Home Blog Page 256

Mendengarkan suara Tuhan

19

Pertanyaan:

hai,
pada saat berdoa, kadang orang merasa Tuhan berbicara atau bercakap cakap dengan mereka. Pertanyaan saya, bagaimana kita tahu kalau itu benar benar suara dariTuhan?

Terima kasih,
Cleo

Jawaban:

Shalom Cleo,

Adakalanya saat berdoa, seseorang dapat terinspirasi untuk mengingat suatu ayat tertentu atau dorongan untuk melakukan suatu hal/ perbuatan tertentu. Atau jika seseorang telah dapat masuk dalam keheningan/ kontemplasi, maka seseorang dapat mendengarkan ‘suara’ tertentu. Nah, untuk mengetahui apakah itu benar- benar suara Tuhan atau bukan, memang diperlukan karunia ‘discerment‘ yang artinya membeda- bedakan roh. Sebab sebenarnya ‘suara- suara’ yang kita alami dalam perjalanan rohani tersebut dapat berasal dari diri sendiri, Iblis, atau Tuhan. Nah, untuk mengetahui apakah itu suara Tuhan, umumnya kita dapat memeriksa:

1. Apakah itu sesuai dengan Firman-Nya? Sebab misalnya jika dalam doa kita mendengar ‘suara’ misalnya yang menganjurkan kita untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum/ perintah Tuhan maka sudah dapat dipastikan itu bukan dari Tuhan.

2. Apakah itu membawa kedamaian di hati dan memberikan buah Roh Kudus lainnya? Maka tolok ukurnya adalah ayat Gal 5:22-23, tentang buah Roh Kudus: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah- lembutan dan penguasaan diri. Jadi jika setelah menerima pesan itu malah hati tidak damai, menjadi pemarah, tidak setia menjalankan panggilan hidup (dalam berkeluarga atau membiara), maka sudah bisa dipastikan itu bukan dari Tuhan.

3. Apakah itu menjadikan yang menerima semakin bertumbuh dalam kerendahan hati? Sebab kita tahu dosa yang pertama bagi manusia adalah kesombongan, maka kita juga harus waspada agar jangan disesatkan oleh kesombongan setelah mengalami pengalaman rohani tertentu. Sebab jika seseorang menjadi sombong, maka selanjutnya Iblis dapat juga memakai kelemahannya, bukan untuk membangun kerohaniannya malahan merusaknya.

4. Apakah suara itu mendorong kita untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih? Apakah mendorong kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan sesama?

5. Apakah suara itu mengajarkan sesuatu yang sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik? Karena jika suara itu malah menentang Gereja Katolik, malah kita perlu mewaspadainya, karena memang sudah menjadi keinginan Iblis untuk menghancurkan Gereja.

Selanjutnya, perlu dicermati akan prosesnya dalam ‘mendengarkan’ suara Tuhan ini. Karena kita juga harus membiasakan diri untuk berdoa dalam keheningan agar dapat mendengarkan suara-Nya. Sebab jika kita tidak pernah hening dalam berdoa, artinya kita terus yang berkata- kata (walaupun hanya dalam hati) maka akan sulit bagi kita untuk dapat mendengar suara Tuhan, karena pembicaraan terjadi hanya satu arah. Maka untuk mendengarkan suara Tuhan, kita harus berani datang ke hadapan-Nya dengan sikap hati yang tenang dan hening, dan membiarkan Tuhan menyampaikan pesan-Nya kepada kita, entah dengan inspirasi-inspirasi tertentu, atau dengan ‘suara’ tertentu.

Mungkin latihan yang paling sederhana sebelum masuk dalam doa hening adalah pemeriksaan batin (examination of conscience). Dalam pemeriksaan batin itu kita melihat ke dalam diri kita untuk melihat apakah pada hari itu kita telah melakukan suatu kesalahan/ dosa ataupun lalai untuk berbuat kebaikan. Dengan demikian kita membiasakan diri untuk membiarkan Roh Kudus bekerja dalam batin kita untuk menginsyafkan kita dari dosa (Yoh 16:8), sehingga Tuhan sendiri yang melatih kita untuk menjadi semakin peka untuk membedakan mana suara/ dorongan Roh Kudus, dan mana yang bukan.

Marilah kita berjuang untuk setia dalam doa- doa kita, dan membiarkan Roh Kudus bekerja membentuk kita sebagai bejana rohani bagi kemuliaan Allah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Yesus: Nabi dan Mesias? (Yoh 7:40-52)

6

Pertanyaan:

Syalom katolisitas.org

Maaf, ada sedikit lagi ayat yang tidak saya mengerti dan apa maksudnya yaitu :
Yohanes 7 : 40 -52

Mohon pencerahaannya dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih.-

Salam kasih
Adnilem Sg

Jawaban:

Shalom Adnilem,

Perlu diketahui bahwa perikop ini ada setelah Kristus mengajarkan tentang diri-Nya sebagai Roti Hidup (Yoh 6) dan Sumber Air hidup (Yoh 7) dan bagaimana Yesus menyatakan diri dengan pengajaran-Nya bahwa Ia datang dari Allah Bapa. Pengajaran ini merupakan pengajaran yang sulit diterima oleh kaum Farisi yang memang telah mempunyai gambaran tersendiri tentang Allah dan mereka sudah menutup diri untuk mendengarkan dan menerima ajaran Yesus.

Berikut ini adalah penjelasan yang mengambil sumber utama dari Navarre Bible:

ay. 40-43: “Nabi” di sini mengacu kepada Ul 18:15,18 yang menubuatkan datangnya Nabi di masa akhir, nabi yang kepadanya semua orang harus mendengarkan (lih. Yoh 1:21; 6:14); dan Mesias adalah istilah yang digunakan dalam PL untuk menjelaskan Juru Selamat yang akan diutus oleh Allah dari keturunan Daud (lih. Mzm 132:11; Yes 11:1; Yer 23:5).

Ayat- ayat ini, menunjukkan banyak sikap terhadap Yesus. Banyak orang Yahudi tidak mau repot-repot untuk memeriksa di mana sebenarnya Yesus dilahirkan. Mereka tidak tahu bahwa Yesus lahir di Betlehem di kota Daud, sehingga Yesus menggenapi nubuat Nabi Mikha (5:2) yang mengatakan bahwa Tuhan akan dilahirkan di sana. Maka adalah kesalahan mereka sendiri, bahwa mereka menjadikan ketidaktahuan mereka sebagai alasan untuk tidak menerima Kristus. Namun demikian, ada banyak orang lain yang melihat segala mukjizat-Nya menyadari bahwa Yesus adalah Mesias. Pola sikap seperti ini terjadi sampai saat ini: beberapa orang hanya mengakui Yesus sebagai orang yang luar biasa, namun tidak mau menerima bahwa kemuliaan-Nya ini ada pada-Nya justru karena Ia adalah Sang Allah Putera.

ay. 46. Kebenaran tentang Kristus ini mulai mempengaruhi para pelayan imam- imam kepala tersebut, namun tidak dapat mempengaruhi kekerasan hati kaum Farisi. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan, “Perhatikanlah bahwa kaum Farisi dan imam- imam kepala tidak memperoleh keuntungan apa-pun dari segala mukjizat maupun pembacaan Kitab Suci yang dilakukan oleh Yesus; sedangkan para pelayan mereka dapat terpengaruh hanya karena satu pengajaran. Mereka yang harusnya menangkap Yesus, malah pulang dan tidak jadi melaksanakannya karena melihat sendiri otoritas Yesus dalam segala ucapan-Nya. Dan mereka tidak mengatakan, “Kami tidak menangkap-Nya karena orang- orang tidak akan membiarkan kami menangkap-Nya.” Sebaliknya mereka malah memuji kebijaksanaan Kristus. Kita layak mengagumi kebijaksanaan para pelayan ini, sebab mereka tidak membutuhkan tanda- tanda untuk mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka mengakui Yesus hanya karena mendengarkan pengajaran-Nya. Mereka tidak mengatakan, “Belum pernah ada seorang manusia yang dapat membuat mukjizat- mukjizat seperti itu”, tetapi “Belum pernah ada seorang manusia yang berkata seperti orang itu!” (ay. 46). Ini adalah suatu keyakinan yang perlu kita puji. Mereka berani menyampaikan kepada kaum Farisi yang menentang Kristus, dan menyampaikan sejujurnya dengan ungkapan seperti di atas.” (lih. terjemahan St. John Chrysostom, Hom. on St. John, 9)

ay. 47-52. Kaum Farisi memarahi para pelayan/ penjaga tersebut, dan ini merupakan contoh suatu kesombongan dari pihak aristokrat terhadap orang- orang biasa. Maka di sini kita melihat keberanian Nikodemus yang meskipun adalah seorang Farisi, namun mengambil sikap untuk bersimpati terhadap para penjaga itu, dan mengutip kitab Ul 1:16- agar tidak menghukum seseorang sebelum orang tersebut didengarkan. Akibatnya kaum Farisi tersebut juga mengecam Nikodemus dan bahkan menyebutnya ‘orang Galilea’ yang pada saat itu juga berarti ‘orang bodoh’.

Melalui perikop ini kita dapat melihat bahwa untuk dapat menerima Yesus sebagai Tuhan  diperlukan juga kerendahan hati. Sebab walaupun rahmat Tuhan diberikan, namun sepanjang seseorang berkukuh dengan pengertian sendiri tentang konsep Allah, maka akan sulit baginya untuk menerima Yesus sebagai Allah sendiri yang turun dari sorga (Yoh 6:38) yang diutus oleh Allah Bapa (Yoh 6:39; 7:29) untuk menjadi manusia dan menyelamatkannya.

Semoga Tuhan memberikan kepada kita rahmat agar kita dapat selalu mengakui Kristus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, sampai akhir hayat kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bolehkan menarik bunga dari peminjaman uang?

16

Pertanyaan:

Syalom Bu Ingrid , Pak Stef dan semua kontributor katolisitas, Tuhan Yesus Memberkati

Saya sudah mencari di web katolisitas mengenai masalah “bunga uang” yang ternyata memang sepertinya belum pernah ada/dibahas, untuk itu saya mohon penjelasan mengenai konsep “bunga / riba” yang lebih banyak dibicarakan di kitab perjanjian lama seperti :

Exo 22:25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.
Lev 25:36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.
Pro 28:8 Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
Eze 18:8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia,
Eze 18:17 menjauhkan diri dari kecurangan, tidak mengambil bunga uang atau riba, melakukan peraturan-Ku dan hidup menurut ketetapan-Ku–orang yang demikian tidak akan mati karena kesalahan ayahnya, ia pasti hidup.

dan menurut saya hal tersebut , agak sedikit bertolak belakang dengan kisah dari perjanjian baru ini :

Mat 25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Mat 25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Luk 19:23 Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.

Saya ingin memperolah pencerahan mengenai masalah “bunga” ini, karena berhubungan erat dengan pengalaman hidup yang akan saya sharingkan dibawah ini.

Saya, baru – baru ini mengalami sedikit perselisihan dalam keluarga mengenai masalah “bunga”. Ada perbedaan sudut pandang antara istri dan mama saya, saya yang berusaha menjadi penengahnya merasa gagal untuk mendapatkan jalan tengah yang terbaik dari kedua pihak.

menurut mama saya, adalah suatu hal yang wajar meminjamkan uang dengan memperoleh bunga, apalagi jika ratenya masih berada dibawah peraturan yang berlaku umum dimasyarakat, misalnya umumnya 10% / bulan, jika kita beri 5-6% / bulan saja sudah dianggap “baik”. Mengingat rate kartu kredit juga mencapai 2-4% / bulan.

menurut istri saya, memberikan pinjaman dengan menarik bunga berapapun kecilnya merupakan hal yang berdosa dan tidak baik, TITIK. Tidak melihat kondisi ataupun pertimbangan lain.

menurut hati kecil saya, memang kalau mau menolong ya harus dengan tulus tanpa mengharapkan bunga, tetapi ga ada salahnya juga kalo misalnya si peminjam bukanlah orang miskin dan uang tersebut dipakai bukan untuk kepentingan kemanusiaan misalnya sakit, dsb. akan tetapi dipakai untuk kepentingan usaha.
Hukum investasi umum juga mengatakan “High Risk High Return” . resiko kehilangan uang karena peminjam ingkar janji juga relatif lebih tinggi, karena hanya berdasarkan kepercayaan , tidak ada jaminan berupa apapun. Jadi menurut saya jika masih dibawah rata2 yang berlaku umum, dan kita tidak memaksa peminjam membayar bunga, hal tersebut adalah wajar.

Saya ingin menjadi penengah dengan tidak mengganggu keuangan keluarga, tetapi juga ingin membantu “mengabulkan” permintaan mama. Salah satu caranya adalah pinjam dari kantor, dengan fasilitas pinjaman tanpa bunga dan boleh dicicil.

Istri saya menganggap “jalan tengah” yang ingin saya ambil merupakan bentuk “dukungan” terhadap mama saya yang ingin memberi pinjaman dengan menarik bunga.
Saya sudah berusaha memberi pengertian bahwa saya tidak mau bunga, silakan pinjam tanpa bunga juga, karena ada fasilitas seperti itu di kantor. Kalo peminjam memberi bunga, ya itu terserah mama, hak mama.
Karena situasi saya dengan istri semakin memanas, akhirnya saya membatalkan memberi pinjaman untuk mama saya, padahal saya sudah mengiyakan mama saya sebelumnya. Tentu saja mama saya menjadi kecewa.
Dalam kasus seperti ini, saya merasa serba salah dan ternyata memang rasanya sulit juga untuk mengakomodasi kepentingan dari kedua belah pihak.

Untuk itu, walaupun masalah telah berlalu, saya ingin mensharingkan pengalaman saya dan mohon saran2/pendapat dari pak stef / bu ingrid mengenai : bagaimana seharusnya saya memposisikan diri??
Karena saya telah berusaha menjadi penengah, dan hasilnya malahan jadi ngga enak sama mama dan istri.

Atas kesediaan tim katolisitas dalam menanggapi dan memberi masukan ,
saya ucapkan banyak terima kasih.

Tuhan Yesus Memberkati

Regards,
Hendra

Jawaban:

Shalom Hendra,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang bunga dalam meminjamkan uang. Beberapa prinsip di bawah ini mungkin dapat membantu:

1) Memang di dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana dituliskan bahwa kita tidak boleh mendapatkan laba dari meminjamkan sesuatu (lih. Kel 22:25; Ul 15:1-6; Ul 23:19-20; Ul 24:10-12; Ul 28:44). Memang meminjamkan uang/sesuatu terjadi pada Perjanjian Lama, sehingga terlihat juga ada aturan untuk membebaskan utang pada tahun ke-tujuh (lih. Ul 15:1-6). Dan kalau saudara yang meminjam miskin maka peraturan Im 25:35-38 berlaku. Kita juga melihat bahwa bangsa Israel dapat mengambil bunga kalau meminjamkan pada orang asing, yang mengatakan “Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga–supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya.” (lih. Ul 23:20), karena memang ada resiko untuk meminjamkan sesuatu kepada orang asing.

2) Di dalam Perjanjian Baru, hal ini diperbaharui oleh Yesus dengan menekankan pada kasih dan keadilan. Dikatakan “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Mt 5:42). Dan Rasul Paulus juga menegaskan inti dalam memberi, yaitu “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7). Namun, Yesus sendiri tidak melarang untuk menarik laba dari pinjaman uang, seperti yang terlihat dari perumpamaan talenta, di mana dikatakan “Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.” (Mt 27:27, Lih. juga Lk 19:23).

3) Mungkin dua hal di atas terlihat bertentangan. Namun, kalau kita harus mengingat bahwa pada jaman dulu, uang tidaklah memberikan suatu hasil kalau tidak dijalankan. Namun, pada jaman sekarang, uang dapat memberikan hasil, karena uang dapat dibungakan atau diinvestasikan. Dengan demikian, meminjamkan uang dengan “bunga yang pantas” bukanlah tindakan yang tidak adil. Namun, kalau kita memberikan pinjaman dengan bunga yang terlalu tinggi, maka kita telah berdosa melawan keadilan. Pembahasan mendetail tentang hal ini dapat dilihat di sini (interest – silakan klik) dan juga ini (usury – silakan klik)

4) Namun, kita juga harus menerapkan prinsip-prinsip ini dengan bijaksana. Kalau kita mempunyai uang banyak (misal 1 milyar) dan seseorang meminjamkan kepada kita 1 juta rupiah, maka janganlah kita menarik bunga, apalagi kalau orang yang meminjam benar-benar miskin. Bahkan kalau perlu, kita harus memberikannya dengan rela. Kalau kita berada dalam situasi bisnis, maka adalah pantas, kalau kita menarik bunga dari pinjaman yang kita berikan.

5) Masuk ke kasus anda, yang harus dilakukan pertama adalah berbicara dari hati ke hati dengan istri anda, apakah secara prinsip, 1) mau meminjamkan uang kepada mama anda, 2) mau meminjamkan uang, sampai pada titik kalaupun tidak dikembalikan tidak apa-apa. Dan semuanya ini sebenarnya tergantung dari penggunaan uang tersebut. Kalau secara prinsip istri anda setuju untuk meminjamkan uang, maka pertanyaannya adalah apakah perlu menarik bunga? Kalau pinjaman tersebut digunakan untuk memperluas bisnis mama anda, maka anda dapat mengharapkan bunga – terutama kalau hal tersebut menyangkut uang yang banyak (banyak adalah relatif). Namun, kalau uang tersebut digunakan untuk berobat, maka memang sudah seharusnya kita meminjamkan tanpa ada bunga, bahkan seharusnya kita juga dapat merelakan kalau sampai uang tersebut tidak dapat kembali.

Jadi kalau mama anda bersikeras untuk membayar bunga dan istri anda bersikeras tidak mau menerima bunga, maka sebenarnya ini adalah kasus yang tidak terlalu sulit. Akan menjadi sulit, kalau situasinya terbalik. Anda dapat berbicara kepada mama anda secara terbuka, bahwa anda ingin meminjamkan uang tanpa bunga, karena istri anda dan anda mengasihi mama anda. Memang mendapatkan bunga yang pantas adalah adil, namun kasih dapat bertindak melebihi keadilan. Kalau mama anda tetap bersikeras, maka anda dapat menerima bunga tersebut, dan kemudian katakan pada istri anda, bunga ini nanti akan dibelikan sesuatu untuk mama, sehingga anda tidak mengambil bunga uang dari mama. Semoga cara ini dapat membantu kasus anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Yesus dan sanak saudara-Nya Luk 8:19-21

8

Perikop Luk 8:19-21 atau juga Mat 12:46-50, Mrk 3:31-35, memang berjudul: Yesus dan sanak saudara-Nya. Bahkan dalam Mat 13:55 dan Mrk 6:3 disebutkan nama saudara- saudara-Nya itu yaitu: Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Oleh karena itu ada banyak orang menyangka bahwa Yesus mempunyai saudara- saudara kandung, atau artinya Bunda Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus. Namun tentu ini tidak benar!

1. Di dalam Alkitab, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.

Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mar 15:40). Maka di sini, Kitab Suci menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Alkitab sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mt 27:56; Mk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mk 16:1; Lk 24:10)

Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria yang adalah istri  Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas, yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yoses.

Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.

Selanjutnya tentang dasar pengajaran Gereja Katolik tentang Keperawanan Bunda Maria, silakan klik di sini.

2. Perikop Luk 8:19-21, Mat 12:46-50, Mrk 3:31-35, juga sering disalah artikan bahwa Yesus menolak ibu-Nya sendiri di hadapan umum. Pengertian ini juga tentu keliru. Kalau kita saja tahu bahwa perbuatan menyangkal orang tua adalah perbuatan dosa, maka terlebih lagi Tuhan Yesus. Dia tidak akan pernah menyangkal Ibu-Nya sendiri. Mari kita membaca lagi ayat yang dimaksud. Bunda Maria dan para saudara Yesus mencari-Nya pada saat Ia mengajar,

“Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara- saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara- saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:20-21, lih. Mat 12:49-50, Mrk 3: 32-35)

Di sini Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam kerajaan Allah. Maka yang Yesus ajarkan adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Dengan demikian ungkapan ini bahkan dapat bermaksud sebagai pujian kepada Bunda Maria, sebab Yesus mengakui bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Perhatikanlah juga bahwa pada saat menjelaskan, Yesus menggunakan kata “ibu” dalam bentuk tunggal, sehingga artinya ialah Yesus justru memuji Ibu-Nya sendiri sebagal pelaku Firman, dan bukannya mengatakan bahwa semua pelaku Firman adalah ibu-Nya, sebab jika demikian Ia seharusnya menggunakan kata “ibu- ibu”‘Ku. Dan tentu ini menjadi tidak masuk akal, sebab memang Ibu Yesus hanya satu, yaitu Bunda Maria, dan ia menjadi Ibu Yesus, pertama- tama karena ia mendengarkan firman Allah dan taat melaksanakannya (lih. Luk 1: 38).

Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan darah. Maka ayat di atas tidak untuk diartikan bahwa Yesus menyangkal ibu-Nya, melainkan untuk mengatakan bahwa Bunda Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus tetapi karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.

Rahmat Tuhan menjelang ajal

19

Dari Editor

Berikut ini adalah kisah kesaksian dari salah seorang pembaca, Bp. Felix Sugiharto, yang mengisahkan bagaimana papanya sebelum wafatnya dapat menerima Kristus dan menerima Baptisan. Sungguh suatu pengalaman yang indah tentang betapa Tuhan menjawab kerinduan seluruh keluarga agar sang papa dapat mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebelum ia berpulang. Suatu pengalaman yang juga menunjukkan betapa dalam keadaan susah, kita dapat mensyukuri rahmat kasih Tuhan yang disampaikan oleh para imam-Nya dan oleh sesama saudara dalam Kristus.

Semoga pengalaman ini berguna bagi para pembaca situs katolisitas.org.
Kalau anda ingin membagikan pengalaman hidup anda di website ini, silakan untuk mengirimkannya ke: katolisitas [at] gmail.com

“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain” (Mzm 84:10)

Shalom

Saya anak sulung dari keluarga empat bersaudara, pada tgl 18 Januari 2010 yang lalu papa kami (85 th) masuk Rumah Sakit karena urine mengeluarkan darah yang kemudian menjalani operasi prostat. Lima hari setelah menjalani operasi keadaan papa kami menjadi lebih buruk dan dokter menganjurkan perawatan diruang ICU. Selama masa menjalani perawatan intensif di kamar ICU, papa saya ditangani oleh dua orang dokter spesialis Rumah Sakit, ditambah lagi dua orang dokter sahabat keluarga (sebagai penasehat medis) untuk memantau semua hasil pengobatan medis terhadap papa kami. Dalam waktu 3 minggu di ICU kesahatan papa kami makin memburuk, fisik semakin menurun dan stamina semakin melemah, seluruh tubuhnya banyak dimasukkan selang- selang dari bagian hidung, mulut, dada, tangan, paha, juga pembuangan air seni, pemantauan kerja jantung, nafas, supply obat- obatan yang dimonitor oleh alat- alat secara ketat sekali. Keadaan demikian berlangsung dari keadaan papa kami masih bisa berkomunikasi (dengan berbicara) sampai tidak sanggup berinteraksi lagi dengan kita anak- anaknya, hanya sesekali membuka mata dengan pandangan mata yang kosong dan tubuh tanpa tenaga, keadaan demikian membuat seluruh keluarga kami atau bagi siapa saja yang menyaksikannya merasa iba, dan seluruh anggota keluarga hanya dapat berdoa… berdoa… dan berdoa terus dengan pasrah, sambil mengharapkan terjadinya mukzijat pada papa kami..

Keluarga papa kami mempunyai empat orang anak dan empat orang cucu, semuanya sudah dibaptis. Ada yang beragama Katolik, ada juga yang Kristen Protestan bahkan ada yang sebagai pengikut semacam faham reiki Yoga atau teori universe (walaupun dulu pernah dibaptis), hanya tinggal papa kami satu- satunya yang belum bersedia menerima Yesus sebab generasi keluarga papa kami adalah pengikut agama Budha Kelenteng.

Nah, di saat papa kami sudah memasuki keadaan sangat kritis, seluruh keluarga kami termasuk mama sangat risau juga bingung dengan bagaimana mengutarakan maksud sekeluarga supaya papa mau segera menerima baptisan. Terus terang selama ini tak seorangpun dari kami berani menanyakan hal ini kepada papa yang sedang sakit. Memang papa kami sesekali ke gereja hanya bersama mama, dan sesekali berinteraksi dengan kalangan Protestan baik Pendeta maupun umatnya. Satu hal yang pasti dan nyata adalah sama sekali tidak pernah ke Gereja Katolik dan hanya mengenal Gereja Katolik dari cerita anak- anaknya yang beragama Katolik saja. Waktu itu saya sendiripun menjadi bingung dengan bagaimana caranya menanyakan hal baptisan kepada papa dengan pertimbangan bahwa adik saya dan mama kami dari pihak Kristen Protestan yang tentu mempunyai harapan- harapan yang lain. Saya sempat juga mengirim email kepada ibu Ingrid untuk meminta saran dan pendapat didalam hal “Baptisan Bagi Orang Sakit” yang segara dibalas oleh ibu Ingrid hanya beberapa jam kemudian, sungguh begitu cepatnya mendapat balasan team katolisitas.org yang pantas mendapat acungan jempol atas pelayanannya kepada kami sekeluarga. Setiap malam saya selalu berdoa dengan pasrah, juga setiap besuk di Rumah Sakit saya di samping papa lebih banyak berdoa bagi kesembuhan beliau dan memohon belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan…

Mukjizat itu nyata…..

Pada tanggal 12 Feb 2010 sekitar jam 8 pagi itu mukjizat telah terjadi. Secara mendadak papa kami membuka matanya sambil mengawasi sekilas keadaan di dalam kamar ICU, yang mana sehari sebelumnya sepanjang hari penuh papa hanya memejamkan mata. Melihat papa dalam keadaan sadar, salah seorang adik saya langsung menanyakan, “Papa mau disembuhkan Tuhan Yesus..? Papa mau menerima Yesus..? Papa mau dibaptis oleh Gereja Katolik dibaptis oleh Pastor..?  Setiap pertanyaan tadi dijawab dengan anggukan kepala yang pasti oleh papa kami yang tercinta. Kamar ICU penuh keharuan oleh kejadian ini dan tak lewat dari 20 menit kemudian seorang Pastor Paroki telah hadir dan langsung memberikan Sakramen Baptis sekaligus Sakramen Perminyakan untuk papa kami. Sehari kemudian papa telah meninggal dengan tenang, kami seluruh keluarga di samping merasa kehilangan namun rasa syukur dan kedamaian hati lebih menyelimuti kami semuanya, sebab kami semua tahu bahwa kepergian papa kami adalah kepergian menyongsong Tuhan Yesus.

Pelayanan yang nyata…..

Sejak papa kami meninggal pada hari Minggu, begitu pula satu seminggu penuh selama jasad papa disemayamkan di rumah duka, sampai hari penguburan yang juga jatuh pada hari Minggu, dari hari ke hari kami isi dengan persekutuan doa-doa selain menjalani Misa-misa sesuai ketentuan Gereja, di mana Pastor Paroki selalu memberikan pelayanan-pelayanan sesuai keadaan dan permintaan keluarga. Pada hari penguburanpun yang juga jatuh pada hari Minggu, pagi-pagi sekali sejak pukul 06.00 sudah ada seorang Pastor yang dengan setianya mendampingi kami untuk pemberangkatan jenazah menuju tempat peristirahatan papa yang terakhir, memimpin Misa hingga semuanya selesai pada jam 11.00 siang.

Salut dan pujian oleh pelayanan Kasih…..

Setelah selesai semuanya dan pada suatu pertemuan keluarga, di mana pertemuan kami untuk membahas persekutuan doa-doa selanjutnya, tanpa sebab salah seorng adik saya yang Kristen Protestan menyeletuk dan ucapnya: “Sungguh luar biasa sekali sikap pelayanan seorang Pastor kepada Umat dari Gereja Katolik. Saat papa kritis hanya oleh sebuah telpon, hanya dalam waktu kurang dari setengah jam Pastor Paroki hadir di tempat memberikan Baptisan, begitu pula pelayanan Pastor-pastornya. Sejak papa meninggal yang jatuh pada hari raya (Imlek), juga setiap ritual yang dijalani jatuh pada hari Sabtu dan Minggu, dan Pastor selalu bisa melayani umatnya, keadaan ini sangat berbeda sekali dengan gereja Kristen di mana saat-saat seperti keadaan yang dihadapi, tak mungkin ada seorang Pendeta yang bisa melayani umat apalagi yang berhubungan dengan kematian seseorang”.

Memang betul pepatah mengatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, terutama bagi mereka yang berdiri di luar Gereja Katolik yang hanya melihat tanpa mau bergabung atau bersedia masuk bergabung dalam komunitas Katolik tentu mempunyai perbedaan persepsi yang tidak beralasan, begitu pula saudara saya merupakan contoh nyata sebuah figur kaum yang menolak ajaran Gereja Katolik… mudah- mudahan tulisan kesaksian saya ini menjadi permenungan bagi kita semua, bahwa begitu besar rahmat kasih Allah yang telah ditawarkan oleh Tuhan kepada kita semua melalui Gereja Katolik yang didirikan oleh Yesus Tuhan kita. Betapa mulianya teladan pelayanan kasih yang telah Kristus ajarkan melalui pengabdian para imam-Nya bagi pengikut- pengikutNya. Sakramen Imamat membuahkan pengabdian sejati para Pastor di dalam pelayanan umat, begitu pula di bawah sistim Hirarkis Gereja Katolik yang dipimpin oleh Bapa Paus yang ditaati sampai pada tingkat wilayah Paroki, sungguh mencerminkan buah pengajaran Tubuh Mistik Kristus yang sejati.

Saya sangat bersyukur sekali, bahwa Tuhan telah membawa papa kami ke dalam pengakuan-Nya kepada Gereja Katolik dan sekaligus menerimanya, kemudian telah membawa pula adik kandung saya menjadi saksi pelayanan Gereja Katolik. Hatiku sering berkata “di sinilah ‘rumahku’, Bapa – Gereja Katolik, yang senantiasa mendampingi saya membawaku kepada Kebenaran akan ke illahian-Mu … Amin.

Salam damai Kristus
Felix Sugiharto

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain” (Mzm 84:10)

Keutamaan Petrus (4): Menurut Dokumen paling awal Gereja

32

Makin dekat ke sumber, makin jelas

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab