun 1873” (Studies, Vol. 2, p. 2 of foreword)
  • 1917: “Alkitab … membuktikan bahwa kedatangan Kristus ke dua telah terjadi di musim gugur 1874” (Studies, Vol. 7, 68)
  • 1918: “Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan kita boleh berharap bahwa 1925 akan menandai kembalinya Abraham, Isak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia dari masa dulu” (Millions Now Living Will Never Die, 89) [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1922: “Tahun 1925 adalah tahun yang lebih diindikasikan oleh Alkitab secara lebih nyata daripada tahun 1914” (WT, 9-1-1922, 262).
  • 1923: “Tahun 1925 secara pasti telah ditegaskan di dalam Alkitab. Seperti kepada nabi Nuh, umat Kristen sekarang mempunyai sesuatu yang lebih untuk mendasarkan imannya daripada yang dipunyai oleh nabi Nuh ketika dia mendasarkan imannya akan kedatangan banjir besar” (WT, 4-1-1923, 106).
  • 1925: “Tahun 1925 telah tiba…. umat kristen seharusnya tidak terlalu kuatir tentang apa yang mungkin terjadi tahun ini” (WT, 1-1-1925, 3).
  • 1931: “Ada bukti kekecewaan dari anggota Yehuwa di dunia tentang tanggal [prediksi] 1914, 1918 dan 1925, dimana kekecewaan hanya sementara. Kemudian para pengikut belajar bahwa tanggal-tanggal tersebut telah ditetapkan secara pasti di dalam Alkitab; dan mereka juga telah belajar untuk tidak menentukan tanggal yang pasti….” (Vindication, 388, 389). [catatan: nubuat akhir jaman yang diramalkan tahun 1914, 1918, 1925 tidaklah terbukti]
  • 1939: “Bencana dari Armagedon sudah dekat” (Salvation, 361).
  • 1941: “Armagedon pasti telah dekat … segera… dalam beberapa tahun” (Children, 10).
  • 1946: “Armagedon… akan terjadi sebelum 1972” (They Have Found a Faith, 44). [catatan: Hal ini tidak terbukti]
  • 1966: “Enam ribu tahun dari saat manusia diciptakan akan berakhir di tahun 1975, dan periode ke tujuh dari seribu tahun dari sejarah manusia akan dimulai di tahun 1975” (Life Everlasting in Freedom of the Sons of God, 29).
  • 1968: “Akhir dari enam ribu tahun dari sejarah manusia di musim gugur tahun 1975 bukanlah [bersifat] sementara, namun diterima sebagai suatu tanggal yang pasti” (WT, 1-1-1968, 271). [catatan: Hal ini tidak terbukti]

Dari sini, kita melihat bahwa ramalan-ramalan yang dilakukan oleh Saksi Yehuwa tidaklah terbukti, seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia dan armagedon. Dan kita tahu bahwa seorang nabi yang perkataannya tidak terbukti bukanlah nabi yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Kitab Ulangan “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul 18:22; lihat juga Yer 23:16; 28:9). Dan ramalan tentang akhir dunia yang dibuat oleh Saksi Yehuwa tidak terjadi, bahkan bukan hanya gagal sekali, namun berkali-kali. Kalau Saksi Yehuwa membuat kesalahan doktrin tentang akhir jaman, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat percaya akan doktrin-doktrin yang lain?

5. Hanya 144,000 orang yang dipercaya berada di Sorga tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah.

Ajaran pokok yang lain dari Saksi Yehuwa adalah hanya 144,000 orang yang dapat masuk dalam Kerajaan Sorga. ((Reasoning from the Scriptures (Reasoning) [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1985], 166)) Yang termasuk dalam kelompok 144,000 orang ini disebut “yang diurapi” (the anointed), sedangkan orang-orang lain yang dibenarkan oleh Allah disebut “domba yang lain” (the other sheep). Kelompok yang diurapi dipercaya mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Ini berarti orang-orang kudus di dalam Perjanjian Lama tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun hanya akan hidup di dalam dunia yang penuh kebahagiaan, seperti yang dipercayai oleh Saksi Yehuwa. Mereka mendasarkan pengajaran ini dari Wahyu 7:1-8 dan Wahyu 14:1-5. Dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4) dan “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya” (Why 14:1). Dan mereka mengajarkan bahwa jumlah 144,000 harus diartikan secara harafiah/literal. Mari kita membahas, bahwa sebenarnya pengajaran ini sesungguhnya tidak masuk di akal dan tidaklah Alkitabiah.

  1. Kalau kita melihat di Wahyu 14:3-4 “3 Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. 4  Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.
  2. Kalau mereka ingin konsisten dengan pengertian harafiah 144,000 di ayat 3, maka seharusnya mereka juga mengartikan ayat empat secara harafiah. Karena ayat 4 mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan, maka 144,000 orang yang masuk Sorga adalah laki-laki yang hidup selibat. Namun yang terjadi adalah mereka mengatakan jumlahnya harus diartikan secara harafiah, namun siapa yang masuk Sorga dapat diartikan secara simbolik (tidak hanya laki-laki yang hidup selibat). Oleh karena itu, penafsiran ini menjadi tidak konsisten.
  3. Hal ini juga terjadi pada penafsiran berikut ini “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” (Why 7:4). Terlihat bahwa Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menafsirkan ayat ini, karena jumlah 144,000 diartikan secara harafiah, namun suku keturunan Israel diartikan secara simbolik, yakni tidak terbatas pada suku Israel saja – termasuk anggota Saksi-saksi Yehuwa dari bangsa Amerika.
  4. Anggaplah bahwa ajaran tentang Saksi Yehuwa adalah benar, bahwa hanya 144,000 orang saja yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, mulai dari para rasul sampai tahun 1935. Yang perlu dipertanyakan di sini adalah, bagaimana mereka memperhitungkan jemaat perdana yang meninggal karena mempertahankan iman mereka dan menjadi martir, seperti pada jaman pemerintahan Nero (begitu banyak jumlah martir), Diocletian (20,000 martir), Shapur II (1,200 martir), Henry VIII (72,000), Nazi di Polandia (3,000), Tokugawa Leyasu di Jepang (37,000), dan masih  begitu banyak daftar martir-martir yang meninggal karena mempertahankan iman kekristenan mereka, bukan hanya ribuan, namun ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang. Bagaimana dengan para santa-santo, yang kurang lebih berjumlah 10,000 orang. Kalau benar-benar hanya 144,000 orang yang masuk dalam kerajaan Sorga, maka mungkin tidak ada anggota Saksi Yehuwa yang masuk Sorga, karena Saksi Yehuwa baru didirikan pada tahun 1872 dan Sorga telah terisi dengan para martir dan santa-santo yang telah meninggal sebelum tahun 1872. Kita tahu bahwa para martir telah melaksanakan perintah Yesus yang terutama “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Dan kehilangan nyawa untuk mempertahankan iman hanyalah mungkin kalau didasari oleh kasih yang tulus. Mungkin ada baiknya kita semua merenung, apakah kita semua – termasuk anggota Saksi Yehuwa – mempunyai kasih kepada Allah dalam derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan para martir?
  5. Anggaplah bahwa hanya 144,000 orang saja (yang anggotanya mulai dari para rasul sampai tahun 1935) adalah benar, seperti yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa. Pertanyaannya adalah bagaimanakah nasib para nabi di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, Elia, Henokh, dan banyak nabi lai sebelum Kristus – termasuk Yohanes Pemandi? Apakah mereka tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Abraham yang menjadi bapa orang beriman (lih. Rm 4:16), sahabat Allah (Yak 2:23) tidak dapat masuk Sorga? Apakah Musa yang berbicara dengan Tuhan muka dengan muka, sebagaimana layaknya seorang teman (lih Kel 33:11) dan berbicara dengan Yesus pada peristiwa transfigurasi, tidak dapat masuk Sorga? Apakah Henokh yang berkenan kepada Allah, tidak meninggal dan diangkat ke Sorga tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga (lih. Ib 11:5). Apakah Elia yang diangkat ke Sorga (lih. 2 Raj 2:11) dan yang berbicara dengan Yesus pada transfigurasi (lih. Mat 17:3-4; Mrk 9:4; Lk 9:30) tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah Yohanes Pembaptis yang kedatangannya telah dinubuatkan sebelumnya (lih. Yes 40:3; Mal 4:5-6), yang mempersiapkan kedatangan Tuhan (lih. Mt 3;1-3; Mk 1:4; Lk 3:2-3; Yoh 1:6-8) tidak juga dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Apakah semua nabi yang disebutkan di atas kurang iman dan suci dibandingkan dengan pendiri dan umat dari Saksi Yehuwa?

Mari sekarang kita melihat Wahyu 7 dan 14. Di atas telah dijelaskan bagaimana Saksi Yehuwa tidak konsisten dalam menginterpretasikan Alkitab. Mari sekarang kita melihat lebih mendalam tentang Kitab Wahyu ini. Saksi Yehuwa mengatakan bahwa 144,000 adalah orang-orang yang berada di Sorga. Namun, kalau kita melihat Wahyu 7:1-8, maka sebenarnya jumlah 144,000 orang ini berada di dunia. Dikatakan “Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.” (Why 7:1). Dan kemudian di ayat 4 dikatakan “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.” Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah 144,000 berada di dunia. Kalau demikian, berapakah jumlah yang masuk dalam Kerajaan Sorga? Wahyu 7:9 menyebutkan “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Oleh karena itu, yang berada di Sorga adalah tidak terhitung banyaknya, dan bukan hanya 144,000.

5. Dua tipe kebahagiaan manusia – kebahagiaan Sorga dan dunia – adalah seperti sistem kasta, bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak Alkitabiah.

Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa hanya 144,000 yang diurapi ((Insight on the Scriptures (Insight), 2 vols. [New York, Watchtower Bible and Tract Society, 1988], 786)), yang tentu saja adalah anggota dari Saksi Yehuwa, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga dan memerintah bersama dengan Tuhan. Anggota Saksi Yehuwa yang lain, yang disebut kumpulan besar (great crowd) akan menikmati kebahagiaan di dunia, sama seperti kebahagiaan Adam dan Hawa di Taman Eden. Namun doktrin ini sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan, dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada pembatasan jumlah orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mt 5:11-12 mengatakan “11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Lebih lanjut rasul Paulus menegaskan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Fil 3:20) Dari sini kita tahu bahwa tidak ada pembatasan jumlah umat beriman yang dapat masuk dalam kerajaan Sorga.
  2. Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah untuk dapat melihat Allah muka dengan muka (lih. 1 Kor 13:12) adalah merupakan kebahagiaan yang sempurna, yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kebahagiaan kita di dunia ini – walaupun dengan kondisi seperti Taman Firdaus. Oleh karena itu, kebahagiaan di dunia yang dijanjikan oleh Saksi Yehuwa di luar 144,000 orang, tetaplah tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan di Sorga. Karena orang-orang yang mempunyai kebahagiaan di dunia tidaklah mungkin sebahagia mereka yang di Sorga, maka kebahagiaan di dunia adalah kebahagiaan yang tidak sempurna, kebahagiaan kelas dua. Lebih lagi, karena penentuan kebahagiaan ini adalah berdasarkan tahun kelahiran (karena yang menjadi bilangan dari 144,000 adalah dari jaman para rasul sampai tahun 1935), maka hal ini benar-benar menyalahi prinsip keadilan. Bagaimana mungkin, karena seseorang dilahirkan setelah tahun 1935, maka orang tersebut tidak dapat masuk dalam Kerajaan Sorga, walaupun orang tersebut adalah orang kudus, martir, dll. Bayangkan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta tidak dapat masuk sorga, sedangkan anggota Saksi Yehuwa sebelum tahun 1935 dapat masuk ke Sorga, meskipun kehidupan mereka kurang kudus dibandingkan dengan Bunda Teresa dari Kalkuta.
  3. Sungguh sulit dimengerti bahwa ada orang yang mau untuk melepaskan kewarganegaraan di Sorga (lih. Fil 3:20) dan hanya cukup dengan menikmati kebahagiaan abadi di dunia ini. Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Tesalonika – yang berfikir bahwa orang yang meninggal sebelum kedatangan Kristus yang kedua tidak beruntung – bahwa sebenarnya semua umat beriman, baik yang meninggal sebelum atau sesudah kedatangan Kristus yang kedua akan diangkat dan memperoleh kebahagiaan di dalam Kerajaan Sorga.

Membedakan tujuan akhir dari manusia – di Sorga berjumlah 144,000 dan di dunia yang beranggotakan umat Saksi Yehuwa – adalah seperti sistem kasta berdasarkan tahun, yaitu tahun dari para rasul sampai 1935. Dan sungguh sulit dimengerti bagaimana manusia yang seharusnya mempunyai kewarganegaraan di Sorga dapat menerima dan menukar kebahagiaan Sorga dengan kebahagiaan duniawi.

6. Pengajaran bahwa jiwa manusia tidak bersifat kekal menyalahi prinsip akal budi dan Alkitab.

Saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa manusia tidak bersifat spiritual dan kekal, namun jiwa manusia adalah badan. Oleh karena itu, pada waktu seseorang meninggal, maka jiwanya juga lenyap. Dan pada akhir zaman, maka jiwa manusia diciptakan kembali dari sesuatu yang tidak ada untuk masuk ke Sorga maupun kebahagiaan di dunia. Kita dapat membuktikan bahwa jiwa manusia adalah kekal berdasarkan filosofi dan juga Alkitab.

  1. Kalau kita mengamati, maka ada begitu banyak aktivitas manusia yang dilakukan bukan sebatas aktivitas tubuh atau material, seperti: berfikir, menginginkan, melakukan pemeriksaan batin, menyadari keberadaannya, keinginan bebas, dll. Semua ini bukanlah aktivitas tubuh, namun lebih bersifat spiritual. Sesuatu yang bersifat spiritual (bukan material) tidak mungkin dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat material, namun harus dihasilkan oleh sesuatu yang bersifat spiritual.Sesuatu yang bersifat material, seperti tubuh kita, terdiri dari bagian (part). Dan pada waktu mati, maka bagian-bagian itu menjadi terpisah dan terurai. Namun, sesuatu yang bersifat spiritual (seperti jiwa kita) tidak mungkin mati, karena sesuatu yang spiritual tidak mempunyai bagian.  Oleh karena itu, sesuatu yang bersifat spiritual menjadi kekal dan tidak mungkin mati.
  2. Alkitab juga menyediakan bukti-bukti bahwa jiwa manusia adalah bersifat kekal dan tidak mungkin mati. ((Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 2: How to Answer Jehowah’s Witnesses and Mormons (Farmington, NM: San Juan Catholic Seminars, 1996), hal. 14-15))
    • Kej 1:27 menceritakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Karena Allah adalah murni bersifat spiritual (lih. Jn 4:24), maka pasti ada elemen dari manusia yang bersifat spiritual.
    • 1 Sam 28 menceritakan bagaimana Samuel yang telah meninggal menampakkan diri kepada Saul. Ini berarti roh Samuel tidak musnah, namun masih tetap hidup.
    • Mt 10:28 menegaskan bahwa tentang jiwa yang kekal dan badan yang bersifat sementara, karena Yesus mengatakan bahwa tidak perlu kuatir kepada manusia yang dapat membunuh tubuh, namun bukan jiwa.
    • Mt 17:1-8 menggambarkan peristiwa transfigurasi, dimana Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Karena Musa diceritakan telah meninggal (lih. Ul 34:5), maka kematian tidak membuat Musa menghilang.
    • Lk 16 menceritakan bahwa Abraham, Lazarus dan orang kaya telah meninggal, namun diceritakan masih hidup di dunia yang lain.
    • Why 6:9-10 menyatakan tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh, namun masih hidup dan bercakap-cakap dengan Penguasa yang Kudus.

7. Pengajaran bahwa tidak adanya neraka menyalahi prinsip keadilan dan Alkitab.

Selain jiwa manusia tidak bersifat kekal, Saksi-saksi Yehuwa juga percaya bahwa tidak ada neraka kekal. Kalau demikian, apa yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang jahat maupun setan? Saksi-saksi Yehuwa percaya bahwa jiwa-jiwa tersebut dimusnahkan dan tidak ada lagi. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan dan bertentangan dengan Alkitab dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tuhan telah menciptakan jiwa manusia maupun malaikat, yang bersifat kekal, seperti yang telah di bahas pada point di atas. Kalau Tuhan telah menciptakan jiwa yang kekal dan kemudian memusnahkannya dan membuatnya tidak ada, maka sebenarnya Tuhan mengkontradiksi rencana-Nya sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri, maka tidak mungkin jiwa yang bersifat kekal dimusnahkan dan menjadi tidak ada.
  2. Kita juga melihat bahwa ajaran tidak ada neraka sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab.
    • Mt 3:12 mengatakan “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (lih. juga Lk 3:17). Api yang tak terpadamkan ini mengacu kepada neraka yang abadi.
    • Mk 9:43 menegaskan “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (lih. juga Mt 18:8). Ayat ini juga mengacu kepada neraka, dimana lebih baik kita kehilangan semua hal yang bersifats sementara daripada mendapatkan hukuman abadi di neraka dan dimasukkan ke dalam api yang tak terpadamkan.
    • Mt 25:46 mengatakan “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Dari ayat ini, kita menyadari bahwa bagi mereka yang benar akan masuk dalam hidup yang kekal, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan mendapatkan siksa abadi di neraka.

Dari ekpresi yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut di atas, seperti: api yang tak terpadamkan, siksaan yang kekal, maka kita mengetahui bahwa neraka adalah sesuatu yang nyata. Dan kenyataan ini bukan hanya sementara, namun berlangsung untuk selamanya. Kalau di ayat Mt 25:46 dibandingkan antara kehidupan kekal dan siksaan kekal, maka akan menjadi tidak konsisten kalau kita mau menerima konsep kehidupan kekal namun tidak mau menerima adanya konsep siksaan kekal. Kalau seseorang percaya akan kehidupan kekal dari Alkitab, maka seseorang juga harus percaya akan siksaan kekal, yang juga diwahyukan oleh Allah kepada manusia.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka banyak ajaran dari Saksi-saksi Yehuwa yang bertentangan dengan Alkitab, akal budi, dan bahkan bertentangan dengan keadilan. Memberitakan Kristus yang bukan Tuhan, bukanlah ajaran Kristen, karena kekristenan mendasarkan iman, pengharapan dan kasih pada Kristus yang adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia. Kalau Kristus bukan Tuhan dan ‘hanya’ malaikat Mikael, maka sia-sialah pengharapan kita, karena kita hanya berharap pada ciptaan dan bukan pada Pencipta. Kalau kita tidak mempunyai tujuan ke Sorga dan bersatu dengan Tuhan untuk selama-lamanya di dalam Kerajaan Sorga, maka sia-sialah semua yang dilakukan di dunia ini. Kalau tidak ada pengadilan terakhir dan tidak ada neraka, maka keadilan yang seadil-adilnya tidak dapat ditegakkan. Kalau ada yang mau kita pelajari dari Saksi Yehuwa, maka kita tidak boleh percaya akan pengajaran mereka, namun kita harus meniru semangat mereka untuk memberitakan Injil. Bahkan pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), Mother Angelica mengatakan “Berikan kepadaku 10 orang Katolik, yang mempunyai semangat seperti Saksi Yehuwa, dan aku dapat merubah dunia.” Mari, kita semua, yang menjadi umat Gereja Katolik – Gereja mempunyai kepenuhan kebenaran -, kita harus dengan giat dan penuh semangat memberitakan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Semoga Roh Kudus memberikan kebijaksanaan kepada kita semua, agar kita dapat mempertahankan kebenaran dan bertumbuh terus di dalam kebenaran.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39).

Tentang ratu dari Selatan dan hikmat Salomo

9

Pertanyaan:

salam damai.
Dear katolisitas,..mo tanya nich..tentang Ratu dari selatan dan hikmat Salomo ..yang ada di Injil Lukas 11:29-32 dan Mat 12:38-42. dalam injil Lukas ayat 31 berbunyi :… (31) pada waktu penghakiman,ratu dari selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo dan sesungguhnya yang ada disini lebih daripada Salomo! (32) Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya.
…terus terang saya kebingungan dengan apa yang mau disampaikan oleh Yesus pada perikop tersebut ,mohon pencerahannya,terimakasih, Inus

Jawaban:

Shalom Inus,

Injil Luk 11:29-32 dan Mat 12:38-42 adalah perikop yang menceritakan tentang ajaran Yesus tentang Tanda Nabi Yunus, yang di utus Tuhan ke kota Niniweh (sekarang Irak). Akibat kabar yang disampaikan oleh Nabi Yunus, penduduk kota Niniweh bertobat (Yun 3:6-9) karena mereka mengakui nabi Yunus dan menerima pesan yang disampaikannya. Sedangkan Yerusalem, tidak mengakui Yesus, padalah nabi Yunus hanyalah gambar bayangan jika dibandingkan dengan Yesus.

Yesus menanggapi permintaan orang Farisi yang meminta tanda, dengan mengajarkan tanda Yunus yang dikaitkan dengan tanda yang akan disampaikan-Nya. Tanda yang dimaksud adalah kebangkitan-Nya dari alam maut. Kebangkitan Yesus adalah tanda/ mukjizat yang terbesar dan sempurna untuk membuktikan ke- Allahan-Nya, dan keilahian ajaran dan misi-Nya di dunia. Sama seperti ikan besar menelan nabi Yunus selama tiga hari, maka perut bumi akan menelan Yesus selama tiga hari sebelum Ia bangkit dari mati. Tanda Yunus ini pulalah yang menjadi acuan ketika Rasul Paulus mengajarkan bahwa Yesus bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (lih. 1 Kor 15: 3-4).

Yesus kemudian membuat satu lagi perbandingan: ratu dari Selatan yang adalah Ratu dari Sheba, yang berasal dari daratan baratdaya Arab (sekarang Yemen), mengunjungi Raja Salomo (lih. 1 Raj 10: 1-10) dan sangat terkagum-kagum oleh kebijaksanaan Raja Israel tersebut. Yesus jugalah yang digambarkan secara samar-samar oleh Raja Salomo, yang menurut tradisi Yahudi adalah lambang orang yang bijaksana. Teguran Yesus diperjelas dengan kenyataan bahwa mereka yang adalah orang-orang pagan [penduduk Niniweh dan ratu dari Selatan] bertobat setelah mendengar pengajaran Tuhan, namun orang-orang Yahudi yang pada waktu itu mendengarkan Yesus, bahkan tidak mengenali pesan Tuhan yang disampaikan-Nya. Pertobatan orang-orang pagan tersebut merupakan akan gambaran awal bahwa iman Kristiani akan juga menjangkau orang-orang non- Yahudi.

Maka, pada hari penghakiman, ratu dari Selatan ini yang telah menerima pesan Allah, akan bangkit dan turut mengadili orang-orang Yahudi, karena ia termasuk dalam bilangan orang-orang percaya sedangkan orang- orang yang menolak Yesus masuk dalam bilangan orang-orang yang tidak percaya (lih. 1 Kor 6:2).

Marilah kita berdoa agar kita dapat semakin mengimani Yesus Kristus, agar kita dapat termasuk di dalam kawanan orang-orang yang percaya dan karenanya dapat masuk ke dalam kerajaan Surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan, orang cacat dan miskin?

28

Pertanyaan:

Romo, mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda? Kenapa harus ada yang cacat dan yang miskin ? Terima kasih !

Jawaban:

Shalom Jocelyn,

Sejak awal mula penciptaan dunia, kita mengetahui Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman. Ada terang ada gelap, ada matahari, ada bulan dan bintang, pegunungan maupun pantai/ laut, aneka tumbuhan dan hewan, baik di darat dan di laut. Demikian juga pada saat menciptakan manusia, ada pria dan wanita. Tubuh manusia-pun terdiri dari anggota-anggota tubuh yang berbeda baik sifat maupun fungsinya. Maka Allah menciptakan keaneka- ragaman manusia, dan seluruh alam ciptaan-Nya, karena dalam keanekaragaman itu kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan semakin terlihat.

Namun keberagaman yang begitu indah pada awalnya, ternoda oleh akibat dosa manusia pertama. Maka, sebagai akibat dosa asal ini, Tuhan mengizinkan manusia bersusah payah menghadapi kehidupannya: para perempuan dengan sakit melahirkan (lih. Kel 3:16) dan para laki-laki dengan susah payah mencari rezeki seumur hidup (lih. Kel 3:17) dan menusia akhirnya akan mati dan kembali menjadi debu (lih. Kel 3:19). Akibat dari dosa inilah, terdapat sakit penyakit dan usaha keras manusia mencari nafkah, yang dengan sendirinya mengakibatkan bermacam perbedaan kondisi pada setiap orang, yaitu terdapat orang-orang yang miskin dan kaya, ataupun yang sakit/ menderita dan yang sehat. Orang-orang yang terlahir dalam keluarga miskin atau keluarga kaya, memang terbawa oleh kondisi orang tuanya masing-masing, dan Tuhan mengizinkan hal itu terjadi, walaupun tidak secara aktif menakdirkannya. Mengenai ‘takdir’ sudah pernah dituliskan di tanya jawab ini, silakan klik

Dalam pengajaranNya, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Allah memberikan kepada manusia talenta yang berbeda-beda, ada yang diberi lima, dua dan satu talenta, sesuai dengan kesanggupan mereka (Mat 25:15). Maka, bagi Tuhan, yang terpenting bukannya miskin atau kaya, sakit atau sehat, namun adalah hakekat manusia yang diciptakan sesuai dengan gambaran Allah, dan bagaimana mereka menggunakan talenta/ kemampuan mereka sesuai dengan rencana-Nya.

Hal miskin dan kaya dan yang lemah dan kuat di dalam masyarakat merupakan fenomena kodrati manusia. Keadaan semacam ini tidak bisa dihapuskan, karena menentang hukum alam. Ibaratnya, seperti yang terjadi di dalam tubuh manusia, terdapat organ-organ internal yang halus dan tersembunyi, dan bagian tubuh eksternal yang bertugas melindungi. Maka perbedaan ini tidak dapat begitu saja dihapuskan.

Namun tentu saja, tidak berarti bahwa orang yang miskin tidak perlu berusaha untuk memperbaiki taraf hidup. Tidak demikian! Sebab seperti dalam perumpamaan talenta, setiap orang pada akhirnya harus berusaha untuk mengembangkan talenta/ kemampuan yang ada padanya, walaupun takarannya berbeda-beda pada setiap orang. Orang yang mempunyai kelebihan harus dengan murah hati membagi kepada yang berkekurangan, dan yang berkekurangan juga perlu menghargai bantuan itu dengan bekerja keras dengan prinsip keadilan dan kedamaian. Inilah sebenarnya salah satu prinsip dari ajaran sosial Gereja Katolik.

Mari kita melihat apa yang diajarkan oleh Paus Leo XIII dalam surat ensikliknya yang terkenal itu, Rerum Novarum, 1891, yang menanggapi dampak revolusi industri di Eropa dan Amerika. Paus menyadari adanya gerakan-gerakan yang bertujuan untuk menghapuskan perbedaan golongan dalam masyarakat untuk menjadikan masyarakat menjadi satu tingkatan- yang menjadi tujuan negara komunis. Hal ini dipandangnya sebagai sesuatu yang menentang hukum alam, apalagi karena demi tujuan itu, maka hak milik setiap orang tidak diakui.

Untuk itu Paus Leo XIII mengajarkan,

“Pertama-tama perlu diakui bahwa kondisi hal-hal yang melekat di dalam urusan manusia harus dipikul/ ditanggung, sebab adalah tidak mungkin untuk mereduksi masyarakat menjadi hanya satu tingkatan yang mati. Kaum sosialis dapat saja berusaha sekeras mungkin, namun semua kerja keras yang melawan hukum kodrat itu akan sia-sia.  Secara alamiah, di antara manusia [memang] terdapat berbagai perbedaan…. orang-orang berbeda dalam kemampuan, keahlian, kesehatan dan kekayaan yang tidak sama sebagai hasil dari kondisi yang berbeda. Perbedaan ini jauh dari merugikan, baik terhadap individu maupun masyarakat. Kehidupan sosial dan publik hanya dapat dipertahankan dengan adanya bermacam bentuk kemampuan usaha dan peran dari banyak bagian-bagian; dan setiap orang memilih bagian yang sesuai dengan kondisi khususnya masing-masing……” (Rerum Novarum, 17)

“Dengan demikian, sakit dan kesulitan dalam hidup tidak akan pernah berakhir atau berhenti di dunia; sebab akibat dosa adalah pahit dan sulit untuk ditanggung, dan hal-hal tersebut akan selalu menyertai manusia sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, untuk menderita dan bertahan adalah bagian [yang harus ditanggung oleh] manusia; biarkan mereka berjuang seperti seharusnya, tidak ada kekuatan atau kecerdasan yang dapat berhasil untuk menghapuskan dari kehidupan manusia segala penyakit dan kesulitan-kesulitan yang menimpanya….. ” (Rerum Novarum, 18)

“Hal-hal dan kekayaan duniawi tidak dapat dipahami atau dihargai dengan benar tanpa memperhitungkan pertimbangan kehidupan kekal …. Sebab dalam hal kekayaan dan segala hal yang dipandang baik dan diperlukan, apakah itu kita punyai dengan limpahnya, atau tidak -asalkan kebahagiaan kekal yang menjadi perhatian kita- maka kedua kondisi itu [kaya atau miskin] tidaklah berbeda; hal yang terutama adalah untuk mempergunakan apa yang kita miliki dengan benar….. Yesus Kristus, ketika menebus kita… tidak menghapuskan sakit dan duka cita yang dalam takaran yang besar terjalin di dalam kehidupan kita. Ia mengubah hal-hal itu menjadi motivasi kebajikan dan kesempatan untuk berbuat baik, dan tidak seorangpun dapat berharap untuk menerima penghargaan kekal tanpa mengikuti jejak pengorbanan Penyelamat-nya.  “Jika kita menderita bersama Dia, kita akan bangkit bersama Dia.” (lih. 2 Tim 2:12). Kerja keras dan penderitaan Yesus yang diterima-Nya dengan kehendak bebas-Nya telah menjadikan manis segala penderitaan dan kerja keras manusia. Dan tidak hanya dengan teladan-Nya, tetapi dengan rahmat dan pengharapan akan kehidupan kekal, maka Ia telah membuat penyakit dan penderitaan/ duka cita menjadi lebih dapat dipikul; “sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kita.” (2 Kor 4:17) (Rerum Novarum, 21)

Siapapun yang menerima dari Tuhan kelimpahan berkat-berkat duniawi, baik berkat eksternal dan material, atau karunia-karunia pemikiran, telah menerima berkat-berkat itu dengan maksud agar digunakan untuk menyempurnakan kodratnya, dan pada saat yang sama, agar ia mengembangkannya, sebagai pelayan bagi penyelenggaraan Tuhan, demi kebaikan sesamanya. “Mereka yang mempunyai talenta,” kata St. Gregorius Agung, “biarlah ia tidak menyembunyikannya; ia yang mempunyai kelimpahan, biarlah ia bergegas dalam belas kasihan dan kemurahan hati; ia yang mempunyai bakat seni dan keahlian, biarlah ia melakukan yang terbaik untuk membagikan penggunaan dan manfaatnya dengan sesamanya.” (Rerum Novarum, 22)

“Kepada mereka yang tidak mempunyai kekayaan, mereka diajarkan oleh Gereja bahwa di mata Tuhan, kemiskinan bukan suatu aib/ kutuk, dan tidak ada sesuatu yang memalukan tentang bekerja keras untuk mencari nafkah. Ini dibuktikan dengan apa yang terjadi dalam Kristus sendiri, yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor 8:9); dan Ia yang adalah Putera Allah dan Allah sendiri, memilih untuk dilihat dan dianggap sebagai anak tukang kayu… tidak merasa terhina untuk menghabiskan sebagian besar hidup-Nya sebagai tukang kayu. (lih. Mrk 6:3)” (Rerum Novarum, 23).

“Dengan melihat Teladan Ilahi ini, lebih mudah dimengerti bahwa nilai dan kehormatan sejati manusia terletak pada kualitas moralnya, yaitu di dalam hal kebajikan…. yang adalah warisan umum manusia, yang sama terjangkaunya oleh mereka yang tinggi dan rendah, kaya dan miskin …. yang akan diikuti dengan ganjaran kebahagiaan abadi. Tuhan sendiri kelihatan berpihak pada mereka yang menderita kemalangan; sebab Yesus Kristus menyebut mereka yang miskin sebagai yang terberkati/ berbahagia (Mat 5:3); Ia mengundang mereka yang bekerja keras dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya untuk memperoleh kelegaan…” (Mat 11:28) (Rerum Novarum, 24).

Sedangkan secara khusus tentang penyakit dan cacat yang diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup manusia, juga dimaksudkan Tuhan untuk menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya atas orang itu dan keluarganya (lih. Yoh 9:3) Yesus sendiri menjawab demikian ketika ditanya oleh para murid-Nya mengapa ada seorang dilahirkan buta. Kita harus melihat kejadian ini dalam kesatuan dengan rencana Tuhan untuk membawa umatnya kepada kehidupan kekal. Dengan adanya orang-orang cacat dan sakit, maka kita yang sehat diberi kesempatan untuk mengasihi, memperhatikan, dan merawat mereka. Kasih tanpa pamrih yang memperhatikan orang-orang yang sakit dan menderita adalah perbuatan kasih yang menguduskan. Sedangkan dari pihak orang yang sakit, maka kesetiaannya memikul salib/ penderitaannya bersama Kristus, akan menjadi berkat bagi keselamatan dirinya dan orang lain yang didoakan olehnya. Dalam hal inilah, maka dapat dikatakan bahwa melalui penderitaan dan sakit penyakit perbuatan-perbuatan Allah dinyatakan.  Karena dengan setia memikul segala penderitaan dan penyakit yang diizinkan Allah terjadi di dalam hidup kita, dan mempersatukannya dengan penderitaan Kristus, maka kita dapat bangkit bersama Tuhan Yesus dan memperoleh keselamatan (lih. 1 Ptr 4:13; Ibr 2:10). Sedangkan dengan memperhatikan orang-orang kecil, sakit, menderita dan terbuang, kita melakukan perintah kasih yang akan diperhitungkan dalam Penghakiman Terakhir (Mat 25:45). Juga pelayanan kasih tanpa pamrih kepada mereka yang terhina, menjadi kesaksian yang sangat lantang akan Kabar Gembira/ Injil, seperti yang dilakukan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati Missionaris Cinta Kasih yang dipimpinnya.

Maka kembali ke pertanyaan di atas, mengapa Tuhan mengizinkan perbedaan, orang miskin dan kaya, sehat dan sakit? Jawabnya adalah untuk menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya demi membawa orang-orang yang percaya kepada-Nya kepada keselamatan kekal. Karena dengan adanya perbedaan itu terdapatlah kesempatan bagi yang kuat untuk menolong yang lemah, yang lemah mendukung yang kuat, dengan kedua pihak mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan dengan keadilan-Nya mempercayakan talenta-talenta kepada tiap-tiap orang sesuai dengan kesanggupannya; dan yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan talenta-talenta itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda, semoga dapat berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mat 7:21, Orang yang berseru-seru kepada Tuhan

5

Pertanyaan:

shalom….
Saya mau menanya, apakah mksd dalam alkitab, MATIUS 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga… Monica

Jawaban:

Shalom Monica,

1. Dalam Mat 7:21-23, Tuhan Yesus ingin mengajarkan bahwa hanya ucapan/ “lip service” itu saja tidak cukup. Hal ini juga dikatakan-Nya dalam Luk 6:46; 13:26. Tuhan Yesus menghendaki tindakan yang serius untuk menyatakan iman kita kepada Tuhan. Di ayat-ayat sebelumnya yaitu  Mat 7: 15-20, Yesus telah menjelaskan ciri-ciri nabi- nabi palsu; dan sekarang Ia mengajarkan adanya bahaya bahwa seseorang menipu dirinya sendiri dengan anggapan bahwa dirinya pasti selamat, karena termasuk dalam kawanan pengikut Yesus meskipun tanpa melakukan perintah-perintah Tuhan.

Maka seperti dikatakan oleh Yesus, pintu surga tidak terbuka bagi mereka yang hanya berseru, “Tuhan, Tuhan”, tetapi mereka yang melaksanakan kehendak Tuhan Allah Bapa. Sebab tolok ukur bahwa kita mengasihi Tuhan adalah jika kita melakukan segala perintah-perintah-Nya.

Pengajaran ini juga sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul Yohanes, “….marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Maka kita mengetahui bahwa iman kita kepada Tuhan harus pula dinyatakan di dalam perbuatan kita.

2. Perlu kita perhatikan pula di sini, bagaimana Yesus menggunakan kata , “melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga…”. Yesus mengajarkan para murid-murid-Nya untuk memanggil Bapa sebagai Bapa Kami, namun Ia dalam banyak kesempatan memanggil Bapa dengan sebutan “Bapa-Ku” (bukan Bapa kami), jika Yesus sedang menjelaskan hubungan antara Pribadi-Nya sendiri dengan Allah Bapa, untuk menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa kedudukan-Nya sebagai Putera Allah, tidaklah sama dengan kedudukan kita sebagai putra dan putri ‘angkat’ Allah.

Demikian semoga ayat ini mengingatkan kita supaya kita tidak saja rajin berdoa dan berseru kepada Tuhan, namun juga supaya kita melakukan segala kehendak dan perintah-Nya. Agar pada saatnya nanti kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab