Home Blog Page 267

Rom 13:1, Haruskah tunduk kepada pemerintah negara?

17

Pertanyaan:

Mohon bantu saya dalam menangkap arti dari ayat Roma 13:1

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”

apa ya maksud dari ayat itu? apakah ayat itu masih bisa kita pakai sampai sekarang? pemerintah yang dimaksud itu pemerintahan pada waktu itu saja, atau pemerintah (negara) yang ada di dunia ini, jadi sekarang pun kita harus tunduk kepada negara dimana kita tinggal.

Pertanyaan:

Mohon bantu saya dalam menangkap arti dari ayat Roma 13:1

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”

apa ya maksud dari ayat itu? apakah ayat itu masih bisa kita pakai sampai sekarang? pemerintah yang dimaksud itu pemerintahan pada waktu itu saja, atau pemerintah (negara) yang ada di dunia ini, jadi sekarang pun kita harus tunduk kepada negara dimana kita tinggal.

Alexander

Jawaban:

Shalom Alexander,

Untuk menjawab pertanyaan anda saya meringkas dari penjelasan yang disebutkan di dalam The Navarre Bible, (New York, Scepter Publishers, 2003), p. 124-125 demikian:

Yesus sendiri menyatakan kepada Pilatus bahwa semua otoritas kekuasaan datang dari Tuhan (lih Yoh 19:11; Ams 8:15-16, Keb 6:3). Tuhan, sang Pencipta keteraturan sosial, menciptakan manusia sebagai mahluk yang perlu untuk hidup dan berkembang di dalam komunitas, dan karenanya memampukannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan baik.

Konsili Vatikan II menyatakan, “Dengan demikian jelaslah negara dan pemerintah mempunyai dasarnya pada kodrat manusia, dan karena itu termasuk tatanan yang ditetapkan oleh Allah. Sedangkan penentuan sistim pemerintahan dan penunjukan para pejabat pemerintah hendaknya diserahkan kepada kebebasan kehendak para warganegara.” (Vatikan II tentang Gereja dan dunia modern, Gaudium et Spes, 74)

Justru karena tatanan tersebut (otoritas sipil) berasal dari Allah, maka ketika otoritas tersebut ingin mencapai kebaikan bersama, dan dilakukan di dalam batas-batas keteraturan moral, maka otoritas tersebut harus ditaati di dalam nurani. Kegagalan untuk menaatinya adalah pelanggaran terhadap perintah ke-4 dalam ke 10 Perintah Allah (Hormatilah orang tuamu), seperti yang dijelaskan oleh St. Thomas Aquinas, “bukan hanya perkembangbiakan natural yang merupakan dasar untuk memanggil seseorang ‘bapa’. Terdapat banyak alasan mengapa beberapa orang dapat diberikan gelar ini, dan setiap jenis kebapaan (fatherhood) ini memerlukan penghormatan yang selayaknya…. Raja-raja dan pangeran dipanggil sebagai ‘bapa’ karena mereka harus menjaga kesejahteraan rakyatnya. Kepada mereka kita menghormati dengan ketaatan. Dan kita lakukan tidak hanya karena takut tetapi karena kasih, tidak hanya untuk alasan kenyamanan tetapi karena hati nurani kita menyatakan demikian. Sebab seperti Rasul Paulus katakan, semua pemerintah datang dari Tuhan (Rom 13:1), dan karena itu setiap orang harus memberikan kepada setiap orang yang lain sesuatu yang menjadi haknya.” (On the two commandments of love and the ten commandments of the law, 4). Hal yang harus kita bayar kepada otoritas adalah: penghormatan, tunduk, pembayaran pajak untuk mendukung pelayanan-pelayanan masyarakat yang memperbolehkan masyarakat hidup dalam damai dan keamanan, yang menjaga mereka dari kekerasan dan menuju peradaban yang lebih baik.

Dari awal, umat Kristiani telah berusaha memenuhi kewajiban sosial mereka, walaupun mereka adalah korban-korban penganiayaan (lih. Leo XIII, Quod apostolici; Diuturnum illud, Immortale Dei). Contoh yang mengagumkan pada jemaat perdana adalah yang diberikan oleh St. Yustinus Martir sekitar pertengahan abad pertama dan abad kedua (First Apology 17). Demikian juga Tertullian, yang demikian kritis terhadap dunia pagan, menuliskan kepada para beriman, dalam persekutuan, agar berdoa bagi para kaisar, para menteri dan pegawai negeri, dan bagi kesejahteraan dan damai (lih. Apologeticum, 39, 1 ff). Dengan berbuat demikian, umat Kristiani melaksanakan perintah Tuhan Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

Jadi kesimpulannya, ya, bahkan di masa sekarang, kita harus memberikan penghormatan kepada pemerintah negara di mana kita tinggal. Namun demikian, kita berhak pula menyuarakan pendapat kita, jika terdapat kebijakan-kebijakan yang menentang hukum Tuhan. Contoh yang mungkin jelas terlihat misalnya di Amerika ini, di mana terdapat gerakan-gerakan umat Katolik dan umat Kristiani lainnya dalam Pro- Life untuk menentang kebijakan pemerintah yang melegalisasi aborsi. Namun prinsipnya protes apapun tidak diperbolehkan sampai kepada level ‘anarki’ karena biar bagaimanapun, kita harus tetap menghormati pemerintah negara kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bolehkah tepuk tangan untuk koor di Misa?

36

Pertanyaan:

salam katolisitas

Dalam surat pembaca majalah hidup edisi 17 Januari 2010 memuat tulisan Rm.Frans Magnis Suseno
berjudul’ Tepuk Tangan waktu Komuni”. Pada prinsipnya romo Magnis tidak setuju umat bertepuk
tangan setelah selesai mendengarkan penyanyi solo dari anggota koor pada waktu komuni tersebut.
Bahkan romo Magnis juga menulis seandainya dia yang memimpin misa waktu itu akan dihentikan
dan menyuruh umat melakukan Doa Tobat bersama.

Pertanyaan saya: Apakah betul Tepuk tangan( Aplauss) umat memuji suara penyanyi koor
pada saat komuni disuatu misa dilarang ( pantang )
Apakah termasuk pelanggaran peraturan Liturgi ?

Sekian dan atas perhatiannya sebelumnya terima kasih.

Jawaban:

Shalom Jimmy,

Pertama- tama harus diketahui dahulu bahwa maksud perayaan Ekaristi adalah mengenang Misteri Paska Kristus, yang olehnya Kristus menggenapi karya keselamatan bagi kita manusia (lihat KGK 1067). Sehingga fokus utama dari perayaan Ekaristi sebenarnya adalah Allah Tritunggal Maha Kudus:

KGK 1358     Dengan demikian kita harus memandang Ekaristi

  • sebagai syukuran dan pujian kepada Bapa;
  • sebagai kenangan akan kurban Kristus dan tubuh-Nya;
  • sebagai kehadiran Kristus oleh kekuatan perkataan-Nya dan Roh-Nya.

Dan kalau kita menghayati bahwa persatuan kita dengan Kristus sendiri mencapai puncaknya pada saat kita menerima Ekaristi, maka saat-saat Komuni dan sesudah Komuni merupakan saat-saat yang paling intim, antara kita dengan Dia. Hal ini memang sebaiknya dihayati dengan keheningan antara setiap pribadi dengan Allah. Ini adalah saat yang paling tepat bagi setiap umat untuk meresapkan kehadiran Tuhan di dalam diri mereka, secara rohani dan jasmani, dan mengucapkan syukur, penyembahan dan kasih yang terdalam kepada Tuhan. (Jika anda ingin membaca tentang makna Ekaristi, silakan klik di sini dan pentingnya Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan kita, klik di sini.)

Kondisi inilah yang memang tidak dihayati atau “dirusak” jika ada tepuk tangan meriah pada saat Komuni, yang tidak ditujukan kepada Tuhan, tetapi malah kepada para penyanyi koor. Fokus yang harus nya tertuju kepada Tuhan jadi “berbelok” kepada sang penyanyi koor. Ini tentu tidak sesuai dengan yang seharusnya kita hayati dalam Ekaristi. Maka tak heran bahwa Romo Magnis mengusulkan untuk melakukan Doa Tobat, jika hal itu terjadi, sebab itu menggambarkan kurangnya penghayatan akan makna Ekaristi yang baru mereka sambut.

Tidak menjadi masalah untuk memberikan tepuk tangan/ applause kepada koor, tetapi seharusnya itu dilakukan setelah Misa selesai, yaitu setelah selesai lagu penutup.

Semoga kita dapat semakin menghayati perayaan Ekaristi, sehingga kita dapat menentukan sikap yang layak dalam mengikuti perayaan tersebut.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Kritik terhadap Gereja Katolik

17

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan berikut adalah tanggapan Lisa yang mewakili pandangan dari saudara/i kita dari gereja Protestan, yang mengajukan keberatan mereka terhadap ajaran Bapa Gereja dan Gereja Katolik]

Pertanyaan:

kalau demikian juga Yudas Iskariot adalah Murid Tuhan YESUS, atau rasul Dan Gehazi adalah bujang Elia Namun apa yang menjamin “status” mereka? Keduanya bukan hanya salah, melainkan mengambil keuntungan dari statusnya

Daud, kurang dekat apa lagi sama TUHAN? bisa jatuh dalam dosa? Alkitab menyatakan bisa Sepanjang itu manusia, tanpa mengurangi rasa hormat Hanya Tuhan Yesuslah yang menjadi DASAR PONDASI IMAN KRISTIANI

Paulus sendiri menegaskan demikian

1Co 1:12 Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan KRISTUS.

1Co 1:13 Adakah KRISTUS terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?

Mengenai pandangan Bapak Gereja yang sudah coba telaah dari Firman Tuhan, bukan bermaksud kurang ajar, tapi saya hanya membahasnya dari Kebenaran Firman Tuhan. Dan “kritik” saya terhadap Bapak Gereja itu, adalah pencitraan Bunda Maria, hampir sama seperti Tuhan, padahal dia adalah manusia biasa, sama seperti saya dan semua orang yang pernah dilahirkan dari benih manusia. Dan mengenai tugas pengembalaan yg diberikan , apaka termasuk termasuk untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan? Kalau tidak seperti Tuhan mengapa berdoa kepada nya? (masa manusia berdoa kepada sesama manusia?)

Disalah satu tulisan di situs ini yg menuliskan tentang Tradisi dan Megisterium tertulis demikian:
Tulisan para Bapa Gereja inilah yang dijadikan dasar oleh Magisterium Gereja Katolik untuk mengartikan bahwa ayat Luk 10:16 tersebut secara khusus mengacu kepada para rasul dan para penerusnya, yaitu para Uskup, yang kemudian dibantu oleh para imam dan diakon.
Walau ketiga misi KRISTUS sebagai imam, nabi (yang mengajar), dan raja (yang memimpin dengan melayani) diberikan kepada semua umat oleh rahmat Pembaptisan, dan ini disebut sebagai peran imamat bersama; namun secara khusus, KRISTUS juga menginginkan adanya peran imamat tertahbis. Hal ini kita ketahui dari Kitab Suci dan ajaran para rasul dan para Bapa Gereja tersebut. Dalam peran imamat bersama, memang semua umat beriman harus melaksanakannya, namun hal imamat tahbisan bukanlah menjadi “hak” semua orang, namun hanya kepada orang-orang tertentu yang kepadanya dipercayakan panggilan ini dan yang dengan kesediaan penuh melaksanakannya.

Tanggapan saya:

Misi KRISTUS tidak pernah sebagai nabi, kenabian pada waktu itu diperankan oleh Yohanes Pembabtis, kemudian apa yang KRISTUS sampaikan berasal dari DIRINYA sendiri, sedangkan nabi menyampaikan pesan TUHAN kepada umat. Karena KRISTUS adalah TUHAN, tidak mungkin dalam ketuhanan-Nya ia menjadi nabi. Kitab Suci iya, ajaran Rasul tentang KRISTUS iya, tetapi para Bapak Gereja yang mengajarkan “pencitraan” Bunda Maria, secara Alkitabiah masih perlu dikualifikasikan. Alkitab adalah KEBENARAN TUHAN, mengenai KRISTUS YESUS saja, tidak ada tentang citra Bunda Maria diajarkan di Alkitab.

Tulisan yang lain menuliskan begini:
Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium

Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15).

Tanggapan saya:
Rencana keselamatanNya, bukan hanya diberitahukan, melainkan sudah digenapi

Dan dalam KEBENARAN FIRMAN tidak disebut mengenai Tradisi Suci dan Magisterium, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Ketiga hal tersebut bisa dipisahkan, mana yang dari Tuhan, mana yang “buatan” manusia. Karena itu inti dari PROTEST-AN

Dilain tulisan mengenai hal yg sama dituliskan begini:
Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.“Dengan demikian maka Gereja, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum, 9). Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan KRISTUS” (Fil 3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal KRISTUS.

Tanggapan saya:
Tradisi suci apa yang dari TUHAN YESUS?

Perjamuan kudus?

Luk 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Tradisi suci? Maksudnya tradisi yang menyucikan? Atau tradisi yang disucikan?

Atau baptisan?

Act 18:25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang YESUS, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes

Baptisan pertobatan?

Atau

Joh 1:33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Baptisan Roh Kudus?

Apa semuanya itu bentuk tradisi suci?

Adalagi yang menuliskan begini:
adi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ’seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.

Tanggapan saya:
Tradisi suci tidak ada di Alkitab, Magisterium kalau untuk pencitraan Bunda Maria secara berlebihan, harusnya dapat mengacu kembali kepada Firman

Begini saja sis

Jika ada autokreksi dalam ketiga hal itu, mana yang akan digunakan sebagai kalibrasi koreksi?

Apakah Kitab Suci? Apakah Tradisi Suci? Apakah Magisterium?

Mari kita telaah satu persatu

Apakah kalau ada unsur “kesalahan” interprestasi atau manifestasi pada Kitab Suci? Apa yang
bisa mengkoreksinya?

Apakah tradisi suci? Bagaimana tradisi suci bisa mengkoreksinya?

Apakah Magisterium? Bagaimana Magisterium bisa mengkoreksinya?

Apakah tidak Kitab Suci yang dapat mengkoreksi “kesalahan” tersebut, karena kesalahan penafsiran terjadi akibat dari penafsiran Kitab Suci itu sendiri. Lalu bagaimana mengenai Tradisi Suci? Apakah Tradisi Suci bisa mengkoreksi dirinya sendiri? Apa harus dikoreksi oleh Magisterium? Bukankah Tradisi itu timbul dari penafsiran dari Kitab Suci? Berarti hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi manifestasi yang keliru mengenai Tradisi Suci.

Begitu pula Magisterium, bukankan hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi Magisterium

Apa Kitab Suci tidak bisa salah secara absolut? Ya karena berasal dari FIRMAN, yang tertuang di Kitab Suci.  Apa Tradisi Suci tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab Suci. Apa Magisterium tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Magisterium adalah “Turunan” dari Kitab Suci berdasarkan interprestasi, ketika mencitrakan Bunda Maria secara berlebihan, disitu pangkal soalnya

Satulagi ditulis oleh situs ini mengenai Sola Scriptura:
Apakah Hanya Kitab Suci saja pegangan satu-satunya dalam iman kita Sola Scriptura ?
Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran KRISTUS dan para rasul.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari KRISTUS dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.

Tanggapan Saya:

sepertinya terjadi ambigu posisi sebagai penerima dan penyampai Firman atau sebagai penerima dan pelaku Firman

Saya contohkan begini

Seperti yang dialami Hosea

Hos 1:2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.”

Apakah Firman itu untuk di sampaikan kembali untuk diikuti, sebagai insipirasi masif? Bukan kan, Firman itu merupakan perintah khusus hanya pada Hosea, sebagai suatu simbolisasi, bahwa persundalan kita sebagai orang percaya pun, tidak akan “mematahkan “ kesetiaan Tuhan. Namun persundalan itu akan membawa kutuk dan maut kelak, jika tidak kembali setia kepada Tuhan

Dalam hal ini, Apa yang harus disampaikan Lisan oleh Roh Kudus, sudah lengkap pada Alkitab, karena itulah untuk kasus per kasus peran Roh Kudus, adalah Inspirasi Khusus yang tidak bisa digeneralisasi

Kalau digeneralisasi menjadi sinkritisme dan mistis

Didalah katekismus yg dikutip oleh situs ini dituliskan:
Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:
Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci
Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:
1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.

Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.

Tanggapan saya:

Pengajaran rasul-rasul tentang apa? Tentang mereka sendiri yang harus dituruti? Tentang tradisi suci? (belum disepakati saat itu) Tentang Magisterium? (belum ada saat itu). Tentang Bunda Maria? (masih hidup pada saat itu) Tidak tentang semua diatas itu. Tetapi tentang pengajaran KRISTUS YESUS. Karena itu Sola Srciptura adalah sangat sesuai dengan Ajaran Kitab Suci. Yang tidak ada mengajarkan tradisi suci, magisterium dan bunda Maria. Karena tidak perlu, yang perlu dan penting; Hanya YESUS KRISTUS saja

Tentang Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan:
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)
2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran KRISTUS terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh YESUS, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)

Tanggapan saya:
pengertian ayat itu secara logika umum masuk akal

Mengapa?

Jangankan Tuhan YESUS Saya ambil contoh Gus Dur aja deh
Biografi Gus Dur, kalau mau ditulis detik demi detik, menit demi menit, bisa berjuta halaman
Kalau semua yang dilakukan Gus Dur dicatat secara presisi Karena itu Biografi Gus Dur hanya memuat hal2 yang penting, unik menurut penulisnya Alkitab bukanlah buku biografi Tuhan YESUS

Melainkan Buku Kehidupan karena dan oleh Tuhan YESUS Yang sangat penting2 saja yang ditulis
Kemudian tentang baik secara lisan yang diajarkan itu Pasti tentang KRISTUS YESUS
Bukan tentang Maria, Tradisi Suci dan Magisterium, yang baru muncul belakangan
Kalaupun hal tersebut dianggap penting Seperti yang sis katakan Roh Kudus akan secara eksplisit menyatakan di Alkitab, bahwa kita bisa berdoa kepada Bunda Maria yang adalah Bunda Allah
Tetapi tidak ada sama sekali ayat itu di Perjanjian Baru

Situs ini menulis:
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan YESUS yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

Tanggapan saya:
Act 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan YESUS, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Ibu Ingrid..

Ayat itu berbicara contoh kepada jemaat, Contoh apa?
Act 20:34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.Contoh untuk tidak hanya berkumpul memuji Tuhan terus dan mengantungkan hidup dan kebutuhan keseharian pada jemaat lain yang kaya
Artinya apa ; ayat itu menegur jemaat untuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dan membantu orang lain Bukan soal Tradisi Suci Walaupun mungkin perbuatan menolong orang lain itu ditradisikan, tapi sekali lagi bukan tradisi suci.

Situs ini menuliskan Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya :
Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa YESUS adalah sungguh- sungguh Tuhan.

Tanggapan saya:
Mengenai otoritas untuk menginterprestasikannya tidak terbatas pada rasul-rasul saja, namun konteksnya berbicara tentang kedewasaan rohani

Heb 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

Untuk golongan yang masih butuh “susu” jelas mereka memang harus dibimbing agar suatu saat nanti bisa untuk “makanan keras”

Dan otoritas itu bukan bersifat primodial, dari Murid ke Murid ke Murid. Kalau begitu namanya bukan Kerajaan KRISTUS, melainkan Kerajaan Murid KRISTUS sebagaimana Rasul Paulus dulunya “rasul” dari seberang namun dipilih menjadi Rasul KRISTUS

Situs ini menulis KRISTUS memberikan otoritas kepada Gereja:
KRISTUS memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan KRISTUS oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, KRISTUS memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

Tanggapan saya:

Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Batu karang ini bagi Protest-an Adalah KRISTUS bukan Petrus

(ini sudah pernah dan sedang dibahas bukan?)

Dan tidak tertuang dengan jelas mengenai Magisterium

Joh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, Penolong yang lain adalah Roh Kudus

Dan kalau magisterium itu bertentangan dengan Firman Tuhan bagaimana?

Situs ini menuliskan Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat: contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan KRISTUS sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut KRISTUS (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh KRISTUS dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran KRISTUS.

Tanggapan saya:
kalau mengenai Sunat bagi bangsa non Yahudi sudah dijelaskan oleh Rasul Paulus, tidak perlu, kan menjadi kasus besar sampai krisis, berarti ada mis koneksi di jemaat tersebut terhadap apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus

Dan kasus tersebut tidak bisa menjadi generalisasi bagi tegaknya magisterium,

apalagi mengenai pencitraan berlebihan kepada Bunda Maria, sampai dengan surat Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa)

Situs ini menuliskan Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) KRISTUS mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh KRISTUS untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.
Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. KRISTUS itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (”when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.

Tanggapan saya:

KRISTUS tidak pernah mempercayakan gereja untuk mengajar dan menafsirkan semua Firman-Nya, gereja itu adalah jemaat atau mempelai KRISTUS. Karena itu KRISTUS sendiri yang mengajar mempelai-Nya melalui peran penolong lain yaitu Roh Kudus. The Word of God bukan tradisi tetapi FIRMAN ALLAH itu sendiri.

Situs ini menuliskan Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja: Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan KRISTUS dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451).
Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
YESUS tidak mendirikan gereja yang berdasarkan pada Alkitab melainkan sebaliknya Gereja adalah Bunda dari Alkitab. YESUS yang memilih sendiri para rasul dan siapa yang akan memimpin gereja-Nya, Mat 16:18-19, YESUS memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus dan YESUS berjanji untuk menyertai gereja- Nya hingga akhir jaman (Mat 28:20).

Tanggapan saya:
Sekali lagi Ibu Inggrid yang baik, KRISTUS datang ke bumi bukan untuk mendirikan Gereja, gereja itu adalah kumpulan jemaat yang secara “dua arah” mengelola dirinya berdasarkan Roh & Kebenaran

Tradisi suci itu, tidak ada sebelum KRISTUS datang, adanya setelah berpuluhpuluh tahun ketika generasi Rasul KRISTUS tiada, karena bapak2 Gereja. Itu yang di protest oleh LUTHER. Sola Scriptura memang tidak sesuai dengan sejarah Gereja. Karena kalau mengikuti sejarah gereja. Yang sempat gelap itu. Saya setuju Karena Sola Scriptura melebihi sejarah Gereja yang sempat gelap itu sendiri.

Dan hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Magisterium dan Tradisi Suci, melakukan penyimpangan yang tercatat pada sejarah Gereja. Dengan menghukum mati orang-orang demi kekuasaan atas nama Magisterium dan Tradisi Suci, yang mengatakan pengetahuan2 baru, karena takut kekuasaannya beralih. Dan magisterium membuka celah yang lebar untuk “monopoli” oleh gereja, bahwa jemaat awam tidak boleh membaca Alkitab secara langsung. Sejarah gereja yang gelap itu telah terukir, bukan karena tidak berdayanya Roh Kudus, namun karena manusia punya kecenderungan;

Power tends to corrupt, absolute power absolute corrupt. Karena itulah magisterium membuka celah bagi oknum gereja untuk mengukir sejarah “penyimpangan gereja”. Sehingga harus dicerahkan oleh kaum Protestan dan Humanis

Dan saya ingin menanggapi jg tulisan yang saya baca yg berbunyi demikian:
Karena gereja lah yang mengkanon KS, tentu gereja mengerti dan mengetahui konteks keseluruhan KS mulai dari kitab Kejadian s/d kitab Wahyu. Logika meneriakkan dalam diri setiap pembaca Kitab Suci bahwa bila kita percaya akan keuTuhan dan kebenaran isi KS sebagai Firman Tuhan, maka kita telah menaruh kepercayaan kepada yang mengadakan dan mengkanonkan Kitab Suci yaitu Gereja Katolik.
Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja
Doktrin sola scriptura sendiri tidak terdapat dalam Alkitab dan tidak pernah dikenal sebelum Martin Luther memperkenalkannya. Bagaimana mungkin mempercayai sebuah doktrin yang percaya penuh hanya kepada Alkitab bila doktrin seperti itu sendiri tidak terdapat dalam Alkitab ? Ini menyatakan bahwa ajaran tersebut telah berkontradiksi di dalam dirinya sendiri dan tidak dapat dipercaya. Suatu ajaran yang benar dan tertanam di dalam Alkitab dapat dipercaya, dan yang terjadi adalah sebaliknya. Alkitab sendiri telah membantah tuntutan doktrin sola scriptura dengan sangat tegas dan pasti, dan malah menunjukkan bahwa sola scriptura adalah buatan manusia ( Martin Luther ) dan tidak terdapat dalam Alkitab

Tangapan saya:
Saya sarankan sis untuk nonton DVD Marthin Luther

Tidak bisa sepihak saja kan. Justru buat saya pribadi Kontribusi Rasul Marthin Luther, membawa Kekristenan kepada “jalur-Nya”. Karena Rasul Marthin Luther, orang yang takut akan Tuhan, saleh dan diilhami untuk mengembalikan ajaran KRISTUS seperti semula. Mengenai perpecahan gereja tidak bisa disalahkan kepada Rasul Marthin Luther menginggat sejarah mencatan prilaku gereja waktu itu. Sepertinya justru gerejalah yang memecah diri nya dari KRISTUS

Sedangkan Rasul Martin Luther mengajak umat Kristen untuk mengembalikan diri kepada KRISTUS. Dengan Protesnya kepada ajaran Gereja yang semakin menyimpang. Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) ….

Suatu kekejian bagi kebenaran Firman Tuhan. Dan Rasul Martin Luther adalah suara Kenabian disaat yang gelap itu. Seperti nabi Elia ditenggah nabi-nabi Izebel.

Demikan segala pertanyaan datang dari saudara Protestan kepada Ibu, sebagai seorang Katolik bisakah ibu menjelaskan dan menjawab pertanyaan2 saya dan keberatan2 saya. Semua ini bukan maksud menguji iman Ibu atau menyerang Gereja Katolik tetapi didasari semangat untuk berbagi kebenaran. Saya ingin ibu dapat menjelaskan atau mempertanggungjawabkan ke Katolikan ibu kepada saya jika ibu berkenan. Mohon maaf yah ibu kalau2 tulisan ini dirasakan menyerang iman ibu. Tetapi saya akan berdoa bagi ibu agar ibu dapat menemukan kebenaranan sejati dalam TUHAN setelah diskusi bersama saya.

Salam Kasih

Jawaban:

Shalom Lisa,

Berikut ini saya menanggapi pernyataan anda (kutipan langsung pernyataan anda saya cetak dalam warna biru):

1. Anda mengatakan bahwa murid Yesus bisa salah dengan mengambil contoh Yudas Iskariot; atau orang yang terdekat dengan Tuhan- pun bisa salah seperti Nabi Daud. Ya memang benar demikian, Gereja Katolik juga mengakuinya. Maka, demikian juga halnya dengan Petrus dan para rasul lainnya: Ya benar mereka juga berdosa, namun Tuhan Yesus telah berjanji kepada Rasul Petrus, bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya atas rasul Petrus, dan akan menjaganya sendiri sehingga alam maut tidak menguasainya, sehingga tidak mungkin sesat sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18. Mat 28:19-20). Kepada Petrus, Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk menentukan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan dalam hal iman dan moral, yang menjadi arti dari istilah “apa yang kauikat di dunia akan terikat di surga, apa yang kau lepas di dunia akan terlepas di surga.” (Mat 20: 19). Maka “hal tidak mungkin salah” ini hanya bersangkutan ketika Petrus (dan para penerusnya) mengajar dalam hal iman dan moral, dan tidak untuk diartikan bahwa sebagai manusia mereka tidak mungkin salah/ berdosa. Silakan membaca mengenai topik Infalibilitas ini di sini, silakan klik.

Mengenai ayat 1 Kor 1:12-13: memang benar pada saat itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus yang terpecah-pecah, tetapi ayat itu tidak untuk mengecilkan Kefas (Petrus) sebagai pemimpin Gereja yang ditunjuk oleh Yesus. Sebab faktanya, saat Paulus ber-kontak dengan Gereja para Rasul, yang dikunjunginya adalah Rasul Petrus, yang disebutnya sebagai Kefas (lih. Gal 1:16-19), sebab Rasul Paulus mengenali kedudukan istimewa Rasul Petrus yang ditandai dengan namanya.

2. Dan “kritik” saya terhadap Bapak Gereja itu, adalah pencitraan Bunda Maria, hampir sama seperti Tuhan, padahal dia adalah manusia biasa, sama seperti saya dan semua orang yang pernah dilahirkan dari benih manusia. Dan mengenai tugas pengembalaan yg diberikan, apakah termasuk untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan? Kalau tidak seperti Tuhan mengapa berdoa kepada nya?

Sepengetahuan saya, tidak ada tulisan Bapa Gereja yang mencitrakan Bunda Maria sama seperti Tuhan. Silakan anda mengutip tulisan mana yang dimaksud, agar dapat kita diskusikan di sini. Sebab Gereja Katolik tidak pernah menganggap Bunda Maria sebagai Tuhan atau sama dengan Tuhan. Ini adalah anggapan yang sangat keliru. Maka tugas penggembalaan dari para Bapa Gereja tidak mungkin untuk mencitrakan Bunda Maria seperti Tuhan, sebab yang dikatakan oleh Bapa Gereja semua tentang Bunda Maria adalah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan, (dan bukan malah mengurangi kemuliaan-Nya), dengan tindakannya untuk menguduskan ciptaan-Nya untuk melahirkan Kristus. Maria menjadi teladan/ model bagi kita semua, sebab kita dengan cara yang berbeda dipanggil juga untuk menghadirkan Kristus ke dunia. Maka kitapun dipanggil untuk hidup kudus  seperti Bunda Maria, dan jika kita tahan uji dan setia mengasihi Tuhan, maka Tuhan menjanjikan bahwa kitapun akan beroleh mahkota kehidupan (lih. Yak 1:12), seperti Bunda Maria. Jadi Bunda Maria bukannya di-tuhankan, tetapi Tuhan mau menunjukkan kepada kita manusia, akan apa yang akan dikaruniakannya kepada kita (tentu dengan derajat yang berbeda dengan Bunda Maria) jika kita setia beriman kepada-Nya.

Beberapa contoh pengajaran Bapa Gereja tentang Maria adalah antara lain bahwa Maria adalah Hawa yang baru (terutama diajarkan oleh St. Irenaeus), Maria adalah Bunda Allah karena Yesus yang dilahirkannya adalah sungguh manusia namun juga sungguh Allah (St. Gregorius Nazianza dan St. Cyril dari Yerusalem), Maria dikandung tanpa noda (St. Ephraem, St. Agustinus), Maria adalah tetap perawan (St. Irenaeus, Tertullian, St. Agustinus, St. Jerome, St. Petrus Kristologus, St. Leo Agung, St. Yohanes Damaskus). Dari pengajaran ini manakah yang mencitrakannya sebagai Tuhan? Anda dapat saja mengkritik para Bapa Gereja, namun kalau saya boleh bertanya pada anda, kira-kira siapa yang dapat mengetahui lebih baik ajaran Kristus dan para rasul: kita yang hidup terpisah sekian generasi dengan para rasul ataukah para Bapa Gereja itu yang mempunyai hubungan dengan para rasul, entah sebagai murid mereka atau sebagai murid dari penerus mereka? Kita yang menafsirkan sendiri Alkitab berdasar pemahaman kita, atau para penerus Rasul Petrus yang kepadanya Kristus telah berjanji akan menghindari dari kesesatan, jika kita percaya, baik kita maupun para rasul sama-sama dibimbing Roh Kudus?

Mengenai definisi doa, Gereja Katolik mengambil definisi dari pengajaran St. Therese kanak-kanak Yesus, yang mengatakan (lihat KGK 2558-2559): “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan“.

Dan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa di Surga, Allah dikelilingi oleh para kudus-Nya (lihat Why 4, 7) dan termasuk juga Bunda Maria sebagai Bunda Kristus dan Bunda Gereja (karena telah diberikan oleh Kristus sebagai Bunda kita semua para pengikut Kristus (lih. Yoh 19: 26-27)), maka dengan pandangan ke Surga ini, kita dapat memohon dukungan doa dari Bunda Maria agar kitapun dapat sampai ke surga. Kita mengetahui bahwa di surga para kudus mendoakan kita yang masih berziarah di dunia, dan Tuhan memang mengizinkan mereka untuk mendoakan kita, karena pada dasarnya ikatan kasih persaudaraan umat beriman dalam Kristus tidak terputus oleh maut (lih. Rom 8:38-39), karena Kristus telah mengalahkan kuasa maut. Namun tentu, pengantaraan doa Maria dan para kudus itu tidak dapat berdiri sendiri di luar Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (1 Tim 2:4), dan selalu ada dalam kesatuan dengan Pengantaraan Kristus dan mendukung Pengantaraan Kristus kepada Allah Bapa. Sebab kita semua orang beriman adalah anggota Tubuh Kristus (Ef 5:22-33, 1 Kor 12:12), sehingga seperti Tubuh yang selalu dalam kesatuan dengan Kepalanya dan mendukung Kepalanya, maka demikianlah persekutuan para orang kudus selalu mendukung Kristus. Jadi kedudukan mereka tidak pernah sama dengan Tuhan Yesus, dan yang mengabulkan doa tetaplah Tuhan saja. Namun, para kudus itu memang dapat mendukung doa-doa kita, karena mereka adalah orang-orang yang sudah dibenarkan Tuhan dan telah bersatu dengan Tuhan di surga, dan karenanya, doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).

3. Anda tidak setuju akan ketiga misi Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja, mungkin karena anda memisahkan antara ketiganya, seolah Kristus adalah (hanya) Nabi saja atau Imam saja atau Raja saja. Sebab jika demikian, memang benar, Kristus tidak mungkin hanya Nabi, sebab Ia adalah Putera Allah. Namun sebagai Putera Allah bukan berarti Kristus tidak dapat menjalankan peran kenabi-an, bahkan sebaliknya, Ia melakukannya sampai ke tingkat yang sempurna. Maka yang dibicarakan di sini adalah misi-Nya sebagai gabungan sekaligus antara peran Nabi, Imam dan Raja dalam arti yang sempurna, tertinggi dan terbesar. Peran Yesus sebagai Nabi yang terbesar (lih. Luk 7:16) di sini maksudnya adalah Kristus memberitakan Kabar-Gembira Kerajaan Allah (lih. Luk 4:18-21), sebab Ia sendiri adalah penggenapan Kabar Gembira tersebut yang telah dinubuatkan para nabi (lih. Luk 4:21). Sebab Kristus tidak saja merangkum kesepuluh perintah Allah dalam perintah kasih kepada Allah dan sesama (lih. Mat 22:34-40; Mrk 12: 28-34; Luk 10:25-28), maupun delapan Sabda Bahagia (lih Mat 5:1-12, Luk 6:20-23), namun juga memberitakan kebenaran tentang Diri-Nya sendiri sebagai “jalan, kebenaran dan hidup” yang oleh-Nya semua orang sampai kepada Allah Bapa (Yoh 14:6). Peran Imam Agung di sini adalah peran Kristus sebagai penghubung/ Pengantara antara Allah dan manusia, untuk menguduskan umat-Nya, yang mencapai puncaknya dengan kurban diri-Nya sendiri di kayu salib untuk mendamaikan menusia dengan Allah (lih. Ibr 2:17; 3:14-16; 5:5-10; Ibr 7 dan 8). Dan peran Raja di sini maksudnya adalah Kristus yang menjadi Raja/ pemimpin atas segala sesuatu baik di surga maupun di bumi (lih. Luk 19:38; 1 Kor 15:28; Yoh 12:32; Flp 2:10), yang kemuliaan-Nya diperoleh dari merendahkan Diri-Nya menjadi manusia, dalam rupa seorang hamba, yang taat sampai mati di kayu salib. Maka misi Kristus sebagai Nabi, Iman dan Raja mempunyai dasar Alkitabiah.

Setelah kenaikan-Nya ke surga, ketiga peran Kristus ini memang dibagikan kepada para murid-Nya, yaitu kita semua. Sebagai ‘nabi’, kita dipanggil untuk menerima Injil, dan mewartakannya dengan perkataan dan perbuatan, dan untuk menyinari kehidupan kita sehari-hari dengan terang Injil. Sebagai ‘imam’, kita dipanggil untuk mempersembahkan segala doa dan perbuatan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan. Dan sebagai ‘raja’, kita dipanggil untuk selalu berjuang untuk melawan kuasa dosa, dan untuk melayani sesama seperti teladan Kristus.

Jadi harap dimengerti di sini bahwa misi kenabian Yesus bukan untuk diartikan bahwa Yesus hanyalah seorang nabi. Ini pengertian yang keliru! Gereja Katolik mengajarkan bahwa sebagai Putera Allah, Kristus menjalankan ketiga peran sebagai Nabi, Imam, dan Raja dalam tingkat yang sempurna, dan ketiga peran ini tidak untuk dilihat terpisah satu sama lain, tetapi bersama-sama membentuk satu kesatuan misi Kristus.

4. Alkitab adalah KEBENARAN TUHAN, mengenai KRISTUS YESUS saja, tidak ada tentang citra Bunda Maria diajarkan di Alkitab….. Rencana keselamatanNya, bukan hanya diberitahukan, melainkan sudah digenapi. Dan dalam KEBENARAN FIRMAN tidak disebut mengenai Tradisi Suci dan Magisterium, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Ketiga hal tersebut bisa dipisahkan, mana yang dari Tuhan, mana yang “buatan” manusia. Karena itu inti dari PROTEST-AN.

Kalau anda percaya akan Alkitab, anda seharusnya percaya akan ayat yang saya sampaikan bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15). Alkitab di sini jelas menyatakannya bahwa yang menjadi dasar kebenaran bukan Alkitab itu sendiri melainkan Gereja. Sebab oleh Gereja-lah Alkitab itu ada. Maka kita tidak dapat menutup diri akan kebenaran ini bahwa Gereja sudah ada lebih dahulu dari Alkitab, dan Alkitab tidak terpisahkan dari Gereja. Alkitab diberikan kepada Gereja, dan Gereja-lah yang berhak untuk menginterpretasikannya. Itulah sebabnya jika Alkitab diberikan kepada orang lain yang tak beriman kepada Yesus, mereka dapat menginterpretasikannya dengan sangat keliru, walau mereka membaca Alkitab yang sama.

Maka di sini peran Tradisi Suci dan Magisterium adalah penting dan tak terpisahkan dari Kitab Suci. Tradisi Suci itu ada dalam Kitab Suci, yaitu ketika Rasul Paulus mengajarkan,  “sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2 Tes 2:15). Ajaran lisan dari para rasul inilah yang yang disebut sebagai Tradisi Suci. Memang perkataan eksplisit Tradisi Suci tidak ada dalam Alkitab, tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa pengertian tersebut ada dan diajarkan dalam Kitab Suci, seperti halnya kata Inkarnasi dan Trinitas tidak ada di dalam Kitab Suci namun kita mengetahui maksudnya dan prinsip ajarannya tertulis di dalam Alkitab.

Sedang Magisterium yang artinya adalah Wewenang Mengajar itu juga diajarkan di dalam Kitab Suci, di mana Kristus mempercayakan para rasul-Nya untuk mengajar, dan menggembalakan kawanan umat-Nya; dan terutama perintah ini diberikan kepada Petrus yang ditunjuk Kristus sebagai batu karang tempat Ia mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18; Yoh 21:15-19). Secara khusus topik ini akan saya bahas di artikel terpisah. Namun untuk pengertian umum Magisterium, silakan klik di sini.

5.  Tradisi suci apa yang dari TUHAN YESUS?

Maka mengambil pengertian dari 2 Tes 2:15 tersebut, maka Tradisi Suci adalah pengajaran lisan para rasul yang mereka peroleh dari Kristus ataupun dari Roh Kudus. Termasuk beberapa yang penting adalah:

1. Perjamuan Kudus (yang disebut Ekaristi) dan kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. Tentu dasarnya adalah Kitab Suci seperti yang disebutkan dalam Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23; 1 Kor 11:23-25; Yoh 6:25-59), namun tata cara ibadahnya diperoleh dari ajaran para Bapa Gereja, yang mereka terima dari para rasul. Namun jika kita mempelajari tulisan Bapa Gereja kita akan tahu bahwa bahkan urutan ibadah jemaat awal itu sangat menyerupai Misa Kudus di dalam Gereja Katolik yang sekarang. Silakan anda membaca sejarah tentang Ekaristi, silakan klik, dan pengertian Ekaristi, silakan klik.

2. Pembaptisan, makna dan pentingnya bagi keselamatan. Diskusi mengenai Pembaptisan ini sudah pernah dibahas panjang lebar di situs ini, silakan klik.

3. Persekutuan orang kudus yang tak terpisahkan oleh maut. Diskusinya pernah dituliskan di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik

4. Peran Bunda Maria dalam rencana keselamatan, yang dapat dibaca di artikel-artikel:

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria mengambil peran istimewa di dalam Keselamatan manusia, sebab ia bekerja sama dengan Allah untuk mendatangkan Kristus Sang Penyelamat di dunia. Untuk tujuan ini, Allah mempersiapkan Bunda Maria secara khusus: Ia dikandung tanpa noda, ia tetap perawan selamanya, karena tugasnya sebagai Bunda Allah. Setelah Bunda Maria menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, Ia diangkat ke surga, jiwa dan raganya untuk masuk ke dalam kemuliaan surga. Ia menjadi teladan iman kita dan mendukung Pengantaraan Kristus untuk membawa manusia kepada Allah

dan Tanya Jawab di situs ini:

Tanggapan mengenai ajaran Bapa Gereja tentang Maria= Hawa baru – Jan 15, 2010
Sekali lagi kesalahpahaman tentang Bunda Maria – Jan 15, 2010
Apakah umat Katolik harus berdoa melalui Bunda Maria? – Dec 7, 2009
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga – Sep 16, 2009
Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus? – Aug 19, 2009
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria – Jun 17, 2009
Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga? – Jun 9, 2009
Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab? – Jun 5, 2009
Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain? – May 30, 2009
Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian – Dec 27, 2008
Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda? – Dec 27, 2008
Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo – Dec 23, 2008

5. Purgatory/ Api Penyucian, dasar Alkitabnya dan pengajaran Bapa Gereja, silakan klik

6. Kristus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus, (mohon kesabarannya untuk artikel khusus mengenai hal ini) sebagai sakramen keselamatan.

7. Sakramen- sakramen yang diinstitusikan oleh Tuhan Yesus, seperti yang sudah pernah dibahas di situs ini.
Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.

6. …Bukankah Tradisi itu timbul dari penafsiran dari Kitab Suci? Berarti hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi manifestasi yang keliru mengenai Tradisi Suci Begitu pula Magisterium, bukankan hanya Kitab Suci yang bisa mengkoreksi Magisterium. Apa Kitab Suci tidak bisa salah secara absolut? Ya karena berasal dari FIRMAN, yang tertuang di Kitab Suci. Apa Tradisi Suci tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab Suci. Apa Magisterium tidak bisa salah secara absolut? Tidak, karena Magisterium adalah “Turunan” dari Kitab Suci berdasarkan interprestasi, ketika mencitrakan Bunda Maria secara berlebihan, disitu pangkal soalnya

Agaknya pemahaman anda berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Tradisi Suci adalah “Turunan” dari Kitab suci. Tradisi Suci bukan sesuatu yang ada sebagai akibat dari Kitab Suci, melainkan sebaliknya, Tradisi Suci sudah ada terlebih dahulu dari Kitab Suci, dan inilah yang seharusnya secara obyektif anda ketahui, karena sejarah dan akal sehat menunjukkan demikian. Karena Kitab Suci tidak langsung turun dari surga tetapi dituliskan oleh orang-orang pilihan Allah atas ilham Roh Kudus. Namun pada jaman para rasul banyak sekali orang yang menulis kitab-kitab bahkan yang menyampaikan ajaran yang bertentangan dengan ajaran Kristus, seperti ajaran Gnostik dan Docetisme. Oleh karena itu, Tradisi Suci yang disampaikan oleh Bapa Gereja-lah yang menentukan keempat Injil: yaitu yang ditulis oleh Rasul Kristus (Matius dan Yohanes) dan murid dari Rasul Kristus (Markus- murid Petrus, dan Lukas- murid Paulus). Tradisi Suci pulalah yang menentukan kitab-kitab lainnya, yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, untuk dijadikan bagian dari Kitab Suci. Jadi di sini, jelas oleh Tradisi Sucilah, Kitab Suci dilahirkan. Kalau Tradisi Suci adalah sumber tulisan para Bapa Gereja, Magisterium adalah orang-orangnya yang menentukan, yaitu Paus dan para Uskup dalam kesatuan dengannya.

Saya sudah memberikan ketiga definisi (Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium) pada artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian 3, sesungguhnya jelas bahwa ketiganya berpusat pada Kristus. Tradisi Suci memang diperlukan untuk melengkapi penjelasan Kitab Suci, namun bukan berarti kurang penting dari Kitab Suci. Sedangkan Magisterium itu ada untuk melayani Kitab Suci, yaitu agar umat dapat memperoleh pengertian yang benar tentang ajaran yang ada dalam Kitab Suci.

7. Mengomentari definisi Tradisi Suci sebagai ajaran lisan dari Kristus dan para rasul, anda berkata demikian: Sepertinya terjadi ambigu posisi sebagai penerima dan penyampai Firman atau sebagai penerima dan pelaku Firman. Anda mengambil kasus Hosea 1:2 sebagai contoh.

Terus terang saya tidak mengerti mengapa anda mengambil contoh tersebut untuk menjelaskan keberatan anda. Tentang Hosea 1:2, umat Katolik-pun setuju, itu adalah kisah nabi Hosea, yang diperintahkan oleh Tuhan untuk mengajar umat Israel dengan menjadikan dirinya dan wanita sundal yang dinikahinya sebagai contoh yang mewakili Tuhan dan bangsa Israel yang ‘sundal’ di mata Tuhan. Maka Tuhan memerintahkan Nabi Hosea untuk menjadi suami yang setia, meskipun istrinya mengkhianati, untuk mengajarkan bahwa Tuhan selalu setia, walaupun bangsa pilihan-Nya mengkhianatinya. Namun yang disampaikan secara lisan di sini adalah perkataan Tuhan sendiri kepada Hosea, dan bukan ini maksud dari Tradisi Suci. Tradisi Suci adalah ajaran lisan dari Kristus Sang Sabda, yang perkataan dan teladan-Nya tak terbatas oleh buku (lih. Yoh 21:25). Pengajaran dan teladan Kristus inilah yang diajarkan secara lisan dan tulisan oleh para rasul: ajaran yang tertulis termasuk dalam Kitab Suci, sedangkan yang tidak tertulis termasuk dalam Tradisi Suci.

8. Dari pertanyaan anda, anda mempertentangkan Tradisi Suci dan Magisterium dengan Kitab Suci, dan bahkan memperkirakan bahwa para Bapa Gereja itu ‘mengarang’ tentang diri mereka sendiri, dan ini tidak benar. Anda menulis: Pengajaran rasul-rasul tentang apa? Tentang mereka sendiri yang harus dituruti? Tentang tradisi suci? (belum disepakati saat itu) Tentang Magisterium? (belum ada saat itu) Tentang Bunda Maria? (masih hidup pada saat itu) Tidak tentang semua diatas itu. Tetapi tentang pengajaran KRISTUS YESUS. Karena itu Sola Scriptura adalah sangat sesuai dengan Ajaran Kitab Suci. Yang tidak ada mengajarkan tradisi suci, magisterium dan bunda Maria. Karena tidak perlu, yang perlu dan penting; hanya YESUS KRISTUS saja.

Tradisi Suci ada saat Yesus mulai mengajar, karena Tradisi Suci itu artinya ajaran lisan dari Yesus maupun dari para rasul. Tentang Magisterium juga sudah ada sejak Rasul Petrus ditunjuk oleh Yesus sebagai batu karang tempat Gereja-Nya didirikan, dan ia diberi wewenang untuk mengajar (Mat 16:18-19) yang dimanifestasikan pada hari Pentakosta pada saat Rasul Petrus mulai memimpin dan mengajar Gereja (lih. Kis 2:14-).

Mengenai Kis 20:35 yang saya kutip sebagai contoh peran Tradisi Suci maksudnya adalah karena perkataan lisan Yesus yang dikutip di sana: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” itu tidak tertulis di ke- empat Injil. Jadi hal itu menunjukkan bahwa ada ajaran Yesus yang tidak sempat ditulis di Injil, namun yang kemudian diteruskan oleh para rasul, dan inilah definisi dari Tradisi Suci. Jadi maksudnya bukan “perbuatan memberi” itu yang disebut Tradisi Suci, tetapi perkataan Yesus yang lisan itu yang tidak tertulis di Injil itulah yang disebut Tradisi Suci. Bahwa kemudian ajaran lisan ini dituliskan dan menjadi bagian dari Kitab Suci dalam Kisah para Rasul, itu menyatakan bahwa: 1) Ada perkataan- perkataan lisan Yesus yang tidak tertulis dalam Injil, dan baru diajarkan kemudian oleh para rasul; 2) dengan demikian Kitab Suci itu tidak terpisahkan dari Tradisi Suci demikian pula sebaliknya.

9. Mengenai otoritas untuk menginterprestasikannya tidak terbatas pada rasul-rasul saja, namun konteksnya berbicara tentang kedewasaan rohani (Heb 5:12) Untuk golongan yang masih butuh “susu” jelas mereka memang harus dibimbing agar suatu saat nanti bisa untuk “makanan keras.”

Dari ucapan ini, sepertinya tersirat bahwa anda mengatakan bahwa otoritas menginterpretasikan Kitab Suci hanya diperlukan bagi umat yang masih ‘minum susu’ dan belum bisa makan ‘makanan keras’. Jadi kalau mau ditarik lebih jauh, seolah anda ingin mengatakan bahwa yang “sudah bisa makan makanan keras” tidak perlu otoritas, atau yang masih perlu otoritas adalah yang masih “lemah”. Ini sebenarnya tidak benar, sebab jika anda bandingkan sendiri, otoritas Gereja Katolik, yang justru demi mempertahankan ajaran Kitab Suci dan pengajaran para rasul, mengajarkan ajaran moral yang ‘keras’, contohnya seperti larangan kontrasepsi, larangan aborsi untuk alasan apapun, larangan perkawinan sesama jenis, larangan euthanasia. Sekarang sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian gereja-gereja Protestan mulai memperbolehkan hal- hal tersebut, terutama di Amerika.

10. Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Batu karang ini bagi Protest-an adalah KRISTUS bukan Petrus.

Gereja Katolik berdasarkan pengajaran Bapa Gereja mengajarkan bahwa Batu Karang itu dapat diartikan sebagai keduanya: Petrus (arti literal) dan iman Petrus (arti figuratif/alegoris) yang menyebabkan Tuhan Yesus memilihnya. Jika kita membaca tulisan Bapa Gereja, kedua arti ini muncul, dan para Bapa Gereja yang mengartikan figuratif juga tidak pernah menolak arti literalnya, bahwa “Batu Karang/ Kefas” tersebut tetap ditujukan kepada Rasul Petrus. Jadi memilih arti figuratifnya saja tanpa menerima arti literal/ harafiahnya sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja. Padahal interpretasi demikian begitu konsisten diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak abad- abad awal, dan sesuai dengan bukti sejarah yang ada. Menolak interpretasi ini sama saja menganggap bahwa ajaran para rasul dan Bapa Gereja itu salah, dan menolak fakta sejarah. Sekali lagi, diperlukan kerendahan hati untuk memeriksa diri, adakah kita lebih memahami daripada para rasul dan Bapa Gereja dalam hal ini?

Saya akan menuliskan sendiri mengenai topik ini di artikel terpisah.

11. Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, Penolong yang lain adalah Roh Kudus. Dan kalau magisterium itu bertentangan dengan Firman Tuhan bagaimana?

Jika anda mempelajari ajaran Magisterium Gereja Katolik dengan sikap yang lebih terbuka, maka anda akan mengetahui bahwa Magisterium Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Silakan melihat pengajaran Konsili Vatikan II yang kami sediakan di situs ini, dan anda akan melihat banyaknya acuan ayat Kitab Suci yang dipakai sebagai dasar ajaran Magisterium Gereja Katolik, dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Silakan anda membacanya.

12. Kalau mengenai Sunat bagi bangsa non Yahudi sudah dijelaskan oleh Rasul Paulus, tidak perlu, kan menjadi kasus besar sampai krisis, berarti ada mis koneksi di jemaat tersebut terhadap apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus. Dan kasus tersebut tidak bisa menjadi generalisasi bagi tegaknya magisterium, apalagi mengenai pencitraan berlebihan kepada Bunda Maria, sampai dengan surat Apalagi penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa).

Jika anda hidup pada jaman para rasul, anda akan mengetahui bahwa kasus sunat pada saat itu merupakan kasus yang besar dan penting. Keadaan Gereja awal memang tidak bisa disamakan dengan keadaan Gereja sekarang, namun pada saat itu, konflik yang terjadi tentang perlu tidaknya umat bangsa lain (non- Yahudi) disunat, itu merupakan sesuatu yang penting untuk ditentukan. Dan fakta menunjukkan bahwa Rasul Petruslah yang mengakhiri soal tersebut dengan perkataannya di Sidang Yerusalem yang menyatakan tidak perlu-nya sunat bagi bangsa-bangsa lain yang mau menjadi pengikut Kristus (lih. Kis 15). Ini adalah bukti bahwa di dalam Kitab Suci, Magisterium (yaitu Petrus dan para uskup dalam persekutuan dengannya) mempunyai wewenang mengajar dalam Gereja.

Mengenai pengajaran mengenai Maria, telah saya sebutkan link-nya di atas, dan tentang Indulgensi pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Seandainya anda menerima otoritas pengajaran Bapa Gereja, maka tidak sulit untuk menerima ajaran mereka, sebab semua ada dasarnya dari Kitab Suci.Mengenai penjualan surat Indulgensia, itu sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

13. KRISTUS tidak pernah mempercayakan gereja untuk mengajar dan menafsirkan semua Firman-Nya, gereja itu adalah jemaat atau mempelai KRISTUS. Karena itu KRISTUS sendiri yang mengajar mempelai-Nya melalui peran penolong lain yaitu Roh Kudus. The Word of God bukan tradisi tetapi FIRMAN ALLAH itu sendiri.

Jika anda merenungkan kembali ayat Mat 28:19-20, maka anda akan mengetahui bahwa tugas mengajarkan segala perintah-perintah-Nya kepada segala bangsa dipercayakan oleh Kristus kepada para rasul, dan itulah awal mula Gereja. Jadi tidak benar pernyataan anda bahwa Kristus tidak pernah mempercayakan Gereja untuk mengajar dan menafsirkan Firman-Nya. Benar bahwa Gereja adalah mempelai Kristus dan Tubuh Kristus. Dan memang Kristus mengajar mempelai-Nya dengan kuasa Roh Kudus. Namun justru untuk menjaga agar Tubuh-Nya selalu ada dalam kesatuan dengan-Nya, maka Kristus memberikan otoritas kepada Magisterium yang dipimpin oleh Roh Kudus-Nya, untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (lih. Mat 16:19) dalam hal iman dan moral, sesuai dengan ajaran-Nya. Jika anda menolak Magisterium, itu seolah anda mau mengatakan bahwa Magisterium itu tidak dipimpin oleh Roh Kudus, dan tiap orang yang menafsirkan Kitab Suci seturut pemahaman pribadi-nya itulah ‘yang dibimbing oleh Roh Kudus’. Namun faktanya, private interpretation ini menghasikan begitu banyaknya denominasi dalam gereja Protestan. Suatu permenungan adalah apakah dengan demikian pemahaman tiap-tiap orang itu sungguh dari Roh Kudus? Sebab mengapa jika Roh Kudusnya sama, pemahamannya berbeda-beda?

The Word of God itu Firman Allah, Gereja Katolik juga mengajarkan demikian. Namun penyampaiannya kepada kita adalah dengan dua cara: tertulis oleh inspirasi Roh Kudus, seperti yang ada dalam Kitab Suci; dan secara lisan, yaitu yang dikatakan oleh Yesus dan para rasul yang kemudian diteruskan (secara tertulis) oleh para Bapa Gereja oleh terang Roh Kudus.

14. KRISTUS datang ke bumi bukan untuk mendirikan Gereja, gereja itu adalah kumpulan jemaat yang secara “dua arah” mengelola dirinya berdasarkan Roh & Kebenaran. Tradisi suci itu, tidak ada sebelum KRISTUS datang, adanya setelah berpuluhpuluh tahun ketika generasi Rasul KRISTUS tiada, karena bapak2 Gereja.  Itu yang di protest oleh LUTHER.

Anda rupanya mempunyai definisi dan pengertian yang berbeda tentang Gereja dan Tradisi Suci. Yang membentuk Gereja adalah Kristus sendiri (lih Mat 16:18), walaupun anggotanya adalah semua umat beriman. Maka Gereja adalah pertama-tama karunia pemberian dari Allah dan terbentuk atas inisiatif Allah, dan bukannya manusia sendiri yang bisa mendirikannya, lalu mengatakan itu dari Tuhan. Justru karena didirikan pertama-tama oleh Allah, maka kita harus berusaha mengikuti kehendak Allah dan bukannya menjadikan Gereja sesuai dengan kehendak kita sendiri. Oleh karena itu, St. Agustinus mengajarkan bahwa Gereja yang sejati dikenali dari jalur apostolik, karena itu membuktikan kesetiaan mereka terhadap Tradisi para rasul yang mereka terima dari Kristus.

Tradisi Suci adalah ajaran lisan dari Yesus dan para rasul yang kemudian diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Tradisi Suci itu tidak ada sebelum Kristus datang. Para Bapa Gereja itulah yang menghubungkan kita dengan pengajaran para rasul, sehingga kita tidak dapat menyepelekan ajaran mereka. Ibaratnya kalau anda ingin mengenal kakek moyang anda dengan lebih baik, cara yang terbaik adalah dengan mencari informasi dari orang-orang yang mengenal kakek moyang anda yang hidup pada saat ia masih hidup, atau kepada orang- orang terdekatnya yang menuliskan tentang dia dalam surat/ buku harian mereka, daripada anda yang terpisah sekian generasi menutup diri dari semua informasi tersebut, dan mencoba ngira-ngira sendiri apakah yang pernah diajarkannya berdasarkan berita sejarah keluarga yang sampai kepada anda.

15. Sola Scriptura memang tidak sesuai dengan sejarah Gereja …… Karena Sola Scriptura melebihi sejarah Gereja yang sempat gelap itu sendiri. Dan hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa Magisterium dan Tradisi Suci, melakukan penyimpangan yang tercatat pada sejarah Gereja.

Jika ada penyimpangan di masa lalu, itu adalah karena penyimpangan pelaksanaan dari ajaran Magisterium, namun bukan dari ajaran Magisterium-nya atau Tradisi Suci-nya yang salah. Silakan anda menyebutkan topiknya yang anda pikir menyimpang, mari kita diskusikan lebih lanjut tentang hal ini secara terpisah. Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” bukan merupakan ajaran Kristus dalam Kitab Suci, sebab tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang menyatakan demikian. Agaknya kita harus membedakan di sini, bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bukan sejarah, dan karenanya memang tidak untuk disejajarkan dengan sejarah.

16. Rasul Martin Luther, membawa Kekristenan kepada “jalur-Nya”. Karena Rasul Marthin Luther, orang yang takut akan Tuhan, saleh dan diilhami untuk mengembalikan ajaran KRISTUS seperti semula. Mengenai perpecahan gereja Tidak bisa disalahkan kepada Rasul Martin Luther menginggat sejarah mencatat prilaku gereja waktu itu, Sepertinya justru gerejalah yang memecah diri nya dari KRISTUS….

Pandangan bahwa Martin Luther membawa Kekristenan ke jalur-Nya adalah pandangan anda sebagai umat Protestan. Namun ini tidak menjadi pandangan Gereja Katolik. Sebab sesungguhnya, pembaharuan Gereja tetap dapat dilakukan dari dalam Gereja, seperti yang ditunjukkan oleh banyak para Santo dan Santa, dan bukannya dengan cara memisahkan diri dari kesatuan Gereja. Gereja mempunyai dimensi ilahi/rohani dan jasmani, sebagai Tubuh Mistik Kristus (yang tak kelihatan) namun juga terlihat dalam struktur/ hirarki yang terdiri dari orang- orang yang berdosa. Maka dari sisi ilahinya, Gereja itu kudus karena Kepalanya, Yesus, adalah kudus. Walau dari sisi jasmaninya, Gereja memerlukan pertobatan yang terus menerus, karena terdiri dari orang- orang yang berdosa. Dalam sejarah memang Gereja tidak selalu mulus, karena faktor orang-orang yang berdosa yang ada di dalamnya, namun itu tidak berarti bahwa Gereja memisahkan diri dari Kristus. Gereja Katolik ada karena Kristus yang mengadakan-Nya, dan kenyataannya walau sudah mengalami saat-saat yang sangat sulit sekalipun namun masih bertahan sampai sekarang (2000 tahun), itu adalah pemenuhan janji Kristus sendiri (Mat 16:18).

Sayangnya, kita tidak dapat mengubah fakta sejarah, karena kenyataannya Luther telah melepaskan diri dari kesatuan penuh dengan Gereja Katolik di abad ke 16. [Dalam hal ini, biarlah Tuhan yang paling memahami situasi pada saat itu, yang menilai pihak-pihak yang tidak bijak dalam hal ini]. Dan setelah Luther, ada banyak orang lain yang mengikuti jejaknya dan mendirikan gereja- gereja mereka sendiri. Ini adalah suatu fakta yang memprihatinkan, oleh karena itu kita perlu terus berdoa untuk persatuan Gereja, seperti yang menjadi doa Yesus sendiri sesaat sebelum sengsara-Nya (lih. Yoh 17).

Demikian komentar saya. Saya mengusulkan jika anda ingin mengajukan argumen, pilihlah satu topik saja, supaya terlalu panjang dan menjadi tidak fokus. Saya rasa itu akan menjadi bahan diskusi yang lebih baik daripada terlalu melebar kemana- mana. Mari kita selalu mengingat bahwa di samping perbedaan-perbedaan kita, kita memiliki persatuan yang jauh lebih penting, sebab kita sama-sama mengimani Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat dan Penebus kita.

Dialog tentang ekklesiologi dan perpecahan gereja

62

Pertanyaan:

[Dari katolisitas: diskusi sebelumnya ada di tanya jawab ini – silakan klik]

Terimakasih atas jawabannya sungguh saya sangat menghargai jawaban yg cerdas namun tetap saja banyak kendala yang bagi saya untuk menyakini kebenaran Iman Katolik. Mohon anda jelaskan beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan bagi saya antara lain:

Mengenai cabang denominasi 28.000 itu Boleh saya diberikan link atau infonya? Karena setahu saya tidak sampai sebanyak itu Paling yang ada Lutheran, Calvin (Injili), Baptis, Methodist, Pantekosta, Kharismatik

ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak?

bukan saja sekedar baik namun itulah esensi subtansi dari Ajaran KRISTUS tentang Diri-Nya
bukan tentang pencitraan Bunda Maria, bukan soal tradisi suci, bukan soal magisterium

sekali tentang Karya-Nya yang mendamaikan manusia dengan Diri-Nya Bapa, KRISTUS YESUS dan Roh Kudus Sebagaimana

Joh 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Tambahan-tambahan yang dapat merusak adonan, adalah ragi sifatnya, dan bila berlebihan dapat menghamirkan seluruh adonan

Karena itu Roh Kudus memberikan Inspirasi kepada Rasul2 Modern Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli Walaupun berbeda, adalah hal2 yang tidak mendasar Mereka semua mengembalikan ajaran KRISTUS pada hakekatnya Yakni CHRIST “alone” Bukan Bunda Maria, Tradisi Suci dan Magisterium

Roh Kudus pada jaman akhir ini akan dicurahkan semakin melimpah Akan menuntun kepada kebenaran sejati Yaitu menyembah dengan roh dan Kebenaran Roh di tuntun oleh Roh Kudus untuk mengerti dan mengerjakan kebenaran, untuk menghasilkan buah pertobatan dan buah Roh

Bisakah anda tunjukan apa kelebihan doktrin Gereja Katolik dibanding Protestan? Tunjukan pada saya secara kongkrit anda kesalahan2 dari doktrin rasul modern dari gereja2 Lutheran, Calvin (Injili), Baptis, Methodist, Pantekosta, Kharismatik saya kira dengan menunjuk dengan jelas kesalahannya baru kita bisa mengetahui. Jika memang tidak ada tentunya tidak akan dapat anda temukan kesalah di gereja2 tersebut dibanding dengan yg ada di Gereja Katolik.

Demikian pertanyaan saya, sekali lagi mohon maaf sebesae2nya kalau mungkin pertanyaan ini agak menyinggung, semoga terang yag anda miliki dapat juga bersinar bagi saya, sebaliknya jika terang itu ada pada saya semoga dapat menyinari anda  agar anda dapat menemukan kebenaran.

Salam Kasih dan Semoga Tuhan Memberkati – Lisa

Jawaban dari Stefanus Tay:

Shalom Lisa,

Terima kasih atas kesempatan untuk berdiskusi dengan Lisa. Saya menyadari maksud baik Lisa dan mungkin teman-teman Lisa, yang menaruh perhatian kepada keselamatan umat Katolik, yang mungkin dipandang tidak memegang ajaran Kristus yang murni. Untuk itu saya berterima kasih. Namun, saya juga mempunyai kerinduan yang sama dari sisi yang berbeda, bahwa Lisa dan teman-teman juga dapat melihat bahwa pengajaran Gereja Katolik sungguh mempunyai dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, sesungguhnya mengajarkan apa yang sungguh diajarkan oleh Kristus sendiri. Untuk itu, mari di dalam perbedaan, kita dapat berdialog dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1 Pet 3:15), tanpa mengaburkan kebenaran yang kita imani.

Saya akan melanjutkan diskusi yang tadinya dilakukan oleh Lisa dan Ingrid, yang sebelumnya dilakukan di sini (silakan klik). Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

1) Lisa mengatakan “Mengenai cabang denominasi 28.000 itu Boleh saya diberikan link atau infonya? Karena setahu saya tidak sampai sebanyak itu Paling yang ada Lutheran, Calvin (Injili), Baptis, Methodist, Pantekosta, Kharismatik

a) Lisa dapat melihat di beberapa link berikut ini: 1) site dari katolik (silakan klik), yang memberikan daftar 33,000 denominasi. 2) site dari wikipedia dapat dilihat disini (silakan klik), yang memberikan jumlah perpecahan 34,000. Anggaplah jumlah denominasi sekitar 20,000. Bukankah ini adalah suatu bukti perpecahan dari gereja-gereja? Kalau kita lihat, semua gereja-gereja mengatakan bahwa mereka mendasarkan ajarannya pada Alkitab saja.

b) Lisa meneruskan dengan “ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak? bukan saja sekedar baik namun itulah esensi subtansi dari Ajaran KRISTUS tentang Diri-Nya bukan tentang pencitraan Bunda Maria, bukan soal tradisi suci, bukan soal magisterium

1) Pertanyaannya adalah: kalau memang Alkitab saja (Sola Scriptura) adalah benar, mengapa gereja tidak bersatu padu setelah Martin Luther? Mengapa terjadi perpecahan, dan semua mengatakan bahwa ajarannya berdasarkan Alkitab saja?

2) Kalau anda mengatakan bahwa Sola Scriptura adalah esensi dari ajaran Kristus, silakan memberikan ayat yang mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran. Kalau di Alkitab sendiri tidak disebutkan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran dan pada saat yang bersamaan dipercaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran, bukankah justru ajaran “sola scriptura” menjadi tidak alkitabiah? Ada baiknya juga kalau Lisa dapat memberikan bukti dari para Bapa Gereja (jemaat perdana) yang percaya bahwa Alkitab saja adalah satu-satunya sumber kebenaran. Kapankah ajaran “Sola Scriptura” dimulai?

3) Pencitraan Bunda Maria dalam ajaran Gereja Katolik bukan berhenti pada Bunda Maria, namun senantiasa akan menuntun pada Kristus. Ada baiknya Lisa memberikan definisi apa yang dimaksud dengan “pencitraan”. Mungkin kita dapat berdiskusi tentang Bunda Maria dalam topik tersendiri. Lisa dapat memilih satu topik yang spesifik tentang Bunda Maria dan kemudian kita dapat mendiskusikannya secara mendalam. Kalau Kristus sendiri menghormati ibu-Nya – sesuai dengan perintah ke-4 dari 10 perintah Allah – mengapa kita tidak menghormati Bunda Maria, yang telah diberikan oleh Kristus kepada umat Allah (lih. Yoh 19:27)?

4) Tentang hubungan Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja dapat telah saya jawab di sini (silakan klik). Di jawaban saya, saya mempertanyakan bagaimana kita mendapatkan Alkitab, seperti yang kita kenal saat ini. Dan Alkitab yang kita kenal saat ini tidak akan mungkin ada tanpa adanya Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Atau pertanyaan yang lain, bagaimana seseorang tahu bahwa Matius yang menuliskan Injil Matius?

2) Lisa mengatakan “sekali tentang Karya-Nya yang mendamaikan manusia dengan Diri-Nya Bapa, KRISTUS YESUS dan Roh Kudus Sebagaimana Joh 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Saya tidak tahu hubungan ayat ini dengan topik yang sedang kita diskusikan. Namun, kalau mau dihubungkan bahwa penyembah-penyembah yang benar adalah setelah kedatangan Martin Luther, maka pertanyaan saya adalah: Apakah jemaat perdana, dari tahun 33 -1500 tidak menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran? Kalau begitu, bagaimana dengan janji di Mt 16:16-19?

3) Lisa menuliskan “Tambahan-tambahan yang dapat merusak adonan, adalah ragi sifatnya, dan bila berlebihan dapat menghamirkan seluruh adonan

a) Kalau maksudnya bahwa Gereja Katolik menambahkan apa yang telah diajarkan oleh Yesus, silakan memberikan pengajaran mana yang menyimpang dari pengajaran Kristus. Dan saya akan mencoba untuk memberikan argumentasi, bahwa ajaran tersebut bersumber pada Kristus sendiri. Justru, perpecahan yang terjadi secara luar biasa setelah Martin Luther menjadi tidak sesuai dengan pesan Yesus terakhir di Yoh 17. Dan kalau mau dibandingkan dengan ragi, maka perpecahan ini sebenarnya lebih buruk.

b) Dan kalau Lisa mengatakan “Karena itu Roh Kudus memberikan Inspirasi kepada Rasul2 Modern Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli Walaupun berbeda, adalah hal2 yang tidak mendasar Mereka semua mengembalikan ajaran KRISTUS pada hakekatnya Yakni CHRIST “alone” Bukan Bunda Maria, Tradisi Suci dan Magisterium“, maka pertanyaan saya adalah satu: Kalau memang apa yang mereka ajarkan adalah benar – yang mengklaim untuk kembali kepada ajaran Kristus yang murni – membawa begitu banyak perpecahan terjadi? Seharusnya kalau kembali kepada ajaran Kristus yang murni, maka semuanya harus menjalankan pesan Kristus, termasuk pesan: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21)

Pengajaran Gereja Katolik bukanlah menghormati Bunda Maria tanpa membawa umat kepada Kristus. Dan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja justru untuk meneruskan pesan Kristus dari satu generasi ke generasi yang lain secara murni. Oleh karena itu, semua pengajaran Gereja Katolik bersumber pada Kristus sendiri. Jadi, di sini saya melihat ada banyak kesalahpahaman dari Lisa terhadap apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Mungkin, penyimpangan-penyimpangan ajaran Gereja Katolik yang ada di dalam pikiran Lisa, sebenarnya bukanlah suatu penyimpangan kalau Lisa mengetahui secara persis ajaran Gereja Katolik.

c) Lisa menuliskan “Roh Kudus pada jaman akhir ini akan dicurahkan semakin melimpah Akan menuntun kepada kebenaran sejati Yaitu menyembah dengan roh dan Kebenaran Roh di tuntun oleh Roh Kudus untuk mengerti dan mengerjakan kebenaran, untuk menghasilkan buah pertobatan dan buah Roh

Kalau kita mempercayai bahwa Roh Kudus adalah Roh pemersatu dan bukan Roh pemecah, dan kalau Roh Kudus dicurahkan pada akhir zaman ini, seharusnya kita melihat adanya persatuan umat Allah. Dengan demikian, gereja-gereja seharusnya dapat bersatu. Justru, salah satu tanda bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri (lih. Mt 16:16-19), adalah “satu“. Untuk itu, silakan membaca artikel ini (silakan klik) dan ini (silakan klik).

4) Lisa menuliskan “Bisakah anda tunjukan apa kelebihan doktrin Gereja Katolik dibanding Protestan? Tunjukan pada saya secara kongkrit anda kesalahan2 dari doktrin rasul modern dari gereja2 Lutheran, Calvin (Injili), Baptis, Methodist, Pantekosta, Kharismatik saya kira dengan menunjuk dengan jelas kesalahannya baru kita bisa mengetahui. Jika memang tidak ada tentunya tidak akan dapat anda temukan kesalah di gereja2 tersebut dibanding dengan yg ada di Gereja Katolik.

a) Apa kelebihan Gereja Katolik dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain? Bagaimana kalau kita mulai dengan artikel “Mengapa kita memilih Gereja Katolik” (silakan klik). Kemudian silakan juga melihat empat tanda Gereja Katolik, yaitu: satu, kudus, katolik dan apostolik.

Gereja yang Satu
(Rom 12:5, 1Kor 10:17, 12:13, KGK (Katekismus Gereja Katolik 813-822), LG 4)

Yesus mendirikan hanya satu Gereja, bukan kesatuan dari beberapa gereja yang berbeda-beda. Kita mengetahuinya dari Yesus sendiri, yang mengatakan bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja-gereja) di atas Petrus (Mat 16:18). Pada saat Perjamuan Terakhir sebelum wafatNya Kristus berdoa untuk kesatuan GerejaNya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Kitab suci mengatakan bahwa Gereja adalah ‘mempelai Kristus’ (Ef 5:23-32). Karenanya, tidak mungkin Ia mempunyai lebih dari satu mempelai. Mempelai-Nya yang satu adalah Gereja Katolik.

Kesatuan Gereja Katolik ini ditunjukkan dengan kesatuan dalam hal (1)iman dan pengajaran, berdasarkan ajaran Kristus (2) liturgi dan sakramen dan (3) kepemimpinan, yang awalnya dipegang oleh para rasul di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, yang kemudian diteruskan oleh para pengganti mereka. Kepada kesatuan inilah semua para pengikut Kristus dipanggil (Fil 1:27, 2:2), sebagai “sebuah bangsa yang dipersatukan dengan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.” (LG 4)

Kesatuan Gereja Katolik dalam hal pengajaran mempunyai dua dimensi, yaitu berlaku di seluruh dunia dan berlaku sepanjang sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dalam hal iman kepemimpinan Gereja dipegang oleh seorang kepala, yaitu seorang Paus yang bertindak sebagai wakil Kristus. Sepanjang sejarah, oleh bimbingan Roh Kudus, Gereja semakin memahami akan ajaran-ajaran Kristus (Yoh 16:12-13) dan menjabarkannya, namun tidak pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Gereja yang kudus
(Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)

Kekudusan Gereja disebabkan oleh kekudusan Kristus yang mendirikannya. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karenaNya tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).

Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.

Gereja yang katolik
(Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)

Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
“…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.
Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

Gereja yang Apostolik
(Ef 2:19-20, KGK 857-865, LG 22)

Gereja disebut apostolik karena Yesus telah memilih para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin- pemimpin pertama Gereja-Nya, di bawah pimpinan Rasul Petrus (Mat 16:18, Yoh 21:15-18). Oleh karena Yesus sendiri menjanjikan Gereja-Nya tidak akan binasa (Mat 16:18), maka kepemimpinan Gereja tidak berhenti dengan kepemimpinan para rasul tetapi diteruskan oleh para penerus mereka. Dengan demikian janji penyertaan Yesus terus berlangsung sampai pada saat ini, di mana Ia mengatakan, “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).

Para rasul adalah para uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, pengajaran para rasul di dalam Kitab suci dan Tradisi kudus diturunkan dari mulut ke mulut kepada para penerus mereka (lih. 2 Tes 2:15), misalnya tentang kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, kurban Misa, pengampunan dosa melalui perantaraan imam, kelahiran baru dalam pembaptisan, keberadaan Api penyucian, peran khusus Maria dalam karya Keselamatan, hal kepemimpinan Paus, dan lain-lain.

Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 96) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma.[4] Kepemimpinan di bawah Paus di Roma ini diakui oleh Gereja Katolik sampai saat ini (LG 22). Singkatnya, jika kita kembali ke abad pertama, kita akan menemukan Gereja yang memiliki banyak kemiripan dengan Gereja Katolik yang sekarang, karena memang itu adalah satu dan sama.

b) Lisa meminta untuk menunjukkan kesalahan dari gerakan revolusi, yang dimotori oleh Martin Luther, Calvin, Zwing-li, dll. Bagaimana kalau kita mulai dari hal-hal mendasar: 1) Sola Scriptura, 2) Sola fide, 3) TULIP (Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, Perseverance of the Saints)?

Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Kalau mau fokus, kita dapat membatasi diskusi pada satu topik, sehingga diskusi tidak melebar kemana-mana. Mungkin ada baiknya diskusi ini berfokus pada ekklesiologi secara umum. Saya juga minta maaf kalau dalam keterbatasan saya untuk menyampaikan pendapat ada kata-kata yang menyinggung anda. Semoga dialog kita dapat membawa kita kepada kebenaran dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Semua ajaran Yesus, lisan dan tulisan sudah diselidiki oleh Lukas?

5

Pertanyaan:

Shalom Alex,

yang tentang Lukas ini sebetulnya merupakan perdebatan antara saya dengan teman saya (namanya di situs ini adalah B) sekitar 6-8 minggu yang lalu.

sedangkan yang Yohanes saya mendapatkan setelah membaca website katolisitas ini.
_____________________________________________________________________

ini dari si B
_____________________________________________________________________

Jadi, balik lagi bahwa ajaran Kristus yang diajarkan secara lisan (dikotbahkan) adalah dasar2 logis, yang berdasarkan kata2 Yesus dan yang Yesus lakukan.

Apa aja yang Yesus lakukan? Bukankah ada yang ga tertulis di alkitab?
Awal dari kitab Lukas pasal 1 itu meyakinkan kita.
1:1. Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
1:2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
1:3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,
1:4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

Ayat 1 mengatakan, bahwa ada BANYAK kitab2 lain yang berasal dari orang2 berusaha untuk membukukannya. Orang Kristen, tidak memungkiri adanya kitab2 lain yang ditemukan yang juga memuat nama Yesus. Tapi tentunya kita ga mempercayai semuanya adalah dari Tuhan. Kita mempertimbangkan dari segala sisi.

Ayat 2 mengatakan, bahwa berita2 itu disampaikan kepada kita secara tertulis dan lisan dari saksi mata dan pelayan Tuhan. Jadi, di sini terjadi pembicaraan dan ajaran2 yang turun temurun dari saksi mata Yesus, kepada orang lain, orang tua kepada anak2nya. Sekarang, anakku akan aku ajari tentang Yesus, dan anakku ngajari anak’e tentang Yesus, yang akhirnya diambil kesimpulan sebagai tradisi.

Ayat 3 ini yang menarik. Teofilus, seorang raja, yang membiayai perjalanan Lukas untuk “menyelidiki”. Perhatikan kata “menyelidiki” = παρακολουθέω,v {par-ak-ol-oo-theh’-o}, yang artinya mengikuti dari awal, mengikuti kemanapun dia pergi (mengikuti jejak perjalanannya) untuk mendapatkan suatu pemahaman, meng’investigasi.
Lukas ini seperti detektif. Dia interview saksi2 mata, murid2 Yesus, dan semua2nya, ditulis dalam buku kecil (notebook), kemudian ditulis secara kronologis, dari awal sampai akhir. Lukas ini mengusut apa yang Yesus lakukan, katakan, ajarannya. Dari lahir, sampai naik ke Sorga. Jadi.. Lukas ini detektif, kayak di film X-Files ato detektif di film Saw. haha.. :D

Ayat 4 mengatakan supaya kita tau bahwa segala sesuatu yang diajarkan (oleh pengkotbah2 ato orang tua) itu sungguh benar, bukan bohong, ato sesat.

Dari sini kita bisa lihat, bahwa ajaran2 yang diteruskan secara lisan (yang disebut tradisi turun temurun / adat istiadat), itu adalah ajaran2 yang diajarkan oleh Yesus. Ajaran2 oleh Yesus ini telah diselidiki dan diusut, serta dibukukan oleh Lukas, yang didanai oleh Kaisar Teofilus, dengan teratur rapih dan benar.

Paham sampe sini, Lex? diputer2 sebagaimanapun, semuanya berbalik dari alkitab. Yang diajarkan turun temurun oleh nenek moyang tentang Yesus (lisan ato tertulis), semuanya dah diselidiki oleh Lukas.
___________________________________________________________________________

dari si B selesai
___________________________________________________________________________

sedangkan di Yohanes (ini dari website ini)

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya

dan

21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu
____________________________________________________________________________

apakah Lukas benar-benar menulis semua yang Yesus ajarakan? jika ya, kenapa Yohanes berkata sebaliknya?

Alexander

Jawaban:

Shalom Alexander,

Jika anda membaca benar- benar ayat yang dipakai sebagai acuan oleh teman anda yaitu Luk 1:1-4 tersebut, maka anda akan mengetahui bahwa yang dibukukan/ yang ditulis untuk dijadikan buku oleh Lukas adalah segala tulisan maupun hasil “wawancara”nya dengan saksi mata dan pelayan Firman, dan bukan semua ajaran langsung dari Tuhan Yesus.

1:1. Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
1:2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
1:3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,
1:4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

Dari perikop ini, kita ketahui bahwa Lukas menulis kitab Injilnya dari saksi mata dan pelayan Firman, dan tidak langsung dari Yesus sendiri. Pernyataan ini cocok dengan pernyataan Rasul Paulus, yang menyebutkan keberadaan Lukas secara eksplisit dalam Kol 4:14, Film 1: 24, 2 Tim 4:7-11, yang menyertai Rasul Paulus pada saat ia mengabarkan tentang Kabar Gembira kepada bangsa- bangsa. Maka kesimpulan yang mengatakan bahwa semua ajaran Yesus (termasuk yang lisan) semua sudah diselidiki dan dibukukan oleh Lukas, itu tidak benar, karena kita ketahui bahwa ada peristiwa- peristiwa dalam hidup Yesus dan pengajaran-Nya yang tidak direkam dalam Injil Lukas, tetapi terekam dalam Injil yang lain. Kesimpulan bahwa Lukas telah merekam semua ajaran Yesus tersebut merupakan pernyataan yang dibuat berdasarkan asumsi setelah membaca Luk 1:1-4, yang tidak secara langsung dan eksplisit tertulis di sana. Sebab Lukas sendiri tidak menyatakan bahwa kitab yang ditulisnya merangkum semua ajaran Yesus Kristus. Yang dikatakannya adalah ia menyelidiki peristiwa-peristiwa hidup Yesus berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari para saksi mata dan pelayan Firman, dan menyusun kisah tersebut secara teratur dalam sebuah buku. Secara obyektif, ini tidak berarti bahwa Lukas sudah membukukan semua ajaran Yesus. Lagipula jika ini ayat-ayat Luk 1:1-4 ini digunakan sebagai dasar logika berpikir, maka kesimpulannya bukan Sola Scriptura, tetapi Sola Lukas, sebab logika tersebut seolah menyatakan bahwa Lukas sudah menuliskan semua ajaran Kristus Sang Sabda Allah. Kita tahu tidak demikian halnya.

Maka di sini, untuk mengetahui fakta yang sebenarnya, kita mengacu kepada pernyataan Rasul Yohanes, yang adalah Rasul yang hidup bersama dengan Yesus, bersama- sama dengan ke 11 murid lainnya, sepanjang waktu  Yesus memberitakan Kerajaan Allah. Rasul Yohanes dengan eksplisit mengatakan, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu- per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Agaknya kita harus menerima dahulu secara prinsip bahwa Tuhan Yesus tidak bisa dibatasi oleh tulisan- tulisan di buku, dan karenanya semua ajaran-Nya tidak dapat dengan sempurna dibukukan.

Tradisi Gereja Katolik, yang setia kepada Tradisi dari para rasul, menunjukkan bahwa Injil pertama dituliskan oleh Matius, berdasarkan kesaksian Bapa Gereja, yaitu St. Irenaeus (180), yang menjadi murid St. Polykarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam bukunya  Against the Heresies, buku III, bab 1, 1, St.  Irenaeus menulis asal usul Injil yang berasal dari para rasul (berikut ini saya terjemahkan): “Kita belajar tentang rencana keselamatan tidak dari siapapun kecuali dari mereka yang olehnya Injil diturunkan kepada kita, yang mereka umumkan pada suatu saat kepada publik, dan yang selanjutnya, oleh kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak iman kita…. Sebab, setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] dikaruniai kuasa dari atas ketika Roh Kudus turun [atas mereka], dan mereka dipenuhi oleh segala [karunia-Nya], dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka pergi ke seluruh dunia, mengabarkan/ mengajarkan tentang kabar gembira dari Allah kepada kita, dan mengabarkan damai dari surga kepada umat manusia… Matius juga menuliskan Injil di antara umat Yahudi di dalam bahasa mereka, sedangkan Petrus dan Paulus mengajarkan Injil dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah dari Petrus juga meneruskan kepada kita secara tertulis tentang apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, pembantu Paulus, juga meneruskan kepada kita Injil yang biasanya dikhotbahkan oleh Paulus. Selanjutnya, Yohanes, rasul Tuhan kita …juga menuliskan Injil ketika tinggal di Efesus, Asia kecil.”
Urutan ini, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, juga disebutkan dalam dokumen Konsili Vatikan II, tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 18 [mengutip St. Irenaeus, Against Heretics, III, 11, 8: PG 7, 885 Sagnard Edition, p.194].

Maka, Tradisi Gereja Katolik, yang setia kepada Tradisi dari para rasul, menunjukkan bahwa Injil pertama dituliskan oleh Matius, berdasarkan kesaksian Bapa Gereja, terutama St. Irenaeus (180), yang menjadi murid St. Polykarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. Dari sini saja kita ketahui bahwa kita memerlukan kesaksian/ ajaran para Bapa Gereja [yang kita kenal sebagai Tradisi Suci], untuk menentukan keotentikan Injil, yaitu Injil apa saja yang benar-benar otentik diilhami oleh Allah, mengingat pada saat itu beredar bermacam kitab injil, yang isinya bahkan tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Jadi di sini terlihat pentingnya peran Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan dari Kristus dan para rasul yang dipercayakan kepada para Bapa Gereja, yang kemudian dituliskan dan diturunkan dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik, dan ajaran lisan ini sama pentingnya dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci.

Selanjutnya tentang topik ini, silakan anda membaca jawaban Stef berikut ini, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Dialog tentang Wahyu Allah dan kebenaran

19

Pertanyaan:

Selamat jumpa pak stev dan Ibu Ingrit saya Lisa umat Protestan ada beberapa hal tanggapan saya soal wahyu, tolong ditanggapi menurut iman Katolik bagaimana? kalo tidak sama dimana letak ketidaksamaannya. Terima kasih jika mau menanggapi.
Wahyu Allah itu disampaikan dalam Alkitab
Karena itu benarlah jika hanya ada satu-satunya Alkitab dalam Otoritas Tunggal dalam Gereja
Kasih karunia melahirkan Iman
Iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis tergantung dari respon orang percaya tersebut
Rom 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman KRISTUS.
Iman tidak lagi mencari kebenaran, kebenaran sudah ditemukan, dan untuk selanjutnya diperdalam
Iman pun tanpa kebajikan dan pengetahuan tidak menghasilkan kesalehan
2Pe 1:5 Justru karena itu kami harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
2Pe 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
Dalam kaitan inilah saya ingin mengajak setiap kita tidak sekedar beriman melainkan tekun untuk kesalehan
Pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapak Gereja, bukan juga milik Rasul-Rasul KRISTUS, pengetahuan akan kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah
Tit 1:1 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul YESUS KRISTUS untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita,
Kemudian
Orang percaya beriman kepada Tuhan YESUS KRISTUS
Bukan kepada Ajaran Gereja, bukan kepada Dogma Gereja atau apapun
Pengetahuan akan kebenaran itu pun terus bertumbuh sesuai dengan kasih karunia dan repson orang percaya
Eph 4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan KRISTUS,
Rom 12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Dan pencarian akan kebenaran itu tidak akan mentok, karena Allah sendiri yang menjanjikan kesempurnaan kita
2Jn 1:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari YESUS KRISTUS, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.
1Jn 5:6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu YESUS KRISTUS, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.
1Jn 5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
Bagi saya ALKITAB-lah sumber segala Iman.

Jawaban:

Shalom Lisa,

Selamat datang di situs ini. Terima kasih atas pemaparannya tentang Wahyu Allah dan kebenaran. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

1) Lisa mengatakan “Wahyu Allah itu disampaikan dalam Alkitab. Karena itu benarlah jika hanya ada satu-satunya Alkitab dalam Otoritas Tunggal dalam Gereja

a) Dalam point ini, Lisa mengungkapkan tentang sola scriptura atau hanya Alkitab saja. Namun, Gereja Katolik percaya akan tiga pilar kebenaran, yaitu: 1) Tradisi Suci, 2) Kitab Suci, 3) Magisterium (kewenangan mengajar). Di dalam artikel ini (silakan klik), dituliskan:

1) Tradisi Suci

Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).

Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

2) Kitab Suci

Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]

Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan [edit 05 Feb 2010: seharusnya kebenaran] mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci. Silakan melihat artikel ini (silakan klik).

Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

3) Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

b) Dari pemaparan di atas, maka kita melihat ada dua sumber wahyu Allah, yaitu dalam bentuk lisan maupun tertulis (lih. 2 Tes 2:15). Bentuk lisan ini janganlah salah dimengerti bahwa ini hanyalah suatu pengajaran lisan tanpa ada dokumen tertulis. Yang termasuk dalam Tradisi Suci juga dituliskan, sehingga kita mempunyai bukti-bukti otentik, seperti tulisan-tulisan dari Bapa Gereja, yang mempunyai hubungan dengan para rasul yang ditunjuk oleh Kristus sendiri. Dan Magisterium Gereja mempunyai fungsi agar wahyu Allah ini dapat diwariskan dan dimengerti oleh seluruh generasi dengan benar dan murni. Oleh karena itu, Kitab Suci dan Tradisi Suci tidak dapat bertentangan satu sama lain, karena keduanya bersumber pada sumber yang sama, yaitu Kristus. Dan Magisterium Gereja tidak dapat mengajarkan sesuatu yang berlawan dengan Alkitab dan Tradisi Suci. Jadi ketiganya saling terkait, menjadi satu pondasi yang kokoh, sehingga kebenaran tidak goyah.

c) Kalau memang satu-satunya sumber wahyu Allah adalah Alkitab, bagaimana kita dapat menjelaskan kehidupan jemaat awal, sebelum Alkitab (Perjanjian Baru) ditulis. Kita tahu bahwa kitab-kitab PB ditulis pada tahun-tahun sebagai berikut: Matius (50-55) dan 1 & 2 Tes (51-52), Yakobus (50-60), Galatia (54), sampai Yohanes (98-100). Apakah pegangan mereka dari tahun 33 (tahun setelah kematian Kristus) – 100 (tahun sampai semua kitab PB tertulis)? Bukankah dari tahun 33-100, Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk secara lengkap?

Kita juga tahu bahwa Alkitab bukanlah diberikan oleh Kristus dalam bentuk buku Alkitab yang kita kenal saat ini. Dan kita tahu bahwa pada masa awal, ada begitu banyak buku-buku yang lain. Pertanyaannya, kalau Alkitab menjadi satu-satunya pegangan bagi Gereja, bagaimana pegangan ini dapat menjadi satu-satunya pegangan sebelum ditentukan oleh Gereja sebagai suatu pegangan yang pasti? Apakah dengan demikian satu-satunya pegangan yang pasti (Alkitab) memerlukan pegangan yang lain, sehingga kita dapat yakin bahwa pegangan yang pasti tersebut tidak mungkin salah? Kalau begitu, apakah pegangan yang lain mungkin salah? Kalau mungkin salah, bukankah pengangan yang tidak mungkin salah (Alkitab) dapat saja salah, karena ditentukan oleh pegangan yang mungkin salah?

Dan bagaimana Gereja dapat menentukan bahwa buku yang termasuk dalam Alkitab adalah seperti yang kita kenal saat ini? Apakah parameternya? Apakah Tradisi Suci, dalam hal ini adalah kesaksian dari Bapa Gereja, memegang peranan penting dalam menentukan kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab yang kita kenal? Apakah kesaksian dari St. Irenaeus (180 AD) dan Eusebius memegang peranan penting dalam menentukan keaslian Injil, karena mereka mengatakan:

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga memmeneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.” (St. Irenaeus, Against the Heresies, Buku III, bab 1,1)

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:13). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes. (Eusebius, His eccl 6.25.3-6).

Kalau kesaksian di atas tidak dianggap sama sekali sebagai sumber kebenaran, bagaimana kita dapat tahu bahwa Injil hanya ada empat (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dan tidak termasuk injil-injil yang lain?

2) Lisa menuliskan “Kasih karunia melahirkan Iman
Iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis tergantung dari respon orang percaya tersebut”

a) Saya menyetujui bahwa iman adalah suatu pemberian dari Tuhan. Mungkin pernyataan bahwa iman bukanlah suatu kondisi yang stagnan, melainkan dinamis, harus didefinisikan lebih lanjut. Sebelum saya menanggapi pernyataan ini, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Lisa: 1) Apakah definisi dari iman? 2) Apakah parameter yang menentukan bahwa seseorang mempunyai iman yang benar? 3) Darimana kita tahu bahwa parameter yang digunakan (jawaban no:2) adalah benar? 4) Kalau iman adalah sesuatu yang dinamis, dari mana orang dapat yakin bahwa iman yang dipercayainya saat ini adalah suatu kebenaran yang tetap?

b) Tentang ayat-ayat yang Lisa kutip (Rm 10:17; 2 Pet 1:5-6) adalah memang benar, dimana iman yang benar seharusnya menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Dan saya sangat setuju untuk ajakan untuk bertekun dalam kesalehan – mungkin lebih tepat dalam kekudusan.

c) Kemudian anda menuliskan “Pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapak Gereja, bukan juga milik Rasul-Rasul KRISTUS, pengetahuan akan kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah

1) Memang benar sekali apa yang dikatakan Lisa bahwa pengetahuan akan kebenaran bukan hanya milik Bapa Gereja dan rasul-rasul Kristus. Bahkan Gereja Katolik mengajak semua anggota Gereja tanpa kecuali untuk hidup kudus (yang menjadi buah dari pengetahuan dan kebenaran).

2) Namun, bukankah menjadi suatu kenyataan bahwa kita juga “berhutang” (dalam tanda kutip) kepada rasul-rasul yang telah dipilih oleh Kristus sendiri, dan juga para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja, yang membuat kita dapat mengenal kebenaran Wahyu Allah, seperti yang dituliskan di Alkitab? Tanpa mereka (para rasul, bapa Gereja, magisterium Gereja), bukankah kita tidak mempunyai Alkitab seperti yang kita kenal saat ini?

3) Kalau kebenaran adalah kasih karunia kepada setiap orang-orang pilihan Allah, apakah mungkin terjadi bahwa ada kebenaran yang saling bertentangan? Bukankah kalau saling bertentangan tidak mungkin keduanya benar, karena di dalam kebenaran tidak ada kontradiksi? Sebagai contoh: Dikatakan di Mt 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri” Apakah mungkin di antara umat beriman, ada yang mengatakan bahwa 1) Yesus tahu hari kiamat atau 2) Yesus tidak tahu hari kiamat. Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, dan tidak mungkin keduanya benar, karena keduanya saling bertentangan. Dalam hal ini, kalau kebenaran hanya masalah pribadi, antara kasih karunia Allah dan setiap umat beriman, maka seharusnya tidak boleh ada jawaban yang bertentangan, karena kasih karunia Allah tidak mungkin salah. Namun, kalau ada pertentangan, bukankah ini membuktikan bahwa masing-masing pribadi tidak dapat dijadikan tolak ukur kebenaran, karena masing-masing pribadi dapat salah menafsirkan ayat tersebut? Kalau demikian, bagaimana agar tidak terjadi pertentangan?

3) Lisa menuliskan “Orang percaya beriman kepada Tuhan YESUS KRISTUS. Bukan kepada Ajaran Gereja, bukan kepada Dogma Gereja atau apapun. Pengetahuan akan kebenaran itu pun terus bertumbuh sesuai dengan kasih karunia dan repson orang percaya

a) Pernyataan bahwa orang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah benar. Namun pertanyaannya adalah: Tuhan Yesus Kristus yang seperti apa? Yang tahu hari kiamat atau yang tidak tahu hari kiamat? Yang mempunyai satu akal budi atau dua akal budi? Yesus yang memperbolehkan baptis bayi atau tidak? Yesus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sebagai syarat keselamatan atau tidak? Cobalah diskusikan dengan beberapa teman Lisa pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kalau anda mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda-beda, maka pendapat siapa yang benar? Dan bagaimana Lisa menentukan bahwa jawaban A benar dan jawaban B salah.

b) Dikatakan bahwa pengetahuan dan kebenaran terus bertumbuh. Pengetahuan memang terus bertumbuh, dimana semakin kita diberikan rahmat oleh Allah dan kita terus berusaha belajar mendalami iman kita, maka kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam. Namun, apakah kebenaran terus bertumbuh? Apakah yang dimaksud kebenaran terus bertumbuh? Apakah mungkin suatu kebenaran dari “ya” menjadi “tidak” atau sebaliknya dari “tidak” menjadi “ya”? Sebagai contoh: Apakah kontrasepsi berdosa? Cobalah untuk menjawab pertanyaan ini dengan alur pemikiran yang Lisa berikan di point ini.

c) Lisa mengutip Ef 4:13 dan Rm 12:3 untuk mendukung bahwa setiap orang dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar. Pertanyaan saya, kalau masing-masing orang pasti dapat mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar, mengapa jemaat di Korintus saling bertentangan, sehingga Rasul Paulus sampai mengatakan “Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.” (1 Kor 11:18). Dan bagaimana jemaat perdana memutuskan permasalahan tentang sunat di konsili Yerusalem? Bukankah mereka tidak dapat memutuskan mana yang benar secara sendiri-sendiri? Bukankah rasul Paulus juga mengatakan “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (Ecclesia = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15)

Kalau kita melihat dalam lingkup yang lebih luas, yaitu seluruh dunia, maka apakah yang menjadi pegangan kalau terjadi perbedaan doktrin atau pengajaran di dalam gereja-gereja yang mengklaim seluruh pengajarannya bersumber pada Alkitab? Bahkan ada yang mengklaim pengajarannya dari Alkitab (seperti saksi Yehuwa) tidak mempercayai bahwa Yesus adalah pribadi kedua dari Trinitas.

4) Lisa mengatakan “Dan pencarian akan kebenaran itu tidak akan mentok, karena Allah sendiri yang menjanjikan kesempurnaan kita

a) Silakan menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan di atas, sehingga mungkin Lisa dapat melihat pencarian kebenaran dari sisi yang berbeda. 2 Yoh 1:3 mengatakan “Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.” Pertanyaannya bukanlah keraguan kita akan kasih karunia Allah, namun apakah kita berada dalam kebenaran dan kasih. Karena kalau kita tidak mempunyai kebenaran dan kasih, maka kita tidak di dalam Kristus, karena Allah adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6) dan kasih (lih. 1 Yoh 4:8).

b) Pencarian kebenaran memang harus ditempatkan lebih tinggi dari kepentingan pribadi. Namun, kebenaran yang seperti apa? Silakan melihat beberapa kasus yang saya ajukan di atas. Contoh yang lain adalah: umat Katolik percaya bahwa Yesus (tubuh, jiwa dan ke-Allahan-Nya) hadir dalam rupa roti dan anggur. Umat non-Katolik tidak mempercayainya. Namun, keduanya mengambil dasar dari Alkitab. Pertanyaannya adalah mana yang benar? Saya bukan hendak membahas topik ini, namun hanya mencoba memperlihatkan bahwa harus ada satu parameter untuk menentukan bahwa sesuatu tetap disebut benar, baik kita setuju maupun kita tidak setuju, karena kebenaran lebih tinggi dari diri kita masing-masing. Kalau kita hanya menganggap sesuatu adalah benar, karena kita merasa bahwa hal tersebut adalah benar, maka parameternya adalah diri kita sendiri, perasaan kita, yang mungkin dapat salah. Dan tentu saja, ini bukan parameter yang baik.

Pernyataan kebenaran tidak “mentok“, perlu dianalisa lebih jauh. Seperti yang saya sebutkan di point sebelumnya, apakah mungkin dari “ya” menjadi “tidak” dan dari “tidak” menjadi “ya”? Silakan melihat point 3b).

c) Lisa mengutip 1 Yoh 5:6 “Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu YESUS KRISTUS, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.” Namun, Roh yang sama juga menjadi Roh dari Gereja, karena Yesus sendiri mengatakan “22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Petrus, yang menjadi Paus pertama “18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (Gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya. 19.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mt 16:18-19).

Oleh karena itu, kebenaran yang adalah Roh Allah berdiri dengan teguh di atas batu karang, atau Petrus – yang diteruskan oleh pengantinya, yaitu para paus – sehingga kebenaran tetap menjadi suatu kebenaran dan tidak dapat dibelokan, karena Yesus sendiri yang menjanjikan bahwa alam maut tidak menguasainya.

Sebagai kesimpulan, saya menyetujui bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran dan merupakan wahyu Allah. Namun, Alkitab bukanlah satu-satunya sumber kebenaran, karena Alkitab sendiri tidak menyatakannya demikian. Bahkan Gereja ada terlebih dahulu dari Alkitab. Dan melalui kesaksian Bapa Gereja (Tradisi Suci) dan keputusan konsili-konsili (Magisterium Gereja), maka Kitab Suci dapat menjadi sumber kebenaran seperti yang kita kenal saat ini. Tanpa adanya Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, maka kita tidak mengenal Alkitab sebagai sumber kebenaran. Kalau Gereja dapat menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Alkitab, maka apa yang menghalangi Gereja untuk menginterpretasikan Alkitab, sehingga ada kesatuan doktrin bagi seluruh umat beriman? Bukankah Yesus sendiri yang menjanjikan bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja, yang berarti Gereja dapat menjadi pilar kebenaran (lih. 1 Tim 3:15)? Oleh karena itu, kebenaran bukanlah hanya “saya” dan “Alkitab”. Kalau demikian halnya, maka akan terjadi begitu banyak perpecahan, seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Semoga Lisa dapat melihat bahwa ada dasar yang kuat kalau Gereja Katolik mengatakan bahwa ada tiga pilar kebenaran, yang terdiri dari Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja.

Saya ingin menyarankan agar Lisa juga dapat membaca artikel tentang Gereja Katolik di sini (silakan klik). Mari kita bersama-sama berjuang untuk senantiasa hidup dalam kebenaran dan kasih.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab