Home Blog Page 269

Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria

104

Pertanyaan:

Saudaraku umat Katolik…

Anda menjelaskan panjang lebar tentang ini itu sebenarnya tidak banyak manfaatnya karena itu hanyalah dalih / pembenaran yang (sebagian besar) tidak Alkitabiah…

Mari saya tunjukkan satu hal saja tentang Maria yang anda sebut Ratu Sorga atau Bunda Allah itu…

– Maria itu adalah manusia biasa, sama seperti kita.
– Maria HANYALAH seorang manusia di bumi yang DIPILIH ALLAH sebagai SARANA untuk melahirkan YESUS KRISTUS.
– Maria DIPILIH ALLAH bukan karena Maria suci, bukan juga karena sifat2 / karakter baik tertentu, TAPI karena ALLAH MEMANG MAU MEMILIH dia. (jadi alasan pemilihan bukan dari sisi manusia, namun dari sisi ALLAH, artinya ALLAH bisa pilih siapa saja termasuk anda atau saya, kalau ALLAH mau, jadi tidak harus Maria).
– Semua manusia yang pernah lahir ke dunia (kecuali YESUS KRISTUS) semuanya telah berdosa, termasuk Maria.
– Maria itu menjadi suci HANYA ketika ROH KUDUS menaungi dia guna mengandung bayi KRISTUS, dan berakhir kesuciannya setelah KRISTUS dilahirkan.
– Maria itu memang betul perawan sebelum melahirkan KRISTUS, tapi menganggap Maria perawan abadi itu perlu TANDA TANYA BESAR dimana dasar Alkitabiahnya.
– Maria itu ibu YESUS sebagai manusia, namun bukan Ibu YESUS sebagai ALLAH, jadi merupakan kesalahan yang sangat fatal bila memposisikan Maria sebagai Bunda ALLAH (YESUS Ilahi), yang benar adalah Bunda Yesus (YESUS manusia).
– Maria dijadikan sebagai sarana penghubung dalam doa kepada ALLAH itu adalah suatu penghujatan kepada SATU-SATUNYA jalan dan PENGANTARA kita, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS.
– Berdoa kepada Maria adalah tindakan bodoh dan penghinaan kepada satu-satunya PENGANTARA kita kepada BAPA yaitu TUHAN YESUS KRISTUS. Doa hanya boleh ditujukan kepada ALLAH di dalam nama YESUS dan oleh kasih karunia ROH KUDUS. Itulah yang disebut menyembah ALLAH dalam ROH dan KEBENARAN.
– Mengucapkan doa yang sama berulang-ulang apalagi ditujukan kepada Maria, tidak bisa disebut doa, tetapi MANTRA.
– Bukan kebaikan kita, bukan perjuangan kita, bukan usaha kita, dan juga bukan karena didoakan oleh Maria maka anda bisa ke sorga. Kita bisa masuk surga hanyalah semata-mata karena KASIH KARUNIA ALLAH (sola gracia) dan oleh sambutan iman kita kepadaNYA (sola fide).
– Karya salib KRISTUS itu Maha Mulia, Maha Suci, Maha Kasih… jangan pernah menambahkan apapun kepada keselamatan yang disediakan oleh TUHAN YESUS dengan pengorbananNYA (bukan oleh Maria dengan doa2nya), karena upaya untuk menambahkan sesuatu kepada Keselamatan yang adalah Kasih Karunia itu merupakan tindakan menghina salib, alias menghina PENCIPTA anda sendiri.

Jadi kesimpulannya: Menganggap Maria sebagai Ratu Sorga, Bunda ALLAH, serta sebagai sosok yang begitu diagungkan, itu adalah perbuatan yang MENGHINA kemuliaan ALLAH. Karena Maria dipilih ALLAH bukan karena siapa Maria, namun semata-mata karena ALLAH memang ingin memilihnya, jadi tidak ada unsur turut campur atau kebaikan manusia di dalamnya.

Kita semua wajib menghormati Maria sebagai seorang perempuan yang dipilih oleh ALLAH untuk melahirkan TUHAN kita Yesus Kristus, sama seperti kita menghormati ibu kandung kita yang juga telah dipilih ALLAH untuk melahirkan kita, dan Alkitab memang mengajarkan kepada kita untuk mengasihi dan menghormati sesama manusia. Namun penghormatan yang melebihi kapasitas itu sudah termasuk mencuri kemuliaan ALLAH.

Saya tidak perlu menuliskan ayat-ayat yang mendasari tulisan saya diatas, karena saya tahu anda sekalian tentu tahu dimana ayatnya (kalo sampai belum tahu sebaiknya belajar Alkitab lebih dalam atau bertanya kepada pastor anda). Dan saya mengajak saudaraku umat Katolik untuk merenungkan kembali keyakinan anda terhadap Maria selama ini, agar jangan sampai anda tersesat. Karena kita bersaudara (sama2 mengakui YESUS KRISTUS sebagai TUHAN dan JURUSLAMAT), maka dengan segenap kasih saya menghimbau dan mengajak saudaraku untuk kembali berdoa, merenung, berpikir, mengkaji, dan berpijak kepada Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran (sola scriptura) dan tidak ditambah-tambahi dengan doktrin para santa santo yang validitasnya tidak bisa disetarakan dengan Alkitab itu sendiri. Bukalah hati, bertanyalah kepada TUHAN, bacalah Alkitab dengan semangat untuk belajar dan bertumbuh dalam kebenaran, niscaya ROH KUDUS akan memberikan pencerahan sejati dan menunjukkan kebenarannya kepada Anda. Percaya begitu saja pada apa yang disampaikan oleh pastor / teolog / doktrin gereja, hanyalah membawa anda pada kesesatan yang lebih dalam. Jadi berhentilah ber-omong kosong dan berhentilah membual, carilah KEBENARAN sejati dengan hati terbuka pada bimbingan ROH KUDUS, agar anda tidak terdampar di api penyucian anda secara kekal (kalo api penyucian itu memang ada). Awas, neraka itu panaaas lho?
Bertobatlah ! Saya mengasihi anda semua umat Katolik, namun saya sangat tidak menyetujui beberapa doktrin omong kosong yang diajarkan gereja Katolik.

Salam kasih, Kevin
(maaf bila ada kalimat yang kurang berkenan, namun begitulah gaya bahasa saya ketika menulis)

Jawaban:

Shalom Kevin,

Saya percaya maksud anda menuliskan keberatan adalah untuk berdiskusi secara terbuka dengan kami umat Katolik, maka untuk maksud inilah saya menanggapi pernyataan anda. Harus diakui, perbedaan yang mendasar yang melandasi pandangan anda, adalah bahwa 1) anda hanya mengandalkan Alkitab saja dalam menyikapi hal Bunda Maria; 2) Alkitab inipun anda artikan seturut dengan pengertian anda sendiri (atau pengajar anda) tanpa membaca interpretasi yang diajarkan oleh Para Bapa Gereja yang meneruskan ajaran para Rasul. Inilah yang menyebabkan pandangan anda berbeda dengan ajaran Gereja Katolik, yang tidak mendasari pengajaran iman hanya dari Kitab Suci, melainkan juga dari Tradisi Suci. Kitab Suci tidak bisa dipisahkan dari Tradisi Suci, karena, dari Tradisi Sucilah lahir Kitab Suci. Saya baru saja menjawab mengenai hal ini di sini, silakan klik atau selanjutnya di artikel ini Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian 3, silakan klik.

Berikut ini adalah tanggapan saya atas pernyataan anda satu persatu (pernyataan anda saya cetak biru):

1. Maria itu adalah manusia biasa, sama seperti kita. Maria HANYALAH seorang manusia di bumi yang DIPILIH ALLAH sebagai SARANA untuk melahirkan YESUS KRISTUS.

Maria memang manusia biasa, sama seperti kita tetapi perannya di dalam rencana keselamatan Allah adalah sungguh unik dan istimewa. Tidak ada manusia lain yang melahirkan Yesus Sang Juru selamat, hanya Bunda Maria saja. Justru karena perannya yang khusus ini yaitu yang melahirkan Kristus Sang Allah Putera, maka ia disebut sebagai Bunda Allah. Hal ini jelas disebutkan di Alkitab:

1. Lukas 1: 43 : Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.

2. Matius 1:23: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” Bunda Maria adalah :anak dara itu, maka kesimpulannya, Bunda Maria adalah ibu dari Allah yang beserta kita.

3. Luk 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Karena anak yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah, maka Maria disebut Bunda Allah.

4. Gal 4:4 “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Maka memang, walaupun Maria adalah “sarana” namun sarana ini sungguh istimewa, bukan sebagai sarana tempat yang “asal untuk lewat” saja. Sebab jika tidak demikian, Allah tidak akan berkata demikian kepada Bunda Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!” (Luk 1:28) Jika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan mengetahui bahwa tidak ada satupun orang/ nabi yang disapa Allah dengan salam hormat seperti ini.

DISKUSI LEBIH LANJUT DAPAT DILIHAT DI SINI (SILAKAN KLIK)

2. Maria DIPILIH ALLAH bukan karena Maria suci, bukan juga karena sifat2 / karakter baik tertentu, TAPI karena ALLAH MEMANG MAU MEMILIH dia. (jadi alasan pemilihan bukan dari sisi manusia, namun dari sisi ALLAH, artinya ALLAH bisa pilih siapa saja termasuk anda atau saya, kalau ALLAH mau, jadi tidak harus Maria).

Pernyataan ini ada benarnya, namun harusnya urutannya demikian: Maria dipilih Allah, bukan karena ia suci dari dirinya sendiri. Tetapi, karena Allah memang mau memilih Dia sebagai Ibu yang melahirkan Allah Putera, maka ia disucikan oleh-Nya. Silakan membaca dasar ajaran Gereja Katolik tentang hal ini yang pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.

Allah memang dapat memilih siapa saja untuk menjadi Ibu Yesus, tetapi pada kenyataannya Tuhan tidak memilih anda (jika anda perempuan) atau saya, atau orang lain, tetapi, Ia memilih Bunda Maria. Ini suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Tuhan memilih Maria karena sejak dari awal mula Tuhan yang Maha Tahu sudah mengetahui bahwa Bunda Maria, dengan kehendak bebasnya akan bekerjasama dengan rahmat yang secara khusus akan diberikan Tuhan kepadanya.

3. Semua manusia yang pernah lahir ke dunia (kecuali YESUS KRISTUS) semuanya telah berdosa, termasuk Maria.

Mungkin anda menyatakan demikian, karena melihat ayat Rom 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Tetapi ternyata toh anda membuat pengecualian sendiri dengan memberikan tambahan di dalam kurung (kecuali Yesus Kristus), karena kita tahu Yesus Kristus tidak berdosa. Artinya memang andapun menyadari bahwa ayat ini tidak harus dimengerti secara mutlak.

Sebelum Rom 3:23, di ayat 9 dan 10 Rasul Paulus mengatakan, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Sebenarnya di sini Rasul Paulus mengutip Mazmur 14, khususnya ayat 3, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Mazmur 14 ini ditulis Raja Daud yang menyampaikan ratapannya tentang besarnya pemberontakan bangsa Israel. Sebab musuh Raja Daud pada saat Mazmur itu ditulis, tidak lagi hanya bangsa-bangsa non Yahudi, tetapi bangsa Yahudi itu sendiri, bahkan orang terdekat dan anggota keluarganya sendiri, Saul dan Absolom. Maka Raja Daud menggunakan kata “semua” adalah dalam konteks menyatakan semua golongan, baik Yahudi maupun non Yahudi- dan bukannya bermaksud untuk menyatakan semua orang. Kita ketahui demikian, karena segera sesudah menyebutkan “semua orang melakukan kejahatan”, Raja Daud  menyebutkan “umat-Ku” (ay. 4) dan “angkatan yang benar” (ay.5). Kalau semua orang (dalam arti setiap orang tanpa kecuali) adalah jahat seperti yang disebutkan pada ayat 3 tersebut, siapa yang disebut Raja Daud sebagai “angkatan yang benar” tersebut? Sama konteksnya dengan perkataan Raja Daud, Rasul Paulus juga mengatakan “semua” dalam ayat Rom 3:23 dalam arti semua golongan telah berdosa terhadap Tuhan, tidak hanya orang-orang non- Yahudi, namun orang Yahudi juga. Jadi yang ingin disampaikan di sini adalah, tidak adanya beda antara orang yang bersunat dan tidak bersunat, kedua kelompok itu mempunyai dosa- dosa yang dilakukan oleh pribadi- pribadi di dalamnya, dan keduanya memerlukan kasih karunia Allah untuk dibenarkan di dalam iman akan Yesus Kristus.

Jadi perikop ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” dalam arti mutlak. Sebab Yesus adalah perkecualiannya, dan anak- anak yang di bawah umur (under the age of reason) juga demikian. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria juga termasuk kekecualian dalam hal ini. Dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan demikian, tertulis dalam artikel Bunda Maria dikandung tanpa noda, mungkinkah?, silakan klik. Dengan prinsip ajaran Gereja Katolik ini maka tidak benar pendapat anda yang mengatakan, Maria itu menjadi suci HANYA ketika ROH KUDUS menaungi dia guna mengandung bayi KRISTUS, dan berakhir kesuciannya setelah KRISTUS dilahirkan. Kalau anda perhatikan, ayat Alkitab tidak mengatakan demikian. Maria telah dipenuhi rahmat Allah (lih. Luk 1:28, Hail, full of grace!) sebelum malaikat itu mengatakan bahwa Roh Kudus akan turun atasnya sehingga dapat mengandung seorang anak tanpa campur tangan manusia (lih. Luk 1:35).

4. Maria itu memang betul perawan sebelum melahirkan KRISTUS, tapi menganggap Maria perawan abadi itu perlu TANDA TANYA BESAR dimana dasar Alkitabiahnya.

Silakan anda membaca artikel ini: Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah? silakan klik dan silakan membaca dasar Alkitabiahnya. Perlu anda ketahui di sini bahwa para pendiri gereja Protestan, Martin Luther, John Calvin, Zwingli dan John Wesley, semua mengajarkan hal Maria yang tetap perawan ini. (Silakan membaca  kutipannya di artikel Bunda Maria tetap perawan tersebut). Adalah suatu pertanyaan besar, mengapa berabad sesudahnya para pengikut mereka malah tidak memegang ajaran dari para pendiri mereka. Kebanyakan pandangan yang ada pada orang- orang yang skeptik tentang keperawanan Maria adalah karena membandingkannya dengan keadaan umumnya yang terjadi pada ibu yang melahirkan. Namun sejujurnya kita harus mengakui, sejak awal Gereja telah mengakui bahwa hal itu tidak terjadi pada bayi Kristus. Sebab, seperti Kritus yang bangkit dengan tubuh-Nya dapat menembus pintu-pintu rumah yang terkunci (lihat Yoh 20: 26), maka pada saat kelahiran-Nya, Ia pun dapat lahir dengan tidak merusak keperawanan ibu-Nya. Sebab Kristus yang adalah teladan Yang Sempurna, Utuh (uncorruptible), Sang Penyembuh, tidak mungkin mengawali kedatangan-Nya di dunia dengan merusak keutuhan ibu-Nya sendiri.

5. Maria itu ibu YESUS sebagai manusia, namun bukan Ibu YESUS sebagai ALLAH, jadi merupakan kesalahan yang sangat fatal bila memposisikan Maria sebagai Bunda ALLAH (YESUS Ilahi), yang benar adalah Bunda Yesus (YESUS manusia).

Jika anda mempelajari sejarah Gereja, maka anda akan mengetahui bahwa pandangan anda serupa dengan yang diajarkan oleh Nestorius (abad ke-4- 5), yang menolak keutuhan Pribadi Yesus. Maka Maria dilihat hanya sebagai ibu Yesus sebagai manusia, bukan ibu Yesus yang adalah Tuhan. Yesus dikatakan sebagai hanya “Temple of the Logos” (Yesus manusia) dan bukannya “Logos“/ Sabda (Yesus Ilahi) itu sendiri.

Ajaran sesat ini ditanggapi oleh Bapa Gereja, St. Cyril dari Alexandria (380-444) yang menjelaskan bahwa Maria adalah Bunda Allah sebab Kristus adalah Allah: “Saya heran akan pertanyaan yang menanyakan apakah Perawan Suci harus disebut sebagai Bunda Allah, sebab itu hampir sama dengan menanyakan apakah Puteranya Putera Allah atau bukan?” (St. Cyril of Alexandria, Epistle 1,4) Ia mengambil baginya kodrat kemanusiaan secara penuh dari Bunda Maria supaya Ia dapat menderita dalam kemanusiaan-Nya bagi kita. “Ia memberikan tubuh-Nya untuk mati [bagi kita], meskipun secara kodrat-Nya [sebagai Allah] Ia adalah hidup dan kebangkitan.” (Lihat St. Cyril of Alexandria, First Letter to Nestorius, trans. Henry Percival, in Nicene and Post Nicene Fathers, 14: 201-205)…. “Sang Sabda, setelah menyatukan secara hypostatik dalam Diri-Nya, daging yang dihidupi oleh jiwa manusia …, Ia menjadi manusia dan disebut sebagai Anak Manusia…” Dengan Inkarnasi, maka Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Ini terjadi dalam saat yang bersamaan, sehingga bukan terjadi manusia terlebih dahulu, baru kemudian Sabda itu turun memenuhinya. Dengan demikian, maka Yesus dapat mengatakan bahwa kelahiran-Nya dalam daging itu sungguh-sungguh adalah kelahiran-Nya. “Maka para Bapa Gereja tidak segan-segan mengatakan bahwa Perawan Suci (Maria) adalah Bunda Allah.” (D 111, St. Cyril of Alexandria, Second Letter to Nestorius, Ibid.)

Memisahkan Yesus manusia dan Yesus Ilahi itu seperti halnya memisahkan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pribadi manusia. Itu sama seperti mengatakan bahwa ibu Siti Habibah itu adalah ibunda Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi bukan ibunda dari Bapak Presiden RI. Hal ini tidak mungkin, karena kita percaya bahwa Bapak SBY adalah juga Bapak Presiden RI. Dengan analogi ini, maka jika kita mengatakan bahwa Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan jika kita percaya Yesus itu selain manusia juga Putera Allah, maka Bunda Maria adalah Bunda Allah.

Terlihat di sini ajaran mengenai “Bunda Allah” bukan semata-mata untuk memberi gelar kepada Bunda Maria, tetapi terutama adalah untuk mempertahankan ajaran para rasul bahwa Yesus, semasa hidup-Nya di dunia, adalah sungguh- sungguh manusia tetapi juga sungguh- sungguh Allah; dan kedua kodrat ini menyatu dalam Pribadi Yesus, walaupun tidak tercampur aduk. Setiap kodrat (manusia dan Ilahi) dari  diri Yesus mempunyai karakter/ sifat-sifatnya tersendiri namun tidak terpisahkan menjadi dua hal yang tidak berhubungan. Silakan jika anda tertarik, untuk membaca topik ajaran ini yaitu Yesus sungguh Allah sungguh manusia, silakan klik di sini.

6. Maria dijadikan sebagai sarana penghubung dalam doa kepada ALLAH itu adalah suatu penghujatan kepada SATU-SATUNYA jalan dan PENGANTARA kita, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS. Berdoa kepada Maria adalah tindakan bodoh dan penghinaan kepada satu-satunya PENGANTARA kita kepada BAPA yaitu TUHAN YESUS KRISTUS. Doa hanya boleh ditujukan kepada ALLAH di dalam nama YESUS dan oleh kasih karunia ROH KUDUS. Itulah yang disebut menyembah ALLAH dalam ROH dan KEBENARAN.

Di sini harus diakui bahwa pemahaman konsep “Pengantara” menurut paham Protestan berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Menurut Protestan, Pengantaraan Yesus yang satu-satunya itu (1 Tim 2:5) bersifat eksklusif (hanya Yesus saja), tetapi menurut Gereja Katolik Pengantaraan Yesus yang satu-satu-Nya itu inklusif (sebagai Kepala yang melibatkan anggota-anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya -lih. Ef 5:22-32). Dasar Akitabiah ajaran ini pernah kami tuliskan di sini, silakan klik.

Karena Pengantaraan Bunda Maria ini bergantung pada Pengantaraan Yesus, dan hanya bisa terjadi karena Pengantaraan Yesus, maka tetap saja doa umat Katolik ditujukan pertama-tama kepada Allah Bapa, dengan Pengantaraan Kristus dan di dalam Kristus, oleh kuasa Roh Kudus. Kepada Bunda Maria ini umat Katolik hanya mohon didoakan, karena percaya akan besarnya kuasa doa Bunda Maria (dan para orang kudus lainnya), sebagai orang yang sudah dibenarkan Allah (lih. Yak 5:16). Selanjutnya, tentang apakah ajaran mengenai persekutuan orang kudus itu berlawanan dengan ajaran Alkitab, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

7. Mengucapkan doa yang sama berulang-ulang apalagi ditujukan kepada Maria, tidak bisa disebut doa, tetapi MANTRA.

Topik ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Pada dasanya Rosario bukanlah doa berulang yang sia-sia, seperti yang dituduhkan/ dikira banyak orang. Doa rosario adalah rangkaian doa -doa yang disertai dan “dijiwai” oleh permenungan kisah peristiwa hidup Yesus. Maka doa Rosario bukan semata- mata doa berulang, melainkan merupakan rangkuman permenungan akan misteri keselamatan Allah. Rosario adalah doa yang sangat indah yang dapat membawa seseorang semakin menghayati kasih Kristus, sehingga iapun dibawa untuk mengasihi Kristus dan mensyukuri karya Keselamatan-Nya.

8. Bukan kebaikan kita, bukan perjuangan kita, bukan usaha kita, dan juga bukan karena didoakan oleh Maria maka anda bisa ke sorga. Kita bisa masuk surga hanyalah semata-mata karena KASIH KARUNIA ALLAH (sola gracia) dan oleh sambutan iman kita kepadaNYA (sola fide).

Paus Benediktus XVI pernah membahas tentang Sola Fide ini menurut ajaran Gereja Katolik, seperti pernah saya paparkan di jawaban ini, silakan klik. Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena kasih karunia Allah, oleh iman, namun iman ini tidak untuk dipisahkan dan dipertentangkan dengan kasih. Maka Gereja Katolik juga tidak pernah mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh perbuatan manusia semata.

9. Karya salib KRISTUS itu Maha Mulia, Maha Suci, Maha Kasih… jangan pernah menambahkan apapun kepada keselamatan yang disediakan oleh TUHAN YESUS dengan pengorbananNYA (bukan oleh Maria dengan doa2nya), karena upaya untuk menambahkan sesuatu kepada Keselamatan yang adalah Kasih Karunia itu merupakan tindakan menghina salib, alias menghina PENCIPTA anda sendiri.

Anda mengatakan demikian seolah anda mempertentangkan doa Maria dengan karya Keselamatan Kristus. Padahal tidak demikian jika kita membaca Alkitab. Maria hanya menghantar manusia kepada Yesus dan mendorong agar manusia melakukan apa yang menjadi perintah Yesus (lih. Yoh 2:5). Maka pengantaraan doa Bunda Maria bukan menghina salib dan menghina Yesus, tetapi malahan mendukung karya penyelamatan Yesus.

10. Jadi kesimpulannya: Menganggap Maria sebagai Ratu Sorga, Bunda ALLAH, serta sebagai sosok yang begitu diagungkan, itu adalah perbuatan yang MENGHINA kemuliaan ALLAH….. Kita semua wajib menghormati Maria sebagai seorang perempuan yang dipilih oleh ALLAH untuk melahirkan TUHAN kita Yesus Kristus, sama seperti kita menghormati ibu kandung kita yang juga telah dipilih ALLAH untuk melahirkan kita….. Namun penghormatan yang melebihi kapasitas itu sudah termasuk mencuri kemuliaan ALLAH.

Topik tentang Ratu Surga sudah pernah dibahas di sini, silakan klik dan  klik di sini. Jika kita mau terbuka untuk mendengarkan pengajaran Bapa Gereja tentang Bunda Maria, maka sesungguhnya kita akan memahami bahwa menghormati Maria sebagai Ratu Surga dan bahwa Maria diangkat ke surga, bukan menghina kemuliaan Allah, namun malah menyatakan kemuliaan Allah. Sebab Bunda Maria merupakan “sebuah masterpiece di tangan Sang Pencipta”, yang keindahannya menggambarkan kemuliaan Penciptanya dan bukan kemuliaan dirinya sendiri.

Sudah sepantasnya kita menghormati dan mengasihi ibu kita sendiri, namun juga sepantasnya, jika menghormati dan mengasihi Kristus, kita menghormati dan mengasihi pula ibu-Nya yang diberikan-Nya kepada kita (lih Yoh 19:26-27). Jika kita mengasihi Kristus lebih daripada segalanya, maka sudah selayaknya juga kita mengasihi dan menempatkan ibu-Nya secara khusus di hati kita, sebab melalui kesediaan Bunda Marialah maka kita memperoleh Yesus Penyelamat kita. Betapa kita harus berterimakasih kepada Bunda Maria secara istimewa!

Maka, terima kasih atas anjuran anda agar kami umat Katolik untuk berdoa, merenung, berpikir tentang iman kami. Ya, memang itulah yang kami usahakan, antara lain dengan adanya situs ini. Namun untuk menerima doktrin Sola Scriptura (Alkitab saja) sebagai doktrin yang benar, tentu saja tidak akan pernah bisa kami lakukan, karena itu sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Alkitab itu sendiri. Lagipula, buah dari Sola Scriptura mengakibatkan perpecahan gereja, silakan klik, dengan timbulnya 28.000 macam denominasi gereja Protestan, yang masing-masing mengklaim denominasinya yang paling benar. Jika anda memakai prinsip yang diajarkan Kristus, untuk menilai apakah pohon itu baik dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44) maka anda akan mengetahui apakah Sola Scriptura itu baik atau tidak.

Silakan anda membaca kembali Alkitab anda, maka anda tidak akan menemukan satu ayatpun yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber pengajaran iman. Yang tertulis malah Rasul Paulus mengingatkan umat agar perpegang tidak saja pada ajaran-ajaran tertulis (seperti Injil dan surat- surat Rasul) namun juga pada pengajaran lisan dari para rasul (yang menjadi Tradisi Suci dalam Gereja Katolik). Rasul Paulus mengatakan, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15). Tentu saja pada saat itu Rasul Paulus tidak menganggap bahwa pengajaran lisan tersebut tidak penting, atau bahkan bertentangan dengan ajaran tertulis dari para Rasul. Selanjutnya Rasul Pauluspun mengajarkan, “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15). Maka di sini kita ketahui Alkitab sendiri menyatakan bahwa tiang/ tonggak penopang dan dasar kebenaran adalah jemaat/ Gereja, sebab memang oleh Gerejalah Alkitab itu lahir. Dan Gereja yang melahirkan Alkitab itu -yang menetapkan kanon Alkitab pertama kali tahun 382- adalah Gereja Katolik.

Jadi kami rasa tidak tepat kalau anda mengatakan kami membual dan beromong kosong di sini. Sebab yang kami tuliskan di sini semua ada dasarnya, baik dari Kitab Suci, maupun tulisan Bapa Gereja yang sudah ada sejak abad- abad awal, dan yang diteruskan dengan setia oleh Gereja Katolik. Jika anda mengatakan bahwa Gereja Katolik mengajarkan omong kosong, itu sama saja anda mengatakan bahwa ajaran para Bapa Gereja dan para rasul itu juga omong kosong; dan dengan demikian secara tidak langsung anda menempatkan pemahaman pribadi anda di atas pengajaran para Rasul. Saya percaya anda tidak bermaksud demikian.

‘Mengenal Tuhan’ dalam PL dan PB

7

Pertanyaan:

Shalom,
untuk ibu Ingrid Listiati dan bapak Stefanus Tay yang terhormat, Terima Kasih.

mudah-mudahan tidak menjadi bosan, mohon penjelasannya lagi untuk 3 ayat berikut apakah ada pertaliannya.

Amsal [ Salomo ]
9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Mazmur [ Daud ]
27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

Injil Yohanes [ murid terkasih ]
17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Mengenal Yang Mahakudus [ dalam Amsal 9:10 ] apakah sama dengan [ = ] mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus [ dalam Yohanes 17:3 ]

diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. [mazmur 27:4 ] = [ apakah sama dg ] = Inilah hidup yang kekal itu [ Yohanes 17:3 ]

Mengenal Allah dan Mengenal Yesus Kristus secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari yang diperbaharui hari lepas hari menjadi kerinduan dan harapan hingga hidup yang kekal.

mohon tambahan penjelasan dan ulasan.

Salam Bahagia dan Damai Sejahtera.

hendro

Jawaban:

Shalom Hendro,

Pertama- tama harus kita ketahui dahulu bahwa apa yang disampaikan oleh Perjanjian Lama adalah merupakan semacam “gambaran samar- samar” akan apa yang akan digenapi di Perjanjian Baru. Maka Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 129     Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (lih. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (lih. 1 Kor 5:6-8; 10:1-11). Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73) (lih. Dei verbum 16)

Prinsip ini dapat diterapkan dalam memahami hubungan antara ayat-ayat yang anda tanyakan tersebut, perihal “mengenal Tuhan”.

Ams 9: 10, mengatakan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Di sini, Nabi Salomo mengajarkan bahwa hikmat kebijaksanaan dimulai dari pengetahuan akan Tuhan. Maka ia mengajarkan umat Israel untuk mematuhi kehendak Tuhan dengan memenuhi tugas-tugas religius yang disebutkan dalam Kitab Suci sebagai permulaan dari kebijaksanaan.

Namun pengetahuan akan kehendak Tuhan ini di Perjanjian baru diperjelas dengan ayat di Kol 1: 9- 14, di mana Rasul Paulus mengatakan bahwa dalam doanya kepada Allah ia meminta hikmat tersebut bagi jemaat di Kolose, “Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna…. Ia (Tuhan) telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” Jika kita telah mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah diutus oleh Allah Bapa untuk menebus kita dan mengampuni dosa kita, maka selanjutnya, Rasul Paulus berkata bahwa kehendak Allah selanjutnya bagi kita adalah agar kita hidup kudus (lih. 1 Tes 4:3).

Rasul Paulus kemudian melanjutkan dengan menjelaskan tentang siapakah Kristus itu. “Ia  [Yesus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan…. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakanpendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kol 1:15-20)

Di sini dapat dilihat bahwa apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, juga merupakan pemenuhan dari apa yang samar-samar dikatakan oleh Raja Daud. “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya (Mzm 27:4). Kemurahan Tuhan ditunjukkan dengan sempurna oleh dan di dalam Kristus yang telah mengorbankan Diri-Nya untuk menebus kita. Maka “diam di rumah Tuhan, memandang kemurahan-Nya dan menikmati bait-Nya”, itu sesungguhnya digenapi di dalam Kristus. Sebab dengan kepenuhan Allah yang diam di dalam-Nya (lih. Kol 1:19), maka jika kita bersatu dengan Kristus, kita tidak saja berdiam di rumah Tuhan, tetapi tinggal di dalam Dia. Persatuan kita dengan Tuhan Yesus ini, akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak, sebab “kita akan melihat Dia [Kristus] dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh 3:2), dan pada saat kita memandang Allah di dalam Kristus Putera-Nya (yang adalah Sang Hikmat dan Kebijaksanaan) itulah, maka kita sungguh mengenal Allah di dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Maka dengan demikian kita melihat benang merah dalam pengajaran Rasul Paulus dan Rasul Yohanes, bahwa pengenalan akan Allah -sebagai Allah satu-satunya yang benar, yang telah mengutus Yesus Putera-Nya untuk menebus kita- akan mengantar kita manusia kepada hidup yang kekal (lih. Yoh 17:3). Di hidup kita di dunia, kita hanya mengenal Allah dengan tidak sempurna, tetapi di surga kelak, kita akan mengenal Allah dengan sempurna, seperti kita sendiri dikenal oleh-Nya (lih. 1 Kor 13:12).

Marilah kita berjuang untuk semakin mengenal Allah dan kehendak-Nya dalam hidup kita, dan semoga Tuhan memampukan kita untuk melaksanakannya, agar dengan demikian kita beroleh hidup kekal bersama Tuhan seperti yang dijanjikan-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Kebenaran Kitab Suci

31

Pertanyaan:

Bagaimana Al Kitab ditulis? Apakah bahasa yang digunakan dalam penulisan Al Kitab pertama dan yang kedua? Bilakah Al Kitab ditulis buat pertama kali? Di manakah Al Kitab yang tertua sekali dan apakah versinya? dan mengapa kita mengatakan Al Kitab itu kita katakan firman/sabda Tuhan sedangkan Al Kitab di tulis oleh manusia?
– Lacius Dalius

Jawaban:

Shalom Lacius Dalius,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Alkitab. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

1) Bagaimana Al Kitab ditulis?: Sebelum menjawab pertanyaan ini, maka saya akan memberikan definisi dari Katekismus Gereja Katolik (KGK) tentang Alkitab

KGK, 109: Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. DV 12,1.)

KGK, 110: Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).

Alkitab bukanlah diturunkan dari langit dalam bentuk Alkitab yang kita kenal sekarang. Alkitab merupakan kumpulan buku-buku yang ditulis sepanjang 17 abad. Gereja Katolik, dengan kuasa Roh Kudus, menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari kanon Alkitab yang kita kenal sampai saat ini. Gereja Katolik menentukan 46 buku Perjanjian Lama dan 27 buku Perjanjian Baru, sehingga ada 73 buku dalam Alkitab. Allah sendiri adalah penyebab Kitab Suci, dimana dengan ilham Roh Kudus, Allah memberi inspirasi kepada manusia atau sang penulis dari masing-masing buku. Masing-masing penulis dengan cara dan gaya bahasanya sendiri bekerja sama dengan ilham dari Roh Kudus, sehingga buku-buku yang dihasilkan adalah sesuai dengan ilham Roh Kudus sendiri. Karena Gereja ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Alkitab, dan Gereja yang menentukan buku-buku yang termasuk dalam Alkitab, maka Gereja jugalah yang mempunyai kuasa untuk menafsirkan Alkitab secara benar.

2) Apakah bahasa yang digunakan dalam penulisan Al Kitab pertama dan yang kedua? Ada tiga bahasa yang digunakan, yaitu Ibrani, Yunani dan Aram (Aramaic). Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dengan beberapa bagian dalam Aramaic, sedangkan deuterokanonikal ditulis dalam bahasa Yunani. Seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kecuali Matius ditulis dalam bahasa Ibrani / Aram, namun manuscript yang masih ada dalam bahasa Yunani.

3) Bilakah Al Kitab ditulis buat pertama kali? Kalau yang dimaksudkan Alkitab di sini adalah keseluruhan Alkitab, maka lima kitab pertama (Pentateuch) adalah yang pertama ditulis, sekitar abad 15 SM. Keseluruhan kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuagint) ditulis pada abad 3-2 SM.  Sedangkan untuk Perjanjian Baru, buku yang paling pertama ditulis adalah Injil Matius tahun 38-45 (dalam bahasa Aram), kemudian Injil Markus tahun 55-62, Lukas tahun 62 dan Yohanes tahun 85-100 (semua dalam bahasa Yunani). Sedangkan surat- surat para rasul yang pertama ditulis adalah Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes) yaitu pada sekitar akhir tahun 50.

4) Di manakah Al Kitab yang tertua sekali dan apakah versinya? Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus adalah manuskrip Yunani tertua dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Codex Sinaiticus ditemukan di Gunung Sinai, di biara St. Catherine. Manuskrip ini hampir sama dengan Codex Vaticanus. Kedua-duanya diperkirakan ditulis abad ke-4. Codex Sinaiticus tersimpan di British Library dan Codex Vaticanus tersimpan di Vatican Library. Dead Sea Scroll adalah manusrip sebagian Perjanjian Lama dan beberapa manuskrip yang lain, yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Aramaic dan Yunani. Manuskrip ini dipercaya ditulis sekitar tahun 150BC – 70AD.

5) dan mengapa kita mengatakan Al Kitab itu kita katakan firman/sabda Tuhan sedangkan Al Kitab di tulis oleh manusia? Silakan melihat jawaban dalam point no: 1, dimana secara prinsip memang Alkitab ditulis oleh manusia, namun dengan inspirasi dari Roh Kudus. Dan kemudian, Gereja Katolik yang mempunyai kuasa untuk meneruskan warisan iman ini secara murni dari generasi ke generasi menentukan buku-buku yang menjadi bagian dari Alkitab. Kita juga dapat melihat keagungan pengajaran Alkitab, terutama di dalam Perjanjian Baru, yang mengajarkan ajaran moral yang begitu tinggi, seperti delapan Sabda Bahagia atau kotbah di bukit (lih. Mt. 5) Dan semua rencana keselamatan Allah, yang ditulis selama lebih dari 17 abad saling terkait dan terpenuhi dalam diri Yesus. Lebih lagi, kita dapat melihat adanya nubuat yang ditulis berabad-abad sebelumnya, misal oleh nabi Yesaya (7 abad SM) terpenuhi dalam diri Yesus. Untuk lebih lengkapnya, saya akan kutipkan apa yang dikatakan oleh Gereja Katolik tentang inspirasi dan kebenaran Kitab Suci:

KGK, 105.   Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”.”Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11).

KGK 106.   Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh” (DV 11).

KGK, 107.   Kitab-kitab yang diinspirasi mengajarkan kebenaran. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (DV 11).

KGK, 108.    Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati.

Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Lacius.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Penjelasan tentang Deklarasi Dominus Iesus

3

Terjemahan lengkap dari dokumen Dominus Iesus dapat dibaca secara keseluruhan di sini –  silakan klik. Dominus Iesus adalah Deklarasi yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Doktrin Iman (CDF) yang menjelaskan tentang keunikan dan ke-universal-an keselamatan (artinya: keselamatan bagi semua umat manusia) di dalam Kristus dan Gereja Katolik. Ajaran ini sebenarnya bukan ajaran baru, melainkan hanya mengulangi apa yang diajarkan di dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang telah diajarkan oleh Magisterium sejak dari abad- abad awal. Namun demikian, Deklarasi ini penting kita ketahui, sebab dokumen ini mengajarkankan pokok-pokok iman Katolik yang harus kita imani dengan teguh pada saat kita berdialog dengan mereka yang berbeda agama dengan kita. Kita mengetahui, bahwa dewasa ini ada banyak orang beranggapan bahwa semua agama itu sama saja; ‘agama yang baik buat saya, belum tentu bagus baik orang lain’ (paham relativisme); atau bahwa rencana Keselamatan Allah yang diwujudkan dengan penjelmaan Yesus sebagai manusia, wafat dan kebangkitan-Nya-  belumlah lengkap; atau bahwa Yesus hanya merupakan salah satu dari banyak tokoh-tokoh religius yang pernah ada.

Maka untuk menanggapi paham-paham relativisme seperti yang disebutkan di atas, Gereja mengingatkan kita untuk pertama-tama kembali kepada Kitab Suci dan pengajaran para Bapa Gereja. Dalam dialog, kita harus saling menghormati dan menghargai, namun kita tidak boleh mengaburkan atau mengurangi kebenaran yang telah diwahyukan Allah. Wahyu ilahi mengatakan bahwa sebelum Yesus naik ke surga, Yesus berpesan kepada para rasul-Nya agar mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, membaptis semua bangsa dalam nama Allah Tritunggal dan mengajarkan kepada mereka untuk melakukan segala perintah-Nya, agar semua orang dapat diselamatkan (lih Mrk 16:15-16; Mat 28:19-20). Maka dari sini, Yesus menginginkan agar: 1) Injil diberitakan ke seluruh dunia; 2) keselamatan di dalam Yesus ditawarkan kepada semua orang; 3) keselamatan ini diperoleh melalui Pembaptisan di dalam nama Allah Tritunggal (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus); 4) Pembaptisan, pewartaan Injil, dan pengajaran semua perintah Tuhan Yesus dipercayakan kepada para rasul dan para penerus mereka; 5) Persekutuan umat dengan para rasul dan para penerus mereka (Gereja yang Apostolik) ini akan disertai oleh Yesus sampai kepada akhir zaman.

Maka dalam hal ini, Deklarasi Dominus Iesus itu kembali menekankan pokok- pokok iman Katolik yang harus kita imani dengan teguh, sebagai berikut:

1. Kepenuhan dan kelengkapan wahyu Yesus Kristus.

Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup yang mengantar kita kepada Allah Bapa (lih. Yoh 14:6). PadaNya berdiamlah seluruh kepenuhan ke- Allahan (lih. Kol 2:9-10). Maka Inkarnasi/ penjelmaan Yesus menjadi manusia merupakan cara pewahyuan yang paling penuh dari Allah Sang Sabda. “Maka teori yang mengatakan bahwa karakter wahyu Yesus Kristus itu terbatas, tidak lengkap atau tidak sempurna, yang akan dilengkapi oleh agama lain, adalah bertentangan dengan iman Gereja.” (Dominus Iesus, 6)

2. Sang Sabda yang menjelma dan Roh Kudus di dalam karya Keselamatan: dalam kesatuan.

Hanya Yesus dari Nazareth, Putera Maria, yang adalah Putera Allah. Yesus adalah Putera Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa (lih. Yoh1:18). Jadi tidak benar bahwa Tuhan Sang Sabda menyatakan Diri-Nya  kepada manusia dengan banyak cara di dalam banyak tokoh historis lainnya. Juga tidak benar pandangan yang memisahkan tindakan penyelamatan Sang Sabda dengan tindakan Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia (lih. Domunis Iesus 9) ataupun pandangan yang mengatakan bahwa setelah Inkarnasi Yesus terdapat tindakan penyelamatan lain yang “melampaui” penjelmaan Yesus sebagai manusia. Maka harus diimani dengan teguh, bahwa pengaturan rahmat keselamatan Allah bersumber dan berpusat pada misteri Inkarnasi Sang Sabda, yang telah ada sejak masa Penciptaan, sampai di akhir jaman nanti di mana Ia merangkum semua (lih. Ef 1:10).

Jadi misteri Roh Kudus, juga tidak untuk dilihat terpisah dari Inkarnasi Tuhan Yesus ataupun melampaui misteri Inkarnasi, sebab, “Keseluruhan karya membangun Gereja oleh Yesus Kristus Sang Kepala, di sepanjang segala abad, dilihat sebagai sebuah tindakan yang dilakukan-Nya di dalam persekutuan dengan Roh-Nya.” (Dominus Iesus 11). Kuasa perbuatan Roh Kudus itulah yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan melalui Kristus.

3. Keunikan dan keuniversalan Misteri Keselamatan oleh Yesus Kristus (artinya, misteri Keselamatan bagi semua umat manusia oleh Yesus Kristus).

Keunikan dan keuniversalan Misteri keselamatan oleh Kristus ini, bersandar pada kenyataan bahwa “Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia”, agar semua orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan (1 Yoh 4:14. lih. Yoh 3:16). Rasul Petrus mengajarkan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12). Rasul Paulus menambahkan, selanjutnya, bahwa Yesus Kristus adalah “Tuhan di atas segalanya”, “hakim dari yang hidup dan mati”, dan karenanya, “barang siapa yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.” (lih. Kis 10:36, 42, 43)

Maka harus diimani dengan teguh bahwa keselamatan umat manusia ditawarkan Allah dan digenapi satu kali dan selama-lamanya dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (lih. Dominus Iesus 14). Keunikan misteri Kristus ini sesuai dengan Sabda Kristus sendiri, yang menyatakan Diri-Nya, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (Redemptoris missio, 6), karena Yesus adalah Sang Sabda yang olehNya semua mahluk diciptakan, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, dan yang akan kembali lagi untuk mengadili semua manusia, di akhir jaman.

4. Keunikan dan kesatuan Gereja.

“Tuhan Yesus Kristus, dan satu-satunya Penyelamat, tidak hanya mendirikan sebuah komunitas sederhana yang terdiri dari murid-murid-Nya, tetapi mendirikan Gereja sebagai sebuah misteri yang menyelamatkan.” (Dominus Iesus 16). Yesus mengutus para murid-Nya ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil, membaptis dan mengajarkan segala perintah-Nya (lih. Mrk 16:15-16, Mat 28:19-20), untuk meniru teladan kasih-Nya, dan untuk memberi kesaksian tentang Diri-Nya kepada dunia
(lih. Yoh 15), untuk membawa persatuan bagi semua sehingga tak ada pemisahan antara kaum Yahudi dan non- Yahudi (lih. Gal 3:28), dan menjadikan Gereja sebagai Tubuh-Nya sendiri, dan Ia adalah Kepala-Nya (Ef 4:15-16, 5:23-32).

Sehingga, Gereja sebagai Tubuh Kristus, tidak terlepas dari Kristus Sang Kepala. Oleh karena itu, penganiayaan terhadap Gereja adalah penganiayaan terhadap Kristus (lih. Kis 9:5). Sebab Kristus mempersatukan Diri-Nya dengan Gereja, yang adalah Mempelai-Nya (Ef 5:22-33). Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu adalah untuk seorang pria dan seorang wanita (lih. Mat 19:5); maka Iapun menggenapinya sendiri: Kristus yang satu itu juga mempunyai hanya satu Mempelai, satu Tubuh, yaitu Gereja yang didirikan-Nya sendiri di atas Rasul Petrus (Mat 16:18), dan yang sekarang berada di Gereja Katolik (Dominus Iesus, 16).

Dengan demikian Gereja Kristus, meskipun faktanya terbagi-bagi, namun tetap berada dalam kepenuhannya dalam Gereja Katolik; dan meskipun terdapat banyak elemen pengudusan dan kebenaran yang ditemukan di luar struktur Gereja Katolik, namun seluruh kepenuhan sarana keselamatan diperoleh hanya melalui Gereja Katolik. (lih. ibid.16)

5. Gereja: Kerajaan Tuhan dan Kerajaan Kristus.

Gereja merupakan benih/ biji dan permulaan kerajaan Allah. Gereja adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. (Lumen Gentium 4), sehingga karena kesatuan Allah Tritunggal itu sudah ada sejak awal mula penciptaan, maka sudah sejak awal sejarah manusia Gereja ini sudah hadir dalam misteri, yang di dalam Perjanjian Lama tercermin pada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Oleh karena itu, Gereja mempunyai dimensi eskatologis, yang akan mencapai penggenapan sepenuhnya di akhir jaman. “Kerajaan Allah adalah perwujudan dan realisasi rencana keselamatan Allah di dalam segala kepenuhannya.” (Dominus Iesus 19)

6. Gereja dan agama- agama lain di dalam hubungannya dengan keselamatan:1)  keselamatan semua orang di dalam Kristus dan 2) Gereja perlu untuk keselamatan.

Kristus menegaskan perlunya iman dan Pembaptisan (lik. Mrk 16:16, Yoh 3:5, Mat 28:19),  maka Kristus menegaskan perlunya Gereja, yang melaluinya kita dapat dibaptis dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya, dan menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya. Namun ajaran ini tidak untuk dipertentangkan dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia (lih. 1 Tim 2:4). Maka Gereja melihat ajaran ini untuk mencakup dua hal: 1) kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia; dan 2) pentingnya Gereja untuk keselamatan manusia (lih. Dominus Iesus 20).

Maka, keselamatan di dalam Kristus dari mereka yang terhubung dengan Gereja meskipun tidak menjadi anggota resmi Gereja, adalah juga dapat diberikan oleh Kristus. Rahmat ini diberikan juga atas jasa penjelmaan dan pengorbanan Kristus di kayu salib. Konsili Vatikan II mengatakan tentang hal ini, bahwa Tuhan memberikan hal itu “dengan cara yang diketahui oleh Diri-Nya sendiri.” (Ad Gentes 7, Dominus Iesus 21). Sebab, Gereja Katolik mengenal juga adanya pengertian bahwa seseorang dapat terhubung dengan Gereja meskipun tidak menerima sakramen Baptis, yaitu jika 1) ia selalu mencari Tuhan, berusaha melakukan kehendak Tuhan dengan segenap hatinya, dan 2) mempunyai iman akan Tuhan selalu hidup di dalam kasih, dan 3) yang karena bukan kesalahannya sendiri, tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya. Lebih lanjut tentang hal ini pernah ditulis di sini, silakan klik. Itulah sebabnya maka, sebagai umat Katolik kita tidak selayaknya menghakimi “si ini dan si itu” masuk neraka karena tidak Katolik, karena sesungguhnya hanya Tuhan yang mengetahui isi hati orang-orang tersebut. Hanya Tuhan yang tahu, apakah mereka mempunyai iman dan kasih yang besar kepada-Nya, dan apakah alasan mereka tidak percaya kepada Kristus atau tidak bergabung dengan Gereja Katolik adalah karena mereka tidak tahu dengan sungguh-sungguh bahwa hal itu menjadi kehendak Allah bagi mereka. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa Allah dapat bertindak bijaksana sesuai dengan cara yang hanya diketahui-Nya dalam hal keselamatan tiap-tiap manusia.

Jadi, meskipun rahmat Allah dapat diberikan kepada orang-orang yang di luar Gereja Katolik, harus diterima secara obyektif, bahwa “mereka berada dalam keadaan yang sungguh kurang jika dibandingkan dengan dengan mereka yang berada di dalam Gereja, yang mempunyai kepenuhan sarana keselamatan.” (Dominus Iesus 22). Dan sebaliknya, umat Katolik yang telah menerima kepenuhan rahmat keselamatan harus bekerjasama dengan rahmat Allah itu. Sebab, “bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras”. (Lumen Gentium 14)

Kesimpulan

Jadi tidak benar bahwa semua agama itu sama. Para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan: “Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja katolik dan apostolik, yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya. Sesudah mereka mengenal kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya”. (Dignitatis humanae 1)

Memang pada akhirnya, Tuhanlah yang memberikan keselamatan kepada manusia, namun Ia telah menunjukkan sarana yang dikehendaki-Nya yaitu melalui Gereja Katolik. Inilah sebenarnya inti/ prinsip ajaran tentang keselamatan melalui Gereja Katolik; yang umum dikenal dengan istilah EENS (Extram Ecclesiam Nulla Salus). Selanjutnya, terpulang kepada setiap orang, apakah ia mau mengikuti kehendak Allah ini? Sebagai umat Katolik, tentu kita bersyukur bahwa kita telah mengetahui kehendak Tuhan dalam hal keselamatan. Kini saatnya kita berjuang melakukan dua hal: yang pertama, berjuang untuk selalu bekerja sama dengan rahmat keselamatan Allah dengan hidup kudus, dan kedua, mewartakan kebenaran ini demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Semoga Roh Kudus membantu kita dalam melakukan tugas panggilan kita ini, sebagai murid-murid Kristus.

Demikianlah ringkasan dari Deklarasi Dominus Iesus.

Dominus Iesus

4

Berikut ini adalah terjemahan yang tidak resmi (unofficial translation) dari Deklarasi CDF  yang berjudul Dominus Iesus (Tuhan Yesus) tentang keunikan dan keselamatan bagi semua umat manusia di dalam Yesus Kristus dan Gereja Katolik.

Jika anda ingin mengutip terjemahan ensiklik ini, mohon mencantumkan www.katolisitas.org sebagai sumbernya, sehingga kalau ada masukan dapat diberitahukan kepada kami.

AN  UNOFFICIAL INDONESIAN TRANSLATION
OF  “DOMINUS IESUS” @COPYRIGHT 2009 – KATOLISITAS


Kongregasi Ajaran Iman (CDF)

Deklarasi

“DOMINUS IESUS”

tentang Keunikan dan Keselamatan bagi semua umat manusia dalam Yesus Kristus dan Gereja Katolik

Pendahuluan

1. Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga memerintahkan para murid-Nya untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia dan untuk membaptis semua bangsa: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”; (Mk 16:15-16); “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (lih. Mk 16:15-16, Mat 28:18-20,Lk 24:46-48; Yoh 17:18,20,21; Kis 1:18).

Maka misi Gereja ke semua bangsa lahir dari perintah Yesus Kristus dan digenapi di sepanjang abad dalam pewartaan misteri Allah: Bapa, Putera dan Roh Kudus dan misteri Inkarnasi (penjelmaan) Allah Putera menjadi manusia sebagai kejadian yang menyelamatkan bagi semua umat manusia. Maka pernyataan iman Kristiani secara mendasar diekspresikan seperti dalam Credo Aku percaya: “Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha kuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan. Aku percaya akan satu Tuhan, Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. Dan Ia menjadi daging oleh kuasa Roh Kudus dari Perawan Maria dan menjadi manusia. Iapun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus. Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; Kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa. Yang serta Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup di akhirat. Amin.” ((First Council of Constantinople, Symbolum Constantinopolitanum: DS 150.))

2. Di sepanjang abad, Gereja telah mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil Kristus dengan setia. Namun demikian, menjelang penutupan milineum kedua, misi ini masih jauh dari selesai. ((Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 1: AAS 83 (1991), 249-340.)) Maka ajaran Rasul Paulus menjadi makin relevan, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16). Ini menjelaskan perhatian khusus Magisterium untuk memberikan alasan-alasan dan dukungan kepada misi evangelisasi Gereja, terutama dalam kaitannya dengan berbagai tradisi religius di dunia. ((Cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes and Declaration Nostra aetate; cf. also Paul VI Apostolic Exhortation Evangelii nuntiandi: AAS 68 (1976), 5-76; John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio.))

Dalam mempertimbangkan nilai-nilai dari berbagai agama ini, maka Konsili Vatikan II mengajarkan: “Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” ((Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2.)). Melanjutkan pemikiran ini, pewartaan Gereja tentang Kristus sebagai  “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6) dewasa ini juga menggunakan dialog antar agama. Dialog ini tidak menggantikan tetapi menyertai misi kepada seluruh bangsa (misio ad gentes), yang terarah kepada “misteri kesatuan”, di mana semua orang yang diselamatkan sesungguhnya mengambil bagian di dalam misteri yang sama, yaitu misteri keselamatan di dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. ((Pontifical Council for Inter-religious Dialogue and the Congregation for the Evangelization of Peoples, Instruction Dialogue and Proclamation, 29: AAS 84 (1992), 424; cf. Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.)) Dialog antar agama, yang merupakan bagian dari misi evangelisasi Gereja ((Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55: AAS 83 (1991), 302-304.)), mensyaratkan sikap pemahaman dan hubungan pengetahuan timbal balik dan saling memperkaya, di dalam ketaatan terhadap kebenaran dan dengan penghormatan akan kehendak bebas. ((Cf. Pontifical Council for Inter-religious Dialogue and the Congregation for the Evangelization of Peoples, Instruction Dialogue and Proclamation, 9: AAS 84 (1992), 417ff.))

3. Dalam praktek dialog antara iman Kristiani dan tradisi-tradisi religius lainnya, bersamaan dengan pencarian akan pemahaman dasar teoretis dengan lebih mendalam, pertanyaan- pertanyaan baru muncul, yang perlu dibahas melalui mengikuti jalur-jalur penyelidikan, pengajuan usulan/proposal dan penawaran cara-cara bertindak yang membutuhkan pertimbangan/ discerment yang penuh perhatian. Karena itu, Deklarasi ini mengingatkan kepada para Uskup, teolog dan semua umat beriman untuk mengingat hal-hal yang penting dalam doktrin Kristiani, yang dapat membantu permenungan demi tercapainya solusi yang konsisten dengan makna iman dan responsif terhadap kebutuhan masa kini.

Bahasa penerangan dari deklarasi ini sesuai dengan maksudnya, yang tidak menjabarkan secara sistematik masalah keunikan dan keselamatan bagi semua manusia dari misteri Yesus Kristus dan Gereja, ataupun mengusulkan solusi- solusi yang dapat diperdebatkan dengan bebas, melainkan sekali lagi menjabarkan ajaran Gereja Katolik tentang hal ini, sambil menunjukkan masalah mendasar yang tetap terbuka terhadap pengembangan lebih lanjut dan menolak pendapat-pendapat yang salah dan kabur/ ambigu. Untuk alasan ini, Deklarasi mengambil sumber dari apa yang sudah diajarkan di dalam dokumen-dokumen Magisterium sebelumnya, dalam rangka mengulangi kebenaran-kebenaran tertentu yang merupakan bagian dari iman Gereja.

4. Dewasa ini, pewartaan misionaris Gereja yang tetap berlangsung diancam oleh teori-teori yang mencari pembenaran terhadap pluralisme agama, tidak hanya secara de facto, tetapi de iure (secara prinsip). Akibatnya, terdapat kebenaran- kebenaran tertentu yang dianggap kuno, contohnya: kepenuhan dan kelengkapan wahyu Yesus Kristus, kodrat/ ciri iman Kristiani dibandingkan dengan agama lain; ciri ilahi kitab-kitab dalam Alkitab; kemanunggalan Pribadi antara Sabda Ilahi dan Yesus dari Nazareth, keunikan dan keselamatan bagi semua umat manusia dalam Yesus Kristus, perantaraan Gereja yang universal dalam keselamatan, kesatuan yang tak terpisahkan – namun juga menyadari perbedaannya- antara Kerajaan Allah, Kerajaan Kristus dan Gereja, keberadaan dari satu Gereja Kristus dalam Gereja Katolik.

Akar- akar dari permasalahan ini adalah anggapan- anggapan baik dari segi filosofi maupun teologi yang menghalangi pemahaman dan penerimaan akan kebenaran yang diwahyukan. Beberapa anggapan ini dapat disebutkan sebagai berikut: keyakinan bahwa kebenaran ilahi tidak dapat ditangkap dan diekspresikan, bahkan oleh wahyu Kristiani; sikap- sikap relativisme terhadap kebenaran itu sendiri (kebenaran dipandang sebagai hal yang relatif): yang benar bagi saya belum tentu benar bagi orang lain; pertentangan radikal yang ditempatkan antara mentalitas logika dari dunia Barat dengan mentalitas simbolik dari dunia Timur;  subyektivisme yang, dengan menempatkan akal sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, menjadi tidak mampu untuk menaikkan “pandangan ke arah ketinggian, tak berani untuk bangkit menuju kebenaran tentang hakekat sesuatu”; ((John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 5: AAS 91 (1999), 5-88.)) kesulitan memahami dan menerima kehadiran kejadian-kejadian definitif yang bernilai eskatologi [berhubungan dengan akhir jaman] di dalam sejarah,  pengosongan Inkarnasi Sabda Ilahi di dalam sejarah dikurangi menjadi hanya penampakan Tuhan di dalam sejarah manusia; eklektisme dari mereka yang di dalam penyelidikan teologis, menyerap ide-ide secara tidak kritis, dari berbagai konteks filosofi dan teologi tanpa memperhitungkan konsistensi, hubungan sistematis atau kesesuaian dengan kebenaran Kristiani; dan akhirnya, kecenderungan untuk membaca dan meng-interpretasikan Kitab Suci di luar Tradisi dan Magisterium Gereja.

Dengan dasar anggapan-anggapan di atas, yang dapat menunjukkan nuansa-nuansa yang berbeda, usulan-usulan teologis tertentu dikembangkan- di banyak kesempatan dihadirkan sebagai pernyataan, dan di kesempatan yang lain sebagai hipotesa- di mana wahyu Kristiani dan misteri Yesus Kristus dan Gereja kehilangan karakter dalam hal kebenaran absolut dan hal keselamatan yang bersifat universal (bagi semua orang), atau sedikitnya bayangan-bayangan keraguan dan ketidakpastian ditujukan pada mereka.

I. Kepenuhan dan kelengkapan wahyu Yesus Kristus

5. Sebagai obat dari sikap relativisme ini, yang sekarang menjadi lebih umum, adalah penting di atas segalanya untuk menyatakan kembali karakter definitif dan lengkap dari wahyu Yesus Kristus. Sesungguhnya, harus diimani dengan teguh bahwa di dalam misteri Yesus Kristus, yang adalah “jalan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6), kepenuhan wahyu kebenaran ilahi diberikan: “…tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:27), “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yoh 1:18), “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan…. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” (Kol 2:9-10)

Setia dengan sabda Tuhan ini, Konsili Vatikan II mengajarkan: “Tetapi melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menandai pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu.” ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 2.)) Lebih lanjut, “Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai “manusia kepada manusia”, “menyampaikan sabda Allah” (Yoh 3:34), dan menyelesaikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (lih. Yoh 5:36 ; Yoh 17:4). Barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (lih. Yoh 14:9). Karena alasan ini, Yesus menyempurnakan wahyu dengan menggenapinya melalui seluruh pekerjaan-Nya untuk membuat Diri-Nya hadir dan nyata:  melalui sabda-Nya maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat-Nya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, dan akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, Ia memenuhi dan menyempurnakan wahyu dan meneguhkannya dengan kesaksian ilahi, ….. Adapun tata keselamatan Kristiani, sebagai perjanjian baru dan definitif, tidak pernah akan lampau; dan sama sekali tidak boleh dinantikan lagi wahyu umum yang baru, sebelum Tuhan kita Yesus Kristus menampakkan Diri dalam kemuliaan-Nya (lih. 1Tim 6:14 dan Tit 2:13). ((Ibid., 4))

Karena itu, ensiklik Redemptoris missio juga memanggil Gereja sekali lagi untuk tugas menyatakan Injil sebagai kepenuhan kebenaran. “Di dalam penjelmaannya, Sang Sabda telah menyatakan Diri-Nya dengan cara yang paling penuh. Ia telah menyatakan kepada manusia siapa Diri-Nya. Pewahyuan Diri Allah secara definitif ini adalah alasan dasar mengapa Gereja bersifat misionaris. Ia tidak dapat melakukan yang lain daripada mewartakan Injil, yaitu kepenuhan kebenaran, di mana Tuhan memampukan kita untuk mengenal Diri-Nya sendiri.” ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 5.)) Oleh karena itu, hanya wahyu Yesus Kristus inilah yang “memperkenalkan kepada sejarah kita, sebuah kebenaran yang universal (berlaku untuk semua orang) dan tertinggi, yang terus menggerakkan pikiran manusia kepada jerih payah tanpa henti.” ((John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 14.))

6. Maka teori yang mengatakan bahwa karakter wahyu Yesus Kristus itu terbatas, tidak lengkap atau tidak sempurna, yang akan dilengkapi oleh agama lain, adalah bertentangan dengan iman Gereja. Pandangan semacam ini berdasarkan atas pendapat bahwa kebenaran Tuhan tidak dapat ditangkap dan diwujudkan secara menyeluruh dan lengkap oleh agama manapun, tidak juga oleh agama Kristiani ataupun oleh Yesus Kristus.

Pandangan ini sangat bertentangan dengan pernyataan-pernyataan iman Katolik yang sesuai dengannya wahyu yang menyeluruh dan lengkap tentang misteri keselamatan Tuhan diberikan di dalam nama Yesus Kristus. Oleh karena itu, perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan dan seluruh kehidupan Yesus, walaupun terbatas dalam realitas manusia, namun mempunyai pribadi Ilahi (Sabda yang menjelma), “sungguh Allah dan sungguh manusia” ((Council of Chalcedon, Symbolum Chalcedonense: DS 301; cf. St. Athanasius, De Incarnatione, 54, 3: SC 199, 458.)) sebagai pelakunya. Untuk alasan ini, semua hal tersebut merupakan pernyataan definitif dan kelengkapan wahyu keselamatan Tuhan, meskipun kedalaman misterinya tetaplah merupakan sesuatu yang melampaui segala akal dan tak terselami. Kebenaran tentang Tuhan tidak dihapuskan atau dikurangi karena hal itu diucapkan di dalam bahasa manusia; melainkan, hal itu adalah unik, penuh dan lengkap, sebab Ia yang mengatakannya dan melakukannya adalah Allah Putera yang menjelma. Oleh karena itu, iman mensyaratkan kita untuk menyatakan bahwa Sabda yang menjelma menjadi manusia, di dalam keseluruhan misteri-Nya, dari penjelmaanNya sampai kemuliaan-Nya, adalah sumber… dan juga penggenapan setiap wahyu keselamatan Tuhan bagi manusia, ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 4.)) dan Roh Kudus, yang adalah Roh Kristus akan mengajarkan “kepenuhan kebenaran” (Yoh 16:13) kepada para Rasul dan melalui mereka kepada seluruh Gereja.

7. Maka tanggapan yang layak terhadap wahyu Tuhan adalah “ketaatan iman” (Rom 16:26; lih. Rom 1:5: Kor 2 10: 5-6), di mana manusia menyerahkan keseluruhan dirinya kepada Tuhan, mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan.” ((Ibid., 5.)) Iman adalah karunia rahmat: untuk beriman, rahmat Tuhan harus ada terlebih dahulu dan memberikan bantuan; juga harus ada bantuan rohani dari Roh Kudus yang mendorong hati dan membalikkannya kepada Tuhan, yang membuka mata pikiran dan memberikan ‘kepada setiap orang suka cita dan kemudahan untuk percaya kepada kebenaran’ .” ((Ibid.))

Ketaatan iman maksudnya adalah penerimaan kebenaran tentang wahyu Kristus, yang dijamin oleh Tuhan yang adalah Kebenaran itu sendiri: ((Cf. Catechism of the Catholic Church, 144.)) “Iman adalah pertama-tama, melekatnya seseorang kepada Tuhan. ((Ibid., 150.)) Pada saat yang sama dan tak terpisahkan, iman adalah  dengan kehendak bebas tunduk pada seluruh kebenaran yang diwahyukan kepada Tuhan. ((Ibid., 150.)) Oleh karena itu, iman sebagai “sebuah karunia Tuhan” dan “sebuah kebajikan ilahi yang diberikan oleh Tuhan“, ((Ibid., 153.)) melibatkan perlekatan terhadap kedua hal:  kepada Tuhan yang mewahyukan dan kepada kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya, karena percaya kepada Ia yang menyatakannya. Maka, “kita harus percaya kepada hanya satu Tuhan: Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((Ibid., 178.))

Karena alasan ini, perbedaan antara iman teologis dan kepercayaan dari agama-agama lain harus dipegang dengan teguh. Kalau iman adalah penerimaan kebenaran yang diwahyukan oleh kasih karunia, “yang memungkinkan kita untuk meresapkan misteri tersebut dengan cara yang membuat kita dapat memahaminya secara koheren” ((John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 13.)), dengan kepercayaan pada agama- agama lain, yang merupakan perbendaharaan manusia tentang kebijaksanaan dan cita-cita religius, yang dipikirkan oleh manusia dalam pencariannya akan kebenaran dan yang dilakukan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, Sang Absolut. ((Cf. ibid., 31-32.))

Perbedaan ini [antara iman teologis dan kepercayaan agama- agama lain] tidak selalu ada di dalam permenungan teologis dewasa ini. Karena itu, iman teologis (penerimaan kebenaran yang diwahyukan oleh Allah yang Satu dan Tritunggal) seringkali diartikan sama dengan kepercayaan di dalam agama-agama lain, di mana pengalaman religius masih di dalam tahap pencarian terhadap kebenaran absolut dan masih kurang dalam kepatuhan terhadap Tuhan yang mewahyukan Diri-Nya. Ini adalah salah satu alasan mengapa perbedaan antara Kristianitas dan agama- agama lain kerap kali cenderung untuk ditiadakan.

8. Hipotesa tentang nilai ilahi dari tulisan-tulisan suci di agama- agama lain juga dikemukakan. Tentunya, harus diakui bahwa terdapat elemen-elemen di dalam tulisan-tulisan ini yang merupakan alat-alat nyata/ de facto yang oleh mereka [tulisan-tulisan itu] orang-orang sepanjang abad telah dan sampai sekarang masih dapat  memelihara dan menjaga hubungan yang hidup dengan Tuhan. Maka, seperti diketahui di atas, Konsili Vatikan II, mengajarkan bahwa “meskipun berbeda dengan ajaran Gereja, tulisan-tulisan ini memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” ((Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2; cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 9, where it speaks of the elements of good present “in the particular customs and cultures of peoples”; Dogmatic Constitution Lumen gentium, 16, where it mentions the elements of good and of truth present among non-Christians, which can be considered a preparation for the reception of the Gospel.))

Namun demikian, tradisi Gereja mempertahankan penetapan teks- teks yang diinspirasikan kepada kitab-kitab kanonik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebab keduanya ini diinspirasikan oleh Roh Kudus. ((Cf. Council of Trent, Decretum de libris sacris et de traditionibus recipiendis: DS 1501; First Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei Filius, cap. 2: DS 3006.)) Konsili Vatikan II menyatakan, “Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31 ; 2Tim 3:16 ; 2Ptr 1:19-21 ; 2Ptr 3:15-16), dan mempunyai Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja.” ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 11.)). Kitab-kitab ini “degan jelas dan setia, tanpa kesalahan, mengajarkan kebenaran yang ingin disampaikan oleh Tuhan demi keselamatan kita melalui Kitab Suci.” ((Ibid.))

Namun demikian, Tuhan yang ingin memanggil semua bangsa kepada-Nya di dalam Kristus dan untuk menyampaikan kepada mereka kepenuhan wahyu dan kasih-Nya, “tidak gagal dalam membuat Diri-Nya hadir di dalam banyak cara, tidak hanya pada orang-per orang, tetapi pada keseluruhan bangsa melalui kekayaan spiritual mereka, yang menjadi agama-agama mereka, meskipun ketika di dalamnya terkandung hal-hal yang tak menyambung (gaps), kurang lengkap dan keliru.” ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55; cf. 56 and Paul VI, Apostolic Exhortation Evangelii nuntiandi, 53.)) Oleh karena itu, kitab-kitab suci agama-agama lain yang secara nyata membimbing dan memelihara keberadaan para pengikutnya, menerima elemen-elemen kebaikan dan rahmat, dari misteri Kristus.

II. Sang Sabda yang menjelma dan Roh Kudus di dalam karya Keselamatan

9. Di dalam permenungan teologis  kontemporer kadang timbul sebuah pendekatan tentang Yesus dari Nazareth yang menganggap-Nya hanyalah seseorang figur yang khusus, terbatas, tokoh historis yang menyatakan keilahian, namun tidak dengan cara yang eksklusif, tetapi dengan cara yang saling melengkapi dengan tokoh-tokoh penyelamat yang lain. [Pendapat ini mengatakan bahwa] Tuhan yang Tidak terbatas dan Absolut menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam banyak cara dan di dalam banyak tokoh historis: Yesus dari Nazareth hanya salah satu dari tokoh-tokoh ini. Lebih konkretnya, bagi beberapa orang, Yesus hanyalah salah satu dari banyak wajah yang diambil oleh Sang Sabda di sepanjang waktu untuk menyampaikan kepada manusia jalan keselamatan.

Selanjutnya, untuk membenarkan ke-universal-an keselamatan Kristiani [keselamatan bagi semua orang] dan pluralisme religius, diusulkan bahwa terdapat pembagian Sabda ilahi yang sah, juga di luar Gereja dan tidak berhubungan dengannya, sebagai tambahan dari pengaturan tentang Inkarnasi Sang Sabda. Hal yang pertama sifatnya lebih universal daripada yang kedua, yang terbatas hanya pada umat Kristen, walaupun kehadiran Tuhan lebih penuh di dalam hal yang kedua.

10. Pandangan- pandangan ini sangat bertentangan dengan iman Kristiani. Ajaran iman harus diimani dengan teguh yang mewartakan bahwa Yesus dari Nazareth, Putera Maria, dan Ia sendirianlah yang adalah Putera Allah. Sang Sabda, yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh 1:2) adalah Ia yang menjelma menjadi daging (Yoh 1:14). Di dalam Yesus, “Kristus, Putera Allah yang hidup” (Mat 16:16), “dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol 2:9). Ia adalah “… Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa” (Yoh 1:18). Ia adalah “Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita…… Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (Kol 1:13-14; 19-20)

Setia dengan Kitab Suci dan menolak ajaran yang salah, dan interpretasi-interpretasi yang ‘dikurangi’, maka Konsili pertama di Nicea mendefinisikan iman ini di dalam: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal. Ia lahir dari Bapa yaitu, dari hakekat Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan oleh-Nya, yang di surga dan di bumi. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dan menjelma menjadi manusia, sengsara, dan bangkit lagi pada hari ketiga. Ia naik ke surga dan akan kembali mengadili yang hidup dan yang mati.” ((Konsili pertama Nicea, Symbolum Nicaenum: DS 125)). Mengikuti ajaran para Bapa Gereja, Konsili Chalcedon mengajarkan, “Putera yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus Kristus, yang sama sempurna di dalam keilahian dan sempurna di dalam kemanusiaan, yang sama, sungguh-sungguh Tuhan dan sungguh manusia ….., satu sehakekat dengan Bapa menurut keilahian-Nya dan satu sehakekat dengan kita menurut kemanusiaan-Nya, berasal dari Bapa sebelum segala abad menurut keilahian-Nya, dan di hari-hari akhir ini, demi kita dan keselamatan kita,  Putera dari Maria, Perawan Bunda Allah, menurut kemanusiaan-Nya. ((Konsili Chalcedon, Symbolum Chaldonense, DS 301))

Untuk alasan ini, Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Kristus, “Adam yang baru …’gambaran dari Allah yang tidak kelihatan’ (Kol 1:15) adalah seorang manusia yang sempurna yang menampakkan keserupaan dengan Tuhan di dalam keturunan Adam yang telah cacat/ disfigured sejak adanya dosa yang pertama… Seperti seekor domba yang tak bersalah Ia memperoleh bagi kita kehidupan dengan darah-Nya yang dicurahkannya dengan rela. Di dalam Dia, Tuhan mendamaikan kita dengan Diri-Nya dan antara kita satu sama lain, membebaskan kita dari belenggu Iblis dan dosa, sehingga setiap kita dapat berkata dengan Rasul Paulus: Putera Allah “mengasihi aku dan menyerahkan Diri-Nya untuk aku (Gal 2:20)”. ((Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.))

Tentang ini Yohanes Paulus II telah secara eksplisit menyatakan, “Untuk memperkenalkan suatu bentuk pemisahan antara Sang Sabda dan Yesus Kristus adalah bertentangan dengan iman Kristiani …. Yesus adalah Sabda yang menjelma-  Seorang yang sama dan tak dapat dibagi…. Kristus tidak lain adalah Yesus dari Nazareth; Ia adalah Sabda Allah yang menjadi manusia demi keselamatan semua orang… Di dalam proses penemuan dan penghargaan karunia-karunia yang berlimpah -terutama harta kekayaan rohani- yang dicurahkan oleh Tuhan kepada setiap bangsa, kita tidak dapat memisahkan karunia-karunia itu dari Yesus Kristus, yang ada di pusat rencana keselamatan Tuhan.” ((Paus Yohanes Paulus II, surat ensiklik Redemptoris missio, 6.))

Juga bertolakbelakang dengan iman Katolik, pemisahan antara tindakan penyelamatan dari Sang Sabda tersebut dan tindakan Sang Sabda yang menjadi manusia. Dengan inkarnasi, semua tindakan penyelamatan dari Sabda Allah selalu dilakukan di dalam kesatuan dengan kodrat manusia yang dikenakan-Nya demi keselamatan semua orang. Satu Subyek pelaku yang bekerja dalam dua kodrat, manusia dan ilahi, adalah seorang Pribadi dari Sang Sabda. ((Cf. St. Leo the Great, Tomus ad Flavianum: DS 294.))

Oleh karena itu, teori yang menganggap, setelah Inkarnasi, sebuah tindakan penyelamatan dari Sang Sabda sedemikian seperti di dalam keilahian-Nya, dilakukan sebagai “tambahan” atau “melampaui” kemanusiaan Kristus, adalah tidak sejalan dengan iman Katolik. ((Cf. St. Leo the Great, Letter to the Emperor Leo I Promisisse me memini: DS 318: “…in tantam unitatem ab ipso conceptu Virginis deitate et humanitate conserta, ut nec sine homine divina, nec sine Deo agerentur humana”. Cf. also ibid. DS 317.))

11. Serupa dengan itu, ajaran iman tentang keunikan pengaturan rahmat keselamatan yang diinginkan oleh Allah Trinitas harus diimani dengan teguh, di mana sumber dan pusatnya adalah misteri dan Inkarnasi Sang Sabda, Pengantara rahmat ilahi pada saat Penciptaan dan Penyelamatan (lih. Kol 1:15-20), Ia yang merangkum semua (lih. Ef 1:10), Ia “yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Kenyataannya, misteri Kristus mempunyai kesatuan yang hakiki, yang membentang dari pilihan Tuhan yang ilahi sampai paraousia [kedatangan Kristus yang kedua]: “Sebab di dalam Dia [Kristus] Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef 1:4); “Di dalam Kristus, …kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (Ef 1:11);  “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Rom 8:29-30)

Magisterium Gereja, setia dengan wahyu ilahi, menyatakan kembali bahwa Yesus Kristus adalah Sang Pengantara dan Penebus umat manusia: “Sebab Sabda Allah sendiri – karena-Nya segala sesuatu dijadikan – telah menjadi daging, supaya Ia sebagai manusia yang sempurna menyelamatkan semua orang dan merangkum segalanya dalam Dirinya. Tuhanlah … yang ditetapkan Bapa menjadi hakim bagi mereka yang hidup maupun yang mati”. ((Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 45; cf. also Council of Trent, Decretum de peccato originali, 3: DS 1513.)) Pengantaraan keselamatan ini termasuk juga keunikan dari korban Kristus yang menyelamatkan, Sang Imam Agung yang abadi (lih. Ibr 6:20; 9: 11; 10:12-14).

12. Ada juga orang-orang yang mengusulkan hipotesa tentang pengaturan rahmat Roh Kudus dengan sebuah aliran yang lebih universal daripada Sabda yang menjelma menjadi manusia, disalibkan dan bangkit. Pandangan ini juga bertentangan dengan iman Katolik, yang sebaliknya, menganggap Inkarnasi Sang Sabda yang menyelamatkan sebagai kesatuan tindakan/ kejadian Allah Trinitas. Di dalam Perjanjian Baru, misteri Yesus dan Sang Sabda yang menjelma, merupakan wadah kehadiran Roh Kudus dan juga sebagai prinsip penyebaran Roh Kudus kepada umat manusia, tidak hanya pada jaman mesianis (lih. Kis 2:32-36; Yoh 7:39, 20:22; 1 Kor 15:45), tetapi juga sebelum kedatangan-Nya di dalam sejarah (lih. 1 Kor 10:4; 1 Pet 1:10:12).

Konsili Vatikan II telah mengingat kembali dengan kesadaran tentang iman Gereja tentang kebenaran yang mendasar ini. Dengan menghadirkan rencana keselamatan Bapa bagi semua umat manusia, Konsili menghubungkan eratnya misteri Kristus dengan awal permulaan misteri Roh Kudus. ((Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 3-4.)) Keseluruhan karya membangun Gereja oleh Yesus Kristus Sang Kepala, di sepanjang segala abad, dilihat sebagai sebuah tindakan yang dilakukan-Nya di dalam persekutuan dengan Roh-Nya. ((Cf. ibid., 7; cf. St. Irenaeus, who wrote that it is in the Church “that communion with Christ has been deposited, that is to say: the Holy Spirit” (Adversus haereses III, 24, 1: SC 211, 472).))

Selanjutnya, tindakan penyelamatan oleh Yesus Kristus, dengan dan melalui Roh-Nya, melampaui batas-batas yang kelihatan dari Gereja kepada semua umat manusia. Berbicara tentang misteri Paska, di mana Kristus bahkan sekarang menghubungkan umat beriman dengan Diri-Nya sendiri dengan cara yang hidup di dalam Roh Kudus dan memberikan kepada umat pengharapan akan kebangkitan, Konsili menyatakan: “Semua ini bukan hanya berlaku bagi kaum beriman Kristiani, melainkan bagi semua orang yang berkehendak baik, yang di hatinya rahmat yang tidak kelihatan aktif berperan. Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk dengan cara yang diketahui oleh Allah digabungkan dengan misteri Paska itu”. ((Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.))

Oleh karena itu, hubungannya jelas antara misteri keselamatan Sabda yang menjelma dan misteri Roh Kudus, yang merealisasikan kemanjuran penyelamatan dari Sang Putera yang menjelma menjadi manusia di dalam kehidupan semua orang, yang dipanggil oleh Tuhan kepada tujuan yang satu, baik mereka yang secara historis hidup sebelum penjelmaan Sang Sabda, dan mereka yang hidup setelah kedatangan-Nya di dalam sejarah: Roh dari Allah Bapa, yang dicurahkan secara melimpah oleh Sang Putera Allah, adalah yang menghidupkan segalanya (lih. Yoh 3: 34).

Dengan demikian, Magisterium Gereja belakangan ini mengingatkan kembali dengan teguh dan jelas kebenaran akan sebuah/ satu pengaturan ilahi: “Kehadiran Roh Kudus dan tindakan-Nya tidak hanya mempengaruhi pribadi-pribadi tetapi masyarakat dan sejarah, bangsa-bangsa, budaya dan agama-agama… Kristus yang bangkit ‘sekarang ini sedang bekerja di dalam hati manusia melalui kekuatan Roh Kudus-Nya’…. Lagi, adalah Roh Kudus yang menaburkan ‘benih dari Sang Sabda’ yang hadir di dalam berbagai cara hidup dan budaya, mempersiapkan mereka bagi kedewasaan di dalam Kristus”. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 28. For the “seeds of the Word” cf. also St. Justin Martyr, Second Apology 8, 1-2; 10, 1-3; 13, 3-6: ed. E.J. Goodspeed, 84; 85; 88-89.)) Sementara mengenali fungsi Roh Kudus yang menyelamatkan secara historis di seluruh alam semesta dan di dalam seluruh sejarah manusia, ((Cf. John Paul II, Encyclical Letter, Redemptoris missio, 28-29.)) Magisterium menyatakan: “Ini adalah Roh Kudus yang sama, yang bekerja pada saat Inkarnasi dan di dalam hidup, kematian dan kebangkitan Yesus, dan yang kini bekerja di dalam Gereja. Karena itu, Ia bukanlah merupakan alternatif di samping Kristus ataupun seperti yang kadang diduga, Ia mengisi kekosongan yang ada antara Kristus dan Sang Sabda. Apapun yang dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam hati manusia dan di dalam sejarah bangsa-bangsa, di dalam budaya-budaya dan agama-agama, menjadi sebuah persiapan bagi Injil dan hanya dapat dimengerti dengan mengacu kepada Kristus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus ‘sehingga karena Ia adalah sungguh-sungguh manusia, maka Ia dapat menyelamatkan semua manusia dan merangkum segala sesuatu'”. ((Ibid., 29))

Kesimpulannya, pekerjaan Roh Kudus tidaklah berada di luar ataupun sejajar dengan pekerjaan Kristus. Hanya ada satu pengaturan keselamatan dari Allah yang satu dan Tritunggal, yang dinyatakan di dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Putera Allah, yang dilakukan dengan kerjasama Roh Kudus dan diteruskan di dalam nilai yang menyelamatkan kepada semua umat manusia dan kepada segenap alam semesta. “Oleh karena itu, tak seorangpun, yang dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan kecuali melalui Kristus, dengan kuasa perbuatan Roh Kudus”. ((Ibid., 5))

III. Keunikan dan keuniversalan Misteri Keselamatan oleh Yesus Kristus

13. Tesis yang menolak keunikan dan keselamatan bagi semua orang dari misteri Yesus Kristus juga diketengahkan di sini. Pandangan semacam ini tidak mempunyai dasar Alkitabiah. Kenyataannya, kebenaran tentang Yesus Kristus, Putera Allah, Tuhan dan satu-satunya Penyelamat, yang melalui kejadian Inkarnasi-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya telah membawa sejarah keselamatan kepada penggenapannya, dan yang mempunyai kepenuhan dan pusat di dalam diri-Nya, harus diimani dengan teguh sebagai sebuah elemen iman Gereja yang tetap.

Perjanjian Baru menegaskan hal ini dengan jelas: “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” (1 Yoh 4:14) Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Yoh 1:29). Di dalam pernyataannya di hadapan Sanhedrin, Petrus, untuk membenarkan penyembuhan seorang laki-laki yang cacat dari lahir, yang dilakukan di dalam nama Yesus (lih. Kis 3:1-8), menyerukan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12). Rasul Paulus menambahkan, selanjutnya, bahwa Yesus Kristus adalah “Tuhan di atas segalanya”, “hakim dari yang hidup dan mati”, dan karenanya, “barang siapa yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.” (lih. Kis 10:36, 42, 43)

Paulus, kepada jemaat di Korintus, menuliskan: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian– namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Kor 8:5-6) Selanjutnya Rasul Yohanes mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan dapat beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17) Di dalam Perjanjian Baru, kehendak Allah yang untuk menyelamatkan semua orang adalah sangat erat berhubungan dengan Pengantaraan Kristus yang satu-satunya: “[Tuhan] menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1 Tim 2:4-6)

Adalah suatu kesadaran tentang satu karunia keselamatan yang universal yang ditawarkan oleh Allah Bapa melalui Yesus Kristus di dalam Roh Kudus (lih. Ef 1:2-14), bahwa jemaat Kristen yang pertama bertemu dengan bangsa Yahudi, menunjukkan kepada mereka pemenuhan keselamatan yang terjadi melampaui Hukum Taurat dan, pada saat yang sama, kesadaran, yang dinyatakan oleh mereka untuk menentang dunia pagan pada jaman mereka, yang menginginkan keselamatan melalui banyak juru selamat. Warisan iman ini telah diingatkan kembali oleh Magisterium: “Adapun Gereja mengimani, bahwa Kristus telah wafat dan bangkit bagi semua orang (lih. 2 Kor 5:15). Ia mengaruniakan kepada manusia terang dan kekuatan melalui Roh-Nya, supaya manusia mampu menanggapi panggilannya yang amat luhur. Dan dibawah langit tidak diberikan kepada manusia nama lain, yang bagi mereka harus menjadi pokok keselamatan (lih. Kis 4:12). Begitu pula Gereja percaya, bahwa kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia terdapat pada Tuhan dan Gurunya”. ((Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 10. Cf. St. Augustine, who wrote that Christ is the way, which “has never been lacking to mankind… and apart from this way no one has been set free, no one is being set free, no one will be set free” De civitate Dei 10, 32, 2: CCSL 47, 312))

14. Karena itu, juga harus diimani dengan teguh sebagai sebuah kebenaran iman Katolik bahwa kehendak Allah yang Satu dan Trinitas akan keselamatan [umat manusia] secara universal ditawarkan dan digenapi satu kali dan selama-lamanya di dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Putera Allah.

Dengan memegang artikel iman ini, dewasa ini teologi, di dalam permenungannya atas keberadaan pengalaman-pengalaman religius yang lain dan atas makna semua itu di dalam rencana keselamatan Tuhan, diundang untuk meneliti apabila dan di dalam hal apa tokoh- tokoh sejarah dan elemen-elemen positif dari agama-agama ini dapat masuk di dalam rencana ilahi tentang keselamatan. Konsili Vatikan II, telah menyatakan bahwa: “begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber”. ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 62)) Isi dari partisipasi pengantaraan ini harus diteliti dengan lebih mendalam, tetapi harus tetap konsisten dengan prinsip pengantaraan Kristus yang unik: “meskipun bentuk- bentuk partisipasi dalam pengantaraan di berbagai cara dan derajatnya tidak diabaikan, mereka memperoleh maknanya dan nilainya hanya dari Pengantaraan Kristus sendiri, dan mereka tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sejajar ataupun melengkapi terhadap Pengantaraan Kristus”. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 5.))  Oleh karena itu, solusi-solusi tersebut yang mengusulkan sebuah tindakan penyelamatan Allah yang melampaui Pengantaraan Kristus yang satu- satunya, bertentangan dengan iman Kristiani dan iman Katolik.

15. Tidak jarang, dikatakan bahwa teologi harus menghindari penggunaan istilah- istilah seperti “keunikan”, “keuniversalan” dan “keabsolutan”, yang memberi kesan penekanan yang berlebihan pada keutamaan dan nilai penyelamatan Yesus Kristus dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Namun pada kenyataannya, istilah itu hanyalah karena kesetiaan kepada wahyu,  karena hal itu menyampaikan perkembangan sumber- sumber iman itu sendiri. Sejak awal mula, para umat beriman telah mengenali sebuah nilai keselamatan di dalam Yesus, bahwa Ia sendiri, sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, disalibkan dan bangkit, dengan misi yang diterima dari Allah Bapa dan dengan kuasa Roh Kudus, mencurahkan wahyu (lih. Mat 11:27) dan kehidupan ilahi (lih. Yoh 1:12; 5:25-26; 17:2) kepada semua umat manusia dan kepada setiap orang.

Dalam hal ini, seseorang dapat dan harus mengatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai sebuah keutamaan dan sebuah nilai bagi umat manusia dan sejarahnya, yang unik dan satu- satunya…, eksklusif, universal dan absolut. Yesus adalah, Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia untuk keselamatan semua orang. Di dalam mengekspresikan kesadaran iman ini, Konsili Vatikan II mengajarkan: “Sebab Sabda Allah sendiri – karena-Nya segala sesuatu dijadikan – telah menjadi daging, supaya Ia sebagai manusia yang sempurna menyelamatkan semua orang dan merangkum segalanya dalam Dirinya. Tuhanlah tujuan sejarah manusia, titik-sasaran dambaan-dambaan sejarah maupun peradaban, pusat umat manusia, kegembiraan hati semua orang dan pemenuhan aspirasi-aspirasi mereka. Dialah yang oleh Bapa dibangkitkan dari kematian, ditinggikan dan ditempatkan disisi kanan-Nya; Dialah yang ditetapkan-Nya menjadi hakim bagi mereka yang hidup maupun yang mati”. ((Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 45. The necessary and absolute singularity of Christ in human history is well expressed by St. Irenaeus in contemplating the preeminence of Jesus as firstborn Son: “In the heavens, as firstborn of the Father’s counsel, the perfect Word governs and legislates all things; on the earth, as firstborn of the Virgin, a man just and holy, reverencing God and pleasing to God, good and perfect in every way, he saves from hell all those who follow him since he is the firstborn from the dead and Author of the life of God” (Demonstratio apostolica, 39: SC 406, 138) )). “Justru keunikan Kristus inilah yang memberikanNya sebuah keutamaan yang absolut dan universal, yang walaupun menjadi bagian dari sejarah, Ia tetap menjadi pusat dan tujuan: ‘Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir’ “. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 6))

IV. Keunikan dan kesatuan Gereja Katolik

16. Tuhan Yesus Kristus, dan satu-satunya Penyelamat, tidak hanya mendirikan sebuah komunitas sederhana yang terdiri dari murid-murid-Nya, tetapi mendirikan Gereja sebagai sebuah misteri yang menyelamatkan: Ia sendiri ada dalam Gereja dan Gereja ada dalam Dia (lih. Yoh 15:1ff.; Gal 3:28; Ef 4:15-16; Kis 9:5). Oleh karena itu, kepenuhan misteri Kristus yang menyelamatkan menjadi milik Gereja dan tidak dapat dipisahkan dengan Tuhannya. Sungguh, Yesus Kristus melanjutkan kehadiran-Nya dan pekerjaan keselamatan di dalam Gereja dan melalui Gereja (lih. Kol 1:24-27) ((Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14)), yang adalah Tubuh-Nya (cf. 1 Kor 12:12-13, 27; Kol 1:18). ((Cf. ibid., 7)) Dan oleh karenanya, seperti kepala dan anggota-anggota tubuh dalam sebuah tubuh yang hidup, meskipun tidak sama, tapi tidak dapat dipisahkan, maka demikian juga Kristus dengan Gereja juga tidak dapat dicampur-baurkan atau dipisahkan, dan merupakan sebuah “keseluruhan Kristus” ((Cf. St. Augustine, Enarratio in Psalmos, Ps. 90, Sermo 2,1: CCSL 39, 1266; St. Gregory the Great, Moralia in Iob, Praefatio, 6, 14: PL 75, 525; St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, III, q. 48, a. 2 ad 1.)). Ketidakterpisahan ini juga dinyatakan di dalam Perjanjian Baru dengan analogi Gereja sebagai Mempelai Kristus (lih. 2 Cor 11:2; Eph 5:25-29; Rev 21:2,9). ((Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 6))

Oleh karena itu, di dalam hubungan dengan keunikan dan Pengantaraan Yesus Kristus yang menyelamatkan semua umat manusia, keunikan Gereja yang didirikan oleh-Nya harus diimani dengan teguh sebagai sebuah kebenaran iman Katolik. Seperti bahwa hanya terdapat satu Kristus, maka hanya terdapat satu Tubuh Kristus, satu Mempelai Kristus: “sebuah Gereja yang satu dan apostolik”. ((Symbolum maius Ecclesiae Armeniacae: DS 48. Cf. Boniface VIII, Unam sanctam: DS 870-872; Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 8.)) Selanjutnya, janji-janji Tuhan bahwa Ia tidak akan meninggalkan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18; 28:20) dan bahwa Ia akan membimbingnya dengan Roh Kudus-Nya (lih. Yoh 16:13) berarti, menurut iman Katolik, bahwa keunikan dan kesatuan Gereja – seperti segala sesuatu yang menjadi milik keutuhan Gereja- tidak akan pernah kurang. ((Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 4; John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 11: AAS 87 (1995), 927.))

Umat Katolik disyaratkan untuk mengakui bahwa terdapat kesinambungan historis- yang berakar dari rantai apostolik ((Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 20; cf. also St. Irenaeus, Adversus haereses, III, 3, 1-3: SC 211, 20-44; St. Cyprian, Epist. 33, 1: CCSL 3B, 164-165; St. Augustine, Contra adver. legis et prophet., 1, 20, 39: CCSL 49, 70.)) – antara Gereja yang didirikan Kristus dengan Gereja Katolik: “Itulah satu-satunya Gereja Kristus … Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada [subsistit in] dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya”. ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 8.)) Dengan istilah subsistit ini, Konsili Vatikan II menyelaraskan dua pernyataan doktrin: di satu sisi, bahwa Gereja Kristus, meskipun terbagi-bagi di antara umat Kristen, tetaplah terus berada dalam kepenuhannya hanya di dalam Gereja Katolik dan di sisi lain, bahwa “di luar strukturnya, dapat ditemukan banyak elemen pengudusan dan kebenaran”,  ((Ibid.; cf. John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 13. Cf. also Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 15 and the Decree Unitatis redintegratio, 3.)), yaitu di dalam Gereja- gereja dan komunitas eklesial yang belum bersatu dengan penuh dengan Gereja Katolik. ((The interpretation of those who would derive from the formula subsistit in the thesis that the one Church of Christ could subsist also in non-Catholic Churches and ecclesial communities is therefore contrary to the authentic meaning of Lumen gentium. “The Council instead chose the word subsistit precisely to clarify that there exists only one ‘subsistence’ of the true Church, while outside her visible structure there only existelementa Ecclesiae, which — being elements of that same Church — tend and lead toward the Catholic Church” (Congregation for the Doctrine of the Faith, Notification on the Book “Church: Charism and Power” by Father Leonardo Boff: AAS 77 [1985], 756-762).)) Tetapi berkenaan dengan hal ini, perlu dikatakan bahwa, “…hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan”. ((Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 3.))

17. Dengan demikian, terdapat sebuah Gereja Kristus, yang berada di dalam Gereja Katolik, dipimpin oleh Penerus Rasul Petrus dan dengan para Uskup dengan persekutuan dengannya. ((Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration Mysterium Ecclesiae, 1: AAS 65 (1973), 396-398.)) Gereja -gereja yang, sementara ini tidak dalam persekutuan yang sempurna dengan Gereja Katolik, tetap bersatu dengannya melalui ikatan yang terdekat, yaitu dengan rantai apostolik dan Ekaristi yang sah, adalah Gereja-gereja partikular yang sejati. ((Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 14 and 15; Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter Communionis notio, 17: AAS 85 (1993), 848.)). Karena itu, Gereja Kristus hadir dan bekerja juga di dalam Gereja- gereja ini, meskipun mereka kurang dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, karena mereka tidak menerima ajaran Katolik tentang Keutamaan Paus, yang menurut kehendak Tuhan,  telah secara obyektif dimiliki dan dilaksanakanoleh Uskup Roma terhadap seluruh Gereja. ((Cf. First Vatican Council, Constitution Pastor aeternus: DS 3053-3064; Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 22.))

Di lain pihak, komunitas-komunitas eklesial yang tidak mempertahankan Episkopat yang sah dan hakekat misteri Ekaristi yang asli dan menyeluruh, ((Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 22.)) tidak dapat disebut sebagai Gereja dalam arti yang sebenarnya; namun demikian mereka yang dibaptis di dalam komunitas ini adalah, dengan Pembaptisan, tergabung di dalam Kristus dan karenanya di dalam persekutuan tertentu, walaupun tidak sempurna, dengan Gereja. ((Cf. ibid., 3.)) Pembaptisan, sesungguhnya cenderung mengarah kepada perkembangan hidup yang penuh di dalam Kristus, melalui pengakuan iman yang menyeluruh, Ekaristi, dan persekutuan yang sempurna di dalam Gereja ((Cf. ibid., 22.)).

“Karena itu, umat Kristiani tidak diijinkan untuk membayangkan bahwa Gereja Kristus adalah tidak lebih dari sekedar sebuah kumpulan – terbagi-bagi, tetapi dikatakan satu- dari Gereja-gereja dan komunitas eklesial; ataupun mereka tidak boleh menganggap bahwa sekarang ini Gereja Kristus tidak benar- benar ada, dan menganggap sebagai hanya sebuah tujuan yang harus dicapai dengan kerja keras oleh semua Gereja-gereja dan komunitas-komunitas eklesial.” ((Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration Mysterium Ecclesiae, 1.)) Sebenarnya, “elemen-elemen yang telah diberikan kepada Gereja, ada dan tergabung bersama di dalam kepenuhannya di dalam Gereja Katolik dan, tanpa kepenuhannya, di dalam komunitas-komunitas yang lain”. ((John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 14.)) “Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.” ((Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 3.))

“Kekurangan kesatuan di antara umat Kristiani tentu adalah sebuah luka bagi Gereja; tidak dalam arti bahwa ia kehilangan kesatuannya, tetapi “bahwa hal itu menghambat pemenuhan yang lengkap dari ke-universalannya di dalam sejarah”. ((Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter Communionis notio, 17; cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 4.))

V. Gereja Katolik: Kerajaan Tuhan dan Kerajaan Kristus

18. Misi Gereja adalah untuk “mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia” ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 5.)). Di satu sisi, Gereja adalah “sebuah sakramen – “yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia”. ((Ibid., 1.)) Karena itu, ia adalah tanda dan alat kerajaan; ia dipanggil untuk mempermaklumkan dan mendirikan kerajaan. Di sisi lainnya, Gereja adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. ((Ibid., 4. Cf. St. Cyprian, De Dominica oratione 23: CCSL 3A, 105.)); dengan demikian, ia adalah “kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 3.)) dan merupakan benihnya dan permulaannya. Kerajaan Allah, sesungguhnya, mempunyai segi eskatoligis: hal itu adalah realitas di saat ini, tetapi realisasi sepenuhnya hanya akan dicapai dengan penggenapan atau pemenuhan sejarah. ((Cf. ibid., 9; cf. also the prayer addressed to God found in the Didache 9,4: SC 248, 176: “May the Church be gathered from the ends of the earth into your kingdom” and ibid. 10, 5: SC 248, 180: “Remember, Lord, your Church… and, made holy, gather her together from the four winds into your kingdom which you have prepared for her”.))

Arti istilah-istilah kerajaan surga, kerajaan Allah dan kerajaan Kristus di dalam Kitab Suci dan tulisan para Bapa Gereja, juga di dalam dokumen-dokumen Magisterium, tidak selalu sama persis, demikian juga hubungan-hubungan mereka dengan Gereja, yang adalah sebuah misteri yang tidak dapat dipahami secara total oleh pemikiran manusia. Oleh karena itu, terdapat berbagai penjelasan teologis dari istilah-istilah ini. Namun demikian, tidak satupun dari penjelasan- penjelasan yang mungkin ini sama sekali dapat menolak atau meniadakan hubungan yang akrab antara Kristus, kerajaan dan Gereja. Nyatanya, kerajaan Allah yang kita ketahui dari wahyu, “tidak dapat dipisahkan baik dari Kristus atau dari Gereja… Jika kerajaan dipisahkan dari Kristus, itu bukan lagi kerajaan Allah yang diwahyukan-Nya. Hasilnya adalah sebuah distorsi tentang makna kerajaan, yang beresiko diubah menjadi sebuah tujuan yang murni dari manusia atau ideologis dan sebuah distorsi tentang identitas Kristus, yang tidak lagi tampil sebagai Tuhan, yang kepada-Nya setiap ciptaan suatu hari nanti akan tunduk (lih. 1 Kor 15:27). Karena itu, seseorang tidak boleh memisahkan kerajaan dengan Gereja. Adalah benar bahwa Gereja bukan sebuah akhir dari dirinya sendiri, sebab ia diarahkan menuju kerajaan Allah, yang mana ia adalah benihnya, tanda dan alat. Tetapi, sementara tetap berbeda dari Kristus dan kerajaan, Gereja disatukan secara tak terceraikan dengan keduanya. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18; cf. Apostolic Exhortation Ecclesia in Asia, 17: L’Osservatore Romano (November 7, 1999). The kingdom is so inseparable from Christ that, in a certain sense, it is identified with him (cf. Origen, In Mt. Hom., 14, 7: PG 13, 1197; Tertullian, Adversus Marcionem, IV, 33,8: CCSL 1, 634.))

19. Untuk menyatakan hubungan yang tak terceraikan antara Kristus dan kerajaan adalah tidak untuk mengabaikan kenyataan bahwa kerajaan Allah – meskipun jika dianggap di dalam tahap historis- tidak diidentifikasikan dengan Gereja di dalam realitasnya yang kelihatan dan bersifat sosial. Kenyataannya, “tindakan Kristus dan Roh Kudus di luar batas- batas Gereja yang kelihatan” tidak boleh diabaikan. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18.)) Sehingga, seseorang harus juga mengingat bahwa, “kerajaan menyangkut semua orang: pribadi-pribadi, masyarakat dan dunia. Bekerja untuk kerajaan berarti mengakui dan memajukan pekerjaan Allah, yang hadir di sejarah manusia dan mengubahnya. Membangun kerajaan berarti bekerja bagi pembebasan dari kejahatan di dalam segala bentuknya. Singkatnya, kerajaan Allah adalah perwujudan dan realisasi rencana keselamatan Allah di dalam segala kepenuhannya”. ((Ibid., 15.))

Dalam mempertimbangkan hubungan antara kerajaan Allah, kerajaan Kristus dan Gereja, adalah penting untuk menghindari penekanan yang tak berimbang, seperti dalam kasus dengan “pengertian-pengertian itu yang secara sengaja menekankan kerajaan dan yang menjabarkan mereka sendiri sebagai ‘kerajaan terpusat’. Mereka menekankan gambaran sebuah Gereja yang tidak peduli terhadap dirinya sendiri, tetapi yang sepenuhnya peduli untuk menjadi saksi dan melayani kerajaan. Ia adalah sebuah ‘Gereja bagi sesama,’ seperti Kristus adalah ‘manusia bagi sesama’…. Bersamaan dengan hal- hal positif, konsep-konsep ini sering menyatakan hal-hal negatif juga. Pertama, mereka bungkam tentang Kristus: kerajaan yang mereka bicarakan adalah berdasarkan ‘teosentris’, karena menurut mereka, Kristus tidak dapat dimengerti oleh mereka yang kurang beriman Kristiani, sedangkan bangsa-bangsa yang berbeda, budaya-budaya, dan agama-agama dapat menemukan dasar bersama di dalam sebuah realitas ilahi, dengan nama apapun juga. Dengan alasan yang sama, mereka menempatkan penekanan besar pada misteri penciptaan, yang dicerminkan di dalamnya keanekaragaman budaya dan kepercayaan, tetapi mereka bungkam tentang misteri penebusan dosa. Selanjutnya, kerajaan, seperti yang dimengerti oleh mereka, berakhir dengan entah meninggalkan sangat sedikit ruang bagi Gereja atau merendahkan nilai Gereja sebagai reaksi terhadap sebuah anggapan ‘eklesiosentrism’ di masa lalu dan karena mereka menanggap Gereja sendiri hanya sebagai sebuah tanda, untuk hal itu, tanda yang tidak tanpa banyak arti/ ambigu.” ((Ibid., 17.)). Thesis- thesis ini bertentangan dengan iman Katolik sebab mereka menolak keunikan hubungan yang dimiliki oleh Kristus dan Gereja dengan kerajaan Allah.

VI. Gereja Katolik dan agama-agama lain di dalam hubungannya dengan keselamatan

20. Dari apa yang telah dinyatakan di atas, timbul beberapa butir yang penting untuk permenungan teologis sebab hal itu menjelaskan hubungan Gereja dan agama-agama lain dalam hal keselamatan.

Di atas segalanya, haruslah diimani dengan teguh bahwa “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya’. ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14; cf. Decree Ad gentes, 7; Decree Unitatis redintegratio, 3.)) Ajaran ini harus tidak ditempatkan berlawanan dengan kehendak keselamatan Tuhan yang bersifat universal: Gereja yang satu adalah pengantara dan jalan keselamatan (cf. 1 Tim 2:4); “Adalah penting untuk menjaga dua kebenaran ini bersama-sama, yaitu, kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia dan pentingnya Gereja untuk keselamatan ini.” ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 9; cf. Catechism of the Catholic Church, 846-847.))

Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang” ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 48.)), karena, selalu bersatu secara misterius dengan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Kepalanya, dan tunduk kepada-Nya, ia mempunyai, di dalam rencana Tuhan, sebuah hubungan yang sangat diperlukan dengan keselamatan setiap manusia. ((Cf. St. Cyprian, De catholicae ecclesiae unitate, 6: CCSL 3, 253-254; St. Irenaeus, Adversus haereses, III, 24, 1: SC 211, 472-474.)) Bagi mereka yang bukan merupakan anggota resmi dan yang kelihatan (visible) dari Gereja, “keselamatan di dalam Kristus dicapai dengan kebajikan rahmat, yang ketika mempunyai hubungan yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi bagian dari Gereja, tetapi [rahmat ini] menerangi mereka di dalam cara yang diakomodasikan dengan situasi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; rahmat ini adalah hasil dari kurban-Nya dan disampaikan oleh Roh Kudus”; ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 10.)); ia [rahmat ini] mempunyai sebuah hubungan dengan Gereja, yang “berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa”. ((Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 2. The famous formula extra Ecclesiam nullus omnino salvatur is to be interpreted in this sense (cf. Fourth Lateran Council, Cap. 1. De fide catholica: DS 802). Cf. also the Letter of the Holy Office to the Archbishop of Boston: DS 3866-3872.))

21. Dengan memperhatikan cara yang di dalamnya rahmat Allah yang menyelamatkan – yang diberikan selalu melalui Kristus di dalam Roh Kudus dan mempunyai sebuah hubungan yang misterius dengan Gereja- datang kepada pribadi yang non- Kristiani, Konsili Vatikan II membatasi dirinya kepada pernyataan bahwa Tuhan memberikan hal itu “dengan cara yang diketahui oleh Diri-Nya sendiri.” ((Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 7.)) Para teolog sedang mencari untuk memahami masalah ini dengan lebih penuh. Pekerjaan mereka harus didukung, sebab itu tentunya sangat berguna bagi pemahaman yang lebih baik tentang rencana keselamatan dan cara- cara yang melaluinya hal itu diwujudkan. Namun demikian, dari apa yang telah disebutkan di atas tentang Pengantaraan Yesus Kristus dan “keunikan dan hubungan yang khusus” ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18.)) yang dimiliki oleh Gereja dengan kerajaan Allah di antara manusia- yang pada hakekatnya adalah kerajaan universal Kristus Sang Penyelamat- adalah jelas bahwa menjadi bertentangan dengan iman, untuk menganggap Gereja sebagai satu jalan keselamatan yang ada berdampingan dengan jalan-jalan agama- agama lain, yang dilihat sebagai yang melengkapi Gereja atau yang secara hakiki sama dengannya, meskipun jika ini dikatakan sebagai pertemuan dengan Gereja menuju kerajaan Tuhan di akhir jaman.

Jelaslah, berbagai tradisi religius mencakup dan menawarkan elemen-elemen religius yang datang dari Tuhan, ((These are the seeds of the divine Word (semina Verbi), which the Church recognizes with joy and respect (cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 11; Declaration Nostra aetate, 2).)) dan yang mana bagian dari apa “yang dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam hati umat manusia dan di dalam sejarah bangsa-bangsa, di dalam budaya-budaya dan agama-agama”. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 29.)) Sungguh, beberapa doa dan ritual dari beberapa agama dapat mengambil sebuah peran persiapan bagi Injil, dalam hal bahwa mereka adalah kesempatan-kesempatan dan bantuan-bantuan yang mendidik di mana hati manusia didorong untuk menjadi terbuka terhadap pekerjaan Allah. ((Cf. ibid.; Catechism of the Catholic Church, 843.)) Namun demikian, seseorang tidak dapat menganggap hal-hal ini, [sebagai] sebuah sumber ilahi atau sebuah ex opere operato kemanjuran keselamatan, yang layaknya pada sakramen-sakramen Kristiani. ((Cf. Council of Trent, Decretum de sacramentis, can. 8, de sacramentis in genere: DS 1608.)) Selanjutnya, tidak dapat diabaikan bahwa ritual-ritual yang lain jika mereka tergantung pada tahyul dan kesalahan- kesalahan yang lain (cf. 1 Kor 10:20-21), merupakan sebuah penghalang keselamatan. ((Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55.))

22. Dengan kedatangan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Tuhan telah meginginkan bahwa Gereja yang didirikan-Nya menjadi alat bagi keselamatan semua manusia (lih. Kis 17:30-31). ((Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 17; John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 11.)) Kebenaran iman ini tidak mengurangi penghormatan yang tulus yang dimiliki oleh Gereja terhadap agama-agama di dunia, tetapi pada saat yang sama, Gereja mengatasi, dengan cara yang radikal, mentalitas acuh tak acuh, “yang ditandai dengan sebuah relativisme religius yang mengarah kepada kepercayaan bahwa ‘suatu agama adalah sama bagusnya dengan agama yang lainnya’ “. ((John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 36.)) Jika itu benar bahwa para pengikut agama-agama lain dapat menerima rahmat ilahi, maka pastilah, secara obyektif, mereka berada dalam keadaan yang sungguh kurang jika dibandingkan dengan dengan mereka yang berada di dalam Gereja, yang mempunyai kepenuhan sarana keselamatan. ((Cf. Pius XII, Encyclical Letter Mystici corporis: DS 3821.)) Namun demikian, “Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras”. ((Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14.)) Karena itu, seseorang memahami bahwa mengikuti perintah Tuhan (lih. Mat 28:19-20) dan sebagai sebuah persyaratan dari kasihnya kepada semua orang, Gereja “tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya”. ((Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2.))

Di dalam dialog antar agama, kegiatan misi ad gentes “sekarang ini seperti selalu tetap sepenuhnya mempunyai daya-kekuatan dan sifat keharusannya”. ((Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 7.)). “Sungguh, Tuhan menghendaki “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4); yaitu Allah menghendaki supaya semua orang sampai kepada keselamatan melalui pengetahuan akan kebenaran. Keselamatan terdapat dalam kebenaran. Barang siapa taat kepada dorongan Roh Kebenaran, ia sudah berada di jalan menuju keselamatan: tetapi Gereja, kepada siapa dipercayakan kebenaran ini, harus memperhatikan kerinduan manusia dan membawakan kebenaran itu kepadanya. Oleh karena Gereja percaya kepada keputusan keselamatan yang mencakup semua manusia, maka ia harus bersifat misioner”. ((Catechism of the Catholic Church, (Katekismus Gereja Katolik) 851; cf. also 849-856.)). Oleh karena itu, dialog antar agama, sebagai bagian dari misi evangelisasi, adalah hanya salah satu tindakan-tindakan Gereja di dalam misinya di seluruh bangsa/ad gentes. ((Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55; Apostolic Exhortation Ecclesia in Asia, 31.)) Kesetaraan, yang merupakan sebuah persyaratan kondisi awal dari dialog antar agama, mengacu kepada persamaan martabat pribadi dari pihak-pihak di dalam dialog, tidak dari isi pengajarannya, atau bahkan kurangnya posisi Yesus Kristus- yang adalah Tuhan sendiri yang menjadi manusia- dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Sungguh, Gereja, yang dibimbing oleh kasih dan hormat bagi kemerdekaan, ((Cf. Second Vatican Council, Declaration Dignitatis humanae, 1.)) harus pada dasarnya berkomitmen untuk mewartakan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada segala bangsa, dan untuk mengumumkan pentingnya pertobatan kepada Yesus Kristus dan perlekatan kepada Gereja melalui Baptisan dan sakramen-sakramen yang lain, agar dapat mengambil bagian secara penuh di dalam persekutuan dengan Tuhan, Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Jadi, kepastian tentang kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang tidak mengurangi, tetapi sebaliknya meningkatkan tugas dan keadaan mendesak tentang pewartaan keselamatan dan pertobatan kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kesimpulan

23. Maksud Deklarasi ini, dalam hal mengulangi dan menegaskan kembali kebenaran-kebenaran tertentu dari iman, telah mengikuti teladan dari Rasul Paulus, yang menulis kepada umat di Korintus: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri.” (1 Kor 15:3). Berhadapan dengan anggapan- anggapan tertentu yang problematik dan salah, permenungan teologis dipanggil untuk menguatkan kembali iman Gereja, dan untuk memberikan alasan- alasan bagi pengharapannya dengan cara yang meyakinkan dan efektif.

Untuk menanggapi pertanyaan tentang agama yang sejati, para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan: “Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja katolik dan apostolik, yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya. Sesudah mereka mengenal kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya”. ((Ibid.))

Wahyu Kristus akan terus menjadi “bintang pedoman sejati” ((John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 15.)) dalam sejarah umat manusia: “Kebenaran, yang adalah Kristus, menekankan sendiri sebagai sebuah otoritas yang menjangkau semua”. ((Ibid., 92.)) Misteri Kristiani, pada kenyataannya, mengatasi semua penghalang waktu dan ruang, dan mencapai kesatuan keluarga besar umat manusia: “Dari tempat-tempat dan tradisi- tradisi mereka yang berbeda, semua [manusia] dipanggil di dalam Kristus untuk mengambil bagian di dalam kesatuan keluarga anak-anak Allah…. Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan menciptakan kesatuan di dalam sebuah cara yang baru dan tak terlampaui melalui keterlibatan kita di dalam misteri-Nya. Kesatuan ini adalah sangat dalam sehingga Gereja dapat berkata dengan Rasul Paulus: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah… ” (Ef 2:19). (( Ibid., 70.))

Imam Agung Yohanes Paulus II, pada saat Audiensi  16 Juni 2000, memberikan jaminan kepada Kardinal Prefek dari Kongregasi untuk Doktrin Iman (CDF) yang menandatangani di bawah ini, dengan pengetahuan yang pasti dan dengan otoritas apostolik, meratifikasi dan menyetujui Deklarasi ini, mengambilnya di dalam Sesi Plenary (keseluruhan) dan memerintahkan publikasinya.

Roma, dari Kantor Kongregasi untuk Doktrin Iman (CDF), 6 Agustus 2000, pada Pesta Transfigurasi, Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor.

Kardinal Yosef Ratzinger
Prefek

Tarcisio Bertone, S.D.B
Uskup Agung Emeritus Vercelli
Sekretaris

Bagaimana kodrat Yesus sebelum Inkarnasi dan setelah naik ke Sorga

15

Pertama, kita harus mengerti kodrat Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia, serta hubungan dari kedua kodrat ini, kita dapat tersesat pada bidah atau pengajaran sesat. Di dalam sejarah Gereja, kita mengenal adanya beberapa bidah tentang kodrat dari Kristus. Mari sekarang kita membahasnya.

Kodrat Kristus sebelum Inkarnasi:

1) Kita tahu bahwa pada waktu di dunia ini, Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia, dimana keduanya terikat dalam persatuan yang tak terceraikan (hypostatic union). Kodrat Allah dari Kristus bersifat kekal dan tidak terikat oleh waktu. Kristus telah ada – karena sebelum Abraham Dia telah ada (lih Yoh 5:58) dan Dia bersama-sama dengan Allah dan Dia Allah (lih Yoh 1:1), serta segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (lih Yoh 1:3). Dengan demikian, sebelum Inkarnasi, Kristus bersama-sama dengan Allah dan Kristus adalah Allah.

Namun, kodrat manusia di dalam Kristus, sama seperti ciptaan yang lain, sesuatu yang mempunyai material (bodily things) adalah terikat oleh waktu. Atau dengan kata lain, sesuatu yang bersifat material akan terikat dalam waktu. Oleh karena itu, kodrat manusia dari Pribadi ke-dua dari Trinitas – yaitu Kristus – dipunyai oleh Kristus di dalam waktu, yaitu pada saat terjadinya Inkarnasi. Namun demikian, hal ini tidak berarti ada perubahan di dalam kodrat Allah. Kodrat Allah adalah tetap, karena Allah adalah kekal (eternal) dan tidak mungkin berubah (immutable). Yang berubah adalah kodrat manusia dari Kristus, yang dilahirkan, bertumbuh dari bayi menjadi dewasa, yang dapat menderita dan dapat mati.

2) Kalau kita mengatakan bahwa kemanusiaan Kristus adalah kekal, maka kita akan terjerumus kepada bidah monophysite. Bidah Monophysite, dimulai  dari seorang kepala biara di Konstantinopel, yang bernama Eutyches. Bidah ini mengajarkan bahwa sebelum inkarnasi, Kristus berasal (in / from) dari dua kodrat, namun bukan di dalam (in) dua kodrat.

Pengajaran tersebut dinyatakan bidah dalam Tome of Leo, yang juga dipakai di konsili Chalcedon (451). Intinya adalah setiap kodrat (manusia dan Allah) dari Kristus mempunyai sifat masing-masing, dan bertindak sesuai dengan sifat-sifat tersebut walaupun terikat dalam persatuan yang tak terceraikan (hypostatic union). Dengan demikian, kodrat Allah adalah bersifat kekal dan tak berubah, sedangkan kodrat manusia dari Kristus bersifat seperti kodrat manusia pada umumnya, yang dapat berubah.

a) Berikut ini adalah ringkasan dari the Tome of Leo:

Without detriment therefore to the properties of either nature and substance which then came together in one person, majesty took on humility, strength weakness, eternity mortality: and for the paying off of the debt belonging to our condition inviolable nature was united with passible nature, so that, as suited the needs of our case, one and the same Mediator between God and men, the Man Christ Jesus, could both die with the one and not die with the other. Thus in the whole and perfect nature of true man was true God born, complete in what was His own, complete in what was ours. And by “ours” we mean what the Creator formed in us from the beginning and what He undertook to repair. For what the Deceiver brought in and man deceived committed, had no trace in the Saviour. Nor, because He partook of man’s weaknesses, did He therefore share our faults. He took the form of a slave without stain ofsin, increasing the human and not diminishing the divine: because that emptying of Himself whereby the Invisible made Himself visible and, Creator and Lord of all things though He be, wished to be a mortal, was the bending down of pity, not the failing of power. Accordingly He who while remaining in the form of God made man, was also made man in the form of a slave. For both natures retain their own proper character without loss: and as the form of God did not do away with the form of a slave, so the form of a slave did not impair the form of God…. Consequently, the Son of God entered into these lowly conditions of the world, after descending from His celestial throne, and though He did not withdraw from the glory of the Father, He was generated in a new order and in a new nativity. In a new order, because invisible in His own, He was made visible in ours; incomprehensible [in His own], He wished to be comprehended; permanent before times, He began to be in time; the Lord of the universe assumed the form of a slave, concealing the immensity of His majesty; the impassible God did not disdain to be a passible man and the immortal [did not disdain] to be subject to the laws of death. Moreover, He was generated in a new nativity, because inviolate virginity [that] did not know concupiscence furnished the material of His body. From the mother of the Lord, nature, not guilt, was assumed; and in the Lord Jesus Christ born from the womb of the Virgin, because His birth was miraculous, nature was not for that reason different from ours. For He who is true God, is likewise true man, and there is no falsehood in this unity, as long as there are alternately the lowliness of man and the exaltedness of the Divinity. For, just as God is not changed by His compassion, so man is not destroyed by His dignity. For each nature does what is proper to it with the mutual participation of the other; the Word clearly effecting what belongs to the Word, and the flesh performing what belongs to the flesh. One of these gleams with miracles; the other sinks under injuries. And just as the Word does not withdraw from the equality of the paternal glory, so His body does not abandon the nature of our race. For (and this must be stated again and again) one and the same person is truly the Son of God and truly the Son of man. (Denz 143-144)

b) Berikut ini adalah definisi dari The Council of Chalcedon:

We unanimously teach that the Son, our Lord Jesus Christ, is one and the same, the same perfect in divinity, the same perfect in humanity, true God and true man, consisting of a rational soul and a body, consubstantial with the Father in divinity and consubstantial with us in humanity, ‘in all things like as we are, without sin’ (Heb 4:15), born of the Father before all time as to his divinity, born in recent times for us and for our salvation from the Virgin Mary, Mother of God, as to his humanity. We confess one and the same Christ, the Son, the Lord, the Only-begotten, in two natures, without confusion, without change, undivided and inseparable. The difference of natures will never be abolished by their being united, but rather the properties of each remain unimpaired, both coming together in one person (prosopon) and substance (hypostasis), not parted or divided among two persons, but in one and the same Only-begotten Son, the divine Word, the Lord Jesus Christ. . .  (Denz. 148; DS 301-2)

Kodrat Kristus pada waktu Inkarnasi:

Kita dapat melihat kodrat Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia pada waktu Kristus berada di dunia ini. Silakan melihat artikel Kristus, sungguh Allah dan sungguh manusia (silakan klik).

Kodrat Kristus setelah Ascension (kenaikan Yesus ke Sorga)

Kristus terangkat ke Sorga dengan kodrat sungguh Allah dan sungguh manusia, dimana Kristus tetap mempunyai tubuh yang telah dimuliakan, seperti yang dilihat oleh para murid. Oleh karena itu, apa yang telah menjadi kodrat Kristus, termasuk kodrat manusianya tetap akan ada untuk selamanya. Kodrat manusia Yesus di Sorga adalah sama seperti kodrat kita kalau kita masuk dalam Kerajaan Sorga, yaitu dalam kondisi tubuh yang telah dipermuliakan. Kita tidak tahu secara persis seperti apakah tubuh yang telah dipermuliakan. Namun, kita tahu dari rasul Paulus: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Rm 14:17)  Yesus juga mengatakan “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Mt 22:30). Dengan demikian kebahagiaan kita di Sorga bukan bersifat material namun spiritual. Kebahagiaan di Sorga terletak pada mengetahui dan mengasihi Tritunggal Maha Kudus sebagaimana adanya Dia (lih. 1 Kor 13:12).

Kebahagiaan manusia bukan diukur berdasarkan makan dan minum serta bukan pada kawin dan dikawinkan. Sesuatu yang bersifat materi hanya mempunyai efek sesaat. Kalau kita kenyang, kita tidak akan mau makan makanan yang paling enak dan mahal se dunia, karena kebutuhan kita telah terpenuhi. Kebahagian yang bersifat materi senantiasa bersifat sementara dan tidak akan memberikan kebahagiaan secara penuh. Artikel ini dapat dilihat di sini (silakan klik). Kalau Surga adalah kebahagian kekal dan tanpa henti, maka tidak mungkin tergantung dari kegiatan fisik seperti yang kita kenal di dunia ini, namun harus dari sesuatu yang bersifat spiritual. Hanya kebahagiaan spiritual yang dapat bersifat selamanya. Pada akhirnya, kita mengingat bahwa Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran gambaran Allah, bukan karena manusia dapat makan dan minum, namun karena manusia dapat mengenal dan mengasihi Tuhan. Di dalam Sorga, kita akan dapat mengenali dan mengasihi Tuhan secara sempurna atau sebagaimana adanya Dia.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1024) mengatakan “Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan “surga”. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif.”

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab