Home Blog Page 26

Cinta Yang Tak Pernah Pupus

0

Sharing Retret Penyembuhan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Retret Penyembuhan, yang diadakan pada tanggal 01-03 April 2016 di Cikanyere, memberikan kepadaku sebuah pengalaman iman tentang “Cinta yang Tak Pupus Oleh Kematian”. Retret penyembuhan ini dikoordinir oleh KELASI (Keluarga Alumni Sekolah Evengelisasi Pribadi Shekinah) dan diikuti oleh 467 orang (termasuk panitia). Mereka ini datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Kalimantan, Solo, Lampung, bahkan ada dari Timur Leste. Peserta retret bukan hanya dari kalangan umat Katolik, tetapi ada beberapa dari keyakinan lain.

Aku mendapatkan pengalaman akan “Cinta yang Tak Pupus Oleh Kematian” itu dari Ibu Santi Triwati. Ibu Santi lahir pada tanggal 29 Mei 1966. “Cinta yang Tak Pupus Oleh Kematian” merupakan hasil permenungannya atas sebuah kehilangan yang ia alami. Ia kehilangan suaminya yang sangat ia cintai dalam tragedi hilangnya pesawat MH 370 di hari Sabtu, tanggal 08 Maret 2014 dini hari. Pada waktu itu, pesawat MH 370 sedang mengadakan penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

Ketika mendengar kejadian itu, ia sangat tergoncang. Ia menelepon maminya yang tinggal di Semarang untuk memberitahukan kepadanya tentang apa yang terjadi pada suaminya. Sebelum menghubungi maminya, ia berdoa: “Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tidak menangis pada saat aku menyampaikan kejadian itu kepada mamiku. Aku tidak mau mamiku tahu bahwa aku sedang sangat sedih karena kesedihanku akan membuat mamiku juga ikut sedih”. Setelah berdoa demikian, Tuhan memberikan kepadanya ketegaran untuk menceritakan kejadian itu kepada maminya dengan tidak menangis. Ia hanya meminta kepada maminya untuk mendoakan suaminya dan penumpang lain agar bisa segera ditemukan.

Sejak pesawat MH 370 itu hilang, ia tidak bisa tidur selama 24 jam selama berhari-hari karena belum ada berita yang jelas tentang pesawat dan para penumpangnya itu. Ia terus menerus menangis setiap hari karena mengenang kebaikan suaminya. Suaminya itu senantiasa memberikan kasih secara tulus kepadanya selama dua puluh tahun walaupun mereka belum mendapatkan anak. Ia mengatakan kepadaku: “Romo, suamiku itu tidak Katolik. Akan tetapi, suamiku itu mengajarkan kepadaku tentang kasih, keromantisan, dan keharmonisan. Suamiku hampir tidak pernah marah. Sebelum dan sesudah bangun, ia selalu memelukku dan mencium pipi kiri dan dan kanan sebagai ungkapan kasih sayangnya. Dan apabila ia mau berangkat kerja, kami juga saling berpelukan dan saling mencium pipi kiri dan kanan. Aku teringat bahwa ia menyelipkan sebuah surat cinta untukku pada hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Isinya bahwa suamiku menginginkan hidup bersamaku sampai kakek dan nenek”.

Ia sangat shock ketika mendengar kabar dari Malaysia bahwa pesawat MH 370 berakhir di Samudera Hindia. Ketika ia mengalami kesedihan itu, Tuhan memberikan kekuatan kepadanya melalui saudara-saudara yang setia menemaninya dan teman-teman kantor yang selalu memberi semangat hidup kepadanya. Melalui dukungan mereka itu, ia bisa kuat. Di dalam kesendiriannya, ia kini merasakan bahwa Tuhanlah yang mendampingi dan menjaganya.

Pendampingan dan penjagaan Tuhan itu membuatnya terpanggil menjadi seorang Katolik. Ia telah mengenal agama Katolik ketika mengenyam pendidikan di SMP dan SMA yang dikelola Yayasan Katolik. Pada pertengahan bulan Januari 2016 ia memutuskan untuk mengikuti kelas katekumen, yaitu belajar agama Katolik

Keputusannya untuk menjadi seorang Katolik dimantapkan dalam retret penyembuhan yang baru saja ia ikuti. Retret penyembuhan ini telah membuatnya semakin percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi dirinya dan suaminya yang telah tiada: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkotbah 3:11). Ia mengungkapkan imannya kepada Tuhan atas kepergian suaminya dalam sebuah doa berikut ini:

“Tuhan,

hanya Engkau yang tahu rencana yang terbaik bagiku.

Aku memasrahkan hidupku pada rencana-Mu

sehingga aku bisa menjalaninya dengan tenang.

Aku yakin bahwa Engkau telah memanggil suamiku

untuk pulang ke rumah Allah Bapa di Surga

karena suamiku telah menyelesaikan tugasnya di dunia,

yaitu sebagai suami yang sangat baik.

Terimakasih Tuhan atas suami yang sangat baik yang telah Engkau berikan kepadaku. Amin”.

Kini lagu “Indah Rencana-Mu” yang dinyanyikan pada waktu retret menjadi nyanyian rohaninya setiap hari yang memberi penghiburan:

Indah rencana-Mu Tuhan, di dalam hidupku
Walau ‘ku tak tahu dan ‘ku tak mengerti semua jalan-Mu
Dulu ‘ku tak tahu Tuhan, berat kurasakan
Hati menderita dan ‘ku ‘tak berdaya menghadapi semua

Tapi ‘ku mengerti s’karang, Kau tolong padaku
Kini ‘ku melihat dan ‘ku merasakan indah rencana-Mu
Kini ‘ku melihat dan ‘ku merasakan indah rencana-Mu

Pesan yang dapat kita timba dari pengalaman ibu Santi: “Kehadiran orang yang mengasihi kita akan mendatangkan sejuta harapan dan kepergiannya dari dunia meninggalkan sejuta kenangan dalam hati kita. Itulah makna cinta yang tulus tidak pupus oleh kematian.

Kasih adalah hakekat dari Tritunggal Maha Kudus

0
Sumber gambar: https://doctrinalart.files.wordpress.com/2014/07/2-3-the-trinity-adored-by-the-duke-of-mantua-and-his-family.jpg?w=519&h=420

[Hari Raya Tritunggal Maha kudus: Ams 8:22-31; Mzm 8:4-9; Rm 5:1-5; Yoh 16:12-15]

Dear Pope Francis. Demikian judul buku unik terbitan Loyola Press dengan cover putih bergambar karikatur Paus berdiri di tengah-tengah anak-anak dengan baju warna warni. Di buku itu tertulis jawaban Paus Fransiskus terhadap 30 pertanyaan anak-anak dari berbagai belahan dunia. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Canada, yaitu dari Ryan, umur 9 tahun. Bunyinya demikian:

Paus yang terkasih,

Adalah suatu kehormatan untuk menanyakan pertanyaanku kepadamu. Pertanyaanku adalah: apakah yang Allah lakukan sebelum menciptakan dunia?

Salam,
Ryan

Terhadap pertanyaan kritis ini, Paus Fransiskus menjawab:  

Ryan yang terkasih,

Ada keindahan dalam penciptaan. Dan ada kelembutan dan belas kasih Allah yang tak terbatas dan kekal. Allah mulai membuat sesuatu ketika Ia menciptakan dunia. Tetapi kalau saya mengatakan kepadamu bahwa Allah tidak melakukan apa-apa sebelum Ia menciptakan dunia, saya salah. Kenyataannya, Allah juga menciptakan waktu—yaitu keadaan “sebelum” dan “sesudah.” Tetapi saya tidak mau membuat kamu bingung dengan istilah-istilah ini. Pikirkanlah demikian: sebelum menciptakan apapun, Allah mengasihi. Itulah yang dilakukan oleh Allah: Allah sedang mengasihi. Allah selalu mengasihi. Allah adalah kasih. Sebelum melakukan apapun yang lain, Allah adalah kasih dan Allah sedang mengasihi.

Fransiskus.

Mari merenungkannya: Sebelum Allah melakukan apapun, Allah adalah kasih dan Allah sedang mengasihi. Dari kalimat sederhana inilah kita memahami hakekat Allah yang satu dengan tiga Pribadi. Allah Tritunggal Mahakudus, yang kita rayakan pada hari Minggu ini. Sebab pada saat belum ada sesuatupun yang diciptakan, hanya ada Allah. Sedangkan dalam perbuatan mengasihi, selalu ada pihak yang mengasihi, pihak yang dikasihi, dan kasih itu sendiri. Oleh karena itu, Allah yang satu itu adalah: Allah Bapa dan Putra yang saling mengasihi, dan Roh Kudus—yang adalah kasih sempurna antara Allah Bapa dan Putra.

Bacaan pertama hari ini menjabarkan adanya Tuhan dan Kebijaksanaan-Nya: “Tuhan telah memiliki aku sebagai permulaan pekerjaaan-Nya” (Ams 8:22).  LAI menerjemahkan kata kerja ָקָנה/  qānāh dengan kata menciptakan. Dalam kamus dapat dilihat bahwa kata tersebut artinya “membeli, memperoleh, memiliki, menciptakan.”  Dengan demikian, kita pahami bahwa Kebijaksanaan telah ada bersama dengan Allah sebagai milik-Nya. Di sini kata “menciptakan” maksudnya adalah ungkapan  penggambaran dari sesuatu yang ada sebagai milik Allah: yang sudah ada dalam diri Allah sebelum segala sesuatu diciptakan. Pemahaman ini penting, sebab pengertian sempit tentang arti “menciptakan” dapat mengarah kepada pandangan yang keliru, yaitu menyamakan Sang Kebijaksanaan sebagai suatu ciptaan. Ayat inilah yang dijadikan patokan oleh Arius di permulaan abad ke-4, dengan paham Arianisme, yang menganggap bahwa Yesus sebagai Putra tidak setara dengan Allah Bapa. Tentu interpretasi ini tidak benar, karena hanya melandaskan pada perikop ini saja, tanpa melihat kepada ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci yang menyatakan kesetaraan Kebijaksanaan dan Sang Sabda Allah itu dengan Allah sendiri, yang dalam Perjanjian Baru dinyatakan oleh Kristus dan di dalam Kristus. Sebab Kristus yang ada sebelum Abraham ada (Yoh 8:58) adalah Sang Firman yang telah ada sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah. Oleh Sang Firman itu segala sesuatu diciptakan (lih. Yoh 1:1-2). Oleh karena itu dalam setiap penciptaan, didahului dengan, “Berfirmanlah Allah” (lih. Kej 1).

Selanjutnya, Rasul Paulus mengajarkan bahwa Sang Firman yang telah menciptakan kita, juga adalah Ia yang membenarkan dan menyelamatkan kita. Kita dibenarkan karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah Bapa, karena iman akan kasih karunia Allah (lih. Rm 5:1-2). Ini sejalan dengan perkataan Yesus sendiri, bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan bahwa tak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia (lih. Yoh 14:6). Dalam kasih karunia Allah ini, kita berharap akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan ini tidak mengecewakan, sebab kita telah menerima curahan kasih Allah yaitu oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Dari Bacaan Kedua ini terlihat adanya kesatuan tak terpisahkan antara Yesus Kristus sebagai jalan masuk kepada Allah Bapa, dan  Roh Kudus yang dicurahkan untuk meneguhkan pengharapan kita sebagai orang beriman.

Bacaan Injil kembali meneguhkan akan kesatuan Yesus dengan Bapa sebab segala sesuatu yang Bapa punya—yaitu Roh-Nya—adalah kepunyaan Yesus juga (lih. Yoh 16:15). Oleh karena itu, Yesus berjanji kepada para murid-Nya, bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran—Roh-Nya sendiri, sebab Yesus adalah Kebenaran—agar dapat memimpin para murid-Nya kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12). Janji Yesus ini ditepati-Nya, dan kita baru saja merayakannya secara meriah minggu lalu di Hari Raya Pentakosta.

Di Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, mari kita menyadari bahwa Allah adalah Kasih yang dalam kekekalan selalu mengasihi. Karena itu Allah menghendaki kita masuk ke dalam kehidupan ilahi-Nya—yaitu kesatuan Bapa Putra dan Roh Kudus—yang penuh kasih. Dan bahwa Allah adalah Kebenaran—yang membenarkan kita oleh iman akan kasih karunia Allah itu.

Di hari istimewa ini, mari kita ucapkan doa yang disusun oleh St. Katarina dari Siena:

“… O Tritunggal Mahakudus, Engkau bagai misteri yang dalam seperti lautan. Di dalam Engkau, semakin aku mencari, semakin aku menemukan; dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari. Sebab bahkan ketika aku terbenam di dalam kedalaman-Mu, jiwaku tak pernah puas, selalu lapar akan Engkau, Trinitas yang kekal, berharap dan rindu untuk melihat Engkau, Sang Terang Sejati… Engkau memberi kami makan dengan manisnya Engkau, rasa manis yang daripadanya tidak ada sedikitpun jejak kepahitan. O Tritunggal yang kekal! Amin.”

Roh Kudus yang membimbing, membarui, dan memberi buah

0
Sumber gambar: http://66.media.tumblr.com/aeaa869bc37bc6ceb619dce511f4983b/tumblr_mmy25xFO8Y1qfvq9bo1_1280.jpg

[Hari Raya Pentakosta: Kis 2:1-11; Mzm 104:1,24-34; 1Kor 12:3-7, 12-13; Yoh 14:15-16, 23-26]

Minggu ini ‘kan Pentakosta, ya? Tapi sebenarnya bukankah kita sudah menerima Roh Kudus waktu dibaptis, dan menerima sakramen Penguatan. Lalu sebenarnya di perayaan Pentakosta ini, mengapa kita minta Roh Kudus lagi, ya? Kan sudah dicurahkan…”

Pertanyaan serupa mungkin pernah kita dengar. Atau bahkan suatu kali juga menjadi pertanyaan kita sendiri. Sabda Tuhan membantu kita memahami, bahwa Roh Kudus memang dapat dicurahkan berkali-kali atas kita. Sebab di malam hari Kebangkitan-Nya, ketika Kristus   menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia telah menghembuskan Roh Kudus kepada mereka, “Seperti Bapa telah mengutus Aku, kini Aku mengutus kamu… Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:21-22). Namun di hari Pentakosta, Roh Kudus kembali dicurahkan, kali ini dengan cara yang lebih mengagumkan, yaitu dengan tiupan angin keras yang mengguncang tempat para murid berkumpul, dan lidah-lidah api yang hinggap pada mereka, dan merekapun dapat berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kis 2:1-4).

Para Bapa Gereja menjelaskan bahwa Roh Kudus yang diutus itu membuat kita yang menerimanya dapat “recipere Deum atau capax Dei, artinya menerima Allah dan diberi kemampuan untuk melakukan karya-karya Allah. Paus Fransiskus dalam homili Pentakosta tahun 2015 yang lalu, menjelaskan bahwa Roh Kudus memberi kita kemampuan tersebut, dengan tiga cara, yaitu membimbing kita pada seluruh kebenaran (lih. Yoh 16:13), memperbarui muka bumi (Mzm 103:30) dan  memberi kita buah-buah-Nya (lih. Gal 5:22-23).    

Pertama, dalam Injil, Yesus menyebut Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran (Yoh 14:17) yang akan membawa para murid-Nya kepada pengertian akan apa-apa yang telah Yesus katakan dan lakukan, terutama tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Kita melihat betapa ini memang terjadi pada rasul. Setelah kematian Yesus, para rasul sangat ketakutan dan mengunci diri di suatu ruangan, untuk melindungi diri mereka sendiri. Namun setelah Roh Kudus dicurahkan, mereka tidak takut lagi, dan tidak malu menjadi murid Kristus. Dipenuhi Roh Kudus, mereka kemudian memahami “seluruh kebenaran” bahwa kematian Yesus bukanlah kekalahan, namun pernyataan tertinggi dari kasih Allah. Kasih Allah itu, dalam Kebangkitan Kristus telah mengatasi kematian dan meninggikan Yesus sebagai Tuhan dan Penebus umat manusia. Kebenaran ini menjadi Kabar Gembira bagi seluruh umat manusia.

Kedua, Roh Kudus membarui muka bumi, karena Ia adalah Roh yang sama yang telah memberikan hidup kepada semua makhluk ciptaan. Dengan pembaruan ini, kita diingatkan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan. Sebab Allah telah menempatkan kita manusia, dalam sebuah “taman” di mana kita hidup, bukan untuk dieksploitasi dan dirusak, tetapi untuk dijadikan subur dan dikelola dengan baik (lih. Kej 2:15). Sebab di setiap makhluk ciptaan, kita dapat melihat kemuliaan Allah Pencipta, sebagaimana dikatakan dalam Mazmur, “Ya Tuhan Allah kami, betapa  mulianya nama-Mu, di seluruh bumi!” (Mzm 8:2,10)

Ketiga, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menunjukkan buah-buah yang dinyatakan dalam hidup orang-orang yang berjalan dalam tuntunan Roh Kudus (lih. Gal 5:22). Di satu sisi, Rasul Paulus menjabarkan kehidupan menurut daging, dari orang-orang yang menutup diri terhadap Tuhan; namun kemudian St. Paulus menjabarkan pula buah-buah Roh dalam kehidupan orang-orang yang berjalan dalam pimpinan Roh Kudus (Gal 5:6,25).

Dunia ini membutuhkan orang-orang yang tidak menutup diri sendiri, tetapi orang-orang yang mau membuka diri untuk dipenuhi dengan Roh Kudus. Kita menjadi orang-orang yang “tertutup” jika kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, orang yang terlalu cepat menghakimi orang lain, orang yang sudah merasa benar sendiri sehingga mengabaikan apa yang Tuhan Yesus ajarkan, orang yang tidak mau melayani orang lain, dan seterusnya. Kita memerlukan Roh Kudus untuk dapat menjadi orang-orang yang mampu mewujudkan iman, harap, kasih, dalam tindakan nyata. Dunia sekitar kita membutuhkan buah-buah Roh Kudus, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan pengendalian diri” (Gal 5:22). Semoga Roh Kudus yang dicurahkan atas kita dan yang akan kembali dicurahkan kepada kita, memampukan kita untuk hidup dalam iman yang hidup dan kasih yang nyata, supaya kita selalu dapat hidup dalam damai dengan semua orang.

Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu
dan nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu.
Utuslah Roh-Mu dan semuanya akan dijadikan baru.
Dan Engkau akan membaharui muka bumi.
Ya, Allah, yang dengan terang Roh Kudus,
telah mengajar hati umat-Mu,
berilah agar dengan Roh Kudus yang sama,
kami dapat menjadi benar-benar bijaksana, dan
senantiasa menikmati penghiburan-Nya,
melalui Kristus Tuhan kami. Amin.

Kesatuan kasih memberi kemuliaan bagi Allah

0
Sumber gambar: http://photoblog.statesman.com/wp-content/uploads/2013/04/005.jpg

[Minggu Paskah VII: Minggu Komunikasi Sedunia, Kis 7:55-60; Mzm 97: 1-9; Why 22:12-20; Yoh 17:20-26]

Hari-hari ini kita memperingati dan masuk dalam doa Novena yang berasal dari tradisi doa Gereja perdana. Yaitu, doa sembilan hari—sejak hari Kenaikan Yesus sampai dengan hari Pentakosta. Gereja berdoa menantikan Roh Kudus, sebagaimana dahulu dilakukan oleh para murid Kristus dan Bunda Maria. Kita semua menantikan curahan Roh Kudus, yaitu Roh Kudus yang sama yang telah kita terima saat Baptisan. Roh Kudus itulah yang mengikat kita semua dengan Kristus dan mengikat kita satu sama lain. St. Sirilus berkata, “Kita semua yang telah menerima … Roh Kudus, telah dipadukan satu sama lain dan dengan Allah. Sebab jika Kristus, bersama dengan Roh Bapa dan Roh-Nya sendiri, datang dan tinggal di dalam diri kita masing-masing, maka meskipun kita banyak, tetaplah Roh Kudus itu satu dan tak terbagi-bagi. Ia mengikat jiwa setiap kita bersama… dan membuat kita semua satu di dalam Dia. Sebab seperti kuasa Tubuh Kristus yang suci mempersatukan mereka yang di dalamnya ia tinggal, menjadi satu tubuh, … dengan cara yang sama, Roh Allah yang satu dan tak terbagi, yang tinggal di dalam semua [umat beriman], memimpin kepada kesatuan rohani” (St. Sirilus dari Aleksandria,  In Jo. ev., 11,11, KGK 738). Dalam kesatuan rohani inilah Roh Kudus membantu Gereja untuk berdoa menyambut Tuhannya (lih. Why 22:17), yaitu Kristus Sang Alfa dan Omega.

Maka kesatuan Gereja menjadi tanda yang paling jelas mencerminkan kesatuan kasih antara Kristus dan Allah Bapa, sebab Roh Kudus adalah  Kasih yang dengan-Nya Bapa mengasihi Kristus Putera-Nya dan sebaliknya.  Kristus yang tak terpisahkan dari Gereja-Nya, menjadikan Roh Kudus ini juga tinggal dalam Gereja-Nya untuk  mempersatukan anggota-anggotanya. Karena itu, St. Yohanes Krisostomus mengatakan, “Sebab tak ada skandal yang begitu besar seperti perpecahan, sedangkan kesatuan antara umat beriman adalah alasan yang kuat untuk percaya; sebagaimana dikatakan Yesus di awal ajaran-Nya. ‘Dengan ini semua manusia akan mengetahui bahwa kamu adalah murid-Ku, jika kamu mengasihi satu sama lain.’ Sebab jika mereka berkelahi, mereka tidak akan dipandang sebagai para murid dari Guru yang membawa damai. ‘Dan Aku’, kata-Nya, ‘[jika] tidak menjadi Pembawa damai, mereka tidak akan mengenaliKu sebagai yang diutus Allah…. [Maka] dengan ‘kemuliaan’ (ay. 22,24), yang dimaksudkan Kristus adalah mukjizat-mukjizat, ajaran-ajaran-Nya dan kesatuan; dimana kesatuan adalah kemuliaan yang lebih besar. Sebab semua yang percaya melalui pemberitaan para rasul menjaga kesatuan. Jika barangsiapa terpisah, itu adalah karena kecerobohan orang itu sendiri, bukan karena bahwa Tuhan kita telah mengharapkannya demikian” (St. John Chrysostom, in Catena Aurea, John 17:20-23).

Sebagaimana kesatuan dalam keluarga kita juga harus selalu dipupuk dan dipelihara, demikian pula, Kristus mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada Gereja sebagai “keluarga umat beriman”, agar kesatuannya terus terjaga. Itulah sebabnya kita merayakan sakramen-sakramen, dan Novena Roh Kudus. Katekismus Gereja Katolik mengatakan, “…Kristus, sebagai Kepala Tubuh, memberikan Roh Kudus kepada anggota-anggota-Nya, untuk memelihara mereka, menyembuhkan mereka, menyelaraskan mereka dalam fungsinya yang berbeda-beda, memberi mereka hidup, mengutus mereka untuk memberi kesaksian, dan mengikutsertakan mereka dalam penyerahan diri-Nya kepada Bapa dan dalam doa permohonan-Nya untuk seluruh dunia. Oleh sakramen- sakramen Gereja, Kristus membagi-bagikan Roh Kudus-Nya yang menguduskan kepada anggota Tubuh-Nya” (KGK 739).  

Di hari Minggu ini, yang juga adalah hari Minggu Komunikasi sedunia, mari kita memeriksa diri kita, sejauh mana kita telah menjadi saksi bagi kehadiran Roh Kudus yang mempersatukan Gereja. Apakah kita senantiasa menjaga kesatuan dalam keluarga kita, lingkungan, komunitas ataupun paroki kita? Sikap menjaga kesatuan diuji dalam perbedaan pendapat, atau kalau ada kesalahpahaman. Apakah kita lekas marah, ‘ngedumel di belakang’ atau kita lebih suka berdialog dengan semangat kasih dan mencari penyelesaiannya?  Apakah kita gigih mengusahakan persatuan dan menolak perpecahan? Sebab kesatuan kasih di antara kita sebagai umat beriman merupakan kesaksian yang paling lantang menyatakan bahwa Kristus adalah Sang Putera Allah yang diutus oleh Allah Bapa untuk membawa damai kepada umat manusia. Melalui kesatuan kasih dalam Gereja, dunia yang sudah tercerai berai oleh dosa, kejahatan dan kebencian, dapat mengenali wajah Allah yang penuh kasih, yang menyatakan kasih-Nya di dalam Kristus. Jika kita sungguh mengasihi Kristus, kita harus juga menginginkan dan mengusahakan kesatuan kasih ini, sebagaimana Kristus menghendakinya. Dengan demikian kita memuliakan Allah. Karena itu marilah kita berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, di malam menjelang sengsara-Mu, Engkau berdoa kepada Bapa, agar semua orang yang percaya kepada-Mu menjadi satu. Utuslah Roh Kudus-Mu kepada semua yang menyebut diri sebagai murid-Mu dan pelayan-Mu. Teguhkanlah iman kami akan Engkau, dan pimpinlah kami untuk saling mengasihi dalam kerendahan hati. Semoga kami yang telah dilahirkan kembali dalam satu Baptisan dapat dipersatukan dalam satu iman di bawah satu Gembala. Amin.”

Konsili: Tanda Roh Kudus menyertai Gereja

0
Sumber gambar: http://www.playbuzz.com/mattvr10/church-council-trivia

[Minggu Paskah VI:  Kis 15:1-29; Mzm 67: 2-8; Why 21:10-23; Yoh 14:23-29]

Judson Cornwall, seorang pendeta Protestan yang mengarang buku Incense and Insurrection, menyampaikan keprihatinannya akan betapa maraknya perpecahan dalam gereja-gereja Protestan di Amerika. Ia mengambil perikop dari Perjanjian Lama, yaitu kitab Bilangan bab 16 untuk menjelaskan argumennya. Di perikop itu dijelaskan tentang pemberontakan Korah terhadap Musa dan Harun. Korah tidak percaya bahwa Musa dan Harun telah menerima kuasa dari Tuhan sendiri, untuk memimpin Israel, bangsa pilihan-Nya. Korah menganggap bahwa bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah itu kudus, sehingga setiap orang dapat melakukan apa yang dilakukan oleh Musa dan Harun. Pendeta Cornwall berkata, “Pemberontakan Korah kelihatannya adalah melawan Musa dan Harun, tetapi sesungguhnya [ia] melawan Allah… Dengan berusaha menumbangkan para pemimpin Gereja di dunia, kita beresiko menentang Allah sendiri dan mengambil bagian dalam kemusnahan Korah…. Apakah ada hal apapun yang cukup besar untuk membenarkan pemecahan diri dari Gereja?” (Judson Cornwall, Incense and Insurrection, Kdimension Publishers, 1986, p. 17)

Sejujurnya, membaca argumen ini, mungkin kita umat Katolik pun berandai-andai: Alangkah baik jika permenungan ini disadari oleh semua umat Kristen di sepanjang zaman, sehingga tak ada orang yang memutuskan untuk memecahkan diri dari kesatuan dengan Gereja para Rasul, yaitu Gereja Katolik. Sebab dorongan sekelompok orang untuk memisahkan diri dari otoritas para rasul—dan para penerus mereka—sebenarnya bukan baru terjadi di abad ke-16. Bahkan sejak abad pertama, seperti  tercatat dalam Bacaan Pertama, sudah terjadi semacam “pemberontakan” dari sekelompok orang Kristen Yahudi yang ingin tetap mempertahankan ketentuan sunat bagi orang-orang non-Yahudi yang mau menjadi Kristen. Hal tersebut nampaknya cukup krusial pada saat itu, sehingga para Rasul harus berkumpul dan membicarakannya. Diadakanlah Konsili yang pertama di Yerusalem. Di Konsili itu, Rasul Petrus—selaku pemimpin para rasul—akhirnya memutuskan bahwa ketentuan sunat itu tidak lagi dibebankan kepada orang-orang dari bangsa lain yang ingin menjadi murid Kristus (lih Kis 15:7-11). Allah menyucikan hati mereka oleh iman, maka yang terpenting adalah “sunat hati” dan bukan sunat jasmani.

Demikianlah Kitab Suci sendiri memberi kesaksian akan adanya otoritas para Rasul selaku para pemimpin Gereja untuk memutuskan masalah-masalah sehubungan dengan ajaran iman. Maka Kitab Suci memberi kesaksian bahwa Kitab Suci pun memerlukan otoritas untuk menafsirkannya, yang dalam hal ini dilakukan oleh para rasul, secara khusus Rasul Petrus, sebagai pemimpinnya. Kini otoritas itu ada pada Paus, selaku penerus Rasul Petrus. Paus Fransiskus adalah Paus di urutan ke 266, setelah Rasul Petrus di urutan ke-1. Sejauh mana kita sebagai umat Katolik mendengarkan ajaran Bapa Paus? Dan sejauh mana kita juga mau mendengarkan ajaran Konsili-konsili? Sebab jangan sampai kita pun berpikir bahwa kebenaran itu hanya disampaikan oleh Kitab Suci saja. Sebab pemahaman ini tidak cocok dengan pemahaman Gereja Katolik sejak awalnya, yaitu di zaman para Rasul sampai sekarang. Sebab bahkan kanon Kitab Suci (yaitu 73 kitab termasuk kitab-kitab Deuterokanonika) ditentukan oleh otoritas Gereja Katolik, yaitu oleh Paus Damasus di tahun 382, dan konsili-konsili di tahun-tahun berikutnya yang sifatnya hanya meneguhkan kembali apa yang telah ditentukan di abad ke-4 itu. Maka anggapan bahwa Gereja Katolik  “menambah-nambahi Kitab Suci”  itu sungguh keliru.

Kita sebagai umat Katolik perlu mengenali bahwa Roh Kudus yang telah memberi inspirasi kepada para pengarang kudus untuk menulis Kitab Suci adalah Roh Kudus yang sama yang telah diutus oleh Allah untuk mengartikannya. Dan kuasa ini diberikan Allah kepada Gereja, dalam hal ini kepada para rasul dan para penerus mereka. Yesus bersabda, “Roh Kudus… akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu….” (Yoh 14:26). Di sinilah pentingnya ajaran lisan, yaitu yang disampaikan oleh Yesus melalui perkataan-Nya [dan ini disebut Tradisi Suci], mengingat Yesus tidak pernah menulis Kitab Suci. Maka kita harus percaya kepada para rasul yang telah menyertai Yesus di sepanjang karya publik-Nya, yang telah lebih penuh memahami prinsip-prinsip pengajaran Kristus. Termasuk di sini adalah hal-hal yang tidak secara eksplisit tertulis di Injil. Contohnya adalah soal perlu tidaknya ketentuan sunat bagi umat Kristen, seperti yang dicatat pada Bacaan Pertama.

Di sepanjang sejarah Gereja, terdapat banyak hal sehubungan dengan ajaran iman yang juga membutuhkan penjelasan yang lebih rinci, agar dapat semakin dipahami oleh umat. Penjelasan ini diberikan oleh para penerus rasul kepada kita, dengan kuasa yang telah diberikan oleh kristus kepada mereka. Para penerus rasul itu terus disertai oleh Roh Kudus yang diutus oleh Allah Bapa dan Putra. Roh Kudus itu adalah Roh Kebenaran, yang memimpin Gereja ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Bimbingan Roh Kudus ini terjadi di sepanjang sejarah Gereja, sehingga pemahamannya tentang suatu ajaran iman menjadi semakin penuh.

Maka walaupun kita sebagai umat Tuhan adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus…” (1Ptr 2:9), namun kita tetap harus mengakui kepemimpinan para rasul itu, yang namanya akan tercatat pada dua belas batu dasar di kota Yerusalem surgawi (lih. Why 21:14). Kristus tetap memandang para rasul-Nya dan tidak menganggap semua orang juga memperoleh otoritas yang sama dengan yang sudah diberikan kepada para rasul itu. Sama seperti bahwa tidak semua orang Israel diberi kuasa yang sama dengan kuasa yang diberikan kepada Musa dan Harun.

Semoga karunia Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita melalui Baptisan dan Penguatan, yaitu karunia kesalehan, mendorong kita untuk mencintai hal-hal yang ilahi. Merenungkan bacaan Kitab Suci hari ini, mari kita memohon karunia kerendahan hati dari Tuhan, agar kita terdorong untuk mempelajari ajaran para Paus dan Konsili-konsili. Sebab jangan sampai kita lebih tertarik untuk membaca berita-berita politik dan ekonomi, atau kisah-kisah fiksi semacam Harry Potter daripada membaca ajaran-ajaran Gereja. Padahal dengan mempelajari ajaran Gereja kita akan dibawa kepada pengenalan yang lebih mendalam akan Allah dan menumbuhkan kasih kita kepada-Nya. Juga, semoga kita pun terdorong untuk mendoakan para Paus, Uskup dan imam agar diberi hikmat kebijaksanaan oleh Tuhan untuk memimpin kita sebagai umat Tuhan. Dan semoga semakin banyak orang menyadari pentingnya untuk tetap tinggal dalam kesatuan dengan Gereja para rasul, yaitu Gereja Katolik.

Maka berhati-hatilah untuk tetap teguh berpegang pada ajaran-ajaran Tuhan dan para rasul-Nya… bersama dengan uskupmu yang terhormat dan para mahkota rohaninya, yaitu para imam, dan dengan para diakon…. Taatilah uskup … seperti Kristus ketika dalam rupa manusia taat kepada Bapa-Nya, dan para rasul [taat kepada] Kristus dan Bapa dan Roh Kudus….” (St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada Gereja di Magnesia,  13)

Mengasihi sesama dengan kasih Kristus

0
sumber gambar: http://www.moodycatholic.com/images/GreatestCommandment.jpg

[Minggu Paskah V,   Kis 14:21-27; Mzm 145: 8-13; Why 21:1-5; Yoh 13:31-35]

Injil hari ini mengingatkan akan perintah Tuhan Yesus yang sudah sering kita dengar. Yaitu, perintah baru untuk saling mengasihi. Mungkin kita bertanya, “Apanya yang baru? Bukankah sejak zaman dulu sabda Allah mengajarkan kita agar mengasihi sesama?” Ternyata pertanyaan yang sama ini pernah dijawab oleh St. Agustinus, demikian: “Dan kini Ia [Yesus] mengajar mereka…: ‘Sebuah perintah baru Kuberikan kepadamu, agar kamu saling mengasihi.’ Tapi bukankah hukum lama telah berkata, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (Im 19:19)?  Lalu mengapa Ia [Yesus] menyebutnya perintah yang baru? Apakah karena perintah itu melucuti manusia lama dalam diri kita dan memakaikan pada kita manusia yang baru? Yaitu bahwa perintah tersebut memperbarui pendengarnya, atau lebih tepatnya, pelakunya? Cinta kasih memang melakukan ini; tetapi yang dimaksud di sini adalah kasih yang Tuhan bedakan dengan kasih jasmani. ‘Kasihilah sesamamu, seperti Aku telah mengasihi kamu.’ Tidak dengan kasih yang dengannya manusia mengasihi satu sama lain, tetapi dengan kasih anak-anak Allah yang Mahatinggi, yang menjadi saudara-saudara bagi Putra-Nya yang Tunggal. Maka, kasihilah satu sama lain dengan kasih yang dengannya Kristus telah mengasihi mereka dan kasih ini akan memimpin mereka kepada pemenuhan kerinduan mereka…. Ini adalah kasih yang Tuhan bedakan dari semua kasih manusiawi, ketika Ia menambahkan, ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’. Dengan mengasihi kita, Ia [Kristus] mengasihi Allah [Bapa] di dalam kita… sehingga Ia dapat berada di dalam kita. Karena itu, marilah kita mengasihi satu sama lain, supaya oleh kasih ini, setiap kita membuat sesama kita menjadi tempat kediaman Allah” (St. Augustine, Catena Aurea, John 13:33-35).

Jadi yang baru dari perintah kasih itu adalah: Kasih itu sendiri, yang kita sampaikan kepada sesama kita. Sebelum kita menjadi murid Kristus, kita mengasihi dengan kasih yang bersifat manusiawi. Namun setelah kita menjadi murid Kristus dan hidup di dalam Dia, Kristus menghendaki agar kita mengasihi seperti Dia mengasihi, yaitu dengan kasih yang bersifat ilahi. Betapa besar kasih yang telah Kristus nyatakan kepada kita, sehingga Ia rela menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita. Kasih ilahi ini tidak menghitung untung rugi, namun tulus dan terus setia memberi, walau itu menuntut pengorbanan. Kasih ini mengusahakan agar sesama kita dapat menerima rahmat keselamatan. Bunda Teresa pernah mengajarkan tentang kasih yang seperti ini. Katanya, “Aku harus mau memberi apa pun yang diperlukan untuk berbuat baik kepada sesama. Ini mensyaratkan bahwa aku mau memberi sampai terasa sakit. Sebab kalau tidak demikian, tak ada kasih sejati di dalam diriku…. Aku telah menemukan suatu paradoks, yaitu kalau kamu mengasihi sampai terasa sakit, maka tak akan ada lagi rasa sakit, hanya bertambahnya cinta kasih.” Tuhan Yesus telah mengasihi kita sehabis-habisnya sampai merasakan sakit sedemikian hebat di kayu salib. Namun di kayu salib itu, Yesus tidak mengingat  sakit-Nya, namun kasih-Nya yang meluap tiada batasnya, kepada kita.

Nampaknya kasih yang semacam ini telah menjadi ciri khas para rasul dan jemaat perdana, seperti yang kita dengarkan di Bacaan Pertama. Para rasul menguatkan jemaat agar bertekun dalam iman, walaupun untuk itu mereka harus mengalami banyak sengsara (lih. Kis 14:22). Mereka dikejar-kejar oleh para penguasa, yang ingin menumpas umat Kristen. Mungkin tak terbayangkan bagi kita sekarang, betapa besar taruhannya untuk menjadi Kristen di abad-abad awal itu. Namun semangat mereka tidak pudar. Dengan doa dan puasa, para rasul itu menetapkan penatua-penatua jemaat—yaitu para imam—dan menyerahkan mereka kepada Tuhan.  Pengorbanan kasih dari para rasul dan para imam tersebut membuahkan hasil. Semakin banyak orang, bahkan dari bangsa-bangsa lain,  menjadi percaya kepada Kristus. Kita pun merupakan buah dari pewartaan iman para rasul dan para imam itu, sebab dari merekalah kita menerima karunia iman dan mengalami kasih karunia Allah. Melalui merekalah, kita menerima rahmat Allah, yang menjadikan kemah-Nya ada di tengah-tengah kita dan Ia tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Why 21:3). Bukankah ini nyata secara khusus dalam sakramen Baptis dan Ekaristi yang kita terima melalui Gereja-Nya? Sebab melalui sakramen- sakramen-Nya, Allah sungguh tinggal di dalam kita.

Saat kita merenungkan sabda Tuhan hari ini, marilah kita melihat betapa eratnya sabda Tuhan tersebut dengan pesan Konsili Vatikan II. Para Bapa Konsili mengajak kita agar kita bertumbuh dalam kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih (lih. Lumen Gentium 40). Artinya, dalam persatuan dengan Kristus, kita dimampukan untuk mengasihi sesama dengan kasih Kristus. Dengan demikian, kita mengikuti jejak Kristus, yang membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Meskipun bisa jadi, itu melibatkan “rasa sakit” dari pihak kita. Namun dalam kesatuan dengan Kristus, semua itu akan diubah-Nya menjadi kasih yang mendatangkan kebahagiaan sejati, dan yang menjadikan kita bertumbuh semakin menyerupai Dia.

Sebarkanlah kasih ke manapun engkau pergi. Pertama-tama di dalam rumahmu. Kasihilah anak-anakmu, istri atau suamimu, dan tetanggamu… Jangan biarkan seorang pun yang datang kepadamu tidak merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah perwujudan yang hidup akan kebaikan Tuhan; kebaikan di wajahmu, di matamu, di senyum-mu dan di dalam sapaanmu yang hangat” (St. Teresa dari Kalkuta).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab