Home Blog Page 28

Memperhatikan orang miskin

0

Refleksi kerahiman Allah oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Korintus 9:8).

Memperhatikan orang miskin merupakan niat Paus Fransiskus karena perhatian terhadap orang miskin merupakan perwujudan dari wajah kerahiman Allah. Allah menyatakan diri-Nya sebagai tempat perlindungan, pertolongan, dan pemelihara mereka: “Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. KepadaMulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong” (Mazmur 10:14). Kita adalah saluran dari perlindungan, pertolongan, dan pemeliharaan Allah kepada orang-orang miskin itu.

Tuhan Yesus menjadi teladan yang sempurna bagaimana menjadi saluran kerahiman Allah. Tuhan Yesus tidak menjauhi orang-orang miskin, tetapi bersahabat dengan mereka. Bersahabat dengan orang miskin berarti memperhatikan mereka. Sebagian besar pelayanan Tuhan Yesus adalah untuk orang miskin dan kurang beruntung, seperti mereka yang tertindas, orang sakit, orang kusta, dan para janda.

Tuhan Yesus juga meminta kepada para rasul-Nya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dalam tugas penginjilannya, Paulus dan Barnabas tetap harus mengingat orang-orang miskin: “hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya” (Galatia 2:10). Mengingat orang miskin bukan sekedar mengenang mereka dalam doa, tetapi juga benar-benar membantu apa yang mereka butuhkan. Sambil memberitakan Injil, Paulus dan Barnabas mengumpulkan bantuan untuk saudara-saudari yang kelaparan di Yerusalem.

Kita sebagai orang Kristiani, seharusnya juga melakukan hal yang sama, terlebih pada saat kehidupan sangat sulit seperti sekarang ini. Sekarang ini banyak orang terkena PHK. Banyak orang yang bekerja saja sulit memenuhi kebutuhan dasar dalam hidupnya, apalagi dengan tidak bekerja, pasti mereka menderita. Kita harus menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama yang sekarang mengalami kesulitan hidup. Tuhan telah memberkati kita dengan banyak hal, bukan untuk membuat kita tinggi hati, tetapi untuk membagikannya kepada sesama: “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Korintus 9:8).

Bantuan kepada orang-orang dalam kesukaran haruslah nyata. Mendoakan mereka itu wajib dan penting, tetapi doa harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehingga doa kita menjadi sempurna. Banyak orang sering terjebak dengan memilih mendoakan saja mereka karena mendoakan mereka itu tindakan yang mudah dan gratis, sedangkan berdoa dan memberikan sesuatu itu berarti mengurangi miliknya. Bantuan kepada mereka juga bukan sekedar uang. Ketika kita tidak bisa membantu mereka dalam bentuk uang, kita dapat mendengarkan keluhan/cerita mereka dengan sabar dan memperlakukan mereka dengan hormat. Kita memperlakukan mereka dengan hormat dengan cara mau menyapa mereka sebagai sahabat dan tidak memandang nista mereka. Ketika kita tidak dapat memberikan pekerjaan kepada mereka yang terkena PHK, kita bisa mencarikan informasi tentang lowongan pekerjaan. Perhatian kita kepada mereka mungkin tidak berpengaruh besar kepada kita, tapi itu bisa memberi kelegaan dan sukacita besar bagi mereka yang tengah terdesak.

Ketika kita memperhatikan orang miskin, Tuhan memberkati kita: “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka” (Mazmur 41:2). Tuhan memberkati kita karena kita telah memuliakanNya dengan menolong mereka: “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia” (Amsal 14:31). Karena itu, perhatian terhadap orang-orang miskin merupakan salah satu tuntutan bagi kita untuk dapat masuk kerajaan-Nya. Tuhan Yesus mengindentifikasikan diri-Nya dengan orang yang sakit, orang yang lapar, dahaga, tunawisma, dan telanjang.

Kesimpulan dari refleksi tentang Kerahiman Allah terangkai dalam sebuah doa berikut ini:

Tuhan,

Begitu banyak orang miskin di sekitarku.

Makan saja, mereka tidak mampu,

apalagi rumah dan pakaian yang layak.

Mereka terutama kelaparan cinta,

karena dihina dan dipandang nista

Tuhan,

Semoga aku dapat menolong mereka,

mungkin bukan dengan uang,

tetapi dengan menyapa mereka.

Sapaan sederhana pasti memuliakan harkat martabatnya.

Amin

Sang pemenang (menaklukkan keganasan kanker)

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Seorang ibu, pada tanggal 12 Februari 2016, mengunjungiku. Ibu itu berasal dari Sunter. Nama ibu itu adalah Maria Fransiska Ira Susilo. Aku mengenalnya pertama kali pada saat aku memberikan retret penyembuhan setahun silam. Usianya empat puluh empat tahun. Hidupnya penuh semangat sehingga tidak ada yang menyangka kalau ia sedang menderita kanker yang ganas. Ia datang kepadaku untuk mensharingkan pengalaman atas jamahan Tuhan yang mengubah hidup imannya.

Jamahan Tuhan itu terjadi pertama kali pada bulan Mei 2010. Pada saat itu ia bersama keluarganya berziarah ke Tanah Suci di Israel. Ketika sedang berdoa di Taman Getsemani, ia menangis begitu lama. Ia menangis karena merasa hidupnya hampa. Kehampaan dalam hidupnya ini disadarinya karena ia kurang melayani Tuhan walaupun telah mendapatkan banyak berkat dariNya. Berkat-berkat yang diterimanya itu antara lain adalah keluarganya sangat harmonis, ia dikaruniai dua anak laki-laki, pekerjaannya sangat menyenangkan, dan kehidupan ekonominya baik. Namun demikian, selama itu ia adalah orang Katolik pasif. Ia jarang pergi ke Gereja, apalagi aktif dalam kegiatan gerejani. Ia selama tiga puluh delapan tahun tidak merasa bersalah kepada Tuhan atas kehidupan imannya seperti itu. Baginya sudah cukup baik sebagai orang Katolik kalau ia sudah berbuat amal kepada sesama. Sejak saat itu, ia terus-menerus berdoa dan memohon kepada Tuhan Yesus agar bisa lebih melayaniNya dan sesama.

Sepulang dari ziarah, ada perubahan besar dalam hal iman pada dirinya dan pada keluarganya. Ia mulai membaca Firman Tuhan setiap hari. Ia dapat selesai membaca seluruh isi Alkitab dalam satu tahun. Ia dan keluarganya juga mulai secara rutin pergi ke Gereja setiap Minggu.

Ketika hidup rohaninya mulai berkembang, justru ujian iman datang kepadanya. Pada bulan Mei 2011 ia dinyatakan menderita kanker rahim dengan tipe kanker yang sangat ganas. Mendengar vonis itu, ia merasa dunia seakan runtuh. Ia tidak percaya bahwa Tuhan mengijinkan cobaan yang begitu berat terjadi kepadanya. Ia merasa tidak mampu menanggungnya. Namun demikian, ia tidak marah kepada Tuhan. Ia terus berdoa memohon kepadaNya untuk diberikan kekuatan, kesabaran, kerendahan hati, dan kerelaan untuk memikul salibnya. Ia juga memohon kepadaNya agar bisa menanggung penyakitnya tanpa rasa sakit dan takut.

Kanker yang dideritanya itu justru membuatnya semakin dekat dengan Tuhan. Ia lebih mengandalkan Tuhan. Ia setiap hari mengikuti Perayaan Ekaristi dan terus berdoa memohon kesembuhan dariNya. Ia meminta kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk bertobat dan bisa membawa banyak orang kembali kepadaNya. Tuhan akhirnya menjawab doanya. Kanker di dalam rahimnya ternyata tidak menyebar. Ia sangat bersyukur atas kebaikan-Nya itu. Akan tetapi, setelah sembuh, ia kembali bekerja sehingga perkembangan kehidupan rohaninya agak terhambat.

Setelah berkerja kembali, ujian iman yang kedua menimpanya. Pada bulan Oktober 2012 kankernya telah menyebar secara agresif ke paru-parunya. Ia merasa terpuruk karena sudah berada di ambang kematian. Ia sangat ketakutan bahwa Tuhan marah kepadanya karena ia telah “ingkar janji”. Ketika telah berada dalam ambang keputusasaan, ia dan suaminya pergi mengaku dosa dan mohon ampun kepada Tuhan. Pengakuan dosanya ini dilakukannya setelah dua puluh lima tahun.

Dalam menghadapi penyebaran kankernya ini, ia memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan hidup yang kedua:

Tuhan beri aku waktu untuk memperbaiki hidupku.

Tuhan beri aku kesempatan untuk menyenangkanMu.

Pakailah aku sepanjang hidupku untuk melayaniMu dan sesamaku.

Ia kemudian memutuskan berhenti bekerja agar bisa mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, keluarga, dan sesama. Ia menyerahkan segala kekuatirannya kepada Tuhan, seperti pengobatan yang mahal, masa depan anak-anaknya, dan hidupnya yang sudah berada dalam ujung kematian.

Ketika sudah menyerahkan segalanya kepada Tuhan, ia menerima begitu banyak mukjizat. Ia mengatakan kepadaku tentang mukjizat itu: “Romo, mukjizat yang aku terima dari Tuhan bukanlah kesembuhan dari penyakit kankerku, tetapi kesembuhan rohaniku. Aku bisa memikul salibku dan penyakitku dengan penuh rasa syukur dan tanpa rasa takut. Aku dapat merasakan bahwa Tuhan mencukupkan semua kebutuhanku. Aku kini memiliki banyak waktu untuk keluargaku. Aku bisa melayani Tuhan di dalam komunitasku. Aku bisa membawa saudara dan teman-temanku kembali kepada Tuhan. Aku bisa mengikuti Ekaristi, berdoa, dan membaca Firman Tuhan setiap hari. Pendek kata, aku kini mempunyai relasi yang dekat dengan Tuhan”.

Kesembuhan rohani, yaitu kedekatannya dengan Tuhan, memberikan kebahagiaan dan sukacita dalam hidupnya. Andaikan diminta untuk memilih “sembuh dari penyakitnya, tetapi jauh dari Tuhan atau tetap sakit, tetapi dekat dengan Tuhan, ia akan memilih “tetap sakit, tetapi dekat dengan Tuhan”. Pilihannya itu bisa terjadi karena ia mengimani Firman Tuhan ini: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Kesimpulan sebagai sebuah refleksi iman: jamahan Tuhan membangun cinta kepadaNya. Cinta kepada Tuhan membentuk jiwa yang lapang. Kesabaran iman menaklukkan ganasnya penyakit yang ada di dalam diri kita.

Tuhan memberkati

Catatan : Ira akan menjadi sharer/memberi kesaksian dalam Retret Penyembuhan yang saya berikan pada tanggal 1 sd 3 April 2016.

Rasa cukup

0

Refleksi Tahun Kerahiman Allah oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

“Rasa cukup” merupakan salah satu niat dari Paus Fransiskus. Paus Fransiskus mengungkapkannya dengan membeli barang-barang yang lebih sederhana. “Rasa cukup” ini merupakan perwujudan dari wajah Kerahiman Allah. Allah Yang Maharahim memiliki hati terhadap orang-orang kecil.

Dunia sekarang ini berusaha menarik kita untuk menjadi manusia yang konsumtif. Manusia yang konsumtif adalah manusia yang memuja trend. Manusia yang memuja trend berperilaku beringas, menjadi gila terhadap sebuah produk yang ditawarkan pasar. Manusia berlomba-lomba mengejar merk-merk terkenal dan mahal atau simbol-simbol kemewahan lainnya. Ada begitu banyak kebutuhan tiba-tiba harus dipenuhi. Padahal banyak di antaranya bukan karena fungsi, tetapi demi gengsi. Akibatnya, banyak di antara kita “jor-joran”/ persaingan dalam memiliki produk baru, seperti mobil dan gedget. Sikap “jor-joran” ini terjadi karena kita takut dianggap ketinggalan jaman, kuper (kurang pergaulan), atau tidak mampu. Kita tanpa sadar telah membodohkan diri dengan obat bius dari iklan-iklan dalam televisi. Hidup menjadi kehilangan jati diri.

Hidup yang konsumtif ini membuat kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki. Kita menjadi sering iri hati melihat apa yang dimiliki orang lain. Hidup kita menjadi tidak bahagia karena frustasi ketika kita tidak dapat memenuhi keinginan kita. Kemarahan melingkupi diri kita. Kita pun sering menyalahkan diri kita sendiri, bahkan menyalahkan Tuhan yang kita anggap tidak adil: “Tuhan memberikan hal ini pada orang lain, tetapi kok pelit dengan saya”.

Ketidakbahagiaan orang yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dapat diterangkan dengan ilustrasi berikut ini. Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.Tiba-tiba lewat sebuah sepeda motor di depan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya,”Lihat Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik sepeda motor itu karena meski mereka kehujanan, tetapi mereka bisa cepat sampai di rumah”. Pengendara motor itu berkata kepada istrinya ketika melihat mobil pick up yang melewati mereka: “Lihat Bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita”. Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah sedan Mercy lewat: “Lihatlah Bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, pasti nyaman tidak seperti mobil kita yang sering mogok”. Pengendara mobil mercy itu berkata dalam hatinya ketika melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan: “Betapa bahagianya suami istri itu, mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini, sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berduaan karena kesibukan masing-masing”. Makna dari ilustrasi itu adalah kita tidak akan bahagia kalau kita terperangkap dalam kata “seandainya”:

Seandainya aku lahir di keluarga yang kaya raya & sukses.
Seandainya aku punya keahlian, kekayaan, dan popularitas.
Seandainya aku seperti orang itu.

Kebahagiaan hanya dapat kita miliki dengan melepaskan diri dari gaya hidup konsumtif. Belenggu gaya hidup konsumtif ini hanya dapat dipatahkan dengan sikap pengendalian diri. Pengendalian diri dapat dibangun dengan “rasa cukup”. Rasa cukup bukanlah berarti menghentikan hasrat atau kemauan untuk bekerja keras. Rasa cukup membuat kita mampu melihat yang terbaik dari apa yang kita miliki sehingga membuat kita menghargai serta memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Kehidupan Mark Zuckerberg dapat kita tiru dalam memiliki “rasa cukup”. Ia merupakan salah satu orang terkaya di dunia dalam usia yang masih relatif muda karena ia adalah pendiri media sosial Facebook. Dengan kekayaan yang melimpah, ia bisa saja membeli dengan mudah apapun yang ia inginkan. Akan tetapi, ia memilih hidup sederhana. Sebagai contoh: ia mengadakan pesta pernikahannya secara sederhana, yaitu di halaman rumah mereka yang hanya dihadiri oleh seratus orang dari teman-teman dan kalangan yang biasa-biasa saja; rumahnya tergolong sederhana dengan lima kamar; ia hanya menggunakan mobil yang kira-kira seharga Rp 300 juta dan tidak menggunakan sopir pribadi (nyetir sendiri); ia dikenal sebagai orang yang suka beramal. Dari kehidupannya ini, kita boleh meyakini bahwa hidup ini tidak dinilai dari banyaknya harta yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar kita bermanfaat bagi orang lain.

“Rasa cukup” memberikan kedamaian di dalam hati karena memiliki “rasa syukur”. Rasa syukur tidak membiarkan diri dikendalikan oleh barang-barang, tetapi justru dapat mengendalikannya: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Karena itu, mari kita tidak membiarkan diri terperangkap dalam pikiran “seandainya”, tetapi bersyukur senantiasa atas hidup kita supaya kita tahu di mana kebahagiaan itu berada.

Kesimpulan dari pembahasan tentang “rasa cukup” terangkum dalam sebuah doa berikut ini:

Tuhan,

Ampuni aku karena aku terkuasai oleh keserakahan.

Terus mencari hal duniawi,

tanpa pernah tercukupi.

Membiarkan diri dikendalikan oleh gengsi.

Gengsi telah membutakan diri,

membodohkan diri,

menghancurkan daya kreatif,

dan menghilangkan jati diri.

Berikanlah kesadaran diri,

untuk mensyukuri apa yang telah aku miliki,

sehingga aku mampu mengatakan “cukup”

terhadap godaan iblis konsumtif.

Dengan demikian, orang-orang yang kurang beruntung,

tidak berkecil hati.

Amin.

Tidak menghakimi

0

Refleksi Kerahiman Allah oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

“Tidak Menghakimi” merupakan salah satu niat dalam kehidupan Paus Fransiskus. “Tidak menghakimi” dapat juga diterjemahkan sebagai wajah kerahiman Allah. Wajah kerahiman Allah adalah wajah yang senantiasa menampilkan belas kasih. Belas kasih akan memikat hati sehingga orang dapat melepaskan dosa dan kesalahannya.

Sikap “tidak menghakimi” ini dapat diterangkan dengan peribahasa “tak ada gading yang tak retak”. Artinya adalah setiap orang itu tidak pernah luput dari kesalahan. Tak ada manusia yang sempurna! Sebaik-baiknya manusia pasti ada kesalahan atau kekurangan. Hal itu sering dinyatakan dengan ungkapan ini: “Pastor/ayah/ibu/boss/ kan manusia”.

Orang mudah menghakimi karena merasa diri yang paling benar dan paling baik. Orang yang merasa paling benar dan paling baik adalah munafik. Kemunafikan itu diungkapkan dalam pepatah ini: “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas”. Artinya: kesalahan atau aib sendiri yang besar tidak tampak. Tapi kesalahan atau aib orang lain meskipun sedikit namun tampak jelas. Orang yang merasa diri paling benar dan paling baik ini mudah menjadikan orang lain sebagai terdakwa. Sebagai contoh: Ketika ada saudara yang mengalami pergumulan berat dan sakit tak kunjung sembuh kita langsung berkata, “Wah… dia terlalu banyak dosanya, makanya Tuhan menimpakan masalah berat kepadanya”. Orang mudah menghakimi karena tidak mengetahui alasan orang lain dalam melakukan suatu tindakan. Padahal tidak seorang pun mengetahui beratnya pergumulan orang lain dalam menghadapi sesuatu. Menghakimi orang lain adalah dosa di hadapan Tuhan karena penghakiman adalah hak Allah: “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” (Yakobus 4:12). Kita tidak memiliki kuasa untuk menghakimi, karena apa yang kita pandang baik dan benar menurut ukuran kita belum tentu demikian. Tuhan adalah satu-satunya yang tahu akan kebenaran. Itulah sebabnya firman-Nya berkata, “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan” (Ibrani 10:30). Bentuk hukuman dari dosa menghakimi sesama adalah kita akan dihakimi oleh Tuhan sesuai dengan ukuran yang kita pakai untuk mengakimi sesama kita: “…dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2).

Peringatan Tuhan Yesus terhadap kita yang mudah menghakimi sangat keras karena akibatnya sangat buruk. Dampak dari mudah menghakimi sesama:

1. Menyebabkan perpecahan dalam umat.

Menghakimi membuat umat Allah tidak merasa aman satu sama lain karena adanya kecenderungan saling menjatuhkan. Ketika terjadi perpecahan dalam diri umat, gereja tidak menarik lagi bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Pendek kata, sikap saling menghakimi dalam diri murid Tuhan membuat gereja tidak lagi menjadi pewartaan sukacita Injili.

2. Membuat orang lain sakit hati dan menjadi pahit.

Menghakimi membuat orang yang terhakimi merasa dipermalukan dan semakin terpuruk.

Bagaimana kita bisa menghentikan kebiasaan mudah menghakimi sesama? Kita harus melatih diri membentuk sikap reflektif. Artinya: kesalahan dan kekurangan orang lain menjadikan kita mawas diri/berkaca karena mungkin kesalahan dan kekurangan mereka merupakan kesalahan dan kekurangan kita, bahkan kita mungkin lebih parah daripada mereka. Ada sebuah cerita menerangkan hal ini. Pada suatu hari ada seorang bapak menghadap seorang pastor dengan keluhan: “Romo, istri saya sudah tuli. Saya lelah karena saya harus bicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti”. Pastor tersebut memberi usul: “Bicaralah dengannya dari jarak sepuluh meter. Jika tak ada respons, coba dari jarak lima meter, lalu dari jarak satu meter. Dari situ kita akan tahu tingkat ketuliannya”. Si suami itu mencobanya. Dari jarak sepuluh meter, ia bertanya pada istrinya, “Kamu masak apa malam ini, sayang?” Tak terdengar jawaban. Ia mencoba dari jarak lima meter, bahkan satu meter, tetap saja tak ada respons. Akhirnya ia bicara di dekat telinga istrinya, “Masak apa kamu malam ini, sayang?” istrinya menjawab: “Sudah empat kali aku bilang: sayur asam!” Rupanya, sang suamilah yang tuli dan bukannya istrinya.

Pelajaran yang kita dapat peroleh dari ceritera tersebut: kita boleh menilai orang lain secara kritis. Namun, janganlah membesar-besarkan kesalahan orang lain dengan mengabaikan kesalahan diri sendiri. Yang terbaik adalah introspeksi diri terlebih dulu sebelum memberi kritik kepada orang lain. Kita yang mau intropeksi diri/mawas diri akan bertumbuh di dalam kasih dan tidak mudah menghakimi, tetapi menegur sesama dengan sharing perubahan hidup kita sendiri. Ingatlahlah Sabda Tuhan: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu” (Matius 7:3-4). Artinya: Orang yang memiliki balok dalam matanya itu tidak mungkin dapat menolong mengeluarkan selumbar dari mata saudaranya. Pada saat orang ini ingin mengeluarkan selumbar itu, ada balok yang menghalangi dia untuk bisa melihat dengan jelas selumbar itu. Sebelum menolong saudara kita untuk bertobat, kita sendiri harus lebih dulu melepaskan diri dari dosa. Ada sebuah nasihat yang indah: “Orang yang kudus, bukanlah orang yang tidak dapat berbuat dosa lagi, tetapi orang kudus adalah orang yang makin memiliki kepekaan terhadap dosa-dosa diri sendiri, bahkan dosa-dosa yang terkecil sekalipun”.

Kesimpulan dari tema ini terangkum dalam doa di bawah ini. Semoga doa ini mengasah kepekaan hati.

Kepekaan Hati

Tuhan,

Hidupku tlah terjerumus dalam menghakimi sesamaku.

Mereka pun terpuruk,

dan terbebani dengan mimpi-mimpi buruk.

Langkah kehidupan mereka menjadi berat

karena kepahitan hati.

Itu semuanya akibat ketumpulan nurani.

Tuhan,

Aku ingin terbebas dari sikap menghakimi,

karena aku tidak tahu masalah yang membelenggunya.

Aku tidak tahu motivasinya.

Tidak semua orang mau menceriterakan hidupnya.

Daripada menghakimi lebih baik memahami.

Daripada menghakimi lebih baik berdiri di sampingnya,

membantu memperindah masa depannya.

Semoga, kejernihan hati anak kacil menjadi idaman setiap insan ini.

Amin

Bunga Mawar

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Suatu hari, aku mengunjungi seorang nenek di rumah sakit. Nenek itu berusia sembilan puluh tahun. Wajah nenek itu sangat ceria. Ia ceria karena banyak orang berada di sekitarnya. Mereka dengan penuh kasih sayang menyuapi nenek itu sambil berkata: “Mbah, makan yang banyak ya, biar cepet sembuh. Ingat mbah, wayah-wayah/cucu-cucu pada menunggu embah”. Mereka berkata demikian sambil menunjukkan foto-foto anak-anak kecil kepada nenek itu. Aku terkejut karena mereka itu bukan Katolik seperti nenek itu. Aku bertanya kepada mereka: “Wah, nenek pasti sangat bahagia mempunyai anak-anak yang berbakti seperti kalian”. Jawab salah satu dari mereka itu: “Nenek ini sudah menjadi ibu kami. Ketika kami bekerja, nenek itu selalu mengurus anak-anak kami. Anak-anak kami sudah dimandikan dan diberi makan ketika kami pulang dari kerja. Karena itu, di masa tuanya, nenek itu bebas tinggal di rumah kami. Yang penting nenek itu bahagia. Kami bergantian memperhatikan kesehatannya. Nenek itu sekarang pepunden/harta yang sangat mahal bagi kami”. Aku terharu mendengar kisah itu. Aku pun bertanya lagi kepada mereka: “Mengapa Anda tetap memiliki waktu untuk merawat nenek di tengah kesibukan anda?” Jawabannya mewakili yang lainnya: “Harumnya bunga mawar yang diberikan nenek itu kepada kami masih terasa harum sampai sekarang ini. Kebaikan nenek itu tetap terasa indah di hati kami”. Nenek itu rupanya mendengar percakapan kami sehingga berkata kepada mereka: “Aku sudah sembuh. Besok aku mau pulang. Aku wis kangen karo putu-putu/saya sudah rindu dengan cucu-cucu”.

Perbuatan kasih nenek itu mengingatkan aku tentang menjadi wajah kasih setia Tuhan. Perbuatan baik menjadi penyembahan dan ungkapan syukur atas pengorbanan-Nya. Aku pun berdoa untuk nenek itu dengan menyanyikan “Kasih Allahku Sungguh T’lah Terbukti” :

Kasih Allahku sungguh tlah terbukti
Ketika Dia srahkan anak-Nya
Kasih Allah mau berkorban bagi kau dan aku
Tak ada kasih seperti kasih-Nya

Bersyukur bersyukur bersyukurlah
Bersyukur karna kasih setia-Mu
Kusembah kusembah kusembah dan kusembah
Slama hidupku kusembah Kau Tuhan

Setelah menyanyikan lagu itu, aku menepuk pundak nenek itu sambil berkata: “Nenek, sungguh luar biasa”. Jawabanya sangat mengejutkan aku:

“Usiaku berjalan seiring dengan nafasku.

Setiap detik berlalu, berkuranglah satu detik pula hidupku.

Usia yang tersisa sangat berharga bagiku karena esok hari belum tentu aku masih bernafas.

Tanpa kebajikan dalam hidup ini,

meranalah jiwaku.

Aku terus teringat

bahwa kematian bisa datang tiba-tiba.

Kematian bisa datang ketika kita masih muda.

Kematian dapat datang ketika kita sehat.

Teruslah berbuat baik walapun tiada balasan.

Kebajikan adalah jalan kebahagiaan,

dan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan”.

Pesan dari kisah itu: kebaikan itu menyenangkan dan menentramkan hati ketika dilakukan dengan kesabaran dan ketulusan. Kita harus menghargai ketika kita mau dihargai. Kita harus memperlakukan sesama dengan baik kalau ingin diperlakukan dengan baik. Kesabaran nampak ketika kita sudah melakukan semuanya itu, tetapi kita tidak mengeluh kalau balasannya tidak seperti yang kita harapkan. Ketulusan nampak ketika kita tidak putus asa walaupun kita dimanfaatkan atau dibully.. Hati kita akan adem ayem selama kita melakukan kebaikan karena memang ingin melakukannya.

Tuhan Memberkati

Paska merupakan perayaan iman, harap dan kasih

0
Sumber gambar: http://wellnessgospel.com/files/2015/04/resurrection-1.jpg

[Minggu Paska: Kis 10:34-43; Mzm 118:1-23; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9]

“Pada hari ini, Tuhan bertindak!
Mari kita rayakan dengan gembira!”

Bersama pemazmur, kita mengumandangkan kidung ini. Hari ini kita merayakan Hari Raya Paskah. Tuhan Yesus telah bangkit dari mati. Betapa menakjubkan peristiwa ini yang menjadi puncak dari penghayatan iman kita! Sebab Kristus telah rela menanggung derita di kayu salib demi menebus dosa-dosa umat manusia—termasuk dosa-dosa Anda dan saya—namun kurban salib-Nya tidak hanya berakhir dengan kematian, tetapi pada kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Ini berarti bahwa Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, yang telah membelenggu kita. Maka jika kita menyatukan diri dengan wafat-Nya, kitapun akan dibangkitkan oleh-Nya, untuk meninggalkan dosa-dosa kita, dan hidup dalam pimpinan-Nya.

Kristus telah bangkit, sebagaimana disampaikan oleh bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Orang-orang yang tidak percaya mempertanyakannya karena tak ada saksi mata yang melihat saat persisnya Tuhan Yesus bangkit. Namun sejujurnya, lebih tidak masuk akal lagi kalau kita mempercayai hal yang sebaliknya. Sebab tidak mungkin, tubuh Yesus dicuri orang, mengingat kuburnya ditutup rapat oleh batu besar dan dijaga ketat oleh pasukan prajurit suruhan Pilatus. Klaim bahwa para murid-Nya mencuri jenazah Yesus pada saat para penjaga sedang tidur (lih. Mat 28:13) juga terdengar aneh dan janggal. Sebab kalau benar-benar tidur pulas, maka orang tidak bisa tahu apa yang terjadi. Sedangkan kalau para penjaga terbangun, sudah pasti mereka bisa meringkus para pencuri. Lagipula sulit untuk membayangkan bahwa para murid itu punya nyali untuk berhadapan dengan para penjaga itu, mengingat sejak saat penyaliban, hampir semua murid tunggang langgang meninggalkan  Yesus. Hanya Rasul Yohanes dan Bunda Maria yang berdiri di kaku salib-Nya. Kalaupun ada yang berani mencuri tubuh Yesus dari makam, mengapa orang itu tidak kemudian langsung menunjukkan bukti tersebut untuk menentang Petrus yang berkhotbah tentang kebangkitan Yesus? (Kis 2:22-32) Sedangkan kita tahu bahwa para murid Yesus tidak berbohong tentang hal ini, karena tidak ada untungnya bagi mereka. Nyatanya, mereka bahkan sampai menyerahkan nyawa mereka untuk menyatakan kebenaran ini, yaitu bahwa Tuhan Yesus telah menderita, wafat dan bangkit, untuk menebus dosa-dosa manusia. Untuk itulah, hampir semua rasul Yesus, wafat sebagai martir. Tak ada orang yang waras yang mau mati untuk sebuah kebohongan. Namun adalah suatu bentuk ketaatan dan kasih, yang memampukan para rasul melakukannya, sebab Kristus Sang Guru, telah terlebih dahulu melakukannya untuk mereka.  Sungguh, apapun argumen yang menentang fakta kebangkitan Kristus, akan sangat sulit dijelaskan. Ini menunjukkan bahwa argumen itu sendiri yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Bagi kita yang sudah percaya akan kebangkitan Yesus, perayaan Paskah menjadi perayaan iman, sekaligus harapan dan kasih kita kepada Tuhan. Iman kita akan kebangkitan Kristus diteguhkan, demikian juga harapan kita akan kebangkitan kita sendiri dan kehidupan kekal, yang dijanjikan oleh Yesus. Paskah juga mengobarkan kasih di dalam hati kita, karena melaluinya kita merayakan kemenangan cinta kasih Tuhan yang mengalahkan maut. Kemenangan kasih Tuhan ini menyemangati kita untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, termasuk mereka yang “sulit” untuk dikasihi karena telah menyakiti hati kita. Kemenangan Tuhan Yesus ini juga mendorong kita untuk mengalahkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang dapat menyeret kita jatuh ke dalam dosa. Kemenangan Kristus ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Bahwa tak percuma kita berbuat baik, sebab semuanya itu akan mendatangkan buahnya pada waktunya. Mari kita memikirkan perkara yang di atas, di Surga mulia, di mana Kristus berada… Agar jika Ia menyatakan diri kelak, kitapun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan (lih. Kol 3: 2-4).

Semua ini meneguhkan iman kita sebagai para murid Kristus di zaman ini. Di tengah dunia yang mempunyai beragam pandangan yang belum tentu sesuai dengan iman kita, kita tetap teguh berdiri menjadi saksi-Nya. Sebab Tuhan Yesus sungguh telah bangkit! Ia adalah kekuatan kita, dan Ia telah menjadi keselamatan kita. Mazmur di Malam Paskah tetaplah tepat untuk kita kumandangkan senantiasa:

“Aku wartakan, karya agung-Mu, Tuhan,
karya agung-Mu, karya keselamatan…
sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku,
Ia telah menjadi keselamatanku!”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab