Home Blog Page 268

Perbandingan ayat Mt 12:17-21 dan Yesaya 42:1-4

5

Pertanyaan:

Shalom saudara stef dan ingrid… saya kurang tahu apakah anda sudah menerima pesan saya sebelumnya tentang website [edit: nama website dihapus]

takutnya tidak nyampai ( hehehehe ), ini saya berikan salah satu contoh bentuk sanggahan tentang distorsi matius. alasannya mereka cukup kuat juga. dan masih banyak sanggahan – sanggahan lainnya. tapi alangkah baiknya kalo saudara stef dan ingrid bisa liat website-nya langsung., dan mengarsipkan penjelasan – penjelasannya ( sesuai pandangan gereja katolik ) ke dalam website ini untuk menambah pengetahuan bagi umat Katolik ( tentunya tanpa perlu meminta ijin dari saya ).

Sanggahan :

Konon, sebagai reaksi terhadap kaum Farisi yang bersekongkol melawannya, Yesus meninggalkan satu wilayah kemudian pindah ke wilayah lainnya. Banyak sekali orang yang konon mengikutinya, dan ia konon melakukan banyak penyembuhan mukjizati, sementara memerintahkan kelompok orang itu untuk “tidak membuatnya terkenal”. Lagi2 Matius menempatkan pemenuhan nubuat dalam peristiwa2 ini. Berikut petikan Matius:

12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada orang-orang non Yahudi. **
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
12:21 Dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap.” **

Ayat yang dibicarakan di atas berasal dari Yesaya. Yang menarik, dalam menyuguhkan keterangan ini, Matius tampaknya melompat ke sana ke mari antara teks berbahasa Ibrani dan Septuaginta berbahasa Yunani, dengan menggunakan makna yang paling sesuai dengan tujuan2 teologinya pada saat itu. Dan demikianlah kita akhirnya menerima terjemahan akhir yang diberikan oleh Matius yang sudah agak terdistorsi dari kata2 Kitab Yesaya sebenarnya, yang dikutip di bawah ini:

42:1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Perbandingan antara terjemahan Yesaya yang dilakukan Matius dengan keterangan asli Yesaya mengilustrasikan perhatian Matius dengan menekankan dan membenarkan dugaan kerasulan Yesus untuk orang2 non Yahudi. Ini khususnya tampak jelas dalam pernyataan yang dikarang Matius, “dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap,” yang TIDAK ADA dalam ayat Yesaya sebenarnya. Inilah kali kedua bias Matius terhadap kenabian untuk orang2 non Yahudi itu muncul ke permukaan (baca: Distorsi Matius 7). Karena ini merupakan kejadian yang kedua, maka harus ditekankan lagi bahwa Yesus secara khusus membantah bahwa ia mengemban misi kenabian untuk orang2 di luar Bani Israel. Dalam bentuk orisinilnya, ayat Yesaya mungkin bisa diterapkan kepada Yesus, tetapi ia juga bisa diterapkan kepada nabi2 Allah yang lain. Singkatnya, kain pakaian itu begitu besar dan banyak sehingga ia bisa mencakup banyak individu yang berbeda, dan tidak ada hal yang cukup spesifik dalam keterangan itu yang bisa dengan tepat menunjukkan identifikasi Yesus.

Keterangan:

** “orang-orang non Yahudi”, dalam versi Alkitab Indonesia diubah menjadi “bangsa-bangsa”. Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menciptakan persamaan antara teks Yesaya dengan pemenuhan nubuat yang dikarang Matius. Sebagai perbandingan, lihat versi Alkitab: Douay Rheims, King James Version 1611, dan New American Bible.

Secara tekstual, jika diteliti secara cermat ayat2 Yesaya yang dikutip Matius, maka akan terlihat 4 perubahan yang sangat mencolok, yaitu:

1. Frasa “yang Kupegang” dalam Yesaya diganti dengan “yang Kukasihi”. Matius ingin menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang paling dikasihi Tuhan. Jelas, ada niat busuk dari pengarang Matius.

2. Frasa “Aku” dalam Yesaya diganti dengan “jiwa-Ku”. Matius ingin menunjukkan bahwa jiwa Yesus berisi jiwa Tuhan. Ini juga tak lain merupakan hayalan Matius belaka.

3. Kata “telah” dalam Yesaya diganti dengan “akan”. Matius ingin menunjukkan bahwa “Roh Tuhan” itu baru akan diturunkan kepada Yesus ketika Yesus selesai dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (baca: Matius 3:16-17). Ini juga merupakan akal2an Matius dan para pengarang injil2 kanonik lainnya.

4. Frasa “bangsa-bangsa” dan “segala pulau” dalam Yesaya diganti dengan “orang-orang non-Yahudi”. Matius ingin menunjukkan bahwa kerasulan Yesus adalah bersifat “universal”, bukan hanya untuk orang2 Yahudi saja sebagaimana pernyataan Yesus sendiri dalam Matius 10:5-6 dan 15:24. Jelas sekali, Matius telah mengada2kan sendiri pemenuhan nubuat Yesaya tersebut.

Terima kasih dan TUHAN YESUS memberkati saudara ingrid dan stef

Salam – Justinus Budi Darmawan Kusumo

Jawaban:

Shalom Justinus Budi Darmawan Kusumo,

Terima kasih atas pertanyaannya yang diambil dari salah satu website. Secara prinsip, argumen yang ingin disampaikan adalah mempertanyakan keaslian teks Alkitab dengan cara mempertanyakan perbedaaan teks Matius yang mengutip kitab Yesaya dengan teks di kitab Yesaya. Mari kita menganalisanya bersama-sama:

Matius 12:17-21

Yesaya 42:1-4

17. supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:

18. “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.

1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
19. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. 2. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
20. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. 3.  Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
21. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” 4.  Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

I. Komentar umum

1) Dikatakan “Ayat yang dibicarakan di atas berasal dari Yesaya. Yang menarik, dalam menyuguhkan keterangan ini, Matius tampaknya melompat ke sana ke mari antara teks berbahasa Ibrani dan Septuaginta berbahasa Yunani, dengan menggunakan makna yang paling sesuai dengan tujuan2 teologinya pada saat itu. Dan demikianlah kita akhirnya menerima terjemahan akhir yang diberikan oleh Matius yang sudah agak terdistorsi dari kata2 Kitab Yesaya sebenarnya, yang dikutip di bawah ini:

a) Gereja percaya bahwa Injil Matius kemungkinan ditulis dalam bahasa Aram (Aramaic) atau Ibrani beradasarkan keterangan St. Polikarpus, Papias, St. Irenaeus, St. Jerome. Namun, teks asli dari Injil Matius telah hilang, dan Gereja menerima teks Yunani, yang memang dipakai oleh Bapa Gereja pada masa awal. Tidak menjadi masalah dalam terjemahan Alkitab Perjanjian Baru, kadang kita menemui ada kata-kata dalam bahasa Aram, maupun Ibrani dalam terjemahan teks berbahasa Yunani. Justru, hal ini dilakukan agar kita dapat menangkap secara lebih murni maksud dari teks-teks tersebut.

b) Tuduhan yang mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk menggunakan makna yang paling sesuai dengan tujuan-tujuan teologinya pada saat itu perlu dibuktikan kebenarannya. Perbedaan kecil antara teks Matius dan Yesaya justu sebaliknya menjadikan Alkitab adalah dapat dipercaya, karena penulis tidak ada usaha untuk merubah – baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru – sehingga terlihat benar-benar konsisten, termasuk kata-perkata, koma dan titik.

c) Tuduhan bahwa terjemahan akhir yang diberikan oleh Matius adalah telah terdistorsi juga perlu dibuktikan. Dapatkah seseorang menunjukkan ayat-ayat yang mana yang didistorsikan dan ayat-ayat mana yang asli? Dan apakah parameter yang digunakan? Apakah yang terdistorsi adalah ayat-ayat yang tidak sesuai dengan kepercayaan dari agama tertentu, sehingga ayat-ayat yang terlihat mendukung kepercayaan dari agama tertentu tersebut dikatakan palsu? Kalau ini parameter yang dipakai, maka parameter ini tidaklah dapat dipertanggungjawabkan. Orang yang beragama lain harus mengasumsikan bahwa 1) seluruh Alkitab adalah Firman Tuhan, sehingga dia dapat mengambil ayat-ayat sebagai pembuktian – termasuk ayat-ayat yang tidak sesuai dengan kepercayaannya, atau 2) seluruh isi Alkitab bukan Firman Tuhan, sehingga orang tersebut tidak berhak untuk mengambil ayat-ayat tertentu untuk mendukung pengajarannya.

2) Dikatakan “Perbandingan antara terjemahan Yesaya yang dilakukan Matius dengan keterangan asli Yesaya mengilustrasikan perhatian Matius dengan menekankan dan membenarkan dugaan kerasulan Yesus untuk orang2 non Yahudi. Ini khususnya tampak jelas dalam pernyataan yang dikarang Matius, “dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap,” yang TIDAK ADA dalam ayat Yesaya sebenarnya. Inilah kali kedua bias Matius terhadap kenabian untuk orang2 non Yahudi itu muncul ke permukaan

a) Seseorang yang menulis Injil Matius dan bersedia mengorbankan hidupnya sampai meninggal untuk mempertahankan imannya, tidaklah mungkin mendasarkan tulisannya berdasarkan dugaan semata. Memang tujuan dari Injil Matius ditulis adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan seperti yang telah dijanjikan di dalam Perjanjian Lama. Dan kepercayaan ini bukan berdasarkan suatu dugaan, namun berdasarkan fakta bahwa Yesus adalah Tuhan, yang telah dinubuatkan oleh para nabi, termasuk oleh nabi Yesaya.

b) Tuduhan ini: “Ini khususnya tampak jelas dalam pernyataan yang dikarang Matius, “dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap,” yang TIDAK ADA dalam ayat Yesaya sebenarnya” perlu dibuktikan lebih jauh. Mari kita menganalisanya:

Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa [non-Yahudi / Gentiles (RSV, KJV, NASB, DRB)] akan berharap. (Mt 12:21)

Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya. (Yes 42:4)

Silakan membandingkan dua ayat tersebut di atas. Perkataan bangsa-bangsa (LAI) atau gentiles (RSV, KJV, NASB, DRB) memang tidak disebutkan di dalam Yes 42:4. Namun Yes 42:4 mengatakan arti yang sama, bahwa orang tersebut (kata “Nya” di Mat atau kata “Ia” di Yesaya) akan menegakkan hukum di bumi dan segala pulau mengharapkan pengajarannya. Apakah maksud Yesaya bumi dan segala pulau hanyalah bangsa Yahudi saja? Apakah bangsa Yahudi pada waktu itu tidak tahu bahwa ada bangsa-bangsa lain di sekitar mereka, bahwa bumi bukan hanya terdiri dari bangsa Yahudi? Fakta bahwa bangsa Yahudi sering berperang dengan bangsa non-Yahudi (gentiles) telah menunjukkan bahwa mereka sadar bahwa ada bangsa-bangsa lain di sekitar mereka. Kalau memang Yesaya bermaksud mengatakan bahwa yang berharap adalah hanya dari kaum Yahudi, mengapa Yesaya tidak menggunakan kata “umat Yahudi” melainkan menggunakan kata “di bumi” dan “segala pulau” yang mengindikasikan segala bangsa, termasuk bangsa-bangsa non-Yahudi (gentiles)?

Dari analisa di atas, maka Matius tidak menambahkan kata-kata di ayat 12:21, karena mempunyai arti yang sama dengan Yesaya 42:4.

3) Dikatakan “Karena ini merupakan kejadian yang kedua, maka harus ditekankan lagi bahwa Yesus secara khusus membantah bahwa ia mengemban misi kenabian untuk orang2 di luar Bani Israel. Dalam bentuk orisinilnya, ayat Yesaya mungkin bisa diterapkan kepada Yesus, tetapi ia juga bisa diterapkan kepada nabi2 Allah yang lain. Singkatnya, kain pakaian itu begitu besar dan banyak sehingga ia bisa mencakup banyak individu yang berbeda, dan tidak ada hal yang cukup spesifik dalam keterangan itu yang bisa dengan tepat menunjukkan identifikasi Yesus.

a) Di bagian manakah Yesus membantah bahwa Ia mengemban misi kenabian untuk orang-orang di luar Bani Israel? Bukankah Mt 28:19-20 mengatakan:

19. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20.  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

b) Kalau dikatakan bahwa nubuat dari nabi Yesaya (Yes 42:1-4) dapat diterapkan kepada nabi-nabi lain, maka silakan memberikan nama dari nabi yang dipandang dapat memenuhi nubuat dari nabi Yesaya, yang dikatakan mempunyai ciri-ciri:

1) Menaruh Roh dan menyatakan hukum (hukum harus yang baru, karena kalau hukumnya adalah hukum yang lama, tidak ada yang istimewa dari nubuat ini).

2) Ia tidak berteriak untuk memperdengarkan suaranya (mengacu kepada kerajaan yang bukan dari dunia ini, namun kerajaan yang spiritual atau Sorga. Kerajaan-Nya berjaya bukan dengan pedang, namun dengan meraja di hati manusia).

3) yang memberikan pengharapan, lemah lembut dan menyatakan hukum (yang putus asa diberikan harapan, yang sakit disembuhkan, yang tuli dapat mendengar, yang buta melihat, dll. Dia juga seorang yang lemah lembut. Dia juga menyatakan hukum, yang dapat memberikan harapan bagi semua orang).

4) dia menjadi pudar, namun dia tidak patah terkulai (yang berarti orang ini harus mengalami siksaan, namun mengalami kemenangan pada akhirnya. Dan ini hanya dapat berarti kalau kemenangan ini adalah selamanya dan bukan hanya sementara).

5) Semua bangsa mengharapan pengajarannya (yang berarti pengajarannya adalah sesuatu yang baru. Kalau hukumnya adalah sesuatu yang telah diajarkan sebelumnya, maka tidak ada perlunya semua bangsa mengharapkan kedatangannya).

Semua hal tersebut di atas terpenuhi dalam diri Yesus, yang juga diperkuat dengan begitu banyak nubuat yang lain. Silakan membaca artikel: Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi (silakan klik).

4) Dikatakan ““orang-orang non Yahudi”, dalam versi Alkitab Indonesia diubah menjadi “bangsa-bangsa”. Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menciptakan persamaan antara teks Yesaya dengan pemenuhan nubuat yang dikarang Matius. Sebagai perbandingan, lihat versi Alkitab: Douay Rheims, King James Version 1611, dan New American Bible.

a) Tidak perlu Alkitab versi Bahasa Indonesia merubah kata, kalau tidak mempunyai dasar. Banyak penduduk Indonesia dapat berbahasa Inggris dan orang juga dapat membandingkan terjemahan yang satu (bahasa Indonesia) dengan terjemahan yang lain dalam berbagai bahasa hanya dalam satu kali klik. Beberapa versi dari Alkitab di dalam bahasa Inggris menterjemahkan kata tersebutdengan ” gentiles” (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “bangsa-bangsa). Silakan mencari ayat-ayat yang memuat kata “gentiles” dan kemudian membandingkannnya dengan terjemahan Alkitab bahasa Indonesia.

2) Kita juga dapat menterjemahkan gentiles dengan “orang-orang non-Yahudi” dan tetap tidak merubah makna apapun. Sebagai contoh “Dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap.” (Mt 12:21). Bukankah dengan terjemahan ini, justru memperkuat bahwa Yesus justru diutus bukan untuk umat Yahudi saja, namun juga kepada orang-orang non Yahudi, sehingga orang-orang non-Yahudi juga berharap kepada-Nya?

3) Mari kita melihat kata “orang-orang non-Yahudi / gentiles” secara lebih mendetail, seperti yang disebutkan di Mt 12:21.

Parallel
RSV 21: and in his name will the Gentiles hope.”
NRSV 21 And in his name the Gentiles will hope.’
Douay 21 And in his name the Gentiles shall hope.
NAB 21 And in his name the Gentiles will hope.”
KJV 21 And in his name shall the Gentiles trust.
WEB 21 In his name, the nations will hope.”{Isaiah 42:1-4}
ESV 21 and in his name the Gentiles will hope.” Blasphemy Against the Holy Spirit
NASB 21 “AND IN HIS NAME THE GENTILES WILL HOPE.” The Pharisees Rebuked
NIV 21 In his name the nations will put their hope.”
YOUNG 21 and in his name shall nations hope.’
Greek 21: kai <2532> {AND} en <1722> tw <3588> {IN} onomati <3686> autou <846> {HIS NAME [THE]} eqnh <1484> {NATIONS} elpiousin <1679> (5692) {SHALL HOPE.}
Vulgate 21 et in nomine eius gentes sperabunt
ASV 21 And in his name shall the Gentiles hope.
Darby 21and on his name shall [the] nations hope.

Gentiles berasal dari ἔθνος – ethnos (Yunani = G1484). Dari kamus Ibrani (Thayer’s Greeek Definitions), kita dapat melihat, bahwa ethnos dapat berarti beberapa hal, seperti: 1) a multitude (whether of men or of beasts) associated or living together, a company, troop, swarm; 2) a multitude of individuals of the same nature or genus, the human family; 3) a tribe, nation, people group; 4) in the OT, foreign nations not worshipping the true God, pagans, Gentiles; 5) Paul uses the term for Gentile Christians.

Dengan demikian, tidaklah salah kalau ethnos juga dapat diterjemahkan bangsa-bangsa. Namun, kalaupun diterjemahkan sebagai orang-orang non-Yahudi juga tidak menjadi masalah, karena tidak merubah makna yang ingin disampaikan, yaitu bahwa Kristus dan pengajaran-Nya adalah untuk semua bangsa dan bukan hanya terbatas pada bangsa Yahudi.

II. Tentang perubahan-perubahan dari Yesaya ke Matius:

Mt 12:18 “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada orang-orang non-Yahudi.

Yes 42:1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.

1) Dikatakan “Frasa “yang Kupegang” dalam Yesaya diganti dengan “yang Kukasihi”. Matius ingin menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang paling dikasihi Tuhan. Jelas, ada niat busuk dari pengarang Matius.

a) Pada waktu penulis Injil mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama, maka tidak menjadi masalah kalau kutipan tersebut tidak sama, termasuk dalam kata-kata, titik dan koma. Namun, kita tetap dapat melihat kaitannya dengan Perjanjian Lama, termasuk juga mempunyai arti yang sama. Alkitab, baik PL maupun PB, bukanlah didiktekan kata demi kata oleh Allah, namun Allah memberikan inspirasi kepada para penulis Alkitab. Dengan demikian tulisan tersebut juga diwarnai oleh karakter tulisan dari sang penulis Alkitab.

b) Apakah kalau Matius menuliskan “yang kupegang” maka orang yang mempertanyakan ayat ini akan percaya bahwa yang dipegang adalah Yesus? Apakah orang yang dipegang (H8551 =  תּמך = tâmak), yang dipilih, yang berkenan, yang ditaruh Roh Allah sendiri, yang menyatakan hukum, tidak dikasihi oleh Tuhan? Kalau jawabannya “dikasihi”, maka tidaklah merubah arti, kalau dalam Injil Mat 12:18 diberikan kata “kukasihi”. Banyak sekali ayat-ayat yang mengatakan bahwa Yesus adalah yang terkasih, seperti: Mt 3:17; Mr 17:5; Mk 1:11; Mk 9:7; Lk 3:22. Oleh karena itu, tidak ada manfaatnya Matius merubah dari “yang kupegang” menjadi “yang terkasih”, apalagi dengan “niat busuk” seperti yang dikatakan dalam sanggahan tersebut.

2) Dikatakan “Frasa “Aku” dalam Yesaya diganti dengan “jiwa-Ku”. Matius ingin menunjukkan bahwa jiwa Yesus berisi jiwa Tuhan. Ini juga tak lain merupakan hayalan Matius belaka.

Kalaupun kata aku digunakan dalam Matius 12:18, maka tidak akan merubah arti. Coba baca sekali lagi “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku (Aku) berkenan;” Kalau dari kalimat ini ditarik kesimpulan bahwa “Matius ingin menunjukkan bahwa jiwa Yesus berisi jiwa Tuhan“, maka itu bukanlah yang dimaksud di ayat tersebut, kalaupun kata jiwaku diganti aku. Aku atau jiwaku di sini bukan mengacu kepada Yesus, namun kepada Allah Bapa. Bandingkan dengan perkataan Allah Bapa pada waktu Yesus dibaptis “Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”” (Mk 1:11). Bukankah kalau perkataan jiwaku di Mt 12:18 diganti “aku” justru lebih cocok dengan ayat Mt 1:11, yang mengatakan “…Kepada-Mulah Aku berkenan” dan bukan “…Kepada-Mulah jiwaku berkenan“?

3) Dikatakan “Kata “telah” dalam Yesaya diganti dengan “akan”. Matius ingin menunjukkan bahwa “Roh Tuhan” itu baru akan diturunkan kepada Yesus ketika Yesus selesai dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (baca: Matius 3:16-17). Ini juga merupakan akal2an Matius dan para pengarang injil2 kanonik lainnya.

a) Terus terang saya tidak mengerti dengan argumentasi yang diberikan, yang justru memperlemah argumentasi yang ingin mengatakan bahwa Yesus bukanlah yang diberikan oleh Roh Allah. Kalau Matius menggunakan kata “telah” dalam kalimat “…Aku akan (telah) menaruh roh-Ku ke atas-Nya,” justru malah memperkuat argumentasi bahwa Yesuslah orang yang diberikan Roh Allah. Konteks dari kalimat tersebut adalah pada waktu Yesus menyebarkan kabar gembira, yang berarti setelah baptisan, karena kita tahu bahwa baptisan Yesus (Mt 3:17) mendahului karya publik Yesus. Jadi, kalau Mt 12:18 menggunakan kata telah, maka justru malah benar, karena Roh Tuhan telah dicurahkan pada saat pembaptisan, dimana orang-orang dapat menyaksikannya.

b) Kalau kalimat ini ditujukan kepada Yesus, maka tidak menjadi masalah kalau di Yesaya menggunakan kata “telah”, karena Yesus adalah Tuhan yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, yang ada sebelum Abraham (lih. Yoh 8:58).

[Dari Katolisitas: tambahan per tanggal 3 Maret 2010]

c) Tata bahasa Ibrani tidak terlalu memperhatikan ‘tenses’ seperti dalam tata bahasa Inggris atau bahasa modern yang didasari prinsip kronologis. Maka memang terdapat dua cara penyampaian, yaitu: 1) menggunakan kata “telah”, yang artinya dapat berarti sudah lewat, tetapi juga bisa berarti “pasti akan terjadi”, 2) menggunakan kata dasar atau “akan” untuk keadaan sekarang dan akan datang.

Maka kita melihat penerapan kata “telah” dalan beberapa nubuatan pada kitab Perjanjian Lama, yang baru terpenuhi pada Perjanjian Baru, seperti:

Yes 9:1, 5-6: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar….. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”

Kita ketahui bahwa pemenuhan nubuat ini tergenapi dalam Kristus Allah Putera Allah, yang disebut sebagai Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Tidak ada seorangpun, bahkan nabi manapun sebelum Kristus yang disebut demikian.

Yes 52: 10: “TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.

Kita ketahui bahwa janji keselamatan yang dari Allah di hadapan semua bangsa baru digenapi melalui wafat, kebangkitan Kristus dan kenaikan-Nya ke Surga, pada masa Perjanjian Baru. Di mana Yesus mengutus para rasul-Nya untuk pergi ke segala ujung bumi untuk memberitakan Injil dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus (lih. Mat 28:19-20)

Yes 53:4-6: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Kalimat nubuatan ini jelas mengacu kepada bagaimana cara Yesus akan sengsara dan wafat untuk menganggung dosa-dosa manusia. Kata “telah” digunakan di sini untuk menjelaskan bagaimana Tuhan pasti akan menggenapi rencana-Nya yaitu mengorbankan Putera-Nya sendiri untuk menghapus dosa-dosa manusia.

4) Dikatakan “Frasa “bangsa-bangsa” dan “segala pulau” dalam Yesaya diganti dengan “orang-orang non-Yahudi”. Matius ingin menunjukkan bahwa kerasulan Yesus adalah bersifat “universal”, bukan hanya untuk orang2 Yahudi saja sebagaimana pernyataan Yesus sendiri dalam Matius 10:5-6 dan 15:24. Jelas sekali, Matius telah mengada2kan sendiri pemenuhan nubuat Yesaya tersebut.” Silakkan untuk melihat penjelasan di bagian I.

Dari penjelasan di atas, maka kita melihat bahwa ada banyak kesalahpahaman yang terjadi. Secara prinsip pesan yang ingin disampaikan oleh Matius 12:17-21 adalah sama dengan Yes 42:1-4. Dan tidak menjadi masalah jika terjadi beberapa variasi teks, karena Alkitab bukan didikte oleh Tuhan kata demi kata. Variasi ini justru menunjukkan bahwa Alkitab adalah otentik, yang tidak mengalami perubahan apapun. Kalau memang ada niatan merubah, maka teks-teks yang mengundang pertanyaan seharusnya dirubah saja dari awal, sehingga terlihat sama persis dan tidak mengundang pertanyaan. Kalaupun Mt 12:17-21 dirubah persis sama dengan Yes 42:1-4, maka tidak merubah makna dan malah memperkuat bahwa nubuat tersebut adalah menubuatkan Yesus, seperti yang telah diterangkan di atas.

Semoga uraian di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Saksi Yehuwa tidak percaya Trinitas (bagian 1)

148

Pendahuluan

Ada beberapa brosur dari Saksi Yehuwa di dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Salah satu dari brosur yang telah diterjemahkan adalah tentang penolakan mereka terhadap Trinitas, di mana mereka mencoba untuk menunjukkan bahwa Trinitas hanyalah karangan orang Kristen belaka yang tidak mempunyai dasar yang kuat dari Alkitab, Bapa Gereja, maupun dari para teolog. Untuk mencapai tujuan mereka, maka mereka mencoba mengambil berbagai sumber, baik dari ensiklopedia Katolik, ensiklopedia Alkitab, para Bapa Gereja, para teolog Katolik maupun non-Katolik. Namun, yang membuat saya kecewa dan sedih dengan metode mereka adalah karena mereka sengaja mengutip sebagian kecil – satu atau dua kalimat – dari sumber-sumber di atas untuk mendukung doktrin mereka tanpa melihat konteks dari dokumen yang ada. Dengan demikian, seolah-olah sumber-sumber tersebut menyatakan bahwa doktrin Trinitas tidak mempunyai dasar yang kuat atau seolah-olah para teolog yang mereka kutip mendukung ajaran bahwa Trinitas adalah ajaran yang tidak mendasar. Namun kalau kita melihat kutipan secara keseluruhan, maka hal ini tidaklah benar.

Kalau mereka benar-benar membaca sumber-sumber tersebut dengan teliti, maka mereka akan menyadari bahwa sumber-sumber tersebut percaya bahwa pengajaran tentang Trinitas, adalah suatu doktrin yang benar. Kalau mereka membaca dengan teliti akan sumber-sumber tersebut dan tetap memberikan kesimpulan yang mendukung doktrin mereka (tidak percaya akan Trinitas), maka ini adalah suatu perbuatan yang tidak jujur. Ketidakjujuran ini terlihat dari pengutipan sumber-sumber yang tidak disertai dengan standar pengutipan, tanpa halaman, sehingga akan sangat sulit bagi pembaca yang ingin mengecek kebenaran tersebut.

Artikel ini akan mencoba menelusuri sumber-sumber yang digunakan dalam brosur Saksi Yehuwa dan melihat konteks secara keseluruhan dari sumber-sumber yang diberikan, sehingga terlihat secara jelas bahwa beberapa sumber yang dikutip percaya akan doktrin Trinitas. Alur dari artikel ini akan mengikuti alur dari brosur Saksi Yehuwa. Secara bertahap artikel ini akan menjawab keberatan-keberatan mereka mengenai ajaran Trintas. Mari sekarang kita menganalisanya satu-persatu.

Untuk mempermudah pembahasan, maka saya akan membedakan warna tulisannya: kutipan dari brosur Saksi Yehuwa saya beri warna biru, dan kutipan selengkapnya saya beri warna hitam atau merah untuk memberikan penekanan.

I. Di Luar Jangkauan Akal Manusia

Brosur dari Saksi Yehuwa di bagian ini mencoba untuk memberikan suatu persepsi bahwa ada begitu banyak kebingungan di dalam kalangan gereja tentang Trinitas, yang kemudian disimpulkan bahwa Trinitas tidak dapat dimengerti, karena di luar jangkauan akal manusia. Mereka mencoba untuk mengutip beberapa sumber tanpa melihat konteks keseluruhan dari sumber yang dikutip. Namun, kalau kita mau membaca masing-masing kutipan secara keseluruhan, dalam keterbatan pemikiran manusia, para teolog mencoba untuk mengerti kehidupan pribadi Allah, yaitu Allah yang satu dalam tiga Pribadi. Dan pembahasan para teolog berdasarkan wahyu Allah sendiri, yaitu Kitab Suci dan filosofi. Wahyu Allah ini tidaklah bertentangan dengan akal budi, yang terbukti bagaimana para teolog memberikan penjelasan Trinitas dengan menggunakan filosofi. Mari kita melihat satu-persatu dari kutipan-kutipan yang diambil oleh Saksi Yehuwa:

1) Dikatakan “KEBINGUNGAN ini tersebar luas. The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa Tritunggal dianggap “di luar jangkauan akal manusia.

a) Kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut “Hal ini [doktrin Trinitas] dipercaya, walaupun doktrin tersebut adalah di luar jangkauan akal manusia, seperti banyak formula-formula di dalam ilmu fisik, bukanlah berlawanan dengan akal dan dapat dimengerti (walaupun mungkin tidak dapat dipahami) dengan akal manusia” (Encyclopedia Americana, Trinity, hal.116).

Kalau orang membaca sekilas kutipan dari mereka, yang hanya mengutip penggalan kalimat “di luar jangkauan akal manusia“, maka seolah-olah Trinitas menjadi tidak mungkin dipahami sama sekali dan oleh karena itu adalah salah. Namun, bukan itu yang dikatakan oleh Encyclopedia Americana. Dalam ensiklopedia ini dikatakan bahwa walaupun mungkin Trinitas sulit dipahami dengan akal manusia, sama seperti teori-teori dalam ilmu fisik, namun Trinitas bukanlah bertentangan dengan akal manusia. Untuk itu, silakan membaca artikel tentang Trinitas di sini (silakan klik).

Bahwa memang doktrin Trinitas sulit dimengerti adalah sesuatu yang dapat diterima, karena dalam merangkan tentang Trinitas, kita mencoba mengungkapkan kehidupan Pribadi Allah. Siapakah manusia yang dapat mengerti secara persis kehidupan Pribadi Allah? Tanpa wahyu Ilahi, terutama dalam Perjanjian Baru, akan sulit untuk mencapai pengetahuan bahwa Allah adalah satu Substansi (substance) dalam tiga Pribadi (person). Namun, bukan berarti Trinitas sama sekali tidak dapat dimengerti oleh pemikiran manusia, apalagi dengan sumber wahyu Ilahi. Silakan membaca artikel tersebut untuk melihat pembahasan lebih detail tentang Trinitas.

2) Dikatakan “Banyak orang yang menerima Tritunggal menganggapnya demikian. Monsignor Eugene Clark berkata: “Allah itu satu, dan Allah itu tiga. Karena tidak ada ciptaan yang seperti ini, kita tidak dapat mengertinya, tetapi menerimanya saja.

a) Saya tidak dapat menemukan sumber dari kutipan ini. Namun, mari kita melihat apa yang dikatakan oleh Monsignor Eugene Clark, kalau benar dia benar-benar mengatakan kalimat tersebut. Allah itu satu dalam substansi dan Allah itu tiga dalam pribadi. Dalam artikel Trinitas di sini (silakan klik), dituliskan:

Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena hakekat ketiga manusia itu tidak persis sama sempurna, sedangkan pada ketiga Pribadi Allah yang Maha Sempurna, hakekat-Nya adalah sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.

b) Dengan pembedaaan antara substansi (whatness) dan pribadi (who), maka kita dapat menerima bahwa Allah itu satu (substansi) namun tiga (Pribadi). Sesuatu dikatakan bertentangan kalau “sesuatu adalah “ya” dan “tidak” dalam waktu yang sama dan dengan cara yang sama“. Karena satu dan tiga dalam Trinitas bukanlah hal yang sama – karena merujuk pada Substansi dan Pribadi – maka pernyataan tersebut tidaklah salah.

c) Perkataan “kita tidak dapat mengertinya“, bukan berarti bahwa Trinitas bertentangan dengan akal budi, sama seperti kadang kala kita tidak mengerti teori-teori fisika. Namun bukan berarti bahwa kalau kita tidak mengerti maka hal tersebut salah. Kalau demikian prinsipnya, maka kebenaran menjadi sesuatu yang relatif, karena dasarnya adalah menjadi sesuatu yang relatif, yaitu berdasarkan pengertian kita masing-masing. Kalau dikatakan “tetapi menerimanya saja”, bukan berarti bahwa kita menerima doktrin Trinitas secara membabi buta. Kita menerima doktrin Trinitas, karena memang tidak bertentangan dengan akal budi. Yang lebih penting lagi, karena hal tersebut diwahyukan oleh Tuhan sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin berbohong, maka Tuhan senantiasa menyampaikan kebenaran. Dengan demikian, adalah sesuatu yang bijak kalau kita menerima kebenaran wahyu Ilahi.

3) Dikatakan “Kardinal John O’Connor berkata: “Kami tahu ini suatu misteri yang sangat dalam, yang sama sekali tidak kita mengerti.”

Kembali, kutipan mereka tidak disertai dengan sumber yang memadai sehingga sulit untuk mencari kebenarannya. Apakah benar Kardinal John O’Connor mengatakan demikian? Apakah dengan perkataaannya, maka dia tidak perlu lagi berkotbah tentang Trinitas, karena Trinitas adalah misteri yang sangat dalam dan sama sekali tidak kita mengerti? Saya mengundang pembaca untuk membandingkannya sendiri:

a) Dalam kotbahnya “Pastoral Reflections on the Holy Sacrifice of the Mass” (silakan klik), dia mengatakan “The reality is that everything the Church teaches rises or falls on the basis of both who Jesus is and who he said he is. If he is not the Son of the Living God; if he is not the Second Person of the Blessed Trinity, equal to the Father and to the Holy Spirit; if he did not become man; if he did not suffer and die for us; if he did not rise from the dead, then everything the Church teaches, everything we believe, is vain and empty, “a tale told by an idiot,” as Shakespeare’s Macbeth calls life itself, “filled with sound and fury, signifying nothing.

b) Dalam kotbahnya “Trinity Sunday” (silakan klik), dia memberikan sub-judul “Sebuah homili tentang misteri iman dimana banyak orang telah meninggal karena mempertahankannya” Apakah orang yang sama (Kardinal John O’Connor) dapat mengatakan “Trinitas adalah misteri yang sangat dalam dan sama sekali tidak kita mengerti? tanpa penjelasan lebih lanjut?

Di kotbah tersebut, dia mengatakan “So it is with all of the things in this world. We choose the movies we go to. We choose our friends. This is understandable because we are human beings. But we are created for eternal life. So to think that the life of God does not matter, to think that all that matters is what this world has to teach us, all that matters is what we can measure, what we can see, what we can hear, would be a denial of our own being. We are social beings. We are made to live in harmony with others. Nations are made to live in harmony with others. Why? Because we are told we are made in the image and likeness of God. But God is a Trinity, with the three persons, Father, Son and Holy Spirit, living in perfect harmony, unable to be separated from one another but distinct from one another. Do I understand that? Not for a tenth of a second. But at least I have a sense of what Christ taught, and it was of infinite importance to him because he suffered and died for it. Consequently, it has to be important to me. It has to be important to us as Catholics.

Lebih lanjut, Kardinal mengatakan “We can not pick and choose. We can not say about the teaching on the Trinity, the Father, the Son and the Holy Spirit, “Who understands it? What is its importance? Is it going to bring me my lunch today? Is it going to affect my daily life?” We can not simply pick and choose, most especially we are talking about the bedrock of our faith.

Ini berarti, Kardinal sendiri mengatakan bahwa walaupun sulit untuk mengerti Trinitas, namun tidak berarti bahwa sama sekali tidak dapat dimengerti oleh akal budi manusia, dan terutama karena Trinitas adalah dasar iman Katolik, maka umat Katolik harus belajar untuk mengerti misteri ini dengan baik.

4) Dikatakan “Dan Paus Yohanes Paulus II berkata mengenai “misteri yang tidak dapat dimengerti tentang Allah Tritunggal.”

a) Kembali, mereka tidak memberikan sumber yang memadai. Kalau saya mencari dengan alat pencarian, Paus Yohanes Paulus II, di dalam dokumen Gereja mengutip kata “Trinitas” sebanyak 113 kali. Dan di dalam homilinya, beliau mengutip kata “Trinitas” sebanyak 263 kali.

b) Dalam Apostolik Letter “Tertio Millennio Adveniente” paragraf 1, dia mengatakan “1. AS THE THIRD MILLENNIUM of the new era draws near, our thoughts turn spontaneously to the words of the Apostle Paul: “When the fullness of time had come, God sent forth his Son, born of woman” (Gal 4:4). The fullness of time coincides with the mystery of the Incarnation of the Word, of the Son who is of one being with the Father, and with the mystery of the Redemption of the world. In this passage, St. Paul emphasizes that the on of God was born of woman, born under the Law, and came into the world in order to redeem all who were under the Law, so that they might receive adoption as sons and daughters. And he adds: “Because you are sons, God has sent the Spirit of his Son into our hearts, crying ‘Abba! Father!'” His conclusion is truly comforting: “So through God you are no longer a slave but a son, and if a son then an heir” (Gal 4:6-7).

Paul’s presentation of the mystery of the Incarnation contains the revelation of the mystery of the Trinity and the continuation of the Son’s mission in the mission of the Holy Spirit. The Incarnation of the Son of God, his conception and birth, is the prerequisite for the sending of the Holy Spirit. This text of St. Paul thus allows the fullness of the mystery of the Redemptive Incarnation to shine forth.

c) Pada tanggal 30 Desember 1988 dalam kotbahnya “FEAST OF THE HOLY FAMILY, The family on mission is a reflection of the mission
of the Holy Trinity” dia mengatakan:

We are in the Christmas season. In this period we relive in faith the great divine mystery, the mystery of the Holy Trinity on mission. It was known, and is confirmed, that God is one and unique. We can also accept what Paul said when he spoke on the Areopagus, that God is that absolute, that spiritual being in whom we live, and move, and have our being. However, the profound reality of the Triune God: Father, Son and Holy Spirit, was not known before, and is still accepted by many with difficulty. It is precisely he, the Triune God, in whom we live, and move, and have our being. He, Trinity on mission, is not only an absolute being, supreme over all, but it is the Father in his infinite, inscrutable reality, who generates, generates from eternity without beginning his Word. With his Word he lives the ineffable mystery of Love, which is a Person, not merely an affection, not merely an interpersonal relationship; it is a Person Spirit, the spiration of Love.

d) Dan masih begitu banyak kutipan dan pengajaran tentang Trinitas dari Paus Yohanes Paulus II. Apakah dengan demikian kata Trinitas yang dikutipnya sebanyak hampir 300 kali dalam dokumen dan kotbahnya sama sekali tidak dimengerti dan tidak dapat diterangkan?

5) Dikatakan “A Dictionary of Religious Knowledge berkata: “Tepatnya apa doktrin itu, atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, para penganut Tritunggal pun tidak mencapai kata sepakat di antara mereka sendiri.”

a) Kalau kita melihat dalam konteks, maka dalam kutipan tersebut dikatakan “Namun demikian, adalah sesuatu yang pasti, bahwa dari masa apostolik, mereka telah menyembah Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus, menyebut mereka [Trinitas] di dalam doa mereka, dan memasukkan mereka [Trinitas] dalam doksologi mereka.” …. Tepatnya apa doktrin itu, atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, para penganut Tritunggal pun tidak mencapai kata sepakat di antara mereka sendiri.”…secara penuh. Alkitab mempresentasikan Tuhan kepada kita sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus. Alkitab mempresentasikan mereka [pribadi di dalam Trinitas] sebagai pribadi yang mempunyai derajat yang sama, yang layak untuk mendapatkan penghormatan, kasih, dan kesetiaan tertinggi dari kita. “Adalah tidak mungkin bagi akal manusia untuk mengerti kodrat Ilahi ” (A Dictionary of Religious Knowledge”, Lyman Abbott, 1875, p. 944, as quoted in, Should you believe the Trinity?, Watchtower publication)

b) Dalam buku yang sama juga disebutkan suatu kepastian bahwa jemaat awal telah menyembah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dan juga Alkitab mempresentasikan Tiga Pribadi dengan derajat yang sama. Dengan demikian, adalah suatu kenyataan bahwa pada masa apostolik, mereka telah mengimani Trinitas. Dan adalah wajar, kalau pada masa-masa awal, sebelum Trinitas mendapatkan definisi yang resmi, maka ada orang-orang yang mencoba mendefinisikan secara tidak persis, sehingga timbul banyak kesalahpahaman. Namun, kalau ada kesalahpamahan, bukan berarti bahwa doktrin tersebut adalah tidak benar.

6) Dikatakan di dalam brosur tersebut “Maka, kita dapat mengerti mengapa New Catholic Encyclopedia berkata: “Hanya sedikit diantara guru-guru teologi Tritunggal di seminari-seminari Katolik Roma yang pada suatu waktu tidak dipojokkan oleh pertanyaan, ‘Tetapi bagaimana kita akan berkhotbah tentang Tritunggal?’ Dan jika pertanyaan itu merupakan gejala kebingungan di pihak para siswa, kemungkinan hal itu juga merupakan gejala kebingungan yang serupa di pihak guru-guru mereka.”

a) Kembali, sumber kutipan tidak disebutkan secara terperinci. Kalau dikatakan bahwa ada banyak murid yang bertanya tentang bagaimana cara berkotbah tentang Trinitas, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang salah. Pertama, karena memang doktrin ini mempunyai suatu kompleksitas tersendiri, namun bukanlah sesuatu yang tidak mungkin diterangkan. Sama seperti banyak murid yang bertanya kepada professornya bagaimana untuk menerangkan quantum mechanics. Apakah kalau sulit diterangkan, maka quantum mechanics tidak benar? Apakah kalau seseorang sulit menerangkan Trinitas, maka ajaran ini dianggap tidak benar? Apalagi kalau ajaran ini didukung oleh wahyu Allah dan juga para jemaat Kristen yang percaya akan ajaran ini dari generasi ke generasi. Tulisan Bapa Gereja dan konsili-konsili dari waktu ke waktu mengajarkan doktrin Trinitas secara terus menerus.

b) Kesimpulan yang menyatakan bahwa kebingungan para siswa menjadi juga kebingungan yang serupa di pihak guru-guru mereka adalah logika yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terapkan ini pada pelajaran quantum mechanics, kalau para murid bingung, maka artinya professornya bingung. Kebingungan para murid tentang Trinitas, memang dikarenakan kedalaman misteri dari Trinitas atau Tritunggal Maha Kudus. Namun, bukan berarti kedalaman misteri ini bertentangan dengan akal budi dan sama sekali tidak dapat diterangkan dengan menggunakan bukti-bukti dari wahyu Allah dan filosofi.

c) Lebih lanjut dalam point yang sama, dikatakan “Kebenaran dari pernyataan di atas dapat dibuktikan dengan mengunjungi suatu perpustakaan dan memeriksa buku-buku yang mendukung Tritunggal. Tak terhitung banyaknya halaman yang ditulis dalam upaya untuk menjelaskannya. Namun, setelah bersusah payah memeriksa istilah-istilah teologi yang membingungkan dan penjelasannya, para peneliti masih tetap tidak puas.

Kalau saya menggunakan logika yang sama, maka saya dapat mengatakan karena di perpustakaan begitu banyak buku yang membahas tentang “cinta” dan dari koleksi jaman tertua sampai jaman modern, para pakar cinta mempunyai begitu banyak definisi dan banyak yang tidak setuju akan definisi cinta, maka banyak pakar yang memakai istilah-istilah filosofi yang membingungkan, yang pada akhirnya tidak memberikan kejelasan kepada semua orang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan “cinta” itu tidak ada. Silakan menilai sendiri argumentasi ini.

Fakta bahwa cinta itu ada tidaklah dapat dipungkiri. Namun, bahwa sulit untuk mendefinisikan cinta, bukan berarti menghapuskan keberadaan cinta itu sendiri. Bahwa Trinitas adalah wahyu Allah tidaklah dapat dipungkiri, yang didukung dengan Alkitab, tulisan jemaat perdana, konsili-konsili. Bahwa sulit untuk menjelaskannya, tidak mengaburkan kebenaran ini, namun hanya menyadarkan kita bahwa Trinitas memang suatu misteri Allah, yang walaupun sulit dimengerti tetapi tidak bertentangan dengan akal budi.

7) Dikatakan “Mengenai ini, imam Yesuit Joseph Bracken mengatakan dalam bukunya What Are They Saying About the Trinity?: “Para imam yang dengan cukup banyak upaya telah mempelajari…Tritunggal selama tahun-tahun mereka di seminari tentu saja ragu-ragu untuk menyampaikannya kepada jemaah mereka dari mimbar, bahkan pada hari Minggu. Tritunggal… Untuk apa seseorang akan membuat umatnya bosan dengan sesuatu yang pada akhirnya pun tidak akan mereka mengerti dengan benar?”

a) Kalau kita melihat kutipan seluruhnya adalah “Para imam yang dengan cukup banyak upaya telah mempelajari penjelasan tomistik (diambil dari St. Thomas Aquinas, yang menggabungkan antara filosofi dan teologi) dari Trinitas selama tahun-tahun mereka di seminari ….dstnya.” Jadi, imam Yesuit tersebut tidak mengatakan bahwa penjelasan Trinitas tidak perlu untuk dipelajari yang menimbulkan kebingungan umat. Yang ingin disoroti oleh penulis ini adalah salah satu metode untuk menerangkan Trinitas dengan presisi, dengan menggunakan metode St. Thomas Aquinas, memang tidak mudah dimengerti. Hal ini dapat dimaklumi, karena semakin presisi suatu penjelasan, maka semakin dibutuhkan definisi-definisi yang tepat, seperti: hakekat (substance), pribadi (person), appropriation, dll. Bandingkan seseorang yang mencoba untuk menerangkan tentang quantum mechanics atau suatu teori kimia kepada orang awam. Kalau diinginkan menerangkan dengan dalam, maka dibutuhkan definisi-definisi dari disiplin ilmu tersebut (seperti rumus kimia dalam disiplin ilmu kimia), yang harus diakui tidak semua orang tahu.

b) Dilanjutkan “Ia juga berkata: “Tritunggal adalah soal kepercayaan formal, namun hal itu hanya sedikit atau tidak [berpengaruh] dalam kehidupan dan ibadat Kristen sehari-hari.” Meskipun demikian, ini adalah “doktrin utama” dari gereja-gereja!

Saya belum mengecek konteks dari kutipan ini. Namun, sebuah doktrin yang tidak mempunyai pengaruh kepada kehidupan dan ibadah adalah bukan sebuah doktrin. Kepercayaan akan suatu doktrin berpengaruh terhadap kehidupan, karena berdasarkan doktrin-doktrin yang dipercayai, maka seseorang berpegang pada nilai-nilai moral. Dan liturgi adalah merupakan bagaimana orang yang percaya akan doktrin tertentu mengekspresikannya dalam bentuk liturgi atau bagaimana umat tersebut merayakan apa yang dipercayainya. Kalau mau meneliti lebih jauh, kita dapat melihat pengaruh doktrin Trinitas terhadap penerapan kasih, terhadap perkawinan, terhadap hubungan suami-istri dan anak-anak. Dan kalau kita meneliti dalam liturgi, maka kita akan melihat bagaimana dalam setiap bagian di dalam Misa Kudus, kita melihat unsur-unsur Trinitas disebutkan secara tidak langsung maupun langsung. Justru karena Trinitas adalah doktrin utama Gereja, maka pengajaran ini mewarnai kehidupan moral, spiritual, doa, liturgi, dll.

8) Dikatakan “Teolog Katolik Hans Kung menyatakan dalam bukunya Christianity and the World Religions bahwa Tritunggal merupakan satu alasan mengapa gereja-gereja tidak berhasil membuat kemajuan yang berarti di kalangan orang bukan Kristen. Ia berkata: “Bahkan orang Muslim yang terpelajar, sama sekali tidak dapat mengerti, sebagaimana juga orang-orang Yahudi sebegitu jauh tidak dapat memahami, gagasan mengenai Tritunggal… Perbedaan yang dibuat oleh doktrin Tritunggal antara satu Allah dan tiga hypostase [zat] tidak memuaskan orang Muslim, yang bukannya merasa mendapat penjelasan, tetapi justru merasa bingung, oleh istilah-istilah teologi yang berasal dari bahasa Syria, Yunani, dan Latin.

a) Pengarang yang sama juga mengatakan “Namun, bagi gereja Kristen, permasalahan utama bergeser, sepanjang sejarah, kepada pribadi Yesus dan relasinya dengan Allah. Dan kontroversi antara Kekristenan dan Islam tetap terkonsentrasi seluruhnya pada masalah ini. Sampai sekarang, keberatan utama umat Kristen adalah bahwa Islam menolak dua hal utama, dogma kekristenan yang saling berhubungan, yaitu: Trinitas dan Inkarnasi”  (Kung, Hans, Christianity and the World Religions, p112)

b) Dari kutipan tersebut, Hans Kung menyadari bahwa memang ada perbedaan mendasar antara Kekristenan dan Islam, yaitu tentang doktrin: Trinitas dan Inkarnasi. Namun, perbedaan tersebut, bukan berarti dapat disimpulkan bahwa doktrin Trinitas dan Inkarnasi adalah tidak benar. Bukan berarti kalau seseorang tidak dapat menangkap doktrin Trinitas, maka pengajaran Trinitas-nya yang salah.

c) Fakta bahwa Gereja tidak pernah berubah dalam mewartakan doktrin Trinitas, walaupun ditentang oleh agama lain dan juga menghambat kemajuan yang berarti di kalangan bukan Kristen (sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam brosur tersebut), maka dapat disimpulkan bahwa ajaran tersebut memang sedari awal dipercaya dan benar, sehingga Gereja tidak dapat merubahnya demi perkembangan Gereja dan bertambahnya jumlah umat. Kebenaran dari suatu doktrin bukanlah dilihat apakah suatu kebenaran dapat memuaskan banyak kalangan. Tidak menjadi masalah kalau banyak kalangan tidak puas atau tidak mengerti, karena kebenaran tetaplah suatu kebenaran. Yang memang menjadi tantangan adalah bagaimana untuk menerangkan kebenaran ini, sehingga orang dapat mengerti.

d) Kemudian disebutkan dalam buku yang sama “Mengapa seseorang ingin menambahkan sesuatu kepada gagasan mengenai keesaan dan keunikan Allah yang hanya dapat mengencerkan atau meniadakan keesaan dan keunikan itu?” Saya belum dapat mengkonfirmasi kebenaran kutipan ini. Namun, kalau seseorang ingin mempresentasikan apa yang benar-benar diajarkan oleh Gereja Katolik, maka seseorang harus mengambil dokumen resmi dari Gereja Katolik. Untuk mengambil tulisan dari Hans Kung dan kemudian memberikan pernyataan bahwa tulisannya adalah pernyataan resmi dari Gereja Katolik adalah suatu kekeliruan. Hans Kung sendiri telah dilarang untuk mengajar dalam kapasitasnya sebagai teolog Katolik di universitas Tubigen sejak tahun 1979. Dan terhadap bukunya “In Being a Christian“, Konferensi uskup German memberikan pernyataan “Therefore the Bishops, because of their duty of bearing witness and defending the true faith, must point out and declare that the book Being a Christian, in the points dealt with here for the sake of example, cannot be considered an adequate presentation of the Catholic faith.” (sumber: silakan klik)

Di atas adalah bagian pertama dari upaya untuk menjawab klaim dari Saksi Yehuwa yang mengklaim bahwa ajaran Trinitas adalah tidak benar. Dari kutipan-kutipan di atas, maka terlihat bahwa cara mereka mengutip suatu tulisan dilakukan dengan tidak jujur dan tidak memenuhi standar akademik, sehingga sulit bagi seseorang untuk mengecek kebenaran dari kutipan-kutipan tersebut. Dan cara ini dilakukan pada bagian-bagian yang lain dari tulisan tentang Trinitas.

Bagian satu ini akan dilanjutkan dengan bagian-bagian yang lain, yang akan mengupas dan menanggapi brosur yang diberikan oleh Saksi Yehuwa.

Makna penggunaan ukupan wewangian dalam Misa

22

Pertanyaan:

Salam Katolisitas,

Terima kasih kepada Bu Ingrid yang sudah menjawab pertanyaan saya sebelumnya.
Saya punya pertanyaan lain lagi. Kebetulan saya ditanya juga oleh orang lain yang non Katolik dan saya yang Katolik merasa tidak mengetahui jawaban yang benar, jadi saya tanyakan ke Katolistas.

Di awal misa, sebelum naik ke altar, Imam seringkali mengasapi altar dengan sesuatu wewangian. Selama ini saya pikir itu adalah kemenyan, tapi saya kurang yakin. Apa sebenarnya tujuan dan maksud dari pengasapan itu?
Setelah persembahan pun biasanya putra altar meminta umat untuk berdiri dan kemudian mengasapi umat secara simbolis. Apakah maksud dan tujuannya?

Terima kasih sebelumnya atas penjelasan yang diberikan.

Salam,
Paulina

Jawaban:

Shalom Paulina,

Sebenarnya, penggunaan ukupan wewangian (incense) yang digunakan dalam Misa Kudus itu merupakan simbol dari doa-doa yang naik ke hadapan tahta Allah, seperti yang disebutkan dalam Kitab Suci, demikian:

Mzm 141: 1-2
“Ya TUHAN, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku, berilah telinga kepada suaraku, waktu aku berseru kepada-Mu! Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.”

Why 8:3-4
Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

Persembahan wewangian tersebut bahkan secara khusus diperintahkan Tuhan kepada Musa untuk menghormati kehadiran-Nya di dalam Tabernakel/ Kemah Pertemuan dalam Perjanjian Lama.

Kel 30:34-37
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya. Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah, digarami, murni, kudus. Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu. Dan tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri; itulah bagian untuk TUHAN, yang kudus bagimu.”

Gereja Katolik percaya Perjanjian Lama telah digenapi dalam diri Kristus dan bahwa kini Tuhan Yesus Kristus sungguh hadir di dalam Tabernakel suci dalam rupa Ekaristi, dan karena itu, maka digunakan ukupan wewangian untuk menghormati kehadiran Tuhan tersebut. Wewangian ini digunakan Selain untuk tanda penghormatan,wewangian ini digunakan juga untuk menciptakan suasana penyembahan kepada Tuhan yang hadir dalam perayaan Ekaristi tersebut.

Gereja Katolik, berdasarkan pengajaran Kristus dan para rasul, mengajarkan bahwa pada setiap Misa Kudus, maka kurban Yesus Kristus yang satu-satunya itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus, untuk mendatangkan berkat pengudusan bagi umat-Nya. (Selanjutnya tentang makna Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani, silakan klik di sini). Kurban Kristus dalam Ekaristi, yang dihormati dengan korban bakaran ukupan/ wewangian inilah yang menggenapi nubuat nabi Maleakhi, dalam Mal 1:11, “Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.”

Karena makna “kurban” tersebut, maka Altar tempat terjadinya kurban merupakan obyek yang suci, oleh karena itu kita melihat wewangian ukupan diarahkan kepada Altar. Demikian juga ukupan tersebut digunakan juga pada saat prosesi/ sesaat sebelum pembacaan Injil, yang dihormati karena Injil merupakan Sabda Tuhan. Ukupan juga ditujukan kepada imam yang mempersembahkan Misa, karena karena pada saat Misa, ia bertindak atas nama Kristus (“persona Christi”). Ukupan juga ditujukan kepada umat, sebab melalui Pembaptisan, setiap umat beriman menjadi tempat kediaman Roh Kudus dan mempunyai peran imamat bersama, sehingga dalam perayaan Ekaristi, setiap umat diundang untuk mengangkat persembahan doa-doanya ke hadapan Tuhan, sehingga dengan demikian mereka mempersatukan doa-doa mereka dengan doa Kristus sendiri (yang diucapkan oleh imam) kepada Allah Bapa.

Jadi penggunaan ukupan wewangian sebenarnya telah berakar sejak lama dalam sejarah umat beriman, dan Gereja Katolik melanjutkan tradisi ini, karena memang mengandung makna yang dalam. Wewangian ini melengkapi penyembahan dan ucapan syukur kita kepada Tuhan yang melibatkan seluruh panca indera kita dalam Ekaristi: dengan indra penglihatan kita melihat seluruh ibadah,  dengan indra pendengaran kita mendengar kidung pujian dan doa-doa, dengan indra peraba kita mengambil air suci yang melambangkan rahmat Pembaptisan, dan dengan indra pengecap kita menyantap Hosti kudus, dan dengan indra penciuman kita menikmati wewangian ukupan yang melambangkan naiknya doa-doa kita ke hadapan tahta Allah.

Demikian yang dapat saya tuliskan tentang penggunaan wewangian dalam Misa Kudus. Semoga berguna dan membantu kita semakin menghayati maknanya dalam perayaan Ekaristi.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?

98

Pendahuluan

Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.

Apa itu Sola Scriptura?

Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.” ((diterjemahkan dari Geisler, Norman L. dan MacKenzie, Ralph E., Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (Grand Rapids: Baker, 1995) ))

Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul. ((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri. ((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 80, 81, Dei Verbum 9)).

Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:

KGK 82    Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci

Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:

1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.

4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.

6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.

7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.

Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, sebagaimana tertuang dalam salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).

Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.

Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura ((disarikan dari Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, (Farmington: San Juan Catholic Seminars, 2003), hl. 17-19)):

1. 2 Tim 3:16-17  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.

Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.

Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.

2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”

Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.

3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”

Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 2 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.

Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)

Di sini kita melihat tradisi/ paradosis yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi/ paradosis, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi/ paradosis] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran [tradisi/ paradosis] yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)

5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.

Kesimpulan

Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan Kristus untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.

Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.


Beberapa keberatan mengenai kebenaran Alkitab

11

Pertanyaan:

Shalom,

Terimakasih atas perhatiannya. Disini yg paling ingin saya tanyakan (menurut saudara seberang) adalah:
Di dalam Perjaniian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-oran Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca: Kitab Mikha 3:1 – 12 dan Ulangan 31:27). Akibatnya, kitab suci ini menjadi bercampur-baur antara kebenaran ilahi dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditulis oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
1) Pertanyaan:Apakah kitab kitab suci kita (perjanjian lama) tidak cocok dgn kitab Yahudi & mengapa?
2) Mengapa ada ketidakcocokan (ayat kontradiksi) di kitab suci kita (misalnya: kis 9: 7 dan kis 22 : 9; dan ada beberapa ayat lain).

Mohon penerangannya. Terimakasih saya ucapkan sebelumnya

Salam , Sonya Natalia

Jawaban:

Shalom Sonya,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang beberapa ayat di Alkitab yang diragukan kebenarannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

1) Dikatakan “Di dalam Perjaniian Lama Tuhan pernah berfirman bahwa orang-oran Israel itu sangat durhaka dan hobi merubah-rubah kitab suci (baca: Kitab Mikha 3:1– 12 dan Ulangan 31:27)

a) Dalam beberapa ayat di dalam Alkitab Perjanjian Lama, memang dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang jatuh ke dalam dosa berkali-kali, seperti: keras hati dan tegar tengkuk (lih. Kel 32:9), suka memberontak (lih. Ul 9:7, 24; Yes 1:2), suka perpaling (Yer 2:11-13, 8:5), dan dosa-dosa yang lain. Namun, di satu sisi, kita juga harus melihat bahwa bangsa Israel menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, seperti: dipilih dan dikasihi oleh Allah (Ul 7:6, 7:7), yang dipisahkan dari bangsa lain (Kej 17:10; 17:1), yang disebut umat yang kudus (Ul 14:2), yang menjadi harta kesayangan Allah (Kel 19:5; Maz 135:4), umat yang kudus (Kel 7:6; 14:21), kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel 19:6), dll.

b) Jadi, kalau mau menyimpulkan bahwa ayat-ayat di Alkitab tidak dapat dipercaya, dengan argumentasi bahwa bangsa Israel adalah sangat durhaka adalah kurang dapat dipertanggungjawabkan, karena di satu sisi, Alkitab juga menyebutkan bangsa Israel adalah bangsa yang kudus, yang dipilih oleh Allah sendiri, yang menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah. Dan terbukti, bahwa Allah berbicara melalui perantaraan nabi-nabi untuk menyampaikan kebenaran, yang mempersiapkan seluruh bangsa pada kebenaran sejati, yang terpenuhi pada diri Yesus.

c) Tentang Mikha 3:1-12 dan Ulangan 31:27: Kalau kita membaca secara teliti, maka Mikha menujukan bab ini kepada para pemimpin di Israel (3:1-4), kepada nabi-nabi palsu (3:5-8), dan hukuman yang akan dijatuhkan (3:9-12). Ulangan 31:27 mengatakan “Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.” Di bagian 1b, telah saya paparkan bahwa ada yang menjadi sisi negatif dan sisi positif. Oleh karena itu, hanya melihat sisi negatif bangsa Israel serta menggunakannya untuk menyerang Alkitab, tanpa melihat sisi positif mereka adalah tindakan yang tidak jujur.

d) Kenyataan bahwa hal negatif dari bangsa Israel adalah tetap menjadi bagian dari Alkitab justru menambah nilai kebenaran Alkitab. Kalau memang sering diubah-ubah, seharusnya Alkitab Perjanjian Lama hanya menampilkan semua hal yang bersifat positif dan mencoret yang bersifat negatif. Namun, ini tidak dilakukan oleh bangsa Israel, karena justru penghayatan mereka bahwa mereka tidak berhak untuk merubah satu titikpun. Untuk keterangan lebih jelas tentang bagaimana mereka menyalin Alkitab, dijelaskan sebagai berikut:

(diambil dari: H.S. Miller, M.A, General Biblical Introduction from God to us, (Houghton, N.Y: The Word-Bearer Press, 1950), hal 184-185) menjabarkan bagaimana di abad-abad awal melakukan salinan manuskrip. Ada dua kelas manuskrip, yaitu Synagogue rolls dan Privite or common. Untuk menuliskan manuskrip Synagogue rolls, yang dipakai dalam bait Allah, maka ada aturan-aturan ketat yang harus diikuti. Aturan-aturan ini dituliskan di dalam Talmud:

1) Media penulisan harus terbuat dari kulit binatang yang tidak najis, dan harus dipersiapkan oleh seorang Yahudi. Dan kulit binatang yang menjadi media penulisan harus diikat dengan tali yang diambil dari binatang yang tidak najis.

2) Setiap kolom harus tidak boleh kurang dari 48 dan tidak boleh lebih dari 60 baris. Seluruh salinan harus ada di dalam garis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jika ada tiga kata yang ditulis tidak di dalam garis, maka salinan tersebut tidaklah berharga apapun.

3) Tinta yang digunakan harus menggunakan warna hitam, yang dibuat dengan bahan-bahan yang telah ditetapkan.

4) Tidak boleh ada kata maupun huruf yang ditulis berdasarkan ingatan; Penyalin harus mempunyai otentik salinan di depannya dan dia harus membaca dan menyerukan dengan keras setiap kata sebelum menuliskannya.

5) Penyalin harus secara hormat mengelap alat tulis yang dipakainya sebelum menuliskan kata “Tuhan” dan dia harus membersihkan seluruh tubuhnya sebelum menuliskan kata “Yahweh”, karena takut nama yang kudus tercemari.

6) Aturan-aturan yang keras diberikan mengenai bentuk dari huruf, spasi antar huruf-huruf, kata-kata, dan bagian-bagian, penggunaan alat penulis, dan juga warna dari media penulisan, dll.

7) Revisi dari sebuah gulungan yang disalin harus dibuat dalam 30 hari setelah pekerjaan selesai; kalau tidak maka salinan tersebut dianggap tidak berharga. Satu kesalahan di satu lembaran, membuat lembaran tersebut tak berguna. Jika ada tiga kesalahan ditemukan di dalam halaman manapun, seluruh salinan tidak berharga.

8) Setiap kata dan setiap huruf dihitung, dan jika sebuah huruf dihilangkan, atau sebuah huruf ditambahkan, atau jika satu huruf bersinggungan dengan huruf yang lain, manuskrip tersebut tidak berharga dan dihancurkan saat itu juga.

9) Dan masih begitu banyak lagi peraturan-peraturan ketat yang harus mereka jalankan dalam menyalin manuskrip, yang kadang di telinga kita terdengar tidak masuk akal.

Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa dengan peraturan-peraturan yang ketat, maka kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa Alkitab yang kita kenal sekarang adalah sama dengan Alkitab yang ditulis pada masa lampau.

e) Untuk mengatakan bahwa Alkitab yang kita kenal sekarang telah dirubah-rubah, maka perlu dipertanyakan parameter yang digunakan. Kalau demikian, apakah semua Alkitab tidak dapat dipercaya, atau sebagian saja yang dapat dipercaya? Bagian mana yang dapat dipercaya dan bagian mana yang tidak dapat dipercaya? Apalah paramenter yang digunakan dalam menentukakan hal ini?

f) Silakan melihat tanya jawab tentang kebenaran Alkitab beserta dengan diskusi di bagian bawahnya (silakan klik).

2) Dikatakan “Mengapa ada ketidakcocokan (ayat kontradiksi) di kitab suci kita(misalnya: kis 9: 7 dan kis 22 : 9; dan ada beberapa ayat lain).

Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.” (Kis 9:7)

Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.” (Kis 22:9)

a) Untuk melihat ketidakcocokan ayat-ayat tersebut, kita harus melihat bahasa asli dan arti dari kata-kata tersebut. Dalam bahasa Yunani, perkataan “mendengar” dibedakan antara 1) mendengar sesuatu yang berisik tanpa makna (dalam hal ini “mendengar” adalah dalam bentuk genetive case) dan 2) mendengar dalam artian mengerti maknanya (dalam hal ini “mendengar” adalah dalam bentuk accusative). Dalam Kis 9:7 perkataan mendengar yang sama digunakan juga di Yoh 12:28-29, dimana orang yang berkumpul mendengar, namun mendengar suara seperti bunyi guntur. Di dua ayat ini, “mendengar” bukanlah dalam bentuk “accusitive case“, sehingga dapat diterjemahkan mendengar dalam pengertian mendengar sesuatu namun tidak mereka mengerti. Namun, di dalam Kis 22:9, perkataan tidak mendengar mengambil bentuk “accusative case“, sehingga dapat diterjemahkan “tidak mengerti“.

Dengan demikian, di Kis 9:7 mereka mendengar namun tidak mengerti apa maknanya, karena mungkin hanya mendengar suara seperti guntur seperti yang juga dialami oleh orang-orang di Yoh 12:18-19. Oleh karena itu, Kis 9:7 tidaklah bertentangan, karena walaupun mereka mendengar, namun mereka tidaklah mengerti, yang diungkapkan di Kis 22:9, dengan perkataan “tidak mereka dengar

b) Atau penjelasan yang mungkin lebih mudah adalah, dalam setiap bahasa, satu kata mempunyai beberapa arti tergantung dari konteksnya. Dalam kasus ini, mendengar (akouo) dalam bahasa Yunani berarti mendengar atau mengerti. Kita melihat di 1 Kor 14:2 “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti (akouo) bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.” Jadi, di dalam ayat ini, perkataan yang sama – akouo – diterjemahkan “mengerti” dan bukan “mendengar”. Jadi, kalau diterapkan pada ayat Kis 22:9, maka “Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. (tidak mereka mengerti)

Dengan demikian, maka kita melihat bahwa tidak ada pertentangan apapun di dalam Alkitab. Yang harus kita lakukan adalah melihat satu-persatu ayat yang kelihatannya bertentangan dan kemudian menganalisa dan menjabarkannya satu-persatu. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Tanggapan mengenai ajaran Bapa Gereja tentang Maria= Hawa baru

9

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini adalah kelanjutan dari tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena pertanyaan ini menyertakan topik baru, maka kami pisahkan di artikel tersendiri]

Pertanyaan:

Sebelumnya terimakasih atas jawaban yang cepat dari Ibu Ingrid sebab saya tidak menyangka akan dijawab secepat itu, saya pikir pasti membutuhkan waktu sampai berminggu2 mengingat banyaknya pertanyaan dari pengunjung situs “yg terhormat” ini. Masih ada pertanyaan selanjutnya jika ibu tidak berkeberatab menjawabnya. Bagaimana dengan Pengangkatan Bunda Maria ke Sorga dibanding dengan pengangkatan kedua nabi [Henokh dan Elia] tadi? adakah pengangkatan kedua nabi itu menandakan bahwa tingkat kekudusan mereka sama dengan Bunda Maria yg terberkati? Jika tidak sama dan Maria lebih istimewa mengapa demikian sehingga Umat Katolik dan para Bapa Gereja begitu memuliakan Maria sampai tingkat yang oleh teman2 Non-Katolik disebut Pengkultusan Maria? Kita menyebut Maria memiliki keistimewaan dibanding ciptaan TUHAN yg lainnya tetapi Terminologi Manusia Istimewa itu apa dalam konteks Firman Tuhan? Bukankah sebutan Manusia Istimewa sudah pengkultusan? Ditambah lagi dengan tidak dapat dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya? Maria tetap Manusia kan? ditengah berlimpahnya kasih karunia kepadanya dan sebagai manusia pasti bukan Malaikat dan bukan TUHAN

Kemudian tentang Maria disebut oleh Bapa Gereja sebagai Hawa baru:
1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup.

Tanggapan saya:
ada komparasi yang tidak berimbang dan “perempuan” hanya dijadikan “objek”, komparasi antara Hawa dan Ular dengan Maria dan Gabriel, kemudian “objek” nya sama-sama perempuan, sedang subyeknya berbeda ; yang satu “oknum” yg diperalat oleh iblis dan yang satu salah satu Malaikat yg paling sering diutus kepada manusia

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria
Tanggapan saya:
apa yang dimaksud dengan Ikatan ketidaktaatan? Jika mengikuti alur ini, maka Henokh tidak dapat naik ke Sorga, dan disini bukan hanya Hawa yang tidak taat, Adam pun lebih tidak taat dibandingkan dengan Hawa, dan kesalahan utama terletak pada Adam (Pria) bukan pada Hawa

St. Gregorius Naziansa (390) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan KRISTUS sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia)
Tanggapan saya:
Bunda Allah yang seperti apa Bunda Allah yang menjadi Manusia atau Bunda Allah yang telah menuntaskan misi-Nya? Dan landasan Alkitabiahnya pun saya rasa masih kurang. Terbentuk secara Ilahi namun manusiawi, maksudnya ilahi yang manusiawi-kah? Mengapa terkooptasi dengan hukum Alam?

St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib YESUS), sebab KRISTUS tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…
Tanggapan saya:
saya tidak setuju kalau kejahatan itu didatangkan oleh perempuan, kejahatan itu didatangkan oleh iblis, dan mari merenung sejenak, mudah bagi kita manusia menyalahkan Adam dan Hawa, padahal dikeseharian kitapun tidak luput dari kesalahan. Saya mau mengajak kita melihat bahwa kita masing bertanggung jawab terhadap diri sendiri, seandainya pun Adam tidak jatuh dalam dosa, mungkin saya adalah “Adam” pertama yang jatuh dalam dosa, itu hakekatnya. Kalau terus Hawa dipersalahkan untuk mempermuliakan Maria, rasa-rasanya tidak adil juga dan proposional. Dan manusia menjadi budak dosa bukan karena Hawa, Henok pun dilahirkan karena Hawa, mengapa Henokh tidak menjadi budak dosa?

St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”
Tanggapan saya:
diangkat ke Surga karena percaya KRISTUS YESUS kan, apa karena oleh Maria? Bagaimana jika ada seseorang yang menganggap Maria hanya manusia biasa? Sama sepertinya? Namun percaya KRISTUS YESUS?

saya mohon penjelasan dari ibu dan terimakasih karena mau meluangkan waktu untuk menjelaskannya. Tuhan Memberkati.

Vano

Jawaban:

Shalom Vano,

Mengenai pengangkatan Bunda Maria ke surga, telah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik.

Mengenai bagaimana kekudusan Maria dibandingkan dengan Enokh dan Elia, tentu saja Bunda Maria lebih kudus dari mereka, karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria dikandung tidak bernoda (tidak mempunyai dosa asal), silakan klik, sedangkan Enokh dan Elia dan semua orang di dunia menerima dosa asal dari Adam dan Hawa (lih. Rom 5:12). Bunda Maria memang merupakan perkecualian, karena perannya yang sangat unik, yang tidak mungkin sama dengan peran orang lain di dalam sejarah keselamatan. Sebab tidak ada orang lain yang melahirkan Tuhan Yesus, dan tidak akan ada lagi orang yang olehnya Tuhan Yesus akan lahir. Karena Yesus lahir ke dunia hanya sekali, dan kedatangan-Nya yang kedua nanti adalah di akhir jaman. Diperlukan kerendahan hati untuk melihat “keistimewaan” Bunda Maria, yaitu untuk menerima bahwa hanya karena kesediaannya, maka Kristus dapat dilahirkan ke dunia.

Meskipun peran Maria dalam rencana keselamatan Allah adalah sangat istimewa, namun ini bukan pengkultusan dalam arti negatif bahwa seseorang dihormati karena dirinya sendiri. Kita menghormati Maria, pertama-tama karena apa yang telah diperbuat Tuhan kepadanya, dan baru kemudian melihat teladan hidupnya. Saya belum lama mem-poskan jawaban mengenai kesalahpahaman tentang Maria, yang berhubungan juga dengan hal- hal yang anda tanyakan, silakan klik di sini untuk membacanya.

Sekarang tentang komentar anda akan ajaran Bapa Gereja tentang Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru (tanggapan anda saya cetak warna biru)

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup.
Tanggapan Anda: Ada komparasi yang tidak berimbang dan “perempuan” hanya dijadikan “objek”, komparasi antara Hawa dan Ular dengan Maria dan Gabriel, kemudian “objek” nya sama-sama perempuan, sedang subyeknya berbeda ; yang satu “oknum” yg diperalat oleh iblis dan yang satu salah satu Malaikat yg paling sering diutus kepada manusia.

Terus terang saya kurang paham dengan tanggapan anda yang mengatakan “komparasi tidak berimbang.” Sebab yang namanya perbandingan pasti tidak harus semuanya sama, sebab kalau semua setara dan sama, maka tidak ada lagi yang perlu dibandingkan. Perbandingan antara Hawa dengan Bunda Maria -sebagai Hawa Baru- tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai kesatuan dengan perbandingan antara Adam dengan Kristus yang disebut sebagai “Adam yang baru” (lih. Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21, Ef 2:1-3). Jadi sama seperti bahwa ada keterlibatan Hawa, sehingga Adam jatuh dalam dosa, dan menurunkan dosa asal tersebut kepada semua umat manusia, maka demikian pula ada keterlibatan Hawa yang baru yaitu Maria, sehingga Adam yang baru (Kristus) dapat lahir ke dunia untuk menghapus dosa manusia. Maka tepat jika dikatakan bahwa oleh Hawa, umat manusia jatuh dalam dosa, dan karena itu dalam kuasa maut; sedangkan oleh Maria, umat manusia menerima penghapusan dosa, dan karena itu menerima kehidupan kekal.

Maka menurut hemat saya, tidak benar pandangan anda bahwa Hawa atau Maria itu hanya sekedar “obyek”. Kedua perempuan ini adalah manusia yang diciptakan Tuhan sesuai dengan gambaran-Nya, sehingga memiliki akal budi dan kehendak bebas, dan bukan hanya sekedar “robot” atau obyek yang tidak berdaya. Kepada keduanya dihadapkan pilihan, mau memilih kehendak Allah atau kehendak diri sendiri, dan fakta menunjukkan bahwa Hawa memilih kehendak diri sendiri (atas bujukan Iblis) sedangkan Bunda Maria memilih kehendak Tuhan.

Hal bahwa saat itu Hawa disapa oleh Iblis dalam bentuk ular, sedangkan Maria oleh Malaikat, memang adalah salah satu perbedaan; namun bukannya tidak masuk akal, sebab buah yang mengikuti kedua kejadian tersebut adalah berbeda. Yang pertama berbuah dosa, maka wajar jika penyebabnya adalah si Jahat/ Iblis. Sedangkan yang kedua berbuah keselamatan atas kedatangan Putera Allah sendiri, maka adalah wajar bahwa yang terlibat adalah Malaikat dan bukannya Iblis. Sebab tidak mungkin Tuhan melibatkan Iblis pada saat pemberitaan kedatangan-Nya. Jadi perbandingan tersebut memang direncanakan Tuhan untuk menunjukkan kontras antara Adam dan Hawa yang pertama -yang membuahkan dosa-, dengan Adam dan Hawa yang kedua -yang membuahkan keselamatan.

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria
Anda : Apa yang dimaksud dengan Ikatan ketidaktaatan? Jika mengikuti alur ini, maka Henokh tidak dapat naik ke Sorga, dan disini bukan hanya Hawa yang tidak taat, Adam pun lebih tidak taat dibandingkan dengan Hawa, dan kesalahan utama terletak pada Adam (Pria) bukan pada Hawa.

Ikatan ketidak-taatan di sini maksudnya adalah belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah. Harus diakui di sini bahwa meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya ini dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”nya adalah kondisi lawannya, yaitu diawali dengan ketaatan Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38) maka Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7).

Hal Henokh memang adalah pengecualian dalam artian bahwa bukannya dia tidak mempunyai dosa asal, namun karena ia kemungkinan tidak melakukan dosa pribadi, dalam hal ini, dosa berat yang memisahkannya dengan Allah. Karena Alkitab mengatakan bahwa ia “hidup bergaul dengan Allah” (Kej 5:24) semasa hidupnya. Alkitab memang menyatakan Henokh dan Elia diangkat oleh Allah (Kej 5:24) ke surga (2 Raj 2:1) namun surga yang dikatakan disini mengacu kepada tempat terberkati yang ada di tempat penantian para jiwa-jiwa orang-orang yang meninggal sebelum Kristus datang ke dunia, wafat dan bangkit dari mati. Baru setelah kebangkitanNya, Yesus turun ke tempat penantian ini, untuk menjemput jiwa-jiwa orang-orang benar tersebut dan menghantar mereka ke dalam Surga yang kekal, di mana manusia dapat bersatu dengan Allah di dalam Kristus.

3. St. Gregorius Nazianza (390): “…barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia)

Anda: Bunda Allah yang seperti apa Bunda Allah yang menjadi Manusia atau Bunda Allah yang telah menuntaskan misi-Nya? Dan landasan Alkitabiahnya pun saya rasa masih kurang. Terbentuk secara Ilahi namun manusiawi, maksudnya ilahi yang manusiawi-kah? Mengapa terkooptasi dengan hukum Alam?

Jawabnya adalah keduanya, yaitu Bunda dari Putera Allah yang menjadi manusia, yang telah menggenapi misi-Nya. Alkitab mengatakan bahwa Maria adalah Bunda Allah karena ialah yang melahirkan Putera Allah, silakan kembali melihat Luk 1:43, Mat 1:23, Luk 1:35, Gal 4:4. Saya tidak mengerti mengapa anda mengatakan landasan Alkitab-nya kurang.

Adanya kodrat Ilahi dan kodrat manusiawi dalam diri Yesus, memang merupakan ciri khas Yesus, yaitu Allah yang menjelma menjadi manusia. Karena tidak pernah ada seorangpun yang mempunyai ciri khas ini (hanya Tuhan Yesus saja) maka memang segalanya khusus dan istimewa pada Pribadi Yesus ini. Sejarah membuktikan bahwa memang banyak orang yang kesukaran dalam memahami Pribadi Yesus ini, sehingga mereka berusaha menyederhanakannya; namun malah akhirnya tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri. Karena kebenarannya adalah: bahwa dalam hidup-Nya di dunia ini, Yesus adalah sungguh Allah, dan sungguh manusia. Silakan klik di sini untuk membaca topik ini lebih lanjut. Saya harap anda menemukan jawaban keberatan anda di sana. Kalau sampai terjadi kekhususan pada Pribadi Yesus, bukankah itu wajar, karena Ia adalah Allah yang mengatasi segalanya? Kedua kodrat yang ada dalam Pribadi Yesus (Ilahi dan manusiawi) bukan merupakan “pemberontakan terhadap hukum alam”, tetapi merupakan bentuk “pengangkatan/ penyempurnaan” hukum alam tersebut.

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria);….. karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib YESUS), sebab KRISTUS tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…

Anda: Saya tidak setuju kalau kejahatan itu didatangkan oleh perempuan, kejahatan itu didatangkan oleh iblis, dan mari merenung sejenak, mudah bagi kita manusia menyalahkan Adam dan Hawa, padahal dikeseharian kitapun tidak luput dari kesalahan. Saya mau mengajak kita melihat bahwa kita masing bertanggung jawab terhadap diri sendiri, seandainya pun Adam tidak jatuh dalam dosa, mungkin saya adalah “Adam” pertama yang jatuh dalam dosa, itu hakekatnya. Kalau terus Hawa dipersalahkan untuk mempermuliakan Maria, rasa-rasanya tidak adil juga dan proposional. Dan manusia menjadi budak dosa bukan karena Hawa, Henok pun dilahirkan karena Hawa, mengapa Henokh tidak menjadi budak dosa?

Kejahatan memang didatangkan oleh Iblis, tetapi kejahatan itu diturunkan kepada semua umat manusia oleh Adam dan Hawa yang mengikuti ajakan Iblis untuk melakukan kejahatan itu. Dalam hal ini, Alkitab mencatat bahwa Hawalah yang lebih dahulu jatuh dalam dosa. Kelihatannya anda perlu memahami konsep dosa asal, yang dapat anda baca di artikel: Mengapa ada dosa asal, silakan klik, sebelum anda dapat memahami ajaran ini. Sebab jika Adam dan Hawa (manusia pertama) tidak jatuh di dalam dosa pertama (dosa asal), maka kita semua sebagai keturunan mereka, juga tidak akan jatuh ke dalam dosa. Agaknya sulit bagi kita untuk memahami pikiran Tuhan bahwa ketika Ia menciptakan manusia, Ia sudah membayangkan/ merencanakan keseluruhan keluarga umat manusia yang (seharusnya) dipimpin oleh sepasang manusia yaitu Adam dan Hawa. Sayangnya mereka tidak taat kepada Tuhan sehingga seluruh anggota keluarga mereka harus turut menanggung akibat perbuatan orang tua mereka (Adam Hawa) karena konsep “kesatuan” umat manusia yang sudah direncanakan oleh Allah sejak awal mula. Di sinilah kemudian kita dapat melihat pentingnya Gereja yang juga merupakan pemersatu semua umat beriman, dengan Kristus sebagai Kepalanya dan Maria sebagai Bundanya; dan keduanya memulihkan kesatuan seluruh keluarga besar umat manusia.

Maka membicarakan Hawa yang jatuh di dalam dosa pertama, bukanlah karena kita mau menyalah-nyalahkan Hawa, atau untuk mempermuliakan Maria. Mengatakan bahwa Hawa jatuh di dalam dosa, itu adalah mengatakan sebuah fakta yang terjadi di awal sejarah manusia, seperti yang tertulis di Alkitab. Namun fakta ini bukan untuk disesali, tetapi untuk direnungkan dengan ucapan syukur, sebab kenyataannya, dosa asal inilah yang mengakibatkan Allah mengirimkan Putera-Nya Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Untuk melakukan hal ini, Allah Bapa melibatkan Bunda Maria yang dengan ketaatannya menyerahkan dirinya untuk penggenapan rencana keselamatan Allah.

Alkitab tidak menjelaskan dengan detail, mengapa Henokh tidak jatuh ke dalam dosa. Hanya dikatakan bahwa ia “bergaul dengan Allah” (Kej 5: 24). Namun ini justru membuktikan, bahwa jika Henokh yang mempunyai dosa asal (lih. Rom 5:12), tetap dapat menjaga dirinya dari dosa pribadi, maka kitapun dapat mengusahakannya juga. Dengan perkataan lain, sesungguhnya kekudusan itu merupakan sesuatu yang mungkin bagi manusia, jika kita hidup akrab bergaul dengan Allah. Namun sayangnya fakta yang umum menunjukkan bahwa orang kebanyakan tidak hidup cukup akrab bergaul dengan Allah sehingga akhirnya menjadi budak dosa.

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”
Anda: diangkat ke Surga karena percaya KRISTUS YESUS kan, apa karena oleh Maria? Bagaimana jika ada seseorang yang menganggap Maria hanya manusia biasa? Sama sepertinya? Namun percaya KRISTUS YESUS?

Anda harus melihat di sini gaya bahasa yang sedang digunakan oleh St. Agustinus. Ia sedang menampilkan kontras antara Hawa dan Bunda Maria. Maka ini tidak dimaksudkan sebagai suatu pernyataan komplit tentang persyaratan seseorang dapat diangkat ke surga. Namun demikian, selayaknya kita tangkap esensi dari pernyataan St. Agustinus ini, yaitu, bahwa Maria memerankan peranan kunci sehingga Kristus dapat datang ke dunia, sehingga oleh iman kita kepada-Nya kita dapat masuk Surga. Kalau saja waktu itu Maria tidak setuju untuk menerima Kabar Gembira dari malaikat Gabriel, maka Kristus Yesus tidak jadi datang ke dunia dengan cara Inkarnasi. Sedangkan kalau Kristus tidak datang ke dunia, maka kita tidak dapat masuk Surga. Surga yang dimaksud di sini adalah Surga yang sesungguhnya, bukan hanya ‘tempat terberkati’ di tempat Penantian seperti yang dialami oleh Henokh, Elia, para nabi dst, melainkan di mana kita dapat melihat Allah Bapa di dalam Putera-Nya, seperti yang diajarkan oleh Rasul Yohanes (lih. 1 Yoh 3:2). Dengan urutan pemahaman yang demikian, maka kita dapat melihat pentingnya peran Bunda Maria dalam perwujudan rencana keselamatan Allah.

Akhirnya,  pengajaran Bapa Gereja bahwa Maria adalah Hawa yang baru, sebenarnya merupakan contoh yang jelas bagaimana para Bapa Gereja itu selalu membaca Perjanjian Lama di dalam terang Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru sebagai penggenapan Perjanjian Lama. Jangan lupa bahwa lebih dari dua per tiga Kitab Suci kita terdiri dari Perjanjian Lama, maka Perjanjian Baru memang ada kaitannya dengan Perjanjian Lama. Dalam hal ini kisah Adam dan Hawa memegang peran yang sangat penting, karena mereka ada di awal masa Penciptaan, di awal sejarah keselamatan, yang kemudian akan digenapi oleh Allah. Dengan perspektif inilah kita melihat betapa peran Adam dan Hawa yang baru memegang peran kunci dalam penggenapan rencana keselamatan Allah itu. Memang Kristus adalah Adam yang baru yang menyelamatkan manusia, namun kedatangan-Nya ke dunia ini dimungkinkan karena kerjasama Hawa yang baru, yaitu Bunda Maria, dengan ketaatan-nya.

Demikian Vano, yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Semoga berguna.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab