Home Blog Page 272

Amsal 5:15-17, nasihat untuk menjauhi perzinahan

0

Pertanyaan:

Shalom,
Sungguh indah sekali,
apa yang ditulis oleh Saudara Stefanus Tay on Dec 14th, 2009 dan di kategorikan: Artikel, Kitab Suci. di atas tentang Kidung Agung 8:1-3
Dengan hanya tiga ayat saja telah dijabarkan begitu luas dan bagus, dikaitkan dengan ayat-ayat lain yang sangat membantu saya dalam memahami isi dari sebagian Alkitab. Terima KASIH. Alangkan bahagianya saya jika Saudara Stefanus Tay juga membahasnya untuk yang lainnya,
hingga akhirnya seluruh isi Alkitab terbahas semua.

Saya berharap Saudara Stefanus Tay dapat mempunyai waktu untuk menguraikan dan menjabarkannya ayat-ayat dalam Kitab Suci secara sistimatis ataupun sesuai pertanyaan yang ada, misalnya untuk Amsal 5:15-17

saya mohon penjelasannya.
pernah ada seorang yang ahli dalam Auto urine therapi mengatakan Raja Salomo pun tersirat dalam
Amsal 15:5 ini minum air urinenya sendiri.

oke, terima kasih.
salam bahagia dan sejahtera
hendro.

Jawaban:

Shalom Hendro,

Terima kasih atas pertanyaan dan dukungannya dalam karya kerasulan ini. Saya bersyukur kalau ada materi di website ini ada yang dapat membantu umat Katolik untuk semakin mengerti iman Katolik. Memang kalau kita membaca Perjanjian Lama dan dimengerti dengan baik, maka kita akan melihat keindahan dari pesan tersebut. Namun, saya mohon maaf, untuk membahas seluruh Alkitab rasanya tidak akan mungkin, karena keterbatasan waktu dan juga kemampuan saya. Namun, saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan Hendro tentang Kitab Amsal 5:15-17, yang mengatakan:

15 Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual.
16  Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan?
17  Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain.

Secara singkat, kita dapat mengartikan ayat-ayat tersebut sebagai berikut:

1) Secara prinsip, Amsal 5 menceritakan tentang nasihat untuk menghindari perzinahan. Oleh karena itu, kalau ada seseorang yang menginterpretasikan ayat Amsal 5:15 sebagai indikasi bahwa Raja Salomo menasihatkan seseorang untuk minum air urinenya sendiri, rasanya terlalu dibuat-buat dan tidak mempunyai konteks sama-sekali.

2) Haydock Commentary mengatakan bahwa Amsal 5:15 adalah nasihat untuk hidup puas dengan apa yang dipunyainya (lih. hal 805). Hal ini diungkapkan oleh penulis kitab Amsal dengan mengatakan untuk meminum air dari cadangan air dan sumur sendiri. Oleh karena itu, dalam kehidupan perkawinan yang suci, kita tidak boleh untuk meminum air dari sumur orang lain – yaitu istri orang lain atau wanita lain – selain dari istri sendiri yang terikat dalam perkawinan yang sah. Dan pengertian ini diperkuat dengan ayat 18, yang mengatakan “Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:” Dan kalau kita melihat nasehat dari Rasul Paulus, dia mengatakan “Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.” (1 Kor 7:9) Dan nasehat yang begitu indah tentang hubungan antara suami istri dapat dilihat di Ef 5 dan juga ditegaskan oleh Rasul Petrus di 1 Pet 3:7, yang mengatakan “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.“.

3) Salah satu penafsiran dari ayat ke-16: “meluap seperti batang-batang air” adalah melambangkan keturunan. Batang-batang air ini bersumber pada sumur atau mata air yang sama (dari orang tua yang sama). Dengan demikian, pasangan suami istri yang telah diikat dalam Sakramen Perkawinan harus terbuka terhadap kehidupan atau anak-anak. Dan dengan mempunyai anak-anak dari hasil perkawinan sendiri, maka mereka (anak-anak) menjadi kepunyaan orang tua dan bukan menjadi anak-anak yang lahir bukan dari hubungan suami-istri yang sah (lih. ay 17).

Semoga keterangan singkat di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Pergulatan Yakub dengan Allah menggambarkan Pentakosta

22

Perjanjian Lama harus dimengerti dalam terang Perjanjian Baru

Berapa banyak dari kita yang mengalami kesulitan dalam membaca Perjanjian Lama atau mungkin ada dari antara kita yang menganggap bahwa Perjanjian Lama tidak penting? Padahal Perjanjian Lama memuat pengajaran yang sangat penting sebagai dasar iman kita, karena kitab Perjanjian Lama adalah 2/3 bagian dari keseluruhan Alkitab yang diilhami oleh Allah sendiri, yang secara umum memuat nubuat tentang Yesus Kristus dan mempersiapkan umat Allah akan kedatangan Putera Tunggal Allah itu. Maka, dalam mempelajari Perjanjian Lama, kita harus selalu melihatnya dalam terang Perjanjian Baru. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK, 121: Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya (Bdk. DV 14.) karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

KGK, 122: “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).

KGK, 123: Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

Dari dokumen tersebut, kita melihat pentingnya Perjanjian Lama, terutama kita dapat melihat rancangan keselamatan Allah. Kalau kita menghilangkan Perjanjian Lama, maka sama saja dengan kita membaca suatu novel, tidak mengerti cerita awalnya, dan hanya membaca 1/3 bagian akhir dari novel tersebut. Yang menjadi tantangan dalam membaca Perjanjian Lama memang adalah, kita harus mengerti kaitannya dengan ayat-ayat lain, dan juga budaya pada waktu kitab itu dituliskan, yang memang sulit dimengerti karena kita terpisah begitu jauh dari masa itu. Namun, kita tidak boleh berputus ada kalau kita tidak mengerti, karena kita dapat melihat dokumen-dokumen Gereja maupun apa yang dikatakan oleh Bapa Gereja. Dan tentu saja mohon agar Roh Kudus memberikan pengertian kepada kita.

Sebagai contoh adalah bagaimana kita mengartikan Tuhan yang kalah bergulat dengan Yakub. Dikatakan di Kitab Kejadian 32:24-28

24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
25  Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
26  Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.
27. Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
28. Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.

Yakub, sang pembohong

Yakub adalah anak kedua dari Ishak, dan adik dari Esau. Yakub mengambil keutungan dari Esau, sehingga Esau menukar haknya sebagai putera sulung dengan makanan yang dibuat oleh Yakub (lih. Kej 25:29-34). Dan kemudian Yakub menipu Esau, sehingga akhirnya Yakublah yang mendapatkan berkat dari Ishak (lih. Kej 27:1-33). Kemudian Yakub melarikan diri karena ketakutan, dan bekerja pada pamannya, Laban. Namun, Laban kemudian juga menipu Yakub dengan memberikan Lea kepada Yakub dan bukan Rahel (lih. Kej 29:23-27), meskipun akhirnya Yakub berhasil memperistri Rahel setelah bekerja kepada Laban tujuh tahun lagi (lih. Kej. 29:30). Namun, kemudian Yakub menipu Laban dengan memberi tanda kepada kambing-kambing domba yang kuat, sehingga menjadi milik Yakub (lih. Kej 30:32-43). Dan kemudian Yakub beserta dengan istri-istri dan anak-anak, dan segala pelayan dan hartanya pergi meninggalkan Laban dan pulang ke negeri asalnya.

Yakub, yang ketakutan

Nah, dalam perjalanan pulang di bab 32 dari Kitab Kejadian, diceritakan bagaimana Yakub ketakutan ketika mendengar bahwa Esau, kakaknya beserta dengan 400 orang datang untuk menemuinya. Dan apa yang dilakukannya? Karena dia terbiasa untuk berbohong, maka dia dengan cepat memutar otaknya. Dengan kecerdikannya, dia mencoba memberikan persembahan kepada Esau (lih. Kej 32:14-20), agar Esau tidak membunuhnya. Dia mengirim pelayan-pelayannya beserta dengan ternak-ternaknya. Dan Dia juga mengirim dua istrinya, dua budak perempuannya dan ke sebelas anak-anaknya untuk menyeberangi sungai Yabok. Namun, Yakub sendiri tinggal seorang diri di perkemahan.

Yakub, yang bergulat dengan malaikat Tuhan

Di dalam kesendiriannya, di tepi sungai Yabok, Yakub bergulat dengan malaikat Tuhan sampai fajar menyingsing. Kalau kita merenungkan, apakah bergulat dapat digambarkan sebagai suatu pergulatan fisik dengan malaikat Tuhan? Mungkin saja hal ini terjadi. Namun secara fisik, sebenarnya manusia tidak mungkin mengalahkan malaikat Tuhan, kecuali malaikat Tuhan tersebut mengalah kepada Yakub.

Namun makna yang lebih dalam dari hal ini adalah makna spiritual. Yakub, mungkin dalam kesendiriannya telah membayangkan akan kemarahan dari Esau yang telah ditipunya dan ada kemungkinan Esau akan membunuhnya. Dia teringat akan segala tipu muslihatnya, sehingga ia berhasil membohongi Ishak, yang menyebabkan Esau kehilangan berkat sebagai anak pertama. Dan Yakub pasti ketakutan akan resiko yang akan dialaminya kalau dia bertemu dengan kakaknya. Dia mengungkapkan ketakutannya dengan doa “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” (Kej 32:11)

Dalam situasi seperti inilah, Yakub tidak mempunyai pegangan apapun selain kepada janji yang telah diterimanya dari Allah, yang mengatakan “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” (Kej 31:3) Dan Yakub juga berpegang pada berkat yang diterimanya dari ayahnya, sehingga dia mengatakan “Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.” (Kej 32:12; lih. juga Kej 28:3-4). Namun, janji Tuhan ini tidaklah cukup bagi Yakub. Dia menginginkan suatu pengalaman yang dapat dirasakannya, pengalaman yang benar-benar dapat merubahnya. Dan di sinilah terjadi suatu drama pergulatan antara Yakub dengan malaikat Tuhan.

Yakub, yang memenangkan pergulatan doa

Pergulatan ini melambangkan suatu pergumulan doa. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Doa Abraham dan Yakub itu bagaikan satu perjuangan iman yang dilakukan dalam kepercayaan kepada kesetiaan Allah, dalam kepastian, kemenangan yang dijanjikan kepada orang yang tabah.” (KGK, 2592) Yakub yang tahu bahwa harapan satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya hanyalah Tuhan dan janji setia-Nya yang akan mendampingi dan menjadikan keturunannya sebanyak pasir di laut, yang tak terhitung banyaknya. Oleh karena itu, Yakub terus-menurus memohon dan bergulat dengan Tuhan di dalam doa sampai fajar menyingsing (lih. Kej 32:24). Dia terus berjuang di dalam doa, percaya akan janji Allah yang pasti akan ditepati-Nya. Dia terus berjuang dan tidak mengijinkan malaikat Tuhan untuk pergi sebelum dia memberkatinya. Percaya akan janji Tuhan dan dengan penuh perjuangan dan keyakinan, Yakub mengatakan “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” (Kej 32:26)

Dan menarik sekali apa yang ditanyakan oleh malaikat Tuhan. Berkat yang diminta oleh Yakub dipenuhi dalam pertanyaan dan pernyataan dari malaikat Tuhan. Malaikat Tuhan bertanya “siapakah namamu?” Pada saat seseorang menanyakan nama, maka yang ditanyakan adalah keseluruhan dari diri orang tersebut. Dan Yakub mengatakan bahwa namanya adalah Yakub. Nama, dimana Esau berkata “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” (Kej 27:36). Nama, Yakub seolah-olah menjadi identik dengan penipu. Dan memang tepatlah konotasi penipu pada diri Yakub, mengingat ada banyak penipuan yang dilakukannya selama dalam hidupnya.

Dalam perjuangan doa, maka Tuhan akan bertanya kepada diri kita masing-masing, “Siapakah namamu”, yang berarti: Bagaimanakah kehidupanmu? Bagaimana relasimu dengan-Ku? Apakah engkau telah berdosa hari ini? Apakah engkau tetap menjadi anak-anak Allah? Dan pada saat seseorang menyadari pertanyaan-pertanyaan ini, yang berarti seseorang memeriksa batinnya secara teliti, maka janganlah terkejut kalau Tuhan akan merubah kehidupannya, merubah namanya.

Malaikat tersebut mengatakan “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kej 32:28) Nama Yakub yang berkonotasi penipu, yang berarti mengandalkan segala cara untuk kepentingannya sendiri, sekarang menjadi Israel, yang berarti “yang bergumul dengan Allah” atau “Tuhan menang” (God prevails, lih. Brown Driver Briggs’ Hebrew definitions). Namun dikatakan di ayat tersebut bahwa dalam pergumulan tersebut, Yakub menang. Dengan demikian kemenangan Yakub terletak pada kemenangan Allah. Kita dapat menang dalam pergumulan doa, kalau Allah menang dan kita mengikuti jalan-Nya dan kita mau merubah kehidupan kita yang kelam untuk dapat semakin dekat dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa meraja dalam kehidupan kita. Kemenangan seseorang di dalam doa, bukanlah Tuhan yang mengikuti keinginan kita, namun kitalah yang mengikuti keinginan Tuhan. Kemenangan Tuhan ditandai dengan terpukulnya sendi pangkal paha Yakub (lih. Kej 32:25), sehingga dia harus berjalan pincang seumur hidupnya (lih. Kej 32:31). Orang yang telah diubah oleh Tuhan, memang seharusnya mempunyai suatu perubahan yang terjadi di dalam kehidupannya. Dan perubahan ini memang dapat terlihat sebagai suatu pengorbanan, namun pengorbanan yang membawa kebahagiaan.

Yakub, yang menjadi manusia baru (Israel)

Yakub telah manusia baru, yang diubah oleh Tuhan dalam pergulatan doa. Sebelum pergulatan tersebut, Yakub ketakutan, ingin berjalan paling belakang, setelah hewan-hewan dan pelayan-pelayannya, dan juga istri dan anak-anaknya, sehingga setiap saat, mungkin dia dapat melarikan dirinya kalau ternyata Esau ingin membunuhnya. Namun, apakah yang terjadi setelah pergumulan tersebut? Dia bukan lagi menjadi seorang penipu yang pengecut. Namun, “ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.” (Kej 33:3). Dia tidak takut lagi kalau kakaknya membunuhnya. Yakub yang ketakutan menjadi begitu berani dan mengemban tugas sebagai kepala keluarga dengan baik, yang nantinya menjadi bangsa Israel. Dia berjalan di depan, memimpin istri-istri dan anak-anaknya, serta seluruh hewan-hewan beserta dengan pelayan-pelayannya dalam menghadapi setiap kesulitan. Dan keberanian dan kejujuran ini membawa perdamaian dengan Esau, orang yang ditipunya. Ketakutan berganti menjadi kedamaian. Dan inilah kemenangan yang dimaksudkan dengan kemenangannya dalam bergulat melawan Allah. Kemenangan inilah yang melahirkan Israel, bangsa yang dipersiapkan Allah untuk menjadi umat pilihan-Nya.

Gereja adalah Israel yang baru

Israel adalah suatu gambaran dari Gereja, sehingga Gereja disebut Israel yang baru (Lumen Gentium, 9). Sama seperti Yakub melahirkan dua belas suku Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, Kristus memulai karyanya dengan dua belas rasul. Setelah kematian Yesus, kita tahu bahwa bahwa para murid ketakutan dan tidak berani bersaksi apapun. Mereka berpencar dan bersembunyi dalam ketakutan. Sama seperti Yakub yang bergumul dengan Tuhan sampai fajar menyingsing, para murid juga bergumul dengan Tuhan. Kalau Yakub bergumul dengan Tuhan sendirian, maka para murid bergumul dengan Tuhan bersama-sama dengan Bunda Maria. Mereka tidak berhenti bergumul dengan Tuhan, sampai berkat yang dijanjikan oleh Yesus datang (lih. Yoh 14:26) Berkat ini adalah berupa lidah-lidah api, yaitu Roh Kudus, yang mengajarkan segala sesuatu kepada para murid tentang apa yang telah dikatakan oleh Yesus.

Dan dalam pergulatan ini, para murid telah menang seperti Yakub. Para murid yang tadinya penakut, kemudian mendapatkan gelar yang baru, yaitu “Israel yang baru” atau “Gereja“. Gereja inilah yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, dengan manifestasi Roh Kudus, yang memberikan keberaniaan kepada para murid untuk bersaksi tentang Kristus. Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, pada hari Pentakosta menjadi manusia yang baru, yang berani mewartakan Kristus dan berkata “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Inilah kemenangan yang baru, dimana Gereja menjalankan misinya seperti yang diperintahkan oleh Kristus “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

Kesimpulan

Kita melihat, bahwa Perjanjian Lama kalau dimengerti dalam terang Perjanjian Baru mempunyai pesan yang begitu indah dan penuh makna. Oleh karena itu, kita harus mencoba mendalami Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dari beberapa interpretasi di atas, kita dapat melihat tipologi, yaitu menarik benang merah antara apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Yakub yang ketakutan akan kemungkinan dibunuh Esau, mempunyai kesamaan dengan para murid di Perjanjian Baru yang ketakutan dari pembunuhan kaum Farisi. Yakub dan para murid menyadari bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat menyelesaikan permasalah mereka, sehingga Yakub bergelut dengan Tuhan di dalam doa di tepi sungai Yabok, sedangkan para murid berserta dengan Maria bergelut dengan Tuhan di “upper room“.

Kalau Yakub bergelut dengan malaikat Tuhan dan menang, sehingga namanya diubah menjadi Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Pentakosta, kemenangan para murid ditandai dengan lahirnya Gereja, Israel yang baru. Yakub yang berjalan timpang setelah bergelut dengan malaikat Tuhan, juga dialami oleh para murid, di mana mereka menanggung begitu banyak penganiayaan, bahkan rela menjadi martir. Namun mereka semua mengalami perubahan dari dalam: Yakub yang takut dan berjalan di belakang menjadi pemimpin dan berjalan di muka, para murid yang takut dan bersembunyi, menjadi pewarta dan memberitakan Kristus tanpa takut dihukum. Dan itulah efek kemenangan dalam bergulat melawan Tuhan di dalam doa. Kemenangan ini terletak bukan pada terpenuhinya keinginan kita, namun pada merajanya keinginan Tuhan dalam kehidupan kita dan kekuatan yang diberikan Tuhan untuk mengemban misi yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupan kita.

Marilah, kita bersama-sama bergulat dengan Tuhan, dengan terus bertekun di dalam doa, seperti yang dilakukan oleh Yakub dan para murid. Kita terus bertekun dalam doa, sampai kita mendapatkan Pentakosta yang baru, sehingga hati kita dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya, sehingga kita senantiasa mempunyai kekuatan untuk senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Dan mungkin Tuhan akan memberikan nama yang baru kepada kita masing-masing, untuk mengemban misi khusus yang diberikan kepada Tuhan kepada kita masing-masing.

Dosa berat dalam hubungannya dengan keselamatan

32

Pertanyaan:

Hai, saya ingin bertanya tentang seputar mortal sin.

Pertanyaan pertanyaan saya ini saya sampaikan karena setelah membaca sekilas tentang hal keselamatan, saya beranggapan begitu susah nya beroleh jalan menuju surga (jika asumsi saya ini memang benar).

Saya merasa definisi mortal sin ini luas(mencakup 10 perintah Allah, sehingga berbohong pun termasuk mortal sin), sehingga menurut ukuran saya pribadi, dalam 1 minggu paling tidak saya berbuat satu mortal sin.
Bahkan, saya pernah mendengar ada yang berkata bahwa Paus John Paul II mengaku dosa seminggu sekali. Menurut pandangan saya dengan Ini berarti beliau melakukan mortal sin sekali dalam seminggu karena venial sin setahu saya tidak perlu di aku kan dalam pengakuan dosa.
Nah, pertanyaan saya, meski kita rutin mengaku dosa, katakanlah 2 minggu sekali, lalu di suatu saat kita melakukan mortal sin. Nah, apakah kemudian jika kita tiba tiba mendapat kecelakaan lalu meninggal (belum sempat mengaku dosa karena memang belum jadwalnya), apakah kita akan kehilangan keselamatan?

Lalu, apakah semua kebohongan, besar atau kecil adalah mortal sin? Di sini maksud saya bukan white lie atau bukan, tapi ke arah kebohongan kecil (seperti memberi alasan palsu kepada teman karena “sungkan”) dan kebohongan besar (seperti korupsi dan fitnah keji).

Mohon tanggapan nya dan terima kasih

Jawaban:

Shalom Jesus Follower,

Terima kasih atas pertanyaannya. Memang konsep keselamatan bukanlah hal yang mudah. Namun kalau anda telah beragama Katolik, dan kemudian terus bertumbuh di dalam Sakramen, serta terus berjuang dalam kekudusan, maka kita seharusnya menaruh pengharapan besar akan kasih Allah dan keselamatan kita. Kalau kita mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita, maka tidak mungkin Allah tidak mengasihi kita. Allah yang maha pengasih dapat membalas kejahatan dengan kebaikan, namun tidak mungkin Allah tidak adil, yaitu dengan membalas kebaikan dengan kejahatan. Oleh karena itu, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa atribut Allah yang terbesar adalah belas kasih (mercy). Dengan demikian, kita harus senantiasa mempercayai belas kasih Allah, namun juga jangan sampai melupakan Allah yang maha adil. Mari sekarang kita membahas pertanyaan Jesus Follower:

1) Sepuluh perintah Allah bukanlah definisi dari mortal sin (dosa berat). Orang yang maju perang (dengan alasan just war), mungkin saja membunuh orang (melanggar perintah 5), namun apa yang dilakukannya bukanlah termasuk dalam mortal sin. Jadi apakah mortal sin? Dalam artikel tentang pengakuan dosa (silakan klik), saya menuliskan:

Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.[8] Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.

Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.

2) Tentang dosa berat, Katekismus Gereja Katolik, menuliskan:

KGK, 1855: Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya.

KGK, 1857: Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: “Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan” (RP 17).

3) Bagaimana kita dapat menentukan bahwa sesuatu perbuatan dosa termasuk dalam kategori dosa berat atau dosa ringan? Kita dapat melihatnya dari pengajaran di dalam Alkitab, pengajaran Gereja Katolik yang memberikan pengajaran yang definitif, kesaksian dari Bapa Gereja, dan juga berdasarkan akal budi yang diterangi iman. dll. Hal lain yang dapat menjadi parameter adalah dengan melihat tiga hal untuk menentukan bahwa suatu perbuatan secara moral baik atau tidak, yaitu:

a) (1) Obyek moral (moral object), yang merupakan objek fisik yang berupa tujuan yang terdekat (proximate end) dari sesuatu perbuatan tertentu (sifat dasar perbuatan) di dalam terang akal sehat. (2) Keadaan (circumstances) yaitu keadaan di luar perbuatan tersebut, tetapi yang berhubungan erat dengan perbuatan tersebut, seperti kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa banyak, bagaimana dilakukannya, dan dengan bantuan apa. (3) Maksud/tujuan (intention) yaitu tujuan yang lebih tinggi yang menjadi akhir dari perbuatan tersebut.

b) Semakin obyek moral, keadaan dan maksud menyimpang terlalu jauh dari tujuan akhir kita (kehidupan kekal), maka dosa tersebut dapat dikategorikan sebagai dosa berat. Sebagai contoh, seperti dosa kebohongan:

Kalau kebohongannya adalah kebohongan orang tua karena berbohong kepada anaknya, dengan mengatakan bahwa hadiah yang diberikan kepada anaknya adalah dari sinterklas, maka kita melihat bahwa ini adalah dosa ringan. Kebohongan ini tetaplah suatu dosa, karena obyek moralnya adalah berbohong. Namun, kalau kita melihat keadaannya adalah dilakukan kepada anaknya, dilakukan setahun sekali, tidak menimbulkan kerugian yang terlalu berat. Sedangkan maksudnya adalah baik, karena ingin memberikan kejutan dan hadiah kepada anaknya.

Bandingkan dengan kebohongan berikut ini. Orang yang bersaksi dusta, sehingga menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan. Obyek moralnya adalah sama, yaitu berbohong. Namun, keadaannya adalah: dilakukan kepada teman kantor (misal: office boy atau orang yang bertugas membersihkan kantor). Kehilangan pekerjaan bagi office boy tersebut berarti kehilangan mata pencaharian, sehingga membuat istri dan anak-anak tidak dapat makan. Maksudnya adalah mungkin karena iri, ingin balas dendam, dll. Dalam kategori kedua inilah, kalau kebohongan tersebut dilakukan secara sadar dan terencana, tahu bahwa itu salah dan menyebabkan penderitaan yang berat bagi keluarga tersebut, dan orang tersebut tetap melaksanakan perbuatannya, maka kebohongan dalam hal ini dapat digolongkan sebagai dosa berat.

4) Ada yang mengatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II dan juga Ibu Teresa dari Kalkuta mengakukan dosa mereka setiap hari dan ada yang mengatakan setiap minggu. Namun, yang jelas, mereka sering sekali mengakukan dosa mereka. Kalau mereka yang mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan mengakukan dosa mereka sesering itu, maka menjadi tantangan bagi kita untuk sering mengakukan dosa kita, minimal sebulan sekali.

a) Gereja mengajarkan bahwa dosa berat hanya dapat diampuni dengan Sakramen Pengampunan Dosa. Namun, Sakramen Pengampunan Dosa bukan hanya untuk mengakukan dosa berat, namun juga dosa ringan. Oleh karena itu, tidak berarti bahwa kalau Paus Yohanes Paulus II mengaku dosa setiap minggu, maka dia melakukan dosa berat setiap minggu. Semakin kita bertumbuh dalam kekudusan, maka kita menyadari bahwa kita telah menyedihkan hati Tuhan, bukan hanya dengan mortal sin, namun juga dengan venial sin (dosa ringan), termasuk kegagalan kita dalam berbuat baik.

b) Paus Pius XII dalam Ensiklik “Mystici Corporis Christi” (Par. 88) mengatakan “The same result follows from the opinions of those who assert that little importance should be given to the frequent confession of venial sins. Far more important, they say, is that general confession which the Spouse of Christ, surrounded by her children in the Lord, makes each day by the mouth of the priest as he approaches the altar of God. As you well know, Venerable Brethren, it is true that venial sins may be expiated in many ways which are to be highly commended. But to ensure more rapid progress day by day in the path of virtue, We will that the pious practice of frequent confession, which was introduced into the Church by the inspiration of the Holy spirit, should be earnestly advocated. By it genuine self-knowledge is increased, Christian humility grows, bad habits are corrected, spiritual neglect and tepidity are resisted, the conscience is purified, the will strengthened, a salutary self-control is attained, and grace is increased in virtue of the Sacrament itself. Let those, therefore, among the younger clergy who make light of or lessen esteem for frequent confession realize that what they are doing is alien to the Spirit of Christ and disastrous for the Mystical Body of our Savior.

Dari sini, kita melihat, bahwa memang benar bahwa dosa ringan dapat diampuni dengan cara-cara lain, seperti menerima tobat yang sempurna, Ekaristi Kudus, namun untuk perkembangan spiritualitas kita, maka Sakramen Pengampunan adalah cara yang terbaik.

5) Bagaimana dengan orang yang meninggal dalam kondisi dosa berat? Seseorang yang meninggal dalam kondisi dosa berat dan tidak bertobat akan dosanya, akan masuk neraka (lih. KGK 1861). Namun, seseorang yang mempunyai kebiasaan mengaku dosa, mempunyai hati yang telah dilatih untuk sadar akan dosa-dosanya. Kalau seseorang yang melakukan dosa berat, dan kemudian dia menyesali dosanya dengan “tobat yang sempurna” – yaitu pertobatan yang didasari akan kasih kepada Allah, dan bukan karena takut hukuman – dan mempunyai intensi untuk mengakukan dosanya, maka dosa beratnya telah diampuni. Oleh karena itu, kalau orang tersebut mengalami kecelakaan dan meninggal sebelum mengakukan dosanya, orang tersebut telah diampuni dosanya, sehingga dia tidak kehilangan keselamatan kekalnya.

KGK, 1452 mengatakan “Kalau penyesalan itu berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu, ia dinamakan “sempurna” atau “sesal karena cinta” [contritio]. Penyesalan yang demikian itu mengampuni dosa ringan; ia juga mendapat pengampunan dosa berat, apabila ia dihubungkan dengan niat yang teguh, secepat mungkin melakukan pengakuan sakramental (Bdk. Konsili Trente: DS 1677.)

Orang yang terbiasa mengaku dosa, akan mempunyai kesadaran diri yang baik dan kesadaran akan buruknya dosa, sehingga dia akan tahu bahwa dia memerlukan pengampunan Tuhan. Dan bagi orang-orang yang tidak sering mengaku dosa, kita percayakan orang tersebut kepada belas kasih Tuhan, karena Tuhan dapat memberikan rahmat yang cukup kepada orang tersebut menjelang ajalnya, sehingga orang tersebut dapat mempunyai tobat yang sempurna (sesal karena cinta). Dengan demikian, orang tersebut dapat terbebas dari api neraka. Kita harus percaya, bahwa Tuhan kita adalah adil, namun Dia juga Maha Kasih dan berbelas kasih.

Semoga keterangan di atas, dapat membantu. Mari kita berjuang untuk hidup kudus, sehingga dalam hal-hal kecil sekalipun kita berjuang untuk menghindari dosa, baik dosa ringan dan dosa berat. Dan pada akhirnya, kalau kita terus setia kepada Tuhan, maka kita dapat menaruh pengharapan besar kepada Kristus akan kesalamatan kita. Dan Sakramen Pengakuan Dosa adalah cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyalurkan berkat pengampunan kepada umatnya serta memberikan kekuatan kepada umat Allah untuk terus berjuang dalam kekudusan (lihat artikel tentang Sakramen Tobat:bagian 1, 2, 3, 4). Mari, kita bersama-sama – terutama dalam masa adven ini – kita mengakukan dosa kita dalam Sakramen Tobat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan

17

Pertanyaan:

Shalom bpk Stef

Ada teman bertanya kepada saya perihal : kalau ditampar pipi kiri apakah anda akan berikan lagi pipi kanan untuk ditampar ? Itu namanya cari gara-gara atau bodoh ? dan terus terang saya katakan maaf, saya belum tahu dan saya akan cari tahu mengenai hal tersebut dan kemudian dia mengatakan mau tahu apa yg dilakukan Yesus ketika ditampar ? Lihat Yoh 18: 23
Mohon pencerahannya

Salam kasih
S A

Jawaban:

Shalom Sabar Andreas,

Terimakasih atas pertanyaannya. Teman anda ada benarnya dengan menggabungkan dua ayat, yaitu: Mat 5:39 dan Yoh 18:23, namun ada salahnya dengan mengatakan hal itu adalah sesuatu yang bodoh. Itu sesuatu yang bodoh menurut kacamata dunia, namun sesuatu yang berkenan menurut Tuhan. Mari kita melihatnya bersama-sama.

1) Mat 5:39 mengatakan “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu“.
Hal ini harus dilihat dalam konteks Mat 5 secara keseluruhan, yaitu “Kotbah di bukit“. Pengajaran pertama yang diberikan Yesus kepada banyak orang adalah kotbah di bukit, dimana ini merupakan hukum yang baru, yang memperbaharui hukum yang lama.

2) Ini dapat dilihat pada waktu Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum…” (Mat 5:21-22). Dan Yesus juga mengatakan “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28).
Atau hal yang lain, Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu“(Mat 5:43-44).

Dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan:

1) Yesus menekankan untuk tidak membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat, namun membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Inilah sikap kasih terhadap sesama yang berdasarkan kasih terhadap Tuhan. Inilah yang membuat Santo Maximilian Kolbe menyerahkan nyawanya sendiri sebagai pengganti nyawa tawanan yang lain. Kasih seperti inilah yang membuat yang terberkati ibu Teresa dari Kalkuta merawat orang-orang yang miskin, sakit, dan tidak diinginkan.

2) Hal yang lain adalah Yesus tidak terlalu menekankan akan pelaksanaan hukum Taurat (lihat penjelasan hukum taurat yang terdiri dari 3 hal disini), namun lebih kepada disposisi hati. Disposisi hati ini sangat penting, karena apa yang ada di dalam akan terekpresi keluar, seperti yang dikatakan Yesus bahwa dengan melihat perempuan dan menginginkannya, seseorang sudah berzinah.

3) Bagaimana mungkin Yesus memberikan perintah yang begitu sulit untuk dilaksanakan? Yesus telah memampukan menusia untuk menjalankan perintah Kristus, seperti yang dikatakan dalam kotbah di bukit, dengan memberikan diri-Nya sendiri, sehingga melalui Kristus berkat Allah tercurah, yaitu dalam Sakramen Baptis. Hukum yang baru yang ditetapkan oleh Kristus dinamakan “Berkat atau the law of grace“, yang memperbaharui hukum Taurat.

4) Dari dasar ini, pada waktu Yesus mengatakan kalau kita ditampar pipi kanan, kita harus memberikan pipi kiri, harus dilihat suatu sikap hati yang benar, bukan secara literal. Ini juga dicontohkan oleh Yesus pada waktu Dia ditampar oleh seorang prajurit “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku? (Yoh 18:23). Dari jawaban Yesus dan penderitaan yang dialami oleh Yesus, maka kita melihat bahwa Yesus tidak hanya memberikan perintah, namun Dia sendiri menjalankannya, bahkan memberikan Diri-Nya melalui penderitaan dan kematian-Nya kepada manusia yang menolak Dia, untuk keselamatan seluruh umat manusia. Disinilah Yesus menjalankan apa yang Dia katakan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44); sebab di kayu salib-Nya, Ia-pun berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lk 23:34)

5) Ini juga menjadi inti dari perintah kekudusan, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama, dimana dimulai dari hati. Sesuatu yang terlihat baik dari luar belum tentu membuat orang diselamatkan kalau dia melakukannya bukan didasarkan kasih namun untuk kebanggaan diri sendiri. Perbuatan baik yang mengalir dari hati yang penuh kasih kepada Tuhan inilah yang akan diperhitungkan oleh Tuhan. Dan sikap inilah yang akan membawa kita kepada kesempurnaan, seperti yang dikatakan oleh Yesus pada akhir kotbahnya di bukit “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48).

Demikian apa yang dapat saya sampaikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Andreas. Mari kita bersama-sama berjuang untuk menjadi sempurna, yaitu berjuang untuk hidup kudus, yang diwujudkan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Kidung Agung 8:1-3 menceritakan Inkarnasi Kristus

9

Kitab Kidung Agung, suatu ungkapan kasih antara Kristus – sebagai mempelai pria dan Israel/Gereja/Jiwa -sebagai mempelai wanita

Ada berapa banyak orang yang membaca Kitab Kidung Agung dan terperangah serta menggaruk-garuk kepala, karena isinya yang dirasakan terlalu “berani” untuk menjadi bagian dari Kitab Suci. Namun kalau kita percaya bahwa Kitab Kidung Agung adalah menjadi bagian dari Sabda Allah, dan Gereja Katolik dengan inspirasi Roh Kudus, memasukkan Kitab ini menjadi bagian dari Kitab Suci, maka Kitab ini juga akan memberikan begitu banyak hikmat, yang menuntun manusia pada kepenuhan Wahyu Ilahi. Kalau kita mempelajari lebih dalam, sungguh kitab Kidung Agung adalah suatu puisi, jeritan hati yang terdalam, ungkapan hati dari sepasang kekasih.

Memang tidak mudah untuk mengerti Kitab Kidung Agung. Namun, kalau kita melihat ke belakang, melihat sejarah Gereja, begitu banyak Bapa Gereja yang menuliskan komentar tentang Kitab Kidung Agung. Mereka melihat bahwa sepasang kekasih yang saling bersahut-sahutan ini mewakili hubungan antara Allah dengan Israel, atau Kristus dengan Gereja, atau Kristus dengan jiwa kita masing-masing. Dan untuk mengungkapkan hubungan yang tak terpisahkan, maka digunakan bahasa puisi sehingga terlihat ekspresi kedekatan dan kemesraan antara keduanya. Dalam tatanan kodrat (natural order), hubungan apakah yang lebih intim daripada hubungan sepasang suami-istri? Bahkan, Gereja Katolik melihat hubungan seksual antara suami-istri sebagai sesuatu yang agung dan suci, karena menggambarkan Trinitas. Kalau dalam Trinitas pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus, maka dalam hubungan suami istri, pertukaran kasih antara suami dan istri menghasilkan keturunan. Begitu sucinya hubungan ini, sehingga membuat sebuah perkawinan tidak terceraikan. Di dalam konteks kesucian perkawinan (tatanan kodrat) inilah dan dalam hubungannya antara Kristus dan Israel, Gereja, dan jiwa kita (tatanan adi-kodrati), maka kita dapat menginterpretasikannya dengan baik dan menangkap esensi dari Kitab Kidung Agung. Mari sekarang kita melihat Kidung Agung 8:1-3.

1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki, yang menyusu pada buah dada ibuku, akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!
2.  Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku, supaya engkau mengajar aku. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.
3.  Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

8:1, Harapan akan kedatangan Mesias

8:1. O, seandainya engkau saudaraku laki-laki:

Kita akan terperangah membaca hal ini. Mengapa mempelai wanita malah mengharapkan mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, saudara sekandung yang menyusu pada buah dada ibu yang sama? Apakah dengan demikian mempelai wanita ingin bercinta dengan saudara sepupuan? Sebenarnya tidaklah seperti itu, kita mengartikan ayat ini. Berikut ini adalah beberapa interpretasi tentang hal ini: ((lih. Blaise Arminjon, The Cantata of Love : a verse-by-verse reading of the Song of Songs (San Francisco: Ignatius Press, 1988), p.325-333)) 

a) Father Buzy, seorang ahli Alkitab menginterpretasikan bahwa pada jaman tersebut (oriental tradition), seorang mempelai wanita tidak dapat untuk mengekpresikan kasihnya kepada mempelai pria di depan umum. Hal ini sama seperti kalau kita melihat beberapa tradisi upacara pengantin Jawa, atau daerah lain, yang sama sekali tidak ada saling mencium atau memeluk di depan umum. Atau kalau kita melihat sepasang kekasih di pedesaan, di mana tradisi masih dipegang sangat kuat, maka mereka tidak dapat menunjukkan kasih mereka di depan umum, tidak seperti orang pacaran jaman sekarang di kota-kota yang bebas mengekpresikan perasaan mereka.

Dalam konteks inilah, mempelai wanita mengharapkan agar mempelai prianya adalah saudara laki-lakinya, sehingga dengan demikian dia dapat mengekspresikan kasihnya secara bebas. Ekspresi kasih di sini jangan diartikan sebagai hubungan seksual, namun sebagai ekspresi kasih yang suci. Hal ini diungkapkan juga oleh Rasul Paulus, dengan mengatakan “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.” (Rom 16:16).

b) Analisa yang lain adalah, mempelai wanita menginginkan hubungan yang lebih murni dan seimbang dengan mempelai prianya, seperti hubungan kasih antara sesama saudara.

c) Pengertian yang lain, yang kita dapat tarik adalah mempelai wanita menginginkan agar mempelai prianya, bukan hanya menjadi suaminya, namun juga sebagai saudara laki-lakinya. Kita melihat bagaimana mempelai pria di ayat-ayat sebelumnya, memanggil mempelai wanita sebagai “dinda (ITB) / sister (RSV)” (lih. Kid 4:9,10,12; 5:1,2)

8:1. yang menyusu pada buah dada ibuku

Dalam beberapa kesempatan, sang mempelai pria memanggil sang kekasih bukan saja dengan mempelai wanita, namun juga dinda atau sister (RSV), seperti:

9. Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu. 10  Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku! Jauh lebih nikmat cintamu dari pada anggur, dan lebih harum bau minyakmu dari pada segala macam rempah. 12 Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai.” (Kid 4:9-10, 12)

1. Aku datang ke kebunku, dinda, pengantinku, kukumpulkan mur dan rempah-rempahku, kumakan sambangku dan maduku, kuminum anggurku dan susuku. Makanlah, teman-teman, minumlah, minumlah sampai mabuk cinta! 2.  Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!” (Kid 5:1-2)

Memang perkataan dinda, sister (RSV), (Ibrani H269 = achoth ), dapat diartikan secara luas, baik untuk saudara perempuan dari orang tua yang sama, dari ibu atau ayah yang sama, atau dapat juga untuk menyebutkan mempelai wanita. Namun, semuanya menyatakan akan keintiman hubungan antara pria dan wanita yang diikat oleh kasih, baik kasih dalam ikatan darah maupun antara sepasang kekasih.

Kita juga tahu bahwa pada jaman dahulu, seorang suami mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada seorang istri. Dalam beberapa ayat di atas, mempelai pria begitu menghargai dan mengasihi mempelai wanitanya, sehingga dia bukan hanya ingin menjadikan mempelai wanita sebagai istri, namun juga sebagai saudara wanita, yang mempunyai derajat yang sama. Dia ingin mengangkat mempelainya, sehingga mempelai pria dan mempelai wanita dapat mengasihi dengan kasih yang seimbang.

Namun, mempelai wanita yang menyadari kodratnya sebagai seorang istri yang mempunyai kekudukan lebih rendah daripada suami tidak berani untuk menyebutkan mempelai pria sebagai saudara laki-lakinya, sampai pada bab 8. Kepercayaan ini timbul, karena mempelai prialah terlebih dahulu menyebutnya sebagai dinda atau sister. Dan dengan ungkapan yang sama, maka mempelai wanita mengharapkan bahwa mempelai laki-lakinya juga dapat menjadi saudara laki-lakinya.

“Yang menyusu pada buah dada ibuku” adalah suatu ungkapan harapan dari sang mempelai wanita – jiwa manusia, atau Israel, atau Gereja -, yang mengharapkan bahwa mempelai prianya adalah dari ras yang sama, sehingga mempunyai kodrat yang sama. ((Ibid, p.327 mengutip St. Bernard, Sermons sur le Cantique des Cantiques, Oeuvres mystiques, Sermon 83 (Paris: Seuil, 1953), p.849)).  Di sinilah terjadi suatu gambaran dari Inkarnasi. Dengan mempelai pria (Kristus) menyebutkan mempelai wanita sebagai saudara perempuan, maka Kristus ingin mengangkat umat Israel, Gereja, umat Allah, untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah, diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan mempelai wanita mengharapkan mempelai Pria adalah saudaranya laki-laki, maka Gereja mengharapkan agar Kristus dapat turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat melihat dan mengalami kasih dari Allah secara teraba, dan manusia dapat mengungkapkan kasihnya kepada Kristus secara lebih nyata. Dan dua harapan ini, hanya dapat tercapai dengan Inkarnasi, dimana Yesus, Sang Putera Allah, merendahkan diri-Nya sebagai manusia, sehingga Yesus dapat mengangkat harkat seluruh umat manusia ke tempat yang tinggi. Manusia yang diciptakan sebagai gambaran Allah dan Kristus yang turun ke dunia sebagai gambaran manusia, yang mempunyai kodrat sebagai manusia, membuat Kristus dapat mengajar dan menuntun manusia kepada kepenuhan kebenaran.

8:1. akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!

Dengan pengertian di atas, maka kita melihat bahwa Gereja mengharapkan agar Allah sendiri datang ke dunia, sehingga Gereja dapat menunjukkan kepada dunia, siapakah Tuhannya. Pada saat orang lain, yang mempunyai tuhan yang berhala, yang terbuat dari batu, kayu, dan gambaran lain, maka dengan bangganya, sang mempelai wanita akan mengatakan “akan kucium engkau bila kujumpai di luar” atau akan kutunjukkan kepada dunia siapakah Tuhanku.

Dengan bangga, Gereja akan menunjukkan kepada dunia, tubuh yang mati di kayu salib, adalah Tuhannya yaitu Yesus yang maha kasih dan maha adil, serta layak untuk mendapatkan penghormatan dan penyembahan melebihi apapun juga. Tidak ada yang menghina mempelai wanita, ketika dia menyatakan kemesraannya kepada mempelai pria. Mungkin lebih tepatnya, mempelai wanita tidak terlalu perduli akan sebagian orang-orang yang menghinanya. Iman Gereja tidak akan goyah mendengar orang-orang yang menghina Yesus, karena Gereja mengimani bahwa Yesus Kristus, kekasihnya adalah Tuhan. Bahkan Gereja akan menunjukkan kemesraan hubungan ini kepada seluruh dunia dengan cara mengikuti pesan mempelai pria yang berkata “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

8.2. Mesias yang datang ke tengah-tengah umat-Nya

8:2. Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku

Mempelai pria diceritakan senantiasa membimbing mempelai wanita di bab-bab sebelumnya. Namun, di ayat ini, diceritakan bagaimana mempelai wanita membimbing mempelai pria dan membawanya ke rumah ibunya. Dan lebih lagi, kita tidak melihat adanya keberatan dari mempelai pria, bahkan dia membiarkan dirinya dibimbing dan masuk ke rumah ibu dari mempelai wanita. Dia membiarkan dirinya menjadi kecil untuk masuk ke rumah ibunya.

Dan hari itulah yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Israel, seluruh Gereja, seluruh umat manusia, bahwa semuanya akan menyambut kedatangan Kristus ke dunia dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. “Ke rumah ibuku” adalah rumah dari mempelai wanita yang menggambarkan kedatangan Kristus ke tengah-tengah umat Israel, ke tengah-tengah Gereja dan ke tengah-tengah umat manusia seluruhnya. Inilah gambaran Inkarnasi, Allah yang mengunjungi umat-Nya, bukan hanya dengan perintah-perintah-Nya melalui perantaraan para nabi, namun Firman itu sendiri menjadi daging (lih. Yoh 1:14) dan hadir di tengah-tengah umat-Nya.

8.2. supaya engkau mengajar aku.

Kehadiran-Nya di dunia ini, menjadikan Sang Mesias dapat mengajar sang mempelai wanita, bukan hanya dengan kata-kata, namun Yesus menunjukkannya dengan perbuatan-Nya; bukan hanya dengan perintah untuk mengasihi, namun Dia menunjukkannya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, untuk keselamatan mempelai wanita-Nya (lih. Ef 5:25-26). Yesus menunjukkan jalan keselamatan kepada umat manusia, karena Dia sendiri adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup (lih. Yoh 14:6).

Supaya engkau mengajar aku” adalah suatu kerinduan manusia untuk mendengarkan Allah mengajar umat-Nya. Kita melihat Mzm 25:4-5 mengatakan “4. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5.  Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” Nabi Yeremia mengatakan bahwa semua orang tidak perlu mengajar satu sama lain, karena mereka sendiri akan melihat Sang Penyelamat yang datang ke dunia (lih. Yer 31:34). Penyelamat inilah yang dinubuatkan para nabi, dimana perkataaan-Nya adalah kebenaran, yang harus didengarkan oleh manusia (lih. Ul 18:15-18). Dan inilah yang dilakukan oleh Yesus, yaitu berbicara dan mengajar manusia (Mt 5:2), dan menuntun mereka kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Origen, seorang ahli Alkitab, terutama dalam menginterpretasikan buku Kidung Agung mengatakan “Mempelai wanita – Gereja diajar oleh Firman Allah [Yesus], mempelai laki-lakinya, tentang segala sesuatu yang disimpan dan tersembunyi di dalam istana kerajaan, dalam ruang Sang Raja.” ((Ibid, p.331, mengutip Origen, In Canticum Canticorum, p.13, 180B))

Pengajaran Yesus bukan hanya dengan perkataan, namun dengan perbuatan. Dan perbuatan-Nya dan pengajaran-Nya yang terbesar adalah dengan menderita dan mati di kayu salib. Inilah sebabnya, Bunda Maria, yang mewakili Gereja, berdiri di kayu salib, mendengarkan Sang Sabda, yang bersabda bukan dengan kata-kata namun dengan bilur-bilur-Nya, luka-luka-Nya, dan dengan setiap tetesan darah-Nya. Inilah sebabnya, Bunda Maria, secara lebih dalam mengerti dan mengasihi Sang Sabda dan terus berkata “FIAT / YA” terhadap setiap kehendak Bapa yang terjadi di dalam kehidupannya, termasuk dalam setiap penderitaan yang dialaminya. Dengan FIAT-nya, Bunda Maria terus melangkah maju dalam peziarahan iman. ((Lumen Gentium, 58: Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkandiri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya. Lihat juga Redemptoris Mater, 18))

8:2. Akan kuberi kepadamu anggur yang harum untuk diminum, air buah delimaku.

Mempelai Pria, yang telah membuktikan kasih-Nya kepada mempelai wanita dengan mati di kayu salib dan telah mengajarkan Firman yang hidup, membuat sang mempelai wanita berani untuk menawarkan dirinya, yaitu dengan menawarkan kepada mempelai pria “anggur yang harum untuk diminum“. Namun, setelah diajar oleh Sang Mempelai Pria, maka mempelai wanita menyadari bahwa apa yang dia tawarkan bukanlah keseluruhan dirinya.

Manusia hanya dapat mengerti dirinya sendiri dalam terang Kristus. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II, dalam Ensiklik “Redemptor Hominis” atau Penebus manusia, paragraf 8 mengatakan bahwa Kristus, sebagai Adam yang baru, yang memberikan wahyu tentang misteri Allah Bapa dan kasih-Nya, telah membuka manusia akan dirinya sendiri dan membawa panggilan kudusnya ke dalam terang. Di dalam penebusan Kristus, maka manusia menyadari akan bahaya dosa yang dapat menyeretnya kepada neraka, dan di satu sisi, manusia dapat menyadari bahwa dia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Gen 1:27), yang telah ditebus oleh Putera Allah, sehingga manusia dapat menjadi anak-anak angkat Allah. Dan pada saat manusia yang telah ditebus menyadari hakekat dirinya sendiri sebagai anak Allah, yang harus bertindak dan bersikap sebagai anak Allah, maka dia dapat menawarkan kepada Kristus, “air buah delima“, yaitu hati dari hatinya, yaitu hatinya yang terdalam.

8:3. Hubungan antara Kristus dan Gereja, yang diikat oleh kasih

8:3. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

Setelah mengerti kedalaman hati masing-masing dan kedalam kasih dari Sang Mempelai Pria, maka yang dilakukan oleh mempelai wanita adalah bersatu dalam hubungan yang mesra dan akrab bersama dengan Mempelai Pria. Persatuan antara manusia dan Kristus hanyalah mungkin di dalam kasih, karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Di dalam persatuan kasih inilah, maka manusia dapat bersikap seperti rasul Yohanes, yang menyandarkan kepalanya kepada Yesus dalam Perjamuan Suci (lih. Yoh 13:23). Dan dalam kesempurnaan kasih inilah, Yohanes, Sang Murid yang dikasihi Yesus mengambil Bunda Maria sebagai bundanya, karena orang yang mengasihi mempunyai sesuatu yang sama, yang saling berbagi. Persatuan antara Mempelai Pria (Kristus) dan mempelai wanita (Gereja) yaitu dengan kita semua sebagai anggota Gereja diwujudkan dengan Ekaristi/ Misa Kudus. Melalui Ekaristi, kita mengalami persatuan dengan Kristus sendiri yang telah menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya demi kasih-Nya kepada kita.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka terlihat jelas, bahwa Kitab Kidung Agung, kalau dimengerti dengan benar, akan memberikan pemahaman yang begitu dalam akan hubungan antara Tuhan dengan Israel, dengan Gereja dan dengan seluruh umat manusia. Di sinilah terlihat hubungan yang dalam antara Kristus – sebagai mempelai pria – dengan Gereja – sebagai mempelai wanita (lih. Ef 5) Kemesraan yang ditunjukkan di dalam Kidung Agung, yang dibuat dalam bentu puisi, tidak boleh hanya dimengerti sebagai kemesraan antara pria dan wanita, namun secara lebih dalam harus dimengerti sebagai ungkapan hubungan kasih antara Kristus dengan Gereja dan diri kita masing-masing. Dengan pengertian ini, maka sungguh layaklah bahwa Kitab Kidung Agung menjadi bagian dari Alkitab. Mari kita bersama-sama mendalami Kitab ini bersama dengan Gereja, sehingga kita dapat memperoleh pengertian yang benar dan dapat membantu pertumbuhan kehidupan spiritual kita masing-masing.

Warna merah muda pada masa Adven

15

Pertanyaan:

Salam Damai kepada para pengasuh website ini,
Apa yang disajikan di website ini sangat membantu saya dalam mendalami iman katolik, ada banyak hal yang saya dapat dengan membaca yang tersaji di website ini.
Saat ini ada 2 pertanyaan yang ingin saya ungkapkan:
1. beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca di website ini mengenai warna-warna Adven, dimana minggu ke 1,2 dan 4 warna Ungu dan minggu ke3 warna merah muda. Yang menjadi pertanyaan saya : apakah warna merah muda hanya berlaku untuk hari minggu adven ke-3 saja atau 7 hari dalam minggu adven ke-3 ? Hal ini membuat saya bingung saat melihat kalender di website ini, hanya hari minggu adven ke-3 (tgl 13 Des) saja yang warna merah muda, sedangkan hari senin – sabtu (tgl 14-19) yang masih dalam minggu adven ke-3 memakai warna ungu.
2. Saat ini saya sebagai sekretaris lingkungan yang juga membuat warta lingkungan secara bulanan. Apabila saya mengambil tulisan di website ini untuk dimasukkan ke warta lingkungan kami, bagaimana cara dan syaratnya ?
Terima kasih atas kesediaan para pengasuh untuk menjawab pertanyaan saya diatas.
Tuhan Memberkati pelayanan para pengasuh website ini.

regards,
Lisa

Jawaban:

1. Warna merah muda yang artinya adalah sukacita dan kebahagiaan ( joy, happiness, rejoice) memang hanya dipakai pada hari Minggu Adven ke-3/ Gaudete Sunday (atau ke-4/ Laurete Sunday) yang maksudnya mengingatkan bahwa Natal sebentar lagi akan tiba. Umumnya, Gereja Katolik menggunakan warna liturgi merah muda (pink/ rose) pada jubah Pastor/ imam, maksudnya untuk menandai bahwa saat hari Minggu itu kita telah berada di pertengahan masa Adven. Digunakan hanya pada hari Minggu-nya saja (dan bukan pada hari-hari sesudahnya) karena setiap hari Minggu pada dasarnya adalah hari perayaan, di mana kita memperingati hari kebangkitan Kristus. Sedangkan pada hari-hari biasa kita kembali menerungkan masa Pertobatan pada masa Adven, sehingga warna yang digunakan adalah tetap ungu.

Aturan tentang penggunaan warna-warna dalam liturgi ada dalam General Instruction of the Roman Missal yang baru, dengan ketentuan sebagai berikut:

General Instruction of the Roman Missal, No. 346.

“As to the color of sacred vestments, the traditional usage is to be retained: namely,

“a. White is used in the Offices and Masses during the Easter and Christmas seasons; also on celebrations of the Lord other than of his Passion, of the Blessed Virgin Mary, of the Holy Angels, and of Saints who were not Martyrs; on the Solemnities of All Saints (1 November) and of the Nativity of Saint John the Baptist (24 June); and on the Feasts of Saint John the Evangelist (27 December), of the Chair of Saint Peter (22 February), and of the Conversion of Saint Paul (25 January).

“b. Red is used on Palm Sunday of the Lord’s Passion and on Good Friday, on Pentecost Sunday, on celebrations of the Lord’s Passion, on the feasts of the Apostles and Evangelists, and on celebrations of Martyr Saints.

“c. Green is used in the Offices and Masses of Ordinary Time.

“d. Violet or purple is used in Advent and of Lent. It may also be worn in Offices and Masses for the Dead (cf. below).

“e. Besides violet, white or black vestments may be worn at funeral services and at other Offices and Masses for the Dead in the Dioceses of the United States of America.

“f. Rose may be used, where it is the practice, on Gaudete Sunday (Third Sunday of Advent) and on Laetare Sunday (Fourth Sunday of Lent).

“g. On more solemn days, sacred vestments may be used that are festive, that is, more precious, even if not of the color of the day.

“h. Gold or silver colored vestments may be worn on more solemn occasions in the dioceses of the United States of America.”

To this we may add the observation of the instruction “Redemptionis Sacramentum,” Nos. 121 and 127.

[121.] “The purpose of a variety of color of the sacred vestments is to give effective expression even outwardly to the specific character of the mysteries of faith being celebrated and to a sense of Christian life’s passage through the course of the liturgical year.” On the other hand, the variety of offices in the celebration of the Eucharist is shown outwardly by the diversity of sacred vestments. In fact, these “sacred vestments should also contribute to the beauty of the sacred action itself.”

[127.] “A special faculty is given in the liturgical books for using sacred vestments that are festive or more noble on more solemn occasions, even if they are not of the color of the day. However, this faculty, which is specifically intended in reference to vestments made many years ago, with a view to preserving the Church’s patrimony, is improperly extended to innovations by which forms and colors are adopted according to the inclination of private individuals, with disregard for traditional practice, while the real sense of this norm is lost to the detriment of the tradition. On the occasion of a feast day, sacred vestments of a gold or silver color can be substituted as appropriate for others of various colors, but not for purple or black.”

Jadi, warna merah muda memang digunakan hanya pada hari Minggu ke 3 Adven, (atau juga pada hari Minggu ke-4 Adven), tergantung kebiasaan keuskupan setempat. Dan pada hari-hari biasa di masa Adven, warna tetap ungu. Namun jika di paroki tidak ada vestment/ jubah Pastor warna merah muda tersebut, yang dipakai adalah tetap warna ungu.

2. Jika anda ingin mengutip artikel ataupun kutipan tanya jawab di situs ini, silakan saja, namun harus disebutkan sumbernya, yaitu katolisitas.org. Maksudnya, supaya jika ada yang mau memberikan pertanyaan atau saran dapat langsung menghubungi kami. Dan juga dengan disertakan sumbernya, semoga semakin banyak umat Katolik dapat membaca dan menambah pengetahuan iman Katolik, yang antara lain termuat dalam situs ini.

Terima kasih atas kunjungan anda ke situs Katolisitas, semoga Tuhan juga memberkati karya kerasulan awam yang anda lakukan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab