Home Blog Page 27

Apakah imanku bersinar di tengah kegelapan?

0
Sumber gambar: https://www.pinterest.com/pin/367113807103870317/?from_navigate=true

[Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan:  Kis 13:14,43-52; Mzm 100:2-5; Why 7:9-17; Yoh 10:27-30]

“Anak-anak Irak ini telah kehilangan semuanya, kecuali iman mereka,” demikian judul artikel yang kubaca dari CNA (Catholic News Agency). Artikel itu mengisahkan tentang 600 anak-anak yang bersekolah di tempat pengungsian di Ankawa, daerah keuskupan Erbil, di daerah Kurdistan, Irak utara. Mereka kehilangan rumah, sekolah, teman-teman dan lingkungan hidup yang normal. Namun ada satu hal yang tidak pernah hilang, dan bahkan bertumbuh makin kuat hari demi hari, yaitu: iman mereka. Ini tak lepas dari pelayanan para biarawati Dominikan yang menampung mereka di sekolah St. Katarina dari Siena di Ankawa. Selain para biarawati, ada sukarelawan yang juga membantu mendidik anak-anak tersebut. Membaca artikel itu, aku turut merasa prihatin, namun juga turut bersyukur untuk suatu titik terang yang bercahaya dalam kegelapan. Yaitu bahwa nyala iman akan Kristus tidak dapat dipadamkan dengan penganiayaan ataupun kesulitan. Nyala itu malah semakin terang, yang membuktikan penyertaan Allah terhadap umat-Nya. Namun juga, terang iman itu dapat tetap bernyala karena keterlibatan sesama umat beriman: para orangtua, biarawati, imam, sukarelawan, guru, donatur yang memungkinkan pendidikan bagi anak-anak itu terus berlangsung.

Demikianlah, sejak awalnya, Gereja memang tak pernah lepas dari kesulitan dan penganiayaan. Bacaan pertama mengingatkan kita akan tekanan dan penganiayaan yang dialami oleh para rasul dari orang-orang Yahudi dan para pembesar di kota Antiokhia, setelah mereka mewartakan Injil. Namun meskipun mereka dianiaya, “murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus” (Kis 13:52). Sepertinya penderitaan yang mereka alami bahkan memurnikan dan menumbuhkan semangat mereka untuk mengikuti jejak Kristus. Kesulitan yang ada malah mempererat kasih dan sukacita di antara sesama jemaat untuk saling meneguhkan iman.

Di Bacaan Kedua, Rasul Yohanes pun menyampaikan buah yang indah dari penderitaan. Ia melihat  bahwa di Surga terdapat kumpulan orang-orang yang tak terhitung banyaknya yang memakai jubah putih dan memuliakan Allah. Mereka adalah orang-orang yang “telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Why 7:14). Orang-orang itu adalah para kudus dan martir “yang telah keluar dari kesusahan besar” dengan tetap teguh mempertahankan iman mereka akan Kristus Sang Anak Domba Allah yang telah menebus dosa-dosa dunia dengan darah-Nya. Sungguh, betapa bahagianya, jika kelak kita pun tergabung dalam bilangan para kudus-Nya, yang berdiri di hadapan takhta Allah dan memuji Tuhan siang dan malam. Di dalam Kerajaan-Nya itu tiada lagi lapar dan dahaga, tangis dan air mata. Namun semasa kita masih hidup di dunia ini, Tuhan menghendaki agar kita melaksanakan tugas-tugas kita, seperti yang telah dilakukan oleh para orang kudus itu yang telah mendahului kita. Mereka tetap setia beriman di tengah kesulitan dan penganiayaan. Mereka tidak menyerah di tengah pencobaan. Iman dan kasih mereka bersinar di tengah kegelapan, untuk memberikan pengharapan bahwa pada akhirnya, kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Mungkin baik kita renungkan bersama, bagaimanakah perjalanan iman kita saat ini. Sebab mungkin kita tidak sedang berada dalam penganiayaan, namun besar kemungkinan, keadaan di sekitar kita tidak sepenuhnya mendukung kita untuk bertumbuh di dalam iman. Mungkin kita terjebak dalam rutinitas dan kesibukan pekerjaan. Atau pasangan kita,  keluarga maupun sahabat kita kurang peduli akan masalah iman. Atau kita mengalami suatu permasalahan yang sepertinya belum kelihatan jalan keluarnya. Atau orang-orang terdekat kita memutuskan untuk meninggalkan Tuhan dan Gereja-Nya. Apapun pergumulan kita, bacaan-bacaan Kitab Suci di hari Minggu ini mengingatkan kita untuk terus terikat pada Tuhan dan berharap kepada-Nya. Selalu ada yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan nyala iman kita, dan nyala iman sesama kita. Bahkan hari Minggu ini, Gereja mengajak kita semua untuk secara khusus berdoa dan mendukung panggilan religius sebagai imam, biarawan dan biarawati, yang di sepanjang sejarah telah menjaga nyala iman dalam Gereja. Sebab melalui pengorbanan mereka, kita sebagai anggota-anggota Gereja dapat terus menerima sakramen-sakramen, dan memperoleh teladan iman dari mereka. Para religius tersebut mengambil cara hidup Yesus menjadi cara hidup mereka sendiri. Mereka telah “hidup seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6): mempersembahkan diri seutuhnya untuk Tuhan, hidup selibat untuk Kerajaan Allah.  Sudahkah kita mendorong bertumbuhnya benih panggilan dalam keluarga maupun lingkungan gerejawi kita?  Bagi kaum muda, terpanggilkah Anda untuk menjadi imam, biarawan, atau biarawati? Atau terpanggilkah kita, kaum awam, untuk turut mendukung karya-karya mereka, seperti menjadi pendoa? Relawan? Pewarta iman? Donatur? Pekerja dan pelayan? Apa pun yang kita lakukan, asal didorong oleh motivasi untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan, akan menumbuhkan iman kita; dan bersama-sama dengan para imam, biarawan dan biarawati, kita menjaga nyala iman dalam Gereja. Tentu dengan bantuan rahmat Tuhan, yang secara khusus diberikan kepada kita melalui sakramen-sakramen-Nya, terutama Ekaristi dan Tobat.

Injil mengingatkan bahwa kita adalah milik Kristus dan kawanan domba-Nya. Tuhan Yesus mengenal dan mengasihi kita satu per satu. Ia akan menjaga kita dan tak akan membiarkan siapapun merenggut kita dari tangan-Nya (lih. Yoh 10:28). O, betapa besar kasih-Nya pada kita! Tuhan memang menjaga kita, asalkan kitapun mau dijaga dan dibimbing oleh-Nya. Maka mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah kita setia berpegang erat kepada Sang Gembala surgawi ini? Apakah kita sungguh mengikutiNya dalam iman dan perbuatan kita? Apakah kita pun mengenaliNya dan mendengarkan suara-Nya? Apakah kita mau menjauhkan diri dari godaan dan dosa yang ditawarkan dunia? Sebab jika kita melekat kepada Kristus dan terus setia berpegang kepada-Nya, kita bagaikan secercah nyala lilin di tengah keremangan dunia ini. Nyala api itu kita peroleh dari Kristus Sang Terang, yang menghendaki kita meneruskan cahaya-Nya di tengah dunia. Di manapun dan apapun keadaan kita, Tuhan Yesus mengutus kita untuk mewartakan kasih dan kebaikan-Nya kepada semua orang. Dengan demikian kita menyatakan iman kita dan bertumbuh di dalamnya, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita akan kehidupan kekal yang dijanjikan oleh-Nya.

Tuhan Yesus, kami bersyukur untuk karunia para imam, biarawan dan biarawati, yang telah mengikuti jejak-Mu memberikan diri mereka seutuhnya untuk Kerajaan Allah. Jadikanlah terang-Mu bercahaya atas mereka dan atas kami umat-Mu, agar terang itu dapat kami bawa kepada dunia di sekitar kami. Biarlah terang keselamatan-Mu itu menyinari dan menarik semua orang, agar mengenal dan percaya kepadaMu. Supaya setiap orang menaruh pengharapan akan kebahagiaan kekal di dalam Engkau, ya, Tuhan, dan bermadah bagi-Mu, ‘Bahagia kuterikat pada Yahweh, harapanku pada Allah Tuhanku’!

Beriman dan taat adalah perjuangan

0
Sumber gambar: https://tvaraj2inspirations.wordpress.com/2012/05/25/jesus-said-simon-son-of-john-do-you-love-me-more-than-these/

[Minggu Paskah III  Kis 5:27-41; Mzm 30:2-13; Why 5:11-14; Yoh 21:1-19]

“Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia….” (Kis 5:29) Demikianlah, dalam minggu ini, beberapa kali kita diingatkan akan ayat ini, yang menyatakan keteguhan iman para rasul. Memang, setelah kebangkitan Kristus, para rasul menjadi semakin yakin dan percaya bahwa Kristus adalah Pemimpin dan Penyelamat yang kepada-Nya mereka harus taat. Sebab mereka telah melihat dan mengalami, bahwa semua yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebelum wafat-Nya, tergenapi. Yaitu bahwa Ia akan diserahkan ke tangan para tua-tua Yahudi, akan menderita sengsara, wafat dan bangkit pada hari yang ketiga. Ini sudah dikatakan oleh Yesus sebelum wafat-Nya, bahkan sampai tiga kali, tetapi hal tersebut tidak langsung dipahami oleh para rasul. Baru, pada waktu mereka melihat kubur-Nya yang kosong, lalu Yesus menampakkan diri di tengah-tengah mereka dan bahkan makan bersama mereka, maka mereka menjadi percaya. Para rasul pun mengalami semacam “proses” pertumbuhan iman, saat mereka mengalami kehadiran Kristus secara baru dalam hidup mereka.   

Mari secara khusus kita renungkan apa yang terjadi pada Rasul Petrus. Sebagai pemimpin para rasul, di banyak kesempatan Rasul Petrus tampil sebagai yang pertama bertindak maupun berkomentar. Sering tanpa berpikir terlalu jauh. Di malam sebelum Yesus menderita sengsara, Yesus telah mengingatkan para murid-Nya bahwa mereka semua akan tergoncang imannya. Namun menanggapi pernyataan itu, Petrus spontan menjawab, “Biarpun mereka [para rasul lainnya] tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 22:33). Suatu jawaban yang terkesan “sombong”; menganggap diri lebih kuat iman daripada para rasul lainnya, dan juga menganggap diri lebih mengenal dirinya sendiri daripada Tuhan Yesus mengenalnya. Baru ketika nubuat Yesus terpenuhi, yaitu bahwa ia ternyata menyangkal Yesus sampai tiga kali sebelum ayam berkokok (Mat 22:69-75); akhirnya Rasul Petrus mengakui kelemahannya dalam tangis dan air mata. Dan mungkin di saat itu lah ia berjanji kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri untuk bersikap lebih rendah hati di kemudian hari.

Kesempatan bagi Rasul Petrus untuk memperbaiki kesalahannya itu akhirnya tiba, saat Tuhan Yesus menampakkan diri ketiga kalinya setelah kebangkitan-Nya, di pantai danau Tiberias. Saat itu Rasul Petrus bersama enam orang rasul lainnya sedang berusaha menangkap ikan, walaupun semalaman mereka tidak memperoleh apa-apa. Yesus datang, tapi mereka tidak mengenali-Nya, mungkin karena jarak, atau mungkin juga karena mereka telah kelelahan akibat kerja keras semalaman tanpa hasil. Yesus bertanya apakah mereka mempunyai lauk pauk; yaitu, apakah mereka telah mendapatkan ikan. Ketika “tidak” adalah jawab mereka, Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke kanan perahu. Dan secara ajaib, mereka lantas memperoleh banyak ikan. Sontak Rasul Yohanes mengenali Siapakah itu yang telah berkata-kata kepada mereka. “Itu Tuhan,” katanya kepada Petrus. Petrus langsung terjun ke air menuju ke tepi, untuk menemui Tuhan Yesus. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Rasul Petrus saat itu. Mungkin ingin menebus kesalahannya, mungkin pula rasa haru, melihat Tuhan Yesus datang lagi menemui mereka dan bahkan memberi mukjizat banyaknya ikan yang mereka tangkap. Tahu persis isi hati Petrus, Tuhan Yesus bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau,” jawab Petrus. Kali ini Petrus tidak menambahkan, “melebihi mereka.” Yesus pun bertanya dua kali lagi pertanyaan yang sama. Dan Rasul Petrus pun memperoleh kesempatan untuk menyatakan kasihnya tiga kali, seolah untuk “mengobati” penyangkalannya akan Yesus yang telah dilakukannya sebanyak tiga kali juga.  Rasul Petrus akhirnya menjawab, bahwa Tuhan Yesus yang mengetahui segala sesuatu, tentunya mengetahui apa yang ada di dalam hatinya, yaitu bahwa ia mengasihi Yesus. Tuhan Yesus menerima pernyataan kasih Petrus itu, dan memercayakan kepadanya tugas yang sangat besar:  menggembalakan domba- domba-Nya, yaitu semua orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus menerima pertobatan Rasul Petrus dan tidak memperhitungkan kesalahannya yang dahulu.  Yang diperhitungkan Tuhan Yesus adalah kasihnya. Ya, yang dipandang Tuhan adalah sejauh mana kita mengasihi Dia. “O Tuhan, tambahkanlah kasihku kepada-Mu!”

Injil ditutup dengan nubuat Yesus akan kematian Rasul Petrus. Di usia tuanya, Petrus akan  dibawa ke tempat yang tidak dikehendakinya; dan dengan demikian ia sungguh-sungguh mengikuti Yesus, bahkan sampai pada caranya wafat disalibkan  (lih. Yoh 21:18-19). Dengan kagum St. Agustinus menulis tentang kemartiran Rasul Petrus demikian, “Sang penyangkal namun juga sang kekasih, yang dulu congkak oleh kesombongan, jatuh oleh penyangkalan, dimurnikan oleh air mata, diteguhkan oleh pengakuan, dimahkotai oleh ketahanan akan penderitaan, menemui akhirnya, bahwa ia wafat demi kasih sempurna kepada Kristus, yang kepada-Nya ia dengan terburu-buru tanpa pikir telah berjanji akan mati. Dikuatkan oleh Kebangkitan-Nya, ia [Petrus] melakukan apa yang dalam kelemahannya  telah ia janjikan. Dan kini ia tidak takut akan pembongkaran hidupnya di dunia, sebab Tuhan yang sudah bangkit telah menunjukkan kepadanya pola kehidupan yang lain.” (St. Augustine)

Tuhan Yesus, aku mengandalkan Engkau!

0
sumber gambar: http://princeofpeace.me/events/divine-mercy-sunday

[Minggu Kerahiman Ilahi Kis 5:12-16; Mzm 118:2-27, Why 1-19; Yoh 20:19-31]

Kutatap layar televisi di hadapanku. Kubaca berita duka cita, yang mungkin sebenarnya adalah berita suka cita, jika dilihat dari kacamata surgawi. Mother Angelica, seorang biarawati pendiri EWTN (Eternal Word Television Network)—stasiun TV Katolik terbesar di Amerika, dan mungkin juga di dunia—telah wafat di usia 92 tahun pada hari Minggu Paskah, tanggal 27 Maret 2016 lalu. Bukankah tak ada hari yang lebih indah untuk berpulang ke rumah Allah Bapa selain di hari Raya Paska?

Hari-hari sesudahnya, ucapan belasungkawa dari seluruh dunia mengalir ke biara Our Lady of the Angels di Hanceville, Alabama, USA. EWTN pun menayangkan berbagai acara untuk mengenang Mother Angelica. Terus terang, bagiku, ia adalah seorang teladan dan pewarta iman yang sangat menginspirasi. Tak banyak orang yang dapat berbicara tentang Tuhan Yesus dengan kasih yang begitu besar, seperti yang kulihat ada pada Mother Angelica. Entah sudah berapa banyak jiwa yang dicerahkan melalui pewartaannya, dan dibawa kembali pulang ke pangkuan Tuhan Yesus dan Gereja-Nya. Ia menumbuhkan kembali semangat berdevosi di dalam hati umat Katolik, kepada Tuhan Yesus dan para kudus-Nya.  Ia lah yang pertama kali memperkenalkan kepadaku—tentu lewat salah satu program acaranya—tentang devosi Kerahiman Ilahi, di tahun 1998 yang lalu. Di acara-acara pengajarannya, Mother Angelica sering mengulas tentang kerahiman Allah, yang kita terima terutama jika kita bertobat dan  mempercayakan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Dengan kata lain, mengandalkan Tuhan. Itulah pesan yang sangat “khas” di hari Minggu Kerahiman Ilahi. Tuhan Yesus begitu maharahim dan berbelas kasih kepada kita, dan layaklah kita mengandalkan Dia!  

Bacaan Injil hari ini mengisahkan dua peristiwa. Yaitu pada hari Minggu malam, di hari Kebangkitan Yesus, dan kemudian, di hari Minggu seminggu sesudahnya. Di kesempatan pertama, Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya, masuk ke dalam ruangan yang pintu-pintunya terkunci, untuk menemui para rasul-Nya yang “takut kepada orang-orang Yahudi” (Yoh 20:19). Mereka mungkin khawatir bahwa orang-orang Yahudi itu pun akan menganiaya mereka, seperti yang telah dilakukan terhadap Guru mereka. Maka Tuhan Yesus datang untuk menghibur dan memberi kekuatan kepada para murid itu. Ia berdiri di tengah mereka, dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”, lalu menunjukkan bekas-bekas luka-Nya. Para rasul yang berkumpul di sana, kecuali Thomas, mengenaliNya dan bersukacita melihatNya. Tuhan Yesus tak hanya menghibur mereka, namun juga mengutus dan memberikan penugasan baru kepada mereka, setelah menghembusi mereka dengan Roh Kudus-Nya. Tugas baru itu adalah  tugas untuk mengampuni dosa. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:21-23).  Ini adalah suatu perintah besar dari Yesus  yang mereka lakukan dan yang dengan setia terus dilakukan oleh para penerus mereka—yaitu para imam di Gereja Katolik—di sepanjang zaman.

Rasul Thomas yang tidak ada di sana ketika Yesus datang, tidak percaya bahwa teman-temannya itu telah melihat Yesus yang bangkit. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Ini adalah suatu perkataan yang mungkin juga mewakili kekerasan hati banyak orang sampai saat ini. Banyak orang yang inginnya melihat sendiri suatu tanda atau mukjizat, baru bisa percaya.

Seminggu kemudian Kristus datang lagi, saat Thomas ada di sana. Tanpa diberitahu, Yesus langsung berkata Thomas agar ia meletakkan jarinya di bekas luka di tangan Yesus dan mencucukkan jarinya ke dalam lambung-Nya. Tidak disebutkan apakah Thomas melakukan hal itu, tetapi pada saat itulah Thomas percaya, dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Dari ketegaran hati Thomas, pertama-tama kita memperoleh suatu pernyataan kebenaran iman Kristen, yaitu bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan dan Allah. Sebab jika tidak demikian, tentunya Yesus akan mengoreksinya. Fakta bahwa Yesus tidak menyangkalnya, itu menunjukkan kebenaran perkataan Thomas. Maka pantaslah kita berterimakasih kepada Rasul Thomas. Kedua, kita menjadi paham, bahwa Yesus menghendaki kita untuk percaya kepada-Nya meskipun tidak melihat-Nya. Atau dengan kata lain, percaya, tanpa harus melihat tanda ataupun mukjizat. Ini merupakan tantangan bagi semua orang beriman.

Dalam salah satu tayangan ulang acara Mother Angelica,  yang aslinya diadakan tanggal 28 April 1992, Mother berkata bahwa kesempatan emas untuk membuktikan kepercayaan kita kepada Tuhan adalah di saat-saat paling gelap dalam kehidupan kita. Entah di saat permasalahan besar, sakit penyakit atau bahkan di saat menjelang ajal. Sebab pada saat itu, kata Mother Angelica, kita seperti halnya batu karbon hitam kusam yang sedang menerima tekanan luar biasa besar dan diasah sedemikian rupa untuk menjadi sebuah batu berlian yang cemerlang. Jika kita mampu untuk tetap percaya, maka buahnya adalah sukacita dan damai sejahtera, walaupun keadaannya tampak tetap sama. Betapa perkataan ini diuji ketika Mother Angelica sendiri, yang adalah seorang pembicara dan pengajar iman yang handal, harus menerima kenyataan bahwa ia berangsur-angsur tidak lagi dapat melakukan semuanya itu. Mother  mengalami stroke di tahun 2001, yang membuatnya sulit berbicara, sampai akhirnya tak bisa bicara sama sekali di tahun-tahun terakhir menjelang kematiannya. Namun para biarawati yang merawatnya mengatakan betapa Mother Angelica adalah seorang pendoa dan pejuang iman yang tak pernah menyerah. Ia telah menunjukkan iman, harap dan kasihnya kepada Tuhan Yesus, Kekasih jiwanya, di tengah-tengah penderitaannya yang luar biasa besar dan lama.  Ia yang telah berkali-kali mengalami mukjizat Tuhan semasa hidupnya sampai sebelum mengalami stroke itu, tetap memiliki iman yang sama, ketika tidak lagi mengalami berbagai tanda yang menakjubkan itu. Ia menjadi contoh nyata bagaimana untuk tetap teguh percaya dan mengasihi Tuhan dalam keadaan apapun. Nyatanya, Allah berkenan menjawab doa-doa Mother Angelica, yang dipersembahkannya dalam penderitaannya yang dipersatukan dengan penderitaan Kristus, untuk mendatangkan keselamatan sesamanya melalui karya kerasulan yang dimulainya itu. Justru di masa-masa yang sulit itu, ETWN berkembang sangat pesat sampai ke seluruh dunia. Juga, di tengah turunnya jumlah panggilan membiara di dunia, biara yang dipimpinnya malah kebanjiran postulan. Mereka malah kekurangan kamar untuk postulan yang baru. Demikianlah, tiada penderitaan yang sia-sia, jika disatukan dengan penderitaan Kristus. Semua itu akan mendatangkan buah-buah yang berguna bagi keselamatan kita, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus.

Sungguh, besar kemungkinannya, setiap orang akan melalui masa-masa yang serupa. Mungkin kita pun pernah mengalami mukjizat-mukjizat Tuhan, tetapi ada saatnya mukjizat itu tidak lagi kita alami. Akan datang penyakit dan seberapapun kita memohon kesembuhan, mukjizat kesembuhan itu tidak datang. Atau, kita mengalami masalah besar, yang membuat kita tidak bisa lagi mengalami kemudahan ataupun kekuatan yang dulu pernah kita miliki. Di sanalah iman kita diuji, dapatkah kita tetap berkata bersama dengan Rasul Thomas, “Ya, Tuhanku dan Allahku, aku percaya kepadaMu”? Dapatkah kita berkata bersama St. Maria Faustina, “Yesus, aku mengandalkan Engkau”? Namun di saat kita memasrahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan, di sanalah Ia mengizinkan kita mengalami keeratan kasih dengan-Nya, ketulusan cinta tanpa kata, yang memurnikan jiwa kita. Jika kita menyatukan penderitaan ataupun pergumulan kita dengan penderitaan Kristus, maka kita pun akan melihat buah-buahnya bagi kehidupan rohani kita, dan sesama kita. Di hari Minggu Kerahiman ini, marilah kita pasrahkan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Sebab kita percaya, tak ada sesuatu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rm 8:38-39).

Selamat jalan dan terima kasih, Mother Angelica. Bersamamu dan para kudus di Surga, aku menggabungkan pujian syukur kepada Tuhan di Hari Minggu Kerahiman ini,Besar belas kasih dan kerahiman-Mu, ya Tuhan Yesus. kami mengandalkan Engkau!

Kesembuhan oleh cinta kasih Tuhan lewat mukjizat Ekaristi

0

Pengantar dari Editor:

Pocky yang rajin dan setia melayani Tuhan bersama Acu, istri tercintanya, sempat protes kepada Tuhan ketika dokter menemukan penyakit yang tak tersembuhkan dalam tubuhnya. Ia bertanya, menolak, dan jatuh dalam keraguan iman yang dalam. Proses pengobatan yang panjang membuat jiwanya seletih raganya. Tetapi istrinya yang setia, terus menaruh harapan kepada Tuhan. Dari titik terendah dalam hidup mereka berdua sebagai keluarga, sang istri berbagi kisah ini dengan kita semua. Betapa Tuhan yang penuh kerahiman dan selalu siap menolong, sesungguhnya tidak sedikit pun meninggalkan umat-Nya, khususnya dalam derita kehidupan. Setiap pengalaman yang mereka alami di dalam menjalani proses pengobatan semata-mata menceritakan bagaimana Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap akan pertolongan-Nya. Terima kasih Acu dan Pocky atas kisah kesaksian yang indah ini. Kisah yang mengundang kita untuk ikut mengalami sukacita atas pemeliharaan Tuhan, yang memuncak di dalam perayaan Ekaristi Kudus, di mana Kristus yang telah berkenan menjadi kurban demi menebus segala dosa manusia, sungguh hadir secara nyata untuk sekali lagi dan selalu, menjangkau kita semua, menghalau kegelapan dosa yang menyelimuti kita, dan menyembuhkan derita kita.

Inikah upah dariMu Tuhan

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Ingrid & PakTay, yang telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi melalui website ini.

Saya dilahirkan bukan dari keluarga Katolik. Saya menjadi Katolik di tahun 1997 bersama suami dan ketiga anak kami. Saya bangga dan bersyukur Tuhan mau memilih kami untuk menjadi umat Katolik. Sejak mengenal TuhanYesus dan dibaptis, kami rajin mengikuti Ekaristi. Bahkan kami sekeluarga juga ikut melayani di berbagai kegiatan. Menjadi ketua lingkungan dan ketua Bina Iman, koor, dan juga melayani di Legio Maria. Dalam melayani, kami tidak pernah hitung-hitungan waktu kepada Tuhan. Baik siang maupun tengah malam, kami selalu siap saja apabila diminta untuk melayani dan mendoakan orang sakit.

Tapi dengan kejadian pada tanggal 29 Oktober 2009, hari di mana pasanganku, Pocky, divonis kanker paru-paru stadium akhir, dia menjadi sangat marah dan kecewa sekali kepada Tuhan. Ia sempat berkata, “Apakah ini Tuhan upah-Mu, selama ini aku bekerja melayani untukMu” (iman yang menuntut Tuhan).

Pocky menderita batuk-batuk sejak tahun 2004 dan tidak sembuh-sembuh. Saat ke dokter, hanya dikatakan bahwa Pocky cuma alergi biasa. Kami sudah berobat ke beberapa dokter dan ia sudah minum bermacam-macam obat, tetapi hasilnya tetap sama. Pocky hanya sembuh sesaat saja, begitu obatnya habis batuknya pun muncul kembali.

Akhirnya seorang teman menyarankan kami untuk menemui dokter ahli internis dari Presiden Soeharto, Dr Suci, di Rumah Sakit Pertamina. Di sana, Pocky diminta menjalani CT scan dan sputum (diambil lendir dari batuknya). Hasilnya kira-kira dua minggu, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 2009. Membaca hasilnya, Dr Suci mengatakan bahwa Pocky menderita sakit kanker paru-paru stadium akhir dan tidak bisa diobati lagi, karena sudah ada penyebaran ke organ tubuh yang lainnya, ke perut dan ke tulang. Tumor kankernya yang ada di paru-paru sebelah kanan sudah sebesar 6 cm.

Dokter saat itu hanya mengatakan, “Kasih Bapak senang aja, Bu. Kalau kondisi Bapak kuat, dia bisa bertahan paling lama sampai 6 bulan, jadi untuk diobati juga sudah percuma dengan melihat kanker tumornya yang sudah membesar sebesar 6 cm dan juga sudah ada penyebaran ke mana-mana”.

Jujur saat saya mendengarnya, saya merasa seperti bermimpi, hancur sekali rasanya hati saya dan saya sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi saat itu. Yang saya ingat dokternya juga mengatakan, “Kalau ibu tidak kuat mengatakan ini kepada keluarga, bawa saja keluarga ke sini, nanti saya yang akan menjelaskannya.” Dengan spontannya saya mengatakan kepada dokter, “Saya kuat, Dok, saya masih ada Tuhan”, dengan airmata saya yang hanya setitik jatuh ke mejanya.

Akhirnya Pocky mengetahui juga bahwa dia benar-benar menderita sakit kanker paru-paru stadium akhir, dan sejak itu hampir setiap hari kami mencari dokter untuk memeriksakan kembali keadaan Pocky, karena kami tidak mau percaya dengan hasil pemeriksaan dari satu dokter saja. Kami pergi ke beberapa dokter, bahkan ke profesor yang terkenal dan rata-rata mereka semua ahli paru-paru. Kami datang ke RS Gading Pluit, RS Pertamina, dan RS Persahabatan, tapi semua hasilnya tetap sama. Dokter mengatakan bahwa memang Pocky sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Demi mendengar itu, Pocky begitu marah dan kecewa kepada Tuhan sampai dia tidak mau keluar dari kamar, bahkan ke gereja pun juga dia sudah tidak mau lagi.

Tuhan, jadikanlah saya pemenang-Mu

Setiap hari banyak teman kami yang datang mengunjungi dan mendoakan Pocky dan juga memberikan bermacam-macam saran. Namun Pocky sudah tidak mau mendengarkan dan tidak mau berbicara apa pun kepada siapa pun. Hal ini berjalan hampir satu minggu. Pocky mengurung diri di kamar dan di hari yang ke-8, akhirnya Pocky menyerah juga kepada Tuhan.

Ini menurut pengakuan Pocky, dia menyerah kepada Tuhan dan dia berdoa. Di dalam doanya dia hanya bilang, jika Tuhan memang mau ambil dia, ambillah secepatnya, jangan sampai dia tersiksa dan juga jangan sampai anak isterinya juga menderita, karena yang Pocky tahu, biaya untuk pengobatan sakit kanker itu mahal sekali. Kalau toh ujung-ujungnya dia harus meninggal juga, nanti kasihan anak isterinya yang ditinggalkannya menjadi susah dan menderita, karena harus mengeluarkan biaya pengobatan yang sangat banyak, sementara dia yang sudah meninggal pasti sudah tidak tahu apa-apa lagi. Setelah dia berdoa seperti itu dengan segala kepasrahan dan berserahnya kepada Tuhan, tiba-tiba dia seperti mempunyai kekuatan baru dan tidak takut mati. Akhirnya Pocky mau menjawab permintaan saya dan anak-anak untuk membawanya ke Singapore untuk mengecek sekali lagi akan kebenaran dari diagnosa dokter-dokter di Jakarta.

Maka jujur tujuan saya semula dalam membawa Pocky ke Singapore bukanlah untuk berobat, tetapi untuk mengecek kebenaran dari hasil diagnosa dokter-dokter di Jakarta itu. Karena saya juga tahu berobat di Singapore itu sangatlah mahal biayanya, apalagi ini untuk penyakit kanker. Jelas kami tidak akan sanggup untuk berobat dengan biaya yang sangat mahal dan kami juga tidak mempunyai kenalan siapa pun di Singapore. Pikir saya saat itu, kalau toh sampai hasil pemeriksaan di Singapore itu juga tetap sama mengatakan bahwa Pocky benar-benar sudah tidak ada harapan lagi, barulah kami akan fight pengobatannya dengan herbal atau dengan pengobatan alternatif sambil menunggu mukjizat dari Tuhan. Inilah tujuan dari rencana keberangkatan kami ke Singapore.

Sejak Pocky divonis sakit, saya dan anak-anak tidak putus-putusnya berdoa Rosario dan Ekaristi, memohon kepada Tuhan agar diberikan jalan untuk pengobatan dan kesembuhan yang terbaik untuk Pocky. Saya juga sudah berpesan kepada anak-anak kami, bahwa kalau kita sudah berdoa kepada Tuhan tetapi akhirnya Papa harus meninggalkan kita juga, janganlah kita marah dan kecewa terhadap Tuhan, mungkin artinya kita memang sudah harus selalu mendoakan yang terbaik untuk Papa.

Setelah satu minggu lebih sejak Pocky divonis sakit kanker paru, Pocky belum mendapatkan obat dan perawatan apa-apa lagi, karena memang menurut dokter, Pocky sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Menurut Dr Ina di RS Persahabatan-dokter ahli paru-paru lulusan S2 di Jepang-dokter yang terakhir kami kunjungi, virus kanker paru sangatlah berbahaya karena perkembangbiakan virusnya sangat cepat, setiap harinya bisa mengeluarkan 10.000-an (sel kanker-red), jadi disarankan lebih baik kami berangkat secepatnya ke Singapore untuk pengecekan ulang di sana.

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat. Sebelum berangkat, pada pagi harinya saya persiapkan Pocky untuk menerima Sakramen Perminyakan bagi orang sakit dan Sakramen Pengakuan Dosa. Juga kami berdua saling berekonsiliasi disaksikan oleh Romo Puspo (romo dari Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat, dan kami juga sempat mampir ke rumah Mak Kong (Elly Rusli) untuk minta didoakan dan sekalian kami juga hendak pamitan untuk ke Singapore.

Dalam perjalanan kami menuju ke bandara, saya sudah berpikir nanti kami akan mengecek di Rumah Sakit Singapore General Hospital saja, karena menurut beberapa teman, itu rumah sakit pemerintah yang cukup bagus dan murah. Kemudian tiba-tiba klienku menelpon, memberi tahu bahwa dia sudah mendaftarkan Pocky di RS Gleneagle di lantai lima, bertemu dengan Dr Karmen Wong (saya yakin ini memang sudah jalan Tuhan). Dokternya perempuan, baik dan helpful, juga religius.

Sewaktu berangkat, kami berdua sangatlah sedih karena kami harus meninggalkan cucu kami yang masih kecil bersama pembantu, di mana saat itu cucu kami baru satu bulan ikut tinggal bersama dengan kami, karena papa mamanya baru berpisah. Jadi kamilah yang merawatnya, ke mana-mana ia tidak pernah kami tinggalkan, selalu kami bawa.

Sesampai di Singapore, Pocky diminta oleh Dr Karmen untuk mengecek ulang dengan PET scan, karena Dr Karmen tidak mau memakai hasil CT scan yang dari Jakarta. Puji Tuhan hasil dari PET scan ternyata Pocky masih bisa diobati, kankernya baru stadium 3A dan penyebarannya pun saat itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanya tinggal tumornya saja sebesar 6 cm. Mendengar itu Pocky langsung menangis dan dia bilang dia mau untuk diobati (kami percaya Tuhan sudah mulai bekerja). Singkat cerita akhirnya Pocky diharuskan menjalani pengobatan dengan cara dikemo dan diradiasi. Pocky harus menjalani kemonya sebanyak tujuh kali di setiap minggunya dan diradiasi sebanyak 35 kali setiap hari, sehingga kami tidak bisa pulang-pergi ke Jakarta. Kami harus benar-benar stay di Singapore, selama kurang lebih tiga bulan.

Secara manusia kami tidak mungkin bisa menjalani pengobatan itu, karena kami harus meninggalkan pekerjaan dan anak cucu kami selama tiga bulan. Yang pasti juga kami tidak mempunyai uang sebanyak yang disebutkan dokter untuk total biaya pengobatannya selama tiga bulan di sana. Semua ini hanya dapat kami serahkan pada Tuhan dalam doa dan Ekaristi, yang selalu menjadi kekuatan bagi kami. Saat itu kami merasakan penderitaan kami seperti tak ada henti-hentinya. Mulai dari persoalan anak kami yang bercerai, Pocky divonis kanker paru-paru stadium akhir, juga keuangan kami yang sudah tidak ada kelebihan lagi untuk berobat. Sebab di saat yang bersamaan kami baru saja menandatangani kontrak kerja dengan seorang pemborong rumah untuk merenovasi rumah kami. Awalnya karena kami berpikir, sejak anak dan cucu ikut tinggal bersama kami, kami ingin merenovasi rumah dengan menambah kamar, sehingga kami dapat menampung anak dan cucu kami tinggal bersama kami. Oleh karena itu, saat itu benar-benar terasa sudah kalut sekali pikiran kami. Namun saya tetap memutuskan untuk membawa Pocky berobat ke Singapore dengan uang kami yang apa adanya saat itu, karena saya berpikir yang penting Pocky harus mendapat kepastian akan keadaan sakitnya dulu. Bagaimanapun juga, saya percaya kami semua sudah di dalam Tuhan dan mencintai Tuhan. Bila sampai Tuhan mengijinkan semua ini terjadi, pasti Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kami. Saya hanya bisa berdoa, “Tuhan berikan saya kekuatan-Mu untuk menjalani semua ini dan jadikanlah saya pemenang-Mu”. Hanya inilah kata-kata doa yang selalu saya ucapkan. Saya sering menghibur diri saya sendiri dengan mengingat akan firman-Nya yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan memberi kita pencobaan melebihi kekuatan kita.

Yang juga membuat saya kuat, anak-anak sangat mensupport saya. Mereka mengatakan, “Semua itu baru kata dokter Ma,tapi kita masih ada Tuhan”. Anak-anak kami juga mengatakan bahwa mereka sudah siap untuk hidup susah, kalau sampai kita harus menjual rumah, mobil, dan apa saja, asalkan Papa bisa disembuhkan. Sungguh, ini yang sangat menguatkan saya untuk memperjuangkan kesembuhan Pocky.

Mukjizat Ekaristi yang mengembalikan kekuatan dan memulihkan

Baru di minggu pertama Pocky menjalani kemoterapi, dia sudah mengatakan dia tidak akan kuat lagi, karena dia merasakan lemas yang luar biasa dan mual-mual, sehingga tidak bisa makan. Bibirnya juga pecah-pecah. Itu semua memang proses dari obat kemonya. Dokter sudah mengatakan hal itu dan bahkan dikatakan juga oleh dokter bahwa nanti di minggu-minggu berikutnya Pocky juga akan mengalami proses yang lebih hebat lagi. Dia akan mengalami batuk-batuk yang hebat, dan tidak akan kuat untuk berjalan. Tapi jangan takut, semua memang karena proses pengobatannya.

Jujur mendengar itu pikiran saya bertambah takut sekali, karena sekarang saja Pocky hampir setiap malam masih batuk dan mimisan darah. Aku selalu menangis setiap membersihkan darah mimisan di handuknya. Tetapi aku selalu menangis di kamar mandi. Aku tidak mau menangis di depan Pocky yang sedang lemah, karena aku takut nanti Pocky semakin down dan kecil hati. Aku berusaha untuk kelihatan kuat dan tegar di hadapan Pocky.

Setiap kali sehabis menjalani kemoterapi, dengan sedikit memaksa, saya mengajak Pocky untuk mengikuti Misa Ekaristi di gereja “Novena Church” di Thomson Road. Ini kami lakukan setiap hari. Pocky yang masih lemas setelah menjalani kemo, berjalan dengan tertatih-tatih. Saya senantiasa menggandengnya dan setengah menyeretnya hingga akhirnya bisa sampai di gereja. Selama di sana kemana-mana kami hanya bisa naik bus, karena kami takut uang kami tidak cukup kalau harus naik turun taksi setiap hari. Padahal kondisi Pocky saat itu masih lemah sekali karena setiap turun bus, Pocky batuk dan mengeluarkan darah. Namun kami tidak pernah absen sehari pun, untuk tidak menyambut Ekaristi Kudus.

Puji Tuhan hari lepas hari Pocky semakin diberi kekuatan lewat Ekaristi, sampai-sampai apa yang dikatakan sebelumnya oleh dokter bahwa di minggu-minggu berikutnya Pocky akan mengalami sakit yang lebih hebat, tidak Pocky alami. Sampai-sampai kami menjadi panutan di antara sesama pasien di sana yang sudah seperti teman, karena setiap hari kami mengobrol dan bertemu.

Dokternya juga sampai memeriksa Pocky dengan sangat teliti dan berkali-kali Pocky dipencet-pencet di sekitar lehernya sambil bertanya pada saya, “Jangan bohong ya, Pocky dikasih makan apa kok dia bisa bertambah sehat?” Saya menjawab saya tidak kasih makan apa-apa dan vitamin apa-apa juga, kami hanya menyambut Ekaristi setiap hari di gereja karena kami orang Katolik. Setiap hari kami mengikuti Misa Ekaristi, di sana kami makan Tubuh dan Darah Kristus. Saya juga tidak tahu apakah dokternya bisa mengerti dengan penjelasan saya, dokternya juga orang Kristen tetapi bukan Katolik.

Hari lepas hari kami jalankan pengobatan, ternyata kami tidak pernah kekurangan sedikit pun yang namanya sumbangan kasih. Hampir setiap hari mengalir bagi kami bermacam-macam sumbangan dari berbagai pihak. Ada dari Komunitas ME (Marriage Encounter-red) yang dikoordinasi oleh Mak Kong (Elly Rusli), ada juga dari Lingkungan kami di Taman Aries dan dari persekutuan doa yang kami ikuti di Paroki Maria Kusuma Karmel, Meruya, Jakarta Barat. Bahkan ada juga yang dari namanya tidak kami kenal. Sungguh dashyat dan ajaib kasih Tuhan, walaupun secara manusia kami menderita, tapi kami harus tetap bersyukur atas pemeliharaan-Nya. Dan ini yang selalu saya ucapkan kepada Pocky. Kita harus terus bersyukur kepada Tuhan, walaupun Pocky diizinkan untuk menderita kanker paru, tapi begitu banyak orang yang memperhatikan dan mengasihi dia. Bahkan juga Pocky sampai didoakan Novena St Peregrinus oleh teman-teman di lingkungan kami. Mereka khusus berkumpul setiap hari Senin di rumah salah satu umat hanya untuk mendoakan Pocky, sedangkan kami masih berobat di Singapore. Sungguh luar biasa, kami percaya semua ini bukan hebat kami, kami bukanlah siapa-siapa, tetapi semua ini berkat Kasih Tuhan yang menggerakkan hati setiap sahabat-sahabat kami.

Tuhan akan melengkapi pekerjaan-Nya hingga akhir

Akhirnya di tanggal 15 Januari 2010, Pocky telah selesai menjalankan paket kemoterapinya selama lebih dari tiga bulan, dan sekarang kami sudah diperbolehkan pulang ke Jakarta, tetapi dengan catatan, setiap bulan kami harus tetap datang untuk kontrol lagi. Kami boleh melakukan CT scan di Jakarta namun tetap harus diperiksakan kembali di Singapore. Perbedaan biaya yang lumayan besar membuat saya menawarkan alternatif seperti itu.

Pada tanggal 30 Januari 2010 kami diminta untuk kembali lagi melayani di ME dan bersharing untuk “Enrichment” (pengayaan-red) yang bertemakan MPP (Menjadi Pasutri Potensial). Jujur saat itu kami juga bingung apa yang hendak kami sharingkan, karena Pocky belum sembuh, hanya baru selesai pengobatan kemonya saja. Namun kami tidak bisa menolak permintaan dari Mak Kong yang sudah kami anggap seperti orangtua kami sendiri, karena kami berdua sudah tidak mempunyai orangtua lagi. Akhirnya kami memberikan sharing-sharing kami yang pertama kali lagi di ME di mana kami berbagi pengalaman iman akan Kasih Tuhan yang nyata kami alami setiap hari, lewat mukjizat Ekaristi-Nya.

Setelah satu bulan dari pengobatan Pocky, kami sudah harus kembali lagi kontrol ke Singapore. Seperti janji kami dengan Dr Karmen Wong, kami akan membawa hasil CT scan dari rumah sakit di Jakarta yang sudah ditunjuk oleh Dr Karmen. Puji Tuhan, rumah sakit yang ditunjukkannya kebetulan dokter radiologinya adalah tetangga kami di lingkungan, sehingga kami bisa mendapatkan diskon harga yang spesial untuk kami (kami percaya di dalam Tuhan tidak ada yang kebetulan, semua sudah dipersiapkan olehNya)

Sebagai orang awam kami berpikir, setelah menjalankan pengobatan selama tiga bulan, pasti paru-paru Pocky sudah sembuh. Tetapi saat dilakukan CT scan ulang ternyata ada penyebaran lagi di paru sebelah kirinya, dan masternya ada di paru sebelah kanan. Mendengar itu Pocky sangat kecewa dan down. Dokter Singapore juga agak bingung mengapa bisa terjadi seperti itu. Pocky lantas diberi obat dan diminta kembali lagi untuk bulan depan. Ternyata bulan depannya hasil CT scan bertambah jelek lagi dan bertambah banyak titik-titik putihnya. Hasil ini sudah kami ketahui dari dokter radiologi di Jakarta, sehingga Pocky sudah bertekad tidak akan mau lagi untuk kembali ke Singapore, karena memang biaya obat kanker Pocky sangat mahal sekali, bukan hanya jutaan, tetapi hampir puluhan juta. Pocky mengatakan, dia ingin minum herbal saja. Sementara itu saya tidak mau Pocky berganti-ganti dokter. Namun saya tidak ingin berdebat dengan Pocky, karena dia sedang down. Saya hanya berdoa dan percaya, Tuhan pasti menolong kami. Tidak mungkin Tuhan meninggalkan kami, karena kami bisa melalui tiga bulan pengobatan Pocky dengan tidak kekurangan sedikit pun, masakan sekarang kami ditinggalkanNya. Saya percaya Tuhan tidak akan bekerja setengah-setengah, karena DIA adalah ALFA & OMEGA. Dia bekerja dari awal, pasti Dia juga yang akan melengkapi kita sampai akhir.

Begitu banyak cara Tuhan menyatakan kasih dan pemeliharaan-Nya

Selesai berdoa, saya coba meminta Pocky untuk kembali kontrol ke Singapore. Sampai di sana seperti biasa karena kami selalu memakai dua dokter, dokter paru dan dokter onkologi. Pertama-tama kami selalu melaporkan hasil ke dokter parunya terlebih dahulu. Dokter parunya sangat kecewa melihat hasil CT scan Pocky yang sangat jelek. Pocky diberi obat untuk dua bulan, dan kemudian diminta kembali lagi. Obatnya cukup mahal sekali. Kemudian kami menemui dokter onkologinya. Kami menunggu karena di dalam masih ada pasien lain. Ketika pasien itu keluar, ternyata saya mengenalnya. Spontan saya memanggilnya, namun ibu itu sudah tidak mengenali saya karena memang sudah bertahun-tahun kami tidak berjumpa.

Ia bertanya sedang apa saya di sini. Saya mengatakan saya mengantarkan Pocky, suami saya yang sakit kanker paru-paru. Beliau menjawab sama, dia juga sakit kanker paru bronchitis dan sebentar lagi akan menjalani kemoterapi. Saya segera mengatakan cepat sembuh ya Tante, sampai jumpa lagi. Kemudian giliran kami masuk bertemu dengan dokter. Melihat hasil CT scan Pocky, dokter segera meminta Pocky untuk dibiopsi ulang, karena di CT scan tampak titik putih yang bertambah tetapi ada juga yang berkurang. Dokter tidak mau menebak-nebak apakah ini penyebaran atau apa. Begitu ia menyebutkan biayanya, kami tidak menjawab, hendak pikir-pikir dulu karena kami sudah tidak ada uang lagi. Uang yang kami bawa hanya cukup untuk menebus obat saja. Akhirnya kami katakan bahwa kami akan berunding dulu dengan keluarga di Jakarta. Dokter itu nampaknya mengetahui bahwa kami tidak mempunya biaya lagi. Ia hanya mengatakan bila sampai di Jakarta, Pocky terus mengalami batuk-batuk, tolong jangan dipikir-pikir lagi, kembali saja ke sini. Kami menyetujuinya.

Sebelum menuju ke bandara, karena sudah waktunya makan siang, kami mampir dulu ke foodcourt yang ada di lantai bawah rumah sakit. Kami sempat berdebat sedikit, karena sejak Pocky sakit, saya selalu mengikuti kemauan makannya dia. Pocky selalu memilih makan nasi hainam yang ada di “Fareast”. Ini menjadi langganan kami sejak Pocky berobat di Singapore karena harganya murah dan porsinya banyak. Tetapi kupikir dalam keadaan seperti ini untuk apa lagi harus jauh-jauh ke “Fareast”, sedangkan tiket untuk pulang ke Jakarta belum dibeli. Lebih baik makan yang ada saja di foodcourt rumah sakit. Saat kami masih melihat makanan di foodcourt itu, kami berjumpa lagi dengan tante yang tadi saya berjumpa, dengan keluarganya. Tante itu bertanya, bagaimana suamimu? Saya menjawab bahwa ia harus dibiopsi ulang. Saya hendak pikir-pikir dahulu. Tante itu menjawab, sakit kok dipikir-pikir dahulu, jalankan saja, pasti nanti sembuh. Saya hanya menjawab, amin. Kemudian kami berpisah karena ia harus kembali ke dokter untuk dikemo. Saat kami hampir selesai makan, anak dan menantu dari tante itu datang menghampiri meja kami. Memang saat itu tante tersebut datang berobat berempat bersama suami dan anak menantunya. Anaknya mengatakan bahwa saat ini ibunya berada di ruang kemoterapi dan ingin bicara kepada saya. Saya pun mendatangi tante itu dan duduk di sampingnya. Pocky menunggu saya di luar, di ruang tunggu dokter. Tiba-tiba si Tante itu mengenggam segumpal tisu yang diserahkan kepada saya dan berkata, “Acu kamu ambil ya, saya tergerak ingin membantu kamu untuk suamimu bisa berobat, karena saya mengetahui dari dokter dan suster-suster di sini mengapa kamu pulang. Saya sedih mendengar orang sakit yang ingin berobat tetapi tidak mempunyai uang”. Spontan saat itu saya menolaknya, saya mengatakan saya harus memanggil suami saya dahulu. Namun si Tante mengatakan ia tidak kenal dengan suami saya. Ia juga berkata, “Ambilah, obati suamimu, kasihan dia, mungkin ia tidak mau mengatakan padamu bahwa sakit paru-paru itu sungguh sakit rasanya”. Beberapa suster dan perawat di sana pun menepuk-nepuk bahu saya dan mengatakan kepada saya, ambillah gumpalan tisu itu, sambil mengatakan bahwa saya sungguh diberkati. Akhirnya saya mengambilnya juga.

Setelah mengambil gumpalan tisu itu, saya yakin itu pasti uang di dalamnya. Saya buru-buru menuju ke ruang dokter untuk meminta agar Pocky segera dibiopsi. Saya berkata kepada dokter bahwa lima menit yang lalu saya tidak punya uang, tetapi sekarang saya sudah mempunyai uang, tolong dokter biopsi suami saya sekarang juga. Dokternya sambil tertawa mengatakan bahwa Pocky harus berpuasa terlebih dahulu. Sepertinya dokter itu sudah mengetahui dari mana saya mendapat uang. Lebih baik sekarang pesan tempat dulu saja untuk operasi besok pagi. Setelah dokter mengatakan demikian, saya segera mengajak Pocky untuk memesan tempatnya. Tetapi Pocky dengan marah minta uang itu dikembalikan kepada si Tante karena Pocky tidak mau berhutang budi kepada siapa pun. Ia juga berpikir kalau pun ia bisa dibiopsi ulang tetapi hasilnya jelek dan ia harus menjalani kemoterapi dan radiasi ulang, dari mana lagi uangnya. Mana mungkin teman-teman akan membantu kami lagi. Sedangkan kami juga sudah tidak mempunyai harta apa-apa lagi untuk dijual. Uang yang ada pada kami hanya cukup untuk membeli obat dan menyelesaikan renovasi rumah kami. Bahkan saat itu kami juga tidak mampu untuk mengontrak rumah selama rumah kami sedang direnovasi. Kami terpaksa menumpang di rumah mantan menantu kami, di rumahnya yang cukup besar. Kami diberi satu kamar yang sangat besar yang muat untuk kami tinggal sekeluarga bersama cucu kami. Mantan menantu kami juga tinggal serumah, dia tinggal di lantai atas bersama calonnya yang baru. Sebenarnya hancur rasanya hati kami, tapi keadaanlah yang memaksa kami harus tetap kuat menjalani semuanya ini.

Aku tidak peduli dengan protes Pocky atas uang yang kuterima dari Tante, aku tetap berjalan menuju ke kasir dan membayarnya sesuai nilai yang disebutkan kasirnya, yaitu yang sebelumnya harganya SGD 25OO, ternyata berubah menjadi SGD I3OO. Ini juga sempat membuat aku terbingung-bingung. Tetapi aku tidak sempat lagi berpikir, aku segera saja mengeluarkan uangnya untuk membayar. Beberapa lembaran uang sudah aku keluarkan sejumlah yang disebutkan nilainya. Walaupun Pocky duduknya berjauhan dari kasir, tetapi matanya melihat terus berapa banyak uang yang aku keluarkan, dan diteriakinya saya olehnya, sambil berkata, “Lihat, sudah berapa banyaknya uang yang kamu bayarkan”. Saat itu aku menjadi sadar bahwa uang yang aku bayarkan itu ternyata semua lembaran ribuan. Sedangkan yang sudah aku keluarkan belasan lembar, sementara sisa yang di tanganku masih banyak lagi. Saat itu dengan spontan yang terpikir oleh saya dan Pocky, pasti si Tante ini ngaco dan salah kasih uang kepada kami karena sampai sedemikian banyaknya.

Kami segera minta disambungkan ke Tante Gracia, demikianlah nama tante yang berhati mulia itu, yang sedang berada di ruang kemoterapi. Kami berkata bahwa si Tante pasti salah memberi, begitu banyak uangnya, dan kami sudah pula mendapat diskon menjadi SGD 1300 saja. Tetapi Tante Gracia menjawab dengan tenang, “Acu, ..kamu pegang saja sisa uangnya, karena kalau nanti hasil biopsinya jelek, suamimu kan harus menjalankan kemo dan radiasi selama beberapa kali lagi. Dan kalau uang itu kurang, nanti kamu kasih tahu ke Tante lagi ya”. Mendengar itu saya dan Pocky hanya bisa menangis dan berpelukan, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pocky langsung memohon ampun kepada Tuhan. Selama ini dia masih selalu memakai logikanya saja. Dengan kejadian ini sungguh Tuhan hendak mengajarkan kepada kami untuk tetap percaya akan kasih setia dan karya-Nya yang ajaib. Janji Tuhan yang selalu ya dan amin. Tuhan sungguh selalu turut bekerja di dalam segala hal!

Puji Tuhan akhirnya biopsi Pocky berjalan lancar dan untuk menunggu hasilnya kami harus menunggu tiga hari lagi. Tetapi saat itu kami putuskan untuk kembali saja ke Jakarta, karena saya harus bekerja. Tiga hari kemudian kami harus memutuskan untuk pelayanan bersama Mak Kong ke Banjarmasin, tetapi hasil biopsi Pocky masih belum keluar juga. Kami belum tahu apakah Pocky harus dikemo dan diradiasi lagi. Namun kami sudah harus memutuskan untuk tetap berangkat melayani Tuhan ke Banjarmasin. Memang sejak Pocky sakit kami diminta Mak Kong bersama-sama melayani ke mana-mana untuk berbagi dan bersharing. Saat itu Pocky masih belum dinyatakan sembuh, maka yang kami sharingkan perjalanan pengobatannya saja dan apa yang kami alami di mana kami tidak pernah kekurangan apapun dan tidak mengalami hambatan apapun. Saat itu kami percaya seperti yang dikisahkan Alkitab yaitu dalam Injil Lukas 21:3-4 mengenai seorang janda miskin yang berani memberikan persembahan dari segala kekurangannya, dan Tuhan yang akan melengkapinya. Kami mengambil keputusan untuk tetap berangkat ke Banjarmasin apapun hasil biopsinya. Sekalipun Pocky harus dikemo ulang, kami akan tetap melayani terlebih dahulu. Ternyata kami mendapatkan jawaban dari Singapore bahwa hasil biopsi Pocky bagus dan tidak perlu dikemo. Saat itu saya masih sempat memaksa dokternya untuk mengkemo Pocky dan saya katakan saya sudah mempunyai uang untuk kemonya, tetapi dokternya berkata bahwa saya anak Tuhan, mengapa saya tidak percaya, bahwa Pocky tidak perlu dikemo lagi, hanya cukup minum obat saja sampai dua bulan, kemudian nanti kembali lagi untuk dicek ulang.
Puji Tuhan dua bulan kemudian kami kembali dengan membawa hasil CT scan yang dari Jakarta, ternyata tumornya sudah mengecil, yang tadinya 6 cm menjadi 1,6 cm dan hasil darah Pocky juga bagus. Tumor marker-nya sudah kembali ke angka normal. Jadi Pocky sudah dinyatakan boleh lepas obat. Hanya saja dokter menganjurkan supaya tumornya yang masih ada sebesar 1,6 cm itu lebih baik segera dioperasi saja. Mengingat biaya operasinya yang sangat besar dan kami tidak mampu, kami membawanya saja dalam doa dan Ekaristi setiap hari, agar apapun yang terjadi, terjadilah menurut kehendak-Nya. Selama Pocky sakit, kami banyak hadir dalam setiap acara penyembuhan di mana pun ada.

Suatu hari kami datang ke katedral di mana hari itu ada penyembuhan dari romo dari Filipina dan di situ kami bertemu dengan sahabat kami seorang pewarta Katolik dari KAJ, namanya Bapak Harry Karnadi. Beliau meminta maaf belum sempat menjenguk Pocky saat mendengar Pocky sakit. Beliau kemudian mengatakan hendak berangkat ziarah ke Lourdes dan ke beberapa tempat lainnya selama 18 hari, dan beliau ingin mengajak kami. Jangan pikirkan soal biayanya, kata beliau. Kami berdua diberikan kesempatan berziarah ke Lourdes secara gratis. Sejak Pocky sakit, kami sangat banyak merasakan kasih Tuhan lewat orang-orang yang Tuhan kirim untuk kami. Pak Harry ingin sekali Pocky bisa ikut dan minum air Lourdes dan sembuh seperti sharingnya, di mana Pak Harry yang sudah divonis sakit jantung, kini sudah sembuh total, jantungnya seperti jantung bayi lagi dengan ziarah dan minum air di Lourdes sebanyak-banyaknya. Pada tanggal 2 September 2010 berangkatlah kami bersama Pak Harry dan rombongannya (Pak Harry ini yang mempunya Myron Tour).

Mukijzat Lourdes menyempurnakan pekerjaan-Nya

Selama menempuh perjalanan dari kota ke kota, saya terus merasa terharu merasakan kasih Tuhan yang luar biasa, kami dapat berziarah berdua dan saya selalu menangis di setiap tempat perhentian untuk berdoa. Namun Pocky mengatakan dia tidak bisa merasakan dan tersentuh apa-apa walaupun doanya sudah sampai khusuk. Lalu tibalah kami di kota terakhir yang kami kunjungi yaitu kota Lourdes. Kami tinggal selama dua malam dan besoknya kami sudah harus menuju ke Paris untuk kemudian kembali pulang ke Jakarta.

Selama di Lourdes kami ikut berdoa, mengikuti prosesi lilin, juga ikut antri untuk mandi air Lourdes. Pocky terus mengatakan bahwa dia masih tidak merasakan sentuhan apa-apa. Selama di Lourdes, Pocky tidak mau minum air yang dari luar. Dia hanya minum air Lourdes dan terus menerus berdoa, “Bunda Maria, doakanlah aku kepada Yesus, agar aku dapat sembuh….”. Sebelum kami berangkat ziarah, Pocky memang sudah mengatakan nanti begitu tiba di Lourdes, dia akan minum air Lourdes sebanyak-banyaknya sampai dia tak sanggup minum lagi, baru dia mau berhenti. Sebab pasti itu tandanya air sudah menutupi paru-parunya. Mungkin ini yang menjadi iman Pocky. Walaupun dia tahu bahwa kesembuhan bisa terjadi di mana saja, tidak harus di Lourdes, tetapi saat itu dia yakin bahwa jika dia berdoa dan meminum air Lourdes, maka Tuhan dapat menyembuhkannya dengan cara demikian.

Sebelum kami meninggalkan kota Lourdes, rombongan kami mengadakan Misa di sebuah kapel kecil dan pada saat terakhir Misa ada seorang pengacara dari Indonesia yang cukup terkenal mengikuti Misa bersama rombongan kami walaupun dia bukan peserta dari grup kami. Dia menawarkan diri untuk bersharing mengapa dia ada di Lourdes. Sejak tahun 1996 dia divonis kanker paru-paru stadium akhir oleh dokter di Jakarta. Ia lantas pergi ke Belanda untuk menjalani kemoterapi, tetapi sebelum menjalani kemo dia diberi waktu untuk merenung selama tiga hari. Ia memutuskan pergi ke Lourdes untuk berdoa dan minum air Lourdes terus menerus. Setelah ia kembali ke Belanda untuk menjalani kemonya, ternyata ia tidak perlu dikemo, kanker paru-parunya sudah bersih dan normal kembali. Begitu mendengar sharingnya, Pocky menangis sejadi-jadinya. Ia begitu tersentuh, ia seperti mendengarkan suara Tuhan berbicara, “ Pocky, Pocky, kamu yang selalu ingin menuntut bukti dari Tuhan”. Sekarang Tuhan mengirimkan lagi orang yang bersaksi mengalami kesembuhan dari penyakit yang sama seperti penyakitnya. Padahal selama sakitnya banyak sekali Tuhan mengirimkan kejadian yang dashyat dan luar biasa. Sewaktu tidak mempunyai uang, Tuhan bisa memberi uang lewat orang yang tidak pernah kita sangka-sangka. Walaupun kami tidak mempunyai tempat tinggal di Singapore, kami dipinjami apartemen hingga kami selesai berobat. Kami diberi kesempatan untuk berziarah ke Lourdes dengan cuma-cuma, semuanya kami diberi gratis, dan masih banyak lagi, akan terlalu panjang jika kami sebutkan semuanya di sini.

Sepulang kami dari Lourdes, sudah waktunya kami kembali kontrol ke Singapore. Seperti biasa kami melakukan CT scan di Jakarta dan membawa hasilnya ke Singapore. Begitu mendapat hasil dari CT scan, dokter radiologinya mengatakan, “Puji Tuhan ya Pak Pocky, tumor kankernya yang 1,6 cm sudah tidak nampak lagi”. Mendengar itu Pocky langsung menangis mengucap syukur dan memberitahukan kabar gembira itu ke semua teman. Namun kami harus tetap berangkat ke Singapore untuk melaporkannya. Puji Tuhan sampai di Singapore dokternya berkali-kali mengecek sambil membolak-balik hasil CT scan dengan bertanya dikasih makan apa Pocky selama ini, jarang terjadi kesembuhan secepat ini. Saya menjawab kami baru pulang ziarah dari Lourdes dan minum The Holy Water from Lourdes. Dokternya berkata, “Praise the Lord ya ..paru-parumu sudah bersih sekarang dan kamu harus bagikan kabar sukacita ini.”

Kini Pocky sudah melewati masa kontrolnya yang semula 6 bulan sekali, menjadi setahun sekali, dan sampai saat ini hasil pemeriksaan Pocky, puji Tuhan masih amat sangat bersih. Mukjizat masih ada sampai hari ini lewat Ekaristi. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6: 57)

Penutup

Saya juga ingin berbagi kabar sukacita lagi yang menjadi kado besar dari Tuhan bagi kami, di mana selama tujuh tahun kami tidak henti-hentinya berdoa Novena dan Ekaristi memohon agar perkawinan anak kami dapat bersatu kembali, karena kami percaya apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak akan bisa terpisahkan oleh manusia. Di akhir tahun 2014, anak kami sudah bersatu lagi dan di bulan Oktober 2015 yang lalu, mereka mengikuti retret weekend ME. Juga saya sendiri yang sejak tahun 2000 divonis sakit lupus, dengan hanya mengandalkan kekuatan Ekaristi, sampai hari ini saya bisa terbebas dari penyakit lupus. Terpujilah Tuhan selama-lamanya, kasih setia dan kerahiman-Nya melampaui segala ketakutan kita, tak terselami kasih setia-Mu Tuhan, tak terhingga luas dan dalamnya menjaga dan menyertai kita. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef 3: 18).

Terimakasih sekali lagi kepada Ingrid dan Pak Stef Tay, kami sudah diberi kesempatan untuk berbagi sukacita yang kami dapat dari kuasa mukjizat Ekaristi. Semoga kisah kesaksian kami menjadi berkat sukacita juga bagi banyak orang untuk semakin mencintai Tuhan Yesus dan Bunda Maria, dan juga, sakramen EKARISTI karena Kristus selalu hadir di dalam Komuni yang kita sambut itu. Terima kasih, kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Salam kasih,
Acu dan Pocky

[Dari editor Katolisitas: Acu dan Pocky adalah umat paroki St. Thomas Rasul, Bojong, Jakarta. Bersama Rm. Sarto SVD, mereka adalah Koordinator Distrik Marriage Encounter (ME) Jakarta,  Indonesia, untuk periode 2016-2018].

Bersahabat dengan perbedaan

0

Refleksi Kerahiman Allah oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

“Bersahabat dengan orang yang berbeda” merupakan niat Paus Fransiskus. Paus Fransiskus mempraktekkan hal ini dalam pembasuhan kaki pada upacara Kamis Putih kemarin. Bapa Suci mencuci kaki dan mencium kaki saudara-saudari dari berbagai suku dan keyakinan. Tindakan Bapa Suci ini membuat banyak orang larut dalam keharuan. Persahabatan dengan orang yang berbeda sungguh memancarkan wajah kerahiman Allah.

Ketika menghargai perbedaan dengan kasih, kita bisa melihat keindahannya. Indahnya perbedaan itu dapat digambarkan dengan pelangi. Indahnya pelangi terbentuk dari berbagai macam warna yang berbeda. Keindahan pelangi hanya dapat dinikmati oleh hati yang bersih.

Dasar dari indahnya perbedaan ini adalah kisah penciptaan Allah (Kejadian 1:1, 26-31a). Tuhan Allah sejak awal mula menjadikan ciptaan-Nya dalam perbedaan. Kisah penciptaan ini dibacakan atau dinyanyikan pada Malam Paskah. Tuhan menjadikan langit dan bumi, berbagai macam tumbuhan, berbagai macam jenis binatang, dan manusia adalah pria dan wanita. Setelah selesai menciptakan hal-hal itu, Tuhan Allah melihat bahwa semuanya itu baik adanya.

Ketika kita menyadari bahwa Tuhan menjadikan semuanya dalam perbedaan, kita akan menyikapi perbedaan dengan bijaksana. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa menghindari untuk berjumpa dengan orang yang berbeda, seperti latar belakang, watak, kepribadian, status sosial, status ekonomi, keyakinan, dan suku. Dalam perbedaan yang ada itu, kita tidak perlu mencari siapa yang lebih baik, karena semua diciptakan secara unik dan untuk saling melengkapi. Artinya, kita memandang perbedaan itu untuk melengkapi ketidaksempurnaan kita.

Perbedaan pria dan wanita dapat menjadi ilustrasi bahwa perbedaan itu untuk saling melengkapi. Hanyalah wanita yang dapat mengandung bayi, tetapi wanita tidak bisa mengandung tanpa pria. Perbedaan-perbedaan yang digabungkan itulah yang membuat kita kuat! Ketika kita menyadari hal ini, kita tidak akan merasa lebih unggul dari satu sama lain.

Ketika kita menyadari bahwa perbedaan itu berasal dari Tuhan Allah, sikap toleran pasti terjadi. Sikap toleran nampak dalam mendiskusikan pendapat dengan sopan dan tidak menghina. Kita tidak mengganggap orang yang berbeda pendapat sebagai musuh, tetapi mengasihinya sebagai saudara.

Sayangnya kita manusia terkadang menyukai keseragaman karena keseragaman itu nampak rapi dan teratur. Akibatnya adalah kita sulit membuka diri terhadap perbedaan, terutama jika hal itu bertentangan dengan nilai yang kita anut. Sikap yang menutup diri terhadap perbedaan ini akan membuat kita buta terhadap kebenaran dan kekayaan nilai dari yang lain. Kita akan menjadi seperti katak dalam tempurung. Artinya: kita tidak memiliki pengetahuan luas atau sangat sedikit pengetahuannya atau kurang luas pandangannnya.

Ada beberapa ciri orang yang terjangkit virus “seperti katak dalam tempurung”. Pertama adalah ia merasa bahwa dirinya serba paling (paling hebat, paling pintar, paling berani, paling kaya, paling terkenal, paling senior, paling jenius dan seabrek-abrek embel-embel paling lainnya). Kedua adalah ia biasanya mempunyai sifat-sifat negatif seperti mau menang sendiri, otoriter, mudah tersinggung, gampang menyalahkan, menuduh, bahkan memvonis orang lain salah. Ketiga adalah ia suka mempergunjingkan kekurangan pihak yang berbeda.

Sikap “seperti katak dalam tempurung” ini bisa berkembang menjadi kebencian. Kebencian terjadi karena kecurigaan yang berlebihan. Kecurigaan ini terbentuk oleh rasa terancam dengan perbedaan. Lebih parah lagi adalah kebecian dibentuk karena bisa menjadikan perbedaan sebagai sebuah komoditi yang mudah didapatkan. Artinya, imbalan diperlukan demi rasa aman dalam melakukan sesuatu.

Kita yang mempertahankan diri sebagai “yang paling” sebenarnya hatinya tidak akan pernah bahagia karena terus tergoda dengan keinginan untuk bertengkar. Penderitaan itu dapat diterangkan dengan sebuah ilustrasi berikut ini. Ada dua murid di dalam sebuah perguruan. Murid yang satu adalah pandai dan murid yang satunya adalah bodoh. Pada suatu hari terjadi perdebatan yang keras dan tidak ada hentinya antara mereka tentang jumlah dari 3X7. Murid yang pandai bersekukuh bahwa 3×7 adalah 21, sedangkan murid yang bodoh tetap berpendapat bahwa 3×7 adalah 27. Mereka kemudian membawa persoalan ini kepada sang guru untuk memperoleh kebenaran darinya. Di hadapan sang guru, murid yang bodoh itu mengatakan kepada murid yang pandai: “Jikalau pendapatku yang benar bahwa 3×7 adalah 27, engkau akan dicambuk sepuluh kali dan aku akan mencambuk diriku sendiri seribu kali kalau pendapatmu yang benar bahwa 3×7 adalah 21”. Guru itu kemudian mencambuk murid yang pandai itu sepuluh kali. Menerima cambukan itu, murid yang pandai itu berteriak: “Guru, mengapa guru mencambuk aku, padahal aku yang benar bahwa 3×7 adalah 21’. Guru itu menjawab: “Aku mencambuk engkau bukan karena engkau salah, tetapi engkau tidak arif dalam menghadapi temanmu yang kurang pandai.

Bagaimana membentuk sikap yang arif terhadap perbedaan sehingga terbangun persahabatan dalam keragaman? Pertama adalah kita harus menyadari bahwa kita bukan orang yang paling segalanya dalam hidup ini. Kedua adalah kita harus menyadari bahwa kelebihan-kelebihan yang Tuhan telah berikan kepada kita ternyata masih banyak umat-Nya memiliki hal yang lebih dari kita dalam berbagai segi. Dengan kata lain, di atas langit masih ada langit. Ketiga adalah kita menampilkan diri apa adanya. Tampil apa adanya akan menambah simpati orang yang berbeda dengan kita. Tampil apa adanya berarti kita jujur dan tulus dalam menjalani hidup kita. Kita tidak perlu kuatir dan kecewa dengan kekurangan kita karena Tuhan sudah menyiapkan lebih banyak lagi kelebihan dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat mensyukuri perbedaan sebagai berkat, yaitu untuk saling mengenal dan memahami sehingga terjalin relasi yang lebih harmonis seperti nasihat Santo Paulus: “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan” (1Korintus 12:25).

Kesimpulan dari pembahasan “bersahabat dengan perbedaan” terangkai dalam doa singkat berikut ini :

Bapa di surga,

Terimakasih aku haturkan kepadaMu.

atas perbedaan yang ada.

Tolong aku untuk menghargai dan mensyukuri perbedaan itu,

sehingga perbedaan itu menjadi indah.

Amin.

Tuhan memberkati

Persembahan seorang ibu

0

Kesaksian iman untuk permenungan Trihari Suci oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Aku berkenalan dengan Tante Annie Liem melalui email. Ia lahir tanggal 01 Januari 1941 (75 tahun). Tante Annie sekarang tinggal di Kanada. Aku mengetahuinya melalui Ibu Yohana, salah satu peserta Bina Lanjut Kitab Suci (BLKS), di mana saya mengajarnya dan Bapak Agus, Komunitas Emmaus Journey-Serpong. Aku terkejut bahwa Tante Annie membantu pembangunan Rumah Doa dan Gua Maria di Solear-Paroki St. Odilia-Tangerang di pinggiran Keuskupan Agung Jakarta. Dalam hatiku berkata bahwa ia pasti memiliki hidup rohani yang sangat mendalam. Benarlah yang aku pikirkan bahwa ia ingin mempersembahkan Gua Maria itu untuk mengenang Eka, anak satu-satunya, yang telah berpulang ke rumah Allah Bapa.

Eka menderita leukemia sebelum meninggal dunia. Sebelum menghadap Bapa, ia pernah beberapa kali merasakan kedatangan Tuhan. Tuhan memberikan pesan kepadanya: “Engkau akan disembuhkan”. Maksudnya baru dipahami Tante Annie ketika Eka sudah meninggal dunia, yaitu kesembuhan total. Kesembuhan Total adalah kebahagiaan kekal. Kebahagiaan kekal itu diterimanya dengan melaksanakan ajaran Injil. Tuhan menunjukkan jalan kebahagiaan kekal kepadanya tersebut dalam sebuah mimpi bahwa Tuhan memberikan kepadanya empat buku. Tante Annie menafsirkannya sebagai sebagai Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Inti dari Injil adalah hidup di dalam kasih. Kasih merupakan perintah baru, sebagai wasiat Tuhan Yesus, sebelum Ia menuju ke Bukit Golgota: “Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Perintah Tuhan Yesus itu menjadi baru karena kasih itu menjadi hidup karena diperagakan dengan ketulusan menurut teladan-Nya. Eka terus-menerus memberi pesan kepada orang-orang yang mendoakannya untuk melaksanakan perintah baru dari Tuhan itu beberapa saat sebelum ia meninggal dunia: “Please help Kevin/Tolong bantu Kevin”. Kevin adalah teman bermain Eka sewaktu ia masih kecil. Setelah mengatakan demikian, pada hari Jumat pagi Eka mengatakan kepada Daisy, istrinya: “I’m going home tonight/Aku mau pulang ke Surga malam ini”. Ia meninggal dunia pada hari itu, Jumat tanggal 28 Juni 1996, pukul 19.45, dalam usia tiga puluh tiga tahun, seperti usia Tuhan Yesus. Ia meninggal persis seperti yang dikatakannya kepada Tante Annie pada hari Selasa tanggal 25 Juni pada tahun yang sama: “Mom, I’m going home on Friday”. Keesokan harinya (Sabtu), Norton, teman dekat Eka, mencari Kevin dan ia menemukan Kevin betul-betul dalam kesusahan.

Hati Tante pasti hancur dengan kepergian Eka, apalagi Eka adalah anak tunggalnya. Akan tetapi, pembimbing rohaninya menguatkannya dalam menerima kepergian Eka: “Annie you should be happy that Eka knows that he is going home to the Father”. Eka pasti suci hatinya sehingga diperkenankan melihat Allah sebelum meninggal dan pasti ia kini bersatu dengan Dia dalam Kerajaan-Nya : “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Kedekatan Tante Annie dengan Tuhan membuatnya memperoleh penglihatan akan tempat yang damai bagi Eka ketika ia sakit. Gambaran tempat yang sangat damai itu adalah Eka mengenakan jubah putih dan baru saja tidur di antara rumput dan bunga lili. Rumput dan bunga lili itu dilukiskan dalam Mazmur 23, khususnya ayat 2: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang”.

Yang membuat Tante Annie bahagia setelah kepergian Eka adalah banyak teman-temannya berubah dan menjadi dekat dengan Tuhan. Eka seperti sebuah akar yang rela masuk ke dalam tanah untuk menumbuhkan benih ke atas bumi dan menikmati hangatnya sinar matahari. Sebagai contoh adalah Kevin sangat tersentuh dengan hangatnya kasih Tuhan melalui Eka: “Aku sangat terharu dengan kasih Eka yang masih mengingat aku dalam detik-detik akhir hayatnya di dunia”. Berkat kedekatannya dengan Tuhan, Tante Annie mampu mengolah pengalaman atas kepergian Eka menjadi sebuah pengalaman spiritual yang indah: “Bunda Maria memiliki Tuhan Yesus hanya selama tiga puluh tiga tahun dan mempersembahkanNya demi keselamatan manusia. Demikian juga, aku mempersembahkan anak tunggalku supaya banyak orang menjadi dekat denganNya”. Kedalaman rohaninya sungguh menyentuh hatiku: “Kebanyakan orang menjauh dari Tuhan ketika anaknya yang tunggal dipanggilNya pulang, tetapi Tante Annie justru semakin dekat dengan Tuhan dan semakin menjadi saluran berkat-Nya”.

Pesan yang dapat kita renungkan dari kesaksian Tante Annie tentang Eka tergores dalam sebuah kata-kata bijaksana: “Pejamkan matamu, lalu anggaplah semua yang ada di dunia ini hampa dan fana. Anggaplah semuanya seolah-olah tiada dan ingatlah akan Tuhan dan perintah-Nya, maka engkau akan merasakan sinar-Nya. Engkau akan merasakan betapa damainya berbaring di bawah naungan-Nya: “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mazmur 17:8).

Tuhan memberkati

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab