Pertanyaan:
Syalom Bu Ingrid , Pak Stef dan semua kontributor katolisitas, Tuhan Yesus Memberkati
Saya sudah mencari di web katolisitas mengenai masalah “bunga uang” yang ternyata memang sepertinya belum pernah ada/dibahas, untuk itu saya mohon penjelasan mengenai konsep “bunga / riba” yang lebih banyak dibicarakan di kitab perjanjian lama seperti :
Exo 22:25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.
Lev 25:36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.
Pro 28:8 Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
Eze 18:8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia,
Eze 18:17 menjauhkan diri dari kecurangan, tidak mengambil bunga uang atau riba, melakukan peraturan-Ku dan hidup menurut ketetapan-Ku–orang yang demikian tidak akan mati karena kesalahan ayahnya, ia pasti hidup.
dan menurut saya hal tersebut , agak sedikit bertolak belakang dengan kisah dari perjanjian baru ini :
Mat 25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Mat 25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Luk 19:23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
Saya ingin memperolah pencerahan mengenai masalah “bunga” ini, karena berhubungan erat dengan pengalaman hidup yang akan saya sharingkan dibawah ini.
Saya, baru – baru ini mengalami sedikit perselisihan dalam keluarga mengenai masalah “bunga”. Ada perbedaan sudut pandang antara istri dan mama saya, saya yang berusaha menjadi penengahnya merasa gagal untuk mendapatkan jalan tengah yang terbaik dari kedua pihak.
menurut mama saya, adalah suatu hal yang wajar meminjamkan uang dengan memperoleh bunga, apalagi jika ratenya masih berada dibawah peraturan yang berlaku umum dimasyarakat, misalnya umumnya 10% / bulan, jika kita beri 5-6% / bulan saja sudah dianggap “baik”. Mengingat rate kartu kredit juga mencapai 2-4% / bulan.
menurut istri saya, memberikan pinjaman dengan menarik bunga berapapun kecilnya merupakan hal yang berdosa dan tidak baik, TITIK. Tidak melihat kondisi ataupun pertimbangan lain.
menurut hati kecil saya, memang kalau mau menolong ya harus dengan tulus tanpa mengharapkan bunga, tetapi ga ada salahnya juga kalo misalnya si peminjam bukanlah orang miskin dan uang tersebut dipakai bukan untuk kepentingan kemanusiaan misalnya sakit, dsb. akan tetapi dipakai untuk kepentingan usaha.
Hukum investasi umum juga mengatakan “High Risk High Return” . resiko kehilangan uang karena peminjam ingkar janji juga relatif lebih tinggi, karena hanya berdasarkan kepercayaan , tidak ada jaminan berupa apapun. Jadi menurut saya jika masih dibawah rata2 yang berlaku umum, dan kita tidak memaksa peminjam membayar bunga, hal tersebut adalah wajar.
Saya ingin menjadi penengah dengan tidak mengganggu keuangan keluarga, tetapi juga ingin membantu “mengabulkan” permintaan mama. Salah satu caranya adalah pinjam dari kantor, dengan fasilitas pinjaman tanpa bunga dan boleh dicicil.
Istri saya menganggap “jalan tengah” yang ingin saya ambil merupakan bentuk “dukungan” terhadap mama saya yang ingin memberi pinjaman dengan menarik bunga.
Saya sudah berusaha memberi pengertian bahwa saya tidak mau bunga, silakan pinjam tanpa bunga juga, karena ada fasilitas seperti itu di kantor. Kalo peminjam memberi bunga, ya itu terserah mama, hak mama.
Karena situasi saya dengan istri semakin memanas, akhirnya saya membatalkan memberi pinjaman untuk mama saya, padahal saya sudah mengiyakan mama saya sebelumnya. Tentu saja mama saya menjadi kecewa.
Dalam kasus seperti ini, saya merasa serba salah dan ternyata memang rasanya sulit juga untuk mengakomodasi kepentingan dari kedua belah pihak.
Untuk itu, walaupun masalah telah berlalu, saya ingin mensharingkan pengalaman saya dan mohon saran2/pendapat dari pak stef / bu ingrid mengenai : bagaimana seharusnya saya memposisikan diri??
Karena saya telah berusaha menjadi penengah, dan hasilnya malahan jadi ngga enak sama mama dan istri.
Atas kesediaan tim katolisitas dalam menanggapi dan memberi masukan ,
saya ucapkan banyak terima kasih.
Tuhan Yesus Memberkati
Regards,
Hendra
Jawaban:
Shalom Hendra,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang bunga dalam meminjamkan uang. Beberapa prinsip di bawah ini mungkin dapat membantu:
1) Memang di dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana dituliskan bahwa kita tidak boleh mendapatkan laba dari meminjamkan sesuatu (lih. Kel 22:25; Ul 15:1-6; Ul 23:19-20; Ul 24:10-12; Ul 28:44). Memang meminjamkan uang/sesuatu terjadi pada Perjanjian Lama, sehingga terlihat juga ada aturan untuk membebaskan utang pada tahun ke-tujuh (lih. Ul 15:1-6). Dan kalau saudara yang meminjam miskin maka peraturan Im 25:35-38 berlaku. Kita juga melihat bahwa bangsa Israel dapat mengambil bunga kalau meminjamkan pada orang asing, yang mengatakan “Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga–supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya.” (lih. Ul 23:20), karena memang ada resiko untuk meminjamkan sesuatu kepada orang asing.
2) Di dalam Perjanjian Baru, hal ini diperbaharui oleh Yesus dengan menekankan pada kasih dan keadilan. Dikatakan “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Mt 5:42). Dan Rasul Paulus juga menegaskan inti dalam memberi, yaitu “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7). Namun, Yesus sendiri tidak melarang untuk menarik laba dari pinjaman uang, seperti yang terlihat dari perumpamaan talenta, di mana dikatakan “Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.” (Mt 27:27, Lih. juga Lk 19:23).
3) Mungkin dua hal di atas terlihat bertentangan. Namun, kalau kita harus mengingat bahwa pada jaman dulu, uang tidaklah memberikan suatu hasil kalau tidak dijalankan. Namun, pada jaman sekarang, uang dapat memberikan hasil, karena uang dapat dibungakan atau diinvestasikan. Dengan demikian, meminjamkan uang dengan “bunga yang pantas” bukanlah tindakan yang tidak adil. Namun, kalau kita memberikan pinjaman dengan bunga yang terlalu tinggi, maka kita telah berdosa melawan keadilan. Pembahasan mendetail tentang hal ini dapat dilihat di sini (interest – silakan klik) dan juga ini (usury – silakan klik)
4) Namun, kita juga harus menerapkan prinsip-prinsip ini dengan bijaksana. Kalau kita mempunyai uang banyak (misal 1 milyar) dan seseorang meminjamkan kepada kita 1 juta rupiah, maka janganlah kita menarik bunga, apalagi kalau orang yang meminjam benar-benar miskin. Bahkan kalau perlu, kita harus memberikannya dengan rela. Kalau kita berada dalam situasi bisnis, maka adalah pantas, kalau kita menarik bunga dari pinjaman yang kita berikan.
5) Masuk ke kasus anda, yang harus dilakukan pertama adalah berbicara dari hati ke hati dengan istri anda, apakah secara prinsip, 1) mau meminjamkan uang kepada mama anda, 2) mau meminjamkan uang, sampai pada titik kalaupun tidak dikembalikan tidak apa-apa. Dan semuanya ini sebenarnya tergantung dari penggunaan uang tersebut. Kalau secara prinsip istri anda setuju untuk meminjamkan uang, maka pertanyaannya adalah apakah perlu menarik bunga? Kalau pinjaman tersebut digunakan untuk memperluas bisnis mama anda, maka anda dapat mengharapkan bunga – terutama kalau hal tersebut menyangkut uang yang banyak (banyak adalah relatif). Namun, kalau uang tersebut digunakan untuk berobat, maka memang sudah seharusnya kita meminjamkan tanpa ada bunga, bahkan seharusnya kita juga dapat merelakan kalau sampai uang tersebut tidak dapat kembali.
Jadi kalau mama anda bersikeras untuk membayar bunga dan istri anda bersikeras tidak mau menerima bunga, maka sebenarnya ini adalah kasus yang tidak terlalu sulit. Akan menjadi sulit, kalau situasinya terbalik. Anda dapat berbicara kepada mama anda secara terbuka, bahwa anda ingin meminjamkan uang tanpa bunga, karena istri anda dan anda mengasihi mama anda. Memang mendapatkan bunga yang pantas adalah adil, namun kasih dapat bertindak melebihi keadilan. Kalau mama anda tetap bersikeras, maka anda dapat menerima bunga tersebut, dan kemudian katakan pada istri anda, bunga ini nanti akan dibelikan sesuatu untuk mama, sehingga anda tidak mengambil bunga uang dari mama. Semoga cara ini dapat membantu kasus anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org